teknologi pendidikan

					                      MAKALAH

PENDAYAGUNAAN TEKNOLOGI PENDIDIKAN DI
                   BERBAGAI NEGARA



Disusun untuk memenuhi tugas mandiri individu Mata Kuliah Landasan
                 Teknologi Pendidikan MTP-515.




                       DI SUSUN OLEH :


         Nama                : MIMIN AMINAH
         NIM                 : 55 2010 0249
         Program Studi       : Magister Teknologi Pendidikan (MTP)
         Masa Registrasi     : 2010.1



    UNIVERSITAS ISLAM AS- SYAFI’IYAH
        PROGRAM PASCASARJANA
    MAGISTER TEKNOLOGI PENDIDIKAN
                              2011


                                  i
                          KATA PENGANTAR


     Bismillahirrahmanirrahim, puji dan syukur ke hadirat Allah swt, karena
berkat rahmat dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan makalah ini. Solawat
beserta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad saw, dan pada para
pengikutnya, serta para sahabatnya sampai yaumil akhir.
     Makalah ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas individu Mata Kuliah
Landasan Teknologi Pendidikan dengan kode mata kuliah MTP-515. Adapun
judul makalah ini yaitu “ Pendayagunaan Teknologi Pendidikan di Berbagai
Negara”. Hal-hal yang dibahas dalam makalah ini adalah tentang pendayagunaan
teknologi pendidikan di Thailad dan penggunaan internet d berbagai negara..
     Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, baik dari
segi penyajian maupun dari kedalaman bahasa. Meskipun demikian, penulis
berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi semua fihak. Dalam penulisan
makalah ini, penulis tidak luput dari hambatan dan kesulitan. Namun, berkat
bantuan dari berbagai pihak, Alhamdulillah makalah ini dapat diselesaikan tepat
pada waktunya. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terimakasih yang sebesar-
besarnya kepada pihak yang telah membantu. Semoga amal baik yang telah
diberikan mendapat balasan dari Allah swt. Amin.




                                                      Cianjur, Mei 2011
                                                            Penulis




                                                                              i
                                                DAFTAR ISI


KATA PENGANTAR ............................................................................................. i
DAFTAR ISI ........................................................................................................... ii

BAB I             PENDAHULUAN
                  A. Latar Belakang .............................................................................1
                  B. Tujuan Penulisan ..........................................................................2

BAB II            KAJIAN PUSTAKA
                  A. Teknologi Pendidikan ...................................................................3
                  B. Negara ..........................................................................................5

BAB III           PEMBAHASAN ..................................................................................6

BAB IV            KESIMPULAN ..................................................................................18

DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................19




                                                                                                                      ii
                                   BAB I
                            PENDAHULUAN


A. Latar Belakang
        Pendayagunaan teknologi pendidikan secara nasional tidak dapat
   dipisahkan dari perkembangan pendidikan di tanah air dari dulu sampai
   sekarang. Sekolah atau lembaga pendidikan di Indonesia telah ada sejak
   zaman kolonial Belanda. Ini berarti, pendidikan secara formal telah ada sejak
   zaman itu dan tentu saja telah mendayagunakan teknologi pendidikan dalam
   menyelenggarakan pendidikan tersebut. Pada zaman kolonial Belanda,
   pelaksanaan pendidikan dan pendayagunaan teknologi pendidikan diwarnai
   dengan kepentingan-kepentingan penjajah yang ingin mencapai keuntungan
   sebesar-besarnya dengan cara menguras sumber alam dan sumber daya
   manusia.
        Pada zaman penjajahan Jepang, pendidikan dan pendayagunaan
   teknologi pendidik lebih diarahkan untuk membantu mereka menghadapi
   musuh-musuhnya dalam peperangan yang ganas. Setelah proklamasi
   kemerdekaan dikumandangkan pada tanggal 17 Agustus 1945, bangsa
   Indonesia berada pada babak baru, pendidikan pun mulai mendapat perhatian
   dan menunjukkan perkembangan tersendiri. Pada masa orde lama (sekitar
   tahun 1959 sampai tahun 1965), sistem pendidikan berkembang sejalan
   dengan laju pembangunan pada masa itu, termasuk juga pendayagunaan
   teknologi pendidikan di sekolah-sekolah.
        Sejak tahun 1965 sampai sekarang, pelaksanaan pembangunan di
   Indonesia berlangsung sangat cepat, begitu pula pembangunan bidang
   pendidikan. Upaya-upaya inovatif telah banyak dilakukan dan dukungan
   terhadap pendidikan semakin meningkat sejalan dengan kesadaran pihak
   pemerintah dan masyarakat dalam meningkatkan sumber daya manusia.
   Program pendidikan atau pendayagunaan teknologi pendidikan lebih banyak
   diarahkan guna menanggulangi masalah-masalah besar seperti masalah
   pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan, peningkatan kualitas hasil


                                                                              1
   pendidikan, relevansi pendidikan dengan kebutuhan masyarakat dan
   pembangunan, perluasan kesempatan kerja, dan masalah-masalah besar
   lainnya. Sampai akhirnya pada saat sekarang ini, di mana zaman telah
   berubah begitu pesat, pendayagunaan teknologi pendidikan diarahkan untuk
   mempersiapkan warga negara memasuki abad baru yang penuh dengan
   persaingan-persaingan global.
        Berkaitan dengan hal tersebut di atas, dalam makalah dikemukakaan
   mengenai pendayagunaan teknologi pendidikan di berbagai negara sebagai
   bahan kajian dan perbandingan dengan keadaan di negara kita Indonesia.


B. Tujuan Penulisan
        Tujuan penulisan dari makalah ini secara umum untuk mendapatkan
   informasi mengenai pendayagunaan teknologi pendidikan di negara lain dan
   sebagai bahan pembanding dalam melaksanakan inovasi pendidikan di
   negara kita Indonesia. Sementara tujuan khususnya yaitu untuk memenuhi
   salah satu tugas individu dalam mata kuliah Landasan Teknologi Pendidikan
   dengan kode MTP-515.




                                                                            2
                                  BAB II
                          KAJIAN PUSTAKA


A. Teknologi Pendidikan
        Definisi MacKenzie dan Eraut 1971. Definisi dari Inggris ini cukup
   jelas tetapi tampaknya terlalu luas untuk digunakan dalam mendeskripsikan
   teknologi pendidikan secara akurat.
        Teknologi pendidikan merupakan studi sistematik mengenai cara
   bagaimana tujuan pendidikan dapat dicapai (seperti yang dikutip oleh Ely,
   1973:52).
        Definisi terdahulu meliputi istilah-istilah “mesin”, “instrumen”, atau
   “media”. Definisi terakhir ini merupakan definisi pertama yang tidak
   menyebutkan perangkat keras maupun perangkat lunak. Definisi ini
   berorientasi pada proses dalam bidang; meskipun perangkat keras dapat
   tersirat sebagai bagian dari cara. Penggunaan kata “studi” dalam definisi
   MacKenzie dan Eraut ini tidak secara eksplisit mengacu pada isu yang ada,
   namun menyiratkan adanya penekanan bahwa Teknologi Pembelajaran
   merupakan suatu usaha intelektual dibandingkan dengan dua definisi tahun
   1970 sebelumnya. Istilah “studi” itu menunjukkan pengkajian pada cara. Hal
   ini mempunyai makna yang lebih luas daripada studi tentang gambar dan
   pesan yang tidak direpresentasikan. Demikian juga istilah “studi sistematik
   mengenai cara” mengandung pengertian bahwa teknologi pendidikan
   dianggap sebagai suatu bidang kajian. MacKenzie dan Eraut menyarankan
   bahwa teknologi pendidikan merupakan suatu bidang disiplin akademik.
   Meskipun gagasan ini tidak diakomodasikan dalam definisi berikutnya,
   namun gagasan itu ditampilkan kembali dalam definisi tahun 1994.
        Definisi AECT 1972. Definisi berikut ini diakui Asosiasi sebagai hasil
   garapan dari Komisi Definisi dan Terminologi yang aktif pada saat itu.
   Teknologi pendidikan adalah suatu bidang yang berkepentingan dengan
   memfasilitasi belajar pada manusia melalui usaha sistematik dalam
   identifikasi, pengembangan, pengorganisasian, dan pemanfaatan berbagai


                                                                            3
macam sumber belajar serta dengan pengelolaan atas keseluruhan proses
tersebut (AECT,1972:36)
     Definisi ini menyatakan bahwa teknologi pendidikan merupakan proses
sistematik untuk mengembangkan dan memanfaatkan sumber belajar.
Gagasan ini merupakan dibawa dari definisi tahun 1963, 1970, dan 1971,
serta dimasukkan dalam definisi tahun 1994. Banyak peran yang
diidentifikasikan dalam definisi sebelumnya diulang dalam definisi ini
(misalnya pengembangan, organisasi, pengelolaan dan pemanfaatan).
Definisi   tahun   1972   berusaha untuk     mengidentifikasikan    teknologi
pendidikan sebagai suatu bidang (Ely, 1972). Gagasan mengenai “kendali”
dan “tujuan khusus” dalam definisi ini diganti dengan gagasan “proses” yaitu
‘memfasilitasi belajar pada manusia” (Ely, 1983). Definisi ini membuka
kemungkinan bahwa teknologi pendidikan dapat memperhatikan tujuan
selain tujuan khusus yang telah ditetapkan terlebih dahulu. Penggunaan
istilah “memfasilitasi” dalam definisi ini nampaknya berakhir dalam definisi
ini, meskipun Ely berpendapat bahwa istilah “fasilitasi” itu lebih baik dari
istilah “kendali” seperti dalam definisi tahun 1963. (Ely, komunikasi pribadi,
Januari 1993).
     Suatu karakteristik definisi 1972 adalah keputusan untuk menetapkan
komunikasi audiovisual sebagai suatu bidang studi. Ketentuan ini
mengembangkan gagasan bahwa teknologi pendidikan merupakan suatu
profesi. Dalam proses pengembangan definisi ini terjadi perdebatan falsafah
yang penting antara Robert Heinich dan Kenneth Silber. Heinich bersikukuh
bahwa bidang itu harus didefinisikan dengan konsep “sistem”, sedang Silber
menekankan pada fungsi pembelajaran individual sebagai karakteristik
utama.
     Definisi AECT 1977. Definisi resmi yang lengkap tertulis sepanjang 16
halaman. Berikut ini ringkasannya.
     Teknologi pendidikan adalah proses kompleks yang terintegrasi
meliputi orang prosedur, gagasan, sarana dan organisasi untuk menganalisis




                                                                            4
   masalah dan merancang, melaksanakan menilai dan mengelola pemecahan
   masalah dalam segala aspek belajar pada manusia .(AECT, 1977: 1)
         Definisi tahun 1977 ini berusaha mengidentifikasikan teknologi
   pendidikan sebagai suatu teori, bidang dan profesi. Definisi sebelumnya,
   kecuali definisi tahun 1963, tidak menekankan teknologi pendidikan sebagai
   suatu teori. Perubahan istilah “men” dalam definisi sebelumnya menjadi
   “people” mempunyai makna yang perlu dicatat, yaitu bahwa telah tumbuh
   kesadaran tentang gender, baik oleh Komisi maupun organisasi AECT.


B. Negara
         Negara itu adalah suatu organisasi kekuasaan. Para ahli mengatakan
   definisi tentang negara antara lain; “Roger H. Soltau, Negara adalah alat
   (agency) atau wewenangnya (authority) yang mengatur atau mengendalikan
   persoalan-persoalan bersama atas masyarakat” (The state is an agency or
   authority managing or controlling these common affairs on behalf of and in
   the name of the community).
         Negara adalah suatu wilayah di permukaan bumi yang kekuasaannya
   baik politik, militer, ekonomi, sosial maupun budayanya diatur oleh
   pemerintahan yang berada di wilayah tersebut.
         Syarat primer sebuah negara adalah memiliki rakyat, memiliki wilayah,
   dan memiliki pemerintahan yang berdaulat. Sedangkan syarat sekundernya
   adalah mendapat pengakuan dari negara lain.
         Negara adalah pengorganisasian masyarakat yang mempunyai rakyat
   dalam suatu wilayah tersebut, dengan sejumlah orang yang menerima
   keberadaan organisasi ini. Syarat lain keberadaan negara adalah adanya suatu
   wilayah tertentu tempat negara itu berada. Hal lain adalah apa yang disebut
   sebagai kedaulatan, yakni bahwa negara diakui oleh warganya sebagai
   pemegang kekuasaan tertinggi atas diri mereka pada wilayah tempat negara
   itu berada.




                                                                             5
                                      BAB III
                               PEMBAHASAN


      Sebelum membahas tentang pendayagunaan teknologi pendidikan di
berbagai negara terlebih dahulu ingin dipaparkan        pertumbuhan penggunaan
internet di dunia karena hal ini sangat menarik untuk di cermati sebab internet saat
ini merupakan gambaran teknologi pendidikan yang sangat populer dan banyak
digunakan di berbagai negara, data berikut ini dapat memperlihatkan bagaimana
pertumbuhan yang terjadi pengguna internet di dunia sungguh mencengangkan.
      Perkiraan NUA Suravey dimana jumlah user pada Februari 1999 mencapai
153,5 juta, sementara pada awal 2000 berada pada angka 248,6 juta pengguna.
Artinya, pada waktu itu terjadi pertumbuhan sebanyak 95,1 juta pengguna baru.
Sebulan kemudian menjadi 275,54 juta user dalam waktu sebulan tersebut
bertambah hampir sebanyak 27 juta user tepatnya sebanyak 26,94 juta. Lebih
detailnya bisa anda lihat bersama dalam tabel berikut ini.


                              Tabel Internet Users
                 Pertumbuhan user Internet di beberapa negara
      Region         As of Feb 1999       As of Jan 2000        As of Feb 2000
 Word total          153,50 milion      248.60    milion      275.54   milion
 Africa              1.14    milion     2.36      milion      2.46     milion
 Asia/pacific        26.55   milion     42.60     milion      54.90    milion
 Europa              33.71   milion     64.23     milion      71.99    milion
 Midle east          0.78    milion     1.29      milion      1.29     milion
 Canada & USA        87.00   milion     131.10    milion      136.06    milion
 South america       4.50    milion     7.10      milion      8.79      milion
                                                              Source : Nua internet


      Sementara di Indonesia dari sekitar 210 juta penduduk Indonesia,
berdasrkan data dari Asosiasi penyelenggara jasa internet indonesia (APJII) April




                                                                                  6
1999 jumlah pelanggan yang ada pada tahun 2000, adalah sebanyak 384.000,
sedangkan pengguna internet sebanyak 1.450.000 user.
        Pertumbuhan tertinggi yang terjadi dari 1996 sampai 2000, terjadi antara
1998 dan 1999. Anehnya, meski pada saat ini merupakan waktu krisis yang sangat
berat di Indonesia, pertumbuhan pengguna internet mengagumkan, yaitu
bertambah sebanyak 237.5% dari tahun sebelumnya.


                       Tabel Pengguna Internet Indonesia
                          Pengguna internet Indonesia
        Tahun             Subcriber             Users          Pertumbuhan %

         1996              31.000              110.000
         1997              75.000              384.000               349%
         1998              134.000             421.000              109.6%
         1999              256.000            1.000.000             237,5%
         2000              384.000            1.450.000              145%
         2001              511.000            1.980.000              137%
         2005              845.000            3.786.000              312%
         2006             1040.0000           5.878.000              357%
                                                        Source APJII, Agustus 2006


        Dari hasil survey yang dikeluarkan oleh AC NEILSEN, kebanyakkan akses
ke internet di Indonesia khususnya langsung dari kantor sebanyak 52% warnet
26%, sekolah/kampus 19%, rumah saudara 13% rumah sendiri 11%, umumnya
lebih banyak untuk mengakses surat elektronik atau yang dikenal dengan istilah e-
mail.
        Sedangkan menurut survey tempo, dari warung internet sebanyak 62%,
kantor 30%, rumah 23%, sekolah/kampus/tempat kursus 18%, rumah teman 7%,
dan rumah saudara sebanyak 2%.
        Pembahasan selanjutnya akan memaparkan pendayagunaan teknologi
pendidikan di salah satu negara tetangga, yang sengaja dikutif dari Dewi Salma
Prawiradilaga & Eveline Siregar dalam Mozaik teknologi Pendidikan (2008) yaitu
negara Thailand sebagai berikut.


                                                                                7
      Di antara Negara-negara di Asia Tenggara, Thailand menempati urutan
keempat dilihat dari jumlah penduduknya, setelah Indonesia, Filipina, dan
Vietnam. Pada tahun 2002 penduduk Thailand berjumlah 63,66 juta orang. Dari
jumlah tersebut 47,91 juta orang berusia di atas 15 tahun sedang sisanya (15,75
juta) di bawah 15 tahun. Dari kelompok di atas 15 tahun 34,44 juta telah bekerja
sedang sisanya 13,47 juta belum. Jumlah yang bekerja disektor pertanian lebih
kecil (14,63 juta) dibanding dengan mereka yang bekerja di luar sektor pertanian
(19,12 juta).
      Kerangka kerja pembangunan pendidikan di Thailand didasarkan atas
Undang-Undang Kerajaan 1977 dan Undang-Undang               Nasional 1999 yang
memberikan prinsip-prinsip dan arahan bagi pembangunan pendidikan agar
mampu menyiapkan semua orang Thailand memasuki masyarakat belajar di
lingkungan ekonomi yang berbasis pengetahuan. Atas dasar kedua dokumen
tersebut Rencana Pembangunan Pendidikan Nasional telah dirumuskan untuk
jangka waktu 15 tahun (2002-2006) dengan menekankan pendidikan yang bernutu
dan merata bagi seluruh warga negaranya sehingga mereka dapat menikmati
hidup yang lebih baik.
      Dalam Undang-Undang Pendidikan mereka Thailand secara tegas
menggariskan kebijakan pendayagunaan teknologi untuk pendidikan. Hal itu
terlihat dengan adanya Bab 9 yang khusus mengenai Teknologi untuk Pendidikan,
yang menekankan bahwa :
-   Negara akan membagikan frekuensi, peralatan transmisi signal dan
    persyaratan infrastruktur lainnya yang diperlukan untuk siaran radio, televisi,
    radio telekomunikasi dan media komunikasi lainnya untuk memberikan
    pendidikan sekolah, luar sekolah, maupun pendidikan informal dan untuk
    meningkatkan keagamaan, seni dan budaya sesuai dengan keperluan. (Ayat
    63)
-   Negara akan mempromosikan dan mendukung produksi dan perbaikan buku
    teks, buku referensi, buku-buku ilmiah, publikasi, bahan-bahan dan tenologi
    untuk pendidikan lainnya melalui percepatan kemampuan produksi,
    pemberian subsidi dana untuk produksi dan insentif bagi para produser, dan


                                                                                 8
    pengembangan teknologi untuk pendidikan. Untuk itu kompetisi sehat akan
    diberlakuakan. (Ayat 64)
-   Langkah-langkah perlu dilakukan untuk pengembangan tenaga baik produser
    maupun pengguna teknologi untuk pendidikan sehingga mereka memiliki
    pengetahuan,    kemampuan dan keterampilan         yang diperlukan untuk
    memproduksi dan mendayagunakan teknologi yang tepat guna, bermutu
    tinggi dan efisien. (Ayat 65)
-   Warga belajar memiliki hak untuk mengembangkan kemampuannya dalam
    mendayagunakan teknologi untuk pendidikan sedini mungkin sehingga
    mereka memiliki cukup pengetahuan dan keterampilan dalam menggunakan
    teknologi tersebut untuk mendapatkan pengetahuan secara mandiri sepanjang
    hidupnya. (Ayat 66)
-   Negara akan mempromosikan penelitian dan pengembangan; produksi dan
    pembaruan teknologi untuk pendidikan; serta tindak lanjut, pengecekan, dan
    penilaian penggunaannya sehingga benar-benar tepat guna dan tepat biaya
    dalam menunjang proses belajar orang Thailand. (Ayat 67)
-   Untuk itu sumber pendanaan perlu digali dan dimobilisasi untuk membentuk
    Dana Pengembangan Teknologi untuk Pendidikan. Sumber dana ini
    hendaknya mencakup subsidi negara, biaya konsesi dan keuntungan dari
    usaha berkaitan dengan media massa dan informasi dan teknologi komunikasi
    dari semua sektor yang terkait, seperti misalnya sektor negara, swasta dan
    organisasi masyarakat lainnya. Biaya khusus hendaknya diterapkan untuk
    penerapan teknologi tersebut bagi pengembangan sumber daya manusia dan
    masyarakat. Kriteria dan produser pembagian dana untuk produksi, penelitian
    dan pengembangan teknologi untuk pendidikan ini akan digariskan dalam
    peraturan departemen. (Ayat 68)
-   Negara hendaknya mendirikan unit pusat yang bertanggung jawab untuk
    mengajukan kebijakan, rencana, promosi dan koordinasi penelitian,
    pengembangan dan pemanfaatan teknologi untuk pendidikan, termasuk hal-
    hal yang berkaitan dengan penilaian mutu dan efisiensi produksi serta aplikasi
    teknologi untuk pendidikan tersebut. (Ayat 69)


                                                                                9
         Dari dokumen tersebut tampak bahwa Thailand yakin benar akan
pentingnya peranan teknologi pendidikan untuk peningkatan mutu pendidikan dan
perluasan kesempatan belajar. Jelas pula terlihat bagaimana kemauan politis
pemerintah dalam mendayagunakan teknologi untuk kepentingan seluruh warga
negaranya. Baik dalam Undang-Undang Kerajaan Thailand maupun Undang-
Undang Pendidikan mereka jelas digariskan tetang pemanfaatan teknologi untuk
pendidikan. Dalam konsep mereka teknologi tersebut mencakup berbagai macam
media sebagai berikut: media siaran, termasuk radio, radio telekomunikasi,
televisi, dan media komunikasi lainnya; media cetak seperti misalnya buku teks,
referensi, buku-buku ilmiah dan berbagai media cetak lainnya; dan media
nontradisional atau media yang baru seperti misalnya computer dan internet.
         Untuk mewujudkan kebijakan tersebut beberapa langkah berikut akan
diambil :
1.   Pembentukan lembaga yang menangani siaran;
2.   Pengembangan kebijakan dan rencana siaran;
3.   Pengembangan infrastruktur dan sistem;
4.   Pengembangan bahan-bahan dan teknologi lainnya; serta
5.   Pengembangan ketenagaan dan warga belajarnya.
         Sejumlah rencana dan kebijakan telah pula disusun untuk menunjang
pemasyarakatan teknologi untuk pendidikan sebagai berikut:
1) Rencana Pengembangan Komunikasi Massa dan ICT untuk pengembangan
     manusia    dan   masyarakat   (1999-2008).    Rancangan    ini   menekankan
     pengembangan manusia dan masyarakat dan menekankan bahwa komunikasi
     massa (media siaran dan media cetak) serta ICT sebagai alat yang vital.
2) Rencana Induk berkenaan dengan media siaran. Ada tiga rencana induk yang
     telah disusun Departemen Pendidikan Thailand berkaitan dengan media
     siaran:
     -     Rencana Induk Siaran Radio
     -     Rencana Induk Televisi Pendidikan
     -     Rencana Induk Multimedia Pendidikan




                                                                               10
3) Kebijakan berkaitan dengan produksi, pengembangan dan pemanfaatan
    bahan-bahan dan teknologi untuk pendidikan lainya telah diterbitkan pada
    Desember 2002 yang lalu.


    Ada tiga aspek yang digariskan dalam kebijakan tersebut :
    -   promosi dan dukungan pada produksi dan pengembangan bahan ajar serta
        teknologi pendidikan lainnya sesuai dengan kurikulum inti Pendidikan
        Dasar 2002;
    -   penilaian mutu bahan-bahan dan teknologi pendidikan lainnya; serta
    -   pemilihan dan pemanfaaatan bahan-bahan serta teknologi pendidikan
        lainnya.
           Untuk menerapkan kebijakan tersebut Keputusan Menteri telah
    dikeluarkan     untuk   mempromosikandan      mendukung      produksi    serta
    pengembangan bahan ajar dan teknologi lainnya untuk semua mata pelajaran
    dan jenjang; menjamin persaingan yang sehat dan terbuka dan menganjurkan
    lembaga-lembaga pendidikan untuk membeli dan menggunakan bahan-bahan
    ajar serta teknologi lainnya yang bermutu baik untuk menunjang proses
    belajar mengajarnya.
4) Kebijakan IT Nasional. Pada tahun 2001 kebijakan dalam IT tingkat nasional
    dirancang oleh Pusat Teknologi Komputer dan Elektronik Nasional
    (NECTEC) bekerja sama dengan NESDB serta organisasi-organisasi terkait
    dari sektor swasta dan di bawah supervisi Departemen Science dan
    Teknologi.     Kebijakan   yang   disyahkan   pada   Maret   2002   tersebut
    menggariskan berbagai strategi berkaitan dengan e-government, e-commerce,
    e-industry; e-education dan e-society. Khusus yang menyangkut e-education
    strategi yang ditempuh meliputi; pelatihan guru, pengembangan materi,
    pengembangan jaringan kerja system administrasi pendidikan, peningkatan
    penggunaan ICT, dan pengembangan infra struktur ICT.




                                                                               11
   Tujuan jangka panjangnya adalah bahwa :
   -   Semua sekolah pada tahun 2010 harus sudah terhubungkan dengan
       jaringan IT; dan
       o Komputer atau IT akan digunakan sebagai bagian integral proses
          belajar-mengajar di semua jenjang pendidikan. Paling tidak pada tahun
          2006 penggunaan komputer dan IT akan meningkat menjadi 10%
          sedangkan 4 tahun kemudian 2010 menjadi 30%.
5) Rencana Induk ICT Nasional untuk Pendidikan (2004-2006). Untuk
   merumuskan kebijakan dan rencana pengembangan berkaitan dengan
   teknologi untuk pendidikan Rencana Induk ICT untuk Departemen
   Pendidikan telah disusun oleh Departemen Pendidikan, Departemen
   Pendidikan Tinggi (MUA) dan Kantor Komisi Pendidikan Nasional (ONEC).
   Lebih dari 24 miliar Bath dianggarkan untuk melaksanakan rencana induk
   tersebut selama kurun waktu 3 tahun. Pada tahun 2004 biaya yang yang
   tersedia sekitar 9 miliar Bath (per Januari 2004 1 Bath = Rp 215.-). Untuk
   melaksanakan rancangan ini telah dibentuk empat komisi yang bertugas
   melakukan mensupervisi terhadap:
   -    pengembangan perangkat lunak untuk pendidikan;
   -    pengembangan dan perawatan jaringan pendidikan;
   -    pengembangan ketenangan dalam bidang ICT; dan
   -    pelaksanaan strategi yang berkaitan dengan ICT untuk pendidikan.
         Khusus mengenai akses ke Internet, rencana tersebut telah pula
   menargetkan bahwa pada tahun 2003 semua sekolah lanjutan di Thailand
   diharapkan telah dapat mengakses Internet. Tahun berikutnya (2004)
   ditargetkan 80% SD sudah terhubungkan Internet dan pada tahun 2005 semua
   lembaga pendidikan jejang dasar sudah bisa menikmati layanan Internet.
6) Proyek EDNET (National Education Network). Selama kurun waktu 3 tahun
   (2002-2005) proyek ini menangani 5 kegiatan;
   -    Rencana Pengembangan Infrastruktur IT;
   -    Rencana produksi media elektronik untuk belajar-mengajar;
   -    Rencana pengembangan ketenagaan untuk ICT; dan


                                                                            12
    -     Rencana penelitian dan pengembangan sambungan (connectivity)
          internasional.

        Dalam hal pengembangan infrastruktur yang akan dilakukan adalah
pengadaan Backbone, 10 regional nodes dan 79 distribution nodes dan juga
access nodes ke beberapa pusat jaringan dan lembaga pendidikan di 79 provinsi.


Siaran Radio Pendidikan
        Thailand memiliki 514 stasiun siaran radio dan dari jumlah tersebut 25
stasiun khusus dirancang untuk tujuan pendidikan. Proporsi frekuensi yang
dibagikan adalah sebagai berikut: 12 stasiun untuk pendidikan tinggi, 11 stasiun
untuk jaringan radio pendidikan nasional, dan 2 stasiun dengan 3 frekuensi untuk
Departemen Pendidikan.
        Pada jenjang pendidikan dasar Pusat Teknologi Pendidikan Thailand
menyiapkan program-program suplemen untuk pendidikan sekolah, luar sekolah,
dan informal. Pada jenjang pendidikan tinggi, stasiun radio yang dikelola oleh
perguruan tinggi masing-masing seperti misalnya Universitas Chulalongkorn,
Kasetsart, dan Universitas Thamasat dan Rajamanggala Institute of Technology
(RIT) menyiarkan proram-program pengetahuan umum dan hiburan.


Siaran Televisi Pendidikan
        Siaran TV Pendidikan di Thailan yang dimulai sejak tahun. Ditangani oleh
lembaga-lembaga berikut:
-   Pusat Teknologi Pendidikan, yang memproduksi program TV pendidikan
    untuk siswa kelas 3-9, untuk sasaran pendidikan luar sekolah setingkat kelas
    7-12, tingkat-tingkat awal pendidikan kejuruan, pendidikan informal serta
    berita-berita pendidikan. Program-program ini disiarkan di TV Thailand
    saluran 11.
-   Untuk pendidikan tinggi, Shukhotai Thamatirat Open University (STOU) dan
    Rajamanggala Institute of Technology (RIT) memproduksi program-program
    pengajaran siaran langsung untuk para mahasiswa mereka. STOU



                                                                             13
    menggunakan saluran 11 sementara RIT menyiarkan programnya melalui C
    band.
-   Distance Learning Foundation (DLF). Yayasan yang didirikan pada tahun
    1995 ini menyiarkan program TV melalui satelit siaran langsung ke sasaran
    tanpa melalui stasiun relay. Siaran pertama dilakukan pada 5 Desember 1995.
    Dengan stasiun radio dan TV khusus yang terletak di Sekolah Wang
    Klaikangwon, Hua Hin, sekitar 200 km selatan Bangkok, yayasan ini
    menyiarkan pelajaran SD dan SL dengan menggunakan satelit siaran
    langsung setiap harinya mulai dari kelas I hinga kelas 12, mulai jam 8 pagi
    hingga 4 sore. Vocational College di Wang Klaikangwon menyiarkan
    pelajaran tentang home economics, mechanics, elektronika, ilmu computer
    dan lain-lain. Sementara RIT kampus Wang Klaikangwon memberikan
    kuliah-kuliah jenjang pendidikan tinggi.


     Mulai tahun 1999 siaran ditambah jamnya sehingga berlangsung selama 24
jam setiap harinya. Di akhir pekan, ada siaran akhir pekan mengenai ujian masuk
perguruan tinggi. Sejak tahun 1999 sejumlah 3.000 sekolah di bawah Direktorat
Pendidikan Umum, termasuk sekolah keagamaan dan swasta di wilayah Thailand
telah dilengkapi dengan peralatan penerima program belajar jarak jauh yang
dipasang secara cuma-cuma oleh Angkatan Bersenjata Thailand. Pada Jenjang
sekolah dasar sejak Mei 2003, yayasan ini bekerjasama dengan Komisi Nasional
Pendidikan Dasar (national Commission of Primary Education) semacam
Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah kita, memulai program
siarannya untuk menayangkan pelajaran SD kelas 1 – 6 dengan menggunakan 6
saluran yang lain. Untuk memungkinkan komunikasi dua arah Telephone
Organization of Thailand (atau setelah diswastakan menjadi TOT Corporation
Public Company Ltd) menyumbangkan 4 sambungan telepon toll-free serta
fasilitas faximile. Komunikasi interaktif melalui TV Confreencing serta visual satu
arah dan audio dua arah memungkinkan 3 juta siswa mengikuti program tanya
jawab serta pertukaran guru dan siswa antara sekolah terpencil dan induknya.




                                                                                14
     Program-program DLF juga disiarkan selama 24 jam per hari di 6 salauran
TV UBC (saluran 11- 16). Keempat belas saluran (12 tentang pendidikan dasar, 1
untuk saluran internasional dan 1 lagi untuk masyarakat dan pendidikan tinggi
dapat diterima dengan KU Band receiver di Yunan (China), Kamboja, Vietnam,
dan Laos. Data statistik menunjukkan bahwa di awal tahun ajaran 2000 yang lalu
2.700 sekolah di seluruh wilayah Thailand telah memetik manfaat dari program
Belajar Jarak jauh lewat satelit ini. Pada tahun 2003 jumlah sekolah yang
mengikuti program ini adalah 3.140 Sekolah Lanjutan dan 1.500 Sekolah Dasar.
     Mulai    September    2000,   Universitas    Terbuka   Thailand    (STOU)
mendapatkan satu saluran (12) untuk menyiarkan program-program IPA,
teknologi, lingkungan budaya dan musik setiap Senin hingga Jum’at mulai jam
18.00 – 20.00 dan setiap Sabtu dan Minggu antara pukul 08.30 – 20.00.
     Untuk mengatasi masalah tidak tersedianya gedung dan fasilitas pendidikan
serta guru di sekolah-sekolah agama (Pondok Pesantren) di daerah rawan
kerusuhan (Thailand Selatan) akhir bulan Februari 2004 yang lalu Pemerintah
Thailand, atas intruksi raja, telah menggariskan kebijakan untuk mendayagunakan
program-program DLF untuk memberikan layanan pendidikan alternative.
Pelajaran seperti Bahasa Inggris, IPA, Kimia, dan Fisika akan disiarkan langsung
ke- 82 Pondok Pesantern di provinsi Yala, Pattani, Narathiwat, dan Songkhla yang
selama ini hanya mengajarkan Agama Islam saja.
     Thailand juga menyadari bahwa untuk menunjang pendayagunaan teknologi
untuk pendidikan diperlukan tenaga yang andal dalam pengembangan dan
pemanfaatannya. Oleh karena itu, pengembangan kemampuan pendidik maupun
warga belajarnya juga mendapatkan perhatian serius. Upaya ini difokuskan pada
peningkatan kemampuan produser dan pengguna teknologi dalam memproduksi
dan menggunakan teknologi untuk pendidikan yang memungkinkan mereka
belajar sepanjang hayat.
     Departemen ICT baru-baru ini meluncurkan proyek “The Usage of ICT in
develoving the Capability of Thai Children”.Proyek berdurasi Februari 2003
hingga Juni 2004 ini menempuh 4 strategi pokok:




                                                                             15
-   strategi untuk siswa-siswa yang tidak memiliki latar belakang pengetahuan,
    sedang belajar di sekolah yang tak memilki computer dan fasilitas lainnya;
-   strategi untuk siswa-siswa yang memiliki sedikit latar belakang, sedang
    belajar di sekolah yang memiliki computer serta fasilitas lainnya;
-   strategi untuk guru-guru dan sekolah; serta
-   strategi untuk semua siswa.


     Pada jenjang pendidikan tinggi telah pula disusun Rencana Induk ICT untuk
pendidikan tinggi (2002-2006). Rencana ini yang mengarah pada pelatihan
kemampuan staf pengajar dan tenaga kependidikan di lembaga pendidikan tinggi
dalam kemampuan berkaitan dengan IT dimaksudkan untuk mencapai dua sasaran
sebagai berikut:
-   mengembangkan perancang dan pengguna teknologi pendidikan untuk
    memasyarakatkan     belajar   mandiri   serta   penerapan   teknologi   dalam
    pendidikan dan dalam mengakses informasi dan
-   melatih 40% dari tenaga di lembaga pendidikan tinggi dalam penggunaan dan
    pembuatan teknologi untuk pendidikan.


     Hampir semua lembaga pendidikan tinggi telah memasukkan latihan
keterampilan ke IT-an ke staf pengajar, tenaga kependidikan sera mahasiswanya
dalam rencana induk mereka.
     Departemen Pendidikan Thailand sendiri telah pula merancang dan
melaksanakan pelatihan untuk guru, siswa serta tenaga kependidikannya. Bersama
JICA, misalnya, mereka memiliki proyek 3 tahun yang melatih 3.000 guru di
beberapa provinsi dalam hal penggunaan komputer. Sementara itu pada tahun
anggaran 2002 yang lalu telah dilatih sebanyak 203.475 guru, staf fakultas serta
tenaga kependidikan dalam 6 mata tataran sebagai berikut:
-   kemampuan dasar komputer dan Internet,
-   administrasi jaringan IT,
-   komputer tingkat lanjut dan Internet,
-   pengembangan perangkat lunak, media dan learning contents,


                                                                                 16
-   pelatihan penggunaan perangkat lunak yang dikembangkan oleh Departemen
    Pendidikan Thailand, serta
-   pelatihan khusus bagi tenaga IT.




                                                                       17
                                  BAB IV
                              KESIMPULAN


     Guru    perlu memiliki wawasan mengenai pendayagunaan teknologi di
negara lain. Wawasan mengenai pendayagunaan teknologi di tempat atau negara
lain tersebut sedikitnya akan memberikan pemahaman yang lebih luas kepada
guru mengenai sejauh mana kemajuan-kemajuan yang telah dicapai dan kendala-
kendala dalam pendayagunaan teknologi di negara lain, di mana hal tersebut dapat
dijadikan sebagai bahan kajian dan perbandingan dalam pelaksanaan pendidikan
di Indonesia. Dengan segala keterbatasan saya, dalam mengemukakan secara
singkat mengenai pendayagunaan teknologi di berbagai negara dengan harapan
rekan-rekan dapat menyumbangkan informasi lain mengenai pendayagunaan
teknologi di negara-negara lain, di luar negara yang telah dipaparkan dari buku
atau sumber lainnya.




                                                                             18
                          DAFTAR PUSTAKA



Deni        Darmawan, M.Si. dkk. Dasar Teknologi Informasi dan Komunikasi
            UPI PRESS.

Dewi      S. Prawiradilaga dan Eveline Siregar. (2004). Mozaik Teknologi
             Pendidikan.Jakarta: UNJ bekerjasama dengan Kencana.

http//bocaherror.wordpress.com

Miarso,      Yusufhadi. (2004). Menyemai benih Teknologi Pendidikan. Jakarta
             Pustekkom Diknas bekerjasama dengan Kencana.

Seels, Barbara B. And Rita C.Richey, Teknologi Pembelajaran (terjemahan). Seri
             Pustaka Teknologi Pendidikan No.12. Jakarta :IPTPI & Jurusan KTP
             UNJ (1994).




                                                                            19

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:599
posted:5/15/2011
language:Indonesian
pages:22