PERAKITAN PC by mannul

VIEWS: 115 PAGES: 5

									                                  PERAKITAN PC

  Urutan Perakitan PC

Langkah perakitan yang harus diperhatikan adalah sebagai berikut :

1. Pasang Prosesor pada MB kemudian setting kecepatan clock sesuai dengan
   motherboard yang digunakan. Kemudian kita lakukan setting jumper pada
   Motherboard sesuai dengan spesifikasi komponen dan konfigurasi
   motherboard yang akan digunakan dengan mengacu pada manual book
   motherboard dan komponen lainnya.
2. Pasang Memory Card pada slotnya dan Pasang VGA Card pada slot
   ekspansi. Jangan sampai terbalik!
3. Pasang Konektor Power Supply ke Motherboard sesuai dengan aturan
   pemasangannya
4. Siapkan Monitor dan pasang konektor powernya ke PS dan konektor data ke
   VGA card.
5. Nyalakan komputer,jika tampilan blank, Lihat troubleshooting 1. jika
   tampilan BIOS startup muncul lanjutkan tahap selanjutnya :

6. Pasang Hardisk, Floppy Disk, dan CD-ROM. Lihat Aturan pemasangan
   Installasi Hardisk
7. Pasang Card ekspansi lainya seperti SoundCard, LAN Card, Modem dll.
   Lihat aturan pemasangan Multimedia card
8. Pasang Konektor Tombol dan Lampu pada casing ke motherboard. Lihat
   pada manual book motherboard
9. Nyalakan komputer, jika tampilan blank atau error, Lihat troubleshooting 2
   . jika tampilan BIOS startup muncul lanjutkan tahap selanjutnya :

10.   Tekan Del pada keyboard untuk masuk ke BIOS. Lakukan setting BIOS
11.   Siapkan Startup Disk atau Bootable CD
12.   Install Operating Sistem
13.   Install driver-driver untuk hardware.

Perlu dicatat bahwa penggunaan semua komponen tambahan harus memiliki spesifikasi
yang cocok terhadap motherboard. Setelah kelima komponen terpasang, tampilan BIOS
akan tampil pada monitor yang menandakan seluruh komponen bekerja dengan baik.
Setelah itu baru kita memasang seluruh komponen ke dalam casing komputer. Secara
detail, hal-hal yang harus kita perhatikan dalam penginstalan hardware terutama bagi para
pemula adalah sebagai berikut :

        Saat membeli hardware apapun terutama motherboard usahakan untuk
        mendapatkan juga Buku Manualnya. karena petunjuk tersebut sangat
        penting pada saat merakit atau troubleshooting. Baca dulu seluruh isi
        manual book pada sebelum melakukan perakitan.

  Pemasangan Power Supply dan Connectornya

Dalam pemilihan power supply, kita harus perhatikan besarnya daya yang dapat
ditampung PowerSupply. di pasaran biasanya rating daya berkisar antara 250 Watt, 300
Watt, dan 350 Watt. Untuk komputer generasi Pentium IV, Pada casingnya sudah
tersedia PS dengan daya sebesar 350 Watt. Perhatikan juga setting tegangan kerja sesuai
dengan supply tegangan rumah (biasanya 220V-230V).

Saat ini dikenal dua jenis Power Supply yaitu AT dan ATX. Pada PS AT, Bentuk
konektor yang menuju motherboard bentuknya terbagi menjadi dua bagian. Dalam
pemasangannya tidak boleh terbalik. Untuk memudahkannya, usahakan kabel yang
berwarna hitam berada di tengah-tengah konektor. Untuk jelasnya dapat dilihat pada
gambar berikut :

  Gambar konnektor AT

Power Supply ATX dioperasikan secara Semi Otomatis, artinya saat komputer Shut
Down, secara otomatis PS mati tanpa kita harus memijit tombol Power. Bentuk
konektornya lebih rapih dibandingkan AT dan tidak dimungkinkan pemasangan konektor
terbalik. Untuk jelasnya dapat dilihat pada gambar berikut :

  Gambar konnektor ATX

  Setting Jumper pada Motherboard

Di dalam sebuah motherboard kita dapat menemukan banyak sekali jumper-jumper yang
fungsinya cukup beragam. Pada bagian ini kita membahas mengenai jumper yang
fungsinya mengeset besarnya clock prosesor yang digunakan. Jika kita melihat tampilan
kecepatan clock prosesor kita pada saat booting, maka informasi tersebut bukan berasal
dari si prosesor melainkan dari motherboard yang telah kita setting jumpernya. Dalam hal
ini jumper yang kita gunakan adalah jumper setting FSB(Front Side Bus) dan jumper
Ratio/Multiplier/Perkalian. Bentuk, letak, dan kode jumper tadi sangat beragam
tergantung jenis motherboard.

Bus Clock/Front Side Bus(FSB)/Frequensi menunjukan besarnya frequensi kecepatan
tranfer pada lalu lintas data di bus data pada motherboard, dan digunakan satuan Mhz.
Contoh: 55Mhz, 66Mhz, 100Mhz, 133Mhz dsb.
Ratio/Multiplier/Frequensi merupakan faktor pengali atau perbandingan antara
kecepatan tranfer data pada prosesor dengan kecepatan tranfer data pada bus data
motherboard. Contoh: 1X, 2X, 2,5X dsb.

Prosesor ID = Bus Clock X Ratio
Dengan rumus di atas maka kita mendapatkan besarnya Prosesor ID atau kecepatan nyata
prosesor dalam beroperasi. Dalam penentuan Prosesor ID ini, diusahakan sebisa mungkin
digunakan Nilai FSB yang paling besar karena parameter ini menentukan kecepatan
motherboard dalam transfer data. Penetuan Prosesor ID ini sifatnya coba-coba, jadi tidak
ada parameter yang pasti untuk digunakan, jadi kita harus menetes kestabilan komputer
pada beberapa settingan kita sehingga didapatkan hasil yang optimal. Jika terjadi
kesalahan yang mengakibatkan komputer tidak bekerja secara stabil kita jangan ragu
untuk mengubah konfigurasi paramater dan hal tersebut tidak akan merusak prosesor atau
motherboard. Perlu dicatat bahwa setting jumper dibatasi oleh kemampuan kerja dari
motherboard dan prosesor yang digunakan.

Tabel keterangan mengenai jumper FSB dan Multiplier biasanya kita dapatkan pada
badan Motherboard atau buku manualnya.

Contoh
          Kita membeli Prosesor PI 200 Mhz dan motherboard yang
Penerapan
          memiliki tabel keterangan jumper FSB dan Ratio sebagai berikut :
:
             JP 1      FSB         JP 2      Ratio
              1-2     25 Mhz    1-2       2X
              1-3     50Mhz     1-3       2,5 X
              2-3    100 Mhz    2-3       4X
           Untuk mendapatkan Prosesor ID, kita memiliki dua buah alternatif
           konfigurasi sebagai berikut :

           FSB X Ratio = Prosesor ID

           1. 100Mhz X 2 = 200 Mhz
           2. 50Mhz X 4 = 200 Mhz

           Kita harus memilih nilai FSB terbesar, sehingga kita akan memilih
           alternatif pertama yaitu dengan menghubungkan pin 2-3 pada
           Jumper JP1 dan menghubungkan pin 1-2 pada JP2. Jika
           konfigurasi ini tidak stabil, maka kita dapat memilih alternatif
           kedua.

Pada beberapa motherboard terbaru, setting clock prosesor ini dilakukan tanpa jumper
atau jumperless, dimana kita melakukan settingan di dalam BIOS. Settingan ini biasanya
tidak bisa melampaui kemampuan prosesor dan motherboard sehingga jarang sekali
terjadi kesalahan setting.
Kesalahan setting jumper ditandai dengan gejala sebagai berikut :
- Komputer tiba-tiba hang saat digunakan untuk program yang cukup berat.
- Pada saat booting, tidak ada tampilan yang muncul (blank).
- Tampilan besarnya Clock Prosesor saat booting tidak sesuai dengan besarnya settingan
kita.

  OverClocking

Pada dasarnya overclocking ini sama dengan setting Prosesor ID, tetapi settingan kita
menghasilkan clock prosesor yang lebih besar dari defaultnya. Hal ini sebenarnya tidak
selalu berhasil pada jenis motherboard dan prosesor tertentu karena sekali lagi tergantung
kemampuan masing-masing. Dapat juga kita jumpai jenis-jenis motherboard yang
support pada proses overclocking dimana disediakan setting jumper yang konfigurasinya
sangat beragam.

Proses overclocking yang terlalu besar menyebabkan komputer tidak stabil dan selalu
mengalami hang pada saat digunakan. Prosentase peningkatan clock ini biasanya tidak
dapat terlalu besar dari nilai defaultnya, sehingga dinilai tidak terlalu signifikan dalam
meningkatkan kinerja komputer secara keseluruhan.

  Installasi Hardisk

Pada saat ini hardisk memiliki kapasitas data yang cukup besar (20 s/d 80 Gigabyte)
sehingga untuk mengatur penggunaan dan alokasi kapasitas hardisk, kita membaginya
dalam beberapa disk yang disebut Hardisk partition. Dengan mempartisi harddisk kita
dapat mengatur penempatan data berdasarkan jenisnya pada tempat yang kita inginkan.
Agar harddisk dapat dikenali maka harus ada file sistem yang disimpan pada Track 0 atau
disebut master boot record. File sistem ini terdiri dari tiga file (msdos.sys, command.com,
io.sys) yang dapat dimasukkan ke harddisk pada saat memformat.

Secara prinsip proses partisi adalah sebagai berikut :

   C:\            Kita asumsikan Kotak disamping ini mewakili kapasitas
             D:\
                  sebuah hardisk. Warna Kuning menunjukkan kapasitas
                  seluruh haddisk awal yang belum dipartisi, kita asumsikan
          Logical
                  isinya sebanyak 100%.
            1
             E:\ Kita mempartisi Hardisk menjadi dua bagian yaitu
Primary          Primary(Biru) dan Extended(Hijau) yang masing-masing
         Logical besarnya 50%. Disk primary akan secara otomatis dinamai
           2     dengan drive C:\ dan dapat langsung digunakan mengisi
        Extended data. Disk C: ini merupakan disk utama tempat penyimpanan
                 OS atau file-file sistem.
Contoh Peta Partisi
    Harddisk        Drive Extended belum dapat digunakan kecuali kita
                    membuat Drive Logical(Ungu dan Oranye). Pada contoh kita
                    membagi dua drive extended sehingga didapat drive D:\ dan
                    E:\ yang kapasitas totalnya sama dengan kapasitas drive
                    extended. Dari contoh kita ambil Logical 1 sebesar 40% dan
                    Logical 2 sebesar 60% dari kapasitas drive extended.




Untuk melakukan instalasi Harddisk, kita asumsikan bahwa kita baru membeli sebuah
harddisk. Kemudian kita menjalankan langkah-langkah berikut sehingga harddisk dapat
kita gunakan :

1. Pasang kabel data dan kabel power ke harddisk, usahakan memasang
    harddisk pada konektor Primary Master pada IDE 0
2. Siapkan Bootable CD atau Startup Disk.
3. Saat Booting masuk ke BIOS dan deteksi harddisk terlebih dahulu. Lihat
    BIOS Setting
4. Ubah Boot Sequence pada BIOS sehingga CD-ROM drive pada urutan
    pertama jika kita menggunakan Bootable CD, atau drive A:\ pada urutan
    pertama jika menggunakan startup disk. Lihat BIOS Setting
5. Booting dari A:\ atau CD-ROM drive, pilih option Bootable with CDROM
    support. hal ini agar kita dapat menggunakan CD-ROM pada DOS.
6. Ketik A:\FDISK untuk mempartisi harddisk.
7. Pilih sistem allokasi haddisk dengan FAT32. Lihat penjelasan mengenai
    sistem FAT 32
8. Restart komputer sehingga hasil partisi dapat digunakan.
9. Format seluruh drive hasil partisi ( Ketik A:\ format c: /s) untuk memformat
    primary disk dan mengcopy file sistem.
10. Masukkan CD-ROM master Windows kemudian ketikkan setup untuk
    menginstall Windows

								
To top