Docstoc

Influenza - DOC

Document Sample
Influenza - DOC Powered By Docstoc
					BAB I PENDAHULUAN

I.A Latar Belakang Influenza atau biasa disebut "flu", merupakan penyakit tertua dan paling sering didapat pada manusia. Influenza juga merupakan salah satu penyakit yang mematikan. Penyakit influenza pertama kali diperkenalkan oleh Hipocrates pada 412 sebelum Masehi. Pandemi pertama yang terdokumentasi dengan baik muncul pada 1580, dimana muncul dari Asia dan meyebar ke Eropa melalui Africa. Sampai saat ini telah terdokumentasi sebanyak 31 kemungkinan terjadinya pandemi influenza dan empat di antaranya terjadi pada abad ini yakni pada 1918 (Spanish flu) yang menyebabkan 50-100 juta kematian oleh virus influenza A subtipe H1N1, 1957 (Asia flu) yang meyebabkan 1-1,5 juta kematian oleh virus influeza A subtipe H2N2, dan 1968 (Hongkong flu) yang menyebabkan 1 juta kematian oleh virus ifluenza A subtipe H3N2. (1) Penyakit tersebut hingga saat ini masih mempengaruhi sebagian besar populasi manusia setiap tahun. Virus influenza mudah bermutasi dengan cepat, bahkan seringkali memproduksi strain baru di mana manusia tidak mempunyai imunitas terhadapnya. Ketika keadaan ini terjadi, mortalitas influenza berkembang sangat cepat. Di Amerika Serikat epidemi influenza yang biasanya muncul setiap tahun pada musim dingin atau salju menyebabkan rata-rata hampir 20.000 kematian. Sedangkan di Indonesia atau di negara-negara tropis pada umumnya kejadian

1

wabah influenza dapat terjadi sepanjang tahun dan puncaknya akan terjadi pada bulan Juli. (2) Karena sifat-sifat materi genetiknya, virus influenza dapat mengalami evolusi dan adaptasi yang cepat, dapat melewati barier spesies dan menyebabkan pandemic pada manusia. Burung air liar dan itik menjadi sumber virus yang potensial sebagai pemicu pandemi di Indonesia. Sedangkan ternak babi

berperan sebagai tempat reassortment virus avian influenza (VAI) dengan virus human influenza. Burung puyuh dapat juga menjadi tempat reassortment dari VAI asal berbagai burung yang dijual di pasar burung. Sementara

peternakan unggas menyediakan hewan peka dalam jumlah yang banyak yang memungkinkan VAI mengalami evolusi yang cepat. Suatu Rencana Gawat Influenza diusulkan untuk segera dikembangkan. (3) WHO menyatakan bahwa awal tahun 2006 ini merupakan saat terdekat terjadinya pandemi flu sejak pandemi terakhir tahun 1968. Data yang ada menunjukkan bahwa wabah avian influenza hanya kurang satu syarat lagi untuk menjadi ”calon” pandemi, yaitu belum ditemukan bukti penularan antarmanusia di masyarakat. Pengalaman masa lalu, pandemi tahun 1918, misalnya, menunjukkan bahwa korban manusia dapat sampai puluhan juta orang. (4) Diseluruh dunia hingga April 2007 terdapat 172 kasus flu burung yang terkonfirmasi. Seperti dapat terlihat dari laporan WHO kasus terbanyak di Vietnam (93 kasus) dan Indonesia menduduki peringkat ke-2 dengan 81 kasus namun jumlah kematian di Indonesia yang tertinggi, yaitu 63 dari 81 kasus.

2

I.B Tujuan Penulisan Untuk mengetahui definisi, epidemiologi, etiologi, patogenesis, dan gejala klinis influenza sehigga dapat menegakkan diagnosis guna melakukan penanganan yang tepat.

3

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

II.A Definisi Influenza yang dikenal sebagai flu adalah penyakit pernapasan yang sangat menular dan disebabkan oleh virus influenza tipe A, B dan bisa juga C. (5) Influenza merupakan suatu penyakit infeksi akut saluran pernapasan terutama ditandai oleh demam, menggigil, sakit otot, sakit kepala dan sering disertai pilek, sakit tenggorok dan batuk non produktif. (6) Influenza adalah penyakit infeksi yang dapat menyerang burung dan mamalia yang disebabkan oleh virus RNA famili orthomyxoviridae. (1)

II.B Epidemiologi Influenza merupakan penyakit yang dapat menjalar dengan cepat di lingkungan masyarakat. Walaupun ringan penyakit ini tetap berbahaya untuk mereka yang berusia sangat muda dan orang dewasa dengan fungsi kardiopulmoner yang terbatas. Juga pasien yang berusia lanjut dengan penyakit ginjal kronik atau ganggugan metabolik endokrin dapat meninggal akibat penyakit yang dikenal tidak berbahaya ini. Serangan penyakit ini tercatat paling tinggi pada musim dingin di negara beriklim dingin dan pada waktu musim hujan di negara tropik. Pada saat ini sudah diketahui bahwa pada umumnya dunia dilanda pandemi oleh influenza 2-3 tahun sekali. Jumlah kematian pada pandemi ini dapat

4

mencapai puluhan ribu orang dan jauh lebih tinggi dari pada angka-angka pada keadaan non-epidemik. (6) Risiko komplikasi, kesakitan, dan kematian influenza lebih tinggi pada individu di atas 65 tahun, anak-anak usia muda, dan individu dengan penyakitpenyakit tertentu. Pada anak-anak usia 0-4 tahun, yang berisiko tinggi komplikasi angka morbiditasnya adalah 500/100.000 dan yang tidak berisiko tinggi adalah 100/100.000 populasi. Pada epidemi influenza 1969-1970 hingga 1994-1995, diperkirakan jumlah penderita influenza yang masuk rumah sakit 16.000 sampai 220.000/epidemik. Kematian influenza dapat terjadi karena pneumonia dan juga eksaserbasi kardiopulmoner serta penyakit kronis lainnya. Penelitian di Amerika dari 19 musim influenza diperkirakan kematian yang berkaitan influenza kurang lebih 30 hingga lebih dari 150 kematian / 100.000 penderita dengan usia > 65 tahun. Lebih dari 90% kematian yang disebabkan oleh pneumonia dan influenza terjadi pada penderita usia lanjut. (2) Di Indonesia telah ditemukan kasus flu burung pada manusia, dengan demikian Indonesia merupakan negara ke lima di Asia setelah Hongkong, Thailand, Vietnam dan Kamboja yang terkena flu burung pada manusia. Hingga 5 Agustus 2005, WHO melaporkan 112 kasus A (H5N1) pada manusia yang terbukti secara pemeriksaan mikrobiologi berupa biakan atau PCR. Kasus terbanyak dari Vietnam, disusul Thailand, Kamboja dan terakhir Indonesia. Hingga Agustus 2005, sudah jutaan ternak mati akibat avian influenza. Sudah terjadi ribuan kontak antar petugas peternak dengan unggas yang terkena

5

wabah. Ternyata kasus avian influenza pada manusia yang terkonfirmasi hanya sedikit diatas seratus. Dengan demikian walau terbukti adanya penularan dari unggas ke manusia, proses ini tidak terjadi dengan mudah. Terlebih lagi penularan antar manusia, kemungkinan terjadinya lebih kecil lagi.

II.C Etiologi Pada saat ini dikenal 3 tipe virus influenza yakni A, B dan C. Ketiga tipe ini dapat dibedakan dengan complement fixasion test. Tipe A merupakan virus penyebab influenza yang bersifat epidemik. Tipe B biasanya hanya menyebabkan penyakit yang lebih ringan dari tipe A dan kadang-kadang saja sampai mengakibatkan epidemi. Tipe C adalah tipe yang diragukan patogenitasnya untuk manusia, mungkin hanya menyebabkan gangguan ringan saja. Virus penyebab influenza merupakan suatu orthomixovirus golongan RNA dan berdasarkan namanya sudah jelas bahwa virus ini mempunyai afinitas untuk myxo atau musin.(6) Virus influenza A dibedakan menjadi banyak subtipe berdasarkan tanda berupa tonjolan protein pada permukaan sel virus. Ada 2 protein petanda virus influenza A yaitu protein hemaglutinin dilambangkan dengan H dan protein neuraminidase dilambangkan dengan N. Ada 15 macam protein H, H1 hingga H15, sedangkan N terdiri dari sembilan macam, N1 hingga N9. Kombinasi dari kedua protein ini bisa menghasilkan banyak sekali varian subtipe dari virus influenza tipe A.

6

Semua subtipe dari virus influenza A ini dapat menginfeksi unggas yang merupakan pejamu alaminya, sehingga virus influenza tipe A disebut juga sebagai avian influenza atau flu burung. Sebagian virus influenza A juga menyerang manusia, anjing, kuda dan babi. Variasi virus ini sering dinamai dengan hewan yang terserang, seperti flu burung, flu manusia, flu babi, flu kuda dan flu anjing. Subtipe yang lazim dijumpai pada manusia adalah dari kelompok H1, H2, H3 serta N1, N2 dan disebut human influenza . Sekarang ini dihebohkan dengan penyakit flu burung atau avian influenza dimana penyebabnya adalah virun influenza tipe A subtipe H5N1. Virus avian influenza ini digolongkan dalam Highly Pathogenic Avian Influenza (HPAI). (7)

II.D Sifat Virus Influenza Virus influenza mempunyai sifat dapat bertahan hidup di air sampai 4 hari pada suhu 220C dan lebih dari 30 hari pada suhu 00C. Mati pada pemanasan 600C selama 30 menit atau 560C selama 3 jam dan pemanasan 800C selama 1 jam. Virus akan mati dengan deterjen, disinfektan misalnya formalin, cairan yang mengandung iodin dan alkohol 70%.(7) Struktur antigenik virus influenza meliputi antara lain 3 bagian utama berupa: antigen S (atau soluble antigen), hemaglutinin dan neuramidase. Antigen S merupakan suatu inti partikel virus yang terdiri atas ribonukleoprotein. Antigen ini spesifik untuk masing-masing tipe. Hemaglutinin menonjol keluar dari selubung virus dan memegang peran pada imunitas terhadap virus. Neuramidase juga menonjol keluar dari selubung virus dan hanya memegang peran yang minim

7

pada imunitas. Selubung inti virus berlapis matriks protein sebelah dalam dan membran lemak disebelah luarnya. (6) Salah satu ciri penting dari virus influenza adalah kemampuannya untuk mengubah antigen permukaannya (H dan N) baik secara cepat atau mendadak maupun lambat. Peristiwa terjadinya perubahan besar dari struktur antigen permukaan yang terjadi secara singkat disebut antigenic shift. Bila perubahan antigen permukaan yang terjadi hanya sedikit, disebut antigenic drift. Antigenic shift hanya terjadi pada virus influenza A dan antigenic drift hanya terjadi pada virus influenza B, sedangkan virus influenza C relatif stabil. Teori yang mendasari terjadinya antigenic shift adalah adanya penyusunan kembali dari gen-gen pada H dan N diantara human dan avian influenza virus melalui perantara host ketiga. Satu hal yang perlu diperhatikan bahwa adanya proses antigenic shift akan memungkinkan terbentuknya virus yang lebih ganas, sehingga keadaan ini menyebabkan terjadinya infeksi sistemik yang berat karena sistem imun host baik seluler maupun humoral belum sempat terbentuk. Sejak dulu diduga kondisi yang memudahkan terjadinya antigenic shift adalah adanya penduduk yang bermukim didekat daerah peternakan unggas dan babi. Karena babi bersifat rentan terhadap infeksi baik oleh avian maupun human virus makan hewan tersebut dapat berperan sebagai lahan pencampur (mixing vesel) untuk penyusunan kembali gen-gen yang berasal dari kedua virus tersebut, sehingga menyebabkan terbentuknya subtiper virus baru. (7)

8

II.E Patogenesis Transmisi virus influenza lewat partikel udara dan lokalisasinya pada traktus respiratorius. Penularan bergantung pada ukuran partikel (droplet) yang membawa virus tersebut masuk ke dalam saluran napas. Pada dosis infeksius, 10 virus/droplet, maka 50% orang-orang yang terserang dosis ini akan menderita influenza. Virus akan melekat pada epitel sel di hidung dan bronkus. Setelah virus berhasil menerobos masuk kedalam sel, dalam beberapa jam sudah mengalami replikasi. Partikel-partikel virus baru ini kemudian akan menggabungkan diri dekat permukaan sel, dan langsung dapat meninggalkan sel untuk pindah ke sel lain. Virus influenza dapat mengakibatkan demam tetapi tidak sehebat efek pirogen lipopoli-sakarida kuman Gram-negatif. (6) Masa inkubasi dari penyakit ini yakni satu hingga empat hari (rata-rata dua hari). Pada orang dewasa, sudah mulai terinfeksi sejak satu hari sebelum timbulnya gejala influenza hingga lima hari setelah mulainya penyakit ini. Anakanak dapat menyebarkan virus ini sampai lebih dari sepuluh hari dan anak-anak yang lebih kecil dapat menyebarkan virus influenza kira-kira enam hari sebelum tampak gejala pertama penyakit ini. Para penderita imunocompromise dapat menebarkan virus ini hingga berminggu-minggu dan bahkan berbulan-bulan. (8) Pada avian influenza (AI) juga terjadi penularan melalui droplet, dimana virus dapat tertanam pada membran mukosa yang melapisi saluran napas atau langsung memasuki alveoli (tergantung dari ukuran droplet). Virus selanjutnya akan melekat pada epitel permukaan saluran napas untuk kemudian bereplikasi di dalam sel tersebut. Replikasi virus terjadi selama 4-6 jam sehingga dalam waktu

9

singkat virus dapat menyebar ke sel-sel di dekatnya. Masa inkubasi virus 18 jam sampai 4 hari, lokasi utama dari infeksi yaitu pada sel-sel kolumnar yang bersilia. Sel-sel yang terinfeksi akan membengkak dan intinya mengkerut dan kemudian mengalami piknosis. Bersamaan dengan terjadinya disintegrasi dan hilangnya silia selanjutnya akan terbentuk badan inklusi. Adanya perbedaan pada reseptor yang terdapat pada membran mukosa diduga sebagai penyebab mengapa virus AI tidak dapat mengadakan replikasi secara efisien pada manusia. (7)

II.F Gambaran Klinis Pada umumnya pasien yang terkena influenza mengeluh demam, sakit kepala, sakit otot, batuk, pilek dan kadang-kadang sakit pada waktu menelan dan suara serak. Gejala-gejala ini dapat didahului oleh perasaan malas dan rasa dingin. Pada pemeriksaan fisik tidak dapat ditemukan tanda-tanda karakteristik kecuali hiperemia ringan sampai berat pada selaput lendir tenggorok. Gejala-gejala akut ini dapat berlangsung untuk beberapa hari dan hilang dengan spontan. Setelah periode sakit ini, dapat dialami rasa capek dan cepat lelah untuk beberapa waktu. Badan dapat mengatasi infeksi virus influenza melalui mekanisme produksi zat anti dan pelepasan interferon. Setelah sembuh akan terdapat resistensi terhadap infeksi oleh virus yang homolog. Pada pasien usia lanjut harus dipastikan apakah influenza juga menyerang paru-paru. Pada keadaan tersebut, pada pemeriksaan fisik dapat ditemukan bunyi napas yang abnormal. Penyakit umumnya akan membaik dengan sendirinya tapi

10

kemudian pasien acapkali mengeluh lagi mengenai demam dan sakit dada. Permeriksaan radiologis dapat menunjukkan infiltrat di paru-paru. (6) Avian Influenza Masa inkubasi AI sangat pendek yaitu 3 hari, dengan rentang 2-4 hari. Manifestasi klinis AI pada manusia terutama terjadi di sistem respiratorik mulai dari yang ringan sampai berat. Manifestasi klinis AI secara umum sama dengan gejala ILI (Influenza Like Illness), yaitu batuk, pilek dan demam. Demam biasanya cukup tinggi yaitu >380C. Gejala lain berupa sefalgia, nyeri tenggorokan, mialgia dan malaise. Adapun keluhan gastrointestinal berupa diare dan keluhan lain berupa konjungtivitis. Spektrum klinis bisa sangat bervariasi, mulai dari asimtomatik, flu ringan hingga berat, pneumonia dan banyak yang berakhir dengan ARDS (Acute Respiratory Distress Syndrome). Perjalanan klinis AI umumnya berlangsung sangat progresif dan fatal, sehingga sebelum sempat terfikir tentang AI, pasien sudah meninggal. Mortalitas penyakit ini hingga laporan terakhir sekitas 50%. Kelainan laboratorium rutin yang hampir selalu dijumpai adalah lekopenia, limfopenia dan trombositopenia. Cukup banyak kasus yang mengalami gangguan ginjal berupa peningkatan nilai ureum dan kreatinin. Kelainan gambaran radiologis toraks berlangsung sangat progresif dan sesuai dengan manifestasi klinisnya namun tidak ada gambaran yang khas. (7)

11

II.G Diagnosis Menetapkan diagnosis pada saat terjadi wabah tidak akan banyak mengalami kesulitan. Di luar kejadian wabah, diagnosis influenza kadang-kadang terhambat oleh diagnosis penyakit lain. Diagnosis pasti penyakit influenza dapat diperoleh melalui isolasi virus maupun pemeriksaan serologis. Untuk mengisolasi virus diperlukan usap tenggorok atu usap hidung dan harus diperoleh sedini mungkin; biasanya pada hari-hari pertama sakit. Diagnosis serologis dapat diperoleh melalui uji fiksasi komplemen atau inhibisi hemaglutinasi. Akan dapat ditunjukkan kenaikan titer sebanyk 4 kali antara serum pertama dengan serum konvalesen atau titer tunggal yang tinggi. Pada saat ini antiinfluenza IgM dapat digunakan di beberapa tempat. Diagnosis cepat lainnya dapat juga diperoleh dengan pemeriksaan antibodi fluoresen yang khusus tersedia untuk tiper virus influenza A. PCR dan RT-PCR sangat berguna untuk diagnosa cepat virus lainnya yang dapat pula menyerang saluran napas antara lain adeno-virus, parainfluenza virus, rinovirus, respiratory syncyial virus, cyomegalovirus dan enterovirus. Keterlibatan berbagai jenis virus ini dapat ditunjukkan dengan pemeriksaan serologis atau isolasi langsung. (6) Avian Influenza Diagnostik (7) Uji Konfirmasi : 1. Kultur dan identifikasi virus H5N1. 2. Uji Real Time Nested PCR (Polymerase Chain Reaction) untuk H5. 3. Uji serologi :

12

a. Imunofluorescence (IFA) test : ditemukan antigen positif dengan menggunakan antibodi monoklonal Influensa A H5N1. b. Uji netralisasi : didapatkan kenaikan titer antibodi spesifik influensa A/H5N1 sebanyak 4 kali dalam paired serum dengan uji netralisasi. c. Uji penapisan : a). Rapid Test untuk mendeteksi Influensa A. b). HI Test dengan darah kuda untik mendeteksi H5N1. c). Enzyme Immunoassay (ELISA) untuk mndeteksi H5N1. Pemeriksaan Lain Hematologi : hemoglobin, lekosit, trombosit, hitung jenis lekosit, total limfosit. Umumnya ditemukan leukopeni, limfositopeni atau limfositosis relatif dan trombositopeni. Kimia : albumin/globulin, SGOT/SGPT, ureum, kreatinin, kreatin kinase, analisa gas darah. Umumnya dijumpai penurunan albumin, peningkatan SGOT/SGPT, peningkatan ureum dan kreatinin, peningkatan kreatin kinase, analisa gas darah dapat normal atau abnormal. Kelainan laboratorium sesuai dengan perjalanan penyakit dan komplikasi yang ditemukan. Pemeriksaan Radiologi : pemeriksaan foto toraks PA dan lateral (bila diperlukan). Dapat ditemukan gambaran infiltrat di paru yang menunjukkan bahwa kasus ini adalah pneumonia. DEFINISI KASUS Departemen Kesehatan RI membuat kriteria diagnosis flu burung sebagai berikut : 1. Pasien dalam Observasi

13

Seseorang yang menderita demam/panas >380C disertai satu atau lebih gejala di bawah ini : a). batuk, b). sakit tenggorokan, c). pilek, d). napas pendek/sesak napas (pneumonia) di mana belum jelas ada atau tidaknya kontak dengan unggas sakit/mati mendadak yang belum diketahui penyebabnya dan produk mentahnya. Pasien masih dalam observasi klinis, epidemiologis dan pemeriksaan laboratorium. 2. Kasus Suspek AI H5N1 Seseorang yang menderita demam/panas ± 380C disertai satu atau lebih gejala di bawah ini : a). batuk, b). sakit tenggorokan, c). pilek, d). napas pendek/sesak napas (pneumonia) dan diikuti satu atau lebih keadaan di bawah ini : 1). pernah kontak dengan unggas (ayam, itik, burung) sakit/mati mendadak yang belum diketahui penyebabnya dan produk mentahnya dalam 7 hari terakhir sebelum timbul gejala di atas, 2). pernah tinggal di daerah yang terdapat kematian unggas yang tidak biasa dalam 14 hari terakhir sebelum timbul gejala di atas, 3). pernah kontak dengan penderita AI konfirmasi dalam 7 hari terakhir sebelum timbul gejala di atas, 4). pernah kontak dengan spesimen AI H5N1 dalam 7 hari terakhir sebelum timbul gejala di atas (bekerja di laboratorium untuk AI), 5). ditemukan lekopeni ≤ 3000/µl atau mm, 6). ditemukan adanya titer antibodi terhadap H5 dengan pemeriksaan HI test menggunakan eritrosit kuda atau tes ELISA untuk influensa A tanpa subtipe.

14

Atau Kematian akibat Acute Respiratory Distress Syndrom (ARDS) dengan satu atau lebih keadaan dibawah ini  Leukopeni atau limfopenia (relatif/Diff.count) dengan atau tanpa trombositopenia (trombosit < 150.000).  Foto thorax menggambarkan peneumonia atipikal atau infiltrat di kedua sisi paru yang makin meluas pada serial. 3. Kasus Probabel AI H5N1 Kriteria kasus suspek ditambah dengan satu atau lebih keadaan dibawah ini:  Ditemukan adanya kenaikan titer antibodi minimal 4 kali terhadap H5 dengan pemeriksaaan HI test menggunakan eritrosit kuda atau ELISA test.  Hasil laboratorium terbatas untuk influenza H5 (dideteksi antibodi spesifik H5 dalam spesimen serum tunggal) menggunakan neutralisasi test. (Dikirim ke referensi laboratorium).  Dalam waktu singkat menjadi pneumonia berat/gagal nafas/meninggal dan terbukti tidak ada penyebab lain. 4. Kasus Konfirmasi Influenza A/H5N1 Kasus suspek atau probabel dengan satu atau lebih keadaan dibawah ini:    Kultur virus positif influenza A/H5N1 PCR positif influenza A/H5N1 Pada imnofluorescence (IFA) test ditemukan antigen positif dengan mengunakan antibodi monoklonal influenza A/H5N1

15



Kenaikan titer antibodi spesifik influenza A/H5N1 sebanyak 4 kali dalam paired serum dengan uji netralisasi.

KELOMPOK RISIKO TINGGI Kelompok yang perlu diwaspadai dan berrisiko tinggi terinfeksi flu burung adalah:  Pekerja peternakan atau pemrosesan unggas (termasuk dokter

hewan/insinyur peternakan).    Pekerja laboratorium yang memproses sampel pasien / unggas terjangkit. Pengunjung peternakan/pemrosesan unggas (1 minggu terakhir). Pernah kontak dengan unggas (ayam, itik, burung) sakit/mati mendadak yang belum diketahui penyebabnya dan atau babi serta produk mentahnya dalam 7 hari terakhir.  Pernah kontak dengan penderita AI konfirmasi dalam 7 hari terakhir.

Kriteria Rawat  Suspek flu burung dengan gejala klinis berat yaitu ; 1) sesak napas dengan frekuensi napas ≥ 30 kali/menit, 2) nadi ≥ 100 kali/menit. Ada gangguan kesadaran, 3) kondisi umum lemah.   Suspek dengan lekopenia Suspek dengan gambaran radiologi pneumonia

Kasus probable dan confirm

16

II.H Diagnosis Banding Banyak penyakit yang memiliki gejala yang menyerupai flu (flu like syndrom) sehingga influenza dapat didiagnosis banding : (9) 1. SARS (Severe Acute Respiratory Syndrom) adalah penyakit infeksi saluran napas yang disebabkan oleh virus Corona dengan sekumpulan gejala klinis yang berat. Perbedaan dengan influenza adalah cara penularannya, yaitu dengan kontak langsung membran mukosa, serta pada gejala pernapasan rasa sesak lebih berat dirasakan di banding pada influenza yang tidak terdapat sesak napas. 2. Common cold (selesma) adalah suatu infeksi virus pada selaput hidung, sinus dan saluran udara besar yang disebabkan oleh rhinovirus (80%). Gejala-gejala penyakit ini biasanya tidak timbul demam, tetapi demam yang ringan dapat muncul saat gejala, dan gejala-gejala yang lain tidak sehebat influenza. Hidung mengeluarkan cairan yang encer dan jernih dan pada hari-hari pertama jumlahnya sangat banyak sehingga mengganggu penderita. Selanjutnya sekret hidung menjadi lebih kental, berwarna

kuning-hijau dan jumlahnya tidak terlalu banyak. 3. Infeksi saluran pernapasan atas merupakan suatu penyakit infeksi pada saluran pernapasan atas yang banyak disebabkan oleh virus dan mempunyai gejala-gejala seperti flu, akan tetapi pada infeksi saluran pernapasan atas mempunya gejala-gejala lain seperti rhinitis, sinusitis, nasopharyngitis, pharyngitis, epiglotitis, laryngitis, laringotrakeitis dan trakeitis.

17

4. Infeksi parainfluenza virus juga mempunyai gejala yang hampir sama dengan infeksi virus influenza dimana yang terdiri dari HPIV-1, HPIV-2, HPIV-3 dan HPIV-4 yang 5. Meningitis merupakpan penyakit radang pada selaput otak. Dimana gejala awal dari penyakit ini menyerupai flu seperti demam, sefalgia, nausea, vomitus, photofobia sedangkan pada pemeriksaan fisik terdapat kaku kuduk positif.

II.I Penatalaksanaan Pasien dapat diobati secara simtomatik. Obat oseltamivir 2x75 mg sehari selama 5 hari akan memperpendek masa sakit dan mengurangi keperluan tambahan antimikroba untuk infeksi bakteri sekunder. Zanamivir dapat diberikan secara lokal secara inhalasi, makin cepat obat diberikan makin baik. Untuk kasus dengan komplikasi yang sebelumnya mungkin menderita bronkitis kronik, gangguan jantung atau penyakit ginjal dapat diberikan antibiotik. Pasien dengan bronkopneumonia sekunder memerlukan oksigen. Pneumonia stafilokok sekunder harus diatasi dengan antibiotik yang tahan betalaktamase dan kortikosteroid dosis tinggi. (6) Avian Influenza Prinsip penatalaksanaan AI adalah : istirahat, peningkatan daya tahan tubuh, pengobatan antiviral, pengobatan antibiotik, perawatan respirasi, antiinflamasi, imunomodulator. (7)

18

Mengenai antiviral maka antiviral sebaiknya diberikan pada awal infeksi yakni pada 48 jam pertama. Adapun pilihan obat : 1. Penghambat M2 : a. amantadin (symadine), b. rimantidin (flu-madine). Dengan dosis 2x/hari 100 mg atau 5mg/kgBB selama 3-5 hari. 2. Penghambat neuramidase (WHO) : a. zanamivir (relenza), b. oseltamivir (tamiflu). Dengan dosis 2 x 75 mg selama 1 minggu. Departemen Kesehatan RI dalam pedomannya memberikan petunjuk sebagai berikut :  Pada kasus suspek flu burung diberikan Oseltamivir 2 x 75 mg selama 5 hari, simtomatik dan antibiotik jika ada indikasi.  Pada kasus probable flu burung diberikan Oseltamivir 2 x 75 mg selama 5 hari, antibiotik spektrum luas yang mencakup kuman tipik dan atipikal, dan steroid jika perlu seperti pada kasus pneumonia berat, ARDS. Respiratory Care di ICU sesuai indikasi. Sebagai profilaksis, bagi mereka yang berisiko tinggi, digunakan Oseltamivir dengan dosis 75 mg sekali sehari selama 7 hari sampai 6 minggu.

II.J Komplikasi Komplikasi yang dapat terjadi pada virus influenza adalah: Pneumonia influenza primer, ditandai dengan batuk yang progresif, dispnea, dan sianosis pada awal infeksi. Foto rongten menunjukkan gambaran infiltrat difus bilateral tanpa konsolidasi, dimana menyerupai ARDS.

19

-

Pneumonia bakterial sekunder, dimana dapat terjadi infeksi beberapa bakteri (seperti Staphylococcus aureus, Streptococcus pneumonia, Haemophilus influenza). (9)

II.K Pencegahan Yang paling pokok dalam menghadapi influenza adalah pencegahan. Infeksi dengan virus influenza akan memberikan kekebalan terhadap infeksi virus yang homolog. Karena sering terjadi perubahan akibat mutasi gen, antigen pada virus influenza akan berubah, sehingga seseorang masih mungkin diserang berulang kali dengan galur (strain) virus influenza yang telah mengalami perubahan ini. Kekebalan yang diperoleh melalui vaksinasi sekitar 70%. Vaksin influenza mengandung virus subtipe A dan B saja karena subtipe C tidak berbahaya. Diberikan 0,5 ml subkutan atau intramuskuler. Vaksin ini dapat mencegah tejadinya mixing dengan virus yang sangat pathogen H5N1 yang dikenal sebagai penyakit avian influenza atau flu burung. Nasal spray flu vaccine (live attenuated influenza vaccine) dapat juga digunakan untuk pencegahan flu pada usia 5-50 tahun dan tidak sedang hamil. Vaksinasi perlu diberikan 3-4 minggu sebelum terserang influenza. Karena terjadi perubahan-perubahan pada virus maka pada permulaan wabah influenza biasanya hanya tersedia vaksin dalam jumlah terbatas dan vaksinasi dianjurkan hanya untuk beberapa golongan masyarakan tertentu sehingga dapat mencegah terjadinya infeksi dengan kemungkinan komplikasi yang fatal. (6) Golongan yang memerlukan imunoprofilaksis ini antara lain:

20

1. Pasien berusia diatas 65 tahun. 2. Pasien dengan penyakit yang kronik seperti kardiovaskuler, pulmonal, renal, metabolik (termasuk diabetes melitus), anemia berat dan pasien imunokompromise. Dianjurkan diberikan vaksin setiap tahun menjelang musim dingin atau musim hujan. 3. Juga mereka yang melaksanakan fungsi pelayanan masyarakat yang vital memerlukan vaksinasi, seperti misalnya pegawai yang bertugas di unit darurat medis di rumah sakit. Mereka mungkin dapat menularkan penyakit ke pasien yang dirawat. Pencegahan dengan kemoprofilaksis untuk mereka yang tidak dapat diberikan vaksinasi karena menderita alergi terhadap protein dalam telur dapat diusahakan dengan pemberian rimantadine 200 mg dua kali sehari atau amantadine 100 mg tiap 12 jam masing-masing selam 4-6 minggu. Juga bila tidak tersedia vaksin, cara pencegahan ini juga dapat diterapkan. Pemberian amantadine harus hati-hati pada mereka dengan gangguan fungsi ginjal atau yang menderita penyakit konvulsif. Pada usia lanjut cukup diberika amantadine 100 mg sekali sehari mengingat penurunan fungsi ginjal. Juga pada bersihan kreatinin antara 4060 ml/menit berlaku hal yang sama. Pada bersihan kreatinin antar 10-15 ml/menit dapat diberikan 200 mg amantadine sekali seminggu. Meluasnya penyebaran penyakit ini dalam masyarakat dapat dicegah dengan meningkatkan tingkah laku higienik perorangan. (6)

21

BAB III KESIMPULAN

1. Influenza merupakan suatu penyakit infeksi akut saluran pernapasan yang sangat menular dapat menyerag burung dan mamalia. 2. Influenza disebabkan oleh virus influenza tipe A, B dan C yang merupakan suatu orthomixovirus golongan RNA. 3. Virus influenza tipe A mempunyai banyak subtipe, diantaranya H5N1 yang menyebabkan flu burung dan termasuk HPAI. 4. Penularan virus influenza melalui droplet dan lokalisasinya di traktus respiratorius. 5. Gejala klinis influenza adalah demam, sefalgia, mialgia, batuk, pilek dan disfagia. 6. Diagosis ditegakkan dari anamesa, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. 7. Komplikasi influenza dapat terjadi pneumonia influenza primer dan pneumonia bakterial sekunder. 8. Influenza dapat diobati secara simtomatik, dan dengan antiviral dapat memperpendek angka sakit. 9. Pencegahan dengan vaksin bagi golongan yang memerlukan

imunoprofilaksis.

22

DAFTAR PUSTAKA

1. Anonim, 2007. Influenza. Diakses dari http://en.wikipedia.org/influenza 2. Chandra G., Influenza: Dampak dan Pencegahannya. Aventis Pasteur Indonesia. Diakses dari http://www.tempo.co.id/medika 3. Mahardika, dkk. 2005. Aspek Epidemiologi Virus Avian Influenza. Denpasar. Diakses dari http://www.uplek.org/pdf/aspek_epidemologi.pdf 4. Aditama Y., 2006. Mendeteksi dan Mencegah Pandemi Influenza. Diakses dari http://www.kompas.com/Ilmu_peng. 5. NSW Health Department Indonesia, 2003. Influenza. Diakses dari http://www.health.nsw.gov.au/mhcs/. 6. Nelwan, R.H.H., 2006. Influenza dan Pencegahannya. Buku Ajar Penyakit Dalam. FKUI: Jakarta. 7. Nainggolan L., dkk., 2006. Influenza Burung. Buku Ajar Penyakit Dalam. FKUI: Jakarta. 8. Titin L., 2008. Seputar Influenza. Diakses dari http://www.medistra.com 9. Derlet R., 2007. Influenza. Diakses dari http://www.emedicine.com/ influenza.

23


				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:22704
posted:6/30/2009
language:Indonesian
pages:23