Documents
Resources
Learning Center
Upload
Plans & pricing Sign in
Sign Out

Transpirasi

VIEWS: 939 PAGES: 3

									                               TRANSPIRASI TUMBUHAN
                                oleh John Andreson Keo
                                email: yandriskeo@rocket mail.co m
                                      facebook: Yandris Keo
                                      twitter: Yandris_Keo



        Air merupakan salah satu faktor penentu bagi berlangsungnya kehidupan tumbuhan.
Banyaknya air yang ada didalam tubuh tumbunhan selalu mengalami fluktuasi tergantung
pada kecepatan proses masuknya air kedalam tumbuhan, kecepatan proses penggunaan air
oleh tumbuhan, dan kecepatan proses hilangnya air dari tubunh tumbuhan. Hilangnya air dari
tubuh tumbuhan dapat berupa cairan dan uap atau gas. Proses keluarnya atau hilangnya air
dari tubuh tumbuhan dapat berbentuk gas keudara disekitar tumbuhan dinamakan transpirasi.
(Anonimus, 2010)
        Transpirasi dapat diartikan sebagai proses kehilangan air dalam bentuk uap dari
jaringan tumbuhan melalui stomata (Wardiana, 2008). Kemungkinan kehilangan air dari
jaringan lain dapat saja terjadi, tetapi porsi kehilangan tersebut sangat kecil dibandingkan
dengan yang hilang melalui stomata. Oleh sebab itu, dalam pe rhitungan besarnya jumlah air
yang hilang dari jaringan tanaman umumnya difokuskan pada air yang hilang melalui stomata
(Wardiana, 2008).


    Dalam bukunya, Loveless (1991; seperti yang dikutip Vansaka, 2010) menyatakan ada
dua tipe transpirasi yaitu :
    1) Transpirasi Kutikula.
        Adalah evaporasi air yang tejadi secara langsung melalui kutikula epidermis. Kutikula
        daun secara relatif tidak tembus air, dan pada sebagian besar jenis tumbuhan
        transpirasi kutikula hanya sebesar 10 persen atau kurang dari jumlah air yang hilang
        melalui daun-daun. Oleh karena itu, sebagian besar air yang hilang terjadi melaui
        stomata.
    2) Transpirasi Stomata
        Sel-sel mesofil daun tidak tersusun rapat, tetapi diantara sel-sel tersebut terdapat
        ruang-ruang udara yang dikelilingi oleh dinding-dinding sel mesofil yang jenuh air.
        Air menguap dari dinding-dinding basah ini ke ruang-ruang antar sel, dan uap air
        kemudian berdifusi melalui stomata dari ruang-ruang antar sel ke athmosfer di luar.
        Sehingga dalam kondisi normal evaporasi membuat ruang-ruang itu selali jenuh uap
        air. Asalkan stomata terbuka, difusi uap air ke athmosfer pasti terjadi kecuali bila
        atmosfer itu sendiri sama-sama lembap.


        Transpirasi pada tumbuhan yang sehat sekalipun tidak dapat dihindarkan dan jika
berlebihan akan sangat merugikan karena tumbuhan akan menjadi layu bahkan mati.
Sebagian besar transpirasi berlangsung melalui stomata sedang melalui kutikula daun dalam
jumlah yang lebih sedikit. Transpirasi terjadi pada saat tumbuhan membuka stomatanya
untuk mengambil karbon dioksida dari udara untuk berfotosintesis. (Wikipedia, 2009)


Faktor-faktor lingkungan yang mempengaruhi transpirasi (Naynienay, 2007) adalah :
   1. Kelembaban
        Gerakan uap air dari udara ke dalam daun akan menurunkan laju neto dari air yang
        hilang, dengan demikian seandainya faktor lain itu sama, transpirasi akan menurun
        dengan meningkatnya kelembaban udara.
        Apabila stomata dalam keadaan terbuka maka kecepatan difusi dari uap air keluar
        tergantung pada besarnya perbedaan tekanan uap air yang ada di dalam rongga-
        rongga antar sel dengan tekanan uap air di atmosfer. Jika tekanan uap air di udara
        rendah, maka kecepatan difusi dari uap air di daun keluar akan bertambah besar
        begitu pula sebaliknya. Pada kelembaban udara relatif 50% perbedaan tekanan uap air
        didaun dan atmosfer 2 kali lebih besar dari kelembaban relatif 70%
   2. Suhu
        Kenaikan suhu dari 180 sampai 200F cenderung untuk meningkatkan penguapan air
        sebesar dua kali. Suhu daun di dalam naungan kurang lebih sama dengan suhu udara,
        tetapi daun yang terkena sinar matahari mempunyai suhu 100 – 200F lebih tinggi dari
        pada suhu udara.
   3. Cahaya
        Cahaya mempengaruhi laju transpirasi melalui dua cara yaitu:
           a. Sehelai daun yang terkena sinar matahari langsung akan mengabsorbsi e nergi
                radiasi.
           b. Cahaya       tidak   usah   selalu   berbentuk   cahaya   langsung dapat pula
                mempengaruhi transpirasi melalui pengaruhnya terhadap buka-tutupnya
                stomata, dengan mekanisme tertentu.
   4.   Angin
        Angin cenderung untuik meningkatkan laju transpirasi, baik didalam naungan atau
       cahaya, melalui penyapuan uap air. Akan tetapi di bawah sinar matahari, pengaruh
       angin terhadap penurunan suhu daun, dengan demikian terhadap penurunan laju
       transpirasi, cenderung menjadi lebih penting daripada pengaruhnya terhadap
       penyingkiran uap air.
   5. Kandungan air tanah
       Jika kandungan air tanah menurun, sebagai akibat penyerapan oleh akar, gerakan air
       melalui tanah ke dalam akar menjadi lebih lambat. Hal ini cenderung untuk
       meningkatkan defisit air pada daun dan menurunkan laju transpirasi lebih lanjut.
Adapun faktor- faktor dari dalam yang dapat mempengaruhi preses transpirasi antara lain :
      Besar kecilnya daun
      Tebal tipisnya daun
      Berlapiskan lilin atau tidaknya permukaan daun
      Banyak sedikitnya bulu di permukaan daun
      Banyak sedikitnya stomata


Pada tanaman darat umumnya stomata itu kedapatan pada permukaan daun bagian bawah.
Pada beberapa tanaman permukaan atas dari daun pun mempunyai stomata juga. Temperatur
berpengaruh pada membuka dan menutupnya stomata. Pada banyak tanaman stoma tidak
berserdia membuka jika temperatur ada disekitar 0 derajat celcius




Sumber
http://vansaka.blogspot.com/2010/03/transpirasi-pada-tanaman.html
http://klimatologi.wordpress.com/2009/01/02/transpirasi/
http://naynienay.wordpress.com/2007/12/16/transpirasi/
http://id.wikipedia.org/wiki/Transpirasi
Wardiana , Ayiguna Mada. 2008. Laporan Praktikum Fisiologi Tumbuhan: Transpirasi pada
Tumbuhan. Purwokerto: Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

								
To top