Docstoc

MAKALAH interaksi sosial

Document Sample
MAKALAH interaksi sosial Powered By Docstoc
					                                MAKALAH

                           INTERAKSI SOSIAL

Diajukan Untuk Memenuhi salah Satu Tugas Mata kuliah Tempat Ruang Dan Sistem
                                   Sosial

                                   Oleh :

                            Anak-anak 06 social

                             Kelas : IPS Reguler

         PROGRAM S-1 PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR

                UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA

                            KAMPUS CIBIRU

                                BANDUNG

                                    2009
                               KATA PENGANTAR

Alhamdullillahhirobil a’lamin, segalah puji kita panjatkan kehadirat Allah SWT atas
segalah rahmat dan hidayahnya tercurahkan kepada kita yang tak terhingga ini, sholawat
serta salam kita panjatkan kepada junjungan Nabi besar kita Muhammad SAW dan
keluarganya, sahabatnya, beserta pengikutnya sampai akhir zaman amin ya robal alamin.

Karena anugerah dan bimbingan-Nya kami dapat menyelesaikan makalah ini yang
merupakan salah satu tugas dari mata kuliah TEMPAT RUAG DAN SISTEM SOSIAL
tepat waktu. Kami menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini banyak sekali terdapat
banyak kekurangan. Oleh karena itu kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang
sifatnya membangun demi kesempurnaan makalah ini.

Kami menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu
dalam penyusunan makalah ini. Semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi
kami khususnya dan kepada para pembaca umumnya.

Batang, Februari 2011

Penyusun
                                      DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

1.2. Rumusan masalah

1.3. Tujuan

1.4. Metode dan Prosedur

1.5. Sistematika Penulisan

BAB II PEMBAHASAN

2.I. Tindakan Sosial

2.2. Interaksi Sosial

2.3. Bentuk-Bentuk Interaksi Sosial

BABA III PENUTUP

3.1   Kesimpulan

3.2    Saran

DAFTAR PUSTAKA
                                          BAB I

                                   PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Interaksi sosial adalah hubungan timbal balik yang saling mempengaruhi. Ada aksi dan
ada reaksi. Pelakunya lebih dari satu. Individu vs individu. Individu vs kelompok.
Kelompok vs kelompok dll. Contoh guru mengajar merupakan contoh interaksi sosial
antara individu dengan kelompok. Interaksi sosial memerlukan syarat yaitu Kontak Sosial
dan Komunikasi Sosial.

Kontak sosial dapat berupa kontak primer dan kontak sekunder. Sedangkan komunikasi
sosial dapat secara langsung maupun tidak langsung. Interaksi sosial secara langsung
apabila tanpa melalui perantara. Misalnya A dan B bercakap-cakap termasuk contoh
Interaksi sosial secara langsung. Sedangkan kalau A titip salam ke C lewat B dan B
meneruskan kembali ke A, ini termasuk contoh interaksi sosial tidak langsung.

Faktor yang mendasari terjadinya interaksi sosial meliputi imitasi, sugesti, identifikasi,
indenifikasi, simpati dan empati Imitasi adalah interaksi sosial yang didasari oleh faktor
meniru orang lain. Contoh anak gadis yang meniru menggunakan jilbab sebagaimana
ibunya memakai. Sugesti adalah interaksi sosial yang didasari oleh adanya pengaruh.
Biasa terjadi dari yang tua ke yang muda, dokter ke pasien, guru ke murid atau yang kuat
ke yang lemah. Atau bisa juga dipengaruhi karena iklan.

Indentifikasi adalah interaksi sosial yang didasari oleh faktor adanya individu yang
mengindentikkan (menyadi sama) dengan pihak yang lain. Contoh menyamakan
kebiasaan pemain sepakbola idolanya. Simpati adalah interaksi sosial yang didasari oleh
foktor rasa tertarik atau kagum pada orang lain.

Empati adalah interaksi sosial yang disasari oleh faktor dapat merasakan apa yang
dirasakan oleh orang lain, lebih dari simpati. Contoh tindakan membantu korban bencana
alam. Interaksi sosial mensyaratkan adanya kontak sosial dan komunikasi sosial.
Kemudian membuat terjadinya proses sosial. Proses sosial dapat bersifat asosiatif dan
disasosiatif Asosiatif meliputi akomodasi, difusi, asimilasi, akulturasi, kooperasi
(kerjasama) (Intinya interaksi social yang baik-baik, kerjasama, rukun, harmonis, serasa
dll). Contoh kerja sama antara depertemen pendidikan nasional dengan PT Telkom dalam
program Jardiknas.

Disasosiatif meliputi konflik, kontravensi dan kompetensi (Intinya interaksi sosial yang
tidak baik, penuh persaingan, perang dingin, bertengkar dll). Contoh Bapak memukul
anaknya karena tidak mendengarkan nasihatnya. Menyuruh pergi seorang pengemis
dengan cara membentak.

1.2. Rumusan masalah
Berpijak dari latar belakang di atas, maka yang menjadi rumusan masalah pada penulisan
makalah ini adalah :

   1. Seperti apakah tindakan sosial di masyarakat?
   2. Apa yang dimaksud dengan interaksi sosial?
   3. Bagaimana bentuk-bentuk interksi sosial?

1.3. Tujuan

Tujuan pembuatan makalah ini adalah untuk memenuhi salah satu tugas Mata kuliah
Tempat Ruang Dan Sistem Sosial serta untuk wawasan dan ilmu kami tentang pengaruh
interaksi sosial bagi masyarakat

1.4. Metode dan Prosedur

Metode yang digunakan penulis dalam penyusunan makalah ini yaitu dengan
mengumpulkan informasi dari berbagai buku dan browsing di internet.

1.5. Sistematika Penulisan

Makalah ini disusun dengan menggunakan kaidah penulisan makalah secara umum yaitu
:

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

1.2. Rumusan masalah

1.3. Tujuan

1.4. Metode dan Prosedur

1.5. Sistematika Penulisan

BAB II PEMBAHASAN

2.I. Tindakan Sosial

2.2. Interaksi Sosial

2.3. Bentuk-Bentuk Interaksi Sosial
BABA III PENUTUP

3.3 Kesimpulan

3.4 Saran

DAFTAR PUSTAKA
                                        BAB II

                                   PEMBAHASAN

2.1. Tindakan Sosial

A. Pengertian Tindakan Sosial

Tindakan atau aksi berarti pmbuatan atau sesuatu yang dilakukan. Secara sosiologis,
tindakan artinya seluruh perbuatan manusia yang dilakukan secara sadar atau tidak
disadari, sengaja atau tidak disengaja yang mempunyai makna subyektif bagi pelakunya.

Didalam sosiologi, tindakan sosoial banyak dikemukakan oleh Max Weber (1864-1920)
seorang ahli sosiologi Jerman, dimana tindakan sosial dimulai dari tindakan individu atau
perilaku individu dengan perilaku oang lain, yang diorientasikan pada hasil tindakan
tersebut, sehingga dapat dipahami secara subjektif, maksudnya setiap tindakan sosial
yang dilakukan seseorang akan memiliki maksud atau makna tertentu.

Jadi tindakan sosial pada diri orang baru terjadi apabila tindakan tersebut dihubungkan
dengan orang lain. Tindakan sosial yang dimulai dari tindakan indiidu-individu memiliki
keunikan atau ciri tersendiri.

B. Ciri-cici Tindakan Sosial

Bentuk tolak dari konsep dasar tentang tindakan sosial dan antar hubungan sosial, maka
terdapat lima ciri pokok yang menjadi sasaran sosiologi, yaitu:

   1. Tindakan manusia yang menurut si aktor mengandung makna subyektif, hal ini
      meliputi tindakan nyata.
   2. Tindakan nyata yang bersifat membatin sepenuhnya dan bersifat subyektif.
   3. Tindakan yang berpengaruh positif dari suatu situasi, maka tindakan tersebut akan
      diulang.
   4. Tindakan itu diarahkan pada seseorang atau pada individu.
          1. Tindakan itu memperhatikan tindakan individu lain dan terarah pada orang
             atau individu yang dituju.

C. Faktor Pendorong Melakukan Tindakan Sosial

Manusia merupakan makhluk yang tidak akan bisa hidup tanpa manusia lain, sbab secara
biologis manusia adalah makhluk yang palin lemah. Sejak dilahirkan ke dunia, manusia
mempunyai dua hasyat atau keinginan pokok, yaiyu keinginan pokok, yaitu keinginan
untuk menjadi satu dengan manusia lain di sekitarnya (masyaraakat) dan keinginan untuk
menjadi satu dengan lingkungan alam di skitarnya.

Untuk memperoleh kedua hasrat tersebut, manusia menggunakan akalnya (pikiran,
perasaan, dan kehendak). Menyadari kelemahan dan kekurangannya dalam menyesuaikan
diri serta menghadapi tantangan alam yang tidak mungkin dilakukan secara sendiri-
sendiri atau perorangan, manusia menghimpun diri dan mengelompokan dirinya dengan
manusia lain yang kemudian disebut masyarakat.

D. Bentuk-bentuk Tindakan Sosial

Pada dasarnya tindakan manusia, baik sebagai individu maupun makhluk sosial terdiri
dari dua tindakan pokok yaitu tindakan lahiriah dan tindakan batiniah, sbagai berikut:

   1. Tindakan lahiriah adalah tata cara bertindak yang tampak atau dapat dilihat dan
      cendeung ditiru secara berulang-ulang oleh banyak orang.
   2. Tindaka batiniah adalah cara berfikir, berperasaa, dan berkehendak yang
      dingkapkan dalam sikap dan bertindak, dilakukan berulang kali dan di ikuti oleh
      banyak orang.

Di dalam kehidupan masyarakat, kita dapat mengenali beberapa pola tindakan bathiniah
yang terdiri dari bantuk-bentuk sebagai berikut:

   1. prasangka (prejudice), adalah anggapan atau penilaian terhadap suatu penomana
      tanpa di tunjang dengan bukti-bukti yang dapat dipertanggungjawabkan.
   2. sikap sosial (social attitude), adalah suatu bentuk pola perilaku lahiriah dan
      bathiniah terhadap fenomena atua gejala yang mempunyai arti sosial.
   3. pendapat umum (publik opinion), adalah suatu komposisi pikiran masyarakat
      yang berpola dan dibentuk dari beberapa golongan atau kelompok.
   4. propagan, adalah suatu makanisme kegiatan yang dilakukan denga cara
      mempengaruhu massa atau publik agar mau untuk menerima pola fikiran tertentu.

Pada dasarnya tindakan sosial dapat dibedakan menjadi empat tipetindakan berdasarkan
tingkat kemudahan untuk dipahami sebagai berikut:

   1. Rasionalitas instrumental.

Merupakan tindakan sosial murni, dimana tindakan tersebut dilakukan dengan
memperhitungkan kesesuaian antara cara yang digunakan dan tujuan yang akan dicapai
(bersifat rasional).

   1. Rasionalitas berorientasi nilai.

Tindakan itu dilakukan dengan memperhitungkan manfaatnya, tetapi tujuan yang dicapai
tidak terlalu dipetimbangkan yang penting tindakan terbut baik dan benar menuut
penilaian masyarakat.

   1. Tindakan afektif.

Tindakan ini dilakukan dengan dibuat-buat yang didasari oleh perasaan atau emosi dan
kepura-puraan seseorang.
4.    Tindakan tradisional

Tindakan ini didasarkan atas kebiasaan-kebiasaan dalam mengerjakan sesuatu dimasa
lalunya atau yang dilakukan oleh orang-orang terdahulu, tanpa pehitungan secara matang,
dan sama sekali tidak rasional.

E. Bentuk Tindakan Sosial

1.    Tindakan Sosial

Tidak semua tindakan manusia dinyatakan sebagai tindakan sosial misalnya : Seorang
pemuda yang sedang mengkhayalkan gadis impiannya secara diam – diam . Menurut
MAX WEBER , tindakan sosial adalah tindakan seorang individu yang dapat
mempengaruhi individu – individu lainnya dalam masyarakat . Tindakan sosial dapat
dibedakan menjadi 4 macam yaitu :

     1. Tindakan Rasional Instrumental : Tindakan yang dilakukan dengan
        memperhitungkan kesesuaian antara cara dan tujuan.

Contoh : Bekerja Keras untuk mendapatkan nafkah yang cukup .

     1. Tindakan Rasional Berorientasi nilai : Tindakan – Tindakan yang berkaitan
        dengan nilai – nilai dasar dalam masyarakat.

Contoh : Tindakan –Tindakan yang bersifat Religio – magis .

     1. Tindakan Tradisional ; Tindakan yang tidak memperhitungkan pertimbangan
        Rasional.

Contoh : Berbagai macam upacara tradisi yang dimaksudkan untuk melestarikan
kebudayaan leluhur .

     1. Tindakan Ofektif : Tindakan – Tindakan yang dilakukan oleh seorang kelompok
        orang berdasarkan perasaan emosi

2.2. Interaksi Sosial

Interaksi sosial dapat diartikan sebagai hubungan-hubungan sosial yang dinamis.
Hubungan sosial yang dimaksud dapat berupa hubungan antara individu yang satu
dengan individu lainnya, antara kelompok yang satu dengan kelompok lainnya, maupun
antara kelompok dengan individu. Dalam interaksi juga terdapat simbol, di mana simbol
diartikan sebagai sesuatu yang nilai atau maknanya diberikan kepadanya oleh mereka
yang menggunakannya

Proses Interaksi sosial menurut Herbert Blumer adalah pada saat manusia bertindak
terhadap sesuatu atas dasar makna yang dimiliki sesuatu tersebut bagi manusia.
Kemudian makna yang dimiliki sesuatu itu berasal dari interaksi antara seseorang dengan
sesamanya. Dan terakhir adalah Makna tidak bersifat tetap namun dapat dirubah,
perubahan terhadap makna dapat terjadi melalui proses penafsiran yang dilakukan orang
ketika menjumpai sesuatu. Proses tersebut disebut juga dengan interpretative process

Interaksi sosial dapat terjadi bila antara dua individu atau kelompok terdapat kontak
sosial dan komunikasi. Kontak sosial merupakan tahap pertama dari terjadinya hubungan
sosial Komunikasi merupakan penyampaian suatu informasi dan pemberian tafsiran dan
reaksi terhadap informasi yang disampaikan. Karp dan Yoels menunjukkan beberapa hal
yang dapat menjadi sumber informasi bagi dimulainya komunikasi atau interaksi sosial.
Sumber Informasi tersebut dapat terbagi dua, yaitu Ciri Fisik dan Penampilan. Ciri Fisik,
adalah segala sesuatu yang dimiliki seorang individu sejak lahir yang meliputi jenis
kelamin, usia, dan ras. Penampilan di sini dapat meliputi daya tarik fisik, bentuk tubuh,
penampilan berbusana, dan wacana.

Interaksi sosial memiliki aturan, dan aturan itu dapat dilihat melalui dimensi ruang dan
dimensi waktu dari Robert T Hall dan Definisi Situasi dari W.I. Thomas. Hall membagi
ruangan dalam interaksi sosial menjadi 4 batasan jarak, yaitu jarak intim, jarak pribadi,
jarak sosial, dan jarak publik. Selain aturan mengenai ruang Hall juga menjelaskan aturan
mengenai Waktu. Pada dimensi waktu ini terlihat adanya batasan toleransi waktu yang
dapat mempengaruhi bentuk interaksi. Aturan yang terakhir adalah dimensi situasi yang
dikemukakan oleh W.I. Thomas. Definisi situasi merupakan penafsiran seseorang
sebelum memberikan reaksi. Definisi situasi ini dibuat oleh individu dan masyarakat.

Interaksi Sosial adalah suatu proses hubungan timbale balik yang dilakukan oleh individu
dengan individu, antara indivu dengan kelompok, antara kelompok dengan individu,
antara kelompok dengan dengan kelompok dalam kehidupan social.

Dalam kamus Bahasa Indonesia Innteraksi didifinisikan sebagai hal saling melalkukan
akasi , berhubungan atau saling mempengaruhi. Dengan demikian interaksi adalah
hubungan timbale balik (social) berupa aksi salaing mempengaruhi antara indeividu
dengan individu, antara individu dankelompok dan antara kelompok dengan dengan
kelompok.

Gillin mengartikan bahwa interaksi social sebagai hubungan-hubungan social dimana
yang menyangkut hubungan antarandividu , individu dan kelompok antau antar
kelompok. Menurut Charles P. loomis sebuah hubungan bisa disebut interaksi jika
memiliki ciri-ciri sebagai berikut :

   1. jumlah pelakunya dua orang atau lebih
   2. adanya komunikasi antar pelaku dengan menggunakan simbul atau lambing-
      lambang
   3. adanya suatu demensi waktu yang meliputi ,asa lalu, masa kini, dan masa yang
      akan dating .
   4. adanya tujuan yang hendak dicapai.
Syarat terjadinya interaksi adalah :

   1. Adanya kontak sosial

Kata kontak dalam bahasa inggrisnya “contack”, dari bahasa lain “con” atau “cum” yang
artinya bersama-sama dan “tangere” yang artinya menyentuh . Jadi kontak berarti sama-
sama menyentuh.Kontak social ini tidak selalu melalui interaksi atau hubungan fisik,
karena orang dapat melakuan kontak social tidak dengan menyentuh, misalnya
menggunakan HP, telepon dsb.

Kontak social memiliki memiliki sifat-sifat sebagai berikut :

   1. Kontak social bisa bersifat positif dan bisa negative. Kalau kontak social
      mengarah pada kerjasama berarti positif, kalau mengarah pada suatu pertentangan
      atau konflik berarti negative.
   2. Kontak social dapat bersifat primer dan bersifat skunder. Kontak social primer
      terjadi apa bila peserta interaksi bertemu muka secara langsung. Misanya kontak
      antara guru dengan murid dsb. Kalau kontak skunder terjadi apabila interaksi
      berlangsung melalui perantara. Missal percakapan melalui telepon, HP dsb.

2. Komunikasi

Komunikasi adalah suatu proses penyampaian informasi dari satu pihak kepihak yang
lain dalam rangka mencapai tujuan bersama.

Ada lima unsure pokok dalam komunikasi yaitu

   1. Komunikator yaitu orang yang menyampaikan informasi atau pesan atau perasaan
      atau pemikiran pada pihak lain.
   2. Komunikan yaitu orang atau sekelompok orang yang dikirimi pesan, pikiran,
      informasi.
   3. Pesan yaitu sesuatu yang disampaikan oleh komunikator kepada komunikan.
   4. Media yaitu alat untuk menyampaiakn pesan
          1. Efek/feed back yaitu tanggapan atau perubahan yang diharapkan terjadi
             pada komunikan setelah mendapat pesan dari komunikator.

Ada tiga tahapan penting dalam komunikasi:

   1. Encoding . Pada tahap ini gagssaan atau program yang akan dikomunikasikan
      diwujudkan dalam kalimat atau gambar . dalam tahap ini komunikator harus
      memilih kata atau istilah ,kalimat dan gambar yang mudah dipahami oleh
      komunikan. Komunikator harus menghindari penggunaan kode-kode yang
      membingungkan komunikan.
   2. Penyampaian. Pada tahap ini istilah atau gagasan yang telah diwujudkan dalam
      bentuk kalimat dan gambar disampaiakan . Penyampaian dapat berupa lisan dan
      dapat berupa tulisan atau gabungan dari duanya.
    3. Decoding Pada tahap ini dilakukan proses mencerna fdan memahami kalimat
       serta gambar yang diterima menuruy pengalaman yang dimiliki.

Ada beberapa factor yang mendorong terjadinya interaksi social ;

Interaksi sosial terbentuk oleh factor – factor berikut ini :

    1.
            1. Tindakan Sosial
            2. Kontak SosiaL
            3. Komunikasi Sosial

Tidak semua tindakan manusia dinyatakan sebagai tindakan sosial misalnya : Seorang
pemuda yang sedang mengkhayalkan gadis impiannya secara diam-diam . Menurut MAX
WEBER, tindakan sosial adalah tindakan seorang individu yang dapat mempengaruhi
individu-individu lainnya dalam masyarakat . Tindakan sosial dapat dibedakan menjadi 4
macam yaitu :

Tindakan Rasional Instrumental merupakan tindakan yang dilakukan dengan
memperhitungkan kesesuaian antara cara dan tujuan . Contoh : Bekerja Keras untuk
mendapatkan nafkah yang cukup.

Tindakan Rasional Berorientasi nilai merupakan tindakan-tindakan yang berkaitan
dengan nilai-nilai dasar dalam masyarakat . Contoh :tindakan-tindakan yang bersifat
Religi-magis

Tindakan Tradisional ; Tindakan yang tidak memperhitungkan pertimbangan Rasional .
Contoh : Berbagai macam upacara \ tradisi yang dimaksudkan untuk melestarikan
kebudayaan leluhur .

Tindakan Ofektif : Tindakan – Tindakan yang dilakukan oleh seorang \ kelompok orang
berdasarkan perasaan \ emosi.

Dalam kehidupan sehari-hari kontak sosial dapat dilakukan dengan cara :

Kontak Sosial yang dilakukan menurut cara pihak – pihak yang berkomunikasi . Cara
kontak sosial itu ada 2 macam yaitu :
Kontak Langsung : Pihak komunikator menyampaikan pesannya secara langsung kepada
pihak komunikan .

Kontak Tidak Langsung : Pihak komunikator menyampaikan pesannya kepada pihak
komunikan melalui perantara pihak ketiga .
Kontak Sosial yang dilakukan menurut terjadinya proses komunikasi .

Ada 2 macam kontak sosial .
1. Kontak Primer

2. Kontak Sekunder

3. Komunikasi Sosial

Komunikasi artinya berhubungan atau bergaul dengan orang lain. Orang yang
menyampaikan komunikasi disebut komunikator , orang yang menerima komunikasi
disebut komunikan . Tidak selamanya kontak sosial akan menghasilkan interaksi sosial
yang baik apabila proses komunikasinya tidak berlangsungnya secara komunikatif .
Contoh : Pesan yang disampaikan tidak jelas , berbelit – belit , bahkan mungkin sama
sekali tidak dapat dipahami .

   1. Imitasi yaitu tindakan meniru orang lain
         1. Sugesti . Sugesti ini berlangsung apabila seseorang memberikan
              pandangan atau sikap yang dianutnya, lalu diterima oleh orang lain.
              Biasanya sugesti muncul ketika sipenerima sedang dalam kondisi yang
              tidak netral sehingga tidak dapat bewrfikir rasional.

Biasanya sugesti berasal dari orang-orang sebagai berikut:

   1.
           1. orang yang berwibawa, karismatik dan punya pengaruh terhadap yang
              disugesti, misalnya orang tua ulama dsb.
           2. Orang yang memiliki kedudukan lebih tinggi dari pada yang disugesti.
           3. Kelompok mayoritas terhadap minoritas.
           4. Reklame atau iklan media masa.

   1. Identifikasi yaitu merupakan kecenderungan atau keinginan seseorang untuk
      menjadi sama dengan pihak lain (meniru secara keseluruhan).
         1. Simpati yaitu merupakan suatu proses dimana seorang merasa tertarik
              kepada pihak lain. Melalui proses simpati orang merasa dirinya seolah-
              olah dirinya berasa dalam keadaan orang lain.
         2. Empati yaitu merupakan simpati yang menfdalam yang dapat
              mempengaruhi kejiwaan dan fisik seseorang.

Sumber informasi yang mendasari interaksi

   1.   warna kulit
   2.   usia
   3.   jenis kelamin
   4.   penampilan fisik
   5.   bentuk tubuh
   6.   pakaian
   7.   wacana
2.3. Bentuk-bentuk Interaksi Sosial

Bentuk-bentuk interaksi sosial yang berkaitan dengan proses asosiatif dapat terbagi atas
bentuk kerja sama, akomodasi, dan asimilasi. Kerja sama merupakan suatu usaha
bersama individu dengan individu atau kelompok-kelompok untuk mencapai satu atau
beberapa tujuan. Akomodasi dapat diartikan sebagai suatu keadaan, di mana terjadi
keseimbangan dalam interaksi antara individu-individu atau kelompok-kelompok
manusia berkaitan dengan norma-norma sosial dan nilai-nilai sosial yang berlaku dalam
masyarakat. Usaha-usaha itu dilakukan untuk mencapai suatu kestabilan. Sedangkan
Asimilasi merupakan suatu proses di mana pihak-pihak yang berinteraksi
mengidentifikasikan dirinya dengan kepentingan-kepentingan serta tujuan-tujuan
kelompok

Bentuk interaksi yang berkaitan dengan proses disosiatif ini dapat terbagi atas bentuk
persaingan, kontravensi, dan pertentangan. Persaingan merupakan suatu proses sosial, di
mana individu atau kelompok-kelompok manusia yang bersaing, mencari keuntungan
melalui bidang-bidang kehidupan. Bentuk kontravensi merupakan bentuk interaksi sosial
yang sifatnya berada antara persaingan dan pertentangan. Sedangkan pertentangan
merupakan suatu proses sosial di mana individu atau kelompok berusaha untuk
memenuhi tujuannya dengan jalan menantang pihak lawan yang disertai dengan ancaman
dan kekerasan.

Untuk tahapan proses-proses asosiatif dan disosiatif Mark L. Knapp menjelaskan tahapan
interaksi sosial untuk mendekatkan dan untuk merenggangkan. Tahapan untuk
mendekatkan meliputi tahapan memulai (initiating), menjajaki (experimenting),
meningkatkan (intensifying), menyatupadukan (integrating) dan mempertalikan
(bonding). Sedangkan tahapan untuk merenggangkan meliputi membeda-bedakan
(differentiating), membatasi (circumscribing), memacetkan (stagnating), menghindari
(avoiding), dan memutuskan (terminating).

Pendekatan interaksi lainnya adalah pendekatan dramaturgi menurut Erving Goffman.
Melalui pendekatan ini Erving Goffman menggunakan bahasa dan khayalan teater untuk
menggambarkan fakta subyektif dan obyektif dari interaksi sosial. Konsep-konsepnya
dalam pendekatan ini mencakup tempat berlangsungnya interaksi sosial yang disebut
dengan social establishment, tempat mempersiapkan interaksi sosial disebut dengan back
region/backstage, tempat penyampaian ekspresi dalam interaksi sosial disebut front
region, individu yang melihat interaksi tersebut disebut audience, penampilan dari pihak-
pihak yang melakukan interaksi disebut dengan team of performers, dan orang yang tidak
melihat interaksi tersebut disebut dengan outsider.

Erving Goffman juga menyampaikan konsep impression management untuk
menunjukkan usaha individu dalam menampilkan kesan tertentu pada orang lain. Konsep
expression untuk individu yang membuat pernyataan dalam interaksi. Konsep ini terbagi
atas expression given untuk pernyataan yang diberikan dan expression given off untuk
pernyataan yang terlepas. Serta konsep impression untuk individu lain yang memperoleh
kesan dalam interaksi.
Bentuk – Bentuk interaksi yang mendorong terjadinya lembaga, kelompok dan organisasi
sosial .

1. Bentuk Interaksi sosial menurut jumlah pelakunya .

A. Interaksi antara individu dan individu.

Individu yang satu memberikan pengaruh, rangsangan\Stimulus kepada individu lainnya.
Wujud interaksi bisa dalam dalam bentuk berjabat tangan, saling menegur, bercakap-
cakap mungkin bertengkar.

B. Interaksi antara individu dan kelompok                               Bentuk
interaksi antara individu dengan kelompok: Misalnya : Seorang ustadz sedang berpidato
didepan orang banyak. Bentuk semacam ini menunjukkan bahwa kepentingan individu
berhadapan dengan kepentingan kelompok .

C. Interaksi antara Kelompok dan Kelompok

Bentuk interaksi seperti ini berhubungan dengan kepentingan individu dalam kelompok
lain . Contoh : Satu Kesebelasan Sepak Bola bertanding melawan kesebelasan lain .

3. Bentuk Interaksi Sosial Menurut Proses Terjadinya.

Bentuk-bentuk interaksi sosial dapat berupa kerja sama (cooperation), persaingan
(competition), dan bahkan dapat juga berbentuk pertentangan atau pertikaian (conflict).
Pertikaian mungkin akan mendapatkan suatu penyelesaian, namun penyelesaian tersebut
hanya akan dapat diterima untuk sementara waktu, yang dinamakan akomodasi. Ini
berarti kedua belah pihak belum tentu puas sepenunya. Suatu keadaan dapat dianggap
sebagai bentuk keempat dari interaksi sosial. Keempat bentuk poko dari interaksi sosial
tersebut tidak perlu merupakan suatu kontinuitas, di dalam arti bahwa interaksi itu
dimulai dengan kerja sama yang kemudian menjadi persaingan serta memuncak menjadi
pertikaian untuk akhirnya sampai pada akomodasi.

Gillin dan Gillin mengadakan penggolongan yang lebih luas lagi. Menurut mereka, ada
dua macam proses sosial yang timbul sebagai akibat adanya interaksi sosial :

   1. Proses-proses yang Asosiatif

   1.
           1. Kerja Sama (Cooperation)

Suatu usaha bersama antara orang perorangan atau kelompok manusia untuk mencapai
suatu atau beberapa tujuan bersama. Bentuk kerja sama tersebut berkembang apabila
orang dapat digerakan untuk mencapai suatu tujuan bersama dan harus ada kesadaran
bahwa tujuan tersebut di kemudian hari mempunyai manfaat bagi semua. Juga harus ada
iklim yang menyenangkan dalam pembagian kerja serta balas jasa yang akan diterima.
Dalam perkembangan selanjutnya, keahlian-keahlian tertentu diperlukan bagi mereka
yang bekerja sama supaya rencana kerja samanya dapat terlaksana dengan baik.

Kerja sama timbul karena orientasi orang-perorangan terhadap kelompoknya (yaitu in-
group-nya) dan kelompok lainya (yang merupakan out-group-nya). Kerja sama akan
bertambah kuat jika ada hal-hal yang menyinggung anggota/perorangan lainnya.

Fungsi Kerjasama digambarkan oleh Charles H.Cooley ”kerjasama timbul apabila
orang menyadari bahwa mereka mempunyai kepentingan-kepentingan yang sama dan
pada saat yang bersamaan mempunyai cukup pengetahuan dan pengendalian terhadap
diri sendiri untuk memenuhi kepentingan-kepentingan tersebut; kesadaran akan adanya
kepentingan-kepentingan yang sama dan adanya organisasi merupakan fakta-fakta
penting dalam kerjasama yang berguna”

Dalam teori-teori sosiologi dapat dijumpai beberapa bentuk kerjasama yang biasa diberi
nama kerja sama (cooperation). Kerjasama tersebut lebih lanjut dibedakan lagi dengan :

   1. Kerjasama Spontan (Spontaneous Cooperation) : Kerjasama yang sertamerta
   2. Kerjasama Langsung (Directed Cooperation) : Kerjasama yang merupakan hasil
      perintah atasan atau penguasa
   3. Kerjasama Kontrak (Contractual Cooperation) : Kerjasama atas dasar tertentu
   4. Kerjasama Tradisional (Traditional Cooperation) : Kerjasama sebagai bagian atau
      unsur dari sistem sosial.

Ada 5 bentuk kerjasama :

   1. Kerukunan yang mencakup gotong-royong dan tolong menolong
   2. Bargaining, Yaitu pelaksana perjanjian mengenai pertukaran barang-barang dan
      jasa-jasa antara 2 organisasi atau lebih
   3. Kooptasi (cooptation), yakni suatu proses penerimaan unsur-unsur baru dalam
      kepemimpinan atau pelaksanaan politik dalam suatu organisasi sebagai salah satu
      cara untuk menghindari terjadinya kegoncangan dalam stabilitas organisasi yang
      bersangkutan
          1. Koalisi (coalition), yakni kombinasi antara dua organisasi atau lebih yang
              mempunyai tujuan-tujuan yang sama. Koalisi dapat menghasilkan keadaan
              yang tidak stabil untuk sementara waktu karena dua organisasi atau lebih
              tersebut kemungkinan mempunyai struktut yang tidak sama antara satu
              dengan lainnya. Akan tetapi, karenamaksud utama adalah untuk mencapat
              satu atau beberapa tujuan bersama, maka sifatnnya adalah kooperatif.
                  1. Joint venture, yaitu erjasama dalam pengusahaan proyek-proyek
                      tertentu, misalnya pengeboran minyak, pertambangan batubara,
                      perfilman, perhotelan, dst.

   1.
          1. Akomodasi (Accomodation)
Istilah Akomodasi dipergunakan dalam dua arti : menujukk pada suatu keadaan dan
yntuk menujuk pada suatu proses. Akomodasi menunjuk pada keadaan, adanya suatu
keseimbangan dalam interaksi antara orang-perorangan atau kelompok-kelompok
manusia dalam kaitannya dengan norma-norma sosial dan nilai-nilai sosial yang berlaku
dalam masyarakat. Sebagai suatu proses akomodasi menunjuk pada usaha-usaha manusia
untuk meredakan suatu pertentangan yaitu usaha-usaha manusia untuk mencapai
kestabilan.

Menurut Gillin dan Gillin, akomodasi adalah suatu perngertian yang digunakan oleh para
sosiolog untuk menggambarkan suatu proses dalam hubungan-hubungan sosial yang
sama artinya dengan adaptasi dalam biologi. Maksudnya, sebagai suatu proses dimana
orang atau kelompok manusia yang mulanya saling bertentangan, mengadakan
penyesuaian diri untuk mengatasi ketegangan-ketegangan. Akomodasi merupakan suatu
cara untuk menyelesaikan pertentangan tanpa menghancurkan pihak lawan sehingga
lawan tidak kehilangan kepribadiannya.

Tujuan Akomodasi dapat berbeda-beda sesuai dengan situasi yang dihadapinya, yaitu :

   1. Untuk mengurangi pertentangan antara orang atau kelompok manusia sebagai
      akibat perbedaan paham
   2. Mencegah meledaknya suatu pertentangan untuk sementara waktu atau secara
      temporer
          1. Memungkinkan terjadinya kerjasama antara kelompok sosial yang
              hidupnya terpisah akibat faktor-faktor sosial psikologis dan kebudayaan,
              seperti yang dijumpai pada masyarakat yang mengenal sistem berkasta.
          2. mengusahakan peleburan antara kelompok sosial yang terpisah.

Bentuk-bentuk Akomodasi:

   1. Corecion, suatu bentuk akomodasi yang prosesnya dilaksanakan karena adanya
      paksaan
   2. Compromise, bentuk akomodasi dimana pihak-pihak yang terlibat saling
      mengurangi tuntutannya agar tercapai suatu penyelesaian terhadap perselisihan
      yang ada.
   3. Arbitration, Suatu cara untuk mencapai compromise apabila pihak-pihak yang
      berhadapan tidak sanggup mencapainya sendiri
   4. Conciliation, suatu usaha untuk mempertemukan keinginan-keinginan dari pihak-
      pihak yang berselisih demi tercapainya suatu persetujuan bersama.
   5. Toleration, merupakan bentuk akomodasi tanpa persetujuan yang formal
      bentuknya.
   6. Stalemate, suatu akomodasi dimana pihak-pihak yang bertentangan karena
      mempunyai kekuatan yang seimbang berhenti pada satu titik tertentu dalam
      melakukan pertentangannya.
   7. Adjudication, Penyelesaian perkara atau sengketa di pengadilan

c. Asimilasi (Assimilation)
Asimilasi merupakan proses sosial dalam taraf lanjut. Ia ditandai dengan adanya usaha-
usaha mengurangi perbedaan-perbedaan yang terdapat antara orang-perorangan atau
kelompok-kelompok manusia dan juga meliputi usaha-usaha untuk mempertinggi
kesatuan tindak, sikap, dan proses-proses mental dengan memerhatikan kepentingan dan
tujuan bersama.

Proses Asimilasi timbul bila ada :

Kelompok-kelompok manusia yang berbeda kebudayaannya orang-perorangan sebagai
warga kelompok tadi saling bergaul secara langsung dan intensif untuk waktu yang lama
sehingga kebudayaan-kebudayaan dari kelompok-kelompok manusia tersebut masing-
masing berubah dan saling menyesuaikan diri

Beberapa bentuk interaksi sosial yang memberi arah ke suatu proses asimilasi (interaksi
yang asimilatif) bila memilii syarat-syarat berikut ini: Interaksi sosial tersebut bersifat
suatu pendekatan terhadap pihak lain, dimana pihak yang lain tadi juga berlaku sama
interaksi sosial tersebut tidak mengalami halangan-halangan atau pembatasan-
pembatasan. Interaksi sosial tersebut bersifat langsung dan primer. Frekuaensi interaksi
sosial tinggi dan tetap, serta ada keseimbangan antara pola-pola tersebut. Artinya,
stimulan dan tanggapan-tanggapan dari pihak-pihak yang mengadakan asimilasi harus
sering dilakukan dan suatu keseimbangan tertentu harus dicapai dan dikembangankan.

Faktor-faktor yang dapat mempermudah terjadinya suatu asimilasi adalah :

Toleransi

kesempatan-kesempatan yang seimbang di bidang ekonomi sikap menghargai orang
asing dan kebudayaannya sikap tebuka dari golongan yang berkuasa dalam masyarakat
persamaan dalam unsur-unsur kebudayaan perkawinan campuran (amaigamation) adanya
musuh bersama dari luar

Faktor umum penghalangan terjadinya asimilasi:

Terisolasinya kehidupan suatu golongan tertentu dalam masyarakat kurangnya
pengetahuan mengenai kebudayaan yang dihadapi dan sehubungan dengan itu seringkali
menimbulkan faktor ketiga perasaan takut terhadap kekuatan suatu kebudayaan yang
dihadapi perasaan bahwa suatu kebudayaan golongan atau kelompok tertentu lebih tinggi
daripada kebudayaan golongan atau kelompok lainnya.

Dalam batas-batas tertentu, perbedaan warna kulit atau perbedaan ciri-ciri badaniah dapat
pula menjadi salah satu penghalang terjadinya asimilasi In-Group-Feeling yang kuat
menjadi penghalang berlangsungnya asimilasi. In Group Feeling berarti adanya suatu
perasaan yang kuat sekali bahwa individu terikat pada kelompok dan kebudayaan
kelompok yang bersangkutan.
Gangguan dari golongan yang berkuasa terhadap minoritas lain apabila golongan
minoritas lain mengalami gangguan-gangguan dari golongan yang berkuasa faktor
perbedaan kepentingan yang kemudian ditambah dengan pertentangan-pertentangan
pribadi.

Asimilasi menyebabkan perubahan-perubahan dalam hubungan sosial dan dalam pola
adat istiadat serta interaksi sosial. Proses yang disebut terakhir biasa dinamakan
akulturasi. Perubahan-perubahan dalam pola adat istiadat dan interaksi sosial kadangkala
tidak terlalu penting dan menonjol.

2.   Proses Disosiatif

Proses disosiatif sering disebut sebagai oppositional proccesses, yang persis halnya
dengan kerjasama, dapat ditemukan pada setiap masyarakat, walaupun bentuk dan
arahnya ditentukan oleh kebudayaan dan sistem sosial masyarakat bersangkutan. Oposisi
dapat diartikan sebagai cara berjuang melawan seseorang atau sekelompok manusia
untuk mencapai tujuan tertentu. Pola-pola oposisi tersebut dinamakan juga sebagai
perjuangan untuk tetap hidup (struggle for existence). Untuk kepentingan analisis ilmu
pengetahan, oposisi proses-proses yang disosiatif dibedkan dalam tiga bentuk, yaitu :

1. Persaingan (Competition)

Persaingan atau competition dapat diartikan sebagai suatu proses sosial dimana individu
atau kelompok manusia yang bersaing mencari keuntungan melalui bidang-bidang
kehidupan yang pada suatu masa tertentu menjadi pusat perhatian umum (baik
perseorangan maupun kelompok manusia) dengan cara menarik perhatian publik atau
dengan mempertajam prasangka yang telah ada tanpa mempergunakan ancaman atau
kekerasan. Persaingan mempunya dua tipe umum :

Bersifat Pribadi : Individu, perorangan, bersaing dalam memperoleh kedudukan. Tipe ini
dinamakan rivalry.

Bersifat Tidak Pribadi : Misalnya terjadi antara dua perusahaan besar yang bersaing
untuk mendapatkan monopoli di suatu wilayah tertentu.

Bentuk-bentuk persaingan :

Persaingan ekonomi : timbul karena terbatasnya persediaan dibandingkan dengan jumlah
konsumen

Persaingan kebudayaan : dapat menyangkut persaingan bidang keagamaan, pendidikan,
dst.

Persaingan kedudukan dan peranan : di dalam diri seseorang maupun di dalam kelompok
terdapat keinginan untuk diakui sebagai orang atau kelompok yang mempunyai
kedudukan serta peranan terpandang.
Persaingan ras : merupakan persaingan di bidang kebudayaan. Hal ini disebabkan krn
ciri-ciri badaniyah terlihat dibanding unsur-unsur kebudayaan lainnya.

Persaingan dalam batas-batas tertentu dapat mempunyai beberapa fungsi :

Sebagai jalan dimana keinginan, kepentingan serta nilai-nilai yang pada suatu masa
medapat pusat perhatian, tersalurkan dengan baik oleh mereka yang bersaing.

Sebagai alat untuk mengadakan seleksi atas dasar seks dan sosial. Persaingan berfungsi
untuk mendudukan individu pada kedudukan serta peranan yang sesuai dengan
kemampuannya.

Sebagai alat menyaring para warga golongan karya (”fungsional”)

2.       Kontraversi (Contravetion)

Kontravensi pada hakikatnya merupakan suatu bentuk proses sosial yang berada antara
persaingan dan pertentangan atau pertikaian. Bentuk kontraversi menurut Leo von Wiese
dan Howard Becker ada 5 : yang umum meliputi perbuatan seperti penolakan,
keenganan, perlawanan, perbuatan menghalang-halangi, protes, gangguang-gangguan,
kekerasan, pengacauan rencana, yang sederhana seperti menyangkal pernyataan orang
lain di muka umum, memaki-maki melalui surat selebaran, mencerca, memfitnah,
melemparkan beban pembuktian pada pihak lain, dst. yang intensif, penghasutan,
menyebarkan desas desus yang mengecewakan pihak lain, yang rahasia, mengumumkan
rahasian orang, berkhianat. yang taktis, mengejutkan lawan, mengganggu dan
membingungkan pihak lain.

Contoh lain adalah memaksa pihak lain menyesuaikan diri dengan kekerasan, provokasi,
intimidasi, dst.

Menurut Leo von Wiese dan Howard Becker ada 3 tipe umum kontravensi :

1. Kontraversi generasi masyarakat : lazim terjadi terutama pada zaman yang sudah
mengalami perubahan yang sangat cepat

2. Kontraversi seks : menyangkut hubungan suami dengan istri dalam keluarga.

3. Kontraversi Parlementer : hubungan antara golongan mayoritas dengan golongan
minoritas dalam masyarakat.baik yang menyangkut hubungan mereka di dalam lembaga
legislatif, keagamaan, pendidikan, dst.

Tipe Kontravensi :

Kontravensi antarmasyarakat setempat, mempunyai dua bentuk :

1. Kontavensi antarmasyarakat setempat yang berlainan (intracommunity struggle)
2.. Kontravensi antar golongan-golongan dalam satu masyarakat setempat
(intercommunity struggle)

3. Pertentangan (Pertikaian atau conflict)

Pribadi maupun kelompok menydari adanya perbedaan-perbedaan misalnya dalam ciri-
ciri badaniyah, emosi, unsur-unsur kebudayaan, pola-pola perilaku, dan seterusnya
dengan pihak lain. Ciri tersebut dapat mempertajam perbedaan yang ada hingga menjadi
suatu pertentangan atau pertikaian.

Sebab musabab pertentangan adalah :

1. Perbedaan antara individu.

2. Perbedaan kebudayaan.

3. Perbedaan kepentingan.

perubahan sosial.

Pertentangan dapat pula menjadi sarana untuk mencapai keseimbangan antara kekuatan-
kekuatan dalam masyarakat. Timbulnya pertentangan merupakan pertanda bahwa
akomodasi yang sebelumnya telah tercapai.

Pertentangan mempunyai beberapa bentuk khusus:

1. Pertentangan pribadi

2. Pertentangan Rasial : dalam hal ini para pihak akan menyadari betapa adanya
perbedaan antara mereka yang menimbulkan pertentangan

3. Pertentangan antara kelas-kelas sosial : disebabkan karena adanya perbedaan
kepentingan

4. Pertentangan politik : menyangkut baik antara golongan-golongan dalam satu
masyarakat, maupun antara negara-negara yang berdaulat

5. Pertentangan yang bersifat internasional : disebabkan perbedaan-perbedaan
kepentingan yang kemudian merembes ke kedaulatan negara

Akibat-akibat bentuk pertentangan:

1. Tambahnya solidaritas in-group.

Apabila pertentangan antara golongan-golongan terjadi dalam satu kelompok tertentu,
akibatnya adalah sebaliknya, yaitu goyah dan retaknya persatuan kelompok tersebut.
2. Perubahan kepribadian para individu.

3. Hancurnya harta benda dan jatuhnya korban manusia.

4. Akomodasi, dominasi, dan takluknya salah satu pihak.
                                         BAB III

                                       PENUTUP

3.1. Kesimpulan

Arti Interaksi Sosial artinya melibatkan kedua belah pihak..
Faktor-faktor interaksi sosial antara lain

à.Imitasi : tindakan sosial meniru sikap,tindakan,tingkah laku atau penampilan fisik
seseorang secara berlebihan.

bSugesti : pemberian pengaruh atau pandangan dari satu pihak kepada pihak lain.
cIdentifikasi : kecenderungan dalam diri seseorang untuk menjadi sama dengan
oranglain. Simpati : suatu proses dimana seseorang merasa tertarik dengan orang lain.
Syarat-syarat interaksi sosial antara lain

kontak :kata kontak berasal dari con atau cum yang artinya bersama-sama dan kata tango
yang artinya menyentuh.jadi secara harfiah kontak berarti saling menyentuh. Wujud
kontak sosial dibedakan menjadi tiga antara lain
à kontak antarindividu contoh kontak antara anak dan orang tuanya,kontak antara siswa
dan siswa lainnya.

b kontak antar kelompok contoh kontak antara dua perusahaan dalam hubungan bisnis.

cKontak antara individu dan suatu kelompok contoh kontak antara seorang calon anggota
dan para anggota organisasiyang akan dimasukinya.

Kontak sosial langsung dan tidak langsung anatar lain kontak primer yaitu hubungan
timbal balik yang terjadi secara langsung.

kontak sekunder yaitu kontak sosial yang memerlukan pihak ketigasebagai media untuk
melakukan hubungan timbal balik.

B.Bentuk-bentuk Interaksi sosial (association processes)

A.kerja sama :suatu usaha bersama antara orang perorangan atau kelompok uintuk
mencapai tujuan bersama.

Bentuk kerjasama antara lain kerja sama spontan yaitu kerjasama yang terjadi secara
serta-merta. kerja sama langsung yaitu kerja sama sebagai hasil dari perintah atasan
kepada bawahan atau pengusaha teerhadap rakyatnya.
Kerja sama kontrak yaitu kerja sama atas dasar syarat-syarat ketetapan tertentu yang
disepakati bersama.
B.Akomodasi
proses penyesuaian diri dari orang-perorangan . Bentuk akomodasi antara lain
koersi : suatu bentuk akomodasi yang terjadi melalui pemaksaan kehendak pihak tertentu
terhadap pihak lain yang lebih lemah .contoh sistem pemerintahan totalitarian.
kompromi : suatu bentuk akomodasi ketika pihak-pihak yang terlibat perselisihan saling
mengurangi tuntutan agar tercapai suatu penyelesaian.

C.Asimilasi

dasarnya merupakan perubahan yang dilakukan secara sukarela,yang umum pada dimulai
dari penggunaan bahasa. Syarat asimilasi antara lain
terdapat sejumlah kelompok yang memiliki kebudayaan berbeda.
terjadi pergaulan antaindividu atau kelompok secara intensif dan dalam waktu yang
relatif lama.

Faktor pendorong asimilasi antara lain

Toleransi di antara sesama kelompok yang berbeda kebudayaan.
kesempatan yang sama dalam bidang ekonomi.

kesediaan menghormati dan menghargai orang asing dan kebudayaan yang dibawanya.

Faktor penghalang asimilasi antara lain kelompok yang terisolasi atau tersaing (biasanya
kelompok minoritas). kurangnya pengetahuan mengenai kebudayaan baru yang dihadapi.

D.Akulturasi

proses penerimaan dan pengolahan unsur-unsur kebudayaan asing menjadi bagian dari
kebudayaan suatu kelompok tanpa menghilangkan kepribadian kebudayaan asing.

2.Proses disosiatif (opposition processes)

A. persaingan (competition) : merupakan suatu proses sosial ketika ada dua pihak atau
lebih saling berlomba dan berbuat sesuatu untuk mencapai kemenangan tertentu.

Fungsi persaingan antara lain Menyalurkan keinginan individu atau kelompok yang
sama-sama menuntut dipenuhi,padahal sulit dipenuhi semuanya secara serentak.

B. Kontarvensi

Bentuk kontravensi menurut leopold vin wiese dan howard becker antara lain
kontravensi umum misalnya penolakan Kontarvensi sederhana.misalnya menyangkal
pernyataan orang didepan umum.

C,pertikaian
perselisihan terbuka.
D.Konflik
persilisihan sederhana. Faktor penyebab konflik antara lain
perbedaan individu yang meliputi perbedaan pendirian dan perasaan
perubahan-perubahan nilai yang cepat dan mendadak dalam masyarakat.
perbedaan kepentingan anatara individu dan kelompok diantaranya menyangkut bidang
ekonomi,politik,dan sosial.

Macam konflik antara lain Konflik antara atau dalam peranan sosial,misalnya antar peran
dalam keluarga dan profesi. Konflik antara kelompok-kelompok sosial Akibat konflik
antara lain Meningkatkan solidaritas sesama anggota kelompok yang mengalami konflik
dengan kelompok lain.

Akibat konflik antara lain meningkatkan solidaritas sesama anggota kelompok yang
mengalami konflik dengan kelompok lain. keretakan hubungan antara anggota
kelompok,misalnya akibat konflik antarsuku.

3.2. Saran

Dalam kehidupan manusia di dunia ini tidak akan lepas dari kehidupan masyarakat, maka
kita sebagai manusia yang hidup bermasyarakan harus menyadari bahwa kita hidup tidak
mungkin sendirian.

Untuk itu marilah kita menjadi warga masyarakat yang baik dengan berinteraksi antar
individu dengan individu lain, antar individu dengan kelompok, bahkan kelompok
dengan kelompok agar terjalin persatuan dan kesatuan dalam kehidupan masyarakat.
                                 DAFTAR PUSTAKA

Effendi, Ridwan dan Elly Malihah. (2007) . Pendidikan Lingkungan Sosial Budaya dan
Teknologi. Bandung : Yasindo Multi Aspek

Hermawan, Ruswandi dan Kanda Rukandi. (2007). Perspektif Sosial Budaya. Bandung:
UPI PRESS

Hermawan, Ruswandi dkk. (2006) . perkembangan masyarakat dan Budaya. Bandung :
UPI PRESS

Kuswanto dan Bambang Siswanto. (2003). Sosiologi. Solo: Tiga Serangkai

Dr. Duddy Mulyawan’s Site

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0705/10/humaniora/3522042.htm

http://krizi.wordpress.com/2009/07/25/makalah-interaksi-sosial/

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:2706
posted:5/13/2011
language:Indonesian
pages:26