Askep ISPA by anamaulida

VIEWS: 1,025 PAGES: 10

									INFEKSI SALURAN PERNAPASAN AKUT ( ISPA )


A. KONSEP DASAR


1. DEFINISI


        ISPA sering disalah artikan sebagai infeksi saluran pernapasan atas. Yang benar
ISPA merupakan singkatan dari Infeksi Saluran Pernapasan Akut. ISPA meliputi saluran
pernapasan      bagian     atas     dan     saluran     pernapasan      bagian     bawah
ISPA adalah infeksi saluran pernapasan yang berlangsung sampai 14 hari. Yang
dimaksud dengan saluran pernapasan adalah organ mulai dari hidung sampai gelembung
paru, beserta organ-organ disekitarnya seperti : sinus, ruang telinga tengah dan selaput
paru.


        Sebagian besar dari infeksi saluran pernapasan hanya bersifat ringan seperti batuk
pilek dan tidak memerlukan pengobatan dengan antibiotik, namun demikian anak akan
menderita pneumoni bila infeksi paru ini tidak diobati dengan antibiotik dapat
mengakibat kematian.


        Program Pemberantasan Penyakit (P2) ISPA membagi penyakit ISPA dalam 2
golongan yaitu pneumonia dan yang bukan pneumonia. Pneumonia dibagi atas derajat
beratnya penyakit yaitu pneumonia berat dan pneumonia tidak berat. Penyakit batuk pilek
seperti rinitis, faringitis, tonsilitis dan penyakit jalan napas bagian atas lainnya
digolongkan sebagai bukan pneumonia. Etiologi dari sebagian besar penyakit jalan napas
bagian atas ini ialah virus dan tidak dibutuhkan terapi antibiotik. Faringitis oleh kuman
Streptococcus jarang ditemukan pada balita. Bila ditemukan harus diobati dengan
antibiotik penisilin, semua radang telinga akut harus mendapat antibiotic.


        ISPA dapat ditularkan melalui air ludah, darah, bersin, udara pernapasan yang
mengandung kuman yang terhirup oleh orang sehat kesaluran pernapasannya.
Kelainan pada sistem pernapasan terutama infeksi saluran pernapasan bagian atas dan
bawah, asma dan ibro kistik, menempati bagian yang cukup besar pada lapangan pediatri.
Infeksi saluran pernapasan bagian atas terutama yang disebabkan oleh virus, sering terjadi
pada semua golongan masyarakat pada bulan-bulan musim dingin.
2. JENIS – JENIS ISPA


       Program Pemberantasan ISPA (P2 ISPA) mengklasifikasi ISPA sebagai berikut:


         Pneumonia berat: ditandai secara klinis oleh adanya tarikan dinding dada
            kedalam (chest indrawing).


         Pneumonia: ditandai secara klinis oleh adanya napas cepat.


         Bukan pneumonia: ditandai secara klinis oleh batuk pilek, bisa disertai
            demam, tanpa tarikan dinding dada kedalam, tanpa napas cepat. Rinofaringitis,
            faringitis dan tonsilitis tergolong bukan pneumonia


       Berdasarkan hasil pemeriksaan dapat dibuat suatu klasifikasi penyakit ISPA.
Klasifikasi ini dibedakan untuk golongan umur dibawah 2 bulan dan untuk golongan
umur 2 bulan sampai 5 tahun.


       Untuk golongan umur kurang 2 bulan ada 2 klasifikasi penyakit yaitu :


             Pneumonia berada: diisolasi dari cacing tanah oleh Ruiz dan kuat dinding
              pada bagian bawah atau napas cepat. Batas napas cepat untuk golongan umur
              kurang 2 bulan yaitu 60 kali per menit atau lebih.


             Bukan pneumonia: batuk pilek biasa, bila tidak ditemukan tanda tarikan kuat
              dinding dada bagian bawah atau napas cepat.


       Untuk golongan umur 2 bu~an sampai 5 tahun ada 3 klasifikasi penyakit yaitu :


             Pneumonia berat: bila disertai napas sesak yaitu adanya tarikan dinding dada
              bagian bawah kedalam pada waktu anak menarik napas (pada saat diperiksa
              anak harus dalam keadaan tenang tldak menangis atau meronta).


             Pneumonia: bila disertai napas cepat. Batas napas cepat ialah untuk usia 2 -
              12 bulan adalah 50 kali per menit atau lebih dan untuk usia 1 -4 tahun adalah
              40 kali per menit atau lebih.


             Bukan pneumonia: batuk pilek biasa, bila tidak ditemukan tarikan dinding
              dada bagian bawah dan tidak ada napas cepat.
3. TANDA DAN GEJALA


        Pada umumnya suatu penyakit saluran pernapasan dimulai dengan keluhan-
keluhan dan gejala-gejala yang ringan. Dalam perjalanan penyakit mungkin gejala-gejala
menjadi lebih berat dan bila semakin berat dapat jatuh dalam keadaan kegagalan
pernapasan dan mungkin meninggal. Bila sudah dalam kegagalan pernapasan maka
dibutuhkan penatalaksanaan yang lebih rumit, meskipun demikian mortalitas masih
tinggi, maka perlu diusahakan agar yang ringan tidak menjadi lebih berat dan yang sudah
berat cepat-cepat ditolong dengan tepat agar tidak jatuh dalam kegagalan pernapasan.
Tanda-tanda bahaya dapat dilihat berdasarkan tanda-tanda klinis dan tanda-tanda
laboratoris.


Tanda-tanda klinis


   Pada sistem respiratorik adalah: tachypnea, napas tak teratur (apnea), retraksi dinding
    thorak, napas cuping hidung, cyanosis, suara napas lemah atau hilang, grunting
    expiratoir dan wheezing.


   Pada sistem cardial adalah: tachycardia, bradycardiam, hypertensi, hypotensi dan
    cardiac arrest.


   Pada sistem cerebral adalah : gelisah, mudah terangsang, sakit kepala, bingung, papil
    bendung, kejang dan coma.


   Pada hal umum adalah : letih dan berkeringat banyak.


   Tanda-tanda laboratoris


   Hypoxemia,


   Hypercapnia dan


   Acydosis (metabolik dan atau respiratorik)


        Tanda-tanda bahaya pada anak golongan umur 2 bulan sampai 5 tahun adalah:
tidak bisa minum, kejang, kesadaran menurun, stridor dan gizi buruk, sedangkan tanda
bahaya pada anak golongan umur kurang dari 2 bulan adalah: kurang bisa minum
(kemampuan minumnya menurun ampai kurang dari setengah volume yang biasa
diminumnya), kejang, kesadaran menurun, stridor, Wheezing
4. PENATALAKSANAAN


       Penemuan dini penderita pneumonia dengan penatalaksanaan kasus yang benar
merupakan strategi untuk mencapai dua dari tiga tujuan program (turunnya kematian
karena pneumonia dan turunnya penggunaan antibiotik dan obat batuk yang kurang tepat
pada pengobatan penyakit ISPA) .


       Pedoman penatalaksanaan kasus ISPA akan memberikan petunjuk standar
pengobatan penyakit ISPA yang akan berdampak mengurangi penggunaan antibiotik
untuk kasus-kasus batuk pilek biasa, serta mengurangi penggunaan obat batuk yang
kurang bermanfaat. Strategi penatalaksanaan kasus mencakup pula petunjuk tentang
pemberian makanan dan minuman sebagai bagian dari tindakan penunjang yang penting
bagi pederita ISPA.


       Penatalaksanaan ISPA meliputi langkah atau tindakan sebagai berikut :


Upaya pencegahan:
Pencegahan dapat dilakukan dengan :
      Menjaga keadaan gizi agar tetap baik.
      Immunisasi.
      Menjaga kebersihan perorangan dan lingkungan.
      Mencegah anak berhubungan dengan penderita ISPA.


Pengobatan dan perawatan
      Prinsip perawatan ISPA antara lain :
      Menigkatkan istirahat minimal 8 jam perhari
      Meningkatkan makanan bergizi
      Bila demam beri kompres dan banyak minum
      Bila hidung tersumbat karena pilek bersihkan lubang hidung dengan sapu tangan
       yang bersih
      Bila badan seseorang demam gunakan pakaian yang cukup tipis tidak terlalu ketat.
      Bila terserang pada anak tetap berikan makanan dan ASI bila anak tersebut masih
       menetek
Pengobatan antara lain :


Mengatasi panas (demam)
           Dengan memberikan parasetamol atau dengan kompres, bayi dibawah 2 bulan
dengan demam harus segera dirujuk. Parasetamol diberikan 4 kali tiap 6 jam untuk waktu
2 hari. Cara pemberiannya, tablet dibagi sesuai dengan dosisnya, kemudian digerus dan
diminumkan. Memberikan kompres, dengan menggunakan kain bersih, celupkan pada air
(tidak perlu air es).


Mengatasi batuk
           Dianjurkan memberi obat batuk yang aman yaitu ramuan tradisional yaitu jeruk
nipis ½ sendok teh dicampur dengan kecap atau madu ½ sendok teh , diberikan tiga kali
sehari.


B. DIAGNOSA KEPERAWATAN :


  I.     Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan proses inspeksi
Tujuan : Suhu tubuh normal berkisar antara 36 – 37, 5 ‘ C


INTERVENSI


1. Observasi tanda – tanda vital


2. Anjurkan pada klien/keluarga umtuk melakukan kompres dingin ( air biasa) pada
       kepala / axial.


3. Anjurkan klien untuk menggunakan pakaian yang tipis dan yang dapat menyerap
       keringat seperti terbuat dari katun.


4. Atur sirkulasi udara.


5. Anjurkan klien untuk minum banyak ± 2000 – 2500 ml/hr.


6. Anjurkan klien istirahat ditempat tidur selama fase febris penyakit.


7. Kolaborasi dengan dokter :
        Dalam pemberian therapy, obat antimicrobial


        Antipiretika
RASIONAL


1. Pemantauan tanda vital yang teratur dapat menentukan perkembangan perawatan
       selanjutnya.


2. Degan menberikan kompres maka aakan terjadi proses konduksi / perpindahan panas
       dengan bahan perantara .


3. Proses hilangnya panas akan terhalangi untuk pakaian yang tebal dan tidak akan
       menyerap keringat.


4. Penyedian udara bersih.


5. Kebutuhan cairan meningkat karena penguapan tubuh meningkat.


6. Tirah baring untuk mengurangi metabolism dan panas.


7. Untuk mengontrol infeksi pernapasan


        Menurunkan panas


 II.     Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan anoreksia


Tujuan :
        Klien dapat mencapai BB yang direncanakan mengarah kepada BB normal.
        Klien dapat mentoleransi diet yang dianjurkan.
        Tidak menunujukan tanda malnutrisi.




INTERVENSI


1. Kaji kebiasaan diet, input-output dan timbang BB setiap hari


2. Berikan makan pporsi kecil tapi sering dan dalam keadaan hangat


3. Beriakan oral sering, buang secret berikan wadah husus untuk sekali pakai dan tisu
       dan ciptakan lingkungan beersih dan menyenamgkan.


4. Tingkatkan tirai baring.
5. Kolaborasi
        Konsul ahli gizi untuk memberikan diet sesuai kebutuhan klien


RASIONAL


1. Berguna untuk menentukan kebutuhan kalori menyusun tujuan berat badan, dan
       evaluasi keadekuatan rencana nutrisi.


2. Untuk menjamin nutrisi adekuat/ meningkatkan kalori total


3. Nafsu makan dapt dirangsang pada situasi rilek, bersih dan menyenangkan.


4. Untuk mengurangi kebutuhahan metabolic


5. Metode makan dan kebutuhan kalori didasarkan pada situasi atau kebutuhan individu
       untuk memberikan nutrisi maksimal.


III.     Nyeri akut berhubungan dengan inflamasi pada membran mukosa faring dan tonsil.


Tujuan : Nyeri berkurang / terkontrol


INTERVENSI


1. Teliti keluhan nyeri ,catat intensitasnya (dengan skala 0 – 10), factor memperburuk
       atau meredakan lokasimya, lamanya, dan karakteristiknya.


2. Anjurkan klien untuk menghindari allergen / iritan terhadap debu, bahan kimia,
       asap,rokok. Dan mengistirahatkan/meminimalkan berbicara bila suara serak.


3. Anjurkan untuk melakukan kumur air garam hangat


4. Kolaborasi


          Berikan obat sesuai indikasi


           Steroid oral, iv, & inhalasi


           Analgesik
RASIONAL


1. Identifikasi karakteristik nyeri & factor yang berhubungan merupakan suatu hal yang
      amat penting untuk memilih intervensi yang cocok & untuk mengevaluasi ke
      efektifan dari terapi yang diberikan.


2. Mengurangi bertambah beratnya penyakit.


3. Peningkatan sirkulasi pada daerah tenggorokan serta mengurangi nyeri tenggorokan.


4. Kortikosteroid digunakan untuk mencegah reaksi alergi / menghambat pengeluaran
      histamine dalam inflamadi pernapasan.


             Analgesic untuk mengurangi rasa nyeri




IV.        Resiko tinggi tinggi penularan infeksi berhubungan dengan tudak kuatnya
           pertahanan sekunder (adanya infeksi penekanan imun)
Tujuan :
           Tidak terjadi penularan
           Tidak terjadi komplikasi




INTERVENSI


1. Batasi pengunjung sesuai indikasi


2. Jaga keseimbangan antara istirahat dan aktifitas


3. Tutup mulut dan hidung jika hendak bersin, jika ditutup dengan tisu buang segera
      ketempat sampah


4. Tingkatkan daya tahan tubuh, terutama anak usia dibawah 2 tahun, lansia dan
      penderita penyakit kronis. Dan konsumsi vitamin C, A dan mineral seng atau anti
      oksidan jika kondisi tubuh menurun / asupan makanan berkurang


5. Kolaborasi
         Pemberian obat sesuai hasil kultur
RASIONAL


1. Menurunkan potensial terpalan pada penyakit infeksius.


2. Menurunkan konsumsi /kebutuhan keseimbangan O2 dan memperbaiki pertahanan
   klien terhadap infeksi, meningkatkan penyembuhan.


3. Mencegah penyebaran pathogen melalui cairan


4. Malnutrisi dapat mempengaruhi kesehatan umum dan menurunkan tahanan terhadap
   infeksi


5. Dapat diberikan untuk organiasme khusus yang teridentifikasi dengan kultur dan
   sensitifitas / atau di berikan secara profilatik karena resiko tinggi
                          DAFTAR PUSTAKA

DepKes RI. Direktorat Jenderal PPM & PLP. Pedoman Pemberantasan Penyakit Infeksi
Saluran Pernafasan Akut (ISPA). Jakarta. 1992.


Doenges, Marlyn E . Rencana Asuhan Keperawatan: pedoman untuk perencanaan dan
pendokumentasian perawatan pasien


Alih bahasa I Made Kariasa. Ed 3. Jakarta: EGC.1999

								
To top