makalah by adisape

VIEWS: 7,884 PAGES: 19

More Info
									  D

  I

  S

  U

  S

  U

  N


OLEH :
PENDAHULUAN

Latar Belakang

       Rumah sakit merupakan tempat kerja yang unik dan kompleks, tidak saja menyediakan
pelayanan kesehatan bagi masyarakat, tetapi juga merupakan tempat pendidikan dan penelitian
kedokteran. Semakin luas pelayanan kesehatan dan fungsi suatu rumah sakit maka semakin
kompleks peralatan dan fasilitasnya. Kerumitan yang meliputi segala hal tersebut menyebabkan
rumah sakit mempunyai potensi yang bahaya yang sangat besar, tidak hanya bagi pasien dan
tenaga medis, risiko ini juga membahayakan pengunjung rumah sakit tersebut.

        Hasil laporan National Safety Council (NSC) tahun 1988 menunjukkan bahwa terjadinya
kecelakaan di rumah sakit 41% lebih besar dari pekerja di industri lain. Kasus yang sering terjadi
adalah tertusuk jarum, terkilir, sakit pinggang, tergores/terpotong, luka bakar, dan penyakit
infeksi, dan sebagainya. Sejumlah kasus dilaporkan mendapatkan kompensasi pada pekerja
rumah sakit yaitu sprains, strains: 52%; contussion, crushing, bruising: 11%; cuts, laceration,
puncture: 10,8%; fractures: 5,6%; multiple injuries: 2,1%; thermal burns: 2%; scratches,
abrasions: 1,9%; infections: 1,3%; dermatitis : 1,2%; dan lain-lain: 12,4% (US Departement of
Laboratorium, Bureau of Laboratorium Statistics, 1983).

        Khusus di Indonesia, data penelitian sehubungan dengan bahaya-bahaya di rumah sakit
belum terganbar dengan jelas namun diyakini bahwa banyak keluhan-keluhan dari para petugas
di rumah sakit, sehubungan dengan bahaya-bahaya yang ada di rumah sakit. Selain itu, Gun
(1983) memberikan catatan bahwa terdapat beberapa kasus penyakit kronis yang diderita petugas
rumah sakit, yaitu hipertensi, varises, anemia (kebanyakan wanita), penyakit ginjal dan saluran
kemih (69% wanita), dermatitis dan urtikaria (57% wanita), serta nyeri tulang belakang dan
pergeseran discus intervertebrae. Ditambahkan juga bahwa terdapat beberapa kasus penyakit
akut yanng diderita petugas rumah sakit lebih besar 1,5 kali dari petugas atau pekerja lain, yaitu
penyakit infeksi dan parasit, saluran pernapasan, saluran cerna, dan keluhan lain seperti sakit
telinga, sakit kepala, gangguan saluran kemih, masalah kelahiran anak, gangguan pada saat
kehamilan, penyakit kulit dan sistem otot dan tulang rangka.

      Oleh karena itu, diperlukan sistem manajemen K3 yang benar-benar jelas, kontinyu, serta
konsekuen dengan misi yang diemban, yaitu mengurangi nilai kecelakaan kerja, termasuk
penyakit akibat kerja, bahkan dapat dieliminasikan.
PERUMUSAN MASALAH

        Berdasarkan permasalahan yang disebutkan sebelumnya, makalah ini mempunyai
batasan-batasan permasalahan yang diangkat, antara lain:
• Pengertian rumah sakit?
• Gambaran umum potensi bahaya di rumah sakit?
• Pengertian sistem manajemen K3 rumah sakit?
• Pedoman Manajemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja?
• Tujuan keselamatan kerja?
• Pelaksanaan K3 di rumah sakit?
• Pemantauan dan evaluasi mahasiswa Kesmas UMI?
• Pelaksanaan audit mahasiswa Kesmas UMI?
• Kritikisasi pedoman pelaksanaan K3 yang benar dengan kenyataan di lapangan?



Tujuan Penulisan

       Penulisan makalah ini bertujuan untuk melengkapi tugas mata kuliah K3, UU K3,
Manajemen Risiko Lingkungan Industri. Selain itu, terdapat beberapa tujuan lain dalam
penulisan makalah ini, yaitu:
- Memaparkan pengertian umum rumah sakit.
- Memaparkan potensi bahaya yang terdapat didalamnya.
- Memaparkan pengertian umum sistem manajemen K3 rumah sakit.
- Memaparkan pedoman sistem manajemen K3 yang disesuai dengan peraturan yang
dikeluarkan.
- Memaparkan tentang tujuan adanya keselamatan dan kesehatan kerja di rumah sakit..
- Memaparkan proses pemantauan dan evaluasi mahasiswa UMI
- Memaparkan mengenai pelaksanaan audit mahasiswa UMI


Metode Penulisan

        Dalam penulisan makalah yang berjudul “PELAKSANAAN K3 di RUMAH SAKIT”,
penulis melakukan studi pustaka, baik dengan menggunakan referensi dari buku bacaan, bahan
kuliah yang diberikan oleh dosen, maupun berasal dari internet.
Sistematika Penulisan

       Pada makalah ini, tim penulis menjelaskan tentang sistem manajemen keselamatan dan
kesehatan kerja di rumah sakit dimulai dengan bab pendahuluan. Bab ini meliputi latar belakang,
rumusan masalah, tujuan penulisan, metode penulisan, serta sistematika penulisan. Bab
berikutnya, tim penulis membahas masalah-masalah yang telah tim rumusan, sesuai dengan apa
yang telah tim paparkan dalam subbab sebelumnya.
Bab ketiga merupakan bab penutup dalam makalah ini. Pada bagian ini tim penulis
menyimpulkan dari apa yang telah tim penulis bahas . Dan disini tim juga memberikan beberapa
saran yang berkaitan dengan permasalahan yang dikemukakan.
PEMBAHASAN

PENGERTIAN


        Dalam Permenaker Nomor 5 Tahun 1996 tentang Sistem Manajemen Kesehatan dan
Keselamatan Kerja, yang menyatakan bahwa setiap perusahaan yang mempekerjakan tenaga
kerja sebanyak seratus orang atau lebih dan atau mengandung potensi bahaya yang ditimbulkan
oleh karakteristik proses bahan produksi yang dapat mengakibatkan kecelakaan kerja seperti
peledakan, kebakaran, pencemaran dan penyakit akibat kerja wajib menerapkan Sistem
Manajemen K3.
Jika memperhatikan isi dari pasal di atas maka jelaslah bahwa Rumah Sakit (RS) termasuk ke
dalam kriteria tempat kerja dengan berbagai ancaman bahaya yang dapat menimbulkan dampak
kesehatan, tidak hanya terhadap para pelaku langsung yang bekerja d RS, tapi juga terhadap
pasien maupun pengunjung RS. Sehingga sudah seharusnya pihak pengelola RS menerapkan
upaya-upaya K3 di RS.


        Sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja dapat diberikan batasan sebagai
berikut: mahasiswa kesmas adalah merupakan bagian dari sistem manajemen secara keseluruhan
meliputi struktur organisasi, perencanaan, tanggung jawab pelaksanaan prosedur, proses dan
sumberdaya yang dibutuhkan bagi pengembangan penerapan, pencapaian, pengkajian, dan
pemeliharaan kebijakan keselamatan dan kesehatan kerja dalam rangka pengendalian resiko yang
berkaitan dengan kegiatan kerja guna terciptanya kerja yang aman, efisien dan produktif.




Gambaran Umum Risiko Bahaya Di Rumah Sakit
         Rumah sakit adalah sarana upaya kesehatan yang menyelenggarakan kegiatan pelayanan
kesehatan serta dapat berfungsi sebagai tempat pendidikan tenaga kesehatan dan penelitian.
Rumah sakit merupakan salah satu tempat bagi masyarakat untuk mendapatkan pengobatan dan
pemeliharaan kesehatan dengan berbagai fasilitas dan peralatan kesehatannya. Rumah sakit
sebagai tempat kerja yang unik dan kompleks tidak saja menyediakan pelayanan kesehatan bagi
masyarakat, tetapi juga merupakan tempat pendidikan dan penelitian kedokteran. Semakin luas
pelayanan kesehatan dan fungsi suatu rumah sakit maka semakin kompleks peralatan dan
fasilitasnya.


       Potensi bahaya di rumah sakit, selain penyakit-penyakit infeksi juga ada potensi bahaya-
bahaya lain yang mempengaruhi situasi dan kondisi di rumah sakit, yaitu kecelakaan (peledakan,
kebakaran, kecelakaan yang berhubungan dengan instalasi listrik, dan sumber-sumber cedera
lainnya), radiasi, bahan-bahan kimia yang berbahaya, gas-gas anestesi, gangguan psikososial,
dan ergonomi. Semua potensi-potensi bahaya tersebut jelas mengancam jiwa bagi kehidupan
bagi para karyawan di rumah sakit, para pasien maupun para pengunjung yang ada di lingkungan
rumah sakit.

        Rumah sakit mempunyai karakteristik khusus yang dapat meningkatkan peluang
kecelakaan. Misalnya, petugas acapkali menggunakan dan menyerahkan instrumen benda-benda
tajam tanpa melihat atau membiarkan orang lain tahu apa yang sedang mereka lakukan. Ruang
kerja yang terbatas dan kemampuan melihat apa yang sedang terjadi di area operasi bagi
sejumlah anggota tim (perawat instrumen atau asisten) dapat menjadi buruk. Hal ini dapat
mempercepat dan menambah stres kecemasan, kelelahan, frustasi dan kadang-kadang bahkan
kemarahan. Pada akhirnya, paparan atas darah acapkali terjadi tanpa sepengetahuan orang
tersebut, biasanya tidak diketahui hingga sarung tangan dilepaskan pada akhir prosedur yang
memperpanjang durasi paparan. Pada kenyataannya, jari jemari acap kali menjadi tempat
goresan kecil dan luka, meningkatkan risiko infeksi terhadap patogen yang ditularkan lewat
darah. Kondisi gawat darurat dapat terjadi setiap waktu dan mengganggu kegiatan rutin.
Mencegah luka dan paparan (agen yang menyebabkan infeksi) pada kondisi ini sesungguhnya
suatu yang menantang (Advanced Precaution for Today’s OR).

       Dari berbagai potensi bahaya tersebut, maka perlu upaya untuk mengendalikan,
meminimalisasi dan bila mungkin meniadakannya, oleh karena itu K3 rumah sakit perlu dikelola
dengan baik. Agar penyelenggaraan K3 rumah sakit lebih efektif, efesien dan terpadu diperlukan
sebuah manajemen K3 di rumah sakit baik bagi pengelola maupun karyawan rumah sakit.



Sistem Manajemen K3 Di Rumah Sakit

Kesehatan dan keselamatan kerja di rumah sakit merupakan upaya untuk memberikan jaminan
kesehatan dan meningkatkan derajat kesehatan para pekerja/buruh dengan cara pencegahan
kecelakaan dan penyakit akibat kerja, pengendalian bahaya di tempat kerja, promosi kesehatan,
pengobatan dan rehabilitasi. Manajemen K3 di rumah sakit adalah suatu proses kegiatan yang
dimulai dengan tahap perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan pengendalian yang
bertujuan untuk memberdayakan K3 di rumah sakit.



Tinjauan umum tentang sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja

        Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (MAHASISWA KESMAS UMI)
tidak terlepas dari pembahasan manajemen secara keseluruhan. Manajemen merupakan suatu
proses pencapaian tujuan secara efisien dan efektif, melalui pengarahan, penggerakan dan
pengendalian kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh orang-orang yang tergabung dalam suatu
bentuk kerja. Sedangkan sistem manajemen merupakan rangkaian proses kegiatan manajemen
yang teratur dan integrasi untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Masalah keselamatan
dan kesehatan kerja akhir-akhir ini terus berkembang seiring dengan kemajuan sains dan
teknologi dalam bidang industri. Keadaan ini merubah pandangan masyarakat industri terhadap
pentingnya penerapan K3 secara sungguh-sungguh dalam kegiatannya.
Tujuan Penerapan
        Tujuan dari diterapkannya Sistem Manajemen K3 ini pada Rumah Sakit adalah
terciptanya cara kerja, lingkungan kerja yang sehat, aman, nyaman, dan dalam rangka
meningkatkan derajat kesehatan karyawan RS. Kesehatan kerja menurut Suma’mur didefinisikan
sebagai spesialisasi dalam ilmu kesehatan/kedokteran beserta prakteknya, agar masyarakat
pekerja memperoleh derajat kesehatan setinggi-tingginya, baik fisik atau mental maupun sosial
dengan usaha-usaha preventif dan kuratif terhadap penyakit-penyakit/gangguan-gangguan
kesehatan yang diakibatkan faktor-faktor pekerjaan dan lingkungan kerja serta terhadap
penyakit-penyakit umum.


Adapun tujuan keselamatan kerja menurut Suma’mur (1987) adalah sebagai berikut :

       1.       Melindungi tenaga kerja atas hak keselamatannya dalam melakukan pekerjaan
                untuk       kesejahteraan hidup dan untuk meningkatkan produksi serta
                produktivitas nasional.

       2.       Menjamin setiap keselamatan setiap orang lain yang berada di tempat kerja.

       3.       Sumber produksi dipelihara dan dipergunakan secara aman dan efisien.


Menurut WHO / ILO (1995), Kesehatan kerja bertujuan,

       1.       Untuk peningkatan dan pemeliharaan kesehatan fisik, mental, dan sosial yang
                setinggi-tingginya bagi pekerja disemua jenis pekerjaan

       2.       Pencegahan terhadap gangguan kesehatan pekerja yang disebabkan oleh
                kondisi pekerjaan

       3.         Perlindungan bagi pekerja dalam pekerjaannya dari resiko akibat faktor yang
                 merugikan kesehatan; dan penempatan serta pemeliharaan pekerja dalam suatu
                 lingkungan kerja yang disesuaikan dengan kondisi fisiologi dan psikologisnya.
Adapun beberapa hal strategis yang harus diperhatikan dan dilaksanakan dalam
kebijakan keselamatan kerja tersebut, antara lain :

a. Orientasi karyawan, untuk meningkatkan pengetahuan keselamatan kerja karyawan tersebut
b. Penggunaan alat pelindung diri
c. Penataan tempat kerja yang baik dan aman
d. Pertolongan pertama pada kecelakaan, meliputi latihan, kelengkapan peralatan P3K,
pertolongan pada kasus luka dan mengatasi perdarahan, pada kasus patah tulang, terkilir, luka
bakar, cedera otot dan persendian, kasus cedera mata
e. Pencegahan kebakaran
f. Perizinan, yaitu perizinan untuk kegiatan yang dapat menimbulkan sumber nyala api, perizinan
untuk penggalian, untuk kelistrikan.




Pedoman mahasiswa umi

      Pedoman Manajemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja menurut Peraturan Menteri
Kesehatan 2007 terdiri atas meliputi langkah-langkah sebagai berikut :


1. Tahap persiapan (komitmen dan kebijakan)

Komitmen diwujudkan dalam bentuk kebijakan (policy) tertulis, jelas dan mudah dimengerti
serta diketahui oleh seluruh karyawan rumah sakit. Manajemen rumah sakit mengidentifikasi dan
menyediakan semua sumber daya esensial seperti pendanaan, tenaga K3 dan sarana untuk
terlaksananya program K3 di rumah sakit. Kebijakan K3 di rumah sakit diwujudkan dalam
bentuk wadah K3RS dalam struktur organisasi rumah sakit.



Untuk melaksanakan komitmen dan kebijakan K3 rumah sakit, perlu disusun strategi
antara lain:
a Advokasi sosialisasi program K3 rumah sakit
b Menetapkan tujuan yang jelas
c Organisasi dan penugasan yang jelas
d Meningkatkan SDM profesional di bidang K3 rumah sakit pada setiap unit kerja di lingkungan
rumah sakit
e Sumber daya yang harus didukung oleh manajemen puncak
f Kajian resiko secara kualitatif dan kuantitatif
g Membuat program kerja K3 rumah sakit yang mengutamakan upaya peningkatan dan
pencegahan
h Monitoring dan evaluasi secara internal dan eksternal secara berkala
Tahap perencanaan
Rumah sakit harus membuat perencanaan yang efektif agar tercapai keberhasilan penerapan
sistem manajemen K3 dengan sasaran yang jelas dan dapat diukur. Perencanaan K3 di rumah
sakit dapat mengacu pada standar sistem manajemen K3RS diantaranya self assesment akreditasi
K3 rumah sakit.


Perencanaan meliputi:

a. Identifikasi sumber bahaya dapat dilakukan dengan mempertimbangkan:

• Kondisi dan kejadian yang dapat menimbulkan potensi bahaya
• Jenis kecelakaan dan PAK yang mungkin dapat terjadi.


       Penilaian faktor resiko, yaitu proses untuk menentukan ada tidaknya resiko dengan jalan
melakukan penilaian bahaya potensial yang menimbulkan risiko kesehatan dan keselamatan
kerja.


       Pengendalian faktor risiko, dilakukan melalui empat tingkatan pengendalian risiko yaitu
menghilangkan bahaya, menggantikan sumber risiko dengan sarana/peralatan lain yang tingkat
risikonya lebih rendah /tidak ada (engneering/rekayasa), administrasi dan alat pelindung pribadi
(APP)


b. Membuat peraturan, yaitu rumah sakit harus membuat, menetapkan dan melaksanakan standar
operasional prosedur (SOP) sesuai dengan peraturan, perundangan dan ketentuan mengenai K3
lainnya yang berlaku. SOP ini harus dievaluasi, diperbaharui dan harus dikomunikasikan serta
disosialisasikan pada karyawan dan pihak yang terkait.


c. Tujuan dan sasaran, yaitu rumah sakit harus mempertimbangkan peraturan perundang-
undangan, bahaya potensial, dan risiko K3 yang bisa diukur, satuan/indikator pengukuran,
sasaran pencapaian dan jangka waktu pencapaian (SMART).


d. Indikator kinerja, harus dapat diukur sebagai dasar penilaian kinerja K3 yang sekaligus
merupakan informasi mengenai keberhasilan pencapaian SMK3 rumah sakit.


e. Program kerja, yaitu rumah sakit harus menetapkan dan melaksanakan proram K3 rumah sakit,
untuk mencapai sasaran harus ada monitoring, evaluasi dan dicatat serta dilaporkan.
Tahap penerapan atau pelaksanaan

        Pelaksanaan K3 harus merupakan bagian dari semua kegiatan operasional. Maka dari itu
pekerjaan atau tugas apapun tidak dapat diselesaikan secara efisien kecuali jika si pekerja telah
mengikuti setiap tindak pencegahan dan peratuan K3 untuk melindungi dirinya dan kawan
kerjanya. Sesuai dengan konsep sebab akibat kecelakaan serta prinsip pencegahan kecelakaan,
maka pengelompokan unsur K3 diarahkan kepada pengendalian sebab dan pengurangan akibat
terjadinya kecelakaan.


        Pelaksanaan K3 di rumah sakit sangat tergantung dari rasa tanggung jawab manajemen
dan petugas terhadap tugas dan kewajiban masing-masing serta kerja sama dalam pelaksanaan
K3. Tanggung jawab ini harus ditanamkan melalui adanya aturan yang jelas. Pola pembagian
tanggung jawab, penyuluhan kepada semua petugas, bimbingan dan latihan serta penegakan
disiplin. Ketua organisasi/satuan pelaksana K3 rumah sakit secara spesifik harus mempersiapkan
data dan informasi pelaksanaan K3 di semua tempat kerja, merumuskan permasalahan serta
menganalisis penyebab timbulnya masalah bersama unit-unit kerja, kemudian mencari jalan
pemecahannya dan mengkomunikasikannya kepada unit-unit kerja, sehingga dapat dilaksanakan
dengan baik. Selanjutnya memonitor dan mengevaluasi pelaksanaan program, untuk menilai
sejauh mana program yang dilaksanakan telah berhasil. Kalau masih terdapat kekurangan, maka
perlu diidentifikasi penyimpangannya serta dicari pemecahannya.


        Organisasi/unit pelaksana K3 rumah sakit membantu melakukan upaya promosi di
lingkungan rumah sakit baik pada petugas, pasien, maupun pengunjung yaitu mengenai segala
upaya pencegahan KAK dan PAK di rumah sakit. Juga bisa diadakan lomba pelaksanaan K3
antar bagian atau unit kerja yang ada di lingkungan kerja rumah sakit, dan yang terbaik atau
terbagus adalah pelaksanaan dan penerapan K3 nya mendapat reward dari direktur rumah sakit.
TUGAS DAN FUNGSI ORGANISASI/UNIT PELAKSANA K3 RUMAH
SAKIT:

- Tugas pokok :
• Memberi rekomendasi dan pertimbangan kepada direktur rumah sakit mengenai masalah-
masalah yang berkaitan dengan K3

• Merumuskan kebijakan, peraturan, pedoman, petunjuk pelaksanaan dan prosedur

• Membuat program K3 rumah sakit


- Fungsi:
• Mengumpulkan dan mengolah seluruh data dan informasi serta permasalahan yang
berhubungan dengan K3

• Membantu direktur rumah sakit mengadakan dan meningkatkan upaya promosi K3, pelatihan
dan penelitian K3 di rumah sakit

• Pengawasan terhadap pelaksanaan program K3

• Memberikan saran dan pertimbangan berkaitan dengan tindakan korektif

• Koordinasi dengan unit-unit lain yang menjadi anggota K3 rumah sakit

• Memberi nasehat tentang manajemen K3 di tempat kerja, kontrol bahaya, mengeluarkan
peraturan dan inisiatif pencegahan

• Investigasi dan melaporkan kecelakaan, dan merekomendasikan sesuai kegiatannya

• Berpartisipasi dalam perencanaan pembelian peralatan baru, pembangunan gedung dan proses
STRUKTUR ORGANISASI K3 DI RUMAH SAKIT
Organisasi K3 berada satu tingkat di bawah direktur dan bukan merupakan kerja rangkap.

• Model 1 :

Merupakan organisasi yang terstruktur dan bertanggung jawab kepada direktur rumah sakit.
Bentuk organisasi K3 di rumah sakit merupakan organisasi struktural yang terintegrasi ke dalam
komite yang ada di rumah sakit dan disesuaikan dengan kondisi/kelas masing-masing rumah
sakit, misalnya komite medis/nosokomial

• Model 2 :

Merupakan unit organisasi fungsional (non struktural), bertanggung jawab langsung ke direktur
rumah sakit. Nama organisasinya adalah unit pelaksana K3 RS, yang dibantu oleh unit K3 yang
beranggotakan seluruh unit kerja di rumah sakit.



Keanggotaan :
• Organisasi/unit pelaksana K3 rumah sakit beranggotakan unsur-unsur dari petugas dan jajaran
direksi rumah sakit

• Organisasi/unit pelaksana K3 rumah sakit terdiri dari sekurang-kurangnya ketua, sekretaris,dan
anggota. Organisasi/unit pelaksana K3 dipimpin oleh ketua.

• Pelaksanaan tugas ketua dibantu oleh wakil ketua dan sekretaris serta anggota Ketua
organisasi/unit pelalsana K3 RS sebaiknya adalah salah satu manajemen tertinggi di rumah sakit
atau sekurang-kurangnya manajemen dibawah langsung direktur rumah sakit.

• Sedang sekretaris organisasi/unit pelaksana K3 rumah sakit adalah seorang tenaga profesional
K3 rumah sakit, yaitu manajer K3 rumah sakit atau ahli K3
Mekanisme kerja
• Ketua organisasi/unit pelaksana K3 rumah sakit memimpin dan mengkoordinasikan kegiatan
organisasi/unit pelaksana K3 rumah sakit

• Sekretaris organisasi/unit pelaksana K3 rumah sakit memimpin dan mengkoordinasikan tugas-
tugas kesekretariatan dan melaksanakan keputusan organisasi/unit pelaksana K3 rumah sakit.

• Anggota organisasi/unit pelaksana K3 RS mengikuti rapat organisasi/unit pelaksana K3 RS dan
melakukan pembahasan atas persoalan yang diajukan dalam rapat, serta melaksanakan tugas-
tugas yang diberikan organisasi.




TAHAP PENGUKURAN DAN EVALUASI
Pemantauan dan Evaluasi

Pada dasarnya pemantauan dan evaluasi K3 di rumah sakit adalah salah satu fungsi manajemen
K3 rumah sakit yang berupa suatu langkah yang diambil untuk mengetahui dan menilai sampai
sejauh mana proses kegiatan K3 rumah sakit itu berjalan dan mempertanyakan efektivitas dan
efisiensi pelaksanaan dari suatu kegiatan K3 rumah sakit dalam mencapai tujuan yang
ditetapkan.

Pemantauan dan evaluasi meliputi :

Pencatatan dan pelaporan K3 terintegrasi ke dalam sistem pelaporan RS (SPRS);

• Pencatatan dan pelaporan K3

• Pencatatan semua kegiatan K3

• Pencatatan dan pelaporan KAK

• Pencatatan dan pelaporan PAK
Inspeksi dan pengujian

        Inspeksi K3 merupakan suatu kegiatan untuk menilai keadaan K3 secara umum dan tidak
terlalu mendalam. Inspeksi K3 di rumah sakit dilakukan secara berkala, terutama oleh petugas
K3 rumah sakit sehingga kejadian PAK dan KAK dapat dicegah sedini mungkin. Kegiatan lain
adalah pengujian baik terhadap lingkungan maupun pemeriksaan terhadap pekerja berisiko
seperti biological monitoring (pemantauan secara biologis)



Melaksanakan audit K3

       Audit K3 meliputi falsafah dan tujuan, administrasi dan pengelolaan, karyawan dan
pimpinan, fasilitas dan peralatan, kebijakan dan prosedur, pengembangan karyawan dan program
pendidikan, evaluasi dan pengendalian. Tujuan audit K3 :

• Untuk menilai potensi bahaya, gangguan kesehatan dan keselamatan

• Memastikan dan menilai pengelolaan K3 telah dilaksanakan sesuai ketentuan

• Menentukan langkah untuk mengendalikan bahaya potensial serta pengembangan mutu.




Tahap peninjauan ulang dan peningkatan


        Perbaikan dan pencegahan didasarkan atas hasil temuan dari audit, identifikasi, penilaian
risiko direkomendasikan kepada manajemen puncak. Tinjauan ulang dan peningkatan oleh pihak
manajemen secara berkesinambungan untuk menjamin kesesuaian dan keefektifan dalam
pencapaian kebijakan dan tujuan K3.
Informasi dikumpulkan dari hasil monitoring tempat kerja dan lingkungan kerja rumah sakit
terutama yang berkaitan dengan sumber bahaya potensial baik yang berasal dari kondisi
berbahaya maupun tindakan berbahaya serta data dari bagian K3 berupa laporan pelaksanaan K3
dan analisisnya.
Data dan informasi dibahas dalam organisasi/unit pelaksana K3 rumah sakit untuk menemukan
penyebab masalah dan merumuskan tindakan korektif maupun tindakan preventif. Hasil rumusan
disampaikan dalam bentuk rekomendasi kepada direktur rumah sakit. Rekomendasi berisi saran
tindak lanjut dari organisasi/unit pelaksana K3 RS serta alternatif-alternatif pilihan serta
perkiraan hasil/konsekuensi setiap pilihan.
Bentuk Kegiatan Penunjang K3

      Bentuk kegiatan yang mendukung terselengaranya sistem manajemen K3 agar berjalan
dengan benar, meliputi :

a. Penyuluhan K3 ke semua petugas RS

b. Pelatihan K3 yang disesuaikan dengan kebutuhan individu dengan perilaku tertentu agar
berperilaku sesuai dengan yang telah ditentukan sebelumnya sebagai produk akhir dari pelatihan


       Sedangkan, dalam melaksanakan program K3 sesuai peraturan yang berlaku, dapat
dilakukan kegiatan yang diantaranya :

o Pemeriksaan kesehatan petugas (prakarya, berkala dan khusus)

o Penyediaan alat pelindung diri dan keselamatan kerja

o Penyiapan pedoman pencegahan dan penanggulangan keadaan darurat

o Penempatan pekerja pada pekerjaan yang sesuai kondisi kesehatan

o Pengobatan pekerja yang menderita sakit

o Menciptakan lingkungan kerja yang higienis secara teratur melalui monitoring lingkungan
kerja dari hazard yang ada

o Melakukan biological monitoring

o Melaksanakan surveilans kesehatan pekerja
Dasar Hukum
Adapun dasar hukum yang terkait dengan pelaksanaan Sistem Manajemen K3 antara lain,
• UU No.1 tahun 1970 Tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja
• UU No.23 tahun 1992 Tentang Kesehatan
• Undang-undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang ketenagakerjaan
• Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah
• Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 1998 tentang Pengamanan Sediaan Farmasi dan Alat
Kesehatan
• Peraturan Pemerintah nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan
• Peraturan Pemerintah Nomor 63 Tahun 2000 tentang Keselamatan dan Kesehatan Terhadap
Pemanfaatan Radiasi Pengion
• Peraturan Menteri Tenaga Kerja No.: PER.05/MEN/1996 Tentang Sistem Manajemen
Keselamatan dan Kesehatan Kerja
• Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 1993 tentang Penyakit yang Timbul Akibat Hubungan
Kerja
• Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 876/Menkes/SK/VIII/2001 tentang Pedoman Teknis
Analisis Dampak Kesehatan Lingkungan
• Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1217/Menkes/SK/IX/2001 tentang Pedoman Penanganan
Dampak Radiasi
• Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1335/Menkes/SK/X/2002 tentang Standar Operasional
Pengambilan dan Pengukuran Kualitas Udara Rumah Sakit
• Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1439/Menkes/SK/XI/2002 tentang Penggunaan Gas
Medis pada Sarana Pelayanan Kesehatan
• Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 351/Menkes/SK/III/2003 tentang Komite Kesehatan dan
Keselamatan Kerja Sektor Kesehatan
• Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1204/Menkes/SK/X/2004 tentang Persyaratan Kesehatan
Lingkungan Rumah Sakit
• Peraturan Menteri Kesehatan Nomor1575/Menkes/Per/XI/2005 tentang Organisasi dan Tata
Kerja Departemen Kesehatan
• Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.432/MENKES/SK/IV/2007 Tentang
Pedoman Kesehatan dan Keselamatan Kerja di Rumah Sakit
PENUTUP


Kesimpulan


       Rumah sakit adalah sarana upaya kesehatan yang menyelenggarakan kegiatan pelayanan
kesehatan serta dapat berfungsi sebagai tempat pendidikan tenaga kesehatan dan penelitian.
Rumah sakit merupakan salah satu tempat bagi masyarakat untuk mendapatkan pengobatan dan
pemeliharaan kesehatan dengan berbagai fasilitas dan peralatan kesehatannya.


        Potensi bahaya di rumah sakit, selain penyakit-penyakit infeksi juga ada potensi bahaya-
bahaya lain yang mempengaruhi situasi dan kondisi di rumah sakit, yaitu kecelakaan (peledakan,
kebakaran, kecelakaan yang berhubungan dengan instalasi listrik, dan sumber-sumber cedera
lainnya), radiasi, bahan-bahan kimia yang berbahaya, gas-gas anestesi, gangguan psikososial,
dan ergonomi. Semua potensi-potensi bahaya tersebut jelas mengancam jiwa bagi kehidupan
bagi para karyawan di rumah sakit, para pasien maupun para pengunjung yang ada di lingkungan
rumah sakit. Rumah sakit mempunyai karakteristik khusus yang dapat meningkatkan peluang
kecelakaan. Misalnya, petugas acapkali menggunakan dan menyerahkan instrumen benda-benda
tajam tanpa melihat atau membiarkan orang lain tahu apa yang sedang mereka lakukan. Ruang
kerja yang terbatas dan kemampuan melihat apa yang sedang terjadi di area operasi bagi
sejumlah anggota tim (perawat instrumen atau asisten) dapat menjadi buruk. Hal ini dapat
mempercepat dan menambah stres kecemasan, kelelahan, frustasi dan kadang-kadang bahkan
kemarahan. Pada akhirnya, paparan atas darah acapkali terjadi tanpa sepengetahuan orang
tersebut, biasanya tidak diketahui hingga sarung tangan dilepaskan pada akhir prosedur yang
memperpanjang durasi paparan. Pada kenyataannya, jari jemari acap kali menjadi tempat
goresan kecil dan luka, meningkatkan risiko infeksi terhadap patogen yang ditularkan lewat
darah.


        Tujuan dari diterapkannya Sistem Manajemen K3 ini pada Rumah Sakit adalah
terciptanya cara kerja, lingkungan kerja yang sehat, aman, nyaman, dan dalam rangka
meningkatkan derajat kesehatan karyawan RS.
Pedoman Manajemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja menurut Peraturan Menteri Kesehatan
2007 terdiri atas meliputi langkah-langkah sebagai berikut Tahap persiapan (komitmen dan
kebijakan), Tahap perencanaan, Tahap penerapan atau pelaksanaan, Tahap Pengukuran dan
evaluasi, Tahap peninjauan ulang dan peningkatan.


       Bentuk kegiatan yang mendukung terselengaranya sistem manajemen K3 agar berjalan
dengan benar, meliputi penyuluhan K3 ke semua petugas RS, pelatihan K3 yang disesuaikan
dengan kebutuhan individu dengan perilaku tertentu agar berperilaku sesuai dengan yang telah
ditentukan sebelumnya sebagai produk akhir dari pelatihan
       Adapun dasar hukum yang terkait dengan pelaksanaan Sistem Manajemen K3
antara lain,

UU No.1 tahun 1970 Tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja
UU No.23 tahun 1992 Tentang Kesehatan
Undang-undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang ketenagakerjaan
Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah
Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 1998 tentang Pengamanan Sediaan Farmasi dan Alat
Kesehatan
Peraturan Pemerintah nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan
Peraturan Pemerintah Nomor 63 Tahun 2000 tentang Keselamatan dan Kesehatan Terhadap
Pemanfaatan Radiasi Pengion
Peraturan Menteri Tenaga Kerja No.: PER.05/MEN/1996 Tentang Sistem Manajemen
Keselamatan dan Kesehatan Kerja
Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 1993 tentang Penyakit yang Timbul Akibat Hubungan
Kerja
Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 876/Menkes/SK/VIII/2001 tentang Pedoman Teknis
Analisis Dampak Kesehatan Lingkungan
Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1217/Menkes/SK/IX/2001 tentang Pedoman Penanganan
Dampak Radiasi
Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1335/Menkes/SK/X/2002 tentang Standar Operasional
Pengambilan dan Pengukuran Kualitas Udara Rumah Sakit
Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1439/Menkes/SK/XI/2002 tentang Penggunaan Gas Medis
pada Sarana Pelayanan Kesehatan
Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 351/Menkes/SK/III/2003 tentang Komite Kesehatan dan
Keselamatan Kerja Sektor Kesehatan
Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1204/Menkes/SK/X/2004 tentang Persyaratan Kesehatan
Lingkungan Rumah Sakit
DAFTAR PUSTAKA

http: //www.scribd.com/doc/17348984/Pedoman-Penyelenggaraan-K3-RS
depkes.go.id

http://xa.yimg.com/kq/groups/1051902/593954642/name/K3+RS_HANIFA.pdf

__.2003.Bunga Rampai Hyperkes dan KK.Universitas Diponegoro: Semarang
P.K, Sumakmur.1996. Hygiene Perusahaan dan Kesehatan Kerja. Gunung Agung: Jakarta

sumber: http://ariagusti.wordpress.com/2010/11/04/makalah-kelompok-5-smk3-rumah-sakit/

								
To top