konsep-bel-org-dewasa by ashrafp

VIEWS: 47 PAGES: 9

									                                                                                                            2009
                                      Desain Pelatihan


                                                                  Chika Yunindra |1215071048

                                                                  Konsep belajar orang dewasa
     Salah satu iklan produk terkenal yang kita lihat kira-kira berbunyi, “Menjadi tua itu pasti, menjadi
dewasa itu pilihan”. kita pasti sudah memahami maksud tersiratnya. Tanpa harus kita ciptakan, masa
tua akan tiba, tetapi untuk menjadi dewasa anda harus menciptakannya. Bagimana kita
menciptakannya? Tidak lain hanyalah belajar dengan basis kehidupan menjadi dewasa. Artinya
kehidupan ini harus dijadikan materi untuk belajar dari titik keterbatasan tertentu menuju titik
kemampuan berikutnya.

      Belajar adalah perubahan yang relatif permanen dalam perilaku atau potensi perilaku sebagai
hasil dari pengalaman atau latihan yang diperkuat. Belajar merupakan akibat adanya interaksi antara
stimulus dan respon (Slavin, 2000:143). Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika dia dapat
menunjukkan perubahan perilakunya. Menurut teori ini dalam belajar yang penting adalah input yang
berupa stimulus dan output yang berupa respon.

      Belajar bagi orang dewasa adalah mencari untuk menemukan sesuatu tentang hidup tidak
sebagaimana anak-anak yang hanya menerima dan terkadang masih jauh dari isu-isu kehidupan riilnya.
Sejumlah definisi atau konsep yang dikemukakan para ahli tentang definisi belajar bagi orang dewasa
bisa anda jadikan rujukan, antara lain:

       Reg Revans (Penggagas Action Learning)

      Belajar bagi orang dewasa, menurut Reg Revans (1998) adalah proses menanyakan sesuatu
bermula dari pengalaman ketidaktahuan tentang apa yang akan dilakukan karena jawaban yang
ditemukan saat itu tidak lagi valid untuk mengatasi situasi yang sedang terjadi. Dengan kata lain,
“Learning is experiencing by exploration and discovery”.

      Bagaimana tahapan belajar orang dewasa? Dimulai dengan unconscious incompetence, conscious
incompetence, conscious competence, unconscious competence. Misalnya dalam sebuah kasus ketika
seseorang dapat mengoperasikan sebuah komputer yang awalnya tidak bisa menjadi mahir. Dimulai
dengan ketidakmampuan bawah sadarnya bahwa awalnya individu tersebut tidak mahir dan belum
membutuhkan penggunaan komputer, sehingga individu tersebut tidak perlu mengoperasikan
komputer. Tahap berikutnya berubah menjadi ketidakmampuan sadar. Dimana individu mulai belajar
mengoperasikan komputer karena perlu menggunakan komputer. Kemudian setelah belajar agar dapat
mengoperasikan komputer, individu masuk ke dalam tahap kemampuan sadar. Tahap yang terakhir
adalah kemampuan bawah sadar, dimana individu telah mahir mengoperasikan komputer sehingga
secara refleks dapat menggunakan tools yang ada dalam pengoperasiannya bahkan mungkin dapat
memperbaikinya jika terjadi kerusakan pada komputernya.
                                                                                                        2009
                                     Desain Pelatihan


      Pedagogy
     Pedagogy berasal dari bahasa Yunani “paid” yang berarti “anak” dan “agogus” yang berarti
“pemimpin dari” Oleh karena itu, pedagogy secara literal berarti “seni dan ilmu dalam mengajar anak-
anak metode ini digunakan pada sekolah monastik dan katedral di Eropa pada abad ke-7 dan abad ke-
12.

     Model pedagogi pada intinya lebih menitikberatkan pada teacher-directed education dimana guru
memiliki tanggung jawab penuh dalam membuat keputusan mengenai apa yang akan dipelajari,
bagaimana pembelajarannya dan kapan pembelajaran berlangsung. Learner hanyalah submisif dan
menerima instruksi guru.

      Pedagogy ini konsep yang biasanya dipakai di dalam pendidikan yakni bahwa Pendidikan itu
menempatkan murid/siswa sebagai obyek di dalam pendidikan, mereka mesti menerima pendidikan
yang sudah di set up oleh sistem pendidikan, di set up oleh gurunya/pengajarnya apa-apa saja yang
harus dipelajari, materi-materi apa saja yang akan diterima, yang akan disampaikan, metode
panyampaiannya,dll, itu semua tergantung kepada pengajar dan tergantung kepada sistem. Murid
sebagai obyek dari pendidikan.

      kelemahan pedagogy

      Kelemahannya adalah, bahwa dengan penerapan sistem pedagogy ini, peserta didik yang memiliki
ke unikan , talenta, minat, dan memiliki kelebihan sendiri, menjadi tidak berkembang, dan tidak bisa
mengeksplor dirinya sendiri, tidak mampu menyampaikan kebenarannya sendiri, sebab yang memiliki
kebenaran adalah masa lalu, adalah sesuatu yang sudah mapan dan sudah ada sampai sekarang.
Perbedaan bukanlah menjadi hal yang biasa, melainkan jika ada yang berbeda itu akan dianggap sebagai
sebuah perlawanan dan pemberontakan.

      Kelebihan Pedagogy

      Tetapi Pedagogy memiliki kelebihan tersendiri, yakni didalam menjaga rantai keilmuan yang sudah
diawali oleh orang-orang terdahulu, maka rantai emas dan benang merah keilmuan bisa dilanjutkan oleh
generasi mendatang. Generasi mendatang tidak perlu mulai dari nol lagi, melainkan tinggal melanjutkan
apa yang sudah ditemukan, apa yang sudah dirintis, apa yang sudah dimulai oleh generasi mendatang




      Andragogy
     Andragogi berasal dari dua kata dalam bahasa Yunani, yakni Andra berarti orang dewasa dan
agogos berarti memimpin. Perdefinisi andragogi kemudian dirumuskan sebagau “Suatu seni dan ilmu
untuk membantu orang dewasa belajar”. Kata andragogi pertama kali digunakan oleh Alexander Kapp
pada tahun 1883 untuk menjelaskan dan merumuskan konsep-konsep dasar teori pendidikan Plato.
                                                                                                    2009
                                      Desain Pelatihan


Meskipun demikian, Kapp tetap membedakan antara pengertian “Social-pedagogy” yang menyiratkan
arti pendidikan orang dewasa, dengan andragogi. Dalam rumusan Kapp, “Social-pedagogy” lebih
merupakan proses pendidikan pemulihan (remedial) bagi orang dewasa yang cacat. Adapun andragogi,
justru lebih merupakan proses pendidikan bagi seluruh orang dewasa, cacat atau tidak cacat secara
berkelanjutan.



      Langkah-langkah Pelaksanaan Andragogi

      Langkah-langkah kegiatan dan pengorganisasian program pendidikan yang menggunakan asas-
asas pendekatan andragogi, selalu melibatkan tujuh proses sebagai berikut :

     1.     Menciptakan iklim untuk belajar

     2.     Menyusun suatu bentuk perencanaan kegiatan secara bersama dan saling membantu

     3.     Menilai atau mengidentifikasikan minat, kebutuhan dan nilai-nilai

     4.     Merumuskan tujuan belajar

     5.     Merancang kegiatan belajar

     6.     Melaksanakan kegiatan belajar

     7.     Mengevaluasi hasil belajar (menilai kembali pemenuhan minat, kebutuhan dan pencapaian
              nilai-nilai.



       Prinsip-prinsip Belajar untuk Orang Dewasa

     1. Orang dewasa belajar dengan baik apabila dia secara penuh ambil bagian dalam kegiatan-
        kegiatan

     2.   Orang dewasa belajar dengan baik apabila menyangkut mana yang menarik bagi dia dan ada

          kaitan dengan kehidupannya sehari-hari.

     3.   Orang dewasa belajar sebaik mungkin apabila apa yang ia pelajari bermanfaat dan praktis

     4. Dorongan semangat dan pengulangan yang terus menerus akan membantu seseorang belajar

          lebih baik

     5. Orang dewasa belajar sebaik mungkin apabila ia mempunyai kesempatan untuk memanfaatkan
                                                                                                       2009
                                    Desain Pelatihan


        secara penuh pengetahuannya, kemampuannya dan keterampilannya dalam waktu yang cukup

     6. Proses belajar dipengaruhi oleh pengalaman-pengalaman lalu dan daya pikir dari warga belajar

     7. Saling pengertian yang baik dan sesuai dengan ciri-ciri utama dari orang dewasa membantu

        pencapaian tujuan dalam belajar.



      Karakteristik Warga Belajar Dewasa

     1. Orang dewasa mempunyai pengalaman-pengalaman yang berbeda-beda

     2. Orang dewasa yang miskin mempunyai tendensi, merasa bahwa dia tidak dapat menentukan
kehidupannya sendiri.

     3. Orang dewasa lebih suka menerima saran-saran dari pada digurui

     4.   Orang dewasa lebih memberi perhatian pada hal-hal yang menarik bagi dia dan menjadi
kebutuhannya

     5. Orang dewasa lebih suka dihargai dari pada diberi hukuman atau disalahkan

     6.      Orang dewasa yang pernah mengalami putus sekolah, mempunyai kecendrungan untuk
menilai lebih rendah kemampuan belajarnya

     7. Apa yang biasa dilakukan orang dewasa, menunjukkan tahap pemahamannya

     8. Orang dewasa secara sengaja mengulang hal yang sama

     9. Orang dewasa suka diperlakukan dengan kesungguhan iktikad yang baik, adil dan masuk akal

       10. Orang dewasa sudah belajar sejak kecil tentang cara mengatur hidupnya. Oleh karena itu ia
lebih suka melakukan sendiri sebanyak mungkin

     11. Orang dewasa menyenangi hal-hal yang praktis

      12. Orang dewasa membutuhkan waktu lebih lama untuk dapat akrab dan menjalon hubungan
dekat dengan teman baru.



      Karakteristik Pengajar Orang Dewasa

     Seorang pengajar orang dewasa haruslah memenuhi persyaratan berikut :
                                                                                                             2009
                                       Desain Pelatihan


      1. Menjadi anggota dari kelompok yang diajar

      2. Mampu menciptakan iklim untuk belajar mengajar

      3. Mempunyai rasa tanggung jawab yang tinggi, rasa pengabdian dan idealisme untuk kerjanya

      4. Menirukan/mempelajari kemampuan orang lain

     5. Menyadari kelemahannya, tingkat keterbukaannya, kekuatannya dan tahu bahwa di antara
kekuatan yang dimiliki dapat menjadi kelemahan pada situasi tertentu.

      6. Dapat melihat permasalahan dan menentukan pemecahannya



       Andragogical model didasarkan pada beberapa asumsi, yaitu:

      1) The need to know

       Orang dewasa butuh untuk tahu mengapa mereka belajar sesuatu sebelum mereka belajar, apa
konsekuensi positif ataupun negatif yang akan mereka dapatkan. Oleh karena itu, fasilitator membantu
learner untuk memenuhi rasa ingin tahu orang dewasa tersebut. Misalnya, fasilitator bisa memberikan
‘intelectual case’ yang berguna untuk memperbaiki keefektifan belajar dan performance mereka dalam
kualitas hidup mereka.

      2) The learner’s self-concept

      Orang dewasa ingin dilihat sebagai individu mampu mengerahkan diri sendiri oleh orang lain. Oleh
karena itu, adult educator harus berusaha untuk menciptakan pengalaman belajar yang membantu
adult untuk pindah dari pembelajar yang dependent ke pembelajar self-directing

      3) The role of the learner’s experience

       Adult lebih heterogen dalam gaya belajar, motivasi, intereset, dan tujuan sehingga dibutuhkan
individualisasi dalam pengajaran dan strategi belajar. Pengaruh positif dari banyaknya pengalaman pada
adult ini adalah misalnya, teknik belajar, kegiatan problem solving, dan lainnya. Sementara itu, pengaruh
negatifnya adalah adult menjadi close-minded. Oleh karena itu fasilitator harus dapat memberikan ide-
ide baru, alternatif, jalan berpikir dll.

      4) Readiness to learn

     Adult telah siap untuk mempelajari hal-hal yang ingin mereka pelajari dan mampu untuk
mengatasi secara efektif situasi dalam kehidupan nyata. Implikasi kritis dari asumsi ini adalah pentingnya
waktu pembelajaran yang harus disesuaikan dengan tugas perkembangan mereka. Namun, educator
                                                                                                        2009
                                     Desain Pelatihan


tidak dapat menunggu saja secara pasif. Bisa melalui performance dari orang yang superior, konseling
karir dll.

     5) Orientation to learning

       Adults memiliki orientasi pada hidup (life-centered atau problem-centered). Adults termotivasi
untuk belajar pada hal-hal yang dapat membantu mereka dalam mengatasi permasalahan yang mereka
hadapi dalam kehidupan. Oleh karena itu, akan lebih efektif jika ilmu-ilmu baru yang mereka hadapi
disajikan dalam konteks situasi kehidupan nyata.

     6) Motivasi

       Adults dapat merespon pada motivasi eksternal (promosi, gaji yang lebih tinggi), tapi motivasi
yang paling potensial adalah internal pressure (keinginan untuk meningkatkan kepuasan kerja, harga
diri, kepuasan hidup dll). Tough (1979) dalam penelitiannya menyatakan bahwa seluruh adults
termotivasi untuk tumbuh dan berkembang, tapi seringkali terhambat oleh halangan-halangan seperti
konsep diri yang negatif, tidak adanya kesempatan, program yang berlawanan dengan prinsip
pembelajaran adult dll.



      Andragogi dapat disimpulkan sebagai :

     1. Cara untuk belajar secara langsung dari pengalaman

     2.    Suatu proses pendidikan kembali yang dapat mengurangi konflik-konflik sosial, melalui
          kegiatan-kegiatan antar pribadi dalam kelompok belajar itu

     3.   Suatu proses belajar yang diarahkan sendiri, dimana kira secara terus menerus dapat menilai
          kembali kebutuhan belajar yang timbul dari tuntutan situasi yang selalu berubah.



      Perbedaan Pedagogy dan Andragogy

     Berdasarkan tulisannya di tahun 1993 perbedaan asumsi pedagogi dan andragogi yang
dikemukakan Knowles itu dapat dikemukakan sebagai berikut:

     1. Konsep diri peserta didik

     • Pedagogis : Pribadi yang bergantung kepada gurunya

     • Andragogis : Semakin mengarahkan diri (self-directing)

     2. Pengalaman peserta didik
                                                                                                   2009
                                 Desain Pelatihan


• Pedagogis : Masih harus dibentuk daripada digunakan sebagai sumber belajar

• Andragogis : Sumber yang kaya untuk belajar bagi diri sendiri dan orang lain

3. Kesiapan belajar peserta didik

• Pedagogis : Seragam (uniform) sesuai tingkat usia dan kurikulum

• Andragogis : Berkembang dari tugas hidup & masalah

4. Oriensi dalam belajar

• Pedagogis : Orientasi bahan ajar (subject-centered)

• Andragogis : Orientasi tugas dan masalah (task or problem centered)

5. Motivasi belajar

• Pedagogis : Dengan pujian, hadiah, dan hukuman

• Andragogis : Oleh dorongan dari dalam diri sendiri (internal incentives, curiosity)



Knowles (1993) juga melihat perbedaan proses pembelajaran orang dewasa dengan anak-anak
dalam tujuh aspek utama, yaitu suasana, perencanaan, diagnosa kebutuhan, penentuan tujuan
belajar, rumusan rencana belajar, kegiatan belajar dan evaluasinya.

UNSUR-UNSUR PROSES

1. Suasana

• Pedagogis : Tegang, rendah dalam mempercayai, formal, dingin, kaku, lambat, orientasi otoritas

  guru, kompetitif dan sarat penilaian

• Andragogis : Santai, mempercayai, saling menghargai, informal, hangat, kerjasama, mendukung

2. Perencanaan

• Pedagogis : Utamanya oleh guru

• Andragogis : Kerjasama peserta didik dengan fasilitator

3. Diagnosa kebutuhan

• Pedagogis : Utamanya oleh guru
                                                                                                              2009
                                       Desain Pelatihan


      • Andragogis : Bersama-sama: pengajar dan peserta didik

      4. Penetapan tujuan

      • Pedagogis : Utamanya oleh guru

      • Andragogis : Dengan kerjasama dan perundingan

      5. Desain rencana belajar

     • Pedagogis : Rencana bahan ajar oleh guru, Penuntun belajar(course syllabus) dibuat guru,
Sekuens logis(logical sequence), pembelajaran oleh guru.

      • Andragogis : Perjanjian belajar(learning contracts), Projek belajar(learning projects), Urutan
belajar atas dasar kesiapan(sequenced by readiness)

      6. Kegiatan belajar

      • Pedagogis : Tehnik penyajian(transmittal techniques), Tugas bacaan(assigned readings)

     • Andragogis : Projek untuk penelitian(inquiry projects), Projek untuk dipelajari(learning projects),
Tehnik pengalaman(experiential techniques)

      7. Evaluasi belajar

      • Pedagogis : Oleh guru, Berpedoman pada norma(on a curve), Pemberian angka

       • Andragogis : Oleh peserta didik berdasarkan evidensi yang dipelajari oleh rekan-rekan, fasiltator,
ahli(by learner-collected evidence validated by peers, facilitators, experts), Referensinya berdasarkan
criteria(criterion-referenced)

       Cara belajar orang dewasa, Knowles memiliki asumsi sebagai berikut:

     1. Orang dewasa perlu dibina untuk mengalami perubahan dari kebergantungan kepada pengajar
kepada kemandirian dalam belajar. Orang dewasa mampu mengarahkan dirinya mempelajari sesuai
kebutuhannya.

    2. Pengalaman orang dewasa dapat dijadikan sebagai sumber di dalam kegiatan belajar untuk
memperkaya dirinya dan sesamanya.

     3. Kesiapan belajar orang dewasa bertumbuh dan berkembang terkait dengan tugas, tanggung
jawab dan masalah kehidupannya.

    4. Orientasi belajar orang dewasa harus diarahkan dari berpusat pada bahan pengajaran kepada
pemecahan-pemecahan masalah.
                                                                                                        2009
                                     Desain Pelatihan


     5. Motivasi belajar orang dewasa harus diarahkan dari pemberian pujian dan hukuman kepada
dorongan dari dalam diri sendiri serta karena rasa ingin tahu.




Kesimpulan
     Proses belajar bagi anak-anak dan orang dewasa tidak sama. Belajar bagi anak-anak bersifat untuk
mengumpulkan pengetahuan sebanyak-banyaknya. Sedangkan bagi orang dewasa lebih menekankan
untuk apa ia belajar.

     Konsep diri pada seorang anak adalah bahwa dirinya tergantung pada orang lain. Ketika ia
beranjak menuju dewasa, ketergantungan kepada orang lain mulai berkurang dan ia merasa dapat
mengambil keputusan sendiri. Selanjutnya sebagai orang dewasa, ia memandang dirinya sudah mampu
sepenuhnya mengatur diri sendiri.

      Dalam proses pembelajaran orang dewasa (andragogi), ia menghendaki kemandirian dan tidak
mau diperlakukan seperti anak-anak, misalnya ia diberi ceramah oleh orang lain tentang apa yang harus
dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan. Apabila orang dewasa dibawa pada situasi belajar yang
memperlakukan dirinya dengan penuh penghargaan, maka ia akan melakukan proses belajar dengan
penuh penghargaan pula. Ia akan melakukan proses belajar dengan pelibatan dirinya secara mendalam.
Situasi tersebut menunjukkan orang dewasa mempunyai kemauan sendiri untuk belajar. Oleh sebab itu
perlu diketahui cara-cara yang efektif untuk pembelajaran orang dewasa.




     Sumber bacaan :

     http://www.matabumi.com/features/prinsip-pedagogi-dan-andragogi-dalam-pembelajaran

     http://re-searchengines.com/0306supriadi.html

     http://www.tiranus.net/?p=20

								
To top