Docstoc

Model Pembelajaran Inovatif (Jigsaw)

Document Sample
Model Pembelajaran Inovatif (Jigsaw) Powered By Docstoc
					Tulisan ini disumbangkan oleh :
      John Andreson Keo
   email: yandriskeo@rocketmail.com
         facebook: Yandris Keo
          twitter: Yandris_Keo
      Makalah Strategi Belajar Mengajar


      Model Pembelajaran Inovatif

            TIPE JIGSAW




                    oleh
                 Kelompok V

                John Andreson Keo
                Ika Novita Sari Sau
                Regina Roku Wagi
                Adi Rambu Lala
                Hengki A. Daik
                Dina M.S Bia


   Program Studi Pendidikan Biologi
       Jurusan Pendidikan MIPA
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
      Universitas Nusa Cendana
                Kupang
                 2010
                            KATA PENGANTAR


     Puji dan syukur penulis haturkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas
berkat dan   bimbingannya maka penulis dapat menyelesaikan makalah Strategi
Belajar Mengajar: Model Pembelajaran Inovatif Tipe Jigsaw.


     Makalah ini berisi tentang ulasan mengenai berbagai macam hal yang
menyangkuti hal dalam yang mengurusi tipe pembelajaran Jigsaw. Kiranya makalah
ini mampu membawa banyak manfaat bagi banyak pihak yang membutuhkan.
Makalah ini dapat dijdikan sebagai salah satu sarana untuk mengenal tentang model
pembelajaran Jigsaw agar apabila kiranya suatu waktu dibutuhkan maka makalah ini
setidaknay sudah sedikit membantu. Makalah ini disusun untuk diajukan sebagai
salah satu nilai tugas guna memenuhi tuntutan akademis.


      Penulis juga tak lupa untuk mengucapkan terimakasih kepada pihak-pihak
yang telah membantu dalam menyumbangkan waktu, tenaga dan pikiran dalam
penyelesaian makalah ini.

     Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini, masih jauh dari
kesempurnaan. Karena itu, demi penyempurnaan makalah ini, maka usul dan saran
yang bersifat membangun sangat diharapkan oleh penulis.




                                                          Kupang, 21 Januari 2010




                                                                  Penulis
A. Pendahuluan

       Keunggulan suatu bangsa tidak lagi bertumpu pada kekayaan alam, melainkan
pada keunggulan sumber daya manusia (SDM), yaitu tenaga terdidik yang mampu
menjawab tantangan-tantangan yang sangat cepat. Sejumlah pembicara dalam
berbagai seminar, diskusi atau tulisan di media masa mengisyaratkan bahwa, secara
keseluruhan, mutu SDM Indonesia saat ini masih ketinggalan dan berada di belakang
SDM negara-negara maju dan negara-negara tetangga, seperti Malaysia dan Thailand.

       Kenyataan ini sudah lebih dari cukup untuk mendorong pakar dan praktisi
pendidikan melakukan kajian sistematik untuk membenahi atau memperbaiki sistem
pendidikan nasional dengan melihat dari sisi guru. Sebagai salah satu komponen
dalam kegiatan belajar mengajar (KBM), guru memiliki posisi yang menentukan
keberhasilan pembelajaran, karena fungsi utama guru ialah merancang, mengelola,
dan mengevaluasi pembelajaran. Gagne (1974) dalam Degeng (1989) mengatakan
bahwa guru bertugas mengalihkan seperangkat pengetahuan yang terorganisasikan
sehingga pengetahuan itu menjadi bagian dari sistem pengetahuan siswa. Sejalan
dengan itu pula, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) menegaskan bahwa
kedudukan guru dalam kegiatan belajar mengajar sangat strategis dan menentukan.
Strategis karena guru akan menentukan kedalaman dan keluasan materi pelajaran.
Menentukan karena gurulah yang memilah dan memilih bahan pelajaran yang akan
disajikan kepada siswa. Salah satu faktor yang mempengaruhi guru dalam upaya
memperluas dan memperdalam materi ialah rancangan pembelajaran yang efektif,
efisien, menarik, dan hasil pembelajaran yang bermutu tinggi dapat dilakukan dan
dicapai oleh setiap guru.

       Berdasarkan pengamatan, guru di lapangan jarang memanfaatkan fungsi ini
secara optimal. Kondisi ini disebabkan oleh kenyataan bahwa tugas yang diemban
guru sebagai perancang pembelajaran adalah sangat rumit, karena berhadapan dengan
dua variabel di luar kontrolnya, yaitu cakupan isi pembelajaran yang telah ditetapkan
terlebih dahulu berdasarkan tujuan yang akan dicapai, dan siswa yang membawa
seperangkat sikap, kemampuan awal, dan karakteristik perseorangan lainnya ke
dalam situasi pembelajaran.

       Guru    hanya    berpeluang    untuk   memanipulasi     strategi   atau   metode
pembelajaran di bawah kendala karakteristik tujuan pembelajaran dan siswa. Hal ini
diakui oleh Reigeluth,(1983) Degeng (1989) menyatakan bahwa pada hakekatnya
hanya variabel metode pembelajaran yang berpeluang besar untuk dapat dimanipulasi
oleh setiap guru dan perancang pembelajaran. Senada dengan itu (Suhardjono, 2004 ;
57) mengatakan hasil belajar siswa dipengaruhi oleh banyak faktor, banyak diantara
pengaruh itu diluar kendali guru.

       Dalam melaksanakan kegiatan belajar-mengajar, pada umumnya guru
menggunakan metode secara sembarangan. Penggunaan metode secara sembarangan
ini tidak berdasarkan pada analisis kesesuaian antara tipe isi pelajaran dengan tipe
kinerja (performansi) yang menjadi sasaran belajar. Padahal keefektifan suatu metode
pembelajaran sangat ditentukan oleh kesesuaian antara tipe isi dengan tipe
performansi. Gagne dan Briggs (1979) dalam Degeng (1989) mengatakan bahwa
suatu prestasi belajar memerlukan kondisi belajar internal dan kondisi belajar
eksternal yang berbeda. Suatu metode pembelajaran seringkali hanya cocok untuk
belajar tipe isi tertentu di bawah kondisi tertentu. Hal ini berarti bahwa untuk belajar
tipe isi yang lain di bawah kondisi yang lain, diperlukan metode pembelajaran yang
berbeda.

       Mari kita tengok realitas di lapangan, ternyata praktik-praktik pembelajaran
cenderung masih mengabaikan gagasan, konsep dan kemampuan berpikir siswa.
Aktivitas guru lebih menonjol daripada siswa, dan terbatas pada hafalan semata.
Pembelajaran masih bersifat ekspositoris, sehingga belum mampu membangkitkan
budaya belajar ‘learning how to learn’ pada diri siswa. Hal ini disebabkan masih
dianut asumsi bahwa siswa dalam keadaan "pikiran kosong" (blank mind) atau
tabularasa.

           Mencoba melihat kondisi sekarang sekolah masih dianggap suatu aktifitas
yang menyenangkan oleh sebagian siswa justru di luar jam pelajaran tetapi jika di
dalam jam pelajaran adalah suatu aktifitas yang membebani. Belum ada penelitian
yang khusus mengkaji tentang hal tersebut, tetapi sepanjang pengamatan penulis, jika
para siswa berada di kelas mereka inginnya keluar kelas atau pulang, jika ada
pengumuman pulang pagi, atau libur, mereka akan bersorak sorai, seolah terlepas dari
beban berat yang menghimpit. Hal serupa juga terjadi pada diri peneliti dan mungkin
guru yang lain. Pergi ke sekolah bukan lagi sebagai kegiatan yang diidam-idamkan
dan cenderung menjadi rutinitas. Seharusnya guru menurut (Elizabeth, 1993) Jika
mungkin siswa harus diberi pilihan dan tanggung jawab atas pendidikan mereka
sendiri.

           Rubiarto (2006) dalam makalahnya Paradigma Pendidikan Masa Depan. Ada
lima karakter kerja guru. Kelima karakter tersebut adalah pertama, pekerjaan guru
bersifat individualistis non colaboratif, kedua dilakukan dalam ruang terisolir dan
menyerap seluruh waktu, ketiga kemungkinan terjadinya kontak akademis antar guru
rendah, keempat tidak pernah mendapatkan umpan balik, dan kelima pekerjaan guru
memerlukan waktu untuk mendukung waktu kerja di ruang kelas . Senada dengan itu
(Budiningsih, 2002) mengemukakan alasan mengapa guru sulit melakukan perubahan
antara lain pertama, guru sering tidak jelas mengerti apa isi kurikulum baru ataupun
perubahan yang diinginkan. Kedua, banyak guru meragukan perubahan atau
pembaruan yang ada. Ketiga banyak guru lama telah bertahun-tahun terbiasa dengan
cara mereka yang mapan dan sudah merasa enak. Keempat, moral guru sebagai
tukang yang pasif dan menanti. Kelima penghargaan guru yang kecil. Keenam,
pendidikan guru yang statis. Ketujuh, tugas guru dipahami sebagai konservatif.
Kedelapan, menjadi guru karena terpaksa.
       Dalam setiap situasi selalu ada jalan keluar untuk sebuah solusi. Begitu pun
dengan permasalahan yang menyangkuti bagaimana mengembangkan suatu model
pembelajaran yang tentunya di suatu sisi bisa memberikan kenyamanan bagi guru dan
peserta didik tapi di sisi lain juga dapat membuat proses pembelajaran menjadi lebih
efektif maupun efisien. Efektif di sini maksudnya tepat sasaran dan tepat waktu. Oleh
karena itu, ada berbagai macam model-model pembelajaran yang kiranya inovatif
yang kiranya bisa menjawab akan tantangan tersebut. Model-model pembelajaran itu
antara lain: pembelajaran berbasis masalah, pembelajaran kontekstual, pembelajaran
inkuiri, pembelajaran kooperatif, pembelajaran ekspositori, serta banyak lagi macam
model pembelajaran yang mungkin terus mengalami inovasi sesuai dengan tuntutan
pembelajaran.

       Salah satu model pembelajaran yang sering digunakan bnyak guru dalam
proses pembelajaran antara lain model pembelajaran kooperatif. Model pembelajaran
ini mempunyai karakteristik dimana dalam proses pembelajaran, siswa saling bahu-
membahu bekerja sama memecahkan masalah. Salah satu tipe dari model
pembelajaran ini adalah tipe Jig Saw. Berikut akan dipaparkan deskripsi tipe Jig Saw
ini!
B. Pembahasan

 1. Gambaran Umum

    Apa itu Jigsaw?

     Jigsaw adalah strategi pembelajaran kooperatif yang memungkinkan setiap
    siswa dari sebuah "rumah" kelompok untuk spesialisasi dalam satu aspek dari
    unit pembelajaran. Mahasiswa bertemu dengan anggota dari kelompok-
    kelompok lain yang ditugaskan pada aspek yang sama, dan setelah menguasai
    materi, kembali ke "rumah" kelompok dan mengajarkan materi kepada anggota
    kelompok mereka.

     Seperti halnya dalam sebuah teka-teki, masing-masing bagian - bagian
    masing-masing siswa- sangat penting untuk penyelesaian dan pemahaman
    penuh tentang produk akhir. Jika setiap siswa bagian sangat penting, maka
    setiap siswa sangat penting. Itulah yang membuat strategi instruksional Jigsaw
    sangat efektif.

    Apa tujuannya?

     Jigsaw belajar memungkinkan siswa untuk diperkenalkan kepada material dan
    belum mempertahankan tingkat tinggi tanggung jawab pribadi.

     Tujuan Jigsaw adalah untuk mengembangkan kerja sama tim dan
    keterampilan dalam pembelajaran kooperatif semua siswa. Selain itu membantu
    mengembangkan pengetahuan yang mendalam tidak mungkin jika siswa untuk
    mencoba dan mempelajari semua materi mereka sendiri. Akhirnya, karena
    siswa diminta untuk mempresentasikan temuan-temuan mereka ke kelompok
    rumah, Jigsaw belajar akan sering mengungkapkan sendiri seorang mahasiswa
    pemahaman konsep serta mengungkapkan kesalahpahaman.

    Bagaimana saya bisa melakukannya?
 Dalam bentuknya yang paling sederhana, yang Jigsaw strategi pengajaran
adalah ketika:

      Setiap siswa menerima sebagian dari bahan-bahan untuk diperkenalkan;

      Mahasiswa meninggalkan "rumah" kelompok dan bertemu di "ahli"
       kelompok;

      Kelompok ahli mendiskusikan bahan dan cara brainstorming untuk
       menyampaikan pemahaman kepada anggota lain dari mereka, "rumah"
       kelompok;

      Para ahli kembali ke "rumah" kelompok untuk mengajarkan bagian
       mereka bahan dan untuk belajar dari anggota-anggota lain dari "rumah"
       kelompok




                 Gambar 1.1 Skema pemahaman metode Jigsaw
Lebih rinci, dan ditulis dari sudut pandang seorang guru, untuk melakukan
Jigsaw dalam kelas Anda:

    Tugaskan siswa untuk "rumah" tim yang terdiri dari 4 atau 5 siswa
      (biasanya mereka yang biasa belajar bersama tim). Memiliki jumlah
      siswa dari dalam tim mereka.

    Menetapkan topik penelitian untuk "rumah" anggota tim dengan
      memberi mereka sebuah lembar tugas atau dengan daftar jumlah mereka
      dan peran yang sesuai pada papan.

    Siswa telah pindah ke "ahli" kelompok di mana setiap orang dalam
      kelompok memiliki topik yang sama seperti diri mereka sendiri.

    Siswa bekerja dengan anggota-anggota "pakar" mereka kelompok
      untuk membaca tentang dan atau penelitian topik mereka. Mereka
      menyiapkan presentasi singkat dan memutuskan bagaimana mereka
      akan mengajarkan topik mereka untuk mereka "rumah" tim. Anda
      mungkin ingin siswa untuk mempersiapkan poster-poster mini
      sementara mereka "ahli" Grup. Poster ini dapat berisi fakta-fakta
      penting, informasi, dan diagram yang berkaitan dengan topik penelitian.

    Siswa kembali ke "rumah" tim dan mengajar bergiliran anggota tim
      mereka materi. Aku merasa terbantu untuk memiliki anggota tim
      mencatat atau merekam informasi dalam jurnal mereka dalam beberapa
      cara. Anda mungkin ingin mereka untuk menyelesaikan grafis organizer
      atau tabel dengan informasi baru.

    Melibatkan seluruh kelas dalam kelompok-review semua konten yang
      mengharapkan mereka untuk menguasai pada penilaian. Administer
      penilaian individu untuk mencapai nilai-nilai individu.
Bagaimana saya bisa beradaptasi itu?

 Ada cara terbatas mengadaptasi struktur jigsaw dalam hal ukuran kelompok,
rentang topik dan penguasaan demonstrasi dengan topik tersebut. Guru telah
mengembangkan banyak variasi. Berikut adalah beberapa modifikasi yang
membantu dalam situasi yang berbeda:

    Memberikan siswa subtopics dan telah mereka menggunakan bahan-
       bahan referensi di perpustakaan untuk penelitian Subtopic mereka. Hal
       ini membebaskan guru dari keharusan untuk menyusun bahan-bahan di
       muka.

    Memiliki "rumah" kelompok menulis laporan atau memberikan
       presentasi kelas pada keseluruhan topik, dengan spesifikasi yang
       mencakup semua subtopics disajikan dalam kelompok.

    Siapkan menguraikan atau panduan belajar dari apa yang masing-
       masing Subtopic harus mencakup dan meminta siswa membaca teks
       yang sama, menyusun dan menjadi ahli pada bahan disorot oleh
       kerangka atau panduan belajar

Penilaian & Evaluasi Pertimbangan

 Menilai siswa tingkat penguasaan semua materi. Hadiah kelompok-kelompok
yang anggotanya semua kriteria yang ditetapkan mencapai keunggulan atau
memberikan poin bonus pada nilai masing-masing jika kriteria ini terpenuhi.
Siswa akan perlu mengevaluasi diri mereka sendiri pada seberapa baik
kelompok mereka lakukan di jigsaw (misalnya, aktif mendengarkan, memeriksa
untuk memahami satu sama lain, dan mendorong satu sama lain) dan
menetapkan tujuan untuk interaksi lebih lanjut
2. Gambaran Teknik

    Teka-teki kelas adalah suatu teknik pembelajaran kooperatif dengan tiga
   dekade catatan rasial berhasil mengurangi konflik dan meningkatkan hasil
   pendidikan yang positif. Seperti halnya dalam sebuah teka-teki, masing-masing
   bagian - bagian masing-masing siswa - sangat penting untuk penyelesaian dan
   pemahaman penuh tentang produk akhir. Jika setiap siswa bagian sangat
   penting, maka setiap siswa sangat penting dan justru itulah yang membuat
   strategi ini sangat efektif.

    Berikut adalah cara kerjanya: Para mahasiswa di kelas Biologi, misalnya,
   dibagi menjadi kelompok-kelompok kecil dari lima atau enam siswa masing-
   masing. Misalkan tugas mereka adalah untuk belajar tentang Filum Arthropoda.
   Dalam satu grup jigsaw, Sarah bertanggung jawab untuk bertanggung jawab
   atas ciri-ciri umum Arthropoda. Anggota lain dari grup tersebut, Steven, yang
   ditugaskan untuk menjawab tentang klasifikasi Arthropoda; Pedro diberikan
   peran dalam menjelaskan ordo Crustacea; Melany adalah untuk ordo
   Arachnida;     Tian     akan   menangani   ordo   Myriapoda;     Clara   akan
   memdeskripsikan tentang ordo Insecta..

    Akhirnya setiap siswa akan kembali padanya atau kelompok jigsaw-nya dan
   akan mencoba untuk menyajikan laporan yang terorganisasi dengan baik ke
   grup. Situasi khusus terstruktur sehingga satu-satunya akses ke setiap anggota
   memiliki lima tugas-tugas yang lain adalah dengan mendengarkan erat dengan
   laporan dari orang yang membaca. Jadi, jika Tian tidak menyukai Pedro, atau
   jika ia berpikir Sarah adalah seorang kutu buku dan lagu-lagu keluar atau
   mengolok-olok-nya, dia tak mungkin bisa melakukannya dengan baik pada tes
   yang mengikutinya.

    Untuk meningkatkan peluang bahwa setiap laporan akan akurat, para siswa
   melakukan penelitian tidak segera bawa kembali ke kelompok jigsaw mereka.
Sebaliknya, mereka pertama bertemu dengan siswa yang memiliki tugas yang
sama (satu dari masing-masing kelompok jigsaw). Sebagai contoh, mahasiswa
ditugaskan untuk topik ordo Insecta bertemu sebagai tim spesialis,
mengumpulkan informasi, menjadi pakar pada topik, dan melatih presentasi
mereka. Kami menyebutnya sebagai "pakar" grup. Hal ini sangat berguna bagi
siswa yang mungkin memiliki kesulitan awal belajar atau mengorganisir
mereka bagian dari tugas, karena memungkinkan mereka untuk mendengar dan
berlatih dengan "pakar."

 Setelah masing-masing presenter hingga kecepatan, kelompok teka-teki awal
mereka berkumpul kembali di konfigurasi heterogen. Ahli Insecta dalam setiap
kelompok mengajarkan anggota kelompok yang lain tentang ordo Insecta.
Setiap siswa dalam setiap kelompok mendidik seluruh kelompok tentang
dirinya atau spesialisasinya. Siswa kemudian diuji pada apa yang telah mereka
pelajari tentang Filum Arthropoda dari sesama anggota kelompok.

 Apa manfaat dari kelas jigsaw? Pertama dan paling utama, ini adalah cara
yang sangat efisien untuk mempelajari materi. Tapi yang lebih penting, proses
teka-teki mendorong mendengarkan, keterlibatan, dan empati dengan
memberikan masing-masing anggota kelompok bagian penting untuk bermain
dalam kegiatan akademik. Anggota kelompok harus bekerja sama sebagai
sebuah tim untuk mencapai tujuan bersama; setiap orang tergantung pada
semua yang lain. Tidak ada mahasiswa dapat berhasil sepenuhnya, kecuali jika
setiap orang bekerja dengan baik bersama-sama sebagai sebuah tim. Ini
"kerjasama dengan desain" memfasilitasi interaksi di antara semua siswa di
kelas, membimbing mereka untuk menghargai satu sama lain sebagai
kontributor tugas bersama mereka.
3. Sejarah Jigsaw

    Teka-teki kelas pertama kali digunakan pada tahun 1971 di Austin, Texas.
   Saya mahasiswa pascasarjana dan aku telah menemukan strategi jigsaw tahun
   itu, sebagai hal yang mutlak diperlukan untuk membantu meredakan situasi
   eksplosif. Sekolah-sekolah di kota baru saja desegregated, dan karena selalu
   Austin ras terpisah, anak-anak kulit putih, Afrika-Amerika anak muda, dan
   anak-anak Hispanik mendapati diri mereka di kelas yang sama untuk pertama
   kalinya.

    Dalam      waktu   beberapa   minggu,   lama    kecurigaan,   ketakutan,   dan
   ketidakpercayaan antara kelompok-kelompok menghasilkan suasana kekacauan
   dan permusuhan. Fist-perkelahian meletus di koridor dan schoolyards melintasi
   kota. Pengawas sekolah memanggilku untuk melihat apakah kami bisa
   melakukan sesuatu untuk membantu siswa dapat bergaul dengan satu sama lain.
   Setelah mengamati apa yang sedang terjadi di ruang kelas selama beberapa hari,
   murid-murid saya dan saya menyimpulkan bahwa permusuhan antar kelompok
   sedang didorong oleh lingkungan yang kompetitif kelas.

    Mari saya jelaskan. Dalam setiap kelas yang kami amati, para siswa bekerja
   secara individual dan berkompetisi melawan satu sama lain untuk kelas. Berikut
   ini adalah deskripsi khas kelas lima kelas yang kami amati:

              Guru berdiri di depan kelas, mengajukan pertanyaan, dan menunggu
        anak-anak untuk memberi sinyal bahwa mereka tahu jawabannya. Paling
        sering, enam sampai sepuluh anak muda mengangkat tangan,
        mengangkat diri mereka dari kursi mereka dan peregangan lengan
        mereka setinggi mereka dapat dalam upaya untuk menarik perhatian
        guru. Beberapa siswa lain duduk diam dengan mata mereka dipalingkan,
        berharap para guru tidak menelepon pada mereka.
        Ketika panggilan guru pada salah satu siswa
     bersemangat, ada tampak kekecewaan di wajah
     para siswa lain yang telah berusaha untuk
     mendapatkan perhatian guru. Jika siswa terpilih
     muncul dengan jawaban yang benar, guru
     tersenyum, mengangguk setuju, dan berlanjut ke
     pertanyaan berikutnya. Sementara itu, para siswa yang tidak tahu
     jawabannya bernapas lega. Mereka telah lolos dipermalukan kali ini.

 Hanya butuh beberapa hari pengamatan dan wawancara bagi kita untuk
melihat apa yang terjadi di kelas ini. Kami menyadari bahwa kami perlu untuk
menggeser tekanan dari suasana kompetitif tanpa henti yang lebih kooperatif
satu. Itu dalam konteks ini bahwa kita menciptakan strategi jigsaw. Intervensi
pertama kami dengan murid kelas lima. Pertama kami membantu beberapa guru
menyusun struktur jigsaw koperasi bagi para siswa untuk belajar tentang
kehidupan Eleanor Roosevelt. Kami membagi siswa ke dalam kelompok-
kelompok kecil, beragam dalam hal ras, etnis dan gender, sehingga setiap siswa
bertanggung jawab atas bagian tertentu dari biografi Roosevelt. Tak perlu
dikatakan, setidaknya satu atau dua siswa dalam setiap kelompok sudah
dipandang sebagai "pecundang" oleh teman-teman sekelas mereka.

 Carlos adalah salah satu mahasiswa. Carlos sangat pemalu dan tidak aman di
lingkungan barunya. Inggris adalah bahasa kedua. Dia berbicara itu cukup baik,
tetapi dengan sedikit aksen. Coba bayangkan pengalamannya: Setelah
menghadiri didanai secara memadai, di bawah standar sekolah lingkungan
Hispanik yang terdiri sepenuhnya dari mahasiswa seperti dirinya, ia tiba-tiba
bussed melintasi kota menuju daerah kelas menengah kota dan terlempar ke
dalam kelas dengan siswa Anglo yang dapat berbahasa Inggris dengan lancar,
tampaknya tahu jauh lebih banyak daripada dirinya, dan yang tidak segan-segan
untuk memberi tahu itu.
 Ketika kita direstrukturisasi kelas sehingga siswa sekarang bekerja bersama
dalam kelompok-kelompok kecil, ini awalnya menakutkan untuk Carlos.
Sekarang ia tidak bisa lagi menyelinap ke bawah di kursinya dan bersembunyi
di bagian belakang ruangan. Struktur teka-teki membuat perlu bagi dia untuk
berbicara ketika tiba gilirannya untuk membaca. Meskipun ia mendapatkan
sedikit rasa percaya diri dengan berlatih bersama-sama dengan orang lain yang
juga mempelajari karya Eleanor Roosevelt dengan Perserikatan Bangsa-Bangsa,
dia masih enggan berbicara ketika tiba gilirannya untuk mengajar para siswa
dalam kelompok jigsaw. Dia tersipu-sipu, terbata-bata, dan mengalami
kesulitan menutupi materi yang telah dipelajarinya. Terampil dalam cara yang
kompetitif kelas, siswa lain cepat mentertawakannya.

 Salah satu asisten penelitian saya mendengar beberapa anggota kelompok
Carlos membuat komentar seperti, "Kau bodoh. Anda tidak tahu apa yang Anda
lakukan. Anda bahkan tidak bisa bicara bahasa Inggris." Alih-alih menegur
mereka untuk "menyenangkan" atau "mencoba untuk bekerja sama," ia
membuat satu pernyataan yang sederhana tapi kuat. Ia pergi sesuatu seperti ini:
"Berbicara seperti itu kepada Carlos mungkin menyenangkan bagi Anda untuk
melakukannya, tapi itu tidak akan membantu Anda mempelajari apa-apa
tentang apa yang dilakukan Eleanor Roosevelt di Perserikatan Bangsa-Bangsa -
dan ujian akan diberikan dalam waktu sekitar 15 menit . Dengan kata lain, dia
mengingatkan para siswa bahwa situasi telah berubah. Perilaku yang sama yang
mungkin telah berguna untuk mereka di masa lalu, ketika mereka saling
bersaing, kini akan biaya mereka sesuatu yang sangat penting: kesempatan
untuk melakukan dengan baik pada ujian.

 Tak perlu dikatakan, tua, kebiasaan disfungsional tidak mati dengan mudah.
Tapi mereka mati. Dalam beberapa hari bekerja dengan jigsaw, Carlos
kelompok-teman secara bertahap menyadari bahwa mereka perlu untuk
mengubah taktik mereka. Tidak ada lagi kepentingan terbaik mereka sendiri
untuk menggentarkan Carlos; mereka membutuhkannya untuk kinerja yang
baik untuk melakukan dengan baik diri mereka sendiri. Akibatnya, mereka
harus menempatkan diri mereka di sepatu Carlos untuk menemukan cara untuk
mengajukan pertanyaan yang tidak merusak penampilannya.

 Setelah satu atau dua minggu, sebagian besar kelompok Carlos-teman
terampil berkembang menjadi pewawancara, menanyakan pertanyaan yang
relevan dan membantunya mengartikulasikan jawaban yang jelas. Dan sebagai
Carlos berhasil, kelompoknya-teman mulai melihatnya dalam cahaya yang
lebih positif. Selain itu, Carlos melihat dirinya dalam terang yang baru, sebagai
anggota kompeten kelas yang bisa bekerja dengan orang lain dari kelompok
etnis yang berbeda. Harga dirinya tumbuh, dan saat itu tumbuh, kinerjanya
membaik bahkan lebih. Di samping itu, Carlos mulai melihat kelompok-rekan
sebagai ramah dan mendukung. Etnis Anglo stereoypes bahwa anak-anak
diadakan tentang Carlos dan bahwa Carlos diadakan tentang Anglo anak-anak
dalam proses berubah secara dramatis. Sekolah menjadi lebih manusiawi,
tempat menarik, dan absensi menolak.

 Surat dari Carlos Banyak Tahun LaterWithin beberapa minggu, keberhasilan
jigsaw jelas. Guru kepada kami betapa senangnya mereka pada perubahan
suasana. Pengunjung menyatakan kagum pada transformasi. Tak perlu
dikatakan lagi, ini menarik untuk saya mahasiswa pascasarjana dan aku. Tetapi
sebagai ilmuwan, kita membutuhkan lebih banyak bukti objektif - dan kami
mendapatkannya. Karena kami telah memperkenalkan teka-teki secara acak
intervensi ke dalam beberapa kelas dan bukan orang lain, kita bisa
membandingkan kemajuan siswa jigsaw dengan siswa di kelas tradisional.
Setelah delapan minggu hanya ada perbedaan yang jelas, meskipun siswa hanya
menghabiskan sebagian kecil waktu mereka dalam kelompok jigsaw. Saat diuji
secara objektif, jigsaw siswa dinyatakan kurang prasangka dan stereotip negatif,
lebih percaya diri, dan melaporkan sekolah menyukai lebih baik daripada anak-
   anak di ruang kelas tradisional. Selain itu, anak-anak di kelas jigsaw tidak hadir
   lebih sering daripada yang siswa lain, dan mereka menunjukkan peningkatan
   akademis yang lebih besar; siswa miskin di kelas jigsaw nilai lebih tinggi
   secara signifikan pada ujian objektif daripada dibandingkan siswa di kelas
   tradisional, sementara siswa yang baik terus melakukan apa yang baik sebagai
   siswa yang baik di kelas tradisional.

4. Jigsaw in 10 Langkah Mudah:

    Jigsaw sangat mudah digunakan. Jika Anda seorang guru, cukup ikuti langkah
   berikut:

      1) Membagi siswa ke dalam 5 - atau 6 orang kelompok jigsaw. Kelompok-
          kelompok harus beragam dalam hal gender, etnis, ras, dan kemampuan.

      2) Menunjuk seorang siswa dari setiap kelompok sebagai pemimpin. Pada
          awalnya, orang ini harus menjadi murid paling dewasa di dalam
          kelompok.

      3) Membagi pelajaran hari itu menjadi 5-6 segmen. Sebagai contoh, jika
          Anda ingin sejarah siswa untuk belajar mengenai Eleanor Roosevelt,
          anda mungkin membagi biografi singkat dia ke segmen yang berdiri
          sendiri di: (1) Her masa kanak-kanak, (2) Keluarganya hidup dengan
          Franklin dan anak-anak mereka, (3) hidupnya setelah kontrak Franklin
          polio, (4) Pekerjaannya di Gedung Putih sebagai First Lady, dan (5)
          Kehidupan dan bekerja setelah kematian Franklin.

      4) Tugaskan setiap siswa untuk belajar satu segmen, memastikan siswa
          memiliki akses langsung hanya untuk segmen mereka sendiri.
5) Memberikan siswa waktu untuk membaca segmen mereka setidaknya
   dua kali dan menjadi akrab dengannya. Tidak perlu bagi mereka untuk
   menghafalnya.

6) Formulir sementara "kelompok ahli" oleh karena satu siswa dari
   masing-masing kelompok jigsaw bergabung dengan siswa lain yang
   ditetapkan ke segmen yang sama. Memberikan siswa dalam kelompok
   ahli ini waktu untuk mendiskusikan poin utama segmen mereka dan
   untuk berlatih presentasi mereka akan membuat mereka kelompok
   jigsaw.

7) Membawa siswa kembali ke kelompok jigsaw mereka.

8) Mintalah setiap siswa untuk mempresentasikan dirinya atau segmen ke
   grup. Mendorong orang lain dalam kelompok untuk mengajukan
   pertanyaan untuk klarifikasi.

9) Float dari kelompok ke kelompok, mengamati proses. Jika setiap
   kelompok     mengalami      kesulitan      (misalnya,    seorang   anggota
   mendominasi atau mengganggu), membuat intervensi yang tepat.
   Akhirnya, yang terbaik bagi pemimpin kelompok untuk menangani
   tugas ini. Pemimpin dapat dilatih dengan membisikkan sebuah instruksi
   tentang   bagaimana    melakukan        intervensi,   sampai   mendapatkan
   pemimpin yang menguasainya.

10) Pada akhir sesi, memberikan kuis pada materi sehingga siswa dengan
   cepat menyadari bahwa sesi ini bukan hanya kesenangan dan
   permainan, tapi benar-benar dihitung.
5. Keuntungan teknik

   Jigsaw memiliki keuntungan antara lain:

       Siswa memiliki kesempatan untuk mengajar diri sendiri, bukan karena
          materi yang disampaikan kepada mereka. Teknik menumbuhkan
          pemahaman mendalam.

       Setiap mahasiswa praktek mengajar diri, yang merupakan yang paling
          berharga dari semua keterampilan kita dapat membantu mereka belajar.

       Mahasiswa mempunyai rekan praktek dalam mengajar, yang menuntut
          bahwa mereka memahami materi pada tingkat yang lebih dalam
          daripada biasanya dilakukan ketika siswa hanya diminta untuk
          menghasilkan pada ujian.

       Mahasiswa "bicara geologi" dan menjadi lebih fasih dalam penggunaan
          istilah geologi.

       Setiap siswa mempunyai kesempatan untuk berkontribusi secara
          bermakna diskusi, sesuatu yang sulit dicapai dalam diskusi kelompok
          besar. Setiap siswa mengembangkan keahlian dan memiliki sesuatu
          yang penting untuk berkontribusi.

       Meminta setiap kelompok untuk mendiskusikan pertanyaan lanjutan
          setelah presentasi individu mendorong diskusi nyata.
C. Kesimpulan

    Beberapa guru mungkin merasa bahwa mereka telah mencoba pendekatan
pembelajaran kooperatif karena mereka kadang-kadang menempatkan siswa mereka
dalam kelompok kecil, memerintahkan mereka untuk bekerja sama. Namun,
pembelajaran kooperatif memerlukan lebih dari anak-anak duduk mengelilingi
sebuah meja dan mengatakan kepada mereka untuk berbagi, bekerja sama, dan
bersikap baik satu sama lain. Longgar seperti itu, situasi tidak terstruktur tidak
mengandung unsur-unsur penting dan pengamanan yang membuat teka-teki dan
terstruktur lainnya strategi koperasi bekerja dengan baik.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:1340
posted:5/14/2011
language:Indonesian
pages:21