Docstoc

ANALISIS ROMAN ATHEIS

Document Sample
ANALISIS ROMAN ATHEIS Powered By Docstoc
					                                        BAB I
                                  PENDAHULUAN


1.1 LATAR BELAKANG
       “Sastra”, istilah yang sudah tidak asing lagi di telinga kita. Sesuatu yang dahulu
kita anggap sebagai sesuatu yang hanya berhubungan dengan puisi dan prosa ternyata
tidak sesederhana itu. Kita harus banyak menggali dan mempelajarai lebih banyak lagi
segala sesuatu yang berhubungan dengan sastra tersebut. Sastra tersebut dapat
diibratkan dengan samudra yang sangat luas, yang memerlukan waktu yang sangat lama
untuk dapt mengukur kedalamannya dan memanfaatkan kekayaannya.
       Membaca sebuah karya sastra, dalam hal ini cerita fiksi, pada hakikatnya
merupakan kegiatan apresiansi sastra secara langsung. Maksudnya adalah : kegiatan
memahami karya sastra dengan sungguh-sungguh sehingga tumbuh pengertian,
penghargaan, kepekaan kritis yang baik terhadap karya sastra tersebut ( Aminudin,
19953 : 35 ). Sastra, atau kesusastraan, menurut Swingewood (dalam Faruk, 1994:39),
merupakan suatu rekonstruksi dunia dilihat dari sudut pandang tertentu yang kemudian
dimunculkan dalam produksi fiksional. Sastra merupakan ekspresi pengarang yang
bersifat estetis, imajinatif, dan integratif dengan menggunakan medium bahasa untuk
menyampaikan amanat tertentu. Al-nasr atau prosa adalah karya sastra yang
menggambarkan pikiran dan perasaan namun tidak terikat pada aturan bait dan rima
(Syayib, 1964:328).
       Roman sebagai salah satu hasil dari karya sastra memang sangat menarik untuk
diteliti dan diketahui lebih dalam lagi mengenai karya tersebut. Roman berasal dari kata
“roman” yang artinya adalah cerita dalam bahasa Romawi. Roman dalam kaitannya
dengan sastra berarti cerita yang ditulis dalam bentuk prosa, menceritakan tentang
kehidupan manusia secara lahir maupun bathin. Roman memiliki keunikan tersendiri
dengan karya sastra yang lain. Namun, dewasa ini roman dan novel sering tidak
dihiraukan perbedaanya. Bahkan pembaca sering tidak menghiraukan perbedaan yang
ada antara roman dan novel yang ada. Mereka lebih tertarik terhadap isi dari buku yang
dibacanya. Hal ini dikarenakan semakin berkembangnya kemajuan dan kreatifitas
sastrawan dalam menghasilkan karya-karyanya.




TEORI SASTRA “Analisis Roman ATHEIS”                                                   1
       Selain itu, sebagai salah satu karya sastra Roman sudah semestinya memiliki
unsur-unsur yang membangun karya tersebut.unsur tersebut meliputi unsure ekstrinsik
dan intrinsic. Baik unsure intrinsic maupun ekstrinsik sama-sama berperan dalam
membangun sebuah karya sastra. Untuk dapat menentukan dan menelaah sebuah
Roman, kita harus menyelami dan masuk kedalam cerita tersebut. Hal ini dimaksudkan
untuk mampu menjiwai dari karya tersebut. Dengan mampu menelaah sebuah karya
sastra khususnya roman, akan mempermudah kita dalam menentukan dan memilih
mana roman yang baik dan yang kurang baik. Untuk itulah penting dilakukannya
sebuah telaah yang nantinya akan membantu mempermudah kita menentukan roman
yang baik dan yang kurang baik.
       ATHEIS sebagai salah satu bentuk roman Indonesia memang perlu untuk
dipelajari. Roman tersebut memiliki cerita yang cukup menarik dan pantas dijadikan
sebagai bahan pelajaran. Namun, untuk dapat memahami dan mengerti secara utuh dari
roman tersebut kita harus mampu membedah unsur-unsur yang membentuknya. Tanpa
dilakukan pembedahan kita tidak kan pernah tahu unsur ekstrinsik dan intrinsik yang
membangunnya. Salah satunya yang cukup penting adalah masalah dan tema. Untuk
mampu membedah roman ATHEIS, kita memerlukan sebuah teori yang mampu
mendukung proses penelaahan tersebut. Salah satu teori yang bisa digunakan adalah
Teori Robert Stanton.




TEORI SASTRA “Analisis Roman ATHEIS”                                             2
1.2 RUMUSAN MASALAH
       Berdasarkan latar belakang di atas, dapat digambarkan beberapa rumusan
masalah
    1. Bagaiman prinsip dari teori Robert Stanton dalam menganalisis sebuah Roman
        ?
    2. Apa yang menjadi Masalah dan Tema dalam Roman ATHEIS ?
    3. Apa saja yang menjadi fakta cerita dalam roman tersebut ?
    4. Apa saja yang menjadi sarana sastra dalam roman ATHEIS ?


1.3 TUJUAN PENULISAN
       Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah yang telah disampaikan, maka
terdapat beberapa tujuan :
   1. Mengetahui prinsip teori Robert Stanton dalam menganalisis roman.
   2. Mengetahui Masalah dan Tema yang diangkat dalam Roman ATHEIS.
   3. Mengetahui Fakta cerita dalam roman ATHEIS.
   4. Mengetahui sarana sastra yang mendukung roman ATHEIS.


1.4 MANFAAT PENULISAN
       Dalam menganalisis sebuah karya sastra khususnya roman secara tidak
langsung, kita dapat memahami unsur-unsur yang mendukung sebuah karya sastra
tersebut. Misalnya unsur ekstrinsik dan unsur intrinsik. Selain itu, dengan menerapkan
teori Robert Stanton kita mampu menelaah sebuah karya sasyra khususnya roman.
Dengan mampu menelaah roman, kita akan mampu dengan mudah memahami sebuah
karya sastra. Kita tidak hanya mengetahui jalan ceritanya saja, tetapi juga unsure-unsur
yang mendukungnya.
       Selain itu, kita sebagai calon pendidik akan mampu mengimplementasikan hasil
dari telaah terhadap Roman ATHEIS sebagai bahan pembelajaran. Kita tidak hanya
mampu memberikan teori tetap[I penerapan langsung terhadap anak didik. Tidak hanya
itu, hasil dari analisi ini juga bisa dimanfaatkan sebagai bahan untuk tugas penelitian.




TEORI SASTRA “Analisis Roman ATHEIS”                                                       3
1.5 METODE PENULISAN
       Dalm penulisan makalah ini digunakan metode kajian pustaka. Kajian pustaka
adalah metode yang digunakan dengan cara mengumpulkan bahan-bahan yang
diperlukan dalam penulisan makalah ini. Bahan terseebut berupa buku-buku yang
dijadikan sebagai referensi dalam penulisa. Dengan buku-buku tersebut kita kemudian
melakukan pembahasan.


1.6 LANDASAN TEORI
       Roman sebagai salah satu hasil karya sastra sangat menarik untuk kita ketahui
dan pelajari. Di dalam roman kita akan menemukan beberapa unsur yang
membentuknya. Kita mengetahui bersama bahwa setiap karya sastra selalu ada unsure
yang membangunnya. Unsure-unsur tersebut bersatu padu sehingga menghasilkan
gabungan yang membentuk karya sastra. Menurut Made Sukada (dalam Sutresna,
2006:4), beliau menyatakan bahwa unsur karya sastra terdiri dari (1) elemen-elemen
cipta sastra, meliputi insien, plot, karakterisasi (2)komposisi cerita, (3) teknik cerita, (4)
gaya. Elemen cipta sastra merupakan isi sedangkan komposisi cerita, teknik cerita, dan
gaya merupakan bentuk sastra. Sedangkan menurut Robert Stanton, analisis sebuah
prosa harus dilakukan dengan mengetahui unsur-unsur yang membentuk prosa tersebut.
Robert Stanton menyatakan bahwa ada tiga unsur yang membentuk sebuah karya sastra
prosa, antara lain (1) masalah dan tema, (2) fakta cerita, dan (3) sarana sastra.
       Menurut Abrams ( Semi, 1985 : 13 ) teori struktural adalah bentuk pendekatan
yang objektif karena pandangan atau pendekatan ini memandang karya sastra sebagai
suatu yang mandiri. Ia harus dilihat sebagai objek yang berdiri sendiri, yang memiliki
dunia sendiri, oleh sebab itu kritik yang dilakukan atas suatu karya sastra merupakan
kajian intrinsik semata. Teori struktural memandang teks sastra sebagai satu struktur
dan antarunsurnya merupakan satu kesatuan yang utuh, terdiri dari unsur-unsur yang
saling terkait, yang membangun satu kesatuan yang lengkap dan bermakna. Abrams
menambahkan bahwa suatu karya sastra menurut kaum strukturalisme merupakan suatu
totalitas yang dibangun secara koherensif oleh berbagai unsur pembangunnya. Di suatu
pihak struktur karya sastra dapat diartikan sebagai susunan, penegasan, dan gambaran
semua bahan dan bagiannya yang menjadi komponennya secara bersama-sama




TEORI SASTRA “Analisis Roman ATHEIS”                                                        4
membentuk kebulatan yang indah ( Sumiwati, 1997 : 7 ). Sependapat dengan hal itu
Teeuw mengungkapkan bahwa bagaimanapun analisis struktural merupakan tugas
prioritas bagi seorang peneliti sastra sebelum dia melangkah kepada hal-hal lain.
       Ada banyak pendapat tentang unsur yang membangun sebuah karya sastra.
Namun, kita akan menggunakan teori Robert Stanton untuk menganalisis Roman
ATHEIS karena dari penjabaran yang telah diberikan, kita mampu melakukan
penganalisisan secara lebih mudah. Untuk menganalisis sebuah Roman menurut teori
Robert Stanton kita harus memperhatikan unsur-unsur yang membangun sebuah karya
sastra yaitu, (1) masalah dan tema, (2) fakta cerita, dan (3) sarana sastra.


       1.6.1   Masalah dan Tema
1.6.1.1 Masalah
       Masalah merupakan suatu hal atau tentang hidup dan kehidupan yang diangkat
dalam cerita sebuah karya fiksi. Maksudnya adalah dalam kenyataan kehidupan terdapat
berbagai permasalahan yang sering dihadapi manusia. Permasalahan itu mungkin
bersifat universal, tetapi bisa juga bersifat khusus dan pribadi dalam sebuah karya fiksi
berkaitan dengan tema. Artinya, tema dapat disarikan dari pokok permasalahan yang
diungkapkan dalam sebuah karya fiksi.
1.6.1.2 Tema
         Tema merupakan dasar cerita yang paling penting dari seluruh cerita. Tanpa
tema, sebuah cerita rekaan tidak ada artinya sama sekali. Selain itu, tema juga
merupakan tujuan cerita, atau ide pokok di dalam suatu cerita yang merupakan patokan
untuk membangun suatu cerita. Dengan kata lain, tema adalah suatu unsur yang
memandu seorang pengarang sebagai ide utama atau pemikiran pokok, ke mana sebuah
cerita akan diarahkan. Robert Stanton menempatkan tema sebagai sebuah arti pusat
dalam cerita, yang disebut juga sebagai ide pusat dan Stanton juga menyatakan bahwa
tema cerita berhubungan dengan makna pengalaman hidupnya. Oleh karena itu, tema
menjadi salah satu unsur dan aspek cerita rekaan yang memberikan kekuatan dan
sekaligus sebagai unsur pemersatu kepada sebuah fakta dan alat-alat penceritaan, yang
mengungkapkan tentang kehidupan. Tema selalu dapat dirasakan pada semua fakta dan
alat penceritaan di sepanjang sebuah cerita rekaan.




TEORI SASTRA “Analisis Roman ATHEIS”                                                   5
Tema tidak dapat dipisahkan dari permasalahan-permasalahan yang dikemukakan
pengarang dalam karyanya sebab tema selalu berkaitan dengan masalah (kehidupan)
yang dikemukakan dalam cerita rekaan tersebut. Akan tetapi tema tidak sama dengan
masalah. Tema adalah suatu (hal) yang berkaitan dengan pandangan, pendapat, ataupun
sikap pengarang tentang suatu masalah, sedangkan masalah adalah sesuatu hal yang
haarus diselesaikan. Sebuah tema pada dasarnya merupakan abstraksi dari suatu
masalah. Oleh karena itu, tema sebuah karya sastra haruslah diabstraksikan dari masalah
utama yang diungkapkan pengarang dalam karyanya.
         Tema merupakan gagasan sentral, ide sentral , pandangan hidup pengarang
atau makna sentral yang menjadi dasar penyusunan karangan dan sekaligus merupakan
suatu yang hendak diperjuangkan serta menjadi sasaran dari karangannya. Secara
sederhana tema dapat diartikan inti cerita dalam sebuah cipta sastra. Ada juga ahli sastra
yang menyatakan bahwa wujud tema dalam sastra berpangkal kepada alasan tidak
(motif tokoh). Tema dapat dibedakan menjadi dua, yaitu:
1.6.1.2.1 Tema Minor
         Tema minor adalah makna yang hanya terdapat pada bagian-bagian tertentu
atau tema-tema kecil yang diungkapkan dalam sebuah cerita atau karya sastra, seperti
moral, etika, agama, sosial, budaya, dan tradisi yang terkait dengan masalah kehidupan
atau bisa berupa pandangan pengarang, ide pengarang, dan keinginan pengarang dalam
menyiasati persoalan yang muncul. Tema-tema ini bersifat mendukung dan
mencerminkan serta mempertegaskan eksistensi makna utama keseluruhan cerita.
         Sebagai sebuah karya sastra imajinatif, tema dapat diungkapkan melalui
berbagai cara, seperti melalui dialog tokoh-tokohnya, melalui konflik-konflik yang
dibangun, atau melalui komentar secara tidak langsung. Karena itu, tema yang baik
pada hakikatnya adalah tema yang tidak diungkapkan secara langsung dan jelas. Tema
bisa disamarkan sehingga kesimpulan tentang tema yang diungkapkan pengarang harus
dirumuskan sendiri oleh pembaca. Dalam hal ini, pengarang bisa saja mengungkapkan
tema sentralnya dalam satu unit rangkaian cerita, tetapi bisa juga ia mengemukakan
pada bagian-bagian tertentu, misalnya diakhir cerita. Begitu pula yang berkaitan dengan
penyelesaian tema. Pengarang bisa mengungkapkan penyelesaian lewat akhir cerita,
tetapi bisa juga ia menyerahkan penyelesaian tema kepada pembaca.




TEORI SASTRA “Analisis Roman ATHEIS”                                                    6
          Menarik tidaknya sebuah tema akhirnya bergantung kepada kepiawaian
pengarang. Semakin pendai ia menyamarkan tema tersebut melalui ungkapan-ungkapan
simbolik atau tanda-tanda tertentu, maka semakin baik model tema yang diungkapkan.
Karena pada dasarnya, menarik tidaknya sebuah tema bukan terletak kepada kebagusan
jenis tema yang diungkapkan, melainkan bagamana pengarang mampu meramu tema
tersebut dalam jalinan cerita yng menarik, penuh konflik, penuh kegelisahan sosial,
batin dan rumah tangga, penuh kegelandangan (kebebasan hidup dan kesunyian hidup),
penuh ke-absurd-an, dan menyatu dengan karakter tokoh-tokohnya.
1.6.1.2.2 Tema Mayor
          Tema mayor adalah makna pokok cerita yang menjadi dasar atau gagasan
umum atau makna-makna tambahan yang mempertegasakan eksistensi makna karya itu.
Penafsiran harus dilakukan berdasarkan fakta-fakta yang ada. Fakta-fakta itu secara
keseluruhan dapat membangun cerita.


        1.6.2 Fakta Cerita
        Yang dimaksud dengan fakta cerita adalah segala sesuatu yang berkaitan atau
berhubungan dengan tokoh dan penokohan, latar, dan plot atau jalan cerita, suspens, dan
kredibilitas.
1.6.2.1 Tokoh
                Pembicaraan mengenai alur pada dasarnya adalah pembicaraan mengenai
rangkaian peristiwa dan kejadian dalam sebuah karya sastra khususnya cerpen atau
novel, sedangkan peristiwa itu terjadi karena tindakan dan perbuatan manusia yang
menjadi tokoh cerita dalam konfliknya sesama tokoh atau dengan lingkungannya. Henry
James secara retorik menyatakan karakter (watak) sesungguhnya merupakan penentu
bagi peristiwa dan kejadian. Sebaliknya, peristiwa merupakan ilustrasi atau
pencerminan karakter tokoh. Saleh Saad menyatakan bahwa tokoh dan penokohan
merupakan faktor penting yang harus ada dalam cerita sebab segenap peristiwa terjadi
karena aksi/tindakan para tokoh cerita itu. Dengan kata lain, peristiwa dan kejadian di
dalam roman ATHEIS karya Achdiat K Mihardja tidak dapat dipisahkan dan dilepaskan
dari tokoh yang menyebabkan terjadinya peristiwa tersebut. Tokoh-tokoh dalam karya
fiksi merupakan tokoh-tokoh rekaan. Tokoh-tokoh dalam sebuah cerita tidak saja




TEORI SASTRA “Analisis Roman ATHEIS”                                                 7
berfungsi untuk memainkan cerita, tetapi juga berperan untuk menyampaikan ide, motif
atau tema. Semakin berkembangnya ilmu jiwa, terutama psiko-analisa merupakan satu
alasan penting peranan tokoh cerita sebagai bagian yang ditonjolkan oleh pengarang
(Sumardjo,1986:63). Koflik-konflik yang terdapat dalam suatu cerita yang mendasari
terjalinnya suatu plot, pada dasarnya tidak dapat dilepaskan dari tokoh-tokohnya, baik
yang bersifat protagonis maupun antagonis. Pada dasarnya tokoh dalam sebuah cerita
dibagi menjadi dua jenis, yakni (1) tokoh utama, (2) tokoh bawahan. Tokoh utama
senantiasa berhubungan dalam setiap peristiwa dalam cerita (Stanton, 1984:17). Tokoh
bawahan menurut Griemes (dalam Gunatama, 2005:78) merupakan tokoh yang tidak
sentral kedudukannya dalam cerita, tetapi kehadirannya sangat diperlukan untuk
menunjang tokoh utama
1.6.2.2 Penokohan
       Penokohan merupakan satu bagian penting dalm membangun sebuah cerita.
Penggambaran tokoh suatu cerita rekaan dapat ditampilkan dengan berbagai cara (Tasrif
dalam Gunatama, 2005 :78), diantaranya (1) phisycal description, (2) potrayal of
thoughstream of councious thought, (3) reaction to event, (4) direct author analysis, (5)
discussion of envirounment, (6) reaction of others of character, dan (7) conversation of
other about character. Penokohan berperan dalam menampilkan keseluruhan ciri atau
watak seseorang tokoh melalui suatu percakapan (dialog) dan tingkah laku (action).
Selain istilah perwatakan, digunakan dalam cerita, juga sering digunakan istilah watak
tokoh dalam suatu cerita.
Pengggambaran watak tokoh dapat ditampilkan melalui teknik penyajian watak atau
metode penokohan, diantaranya adalah (1) cara analitik, dan (2) cara dramatic (Saad,
1967:123-124 dalam Gunatama, 2005:79. untuk menilai karakter tokoh dapat dilihat
dari apa yang dikatakan dan apa yang dilakukan (Abrams, 1981:20). Identifikasi
tersebut adalah didasarkan pada konsistensi atau keajegannya, dalam artian konsistensi
sikap, moralitas, prilaku, dan pemikiran dalam pemecahan, memandang, dan bersikap
dalam menghadapi setiap peristiwa. Masalah. Dengan bahasa yang berbeda, David
Daiches menyebutkan bahwa karakter pelaku cerita fiksi dapat muncul dari sejumlah
peristiwa dan bagaimana reaksi tokoh tersebut pada peristiwa yang dihadapi (Daiches,
1948:352). Peristiwa yang terangkai dalam cerita pada hakikatnya adalah rangkaian plot




TEORI SASTRA “Analisis Roman ATHEIS”                                                   8
dengan demikian, membicarakan karakter pelaku tidak mungkin dapat dijelaskan dari
plot dalam penghadiran karakter pelaku merupakan fungsi-fungsi plot (Frey, 1973:52
dalm Gunatama, 2005:79).
       Kendatipun pemunculan watak dan karakter tokoh tidak dapat dilepaskan dari
rangkaiaan peristiwa, bentuk dan model mengepresikan karakter tokoh yang dipakai
oleh pengarang bisa bermacam-macam, yakni dari segi keterlibatan ada tokoh utama
dan tokoh bawahan, dari segi watak dan karakter ada tokoh bulat dan tokoh datar, dari
segi penokohan ada dengan cara langsung (phisycal description dan direct author
analysis), yakni menggambarkan tampilan fisikalnya dan cirri-ciri khususnya (seperti
prilaku, latar belakang, keluarga, kehidupan tokoh pada awal cerita). Sealin itu ada juga
cara tidak langsung (potrayal of thoughstream of councious thought, reaction to event,
discussion of envirounment, dan reaction of others of character), yakni mendiskripsikan
karakter tokohnya. Karakter dibangun melalui kebiasaan berpikir, cara pengambilan
keputusan dalam menghadapi setiap peristiwa, perjalanan karier, dan hubungannya
dengan tokoh-tokoh lain, termasuk komentar dari tokoh-tokohyang satu dengan yang
lainnya. Karena untuk menggambarkan karakter tokoh dalam model ini tidak dapat
dilihat hanya dalam satu satuan waktu tertentu, melainkan harus dilihat dari sekuen
peristiwa secara keseluruhan (Daiches, 1984:354). Model ini kadang-kadang terkait
dengan peristiwa masa lalu atau degresi. Dari sini, biasanya pengarang mencoba
menggambarkan tokoh utama melalui dialog antar tokoh dan kemudian membuat satu
presentasi state of mind tahap demi tahap dihubungkan dalam satuan-satuan peristiwa.
Watak tokoh yang diungkapkan pengarang mengair seirama dengan situasi yang
dihadapi para tokoh, seperti bagimana tokoh-tokoh cerita menghadapi persoalan-
peroalan tertentu, bagaimana pola pemikiran, konsitensi sikap, arus kesadaran
perubahan emosional, bahasa yang dipakai, dan dalam setiap peristiwa yang dihadapi.
Melalui dialog-dialog yang dikemukakan oleh pengarang, pembaca akan mengetahui
sejauh mana moralitas, mentalitas, p[emikiran, watak, dan prilaku tokohnya. Karena itu,
model ini disebut oleh Daiches (1948:354) sebagai teknik stream of consciousness.


1.6.2.3 Latar (Setting)




TEORI SASTRA “Analisis Roman ATHEIS”                                                   9
         Dalam analisis cerita rekaan, latar atau setting juga merupakan salah satu
unsur yang sangat penting bagi penentuan nilai estetik karya kesusastraan. Latar atau
setting juga merupakan salah satu fakta cerita yang harus diperhatikan, dianalisis dan
dinilai. Latar biasa juga disebut sebagai atmosphere atau setidak-tidaknya bagian
atmosphere atau tone secara keseluruhan.
        Pada cerita rekaan, boleh dikatakan hampir selamanya diperlukan dan
dipentingkan latar cerita yang secara singkat dapat dikatakan berfungsi untuk membuat
cerita rekaan tersebut supaya terasa lebih hidup, lebih segar, atau memberikan lukisan
yang lebih jelas mengenai peristiwa-peristiwa, perwatakan tokoh, dan sebgainya
sehingga seolah-olah sungguh-sungguh terjadi seperti dalam kehidupan manusia sehari-
hari.
        Pada dasarnya, latar adalah tempat terjadinya peristiwa dalam cerita pada suatu
waktu tertentu. Dengan cara yang lebih luas, dapat dikatakan bahwa latar adalah
lingkungan di sekeliling pelaku cerita, mungkin berupa sebuah kamar, lingkungan
kehidupan sebuah rumah tangga, bahkan di dalamnya termasuk pula pekerjaan dan
lingkungan pekerjaan para pelaku, alat-alat yang digunakan dan berhubungan dengan
pekerjaan tokoh, dan sebagainya.
        Latar landas tumpu adalah tempat terjadinya suatu cerita, yang termasuk ke
dsala latar ini adalah tempat atau ruang yang dapat diamati. Sebagimana disebutkan
Sumardjo dan Zaini K.M (1986:70) bahwa latar berkaitan atau berintegrasi dengan
tema, watak, gaya, dan implikasi atau kaitan filosofisnya. Dalam haltertentu, latar harus
mampu membentuk tema dan plot tertentu yang dalam dimensinya terkait dengan
tempat, waktu, daerah, dan orang-orang tertentu dengan watak-watak tertentu akibat
situasi dan lingkungan serta zamannya, cara hidup, cara berpikirnya.
        Untuk mengetahui ketapatan latar dalam sebuah karya dapat dilihat dari
beberapa indikator. Abrams (Gunatama, 2005:84) menyebutkan tiga indikator yang
meliputi, yakni (1) general locale, (2) historycal time, (3) social cirxumstances.
Barangkali dari indikator itulah akan dapat dilihat kesesuaian unsur-unsur pembentuk
cerita. Jika indikator tersebutditerapkan dalam telaah latar sebuah karya sastra, bukan
berarti bahwa persoalan yang dilihat hanya sekedar tempat terjadinya peristiwa, saat
terjadinya peristiwa, dan situasi sosialnya, melainkan juga dari konteks diagesisnya




TEORI SASTRA “Analisis Roman ATHEIS”                                                  10
kaitannya dengan prilaku masyarakat dan dan watak para tokohnya sesuai dengan
situasi pada saat karya tersebut diciptakan. Karena itu, dari telaah yang dilakukan harus
diketahui sejauh mana kewajaran, logika, peristiwa, perkembangan karakter pelaku
sesuai dengan pandangan masyarakat yang bberlaku saat itu. Menurut Toda (1984:41)
bahwa latar itu adalah suatu kejadiaan terjadi yang dikenal sebagai ruang tokoh-tokoh
melandaskan laku. Dan latar yang berupa alam dapat berfungsi dari keinginan manusia
(Gunatama, 2005:84)
1.6.2.4 Alur
       Alur merupakan kerangka dasar yang penting bagi sebuah karya cerkaan atau
fiksi. Alur juga dapat diartikan serangkaian peristiwa-peristiwa atau kejadian-kejadian
dalam cerita yang disusun sebagai sebuah interrelasi fungsional yang sekaligus
menandai urtan bagian-bagian dalam keseluruhan cerita. Luxemburg dkk,(1984 :149)
menyebut plot atau alur adalah konstruksi yang dibuat pembaca mengenai sebuah
deretan peristiwa yang secara logis dan kronologis saling berkaitan dan diakibatkan atau
dialami oleh para pelaku.
         Forster mendefininisikan cerita adalah pengisahan peristiwa demi peristiwa
yang tersusun sedemikian rupa berdasarkan urutan waktu. Oleh karena itu, cerita
merupakan sederetan kisah dan peristiwa yang tidak harus berhubungan dan belum
tentu pula berkaitan satu sama lainnya. Secara sepintas, perbedaan antara batasan cerita
dan alur agak kabur dan sedikit tersamar. Forster mmberikan batasan alur juga sebagai
suatu rentetan penceritaan, tetapi penekanannya terletak pada hubungan kausalitas.
Hubungan kausalitas tersebut tidak hanya dinyatakan dengan sangat eksplisit, tetapi
juga mengandung suatu misteri, yaitu suatu bentuk pernyataan yang bisa dikembangkan
dengan baik sekali.
       Alur sebenarnya merupakan salah satu aspek intelektual dan logika dalam cerita
rekaan, yang juga memerlukan misteri, yang membuat pembacanya mungkin meraba-
raba dalam dunia yang tidak nyata. Alur adalah jalan cerita dalam sebuah cerpen dengan
pengertian bagaimana cara pengarang menyuguhkan cerpennya kepada pembaca,
bagaimana suatu cerita dirangkaikan antara satu peristiwa dengan peristiwa yang lain
dalam hubungan kausalitas. Saleh Saad mencoba merumuskan pengertian alur sebagai
sambung-sinambung peristiwa berdasarkan hukum sebab-akibat. Alur tidak hanya




TEORI SASTRA “Analisis Roman ATHEIS”                                                  11
mengemukakan apa yang terjadi, tetapi yang lebih penting menjelaskan mengapa hal itu
terjadi. Hubungan sebab-akibat dalam alur selalu menuntut kemampuan daya ingat dan
kecerdasan berpikir pembaca agar dapat memahami sebuah cerita rekaan.
S. Tarif menyebut alur sebagai konflik yang merupakan tulang punggung sebuah novel.
Konflik memang dapat dihadirkan dalam berbagai bentuk di sepanjang alur, seperti
antartokoh cerita, antara tokoh dengan alam sekitarnya, dan intertokoh cerita yang
biaasanya dikenal dengan konflik batin. Tanpa konflik, alur cerita tidak akan bergerak.
       Secara garis besarnya, alur cerita rekaan ada dua bentuk, yaitu (1) alur lurus atau
kronologis, dan (2) alur sorot balik (flashback). Alur disebut lurus, apabila peristiwa-
peristiwa yang berfungsi sebagai unsurnya disusun secara beruruta, misalnya awal-
tengah-akhir (Panuti-Sudjiman, 1988:30), atau mulai dari paparan (eksposisi), rumitan
(komplikasi), klimaks, leraian, dan diakhiri dengan selesaian (Abrams, 1981:139).
Sebaliknya, alur disebut sorot balik (flashback), apabila urutan kronologis peristiwa
yang disajkan disela oleh peristiwa-peristiwa lain yang seharusnyaterjadi sebelumnya
(Panuti-Sudjiman, 1988:33).
       Ditinjau dari segi akhir cerita dikenal adanya alur terbuka dan alur tertutup. Alur
disebut terbuka , apabila cerita berakhir pada klimaks. Sebaliknya alur disebut tertutup,
apabila cerita berakhir pada suatu pemevcahan masalah atau penyelesaian (Semi,
1988 :4). Sedangkan ditinjau dari segi kuantitasnya dikenal adanya alur tunggal dan alur
jamak. Suatu cerita dikatakan beralur tunggal, apabila cerita tersebut hanya memiliki
sebuah plot utama. Sebaliknya, cerita itu dikatakan beralur jamak apabila cerita itu
memeiliki lebih dari satu alur utama dan alur-alur utama itu sering bersinggungan pada
titik tertentu. Artinya, segala peristiwa kecil-kecil yang melingkari peristiwa-peristiwa
pokok yang membangun cerita (Semi, 1988 :44). Ditinjau dari segi kualitas cerita
dikenal adanya alur rapat dan alur longgar. Sebuah cerita dinyatakan beralur rapat,
apabila alur utama itu tideak memiliki celah untuk disisipi alur-alur lain. Artinya,
bagian-bagian cerita itu diikat dengan erat agar peristiea-peristiwa itu tidak keluar dari
cerita pokok. Sebaliknya, cerita itu dinyatakan beralur longgar, apabila ia memiliki
kemungkinan adanya penyisipan alur lain. Artinya, bagian-bagian cerita itu tidak diikat
erat sehingga dimungkinkan dipengaruhi oleh peristiwa-peristiwa lain (Semi, 1988 :44).




TEORI SASTRA “Analisis Roman ATHEIS”                                                   12
          1.6.3   SARANA SASTRA
                  Menurut Stanton bahwa yang dimaksud dengan sarana saatra adalah cara
atau metode pengarang memiliki dan mengatur butir-butir cerita sehingga tercipta
bentuk-bentuk karya sastra yang sanggup mendukung makna. Dapat juga dikatakan
bahwa sarana sastra adalah unsur-unsur pendukung dalam sebuah karya sastra. Unsur-
unsur tersebut mencakup, (1) judul, (2) gaya bahasa, (3) ironi, (4) pusat pengisahan, (5)
nada dan gaya, (6) suasana, (7) simbol, (8) klimaks, (9) asosiasi dan imajinasi, (10)
humor, (11) konflik, dan (12) tanda-tanda bahasa lainnya.
1.6.3.1     Judul
          Judul adalah sebuah kata, prase, atau nama dan label yang digunakan untuk
menandai karya bertalian dengan masalah dan tema cerita
1.6.3.2     Konflik
          Konflik adalah pertentangan dalam cerita rekaan antara dua kekuatan,
pertentangan di dalam diri satu tokoh dan pertentangan antara dua tokoh.
1.6.3.3     Gaya (style)
            Gaya adalah cara pengarang menggunakan bahasa dalam karyanya. Ide dan
perasaan sering tampak nyata seperti fakta fisikal meskipun tidak tampak dan tidak
dapat diraba. Dalam karya sastra salah satu cara untuk membuatnya seperti nyata ialah
dengan menggunakan simbol sehingga ide dan perasaan itu dapat mudah diterima dalam
angan-angan pembacanya. Mnurut Stanton, simbolisme dalam karya fiksi memiliki
manfaat tergantung bagaimana penggunaannya. Pengertian simbolisme sastra mungkin
membuat pembaca lebih bingung daripada penertian sarana cerita lainnya. Namun,
simbolisme tidaklah aneh dan sulit dengan sendirinya. Alasan itu didasarkan bahwa
hampir semua simbol dalam sastra tidak lebih merupakan fakta yang tampaknya masuk
akal. Alasan lainnya adalah bahwa sebagian besar simbol sastra mengungkapkan arti
untuk mana simbol konvensional tidak muncul. Oleh karena itu, masalah kita sebagai
pembaca ada dua hal, yaitu untuk mengetahui pernyataan-pernyataan itu sebagai simbol
atau bukan, dan mencari makna yang diungkapkan
1.6.3.4     Pusat Pengisahan
           Dalam menyuguhkan ceritanya, pengarang dapat menggunakan beberapa
sudut pandang dalam arti seorang pengarang bisa mengambil atau memilih suatu posisi




TEORI SASTRA “Analisis Roman ATHEIS”                                                  13
serta kedudukan tertentu terhadap kisah yang akan ditulisnya. Ada kalanya seorang
pengarang hanya mengambil posisi sebagai orang luar saja, berada di luar cerita yang
dikisahkannya. Akan tetapi, kemungkinan juga pengarang akan mengambil posisi
sebagai salah seorang tokoh yang melibatkan diri serta ikut bermain dan mengambil
peranan dalam cerita tersebut tanpa mengurangi sifat rekaan cerita itu. Baik mengambil
posisi sebagai orang luar maupun melibatkan diri sebagai pemeran atau tokoh, namun
tokoh cerita itu sendiri tetap merupakan tokoh rekaan pengarang.
          Pusat pengisahan merupakan salah satu sarana sastra (literary device) dan cara
bercerita dari titik pandang mana atau siapa cerita dilukiskan. Pusat pengisahan
menerangkan “ siapa yang bercerita ” (Saad, 1976:125). Hal ini penting untuk
mendapatkan gambaran tentang kesatuan cerita. Pusat pengisahan ini menunjukan
pertallian antara pencerita (narator) dengan ceritanya. Ada beberapa cara sudut pandang
yang oleh Wellek dan Austin (1976:222-223) disebut metode sudut pandang dalam
mengisahkan cerita, yakni (1) penceria atau narator dapat mengisahkan cerita orang lain
sebagai orang ketiga atau dengan metode orang ketiga (metode dia, mereka), (2)
pencerita atau narator menceritakan kisahnya sendiri disebut metode orang pertama
(metode aku). Metode orang pertama ada dua macam, yakni (a) metode orang pertama
sertaan, disini narator menceritakan pengalaman atau ceritanya sendiri, si pencerita
menyebut tokoh utamanya sebagai aku. Jadi, disitu narrator ber-aku mengisahkan
dirinya sendiri, (b) metode aku tak sertaan, narrator sebagai akumenceritakan tokoh
utama, baik tooh utama ber-aku maupun diceritakan sebagai dia atau mereka. Jadi, di
sini aku tak sertaan sebagai “saksi” terhadap cerita orang lain yang menjadi tokoh utama
yang di ceritakan.
1.6.3.5     Nada dan Gaya
          Nada merupakan sikap emosional pengarang yang dihadirkan dalam karya
sastra. Hal ini mungkin berupa sikap romantis, ironis, misterius, gembira, tidak sabar,
keras, atau yang lainnya. Ketika pengarang menghayati perasaan tokoh, dan ketika
perasaan itu tercermin dalam lingkungannya, maka nada it identik dengan atmosfir.
Atau, dengan kata lain, nada adalah gaya penuturan pengarang dalam suatu karyanya.
Misalnya, nada cerita dibangun sebagaian dengan fakta cerita, seperti pembunuhan
dengan kampak agaknya memiliki nada yang mengerikan.




TEORI SASTRA “Analisis Roman ATHEIS”                                                 14
1.6.3.6     Aliran
          Aliran dalam suatu karya sast4ra biasanya berkembang dalam satuan waktu
tertentu. Dalm setiap periode sastra, umumnya selalu diikuti oleh suatu aliran yang
menjadi mode pada waktu itu. Aliran ini dapat dikatakan sebagai suatu paham atau
pandangan yang dapat digunakan sebagai metode kerja dalam sastra dan seni pada
umumnya. Ada beberapa aliran sastra yang dikenal dan pernah menjadi ciri khas,
panutan dan mode pengarang Indonesia diantaranya              adalah aliran romantismr,
romantis-idealisme, romantis-realisme, ekspresionisme, impresionisme, naturalisme,
surealisme, eksistensialisme, strukturalisme, meteralisme, dan lain-lain. Aliran-aliran ini
sering memberikan kerancuan makna karena medan kajiannya berbeda, tetapi pada
hakikatnya dasar aliran tersebut sama.
1.6.3.7     Klimaks
          Klimaks adalah majas penegasan dengan urutan pikiran yang setiap kali semakin
meningkat dari gagasan sebelumnya dan berakhir pada gagasan yang paling penting
atau menarik.




TEORI SASTRA “Analisis Roman ATHEIS”                                                    15
                                         BAB II
                      SINOPSIS CERITA ROMAN ATHEIS


Judul                : ATHEIS
Pengarang            : Achadiat K. Mihardja
Penerbit             : Balai Pustaka
Kota Terbit          : Jakarta
Cetakan ke           : Emapat belas
Tahun Terbit         : 1994
Jumlah halaman       : 232 halaman
Ringkasan Cerita     :
        Sebelum Hasan pindah ke Bandung, untuk meneruskan sekolahnya, di Mulo dia
adalah seorang pemuda yang sangat taat terhadap agama. Hal ini memang sesuai dengan
keadaan di daerahnya yaitu daerah Penyeredan, dimana kehidupan agama Islam begitu
kental. Kedua orang tuanya merupakan pemeluk agama Islam ortodok dan ikut dalam
suatu kelompok tarekat agama tertentu.
        Selama di Mulo, Hasan berpacaran dengan seorang gadis yang bernama
Rukmini, yaitu teman sekolahnya di Mulo. Namun cinta mereka harus kandas ditengah
jalan, sebab Rukmini kemudian harus menerima lamaran seorang saudagar kaya dari
Jakarta karena hal tersebut merupakan permintaan dari kedua orang tuanya. Akibat
kegagalan cintanya dengan Rukmini itu Hasan menjadi sangat prustasi. Untuk
melupakan Rukmini, Hasan masuk kesuatu aliran terekat agama yang juga dianut oleh
kedua orangtuanya.
        Kehidupan agama Hasan yang kuat, dan ketekunannya dalam beribadah mulai
terusik dan goyah ketika teman masa kecilnya Rusli yang pada waktu itu
memperkenalkan seorang janda yang bernama Kartini. Kartini adalah potret seorang
perempuan yang hidup dalam lingkungan modern. Pada akhirnya Hasan jatuh cinta
dengan janda itu karena wajahnya yang mirip dengan mantan kekasihnya Rukmini.
        Pada awalnya, karena Hasan adalah seorang yang taat beragama, dia tergugah
dan hendak menyelamatkan Rusli dan Kartini yang tidak beragama itu. Rusli dan
Kartini telah beberapa kali dinasehatinya dan diberi khotbah agama supaya sadar dan




TEORI SASTRA “Analisis Roman ATHEIS”                                            16
mau kejalan yang benar. Namun karena Rusli itu termasuk orang yang pintar berbicara
dan memiliki pengetahuan yang luas, Hasan lama-kelamaan malah berbalik. Malah dia
yang mulai terpengaruh pada pikiran-pikiran Rusli maupun Kartini. Keimanan Hasan
makin lama makin lemah akibat kedekatannya dengan kedua orang itu. Semakin lama
semakin lemah sinar keimanan Hasan, yaitu ketika Rusli memperkenalkannya dengan
seorang pemuda yang berpikiran anarkis yang bernama Anwar. Karena imannya yang
sudah sangt lemah, serta pikiran-pikiran Anwar dan teman-temannya yang anarkis
sudah mempengaruhi dan merasuk dalam tubuh Hasan, Hasan pada tahap selanjutnya
sudah mulai dan berani melawan ayahnya.
       Kedekatannya dengan janda Kartini yang bebas itu, kemudian membawanya
pada pernikahan yang dilakukan secara bebas pula. Namun kehidupan keluarga Hasan
dan Kartini tidak berjalan dengan bahagaia dan tidak berlangsung lama, sebab Hasan
maupun Kartini sama-sama manusia modern dan selalu ingin berbuat atau berkehendak
bebas. Kartini yang bebas selalu bergaul dengan bebas pada siapa saja, termasuk pada
Anwar. Bahkan menurut pandangan Hasan, antara karini dengan Anwar sudah terjadi
sebuah perselingkuhan.
       Akibat prahara dan keruwetan rumah tangganya itu, malah berdampak baik pada
Hasan. Kesadarnnya akan dosa, baik terhadap Tuhan maupun kedua orang tuanya mulai
bangkit lagi. Akhirnya Hasan memutuskan untuk meninggalkan teman-temannya yang
sesat itu dan menceraikan Kartini untu kembali kejalan Tuhan yaitu jalan kebenaran.
Setelah bercerai dengan Kartini, Hasan kembali ke kampungnya, dimana dia ingin
memohon ampun atas segala dosa dan kesalahan yang telah diperbuatnya kepada kedua
orang tuanya. Namun sayang ayahnya menolak permintaan maaf anaknya itu, sampai
akhirnya dia meninggal dunia.
       Hati Hasan begitu hancur mendapat kenyataan itu. Dia sedih karena disaat-saat
ayahnya sudah hamper menghembuskan nafas terakhir, tetapi belum mendapat maaf
dari ayahnya. Di atas segala keputusasaannya itu, Hasan mencari sumber utama
mengapa dia sampai menjadi orang yang begitu jahat yang sangat bertolak belakang
dengan kehidupannya yang dahulu. Setelah dipikir-pikir, ternyata menurut pikiran
Hasan bahwa penyebab semua itu adalah Anwar. Dengan nafsu ingin membunuh dan
dendam yang sangat membara, Hasan ingin mencari Anwar dan membalas dendam.




TEORI SASTRA “Analisis Roman ATHEIS”                                             17
Karena matanya yang sudah dibutakan oleh dendam, Hasan tidak menghiraukan
keadaan sekelilingnya. Padahal pada waktu itu keadaan sangat bebahaya. Bunyi sirine
meraung-raung dimana-mana, dia tidak peduli. Dia terus     mencari Anwar. Namun
naasnya, sebelum bertemu dengan Anwar, Hasan tiba-tiba merasakan ada sesuatu yang
menembus tubuhnya. Hasan terkapar ditengah jalan, di atas aspal berlumuran darah.
Sebelum meninggal Hasan sempat mengucapkan Allahu Akbar, sebagai tobat dan
penyesalan atas segala dosa yang telah diperbuatnya.




TEORI SASTRA “Analisis Roman ATHEIS”                                            18
                                 BAB III
                          TELAAH ROMAN ATHEIS
                      MENURUT TEORI ROBERT STANTON

       Untuk menganalisis atau menelaah sebuah Roman menurut teori Robert Stanton
kita harus memperhatikan unsur-unsur yang membangun sebuah karya sastra yaitu, (1)
masalah dan tema, (2) fakta cerita, dan (3) sarana sastra.
       3.1 Masalah dan Tema
       3.1.1 Masalah
       Masalah merupakan suatu hal atau tentang hidup dan kehidupan yang diangkat
dalam cerita sebuah karya fiksi. Maksudnya adalah dalam kenyataan kehidupan terdapat
berbagai permasalahan yang sering dihadapi manusia. Permasalahan itu mungkin
bersifat universal, tetapi bisa juga bersifat khusus dan pribadi dalam sebuah karya fiksi
berkaitan dengan tema. Artinya, tema dapat disarikan dari pokok permasalahan yang
diungkapkan dalam sebuah karya fiksi.
       Masalah yang tedapat dalam roman ATHEIS sangat komplesks. Masalah-
masalah tersebut dapat dipilah sebagai berikut, (1) masalah percintaan, (2) masalah
status sosial, (3) masalah hubungan komunikasi suami-istri, (4) masalah anak dengan
orang tua, (5) masalah pergolakan sosial budaya dengan pribadi.
       3.1.1.1   Masalah Percintaan
       Roman ATHEIS ini mengisahkan problematika cinta, baik yang dialami oleh
Hasan dengan      Rukmini, Hasan dengan Kartini, maupun Kartini dengan Anwar.
Keempat tokoh ini masing-masing memiliki masalah percintaan yang berbeda-beda.
Kisah percintaan antara Hasan dan Rukmini harus putus di tengah jalan karena kedua
orang tua mereka sama-sama tidak menyetujuinya. Padahal kisah kasih mereka sedang
bersemi, namun mendak layu seketika. Akhirnya mereka memutuskan untuk memilih
jalan masing-masing, karena menghormati kedua orang tuanya. Rukmini akhirnya
menikah dengan seorang saudagar kaya dan pindah ke Jakarta. Sedangkan Hasan
bekerja pada kantor pemerintahan di kota Bandung. Walaupun keduanya masih saling
mencintai, pada zaman itu belum ada yang berani memutuskan kehidupannya sendiri.
Mereka masih taat dan patuh kepada orang tua.




TEORI SASTRA “Analisis Roman ATHEIS”                                                  19
       Berbeda dengan kisah cinta Hasan dengan Rukmini, kisah cinta Hasan dengan
Kartini berjalan lancar. Kartini yang pada saat itu berstatus janda dapat menaklukan hati
Hasan. Wajah Kartini yang mirip dengan Rukmini, menambah ketertarikannya pada
Kartini. Hasan mulai tergila-gila dengan Kartini. Kisah cinta mereka terus mengalir
seiring berjalannya waktu. Cinta mereka dapat disatukan, dan kemudian mereka
akhirnya menikah.
       Tidak demikian halnya dengan kisah cinta Anwar. Anwar yang sudah lama
mencintai Kartini harus kandas. Kartini yang mencintai Hasan menolak perasaan
Anwar. Cinta Anwar pun akhirnya bertepuk sebelah tangan. Anwar yang memang orang
yang keras kepala, tetap tidak berubah perasaannya terhadap Kartini. Dia terus
mendekati Kartini, walaupun kini semakin berhati-hati karena Kartini telah menjadi
milik Hasan.
       3.1.1.2 Masalah Status Sosial
       Dalam roman ATHEIS, masalah status sosial juga diangkat. Permasalahan ini
timbul antara golongan haji kosasih, yaitu seorang pedagang besar di kota Bandung
dengan golongan raden atau menak, permasalahn ini juga timbul karena dipicu oleh
kisah cinta antara Hasan dengan Rukmini. Hasan yang berstatus sebagai keturunan
raden atau menak, harus melepaskan Rukmini yang sangat dicintainya karena Rukmini
adalah keturunan haji kosasih.
       3.1.1.3 Masalah Hubungan Komunikasi Suami-Istri
       Masalah hubungan komunikasi suami istri dalam roman ATHEIS, terjadi dalam
kehidupan rumah tangga Hasan dengan Kartini. Karena tidak adanya komunikasi yang
baik, dan juga karena rasa cemburu yang tunggi membuat Hasan menjadi gelap mata.
Dia menceraikan istrinya Kartini karena kedekatannya dengan Anwar. Hasan tidak
menghiraukan penjelasan dari Kartini. Hasan tetap yakin pada pendsapatnya bahwa
Kartini berselingkuh dengan Anwar. Walaupun pada kenyataannya itu tidak pernah
terjadi. Kartini hanya menganggap Anwar sebagai teman biasa. Karena komunikasi
yang kurang baik antara Hasan dengan Kartini, akhirnya rumah tangga mereka
berantakan. Mereka akhirnya bercerai.




TEORI SASTRA “Analisis Roman ATHEIS”                                                  20
       3.1.1.4 Masalah Anak Dengan Orang Tuanya
       Roman ATHEIS, juga mengangkat permasalahan antara anak dengan orang
tuanya. Masalah ini terjadi antara Hasan dengan orang tuannya. Sejak kecil Hasan yang
telah dididik dengan ilmu agama sehingga menjadi anak yang patuh dan saleh, tiba-tiba
saja berubah. Perubahan ini terjadi setelah Hasan pindah ke kota Bandung. Hasan tidak
lagi menjalankan perintah agam dan sudah tidak pernah sembahyang lagi. Mengetahui
hal tersebut, ayahnya berusaha menyadarkan Hasan. Namun karena pengaruh yang
besar dari teman-temannya, Hasan membantah perkataan ayahnya. Hasan mulai berani
melawan orang tuanya. Ayah Hasan sangat marah dan kecewa melihat perubahan yang
terjadi pada anaknya. Karena tidak sanggup melihat perubahan pada anaknya, ayah
Hasan menjadi sakit dan akhirnya meninggal dunia. Walau sebelum meninggal Hasan
sempat berusaha meminta maaf, tetapi karena terlanjur kecewa terhadap Hasan, ayahnya
tidak mau memaafkannya sammpai akhirnya meninggal dunia.
       3.1.1.5 Masalah Pergolakan Sosial Budaya Dengan Pribadi
       Dalam roman ATHEIS ini masalah yang juga diangkat adalah mengenai
pergolakan sosial budaya dengan pribadi. Hasan merupakan seorang yang sangat rajin
bersembahyang dan taat terhadap perintah agama dan juga orang tua, tiba-tiba berubah.
Hasan tidak lagi menghiraukan agama karena pengaruh teman-temannya. Namun,
setelah berapa lama, Hasan mulai menyadari kekeliruannya. Hasan sadar kalau telah
banyak melakukan dosa dan kekeliriuan. Hasan mulai insyaf setelah ayahnya meniggal
dunia. Dalam diri Hasan terjadi pergolakan yang sangat besar. Ada dua hal yang
bertentangan merasuk kedalam diri Hasan. Antara kinginan untuk kembali kejalan yang
benar dan keinginan untuk melanjutkan yang tidak benar. Ternyata pengaruh
lingkungan kehidupan sosial budaya sangat berpengaruh terhadap kehidupan Hasan.
Hasan yang semula begitu taat beragama berubah menjadi orang yang tak acuh.


       3.1.2 TEMA
              Dalam roman ATHEIS yang dijadikan sebagai tema adalah tentang
kehidupan sosial masyarakat. Dalam roman ATHEIS ini, hal yang paling mendasar yang
dijadikan sebagai tema adalah cerita tentang bagaimana kehidupan agama seseorang
yang pengangkapan agamanya selalu setengah-setengah, baik karena pendidikan




TEORI SASTRA “Analisis Roman ATHEIS”                                              21
agamanya yang lemah maupun pengaruh kehidupan modern yang menjadi lingkungan
sebuah kota besar. Tema dalam roman ini sungguh sangat memikat dan pantas kalau
roman ini menjadi salah satu bacaan wajib bagi pelajar dan mahasiswa.

3.1.2.1 Tema Minor
          Dalam roman ATHEIS yang merupakan tema minor adalah masalah etika dan
agama. Dalam roman ini kita menemukan adanya pertentangan etika dan masalah
agama antar tokoh-tokohnya. Disatu sisi Hasan yang memiliki etika yang baik harus
bergaul dengan Kartini dan Anwar yang memiliki etika yang kurang baik. Dalam roman
ini kita mengetahui bagaimana keteguhan hati dan etika Anwar bisa berubah karena
pengaruh dari tokoh Kartini dan Anwar. Walau pada akhrinya Hasan mulai sadar akan
kekeliruannya, tapi semua itu sudah terlambat. Hasan sudah terlanjur menyakiti hati
kedua orangtuamya, dan samapi akhir hayatnya Hasan tidak memperoleh maaf dari
ayahnya. Agama juga merupakan hal yang sangat penting dan dijadikan tema minor
dalam roman ini. Agama sebagai suatu kepercayaan dan tatanan kehidupan harus
berubah dari norama-norma yang sudah digariskan. Kita menemukan bagaimana
keragu-raguan Hasan menghadapi pengaruh globalisasi dan pengaruh dari lingkungan
sekitarnya. Roman ini menggambarkan kekuatan iman Hasan harus goyah karena
pengaruh dari teman-temanya, yaitu Anwar dan Kartini.

3.1.2.2 Tema Mayor
         Tema mayor adalah makna pokok cerita yang menjadi dasar atau gagasan
umum atau makna-makna tambahan yang mempertegasakan eksistensi makna karya itu.
Penafsiran harus dilakukan berdasarkan fakta-fakta yang ada. Fakta-fakta itu secara
keseluruhan dapat membangun cerita.
         Dalm roman ini yang merupakan tema mayor adalah tentang kehidupan
agama seseorang yang pengangkapan agamanya selalu setengah-setengah, baik karena
pendidikan agamanya yang lemah maupun pengaruh kehidupan modern yang menjadi
lingkungan sebuah kota besar




TEORI SASTRA “Analisis Roman ATHEIS”                                            22
        3.2 Fakta Cerita
        Yang dimaksud dengan fakta cerita adalah segala sesuatu yang berkaitan atau
berhubungan dengan tokoh dan penokohan, latar, dan plot atau jalan cerita, suspens, dan
kredibilitas.
        3.2.1 Tokoh
          Tokoh-tokoh dalam karya fiksi merupakan tokoh-tokoh rekaan. Tokoh-tokoh
dalam sebuah cerita tidak saja berfungsi untuk memainkan cerita, tetapi juga berperan
untuk menyampaikan ide, motif atau tema. Semakin berkembangnya ilmu jiwa,
terutama psiko-analisa merupakan satu alasan penting peranan tokoh cerita sebagai
bagian yang ditonjolkan oleh pengarang (Sumardjo,1986:63). Koflik-konflik yang
terdapat dalam suatu cerita yang mendasari terjalinnya suatu plot, pada dasarnya tidak
dapat dilepaskan dari tokoh-tokohnya, baik yang bersifat protagonis maupun antagonis.
Pada dasarnya tokoh dalam sebuah cerita dibagi menjadi dua jenis, yakni (1) tokoh
utama, (2) tokoh bawahan. Tokoh utama senantiasa berhubungan dalam setiap peristiwa
dalam cerita (Stanton, 1984:17). Tokoh bawahan menurut Griemes (dalam Gunatama,
2005:78) merupakan tokoh yang tidak sentral kedudukannya dalam cerita, tetapi
kehadirannya sangat diperlukan untuk menunjang tokoh utama
          Dalam roman ATHEIS yang berperan sebagai tokoh utama adalah (1) Hasan
dan (2) Kartini. Kedua tokoh ini dalam roaman atheis senantiasa hadir dalam setiap
kejadian atau peristiwa. Sedangkan yang berperan sebagai tokoh adalah (1) Rusli, (2)
raden wiradikrama dan istinya (orangtua Hasan), (3) Rukmini, (4) Anwar, (5) haji
dahlan, (6) bung parta, (7) nata, dan (8) sitis.
        Penggambaran tokoh suatu cerita rekaan dapat ditampilkan berbagai cara (Tasrif
dalam Gunatama, 2005 :78), diantaranya (1) phisycal description, (2) potrayal of
thoughstream of councious thought, (3) reaction to event, (4) direct author analysis, (5)
discussion of envirounment, (6) reaction of others of character, dan (7) conversation of
other about character. Penggambaran watak tokohnya dapat ditampilan melalui teknik
penyajian watak atau metode penokohan, diantaranya adalah (1) cara analitik, dan (2)
cara dramatik (Saad dalm gunatama 2005:78)




TEORI SASTRA “Analisis Roman ATHEIS”                                                  23
       3.2.2    Penokohan
       Penokohan merupakan satu bagian penting dalm membangun sebuah cerita.
Penggambaran tokoh suatu cerita rekaan dapat ditampilkan dengan berbagai cara (Tasrif
dalam Gunatama, 2005 :78), diantaranya (1) phisycal description, (2) potrayal of
thoughstream of councious thought, (3) reaction to event, (4) direct author analysis, (5)
discussion of envirounment, (6) reaction of others of character, dan (7) conversation of
other about character. Penokohan berperan dalam menampilkan keseluruhan ciri atau
watak seseorang tokoh melalui suatu percakapan (dialog) dan tingkah laku (action).
Selain istilah perwatakan, digunakan dalam cerita, juga sering digunakan istilah watak
tokoh dalam suatu cerita.
       Dalam roman ATHEIS terdapat beberapa tokoh serta karakteristiknya, seperti :
           1.   Hasan
       Seorang pemuda berpendidikan yang awalnya begitu lekat dengan kehidupan
agama karena memang didikan agama yang baik dari kedua orangtuanya. Namun dalam
perkembangannya, setibanya dikota Bandung, kehidupan Hasan mulai berubah menjadi
orang yang setengah-setengah terhadap agamanya.
       Berikut adalah kutipan yang menggambarkan kepribadian Hasan,
       Pada usia lima tahun aku sudah dididik dalam agama. Aku sudah mulai diajari
       mengaji dan sembahyang. Sebelum tidur, ibuku sudah biasa menyuruh aku
       menghafal ayat-ayat atau surat-surat dari alquran. Sahadat, salawat dan kyhlu,
       begitu juga fatehah aku sudah hafal dari masa itu. Juga nyanyi puji-puji kepada
       Tuhan dan Nabi.
       Selain daripada itu banyak aku diberi dongeng tentang surga dan neraka. Dan
       biasanya ibu mendongeng itu sambil berbaring di sampingku, setengah
       memeluk aku. Dan aku menengadah dengan mataku lurus melihat ke para-para
       tempat tidur seperti melihat layar bioskop. Maka terpaparlah di atas layar itu
       bayang-bayang khayalku tentang peristiwa-peristiwa dalam neraka.
       Anak yang nakal, yang tidak mau bersembahyang akan masuk nerak, begitu
       kata ibu. “di neraka anak yang nakal itu akan direbus dalam kancah timah yang
       bergolak-golak. Tidak ada yang bisa menolong, ibu bapaknya pun tidak bisa
       menolong.

       Pada kutipan di atas, kita dapat mengetahui bahwa Hasan semasa kecilnya
adalah seorang anak yang penurut. Dia termasuk anak yang baik,karena sejak kecil
sudah diajarkan sembahyang dan ilmu agama yang baik. Hasan juga telah dididik
dengan budi pekerti yang luhur.




TEORI SASTRA “Analisis Roman ATHEIS”                                                  24
           2. Rusli
       Seorang pemuda teman Hasan yang telah sangat terpengaruh oleh kehidupan
kota besar. Dan dia inilah yang mempengaruhi kehidupan Hasan. Rusli merupakan
orang yang modern kehidupannya. Dunia barat dan globalisasi telah mempengaruhi
kehidupan dan pola pikirnya.
       Hanya dalam dua hal kami kami tidak pernah bersama-sama, yaitu kalau Rusli
       berbuat nakal, dan apabila aku sembahyang. Orang tuaku melarang nakal,
       menyuruh sembahyang. Orang tua Rusli tak peduli.
       Dan kalau kami bersama-sama pergi ke masjid, maka aku untuk sembahyang,
       sedang Rusli untuk mengganggu khatib tua yang tuli atau untuk memukul-mukul
       bedug. Dan tak jarang pula aku sendiri diganggunya dalam sembahyang, dikili-
       kilinya telingaku, aku dipeluknya dari belakang, kalau aku sedang berdiri
       hendak melakukan rekaat pertama.
       Rusli bercerita, bahwa setelah tamat dari dari sekolah rendah di tasik malaya,
       ia lantas mengunjungi sekolah dagang di jakarta. Tapi tidak tamat, hanya
       sampai kelas tiga, oleh karena ia lantas tertarik oleh pergerakan politik.
       Sebagai seorang pemuda yang berkobar-kobar semangat kebangsaannya, ia
       masuk anggota salah satu anggota partai politik. Setelah partai politik tersebut
       dilarang dan banyak pemimpin-pemimpinnya ditangkap, maka Rusli menyingkir
       ke singapura.
       Di kota besar itu ia banyak bergaul dengan kaum pergerakan dari segala
       bangsa. Nafkah dicarinya dengan jalan bekerja sebagai sopir taksi, tempo-
       tempo berdagang kecil-kecilan. Soal nafkah memang tidak menjadi soal berat
       bagi rusli, oleh karena sebagai seorang pemuda bujangan ia tidak mempunyai
       banyak kebutuhan.
       (Atheis, hal 35)
Dari kutipan tersebut, kita telah dapat mengetahui bagaimana karakter dan watak Rusli.
Rusli merupakan seorang pemuda yang cukup ulet dan semangatnya berkobar-kobar
untuk mengikuti pergerakan. Sifat ini memang sudah ada sejak Rusli masih kecil. Rusli
tidak pernah menjalankan sembahyang dengan baik. Rusli termasuk anak yang nakal
karena kuang mendapat perhatian dari orang tuanya.
           3. Orangtua Hasan
       Adalah orang tua yang sangat taat beragama, yang dengan tekun mendidik
Hasan terhadap pelajaran-pelajarann agama. Mereka asangat menyayangi Hasan. Bagi
mereka hasan adalah segalanya dan harus mendapat yang terbaik. Sejak kecil mereka
te;lah mendidik hasan untuk menjadi orang yang baik dan berguna pada suatau saat.
Mereka juga orang tua yang sangat taat dan patuh terhadap perintah agama. Hal ini
dapat kita temukan pada kutipan berikut,




TEORI SASTRA “Analisis Roman ATHEIS”                                                25
       Ia seorang pensiunan manteri guru. Dengan pensiunannya yang besarnya
       hanya enam puluh rupiah, ia bisa hidup sederhana di kampung itu. Sebelum
       pensiun, berpindah-pindah saja tempat tinggalnya. Mula-mula sebagai guru
       bantu di kota tasik malaya, lantas pindah ke ciamis, ke banjar dan beberapa
       tempat kecil lgi, sampai pada akhirnya ia dipensiun sebagai menteri guru di
       ciamis.
       Ayah dan ibuku tergolong orang yang sangat saleh dan alim. Sudah sedari kecil
       jalan hidup ditempuhnya dengan tsbeh dan mukena. Iman islamnya sangat
       tebal. Tidak ada yang lebih nikmat dilihatnya daripada orang yang sedang
       bersembahyang, seperti tidak ada pula yang lebih nikmat bagi penggemar film
       daripada menonton film bagus.
       Memang baik ayah maupun ibuku kedua-duanya keturunan keluarga yang alim
       pula. Ujung cita-cita mereka mau menjadi haji. Tapi oleh karena kurang
       mementingkan soal mencari kebendaan, maka mereka tidaklah mampu untuk
       melaksanakan pelayaran ketanah suci.      (Atheis, hal 16-17)
       Dari kutipan di atas, kita dapat mengetahui bagaimana kehidupan dan watak
orang tua Hasan. Mereka hidup dalam kesederhanaan, tetapi imannya terhadap agama
sangat tinggi. Mereka merupakan orang-orang yang saleh dan beriman.
          4. Rukmini
       Rukmini adalah seorang perawan atau gadis yang sangat dicintai oleh Hasan ,
namun Rukmini kemudian menikah dan menjadi istri seorang saudagar di Jakarta.
       Rukmini adalah seorang anak haji kosasih. Yaitu seorang pedagang besar di
       kota bandung. Ia baru saja tamat sekolah kepandaian putri yang
       diselenggarakan oleh missie. Tapi biarpun bersekolah katolik, ia tetap rajin
       melakukan sembahyang, berpuasa, dan lain-lain lagi perintah agama islam.
       Memang perasaan keagamaan pada gadis itu sangat tebal. Walaupun begitu, ia
       tidak kaku dalam pergaulan, selalu riang dan ramah, suka sekali bercakap-
       cakap dan pandai pula bersolek. Cita-citanya sama dengan aku, mau mengabdi
       dan memajukan agama kita. (Atheis, hal 48)
       Dari kutipan tersebut, kita telah mengetahui bagaimana watak dari Rukini. Dia
adalah seorang gadi yang pintar dan juga baik hati. Ilmu agamanya cukup tinggi dan
juga seorang perempuan yang saleh, rukmini gadis yang pandai bergaul dan juga panda
menjaga perasaan orang lain.
          5. Kartini
       Seorang perempuan modern, yang selanjutnya menjadi kekasih dari Hasan.
Kartini merupakan seorang perempuan yang sangat modern. Hal ini karena pengaruh
perkembangan zaman dan pergaulan kartini yang sangat luas.
       “matanya lincah berikilau-kilauan. Ia memakai kebaya crepe warna kuning
       mengkilap. Pada dadanya sebelah kiri terklukis sekuntum bunga aster berwarna




TEORI SASTRA “Analisis Roman ATHEIS”                                             26
       nila dengan tiga helai daunnya yang hijau tua. Kainnya jelamprang yang
       dipakaikan secara “gejed mulo” artinya demikian rupa hingga dalam dia
       melangkah, betisnya yang kuning langsep itu seolah-olah tilem timbul, sekali
       langkah kelihatan, sekali lagi tertutup oleh kainnya. Sehelai kain leher yang
       panjang dari sutera hijau muda berbunga-bunga merah membelit kendur pada
       lehernya. Bibirnya merah dengan lipstic dan pipinya memakai roug yang tidak
       terlalu merah. Segala-galanya serba modern, tetapi tepat sederhana, tidak
       berlebih-lebihan”.(Atheis, hal 40)
Kutipan di atas bagaimana penampilan kartini yang menunjukan bahwa ia merupakan
seorang perempuan yang modern dan dinamis. Tingkah lakunya memang banyak
terpengaruh dengan kehidupan modern. Namun kemodernan Kartini masih tetap
sederhan dan menambah kecantikannya.
          6. Anwar
       Anwar seorang pemuda anarkis, yang begitu mempengaruhi kehidupan Hasan.
Anwar seorang pemuda yang begitu kental dengan kehidupan pergerakan. Ia merupakan
tokoh pemuda yang cukup berpengalaman dengan dunia pergerakan. Selain itu anwar
juga merupakan seorang pemuda yang selalu ingin diperhatikan oleh orang lain. Dalam
kutipan berikut akan digambarkan bagaimana sifat dan karakteristik Anwar.
       “ bagi Anwar hal itu agaknya kurang menyenagkan hatinya. Sudah biasa ia
       menjadi pusat perhatian orang. Berusaha menjadi pusat. Kalau Bung Parta
       melucu, Anwarlah yang paling keras tertawanya.kalau Bung Parta
       mengemukakan pendapat atau suatu teori, anwarlah yang paling dahulu
       berseru: betul! Betul! Betul! Dan kalau Bung Parta menyeropot kopi manisnya,
       maka anwar pulalah yang mempersilakan orang-orang lain meminum kopinya
       atau mengambil kue-kuenya. Dia sendiri menjangkau lagi pisang goreng.
       Tapi rupanya cara demikian itu belum cukup juga bagi Anwar. Ia mau lebih
       mendapat perhatian umum. Barangkali juga memang ia mau mengemukakan
       pendapatnya secara jujur. Pendeknya, Bung Parta yang selama ini tidak pernah
       didebati orang, tiba-tiba mendapat perdebatan dari Anwar”.
Kutipan tersebut, memberikan kita gambaran tentang bagaimana karakteristik anwar.
Dia adalah seorang anarkis yang selalu ingin menjadi pusat perhatian. Dari kutipan
tersebut, kita juga mengetahui bahwa anwar adalah seorang yang suka mencari muka
dihadapan orang lain. Dan satu hal yang lain, adalah bahwa anwar orang yang cukup
rakus dan suka makan.
          7. Siti
       Siti adalah seorang babu yang soleha. Dia juga seorang babu yang memiliki
iman yang cukup kuat. Ia sangat pandai dalam mendongen. Siti merupakan seorang




TEORI SASTRA “Analisis Roman ATHEIS”                                             27
babu yang bisa mengerti tentang keadaan hasan. Semasa kecil, hasan banyak
meluangkan waktu bersama dengan siti.
       Siti suka sekali mendongeng, dan sebagai biasanya pandai pula ia mendongeng.
       Dan tentu saja yang biasa didongengkannya itu dongeng yang hidup subur
       diantara para santri itu. Aku seakan-akan bergantung kepada bibirnya,
       mendengarkan. Terutama sekalai kalau siti menceritakan abunawas dan raja
       harul al-rasyid.
       Tapi biarpun begitu tidak ada cerita yang lebih berkesan dalam jiwaku yang
       masih hijau itu daripada cerita-cerita yang plastis tentang hukuman-hykyman
       neraka yang harus didrita oleh orang-orang yang berdosa didalam hidupnya di
       dunia.
       „mereka‟ kata siti harus melalui sebuah jembatan pisau yang sangat tajam,
       lebih tajam daripada sebuah pisau cukur, sebab pisau itu tajamnya seperti
       shelai rambut dibelah tujuh. (Atheis, hal 23)

Dari kutipan di atas kita dapat mengetahui bahwa siti merupakan seorang babu yang
memiliki pengetahuan cukup tinggi tentang agama islam. Hal ini dapat kita simpulkan
dari dongeng-dongeng yang disampaikan oleh siti. Kesimpulan ini juga ditunjang dari
latar belakang siti yang merupakan seorang santri yang taat.
           8. Nata
       Nata adalah seorang jongos atau pembantu laki-laki. Nata sendiri adalah suami
dari siti. Sama dengan siti, natapun adalah seorang santri yang cukup taat. Dalam hal ini
nata merupakan seorang santri yang cukup memiliki pikiran yang kritis tentang agama
islam. Kita dapat melihat karakter dari nata, berdasarkan kutipan berikut ini.
       Untuk harmoni di dalam rumah tangga, maka babu dan bujang punterdiri dari
       sejodoh orang-orang yang alim juga. Nata, lakinya pernah belajar mengaji
       pada sebuah pesantren.    (Atheis, hal 23)

Kutipan tersebut memberikan kita gambaran betapa nata, maupun istrinya merupakan
orang yang saleh. Nata merupaka sosok suami yang memiliki tanggung jawab terhadap
istri dan pekerjaan.
           9. Bung Parta
Bung parta adalah seorang tokoh pergerakan. Ia sangat pandai menyampaikan atau
mengemukakan gagasan tentang dunia pergerakan. Dalam menyampaikan pandangan-
pandangannya itu, ia serinng menggunakan lelucon untuk lebih meresap apa yang
disampaikannya itu, sehingga lebih mudah diterima oleh pendengarnya. Berikut adalah
kutipan yang menyatakan bagaimana karakteristik bung parta.




TEORI SASTRA “Analisis Roman ATHEIS”                                                  28
       Ketika masih berumur kira-kira 17 tahun, ia sudah turut berjuang dikalangan
       serekat islam. Ia pandai sekali berpidato. Sebagai propagandais dan demagog
       rupanya sukar mencari bandingannya, suatu tenaga yang luar biasa bagi SI.
       Akan tetapi kemudian ia bertukar haluan. Ia terpengaruh oleh aliran sosialis
       radikal yang ketika itu baru mulai merembes ke tanah air kita Indonesia. Maka
       serekat islam lantas ditentangnya dengan keras-kerasnya. Pernah ia berpidato
       di salah sebuah rapat umum yang diadakan pada bulan puasa. Begitulah
       ceritanya dengan berkelakar. Di atas podium ia lantas minum dimuka hadirin
       yang kebanyakannya terdiri dari orang-orang islam yang berpuasa. Tentu saja
       berteriak-teriak serta memaki-maki , malah ada juga yang melempar-lempar
       dengan apa saja yang bisa dilemparkannya ke podium.       (Atheis, hal 112)

Kutipan diatas menggambarkan bagaimana sifat dan perwatakan dari bung parta. Ia
merupakan seorang tokoh yang cukup radikal dan memiliki pengaruh yang besar.
Dalam kehidupannya, ia sudah mengalami berbagai kejadian yang membuat
pengalamnnya bertambah.
           10. Haji Dahlan
       Haji dahlan adalah seorang haji yang berasal dari banten. Nama aslinya sebelum
jadi haji adalah wiranta. Haji dahlan merupakan seorang haji yang memiliki ilmu atau
pandangan yang cukup luas tentang ajaran agama islam. Hal ini dapat kita ketahui dari
kutipan berikut.
              Banyak sekali serta dengan penuh semangat haji dahlan menguraikan
      pendapatnya tentang agama islam. “apa artinya bungkusan kalau tidak ada
      isinya. Betul tidak kak? Yang kita perlukan terutama isinya, bukan? Tapi
      biarpun begitu, isipun tidak akan sempurna kalau tidak berbungkus. Ambil saja
      mentega atau minyak samin. Akan sempurnakah makanan itu kalau tidak
      dibungkus? Kan tidak. Atau pisang ini? Oleh karena itu, maka sereat, tarakat,
      hakekat,dan makrifat semuanya itu sama=sama perlu bagi kita. Sereat yaitu
      ibarat buungkus, tarekat yaitu….tapi ah, lebih baik saya ambil kiasan yang
      lebih tepat. Kiasan mutiara saja. Mutiara itumakrefat hakekat, tujuan kita.
      Sareat yaitu kapal.tenaga dan pedoman kita untuk mendayung kapal dan
      kemudian menyelam kedasar segara untuk mengambil mutiara itu, ialah tarekat.
      Kita tidak mungkin dapat mutiara kalau tidak punya kapal dan tidak punya
      tenaga serta pedoman untuk mendayung dan menyelam ke dalam segara.
      Alhasil se,muanya perlu ada dan perlu kita jalankan bukan? Kapal tidak akan
      ada artinya kalau kita tidak ada tenagauntuk mendayungnnya dan tidak ada
      pula pedoman melancarkan ke jalan yang benar. Itulah maka sareat dan tareka
      perlu kedua-duanya, bukan?”
      (Atheis, hal 17-18)
Dari kutipan tersebut, kita mengetahui bahwa bagaimana karakter dari haji dahlan.
Beliau adalah seorang haji yang memiliki kemampuan dalam berkotbah yang cukup




TEORI SASTRA “Analisis Roman ATHEIS”                                              29
baik. Beliau mampu menyampaikan ajaran-ajaran agama islam melalui perbandingan-
perbandingan atau contoh-conntoh. Dengan contoh-contoh tersebut, orang yang diajak
berbicara lebih cepat mengerti teentang apa yang disampaikan. Haji dahlan merupakan
seorang haji yang cukup baik, karena telah mau memberikan nasehat kepada orang lai8n
tentang ajaran agama.



       3.2.3 Latar (Setting)
       Untuk mengetahui ketapatan latar dalam sebuah karya dapat dilihat dari
beberapa indikator. Abrams (Gunatama, 2005:84) menyebutkan tiga indikator yang
meliputi, yakni (1) general locale, (2) historycal time, (3) social cirxumstances.
Barangkali dari indikator itulah akan dapat dilihat kesesuaian unsur-unsur pembentuk
cerita. Jika indikator tersebutditerapkan dalam telaah latar sebuah karya sastra, bukan
berarti bahwa persoalan yang dilihat hanya sekedar tempat terjadinya peristiwa, saat
terjadinya peristiwa, dan situasi sosialnya, melainkan juga dari konteks diagesisnya
kaitannya dengan prilaku masyarakat dan dan watak para tokohnya sesuai dengan
situasi pada saat karya tersebut diciptakan. Karena itu, dari telaah yang dilakukan harus
diketahui sejauh mana kewajaran, logika, peristiwa, perkembangan karakter pelaku
sesuai dengan pandangan masyarakat yang bberlaku saat itu. Menurut Toda (1984:41)
bahwa latar itu adalah suatu kejadiaan terjadi yang dikenal sebagai ruang tokoh-tokoh
melandaskan laku. Dan latar yang berupa alam dapat berfungsi dari keinginan manusia
(Gunatama, 2005:84)
   3.2.3.1 Latar Tempat
       Latar ini berhubungan dengan masalah tempat suatu cerita terjadi. Wujud latar
ini secara konkrit menampilkan (1) latar tempat di luar rumah, dan (2) latar tempat di
dalam rumah. Kedua latar ini melingkupi pelaku atau tempat terjadinya peristiwa
ataupun tempat terjadinya peristiwa ataupun seluruh cerita. ; lingkungan kehidupan      ,
misalnya lingkungan sekolah, dan lingkungan pabrik ; sistem kehidupan, misalnya
kehidupan perguruan tinggi ada rektor, dekan, dosen, dan mahasiswa ; alat-alat atau
benda, misalnya di pabrik ada mesin dan lori ; dan watak terjadinya peristiwa, misalnya
pagi, siang, sore, bulan agustus, dan musim kemarau.




TEORI SASTRA “Analisis Roman ATHEIS”                                                  30
       1. latar tempat di luar rumah
       Roman ini sebagian besar mengambil latar atau setting daerah Pesundan, baik
itu kehidupan agama masyarakatnya, adapt istiadatnya, maupun kehidupan sosial
masyarakatnya..
       Di lereng gunung telaga Bodas di tengah-tengah pegunungan Priangan yang
       indah, terletak sebuah kampung, bersembunyi dibalik hijau pohon-pohon jeruk
       Garut yang segar dan subur tumbuhnya berkat tanah dan hawa yang nyaman
       dan sejuk. Kampung penyeradan namanya. Kampung itu terdiri dari kurang
       lebih dua ratus rumah kecil. Yang kecil yang jauh lebih besar jamlah-jumlahnya
       dari yang besar, adalah kepunyaan buruh-buruh tani yang miskin, dan yang
       besar ialah milik petani-petani kaya(artinya yang mempunyai tanah kurang
       lebih sepuluh hektar) yang disamping bertani, bekerja juga sebagai tengkulak-
       tengkulak jeruk, dan hasil bumi lainnya. Di antara rumah-rumah kecil dan
       rumah-rumah besar dari batu itu, ada lagi beberapa rumah yang dibikin dari
       setengah batu. Artinya, lantainya dari tegel tapi dindingnya hanya sampai kira-
       kira seperempat tinggi dari batu, sedangkan atasnya dari dinding batu biasa.
       Rumah-rumah demikian itu kepunyaan penduduk yang sentana, artinya yang
       mempunyai tanah barang sehektar duahektare. (Atheis, hal 16)
       Dari kutipan tersebut telah menggambarkan latar tempat dan kehidupan
masyarakat pedesaan di desa panyeradan di daerah pasundan. Kutipan tersebut
menggambarkan secara diteil mengenai         tempat sebuah peristiwa, serta tatanan
kehidupan yang berlaku.
       Loket bagian jawatan air dari kota praja tidak begitu ramai seperti biasa.
       Ruangan di muka loket-loket yang berderet itu sudah tipis orang-orangnya.
       Memang haripun sudah jam satu lebih. Yang masih berderet di muka loketku
       hanya beberapa orang saja. Aku asyik meladeni mereka. Seorang demi seorang
       meninggalkan loket setelah diladeni. Ekor yang terdiri dari orang-orang itu
       makin pendek, hingga pada akhirnya hanya tinggal satu orang saja.
              (Atheia, hal 30)
       Kutipan tersebut menggambarkan tentang suasana Kotapraja tempat Hasan
bekerja. Ini merupakan salah satu latar yang diambil di daerah kota bandung.
       Dalam roman atheis yang juga dijadikan latar adalah kota tasik malaya. Kota ini
merupakan tempat sekolah hasan bersama rusli.
       Saat itu pula dua badan yang terpisah oleh dinding, sudah tersambung oleh
       sepasang tangan kanan yang erat berjabatan. Mengalir seakan-akan rasa
       persahabatan yang sudah lama itu membawa kenangan kembali dari hati ke hati
       melalui jabatan tangan yang bergoyang-goyang naik turun seolah-olah menjadi
       goyah karena derasnya aliran rasa ini. Kepalaku seakan-akan turut
       tergoncangkan, mengeleng-geleng sambil berkata,”astaga, tidak mengira kita
       akan berjumpa lagi ya. Sudah lama ya kita tidak berjumpa? Sejak kapan?




TEORI SASTRA “Analisis Roman ATHEIS”                                               31
         Saya rasa sejak sekolah HIS, di tasik malaya dulu, sejak itu kita sudah tidak
         pernah berjumpa lagi.      (Atheis, hal 31)

         Roman atheis secara umum dapat menggambaerkan pergerakan tokoh hasan, atu
perpindahan yang dilakukan. Semasa kecilnya, hasan tinggal bersama kedua
orangtuanya di panyandaran. Ini berlangsung dari kecil sampai siap bersekolah. Setelah
berseekolah, hasan pendah ke tasik Malaya, tepatnya ia bersekolah di HIS. Disinilah ia
mulai bertemu dengan rukmini, dan mulai menjalin perasaan cinta. Disini pula hasan
dan rusli bersekolah bersama. Enam tahun mereka bersekolah disini. Seyelah tamat
sekolah HIS, hasan kembali ke panyadaran. Ia dan kartini bersama dengan rusli kembali
ke kampung. Tapi setelah itu, hasan mendapat pekerjaan di bandung, kemudian ia pun
pergi kebandung untuk bekerja.


         Berikut ini adalah diagram yang menyatakan latar dari roman ATHEIS.




 Panyandaran,

 Kampung tempat tinggal
 Hasan beserta kedua orang
 tuanya.




     1
                     2




 Tasik malaya,

 Tempat sekolah hasan, yaitu         3               4
 sekolah HIS bersama
 dengan rusli.




TEORI SASTRA “Analisis Roman ATHEIS”                                               32
 Bandung,

 Tempat kerja Hasan setelah
 lulus sekolah




         2. latar tempat di dalam rumah
         latar tempat di dalam rumah dapat diamati melalui peristiwa-peristiwa yang
terjadi di dalam rumah. Gambaran latar di dalam rumah dapat di temukan di rumah
Hasan (di penyendaraan), rumah hasan (di bandung), rumah rusli kebon mangga 11.
Berikut adalah kutipan yang berlatar tempat di rumah Hasan di penyandaraan.
       „‟ ibu didapur segera diberi tahu tentang niatku itu. Maka berlinaglah air mata
       ibuku.. syukurlah anakku.
       Aku tertunduk haru, terasa tangan yang terletak di atas bahuku bergetar, dan
       begitu juga suaranya. „‟ (Atheis, hal 26)

       „‟ tiga malam haji dahlan menginap di rumah orang tuaku. Pada hari kedua,
       sepulang berjumat di masjid. Sambil duduk-duduk dan minum-minum di tengah
       rumah „.      (Atheis, hal 17)

       „ Selain dari pada itu banyak aku diberi dongeng tentang surga dan neraka.
       Dan biasanya ibu mendongeng itu sambil berbaring-baring dalam tempat tidur,
       sebelum aku tidur. Ia berbaring di sampingku, setengah memeluk aku. Dan aku
       menengadah dengan mataku lurus melihat ke para-para tempat tidur seperti
       melihat layar bioskop. (Atheis, hal 21)

       ”Ah saudara, silakan masuk, saudara rusli menegurku dengan ramah ketika
       dilihatnya aku masuk halaman menyandarkan sepeda pada tembok.
       Sepedanya dikunci saja bung.
       Pintu menggerit dibuka oleh rusli. Aku masuk.
       Silakan duduk bung.
       Nampaknya rusli belum mandi.kulit mukanya seperti orang jepang. “
        (Atheis, hal 34)




TEORI SASTRA “Analisis Roman ATHEIS”                                               33
          “Di kamarku ada kaca besar,” kata rusli
          “Boleh saya” tanya kartini bangkit
          “Tentu saja, kenapa tidak boleh! Tak usah kuhantarkan toh?” sahut rusli
          berolok-olok.
          “aku suda besar. Tahu jalan. Jangan takut, takan tersesat” jawab kartini
          tertawa sambil menghilang ke dalam kamar. (Atheis, hal 41)

          Biar bi, saya tunggu bibi saja, „sahutku melangkah ke sebuah kursi malas di
          sudut serambi tengah.
          Dengan lesu kehempaskan diri ke atas kursi malas itu. Berbaring mengadah ke
          para-para dengan berbantal tangan. Cecak-cecak bekejar-kejaran. Bercerecak
          suaranya. Ada yang berebut-rebutan nyamuk atau kupu-kupu kecil, ada juga
          yang bercumbu-cumbuan. Seakan-akan cecak-cecak itu sengaja mau
          memperingatkan aku kepada dua hal atau soal hidup yang terdapat serentak di
          muka mataku. Mempertahankan hidup diri sendiri dan mempertahankan hidup
          sejenis. (atheis, hal 48)

          Dari kamar makan aku terus saja masuk kekamar tidur. Lampu kunyalakan
          sebab terasa belum ngantuk. Kusiakkan kelambu, sebab ingin berbaring-baring
          sambil merokok. Enak merokok sesudah makan. Padahal aku tidak boleh banyak
          merokok.      (Atheis, hal 50)

          Pada kutipan pertama menggambarkan latar didalam rumah Hasan. Dalam
kutipan tersebut kita bisa melihat bahwa latar beakang yang digunakan adalah dapur.
Latar tempat ini menggambarkan watak dari ibu hasan yang sangat begitu mencintai
anaknya, dan sangat sayang kepada hasan. Latar tersebut juga menggambarkan suasana
keharuan yang sangat mendalam.
          Kutipan kedua berlatar tempat di rumah tengah atau ruang tengah. Di ruang
tengah terjadi pembicaraan antara haji dahlan dengan ayah, ibu serta hasan. Pada saat
ini haji dahlan sedang memberikan ceramah tentang ajaran agama. Di dalam latar
tersebut juga terlihat adanya suasana keakraban antara keluarga hasan dengan haji
dahlan.
          Kutipan ketiga juga menggambarkan suasana rumah hasan, tepatnya mengambil
latar belakang di kamar tidur hasan, tepatnya di tempat tidur hasan. Latar ini juga
menggambarkan suasana ke iobuan yang sangat tinggi. Rasa kasih sayang seorang ibu
kepada anaknya yang sangat dicintainya. Latar ini juga memberikan kita gambaran
bahwa seorang ibu selalu ingin memberikan yang terbaik kepada anaknya. Begitu juga




TEORI SASTRA “Analisis Roman ATHEIS”                                              34
yang dilakukan oleh ibu Hasan. Dengan memberikan dongeng-dongeng tentang moral,
ia mengharapkan anaknya menjadi orang yang baik dan bermoral.
       Pada kutipan keempat, menggambarkan tentang rumah rusli. Latar ini
mengambil latar belakang ruang tengah rumah rusli. Latar ini terjadi pada saat hasan
untuk pertama kalinya berkunjung ke rumah rusli. Dalam latar ini menggambarkan
suasana keakraban dan keramahan rusli.
       Kutipan kelima juga menggambarkan rumah rusli. Latar blakang tempat ini
adalah kamar tidur rusli yang berisi cermin besar. Latar ini menggambarkan bagaimana
keadaan rumah rusli, khusunya kamar tidur yang berisi cermin yang besar. Latar ini
menggambarkan keramahan rusli terhadap kartini. Pada saat kartini ingin merperbaiki
make upnya, rusli mempersilahkan ke kamarnya.
       Berbeda dengan kutipan kelima, kutipan keenam mengambil latar di rumah kos-
kosan hasan. Latar belakang peristiwa ini terjadi di ruang tengah ketika hasan hendak
makan. Latar ini menggambarkan bagaimana suasana ruang tengah yang terdapat
sebuah kursi malas di sudut ruangan. Selain itu, latar ini juga menggambarkan suasana
hati hasan yang sangat kacau. Rasa malasnya menggerogoti hasan.
       Kutipan ketujuh menggambarkan latar di rumah hasan, yang menjadi latar
belakangnya adalah kamar tidur hasan. Kutipan ini menggambarkan bagaimana keadaan
tempat tidur hasan, yabng memiliki kelambu. Latar ini juga menggambarkan keresahan
hati hasan. Hasan memikirkan masalah yang cukup berat.


       3.2.3.2 Latar Waktu
       Latar waktu selalu berkaitan dengan saat berlangsung suatu cerita. Oleh karena
itu, waktu sangat penting dalam suatau cerkan karena tidak mungkin ada rentetan
peristiwa tanpa hadirnya sang waktu (Wellek dan Austin Varrren, 1956:223). Itulah
sebabnya karya sastra termasuk seni waktu (time art)
       Latar waktu dalam roman ATHEIS ditandai oleh penunjuk waktu dari awal
sampai akhir roman tersebut, dapat dibagi berdasarkan rentangan waktu, yaitu (1)
diakronis, dan (2) sinkronis.




TEORI SASTRA “Analisis Roman ATHEIS”                                              35
          1 Secara Diakronis
          Secara keseluruhan (diakronis), roman ATHEIS berlatar waktu kurang lebih
tigapuluh tahun. Rentang waktu togapuluh tahun tersebut dapat disimpulkan dari
paparan sebagai berikut.
          Pada bagian awal cerita dari roman ATHEIS, dilukiskan kehidupan Hasan ketika
masih hidup di desa panyendaran. Pada saat itu usia Hasan baru menginjak lima tahun.
Setelah usia enam tahun hasan masih tinggal bersama kedua orang tuanya.
          Ketika sekolah ditasik malaya, hasan kira-kira sudah berumur tujuh tahun. Lama
hasan bersekolah enam tahun. Pada saat itu, berarti hasan sudah berumur tiga belas
tahun. Pada saat itulah hasan mulai berpisah dengan rusli, teman baiknya di kampung
dan teman satu sekolahnya di tasikmalaya. Setelah berpisah, hasan dan rusli mencari
kehidupannya masing-masing. Hasan melanjutkan sekolah, begitu juga dengan rusli.
Hanya saja rusli tidak menyelesaikan sekoklahnya, sedangkan hasan sampai selesai.
Rusli setelah tidak bersekolah berpetualang sampai ke singapura. Dari jakarta, ia pindah
ke singapura dan bekerja sebagai sopir taksi. Lain halnya dengan hasan, setelah selesai
dengan sekolahnya, hasan melanjutkan pendidikan agama. Hasan mulai memperdalam
ajaran agamanya dengan masuk kedalam sebuah aliran, yang juga diikuti oleh orang
tuanya.
          Hasan dan rusli baru bertemu kembali setelah berpisah selama lima belas tahun.
Mereka bertemu kembali ketika ruali hendak memasang saluran air. Hasan dan rusli
bertremu ditempat hasan bekerja.
          Berselang satu tahun, akhirnya hasan dan kartini menikah. Namun, perjalanan
rumah tangga mereka tidak berjalan lama. Rumah tangga mereka hanya bertahan selama
tiga tahun. Mereka memutuskan untuk bercerai, karena sudah tidak ada kecocokan dan
keharmonisan. Api cemburu membakar hasan sehingga membutakan mata hatinya.
Melihat peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam rentang tahun tersebut, maka latar waktu
diakronisnya adalah tiga puluh tahun.
          Disamping latar waktu secara diakronis, terdapat juga latar waktu bagian dari
hari, bagian dari bulan, bagian dari tahun, dan bagian dari penunjuk waktu lainnya.
Semua penunjuk waktu tersebut dinamakan penunjuk waktu secara sinkronis.




TEORI SASTRA “Analisis Roman ATHEIS”                                                 36
           2 Secara Sinkronis
           2.1 Latar Waktu Bagian Hari
           latar waktu bagian hari adalah latar waktu terjadinya peristiwa pada bagian dari
hari, baik pagi, siang, sore, maupun malam hari. Dalam roman ini ditampilkan latar
waktu yang berupa bagian dari hari berikut ini.
           Malam itu aku merasa kecewa, karena sudah masak ku idamkan akan
           berkunjung kerumah rusli sore itu, tapi rusli pergi. (Atheis, hal 58)

           Sampai di rumah magrib menyambut aku dengan tabuh. Aku terbaring ke kamar
           madi mengambil air wudhu. (Atheis, hal 44)

           Tepat jam setengah lima seperti telah dijanjikan, aku tiba di rumah rusli. Tidak
           susah mencari nomor sebelas.        (Atheis, hal 34)

           Loket bagian jawatan air dari kota praja sudah tidak begitu ramai seperti biasa.
           Ruangan di muka loket-loket yang berderet itu sudah tipis orang-orangnya.
           Memang haripun sudah menunjukan jam satu lebih. (Atheis, hal 30)

           Kutipan-kutipan di atas menunjukan latar waktu bagian dari hari. Hal ini
tampak dengan jelas karena adanya penanda waktu yang merupakan bagian dari hari
seperti,
           - malam itu
           - maghrib menyambut
           - tepat jam setengah lima
           - jam satu siang lebih
Penanda waktu tersebut menggambarkan waktu atau kejadian yang terjadi tidak lebih
dari sehari. Kejadian ini terjadi sebagai bagian dari waktu.
           2.2 Latar Waktu Bagian Dari Minggu, Bulan, Dan Tahun
           Latar waktu bagian dari minggu, bulan, dan tahun tampak pada kutipan berikut.
           Tiga malam haji dahlan menginap di ruah orang tuaku. Pada hari kedua,
           sepulang berjumat di mesjid sambil duduk-duduk dan minum-minum di tengah
           rumah ayah berkata kepada haji dahlan, “kakak, lihat adik selalu memetik
           tasbih”       (Atheis, hal 16)

           Sebulan kemudian ayahku memecahkan celengannya, dan dengan uang yang
           ada di dalamnya itu berangkatlah ia ke banten bersama-asama dengan ibu.
           (Atheis, hal 19)




TEORI SASTRA “Analisis Roman ATHEIS”                                                    37
       Pada suatu hari ayah pulang dari pasar. Dibawanyasebagai oleh-oleh sehelai
       kain dan sebuah peci kecil untukku. (Atheis, hal 22)

       Hari rabo dan kamis aku tidak masuk kantor. Salahku sendiri juga. Kenapa
       dalam malm yang sedingin itu, aku jalan-jalan ke luar dengan hanya
       berpakaian piyama yang tipis saja sehingga aku masuk angina. (Atheis, hal
       87)

       Hari sabtu kantor-kantor pemerintahan hanya bekerja sampai jam satu siang.
       (Atheis, hal 99)

       Sudah empat bulan lalu, sejak aku bertemu dengan rusli dan kartini. Makin
       hari, makin rapatlah pergaulan kami bertiga.    (Atheis, hal 107)
       Mulutnya masih menggigit piasang goring. Ternyata sudah dua hari yang lalu
       anwar pindah ke rumah rusli. (Atheis, hal 111)

       Seminggu bung parta harus berobat di rumah skit. Sebab kepalanya benjol-
       benjol kena tinju halayak yang katanya nyata masih kuat memukul, walaupun
       sedang berpuasa.      (Atheis, hal 113)

       1 oktober. Ku hitung dengan jari. Februari, maret, april, mei,………… tiga
       tahun setengah kira-kira sejak 12 februari 1941. sejak aku kawin dengan
       kartini. (Atheis, hal 165)

       Kutipan di atas menggambarkan latar bagian dari minggu, bulan, dan tahun. Hal
ini dikarenakan ada penanda atau identitas yang menyatakan bahwa kutipan tersebut
berlatar waktu yang merupakan bagian dari minggu, bulan, dan tahun sebagai berikut,
       - tiga malam
       - suatu hari
       - hari Rabo dan Kamis
       - hari Sabtu
       - seminggu
       - sebulan
       - Oktober
       - Februari
       - Maret
       - April
       - Mei




TEORI SASTRA “Analisis Roman ATHEIS”                                                  38
Kata-kata tersebut merupakan identitas yang sangat menentukan kapan terjadinya
sebuah peristiwa. Kata-kata tiga malam, suatu hari, hari Rabo dan Kamis, dan hari
Sabtu menunjukan bahwa peristiwa tersebut terjadi pada latar waktu yang merupakan
bagian dari hari. Sedangkan kata seminggu, menunjukan bahwa peristiwa tersebut
terjadi pada latar yang merupakan bagian dari bulan. Sementara kata-kata seperti
sebulan, Oktober, Februari, Maret, April, dan Mei merupakan kata-kata yang
menunjukan bahwa sebuah peristiwa terjaddi pada latar waktu yang merupakan bagian
dari tahun.


       3.2.3.3 Latar Social
       Latar social sudah tentu mengangkat status social seorang tokoh cerita dalam
kehidupan sosialnya. Latar dan lingkungan social yang melatarai roman ATHEIS
berkaitan dengan status dalam masyarakat dan lapangan pekerjaan atau penghasilan
para tokoh. Oleh karena itu, latar social dapat dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu
latar social menengah, (latar sosial rendah). Ini berarti, kedua latar itu jelaslah bahwa
tema dan perwatakan akan saling bekaitan dengan latar sosial tersebut. Untuk
mendapatkan gambaran status social tokoh-tokoh dalam cerita ini, berikut dipaparkan
gambaran masing-masing tokoh.
1. Latar Social Menengah
       Yang termasuk dalam latar social menengah ini adalah kelompok yang berlatar
social menengah mencakup tokoh yang berpendidikan menengah pula. Termasuk di
dalmnya lingkungan guru, pegawai, pekerja social, pegawai, pedagang, pelajar, dan
mahasiswa. dalam roman ATHEIS, menampilkan latar social menengah melalui tokoh-
tokohnya yaitu,
       a. Hasan
       b. Rusli
       c. Kartini
       d. Anwar
       e. Raden Wiradikarta dan istri
       f. Bung Parta
       g. Rukmini




TEORI SASTRA “Analisis Roman ATHEIS”                                                  39
       Hasan adalah tokoh yang berlatar social menengah karena ia meneruskan
sekolah sampai menengah. Kemudian setelah tamat Hasan bekerja sebagai pegawai di
kota praja. Tokoh hasan adalah tokoh yang mempunyai pemikiran yang baik, tetapi
pada akhirnya ia terpengaruh pula pada hal-hal yang kurang baik tersebut. Keinginan
awalnya untuk meluruskan pikiran rusli dan kartini, tetapi pada akhirnya ia sendiri yang
terpengaruh oleh pola piker rusli dan kartini.
       Rusli juga merupakan tokoh yang berlatae social rendah. Hal ini karena ia
menyelesaikan sekolah menengah, kemudian setelah tamat sekolah menengah, ia
mengikuti derakan bawah tanah. Ia melakukan hal itu, karena terpanggil oleh semangat
kepemudaan. Semangat yang ingin membuat hal-hal yang lenih maju.
       Tokoh kartini juga merupakan tokoh yang berlatar social rendah. Latar ini
diterima oleh kartini, karena ia merupakan seorang wanita yang bergelut dalam bidang
politik, walaupun tidak secara aktif. Kartini juga merupakan seorang wanita yang
berpikiran modern. Hal ini karena adanya pengaruh dari kehidupan metropolitan yang
dijalaninya selama ini.
       Sama dengan tokoh rusli, tokoh anwar juga berlatar social rendah karena keikut
sertaannya dalam organisasi politik. Anwar juga ikut dalam pergwerakan yang
menginginkan perbaikan disegala lini kehidupan. Anwar merupakan pemuda yang
anarkis, dan selalu ingin mencari perhatian dari orang lain.
       Raden wiradikarta dan istrinya merupakan orang tua dari hasan. Mereka masuk
latar status social menengah karena bekerja sebagai seorang guru pada waktu itu.
Setelah pension mereka menetap di sebuah perkampungan.
       Tokoh bung parta merupakan tokoh yang berlatar social menengah karena
kedudukannya sebagai pembicara. Bung parta memiliki peranan yang cukup penting
untuk memberikan semangat kepada kader partai yang muda-muda. Hal ini karena
kemampuannya untuk meenyampaikan pembicaraan yang cukup menarik. Pembicaraan
yang diselingi dengan lelucon.
       Rukmini merupakan tokoh yang berlatar social menengah karena status
pendidikannya. Rukmini bersama dengan hasan berhasil menyelesaikan sekolah
menengah. Mereka besar betrsama. Rukmini juga memiliki pemikiran dan cita-cita yang
luhur untuk memajukan agama islam.




TEORI SASTRA “Analisis Roman ATHEIS”                                                 40
2. Latar Sosial Rendah
       Latar berstatus sosial rendah yang ditampilkan dalam roman atheis adalah tokoh
siti dan suaminya, serta bibi tempat hasan indekost. Tokoh-tokoh ini berstatus sosial
rendah karena berasal dari orang kebanyakan.


3.2.3.4 Latar Alat
       keadaan seorang tokoh dapt menunjukan pekerjaan, keadaan, dan suasana tokoh.
Aspek-aspek inilah yang juga ikut melatari karya sastra karena melalui pendeskripsian
latar alat dapat mengetahui gambaran tindakan atau peristiwa tokoh secara konkrit
sebagai penanda cirri keteraturan suatu cerita. Dalam roman atheis, gambaran latar alat
dapat diketahui melalui identitas tokoh-tokohnya, seperti tokoh utama (hasan) , dan
tokoh-tokoh lainnya pada kutipan berikut.
       Maka meloncatlah aku dengan tiba-tiba dari tempat tidurku, bergegar ke meja
       tulis. Kubuka salah satu lacinya, mengambil sebuah album dari dalamnya.
       Kemudian kembali ke tempat tidur, berbaring lagi setengah duduk, membuka-
       buka album. Agak lama kutatap potret rukmini.   (Atheis, hal 52)

       Esok harinya ehabis sembahyang ashar, aku sudah mendayung lagi ke kebon
       minggu. Hatiku penuh harapan dan kesanggupan. Melancarlah sepedaku
       didorong optimisme. (Atheis, hal 56)

       Panas rasanya dalam dadaku. Melangkah aku ke meja yang ada di tengah
       ruangan, di bawah lampu. Seekor kecoak terbang dari bawah poci. Ku tuangkan
       air the ke dalam cangkir, seakan-akan dengan harapan supaya segala
       perasaanyang mengganggu ituakan hilang tertuangkan dari kalbuku seperti air
       the dari dalam poci itu. Minumlah aku beberapa teguk. Segar rasanya. Tapi
       sebentar kemudian terganggu lagi oleh perasaan-perasaan tadi itu, seolah-olah
       perasaan itu masuklah kembali ke dalam jiwaku bersama air teh yang kuteguk.
       Aku melangkah lagi ke kursi malas. Berbaring lagi. Ramailah lagi rapat besar.
       (Atheis, hal 59)

       Aku duduk seraya membebaskan mata melihat-lihat keadaan dalam serambi
       muka itu. Sekarang segala-galanaya sudah beres teratur. Tidak banyak
       perkakas rumahnya di serambi itu. Hanya satu stel kursi, tempat aku duduk, dan
       sebuah dipan rapat pada dinding sebelah kiri yang ditilami dengan sehelai kain
       batik. Selanjutnya di sudut kanan sebuah meja kecil dengan sebuah kursi makan
       di belakangnya, yang bila menilik buku-buku dan tempat tinta yang ada di
       atasnya menunjukan bahwa meja itu dipakai untuk menulis. Kesan itu diperkuat
       pula oleh sebuah kalender yang kadang-kadang bergelebar-gelebar alon-alon




TEORI SASTRA “Analisis Roman ATHEIS”                                                41
       tertiup angina kecil bergantung di sebelah kanan yang penuh dengan buku-
       buku. Pada dinding tergantung pula beberapa pigura yang melukiskan potret
       orang-orang yang tidak aku kenal. (Atheis, hal 62)

       Rusli berhenti sebentar, menyeringsing lagi ke dalam sapu tangannya. Rupanya
       membikin waktu untuk berpikir dulu?(Atheis, hal 66)

       Sebentar kemudian rusli kembali lagi dari belakang dengan dua gelas air the
       dalam kedua belah tangannya, yang ditaruhnya di atas meja, satu untuk dia dan
       satunya lagi untukku. (Atheis, hal 68)

       Diputar-putarnya rokok diantara bibirnya. Ditariknya hisapan dua kali. Asap
       berkepul-kepul. Meludah-ludah kecil, membuang-buang potongan tembalau
       yang melekat pada bibirnya. (Atheis, hal 69)

       Ia lantas duduk depan piano dengan setengah membelakangi kami. Tutup piano
       dibukany. Lantas membuka-buka lembaran buku musik.    (Atheis, hal 92)

       Kartini lari kedapur. Hamper menabrak lagi si mimi yang memanjangkan
       lehernya ingin mengetahui tapi takut-takut.kartini tak acuh. Terus menyerbu ke
       dapur mengambil air hangat sendiri untuk hasan. (Atheis, hal 96

       Kutipan pertama, menggambarkan kamar tudur hasan yang berisitempat tidur
dan meja tulis. Jarak antara tempat tidur dengan tempat tidur tidaklah begitu jauh,
sehingga dengan mudah hasan dapat mengambil potret dari dalam laci. Latar ini juga
menggambarkan kegelisahan hati hasan. Kegelisahan ini disebabkan karena hasan
memikirkan rukmini dengan kartini. Menurut pandangan hasan, antara rukmini dan
kartini memiliki kemiripan. Untuk membandingkan antara rukmini dengan kartini,
hasan mengambil potret rukmini. Pikirannya melayang-layang, bingung menentukan
pilihan.
       Pada kutipan kedua, menggambarkan latar alat yang digunakan oleh hasan yaitu
sepeda. Pada saat ini hasan sedang ingin berkunjung ke rumah rusli sahabatnya. Sepeda
ini adalah kendaraan sehari-hari yang selalu menemani hasan. Kendaraan sepeda ini
dibawa hasan baik untuk bekerja ke kantor, maupun mengunjungi teman-temannya.
       Kutipan ketiga menggambarkan latar di rumah hasan, yaitu ruang tengah. Latar
ini menggambarkan hasan menggunakan beberapa latar alat seperti meja, poci, dan
cangkir, serta kursi malas. Latar ini memberikan gambaran bahwa latar ini terjadi di




TEORI SASTRA “Analisis Roman ATHEIS”                                              42
ruang tengah karena keterangan yang diberikan dalam latar alat. Selain itu, latar ini juga
memberikan gambaran tentang suasana hati hasan yang sedang risau dan tak menentu.
Hasan sedang mengalami kegelisahan yang sangat besar. Hasan sedang memikirkan
perbedaan panangan antara hasan dengan rusli. Hasan masih berusaha bersikukuh
bahwa pendapatnya itu benar, tetapi pendapat yang dilontarkan oleh rusli terus
terngiang dalam ingatan hasan. Hal inilah yang menimbulkan kegundahan dalam hati
hasan.
          Dalam kutipan keempat terjadi di rumah rusli. Kutipan tersebut menggambarkan
keadaan rumah rusli yang cukup rapi. Kutipan ini memberikan kita pengetahuaan bahwa
beberapa alat yang sering digunakan oleh rusli. Kutipan ini menggambarkan rusli adalah
seorang yang modern, berpikiran dinamis. Dari tata prabotan yang ditampilkan dalam
latar tersebut, kita mengetahui bahwa rusli merupakan orang yang cukup rapid an
bersih.
          Pada kutipan kelima disampaikan bahwa rusli menggunakan latar alat yaiotu
sapu tangan. Latar tersebut menunjukan bahwa rusli selai n sebagi seorang yang bersih
juga rapi. Latar ini juga menggambarkan nkegelisahan dari rusli. Kegelisahan ini terjadi
karena pertanyaan yang dilontarkan oleh hasan. Untuk menghilangkan kegelisahan,
rusli berusaha menggunakan saputangannya sebagai media.
          Kutipan keenam menggambarkan latar yang terjadi dirumah rusli. Dari ruang
tengah rusli pergi ke dapur kemudian kembali lagi keruang tengah membawa dua
cangkir the. Dari kutipan itu kita mengetahui bahwa latar alat yang digunakan adalah
cangkir the. Dari latar itu kita bisa mengambil kesimpulan bahwa rusli biasa
memberikan minuman the kepada tamu yang datang ke rumahnya.
          Pada kutipan ketujuh, latar alat yang digunakan adalah rokok. Pada kutipan ini
menggambarkan kegelisahan yang dialami oleh rusli. Kegelisahan itu diakibatkan oleh
hasan. Dalam sebuah percakapan hasan mengajukan pertanyaan tentang keagamaan
kepada rusli. Karena pertanyaan itulah rusli menjadi gelisah. Untuk menyembunyikan
kegelisahan itu dan menghilangkan rasa jengkelnya, rusli menggunakan rokok sebagai9
sarana yang cukup efektif.
          Kutipan kedelapan, terjadi di rumah kartini. Kutipan ini menggambarkan
kemodernan kartini sebagai seorang perempuan modern. Latar alat yang digunakan




TEORI SASTRA “Analisis Roman ATHEIS”                                                   43
dalam kutipan ini adalah piano. Kutipan ini menggambarkan kemahiran kartini dalam
memainkan piano.
       Kutipan kesembilan menggambarakan situasi kepanikan yang terjadi di rimah
kartini. Peristiwa ini terjadi pada saat acara makan siang. Kepanikan ini disebabkan oleh
hasan yang tiba-tiba mual dan muntah-muntah. Hal ini karena ia mengira bahwa
makanan yang dimakan berasal dari restoran china. Kepanikan ini ditandai oleh kartini
yang berlari-lari dari kamar tidur menuju dapur kemudian kembali lagi ke kamar tidur
dengan membawa air hangat. Latar alat yang digunakan adalah alat yang digunakan
untuk membawa air hangat.
       Dengan adanya latar alat, kita dapat mengetahui peristiwa yang terjadi dan
situasi pada saat terjadinya peristiwa. Latar alat ini memiliki peran yang cukup penting
dalam sebuah karya sastra.


3.2.4 Alur (Plot)
       Roman ATHEIS secara umum memiliki alur sorot balik (flashback). Hal ini
terjadi karena pada bagian pertama disampaikan akhir dari cerita, kemudian pada bagian
kedua sampai terakhir dilakukan pengenangan dari tokoh. Alur seperti ini bisa
digambarkan                                sebagai                               berikut,




TEORI SASTRA “Analisis Roman ATHEIS”                                                  44
Dari grafik tersebut, kita dpat mengetahui bahwa roman ATHEIS beralur sorot balik
atau flashback. Cerita tersebut dimulai dengan penyelesaian kemudian dilanjutkan
dengan paparan, dari paparan kemudian dilanjutkan dengan rumitan. Kemudian dari
rumitan menuju klimaks dan dilanjutkan dengan leraian.
         Secara singkat ditinjau dari segi akhir cerita, dapat diceritakan plot atau jalan
cerita dari ATHEIS sebagai berikut bahwa alur yang digunakan adalah alur terbuka. Hal
ini kita ketahui setelah membaca roman tersebut, ceritanya diakhiri dengan klimaks,
tanpa penyelesaian. Dalam hal ini penyelesaian diserahkan pada pembaca. Akhir dari
roman ini kita sebagai pembaca dituntut untuk mereka-reka atau menduga apa yang
terjadi setelah tokoh dari cerita tersebut meninggal. Kita dituntut untuk menganalisa
sendiri apakah yang akan terjadi dengan kehidupan dari tokoh lain. Roman ini
memberikan kepada kita kesempatan untuk mereka-reka atau menduga kelanjutannya,
kita juga dapat memberikan gambaran tentang cerita tersebut sampai akhir. Jadi secara
keseluruhan akhir dari cerita ini dapat ditentukan oleh pembaca.
         Dari segi kuantitasnya roman ATHEIS beralur tunggal. Hal ini dapat dibuktikan
dengan adanya sebuah plot utama. Plot yang dimaksud adalah tentang keragu-raguan
yang dimiliki oleh Hasan kkarena pengaruh sahabat dan globalisasi. Dalam roman ini
tersirat tentang perjalanan manusia dalam mempertahankan keteguhannya terhadap
agama.
         Roman ATHEIS ditinjau dari segi kualitas cerita, memiliki alur rapat. Hal ini kita
temukan karena dalam cerita tersebut, alur yang telah ada tidak bisa disisipi oleh alur
lain.


        3.1 Sarana Sastra
                Menurut Stanton bahwa yang dimaksud dengan sarana saatra adalah cara
atau metode pengarang memiliki dan mengatur butir-butir cerita sehingga tercipta
bentuk-bentuk karya sastra yang sanggup mendukung makna. Dapat juga dikatakan
bahwa sarana sastra adalah unsur-unsur pendukung dalam sebuah karya sastra. Unsur-
unsur tersebut mencakup, (1) judul, (2) gaya bahasa, (3) ironi, (4) pusat pengisahan, (5)
nada dan gaya, (6) suasana, (7) simbol, (8) klimaks, (9) asosiasi dan imajinasi, (10)
humor, (11) konflik, dan (12) tanda-tanda bahasa lainnya.




TEORI SASTRA “Analisis Roman ATHEIS”                                                    45
             3.1.1   Judul
            Judul adalah sebuah kata, prase, atau nama dan label yang digunakan untuk
menandai karya bertalian dengan masalah dan tema cerita. Dari pengamatan yang telah
dilakukan, dalam Roman ATHEIS yang menjadi unsur dari sarana sastra adalah
judulnya.
       Dari judulnya yaitu ATHEIS, orang sudah dapat mengambil gambaran umum
tentang isi dari cerita tersebut. ATHEIS berarti suatu sikap atau keadaan atau paham
yang tidak percaya terhadap agama. Judul ini sudah menggambarkan apa yang ingin
disampaikan oleh pengarang. Dengan hanya melihat judul ini, maka kita sebagai
pembaca sudah dapat menduga isi dalam cerita tersebut. Judul yang disampaikan oleh
penulis memberikan suatu kesan atau pesan kepada para pembaca.
       3.3.2 Konflik
            Konflik adalah pertentangan dalam cerita rekaan antara dua kekuatan,
pertentangan di dalam diri satu tokoh dan       pertentangan antara dua tokoh. Dalam
Roman ATHEIS terdapat beberapa pertentangan yang terjadi. Baik antara ayah dengan
anak karena perbedaan prinsip, yaitu antara Hasan dengan ayahnya. Kemudian konflik
lain yang terjadi adalah konflik antara suami istri, misalnya antara Hasan dengan Kartini
yang terjadi akibat adanya perasaan cemburu dan saling ketidak percayaan.
              Ah, aku tetap tidak percaya pada hubungan kakak beradik itu dengan
       tiada perasaan-perasaan lain yang mengikat kedua hati mereka. Maka
       henrankah, kalau dalam hatiku timbulah api cemburu terhadap Rusli. Saya kira
       saudara betul-betul adiknya. Tapi ternyata bukan. Berbahagaia juga rupanya
       Rusli dengan adiknya seperti saudara ini.
              Mungkin karena saudara agak sinis, maka agaknya terasalah oleh
       Kartini bahwa perkataanku ini timbul dari dasar hati yang buru. (Atheis, hal
       123)

            Dari kutipan tersebut, kita mengetahui nahwa sedang terjadi konflik batihin
yang dialami oleh salah seorang tokoh yaitu Hasan. Konflik ini timbul karena ketidak
percayaan Hasan terhadap hubungan Kartini dan Rusli. Juga karena rasa cemburu yang
dimiliki oleh Hasan.
            Berikut juga akan diberikan sebuah kutipan yang menggambarkan konflik
bathin. Hal ini terjadi setelah Hasan kehilangan ayahnya. Hati Hasan sangat sedih




TEORI SASTRA “Analisis Roman ATHEIS”                                                  46
memikirkan sesuatu yang menjadi paham dari Anwar dan Rusli, bahwa Tuhan itu hanya
bikinan manusia.
               Ayah kini tak ada lagi.
               Hasan menyapu air matanya. Menyeringsing kedalam sapu tangannya.
               Tiba-tiba seperti halilintar menggores dilangit, mengkilatlah suatu
       pikiran yang terang dan tegasdalam hati Hasan,seakan-akan sinar ilham yang
       terang benderang menyiakan tabir gelap dalam jiwa yang bimbang. Terang,
       terang sekalia seakan-akan pikirannya.
               Berpikirlah ia “ auah sudah tidak ada lagi. Tapi aku, ibu, dan fatimah
       masih ada, masih hidup. Kalau tuhan betul bikinan khayal manusia, seperti kata
       rusli dan anwar, maka tuhan pun akan habislah riwayatnya, kalau mahluk yang
       dinamai manusia itu sekali kelak sudah tidak ada lagi dari dunia ini. Tidakkah
       manusia itu pun seperti mehluk-mahluk lainnya pula, misalnya saja binatang-
       binatang dari jaman prasejarah, seperti mommouth, minotaurus dan lain-lain,
       mungkin akan lampus juga dari dunia ini? Apalagi kalau kita melihat
       gelagatnya sekarang, yang tiada hentinya menunjukan umat manusia yang
       saling membunuh, saling basmi terus menerus. Dan tidakkah ilmu pengetahuan
       menunjukan, bahwa sekarang sudah banyak binatang yang sudah lampus, yang
       sudah tidak ada lagi jenis atau keturunannya pada jaman sekarang? Dan
       bukankah manusia pun, menurut ilmu pengetahuanadalah termasuk suatu jenis
       binatang? Jenis binatang menyusui? Dan andaikata, jenim manusia itu pada
       suatu saat sudah lampus sama sekali dari dunia seperti momouth dan
       minotaurus, apakah dengan hal itu berartilah pula, bahwa tuhan pun akan
       turut tidak ada lagi bersama-sama dengan manusia lainnya. Tidakkah malah
       lebih masuk akal, bahwa Tuhan itu akan terus ada? Terus ada sebagai pencipta
       alam semesta yang tidak turut pula lampus dengan lampusnya jenis manusia,
       seperti halnya aku, ibu, dan Fatimah yang masih terus ada dan hidupbiarpun
       ayah sudah meninggal. Jadi dengan sendirinya, ucapan yang mengatakan
       bahwa Tuhan itu adalah bikinan manusia, tidak bisa aku terima. Tidak boleh
       aku terima! Ya, kenapa hal ini sampai terpikirkan olehku dulu?!” (Atheis, hal
       219)
Kutipan di atas menggambarkan kegundahan dan penyesalan yang dilakukan oleh
hasan. Ia menyadari semua kekeliruan yang telah dilakukannya terhadap orang tuanya.
Terutama ayahnya yang sangat mencintanya. Karena pengaruh pergaulan, hasan berani
menentang kedua orang tuanya. Penyesalan yang dilakukan oleh hasan sudah terlambat.
Kepedihan ayahnya yang merasa kecewa terhadap hasan harus dibawa sampai
meninggal dunia.
         3.3.3 Gaya (style)
         Gaya adalah cara pengarang menggunakan bahasa dalam karyanya. Ide dan
perasaan sering tampak nyata seperti fakta fisikal meskipun tidak tampak dan tidak
dapat diraba. Dalam karya sastra salah satu cara untuk membuatnya seperti nyata ialah




TEORI SASTRA “Analisis Roman ATHEIS”                                              47
dengan menggunakan simbol sehingga ide dan perasaan itu dapat mudah diterima dalam
angan-angan pembacanya. Mnurut Stanton, simbolisme dalam karya fiksi memiliki
manfaat tergantung bagaimana penggunaannya. Pengertian simbolisme sastra mungkin
membuat pembaca lebih bingung daripada penertian sarana cerita lainnya. Namun,
simbolisme tidaklah aneh dan sulit dengan sendirinya. Alasan itu didasarkan bahwa
hampir semua simbol dalam sastra tidak lebih merupakan fakta yang tampaknya masuk
akal. Alasan lainnya adalah bahwa sebagian besar simbol sastra mengungkapkan arti
untuk mana simbol konvensional tidak muncul. Oleh karena itu, masalah kita sebagai
pembaca ada dua hal, yaitu untuk mengetahui pernyataan-pernyataan itu sebagai simbol
atau bukan, dan mencari makna yang diungkapkan
            Roman ini banyak menggunakan gaya bahasa perbandingan. Hal ini terlihat
dari beberapa kalimat yang digunakan yaitu membandingkan sesuatu dengan orang.
Misalnya saja kita temui pada kalimat “ semua kelihatannya sangat lesu, serupa dengan
onggokan daging juga yang tak berdaya apa-apa”. Banyak lagi kalimat yang
menggunakan majas perbandingan. Sehingga roman ini sangat menarik dan indah untuk
dibaca.
          3.3.4 Pusat Pengisahan
          Dalam roman ATHEIS, sudut pandang yang digunakan adalah sudut pandang
yang digunakan adalah metode orang pertama sertaan. Hal ini kita temukan dalam
roman ATHEIS, yaitu penggambaran tokoh menggunakan kata aku. Cerita ini sungguh
membingungkan bila kita tidak membacanya dengan sungguh-sungguh. Cerita ini
megisahkan tentang Hasan. Kisahnya ini dikarang oleh Hasan sendiri dan disampaikan
kepada penulis. Jadi dengan melihat kenyataan tersebut, kita dapat mengambil
kesimpulan bahwa pengarang menyampaikan cerita dari orang lain. Perhatikan petikan
berikut,
          Malam itu aku merasa kecewa, karena sudah masak kuidam-idamkan akan
          berkunjung ke rumah Rusli sore itu, tapi Rusli pergi. Dan kenapa mereka itu
          selalu bersama-sama saja. Seolah-olah merekasudah menjadi laki bini. Kecewa
          hatiku berteman dengan curiga. Pernah kudengar teman-teman sekantorku
          bercerita tentang apa yang dinamakan mereka “cinta merdeka‟yang katanya
          banyak dilakukan oleh orang-orang barat, artinya laki-laki dan perempuan bisa
          hidup bersama seperti suami istri, tetapi tidak kawin. Dan katanya antara
          orang-orang indonesia pun kebiasaan itu sudah mulai menjangkit. Mungkin
          Rusli dan Kartini pun.




TEORI SASTRA “Analisis Roman ATHEIS”                                                48
       Menggigil aku. Hatiku makin sebal. Hidup demikian berarti bagiku berzinah.
       Lain tidak.jam menunjukan pukul sebelas. Aku masih berbaring-baring di atas
       kursi malas di tengah rumah. Malam sudah sunyi benar sehingga kadang-
       kadang kudengar nafasku sendiri. Radio disebelah sudah bungkam dari jam
       delapan tadi. Rupanya tetangga yang empunya itu sakit, sebab biasanya ia
       pasang radionya itu sampai lagu penutup terdengar. Bibi sebagai biasa sudah
       masuk kamar dari jam sepuluh, sebab esoknya ia harus sudah bangun pagi-pagi
       benar, membikin kue-kue yang akan dijajakan pak Ingi pada siangnya.
                                                                     (Atheis, hal 58)
       Dari kutipan itulah, kita dapat mengambil kesimpulan tentang pusat pengsahan
pada roman tersebut. Kita ketahui bahwa dalam kutipan tersebut, pengarang menyebut
dirinya sebagai aku.


       3.3.5 Nada dan Gaya
       Nada merupakan sikap emosional pengarang yang dihadirkan dalam karya
sastra. Hal ini mungkin berupa sikap romantis, ironis, misterius, gembira, tidak sabar,
keras, atau yang lainnya. Ketika pengarang menghayati perasaan tokoh, dan ketika
perasaan itu tercermin dalam lingkungannya, maka nada it identik dengan atmosfir.
Atau, dengan kata lain, nada adalah gaya penuturan pengarang dalam suatu karyanya.
Misalnya, nada cerita dibangun sebagaian dengan fakta cerita, seperti pembunuhan
dengan kampak agaknya memiliki nada yang mengerikan.
       Nada penyampain yang dilukiskan oleh pengarang adalah suatu ironis dan
romantis. Hal yang mendasari pandanga tersebut dapat kita temukan kjarena roman
Atheis ini memiliki beberapa bagian yang berisi kisah percintaan atau perasaan suka
antara seorang pria yaitu Hasan dengan Kartini serta perjalanan cinta mereka.
Sedangkan nada ironis kita lihat dari adanya kematian yang tragis yang dialami oleh
Hasan, serta rasa dendam yang tak terbalkaskan. Selain itu tokoh Hasan juga
menyimpan penyesalan yang teramat sangat karena tidak memperole maaf dari
ayahnya. Hal ini membuat cerita ini cukup ironis tetapi penuh dengan romantisme.
       3.3.6 Aliran
       Aliran dalam suatu karya sast4ra biasanya berkembang dalam satuan waktu
tertentu. Dalm setiap periode sastra, umumnya selalu diikuti oleh suatu aliran yang
menjadi mode pada waktu itu. Aliran ini dapat dikatakan sebagai suatu paham atau
pandangan yang dapat digunakan sebagai metode kerja dalam sastra dan seni pada




TEORI SASTRA “Analisis Roman ATHEIS”                                                49
umumnya. Ada beberapa aliran sastra yang dikenal dan pernah menjadi ciri khas,
panutan dan mode pengarang Indonesia diantaranya              adalah aliran romantismr,
romantis-idealisme, romantis-realisme, ekspresionisme, impresionisme, naturalisme,
surealisme, eksistensialisme, strukturalisme, meteralisme, dan lain-lain. Aliran-aliran ini
sering memberikan kerancuan makna karena medan kajiannya berbeda, tetapi pada
hakikatnya dasar aliran tersebut sama.
       Dalam roman ATHEIS, yang dijadikan sebagai aliran dari karya ini adalah aliran
romantis-realisme. Hal ini karena roman ini terbit pada masa angkatan 45 yaitu sekitar
tahun 1949. Jadi berdasarkan tahun inilah kita membuat kesimpulan tersebut.


       3.3.7 Klimaks
       klimaks adalah majas penegasan dengan urutan pikiran yang setiap kali semakin
meningkat dari gagasan sebelumnya dan berakhir pada gagasan yang paling penting
atau menarik.
       Roman ATHEIS memiliki klimaks yang terus meningkat pada setiap bagiannya.
Dimulai dari bagian pada masa remaja sampai pada keadaan dewasa. Kemudian pada
masa ini banyak terjadi pergolakan dalam diri tokoh Hasan. Klimaks dari roman ini
terus meningkat pada setiap bagiaanya, sampai ada penyelesaian. Ada beberapa kalimat
yang bisa menunjukan bahwa terjadinya klimaks antara lain.
       Orang tua rukmini tidak mau anaknya dikawinkan dengan seorang menak.
       Jangan nak, engkau jangan berangan-angan hendak kawin dengan seorang
       keturunan raden.sebaliknya orangtuaku pun, bercita-cita supaya aku mengambil
       isti dari kalangan raden pula.(Atheis, hal 49)

       Diputar-putanya rokok diantara bibirnya. Ditariknya hipan dua kali. Asap
       berkepul-kepul. Meludah-ludah kecil, membuang potongan-potongan tembakau
       yang melekat pada bibirnya.
       Sikap rusli yang tenang dan senyuman yang samara-samar itu malah membikin
       aku menjadi gelisah dan jengkel. Maka kataku, bagi saya, orang-orang yang
       tidak percaya tuhan dan agama tidak beeanya dengan binatang. Tersenyum lagi
       dia. Aku agak ragu-ragu, tapi melanjutkannya, bagi saya manusia adalah
       mahluk yang percaya kepada tuhan, karena itulah, maka manusia yang tidak
       percaya kepada tuhan berarti sama dengan hewan. (Atheis, hal 49)

       “Tidak” seru anwar tiba-tiba. “ Tidak! Teknik itu Cuma alat.”
       Kawan-kawan pada kaget mendengar suara itu. Dua lusinmata memandang
       wajah monhgol yang bulat kekuning-kuningan itu. Tapi sejurus kemudian kedu




TEORI SASTRA “Analisis Roman ATHEIS”                                                    50
       lusin mata itu sudah berpindah lagii arahnya. Sekarang mengarah ke wajah
       pelaut yang kehitam-hitaman terbakar dan setengah bopeng itu. Wajah bung
       parta.
       Dengan tangkas sambil tertawa bung parta menjawab,”betul kata saudara itu”
       Cuma alat, memang tuhan pun hanya alat bagi orang-orang yang percaya
       kepadanya. Alat yang katanya memberi keselamatan dan kesempurnaan kepada
       hidup manusia.       (Atheis, hal 116-117)

       Kalau begitu,baiklah kita berpisah jalan saja. Kau sudah mendapat jalan
       tersendiri, ayah dan ibumu pun sudah ada jalan sendiri. Jadi baiklah kita
       bernapsi-napsi saja menempuh jalan masing-masing. Memang ayah dan ibu pun
       hanya berbuat sekadar sebagai orang tuasaja, yang menjalankan sesuatu yang
       dianggapnya memang kewajibannya terhadap anaknya, ialah mendoakan
       semoga engkau di jalan hiduop ini bertemu dengan keselamatan lahir bathin,
       dunia akhirat. Hanya sekianlah yang ayah dan ibu selalu pohonkan dari tuhan
       kami. Agak menusuk rasanya perkataan tuhan kami itu bagiku. Maka
       dijamahlah kepalaku oleh ayah dengan tangannya yang kanan sambil berbisik-
       bisik membaca ayat dari alquran. Suaranya terputus-putus, hgemetar. Ibu
       menangis, sedang aku tunduk duduk di atas kursi dengan kedua belah tanganku
       berlipat di atas pangkuannku.(Atheis, hal 157-158)

       Sejurus lamanya, kartini membiarkan saja aku menggedor-gedor demikian. Tapi
       rupanya oleh karena makin lama, mkin terdengar bahwa aku makin marah, dan
       makin keras pula berkutuk-kutuk, sehingga para tetangga pada menonjol dari
       rumahnya dengan wajah yang penuh kecemasan, maka pada akhirnya pintu
       dibuka juga.
       Baru saja pintu setengah dibuka, aku sudah menubruk ke dalam seperti seekor
       harimau yang sudah lapar mau menyergap mangsanya.
       Tar ! tar ! kutempeleng kartini.
       Aduh, pekiknya, sambil menuup pipinya yang kanan dengan tangannya.
       Kujambak rambutnya ! kurentakan dia dengan sekuat tenaga, sehingga dia
       terjatuh tersungkur ke lantai. Kepalanya berdentar kepada daun pentu. Menjeit-
       jerit minta ampun!    (Atheis, hal 173)



       Pada kutipan pertama di atas kita mengetahui bahwa klimaks yang terjadi adalah
pada saat hasan masih remaja dan sedang menjalin cinta dengan rukmini. Klimaks ini
terjadi karrena adanya pertentangan dari orang tua masing-masing baik hasan maupun
rukmini tentang hubungan mereka berdua.
       Setelah kutipan pertama, pada kutipan kedua menyatakan klimaks yang terjadi
antara Hasan dengan Rusli. Klimaks ini terjadi ketika mereka senag berdebat mengenai




TEORI SASTRA “Analisis Roman ATHEIS”                                              51
kepercayaan dan ketidak percayaan terhadap tuhan. Kutipan ini menggambarkan bahwa
antara hasan dan rusli sedang terjadi permasalahan.
       Dari keseluruhan kutipan yang disampaikan di atas, secara keseluruhan kita
dapat mengambil kesimpulan bahwa pada setiap bagian, selalu terjadi peningkatam
konflik. Di mulai ketika Hasan masih timggal di desa, sampai Hasan mulai bekerja di
Bandung dan kembali lagi ke desa, kemudian setelah menikah dengan Kartini. Setiap
kejadian terus menunjukan peningkatan.




TEORI SASTRA “Analisis Roman ATHEIS”                                            52
                                        BAB IV
                                      PENUTUP


4.1 KESIMPULAN
       Sebuah karya sastra sebagai suatu rekaan pada hakikatnya adalah suatu struktur.
Struktur tersebut dibina oleh unsur-unsur organik. Menurut Robert Stanton unsur-unsur
yang mendukung sebuah karya sastra, yakni (1) Masalah dan Tema, Masalah
merupakan suatu hal atau tentang hidup dan kehidupan yang diangkat dalam cerita
sebuah karya fiksi. Maksudnya adalah dalam kenyataan kehidupan terdapat berbagai
permasalahan yang sering dihadapi manusia. Sedangkan tema secara sederhana dapat
diartikan inti cerita dalam sebuah cipta sastra atau suatu gagasan sentral yang menjadi
dasar penyusunan karangan dan sekaligus merupakan sesuatu yang hendak
diperjuangkan serta menjadi sasaran dari karangannya. Dalam Roman ATHEIS yang
dijadikan sebagai tema adalah cerita tentang bagaimana kehidupan agama seseorang
yang pengangkapan agamanya selalu setengah-setengah, baik karena pendidikan
agamanya yang lemah maupun pengaruh kehidupan modern yang menjadi lingkungan
sebuah kota besar.
(2)Fakta Cerita, meliputi tokoh dan penokohan, plot (alur), latar (setting), suspens, dan
kredibilitas. (3) Sarana sastra, merupakan metode atau cara memilih dan mengatur butir-
butir cerita sehingga tercipta bentuk-bentuk karya sastra yang sanggup mendukung
makna. Sehingga tujuan penggunaan sarana sastra ini adalah agar pembaca mampu
melihat fakta-fakta cerita melalui sudut pandang pengarang dan melihat arti fakta cerita
sehingga dapat bertukar pendapat tentang pengalaman yang terlukiskan. Sarana Sastra
meliputi judul, konflik, pusat pengisahan, klimaks, ironi, simbol, humor, suasana,
asosiasi dan imajinasi, aliran, nada dan gaya, gaya dan tanda-tndakonvensi lainnya.
       Roman ATHEIS sebagai salah satu hasil karya sastra memiliki ketiga unsur
pendukung tersebut. Unsur-unsur tersebut yang memberikan sebuah jiwa untuk roman
tersebut sehingga terasa lebih hidup. Dengan menggunakan teori dari Robert Stanton,
kita dapat mmbedah unsure-unsur yang terdapat dalam Roman ATHEIS. Dengan
mengetahui unsure-unsur tersebut kita akan lebih mudah untuk memahami dan
mempelajari secara keseluruhan Roman tersebut.




TEORI SASTRA “Analisis Roman ATHEIS”                                                  53
4.2 SARAN
         Dalam menganalisis Roman AHTEIS tentunya kita memerlukan pemahaman
tehadap karya sastra itu sendiri. Dengan menggunakan beberapa teori tertentu kita
mampu untuk menganalisis suatu karya sastra dengan mencermati dan merasakan secara
mendalamunsur-unsur yang terdapat dalam karya sastra tersebut. Setiap sastra tentunya
memiliki unsur seni (unsur estetik maupun ekstra estetik) sehingga dari unsur seni inilah
kita harus mampu untuk menyelami makna yang terkandung dalam karya itu sendiri.
         Menganalisis sebuah karya sastra khususnya Roman, kita tidak cukup hanya
menggunakan satu teori saja. Ada baiknya kita menggunakan beberapa buah teori yang
masih relevan sebagai bahan perbandingan.




TEORI SASTRA “Analisis Roman ATHEIS”                                                  54
                                DAFTAR PUSTAKA


Gunatama, Gede. 2006. Buku Ajar Puisi (teori, apresiasi, dan pemahaman) .
                             Singaraja : UNDIKSHA Singaraja
Gunatama, Gede. 2004. Sastra dan Ilmu Sastra. Singaraja : IKIP Singaraja
Mihardja. K, Achdiat. 1994. ATHEIS. Jakarta : Balai Pustaka
Natia. 1985. Ikhtisar Teori Sastra Indonesia. Surabaya: Sinar Wijaya
Sutresna, Ida Bagus. 2006. Prosa Fiksi. Singaraja : Undiksha Singaraja




TEORI SASTRA “Analisis Roman ATHEIS”                                        55

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:3172
posted:5/18/2011
language:Indonesian
pages:55