Docstoc

Asuhan Keperawatan Ibu Hamil Hipertensi

Document Sample
Asuhan Keperawatan Ibu Hamil Hipertensi Powered By Docstoc
					                             ASUHAN KEPERAWATAN IBU HAMIL

                                  DAN GANGGUAN HIPERTENSI




A. KONSEP DASAR

  1. Pengertian

         Penyakit Hipertensi dalam kehamilan merupakan kelainan vaskuler yang terjadi

     sebelum kehamilan atau timbul dalam kehamilan atau pada permulaan nifas.

                                         (Obsteri Patologi, Univ. Padjajaran Bandung, 1984)

         Hipertensi adalah kelainan yang tidak diketahui etiologinya yang terjadi dalam

     kehamilan, dimanifestasikan dengan hipertensi, (tekanan sistolik 30 mmHg dan atau

     tekanan diastolik 15 mmHg di atas nilai dasar) edema dan proteinura (preeklamasia)

     yang dapat berlanjut pada kejang/koma (eklamsia).

                                                  (Rencana Perawatan Material Bayi, 2001)



  2. Etiologi

     Penyebab hipertensi dalam kehamilan adalah :

     1. Hipertensi esensial

                Pada wanita hamil dengan hipertensi esensial biasanya hanya menunjukkan

        gejala hipertensi tanda gejala-gejala lain. Terbanyak orang penderita hipertensi

        esensial yang jinak dengan tensi sekitar 140/90 – 160/100 mmHg. Jarang berubah

        menjadi hipertensi yang ganas dalam waktu singkat mencapai 200 mmHg atau

        lebih.

                Faktor yang mempengaruhi :

                 -   Faktor herediter

                 -   Emosi

                 -   Lingkungan
   2. Penyakit Ginjal

      Penyakit ginjal dan gejala hipertensi dan dapat dijumpai pada wanita hamil adalah :

      -    Glomerulonefritis akut dan kronik

      -    Plelenofritus akut dan kronik

                                                               (Sinopsis Obstruksi, 1989)



3. Klasifikasi

   Klasifikasi menurut American Committee and Maternal Welfare :

   1. Hypertensi yang hanya terjadi dalam kehamilan dan khas untuk kehamilan ialah

      preeklamasi dan ekslamsi. Diagnosa dibuat atas dasar hipertensi dengan

      proteinuria atau oedem atau kedua-duanya pada wanita hamil setelah minggu ke-

      20

   2. Hipertensi yang kronik (apapun sebenarnya)

      Diagnosa dibuat atas adanya hipertensi sebelum kehamilan atau pertemuan

      hipertensi sebelum minggu ke-20 dari kehamilan dan hipertensi ini tetap setelah

      kehamilan berakhir.

   3. Preeklamasi dan esklamsia yang terjadi atas dasar hipertensi kronis pasien dengan

      hipertensi yang kronis, seseorang memperberat penyakitnya dalam kehamilan

      denmgan gejala-gejala hipertensi naik, proteinura, oedem, dan kelainan retina.

   4. Transielit hypertention

      Diagnosa dibuat kalau timbul hipertensi dalam kehamilan atau dalam 24 jam

      pertama dari nifas, pada wanita terjadi normotensip dan akan hilang dalam 10 hari

      post partum.

                                                                 (Obstetri Patologi, 1984)
PREEKLAMSIA DAN EKLAMSIA



A. Preeklamsia

       Preeklamsia merupakan suatu kondisi spesifik kehamilan, Penyakit ini timbul

  sesudah minggu ke-20 dan paling sering terjadi pada primigravida muda dan pada

  wanita yang sebelumnya tekanan darahnya normal. Preeklamsia merupakan suatu

  penyakit      vasospatik,     yang   melibatkan   banyak    system   dan    ditandai   oleh

  hemokonsentrasi, hipertensi dan proteinuria, akan tetapi temuan yang paling penting

  ialah hipertensi di mana 20 % pasien tidak mengalami proteinuria yang berarti sebelum

  serangan kejang pertama.

                                                                        (willis, blanco. 1990)

  1. Etiologi

             Sebab preeklamsi sebelum diketahui kondisinya hanya terjadi pada kehamilan

     manusia. Ada beberapa resiko tertentu yang berkaitan dengan preeklamsi :

     primigravida, grand multi gravida, janin besar, kehamilan ganda, morbit obesitas.

                              (keperawatan maternitas, bobak, lowdermilk, Jensen, 2004, 631)

  2. Tanda dan gejala

     1. Hipertensi

                TD diambil 140 mmHg sistolik dan 90 mmHg diastolik tapi juga kenaikan

        systolik 30 mmHg atau di atas 15 mmHg. TD mencapai 180 mmHg sistolik dan

        110 mmHg diastolik dan jarang mencapai 200 mmHg.

     2. Oedema

                Timbulnya gejala oedema didahului oleh bertambahnya berat badan yang

        berlebihan. Penambahan berat badan ½ kg pada 350 yang hamil anggap

        normal. Tapi kalau mencapai 1 kg seminggu atau 3 kg dalam sebulan

        preeklamsi harus dicurigai.

     3. Proteinuria

                Sering diketemukan pada preeklamasi, timbul lebih lambat dari hipertensi

        dan tambah berat.

     4. Gejala subjektif yaitu:
          Sakit kepala yang keras karena vasospasmus atau oedema otak.

          Sakit di hulu hati karena regangan selaput hati oleh haemoragia

          Gangguan penglihatan

              -     Penglihatan menjadi kabur kadang-kadangf buta.

 4. Patofisiologi

         Patofisiologi preeklamsi – eklamsi setidaknya berkaitan dengan perubahan

   fisiologis kehamilan, yaitu meliputi peningkatan volume darah, plasma darah,

   vasodilatasi, penurunan resistensi vaskularisistemik, peningkatan curang jantung dan

   penurunan tekanan osmotik kolid.

         Preeklamasi volume plasma               yang beredar menurun,           sehingga     terjadi

   hemokonsentrasi dan peningkatan hemotroktrit maternal perubahan-perubahan ini

   membuat        perpusi    organ    maternal menurun,        termasuk perfusi      ke     janin   –

   uteroplasenta.

         Vasospasme          siklik   lebih   lanjut   menurunkan      perpusi    organ     dengan

   menghancurkan sel-sel darah merah, sehingga kapasitas oksigen menurun. Selain

   kerusakan        endotelial,   vasospasma      arterial   turut   menyebabkan     peningkatan

   permeabilitas kapiler, keadaan ini meningkatkan edema yang lebih lanjut,

   menurunkan volume intravaskuler, mempredisposisi pasien yang mengalami

   preeklamsi mudah menderita edema paru.

                                                                       (consensus resport, 1990)

B. Eklamsia

  1. Etiologi

           Sebuah eklamsi belum diketahui dengan pasti menurut saat terjadinya

      eklamsi, tetapi eklamsi sering terjadi dengan gejala atau tandanya yaitu kejang dan

      koma pada wanita hamil dan wanita dalam masa nifas yang disertai dengan

      hypertensi, oedema dan proteinuria.

           Menurut saat terjadinya eklamsi mengenal istilah yaitu :

      a. Eklamsia antepartum           terjadi sebelum persalinan

      b. Eklamsia intra partum  terjadi eklamsi sewaktu persalinan

      c. Eklamsia post partum  eklamsia setelah persalinan
2. Tanda dan gejala

   Eklamsi selalu didahului oleh gejala-gejala preeklamsia gejalanya seperti :

    Sakit kepala yang khas

    Penglihatan kabur

    Nyeri ulu hati

    Kegelisahan dan hipertensi

   Serangan yang dapat dibagi dalam 4 tingkat :

   1. Tingkat invasi (permulaan)

           Mata terpaku, kepala dipanglingkan kesatu pihak dan kejang. Kejang halus

      terlihat pada muka, tingkat ini berlangsung beberapa detik.

   2. Tingkat kontraksi (tingkat kejang tonis)

           Seluruh badan menjadi kaku, kadang-kadang terjadi episthotonus lamanya

      15-20 detik

   3. Tingkat konusi (tingkat kejang tonis)

           Terjadilah kejang yang timbul hilang, rahang membuka dan menutup

      begitu pula mata, otot-otot mata dan otot badan berkontraksi dan berelatsasi

      berulang, kejang ini sangat kuat hingga pasien dapat terdampar dari tempat

      tidur atau lidahnya tergigit, ludah yang berbuih bercampur darah keluar dari

      mulutnya, mata merah, muka biru, kejang berangsur berkurang dan akhirnya

      berhenti, lamanya ± 1 menit.

   4. Tingkat koma

           Setelah kejang kronis pasien jatuh dalam koma, lamanya koma ini dari

      beberapa menit sampai berjam-jam, kalau pasien sadar kembali maka ia tidak

      ingat sama sekli apa yang telah teradi (amnesi retrograde).

                                                              (Obstetri Patologi, 1984)



3. Patofisologi

        Patofisiologi preeklamsi – eklamsi setidaknya berkaitan dengan perubahan

   fisiologis kehamilan, yaitu meliputi peningkatan volume darah, plasma darah,
 vasodilatasi, penurunan resistensi vaskularisistemik, peningkatan curang jantung

 dan penurunan tekanan osmotik kolid.

      Preeklamasi volume plasma yang beredar menurun, sehingga terjadi

 hemokonsentrasi dan peningkatan hemotroktrit maternal perubahan-perubahan ini

 membuat perpusi organ maternal menurun, termasuk perfusi ke janin –

 uteroplasenta.

      Vasospasme    siklik   lebih     lanjut   menurunkan    perpusi   organ   dengan

 menghancurkan sel-sel darah merah, sehingga kapasitas oksigen menurun. Selain

 kerusakan endotelial, vasospasma arterial turut menyebabkan peningkatan

 permeabilitas kapiler, keadaan ini meningkatkan edema yang lebih lanjut,

 menurunkan volume intravaskuler, mempredisposisi pasien yang mengalami

 preeklamsi mudah menderita edema paru.




                     Tekanan Darah – Vasospasme



                       Perpusi Plasenta Menurun



                        Ekativasi Sel Endofolium



Vasokontriksi                 Kaskade                        Redistribusi



                                     Aktivasi



                                 Koagulasi



                        Penurunan Organ Perfusi



                    ( Keperawatan Maternitas, 2004 )
4. Penatalaksanaan

  a. Preeklamsi

     Dasar pengobatannya adalah :

      Istirahat

        Istirahat berbaring memperbaiki kelancaran sirkulasi retroplasenta

      Diit

        Diit yang pantang garam, tinggi protein, vitamin, mengurangi lemak

      Sedatip

        Misalnya : Barbiturat, vailum, klorpomazim

      Induksi persalinan

               Upayakan     persalinan   mulai    berangsur   sebelum    atau   sesudah

        kehamilan cukup bulan dengan jalan meangsang stimulasi timbulnya HIS.

        Mis : Dengan oxitasim, prostaglandin, dan memecahkan ke tuban.

        Pengobatan jalan adalah :

               Pengobatan ini hanya mempunyai tempat kalau preeklamsi ringan

        sekali misalnya tensi kurang dari 140/90 mmHg sedangkan oedema dan

        proteinuria tidak ada/ringan.

        Mengakhiri kehamilan :

               Pengobatan     yang    terbaik   untuk   preeklamsi   adalah   mengakhiri

        kehamilan karena :

        1. Mengingat bahaya solusio plasenta

        2. Mencegah timbulnya eklamsi

        3. Preeklamsi dengan sendirinya akan berangsur membaik, setelah

              persalinan

        4. Mengingat kemungkinan kematian anak dalam rahim



  b. Eklamsi

     Profilaks : Dengan pencegahan, diagnosa dini terapi yang tepat dan intensif

                   dari preeklamsi.
                 Maka pengaturan diit dan berat badan, selanjutnya pengukuran tensi,

            pemeriksaan urine dan tambahnya berat badan merupakan pekerjaan yang

            sangat penting diusul dengan pengobatan dan kalau perlu pengakhiran

            kehamilan. Semua tindakan dia atas bermaksud mencegah eklamsi.

                                                                  (Obstetri Patologi, 1984)




B. ASUHAN KEPERAWATAN

  1. Pengkajian

    Sirkulasi

    -   Peningkatan tekanan darah menetap melebihi nilai setelah 20 minggu kehamilan

    -   Riwayat hipertensi kronik

    -   Nadi mungkin menurun

    -   Dapat mengalami memar spontan, perdarahan lama atau epistakis



    Eliminasi

    -   Fungsi ginjal menurun (kurang dari 400 ml/24 jam) atau tidak ada

    Makanan/cairan

    -   Mual/muntah

    -   Malnutrisi (kelebihan/kurang berat badan 20% atau lebih besar)

    Masukan protein/kalori kurang

    -   Edema mungkin ada dari ringan sampai berat/umumnya dapat meliptui wajah,

        ekstrenitas dan sistem organ

    -   DM

    Neorosensori

        -   Pusing-sakit kepala frontal

        -   Diplopia (pengliohatan kabur)

        -   Hiperrefleksia

        -   Kacau mental, tonik, kemudian fase tonic kronik, diikuti dengan periode

            kehilangan kesadaran.
         -   Pemeriksaan fundus kopi dapat menunjukkan edema/spasme vaskuler

         Nyeri/ketidaknyamanan

         -   Nyeri epigastrik (region kuadran atas kanan)

         Pernapasan

         -   Pernapasan kurang dari 14/menit

         -   Krekels mungkin ada

         Seksualitas

         -   Gerakan bayi mungkin berkurang

         -   Tanda-tanda abrupsi plasenta mungkin ada



  2. Diagnosa Keperawatan

     a. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan protein plasma, penurunan

         tekanan osmotik koloid plasma menyertai perpindahan cairan dari kompartemen

         vaskuler.




     b. Penurunan curang jantung berhubungan dengan hipovolemia/penurunan aliran

         balik vena, peningkatan tekanan vaskuler sistemik.

     c. Cedera resiko tinggi terhadap ibu berhubungan dengan edema/hipoksia jaringan

         kejang tonic-klonic, fropil darah abnormal dan faktor-faktor pembekuan.

  3. Perencanaan

     DX. I

     Tujuan               : Agar volume cairan dapat terpenuhi

     Kriteria Hasil       : Mengungkapkan pemahaman tentang kebutuhan akan pemantauan

                           yang ketat dan BB, TD, protein urine dan edema.


                Intervensi                                       Rasional

1. Pantau masukan dan haluaran urine 1. Haluaran                 urine   adalah   indikator
  perhatikan warna urine dan ukur berat           sensitive dari sirkulasi volume darah
  jenis sesuai indikasi                           oliguria dan BJ 1,040 menandakan
                                                  hipolemi bermasalah pada ginjal
2. Kaji perubahan pada kadar HT/HB              2. Mengidentifikasi derajat hemokontriksi
                                                    yang disebabkan oleh perpindahan
                                                    cairan
3. Kaji    bunyi     paru/frekuensi     usaha 3. Mengidentifikasi adanya edema paru
   pernapasan                                       yang membutuhkan tindakan segera
      DX. II

      Tujuan               : Diharapkan curah jantung kembali

      Kriteria Hasil       : Mengubah tingkat aktivitas sesuai kondisi


                   Intervensi                                      Rasional

1. Pantau TD dan nadi                           1. Hipertensi karena terjadi peningkatan
                                                    kepekaan pada angiotensin II yang
                                                    menaiklan TD
2. Lakukan tirah pada klien dengan posisi       2. Meningkatkan aliran baik vena, curah
   miring kiri                                      jantung, dan perfusi ginjal, placenta
3. Kolaborasi                                   3. Efek-efek samping meliputi takikardia,
   Pantau TD dan efek samping obat                  sakit    kepala,    mual,   muntah      dan
   antihipertensi, berikan propanol dengan          palpitasi;    dapat     diatasi    dengan
   tepat                                            proponal



      DX. III

      Tujuan               : Agar tidak mengalami edema dan kejang.

      Kriteria Hasil       : Berpartisipasi dalam tindakan atau modifikasi lingkungan dengan

                            untuk melindungi diri dan menaikkan keamanan.


                   Intervensi                                      Rasional

1. Kaji adanya masalah SSP (misa, sakit         1. Edema serebral dan vasokontriksi
   kepala, peka rangsangan, gangguan                dapat dievaluasi dari masa perubahan
   penglihatan      atau    perubahan    pada       gejala, perilaku/retina
   pemeriksaan funduskopi
2. Lakukan tindakan untuk menurunkan            2. Menurunkan faktor-faktor lingkungan
   kemungkinan kejang. Misal: lakukan               yang dapat kepekaan srebrum dan
   lingkungan tenang dan lampu tentram,             menyebabkan kejang
   batasi pengunjung dan atur perawatan
   dengan tingkatan istirahat
3. Kolaborasi                                   3. Terapi        yang     segera      dilakukan
   Rawat di rumah sakit bila ada masalah            membantu dan menjamin keamanan
   SSP                                            dan   menjamin       keamanan   dan
                                                  membatasi komplikasi




                                   DAFTAR PUSTAKA



Arief Mansjoer, Kapita Selekta Kedokteran, Edisi 3, Fakultas Kedokteran UI.

Bobak, Lowdemik, Zensen, Keperawatan Matematis, Edisi 4, EGC, Jakarta, 2004.

Marilly E. Doengoes, Rencana Perawatan Bayi, Edisi 2, EGC, Jakarta, 2001.

Obtetri Patologi Uni. Padjajaran Bandung, 1994.

Prof. Dr. Rustami Mucthar, MPH, Obtetri Patologi, 1984, EGC Jakarta.

Sarwono Prawirohadjoe, Ilmu Kebidanan, 1992, Yayasan Bina Pustaka.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:2876
posted:5/20/2011
language:Indonesian
pages:11
mr doen mr doen mr http://bineh.com
About just a nice girl