Docstoc

BAB II

Document Sample
BAB II Powered By Docstoc
					BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi


       Retardasi mental ialah keadaan dengan intelegensia yang kurang (subnormal) sejak masa

perkembangan (sejak lahir atau sejak masa anak). Biasanya terdapat perkembangan mental yang

kurang secara keseluruhan, tetapi gejala utama pada retardasi mental ialah intelegensi yang

terbelakang atau keterbelakangan mental. Retardasi mental disebut juga oligofrenia (oligo = kurang

atau sedikit dan fren = jiwa) atau tuna mental.

Retardasi mental dapat didefinisikan sebagai keterbatasan dalam kecerdasan yang
mengganggu adaptasi normal terhadap lingkungan.
Retardasi mental adalah kemampuan mental yang tidak mencukupi (WHO)


       Retardasi mental adalah suatu keadaan yang ditandai dengan fs. Intelektual berada dibawah

normal, timbul pada masa perkembangan/dibawah usia 18 tahun, berakibat lemahnya proses belajar

dan adaptasi sosial (D.S.M/Budiman M, 1991).

2.2 Etiologi


       Penyebab kelainan mental ini adalah faktor keturunan (genetik) atau tak jelas sebabnya

(simpleks). Keduanya disebut retardasi mental primer. Sedangkan faktor sekunder disebabkan oleh

faktor luar yang berpengaruh terhadap otak bayi dalam kandungan atau anak-anak.

Retardasi mental menurut penyebabnya, yaitu :
•    Akibat infeksi atau intoksikasi. Dalam Kelompok ini termasuk keadaan retardasi
mental karena kerusakan jaringan otak akibat infeksi intrakranial, karena serum, obat
atau zat toksik lainnya
•   Akibat rudapaksa atau disebabkan fisik lain. Rudapaksa sebelum lahir serta juga


trauma lain, seperti sinar x, bahan kontrasepsi dan usaha melakukan abortus dapat mengakibatkan

kelainan dengan retardasi mental. Rudapaksa sesudah lahir tidak begitu sering mengakibatkan

retardasi mental.

•   Akibat gangguan metabolisme, pertumbuhan atau gizi. Semua retardasi mental yang
langsung disebabkan oleh gangguan metabolisme (misalnya gangguan metabolime
lemak, karbohidrat dan protein), pertumbuhan atau gizi termasuk dalam kelompok ini.
•   Ternyata gangguan gizi yang berat dan yang berlangsung lama sebelum umur 4 tahun
sangat memepngaruhi perkembangan otak dan dapat mengakibatkan retardasi mental. Keadaan dapat

diperbaiki dengan memperbaiki gizi sebelum umur 6 tahun, sesudah ini biarpun anak itu diberikan

makanan bergizi, intelegensi yang rendah itu sudah sukar ditingkatkan.

•   Akibat penyakit otak yang nyata (postnatal). Dalam kelompok ini termasuk retardasi


mental akibat neoplasma (tidak termasuk pertumbuhan sekunder karena rudapaksa atau peradangan)

dan beberapa reaksi sel-sel otak yang nyata, tetapi yang belum diketahui betul etiologinya (diduga

herediter). Reaksi sel-sel otak ini dapat bersifat degeneratif, infiltratif, radang, proliferatif, sklerotik

atau reparatif.

•   Akibat penyakit/pengaruh pranatal yang tidak jelas. Keadaan ini diketahui sudah ada
sejak sebelum lahir, tetapi tidak diketahui etiologinya, termasuk anomali kranial
primer dan defek kogenital yang tidak diketahui sebabnya.
•    Akibat kelainan kromosom. Kelainan kromosom mungkin terdapat dalam jumlah atau


dalam bentuknya. Hal ini mencakup jumlah terbesar dari penyebab genetic dan paling sering adalah

trisomi yang melibatkan kromosom tambahan, misalnya 47 dibandingkan keadaan normal sebesar 46.

Kelainan kromosom seks, seperti sindroma Klinefeker (XXY), sindroma Turner dan berbagai mosaic,

dapat juga berkaitan dengan retardasi mental.

•   Akibat prematuritas. Kelompok ini termasuk retardasi mental yang berhubungan


dengan keadaan bayi pada waktu lahir berat badannya kurang dari 2500 gram atau dengan masa hamil

kurang dari 38 minggu serta tidak terdapat sebab-sebab lain seperti dalam sub kategori sebelum ini.

•    Akibat gangguan jiwa yang berat. Untuk membuat diagnosa ini harus jelas telah
terjadi gangguan jiwa yang berat itu dan tidak terdapat tanda-tanda patologi otak
•   Akibat deprivasi psikososial. Retardasi mental dapat disebabkan oleh fakor – faktor
biomedik maupun sosiobudaya.
2.3 Manifestasi klinis


       Retardasi mental bukanlah suatu penyakit walaupun retardasi mental merupakan hasil dari

proses patologik di dalam otak yang memberikan gambaran keterbatasan terhadap intelektual dan

fungsi adaptif. Retardasi mental dapat terjadi dengan atau tanpa gangguan jiwa atau gangguan fisik

lainnya. Hasil bagi intelegensi (IQ = “Intelligence Quotient”) bukanlah merupakan satusatunya

patokan yang dapat dipakai untuk menentukan berat ringannya retardasi mental. Sebagai kriteria dapat

dipakai juga kemampuan untuk dididik atau dilatih dan kemampuan sosial atau kerja. Tingkatannya

mulai dari taraf ringan, sedang sampai berat, dan sangat berat.

Klasifikasi retardasi mental menurut DSM-IV-TR yaitu :
1. Retardasi mental berat sekali IQ dibawah 20 atau 25. Sekitar 1 sampai 2 % dari orang
yang terkena retardasi mental.
2.Retardasi mental berat IQ sekitar 20-25 sampai 35-40. Sebanyak 4 % dari orang yang
terkena retardasi mental.
3.Retardasi mental sedang IQ sekitar 35-40 sampai 50-55. Sekitar 10 % dari orang yang
terkena retardasi mental.
4.Retardasi mental ringan IQ sekitar 50-55 sampai 70. Sekitar 85 % dari orang yang
terkena retardasi mental. Pada umunya anak-anak dengan retardasi mental ringan
tidak dikenali sampai anak tersebut menginjak tingkat pertama atau kedua disekolah.
Tingkat
Kisaran IQ
Kemampuan
                        Usia

Prasekolah

(sejak lahir-5 tahun)

Kemampuan Usia
Sekolah
(6-20 tahun)
Kemampuan Masa
Dewasa
(21 tahun keatas)
Ringan
52-68
•   Bisa membangun
kemampuan
sosial
&
komunikasi
•   Koordinasi otot
sedikit terganggu
•   Bisa
mempelajari


pelajaran kelas 6 pada akhir usia

belasan
tahun
Biasanya
bisa
mencapai
kemampuan kerja &
bersosialisasi


                          yg cukup, tetapi ketika mengalami

stre
jelek
Sangat
berat
19
atau
kurang
•   Sangat
terbelakang
•   Koordinasi
ototnya
sedikit
sekali
•   Mungkin
memerlukan
perawatan khusus
•   Memiliki
beberapa
koordinasi otot
•   Kemungkinan
tidak


           dapat berjalan atau berbicara

•   Memiliki
beberapa
koordinasi otot &
berbicara
•   Bisa merawat diri
tetapi
sangat
terbatas
•   Memerlukan
perawatan khusus
PNP
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN
3.1
Pengkajian
A. Tanda dan gejala :
•   Mengenali sindrom seperti adanya DW atau mikrosepali
•    Adanya kegagalan perkembangan yang merupakan indikator : RM seperti


anak RM berat biasanya mengalami kegagalan perkembangan pada tahun pertama kehidupannya,

terutama psikomotor; RM sedang memperlihatkan penundaan pada kemampuan bahasa dan bicara,

dengan kemampuan motorik normal-lambat, biasanya terjadi pada usia 2-3 tahun; RM ringan biasanya

terjadi pada usia sekolah dengan memperlihatkan kegagalan anak untuk mencapai kinerja yang

diharapkan.

•    Gangguan neurologis yang progresif
•    Tingkatan/klasifikasi RM (APA dan Kaplan; Sadock dan Grebb, 1994)
1. Ringan ( IQ 52-69; umur mental 8-12 tahun)
Karakteristik :
a.Usia presekolah tidak tampak sebagai anak RM, tetapi terlambat dalam
kemampuan berjalan, bicara , makan sendiri, dll
b.Usia sekolah, dpt melakukan ketrampilan, membaca dan aritmatik dengan
pendidik khusus, diarahkan pada kemampuan aktivitas sosial.
c.Usia dewasa, melakukan ketrampilan sosial dan vokasional,
diperbolehkan menikah tidak dianjurkan memiliki anak. Ketrampilan
psikomotor tidak berpengaruh kecuali koordinasi.
2. Sedang ( IQ 35- 40 hingga 50 - 55; umur mental 3 - 7 tahun)
Karakteristik :
a. Usia presekolah, kelambatan terlihat pada perkembangan motorik,
terutama bicara, respon saat belajar dan perawatan diri.
b.Usia sekolah, dapat mempelajari komunikasi sederhana, dasar kesehatan,
perilaku aman, serta ketrampilan mulai sederhana, Tidak ada kemampuan
membaca dan berhitung.
c.Usia dewasa, melakukan aktivitas latihan tertentu, berpartisipasi dlm
rekreasi, dapat melakukan perjalanan sendiri ke tempat yang dikenal,
tidak bisa membiayai sendiri.
3. Berat ( IQ 20-25 s.d. 35-40; umur mental < 3 tahun)
Karakteristik :
a.Usia prasekolah kelambatan nyata pada perkembangan motorik,
kemampuan komunikasi sedikit bahkan tidak ada, bisa berespon dalam
perawatan diri tingkat dasar seperti makan.
b.Usia sekolah, gangguan spesifik dalam kemampuan berjalan, memahami
sejumlah komunikasi/berespon, membantu bila dilatih sistematis.
c.Usia dewasa, melakukan kegiatan rutin dan aktivitas berulang, perlu
arahan berkelanjutan dan protektif lingkungan, kemampuan bicara
minimal, meggunakan gerak tubuh.
4. Sangat Berat ( IQ dibawah 20-25; umur mental seperti bayi)
Karakteristik :
a.Usia prasekolah retardasi mencolok, fungsi Sensorimotor minimal, butuh
    perawatan total.


b. Usia sekolah, kelambatan nyata di semua area perkembangan, memperlihatkan respon emosional dasar,

    ketrampilan latihan kaki, tangan dan rahang. Butuh pengawas pribadi. Usia mental bayi muda.

    c.Usia dewasa, mungkin bisa berjalan, butuh perawatan total, biasanya
    diikuti dengan kelainan fisik.
    B. Pemeriksaan fisik :
    •
    Kepala : Mikro/makrosepali, plagiosepali (btk kepala tdk simetris)
    •
    Rambut : Pusar ganda, rambut jarang/tdk ada, halus, mudah putus dan cepat
    berubah
    •
    Mata : mikroftalmia, juling, nistagmus, dll
    •
    Hidung : jembatan/punggung hidung mendatar, ukuran kecil, cuping melengkung
    ke atas, dll
    •
    Mulut : bentuk “V” yang terbalik dari bibir atas, langit-langit lebar/melengkung
    tinggi
    •
    Geligi : odontogenesis yang tdk normal
    •
    Telinga : keduanya letak rendah; dll
    •
    Muka : panjang filtrum yang bertambah, hipoplasia
    •
    Leher : pendek; tdk mempunyai kemampuan gerak sempurna
    •
    Tangan : jari pendek dan tegap atau panjang kecil meruncing, ibujari gemuk dan
    lebar, klinodaktil, dll
    •
    Dada & Abdomen : tdp beberapa putting, buncit, dll
    •
    Genitalia : mikropenis, testis tidak turun, dll
    •
    Kaki : jari kaki saling tumpang tindih, panjang & tegap/panjang kecil meruncing
    diujungnya, lebar, besar, gemuk
    C. Pemeriksaan penunjang
    • Pemeriksaan kromosom

    • Pemeriksaan urin, serum atau titer virus

    • Test diagnostik spt : EEG, CT Scan untuk identifikasi abnormalitas

    perkembangan jaringan otak, injury jaringan otak atau trauma yang
    mengakibatkan perubahan.
    3.2
    Diagnosa
    •
    Gangguan pertumbuhan dan perkembangan b.d kelainan fungsi kognitif
    •
    Gangguan komunikasi verbal b.d kelainan fungsi kognitif
    •
    Risiko cedera b.d. perilaku agresif/ketidakseimbangan mobilitas fisik
    •
    Gangguan interaksi sosial b.d. kesulitan bicara /kesulitan adaptasi sosial
    •
    Gangguan proses keluarga b.d. memiliki anak RM
    •
    Defisit perawatan diri b.d. perubahan mobilitas fisik/kurangnya kematangan
perkembangan
3.3
Intervensi
•
Kaji faktor penyebab gangguan perkembangan anak
•
Identifikasi dan gunakan sumber pendidikan untuk memfasilitasi
perkembangan anak yang optimal.
•
Berikan perawatan yang konsisten
•
Tingkatkan komunikasi verbal dan stimulasi taktil
•
Berikan intruksi berulang dan sederhana
•
Berikan reinforcement positif atas hasil yang dicapai anak
•
Dorong anak melakukan perawatan sendiri
•
Manajemen perilaku anak yang sulit
•
Dorong anak melakukan sosialisasi dengan kelompok
•
Ciptakan lingkungan yang aman
3.4
Implementasi
Pendidikan Pada Orangtua :
•
Perkembangan anak untuk tiap tahap usia
•
Dukung keterlibatan orangtua dalam perawatan anak
•
Bimbingan antisipasi dan manajemen menghadapi perilaku anak yang sulit
•
Informasikan sarana pendidikan yang ada dan kelompok, dll
3.5
Evaluasi
•
Anak berfungsi optimal sesuai tingkatannya
•
Keluarga dan anak mampu menggunakan koping thd tantangan karena adanya
ketidakmampuan
•
Keluarga mampu mendapatkan sumber-sumber sarana komunitas

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:158
posted:5/20/2011
language:Malay
pages:9
mr doen mr doen mr http://bineh.com
About just a nice girl