Docstoc

Contoh Skripsi

Document Sample
Contoh Skripsi Powered By Docstoc
					                                      BAB I
                               PENDAHULUAN



1.1. Latar Belakang.

         Kesehatan adalah hak asasi manusia, maka penyelenggara pemerintah

dimana     saja   di   muka   bumi   ini   berkewajiban   memelihara     kesehatan

masyarakatnya. Bagi individu lebih dari itu bahwa kesehatan adalah anugerah dan

amanah Allah SWT yang patut dijaga dan dipelihara. Oleh karena itu menjaga

kesehatan merupakan tanggung jawab pemerintah dan individu. Hal ini menuntut

kerja sama yang senergik, progresif, efektif dan efisien antara pemerintah dan

masyarakat di bidang promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif (Depkes, 2005).

         Imunisasi adalah suatu usaha memberikan kekebalan pada bayi dan anak

terhadap pernyakit tertentu. Jenis imunisasi yang lazim diberikan adalah imunisasi

aktif. Sesuai dengan pengembangan program imunisasi departemen kesehatan,

saat ini yang termasuk dalam imunisasi dasar adalah pencegahan terhadap 7 jenis

penyakit yaitu tuberkulosis dengan vaksin BCG, campak dengan vaksin Campak

dan Hepatitis dengan vaksin Hepatitis B (Depkes RI, 2005).

         Masyarakat yang sehat dan cerdas dapat diwujutkan dengan pembangunan

kesehatan secara menyeluruh, terencana dan terlaksana dengan baik. Untuk

mencapai pembangunan kesehatan yang telah dilaksanakan salah satunya adalah

Program Imunisasi Nasional atau PIN (Depkes RI, 2001).

         Kesehatan merupakan hak akan kebutuhan dasar manusia sebesar mana

yang tercantum dalam UUD 1945 beserta amandemennya, dengan demikian

pemerintah mempunyai kewajiban untuk mengadakan dan mengatur upaya
pelayanan kesehatan yang berkualitas dan terjangkau oleh semua lapisan

masyarakat serta mempunyai hak kesempurnaan yang sama untuk mendapatkan

pelayanan kesehatan dari pemerintah (Depkes RI, 2005).

       Salah satu komitmen pemerintah dalam upaya penanganan kematian bayi

tersebut antara lain masih ditetapkan UCI (Universal Child Imunization), dan

BIAS (Bulan Imunisasi Anak Sekolah) dengan sasaran bayi dan anak sekolah.

Suatu desa telah mencapai target UCI apabila 80% di desa tersebut sudah

mendapatkan imunisasi lengkap yang terdiri dari 1 dosis BCG, 3 dosis DPT, 3

dosis Polio, 3 dosis Hepatitis B, dan 1 dosis campak sebelum berumur satu tahun

(Depkes , 2001).

       Tujuan pelayanan kesehatan anak adalah memelihara tumbuh kembang

anak sejak lahir sampai dewasa, sehingga setiap anak memperoleh derajat

kesehatan fisik, intelektual dan emosional yang utuh. Pelayanan masa balita

merupakan upaya terpenting dibandingkan dengan upaya masa kehidupan lainnya,

karena masa balita merupakan periode yang rawan. Kegiatannya mencakup

pelayanan masa neonatal dan masa setelahnya. Salah satu upaya yang dapat

dilakukan pada masa periode rawan adalah upaya pencegahan dengan imunisasi

(Markum, 1993).

       Target Depkes RI pada tahun 2005 adalah dapat mengimunisasi 100% atau

23.090.865 balita di seluruh Indonesia. Target depkes pada tahun 2006 adalah

dapat mengimunisasi 100% atau 23.703.357 balita usia 0-11 bulan di seluruh

Indonesia. Akan tetapi cakupan imunisasi campak di Indonesia hanya mencapai

72% (www.bkkbn.go.id, www.depkes.go.id).
         Walaupun imunisasi telah menjadi program penting dalam usaha

menurunkan angka kematian bayi di Indonesia khususnya di Nanggroe Aceh

Darussalam (NAD), adapun target cakupan imunisasi yang dicapai di Propinsi

NAD ini adalah Campak 90%. Persentase cakupan Imunisasi Campak pada Bayi

di Propinsi NAD tahun 2005 adalah 74,48%, (Dinkes Pripinsi NAD 2005). Pada

tahun 2005 angka cakupan Imunisasi campak di Aceh Utara 58,2% (Dinkes Aceh

Utara, 2006).

         Pada tahun 2005, sasaran imunisasi campak di kecamatan Meurah Mulia

yaitu 1.065 bayi, tetapi cakupan imunisasi campak di kecamatan Meurah Mulia

hanya mencapai 766 bayi atau 71,9% (Dinkes Aceh Utara, 2006). Sasaran

imunisasi campak di Tiga Desa (Mesjid Bluek, Meuria Bluek dan Dayah Bluek)

pada tahun 2005 yaitu 30 bayi, tetapi cakupan imunisasi campak di tiga desa

tersebut hanya 22 bayi atau 73% (Puskesmas Meurah Mulia).

         Pada kenyataanya masih ada para Ibu-ibu yang mempunyai anak tidak

mau datang ke tempat-tempat pelayanan kesehatan lainnya untuk memperoleh

imunisasi. Mereka baru mau datang apabila ada pemberitahuan bahwa akan ada

pembagian makanan untuk anak-anak. Fenomena ini masih terlihat di Kecamatan

Meurah Mulia yaitu khususnya di tiga desa yaitu Mesjid Bluek, Meuria Bluek

dan Dayah Bluek Kecamatan Meurah Mulia, mengingat desa ini merupakan desa

yang jaraknya dengan puskesmas sekitar 15 KM arah utara Puskesmas Meurah

Mulia.

         Pada Kecamatan Meurah Mulia sangat tinggi angka cakupan Imunisasi

Campak (766 bayi atau 71,9 %) ini bertanda tidak ada keberhasilan program
pemerintah tentang Imunisasi Campak dibandingkan dengan kecamatan yang lain

(Kecamatan Samudra 477 bayi atau 45 % dan Kecamatan Syamtalira Bayu 344

bayi atau 37 %).

        Berdasarkan latar belakang di atas maka penulis tertarik untuk melihat

dan mencari tahu gambaran tingkat pendidikan, pengetahuan dan sikap terhadap

Tinjauan Pelayanan Kesehatan Terhadap Balita Tentang Imunisasi Campak Pada

Bayi.



1.2. Rumusan Masalah.

        Dari latar belakang yang diuraikan diatas maka yang menjadi masalah

dalam penelitian ini adalah :

1. Bagaimana tingkat pengetahuan Ibu terhadap Imunisasi campak pada bayi.

2. Bagaimana sikap ibu terhadap imunisasi campak pada bayi.

3. Sejauh mana tingkat Pendidikan ibu terhadap imunisasi campak pada bayi.



1.3. Fokus Kajian.

        Fokus kajian dalam penelitian ini adalah dikhususkan pada para Ibu yang

mempunyai bayi di tiga desa dalam Wilayah Kecamatan Meurah Mulia yaitu Desa

Mesjid Bluek, Meuria Bleuk dan Dayah Bluek yang difokuskan pada pembahasan

lebih dititik beratkan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat

pendidikan, pengetahuan dan sikap terhadap imunisasi campak pada bayi.
1.4. Tujuan Penelitian.

       Berdasarkan rumusan masalah penelitian maka tujuan penelitian ini adalah

1. Untuk mengetahui tingkat pengetahuan ibu-ibu terhadap Imunisasi Campak

pada bayi.



2. Untuk mengetahui sikap ibu-ibu terhadap Imunisasi Campak pada bayi di

   Kecamatan Meurah Mulia Kabupaten Aceh Utara Tahun 2008.

3. Untuk mengetahui tingkat pendidikan ibu-ibu terhadap Imunisasi Campak pada

   bayi.



1.5. Mamfaat Penelitian.

       Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi dan masukan yang

bermanfaat bagi :

1. Bagi pihak yang berwenang menangani masalah kesehatan, sebagai bahan

   masukan dalam hal pengembangan dan evaluasi program imunisasi campak

   pada bayi di tiga desa tersebut yaitu Mesjid Bluek, Meuria Bluek dan Dayah

   Bluek dalam Kecamatan Meurah Mulia tahun 2008.

2. Bagi penulis, sebagai sarana untuk mengembangkan wawasan dan keilmuwan,

   sehingga nantinya dapat menjadi salah satu kader yang handal dalam mengisi

   pembangunan khususnya bidang sosial dan kesehatan masyarakat.

3. Bagi masyarakat,       sebagai bahan masukan untuk mengembangkan ilmu

   pengetahuan tentang imunisasi khususnya imunisasi campak pada bayi.
                                    BAB II
                             TINJAUAN PUSTAKA



2.1. Penelitian Terdahulu.

       Penelitian Nurdiana (2006). Menunjukkan bahwa pengetahuan, sikap dan

pendidikan sangat mempengaruhi Imunisasi campak, terbukti pada hasil penelitian

pengetahuan kurang 6,7 % dari 18 responden, begitu juga dengan sikap, yaitu

sikap negatif 6 orang (20 %) dari jumlah responden. Sedangkan pendidikan yang

rendah hanya 1 orang (50 %) yang mau membawa anaknya untuk di imunisasikan.

       Pada penelitian Nurhayati Hasbi (2005) menunjukkan bahwa pengetahuan,

pendidikan serta sikap juga sangat mempengaruhi imunisasi Polio terhadap balita

di Kecamatan Dewantara, terbukti pada hasil penelitian ini adalah pengetahuan

kurang 7,2 % dari 19 orang responden, begitu halnya dengan pendidikan yang

lebih rendah hanya 3 orang (54 %) yang mau mengimunisasikan anaknya pada

saat adanya imunisasi polio di tingkat pedesaan, sedangkan sikap juga

mempengaruhi yaitu sikap negatif 5 orang (18 %) yang terimunisasi.

       Pendidikan seseorang merupakan hal yang utama yang harus diperhatikan

dalam menjaga kesehatan keluarga, terbukti pada penelitian Yusnidaryani, SKM

(2006). Pada penelitiannya tentang Imunisasi BCG yaitu menunjukkan bahwa

pendidikan yang rendah 2 orang (50%) yang mau membawa anaknya untuk di

imunisasi, pengetahuan kurang 6 % dari 17 responden, sedangkan sikap negatif 6

orang (20 %) yang di imunisasi BCG dalam wilayah kerja Puskesmas Sampoiniet

Kabupaten Aceh Utara.
2.2. Imunisasi Dan Vaksinasi.

          Imunisasi berasal dari kata “Immune” yang berarti pengebalan yaitu

   suatu usaha untuk membuat orang menjadi kebal terhadap penyakit tertentu,

   sedangkan imunisasi berarti kekebalan yaitu : daya tangkal seseorang terhadap

   penyakit tertentu. Imunisasi adalah pemberian kekebalan secara aktif kepada

   ibu hamil, bayi dan anak. Untuk mencegah terjadinya penyakit TBC, tetanus,

   difteri, polio dan campak (Markum, 1993).

          Menurut D.B. Jelliffe (1994) Imunisasi adalah proses membuat subjek

   kebal atau menjadi Immunisasine, atau suatu prosedur untuk meningkatkan

   derajat imunisasine seseorang terhadap pathogen tertentu.

          Vaksin adalah kuman yang telah dilemahkan atau dimatikan,

   sedangkan vaksinasi adalah usaha atau kegiatan pemberian vaksin kedalam

   tubuh anak melalui suntikan maupun oral untuk merangsang tubuh

   menghasilkan atau membuat zat inti terhadap penyakit tertentu yang disebut

   dengan antibody (kekebalan tubuh). Kuman dilemahkan dengan maksud agar

   tidak membahayakan dan tidak menimbulkan penyakit pada orang yang

   divaksinasi (Jelliffe, 1994).



2.3. Sejarah Perkembangan Imunisasi Di Indonesia

          Program Imunisasi yang terorganisasi telah ada sejak tahun 1856 di

   pulau Jawa, yaitu untuk mencegah penyakit cacar. Usaha ini terus meluas

   keseluruh Indonesia, sehingga pada tahun 1948 seusai perang Dunia Kedua

   penyakit ini kembali ditemukan di Indonesia. Oleh karena itu Vaksinasi cacar
dimulai dan sejak tahun 1969 dilaksanakan dengan intensif yang dikenal

sebagai SEP (Small Eradication Program) atau P3C (Program Pembasmi

Penyakit Cacar).

       Program ini berhasil baik dengan dapat dihilangkan penyakit cacar di

Indonesia pada tahun 1972 dan dinyatakan bebas dari cacar. Walaupun

demikian, vaksinasi cacar tetap dilaksanakan kendati terbatas hanya pada bayi

saja. Dengan keberhasilan itu, sejak tahun 1972 imunisasi mulai dicoba

vaksinasi golongan cacar dan BCG yang ternyata juga menunjukkan hasil

baik, sehingga pada tahun 1973 vaksinasi gabungan ini dilaksanakan diseluruh

Indonesia.

       Berdasarkan hasil pengamatan epidemologi yang menunjukkan bahwa

penyakit tetanus neonatorum merupakan masalah yang cukup besar, maka

pada tahun 1972 mulai dibuat suatu percobaan. Pencegahan terhadap tetanus

neonatorum dengan memberikan suntikan TT pada wanita dewasa di Jawa

Tengah. Mulai tahun 1973 propinsi lainnya ikut melaksanakan DPT

dibeberapa kecamatan yang didahului percobaan di pulau Bangka, tahun

berikutnya 1977 dan 1978 ditentukan sebagai fase persiapan pengembangan

program Imunisasi (PPI).

       Karena dibeberapa propinsi menunjukkan bahwa vaksinasi gabungan

cacar, BCG, DPT dan TT cukup berhasil maka diputuskan untuk lebih

mengembangkan PPI. Pada awal pelita II, PPI dicanangkan sebagai program

nasional. Oleh karena itu pada tahun 1979 diseluruh Dunia dinyatakan bebas

dari cacar, maka sejak bulan Agustus 1980 kegiatan vaksinasi polio
  dimasukkan dalam program imunisasi, sedangkan vaksinasi campak mulai

  diuji coba di Indonesia pada tahun 1981.

           Pada tahun 1982 dimulai lagi pemberian Vaksinasi            TT pada

  tahun.kemudian sejak tahun 1983 seluruh daerah PPI ikut memberikan

  vaksinasi TT di sekolah. Mulai tahun 1984 vaksinasi TT diperluas

  pemberiannya pada murid SD kelas empat dan juga ibu pasangan usia subur

  (PUS).


2.4. Macam-Macam Kekebalan.

    2.4.1. Kekebalan Pasif (passif immunity) dibagi atas :

    1. Kekebalan pasif alami ( natural acquired ) yaitu zat antibodi yang

       diperoleh dari ibu selama bayi berada dalam kandungan, lama antibodi

       ini berada dalam tubuh bayi + 3 bulan, bayi sudah dapat membuat

       gamma globubin seperti pada penyakit difteri.

    2. Kekebalan pasif buatan (artificially induced passive immunity) yaitu

       kekebalan yang diperoleh seseorang setelah menderita suatu penyakit,

       lamanya dalam tubuh sekitar dua sampai tiga minggu seperti anti tetanus

       serum (ATS).

    2.4.2. Kekebalan aktif (Active Immunity) Terdiri Dari :

    1. Kekebalan aktif alami (natural acqured) yaitu tubuh membuat antibodi

       setelah seseorang menderita penyakit seperti cacar.

    2. Kekebalan aktif buatan (active immunity artificially indice).

       Pengebalan ini umumnya disebut imunisasi yaitu pemberian antibodi

       kedalam tubuh,zatnya disebut vaksin.
2.5. Tujuan Dan Sasaran Program Immunisasi.

           Di negara berkembang sangat banyak bayi atau anak usia muda yang

     terkena berbagai penyakit dimana sebenarnya telah dicegah dengan

     imunisasi yang berkesinambungan. Berkaitan dengan hal tersebut maka bayi

     menjadi sasaran utama program imunisasi. Diharapkan semua bayi yang

     lahir harus mendapatkan imunisasi yang lengkap sebelum mereka mencapai

     umur 1 tahun. Yang menjadi sasaran program imunisasi pada kelompok

     masyarakat adalah :

     1. Mencakup tiap bayi 9 – 11 bulan untuk mendapatkan vaksinasi BCG,

        DPT, Polio, Campak dan Hepatitis B.

     2. Mencakup seluruh murid SD kelas I untuk mendapatkan vaksinasi DT.

     3. Mencakup seluruh       murid SD       kelas   IV     khusus   perempuan

        untuk

        mendapatkan vaksinasi TT.

     4. Mencakup seluruh wanita usia subur (umur           15 – 35 tahun) untuk

        mendapatkan vaksin TT.

     5. Mencakup ibu hamil untuk mendapatkan vaksin TT.

       Dengan tercapainya jangkauan diatas diharapkan dapat menurunkan angka

kematian bayi dan balita serta meningkatkan derajat kesehatan anak. Upaya

imunisasi yang terintegrasi di puskesmas dilakukan melalui Balai Kesejahteraan

Ibu dan Anak. Usaha kesehatan sekolah dan upaya khusus imunisasi pada

masyarakat terutama kaum ibu-ibu di pedesaan. Hal-hal yang perlu dibina yaitu :
Peningkatan kesadaran masyarakat akan pentingnya imunisasi pada penyebaran

pelayanan imunisasi secara merata, cepat dan efektif.



2.6. Penyakit Campak.

               Campak adalah penyakit anak – anak yang sangat berbahaya. Di

     Jawa, penyakit ini disebut penyakit “Gabagen”, di Sunda disebut “Tampek”

     sedangkan di Lombok disebut “Edeh” sedangkan di Nanggroe Aceh

     Darussalam disebut “Mangat”, penyebab utama kematian anak-anak.

     Penyebab campak adalah Virus Morbidly.

    2.6.1 Gejala-gejala Campak.

     Gejala – gejala klinis yang timbul pada penyakit campak adalah :

     1. Bercak merah kehitaman pada kulit

     2. Suara parau, terutama jika diikuti dengan tanda-tanda penyumbatan pada

         laring.

     3. Dehidrasi, tinja yang mengandung darah atau lendir atau mencret lebih

         dari 4x sehari.

     4. Kejang-kejang/kehilangan kesadaran

     5. Berat badan menurun.

             Campak sangat infeksius selama peradangan, pada saat mana anak-

     anak menunjukkan gejala batuk, demam, keluarnya lendir dari hidung, mata

     merah kemudian timbul batuk dan bintik-bintik kecil kelihatan sebelah

     dalam mulut, mata jadi merah dan berair dan peka terhadap cahaya.

     Selanjutnya bintik-bintik merah timbul dan mengalami keseluruhan tubuh
diiringi pula demam kuat. Gejala-gejala ini muncul didalam 7 hari sampai 14

hari, umumnya 123 hari setelah kemunculannya (Suryanah, 1996).

2.6.2. Komplikasi Campak

      Komplikasi campak bila tidak ditangani dengan cepat dan serius akan

berakibat fatal bagi penderitanya, dimana dapat terjadi komplikasi seperti

radang paru-paru, kerusakan hati atau mata yang melemah, oleh karena itu

penting sekali yang merawat anak-anak yang mengidap penyakit campak.

2.6.3. Pencegahan Campak.

      Pencegahan dengan faksinasi yang diberikan pada saat anak berumur

9 bulan atau segera sesudahnya. Vaksinasi campak merupakan tindakan

menguntungkan dan murah untuk mencegah penyakit dan meningkatkan

kesehatan bayi (Nadesul, 1996).

2.6.4. Imunisasi Campak.

       Imunisasi campak adalah suatu tindakan pemberian vaksin campak

pada bayi agar terhindar dari penyakit campak. Imunisasi aktif terhadap

campak diberikan satu kali pada bayi berumur 9-11 bulan dengan dosis 0,5

ml, didalam vaksin campak mengandung virus campak yang masih hidup

namun telah dilemahkan, dibiarkan dalam jaringan janin ayam. Pemberian

imunisasi campak dapat dilakukan secara subcutan dengan menyuntikkan

vaksin kebawah jaringan kulit (Suryanah, 1996).
     2.6.5. Reaksi dan Efek Samping Imunisasi.

             Bayi diimunisasikan dengan maksud memberi perlindungan dan

     perlawanan terhadap beberapa penyakit diantaranya difentri, pertusis,

     tetanus, polio, hepatitis, campak dan penyakit-penyakit lainnya. Pada saat

     pemberian imunisasi terjadi beberapa reaksi tubuh terhadap vaksin yang

     umumnya bersifat ringan seperti pada penyuntikan BCG, bila teknik kurang

     tepat (terlalu dalam) kadang terjadi pembengkakan kelenjar getah bening

     regional yang terbatas dan sembuh sendiri walau lambat, kulit disekitar

     tempat imunisasi akan menjadi merah dan hilang dalam beberapa hari,

     kadang-kadang dibawah suntikan timbul benjolan dan keras, ini normal akan

     hilang sendiri. Suhu tinggi mungkin saja terjadi, biasanya dalam satu atau

     dua hari, menangis dan menjerit kadang-kadang terjadi pada anak yang

     mendapat vaksin DPT, meskipun membingungkan, hal ini tidak berlangsung

     lama.

             Reaksi serius terhadap vaksin jarang terjadi, vaksin campak batuk

     rejan pernah dianggab menyebabkan kerusakan otak (tapi Jarang). Sekarang

     ini kebanyakan dokter berpendapat kalau itu tidak wajar.


2.7. Pengetahuan.

       Pengetahuan kesehatan atau Health Knowedge adalah apa yang diketahui

oleh seseorang terhadap cara-cara memelihara kesehatan, ini meliputi antara lain :

a. Pengetahuan tentang penyakit menular (Jenis Penyakit, tanda-tanda atau

   gejala-gejalanya, penyebabnya, cara penularannya, cara pencegahannya, cara

   mengatasi atau menangani sementara).
b. Pengetahuan      tentang   faktor-faktor   yang    terkait       dengan   dan/atau

   mempengaruhi kesehatan.

Oleh sebab itu untuk mengukur pengetahuan kesehatan seperti tersebut diatas

adalah dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan secara langsung (wawancara)

atau melalui pertanyaan-pertanyaan tertulis. Indikator pengetahuan kesehatan

adalah “tingginya pengetahuan” responden tentang kesehatan, atau besarnya

persentase kelompok responden atau masyarakat tentang variabel-variabel atau

komponen-komponen        kesehatan.   Misalnya   beberapa       %    responden   atau

masyarakat yang tahu tentang cara – cara mencegah penyakit (Notoatmodjo,

2005).

         Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang

melakukan pengindera terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui

panca indera manusia, yakni indera penglihatan, pendengaran, penciuman rasa

dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh malalui mata dan telinga

(Notoatmodjo, 2003).

         Pengetahuan adalah hasil penginderaan manusia, atau hasil tahu seseorang

terhadap objek melalui indera yang dimilikinya (mata, hidung, telinga dan

sebagainya). Dengan sendirinya, pada waktu penginderaan sampai menghasilkan

pengetahuan tersebut sangat dipengaruhi oleh intensitas perhatian dan persepsi

terhadap objek. Sebagian besar pengetahuan seseorang diperoleh melalui indera

pandengaran (telinga) dan indera penglihatan (mata). Pengetahuan seseorang

terhadap    objek   mempunyai    intensitas   atau   tingkat    yang    berbeda-beda

(Notoatmodjo, 2005).
         Apabila penerimaan perilaku melalui proses yang didasari oleh

pengetahuan kesadaran dan sikap yang positif maka perilaku tersebut akan

bersifat langsung (Longlasting). Sebaliknya apabila perilaku tidak didasari oleh

pengetahuan dan kesehatan maka tidak akan berlangsung lama (Notoatmodjo,

2003).

         Arikunto (1996) mengatakan untuk menilai pengetahuan (kognisi) adalah

dengan menggunakan kata-kata operasional pada waktu dilakukan penilaian

misalnya mendefinisikan , mendeskripsikan, mendaftarkan, menyebutkan,

menyatakan. Sedangkan untuk menilai sikap disebutkan adalah sebagai berikut :

1. Ressiving, menanyakan, memilih, mendiskripsikan, mengikuti, memberikan,

   mengidentifikasikan, menunjukkan dan memilih.

2. Responding ; membantu, mendiskusikan, menghormar, berbuat, melakukan,

   memberikan, melaporkan, memilih, menceritakan dan menulis.

3. Valuing     ;   melengkapi,   menggambarkan,     membedakan,   menerangkan,

   mengikuti,      menggabung,    mengusulkan,     melaporkan,    memilih   dan

   mempelajarinya.

         Pengetahuan yang dicakup dalam domain kognitif mempunyai 6 tingkat :

1. Tahu (Know).

   Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari

   sebelumnya.

    Termasuk kedalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (recall)

   terhadap suatu spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari.

2. Memahami (Comprehension)
   Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan menjelaskan secara benar

   tentang objek yang diketahui dan dapat menginterfensikan materi tersebut

   secara benar.

3. Aplikasi (application)

   Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah

   dipelajari pada situasi kondisi Rill (Sebenarnya).

4. Analisis (analysis)

   Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek

   dalam komponem – komponem, tetapi masih di dalam struktur organisasi

   tersebut dan masih ada kaitannya satu sama lain.

5. Sintesis (synthesis)

   Sintesin menunjukkan kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau

   menghubungkan bagian-bagian didalam suatu bentuk keseluruhan yang baru.

6. Evaluasi (Evaluation)

   Evalusi berkaitan dengan kemampuan untuk menentukan justifikasi atau

   penilaian terhadap suatu materi atau objek penilaian itu berdasarkan kriteria

   yang ditentukan sendiri atau menggunakan kriteria yang sudah ada

   (Notoatmodjo, 2003).

       Pengetahuan merupakan keseluruhan pemikiran, gagasan ide, konsep dan

pemahaman yang dimiliki manusia tentang dunia dan segala isinya termasuk

manusia dan kehidupannya. Pengetahuan mencakup penalaran penjelasan dan

pemahaman teknis dalam memecahkan berbagai persoalan hidup yang belum

dilakukan secara metodis dan sistematika (Arikunto, 1996).
         Pengetahuan adalah suatu bentuk tahu dari manusia yang diperolehnya

dari pengalaman, perasaan, akal pikiran dan intiusinya setelah orang melakukan

penindraan suatu objek tertentu. Pengetahuan yang dimaksud dalam penelitian ini

berkaitan dengan pengetahuan ibu-ibu yang mempunyai bayi terhadap imunisasi

campak (Notoatmodjo, 1996).

         Pengetahuan sering ditemukan atau diperoleh dari pengalaman sendiri

maupun dari pengalaman yang diperoleh dari orang lain seperti pengalaman

seorang ibu yang panik ketika anaknya terkena campak, tidak tahu harus dibawa

kemana, dan tiba-tiba tetangganya menceritakan pengalamannya saat anaknya di

imunisasi dan sampai sekarang tidak terkena campak (Jelliffe, 1994).

         Apabila tingkat pengetahuan ibu tinggi, maka keinginan ibu untuk

mengimunisasi anaknya dengan imunisasi campak juga makin tinggi (Mariati,

1999).

         Penelitian Rogers (1974) mengungkapkan bahwa sebelum orang

mengadopsi prilaku lain didalam diri orang tersebut terjadi proses yang beruntun :

1. Awarness (kesadaran) dimana orang tersebut menyadari dalam arti

   mengetahui terlebih dahulu terhadap stimulus (Objek), misalnya seseorang ibu

   yang belum pernah mendengar atau mengetahui tentang imunisasi campak

   bagi bayinya, sehingga tidak akan pernah membawa bayinya untuk

   diimunisasi campak.

2. Interest (merasa tertarik) terhadap stimulus atau objek tersebut. Disini sikap

   subjek sudah mulai timbul. Bila seorang ibu sudah pernah mendengar atau

   tahu akan pentingnya imunisasi baik itu diketahui dari teman/tetangga,
   maupun mendengarnya langsung dari petugas kesehatan yang memberikan

   penyuluhan maka ia akan mengerti dan mulai tertarik untuk mencari informasi

   lebih lanjut tentang imunisasi.

3. Evaluation (menimbang) terhadap baik atau tidaknya imunisasi bagi bayinya.

4. Adaption (Adaptasi) dimana seseorang ibu sudah mau mengimunisasikan

   anaknya karena ia sudah mempunyai pengetahuan, kesadaran dan sikap yang

   baik terhadap imunisasi. Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan

   wawancara atau angket yang menanyakan tentang isi materi yang ingin diukur

   dari subjek penelitian atau responden (Notoatmodjo, 2003).


2.8. Sikap

       Sikap terhadap kesehatan adalah pendapat atau penilaian orang terhadap

hal-hal yang berkaitan dengan pemeliharaan kesehatan, antara lain :

a. Sikap terhadap penyakit menular (jenis penyakit dan tanda-tandanya atau

   gejalanya, cara penularannya, cara pencegahannya, cara mengatasi atau

   menangani sementara).

b. Sikap terhadap faktor-faktor yang terkait dan/atau mempengaruhi kesehatan.

      Pengukuran sikap dapat dilakukan secara langsung ataupun            tidak

langsung. Pengukuran sikap secara langsung dapat dilakukan dengan mengajukan

pertanyaan-pertanyaan tentang stimulus atau objek yang bersangkutan. Pertanyaan

secara langsung juga dapat dilakukan dengan cara memberikan pendapat dengan

menggunakan kata “setuju” atau “tidak setuju” terhadap pertanyaan tertentu

terhadap objek tertentu (Notoatmodjo, 2005).
       Sikap adalah respons tertutup seseorang terhadap stimulus atau objek

tertentu, yang sudah melibatkan faktor pendapat dan emosi yang bersangkutan

(senag - tidak senang, setuju - tidak setuju, baik – tidak baik). Campbell (1950)

menyatakan bahwa sikap adalah suatu sindroma atau kumpulan gejala dalam

merespons stimulus atau abjek, sehingga sikap itu melibatkan pikiran, perasaan,

perhatian dan gejala kejiwaan lain. Newcomb menyatakan bahwa sikap

merupakan kesiapan atau kesediaan untuk bertindak (Notoatmodjo, 2005).

       Sikap merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang

terhadap suatu stimulus atau objek (dalam hal ini adalah masalah kesehatan,

termasuk penyakit). Setelah seseorang mengetahui stimulus atau objek, proses

selanjutnya akan menilai atau bersikap terhadap stimulus atau objek kesehatan

tersebut (Notoadmodjo, 2003).

       Sikap seseorang bisa dipengaruhi oleh perilaku dan individu tersebut,

sikap merupakan suatu kecendrungan untuk bertindak terhadap suatu objek,

dengan suatu cara dengan menyatakan adanya tanda – tanda untuk menyenangi

atau tidak menyenangi objek tersebut, sikap dibagi menjadi 4 tingkatan yaitu :

1. Menerima (receiving)

   Menerima diartikan bahwa orang (Objek) mau dan memperhatikan stimulus

   yang diberikan (Objek).

2. Merespon (responding)

   Memberikan jawaban apabila ditanya, mengerjakan dan menyelesaikan tugas

   yang diberikan adalah suatu indikasi dari sikap, karena dengan suatu usaha
   untuk menjawab pertanyaan atau mengerjakan tugas yang dberikan lepas

   pekerjaan itu benar atau salah berarti orang menerima ide tersebut.

3. Menghargai (valuing)

   Mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan dengan orang

   lain terhadap suatu masalah merupakan indikasi dari sikap.

4. Bertanggung jawab (Responsible)

   Bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah dipilihnya dengan segala

   resiko adalah merupakan sikap yang paling tinggi (Notoatmodjo, 2003).

        Menurut Zinbardo dan Ebbesen, sikap adalah suatu predisposisi (keadaan

mudah terpengaruh) terhadap seseorang, ide atau objek yang berisi komponen-

komponen kognitif, efektif dan behavior yang ikut mempengaruhi status imunisasi

campak oleh ibu pada bayinya (Mariati, 1999).

       LL Thorstone memberi batasan sikap sehingga tingkatan kecendrungan

yang bersifat positif atau negatif yang berhubungan dengan objek psikologi yang

meliputi simbol, kata-kata, slogan, orang, keluarga, ide dan sebaginya. Misalnya

sikap tentang status Imunisasi campak oleh ibu pada bayi (Mariati, 1999).

       Seorang ahli psikologi W.J. Thomas memberi batasan sikap sebagai suatu

kesadaran individu yang menentukan perbuatan-perbuatan nyata ataupun yang

mungkin akan terjadi didalam kegiatan-kegiatan sosial. Tiap-tiap sikap

mempunyai 3 aspek, yaitu :

1. Aspek Kognitif yaitu yang berhubungan dengan gejala mengenal fikiran, ini

   berarti berwujud pengolahan, pengalaman dan keyakinan serta harapan

   individu tentang objek tertentu.
2. Aspek Afektif berwujud proses yang menyangkut perasaan tertentu seperti

   ketakutan, kedengkian, simpatik, antipatik, dan sebagainya yang ditujukan

   kepada objek tertentu.

3. Aspek kognitif berwujud proses kecendrungan untuk berbuat sesuatu objek

   misalnya kecendrungan memberi pertolongan, mengimunisasi bayi dengan

   imunisasi campak ke dokter dan sebaginya (Markum, 1993)

        Alport (1999) menjelaskan bahwa sikap itu mempunyai 3 (tiga)

komponen pokok, yaitu :

1. Kepercayaan (Keyakinan), ide dan konsep terhadap objek.

2. Kehidupan emosional atau evaluasi emosional terhadap suatu objek.

3. Kecendrungan untuk bertindak (Trend to Behave).

       Ketiga komponen ini bersama-sama membentuk sikap yang utuh, dalam

penentuan sikap yang utuh ini pengetahuan, berfikir, keyakinan dan emosi

memegang peranan yang sangat penting, sebagai contoh seorang ibu telah

mendengar tentang penyakit campak (Penyabab, akibat, pencegahannya),

pengetahuan ini akan membawa ibu untuk berfikir dan berusaha supaya anaknya

tidak terkena campak. Dalam berfikir ini komponen emosi dan keyakinan ikut

bekerja sehingga ibu tersebut berminat untuk mengimunisasikan anak untuk

mencegah campak, sehingga ibu mempunyai sikap tertentu terhadap objek yang

berupa penyakit campak (Markum, 1993).

       Pengukuran sikap dapat dilakukan secara langsung ataupun tidak

langsung. Secara langsung dapat ditanyakan bagaimana pendapat atau pernyataan

responden terhadap suatu objek (Notoadmodjo, 1996).
       Sikap ibu terhadap imunisasi campak bayinya belum merupakan suatu

tindakan atau prilaku, sikap itu masih merupakan reaksi tertutup dan bukan

merupakan reaksi terbuka atau tingkah laku terbuka. Sikap merupakan kesiapan

untuk bereaksi terhadap objek dilingkungan tertentu sebagai suatu pernyataan

terhadap objek.


2.9. Pendidikan.

       Pendidikan berasal dari kata didik yang artinya suatu proses belajar

mengajar yang dilakukan secara formal maupun nonformal untuk menambah dan

mengumpulkan sejumlah pengetahuan (Ahmadi, 1991).

       Ahli pendidikan modern merumuskan bahwa belajar adalah suatu bentuk

pertumbuhan atau perubahan dalam diri seseorang yang dinyatakan dalam cara-

cara bertingkah laku yang tidak tau menjadi timbulnya pengertian baru, timbul

dan berkembangnya sifat-sifat sosial, susila, dan emosional. Misalnya seorang ibu

tidak pernah tahu tentang apa itu imunisasi campak maka ibu itu dapat mengerti

dan memahami akan pentingnya imunisasi campak bagi anak-anak mereka

(Markum, 1993).

       Dalam proses belajar terdapat 3 komponen pokok, yaitu :

1. Masukan (Input) yang menyangkut sasaran belajar yaitu : Individu,

   kelompok/masyarakat yang sedang belajar itu sendiri dengan berbagai latar

   belakangnya, baik yang berlatar pendidikan tinggi maupun yang tidak

   berpendidikan sama sekali.

2. Proses adalah mekanisme dan interaksi terjadinya perubahan kemampuan

   (Prilaku) pada diri subjek belajar tersebut. Didalam proses terjadi pengaruh
   timbal balik antar berbagai faktor antara lain subjek belajar, mengajar metode

   dan teknik belajar dan alat bantu belajar sertamateri dan bahan yang dipelajari.

3. Keluaran (Output) merupakan hasil belajar itu sendiri yaitu berupa

   kemampuan untuk melakukan perubahan prilaku dari subjek belajar.

         Pendidikan bertujuan untuk mengubah tingkah laku kearah yang

diinginkan sehubungan dengan itu maka tujuan pendidikan kesehatan masyarakat

adalah untuk mengubah tingkah laku masyarakat dari yang tidak sesuai dengan

norma kesehatan. Apabila tingkat pendidikan tinggi, maka keinginan ibu untuk

mengimunisasi anaknya dengan imunisasi campak juga makin tinggi (Mariati,

1999).

         Selanjutnya dalam kasus pedagogik dikatakan bahwa belajar adalah

berusaha memiliki pengetahuan atau kecakapan, seseorang telah mempelajari

sesuatu terbukti dengan perubahannya, ia baru dapat melakukan sesuatu hanya

dari hasil proses belajar sebelumnya. Ibu yang telah mengerti akan pentingnya

imunisasi campak, maka ia akan mau membawa bayinya untuk diimunisasi

campak walaupun harus membayar (Ahmadi, 1991).

         Konsep dasar pendidikan adalah suatu proses belajar, yang berarti didalam

pendidikan itu terjadi pertumbuhan, perkembangan atau perubahan kearah yang

lebih dewasa, lebih baik dan lebih matang pada diri individu, kelompok atau

masyarakat (Notoadmodjo, 1997).
                                      BAB III
                             METODE PENELITIAN



3.1. Pendekatan penelitian

       Pendekatan Penelitian ini dilakukan dengan cara pendekatan Kualitatif

yaitu dengan melihat Gambaran Pelayanan Kesehatan Terhadap Balita Tentang

Imunisasi      campak pada       bayi, sebagai alat pengumpulan data terutama

wawancara yang mendalam.

       Pendekatan yang dilakukan semacam ini terutama untuk memudahkan

peneliti dalam mencari data agar data yang didapat lebih kontinyu dan lebih

efisien sehingga tidak terjadi penyimpangan dalam pengolahan data pada akhir

penelitian.


3.2. Teknik Pengumpulan Data

       Cara yang digunakan dalam teknik pengumpulan data yaitu dengan cara

membagi dalam tiga data yaitu :

   3.2.1. Observasi.

              Melakukan seraikaian pengamatan langsung dengan responden ibu-ibu

              yang mempunyai bayi usia 9 – 11 bulan di wilayah Puskesmas

              Kecamatan Meurah Mulia, serta dari hasil laporan Dinas Kesehatan

              Kabupaten Aceh Utara dan Instansi terkait.

   3.2.2. Wawancara.

              Wawancara merupakan teknik pengumpulan data dengan cara tanya

              jawab atau wawancara secara langsung dengan informen yaitu ibu-ibu
            yang mempunyai bayi usia 9 – 11 bulan, serta dengan menggunakan

            panduan pertanyaan atau Quesioner.

    3.2.3. Dokumentasi.

            Melakukan pengumpulan data dokumentasi, berupa data – data yang

            didapat secara langsung maupun dari buku – buku tentang Kesehatan

            baik dari Puskesmas maupun dari Dinas Kesehatan Kabupaten Aceh

            Utara.


3.3. Teknik Analisa Data.

      Teknik alalisa data dilakukan dengan proses penelitian Kualitatif yaitu yang

menguraikan data primer dan skunder dalam bentuk kalimat, menggambarkan

realita dan permasalahan yang dihadapi dalam bentuk bahasa. Analisa data

dilakukan dari awal penelitian mulai dari pengumpulan data, reduksi data dan

klasifikasi data serta penarikan kesimpulan atas penelitian yang dilakukan. Data

yang sudah      didapat dari hasil wawancara, kemudian disusun dan di telaah

berdasarkan teori yang menggambarkan tingkat pendidikan, pengetahuan dan

sikap terhadap imunisasi campak pada bayi. Data yang telah diolah kemudian

disajikan dalam bentuk tabel didistribusi frekuensi dan narasi disertai dengan

tabel silang.

    3.3.1. Pengumpulan Data.

            Pengumpulan data adalah suatu proses pendekatan kepada subjek dan

            proses pengumpulan karakteristik subjek yang diperlukan dalam suatu

            penelitian. Selama proses pengumpulan data, peneliti memfokuskan
       pada penyelesaian masalah-masalah yang terjadi agar data dapat

       terkumpul sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan.

3.3.2. Reduksi Data.

       Data yang sudah didapat dalam penelitian ini dikumpulkan, baik data

       yang didapat secara wawancara maupun dalam bentuk pedoman dari

       pada buku petunjuk dari Dinas Kesehatan serta pihak – pihak terkait.

       Dari semua data yang terkumpul oleh penulis maka data yang

       dianggab tidak perlu dilakukan pengurangan atau pemotongan

       sehingga data yang terkumpul dianggab valit alias kongkrit,

       kemudian disusun berdasarkan teori yang menggambarkan tingkat

       pengetahuan, sikap serta pendidikan ibu-ibu terhadap imunisasi

       campak pada bayi.

3.3.3. Klasifikasi Data.

       Dalam klasifikasi data ini penulis menetapkan data yang didapat atas

       dasar proses penggolongan, data tersebut hanya mempunyai sifat

       membedakan, misalnya jenis kelamin, mata pencaharian, tingkat

       pendidikan, kelompok umur, dan lain-lain yang dianggap perlu selama

       dalam penelitian.

3.3.4. Penarikan Kesimpulan.

       Semua data yang sudah didapat oleh peneliti dipikirkan apakah benar,

       dan masih harus dibuktikan kebenarannya sehingga tidak terjadi

       penyimpangan data, kemudian disusun dan ditelaah berdasarkan teori

       yang menggambarkan tingkat pengetahuan, sikap dan pendidikan ibu
terhadap imunisasi campak pada bayi dan pada akhirnya barulah

peneliti dapat menyimpulkan bahwa ketiga desa tersebut cocok untuk

dilakukan sebuah penelitian.
                                     BAB IV
                  HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN


4.1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian

4.1.1. Letak Geografis

       Tiga Desa yang menjadi tempat penelitian terdiri dari 10 dusun dari 3
Desa yaitu Desa Mesjid Bluek, Desa Meuria Bluek dan Desa Dayah Bluek
merupakan tiga desa dalam wilayah Utara Kecamatan Meurah Mulia Kabupaten
Aceh Utara Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), jarak dari kecamatan
sekitar 15 KM dengan luas Wilayah ke tiga Desa tersebut adalah 300 Ha dengan
berbatas :

   a. Desa Mesjid Bluek 113 Ha

       -     Sebelah Utara berbatas dengan Desa Rheng Bluek

       -     Sebelah Selatan berbatas dengan Desa Meuria Bluek

       -     Sebelah Barat berbatas dengan Desa Balee Kec. Syamtalira Bayu

       -     Sebelah Timur berbatas dengan Desa Tanjong Kleng Kec. Samudra

   b. Desa Meuria Bluek 98 Ha

       -     Sebelah Utara berbatas dengan Desa Mesjid Bluek

       -     Sebelah Selatan berbatas dengan Desa Reudeueb Bluek

       -     Sebelah Barat berbatas dengan Desa Dayah Bluek

       -     Sebelah Timur berbatas dengan Desa Ulee Cibrek

   c. Desa Dayah Bluek 89 Ha

       -     Sebelah Utara berbatas dengan Desa Mesjid Bluek

       -     Sebelah Selatan berbatas dengan Desa Reudeueb Bluek dan Pulo

             Bluek
       -     Sebelah Barat berbatas dengan Desa Balee Kec. Syamtalira Bayu

       -     Sebelah Timur berbatas dengan Desa Meuria Bluek

4.1.2. Luas Wilayah.

           Luas Wilayah tiga desa tersebut yaitu 300 Ha, Dari luas wilayah tersebut

diatas menurut keadaan tanahnya dapat dibagi menjadi tanah sawah dan tanah

kering. Tanah kering terbagi menjadi tanah pekarangan / bangunan 82 Ha dan

tanah kebun 87 Ha.

4.1.3. Iklim.

           Tiga Desa yang menjadi lokasi penelitian, angin musim barat kering

berhembus dari bulan April sampai Oktober dan angin musim timur hujan dari

bulan September sampai Januari. Suhu siang hari rata – rata pada musim kemarau

sebesar 36O C dan musim hujan rata – rata 28OC, sedangkan pada malam hari suhu

rata –rata turun berkisar dari 4O C sampai 5O C.



4.2. Kependudukan

4.2.1. Jumlah Penduduk

       Menurut sensus penduduk bulan Desember 2007, penduduk Desa mesjid

Bluek berjumlah 371 jiwa, Desa Meuria Bluek 382 jiwa dan Desa Dayah Bluek

berjumlah 362 jiwa dengan demikian jumlah penduduk ketiga desa tersebut

adalah 1.115 jiwa yang terbagi dalam 273 Kepala Keluarga. Perbandingan jumlah

penduduk antara laki-laki dan perempuan yaitu, 522 orang laki-laki dan 593 orang

perempuan. Tabel berikut menunjukkan jumlah penduduk menurut kelompok

umur dan jenis kelamin tiga desa dalam Kecamatan Meurah Mulia.
                                 Tabel 4.1
     Pengelompokan Penduduk Dalam Kelompok Umur Dan Jenis Kelamin
               Di Tiga Desa Dalam Kecamatan Meurah Mulia
                                Tahun 2008


No       Kelompok Umur          Laki-laki    Perempuan        Jumlah   Persentase

1     0 – 8 Bulan                   12             7            19        1,7
2     9 – 11 Bulan                  22             8            30       2,69
3     12 Bulan – 4 Tahun            30            18            48       4,30
4     5 – 14 Tahun                 112           122           234       21,0
5     15 – 19 Tahun                238           269           507       45,5
6     20 – 59 Tahun                102           126           228       20,5
7     60 Tahun Keatas               19            30            49       4,39

             Jumlah                522           593          1.115       100
Sumber : Monografi Tiga Desa Kecamatan Meurah Mulia, Mai 2008

        Pada tabel 4.1 dapat dilihat bahwa jumlah penduduk terbanyak        pada

kelompok umur 15 – 49 tahun, yaitu 507 orang (45,5%). Disusul 5 – 14 tahun

(21,0%) dan jumlah terendah pada umur 0 – 8 bulan (1,7%).



4.2.2. Mata Pencaharian Penduduk.

        Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, masyarakat Tiga Desa diatas

mempunyai mata pencaharian Petani (32,30%), peternak (19,07%) dan Pengrajin

(11,4%). Untuk lebih jelasnya dapat dilihat tabel berikut :
                              Tabel 4.2
Mata Pencaharian Penduduk Di Tiga Desa Dalam Kecamatan Meurah Mulia
            Kabupaten Aceh Utara (Usia 15 tahun Ke Atas)
                             Tahun 2008


No             Mata Pencaharian                 Jumlah          Persentase

 1    Petani                                     105              32,30
 2    Peternak                                    62              19,07
 3    Pengusaha Industri                          27                8,3
 4    Pekerja/Buruh kasar                         15                4,7
 5    Pengrajin                                   37               11,4
 6    Pedagang                                    32                9,8
 7    Pegawai Negeri (ABRI dan Sipil)             26                8,0
 8    Karyawan swasta                             18                5,6
 9    Pensiunan                                    4                1,2
10    Pengemudi                                    0                 0

                     Jumlah                      325               100
Sumber : Monografi Tiga Desa Kecamatan Meurah Mulia, Mei 2008


4.2.3. Pendidikan.

       Untuk melihat tingkat pendidikan di Tiga desa dalam kecamatan Meurah

Mulia dapat dikelompokkan seperti pada Tabel 4.3. dari tabel tersebut dapat

dilihat sebagian   penduduk yang tamat SLTA/ sederajat sebanyak 315 orang

(39,52%), disusul dengan tingkat tamat SLTP/sederajat sebanyak 253 orang

(31,8%). Sarana pendidikan yang ada satu buah SD yaitu SD Negeri Inpres Dayah

Bluek untuk menampung siswa di Desa tersebut.
                               Tabel 4.3
      Distribusi Penduduk Menurut Tingkat Pendidikan Di Tiga Desa
                     Dalam Kecamatan Meurah Mulia
                              Tahun 2008


No                Pendidikan                    Jumlah           Persentase

 1    Tidak Sekolah                                 -                  -
 2    Tidak Tamat SD                               15                 1,9
 3    Tamat SD/Sederajat                          171               21,45
 4    Tamat SLTP/Sederajat                        253                31,8
 5    Tamat SLTA/Sederajat                        315               39,52
 6    Perguruan Tinggi                             43                 5,4

                    Jumlah                        797                100
Sumber : Monografi Tiga Desa Kecamatan Meurah Mulia, Mai 2008


4.2.4. Sarana dan Prasarana

       Adapun     sarana dan prasarana yang tersedia di Tiga Desa dalam

kecamatan Meurah Mulia yaitu masing – masing Desa 1 Menasah/3 Desa, satu

kilang padi, satu Perusahaan pembuat Tilam(Kasur) satu dayah, dua tempat

pengolahan ES Krem Keliling dan dua tempat penjualan Mie. Sedangkan fasilitas

kesehatan yang tersedia yaitu sebuah Polindes di Desa Meuria Bluek untuk Tiga

Desa dengan satu orang Bidan Desa.

4.3. Tingkat Pengetahuan Ibu-ibu Terhadap Imunisasi Campak Pada Bayi.

       Penyebab rendahnya cakupan imunisasi di tiap – tiap desa dalam

Puskesmas Kecamatan Meurah Mulia Kabupaten Aceh Utara diduga karena

rendahnya pengetahuan, sikap dan pendidikan ibu yang memiliki bayi terhadap

kegiatan imunisasi, hal ini diketahui berdasarkan hasil wawancara dengan Kepala

Puskesmas Meurah Mulia Bapak dr. Said Alam Zulfikar, yaitu :
    ”Dengan adanya pengetahuan atau informasi yang benar tentang
    imunisasi pada ibu maka dapat memotivasi ibu untuk mencapai
    keberhasilan dalam pencapaian target imunisasi kepada bayinya.’’
    (Wawancara, 11 Februari 2009)

       Berbeda dengan apa yang diucapkan oleh Humas Kantor Camat Meurah

Mulia bapak Chairul Nurzan, yaitu :

    ” Pengetahuan ibu memiliki hubungan dengan pemberian imunisasi
    pada bayi.’’ ( Wawancara, 11 Februari 2009)

       Sementara itu Ibu yang berpengetahuan baik yaitu ibu Maharani (Ny.

Husaini) menyebutkan bahwa :

    “ Setiap kali ada Posyandu saya selalu membawa anak saya ke
    menasah, karna imunisasi campak sangat perlu, mengingat Kakak saya
    dulu dak ada diimunisasi akibatnya seluruh mukaknya berlubang-
    lubang dan tidak mulus ”. (Wawancara, 12 Februari 2009 )

       Sedangkan itu Ibu yang berpengetahuan Cukup yaitu ibu Muliana (Ny.

Yunus) mengatakan bahwa :

    “ Imunisasi perlu bagi anak saya, saya juga ada membawa anak saya
    untuk imunisasi campak karena itu baik menurut saya ”. (Wawancara,
    12 Februari 2009 ).


       Sedangkan    itu Ibu yang berpengetahuan Kurang yaitu ibu Mur (Ny.

Bukhari) mengatakan bahwa :

    “ Imunisasi itu kan bagi anak yang merasa tidak sehat, saya juga ada
    membawa anak saya untuk imunisasi tapi kalau untuk disuntik
    kayaknya saya merasa berat ”. (Wawancara, 12 Februari 2009 ).


       Dari hasil wawancara tersebut maka status imunisasi yang terlaksana pada

tiga desa dalam Puskesmas Meurah Mulia dapat dilihat dalam tabel dibawah ini.
                               Tabel 4.4
     Hubungan Pengetahuan Ibu Dengan Status Imunisasi Campak Bayi Di
        Tiga Desa Kecamatan Meurah Mulia Kabupaten Aceh Utara
                              Tahun 2008

                               Status Imunisasi Campak
No     Pengetahuan       Terimunisasi        Tidak Terimunisasi       Jumlah           %

                          n          %          n          %

 1     Baik              15        83,3         3         16,7           18        100
 2     Cukup              6         60          4          40            10        100
 3     Kurang             1         50          1          50            2         100

           Total         22                     8                        30
Sumber : Data Tiga Desa Kecamatan Meurah Mulia (Diolah, 2008)


        Berdasarkan tabel 4.4 diatas dapat dilihat bahwa dari 18 Ibu yang

berpengetahuan baik yang diberikan imunisasi campak sebanyak 15 bayi (83,3%),

sedangkan yang tidak terimunisasi sebanyak 3 bayi (16,7%), sedangkan yang

berpengetahuan cukup yang terimunisasi sebanyak 6 bayi (60%) dan yang tidak

terimunisasi 4 bayi (40%) dan yang berpengetahuan kurang yang terimunisasi

sebanyak 1 bayi (50%). Jadi proporsi bayi yang terimunisasi didominasi pada

kelompok ibu yang berpengetahuan baik.



4.4. Sikap Ibu-ibu Terhadap Imunisasi Campak Pada Bayi.

        Sikap merupakan reaksi atau respon seseorang dari hasil pengamatan.

Sikap tergambar dari setuju atau tidak dan dapat dikatagorikan positif atau negatif.

Untuk lebih jelasnya sikap Ibu – ibu dalam melaksanakan imunisasi terhadap

anaknya dapat kita ketahui melalui wawancara dengan Koordinator Bidan Desa di
Puskesmas Kecamatan Meurah Mulia           Kabupaten Aceh Utara, dengan ibu

Rahmiati, Am. Keb adalah :

   ” Sikap lebih dipandang sebagai hasil belajar dari hasil perkembangan
   atau sesuatu yang diturunkan, ini berarti bahwa sikap diperoleh melalui
   interaksi dengan objek sosial, sebagai hasil belajar, sukap dapat diubah
   walaupun memerlukan waktu yang lama dan sikap merupakan
   predisposisi tindakan atau prilaku ”. (Wawancara, 23 Februari 2009).

       Sementara dari kalangan tenaga kesehatan di daerah tersebut mengatakan

bahwa setiap orang mempunyai sikap-sikap tertentu tergantung akan kebiasaan

masing – masing individu, dengan ibu Wardiah, Bidan Desa Meuria Bluek.

   ” Sikap ibu memiliki karakteristik tertentu tergantung siapa individu,
   walaupun ibu-ibu yang kurang pendidikan umum tetapi kalau
   pendidikan agama tinggi maka baguslah ia dalam bersikap sesama, yaa
   itu tadi terutama tentang kesehatan anaknya ”. ( Wawancara, 23
   Februari 2009).


       Suatu sikap belum tentu terwujut dalam suatu tindakan. Untuk

terwujudnya sikap menjadi perbuatan nyata diperlukan faktor pendukung atau

kondisi yang memungkinkan. Sebagaimana diucapkan oleh Ibu yang bersikap

secara positif yaitu ibu Nurafiah, S.Pd (Ny. Abbas Rianda, S.sos).

    ” Alangkah Senangnya dan bahagianya saya apabila anak saya telah
    saya berikan imunisasi, demi kesehatannya dan masa depannya.’’
    (Wawancara, 24 Februari 2009)


       Dari ibu yang bersikap Negatif yaitu ibu Zainabon (Ny. Nurdin) beliau

mengatakan bahwa :

    ” Anak saya telah diberikan Imunisasi tapi badannya panas saya
    merasa tidak nyama tidur, apakah itu namanya sehat, makanya saya
    merasa kurang enak juga kalau begitu.’’ (Wawancara, 24 Februari
    2009)
       Namun demikian ada pula yang tidak sama sekali tidak diimunisasi sampai

bayinya sudah 12 bulan yaitu ibu Maimunah (Ny. Saifullah).

     ” Anak saya belum diberikan Imunisasi tapi badannya sehat-sehat, ,
     sekarang sudah 1 tahun umurnya, Cuma imunisasi Polio dan Hepatitis
     B sudah .’’ (Wawancara, 26 Februari 2009)


       Untuk lebih jelasnya mengetahui tentang sikap ibu-ibu terhadap imunisasi

campak pada bayi dapat kita lihat dalam tabel berikut ini.

                             Tabel 4.5
 Hubungan Sikap Ibu Dengan Status Imunisasi Campak Bayi Di Tiga Desa
          Kecamatan Meurah Mulia Kabupaten Aceh Utara
                            Tahun 2008

                               Status Imunisasi Campak
No        Sikap            Terimunisasi     Tidak Terimunisasi     Jumlah          %

                           n         %          n            %

 1    Positif            20         83,3        4        16,7        24        100
 2    Negatif              2        33,3        4        66,7         6        100

          Total          22                     8                    30
Sumber : Data Tiga Desa Kecamatan Meurah Mulia (Diolah, 2008)


       Berdasrkan tabel 4.5 diatas jumlah ibu yang mempunyai sikap positif telah

memberikan imunisasi campak pada bayinya sebanyak 20 (83.3%), bayi yang

belum terimunisasi 4 (16,7%) responden tidak membawa bayinya untuk

diimunisasi campak. Sedangkan yang mempunyai sikap negatif yang terimunisasi

sebanyak 2 (33,3%) bayi dan yang tidak terimunisasi sebanyak 4 (66,7%) bayi.

Jadi proporsi bayi yang terimunisasi didominasi pada kelompok ibu yang

mempunyai sikap positif.
4.5. Tingkat Pendidikan Ibu-ibu Terhadap Imunisasi Campak Pada Bayi.

       Kebutuhan akan pendidikan disebabkan karena ketidak seimbangan

didalam diri individu membuat individu yang bersangkutan melakukan sesuatu

tindakan, tindakan itu mengarah pada suatu tujuan untuk mencapai keberhasilan,

tujuan tersebut diharapkan dapat memenuhi kebutuhan yang ada.

       Dalam penelitian ini penulis juga melakukan wawancara dengan Kepala

Puskesmas Meurah Mulia yaitu dr. Said Alam Zulfikar, dengan ucapan :

    ” Pendidikan merupakan proses timbal balik dari kebutuhan untuk
    mencapai suatu keberhasilan, termasuk keberhasilan dalam mendidik
    anak, terutama kesehatan keluarga, bagus pendidikan tentu lebih tau
    tentang dunia kesehatan ”. ( Wawancara, 20 Februari 2009).

       Belajar adalah suatu bentuk pertumbuhan atau perubahan dalam diri

seseorang, hal ini dapat kita lihat dari ucapan ibu yang berpendidikan Tinggi Ibu

Ainil Yusra, M.Kes (Ny. Syahabuddin, S.Kep) menyebutkan bahwa :

    ” Kalau kita seorang ibu yang baik maka kita harus tahu apa itu
    Imunisasi campak, dan kita harus mengerti serta memahami akan
    pentingnya imunisasi campak dan imunisasi lainnya bagi anak-anak
    kita, .’’ (Wawancara, 26 Februari 2009)


       Dari ibu yang berpendidikan menengah yaitu ibu Nurbaiti (Ny. Joko

Purnomo) menyebutkan bahwa :

   ” Pendidikan perlu untuk kita dan keluarga kita, agar kita terhindar dari
   kebodohan, akan tetapi kita harus tau juga kenapa kita tidak mau
   sekolah tinggi dulu, yaaa disebabkan faktor ekonomi orang tua juga,
   tetapi kesehatan sangat penting untuk kita dan keluarga ”.
   ( Wawancara, 20 Februari 2009)


       Dari kalangan ibu – ibu yang berpendidikan Rendah sangat sensitif untuk

di wawancara tetapi penulis juga sempat memberanikan diri untuk melakukan hal
tersebut, wawancara ini dilakukan dalam bahasa daerah, namun diterjemah

kedalam bahasa Indonesia oleh Penulis.

     ” Kesehatan anak kan sama juga dengan kesehatan orang tua, Langkah
     Rezeki Pertemuan dan maud semua dari ALLAH, kalau tidak
     diimunisasi kan sehat juga”. ( Wawancara, 21 Februari 2009).


        Konsep dari pendidikan adalah belajar, berarti dalam pendidikan ada

perubahan, dan perkembagan, maka ibu berpendidikan rendah tidak akan mau

untuk mengimunisasikan anaknya disebabkan karena tidak mau belajar terhadap

perkembangan. Ini kutipan wawancara dengan ibu yang berpendidikan rendah

yaitu dengan ibu Zuboidah (Makcek) yaitu :

      ” Kalau Vitamin ada, mana ada anak sakit, kalau makan cukup anak
      semua sehat-sehat, anak tetangga disuntik sampek 5 hari badannya
      panas, mana mau anak dikasih suntik, kalau dikasih obat ada saya
      kasih minum”. ( Wawancara, 26 Februari 2009).

        Untuk hal tersebut diatas dapat kita lihat dalam tabel dibawah ini adalah

presentasi dari hasil wawancara dalam penelitian.

                             Tabel 4.6
  Hubungan Pendidikan Ibu Dengan Status Imunisasi Campak Pada Bayi
     Di Tiga Desa Kecamatan Meurah Mulia Kabupaten Aceh Utara
                            Tahun 2008

                              Status Imunisasi Campak
No      Pendidikan       Terimunisasi        Tidak Terimunisasi     Jumlah          %

                         n          %           n         %

 1     Tinggi            1         100          -         -            1        100
 2     Sedang            20        74,1         7        25,9         27        100
 3     Rendah            1         50           1         50           2        100

           Total         22                     8                     30
Sumber : Data Tiga Desa Kecamatan Meurah Mulia (Diolah, 2008)
       Dari tabel 4.6 diatas dapat disimpulkan bahwa ibu yang berpendidikan

tinggi ada 1 (100%) bayi dan terimunisasi, 27 ibu yang berpendidikan menengah

ada 20 (74,1%) bayi yang terimunisasi dan 7 bayi (25,9%) yang belum

terimunisasi, sedangkan ibu yang berpendidikan rendah hanya 1 (50%) bayi yang

telah memberikan imunisasi. Proporsi bayi yang terimunisasi didominasi pada

kelompok ibu yang berpendidikan menengah dan yang tidak terimunisasi

didominasi pada kelompok ibu yang berpendidikan rendah.


4.6. Pembahasan

4.6.1. Pengetahuan Ibu-ibu terhadap Imunisasi Campak Pada bayi.

       Dari segi pengetahuan, sebagian besar para ibu mempunyai pengetahuan

yang baik tentang imunisasi yaitu sebanyak 60% dan yang berpengetahuan cukup

33,3% dan ada 6,7% yang berpengetahuan kurang. Sebagaimana yang dikatakan

Notoatmodjo (1996) bahwa pengetahuan merupakan dominan yang sangat penting

untuk terbentuknya perilaku atau tindakan seseorang.

       Proporsi bayi yang terimunisasi campak didominasi pada ibu yang

berpengetahuan baik. Dari pengalaman dan penelitian ternyata perilaku yang

didasari pengetahuan akan lebih langgeng dari pada perilaku yang tidak didasari

oleh pengetahuan. Pengetahuan sering ditemukan atau diperoleh dari pengalaman

sendiri atau pengalaman orang lain seperti seorang ibu yang panik akan kesehatan

anaknya yang terkena campak tidak tahu harus dibawa kemana, dan bila

tetangganya menceritakan pengalaman anaknya yang diimunisasi campak sampai

sekarang tidak terkena penyakit campak maka ibu akan lebih yakin untuk

membawa anaknya untuk diimunisasi campak (Mariati, 1999).
         Apabila tingkat pengetahuan ibu tinggi, maka keinginan ibu untuk

mengimunisasi anaknya dengan imunisasi campak juga makin tinggi (Mariati,

1999).

         Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang

melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu, penginderaan terjadi

melalui panca indera manusia, yakni indera penglihatan, pendengaran, penciuman

rasa dan raba. Sebahagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan

telinga (Notoatmodjo, 2003).

         Pengetahuan adalah hasil penginderaan manusia, atau hasil tahu seseorang

terhadap objek melalui indera yang dimilikinya (mata, hidung, telinga dan

sebagainya). Dengan sendirinya, pada waktu penginderaan sampai menghasilkan

pengetahuan tersebut sangat dipengaruhi oleh intensitas perhatian dan persepsi

terhadap objek. Sebagian besar pengetahuan seseorang diperoleh melalui indera

pengetahuan (telinga) dan indera penglihatan (mata). Pengetahuan seseorang

terhadap objek mempunyai intensitas atau tingkat yang berbeda – beda

(Notoatmodjo, 2005).

         Health Knowledge atau pengetahuan kesehatan adalah apa yang diketahui

oleh seseorang terhadap cara–cara memelihara kesehatan, ini meliputi antara lain :

a.   Pengetahuan tentang penyakit menular (jenis penyakit tanda – tanda atau

     gejala–gejala, penyebabnya, cara penularannya, cara pencegahannya, cara

     mengatasi atau menangani sementara).

b. Pengetahuan tentang faktor – faktor yang terkait dengan dan/atau

     mempengaruhi kesehatan.
       Untuk mengukur pengetahuan kesehatan seperti tersebut diatas adalah

dengan mengajukan pertanyaan – pertanyaan secara langsung (Wawancara) atau

melalui pertanyaan – pertanyaan tertulis. Indikator pengetahuan kesehatan adalah

“tingginya pengetahuan” para ibu tentang kesehatan, atau besarnya persentase

kelompok responden atau masyarakat tentang variabel – variabel atau komponen-

komponen kesehatan. Misalnya berapa % ibu-ibu atau masyarakat yang tahu

tentang cara – cara mencegah penyakit (Notoatmodjo, 2005).

       Pengetahuan      yang tinggi mendorong ibu untuk mengimunisasikan

bayinya karena didasari oleh pengetahuan, kesadaran dan sikap yang positif maka

perilaku tersebut akan bersifat langgeng (longlasting). Sebaliknya apabila perilaku

tidak didasari oleh pengetahuan dan kesadaran maka tidak akan berlangsung lama

(Sukarni, 1999).

       Arikunto (1999) mengatakan untuk menilai pengetahuan (Kognisi) adalah

dengan menggunakan kata – kata operasional pada waktu dilakukan penilaian

misalnya mendefinisikan, mendeskripsikan, mengidentifikasikan, mendaftarkan,

menyebutkan, menyatakan. Sedangkan untuk menilai sikap disebutkan adalah

sebagai berikut :

1. Resiving, menanyakan, memilih, mendiskripsikan, mengikuti, memberikan,

   mengidentifikasikan, menunjukkan dan memilih.

2. Responding, membantu, mendiskusikan, menghormar, berbuat, melakukan,

   memberikan, melaporkan, memilih, menceritakan dan menulis.
3. Valuing,     melengkapi,    menggambarkan,          membedakan,   menerangkan,

   mengikuti,      menggabung,     mengusulkan,        melaporkan,   memilih   dan

   mempelajarinya.

       Pengetahuan yang dicakup dalam domain kognitif mempunyai 6 tingkat :

1. Tahu (Know)

   Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari

   sebelumnya. Termasuk kedalam pengetahuan tingkat ini          adalah mengingat

   kembali (Recall) terhadap suatu spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari.

2. Memahami (comprehension)

   Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan menjelaskan secara benar

   tentang objek yang diketahui dan dapat menginterprestasikan materi tersebut

   secara benar.

3. Aplikasi (application)

   Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah

   dipelajari pada situasi kondisi rill (sebenarnya)

4. Analisis (analysis)

   Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek

   dalam komponen – komponen, tetapi masih di dalam struktur organisasi

   tersebut dan masih ada kaitanya satu sama lain.

5. Sintesis (synthesis)

   Sintesis menunjukkan kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau

   menghubungkan bagian – bagian didalam suatu bentuk keseluruhan yang

   baru.
6. Evaluasi (Evaluation)

    Evaluasi barkaitan dengan kemampuan untuk menentukan justifikasi atau

    penilaian terhadap suatu materi atau objek penilaian itu berdasarkan kriteria

    yang ditentukan sendiri atau menggunakan kriteria yang sudah ada

    (Notoatmodjo, 2003).

          Pengetahuan merupakan bentuk tahu dari manusia yang diperolehnya dari

pengalaman, perasaan, akal pikiran dan instiusinya setelah melakukan

penginderaan suatu objek tertentu. Misalnya pengetahuan yang berkaitan dengan

pengetahuan ibu – ibu yang mempunyai bayi terhadap imunisasi campak (Sukarni,

1999).

          Pengetahuan sering ditemukan atau diperoleh dari pengalaman sendiri

maupun dari pengalaman yang diperoleh dari orang lain seperti pengalaman

seorang ibu yang panik ketika anaknya terkena campak, tidak tahu harus dibawa

kemana, dan tiba – tiba tetangganya menceritakan pengalamannya saat anaknya di

imunisasi dan sampai sekarang tidak terkena campak (Jelliffe, 1994).

          Pengetahuan merupakan keseluruhan pemikiran, gagasan ide, konsep dan

pemahaman yang dimiliki manusia tentang dunia dan segala isinya termasuk

manusia dan kehidupannya. Pengetahuan mencakup penalaran penjelasan dan

pemahaman teknis dalam memecahkan berbagai persoalan hidup yang belum

dilakukan secara metodis dan sistematika (Arikunto, 1996).

          Penelitian Rogers (1974) mengungkapkan bahwa sebelum orang

mengadopsi prilaku lain didalam diri orang tersebut terjadi proses yang berurutan,

yaitu :
1. Awarness (kesadaran) dimana orang tersebut menyadari dalam arti

   mengetahui terlebih dahulu terhadap stimlus (objek), misalnya seorang ibu

   yang belum pernah mendengar atau mengetahui tentang imunisasi campak

   bagi anak – anaknya, sehingga tidak akan pernah membawa bayinya untuk

   diimunisasi campak.

2. Interest (merasa tertarik) terhadap stimulus atau objek tersebut. Disini sikap

   subjek sudah mulai timbul. Bila seorang ibu sudah pernah mendengar atau

   tahu akan pentingnya imunisasi baik itu diketahui dari teman/tetangga,

   maupun mendengarnya langsung dari petugas kesehatan yang memberikan

   penyuluhan maka ia akan mengerti dan mulai tertarik untuk mencari informasi

   tentang imunisasi campak.


4.6.2. Sikap Ibu-ibu Terhadap Imunisasi Campak Pada Bayi.

       Sikap adalah respon tertutup seseorang terhadap stimulus atau objek

tertentu, yang sudah melibatkan faktor pendapat dan emosi yang bersangkutan

(senang-tidak senang, setuju – tidak setuju, baik – tidak baik). Campbell (1950)

menyatakan bahwa sikap adalah suatu sindroma atau kumpulan gejala dalam

merespons stimulus atau objek, sehingga sikap itu melibatkan pikiran, perasaan,

perhatian dan gejala kejiwaan lain. Newcomb menyatakan bahwa sikap

merupakan kesiapan atau kesediaan untuk bertindak (Notoatmodjo, 2005).

       Sikap terhadap kesehatan adalah pendapat atau penilaian orang terhadap

hal – hal berkaitan dengan pemeliharaan kesehatan, antara lain :
a. Sikap terhadap penyakit menular (jenis penyakit dan tanda – tandanya atau

   gejalanya, cara penularannya, cara pencegahannya, cara mengatasi atau

   menangani sementara).

b. Sikap terhadap faktor – faktor yang terkait dan/atau mempengaruhi kesehatan.

        Pengukuran sikap dapat dilakukan secara langsung ataupun tidak

langsung. Pengukuran sikap secara langsung dapat dilakukan dengan mengajukan

pertanyaan – pertanyaan tentang stimulus atau objek yang bersangkutan.

Pertanyaan secara langsung juga dapat dilakukan dengan cara memberikan

pendapat dengan menggunakan kata “ setuju “ atau “ Tidak setuju “ terhadap

pertanyaan – pertanyaan tertentu terhadap objek tertentu (Notoatmodjo, 2005).

       Sikap merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang

terhadap suatu stimulus atau objek dalam hal ini adalah masalah kesehatan,

termasuk penyakit). Setelah seseorang mengetahui stimulus atau objek, proses

selanjutnya akan menilai atau bersikap terhadap stimulus atau objek kesehatan

tersebut (Notoatmodjo, 2003).

       Sikap seseorang bisa dipengaruhi oleh prilaku dan individu tersebut, sikap

merupakan suatu kecendrungan untuk bertindak terhadap suatu objek, dengan

suatu cara dengan menyatakan adanya tanda – tanda untuk menyenangi atau tidak

menyenangi objek tersebut, sikap dibagi menjadi 4 tingkatan yaitu :

1. Menerima (receiving)

   Menerima diartikan bahwa orang (subjek) mau dan memperhatikan stimulus

   yang diberikan (Objek).

2. Merespon (responding)
    Memberikan jawaban apabila ditanya, mengerjakan dan menyelesaikan tugas

    yang diberikan adalah suatu indikasi dari sikap, karena dengan suatu usaha

    untuk menjawab pertanyaan atau mengerjakan tugas yang diberikan lepas

    pekerjaan itu benar atau salah berarti orang menerima ide tersebut.

3. Menghargai (Valuing).

    Mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan dengan orang

    lain terhadap suatu masalah merupakan indikasi dari sikap.

4. Bertanggung Jawab (Responsible)

    Bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah dipilihnya dengan segala

    resiko adalah merupakan sikap yang paling tinggi (Notoatmodjo, 2003).

          LL Thorstone memberi batasan sikap sehingga tingkatan kecendrungan

yang bersifat positif atau negatif yang berhubungan dengan objek psikologi yang

meliputi simbol, kata – kata, slogan, orang, keluarga, ide dan sebagainya.

Misalnya sikap tentang status imunisasi campak oleh ibu pada bayinya (Mariati,

1999).

          Seorang ahli psikologi W.J. Thomas memberi batasan sikap sebagai suatu

kesadaran individu yang menentukan perbuatan nyata ataupun yang mungkin akan

terjadi didalam kegiatan – kegiatan sosial. Tiap – tiap sikap mempunyai 3 aspek,

yaitu :

1. Aspek Kognitif, yaitu gejala mengenal fikiran, ini berarti berwujut

    pengelolaan, pengalaman dan keyakinan serta harapan individu tentang objek

    tertentu.
2. Aspek Afektif     berwujut proses menyangkut perasaan tertentu seperti

   ketakutan, kedengkian, simpatik, antipatik yang ditujukan kepada objek

   tertentu.

3. Aspek Kognitif berwujud proses kecendrungan untuk berbuat sesuatu objek

   misalnya kecendrungan memberi pertolongan, mengimunisasi bayi dengan

   imunisasi campak ke dokter dan sebagainya (Sukarni, 1999).

       Alport (1996) menjelaskan bahwa sikap itu mempunyai 3 (tiga) komponen

pokok, yaitu :

1. Kepercayaan (keyakinan), ide dan konsep terhadap objek.

2. Kehidupan emosional atau evaluasi emosional terhadap suatu objek.

3. Kecendrungan untuk bertindak (Trend to behave).

       Ketiga komponen ini bersama membentuk sikap yang utuh, dalam

penentuan sikap yang utuh ini pengetahuan, berfikir, keyakinan dan emosi

memegang peranan yang sangat penting, sebagai contoh seorang ibu telah

mendengar tentang penyakit campak (penyebab, akibat, pencegahannya),

pengetahuan ini akan membawa ibu ibu untuk berfikir dan berusaha supaya

anaknya tidak terkena campak. Dalam berfikir ini komponen emosi dan keyakinan

ikut bekerja sehingga ibu tersebut berminat untuk mengimunisasikan anak untu

mencegah campak, sehingga ibu ini mempunyai sikap tertentu terhadap objek

yang berupa penyakit campak (Mariati, 1999).

       Pengukuran sikap ibu terhadap status imunisasi campak dapat dilakukan

secara langsung. Secara langsung dapat ditanyakan bagaimana pendapat atau

pernyataan responden terhadap suatu objek (Markum, 1993).
       Sikap ibu terhadap imunisasi campak bayinya belum merupakan suatu

tindakan atau prilaku, sikap itu masih merupakan reaksi tertutup dan bukan

merupakan reaksi terbuka atau tingkah laku terbuka. Sikap merupakan kesiapan

untuk bereaksi terhadap objek dilingkungan tertentu sebagai suatu pernyataan

terhadap objek (Mariati, 1999).

4.6.3. Pendidikan Ibu-ibu Terhadap Imunisasi Campak Pada Bayi.

       Tingkat pendidikan ibu - ibu tinggi yaitu 3,3%. Sedangkan yang menengah

90%, sedangkan yang berpendidikan rendah 6,7%. Pendidikan erat hubungannya

dengan tindakan manusia. Menurut Mariati (1999) pendidikan bertujuan untuk

mengubah tingkah laku manusia kearah yang lebih baik. Dalam hal ini pendidikan

kesehatan masyarakat adalah salah satu faktor yang merubah tingkah laku

masyarakat dari yang tidak sesuai dengan norma kesehatan. Semakin tinggi

tingkat pengetahuan seseorang semakin tinggi pula kebutuhan akan kesehatan.

Pendidikan formal dan informal pada orang tua sangat penting dalam menentukan

status imunisasi campak bayinya. Bayi yang mendapat imunisasi campak

didominasi pada kelompokpendidikan menengah dan tinggi.

       Pendidikan berasal dari kata didik yang artinya suatu proses belajar

mengajar yang dilakukan secara formal maupun non formal untuk menambah dan

mengumpulkan sejumlah pengetahuan (Ahmadi, 1991).

       Upaya belajar akan menciptakan pertumbuhan atau perubahan dalam diri

seseorang, ini dapat dilihat dari cara bertingkah laku yang baru berkat pengalaman

dan latihan. Tingkah laku yang baru itu dapat berupa dari yang tidak tau menjadi

timbulnya pengertian baru, timbul dan berkembangnya sifat – sifat sosial, susila,
dan emosional. Seorang ibu yang tidak pernah tahu tentang apa itu imunisasi

campak maka ibu itu tidak akan dapat mengerti dan memahami akan pentingnya

imunisasi campak bagi bayinya (Sukarni, 1999).

       Proses belajar terdapat 3 komponen pokok, yaitu :

1. Memasukkan (input) yang menyangkut sasaran belajar yaitu ; individu,

   kelompok/masyarakat yang sedang belajar itu sendiri dengan berbagai latar

   belakangnya, baik yang berlatar pendidikan tinggi maupun yang tidak

   berpendidikan sama sekali.

2. Proses adalah mekanisme dan interaksi terjadinya perubahan kemampuan

   (prilaku) pada diri subjek belajar tersebut. Didalam proses terjadi pengaruh

   timbal balik antar berbagai faktor antara lain subjek belajar, mengajar metode

   dan teknik belajar dan alat bantu belajar serta materi dan bahan yang

   dipelajari.

3. Keluaran (output) merupakan hasil belajar itu sendiri yaitu berupa kemampuan

   untuk melakukan perubahan prilaku dari subjek belajar.

   Pendidikan bertujuan untuk mengubah tingkah laku kearah yang diinginkan

   sehubungan dengan itu maka tujuan pendidikan kesehatan masyarakat adalah

   untuk mengubah tingkah laku masyarakat dari yang tidak sesuai dengan

   norma kearah tingkah laku yang sesuai dengan norma kesehatan. Apabila

   tingkat pendidikan tinggi, maka keinginan ibu untuk mengimunisasikan

   anaknya dengan imunisasi campak juga makin tinggi (Mariati, 1999).

       Belajar adalah berusaha memiliki pengetahuan atau kecakapan, seseorang

yang telah mempelajari sesuatu maka ia baru dapat melakukan sesuatu hanya dari
hasil proses belajar sebelumnya. Ibu yang telah memahami pentingnya imunisasi

campak, maka ia akan bersikeras membawa bayinya untuk diimunisasi campak

(Ahmadi, 1991).

      Konsep dasar pendidikan adalah suatu proses belajar, yang berarti didalam

pendidikan itu terjadi pertumbuhan, perkembangan atau perubahan kearah yang

lebih dewasa, lebih baik dan lebih matang pada diri individu, kelompok atau

masyarakat (Notoatmodjo, 1997).
                                     BAB V
                            KESIMPULAN DAN SARAN



5.1. Kesimpulan.

      Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan tentang Tinjauan Pelayanan

Kesehatan Terhadap Balita Tentang Imunisasi campak Pada Bayi di Tiga Desa

Dalam Kecamatan Meurah Mulia Kabupaten Aceh Utara, maka dapat

disimpulkan sebagai berikut :

1. Tingkat pengetahuan para ibu tentang imunisasi baik. Dimana terlihat

     sebagian besar ibu-ibu yaitu 18 orang (60%) memiliki pengetahuan yang baik

     tentang imunisasi campak,    pengetahuan cukup 33,33% dan pengetahuan

     kurang 6,7%. Dari 18 ibu-ibu yang berpengetahuan baik yang diberikan

     imunisasi sebanyak 15 bayi (83,3%), sedangkan yang tidak terimunisasi

     sebanyak 3 bayi (16,7%), sedangkan yang berpengetahuan cukup yang

     terimunisasi sebanyak 6 bayi (60%) dan yang tidak terimunisasi 4 bayi (40%)

     dan yang berpengetahuan kurang yang terimunisasi sebanyak 1 bayi (50%).

     Jadi proporsi bayi yang terimunisasi di dominasi pada kelompok ibu yang

     berpengetahuan baik.

2.   Sikap para ibu umumnya sangat positif terhadap pelaksanaan imunisasi.

     Sebagian besar ibu-ibu memiliki sikap yang positif tentang status imunisasi

     campak bayi yaitu 24 orang (80%) dan sikap negatif 6 orang (20%). Jumlah

     ibu-ibu yang mempunyai sikap positif telah memberikan imunisasi campak

     pada bayinya sebanyak 20 (83,3%) bayi yang belum terimunisasi 4 (16,7%)

     ibu-ibu tidak membawa bayinya untuk diimunisasi campak. Sedangkan yang
   mempunyai sikap negatif yang terimunisasi sebnyak 2 (33,3%) bayi dan yang

   tidak terimunisasi sebanyak 4 (66,7%) bayi. Jadi proporsi bayi yang

   terimunisasi didominasi pada kelompok ibu yang mempunyai sikap positif.

3. Tingkat Pendidikan ibu-ibu yang menjadi contoh penelitian dapat dikatakan

   sudah cukup baik ibu-ibu umumnya memiliki pendidikan menengah (90%),

   pendidikan tinggi 3,3% dan pendidikan pendidikan rendah 6,7%. Bahwa 1

   ibu-ibu tinggi ada 1 (100%) bayi bayi yang terimunisasi, 27 ibu-ibu

   berpendidikan menengah ada 20 (74,1%) bayi yang terimunisasi dan 7 bayi

   (25,9%) yang belum terimunisasi, sedangkan ibu-ibu yang berpendidikan

   rendah hanya 1 (50%) bayi yang telah memberikan imunisasi. Proporsi bayi

   yang terimunisasi di dominasi pada kelompok ibu yang berpendidikan

   menengah dan yang tidak terimunisasi didominasi pada kelompok ibu yang

   berpendidikan rendah.


5.2. Saran.

     Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan tentang Tinjauan Pelayanan

Kesehatan Terhadap Balita Tentang Imunisasi campak Pada Bayi di Tiga Desa

Dalam Kecamatan Meurah Mulia Kabupaten Aceh Utara, maka saya

menyarankan hal-hal sebagai berikut :

1. Untuk Meningkatkan pengetahuan masyarakat khususnya ibu-ibu rumah

   tangga yang mempunyai bayi terhadap kesehatan dan pencegahan penyakit,

   sebaiknya perlu dilakukan peningkatan program penyuluhan kesehatan agar

   masyarakat tahu dan sadar akan pentingnya kesehatan, dalam hal ini peran

   petugas kesehatan dan kader sangat dibutuhkan dimana berdasarkan informasi
   yang didapat dilapangan bahwa di Tiga desa tersebut masih ada kader yang

   kurang aktif, jadi memungkinkan pelayanan.

2. Diharapkan kepada tokoh-tokoh masyarakat agar ikut andil dalam memotivasi

   sikap ibu – ibu yang mempunyai bayi agar mau membawa anaknya untuk

   diimunisasi.

3. Bagi ibu-ibu yang belum membawa bayinya untuk diimunisasi agar menjadi

   prioritas dari pihak terkait terutama dari instansi Puskesmas Meurah Mulia

   khususnya bidan desa yang bertugas di Tiga desa yang dimaksud agar lebih

   ditingkatkan mutu pendidikan ibu – ibu khususnya dalam penyuluhan tentang

   imunisasi campak pada bayi.
                                  ABSTRAK



        Penelitian ini ingin melihat dan mencari tahu tingkat pengetahuan, sikap,
pendidikan ibu-ibu terhadap status imunisasi campak pada bayi pada Puskesmas
Kecamatan Meurah Mulia yaitu di tiga desa Meuria Bluek, Mesjid Bluek Dan
Dayah Bluek pada tahun 2008. penelitian ini bersifat deskriptif dengan rancangan
cross sectional. Yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu –
ibu yang ada di tiga desa dalam Kecamatan Meurah Mulia khususnya ibu – ibu
yang mempunyai bayi 9 - 11 bulan sebanyak 30 orang ibu. Hasil penelitian :
Jumlah bayi yang terimunisasi sebanyak 22 orang (73,3 %) dan yang tidak
terimunisasi 8 orang (26,7%). Tingkat pengetahuan ibu-ibu tentang imunisasi
baik, dimana terlihat sebagian besar ibu-ibu yaitu 18 orang (60%) memiliki
pengetahuan yang baik tentang imunisasi campak, pengetahuan cukup 33,33 %
dan pengetahuan kurang 6,7%. Dari 18 ibu-ibu yang berpengetahuan baik yang
diberikan imunisasi campak sebanyak 15 bayi (83,3 %), sedangkan yang tidak
terimunisasi sebanyak 3 bayi (16,7%). Sedangkan yang berpengetahuan cukup
yang terimunisasi sebanyak 6 bayi (60 %) dan yang tidak terimunisasi 4 bayi
(40%) dan yang berpengetahuan kurang yang terimunisasi sebanyak 1 bayi
((50%). Jadi proporsi yang terimunisasi didominasi pada kelompok ibu yang
berpengetahuan baik. Sebahagian besar ibu-ibu memiliki sikap yang positif
tentang status imunisasi campak pada bayi yaitu 24 orang (80%) dan sikap
negatif 6 orang (20%). Tingkat pendidikan ibu-ibu dapat dikatakan sudah cukup
baik, ibu-ibu umumnya berpendidikan menengah yaitu 90%, pendidikan tinggi
3,3% dan yang rendah 6,7%. Proporsi bayi yang terimunisasi didominasi oleh ibu
yang berpendidikan menengah dan yang tidak terimunisasi pada kelompok ibu
yang berpendidikan rendah.
                                                 DAFTAR ISI



                                                                                                              Halaman

HALAMAN JUDUL
LEMBAR PENGESAHAN
LEMBAR PERSEMBAHAN
KATA PENGANTAR ..........................................................................................                  i
DAFTAR ISI .....................................................................................................         iii
DAFTAR TABEL ...............................................................................................              v
ABSTRAK ...........................................................................................................      vi

BAB I          PENDAHULUAN             ..........................................................................         1
               1.1. Latar Belakang .............................................................................          1
               1.2. Rumusan Masalah .......................................................................               4
               1.3. Fokus Kajian ................................................................................         4
               1.4. Tujuan Penelitian ..........................................................................          5
               1.5. Mamfaat Penelitian       ....................................................................         5

BAB II         TINJAUAN PUSTAKA                      .................................................................    6
               2.1. Penelitian Terdahulu ....................................................................             6
               2.2. Imunisasi Dan Vaksinasi ..............................................................                7
               2.3. Sejarah Perkembangan Imunisasi Di Indonesia ..........................                                7
               2.4. Macam-macam Kekebalan ...........................................................                     9
                    2.4.1. Kekebalan Pasif .................................................................              9
                    2.4.2. Kekebalan Aktif .................................................................              9
               2.5. Tujuan Dan Sasaran Program Immunisasi ...................................                            10
               2.6. Penyakit Campak ..........................................................................           11
                    2.6.1. Gejala-gejala Campak .........................................................                11
                    2.6.2. Komplikasi Campak ............................................................                12
                    2.6.3. Pencegahan Campak ............................................................                12
                    2.6.4. Imunisasi Campak ..............................................................               12
                    2.6.5. Reaksi Dan Efek Samping Imunisasi .................................                           13
               2.7. Pengetahuan ................................................................................         13
               2.8. Sikap ............................................................................................   18
               2.9. Pendidikan ...................................................................................       22

BAB III        METODE PENELITIAN                  ...............................................................        24
               3.1. Pendekatan Penelitian ..................................................................             24
               3.2. Teknik Pengumpulan Data ...........................................................                  24
                    3.2.1. Observasi   ..........................................................................        24
                    3.2.2. Wawancara      .......................................................................        24
                    3.2.3. Dokumentasi .......................................................................           25
               3.3. Teknik Analisa Data ....................................................................               25
                    3.3.1. Pengumpulan Data         ...........................................................            25
                    3.3.2. Reduksi Data    ....................................................................            26
                    3.3.3. Klasifikasi Data .................................................................              26
                    3.3.4. Penarikan Kesimpulan ........................................................                   26

BAB IV         HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN                                             .............................   28
               4.1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian ............................................                           28
                    4.1.1. Letak Geografis .................................................................               28
                    4.1.2. Luas Wilayah ....................................................................               29
                    4.1.3. Iklim ...................................................................................       29
               4.2. Kependudukan .............................................................................             29
                    4.2.1. Jumlah Penduduk ..............................................................                  29
                    4.2.2. Mata Pencaharian Penduduk                        ............................................   30
                    4.2.3. Pendidikan ..........................................................................           31
                    4.2.4. Sarana dan Prasarana ........................................................                   32
               4.3. Tingkat Pengetahuan Ibu-ibu Terhadap Imunisasi Campak Pada
                    Bayi ...............................................................................................   32
               4.4. Sikap Ibu-ibu Terhadap Imunisasi Campak Pada Bayi ..............                                       34
               4.5. Tingkat Pendidikan Ibu-ibu Terhadap Imunisasi Campak Pada
                    Bayi ...............................................................................................   37
               4.6. Pembahasan ...................................................................................         39
                    4.6.1. Pengetahuan Ibu-ibu Terhadap Imunisasi Campak Pada
                            Bayi ……………………………………………………...                                                                   39
                    4.6.2. Sikap Ibu-ibu Terhadap Imunisasi Campak Pada Bayi ......                                        44
                    4.6.3. Pendidikan Ibu - ibu Terhadap Imunisasi Campak Pada
                            Bayi ……………………………………………………...                                                                   48

BAB V          KESIMPULAN DAN SARAN ........................................................                               51
               5.1. Kesimpulan        ................................................................................     51
               5.2. Saran ............................................................................................     52

DAFTAR PUSTAKA ..........................................................................................                  54
Lampiran – lampiran ..........................................................................................             56
                            KATA PENGANTAR



       Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah

melimpahkan      Rahmat   dan   Karunia-Nya   sehingga   penulis   telah   dapat

menyelesaikan penulisan skripsi ini. Adapun tujuan dari penulisan skripsi ini

untuk memenuhi sebagian persyaratan mencapai Sarjana pada Universitas

Malikussaleh tepatnya pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Jurusan Ilmu

Administrasi Negara.

       Penyusunan Skripsi ini dengan judul ”Tinjauan Pelayanan Kesehatan

Terhadap Balita Tentang Imunisasi Campak Pada Bayi” telah dapat penulis

selesaikan. Tak lupa pula selawat dan salam penulis hantarkan kepangkuan alam

Nabi besar Muhammad SAW yang telah membawa manusia dari alam kegelapan

ke alam yang terang benderang, dari alam kebodohan ke alam yang penuh ilmu

pengetahuan sehingga banyak hamba Allah yang berfikir dan berilmu.

       Penulis menyadari bahwa skripsi ini tidak dapat diselesaikan tanpa

bantuan dari berbagai pihak, oleh karena itu penulis mengucapkan banyak terima

kasih kepada :

1. Bapak Prof. A.Hadi Arifin, MSi Selaku Rekor Universitas Malikussaleh Aceh

   Utara

2. Bapak Fauzi, S.Sos,MA sebagai Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik.

3. Ibu Ti Aisyah, S.Sos, MSP selaku Ketua Program Studi Ilmu Administrasi

   Negara.
4. Bapak Dr. Muklir, S.Sos, SH, M.AP selaku pembimbing 1, atas bimbingan

   dan arahan sejak awal hingga selesainya penulisan skripsi ini.

5. Ibu Nurfatini, S.Sos sebagai pembimbing 2 dalam penulisan skripsi ini.

6. Kepala Puskesmas Meurah Mulia dan Staf            bagian Pelayana Kesehatan

   Masyarakat yang telah banyak membantu penulis dalam penyelesaian skripsi

   ini.

7. Staf Humas Kantor Camat Meurah Mulia yang telah banyak memberikan

   data-data untuk penulis dalam penyelesaian skripsi ini.

8. Kepala Desa Meuria Bluek, Mesjid Bluek dan Dayah Bluek yang sangat

   mendukung dan memberi ijin dalam penelitian serta kerjasamanya selama

   proses penelitian.

9. Kepada segenap dosen dan Staf Fisip serta rekan-rekan mahasiswa yang ikut

   memberikan dukungan, semangat dan kerjasama yang baik selama dalam

   pendidikan maupun dalam penyelesaian skripsi ini.

10. Kepada keluarga tercinta yang tak henti-hentinya memberi dukungan sehingga

   selesainya penulisan skripsi ini.

          Selanjutnya penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang

telah banyak membatu penulis dalam penyelesaian skripsi ini.

      Semoga bantuan yang diberikan kepada penulis mendapat balasan dari

Allah SWT sesuai dengan amal dan ibadahnya.

                                            Lhokseumawe,       April 2009



                                                   SAIFUL BAHRI
    FORMAT BANTUAN PERTANYAAN UNTUK PENELITIAN


    TINJAUAN PELAYANAN KESEHATAN TERHADAP BALITA
          TENTANG IMUNISASI CAMPAK PADA BAYI


I. DATA UMUM

  No. Urut Ibu             :
  Tgl. Wawancara           :
  Nama Ibu - ibu           :
  Umur                     :
  Pekerjaan                :
  Alamat                   :


II. PENGETAHUAN

  1. Apa Ibu Tahu apa itu Imunisasi
     a. Tahu
     b. Tidak tahu
  2. Menurut ibu apa yang dimaksut dengan Imunisasi ?
     a. Memberi Vaksin untuk mencegah penyakit
     b. Penyuntikan Balita
     c. Tidak tahu
  3. Apa jenis Imunisasi yang ibu ketahui ?
     a. BCG, DPT, Polio, Hepatitis B, Campak dan TT.
     b. DPT, Polio, Campak
     c. Tidak tahu
  4. Siapa saja kelompok masyarakatyang menjadi sasaran Imunisasi ?
     a. Bayi, Balita, Anak SD, Ibu Hamil dan calon pengantin
     b. Anak SD dan Bayi
     c. Tidak tahu
  5. Apakah Ibu pernah mendengar imunisasi campak ?
     a. Pernah
      b. Tidak Pernah
      c. Tidak tahu
   6. Menurut Ibu apa yang diberikan pada anak ibu pada saat imunisasi campak?
      a. Vaksin campak
      b. Vitamin
      c. Tidak tahu
   7. Apa yang ibu ketahui tentang vaksin campak ?
      a. Didalamnya mengandung virus campak yang telah dilemahkan
      b. Mengandung Vitamin untuk di imunisasi campak
      c. Tidak tahu
   8. Adakah ibu membawa bayi ibu untuk di imunisasi campak
      a. Ada
      b. Tidak Tahu
      c. Belum tahu
   9. Apa saja efek samping imunisasi yang ibu ketahui ?
      a. Demam dan bengkak
      b. Menangis
      c. Tidak tahu.
   10. Apakah ibu tahu tujuan imunisasi ?
      a. Untuk meningkatkan kesehatan dan menurunkan angka kematian bayi
          dan anak.
      b. Untuk melindungi bayi dari penyakit
      c. Tidak tahu


III. SIKAP

   1. Bagaimana sikap ibu terhadap pelaksanaan imunisasi.
      a. Setuju
      b. Ragu – ragu
      c. Tidak setuju
   2. Bagaimana sikap ibu terhadap pemberian imunisasi campak.
      a. Setuju
   b. Ragu – ragu
   c. Tidak setuju
3. Apakah pendapat ibu terhadap demam pada bayi yang dapat disembuhkan
   sendiri.
   a. Setuju
   b. Ragu – ragu
   c. Tidak setuju
4. Menurut ibu apakah kegiatan pemberi imunisasi harus lebih ditingkatkan
   dan terus dilanjutkan lagi.
   a. Setuju
   b. Ragu – ragu
   c. Tidak setuju
5. Bagaimana sikap ibu terhadap kegiatan posyandu.
   a. Setuju
   b. Ragu – ragu
   c. Tidak setuju
6. Bagaimana sikap ibu terhadap kehadiran bidan desa di tengah masyarakat.
   a. Setuju
   b. Ragu – ragu
   c. Tidak setuju
7. Bagaimana sikap ibu terhadap pemberian kartu menuju sehat oleh bidan
   desa.
   a. Setuju
   b. Ragu – ragu
   c. Tidak setuju
8. Apakah ibu merasa ada mamfaat bagi bayi yang telah di imunisasi campak
   a. Setuju
   b. Ragu – ragu
   c. Tidak setuju
9. Apakah ibu akan membawa imunisasi selanjutnya terhadap bayi.
   a. Setuju
     b. Ragu – ragu
     c. Tidak setuju
  10. Bayi ibu yang telah di imunisasi campak tidak menderita penyakit campak
     lagi.
     a. Setuju
     b. Ragu – ragu
     c. Tidak setuju


IV. PENDIDIKAN

  1. Apa Pendidikan Terakhir Ibu ?
     a. Perguruan Tinggi
     b. SLTA
     c. SLTP
     d. SD. Sederajat


V. STATUS IMUNISASI

  1. Apakah bayi ibu telah diimunisasi campak.

     a. Ya

     b. Tidak
                            DAFTAR PUSTAKA



Abu, Ahmadi, Psikologi Sosial. Jakarta. Rineka Cipta, 1991

AH. Markum, 1991, Ilmu Kesehatan Anak, FKUI, Jakarta

Alport, Kevin, Imunisasi Campak. Jakarta. Rineka Cipta. 1996

Arikunto, Suharsim, 1996, Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan, Bumi Aksara,
       Jakarta

Campbell, 1950, Sikap Manusia, Perubahan Serta Pengukurannya, Ghalia
     Indonesia, Bandung, 2002.

D.B. Jellife, Kesehatan Anak Di Daerah Tropis. Jakarta. Bumi Aksara, 1994

Depkes RI, Pedoman Operasional Program Imunisasi. 1991

Depkes RI, Pemantauan Program Imunisasi. 1997

Depkes RI, Petunjuk Teknis Imunisasi Campak. 2005

Effendi, Nasrul. Dasar-dasar Keperawatan Masyarakat. Jakarta, Kedokteran,
       EGC, 1997

FKUI, Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta. 1991

Mariati, Sikap Ibu, Perubahan Serta Pengukurannya Terhadap Imunisasi
       Campak, Ghalia Indonesia, Bandung. 1999.

Markum, AH. Imunisasi. FKUI. 1993.

Nadesul, Hendrawan. Cara Sehat Mengasuh Anak. Jakarta. Puspasura. 1996.

Nurdiana, Faktor Yang Mempengaruhi Imunisasi Campak Terhadap
      Balita, FKM Serambi Mekkah Aceh, 2006

Nurhayati Hasbi, Pemantauan Wilayah Setempat Imunisasi, FKM Serambi
      Mekkah Aceh, 2005

Notoatmodjo, Pengantar Prilaku Kesehatan, Jakarta, FKUI, 1990

Rocgers, Pencegah Infeksi Imunisasi, Jakarta, EGC, 2000.
Sukarni, Mariati. Kesehatan Keluarga. Yokyakarta. Kanisius.   1999.

Suryanah, Keperawatan Anak Untuk Siswa SPK, Jakarta, EGC, 1996

Schaffer, Garzon, Heroux, Korniwcz. Pencegahan Infeksi. Jakarta, EGC. 1996.

W.J. Thomas, Ilmu Kesehatan Masyarakat, Jakarta, Rieneka Cipta, 1998

Yusnidaryani, Hubungan Aspek      Manajemen Pengelolaan PWS
      Imunisasi Dengan Cakupan Imunisasi Puskesmas, Ummuha Banda
      Aceh, 2002.

www.bkkbn.go.id, www.depkes.go.id. ( Senin 16 Maret 2009 ).
TINJAUAN PELAYANAN KESEHATAN TERHADAP BALITA
    TENTANG IMUNISASI CAMPAK PADA BAYI
       (Study Pada Puskesmas Kecamatan Meurah Mulia
                    Kabupaten Aceh Utara)




                         SKRIPSI

                 Di Ajukan Untuk Memenuhi
        Persyaratan Mendapatkan Gelar Sarjana Sosial




                    DI AJUKAN OLEH :

                    SAIFUL BAHRI
                    NIM : 020210125



      JURUSAN ILMU ADMINISTRASI NEGARA


    DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL
  FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
       UNIVERSITAS MALIKUSSALEH
              ACEH UTARA
                  2009
                                 DAFTAR TABEL



                                                                                         HALAMAN

TABEL 4.1.   : Pengelompokan Penduduk Dalam Kelompok Umur Dan
               Jenis Kelamin Di Tiga Desa Dalam Kecamatan Meurah
               Mulia Tahun 2008 .................................................................    30


TABEL 4.2.   : Mata Pencaharian Penduduk Di Tiga desa Dalam Kecamatan
               Meurah Mulia Kabupaten Aceh Utara (Usia 15 Tahun Ke
               Atas) Tahun 2008 ..................................................................   31


TABEL 4.3.   : Distribusi Penduduk Menurut Tingkat Pendidikan Di Tiga
               Desa Dalam Kecamatan Meurah Mulia Tahun 2008 .............                            32


TABEL 4.4.   : Hubungan Pengetahuan Ibu Dengan Status Imunisasi
               Campak Bayi Di Tiga Desa Dalam Kecamatan Meurah
               Mulia Kabupaten Aceh Utara Tahun 2008 ............................                    34


TABEL 4.5.   : Hubungan Sikap Ibu Dengan Status Imunisasi Campak Bayi
               Di Tiga Desa Kecamatan Meurah Mulia Kabupaten Aceh
               Utara Tahun 2008 ..................................................................   36


TABEL 4.6.   : Hubungan Pendidikan Ibu Dengan Status Imunisasi Campak
               Bayi Di Tiga Desa Kecamatan Meurah Mulia Kabupaten
               Aceh Utara Tahun 2008 .........................................................       38
                       BIO DATA PENULIS



I. Identitas Penulis

   Nama                        : SAIFUL BAHRI
   Tempat/Tanggal Lahir        : Desa Mesjid, 13 Mei 1971
   Jenis Kelamin               : Laki-Laki
   Agama                       : Islam
   Pekerjaan                   :PNS
   Anak                        : Ke 7 Dari 7 Bersaudara
   Alamat/Tempat Tinggal       : Jalan Tgk. Di Awe No. 128 Dusun Kuta
                                 Trieng Geudong-geudong Kecamatan
                                 Kota Juang Kabupaten Bireuen

   Nama Ayah                   : Tgk. M. Hasan (Almh)
   Nama Ibu                    : Hamdi
   Alamat                      : Jalan Mesjid Nurul Huda Desa Mesjid
                                 Bluek Kecamatan Meurah Mulia
                                Kabupaten Aceh Utara

   Nama Istri                  : Rona Septina, Am. Keb
   Nama Anak                   : 1. M. Shaydul Abrar
                                 2. Sitti Faradiba

II. Pendidikan Yang Ditempuh

   1. SD                       : Tahun Tamat 1978 – 1984
   2. SMP                      : Tahun Tamat 1984 - 1987
   3. DAYAH MUDI MESRA         : Tahun Tamat 1987 - 1991
   4. SMEA N 1 LSM             : Tahun Tamat 1992 - 1994
   5. UNIMAL                   : Tahun Tamat 2009