asma_imunologi
Document Sample


KELOMPOK 7
1. RISKI FATIKA (102110101004)
2. RATNANINGTYAS WKW (102110101034)
3. SAILA DZIRWATI R. (102110101053)
4. DHIMAS HERDHIANTA (102110101093)
5. SAKINATUN NISA’ (102110101095)
6. ZETIAWAN TRISNO (102110101125)
7. WINDI (102110101????)
Reaksi hipersensitivitas
Tipe 1 Tipe II
Tipe Tipe
III IV
PENYAKIT ASMA
Asma : gangguan inflamasi kroni saluran napas,
berhubungan dengan peningkatan kepekaan saluran
napas sehingga memicu episode mengi berulang, sesak
dan batuk terutama pada malam atau dini hari.
Proses inflamasi ditandai dengan peningkatan eosinofil,
sel mast, makrofag serta limfosit – T di lumen dan
mukosa saluran napas.
Proses ini terjadi pada asma asimptomatik dan
bertambah berat sesuai dengan berat klinis penyakit,
dengan cara menenangkan sistem imun yang terlalu
aktif (menyerang jaringan)
dan mendidik “bodoh”(sistem imun yang tidak bisa
membedakan sel asing dan sel jaringan sendiri).
MEKANISME IMUNOLOGI INFLAMASI SALURAN NAPAS
Sistem Imun :
Imunitas Humoral
Imunitas Seruler
humoral ditandai oleh produksi dan sekresi antibodi
spesifik oleh sel limfosit B sedangkan selular
diperankan oleh sel limfosit T.
Thelper (CD4)
IL4, IL6, IL10
Th1 Th2
IL2, IFNγ
Limfosit T
IL – 12 -
Sel dendrit
IL – 12+
Th 1 Th 2
IL-3
IFN-, limfotoksin, IL-2 IL-4 IL-4 IL-5 IL-3
IL – 13 IL-9 GMCSF
Imuniti selular
Inflamasi neurofilik Ig E Sel mast Bas Eos
Mediator Inflamasi
(histamine, prostaglandin, leukotriene, enzim)
GEJALA ASMA AHR Obstruksi saluran
Keterangan .....
Mekanisme imunologi pada asma
MHC: Major Histocompatibility
AHR : Airway Hiperresponsiveness eos = eosinofil
Bas : Basofil
Ig : Imunoglubulin
Gambaran Histopatologi
Lumen saluran napas tertutup sumbatan mukus
lengket terdiri atas protein plasma dari pembuluh
darah saluran napas dan glikoprotein mukus dari sel
epitel permukaan.
pelepasan sel epitel, penebalan lapisan subepitel,
penebalan lapisan otot polos karena hipertrofi dan
hiperplasi sel goblet dan kelenjar mukus.Kurasan
(lavage) bronkoalveolar penderita asma
menunjukkan kenaikan jumlah limfosit, sel mast dan
eosinofil serta aktivasi makrofag sedangkan biopsi
bronkus menunjukkan infiltrasi eosinofil, pelepasan
epitel dan fibrosis subepitel.
MEKANISME ASMA
HIPERESPONSIVITAS SALURAN NAPAS
Respons bronkus berlebih berupa penyempitan bronkus
akibat rangsangan spesifik maupun nonspesifik
Hubungan AHR dengan proses inflamasi saluran napas:
1. Peningkatan permeabilitas epitel salurannapas
2. Penurunan diameter saluran napas
3. Kontraksi otot polos
4. Perubahan sel otot polos saluran napas
hiperesponsivitas saluran napas melalui pelepasan mediator
seperti histamin, prostaglandin (PG), leukotrien (LT), IL-3, IL-
4, IL-5, IL-6 dan protease sel mast sedangkan eosinofil akan
melepaskan platelet activating factor (PAF), major basic
protein (MBP) dan eosinophyl chemotactic factor (ECF)
GAMBAR MUKOSA
MUKOSA PENDERITA ASMA MUKOSA NORMAL
Sel Mast
Platelet makrofag
Sel Eosinofil
Neutrofil Inflamasi
Basofil Limfosit
T
MEDIATOR INFLAMASI
Histamin
Adenosin Prostaglandin
Endotelin PAF
Sitokin Leukotrien
HISTAMIN
Sintesis histidin dalam aparatus Golgi di sel mast dan
basofil.
Mempengaruhi saluran napas melalui 3 jenis reseptor :
1. Reseptor H-1 menyebabkan bronkokonstriksi, aktivasi
refleks sensorik dan meningkatkan permeabilitas
vaskular serta epitel.
2. Reseptor H-2 akan meningkatkan sekresi mukus
glikoprotein.
3. Rangsangan reseptor H-3 akan merangsang saraf
sensorik dan kolinergik serta menghambat reseptor
menyebabkan sekresi histamin dari sel mast.
PROSTAGLANDIN
bronkokonstrikstor poten
kontraksi otot polos saluran napas
Prostaglandin E2 :
bronkodilatasi pada subyek normal invivo
bronkokonstriksi lemah pada penderita asma (
merangsang saraf aferen saluran nafas )
Platelet Activating Factor (PAF)
Dapat dihasilkan oleh makrofag, eosinofil dan
neutrofil.
Merangsang akumulasi eosinofil
Meningkatkan adesi eosinofil pada permukaan sel
endotel,
Merangsang eosinofil agar melepaskan MBP
Meningkatkan ekspresi reseptor ige terhadap
eosinofil dan monosit.
Leukotrien
Dari jalur 5-lipooksigenase metabolisme asam arakidonat
Menyebabkan kontraksi otot polos
Menyebabkan edema jaringan
Migrasi eosinofil
Merangsang sekresi saluran napas
Merangsang proliferasi dan perpindahan sel pada otot polos
Meningkatkan permeabilitas mikrovaskular saluran napas.
Sitokin
mediator peptida yang dilepaskan sel inflamasi
menentukan bentuk dan lama respons inflamasi
Berperan utama dalam inflamasi kronik
dihasilkan oleh limfosit T, makrofag, sel mast, basofil,
sel epitel dan sel inflamasi
Endotelin
Dilepaskan dari makrofag, sel endotel dan sel epitel.
Mediator peptida poten menyebabkan
vasokonstriksi dan bronkokonstriksi
Menyebabkan proliferasi sel otot polos saluran
napas
Meningkatkan fenotip profibrotik
Berperan dalam inflamasi kronik asma.
Adenosin
faktor regulator lokal, menyebabkan
bronkokonstriksi pada penderita asma. Secara in
vitro merupakan bronkokonstriktor lemah dan
berhubungan dengan pelepasan histamin dari sel
mast.
PATOFISIOLOGI ASMA
Kelainan patologi yang terjadi :
1. Obstruksi saluran napas
2. Hiperesponsivitas saluran napas
3. Kontraksi otot polos bronkus
4. Hiperesekresi mukus
5. Keterbatasan aliran udara yang ireversibel
6. Eksaserbasi
7. Asma malam
8. Analisis gas darah.
Obstruksi saluran napas
Difus dan berfariasi derajatnya
Menyebabkan gejala batuk, rasa berat di dada,
mengi dan hiperesponsivitas bronkus
Penyebab : kontraksi otot polos bronkus yang
diprovokasi oleh mediator yang dilepaskan sel
inflamasi.
Kontraksi otot polos bronkus
terjadi peningkatan pemendekan otot polos
bronkus saat kontraksi isotonik. Perubahan fungsi
kontraksi mungkin disebabkan oleh perubahan
aparatus kontraksi.
Hiperesekresi mukus
mengurangi gerakan silia, mempeng-
aruhi lama inflamasi dan menyebabkan kerusakan
struktur/fungsi epitel.
Hiperesponsivitas saluran napas
perubahan sifat otot polos saluran napas sekunder
Inflamasi dinding saluran napas
dapat diukur dengan uji provokasi bronkus
REMODELLING SALURAN NAPAS
Remodelling merupakan reaksi tubuh untuk
memperbaiki jaringan yang rusak akibat
inflamasi dan diduga menyebabkan perubahan
ireversibel pada asma. Fibroblas berperan pen-
ting dalam remodelling dan proses inflamasi.
Fibroblas menghasilkan kolagen, serat elastik
dan retikular, proteoglikans dan
glikoproteindari matriks ekstraselular ( ECM ).
Imunoterapi anti Ig-E terhadap penderita asma bronchial
Omalizumab (xolair, genentech) merupakan IgG1 manusia
rekombinan monoclonal (anti IgE) berikatan dengan molekul IgE di
epitop yang sama pada bagian Fc berikatan dengan Fc-epsilon RI.
Omalizumab bukan anafilaktogenik, karena omalizumab tidak
berinteraksi dengan IgE, yang bersiap untuk berikatan dengan
permukaan sel dan tidak menginduksi degranulasi pada mast cell atau
basofil. Omalizumab mengikat sirkulasi IgE dengan mengabaikan
allergen spesifik, secara biologi ikatan komplek IgE- anti IgE tanpa
mengaktifkan komplemen
Rekombinan antibody manusia monoclonal (rhuMAb-E-25)
dikembangkan dengan mengimunisasi tikus dengan IgE. Antibody
monoclonal terpilih dengan mengenal IgE pada tempat yang sama
yaitu reseptor berafinitas tinggi untuk IgE (Fc-epsilon-RI). Antibody
monoclonal ini membentuk ikatan kompleks dengan IgE bebas (tak
berikat) selain IgG atau IgA. Antibody monoclonal ini memblok ikatan
IgE ke cell membrane receptor , sehingga menghambat pelepasan
mediator, tetapi tidak mengikat ikatan sel IgE.
Get documents about "