Docstoc

Berita seputar NII

Document Sample
Berita seputar NII Powered By Docstoc
					      Lebih Seribu Orang Jadi Korban Pencucian Otak NII




Kisah Laila Febriani kembali mengingatkan kita bahwa ada sebuah gerakan
mengatasnamakan agama selain teroris yang harus diwaspadai. Gerakan ini tidak
melakukan pengeboman, tapi melakukan pencucian otak. Mereka berkeliaran di
sekeliling kita. Gerakan ini terorganisir rapi dan telah memakan korban yang sangat
banyak.

Lian adalah calon pegawai negeri sipil (CPNS) di Bagian Tata Usaha, Direktorat Bandar
Udara, Ditjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan. Perempuan berkerudung
ini hilang Kamis (7/4/2011) lalu setelah makan siang dengan temannya. Ia kemudian
ditemukan pada Jumat (8/4/2011) di Masjid Ata'awwun, Puncak, Bogor, Jawa Barat.

Saat ditemukan, Lian dalam kondisi menyedihkan. Ia hilang ingatan.Jangankan ingat
keluarganya, namanya sendiri bahkan ia lupa. Yang dia tahu namanya Maryam bukan
Lian. Sang suami yang datang menjemput pun tidak dikenalinya. Saat sang suami, Teguh
Simanjuntak, mengajaknya salaman, Lian langsung menepis tangannya dengan alasan
bukan muhrim.

Penampilan Lian juga berubah. Ibu satu anak itu yang biasanya mengenakan kerudung
berubah menjadi memakai cadar. Ia pun membawa dua buku bertema jihad dan terus-
terusan membacanya. "Saya ke sini mau berjihad," kata Lian saat ditanya petugas masjid
tentang tujuannya datang ke Masjid Atta'awwun.

Hingga kini Lian masih dalam masa pemulihan untuk mengembalikan ingatannya yang
hilang. Polisi belum bisa memintai keterangan CPNS Kementerian Perhubungan itu.

Dari keterangan keluarga dan petugas masjid yang menemukannya, Lian mengaku
sempat dibawa ke tempat pengajian yang isinya perempuan bercadar dan laki-laki
berjenggot. Ia juga sempat dimandikan oleh kelompok tersebut. Sementara selama
perjalanan, mata Lian ditutup dan terus-terusan dicekoki kopi hingga ia muntah-muntah.

Belum ketahuan siapa yang membuat Lian hilang dan kemudian hilang ingatan. Namun
keluarga yakin Lian mengalami cuci otak. Karena belum bisa meminta keterangan Lian,
polisi pun belum bisa menyimpulkan siapa pelaku cuci otak CPNS Kementerian
Perhubungan ini.

Namun sejumlah kalangan meyakini Lian menjadi korban pencucian otak gerakan
Negara Islam Indonesia Komandemen Wilayah 9 (NII KW 9). Pengamat terorisme yang
juga mantan anggota NII Al Chaidar menyatakan NII biasa melakukan pencucian otak
pada orang yang mengalami kekeringan spiritual.

"Biasanya mereka tidak menggunakan cara hipnotis. Mereka melakukan brainstorming
kepada seseorang yang mengalami kekeringan spiritual untuk jalan menanamkan
ideologi," ujar eks anggota NII, Al Chaidar.

Dalam gerakan NII, memang biasanya organisasi yang dilarang oleh pemerintah ini
melakukan pencucian otak untuk merekrut anggotanya. Pencucian otak dilakukan untuk
menanamkan ideologi hingga si korban bisa dibina sesuai tujuan mereka. Setelah cuci
otak dan menjadi anggota NII, korban pun diminta berganti nama.

Kisah Lian sangat mirip dengan yang dialami oleh korban NII. Ketua Tim Rehabilitasi
NII Crisis Center (NCC) Sukanto yakin Lian korban cuci otak NII. NCC sendiri hingga
kini sudah menangani lebih dari seribu korban NII.

"Yang face to face 300 orang ada. Belum yang lewat seminar dan konsultasi via email,
SMS. Sepertinya seribu lebih. Tiap hari saja kami terima sepuluh laporan lebih," kata
Anto, panggilan akrab Sukanto yang pernah menjabat camat NII untuk wilayah Tebet
Jakarta Selatan.

Pencucian otak yang dilakukan NII, menurut Anto, merupakan gerakan yang rapi dan
terorganisir. NII memiliki struktur seperti sebuah negara mulai dari presiden yang disebut
khalifah sampai pejabat tingkat RT. Meski namanya membawa-bawa Islam, ajaran NII
justru menyimpang dari Islam. Nama Islam hanya menjadi kedok untuk tujuan mereka
mengumpulkan uang. Tujuan utama gerakan ini hanyalah mengumpulkan uang dengan
menghalalkan segala cara. Uang bukan untuk membentuk negara Islam tapi digunakan
untuk memperkaya pemimpinnya.

Sayangnya meski korbannya sangat banyak, sangat sedikit kasus korban NII yang
ditangani polisi. Kasus korban NII mirip korban perkosaan yang malu melaporkan telah
menjadi korban kejahatan gerakan NII. Hingga kini pun polisi belum berbuat banyak
untuk menindak gerakan NII ini.
                  Misteri Pencucian Dosa Umi Aisyah




Laila Febriani (Lian) kini sudah bisa bercanda dan bermain. Ibu satu orang anak itu
bahkan sudah mengingat panggilan lucu ke orang-orang sekitarnya. Meski demikian
pihak keluarga terus berupaya mengembalikan secara untuh kenangan-kenangan Lian,
terhadap keluarga maupun orang-orang di sekitarnya.

"Kita selalu putarkan video keluarga, perkawinan dan liburan keluarga. Kami harap
dengan menonton video ingatan Lian bisa pulih," jelas Novita Hambali, adik Lian, saat
berbincang dengan detikcom.

Pasca ditemukan di Masjid Attaawun, Puncak,Bogor, Jawa Barat, akhir pekan lalu, Lian
memang praktis tidak mengenal siapa-siapa, termasuk keluarga dan anaknya yang masih
berusia 1,5 tahun. Bahkan saat ditemukan pengurus masjid, Lian tidak mengingat
alamatnya.

"Saat kami bertanya, Lian tidak mengingat siapa keluarganya juga alamatnya. Dia hanya
mengingat nama Umi Aisyah dan wejangan-wejangannya," ujar Imam Masjid Attaawun
KH Asep Ruchiyat saat ditemui detikcom.

Asep bercerita, pengurus masjid mulai melihat Lian pada Jumat, 8 April 2011, pukul
15.00 WIB. Saat itu Lian sedang duduk di taman depan masjid. Tatapan matanya kosong
dan sudah lebih satu jam Lian yang saat itu mengenakan baju gamis hitam dan bercadar
tidak pernah bergeser dari posisi duduknya.

Karena merasa ada yang aneh dengan kondisi si perempuan, Eddy, satpam masjid
langsung menghampiri dan bertanya-tanya. Namun jawaban yang keluar dari mulut Lian
lebih banyak kata-kata tidak tahu. "Dia hanya bilang sedang menunggu orang yang akan
menjemputnya," terang
Asep.

Setelah ditanya-tanya, Lian kemudian minta tolong untuk diantar pulang. Tapi pengurus
masjid kebingungan sebab saat ditanya alamatnya Lian terus saja berkata tidak tahu.

Pengurus masjid lalu mengontak petugas Polsek Cisarua. Tapi rupanya beberapa polisi
yang datang dan bertanya-tanya ke Lian juga tidak mendapatkan jawaban soal identitas
dan keluarganya. Kata Asep, saat ditanya nama asli, perempuan itu hanya mengatakan
kalau dirinya bernama Maryam. "Kami saat itu sama sekali tidak tahu kalau perempuan
yang ada di masjid adalah orang yang diberitakan hilang di sejumlah media," ujarnya.

Pengurus masjid semakin merasa aneh ketika Lian yang saat itu kondisinya sangat lemah
tidak mau disuguhi makanan. Alasannya takut dirinya dilumuri dosa lagi. Pasalnya, Lian
mengaku kalau dirinya sudah dibersihkan dosa-dosanya oleh orang yang bernama Umi
Aisyah. Bahkan Lian juga mengaku sudah dimandikan di suatu tempat di wilayah Bogor
sebagai prosesi pembersihan diri.

Sayangnya Lian tidak mengingat lokasi dimana ia dimandikan. Ia hanya bilang saat
datang ke tempat pemandian itu banyak pria berjenggot dan perempuan bercadar.
Selebihnya Lian tidak tahu lagi.

Polisi dan pengurus masjid akhirnya bisa mengetahui keberadaan keluarga Lian keesokan
harinya. Secara tiba-tiba Lian meminta secarik kertas dan pena. Selanjutnya, di kertas
HVS yang diberikan, Lian mulai menulis angka 1 sampai dengan 10.

"Setelah menulis dia terlihat coba berkonsentrasi. Dan akhirnya dia menuliskan beberapa
angka yang ternyata nomor telepon CDMA. Nomor telepon itu ternyata milik Teguh
Simanjuntak, Suaminya.

Dari situlah misteri hilangnya Lian terbuka. Hanya saja polisi sampai saat ini belum bisa
mencari tahu siapa orang yang menculik Lian dan mencuci otaknya hingga lupa ingatan.

Beberapa kalangan menduga aksi penculikan dan pencucian otak Lian dilakukan jaringan
Negara Islam Indonesia (NII). Dan diduga Lian dibaiat untuk masuk Komandemen
Wilayah (KW) 9 NII.

"Kalau dilihat dari ceritanya dia, itu model perekrutan NII. Karena dari dulu model
perekrutan mereka sama," kata Ketua Tim Rehabilitasi NII Crisis Center Sukanto saat
berbincang dengan detikcom.

Sebelum diajak hijrah, biasanya korban diajak diskusi bersama beberapa orang. Dalam
pertemuan awal itu biasanya tidak langsung berbicara soal agama tapi soal apa saja yang
membuat si target tertarik. Di tahap inilah proses doktrin sudah dimulai.

Ketika korbannya mulai respek, mereka langsung meminta korban bersiap diri untuk
hijrah ke suatu tempat. Dan sebagai syarat hijrah biasanya mereka meminta korban untuk
bersedekah sebagai jalan untuk membersihkan dosa-dosanya selama ini. Setelah
berhijrah, korban lantas ganti nama.

Dalam gerakan itu pun, seorang perempuan biasa dipanggil Umi, dan yang laki-laki
dipanggil abi. Sementa Lian menyebut perempuan yang mencuci dosanya adalah Umi
Aisyah. Nah, dalam kasus Lian, kata Sukanto, modusnya sangat mirip sekali dengan
gerakan cuci otak NII.

Namun polisi belum bisa mengaitkan penculikan Lian dengan NII. Menurut Kabid
Humas Polda Metro Jaya Kombes Baharudin Djafar, polisi belum menemukan bukti
keterlibatan NII dalam kasus Lian.

"Kita harus mencari bukti dan keterangan saksi lebih dulu. Yang paling penting kita
harus minta keterangan dari korban dulu untuk tahu apa yang terjadi dengan dirinya,
korban sampai sekarang belum bisa dimintai keterangan," jelasnya.

Masalahnya, psikolog yang ditugaskan kepolisian belum bisa bertemu Lian lantaran
keluarga masih menolak pemeriksaan. Alhasil, tim yang dipimpin Kepala dinas psikologi
Polda Metro Jaya AKB Nurcahyo belum bisa bertemu Lian untuk proses penyembuhan
sekaligus meminta keterangan.

"Kami tidak berani menanyakan soal kejadian yang menimpa Lian. Karena kami tidak
ingin dia shock dan trauma. Makanya kami belum bisa memberi izin kepada polisi untuk
memeriksanya. Kami khawatir dengan kondisi Lian," ujar Novita.




                 NII Kedoknya Islam, Ajarannya Setan




                 Sukanto, Ketua Tim Rehabilitasi NII Crisis Center

Febriani (Lian) yang hilang dari rumah dan menjadi hilang ingatan ditengarai menjadi
korban pencucian otak. Pelaku pencucian otak diduga kuat adalah kelompok Negara
Islam Indonesia Komandemen Wilayah 9 (NII KW 9).
"Kalau saya melihat peristiwa pencucian otak yang terjadi belakangan ini, seperti kasus
Lian, ini dilakukan NII. Sebab cara perekrutannya identik dengan kelompok tersebut.
Begitu juga targetnya," kata pengamat intelijen Wawan Purwanto.

Ketua Tim Rehabilitasi NII Crisis Center (NCC) Sukanto menyatakan lebih dari 1.000
orang menjadi korban pencucian otak aliran menyimpang ini. Modus yang dialami para
korban NII ini mirip dengan yang terjadi pada Lian.

Sukanto sendiri orang yang sudah malang melintang di NII. Dia direkrut NII setelah lulus
SMA pada tahun 1996 dan pernah menjabat sebagai camat NII wilayah Tebet, Jakarta
Selatan. Setelah keluar dari NII, Sukanto dan rekannya sesama mantan NII, Ken
Setiawan membentuk NII Crisis Center didirikan untuk membantu masyarakat yang
menjadi korban NII sekaligus sebagai gerakan anti-NII. "Kasus Lian menurut saya ini NII
juga. Modusnya sama," kata Ken Setiawan.

Gerakan pencucian otak yang dilakukan NII sangat rapi dan terorganisir. Dalam gerakan
ini ada struktur layaknya negara. Pemimpin tertinggi atau presiden dalam NII disebut
sebagai khalifah atau imam. Saat ini, khalifah NII dipegang oleh Abdussalam Panji
Gumilang, pemimpin Pondok Pesantren Al Zaitun, Indramayu.

Banyak korban NII menyebut khalifah NII saat ini adalah Panji Gumilang. Pun Ketua
MUI Ma'ruf Amin yang pada 2002 melakukan penelitian Ponpes Al Zaitun memberikan
pernyataan yang sama. "Kami menemukan persamaan kaitan dalam kepemimpinan NII
dan Ponpes Al Zaitun, yakni Panji Gumilang," kata Ma'ruf Amin.

Namun Ponpes Al Zaitun menyatakan sejauh ini tidak ada pernyataan Panji Gumilang
yang memimpin Ponpes termegah di Asia Tenggara itu sebagai pemimpin NII. Al Zaitun
ditegaskan sepenuhnya konsen pada masalah pendidikan. "Beliau tidak pernah ada
pernyataan. Beliau sibuk mengurus pendidikan,beliau guru yang mengajar," kata
Sekretaris Pesantren Al Zaitun Abdul Halim kepada detikcom.

Selain presiden, NII juga memiliki sejumlah menteri. Saat ini ada 11 kementerian di NII.
Kemudian ada gubernur, bupati, camat, lurah hingga ketua RW dan Ketua RT.

"Ya kalau dikonfirmasi ke Al Zaitun mereka pasti akan bilang kita ini lembaga
pendidikan. Tapi Panji Gumilang itu memang imamnya NII," kata Sukanto, mantan
camat NII wilayah Tebet itu.

Bachtiar Rivai, mantan wakil camat NII untuk wilayah Karanganyar, Kebumen juga
menyatakan Panji Gumilang atau Abu Toto merupakan pemimpin NII.

Meski memiliki struktur tidak ubahnya sebuah negara, karena NII merupakan gerakan
bawah tanah maka jaringan ini beroperasi dengan sel tertutup. Sesama camat belum tentu
kenal dengan pejabat NII lainnya. Anggota seringkali hanya mengenal perekrut dan
gurunya. Sementara petinggi negara mereka tidak diberi tahu, mereka hanya diwajibkan
percaya saja. Dan dalam NII, semua nama sudah bukan lagi nama aslinya.
"Kalau pemimpinnya Panji Gumilang pernah disebut pas acara NII. Tapi kalau pejabat
lain saya tidak tahu karena dirahasiakan, kita hanya diminta percaya saja," kata Bachtiar.

Sama dengan pemerintahan Indonesia, menjadi pejabat di NII juga mendapatkan gaji.
Bila pemerintahan membayar gaji dari pajak, NII membayar gaji pejabatnya dari infaq
anggotanya yang disebutnya sebagai warga negara. Tentu saja gaji teratas dimiliki oleh
khalifah. "Sebagai wakil camat saya mendapat Rp 150 ribu. Itu pada tahun 1996," cerita
Bachtiar.

Tapi meski mendapat gaji, uang itu tidak bisa mencukupi kebutuhan Bachtiar. Karena
sebagai wakil camat dia juga terkena kewajiban mengumpulkan uang sedekah untuk NII
minimal Rp 2 juta sebulan. Bila setoran wajib ke NII tidak memenuhi target, maka sang
pejabat pun tidak mendapatkan gaji bahkan dihitung berutang.

"Kalau utang tidak mampu dibayar ya berutang lagi. NII ini tidak ada bedanya dengan
bank kredit," kata Bachtiar.

Sukanto menuturkan tujuan utama NII yang katanya mendirikan negara Islam semua
hanya bohong. Yang sebenarnya tujuan NII hanyalah mengumpulkan uang bagi
pemimpinnya."Uang setelah dikumpulkan dari warga dengan berbagai cara ya diserahkan
untuk dimiliki atau dikorupsi pimpinan. Tidak pernah itu kemudian sungguh-sungguh
akan membangun negara Islam," kata Sukanto.

Demi pengumpulan dana itulah berbagai cara dihalalkan oleh NII. Setiap orang yang
direkrut oleh NII diwajibkan melakukan hijrah. Untuk hijrah tersebut harus
membersihkan dosa dengan membayar sejumlah uang.

"Jumlahnya tergantung. Sebenarnya kalau di Jakarta Timur tidak banyak bisa hanya Rp
200 ribu untuk biaya hijrah. Tapi masalahnya calon diprovokasi. Kan di situ ada beberapa
orang lainnya yang mendoktrin korban dan mereka akan bilang mislanya kalau saya
sudah 20 tahun ya kalau membersihkan diri mandi habisnya sekitar Rp 10 juta. Nah di
situ korban kemudian hanya mengikut saja," kisah Ken Setiawan.

Setelah membersihkan diri dari dosa, warga NII masih dikenai infaq wajib per bulan.
Saat zaman Bachtiar, tahun 1996, ia harus membayar setiap bulan Rp 50 ribu sebagai
infaq untuk negara. Selain infaq masih ada banyak biaya lainnya yang harus dikeluarkan
seperti uang pembinaan dan sebagainya.

Untuk setoran kepada NII, bila warga tidak lagi bisa membiayai dari uangnya sendiri,
mereka diajarkan melakukan berbagai tindakan kriminal. Tindakan kriminal tersebut
menjadi halal dengan alasan yang jadi sasaran tindakan adalah orang kafir karena bukan
anggota NII. Perbuatan kriminal tersebut mulai dari membuat proposal fiktif, menipu dan
bahkan merampok.

Waktu menjadi lurah di Kayu Putih, Distrik Pulo Gadung, Jakarta Timur, Ken Setiawan
memimpin pembantu rumah tangga (PRT) yang melakukan penipuan di rumah-rumah
mewah. "Saat itu saya bisa mengumpulkan emas semeja dari aksi para PRT itu," kenang
Ken yang setelah keluar dari NII sibuk berdagang ini.

Ken yang sudah bertobat dari NII ini menyimpulkan meskipun berkedok Islam,
sesunguhnya ajaran NII adalah ajaran setan. Semua cara dihalalkan demi uang.




 Jangan Takut Keluar NII, Ancaman Bunuh Cuma Bohongan




Anda punya teman atau saudara yang tiba-tiba suka bohong, tiba-tiba banyak teman yang
sering berkunjung, tiba-tiba jadi supersibuk dan jarang pulang serta sering minta uang
tanpa alasan yang jelas?

Waspadalah! Bisa jadi teman atau saudara anda itu menjadi korban pencucian otak aliran
sesat. Suka bohong sampai sering minta uang dengan alasan tidak jelas, menurut Ketua
Tim Rehabilitasi NII Crisis Center Sukanto merupakan ciri-ciri korban cuci otak Negara
Islam Indonesia Komandemen Wilayah 9 (NII KW 9).

Pengamat intelijen Wawan Purwanto menyatakan gerakan perekrutan dan pencucian otak
ini semakin masif sejak 2009. Gerakan ini berupaya merekrut sebanyak-banyaknya
anggota. Dalam seminggu 1 anggota diperintah merekrut 7 orang. Jadi dalam sehari harus
merekrut 1 orang.

Selain mengumpulkan orang para anggota juga diwajibkan mengumpulkan uang.
Dahsyatnya, dari setiap anggota yang direkrut paling tidak bisa dimintai uang sedekah
sebesar Rp 3 juta sampai Rp 6 juta.

Sementara menurut Sukanto, di NII setiap anggota dikenai kewajiban merekrut 20 orang
setiap bulan.Saat ini NII menurut mantan camat NII wilayah Tebet, Jakarta Selatan ini,
anggota NII mencapai sekitar 200 ribu orang. Dengan jumlah anggota itu, NII mampu
mendapatkan uang miliaran setiap bulan.

"Di Jawa tengah itu dengan anggota 1.900 orang bisa mengumpulkan uang Rp 2 miliar
sebulan. Di Jakarta dengan anggota 1.500 orang terkumpul hingga Rp 9 miliar," kata
Sukanto.

Sukanto yang pernah menjabat sebagai camat NII untuk wilayah Tebet, Jakarta Selatan
itu menyatakan NII saat ini sudah modern dalam merekrut anggotanya. Mereka juga
memakai jejaring sosial baik Facebook maupun Twitter. Namun metode yang dilakukan
hampir selalu sama.

Awalnya, aktivis NII akan mendekati targetnya dengan mengajak diskusi. Pertemuan
awal itu biasanya tidak berbicara soal agama, tapi bisa soal topik apa saja yang membuat
si target tertarik. "Di tahap inilah proses doktrin sudah dimulai," ungkap Sukanto pada
detikcom.

Setelah dilakukan pertemuan 2-3 kali, si target akan dipersiapkan hijrah. Namun, target
akan diminta memberikan sedekah untuk membersihkan diri dari dosa-dosa mereka
selama ini. "Nilai sedekah ini akan disesuaikan dengan tingkat perekonomian si target
sendiri. Bisa mulai Rp 100 ribu sampai Rp 10 juta," kata Anto, panggilan akrab Sukanto
yang kini sibuk menggelar seminar tentang kesesatan NII.

Setelah itu, target akan hijrah dengan dijemput di suatu tempat dan lalu dibawa dengan
mata tertutup. Begitu sampai di lokasi yang dituju, target akan langsung dibina pada
malam harinya, sehingga mau menyatakan dirinya masuk warga NII. Pembinaan itu akan
dilakukan berjam-jam tanpa henti, sehingga target mau menyatakan diri masuk NII, lalu
disumpah (baiat).

Namun modus tersebut merupakan modus dalam situasi normal. Dalam situasi darurat
untuk mencapai target, aktivis NII akan melakukan segala cara seperti menculik dan
memaksa sesorang untuk dibaiat. "Itulah mengapa banyak orang hilang," kata Sukanto.

Untuk mendapatkan targetnya, tim rekruitmen NII ini akan mencari korbannya ke
sejumlah tempat, seperti pasar, mall, sekolah, kampus. Hal ini diakui mantan Camat NII
Wilayah Karanganyar, Kebumen, Jawa Tengah bernama Bachtiar Rivai yang sempat
menjadi anggota NII tahun 1994-1996. Bachtiar sendiri sempat menjadi warga NII karena
pengaruh kakak kelasnya sewaktu kuliah di UGM.

Awalnya Bachtiar berpikir masuk NII akan berdampak bagus bagi keimanannya. Tapi
setelah bergabung ternyata tidak ada pembangunan jiwa yang dialaminya. Januari 1996,
Bachtiar memutuskan keluar dari NII.

"Ini kan kayak sistem downline MLM. Semakin tinggi jabatannya semakin lama di dalam
saya lihat banyak penyimpangan. Kalau salat diejek, ngapain jengkang-jengking salat,
mending Tilawah, maksudnya merekrut orang," kata Bachtiar.
Orang yang masuk jaringan NII, kehidupannya akan berantakan. "Saya saat itu tidak
semakin baik, malah semakin buruk. Kuliah nggak beres, nilai memburuk, hubungan
sama keluarga dan teman buruk dan dingin. Kehidupan tidak nyaman, karena teman
banyak yang menjauh,” tutur pria yang terpaksa kuliah hingga 10 tahun ini gara-gara ikut
NII.

Kehidupan orang yang masuk NII berantakan karena anggota NII diwajibkan merekrut
sejumlah orang setiap bulannya. Belum lagi target uang yang besar. Para anggota itu
harus bolos kerja dan kuliahnya untuk memenuhi target NII.

Sukanto mengakui banyak juga warga NII yang keluar karena tidak tahan tekanan ‘jihad’
itu. Jihad dalam NII diartikan mencari uang dan mencari orang. Tapi banyak juga yang
tidak memiliki keberanian meninggalkan komunitas dan jaringan itu. Beda dengan
Bachtiar, dengan keberanian dan ketegasannya mengatakan pada rekan dan atasannya
menyatakan keluar dari NII.

Risiko yang diambilnya sampai saat ini Bachtiar terus menerima terror. "Sampai
sekarang teror ada, sebatas SMS saja dikatakan murtad, munafik, menggembosi negara,
disebut pengkhianat dan semua yang ada di kebun binatang keluar semua. Tapi saya tak
tanggapi itu. Kalau ancaman fisik belum pernah ada. Ya, hanya omongan lewat SMS
akan dibunuh," ujarnya.

Sukanto juga menyemangati orang yang mau keluar dari NII. Selama ini NII memang
digembar-gemborkan militan. Namun menurut Sukanto, militan di NII hanya militan
bohong-bohongan. Ancaman pembunuhan tidak akan dilakukan karena itu hanya gertak
sambal. Hingga kini tidak ada kasus mantan anggota NII dibunuh.

"Yang sudah keluar dan berani melawan, berani bercerita justru dianggap virus sehingga
ditinggalkan dan tidak ada pembunuhan," kata Sukanto.




                 Pencucian Otak Dilarang dalam Islam
Orang-orang yang menjadi target pencucian otak secara psikologi dipastikan memiliki
masalah kepribadian. Masalah kepribadian ini dikarenakan tidak mampu menangani
masalah yang ada di dalam dirinya sendiri, keluarga, lingkungan atau memang sedang
mencari jati diri.

"Karena dalam kasus ini, yang harus diteliti juga soal ini lebih jauh, karena bias saja
persoalan ini terhalusinasi," kata pengamat politik sosial dari Univiersitas Airlangga
(Unair) Kacung Marijan pada detikcom.

Ketua Tim Rehabilitasi NII Crisis Center Sukanto mengungkapkan korban NII umumnya
adalah orang-orang yang tertutup dan kurang perhatian. Dengan masuk NII mereka
seperti mendapatkan banyak teman dan mendapatkan perhatian.

"Pada awalnya masuk NII mengasyikkan karena mendapat komunitas baru, ada
pengganti teman. Kita tiba-tiba menjadi hebat dari yang bukan siapa-siapa, di NII lantas
diangkat sebagai rasul. Di NII itu semua anggota adalah rasul. Tapi keasyikan itu tidak
akan lama kita akan sadar telah diperas," kata Sukanto yang pernah menjabat sebagai
camat NII wilayah Tebet Jakarta Selatan ini.

Sementara itu, mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH
Abdul Hasyim Muzadi mengatakan praktek pencucian otak sangat dilarang dalam ajaran
Islam. Karenanya ia meminta agar aparat kepolisian dan keamanan untuk segera
memberantas serta serius menyelidiki secara tuntas kasus ini.

"Sebab hal semacam ini mengingatkan saya akan kejadian sebelum tahun 19665. Ini bisa
saja dilakukan oleh kelompok ekstrimis Islam, bisa juga dilakukan kaum atheis tak
bertuhan yang menyusup kemana-mana dan mengaduk-adukan dengan agama," kata
Hasyim.

Hasyim pun mencontohkan kasus kerusuhan Temanggung yang terpancing hujatan
seorang pendeta, yang ternyata juga sering menghujat Kristen dan Katolik. Kasus Batu,
Malang seorang pendeta menginjak Alquran, ternyata baru masuk agama Kristen dua
hari. Kasus penusukan pendeta di Cikeuting, Bekasi dan Cikeusik Pandeglang, semua
tidak pernah terungkap dengan benar. Hasyim menambahkan, sejak dari dahulu soal NII
ini sudah ada dengan modusnya yang selalu berganti-ganti.

"Tapi kalau untuk urusan bentrokan fisik ya dilakukan dua kelompok ini, ekstrimis Islam
dan kaum atheis tak bertuhan itu yang selalu mengobok-obok. Modus pencucian otak
memang selama ini belum terjadi, termasuk di kalangan ekstrimis. Tapi ini model seperti
ini bisa saja dimanfaatkan oleh kelompok atheis untuk mengesankan ini dilakukan
kelompk ekstrimis Islam,” kata Hasyim.

Dalam kasus ini, Hasyim kembali menyatakan agar aparat intelijen Indonesia bekerja
secara optimal agar masyarakat tidak terus diadudomba. Selain itu, peran para ulama
untuk memberikan pemahaman agama yang benar, termasuk memberikan informasi soal
keberadaan ekstrimis dan kaum atheis itu kepada masyarakat.
"Saya kira ini kasus multidimensi. Kontradiktif ya, tidak hanya di dalam agama saja, tapi
juga soal ekonomi, perdagangan, politik dan hokum dan soal social lainnya. Nah siapa
yang selalu bermain bisnis bencana seperti ini? Ini yang harus diungkapkan," ujarnya.

Pemerintah dalam hal ini Menteri Agama Suryadarma Ali meminta agar masyarakat tidak
cepat terpengaruh oleh ajaran baru yang berpotensi menyesatkan dan bertujuan jahat.

"Imbauan saya kepada masyrakat agar berhati-hati menerima pandangan-pandangan baru,
menerima ajaran baru. Jangan cepat terpengaruh karena pandangan-pandangan baru itu
perlu dipikirkan secara tenang, matang, disaring dengan demikian agar bisa kita tentukan
apakah itu cocok. Kita masyrakat harus waspada," ujar pria yang akrab disapa SDA itu.

Kepolisian sampai saat ini belum menemukan indikasi keterkaitan NII dalam kasus Lian.
Polisi pun belum bisa menduga siapa pelaku pencucian otak karena kondisi kejiwaan
Lian yang belum pulih dan bisa dimintai keterangannya.

"Kita tidak bisa menuding siapa pelakunya tanpa fakta," ujar Kabid Humas Polda Metro
Jaya, Kombes Pol Baharudin Djafar.

Meski demikian Mabes Polri mengimbau semua Polda agar aktif menyelidiki kasus NII.
"Kita harapkan semua polda aktif untuk melakukan penyidikan penyelidikan (kasus
NII)," kata Kadiv Humas Polri Irjen Pol Anton Bachrul Alam.

Menurut Anton, kasus pencucian otak yang dilakukan NII memang pernah hidup di
Indonesia. Saat itu, Polri telah berhasil menumpasnya dan mengembalikan para korban.
"Dulu Jabar pernah dibongkar, mudah-mudahan di tempat lain demikian," jelas Anton.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:75
posted:5/13/2011
language:Indonesian
pages:12