Docstoc

Bab 3 Air

Document Sample
Bab 3 Air Powered By Docstoc
					Status Lingkungan Hidup Indonesia 2004

Air
Kebutuhan air di Indonesia saat ini dan masa mendatang terus meningkat, sementara ketersediaannya relatif tetap.

3

Status Lingkungan Hidup Indonesia 2004

Dok.TEMPO/Arie Basuki, 2004 Ket: Penduduk mandi di pintu air pembuangan limbah Sungai Ciliwung, Tanah Abang, Jakarta.

3. A i r
A. STATUS KUANTITAS DAN KUALITAS AIR 1. Potensi Air Permukaan dan Air Tanah Daya dukung air suatu wilayah merupakan parameter perbandingan antara kebutuhan dan ketersediaan air, atau dapat didefinisikan sebagai kemampuan maksimal wilayah menyediakan air bagi penduduk dalam jumlah tertentu beserta kegiatannya. Saat ini kondisi sumber daya air di luar Pulau Jawa belum mengalami defisit seperti yang terjadi di Pulau Jawa, namun bila pemanfaatan sumber daya air di berbagai daerah tersebut berlangsung seperti yang terjadi saat ini di Pulau Jawa, tidak mustahil daerah-daerah tersebut akan mengalami defisit air pada suatu saat. Berdasarkan perimbangan luas wilayah menurut jeluk hujannya (Bina Program Pengairan Departemen, PU, 1991), curah hujan rata-rata Indonesia adalah 2.779 mm/tahun. Sekitar 41,4 persen wilayah Indonesia memiliki curah hujan antara 3.0005.000 mm/tahun dengan 40-60 persen wilayahnya terdapat di Sumatra dan Kalimantan. Berdasarkan Peta Hujan BMG dan dipadu dengan data pengamatan sampai dengan tahun 1994, persentase wilayah berdasarkan rerata curah hujan tahunan dapat dilihat pada Tabel 3.1. Sumber daya air merupakan salah satu sumber daya terpenting bagi kehidupan manusia dalam melakukan berbagai kegiatan yang dilakukannya, termasuk kegiatan pembangunan. Meningkatnya jumlah penduduk dan kegiatan pembangunan telah meningkatkan kebutuhan sumber daya air. Di lain pihak, ketersediaan sumber daya air semakin terbatas, bahkan di beberapa tempat dikategorikan berada dalam kondisi kritis. Hal ini disebabkan oleh berbagai faktor seperti pencemaran, penggundulan hutan, kegiatan pertanian yang mengabaikan kelestarian lingkungan, dan perubahan fungsi daerah tangkapan air. Di banyak daerah terjadi kecenderungan penurunan kuantitas dan kualitas air, bahkan sampai pada tingkat yang mengkhawatirkan. Walaupun ketersediaan air dari waktu ke waktu relatif tetap karena mengikuti daur hidrologi, keadaan dan kualitasnya yang kurang memenuhi syarat menyebabkan pemakaian dan pemanfaatannya menjadi terbatas. Dalam rangka memenuhi kebutuhan air untuk berbagai kebutuhan, kelestarian sumber daya air perlu dijaga. Prinsip dasar yang berkaitan dengan pemanfaatan air yang efisien juga harus mempertimbangkan aspek daya dukung dan konservasi sumber daya air.

Tabel 3.1 Persentase Curah Hujan Tahunan Rata-rata di Wilayah Indonesia Wilayah Sumatra Jawa Bali & Nusa Tenggara Kalimantan Sulawesi Maluku Papua Indonesia
Sumber: Las, dkk, 1997

Curah Hujan Rata-rata (mm/tahun) < 1000 1000-2000 6,2 29,5 69,5 4,7 30,9 26,4 15,7 16,2 2000-3500 71,5 56,0 16,3 66,3 66,1 71,9 40,3 59,7 3500-5000 21,5 12,6 2,1 29,0 23,0 1,7 33,7 20,5 > 5000 0,8 1,9

12,0 0,8

10,3 2,6

1,0

94

Status Lingkungan Hidup Indonesia 2004

Air permukaan terdiri dari air yang ada di dalam danau, situ, waduk/resevoir buatan, dan yang mengalir di sungai. Berdasarkan studi Ditjen Pengairan, Departemen Pekerjaan Umum pada tahun 1994, potensi air permukaan di Indonesia adalah sebesar 1.789 miliar m3/tahun. Potensi air tersebut tersebar di berbagai pulau, antara lain Papua sebesar 1.401 x 109 m3/tahun, Kalimantan sebesar 557 x 109 m3/tahun, dan Jawa sebesar 118 x 109 m3/tahun. Air permukaan tersebar di berbagai badan air yaitu 5.886 buah sungai, 1.600 buah danau/situ, serta waduk dan rawa seluas 33 juta hektar. Hasil pengukuran rutin pada beberapa sungai besar di Indonesia yang dilakukan oleh Departemen Pekerjaan Umum menunjukkan bahwa pada umumnya volume air sungai cukup besar, yaitu di

atas 1.000 juta m 3 . Hasil pengukuran tersebut mendapatkan tiga sungai yang mempunyai volume kurang dari 100 juta m3, yaitu Sungai Asahan di Sumatra Utara, Kali Pemali di Jawa Tengah, dan Sungai Palu di Sulawesi Tengah. Volume harian ratarata dapat dilihat pada Tabel 3.2. Potensi air permukaan lainnya adalah danau dan situ. Berdasarkan data dari Direktorat Jenderal Sumber Daya Air, Departemen Pekerjaan Umum, Indonesia memiliki tidak kurang dari 1.600 danau dan situ dengan volume tampung total lebih dari 53 x 1012 m3. Jumlah, luas, dan volume tampung danau/situ di Indonesia serta kondisi situ di wilayah Jabodetabek dapat dilihat pada Tabel 3.3 dan 3.4.

Tabel 3.2 Rata-rata Harian Volume Air di Beberapa Sungai Tahun 2001 No. 1 2 Provinsi Sumatra Utara Sumatra Barat Sungai S. Sahan S. Gambus Bt. Kuantan Bt. Hari Bt. Pasaman W. Tulang Bawang W. Seputih W. Sekampung W. Semangka Citarum Cimanuk Cibuni Citanduy K. Pemali K. Progo B. Solo K. Brantas Cisadane Ciujung S. Barito S. Kapuas S. Kahayan S. Katingan S. Mentaya S. Lamdau S. Tambalako S. Palu S. Buol Jumlah Lokasi Pengamatan 1 1 2 1 1 2 1 1 1 1 2 1 1 1 2 5 18 1 3 2 1 2 1 1 1 1 1 1 Volume Air (x 106 m3) 83,46 1.395,20 934,70 - 1.011,90 7.201,90 3.247,50 2.182,00 - 3.647,00 580,00 1.121,00 1.789,00 2.488,80 1.293,8 - 1713,4 976,00 4.513,00 81,85 134,03 - 21,92 855,9 - 13574 130,1 - 9033,4 1.872,50 1.765,5 - 2.710,3 19,18 - 5.069,64 1.123,36 730 - 2.599,71 2.727,00 767,00 328,00 2.976,90 54,52 2.168,00

3

Lampung

4

Jawa Barat

5 6 7 8 9

Jawa Tengah DI.Yogyakarta Jawa Timur Banten Kalimantan Tengah

10

Sulawesi Tengah

Sumber: Statistik Lingkungan Hidup 2003, BPS, 2004

Status Lingkungan Hidup Indonesia 2004

95

Tabel 3.3 Jumlah, Luas, dan Volume Tampung Danau/Situ di Indonesia Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Sumatra Utara Sumatra Barat Riau Jambi Sumatra Selatan Kepulauan Bangka Belitung Bengkulu Lampung DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah D.I. Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Maluku Maluku Utara Papua Jenis Danau 15 7 14 26 6 57 0 7 45 0 206 88 69 8 31 4 2 34 0 0 2 22 24 19 26 15 5 10 8 51 Situ 246 97 51 2 0 2 1 0 0 38 229 19 48 0 17 14 0 27 1 0 0 0 2 0 30 0 5 0 0 2 Luas (km2) 6.844,00 1.084,00 173.980,00 10,00 5.000,00 29.815,00 100,00 309,00 2.023,00 25,00 1.459,00 7,00 2.430,00 Belum Ada Data 1.594,00 2.877,00 31,00 35,00 306,00 3.683,00 Belum Ada Data Belum Ada Data 3,00 Belum Ada Data 115,00 340,00 15,00 Belum Ada Data Belum Ada Data Belum Ada Data Volume Tampung (juta m3) 7.826.523,00 3.570.725,00 52.704.266.735,00 221.000,00 Belum Ada Data 262.531.250,00 3.000.000,00 2.100.000,00 6.014.588,00 Belum Ada Data 758.342,00 386.960,00 1.028.100,00 Belum Ada Data 2.902,00 1.018,00 25,00 1.120.963,00 Belum Ada Data Belum Ada Data Belum Ada Data Belum Ada Data 72.500,00 Belum Ada Data 6.856.535,00 776.230,00 270.000,00 Belum Ada Data Belum Ada Data Belum Ada Data

Sumber: Direktorat Jenderal Sumber Daya Air, Departemen Kimpraswil, 2004

Tabel 3.4 Kondisi Situ di Wilayah Jabodetabek No.
1 2 3 4

Pemerintah Daerah
DKI Jakarta Kabupaten/Kota Bogor dan Kota Depok Kabupaten/Kota Tangerang Kabupaten/Kota Bekasi Jumlah

Jumlah Situ
16 122 45 17 200

Kondisi Baik/Berfungsi
16 19 14 5 54

Rusak/ Tidak Berfungsi
– 101 22 1 1 134

Keterangan

Dua buah situ dinyatakan hilang Sembilan buah situ dinyatakan menjadi daratan

Sumber: KLH, 2002

96

Status Lingkungan Hidup Indonesia 2004

Tabel 3.5 Sebaran dan Potensi Cekungan Air Tanah No. 1 2 3 4 5 6 7 8 Wilayah Sumatra Jawa Bali Nusa Tenggara Kalimantan Sulawesi Maluku Papua Indonesia Jumlah Cekungan 44 80 8 51 18 78 69 43 391 Potensi Air Tanah (juta m3/tahun) Bebas 115.500,00 38.793,00 1.577,00 10.141,00 69.410,00 24.305,00 12.029,00 200.535,00 472.290,00 Tertekan 4.306,00 2.047,00 22,00 304,40 19,00 1.066,00 1.231,00 3.594,00 12.589,40

Sumber: Direktorat Jenderal Geologi dan Sumber Daya Mineral, 2004

Selain air permukaan, bumi Indonesia mempunyai potensi air tanah yang tersimpan di bawah permukaan dalam sistem akifer. Air tanah ini berasal dari proses infiltrasi yang besarnya kira-kira 10 persen dari rata-rata curah hujan tahunan. Penelitian Departemen ESDM menunjukkan bahwa Indonesia mempunyai potensi air tanah sebesar 485 x 109 m3 per tahun yang terdiri dari air tanah bebas sebesar 472 x 109 m3 dan air tanah tertekan sebesar 12,6 x 109 m3. Dari potensi air tanah sebesar itu, sekitar 67 persen berada di Sumatra dan Papua. 2. Kebutuhan Air Kebutuhan air terbesar berdasarkan sektor kegiatan dapat dibagi ke dalam tiga kelompok besar, yaitu kebutuhan domestik, pertanian (irigasi), dan industri. Pada tahun 1990 kebutuhan air domestik adalah sekitar 3.169 x 106 m3, sedangkan angka proyeksi untuk tahun 2000 dan 2015 berturut-turut

sebesar 6.114 juta m3 dan 8.903 juta m3. Dengan demikian, persentase kenaikannya berkisar antara 10 persen/tahun pada tahun 1990-2000 dan 6,67 persen/tahun pada tahun 2000-2015. Kebutuhan air terbesar terjadi di Pulau Jawa dan Sumatra karena jumlah penduduk dan industri yang besar. Kebutuhan air lainnya yang besar adalah untuk keperluan pertanian. Menurut Ditjen Pengairan, Departemen Pekerjaan Umum (1991), kebutuhan air untuk pertanian (irigasi dan tambak) pada tahun 1990 adalah 74,9 x 109 m 3/tahun, kebutuhan air untuk keperluan tersebut meningkat pada tahun 2000 menjadi sebesar 91,5 x 109 m3/tahun, dan menjadi sekitar 116,96 x 109 m3/tahun pada tahun 2015 atau naik antara tahun 1990 dan 2000 sebesar 10 persen/ tahun dan antara tahun 2000 dan 2015 sebesar 6,7 persen/tahun.

Tabel 3.6 Perkiraan Ketersediaan dan Kebutuhan Air Menurut Wilayah No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Pulau/Provinsi Sumatra Jawa Kalimantan Sulawesi Bali NTB NTT Maluku Papua TOTAL Ketersediaan (m3/th x 106 ) 111.077,65 30.569,20 140.005,55 34.787,55 1.067,30 3.508,55 4.251,15 15.457,10 350.589,65 691.340,70 1995 Kebutuhan(m3/th x 106 ) 2000 25.297,54 83.378,22 8.203,64 25.555,48 8.598,50 1.832,18 2.908,14 305,23 283,35 156.362,26 2015 49.583,18 164.671,98 23.093,25 77.305,33 28.718,99 2.519,25 8.797,12 575,36 1.310,64 356.575,09

19.164,80 62.926,96 5.111,30 15.257,00 2.574,40 1.628,60 1.736,20 235,70 128,30 108.763,26

Sumber: Data air permukaan dari Dep. Pekerjaan Umum, 1995 serta data air tanah dari Direktorat Geologi Tata Lingkungan, Departemen ESDM.

Status Lingkungan Hidup Indonesia 2004

97

Di samping kebutuhan air untuk domestik dan pertanian, kebutuhan air untuk sektor industri juga cukup besar. Berdasarkan data dari Departemen Perindustrian, kebutuhan air untuk sektor industri pada tahun 1990 adalah sebesar 703,5 x 106 m3/tahun dan proyeksi untuk tahun 1998 adalah sebesar 6.474,8 x 106 m3/tahun. Peningkatan sebesar 9 kali lipat (12,5 persen/tahun) berdasarkan perkiraan perkembangan jumlah industri di beberapa provinsi terjadi antara lain di Provinsi Riau, Sumatra Selatan, Jawa Barat, Jawa Timur, dan Kalimantan Timur.

Proyeksi neraca air untuk tahun 1990, 2005, dan 2025 yang dilakukan oleh Perum Jasa Tirta II (PJT II) menunjukkan perubahan supply and demand sebagai akibat dari peningkatan kebutuhan manusia yang pesat dibandingkan dengan penambahan sumber air (Tabel 3.7). Menurut proyeksi ini PJT II akan kekurangan air hampir 860 juta m3 pada tahun 2025 untuk melayani kebutuhan air yang semakin meningkat.

Tabel 3.7 Proyeksi Neraca Air 1990-2025 di SWS* Citarum Uraian SUMBER : Citarum dengan Waduk Sungai lainnya KEBUTUHAN : Irigasi Industri Air Minum Perikanan Penggelontoran Beban Puncak Listrik NERACA : Sumber Kebutuhan Selisih 1990 m /det
3

2005 x 10 m
6 3

m /det
3

x 10 m
6

3

2025 m /det x 106 m3
3

182,33 60,25

5.750,00 1.900,00 7.650,00 5.591,71 249,45 308,11 31,54 63,07 300 6.543,88 7.650,00 6.543,88 1.106,12

182,33 61,83

5.750,00 1.950,00 7.700,00 5.518,80 473,04 671,72 315,36 315,36 100 7.394,28 7.700,00 7.394,28 305,72

182,33 63,42

5.750,00 2.000,00 7.750,00 5.298,05 788,4 1.419,12 630,72 473,04 8.609,33 7.750,00 8.609,33 -859,33

177,3 7,91 9,77 1 2 9,51

175 15 21,3 10 10 3,17

168 25 45 20 15 -

242,58 207,49

244,16 234,47

245,75 273

Sumber: Perum Jasa Tirta II, 2003 * Keterangan: SWS = Satuan Wilayah Sungai

Gambar 3.1 Jumlah Desa/Kelurahan dan Jenis Penggunaan Air Sungai
40000 35000 30000
Jumlah Desa/Kelurahan

25000 20000 15000 10000 5000 0 Mandi/Cuci Minum Bahan Baku Air Minum Irigasi Industri Transportasi Lainnya 1999 2002

Sumber: Statistik Lingkungan Hidup 2003, Badan Pusat Statistik, 2004

98

Status Lingkungan Hidup Indonesia 2004

Data BPS (2004) menunjukkan pada tahun 2002 sebagian besar dari sekitar 51 ribu desa/kelurahan yang dilalui sungai memanfaatkan air sungai untuk mandi/cuci, irigasi dan minum. Jika dibandingkan dengan tahun 1999, pada tahun 2002 terjadi peningkatan jumlah desa/kelurahan yang memanfaatkan air sungai untuk irigasi, bahan baku air minum, dan industri. Ketersediaan air permukaan untuk dimanfaatkan yang semakin terbatas menyebabkan peningkatan penggunaan air tanah terutama di kota-kota besar di Pulau Jawa seperti Jakarta, Bandung, Semarang, dan Surabaya. Secara nasional penggunaan air tanah di Indonesia untuk kebutuhan pertanian, industri, dan

domestik mencapai 12,5 km3 per tahun. Penggunaan terbesar adalah untuk domestik yang mencapai 11,62 km3 per tahun, seperti terlihat pada Tabel 3.8. Hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Tahun 2002 menunjukkan bahwa persentase rumah tangga yang menggunakan air tanah sebagai sumber air minum adalah 73,74 persen. Dari jumlah tersebut, pengguna terbanyak terdapat di Pulau Jawa (68 persen). Menurut Departemen ESDM (2004), pengambilan air tanah di Jakarta terus meningkat hingga mencapai sekitar 34 juta m3 pada tahun 1994, tetapi selanjutnya pengambilan air tanah terus menurun. Meskipun demikian, jumlah sumur bor cenderung meningkat.

Tabel 3.8 Penggunaan Air Tanah per Tahun No. 1 2 3 Penggunaan Air Tanah Pertanian Domestik Industri Total
Sumber: DTLGKP, 2004

Jumlah per Tahun (%) (km3) 0,25 11,62 0,63 12,50 2,00 92,96 5,04 100,00

Gambar 3.2 Persentase Rumah Tangga Menggunakan Air Tanah sebagai Sumber Air Minum Tahun 2002
2% 5% 7% 18%

68% Sumatra Jawa Bali & Nusa Tenggara Kalimantan Sulawesi

Sumber: Statistik Lingkungan Hidup 2003, BPS, 2004

Gambar 3.3 Jumlah Sumur Bor dan Pengambilan Air Tanah di Jakarta
Volume Pengambilan Air (Juta m3)

40 35 30 25 20 15 10 5 0

4000 3500 3000 2500 2000 1500 1000 500 0

Sumber: Ditjen. Geologi dan Sumber Daya Mineral, Departemen ESDM, 2004

18 7 19 9 1 19 8 28 19 3 19 8 48 19 58 19 6 19 8 78 19 8 19 8 9 19 4 95 19 96 19 9 19 7 98 19 9 20 9 00 20 01 20 0 20 2 03

Volume

Jumlah sumur

Jumlah Sumur Bor

Status Lingkungan Hidup Indonesia 2004

99

Salah satu akibat dari eksploitasi air tanah secara besar-besaran adalah penurunan muka air tanah. Pada tahun 2004 penurunan muka air tanah di daerah Kapuk, DKI Jakarta, telah mencapai 60 m dan di Rancaekek, Kabupaten Bandung, 70 m di bawah permukaan tanah seperti terlihat pada Gambar 3.4 dan 3.5. Penurunan permukaan air tanah akan menyebabkan tekanan dari air tanah berkurang sehingga terjadi pemampatan lapisan batuan di atasnya. Selain itu,

daerah yang mengandung batu lempung akan menyusut sehingga menyebabkan penurunan permukaan tanah. Dampak penurunan tanah akan lebih terlihat pada daerah yang memiliki beban berat di permukaannya. Di Jakarta, tanda penurunan tanah terjadi di sekitar Jakarta Utara, Jalan Sudirman, dan Cengkareng. Hal yang sama terjadi di Bandung yaitu di sekitar Dayeuhkolot dan Leuwigajah. Di Semarang, penurunan tanah dijumpai di sekitar Genuk, stasiun kereta api Lawang, sampai ke Simpang lima.

Gambar 3.4 Kecenderungan Penurunan Muka Air Tanah di Daerah Kapuk, Jakarta (saringan 96-100 dpt)
0 -10 -20 -30 -40 -50 -60 1989 1990 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004

Kedalaman (m dpt)
Kedalaman (m dpt)

Sumber: Direktorat Tata Lingkungan Geologi Kawasan Pertambangan, Departemen ESDM, 2004

Gambar 3.5 Kecenderungan Penurunan Muka Air Tanah di Daerah Rancaekek, Bandung (saringan 87-120 dpt)
0 -10 -20 -30 -40 -50 -60 -70 -80 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004

Sumber: Direktorat Tata Lingkungan Geologi Kawasan Pertambangan, Departemen ESDM, 2004

100

Status Lingkungan Hidup Indonesia 2004

Gambar 3.6 Peta Penurunan Permukaan Tanah di DKI Jakarta

Sumber: Direktorat Tata Lingkungan Geologi Kawasan Pertambangan, Departemen ESDM, 2004

Gambar 3.7 Peta Penurunan Permukaan Tanah di Daerah Semarang

Sumber: Direktorat Tata Lingkungan Geologi Kawasan Pertambangan, Departemen ESDM, 2004

Status Lingkungan Hidup Indonesia 2004

101

3. Kualitas Air Kualitas air sungai di Indonesia telah dipengaruhi oleh limbah domestik, industri, pertanian, dan peternakan. Pemantauan kualitas air sungai yang dilakukan oleh KLH bekerja sama dengan 30 provinsi di Indonesia tahun 2004 dengan frekuensi pengambilan sampel sebanyak dua kali dalam setahun menunjukkan lebih dari 50 persen parameter DO, BOD, COD, fecal coli dan total coliform yang dipantau tidak memenuhi kriteria mutu air kelas I PP Nomor 82 Tahun 2001. Untuk parameter BOD, hanya 26 persen dari keseluruhan sampel air yang diambil yang memenuhi nilai BOD sesuai dengan kriteria mutu air kelas I dan 33 persen memenuhi kriteria mutu air kelas II. Parameter COD yang memenuhi kriteria mutu air kelas I hanya 29 persen (Gambar 3.8).

Setiap parameter ditabulasikan dalam bentuk grafik whisker box yang menampilkan nilai maksimum, minimum, percentile 75 persen, dan percentile 25 persen. a. Paramater pH Untuk parameter pH, 90 persen air sungai memenuhi kriteria mutu air kelas I dan II (pH 6-9). Khusus untuk Sungai Kampar, Riau, mayoritas mempunyai pH rendah dengan nilai terendah 4,9. Kondisi pH rendah juga terdeteksi di sungai Batang Hari, Sungai Musi, Sungai Kapuas, Sungai Martapura, Sungai Ciliwung, Sungai Rangkui, dan Sungai Citarum. Nilai pH terendah, yaitu 4, terdeteksi pada titik sampling di Sungai Ciliwung, Jakarta seperti terlihat pada Gambar 3.9.

Gambar 3.8 Persentase Pemenuhan Kriteria Mutu Air Kelas I dan II PP Nomor 82/2001 di 32 Sungai Tahun 2004
100 80 Kelas I Kelas II

Persentase

60 40 20

Fenol

ML

Parameter r Sumber: KLH, 2004 Keterangan: Kelas I, yaitu air yang dapat digunakan untuk air baku air minum, dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut Kelas II, yaitu air yang peruntukannya dapat digunakan untuk prasarana/sarana rekreasi air, budi daya ikan air tawar, peternakan, air untuk mengairi pertanaman dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut.

Gambar 3.9 pH Air Sungai
10 8 6 4 2
Kaltim Maluku Sumut Bali NAD Papua Maluku Sulsel Jatim Lampung Sulut Banten Yogyakarta Jakarta Babel Gorontalo Jabar Sulsel Maluku Utara Sumsel Kalbar Bengkulu Kalsel NTT Sumbar Jambi NTB Riau Kalteng Sultra Sulteng Jateng

T. Coliform

Detergen

Fecal Coli

pH

DO

BOD

COD

TSS

NO2

NO3

NH3

PO4

0

Max 75% 25% Min

Nilai

0

Kriteria Mutu Air Kelas I & II PP No. 82/2001 = 6-9

Provinsi

Sumber: KLH, 2004

102

Status Lingkungan Hidup Indonesia 2004

b. Parameter BOD Konsentrasi BOD yang dipantau di 30 provinsi umumnya telah melampaui kriteria mutu air kelas I dan II. Konsentrasi BOD tertinggi terukur di Sungai Citarum, Jabar (162 mg/l), dan Sungai Tallo, Sulawesi Selatan (160 mg/l). Hanya Sungai Dendeng, NTT, yang memenuhi kriteria mutu air kelas I di semua titik sampling. Konsentrasi BOD yang terukur di air sungai dapat dilihat pada Gambar 3.10.

c. Parameter COD Untuk parameter COD, kebanyakan sungai mempunyai nilai COD yang telah melampaui kriteria mutu air kelas I. Beberapa di antaranya mempunyai konsentrasi COD melebihi 100 mg/l, seperti di titik sampling Sungai Citarum, Jawa Barat, Sungai Tallo, Sulawesi Selatan, Sungai Palu, Sulawesi Tengah, Sungai Deli, Sumatra Utara, Sungai Batu Gajah, Maluku, Sungai Kahayan, Kalteng, Sungai Anafre, Papua, dan sungai Batu Merah, Maluku. Konsentrasi COD tertinggi terdeteksi di Sungai Batu Merah, Maluku, dengan nilai 650 mg/l.

Gambar 3.10 Konsentrasi BOD Air Sungai Tahun 2004
1000

Konsentrasi (mg/l)

100 10 1 0 .1
NTT NAD Kaltim Sultra Jateng Jambi Banten Sumba Sumsel Sulteng Maluku Utara Kalbar Sulut Sulsel Jabar Maluku Jatim Sultra Lampung Bengkulu NTB Kalsel Jakarta Bali Gorontalo Babel Riau Maluku Yogyakarta Sumut Papua Kalteng

Max 75% 25% Min

0 .0 1

Kriteria Mutu Air Kelas I PP No. 82/2001 = 10 mg/l Kriteria Mutu Air Kelas II PP No. 82/2001 = 25 mg/l

Provinsi

Sumber: KLH, 2004

Gambar 3.11 Konsentrasi COD Air Sungai Tahun 2004
1000

Konsentrasi (mg/l)

100 10 1 0.1
Max 75 % 25 % Min

Kriteria Mutu Air Kelas I PP No. 82/2001 = 10 mg/l Kriteria Mutu Air Kelas II PP No. 82/2001 = 25 mg/l

Sumber: KLH, 2004

Sultra Maluku Utara Sumsel Sumbar Sulut Babel Jambi Sultra Jatim NTB NAD Kalsel Banten Lampung Kalbar Bengkulu Gorontalo Jakarta Bali Riau Jateng Sulteng Kaltim NTT Jabar Sumut Maluku Sultra Kalteng Yogyakarta Papua Maluku

Provinsi

Status Lingkungan Hidup Indonesia 2004

103

d. Parameter DO Parameter DO yang memenuhi kriteria mutu air kelas I adalah sebanyak 42 persen dan kriteria mutu air kelas II sebanyak 72 persen. Nilai DO di beberapa titik sampling sungai mempunyai nilai mendekati atau sama dengan nol seperti di Sungai Deli, Sumatra Utara, Sungai Citarum, Jawa Barat, Kali Surabaya, Jawa Timur, Sungai Ciliwung, DKI Jakarta, dan Sungai Dendeng, NTT. Konsentrasi DO di dalam air sungai pada tahun 2004 dapat dilihat pada Gambar 3.12.

e. Parameter TSS Parameter TSS yang memenuhi kriteria mutu air kelas I dan II adalah 71 persen. Beberapa sungai mempunyai rentang nilai TSS yang lebar, seperti di Sungai Progo, Yogyakarta, Sungai Kahayan Kalteng, Sungai Jeneberang, Sulsel, Sungai Martapura, Kalsel, dan Sungai Anafre, Papua. TSS tertinggi terdeteksi di Sungai Jeneberang, Sulsel, dengan nilai 2.482 mg/l. Konsentrasi TSS di dalam air sungai pada tahun 2004 dapat dilihat pada Gambar 3.13.

Gambar 3.12 Konsentrasi DO Air Sungai Tahun 2004
12 11 10 9 8 7 6 5 4 3 2 1 0
Kalteng Lampung Kaltim Sulteng Kalbar Sumbar Banten Maluku Maluku Utara Bengkulu Gorontalo Maluku Sulteng Jakarta Sumut Jateng Yogyakarta Sumsel Papua Sulsel Kalsel Jambi Sulsel Babel Bali NTT Sulut Riau Jatim NAD Jabar

Konsentrasi (mg/l)

Max 75 % 25 % Min

Kriteria Mutu Air Kelas I PP No. 82/2001 = 6 mg/l Kriteria Mutu Air Kelas I PP No. 82/2001 = 4 mg/l

Provinsi

Sumber:

KLH,

2004

Gambar 3.13 Konsentrasi TSS Air Sungai Tahun 2004
600 550 500 450 400 350 300 250 200 150 100 50 0

Konsentrasi (mg/l)

M ax 75% 25% M in

Sulsel

Sulteng

Jateng

Kalsel

Maluku

Maluku

Yogyakarta

Lampung

Sumbar

Kalteng

Sulteng

Sumsel

Sumut

Kaltim

Sulsel

NTT

NAD

Jatim

Jabar

Riau

Maluku Utara

Kalbar

Jakarta

Banten

Gorontalo

Kriteria Mutu Air Kelas I & II PP No. 82/2001= 50 mg/l

Provinsi

Sumber:

KLH,

2004

f. Parameter NO2 Persentase sungai yang memenuhi kriteria mutu air kelas I dan II untuk NO2 (nitrit) adalah 78 persen. Untuk Sungai Tukad Badung, Bali, dan Sungai Kahayan, Kalteng, mayoritas nitrit yang terdeteksi sudah melebihi kriteria mutu kelas I dan II, dengan konsentrasi tertinggi terdeteksi di Sungai Kahayan, Kalteng (1,19 mg/l), seperti terlihat pada Gambar 3.14.

g. Parameter NO3 Untuk parameter NO3 (nitrat), Sungai Tukad Badung, Bali, dan Sungai Progo, Yogyakarta telah melebihi kriteria mutu air kelas I dan II. Konsentrasi tertinggi terdapat di Sungai Progo, Yogyakarta (84,9 mg/l), seperti terlihat pada Gambar 3.15.

104

Status Lingkungan Hidup Indonesia 2004

Bengkulu

Papua

Babel

Jambi

Sulut

Bali

Gambar 3.14 Konsentrasi NO2 Air Sungai Tahun 2004
10

Konsentrasi (mg/l)

1 0.1 0.01

Max 75 % 25 % Min
Yogyakarta Kalbar Kalsel Babel Sulut Jati m Lampung Jambi Riau Gorontalo Bengkulu NAD NTB Banten Maluku Sumsel Jakarta Sumut Jabar Sulsel Jateng Sulsel Bali Kalteng

0.001

Kriteria Mutu Air Kelas I & II PP No. 82/2001 = 0,05 mg/l
Sumber: KLH, 2004

Provinsi

Gambar 3.15 Konsentrasi NO3 Air Sungai Tahun 2004
100
Konsentrasi (mg/l)

10 1 0.1 Max 75 % 25 % Min

0.01
Jakarta Yogyakarta Lampung Kalteng Kaltim Kalbar Sultra Gotontalo Papua Sulsel Kalsel Sulsel Banten Bengkulu Jatim NTB Jateng NTB Sulut Sumut Sumbar Sumsel Sulteng Jambi NAD Babel Jabar Riau Bali

Sumber:

Kriteria Mutu Air Kelas I & II PP No. 82/2001 = 10 mg/l KLH, 2004

Provinsi

h. Parameter NH3 Untuk parameter NH3, sebagian besar titik sampling yang melebihi kriteria mutu air terdeteksi di Sungai Deli, Sumut, Sungai Tallo, Sulsel, Sungai Rangkui, Bangka Belitung, dan Sungai Anafre, Papua. Konsentrasi NH3 tertinggi terdeteksi di Sungai Anafre, Papua, sebesar 55,2 mg/l diikuti Sungai Brantas, Jatim, sebesar 30,8 mg/l.

i. Parameter PO4 Untuk parameter PO4 (fosfat), sebagian besar sungai yang dipantau mempunyai titik sampling melebihi kriteria mutu air kelas I dan II. Selain itu, Sungai Batang Agam di Sumatra Barat menunjukkan konsentrasi PO 4 tertinggi hampir di semua titik, dengan konsentrasi maksimum sebesar 13,5 mg/l (Gambar 3.17).

Gambar 3.16
10 0

Konsentrasi (mg/l)

10 1 0 .1 0 1 .0 Max 75 % 25 % Min

0 .001

Kalbar

NTT

Sumsel

Riau

Maluku Utara

Kalteng

Sulteng

Lampung

Sumbar

Banten

Maluku

Kaltim

Maluku

Kalsel

Jatim

Bali

Sulsel

Jambi

Yogyakarta

Sumut

Jateng

Gorontalo

Bengkulu

Jakarta

Sulsel

Sulut

Jabar

Babel

Kriteria Mutu Air Kelas I & II PP No. 82/2001 = 0,05 m/l

Provinsi

Papua

NAD

Status Lingkungan Hidup Indonesia 2004

105

Gambar 3.17 Konsentrasi PO4 Air Sungai Tahun 2004
100
Konsentrasi (mg/l)

10 1 0. 1 0.0 1
Papua Kaltim Sumut Yogyakarta Gorontalo Lampung Bengkulu Sumbar
Max 75 % 25 % Min
Max 75 % 25 % Min

Max 75 % 25 % Min

Jakarta

Jambi

Jabar

Sumsel

Kalteng

Banten

Kalbar

Kriteria Mutu Air Kelas I & II PP No. 82/2001 = 0.2 mg/l
Sumber: KLH, 2004

Provinsi

j. Parameter Biologi (Fecal Coli dan Total Coliform) Sungai yang berada di kota padat penduduk, seperti di Pulau Jawa, lebih tercemar oleh fecal coli dan total coliform, seperti Sungai Progo (Jateng dan Yogyakarta), Sungai Ciliwung, DKI Jakarta, dan Sungai Citarum, Jabar (Gambar 3.18).

Tabel 3.9 menunjukkan status mutu air di bagian hulu dan hilir sungai yang dipantau di 30 provinsi. Status mutu air tersebut merupakan status mutu air sesaat yang diperhitungkan dengan menggunakan data dari sekali pengambilan sampel dan dengan jumlah parameter terbatas serta bervariasi untuk tiap provinsi. Status mutu air dihitung dengan menggunakan metode Indeks Pencemar Kepmen LH Nomor 115 Tahun 2003 dan baku mutu yang digunakan adalah nilai kriteria mutu air kelas II PP Nomor 82 Tahun 2001.

Gambar 3.18 Konsentrasi Fecal Coli Air Sungai Tahun 2004
100000000 10000000 1000000 100000 10000 1000 100 10 1
Bengkulu Maluku Utara Sumbar Kalbar Sultra NAD Babel Bali Kalsel NTT Kalteng Sulteng Yogyakarta Lampung Sumsel Sulsel Sulsel Kaltim Gorontalo Maluku Maluku Banten Jateng NTB Riau Jabar Jakarta

Sel/100 ml

Kriteria Mutu Air Kelas I PP No. 82/2001 = 100 Jml/100 ml Kriteria Mutu Air Kelas II PP No. 82/2001 = 1000 Jml/100 ml

Provinsi

Sumber: KLH, 2004

Gambar 3.19 Konsentrasi Total Coliform Air Sungai Tahun 2004
1000000000 100000000 10000000

S e l / 100 ml

1000000 100000 1000 0 1000 100 10 1

Sumbar

Babel

Kalbar

Lampung

Kalsel

NAD

Sulut

NTT

Gorontalo

Sultreng

Sulsel

Sulsel

Kalteng

Kaltim

Jateng

Sultra

NAD

Babel

Jatim

Kalse

Sulut

Riau

Jateng

Riau

Bali

0.001

Jabar

Sumsel

NTB

Bali

Yogyakarta

Kriteria Mutu Air Kelas I PP No. 82/2001 = 1000 Jml/100ml Kriteria Mutu Air Kelas II PP No. 82/2001 = 5000 Jml/100ml

Provinsi

Sumber: KLH, 2004

106

Status Lingkungan Hidup Indonesia 2004

Jakarta

Tabel 3.9 Status Mutu Kualitas Air 32 Sungai di Indonesia Tahun 2004 Provinsi NAD Sumatra Utara Riau Sumatra Barat Jambi Bengkulu Sumatra Selatan Lampung Bangka Belitung Banten Jawa Barat-Banten DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah & DI. Yogyakarta Jatim Bali Nusa Tenggara Timur Nusa Tenggara Barat Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Gorontalo Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Maluku Maluku Utara Papua Sumber: KLH, 2004
Keterangan: Perhitungan status mutu air menggunakan metode Indeks Pencemar Kepmen LH No. 115 Tahun 2003. Daerah hulu dan hilir dibandingkan dengan kriteria mutu air kelas II PP 82 Tahun 2001, kecuali hulu Sungai Cisadane yang dibandingkan dengan kriteria mutu air kelas I. *) Berdasarkan 2 kali pemantauan

Nama Sungai Krueng Tamiang Deli Kampar Batang Agam Batang Hari Air Bengkulu Musi Way Sekampung Rangkui Kali Angke Cisadane Ciliwung Citarum Progo Brantas Tukad Badung Kali Dendeng Kali Jangkok Kapuas Kahayan Martapura Mahakam Tondano Bone Palu Tallo Jeneberang Konaweha Batu Gajah Batu Merah Tabobo Anafre

Status Kualitas Air *) Hulu Hilir cemar ringan - memenuhi Memenuhi cemar ringan cemar ringan cemar ringan - cemar sedang cemar sedang cemar ringan cemar sedang cemar sedang cemar sedang cemar ringan cemar ringan - cemar sedang cemar ringan cemar ringan cemar ringan cemar ringan cemar sedang cemar ringan - memenuhi cemar ringan - cemar sedang cemar sedang cemar berat cemar sedang cemar berat cemar berat cemar sedang cemar sedang cemar ringan - memenuhi cemar sedang cemar sedang cemar ringan cemar ringan memenuhi cemar ringan cemar ringan - memenuhi cemar sedang cemar ringan cemar ringan - memenuhi cemar ringan - cemar berat cemar ringan - cemar sedang cemar ringan - cemar sedangcemar ringan - cemar sedang cemar ringan cemar ringan cemar ringan cemar ringan cemar ringan cemar ringan cemar sedang - memenuhi cemar ringan cemar sedang cemar ringan - cemar sedang cemar ringan cemar ringan - memenuhi cemar ringan cemar ringan cemar ringan cemar sedang cemar ringan - memenuhi cemar sedang cemar sedang - memenuhi memenuhi cemar ringan cemar sedang

Berdasarkan hasil perhitungan indeks pencemar tersebut, dapat disimpulkan bahwa mayoritas daerah hulu dan hilir berada pada kondisi tercemar ringan. Untuk daerah hulu, dari 32 sungai yang dipantau di 30 provinsi dengan dua kali periode pemantauan, sebesar 12,5 persen memenuhi baku mutu, 56 persen tercemar ringan, 23 persen tercemar sedang, dan 8 persen tercemar berat. Hulu yang memenuhi baku mutu terdapat di Sungai Krueng Tamiang, NAD (periode pemantauan Agustus 2004), Sungai Progo, Jateng (periode pemantauan Maret 2004), Sungai Dendeng, NTT

(periode pemantauan Mei dan Juli 2004) Sungai Jangkok, NTB (periode pemantauan Oktober 2004), Sungai Palu, Sulteng (periode pemantauan April 2004) Sungai Batu Merah, Maluku (periode pemantauan November 2004), dan Sungai Tabobo (periode pemantauan September 2004). Daerah hulu yang mempunyai kondisi tercemar berat adalah Sungai Ciliwung (sungai lintas batas Provinsi Jabar dengan DKI Jakarta), Sungai Cisadane (sungai lintas batas Provinsi Jabar dengan Banten), dan Sungai Kahayan, Kalteng. Hulu Sungai Ciliwung dan Sungai Cisadane yang tercemar berat perlu mendapat perhatian khususnya untuk parameter fecal coli dan total coliform yang memberikan pengaruh besar terhadap status mutu air.

Status Lingkungan Hidup Indonesia 2004

107

Untuk daerah hilir, hasil perhitungan indeks pencemar dengan jumlah parameter yang terbatas dan bervariasi di masing-masing provinsi menunjukkan bahwa 10 persen berada pada kondisi baik, 40 persen menunjukkan status tercemar ringan, 42 persen tercemar sedang, dan 3 persen tercemar berat. Hilir yang memenuhi baku mutu meliputi Sungai Krueng Tamiang, NAD (periode pemantauan Juni dan Agustus 2004), Sungai Rangkui, Bangka Belitung (periode pemantauan November 2004), Sungai Kapuas, Kalbar (periode pemantauan Agustus 2004), Sungai Jenebarang, Sulsel (periode pemantauan Mei 2004), dan Sungai Tabobo, Maluku Utara (periode pemantauan Juni dan September 2004). Hilir yang tercemar berat hanya terdapat di Sungai Ciliwung. Seperti juga di daerah hulu, fecal coli dan total coliform memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap status mutu air Sungai Ciliwung di bagian hilir. Bila dua parameter ini dapat dikendalikan, status mutu air tersebut dapat meningkat menjadi lebih baik. Pada umumnya kualitas air cenderung memburuk

ke arah hilir. Pemantauan pada 15 titik dari hulu ke hilir Sungai Ciliwung menunjukkan kecenderungan semakin memburuk ke arah hilir. Hal ini terlihat dari parameter yang dipantau di Sungai Ciliwung, salah satunya adalah BOD (Gambar 3.20). Fecal coli dan total coliform memberikan kontribusi paling penting dalam penurunan kualitas air Sungai Ciliwung. Bakteri tersebut telah mencemari sungai Ciliwung baik dari hulu sampai ke hilir dengan jumlah yang sangat jauh melebihi baku mutu yang ditetapkan. Perhitungan status mutu air di setiap titik sampling Sungai Ciliwung juga menunjukkan nilai yang semakin memburuk ke arah hilir (Gambar 3.21). Perhitungan status mutu Sungai Ciliwung ini menggunakan metode Storet Kepmen LH Nomor 115 Tahun 2003, kemudian dibandingkan dengan kriteria mutu air kelas II PP Nomor 82 Tahun 2001. Semua titik sampling yang dipantau menunjukkan status mutu air tercemar berat dari hulu ke hilir, dengan kecenderungan makin memburuk ke arah hilir pada tahun 2004, seperti terlihat pada Gambar 3.20 dan 3.21.

Gambar 3.20 Konsentrasi BOD di Sungai Ciliwung dari Hulu ke Hilir Tahun 2004
55 50 45 40 35 30 25 20 15 10 5 0 BOD 21-Des -04 BOD 25-Mar-04 BOD 15-Jun-04 BOD 7-Sep-04

BOD (mg/l )

A

Aw tta

un i ,C

pa s am

i

le Ci

m

r be ta ba nG

og ad K

pa l am atu

l ria bu Ci

Jem

ur g s j ek mp l an nu Ra Se Ha Pa ok ng an nd t du ba Po Ke Jem

K

ua aD lap e

et nd Co

a gg an M

rai

ita Kw G

ng

ah gS un un

ari

K PI

Titik Sa mpling
Sumber: KLH, 2004

Gambar 3.21 Status Mutu Air Sungai Ciliwung dari Hulu ke Hilir Tahun 2004
-90 -80 -70 -60 -50 -40 -30 -20 -10 0
Ci At b u ta ria Aw l, C u isa n m p Je m Cil ai ba em tan b G er ad K og at ula m p K Se a ed m un pu g r Po Ha n d lan Je g m ok ba R tan aje Pa k K nus el a pa D u Co a nd M an et gg ar K ai G wi un un tan gS g ah ar i PI K

Score

Titik Sampling

Nilai Cemar berat

Cemar sedang

Sumber: KLH, 2004 Keterangan: Status mutu air sungai Ciliwung dihitung menggunakan metode Storet Kepmen LH No. 115 Tahun 2003 dan kriteria mutu air kelas II PP No. 82 Tahun 2001.

108

Status Lingkungan Hidup Indonesia 2004

4. Kualitas Air Tanah Hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional Tahun 2002 menunjukkan bahwa sekitar 60 persen rumah tangga di Indonesia mempunyai sumber air minum (pompa, sumur, dan mata air) yang berjarak kurang dari 10 m dari tempat penampungan kotoran (tanki septik) terdekat (Gambar 3.22). Jika jarak tersebut kurang dari 10 meter, kemungkinan besar sumber air minum tercemar bakteri coliform. Berdasarkan Laporan Neraca Kualitas Lingkungan Hidup Daerah (NKLD) DKI Jakarta Tahun 2003, tercatat bahwa konsentrasi Fe dan Mn pada semua sumur yang dipantau memenuhi baku mutu sesuai dengan Permenkes Nomor 416/MENKES/Per/IX/1990 tentang Persyaratan Kualitas Air Minum. Untuk parameter SO4, terdapat satu sumur di daerah Tugu Selatan yang melewati baku mutu. Untuk parameter zat organik, terdapat sumur di daerah Cakung Barat dan Sunter Barat yang telah melewati baku mutu. Untuk parameter coliform, hampir semua sumur yang dipantau mengandung coliform di atas ambang batas dengan konsentrasi tertinggi sebesar 1.600 x 103/100 ml yaitu terdapat di daerah Rorotan, Jakarta Timur (Tabel 3.10). 5. Kualitas Air Danau Pengukuran kualitas air yang dilakukan di Danau Toba, Sumut, dan Danau Batur, Bali, menunjukkan bahwa

Gambar 3.22 Persentase Rumah Tangga dengan Jarak Sumber Air Minum ke Tanki Septik < 10 Meter Tahun 2002

konsentrasi COD dan sulfida (S=) berada di atas baku mutu air kelas I menurut PP Nomor 82 Tahun 2001. Pengukuran di Danau Batur dilakukan di 6 titik sampling dan di Danau Toba di 9 titik sampling. Konsentrasi sulfida berada di atas baku mutu untuk semua titik di kedua danau. Keberadaan logam berat Cd, yang berada di atas baku mutu, ditemukan di Danau Toba pada enam titik sampling. Keberadaan bahan pencemar organik (yang terukur oleh parameter COD) dan logam berat mungkin diakibatkan oleh buangan domestik, pertanian, perikanan, dan industri di sekitar danau. Konsentrasi sulfida, total N, total P, fenol, dan COD di Danau Batur dan Danau Toba dapat dilihat pada Gambar 3.23 dan 3.24.

Sumber: Statistik Lingkungan Hidup Indonesia 2003, BPS, 2003

Tabel 3.10 Kualitas Air Tanah di DKI Jakarta Tahun 2003 No. 1 2 3 4 5 Wilayah Jakarta Selatan Jakarta Timur Jakarta Pusat Jakarta Barat Jakarta Utara Baku Mutu Besi (mg/l) min maks 0,03 0,03 0,03 0,07 0,04 0,76 3,51 0,21 0,47 0,90 1,00 Mangan (mg/l) min maks Sulfat (mg/l) min maks Zat Organik (mg/l) min maks 0,73 1,82 0,71 14,67 0,98 5,50 1,06 9,59 3,53 10,64 10,00 <2 2 2 <2 2 Coliform (jml/100cc) min maks 500 x 102 1600 x 103 500 x 103 240 x 102 1600 x 102 50

0,02 0,29 1,58 25,87 0,06 2,84 1,90 132,29 0,06 1,82 11,88 78,19 0,50 3,20 6,95 227,08 0,15 0,50 51,62 401,80 0,50 400,00

Sumber: Laporan NKLD DKI Jakarta 2003, BPLHD DKI Jakarta, 2004 Gambar 3.23 Konsentrasi Sulfida, Total N, Total P, dan Fenol di Danau Batur dan Danau Toba Tahun 2004

Sumber: KLH, 2004

Status Lingkungan Hidup Indonesia 2004

109

Gambar 3.24 Konsentrasi COD di Danau Toba dan Danau Batur Tahun 2004
100 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0
1 2 3 4 5 6 a b c d e f g h i

Konsentrasi COD (mg/l)

Sumber: KLH, 2004

Batur

Toba

Titik Sampling

B. PENCEMARAN AIR 1. Industri Berdasarkan Statistik Lingkungan Hidup 2003 (BPS, 2004), jumlah industri utama yang menghasilkan limbah cair cenderung menurun. Beban limbah cair yang dibuang oleh banyak industri tersebut tidak dapat diprediksi karena tidak terdapat data kapasitas

produksi. Jumlah industri utama penghasil limbah cair tahun 2000-2002 dapat dilihat pada Tabel 3.11. Diperkirakan volume limbah cair industri yang dibuang ke perairan umum di Jakarta adalah 134 ribu m 3 dengan kontribusi terbesar berasal dari industri pengolahan makanan (sekitar 86 persen), seperti terlihat pada Gambar 3.25.

Tabel 3.11 Jumlah Industri Utama Penghasil Limbah Cair Tahun 2000 - 2002 No. 1 2 3 4 5 6 7 8 Jenis Industri Makanan dan minuman Tembakau Tekstil Kulit Kertas Pertambangan dan Migas Kimia Karet Total Tahun 2000 4.661 821 2.027 587 431 57 1.087 1.392 11.063 2001 4.544 808 1.897 561 383 48 1.071 1.392 10.704 2002 4.551 814 1.892 533 340 40 1.014 1.466 10.650

Sumber: Statistik Lingkungan Hidup Indonesia 2003, BPS, 2004

Gambar 3.25 Perkiraan Kontribusi Volume dan Beban Limbah Cair Industri di DKI Jakarta Tahun 2003

Sumber: Laporan Status Lingkungan Hidup Daerah DKI Jakarta Tahun 2003, BPLHD, 2004

110

Status Lingkungan Hidup Indonesia 2004

2. Limbah Rumah Tangga Di kota-kota metropolitan, seperti Jakarta, Surabaya, dan Medan, penurunan kualitas air sungai juga dipengaruhi oleh buangan limbah cair dari rumah tangga. Berdasarkan Susenas Tahun 2002, sekitar 60 persen Gambar 3.26 Persentase Rumah Tangga dengan Penampungan Akhir Tinja bukan Tanki Septik Tahun 2002
7% 7% 6% Sumatra Jawa Bali & Nusa Tenggara Kalimantan Sulawesi 20%

C. PENGELOLAAN AIR Strategi pengelolaan sumber daya air harus diarahkan kepada pelestarian atau peningkatan daya dukung wilayah dari segi ketersediaan air. Upaya ini perlu dilakukan dengan mempertahankan fungsi air dari segi ekologi, ekonomi, dan sosial. Untuk itu, pengelolaan air perlu dilakukan secara terpadu dan lintas sektor dengan mempertimbangkan proyeksi pertumbuhan penduduk setiap wilayah dan rencana pembangunan sektoral. Pengelolaan sumber daya air terpadu (one management for one watershed) dengan pendekatan daerah aliran sungai (DAS) dari hulu sampai hilir merupakan upaya yang harus dipertimbangkan. Hal ini penting mengingat setiap DAS di Indonesia memiliki karakteristik yang berbeda sehingga memerlukan penanganan yang berbeda pula. 1. Prokasih Salah satu upaya KLH dalam mengatasi masalah pencemaran air dari industri adalah dengan menjalankan Prokasih. Pemantauan yang dilakukan terhadap 121 industri pengolahan yang menghasilkan limbah cair menunjukkan bahwa 70 persennya sudah memenuhi baku mutu limbah cair, seperti diatur dalam Kepmen LH Nomor 51 Tahun 1995 tentang Baku Mutu Limbah Cair Bagi Kegiatan Industri. Industri kimia dasar mempunyai persentase terendah dalam memenuhi baku mutu limbah cair, sementara seluruh industri farmasi telah memenuhi baku mutu seperti terlihat pada Tabel 3.12. Seperti terlihat pada Tabel 3.13, konsentrasi BOD tertinggi (4.395 mg/l) dan COD tertinggi (7.387 mg/l) berasal dari industri kimia dasar, sedangkan konsentrasi TSS tertinggi berasal dari industri pulp dan kertas. Penilaian peringkat kinerja juga dilakukan terhadap kegiatan pertambangan, energi, dan migas (PEM). Hasil pemantauan yang dilakukan pada tahun 2004 menunjukkan

60%
Sumber: Statistik Lingkungan Hidup Indonesia 2003, BPS, 2004

rumah tangga tidak menampung tinjanya ke dalam tanki septik (Gambar 3.26). Kemungkinan besar, anggota keluarga dari rumah tangga tersebut membuang limbahnya langsung ke perairan umum atau ke tanah. Dengan asumsi jumlah anggota keluarga setiap rumah tangga rata-rata adalah 4 orang dan setiap orang menghasilkan limbah 7,3 m3/ hari, jumlah air limbah rumah tangga yang dibuang ke perairan umum dan tanah secara langsung adalah sekitar 232 juta m3/hari. Dari jumlah tersebut, sekitar 139 juta m 3/hari mencemari sungai dan tanah di Pulau Jawa.

Tabel 3.12 Jumlah Industri Pengolahan yang Memenuhi Baku Mutu Limbah Cair Tahun 2004 No. 1 2 3 4 5 6 7 Jenis Industri Tekstil Kertas Pulp dan Kertas Kimia Dasar Farmasi MSG Pupuk Jumlah Industri 62 8 23 13 10 3 3 Memenuhi Baku Mutu Jumlah 38 6 21 7 10 2 2 Persen 61,29 75,00 91,30 53,85 100,00 66,67 66,67

Sumber: KLH, 2004

Status Lingkungan Hidup Indonesia 2004

111

Tabel 3.13 Rentang Nilai Konsentrasi Parameter BOD, COD, dan TSS per Jenis Industri Prokasih Tahun 2004 Parameter No. 1 2 3 4 5 6 7 Jenis Industri Tekstil Kertas Pulp dan Kertas Kimia Dasar Farmasi MSG Pupuk BOD (mg/l) Min 0,34 16,00 0,40 0,41 0,90 3,50 Max 610,00 588,00 183,26 4.395.00 196,00 384,70 COD (mg/l) Min 2,00 40,00 8,80 2,97 4,20 8,90 13,15 Max 1.525,00 1.259,00 446,20 7.387,00 490,00 824,80 358,32 TSS (mg/l) Min 1,00 3,00 1,00 2,00 1,00 6,30 11,00 Max 500,00 720,00 2.233,80 252,00 86,10 142,00 210,00

Sumber: KLH, 2004

Tabel 3.14 Jumlah Kegiatan Pertambangan, Energi, dan Migas yang Memenuhi Baku Mutu Limbah Cair Tahun 2004 No. 1 2 3 4 5 6 7 Jenis Kegiatan Eksplorasi, Produksi Migas dan Panas Bumi Pengilangan Migas LNG Pertambangan Batubara Pertambangan Mineral Pembangkit Listrik (Batubara) Pembangkit Listrik (Migas) Jumlah Kegiatan 36 6 1 12 13 7 4 Memenuhi Baku Mutu Jumlah 32 2 1 7 11 5 2 Persentase (%) 88,89 33,33 100,00 58,33 84,62 71,43 50,00

Sumber: KLH, 2004

bahwa 76 persen kegiatan PEM yang dipantau telah memenuhi baku mutu limbah cair yang diatur dalam Kepmen LH Nomor 42 Tahun 1996 (Tabel 3.14). 2.Surat Pernyataan Kali Bersih (Superkasih) Upaya lain yang dilakukan oleh KLH untuk menurunkan beban pencemaran limbah cair industri adalah melalui Program Superkasih (Surat Pernyataan Kali Bersih). Program ini merupakan kerja sama KLH dengan pemda dan bertujuan untuk mendorong percepatan penaatan industri terhadap peraturan perundang-undangan di bidang lingkungan hidup, khususnya bidang pengendalian pencemaran air, dengan membuat surat pernyataan bahwa industri bersangkutan akan melakukan upaya penaatan dalam batas waktu tertentu dengan memperhatikan faktor teknis dan administrasi. Sampai dengan bulan Maret 2005 jumlah industri/ perusahaan yang sudah menandatangani surat pernyataan tersebut adalah 263 (Tabel 3.15).

Tabel 3.15 Jumlah Perusahaan Peserta Program Superkasih Tahun 2004 No. 1 2 3 4 5 6 7 Provinsi Kabupaten/Kota Riau Batam DKI Jakarta Banten Jawa Barat Jawa Tengah Jawa Timur Total
Sumber: KLH, 2004

Wilayah Sasaran Sungai Siak Tanjung Uncang Teluk Jakarta Sungai Cisadane DAS Citarum DAS Serayu Kali Tengah

Jumlah Industri 43 48 25 25 75 22 25 263

112

Status Lingkungan Hidup Indonesia 2004

3. Pengelolaan Limbah Rumah Tangga Untuk mengurangi beban limbah cair yang berasal dari rumah tangga, Departemen Pekerjaan Umum bekerja sama dengan pemda membangun saranasarana pengolahan limbah rumah tangga di berbagai daerah. Sampai dengan tahun 2003, Departemen Pekerjaan Umum telah membangun 2.703 Instalasi Pengolahan Limbah Tinja (IPLT) di berbagai daerah dengan kapasitas total 2.079 m3/hari. Secara nasional tanki

septik komunal sudah dapat melayani 23,19 persen jumlah penduduk di daerah layanan (Tabel 3.16). Sarana pengolahan limbah rumah tangga lainnya adalah sewerage system yang sudah dibangun di 11 kota. Secara total cakupan pelayanan sewerage di 11 kota tersebut sudah mencapai 14 persen dari jumlah penduduk di daerah pelayanan (Tabel 3.17).

Tabel 3.16 Pembangunan Sarana Pengolahan Limbah Cair Rumah Tangga Hingga Tahun 2003 Jml Kota 129 141 37 12 63 17 Daerah Layanan (Jml Penduduk) Tangki Septik Komunal Jiwa % 31,85 22,84 31,48 5,82 6,93 18,18 23,19 Sewerage Jiwa 61.500 2.431.026 7.814 2.500.340 % Jml IPLT Kap. IPLT MCK (m3/hari)

Wilayah

Sumatra Jawa dan Bali Kalimantan NTB dan NTT Sulawesi Maluku dan Papua Total

17.884.336 5.696.724 75.049.732 17.140.506 5.259.688 1.655.720 3.796.301 221.004 6.103.336 422.909 1.319.168 239.765

0,34 1.571 2,95 1.149 3,24 357 1.885,35 3.797 0,15 757 188 299 6 1,25 579 10 1,5 283 2 0,25 120 2,29 2.703 2.079 6.227

399 109.412.561 25.376.628

Sumber: Hasil analisis dikutip dari pekerjaan Studi National Action Plan, Departemen Kimpraswil, 2003

Tabel 3.17 Cakupan Pelayanan Sewerage di 11 Kota Tahun 2003 Penduduk Penduduk Terlayani Luas Daerah Daerah Sewerage Nama Kota Pelayanan Pelayanan (ha) Jiwa % (Jiwa) Balikpapan 436.029 50.331 7.764 1,78 Banjarmasin 579.362 7.200 50 0,01 Bandung 2.250.000 16.729 420.000 18,67 Cirebon 269.478 3.736 60.000 22,27 Denpasar 459.384 23.653 181.600 39,53 Jakarta 9.175.600 65.570 1.659.000 18,08 Medan 1.974.300 26.500 51.000 2,58 Prapat 10.000 192 10.500 105,00 Surakarta 539.387 4.404 4.000 0,74 Tangerang 1.320.600 18.378 45.700 3,46 Yogyakarta 906.237 20.304 60.726 6,70 Total 17.920.377 236.997 2.500.340 13,95 Luas Area Terlayani Sewer ha 40,00 20,00 6.000,00 120,00 1.655,00 6.260,00 450,00 71,60 60,00 82,00 1.220,00 15.978,60 % 0,08 0,28 35,87 3,21 7,00 9,55 1,70 37,27 1,36 0,45 6,01 6,74 Kapasitas IPAL (m3/hr) 800 500 243.000 13.500 51.000 462.600 30.000 2.010 2.000 5.500 15.500 826.410

No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11

Sumber: Hasil analisis dikutip dari pekerjaan Studi National Action Plan, Departemen Kimpraswil, 2003

Status Lingkungan Hidup Indonesia 2004

113

4. Pengelolaan Limbah Usaha Kecil Dalam rangka mengurangi beban pencemaran air yang berasal dari kegiatan usaha kecil, KLH bekerja sama dengan pemda pada tahun 2004 untuk membangun dan merehabilitasi beberapa sarana pengelolaan limbah industri di berbagai daerah.

Berdasarkan hasil uji coba, sarana tersebut mampu menurunkan tingkat pencemaran, seperti tampak pada Tabel 3.19.

Tabel 3.18 Pengelolaan Limbah Usaha Kecil di Beberapa Kota No. 1 2 3 4 Jenis Usaha Kecil Penyamakan kulit Tahu Tapioka Electroplating Nama Kabupaten/Kota Garut Sumedang Bantul Sidoarjo Sarana Pengelolaan Limbah IPAL dan pipa tersiernya IPAL IPAL IPAL Kapasitas IPAL (m3/hari) 400 9 96 2 Jumlah yang Dilayani (unit pengrajin) 10 1 26 3

Sumber: KLH, 2004

Tabel 3.19 Kualitas Efluen Sebelum dan Sesudah Ada IPAL
No. 1 IPAL IPAL percontohan tahu di Sumedang Parameter pH TSS BOD5 COD TSS CN Cr 6+ Cr total Cu Zn Ni Cd Pb pH COD BOD5 TSS Cr total Minyak dan lemak Amoniak total Sulfida pH pH BOD5 COD TSS CN Zat organik Sebelum Ada IPAL Setelah Ada IPAL (mg/l) (mg/l) 4 1.030 1.682,5 4.719,6 1.244 115,74 0 0,042 0,021 805,44 0,015 0,0253 0,265 12,01 2.000 1.200 222 0,5 8,7 2,5 2,2 4,56 7 220,1 711 280 0,2749 319,13 8 – 65 246 2 0 0 0 0,397 1,6206 0,156 0 0 < 300*) < 150 *) < 150*) < 0,5*) < 5*) < 2,5*) < 1*) 6,0 - 9,0 7 19,1 40 41 0,1501 36,29

2

IPAL percontohan elektroplating di Sidoarjo

3

IPAL terpadu penyamakan kulit di Garut

4

IPAL tapioka di Bantul

Sumber: KLH, 2004

114

Status Lingkungan Hidup Indonesia 2004

Kotak 3.1 Hasil Pemantauan Kualitas Air di PT Toba Pulp Lestari PT Toba Pulp Lestari (PT TPL) yang terletak di Kecamatan Porsea, Kabupaten Toba, adalah perusahaan yang bergerak di bidang industri pulp. Perusahaan ini sempat ditutup karena diduga telah melakukan pencemaran lingkungan. Dengan belum ditetapkannya peruntukkan (kelas) untuk Sungai Asahan oleh Gubernur Sumut, baku mutu air yang diberlakukan adalah kriteria mutu air kelas 2 sesuai dengan PP Nomor 82 Tahun 2001. Hasil analisis pada empat lokasi adalah sebagai berikut: • Parameter pH, DO, TSS, total fosfat, dan fenol masih memenuhi baku mutu pada keempat lokasi sampling. • Parameter BOD berada di atas baku mutu (3 mg/l) pada keempat lokasi sampling. • Parameter COD berada di atas baku mutu (25 mg/l) pada lokasi sampling C dan D, tetapi berada di bawah baku mutu pada lokasi A dan B. • Parameter Zn berada di bawah baku mutu (0,05 mg/l) pada semua lokasi. Selain pengukuran pada lingkungan, pengukuran juga dilakukan pada outlet IPAL. Konsentrasi BOD

Gambar 3.27 Konsentrasi DO, BOD, COD, dan pH di Sekitar Pabrik PT TPL 60
50 40 30 20 10 0
pH DO mg/l BOD mg/l COD mg/l

Gambar 3.28 Konsentrasi Nitrogen, Fosfat, Fenol, Sulfida, Klorin bebas, dan AOX di Sekitar PT TPL 1.5
1.11

Konsentrasi

Konsentrasi (mg/l)

1
T-P T-N Sulfida Klorin bebas AOX Seng
0.339 0.26 0.285 0.217 0.209 0.006 0 0 0 0 0 0 0 0.004

0.5

A

B

C

D

Lokasi

Sumber: KLH, 2004 Keterangan: A = 2 km sebelum PT TPL B = 1 km sebelum PT TPL C = 200 m setelah outlet D = 0,5 km sebelum Bendungan Sigura-gura

0

0.003 0 0.0011 0 0

0.003 0 0.0014

0.005

A

B

C

D

Lokasi

Sumber: KLH, 2004 Keterangan: A = 2 km sebelum PT TPL B = 1 km sebelum PT TPL C = 200 m setelah outlet D = 0,5 km sebelum Bendungan Sigura-gura

pada outlet IPAL adalah 33,3 mg/l dan masih memenuhi baku mutu limbah cair Kepmen LH Nomor 51 Tahun 1995 (100 mg/l), konsentrasi COD 77,3 mg/l dan masih memenuhi baku mutu (300 mg/l), serta konsentrasi TSS 3,00 mg/l masih memenuhi baku mutu (100 mg/l).

Gambar 3.29 Kualitas Air Limbah pada Inlet dan Outlet PT TPL
70
58.9

60 50
pH DO Total-P Total-N Fenol Sulfida Klorin
14 7.23 1.22 0.0031 0.0069 2.2 0.679 2.0 6 7.68 4.06 0.0956 1.19 0.0013 0.026 0.005 0.442

Konsentrasi

40 30 20 10 0

Seng AOX
0

Inlet

Outlet

Lokasi

Sumber: KLH, 2004

Status Lingkungan Hidup Indonesia 2004

115

Kotak 3.2 Pemantauan Sungai Cisadane Kualitas Sungai Cisadane tahun 2003-2004 pada bulan Juni dan Agustus di 14 titik pantau secara umum menunjukkan penurunan kualitas Sungai Cisadane dari hulu ke hilir pada tahun 2004, terutama pada bulan Agustus. Kondisi ini ditunjukkan oleh peningkatan konsentrasi sebagian besar parameter lingkungan di 14 titik pantau sehingga tidak lagi memenuhi Kriteria Mutu Air Kelas I PP Nomor 82 Tahun 2001. Selain COD, pencemar yang harus diwaspadai di Sungai Cisadane adalah logam terlarut seperti Pb dan parameter biologi berupa fecal coli dan total coliform. Konsentrasi COD, DO, BOD, total coliform, fecal coli, Pb, dan Hg dapat dilihat pada Gambar 3.30-3.36.

Gambar 3.30 Konsentrasi COD Sungai Cisadane Tahun 2003-2004

C O D (mg/l)

Gambar 3.31 Konsentrasi DO Sungai Cisadane Tahun 2003-2004

C O D (mg/l)

Gambar 3.32 Konsentrasi BOD Sungai Cisadane Tahun 2003-2004

116

C O D (mg/l)

Status Lingkungan Hidup Indonesia 2004

Gambar 3.33 Jumlah Total Coliform Sungai Cisadane Tahun 2003-2004

Gambar 3.34 Jumlah Fecal Coli Sungai Cisadane Tahun 2003-2004

Gambar 3.35 Konsentrasi Pb Sungai Cisadane Tahun 2003-2004

Gambar 3.36 Konsentrasi Hg Sungai Cisadane Tahun 2003-2004

Sumber:

KLH,

2004

Status Lingkungan Hidup Indonesia 2004

117

Status Lingkungan Hidup Indonesia 2004


				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:5151
posted:6/29/2009
language:Indonesian
pages:27
Description: BAB. III AIR Status Lingkungan Hidup Indonesia 2004