Contoh Skripsi BK

Document Sample
Contoh Skripsi BK Powered By Docstoc
					                                                                                1




                                          BAB I

                                   PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

        Telah terjadi suatu fenomena, bahwa dalam suatu sekolah terdapat anak

didik yang berprestasi tinggi dan anak didik yang berprestasi rendah. Namun disisi

lain dari kedua fenomena diatas adalah adanya siswa sampai individu yang nakal,

malas, serta masih banyak fenomena-fenomena yang terjadi pada.diri anak didik

sebagai individu yang tumbuh dan berkembang.

        Pertumbuhan dan perkembangan individu telah menghiasi perilaku hidup

dan kehidupannya, bahkan sampai terbawa kepada proses belajar mengajar di

sekolah. Akibatnya lahir sejumlah anak-anak yang bermasalah, yang bila tidak

ditangani dengan baik, maka akan menimbulkan dampak negative bagi diri,

lingkungan dan masa depannya sendiri.

        Menyikap hal seperti di atas, sebuah majalah dwi mingguan bernama

WARTA (1992 H. 15) dengan sorotan pendidikan berjudul "Pembinaan Siswa Perlu

digenjot", mengeluarkan hasil service terhadap siswa-siswi di Sulawesi Selatan

mengenai anak bermasalah, diantaranya yang penulis kutip adalah "dari 100 sekolah

di Sulawesi Selatan terdapat 40% siswa yang bermasalah " artinya bila dalam satu

sekolah jumlah siswa 300 orang maka yang bermasalah adalah sebanyak 120 orang.

Hal ini tidak bisa terbayangkan bagaimana nasib mereka bila hal tersebut tidak

segera ditindaklanjuti oleh mereka yang berkompeten dibidang pendidikan. Adalah

figur seorang guru yang dimana dalam .....................
                                                                                         2




keseharian yang berkompeten dibidang pendidikan. Adalah figur seorang guru yang

dimana dalam kesehariannya berhadapan dengan para siswa, tentu hal seperti ini

biasa terlupakan atau luput dari perhatian mereka. Hal ini dapat dimaklumi karena

guru itu sendiri hanya mengejar target kurikulum, adapun daya serap biasanya dibuat

diatas meja bagi sebagian personil guru tersebut.

       Disisi lain, siswa bermasalah bisa dipacu prestasi belajarnya bila mereka

dengan cepat teridentifikasi dan ditindaklanjuti. Bukan sekedar diketahui individu

tertentu mengalami prestasi yang tidak maksimal, kemudian tidak dengan segera

dicari penyebabnya.

       Seperti lazimnya, telah diketahui bahwa siswa yang bermasalah memiliki

cakupan definisi yang sangat luas, diantaranya salah seorang dosen STKIP saat

memberikan pengantar kulian Model-Model Konseling (2006) mengatakan bahwa

batasan siswa bermasalah terbagi atas tiga bagian besar yang saling berkaitan, yaitu :

a. Siswa malas

b. Siswa nakal

c. Siswa bodoh (berprestasi dibawah rata-rata kelas)

(H. Muhammad Basri, bahan kuliah Model-Model Konseling 2006)

       Faktor utama adanya siswa bermasalah bermula dari siswa malas, malas

dalam arti tidak termotivasi untuk mengikuti rangkaian proses belajar mengajar di

kelas maupun mengualangi pelajaran di rumah, yang kemudian berlanjut dengan

membuat kegiatan seperti : mengganggu di kelas, menyontek, tidak menyelesaikan

latihan / tugas, yang seterusnya dapat menimbulkan kenakalan,
                                                                                 3




seperti : berontak, berkelahi, berbuat onar, yang pada akhirnya pelajaran bukan

lagi menjadi suatu kebutuhan, namun berganti dengan kelakuan kasar dan ujung-

ujungnya tidak merniliki prestasi, daya yang tinggi atau digelari dengan anak yang

bodoh di kelas dan di sekolah.

       Sehubungan dengan hal tersebut diatas, maka lahirlah siswa dengan

predikat hodoh, siswa bodoh bagi sebagian tenaga pengajar hanya membuang

waktu saja bila diladeni sehingga dipandang memerlukan seorang seorang tenaga

profesional untuk menangani hal ini. Salah satu bidang yang menangani hal

seperti diatas lazim disebut dengan tenaga bimbingan dan konseling atau guru BK

di sekolah. Peranan guru bimbingan konseling adalah menetralisir gangguan-

gangguan yang mungkin akan dan sudah terjadi siswa. Guru bimbingan konseling

dengan segala pengetahuannya berusaha mengidentifikasi siswa, masalah siswa,

mengadakan    program    bantuan,   dan   menindaklanjuti    dengan   pengayaan,

percepatan, pemeliharaan akan hasil-hasil bimbingan sudah barang tentu hal ini

adalah suatu tugas yang berat, apalagi di sekolah-sekolah hanya tersedia satu

sampai dua orang saja tenaga bimbingan konseling. Bahkan yang lebih parah lagi

ada sekolah yang tidak rnemiliki tenaga guru bimbingan koseling sama sekali.

Namun, cukup diperankan oleh wali kelas masing-masing yang sudah terbebani

dengan kegiatan proses belajar mengajar setiap harinya.

       Guru bimbingan konseling dalam peranannya menangani siswa, yang

bermasalah, tentu beragam pula cara upaya dan penerapannya terhadap siswa

tergantung kepada latar belakang pendidikan, sarana dan prasarana bimbingan,
                                                                                4




dukungan pada lingkungan sckitarnya dan siswa itu sendiri. Sebagai satu simpulan

kegiatan bahwa anak yang bermasalah dalam arti bodoh atau prestasi dibawah

rata-rata kelas dapat ditangani suatu pembelajaran yang dinamakan pengajaran

vemedial-remedial adalah teknik bimbingan belajar yang bersifat pengajaran

khusus yang ditujukan untuk menumbuhkan atau memperbaiki sebagaian atau

keseluruhan kesulitan belajar siswa.

       Perbaikan dalam pengajaran remedial diarahkan kepada pencapaian hasil

belajar yang optimal sesuatu dengan kemampuan masing-masing siswa dalam

perbaikan seluruh proses belajar dan keseluruhan kepribadian siswa.

       Jika demikian, diharapkan bahwa guru bimbingan bagi siswa bodoh, maka

dipandang perlu untuk menggalinya lebih dalam lagi mengenai hal-hal ini melalui

suatu rangkaian penelitian yang sistimatis dan terpadu agar dapat diketahui sejauh

mana peranan guru bimbingan konseling dalam pengajaran remedial terhadap

siswa bermasalah (bodoh atau berprestasi dibawah rata-rata kelas) di SMA Negeri

I Sukamaju.



B. RUMUSAN MASALAH

       Berangkat dari latar belakang masalah diatas, maka bila dikaitkan dengan

penelitian yang akan dilakukan ini, maka dirasa perlu untuk membatasi

permasalahan dengan maksud agar penelitian tidak melebar atau keluar jalur

pembahasannya. Adapun batasan rumusan masalah pada penelitian ini berbunyi
                                                                               5




“Apakah ada remedial terhadap anak yang bermasalah di SMA Negeri 1

Sukamaju”.

C. TUJUAN PENULISAN

   Tujuan pada penelitian ini adalah sebagai berikut :

   1   Untuk mengetahui ada atau tidak peranan guru bimbingan konseling dalam

       pengajaran remedial terhadap anak yang bermasalah di SMA Negeri I

       Sukamaju.

   2   Mengenal lebih jauh peranan seorang guru birnbingan konseling di

       sekolah.

   3   Sebagai salah satu persyaratan guna memperoleh gelar Sarjana Pendidikan

       pada   Sekolah   Tinggi   Keguruaan     dan   Ilmu   Pendidikan   (STKIP)

       Muhammadiyah Barru.



D. MANFAAT PENELITIAN

   Adapun yang menjadi manfaat pada penelitian ini adalah :

   1   Para calon konselor sebagai bahan referensi tentang bagaimana peranan

       guru bimbingan konseling dalam pengajaran remedial terhadap siswa yang

       bermasalah, khusus bagi siswa yang bodoh di sekolah.

   2. Para pengambil kebijakan dibidang pendidikan, khususnya para tenaga-

       tenaga supervisor, agar dapat mengambil nilai plus dari tulisan i ni yang

       selanjutnya dituangkan ke dalam program kerjanya mengenai bimbingan
                                                                           6




      pentingnya arti dan peranan seorang guru bimbingan konseling di

      sekolah.




E. HIPOTESIS

   Adapun bunyi hipotesis pada penelitian ini adalah ada peranan guru

bimbingan konseling   dalam   pengajaran   remedial   terhadap   anak   yang

bermasalah di SMA Negeri I Sukamaju.
                                                                                7




                                         BAB II

                                 TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian Guru

           Kata guru menurut kamus umum bahasa Indonesia berbunyi sebagai berikut:

Guru adalah orang yang kerjanya mengajar seperti guru agama, guru Bantu, guru

besar, maha guru, guru kepala dan guru mengaji (W.J.S Purwadarminta, kamus besar

bahasa Indonesia, 1983 : 335).

           Pengertian guru seperti disebutkan pada defenisi menurut kamus di atas,

sebenarnya merupakan pengertian yang global. Namun untuk lebih mengkhusus

pengertian kita tentang guru secara rinci, berikut disajikan defenisinya.

    Guru adalah :

    1. Seorang anggota masyarakat yang berkompeten dan memperoleh kepercayaan

           untuk melaksanakan tugas pengajaran transfer nilai kepada murid.

    2. Suatu jabatan profesional melaksanakan atas dasar kode etik profesi.

    3. Suatu kedudukan fungsional melaksanakan tugas atau tanggung jawab sebagai

           pengajar, pemimpin dan orang tua (Abdurahman, Tugas dan Fungsi Guru,

           1985 : 51)

           Membaca defenisi di atas, sudah jelas bagi kita mengenai defenisi guru.

Untuk lebih jelasnya, maka berikut ini akan dibahas mengenai guru dan keguruan itu

sendiri.
                                                                                  8




l. Profesi Keguruan

       Guru merupakan salah satu komponen dalam proses belajar mengajar,

seorang, sebab menduduki posisi yang sangat sentral. Oleh sebab itu guru sesuai

dengan kedudukan jabatannya, adapun kedudukan jabatan guru itu adalah :

   a. Jabatan yang melibatkan kegiatan intelektual-intelektual berat kaum terpelajar

       atau cerdik pandai sehingga, dengan predikat sebagai kaum intelektual

       diharapkan guru selalu mengisi kehidupannya dengan usaha-usaha yang

       mengarah kepada peningkatan kualitas sumber daya manusia. Hal ini

       tercermin dari kegiatan pembelajaran membina, mendidik, melatih dan

       mengajar, serta senatiasa menambah ilmunya dengan membaca literatur-

       literatur ilmu pengetahuan.

   b. Jabatan yang meliputi batang tubuh yang khusus.

       Tidak semua lulusan sekolah lanjutan atas ataupun dari perguruan tinggi dapat

       diterima menjadi seorang guru. Hal ini dikarenakan oleh jabatan guru sangat

       memerlukan suatu pengetahuan khusus yang disebut dengan didaktetik

       metodik. Padahal pelajaran keilmuan tidak dipelajari di lembaga lainnya

       selain sekolah pendidikan guru (SPG)

   c. Jabatan yang memerlukan persiapan latihan yang lama. Spesifikasi dari

       adanya tugas mendidik, mengajar serta melatih, maka diperlukan waktu yang

       sangat lama untuk memperolehnya misalnya saja harus menempuh tiga tahun

       untuk sampai memiliki keterampilan dasar sebagai guru pratama dan empat

       tahun atau lebih dalam masa pendidikan, baru disandang sebagai guru, dewasa
                                                                               9




     dalam hal menempuh jenjang pendidikan, Namun, bila bertugas di lapangan,

     maka masa latihan guru dari berpangkat ke guru pratama dua tahun,

     sedangkan ke guru dewasa membutuhkan waktu selama 16 tahun lamanya

     dengan system KPO. Namun, dengan system dapat dicapai dengan waktu

     delapan tahun saja.

  d. Jabatan yang memerlukan latihan dalam jabatannya, jabatan guru cenderung

     menunjukkan bukti yang kuat sebagai jabatan profesional, karena hampir

     setiap tahunnya guru disamping melaksanakan tugas juga melakukan berbagai

     kegiatan latihan seperti pelatihan peningkatan mutu pendidikan kursus

     keguruan, penataran, simulasi, serta pengajaran yang kuat.

  e. Jabatan yang mempunyai organisasi yang kuat.

     Organisasi guru dikenal dengan nama ”Persatuan Guru Republik Indonesia

     (PGRI)” organisasi lainnya adalah Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI)

     sehingga dunia jabatan guru tumbuh dan berkembang dengan organisainya

     tersebut dengan kuat, untuk memperjuangkan kesejahteraan dan kemaslahatan

     pendidikan yang dirasa sangat mendesak sesuai dengan perkembangan dan

     kemajuan zaman.


2. Tugas dan Tanggung Jawab Guru

  a. Tugas guru

     Jabatan guru mernpunyai banyak tugas, baik yang terkait dengan tugas

     kedinasan maupun di luar kedinasan dalam bentuk pengabdian menurut Moh.
                                                                           10




   Ezer Usman, dalam bukunya profesi Pendidikan (1995 : 4), tugas guru itu ada

   tiga :

l . Tugas guru dalam bidang profesi

   Untuk melaksanakan tugas guru secara profesional, seorang guru, diwajibkan

   memilki seperangkat kemampuan dasar profesional yang diperoleh oleh

   masing-masing guru untuk mengembangkan terus kemampuannya melalui

   belajar, serta kemampuan dalarn melaksanakan tugas untuk mengembangkan

   kopetensi kognetif-efektif dan psikomotor.

2. Tugas guru dalam bidang kemanusiaan

   Dalam hal ini guru di sekolah harus dapat menjadikan dirinya sebagai orang

   tua kedua, sehingga guru harus dapat menarik simpati para siswanya.

   Demikian mulia tugas guru karena semua perhatiannya difokuskan terhadap

   bagaimana mencerdaskan anak didik. Diberikan kedalam bentuk individu

   maupun kelompok dalam rangka untuk mengetahui kemampuan dan

   kelemahan yang merupakan faktor utama dan usaha-usaha dari

   terpecahkannya suatu masalah dari dirinya sendiri. Membimbing

   dikategorikan dalam dua variable, yakni siswa yang sudah berpresta si

   yang dibantu melalui suatu "pengayaan”, sedangkan siswa yang

   berprestasi rendah dibantu melalui "Pengulangan dan Perbaikan".

3. Jenis-jenis Guru

   Tenaga kependidikan merupakan unsur terpenting dalam sistem

   pendidikan    nasional    yang     diadakan   dan   dikembangk an    untuk
                                                                        11




     menyelanggarakan pengajaran, pembimbingan dan pelatihan bagi

     peserta didik.

     Berbagai hal berkenaan dengan tenaga kependidikan telah diatur dalam

     Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1989, tentang sistem pendidikan

     nasional. Para tenaga kependidikan sekolah maupun jalur pendidikan

     luar sekolah, dan pada semua jenjang pendidikan pra -sekolah. Para

     tenaga kependidikan yang dalam hal ini adalah guru dapat dibagi

     dalam jenis-jenis guru antara lain seperti telah dalam peraturan

     pemerintah Republik lndonesia Nomor 38 tahun 1992 tanggal 17 Juli

     1992, tentang "Tenaga Kependidikan" sebagai berikut :

     Bab I Ketentuan umum, pasal 1, disebutkan bahwa dalam Peraturan

     Pemerintah ini yang dimaksud dengan :

     1. Tenaga kependidikan adalah anggota masyarakat yang mengabdikan

        diri secara langsung dalam menyelenggarakan pendidikan.

     2. Tenaga pendidik adalah guru yang bertugas membimbing, mengajar,

        dan/atau melatih peserta didik.

     3. Tenaga pembimbing adalah guru yang bertugas utama membimbing

        peserta didik.

     4. Tenaga pengajar adalah guru yang bertugas utama membimbing peserta

        didik.


3. Tugas Guru dalam kemasyarakatan
                                                                            12




       Masyarakat menempatkan guru pada tempat yang lebih terhormat, karena

faham dan ilmu yang dimilikinya. Terkadang karena kedudukannya di tengah-

tengah masyarakat, maka guru menjadi panutan atau contoh suri tauladan bagi

individu, sehingga sedikit saja bertindak negatif maka akan menyebar ke segenap

lapisan masyarakat. Demikian pula dalam peran serta guru pada sektor

pembangunan, guru merupakan anggota masyarakat yang aktif di struktur

pemerintahan desa dan kelurahan, dimana ia tinggal dan bertugas. Diantaranya

jabatan strategis tersebut adalah anggota Lembaga Masyarakat Desa (LMD),

Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa (LKMD)

b. Tanggung Jawab Guru

       Tugas dan tanggung jawab guru dibagi atas empat bagian besar yang

diarahkan dalam rangka mencerdaskan anak dalam rangka mengembangkan

manusia yang beriman dan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, berbudi

pekerti yang luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani

dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri, serta rasa tanggung jawab

kemasyarakatan dan berbangsa (pasal Undang-undang nomor 2 tahun 1989,

tentang Sistem Pendidikan Nasional). Oleh karena itu tugas dan tanggung jawab

guru adalah :

   1. Mengajar. Mengajar adalah, menularkan segenap ilmu dan pengetahuan

       sesuai dengan kehendak dan semangat kurikulum dan pengembangannya.
                                                                           13




   2. Mendidik. Mendidik adalah membentuk sikap moral yang berbudi luhur

       tentang norma dan perilaku hidup dan kehidupan terhadap diri, keluarga

       dan masyarakat.

   3. Melatih. Melatih adalah mengembangkan pembiasaan dalam pembentukan

       sikap jasmani dan rohani yang positif ke arah pembentukan hidup sehat,

       dan mengasa keterampilan gerak tubuh dalam pembentukan manusia yang

       terampil.

   4. Membimbing. Membimbing adalah proses bantuan

   5. Tenaga pelatih ada guru yang bertugas utama melatih peserta didik.

       Mencermati dan menindaklanjuti Peraturan Pemerintah di atas, maka oleh

Badan Admnistrasi Kepegawaian Negera bekerjasama dengan Departemen Tenaga

dan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Depdiknas sekarang) mengadakan

kerjasama antara Departemen Pendidkan dan Kebudayaan melalui Badan

Administrasi Kepegawaian Negara dengan Depertemen Tenaga Kerja Republik

Nomor : 076/U/1993, Nomor : Kep.215/MEN/1993, tentang Pembentukan Bursa

Kerja dan Pemanduan Bursa Kerja disatuan pendidikan menengah dan pendidikan

tinggi, sehingga lahirlah jenis guru sebagai berikut :

   a. Guru mata pelajaran/bidang studi.

   b. Guru wali kelas.

   c. Guru bimbingan dan penyuluhan (sekarang Bimbingan Konseling).

   d. Guru pembimbingan sekolah luar biasa.

   e. Dosen dan tenaga kependidikan warga negara negara asing.
                                                                                   14




   f. Penetapan teknologi Bandung.



B. Pengertian Bimbingan dan Konseling

   l. Bimbingan

          Konsep kata bimbingan berasal dari kata "guidance". Guidance dalam

   memiliki pengertian yang sangat luas, sehingga kata quidance dalam bimbingan

   pendidikan selalu didefenisikan berdasarkan pada sudut pandang dari para ahli

   serta penerapannya.

          Untuk lebih jelasnya pengertian kita tentang bimbingan, maka berikut

   dikutip pendapat para ahli sebagai berikut :

          Mortenson dan Schmuller, 1978 (dalam Pengantar Dasar Bimbingan dan

   Konseling) mengatakan :

          Tercapainya tujuan dari bimbingan menurut kerja sama yang baik antara

          staf dan sekolah, yaitu guru konselor, dokter, pekerja sosial, psikologi dan

          kepala sekolah (Yusuf Gunawan, Pengantar Bimbingan dan konseling,

          1992 : 40)

          Stone dan Shertzer, merumuskan bimbingan sebagai "Process of helping

   individuals to understand them selves and their word" (proses pemberian bantuan

   kepada seseorang untuk mengerti masalah dan dunianya).

          Sedangkan kurikulum 1975, pengertian bimbingan sebagai berikut : Suatu

   proses bantuan yang diberikan kepada para siswa dengan memperhatikan

   kemungkinan-kemungkinan dan kenyataan-kenyataan tentang adanya kesulitan
                                                                              15




yang dihadapinya dalam rangka perkembangan yang optimal, sehingga mereka

dapat memahami diri, mengarahkan dari, dan bertindak serta bersikap sesuai

dengan tuntutan dan keadaan sekolah, keluarga dan masyarakat. (Yusuf

Gunawan, Pengantar Bimbingan dan Konseling 1992: 40).

       Dari defenisi diatas, maka dapat disimpulkan bahwa bimbingan memiliki

beberapa kata-kata kunci dengan arti sebagai berikut :

a. Klien

   Individu   yang    normal    yang   membutuhkan       bantuan   dalam   proses

   perkembangannya.

b. Konselor

   Individu yang ahli dan mau memberikan bantuan klien, bisa juga

   dalam bentuk sebuah tim : guru konselor, psikologi, dokter, perawat,

   dan kepala sekolah.

c. Usaha Bantuan

   Kegiatan     proses     untuk    menambah,       mendorong,     merangsang,

   mendukung, menyentuh, menjelaskan, agar individu d apat tumbuh dari

   kekuatannya sendiri.

d. Tujuan bimbingan

   Sebagai hasil proses untuk menemukan diri dan dunianya sehingga

   individu dapat memilih, merencanakan memutuskan, memecahkan

   masalah, menyesuaikan secara bijaksana, dan berkembang sepenuhnya

   kemampuan dan kesanggupannya, serta dapat memimpin dirinya
                                                                           16




      sendiri sehingga individu dapat menikmati kebahagiaan batin yang

      sedalam-dalamnya dan produktif bagi lingkungannya.



a. Jenis-Jenis Bimbingan

   Jenis jenis bimbingan dapat dibagi atas tiga bagian, yakni :

   1. Bimbingan pekerjaan

   2. Bimbingan pendidikan

   3. Bimbingan pribadi

   Adapun penjelasan dari masing-masing jenis bimbingan tersebut adalah :

   a. Bimbingan pekerjaan

      Bimbingan pekerjaan merupakan kegiatan bimbingan yang pertama, yang

      dimulai oleh Frank Parsons pada tahun 1908 di Boston Amerika Serikat.

      Asal mula dari bimbingan pekerjaan ini dirintis oleh Departemen Tenaga

      Kerja di negara ini untuk terjun di tengah-tengah masyarakat.

      Istilah bimbingan pekerjaan mulai digeser oleh pemakaian istilah

      bimbingan jabatan, yang kemudian beralih kepada nama bimbingan karier

      sejak dilangsungkannya konfrensi ARAVEG (Asian Regional Association

      for Vocational and Education Guidance) di Jakarta 1983, yang selanjutnya

      diadakan simposuim yang menghasilkan rumusan konsep bimbingan

      jabatan sebagai berikut :

         "Bimbingan jabatan adalah proses bantuan terhadap seseorang sehingga

         orang tersebut mengerti dan menerima gambaran tentang diri
                                                                           17




      pribadinya     dan      gambaran   tentang   dunia    kerjanya,    serta

      mempertemukan keduanya, yang akhirnya dapat mempersiapkan diri

      dan memasuki bidang tertentu dan membinanya dalam bidang

      pekerjaan tersebut"

      (Yusuf Gunawan, Pengantar bimbingan dan konseling, 1992 : 48)

b. Bimbingan Pendidikan

   Defenisi tentang bimbingan pendidikan telah diberikan oleh sebanyak ahli,

   diantaranya :

      J.D. Hoofengarder (dalam pengantar Dasar Bimbingan dan Konseling)

      mengatakan :

      Bimbingan pendidikan sebagai bagian integral dari program sekolah

      yang ditujukan untuk mengembangkan dan menggunakan kamampuan-

      kemampuan sehingga mereka dapat memperoleh nilai maksimal dalam

      pendidikan formalnya. (Yusuf Gunawan, Pengantar Bimbingan dan

      Konseling 1992 : 47).

   Dari defenisi di atas, maka dapat ditarik kesimpulan tentang bimbingan

   pendidikan, yaitu : bantuan yang diberikan kepada anak dalam bimbingan

   dapat berupa informasi pendidikan, cara belajar, pemilihan jurusan lanjutan

   sekolah, mengatasi belajar, mengembangkan kemampuan dan kesanggupan

   secara optimal dalam pendidikan atau membuat siswa dapat sukses belajar

   dan mampu menyesuaikan dari terhadap semua tuntutan sekolah.

c. Bimbingan Pribadi
                                                                         18




   Bimbingan pribadi adalah memberikan bantuan kepada siswa untuk

   mengembangkan hidup peribadinya seperti motivasi, persepsi tentang diri,

   gaya hidup, perkembangan nilai-nilai moral/agama dan sosial dalam diri,

   kemampuan mengerti dan menerima diri dan orang lain, serta membantunya

   untuk memecahkan masalah-masalah pribadi yang ditemuinya.

2. Pengertian Konseling

       Kata konseling berasal dari bahasa Inggris, yaitu "counseling”, yang

berarti "Penyuluhan". Namun, kata penyuluhan itu sendiri sedemikian luas

artinya, sehingga untuk lebih membuat agar spesifikasi lagi, maka berikut

disajikan defenisi tentang konseling itu sendiri yaitu :

       F.P. Robinson (dalam bimbingan konseling di sekolah lanjutan)

mengatakan :

       Konseling mencakup semua bentuk hubungan antara dua orang, dimana

       seorang adalah klien dibantu untuk dirinya sendiri dan lingkungannya.

       (Abu Ahmad dan Ahmad Rohani, Bimbingan dan Konseling di sekolah

       lanjutan, 1991 : 25)

Back (dalam Bimbingan dan Konseling di sekolah lanjutan) mengemukakan

pendapatnya tentang konseling sebagai berikut :

a. Konseling mengandung arti sebagai bantuan kepada individu untuk

   menyesuaikan diri dalam situasi kritis
                                                                                   19




   b. Konseling adalah membantu individu untuk menyatakan dirinya ke dalam

         suatu pemecahan masalah yang rumit untuk mempengaruhi perubahan

         sebagian besar dari tingkah laku klien secara suka rela.

   c. Konseling diartikan sebagai proses hubungan antara dua orang, dimana yang

         satunya dibantu dengan yang lainnya untuk meningkatkan kemampuannya

         dalam menyelesaikan masalah.

C. Pengertian Pengajaran Remedial

         Dari semua teknik bimbingan belajar yang ada, pengajaran dengan tugas guru

di sekolah. Hal ini disebabkan karena pengajaran remedial merupakan tehnik

pengajaran khusus yang ditujukan untuk menyembuhkan atau memperbaiki sebagian

atau seluruh kesulitan belajar yang dihadapi siswa kemampuan masing-masing

melalui perbaikan seluruh proses belajar mengajar dan keseluruhan kepribadian

siswa.

1. Prinsip-prinsip pengajaran Remedial

   Agar pengajaran remedial dapat dipersiapkan dan dilaksanakan dengan tepat,

   maka perlu diperhatikan prinsip-prinsip dari pengajaran remedial itu sendiri.

   Adapun prinsip-prinsip pengajaran remedial adalah sebagai berikut :

   1. Langkah pertama adalah perbaikan faktor-faktor fisik yang mempengaruhi

         prestasi belajar, seperti gangguan pandangan dan penglihatan.

   2. Diperlukan kerja sama dengan para orang siswa dalam memperbaiki faktor

         yang memungkinkan kesulitan-kesulitan terjadi dalam belajar siswa
                                                                              20




   3. Kalau siswa memperlihatkan keinginan belajar yang rendah, maka langkah

      yang mendesak adalah langkah perbaikan sikapnya itu dulu, dengan

      memberikan kegiatan yang dapat menimbulkan perasaan sukses, bangga,

      kesempatan, mengembangkan minat atau keterampilan lainnya.

   4. Dilakukan analisis bersama tentang kekuatan dan dibutuhkannya, dan

      memperlihatkan bagaiman bahan pengasaran dirancang pula perbaikan

      kekurangannya.

   5. Pengajaran harus dimulai pada tingkatan yang agak rendah yang sesuai

      dengan tingkatkan belajar siswa sekarang. Tujuan-tujuan jangka pendek harus

      dikembangkan pada pelajaran yang berharga dan dipandang mampu untuk

      dicapai.

   6. Karena pengajaran remedial biasanya dikembangkan atas dasar diagnosis

      tentatif, maka guru harus bersedia merubah programnya tidak efektif.

   7. Dilakukan pencatatan diagosis dari setiap siswa, bahan dan metode yang

      digunakan, dan hal-hal pengajaran remedial.


2. Tahapan-tahapan Pelaksanaan Pengajaran Remedial

   Pengajaran remedial merupakan salah satu tahapan utama dalam keseluruhan

   kerangka pola layanan bimbingan konseling belajar, serta merupakan rangkaian

   kegiatan lanjutan logis dari usaha diagnostic kesulitan belajar siswa. Adapun

   tahapan-tahapan dari pengajaran remedial adalah sebagai berikut :

   a. Layanan bimbingan bersifat-bersyarat
                                                                              21




   b. Pelaksanaan pengajaran remedial

   c. Pengukuran kembali hasil belajar

   d. Pemberian tugas-tagas tambahan


3. Strategi Pelaksanakan Pengajaran Remedial

   Ada tiga strategi utama dalam pelaksanakan pengajaran remedial. Menurut Entent

   M (1981 : 23), strategi pengajaran meliputi :

   a. Strategi yang bersifat Kuratif

      Dilaksanakan setelah selesainya program proses belajar mengajar utama

      diselenggarakan. Dalam hal ini program proses belajar mengajar dapat

      diartikan sebagai program untuk tiap pertemuan, untuk satu unit bahan

      pelajaran. Sasaran pendekatan kuratif adalah siswa yang berprestasi dibawah

      rata-rata kelas diusahakan agar prestasinya dapat meningkatkan atau lebih

      optimal.

       Selanjutnya, siswa memperoleh prestasi sedang dapat lebih disempurnakan

      atau diperkaya, dan yang sudah berprestasi tinggi diberikan tambahan tambah

      ajaran yang lebih tinggi tingkatanya, untuk mencapai sasaran ini dapat

      ditempuh dengan cara pengulangan, pengayaan, pengukuhan dan percepatan

   b. Strategi yang bersifat preventif

      Strategi ini ditujukan kepada siswa tertentu yang diduga kesulitan dalam

      menyelesaikan suatu program studi tertentu. Sasaran pokok dari strategi ini

      adalah berusaha menghindari hambatan dalam mencapai kriteria keberhasilan
                                                                                22




   yang sudah ditentukan. Kalau strategi kuratif bertolak dari hasil, maka strategi

   preventif bertolak dari prestasi. Untuk mencapai sasaran dari strategi ini,

   dapat ditempuh dengan layanan sasaran kelompok homogen individual

   dengan dilengkapi kelas khusus remedial dan pengajaran.

c. Strategi yang bersifat pengembangan

   Strategi yang bersifat pengembangan adalah tindak lanjut dan upaya diagnosis

   yang dilakukan guru selama berlangsungnya proses belajar mengajar,

   sasarannya adalah agar siswa segera mengatasi hambatan-hambatan yang

   mungkin dialaminya selama melakukan kegiatan proses belajar-mengajar,

   yang pada akhirnya siswa diharapkan akan menyelesaikan program secara

   tuntas sesuai dengan kriteria keberhasilan yang telah ditetapkan.
                                                                                   23




                                        BAB III

                          METODOLOGI PENELITIAN

A. Populasi dan Sampel

   1) Populasi

             Banyak       para   ahli   yang mengemukakan      pengertian   populasi,

      diantaranya Suharsini       Arikunto     mengatakan bahwa populasi       adalah

      keseluruhan subjek penelitian (Suharsini Arikunto prosedur penelitian, 1991 :

      102). Sesuai pendapat tersebut, berarti bahwa semua subjek penelitian itu

      merupakan populasi.

             Pengertian lain mengenai populasi diutarakan oleh Soedjono, bahwa

      populasi adalah :

             Totalitas suatu nilai yang mungkin hasil menghitung atau mengukur
             kuantitatif kualitatif daripada karakteristik tertentu mengenai
             sekumpulan objek yang lengkap dan jelas, yang dapat dipelajari sifat-
             sifatnya. (Soedjono, Statistik Pendidikan, 1985 : 5)

             Dari batasan di atas, menunjukkan bahwa populasi adalah keseluruhan

      objek yang akan diteliti baik sifat kualitatif, kuantitatif dengan karakteristik

      yang menjadi ciri dari objek tersebut.

      Bila dikaitkan dengan penelitian yang akan dilakukan ini, maka populasi

      penelitian ini siswa kelas II dan kelas III SMA Negeri 1 Sukamaju.

             Untuk lebih jelasnya mengenai populasi tersebut, meliputi jumlah guru

      ditambah dengan jumlah total populasi siswa, maka menjadi 40 + 535 = 575.
                                                                           24




2) Sampel

            Yang dimaksud dengan sampel adalah sebagian dari populasi atau

   sejumlah penduduk yang jumlahnya kurang dari jumlah populasi (Sutrisno

   Hadi, statistik 2, 1989 : 221).

            Definisi lain tentang sampel dikemukakan oleh Suharsini Arikunto,

   bahwa sampel adalah sebagian atau wakil dari populasi yang diteliti

   (Suharsini Arikunto, Prosedur Penelitian, 1989 : 93)

      Dalam pengambilan sampel, haruslah diteliti dengan cermat, tepat, agar

   sampel yang diambil betul-betul akan diperoleh sampel yang dapat

   menggambarkan populasi yang sebenarnya. Pada garis besarnya, ada 2 macam

   sampling yaitu :

   a. Yang memberi kemungkinan yang sama bagi setiap unsur populasi untuk

      dipilih yang disebut "probability sampling"

   b. Yang tidak memberikan kemungkinan yang sama bagi setiap unsur

      populasi yang dipillih yang disebut dengan "non probability sampling"

      Bila dikaitkan dengan rencana penelitian yang dilakukan ini, maka akan

      mengacu pada unsur non probability dengan alasan bahwa judul yang

      merupakan intisari dari dilaksanakannya penelitian ini menghendaki agar

      yang diteliti adalah anak yang bermasalah berprestasi di bawah rata-rata

      kelas) sebagai variabel terkait. Berikut ini keadaan populasi penelitian

      sebagaimana disajikan pada Tabel 1.
                                                                                25




                                      Tabel 1
                                Keadaan Populasi Guru
                             Pada SMA Negeri 1 Sukamaju

                                       Jenis Kelamin               Jumlah
 No               Guru
                                 Laki-laki       Perempuan
  1   Guru Kelas I, II, III         27               13           40 orang
Sumber : Papan potensi keadaan guru tahun 2007/2008



                                       Tabel 2
                          Keadaan Populasi Siswa Kelas II & III
                             Pada SMA Negeri 1 Sukamaju

                                          Jenis Kelamin            Jumlah
 No               Kelas
                                    Laki-laki       Perempuan
  1    Kelas II                     120 orang       150 orang     270 orang
  2    Kelas III                    130 orang       135 orang     265 orang
       Jumlah                       250 orang       285 orang     535 orang



       Membaca dan menganalisa tabel di atas, dapat disimpulkan bahwa besarnya

populasi pada penelitian ini adalah : guru laki-laki sebanyak 27 orang, guru

perempuan sebanyak 13 orang sehingga total populasi guru adalah 40 orang.

Sedangkan populasi siswa adalah jumlah siswa kelas II dan kelas III. Jumlah siswa

kelas II sebanyak 270 orang, jumlah siswa kelas III sebanyak 265 orang. Total

keseluruhan siswa sebanyak 535 orang.

       Sesuai data yang diperoleh melalui pendekatan dokumentasi, yaitu membuka

data laporan pendidikan siswa, daftar nilai wali kelas, sehingga diperoleh sejumlah
                                                                               26




siswa yang bermasalah dengan kriteria bahwa prestasi belajar yang berhasil

diperolehnya dibawah atau berada pada kisaran angka 5,00.

       Sedangkan pihak guru dijadikan sampel dimaksudkan sebagai faktor penguat

dari siswa karena yang akan diteliti secara mendalam adalah peranan guru Bimbingan

Konseling dalam menangani siswa berprestasi rendah.

       Jadi sampel pada penelitian ini adalah sejumlah guru bidang studi dan siswa

berprestasi rendah dibawah rata-rata kelas, lebih jelasnya mengenai keadaan sampel

guru dan siswa dapat dilihat pada tabel berikut.


                                       Tabel 3
                                 Keadaan Sampel Guru
                              Pada SMA Negeri 1 Sukamaju

                                           Jenis Kelamin          Jumlah
 No                Kelas
                                     Laki-laki       Perempuan
  1     Kelas I, II, III             27 orang         13 orang   40 orang
        Jumlah                       27 orang       13 orang     40 orang
Sumber : Daftar hadir guru



                                       Tabel 4
                           Keadaan Sampel Siswa Kelas II & III
                              Pada SMA Negeri 1 Sukamaju

                                           Jenis Kelamin          Jumlah
 No                Kelas
                                     Laki-laki       Perempuan
  1     Kelas II                     20 orang         16 orang   36 orang
  2     Kelas III                    17 orang        7 orang     24 orang
        Jumlah                       37orang        23 orang     60 orang
Sumber : Hasil pendekatan dokumentasi, buku laporan pendidikan
                                                                                  27




       Membaca dan menganalisa isi dari tabel di atas, maka dapat disimpulkan

bahwa sampel pada penelitian ini adalah : dari kelompok guru berjumlah 40 orang

sedangkan dari siswa sebanyak 60 orang. Total sampel adalah sebanyak 100 orang.



B. Teknik Penelitian

   1) Pengumpulan Data

            Tujuan pengumpulan data penelitian adalah agar dapat dikumpulkan

       sejurnlah informasi-informasi atau data tertentu yang akan digunakan kepada

       arah tujuan penelitian, agar dapat dengan mudah dilakukan suatu interprestasi,

       pembacaan, penganalisaart dan dalam rangka pengelolaan data dengan sangat

       akurat dan signifikan.

            Seperti telah diketahu, bahwa banyak cara yang dapat dipergunakan

       dalam mengumpulkan data, antara lain sebagai berikut :

       a. Angket

       b. Dokumentasi

       c. Wawancara

       d. Observasi

       e. Proveksi, dan masih banyak lagi lainnya.

            Namun, dalam penelitian tidak semua teknik pengumpulan data tersebut

       dipergunakan sekaligus dalam kegiatan penelitian. Tetapi cukup dipilih

       berdasarkau kehendak dan sifat penelitian yang hendak dicapai.
                                                                         28




     Sehubungan dengan penelitian ini, maka teknik pengumpulan data yang

akan dipergunakan adalah :



1) Dokumentasi

   Dokumentasi adallah suatu instrumen yang berfungsi untuk menyelidiki

   benda-benda tertulis (bukti-bukti) seperti : buku laporan pendidikan,

   daftar nilai siswa, catatan anekdote, perkembangan siswa, identifikasi

   siswa.

2) Angket (quesioner)

   Angket adalah lembaran-lembaran pertanyaan tertulis yang diedarkan

   kepada sampel atau responden untuk dijawab berdasarkan dengan apa

   yang di alami, dengan struktur pertanyaan yang mengarah kepada

   permasalahan penelitian dan arah, serta kehendak variabel yang akan

   diteliti.

   Adapun jenis angket yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah :

   a) Ditinjau dari cara memberikan jawaban, maka angket yang digunakan

       adalah angket tertutup, karena peneliti sudah menyiapkan jawaban

       sehingga responden tinggal membubuhkan tanda jawaban kepada arah

       pilihan sesuai dengan apa yang telah dialaminya.

   b) Ditinjau dari sudut jawaban yang diberikan, maka jenis angket ini

       adalah angket langsung dan tidak langsung karena jawaban yang
                                                                           29




           disedial:an adalah jawaban tentang diri guru bimbingan konseling

           dalam pengajaran remedial.




    c) Ditinjau dart sudut bentuknya, maka angket yang digunakan adalah

           angket pilihan ganda, karena jawaban yang digunakan atau disediakan

           adalah pilihan dari salah satu jawaban yang ada.

      Sebelum lembaran pertanyaan pada angket disusun, maka terlebih

dahulu peneliti membuat kisi-kisi angket. Penyusunan kisi-kisi angket ini

mengacu kepada variabel-variabel penelitian, yaitu peranan guru bimbingan

konseling daiarn pengajaran remedial, sebagai variabel bebas dan penanganan

siswa bermasalah (bodoh atau berprestasi di bawah rata-rata), sebagai variabel

terikat.

      Hal ini dimaksudkan agar alur angket yang akan dibuat tidak melenceng

atau melebar tak tentu arak sifat pertanyaan yang diajukan di dalamnya,

sehingga dapat diperoleh sejumlah jawaban pasti yang memudahkan dalam

menginterprestasikan ke dalam pengelolaan dan analisis data pada kegiatan

penelitian yang dilakukan.

Untuk lebih jelasnya mengenai kisi-kisi yang dimaksud, dapat dilihat pada

tabel berikut :
                                                                           30




                               Tabel 5
                          Kisi-Kisi Angket
                          Untuk Responden

 No         Variabel Penelitian              Indikator          No. Soal
  1     Pelaksanaan tugas             Aktif melaksanakan          1.2
        bimbingan konseling           tugas

  2     Bidang tugas guru             Mengidentifikasi jenis      3.4
        bimbingan konseling           masalah siswa di
                                      sekolah
                                                                  5.6
  3     Prosedur bimbingan            Menangani siswa
        konseling remedial            bermasalah (berprestasi
                                      di bawah rata-rata
                                      kelas)
                                      Memberikan
                                      pengajaran remedial
                                                                  7.8
  4     Hasil yang ingin dicapai      Meningkatkan prestasi
                                      anak bermasalah
                                      (berprestasi rendah)
                                      setelah pengajaran
                                      remedial
                                                                 9.10
                                    Menekan siswa
                                    bermasalah dalam
                                    kuantitas
Sumber data: Masri Singaribuan (metode penelitian survey, 1998: 155)

      Responden berikutnya adalah siswa yang terjaring dalam dokumentasi

data sebagai siswa yang bermasalah atau berprestasi di bawah rata-rata kelas,

yang dipatok dengan perolehan nilai di bawah 5,00 akan diberikan pula

sejumlah angket yang kisi-kisinya sebagai berikut :
                                                                       31




                             Tabe1 6
                         Kisi-Kisi Angket
                         Responden Siswa

 No       Variabel Penelitian              Indikator        No. Soal
  1   Pelaksanaan tugas            Aktif melaksanakan         1.2
      bimbingan konseling          tugas
  2   Bidang tugas bimbingan       Merencanakan                3.4
      konseling                    pengajaran remedial
                                   setelah evaluasi
  3   Hasil yang ingin dicapai     Memberikan                  5.6
                                   pengajaran remedial
                                   dengan berkelompok
                                   atau individu
                                   Mengadakan tindakan         7.8
                                   berlanjut
                                   Prestasi anak
                                   berprestasi rendah          9.10
                                   meningkat.

3) Wawancara

       Wawancara merupakan salah satu bentuk instrumen yang sering

  digunakan dalam sebvah penelitian metode wawancara digunakan dengan

  maksud untuk memperoleh data atau keterangan secara langsung dari

  responden ataupun bentuk-bentuk wawancara yang dilakukan adalah

  wawancara terpimpin karena pelaksanaan wawancara telah dipersiapkan

  sederetan pertanyaan lengkap dan terperinci, seperti tertera pada bagian

  lampiran skrisi ini.
                                                                          32




4) Tahapan pelaksanaan penelitian

   Pada tahapan-tahapan penelitian akan ditempuh dua cara yaitu penelitian

   kepustakaan dan penelitian lapangan dengan langkah-langkah sebagai

   berikut :

   a. Penelitian kepustakaan

       Dalam penelitian kepustakaan ini, peneliti akan menghimpun sejumlah

       data-data tertulis yang bersumber dari buku-buku, majalah, kamus.

       Dokumen-dok:umen yang berhubungan dengan judul skripsi ini,

       dengan mengutip secara langsung maupun tidak langsung.

   b. Penelitian lapangan

       Pada tahapan penelitian lapangan akan dilakukan langkah-langkah

       sebagai berikut :




   1) Dokumentasi

       Pendokumentasian dilakukan pada tanggal 13 Agustus 2007 di SMA

       Negeri 1 Sukamaju dengan membuka buku laporan pendidikan siswa,

       buku daftar nilai wali kelas, guru bidang studi, dan catatan lain yang

       berhubungan dengan prestasi siswa di sekolah. Hasil dokumentasi

       tertera seperti dalam jumlah sampel yang terjaring dalam penelitian
                                                                           33




         ini, dengan memperhatikan nilai perolehan prestasi siswa dengan dasar

         5.00.



      2) Angket

         Angket untuk responden diedarkan untuk mengetahui peranan

         bimbingan konseling dalam pengajaran remedial instrumen ini terbagi

         dalam dua karakteristik, yaitu angket untuk para staf pengajar (guru

         kelas dan guru bidang studi) dan angket untuk siswa yang bermasalah.



      3) Wawancara

         Metode pengumpulan data dengan wawancara dilaksanakan pada

         tanggal 14 Agustus 2007 yang selanjutnya akan diadakan perhitungan

         dan penulisan setelah semua data telah menjadi rampung.



2) Penyajian Data

        Penyajian data dimaksudkan untuk memudahkan menganalisa membaca,

   dan mengiterpretasikan sejumlah data-data yang telah rampung masuk pada

   langkah pengumpulan data.

        Sehubungan dengan penelitian ini, maka data-data yang akan disajikan

   adalah hasil tanggapan responden guru dan siswa sebagai sampel dalam

   penelitian ini mengenai peranan guru bimbingan konseling dalam pengajaran
                                                                           34




  remedial terhadap penanganan siswa bermasalah (berprestasi di bawah rata-

  rata kelas).


                              Tabel 7
 Tanggapan Reponden Guru Terhadap Guru Bimbingan Konseling Dalam
     Keaktifannya Melaksanakan Tugas di SMA Negeri 1 Sukamaju

    No.   Jawaban Responden           Frekuensi             Persen
     1   Ya                            40 orang             100 %
     2   Tidak pernah                      -
     3   Kadang-kadang                     -
         Jumlah                        40 orang             100 %
  Sumber data: Tabulasi hasil angket untuk responden guru nomor 1 dan 2.


                              Tabel 8
 Tanggapan Reponden Guru Terhadap Guru Bimbingan Konseling Dalam
     Keaktifannya Melaksanakan Tugas di SMA Negeri 1 Sukamaju

    No.   Jawaban Responden           Frekuensi             Persen
     1   Ya                             2 orang              50 %
     2   Tidak pernah                  19 orang             47,5 %
     3   Kadang-kadang                  1 orang              2,5 %
         Jumlah                        40 orang             100 %
  Sumber data: Tabulasi hasil angket untuk responden guru nomor 3 dan 4.




                              Tabel 9
Tanggapan Reponden Guru Terhadap Guru Bimbingan Konseling Mengenai
 Penanganan Siswa Yang Berprestasi Rendah di SMA Negeri 1 Sukamaju

    No.   Jawaban Responden           Frekuensi             Persen
     1   Ya                            29 orang             72,5 %
     2   Tidak pernah                      -                   -
     3   Kadang-kadang                 11 orang             27,5 %
         Jumlah                        40 orang             100 %
  Sumber data: Tabulasi hasil angket untuk responden guru nomor 5 dan 6.
                                                                                35




                                  Tabel 10
 Tanggapan Reponden Guru Terhadap Guru Bimbingan Konseling Terhadap Hasil
          Yang Ingin Dicapai dalam Pengajaran Remedial Bagi Siswa
                          Yang Berprestasi Rendah

        No.   Jawaban Responden           Frekuensi             Persen
         1   Tinggi                        17 orang             42,5 %
         2   Cukup                         18 orang              45 %
         3   Rendah                         5 orang             12,5 %
             Jumlah                        40 orang             100 %
      Sumber data: Tabulasi hasil angket untuk responden guru nomor 7 dan 8.


                                Tabel 11
   Tanggapan Reponden Guru Tentang Hasil Bimbingan Konseling yang Dapat
                 Menekan Masalah Siswa Dalam Kuantitas

        No.   Jawaban Responden           Frekuensi             Persen
         1   Ya                            25 orang             62,5 %
         2   Tidak                         15 orang              37,5
             Jumlah                        40 orang             100 %
      Sumber data: Tabulasi hasil angket untuk responden guru nomor 9 dan 10.



      Pada penyajian data, berikut ini disajikan sejumlah data hasil angket dari

      responden siswa mengenai peranan guru bimbingan konseling dalam

      pengajaran remedial dalam menangani siswa bermasalah (berprestasi di

      bawah rata-rata kelas) SMA Negeri 1 Sukamaju selanjutnya disajikan sebagai

      berikut :

                                Tabel 12
Tanggapan Reponden Siswa Mengenai Keaktifan Guru Bimbingan Konseling Dalam
               Melaksanakan Tugas di SMA Negeri 1 Sukamaju

        No.        Jawaban Responden     Frekuensi             Persen
         1        Ya                     45 orang               75 %
         2        Tidak pernah            3 orang                5%
                                                                               36




        3   Kadang-kadang                 12 orang              20 %
            Jumlah                        60 orang             100 %
     Sumber data: Tabulasi hasil angket untuk responden siswa nomor 1 dan 2.


                                Tabel 13
    Tanggapan Reponden Siswa Terhadap Guru Bimbingan Konseling Dalam
            Merencanakan Pengajaran Remedial Setelah Evaluasi

       No.   Jawaban Responden           Frekuensi             Persen
        1   Ya                            50 orang             83,3 %
        2   Tidak pernah                   3 orang              5%
        3   Kadang-kadang                  7 orang             11,7 %
            Jumlah                        60 orang             100 %
     Sumber data: Tabulasi hasil angket untuk responden siswa nomor 3 dan 4.


                                Tabel 14
    Tanggapan Reponden Siswa Terhadap Guru Bimbingan Konseling Dalam
    Melaksanakan Pengajaran Remedial Terhadap Siswa Berprestasi Rendah
                        di SMA Negeri 1 Sukamaju

       No.   Jawaban Responden           Frekuensi             Persen
        1   Ya                            32 orang             53,3 %
        2   Tidak pernah                      -                   -
        3   Kadang-kadang                 28 orang             46,7 %
            Jumlah                        60 orang             100 %
     Sumber data: Tabulasi hasil angket untuk responden siswa nomor 5 dan 6.




                                 Tabel 15
Tanggapan Reponden Siswa Terhadap Guru Bimbingan Konseling Dalam Tugasnya
       Melaksanakan Tindak Lanjut Seperti Percepatan dan Pemeliharaan

       No.    Jawaban Responden         Frekuensi             Persen
        1    Ya                         32 orang              53,3 %
        2    Tidak pernah                9 orang               15 %
        3    Kadang-kadang              19 orang              31,7 %
                                                                                 37




          Jumlah                        60 orang             100 %
   Sumber data: Tabulasi hasil angket untuk responden siswa nomor 7 dan 8.


                                  Tabel 16
Tanggapan Reponden Siswa Terhadap Guru Bimbingan Konseling Mengenai
               Peningkatan Prestasi Siswa Sebagai Hasil
                        Pengajaran Remedial

     No.   Jawaban Responden           Frekuensi             Persen
      1   Tinggi                        47 orang             78,3 %
      2   Cukup                         10 orang             16,7 %
      3   Rendah                         3 orang              5%
          Jumlah                        60 orang             100 %
   Sumber data: Tabulasi hasil angket untuk responden siswa nomor 9 dan 10.



3) Pengolahan Data

           Data yang dikurnpulkan di dalam penelitian ini bersifat deskriftif.

   Sedangkan proses anaiisa data dapat dilakukan untuk mengolah data-data

   menjadi susunan pembahasan, maka ditempuh langkah-langkah sebagai

   berikut :

   a. Persiapan

   b. Tabulasi

   c. Penerapan data sesuai dengan pendekatan penelitian

           Untuk lebih jelasnya, maka langkah tersebut dijelaskan sebagai berikut:

   1) Persiapan

       Kegiatan dalam rangka persiapan ini antara lain:

       a. Mengecek nama dan kelengkapan identitas responden
                                                                           38




   b. Mengecek kelengkapan data, yakni jawaban jawaban dari responden.

2) Tabulasi

   Pada langkah tabulasi ini, peneliti rnembuat tabei frekuensi dengan cara

   "tabulasi langsung" yakni pentabulasian dari jawaban angket (kuisioner)

   ke dalam kerangka tabel yang telah disediakan tanpa perantara. lainnya

   dengan menggunakan pengerjaan melalui sistem lidi (tali).

3) Penerapan data sesuai dengan pendekatan penelitian

   Pendekatan yang digunakan peneliti adalah rizet deskriptif eksploratif. Hal

   ini bertujuan untuk menggambarkan keadaan dimana dalam hal ini peneliti

   hanya ingin mengetahui peranan guru bimbingan konseling dalam

   pengajaran remedial terhadap anak yang bermasalah (kurang/berprestasi di

   bawah rata-rata kelas) yang akan diuraikan secara :

   a. Kualitatif

       Yakni penerapan peranan guru bimbingan konseling dalam pengajaran

       remedial, yang digambarkan dengan kata-kata atau kalimat, kemudian

       ditarik suatu kesimpulan.



   b. Kuantitatif

       Yaitu data yang diwujudkan dalam bentuk angka-angka kemudian

       ditarik suatu kesimpulan.
                                                                             39




            Dari hasil perhitungan jawaban yang sangat homogen yang diteruskan

   dengan diperolehnya "prosentase” ke dalam suatu tabulasi langsung dapat

   diperoleh rumus :


           P = F x 100 %
               N

   Dalam hal mana :

   P       : Perolehan

   F       : Frekuensi

   N       : Jumlah individu

           (Sutrisno Hadi, Metodologi Research untuk penulisan paper, tesis, dan

   desertasi, 1997: 223).

            Setelah data kualitatif dirampungkan, maka selanjutnya peneliti

   menafsirkan kembali dengan kalimat yang bersifat kualitatif, seperti berikut

   ini :

   (1) Bila perolehan 76% sampai dengan 100 % berkategori baik

   (2) Bila perolehan 56% sampai dengan 75 % berkategori cukup

   (3) Bila perolehan 45% sampai dengan 55% berkategori kurang baik

   (4) Bila perolehan di bawah 40% berkategori tidak baik




4) Analisis Data
                                                                           40




     Teknik analisa data yang digunakan pada penelitian ini adalah teknik

deskriptif dengan prosentase. Hasil analisis data dilengkapi dengan grafik

batang yang disajikan sebagai berikut :

a) Tanggapan responden guru terhadap guru bimbingan konseling di dalam

   keaktifannya melaksanakan tugas di SMA Negeri 1 Sukamaju.

   Mengacu pada hasil jawaban reponden guru, seperti diuraikan pada tabel 7

   di atas dari 40 orang guru yang memberikan jawaban, 40 orang atau 100%

   menjawab ya, sedangkan yang menjawab tidak pernah dan kadang-kadang

   tidak ada atau 0%. Jika data ini dikualitatifkan, maka hal ini berarti guru

   bimbingan konseling di SMA Ngeri 1 Sukamaju aktif melaksanakan

   tugas. Hal tersebut dapat dipertegas dari hasil wawancara dengan kepala

   sekolah yang mengatakan bahwa :

   Pada dasarnya, pelaksanaan tugas dan tanggung jawab guru bimbingan

   konseling di sekolah ini sudah dilaksanakan sesuai dengan semestinya,

   termasuk menangani siswa yang berprestasi rendah.

         Untuk melengkapi kejelasan hasil analisis data kualitatif dan

   kuantiftatif di atas maka ini hasil prosentasi yang disajikan dalam grafik

   batang.
                                                                          41




                                   Grafik 1

      Keaktifan Guru Bimbingan Konseling SMA Negeri 1 Sukamaju


  100 %
                          100 %
  90 %

  80 %
  70 %
  60 %

  50 %
  40 %

  30 %

  20 %

  10 %
  00 %



                           Ya          Tidak pernah     Kadang-kadang
Sumber data: Distribusi dari tabel 7

b) Tanggapan responden guru bimbingan konseling dalam tugasnya

   mengidentifikasi masalah siswa.

          Mengacu pada hasil jawaban responden guru, seperti telah diuraikan

   pada sisi tabel 8, rnaka dari 40 orang guru yang menjawab, ternyata yang

   menjawab ya sebanyak 20 arang atau 50 % yang menjawab kadang-

   kadang sebanyak 1 orang, atau 2,5%. Bila hal ini dikualifikasikan, maka

   guru bimbingan konseling dalam mengidentifikasi siswa bermasalah

   “kurang baik” atau perlu ditingkatkan. hal ini diperkuat dengan hasil

   wawancara dari salah satu seorang staf pengajar yang rnengatakan :
                                                                           42




   "Tampaknya guru bimbingan konseling baru akan bekerja bila

   dihadapannya ada seorang siswa yang datang kepadanya, karena suruhan

   dari seorang guru, bukan hasil identifikasi dari guru bimbingan konseling

   tersebut.”

       Untuk melengkapi kejelasan hasil analisis data kualitatif dan

   kuantitatif di atas, maka berikut akan disajikan dalam bentuk grafik batang

   berikut :

                                 Grafik 2
                 Tanggapan Tugas Guru Bimbingan Konseling
                  Dalam Mengidentifikasikan Masalah Siswa


  100 %

   90 %

   80 %
   70 %
   60 %

   50 %
                        50 %              47,5 %
   40 %

   30 %

   20 %

   10 %
   00 %                                                        2,5 %

                          Ya         Tidak pernah        Kadang-kadang

   Sumber data: Distribusi dari tabel 8

c) Tanggapan responden guru terhadap guru bimbingan konseling dalam

   penanganan siswa bermasalah dengan pengajaran remedial. Mengacu dari

   jawaban responden guru, seperti disajikan pada tabel 9 di atas, maka dari
                                                                         43




40 orang yang memberikan jawabannya, ternyata yang menjawab ya

sebanyak 29 orang atau 72,5 % yang menjawab kadang-kadang sebanyak

11 orang atau 27,5%, dan yang menjawab tidak pernah, tidak ada. Jika

data ini dikualifikasikan, maka ternyata guru bimbingan konseling.

Menangani siswa bermasalah dengan pengajaran remedial. Hal ini

dipertegas dengan hasil wawancara dari salah seorang guru, yang

menyatakan :

“Salah satu tugas dari guru bimbingan konseling di sekolah ini yang

sangat berarti bagi kami dan siswa adalah diadakannya remeedial bagi

sejumlah siswa yang tertinggal pelajaran atau biasa disebut dengan siswa

berprestasi rendah.”

Untuk melengkapi penjelasan data hasil analisis ini, maka, data kualititatif

dan kuantitatif di atas disajikan dalam grafik batang berikut:
                                                                        44




                                   Grafik 3

                  Tanggapan Tugas Guru Bimbingan Konseling
               Dalam Menangani Masalah Siswa Berprestasi Rendah
                         Melalui Pengajaran Remedial

    100 %

    90 %

    80 %
    70 %
                          72,5 %
    60 %

    50 %
    40 %

    30 %

    20 %                                   27,5 %

    10 %
    00 %
                            Ya         Tidak pernah     Kadang-kadang

   Sumber data : Distribusi dari tabel 9

d) Tanggapan responden guru terhadap hasil yang dicapai dalam pengajaran

   remedial.

      Mengacu dari hasil jawaban responden, seperti tertera pada tabel 10,

   maka dari 40 orang responden guru yang menjawab, ternyata yang

   menjawab ya. Sebanyak 17 orang atau 42,5% yang menjawab cukup 18

   orang atau 45% dan yang menjawab rendah 5 orang atau 12,5%. Hal ini

   bila dikualitatifkan maka hasil yang dicapai adalah “cukup” untuk lebih

   jelasnya, maka berikut ini akan dikemukakan dalam bentuk grafik batang

   sebagai berikut :
                                                                          45




                                  Grafik 4
                  Tanggapan Tugas Guru Bimbingan Konseling
            Dalam Pengajaran Remedial Bagi Siswa Berprestasi Rendah



    100 %

    90 %

    80 %
    70 %
    60 %

    50 %
    40 %                  42,5 %

    30 %

    20 %                                   45 %

    10 %                                                       12,5 %

    00 %
                            Ya         Tidak pernah       Kadang-kadang

   Sumber data: Distribusi dari tabel 10

e) Tanggapan responden guru terhadap guru bimbingan konseling tentang

   hasil bimbingan konseling yang dapat menekankan masalah siswa dalam

   kuantitas.

      Mengacu pada hasil jawaban ceperti pada tabel 11, dimana 40 orang

   responden guru yang memberikan jawabannya, ternyata jawaban ya

   sebanyak 25 orang atau 62,5% sedangkan jawaban tidak, sebanyak 15

   orang atau 37,5%. Data ini bila dikualifikasikan, maka berarti bahwa guru

   bimbingan konseling dalam kegiatannya melaksanakan tugas, dapat

   menekan masalah-masalah siswa di SMA Negeri 1 Sukamaju. Untuk
                                                                           46




   lebih jelasnya, rnaka berikut akan disajikan data kualitatif dan kualitatif

   tersebut dalam grafik batang sebagai berikut :

                              Grafik 5
             Tanggapan Tugas Guru Bimbingan Konseling
                 Tentang Hasil Bimbingan Konseling
          Yang Dapat Menekan Masalah Siswa Dalam Kuantitas

  100 %

   90 %
   80 %
   70 %
   60 %

   50 %
   40 %                  62,5 %

   30 %

   20 %                                    35,5 %

   10 %
   00 %
                           Ya              Tidak

   Sumber data: Distribusi dari tabel 11

f) Tanggapan responden siswa terhadap guru bimbingan konseling mengenai

   keaktifannya menjalankan tugas.

          Mengacu kepada hasil jawabannya, ternyata diperoleh jawaban ya

   sebanyak 45 orang atau 75%, jawaban tidak pernah sebanyak 3 orang atau

   5%, jawaban kadang-kadang. 12 orang atau 20%. Sehingga bila data ini

   dikualifikasikan, maka akan berarti bahwa guru bimbingan konseling

   SMA Negeri 1 Sukamaju aktif melaksanakan tugas. Untuk memperkuat

   penjelasan data ini, maka berikut disajikan grafik batangnya.
                                                                        47




                          Grafik 6
      Tanggapan Responden Siswa Terhadap Guru Bimbingan Konseling
               Mengenai Keaktifannya Melaksanakan Tugas



   100 %

   90 %

   80 %
   70 %
                          75 %
   60 %

   50 %
   40 %

   30 %

   20 %

   10 %                                                     20 %

   00 %                                    5%
                           Ya         Tidak pernah      Kadang-kadang


   Sumber data: Distribusi dari tabel 12




g) Tanggapan responden siswa terhadap guru bimbingan konseling dalam

   melaksanakan pengajaran remedial setelah evaluasi.

      Mengacu dari jawaban responden siswa seperti tertera pada tabel 13,

   maka dari 60 orang siswa yang memberilkan jawabannya ternyata : 50

   orang orang menjawab ya atau 83,3%, 3 orang yang menjawab tidak

   pernah atau 5%, sedangkan yang menjawab kadang-kadang sebanyak 7

   orang atau 11,7%, jika data-data ini kualitatifkan, maka akan diperoleh
                                                                        48




   suatu gambaran bahwa guru bimbingan konseling di SMA Negeri 1

   Sukamaju. Melakukan atau sangat memperhatikan pengajaran remedial

   setelah evaluasi (sumatif atau formatif).

   Untuk memperjelas data-data ini, maka disajikan dalam bentuk grafik

   batang, seperti berikut :

                                Grafik 7
      Tanggapan Responden Siswa Terhadap Guru Bimbingan Konseling
         Dalam Melaksanakan Pengajaran Remedial Setelah Evalusi

      100 %

       90 %

       80 %                    83,3 %
       70 %
       60 %

       50 %
       40 %

       30 %

       20 %

       10 %                                                    11,7 %
                                               5%
       00 %
                                 Ya        Tidak pernah    Kadang-kadang


   Sumber data: Distribusi dari tabel 13

h) Tanggapan responden siswa terhadap guru bimbingan konseling dalam

   pengajaran remedial terhadap anak berprestasi rendah.

      Mengacu dari jawaban responden siswa seperti tertera pada tabel 14,

   maka dari 60 orang siswa yang memberikan jawabannya ternyata 32 orang

   menajwab ya atau atau 53,3%, tidak ada yang menjawab tidak pernah atau
                                                                          49




   0%, sedangkan yang menjawab kadang-kadang sebanyak 28 orang atau

   46,7 %. Jika data-data ini dikualifikasikan, maka akan diperoleh suatu

   gambaran bahwa guru bimbingan konseling melakukan dengan baik

   pengajaran remedial terhadap anak bermasalah (berprestasi di bawah rata-

   rata kelas). Untuk memperjelas data-data ini, maka disajikan dalam bentuk

   grafik batang seperti berikut :

                                 Grafik 8
      Tanggapan Responden Siswa Terhadap Guru Bimbingan Konseling
       Dalam Pelaksanaan Pengajaran Remedial Terhadap Siswa Berprestasi
                                 Rendah


      100 %

       90 %

       80 %
       70 %
       60 %

       50 %
                             53,3 %
       40 %                                                      46,7 %

       30 %

       20 %

       10 %
                                               0%
       00 %
                               Ya          Tidak pernah     Kadang-kadang

   Sumber data: Distribusi dari tabel 14

i) Tanggapan responden siswa terhadap guru bimbingan konseling dalam

   tugas mengadakan tindak lanjut sebagai bagaian dari pengajaran remedial.

   Mengacu dari jawaban responden siswa seperti tertera pada tabel 15 maka

   dari 60 orang siswa yang memberikan jawabannya ternyata 32 orang
                                                                        50




   menjawab ya atau 53,3%, 9 orang yang menjawab kadang-kadang

   sebanyak 19 orang atau 31,7 %. Jika data-data ini dikualifikasikan, maka

   akan diperoleh suatu gambaran bahwa guru bimbingan konseling di SMA

   Negeri 1 Sukamaju selalu mengadakan tindak lanjut sebagai bagian dari

   pengajaran remedial bagi anak yang bermasalah (berprestasi di bawah

   rata-rata lulus) dengan baik. Untuk memperjelas rata-rata ini maka

   disajikan dalam bentuk grafik batang seperti berikut :

                                Grafik 9
      Tanggapan Responden Siswa Terhadap Guru Bimbingan Konseling
       Dalam Mengadakan Tindak Lanjut Sebagai Bagian Dan Remedial

      100 %

       90 %

       80 %
       70 %
       60 %

       50 %
       40 %                 53,3 %

       30 %
                                                                31 %
       20 %
                                               15 %
       10 %
       00 %
                              Ya           Tidak pernah     Kadang-kadang


   Sumber data: Distribusi dari tabel 15

j) Tanggapan responden siswa terhadap guru bimbingan konseling mengenai

   hasil yang dicapai dalam pengajaran.
                                                                        51




    Mengacu dari jawaban jawaban responden siswa seperti tertera pada

tabel 16, maka dari 60 orang siswa yang memberikan jawabannya.

Ternyata yang menjawab tinggi sebanyak 47 orang atau 78,3% yang

menjawab rendah sebanyak 3 orang atau 5%, jika data-data ini

dikualitatifkan, maka akan diketahui bahwa hasil dari pengajaran remedial

bagi anak yang bermasalah (berprestasi di bawah rata-rata kelas) adalah

tinggi. Untuk memperjelas data-data ini, maka disajikan dalam bentuk grafik

batang seperti berikut :

                          Gambar Grafik 10
  Tanggapan Responden Siswa Terhadap Hasil Pengajaran Remedial Yang
       Dilakukan Oleh Guru Bimbingan Konseling Terhadap Siswa

100 %

90 %

80 %
                           78,3 %
70 %
60 %

50 %
40 %

30 %

20 %

10 %
                                         10,7 %
00 %                                                         5%
                       Tinggi            Cukup             Rendah


Sumber data : Distribusi dari tabel 16

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Tags:
Stats:
views:15206
posted:5/15/2011
language:Indonesian
pages:51