Documents
Resources
Learning Center
Upload
Plans & pricing Sign in
Sign Out
Get this document free

ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN HIPERBILIRUBIN

VIEWS: 3,066 PAGES: 8

									              ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN HIPERBILIRUBIN


I. Definisi

Hiperlirubin adalah akumulasi berlebihan dari bilirubin didalam darah ( Wong, hal 432 ). Peningkatan
kadar serum bilirubin disebabkan oleh deposisi pigmen bilirubin yang terjadi waktu pemecahan sel
darah merah. Phototerapi merupakan terapi untuk hiperbilirubin. Tranfusi tukar dilakukan pada
keadaan masa gestasi yang kurang dan keadaan bayi secara umum.

II. Macam – Macam Ikterus
Ikterus Fisiologis
a. Timbul pada hari ke dua dan ketiga.
b. Kadar bilirubin indirek tidak melebihi 10 mg% pada neonatus cukup bulan dan 12,5 mg%
untuk neonatus lebih bulan.
c. Kecepatan peningkatan kadar bilirubin tidak melebihi 5 mg% perhari.
d. Ikterus menghilang pada 10 hari pertama.
e. Tidak terbukti mempunyai hubungan dengan keadaan patologik.
Ikterus Patologik
a. Ikterus terjadi dalam 24 jam pertama.
b. Kadar bilirubin melebihi 10 mg% pada neonatus cukup bulan atau melebihi 12,5 mg% pada
neonatus kurang bulan.
c. Peningkatan bilirubin lebih dari 5 mg% perhari.
d. Ikterus menetap sesudah 2 minggu pertama.
e. Kadar bilirubin direk melebihi 1 mg%.
f. Mempunyai hubungan dengan proses hemolitik.
(Ni Luh Gede Y, 1995)

III. Penyebab
Penyebab ikterus pada neonatus dapat disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain :
Produksi bilirubin berlebihan dapat terjadi karena kelainan struktur dan enzim sel darah
merah, keracunan obat (hemolisis kimia: salisilat, kortikosteroid, klorampinekol),
chepalhematoma.
Gangguan dalam proses ambilan dan konjugasi hepar: obstruksi empedu, infeksi, masalah
metabolik, Joundice ASI, hypohyroidisme.
Gangguan transportasi dalam metabolisme bilirubin.
Gangguan dalam ekskresi bilirubin.
Komplikasi : asfiksia, hipoermi, hipoglikemi, menurunnya ikatan albumin; lahir prematur,
asidosis.
(Ni Luh Gede Y, 1995)( Suriadi, 2001)

Menurut IKA, 2002 penyebab ikterus terbagi atas :
Ikterus pra hepatik
Terjadi akibat produksi bilirubin yang mengikat yang terjadi pada hemolisis sel darah merah.
Ikterus pasca hepatik (obstruktif)
Adanya bendungan dalam saluran empedu (kolistasis) yang mengakibatkan peninggian
konjugasi bilirubin yang larut dalam air yang terbagi menjadi :
a. Intrahepatik : bila penyumbatan terjadi antara hati dengan ductus koleductus.
b. Ekstrahepatik : bila penyumbatan terjadi pada ductus koleductus.
Ikterus hepatoseluler (hepatik)
Kerusakan sel hati yang menyebabkan konjugasi blirubin terganggu.

Ikterus yang timbul pada 24 jam pertama dengan penyebab :
· Inkomtabilitas darah Rh, ABO atau golongan lain
· Infeksi intra uterin (oleh virus, toksoplasma, lues dan kadang bakteri)
· Kadang oleh defisiensi G-6-PO
Ikterus yang timbul 24 – 72 jam setelah lahir dengan penyebab:
· Biasanya ikteruk fisiologis
· Masih ada kemungkinan inkompatibitas darah ABO atau Rh atau golongan lain. Hal ini
diduga kalau peningkatan kadar bilirubin cepat, misalnya melebihi 5 mg%/24 jam
· Polisitemia
· Hemolisis perdarahan tertutup (perdarahan sub oiponeurosis, perdarahan hepar sub kapsuler
dan lain-lain)
· Dehidrasis asidosis
· Defisiensi enzim eritrosis lainnya

Ikterus yang timbul sesudah 72 jam pertama sampai minggu pertama dengan penyebab
· Biasanya karena infeksi (sepsis)
· Dehidrasi asidosis
· Defisiensi enzim G-6-PD
· Pengaruh obat
· Sindrom gilber

Ikterus yang timbul pada akhir minggu pertama dan selanjutnya dengan penyebab :
· biasanya karena obstruksi
· hipotiroidime
· hipo breast milk jaundice
· infeksi
· neonatal hepatitis
· galaktosemia
(IKA II, 2002)

IV. Manifestasi Klinis
1. Pada permulaan tidak jelas, yang tampak mata berputar-putar
2. Letargik (lemas)
3. Kejang
4. Tidak mau menghisap
5. Dapat tuli, gangguan bicara dan retardasi mental
6. Bila bayi hidup pada umur lebih lanjut dapat disertai spasme otot, epistotonus, kejang,
stenosis yang disertai ketegangan otot
(Ngastiyah, 1997)
7. Perut membuncit
8. Pembesaran pada hati
9. Feses berwarna seperti dempul
(Ni Luh Gede Y, 1995)
10. Tampak ikterus; sklera, kuku, kulit dan membran mukosa. Joundice pada 24 jam pertama
yang disebabkan oleh penyakit hemolitik waktu lahir, sepsis, atau ibu dengan diabetik/infeksi.
11. Muntah, anoreksia, fatigue, warna urin gelap, warna tinja gelap.
(Suriadi, 2001)
     V. Patofisiologi

                                                  Hemoglobin



                         Globin                                            Heme


                                                              Biliverdir            Fe,Co

                   Peningkatan destruksi eritrosit ( Gangguan konjungasi bilirubin / gangguan
                transport bilirubin / peningkatan siklus enterohepatik ) Hb dan eritrosit abnormal

             Pemecahan bilirubin berlebih / bilirubin yang tidak berikan dengan albumin meningkat

                                  Suplay bilirubin melebihi kemampuan hepar

                                   Hepar tidak mampu melakukan konjungasi

                                Sebagian masuk kembali ke siklus emerohepatik

        Peningkatan bilirubin unconjugned dalam darah pengeluaran meronium terlambat /obstruksi
                                        usus tinja berwarna pucat

Gangguan
integritas        Ikrerus pada sclera leher dan badan peningkatan bilirubin indirex > 12 mg/dl
   kulit
                                               Indikasi fototerapi


                                         Sinar dengan Intensitas tinggi


                Resti injuri                                    Gangguan temperatur tubuh
VI. Komplikasi
1. Terjadi kernikterus, yaitu kerusakan pada otak akibat perlengketan bilirubin indirek pada
otak terutama pada korpus striatum, thalamus, nucleus subtalamus hipokampus, nucleus
merah didasar ventrikel IV.
2. Kernikterus; kerusakan neurologis, cerebral palsy, RM, hyperaktif, bicara lambat, tidak ada
koordinasi otot, dan tangisan yang melengking.
(Ngastiyah, 1997)(Suriadi,2001)




VII. Penatalaksanaan dan Tindakan
a. Ikterus yang timbul pada 24 jam pertama
Pemeriksaan yang dilakukan :
· Kadar bilirubin serum berkala.
· Darah tepi lengkap.
· Golongan darah ibu dan bayi diperiksa.
· Pemeriksaan penyaring defisiensi enzim G-6-PD biakan darah atau biopsi hepar bila perlu.
b. Ikterus yang timbul 24 – 72 jam setelah lahir:
Pemeriksaan yang perlu diperhatikan : Bila keadaan bayi baik dan peningkatan tidak cepat
dapat dilakukan pemeriksaan darah tepi, periksa kadar bilirubin berkala, pemeriksaan
penyaring enzim G-6-PD dan pemeriksaan lainnya.
c. Ikterus yang timbul sesudah 72 jam pertama sampai minggu pertama
Ikterus yang timbul pada akhir minggu pertama dan selanjutnya
Pemeriksaan yang dilakukan :
· pemeriksaan bilirubin direk dan indirek berkala
· pemeriksaan darah tepi
· pemeriksaan penyaring G-6-PD
· biakan darah, biopsy hepar bila ada indikasi



Penatalaksanaan secara umum
Pengawasan antenatal yang baik.
Menghindari obat yang meningkatakan ikterus pada masa kematian dan kelahiran, misal :
sulfa furokolin.
Pencegahan dan pengobatan hipoksin pada neonatus dan janin.
Penggunaan fenobarbital pada ibu 1 – 2 hari sebelum partus.
Pemberian makanan sejak dini (pemberian ASI).
Pencegahan infeksi.
Melakukan dekompensasi dengan foto terapi.
Tranfusi tukar darah. (Abdul bari S, 2000)(Ni Luh Gede Y, 1995)
VIII. Pengkajian

1 Identitas pasien dan keluarga

2. Riwayat Keperawatan
  a. Riwayat Kehamilan
     Kurangnya antenatal care yang baik. Penggunaan obat – obat yang meningkatkan ikterus ex :
     salisilat sulkaturosic oxitosin yang dapat mempercepat proses konjungasi sebelum ibu partus.

 b. Riwayat Persalinan
    Persalinan dilakukan oleh dukun, bidan atau Data Obyektifkter.
    Lahir prematur / kurang bulan, riwayat trauma persalinan, hipoxin dan aspixin

 c. Riwayat Post natl
    Adanya kelainan darah tapi kadar bilirubin meningkat kulit bayi tampak kuning.

 d. Riwayat Kesehatan Keluarga
    Seperti ketidak cocokan darah ibu dan anak Polycythenia, gangguan saluran cerna dan hati (
    hepatitis )

 e. Riwayat Pikososial
    Kurangnya kasih saying karena perpisahan, perubahan peran orang tua

  f. Pengetahuan Keluarga
     Penyebab perawatan pengobatan dan pemahan ortu bayi yang ikterus

3. Kebutuhan Sehari – hari
  a. Nutrisi
     Pada umumnya bayi malas minum ( reflek menghisap dan menelan lemah ) sehingga BB bayi
     mengalami penurunan.

  b.Eliminasi
    Biasanya bayi mengalami diare, urin mengalami perubahan warna gelap dan tinja berwarna pucat

  c. Istirahat
    Bayi tampak cengeng dan mudah terbangun

 d. Aktifitas
    Bayi biasanya mengalami penurunan aktivitas, letargi, hipototonus dan mudah terusik.

 e. Personal hygiene
    Kebutuhan personal hygiene bayi oleh keluarga terutama ibu

4. Pemeriksaan fisik
    Keadaan umum lemah, Ttv tidak stabil terutama suhu tubuh ( hipo / hipertemi ). Reflek Rhisap
    pada bayi menurun, BB turun, pemeriksaan tonus otot ( kejang / tremor ). Hidrasi bayi mengalami
    penurunan. Kulit tampak kuning dan mengelupas ( skin resh ) bronze bayi syndrome, sclera mara
    kuning ( kadang – kadang terjadi kerusakan pada retina ) perubahan warna urine dan feses.
IX. Penyuluhan/Pembelajaran


Dapat mengalami hipotiroidisme congenital,atresia bilier,fbrosis kistik.
> Faktor keluarga mis.,keturunan etnik (Oriental, Yunani, atau Korea), riwayat hiperbilirubinemia
   pada kehamilan / sibling sebelumnya, penyakit hepar, fibrosis kistik, kesalahan metabolisme saat
   lahir (galak tosemia), diskrasias darah, (sferositosis, defisiensi glukosa-6-fosfat dehidrogenase [G-
   6-PD])
> Faktor ibu diabetes; mencerna obat-obatan (mis., salisilat, sulfonamid oral pada kehamilan akhir
   atau nitrofurantoin (furadantin); inkompatibilitas Rh/ABO; penyakit infeksi (mis., rubella,
   sitomegalovirus, sifilis, toksoplasmosis).
> Faktor penunjung intrapartum, seperti persalinan praterm, kelahiran dengan ekstraksi vakum,
   induksi oksitosin, pelambatan pengkleman tali pusat, atau trauma kelahiran.


X. Pemeriksaan Diagnostik


> Tes coomb paa tali pusat bayi baru lahir:Hasil positif tes coomb indirek menandakan adanya
  antibody Rh-positif, anti-A, atau anti-B,dalam darah ibu. Hasil positif dari test coomb direk
  menandakan adanya sensitisasi ( Rh-positif ,anti-A, anti-B) SDM dari neonatus.

> Golongan darah bayi dan ibu: Mengidentifikasi inkompatibilitas ABO.

> Bilirubin total:Kadar direk(terkonjugasi) bermakna jika melebihi 1,0-1,5 mg/dl ,yang mungkin
  dihubungkan dengan sepsis. kadar indirek (tidak terkonjugasi) tidak boleh melebihi peningkatan 5
  mg/dl dalam 24 jam,atau tidak boleh lebih dari 20 mg/dl pada bayi cukup bulan atau 15 mg/dl
  pada bayi praterm (tergantung pada berat badan )

> Protein serum total;Kadar kurang dari 3,0 g/dl menandakan penurunan kapasitas ikatan, terutama
  pada bayi praterm.

> Hitung darah lengkap:Hemoglobin (Hb) mungkin rendah (kurang dari 4 g/dl) karena hemolisis.
  Hematokrit (Ht) mungkin meningkat (lebih besar dari 65%) pada polistemia ,penurunan (kurang
  dari 45%) dengan hemolisis anemia berlebihan.

> Glukosa:Kadar Dextrostix mungkin kurang dari 45% glukosa darah lengkap kurang dari 30
  mg/dl, atau tes glukosa serum kurang 40 mg/dl bila bayi baru lahir hepoglikemi dan mulai
  menggunakan simpanan lemak dan melepaskan asam lemak.

> Daya ikat karbon dioksida:Penurunan kadar menunjukkan hemolisis.

> Meter ikterik transkutan:Mengidentifikasi bayiyang memerlukan penentuan bilirubin serum.

> Jumlah retikulosit Peningkatan trikolosit menandakan peningkatan produksi SDM dalam respons
  terhadap hemolisis yang berkenaan dengan penyakit RH.

> Smear darah perifer: Dapat menunjukkan SDM abnormal atau imatur, eritroblastosis pada
  penyakit Rh, atau sferositis pada inkompabilitas ABO.

> Tes Betke-Kleihauer: Evaluasi smear darah maternal terhadap eritrosit janin.
XI. Prioritas Keperawatan

1.Mencegah cedera/progresi dari kondisi.
2.Memberikan informasi/dukungan yang tepat pada keluarga.



   Diagnosa Keperawatan               Tujuan Rencana                        Tindakan


1) Gangguan Integritas kulit       Keadaan kulit bayi         1. Monitor warna dan keadaan kulit
   berhubungan dengan              membaik dalam waktu           setiap 4 – 8 jam
   jounndice                       ….                         2. Monitor kadaan bilirubin direks dan
   Data penunjang :                Kriteria hasil :              indireks, laporkan pada Data
   Data Subyektif :                - Kadar bilirubin             Obyektifkter jika ada kelainan
   Orang tua mengatakan daya          dalam batas normal      3. Ubah posisi miring atau tengkurap.
   isap anak lemah sehingga        - Kulit tidak berwarna        Perubahan posisi setiap 2 jam
   minum kurang.                      kuning                     berbarengan dengan perubahan
   DATA OBYEKTIF :                 - Daya isap bayi              posisi, lakukan massage dan monitor
   Kulit dan selera kuning,           meningkat                  keadaan kulit.
   diare, kulit kemerahan,         - Pola BAB dan BAK         4. Jaga kebersihan dan kelembaban
   konsentrasi urin pekat, kulit      normal                     kulit
   mengelupas.                                                5. Pemeriksaan lab ( Bilirubin )
   Kadar bilirubin meningkat.


2) Resiko terjadi Injuri           Tidak terjadi Injuri       1. Letakkan bayi + 18 inchi dari sumber
   berhubungan dengan              dalam waktu…..                cahaya
   phototerapi .                   Kriteria hasil :           2. Tutup mata dengan kain yang dapat
   Data penunjang :                - Adanya kontak mata          menyerap cahaya dan dapat
- Phototerapi terpasang                waktu mata dibuka         memproteksi mata dari sumber
- Mata tertutup                    - Adanya respon               cahaya.
- Sklera kuning                        ketika diajak bicara   3. Matikan lampu dan buka penutup
- Kadar bilirubin meningkat        - Bayi bebas dari             mata bayi setiap 8 jam lakukan
                                       komplikasi                inspeksi warna sclera
                                                              4. Pada waktu menutup mata bayi
                                                                 yakinkan bahwa penutup tidak
                                                                 menutupi hidung
                                                              5. Buka penutup mata waktu memberi
                                                                 makan bayi. Ajak bicara bayi selama
                                                                 perawatan.


3) Gangguan Temperatur             Suhu tubuh bayi            1. Pertahankan suhu lingkungan yang
   tubuh berhubungan dengan           kembali                    netral
   phototerapi.                    normal dan stabil dalam    2. Pertahankan suhu tubuh 36,50C -
   Data penunjang :                waktu ………                     370C jika demam lakukan kompres /
   Data Obyektif : - suhu > 37     Kriteria hasil :              axilia untuk mencegah cold/heat
   0
     C                             - Suhu tubuh 360C -           stress
- membrane mukosa kering              370C                    3. Cek tanda Vital setiap 2 – 4 jam
                                   - Membran mukosa              sesuai yang dibutuhkan
                                      lembab                  4. Kolaborasi pemberian
                                                                 antipiretik jika demam
   1. A.H Markum, (2002). Ilmu Kesehatan Anak, Jakarta: FKUI.

3. Berhman, Kliegman & Arvin, (1996), Ilmu Kesehatan Anak Nelson, Alih Bahasa Samik
Wahab. Jilid I, Jakarta: EGC.

								
To top