A. Pedoman Pembentukan Istilah Berterima Umum by bendoxz

VIEWS: 1,966 PAGES: 30

									Prinsip Pembentukan Istilah                                                                                         1




                 Pedoman Pembentukan Istilah Berterima Umum
                    untuk Tulisan Akademik dan Profesional

                                             Suwardjono
                                   Fakultas Ekonomika dan Busines
                                      Universitas Gadjah Mada


Pengantar

Dalam konteks Ikatan Akuntan Publik Indonesia (IAPI) sebagai organisasi profesi, Web-
ster’s New World Dictionary mengartikan profession (profesi) sebagai “a vocation or occu-
pation requiring advanced education and training, and involving intelectual skills as
medicine, law, theology, engineering, teaching, etc.” (penebalan oleh penulis). Pengertian
ini tidak berbeda dengan apa yang dijelaskan oleh Oxford Advanced Learner’s Dictionary
tentang profession yaitu “a type of job that needs special training or skill, especially one
that needs a high level of education.”
     Brooks ( 2007, hlm. 219) mendaftar beberapa raut penting (essential features) yang
membentuk suatu profesi. Tiga di antaranya adalah (penebalan oleh penulis):

          1. Extensive training
          2. Provision of important services to society
          3. Training and skills largely intellectual in character

     Akuntansi sebagai seperangkat pengetahuan mempunyai fungsi ganda yaitu sebagai
materi dasar untuk dapat menjalankan profesi (praktik) dan sebagai bidang ilmu yang
menjadi kajian akademisi (dan objek penelitian) dalam pendidikan akuntansi. Pengertian
di atas mengisyaratkan bahwa profesi akuntansi menuntut keterampilan intelektual (aka-
demik) dan pengetahuan level tinggi untuk mendasari tindakan profesional (individual
maupun organisasional) dalam memberi jasa kepada publik. Setiap kebijakan dan pertim-
bangan akuntansi (misalnya penyusunan standar) harus dapat dipertanggungjelaskan
secara intelektual atau nalar sehingga memuasi keterusikan intelektual para pihak yang
terlibat dalam profesi. Kepuasan tersebut pada gilirannya akan mendorong keyakinan dan
ketaatan anggota profesi (dan akademisi sebagai penopang dan pengembang ilmu akun-
tansi) terhadap produk profesional dan akan menimbulkan keyakinan, kemantapan, dan
kenyamanan dalam menjalankan profesi atau dalam menyelenggarakan pendidikan pro-
fesi dan akademik. Kualitas semacam ini berlaku dalam segala hal yang masuk dalam
wilayah profesi termasuk kebijakan dalam pembentukan dan pemilihan istilah teknis
dalam profesi dan pendidikan akuntansi. Istilah teknis bukan hal yang remeh karena
kualitas dan profesionalisma tidak mengenal kata remeh dan pragmatis. Profesionalisma
hanya mengenal ungkapan “quality means nothing is trivial.” Istilah membawa perilaku.
Istilah yang keliru atau misnomer dapat membawa perilaku atau interpretasi yang keliru
pula. Kalau hal ini terjadi dalam profesi, dapat saja terjadi bahwa profesi telah melakukan
malapraktik tanpa disadarinya. Kalau hal tersebut terjadi dalam dunia akademik, dapat
terjadi banyak kecohan logika yang dapat menghambat pengembangan ilmu.


Ucapan terima kasih saya sampaikan kepada kolega saya Setiyono dan mahasiswa saya Karianton Tampubolon serta Dedi
Kurnia atas kritik, komentar, dan saran terhadap naskah awal makalah ini.




Suwardjono 2010                                                           E:\Bahasa\BahasaMakalah\BahasaIAI–KAPd
Prinsip Pembentukan Istilah                                                                                          2


     Dalam pengembangan standar akuntansi, profesi akuntansi Indonesia telah mengam-
bil kebijakan untuk mengadopsi standar pelaporan keuangan internasional/SPKI (inter-
national financial reporting standards/IFRS) yang diterbitkan oleh International
Accounting Standards Board (IASB) untuk mencapai konvergensi dengan SPKI tersebut
paling tidak mulai tahun 2012.1 Dengan adopsi tersebut, tidak berarti standar akuntansi
internasional diambil begitu saja seperti apa adanya (dalam bahasa Inggris) karena
adanya peraturan tentang penggunaan bahasa Indonesia dalam perundang-undangan,
dokumen resmi negara, dan laporan setiap lembaga/perseorangan kepada instansi peme-
rintah. Peraturan tersebut adalah Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 24 Tahun
2009 Tentang Bendera, Bahasa, Dan Lambang Negara, Serta Lagu Kebangsaan. Bab III
Undang-Undang ini menetapkan antara lain:

            Bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi negara sebagaimana dimaksud pada ayat
            (1) berfungsi sebagai bahasa resmi kenegaraan, pengantar pendidikan, komunikasi
            tingkat nasional, pengembangan kebudayaan nasional, transaksi dan dokumentasi
            niaga, serta sarana pengembangan dan pemanfaatan ilmu pengetahuan, teknologi,
            seni, dan bahasa media massa (pasal 25, ayat 3).

            Bahasa Indonesia wajib digunakan dalam peraturan perundang-undangan (pasal
            26).

            Bahasa Indonesia wajib digunakan dalam forum yang bersifat nasional atau forum
            yang bersifat internasional di Indonesia (pasal 32, ayat 1).

     Dengan undang-undang di atas, adopsi SPKI jelas akan melibatkan penerjemahan
dan penyerapan ungkapan atau istilah dari bahasa yang digunakan dalam standar terse-
but yaitu bahasa Inggris. SPKI dirancang cukup umum agar relevan secara internasional.
Kebutuhan ini mengharuskan SPKI menyusun standar yang berbasis prinsip (principles-
based) daripada berbasis aturan (rules-based) karena dengan demikian keterterapan stan-
dar internasional akan menjadi lebih luas untuk berbagai negara. Namun, kebutuhan
khusus suatu negara menuntut adanya aturan spesifik yang merupakan penjabaran prin-
sip umum tersebut menjadi podoman praktik. Adopsi SPKI juga menuntut penciptaan
istilah baru yang merefleksi aturan (rules) yang bersifat nasional. Pengadopsian ini
kemungkinan besar juga menuntut penggantian istilah yang sudah ada yang dianggap
tidak sesuai lagi dengan standar internasional. Sementara itu, istilah Indonesia yang
digunakan dalam standar profesional maupun materi pendidikan akademik sekarang ini
masih banyak mengandung inkonsistensi dan kerancuan. Hal ini mungkin disebabkan
oleh penurunan istilah yang tidak didasarkan pada kaidah-kaidah atau sarana bahasa
yang tersedia. Kemungkinan lain adalah sikap negatif profesi dan akademisi terhadap
usaha pengembangan bahasa dalam disiplin akuntansi. Dalam hal ini, Sterling (1979)
mengkritik penggunaan bahasa dalam akuntansi dan menyarankan bahasa ilmiah (dalam
arti bahasa yang mengandung keintelektualan bahasa) untuk komunikasi serta pengem-
bangan pengetahuan dan profesi akuntansi berikut ini (penebalan oleh penulis):

            The danger in continuing to use a nonscientific language is that we will not even
            understand the questions of science, much less seek answers to those questions. If we
            begin to use the language of science, we may begin to ask the right kinds of ques-
            tions. Asking the right kinds of questions is a long way of obtaining answers, but it
            is a prerequisite.

   1
       Adopsi (adoption) bermakna mengambil sepenuhnya tanpa perubahan. Makna ini sering dibedakan dengan adaptasi
       (adaptation) yaitu mengambil sebagian atau menyesuaikan/mengubah sesuai dengan kebutuhan.



Suwardjono 2010                                                              E:\Bahasa\BahasaMakalah\BahasaIAI–KAPd
Prinsip Pembentukan Istilah                                                                                    3


               Another advantage of adopting the language of science is that the scientific com-
          munity has had a considerable experience in making their communication
          more precise. The major contributor toward precise communication is the adoption
          of technical terms by each scientific subspecialty. We accountants seem to have a
          negative attitude toward technical terms. On the one hand, this attitude is
          well founded since we need to communicate with nonaccountants via our financial
          reports. On the other hand, the absence of technical terms inhibits communi-
          cation among accountants. The language that we currently use in trying to com-
          municate with each other is most imprecise. It would be wholly beneficial if we
          adopted technical terms to communicate with each other and then translated those
          terms into plain English when we communicate with nonaccountants (hlm. 36).
     Agar istilah profesional dan akademik membawa makna yang tepat dan konsisten
dalam berbagai penerbitan resmi (pronouncements) dan karya ilmiah, diperlukan suatu
pedoman umum yang berfungsi semacam prinsip akuntansi berterima umum/PABU (gen-
erally accepted accounting principles/GAAP) untuk pembentukan istilah akuntansi.
Pengertian profesional itu sendiri sebenarnya mengandung makna bahwa setiap tindakan
sedapat-dapatnya mengikuti pedoman/kaidah/aturan dengan penalaran yang menawan
secara profesional dan secara intelektual dengan penuh kearifan bukan semata-mata
mengikuti selera, perasaan, intuisi, dan pragmatisma untuk mempertahankan kesalah-
kaprahan. Inilah ciri suatu profesi seperti disinggung di awal tulisan ini. Dalam komuni-
kasi profesional, aspek komunikatif (keefektifan) hendaknya dicapai pada tingkat
kecanggihan dan kebakuan yang tinggi.
     Gagasan Sterling di atas mengingatkan kepada profesi bahwa profesi dan akade-
misi tidak harus takut menciptakan dan mengenalkan istilah baru hanya
karena kekhawatiran bahwa masyarakat (mahasiswa) akan bingung. Tugas pro-
fesilah untuk mendidik anggota profesi dan masyarakat busines tentang istilah baru.
Tugas profesilah untuk meluruskan yang salah bukan malahan membenarkan atau mem-
biarkan yang salah dengan dalih apapun. Demikian juga tugas akademisi. Dalih “kesepa-
katan profesi” tidak cukup valid atau kuat kalau tidak dilandasi oleh penalaran atau teori
yang baik dan jelas (clear thinking) karena praktik yang sehat (baik) harus dilandasi oleh
teori yang sehat pula. Hal ini dikemukakan oleh Kam (1990) berikut ini:2
          Behind every practice is a rationale. ... Good practice is based on good theory
          whether we are aware of the theory or not. If we can formulate “good” theory, then
          we will have “good” practices if the theory is followed (hlm. 45-46).
     Teori di sini adalah alasan yang dapat dipertanggungjelaskan secara profesional atau
akademik yang mendasari segala tindakan profesi atau akademisi termasuk pilihan istilah
teknis. Tanpa penalaran yang jelas, profesi dapat terjebak pada pragmatisma ketika per-
tanyaan mendasar “mengapa demikian” diajukan. Profesi tidak dapat menelusuri argu-
men dan menyelaskan secara memuaskan kebijakannya. Akibatnya profesi terpaksa
mencari jalan pintas atau stratagem untuk menghidari masalah dengan pernyataan
“pokoknya” atau “ini kesepakatan profesi” karena memang tidak ada jawaban yang lebih
baik atau menawan secara profesional (apalagi akademik) daripada itu. Demikian juga,
akademisi tidak selayaknya melakukan kecohan penalaran berupa himbauan autoritas
(appeal to authority) dengan mempertahankan dan menyebarkan istilah yang misnomer.
Kecohan ini misalnya adalah mempertahankan istilah yang salah dengan dalih “profesi
saja pakai ini, mengapa kita aneh-aneh, kurang kerjaan saja.”3 Dalih ini dapat menjadi
bomerang yang menghambat pengembangan pengetahuan.

   2Vernon   Kam, Accounting Theory (New York: John Wiley & Sons, 1990).



Suwardjono 2010                                                            E:\Bahasa\BahasaMakalah\BahasaIAI–KAPd
Prinsip Pembentukan Istilah                                                                                                4


    Dalam mensosialisasi istilah baru, masyarakat yang diacu hendaknya adalah
masyarakat profesional dan akademik dengan kualitas tertentu bukannya orang awam
dalam pergaulan umum. Financial Accounting Standards Board (FASB) tidak segan-segan
menciptakan, mengganti, dan mensosialisasi istilah baru dengan dasar pikiran bahwa
yang dituju adalah mereka yang mempunyai kualifikasi berikut:4

            Financial reporting should provide information that is useful to present and poten-
            tial investors and creditors and other users in making rasional investment, credit,
            and similar decisions. The information should be comprehensible to those who
            have a reasonable understanding of business and economic activities and are
            willing to study the information with reasonable diligence.

     Dengan dasar pikiran tersebut, profesi Amerika tidak perlu khawatir untuk meng-
ganti istilah examine menjadi audit (mulai 1984) dalam laporan auditor meskipun istilah
yang pertama telah dipakai puluhan tahun. FASB juga tidak merasa turun martabatnya
atau merasa malu untuk menerima usulan untuk mengganti istilah complete set of finan-
cial statements menjadi full set of financial statement.5 SPKI pun lebih menekankan isti-
lah financial position daripada balance sheet karena istilah yang pertama lebih
menggambarkan makna yang dikandungnya. Penggantian istilah aktiva dengan aset
dalam semua PSAK6 merupakan hal yang patut dipuji dan dihargai untuk mencapai
ketepatan makna semantik. Profesi (lebih-lebih akademisi) hendaknya tidak membatasi
diri untuk menggunakan bahasa (struktur kalimat dan istilah) popular khususnya untuk
komunikasi profesional (akademik). Kecermatan istilah menuntut pemenuhan kaidah
kebahasaan yang tinggi. Tidak selayaknya profesi dan akademisi mempertahankan istilah
popular yang mengandung kesalahkaprahan dengan mengorbankan makna yang sebe-
narnya. Pemenuhan kaidah kebahasaan dalam menyusun dokumen profesional merupa-
kan ciri utama dari keintelektualan dan keprofesionalan bahasa dokumen bersangkutan.
Pada gilirannya, keintelektualan dan keprofesionalan tersebut akan meningkatkan repu-
tasi dan wibawa profesi. Karya akademikpun menuntut kecermatan bahasa dan istilah
Kaidah kebahasaan meliputi struktur kalimat, diksi, perangkat peristilahan, ejaan, dan
tanda baca.
     Makalah ini membahas beberapa aspek kebahasaan yang mungkin bermanfaat dalam
pembentukan istilah untuk profesi akuntansi. Beberapa aspek tersebut difokuskan pada
pembentukan atau penyerapan istilah yang berasal dari bahasa Inggris. Hal ini didasari
oleh kenyataan bahwa sumber-sumber utama pengetahuan dan standar akuntansi adalah
berbahasa Inggris. Sementara itu, Pedoman Umum Pembentukan Istilah (PUPI)7 mene-
gaskan dalam hal penyerapan istilah asing sebagai berikut (penebalan oleh penulis):

            Demi keseragaman, sumber rujukan yang diutamakan ialah istilah Inggris yang
            pemakaiannya sudah internasional, yakni yang dilazimkan oleh para ahli dalam

   3
       Lihat pengertian himbauan autoritas dalam artikel “Penalaran dan Sikap Ilmiah” oleh penulis. Artikel ini adalah Bab 2
       dalam Suwardjono, Teori Akuntansi: Perekayasaan Pelaporan Keuangan (Yogyakarta: BPFE, 2005).
   4Financial   Acounting Standards Board/FASB (1991), Statement of Financial Accounting Concepts No. 1, paragraf 40.
       Penebalan oleh penulis.
   5
       FASB (1991), Statement of Financial Accounting Concepts No. 5, paragraf 98.
   6Ikatan    Akuntan Indonesia, Standar Akuntansi Keuangan (Jakarta: Salemba Empat, 2009), Kata Pengantar Dewan
       Standar Akuntansi Keuangan. Lihat argumen tentang hal ini dalam Suwardjono, Akuntansi Pengantar 1: Proses Pen-
       ciptaan Data Pendekatan Sistem (Yogyakarta: BPFE, 2002), hlm. 71, catatan kaki 16.
   7
       Lampiran dalam Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia/KBBI (Balai Pustaka,
       1988). PUPI ini telah direvisi oleh Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional melalui Keputusan Menteri Pendidi-
       kan Nasional RI No. 146/U/2004.



Suwardjono 2010                                                                  E:\Bahasa\BahasaMakalah\BahasaIAI–KAPd
Prinsip Pembentukan Istilah                                                                                               5


            bidangnya. Penulisan istilah itu sedapat-dapatnya dilakukan dengan mengutama-
            kan ejaannya dalam bahasa sumber tanpa mengabaikan segi lafal (butir 2.3.4).


Partisipasi Profesi dan Akademisi dalam
Pengembangan Bahasa Indonesia

Sarana kebahasaan serta morfologi bahasa Indonesia sebenarnya cukup memadai untuk
menjadikan bahasa Indonesia berkemampuan tinggi untuk mengekspresi makna apapun
(cipta, karsa, dan rasa) yang dapat diungkapkan dalam bahasa Inggris. Sarana keba-
hasaan meliputi tata bahasa (gramatika), idiom, ungkapan, jenis kata, dan fungsi kata
sedangkan morfologi meliputi satuan terkecil kata seperti awalan, akhiran, sisipan, dan
pelbagai sarana pembentukan kata, istilah, dan leksikon. Melalui swadaya dan pereka-
yasaan bahasa,8 sarana dan morfologi bahasa Indonesia dapat dimanfaatkan untuk men-
ciptakan istilah baru yang belum ditangkap dalam kamus bahasa Indonesia yang sekarang
tersedia. Pada gilirannya, kamus-kamus bahasa Indonesia akan berkembang dan
akhirnya pengetahuan juga akan berkembang.
      Dalam hal inilah profesi dan akademisi akuntansi berkewajiban untuk menawarkan
istilah-istilah akuntansi yang memperluas wilayah jelajah konseptual secara cermat. Pro-
fesi akuntansi tidak semestinya khawatir menawarkan istilah-istilah yang paling tepat
secara makna walaupun meretia terbaca dan terdengar asing di telinga.9 Dengan kebera-
nian menawarkan tersebut, profesi akuntansi sebenarnya berperan serta dalam mencapai
cita-cita pengembangan bahasa Indonesia yang dinyatakan dalam pasal 41 UU No. 24/
2009:

            (1) Pemerintah wajib mengembangkan, membina, dan melindungi bahasa dan
                sastra Indonesia agar tetap memenuhi kedudukan dan fungsinya dalam
                kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, sesuai dengan
                perkembangan zaman.

            (2) Pengembangan, pembinaan, dan pelindungan sebagaimana dimaksud pada ayat
                (1) dilakukan secara bertahap, sistematis, dan berkelanjutan oleh lembaga
                kebahasaan.

     Untuk membantu pengembangan bahasa Indonesia untuk berbagai keperluan, kita
tidak harus menjadi ahli bahasa atau sastra tetapi harus berpengetahuan bahasa yang
memadai, tentu saja dengan kebersediaan untuk belajar dengan sewajarnya. Oleh karena
itu, dalam pembentukan istilah profesi dan akademik, tidak selayaknyalah kita menyerah
pada stratagem “ah, saya bukan ahli bahasa” atau “itu hanya masalah bahasa, dalam
komunikasi yang penting isinya dan orang tahu maksudnya” semata-mata hanya untuk
menyembunyikan ketakmampuan atau ketakbersediaan untuk sekadar belajar berbahasa
Indonesia dengan ketekunan yang layak (reasonable diligence). Dalam pengembangan
gaya bahasa keilmuan dan profesi, Moeliono (1986) menegaskan bahwa “yang merupakan
rintangan dalam perkembangan ilmu di Indonesia bukanlah bahasa Indonesia melainkan

   8Untuk     arti penting dan penggunaan swadaya bahasa, lihat J. S. Badudu, Inilah Bahasa Indonesia Yang Benar, Buku 1
       (Jakarta: PT Gramedia, 1986), hlm 39-44 dan 66. Untuk konsep perekayasaan bahasa, lihat Anton M. Moeliono,
       “Pemodernan Bahasa Indonesia” dalam Kembara Bahasa: Kumpulan Karangan Tersebar (Jakarta: PT Gramedia,
       1989), hlm. 158 dan “Sikap Bertaat Asas dan Kelentukan Bahasa” dalam Santun Bahasa (Jakarta: PT Gramedia, 1986),
       hlm. 37.
   9
       Meretia adalah kata ganti nomina jamak untuk “istilah-istilah yang tepat” yang bahasa Inggrisnya they yang berfungsi
       sebagai subjek. Untuk kata ganti nomina tunggal, penulis menawarkan kata “tia” yang bahasa Inggrisnya it.



Suwardjono 2010                                                                  E:\Bahasa\BahasaMakalah\BahasaIAI–KAPd
Prinsip Pembentukan Istilah                                                                                        6


para ilmuwan sendiri yang kurang mampu memanfaatkan sarana bahasanya.”10 Hal yang
sama dapat dinyatakan untuk profesi akuntansi bahwa perkembangan istilah akuntansi
mengalami hambatan karena profesi dan akademisi kurang memanfaatkan sarana bahasa
yang tersedia. Selanjutnya, Moeliono menyatakan bahwa ahli bahasa yang tidak mengua-
sai ilmu kimia tidak akan mungkin menciptakan istilah ilmu kimia yang baik. Sebaliknya,
beliau yakin bahwa istilah keilmuan kimia harus diciptakan oleh para ahli kimia yang
fasih berbahasa Indonesia (hlm. 35). Hal ini tentunya juga berlaku bagi bidang ilmu dan
profesi akuntansi.
      Kurangnya ketekunan yang layak sering membawa orang untuk berstratagem: “Dari-
pada repot-repot, pakai saja istilah aslinya.” Hal ini dapat saja ditempuh tetapi hal ini
akan menghambat pengembangan istilah Indonesia dalam jangka panjang. Sekali lagi,
karena bentuk dan susunannya, istilah teknis dalam bahasa Inggris menyimbolkan suatu
konsep. Kalau orang tidak menguasai atau paham bahasa Inggris dengan baik, orang cen-
derung memandang istilah asli sebagai nama diri (proper name) bukan nama jenis
(nomenclature) sehingga tidak merasakan maknanya. Istilah asing dianggap seperti nama
orang saja dan yang penting orang tahu bagaimana menggunakan nama itu tanpa harus
tahu maknanya. Misalnya, kebanyakan mahasiswa akuntansi dapat mengucapkan, meng-
hitung, dan menggunakan kata leverage atau leveraged firm tetapi mereka tidak pernah
merasakan apa sebenarnya leverage itu karena mereka tidak pernah membuka kamus
untuk memahami arti leverage yang sebenarnya dan bagaimana orang asing memakai isti-
lah tersebut (secara figuratif atau harfiah, denotatif atau konotatif). Leverage dianggap
nama bukan istilah. Sementara dosen tidak selalu menjelaskan makna leverage tersebut
karena mungkin tidak berusaha memahami maknanya walaupun mengetahui cara meng-
gunakannya. Bahkan, dosen sering berstratagem dengan menasihati mahasiswa untuk
menggunakan istilah aslinya daripada repot-repot mencari padan kata yang pas. Hal ini
dapat menjadi nasihat jelek (ill-advice atau adverse advice) dalam pengembangan bahasa
Indonesia.


Ragam dan Level Bahasa

Dalam penggunaannya, bahasa mengenal berbagai ragam bahasa antara lain gaul, baku,
resmi, jurnalistik, sastra, profesional, dan akademik/ilmiah. Sugono (1997) membagi
ragam bahasa atas dasar media, penutur, dan pokok persoalan.11 Bahasa juga mengenal
level dari segi struktur gramatika dan pilihan kata (diksi) untuk menyampaikan berbagai
cipta, karsa, dan rasa dari yang sederhana sampai kompleks dan dari yang konkret sampai
abstrak.12 Bahasa dan istilah dalam profesi, khususnya yang digunakan dalam standar
profesional, harus mengikuti ragam bahasa formal pada level yang tinggi untuk mencapai
kecermatan yang tinggi sehingga tidak terjadi ambiguitas. Seperti disinggung sebelum-
nya, Sterling bahkan menganjurkan untuk menggunakan ragam bahasa ilmiah (scientific
language). Maksud bahasa ilmiah di sini adalah bahwa dalam membentuk istilah,
hendaknya digunakan kaidah bahasa yang baku dan pada level yang tinggi sesuai dengan
bidang masalah. Istilah hendaknya tidak didasarkan hanya dengan bahasa alamiah. Tun-
tutan ini menjadi semakin kuat untuk keperluan akademik.

   10
        Moeliono (1986), “Menuju Gaya Bahasa Keilmuan,” hlm. 34.
   11Lihat   Dendy Sugono, Berbahasa Indonesia Dengan Benar (Jakarta: Puspa Swara, 1997), hlm. 10.
   12
     Level bahasa dibahas dalam Suwardjono, “Peran dan Martabat Bahasa Indonesia dalam Pengembangan Ilmu,”
    makalah disampaikan dalam Kongres IX Bahasa Indonesia diselenggarakan oleh Pusat Bahasa di Hotel Bumi Karsa,
    Jakarta Selatan 28 Oktober - 1 November 2008.



Suwardjono 2010                                                              E:\Bahasa\BahasaMakalah\BahasaIAI–KAPd
Prinsip Pembentukan Istilah                                                                  7


     Untuk menerjemahkan makna yang disimbolkan dalam bahasa Inggris (atau asing
lainnya), penerjemah tentunya harus menguasai bahasa sumber dan bahasa sasaran
sama baiknya pada level yang memadai dalam berbagai sarana kebahasaan (antara lain
gramatika, idiom, gaya (style), diksi, morfologi, dan kosa kata) masing-masing bahasa.
Penerjemah harus mengenal kaidah (struktur) bahasa Inggris dan Indonesia dalam proses
penerjemahan istilah Inggris. Misalnya, bahasa Inggris mengambil bentuk menerangkan-
diterangkan/M-D (modifier-modified) dalam pembentukan istilah, sedangkan bahasa
Indonesia mengambil bentuk diterangkan-menerangkan (D-M). Dengan kaidah ini,
berikut adalah contoh pembentukan istilah dengan penerjemahan atau penyerapan yang
semestinya.

             certified public accountant     akuntan publik bersertifikat
             executive producer              produser eksekutif
             imaginary number                bilangan imaginer
             industry standard               standar industri
             joint operation                 operasi bersama, operasi kerja sama,
                                                operasi gabungan
             personal estate                 estat personal, estat pribadi
             personal computer               komputer personal, komputer pribadi
             processed cheddar cheese        keju cheddar olahan
             real estate                     estat real
             real number                     bilangan nyata, bilangan real
             standard deviation              deviasi standar
             standard operating procedures   prosedur operasi standar
             test statistic                  statistik tes
             total asset                     aset total

     Pembentukan istilah dari bahasa Inggris juga harus dapat menunjukkan penjabaran
struktur atau bentuk aslinya. Dengan demikian, consolidation of financial statements
harus dibedakan dengan consolidated financial statements dan harus dibedakan pula
dengan financial statements of consolidation. Buku-buku teks akuntansi berbahasa Ing-
gris tidak menggunakan istilah accumulation of depreciation tetapi accumulated deprecia-
tion karena makna keduanya berbeda. Karena bentuk bahasanya, yang pertama
bermakna proses sedangkan yang kedua bermakna jumlah rupiah depresiasi. Oleh karena
itu, terjemahan atau serapannya juga harus berbeda untuk mempertahankan makna
aslinya. Demikian juga, meja biru bundar (round blue table) harus dibedakan dengan
meja bundar biru (blue round table). Hal ini sebenarnya juga menjelaskan mengapa pro-
fesi akuntansi Amerika menggunakan istilah audited financial statements bukan financial
statements that are audited karena yang pertama adalah istilah (leksikon) sedangkan yang
terakhir adalah frasa (ungkapan) biasa. Kalau ada orang bertanya: “Which one is the
audited financial statement?” orang dapat salah interpretasi kalau pertanyaan itu
diterjemahkan menjadi “Yang mana laporan keuangan yang diaudit?” lantaran
audited financial statement diterjemahkan menjadi laporan keuangan yang diaudit
dengan dalih kesepakatan profesi. Atas dasar apa kesepakatan itu dicapai?
     Istilah teknis profesi dan keilmuan tidak selayaknya mengikuti selera masyarakat
umum (apalagi bahasa iklan). Profesi tidak harus tunduk pada apa yang nyatanya diprak-
tikkan dengan stratagem “the public has the final taste” (Moeliono, 1989) tetapi harus
dapat mempengaruhi (meningkatkan) selera penggunaan bahasa oleh masyarakat umum
dan profesional. Kalau profesi hanya menggunakan apa yang nyatanya dipraktikkan
dalam masyarakat maka hilanglah fungsi profesi sebagai agen pengembangan dan per-
ubahan (kemajuan). Profesi hanya akan berfungsi tidak lebih dari sebuah kursus


Suwardjono 2010                                          E:\Bahasa\BahasaMakalah\BahasaIAI–KAPd
Prinsip Pembentukan Istilah                                                                    8


keterampilan. Jadi, selera masyarakat profesional dapat diarahkan menuju ke selera
bahasa yang tinggi (paling tidak setara dengan bahasa Inggris dan penuturnya) kalau
alternatif-alternatif yang berselera tinggi ditawarkan kepada mereka melalui sosialisasi.


Rujukan Autoritatif

Penerjemahan dapat saja didasarkan atas pengalaman atau pengetahuan alamiah yang
diperoleh selama menjalankan profesi atau tugas akademik tetapi hasilnya sering kurang
mengena khususnya untuk istilah teknis. Penyusun standar atau akademisi tidak
diharapkan menjadi ahli bahasa tetapi paling tidak menjadi pengguna bahasa yang baik
atau profesional. Seperti dinyatakan Moeliono (1986) sebelumnya bahwa para ilmuwan
dan profesional harus memanfaatkan sarana bahasanya. Penyusun standar dapat menu-
gasi stafnya untuk mengkonfirmasi istilah yang didiskusi dalam proses penyusunan stan-
dar atau penerjemahan standar internasional.
      Dapat juga penerjemahan dokumen diserahkan pada penerjemah profesional, tetapi
dewan standar tetap mempunyai keleluasaan dan autoritas untuk menentukan istilah
teknis yang paling tepat karena penerjemah profesional belum tentu dapat merasakan
benar makna atau definisi istilah teknis atau leksikon dalam akuntansi. Kemungkinan
lain adalah mengundang usulan istilah tertentu melalui internet, kemudian mempertim-
bangkan istilah yang paling tepat dari yang ditawarkan. Penulis yakin, dari sekian puluh
ribu bahkan juta orang (profesional, akademisi, ahli bahasa, pemerhati bahasa, atau
umum), pasti ada istilah yang paling mengena yang mungkin tidak pernah terpikirkan
sebelumnya. Dalam praktiknya, profesional atau dewan standar menghadapi situasi yang
mendesak sehingga tidak mungkin bagi dewan untuk melakukan pengkajian mendalam
tentang istilah sehingga digunakanlah istilah umum yang mungkin tidak tepat bahkan
keliru. Hal ini dapat dimaklumi. Yang penting adalah istilah profesional harus terbuka
terhadap perbaikan atau revisi bila ditemukan istilah yang lebih tepat terutama untuk
kepentingan jangka panjang dan peningkatan wibawa profesi.
     Jadi, dalam pembentukan istilah, jangan sampai kita hanya mengandalkan apa yang
nyatanya dipakai dalam kondisi sekarang (current state) tetapi yang lebih penting adalah
membiasakan apa yang seharusnya dipakai pada kondisi masa datang (desirable state).
Untuk itu, pembentukan istilah hendaknya dilakukan dengan merujuk pada sumber-sum-
ber yang autoritatif dengan keleluasaan untuk menawarkan istilah baru (mungkin tidak
enak didengar) karena keperluan spesifik profesi atau bidang ilmu. Menurut pendapat
penulis, berikut ini adalah beberapa sumber yang cukup autoritatif sebagai rujukan untuk
menemukan istilah yang tepat.
            Oxford Advanced Learner’s Dictionary (2007)
            Webster’s New World Dictionary
            The Visual Dictionary with Definitions (Corbell & Archambault, 2007)
            Roget’s Thesaurus (Davidson, 2004)
            The Contemporary English-Indonesian Dictionary (Salim, 1996)
            The Contemporary Indonesian-English Dictionary (Salim, 1997)
            Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa
            Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan (EYD)
            Pedoman Umum Pembentukan Istilah (PUPI)
            Tesaurus Bahasa Indonesia (Endarmoko, 2007)
            Kamus Ungkapan Indonesia-Inggris (Podo & Sullivan, 2003)
            Kamus Istilah Serapan (Martinus, 2001)


Suwardjono 2010                                            E:\Bahasa\BahasaMakalah\BahasaIAI–KAPd
Prinsip Pembentukan Istilah                                                                                         9


    Tentu saja buku-buku pelajaran bahasa Inggris juga dapat menjadi rujukan dalam
menentukan bentuk gramatis suatu istilah. Penerbitan resmi dari Pusat Bahasa, seperti
Buku Praktis Bahasa Indonesia, Jilid 1 dan 2 dan Pengindonesiaan Kata dan Ungkapan
Asing (Jakarta: Pusat Bahasa, 2007), juga dapat menjadi rujukan yang cukup memadai.
    Perlu ditegaskan bahwa, walaupun perlu diberi bobot yang lebih tinggi, Pusat Bahasa
dan ahli bahasa bukan merupakan autoritas final dalam menentukan istilah teknis. Bagi
penyusun standar akuntansi, yang penting adalah kebersediaan untuk mempertimbang-
kan secara layak penawaran dari berbagai kalangan khususnya kalangan akademik.
Penyusun standar tidak harus menjadi ahli bahasa tetapi harus menjadi pengguna sarana
bahasa yang menawan. Oleh karena itu, kalau atas dasar pedoman umum dan sumber-
sumber di atas dirasa ada istilah yang perlu direvisi, profesi dan akademisi hendaknya
tidak ragu-ragu melakukan hal itu demi kepentingan jangka panjang.


Prinsip Pembentukan Istilah Berterima Umum

Profesi akuntansi mengenal prinsip akuntansi berterima umum/PABU (generally accepted
accounting principles/GAAP) dan standar pengauditan berterima umum/StaPBU (gene-
rally accepted auditing standards/GAAS). PUPI memberi petunjuk khusus tentang prose-
dur pembentukan istilah. Untuk menentukan atau mengevaluasi apakah suatu istilah
tepat atau mengena dalam mengekspresi makna dalam profesi atau disiplin ilmu, diperlu-
kan semacam PABU untuk mengevaluasi istilah sesuai dengan keautoritatifan sumber.
Gambar 1 di bawah ini melukiskan rerangka pedoman tersebut.

                                                        Gambar 1
                              Rerangka Prinsip Pembentukan Istilah Berterima Umum



                                  Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2009
                                   Tentang Bendera, Bahasa, Dan Lambang Negara, Serta
                                                    Lagu Kebangsaan




                                            Penerbitan Resmi oleh Pusat Bahasa
                                    (KBBI, EYD, PUPI, Rubrik Bahasa dalam Laman Pusat
                                                 Bahasa, dan sebagainya)




                                      Sumber-sumber lain yang berpaut dan terandalkan
                                            dari para ahli dan pengamat bahasa
                                         (buku, artikel, selebaran, dan sebagainya)




                                        Swadaya bahasa oleh pengguna bahasa dalam
                                   profesi dan bidang ilmu melalui perekayasaan atas dasar
                                                 sarana bahasa yang tersedia




Suwardjono 2010                                                                 E:\Bahasa\BahasaMakalah\BahasaIAI–KAPd
Prinsip Pembentukan Istilah                                                                   10


     Rerangka pedoman seperti di atas menjadi penting terutama dalam forum ilmiah
atau profesional agar istilah yang terbentuk menjadi berkaidah dan konsisten sehingga
makna dapat ditangkap secara tepat tanpa perlu penjelasan. Paling tidak suatu istilah
dapat dipertanggungjelaskan secara kaidah dan bila perlu secara akademik. Dengan
demikian, penyusun standar akuntansi dapat menjelaskan secara nalar mengapa istilah
tertentu dipilih kalau ada pertanyaan dan bukannya menjawab dengan “pokoknya” lalu
diselingi “yang penting tahu maksudnya,” dan ditutup dengan “ini sudah kesepakatan
profesi.” Tentu saja untuk dapat memahami suatu istilah pembaca laporan atau profe-
sional juga harus orang yang sedikit bersedia belajar dengan ketekunan yang layak (rea-
sonable diligence) dan bukan hanya mengandalkan pengetahuan alamiah atau popularnya
untuk memahami istilah khusus yang kadang-kadang menggunakan bahasa pada level
yang tinggi (dalam hal struktur dan diksi). Pengetahuan pembaca laporan tentang istilah
dapat ditingkatkan dengan sosialisasi dan edukasi misalnya melalui pendidikan profe-
sional berlanjut/menerus (continuing professional education) atau melalui glosari dalam
standar akuntansi.


Istilah Teknis Bukan Frasa Biasa

Telah dicontohkan sebelumnya bahwa consolidation of financial statements harus dibeda-
kan dengan consolidated financial statements dan harus dibedakan pula dengan financial
statements of consolidation. Mengapa akuntansi menggunakan istilah accumulated depre-
ciation bukannya accumulation of depreciation? Selain maknanya berbeda, istilah harus
spesifik dan dalam banyak hal menjadi ciri disiplin tertentu dan biasanya istilah itu dapat
berdiri sendiri dan dapat menjadi subjek atau objek dalam suatu kalimat. Perhatikan per-
bedaan antara istilah teknis (leksikon) dan frasa biasa di bawah ini.

          (1) Perusahaan harus menyerahkan statemen keuangan yang diaudit kepada
              Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan. (Frasa)
          (2) Perusahaan harus menyerahkan statemen keuangan auditan kepada Badan
              Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan. (Leksikon)
          (3) Statemen keuangan yang diaudit PT ABC telah dimuat dalam surat kabar
              nasional. (Frasa)
          (4) Statemen keuangan auditan PT ABC telah dimuat dalam surat kabar
              nasional. (Leksikon)

     Jadi istilah mempunyai bentuk khusus (yang memenuhi kaidah kebahasaan) dan
maknanya biasanya dijelaskan dalam suatu glosari. Istilah tersebut mungkin merupakan
pemendekan dari frasa yang panjang yang tidak praktis menjadi suatu istilah. Misalnya,
frasa cost of acquiring and maintaining debt diistilahkan menjadi cost of debt agar singkat
dan khas untuk disiplin pengetahuan tertentu. Frasa expenditures that are directly
charged to revenues diistilahkan menjadi revenue expenditures (pengeluaran pendapatan)
yang kalau dipahami secara awam akan membingungkan. Pengeluaran pendapatan sudah
menjadi leksikon akuntansi sehingga orang nonakuntansi mungkin akan kebingungan
membaca standar akuntansi atau pedoman akuntansi (accounting manual) yang berbu-
nyi: “Pengeluaran di bawah 10% dari nilai buku aset harus diperlakukan sebagai penge-
luaran pendapatan.” Demikian juga, dapat diciptakan istilah aset memenuhi untuk
qualifying assets yang maknanya adalah aset yang memenuhi syarat untuk diterapi suatu
standar. Aset tertentu tidak tepat untuk hal ini karena tidak kontekstual dengan stan-
dar bersangkutan. Oleh karena itu, tidak semestinya istilah teknis diturunkan dari suatu



Suwardjono 2010                                            E:\Bahasa\BahasaMakalah\BahasaIAI–KAPd
Prinsip Pembentukan Istilah                                                                                          11


frasa biasa walaupun dimungkinkan semata-mata hanya atas dasar kekhawatiran orang
akan bingung karena yang diacu adalah orang umum yang tidak berkepentingan dengan
akuntansi. Orang nonakuntansi mungkin tidak segera paham mendengar istilah utang
bunga akruan, neraca konsolidasian, prinsip akuntansi berterima umum, relevansi nilai,
kesatuan usaha, pemertahanan kapital, dan semacamnya.


Perangkat Kata Peristilahan

Hal penting yang harus selalu diperhatikan dalam pembentukan istilah adalah mengenali
kelas atau jenis kata istilah aslinya yaitu adjektiva, verba, nomina, adverbia, konjungsi,
atau lainnya.13 Sedapat-dapatnya istilah bentukan harus mengikuti jenis kata aslinya
agar tidak terjadi pergeseran makna. Istilah accountable harus dibedakan dengan account-
ability, demikian juga comparison, comparable, comparability, dan comparative harus dibe-
dakan maknanya sehingga istilah Indonesianya juga harus berbeda-beda. Menuntut pula
pembedaan dan istilah yang mengena adalah inventory, inventoriable, dan inventoriability
serta to audit, (an) audit, auditor, audited, auditee, dan auditing serta contingent dan con-
tingence. Untuk yang terakhir, harus dibedakan antara adjektiva dan nomina.
     PUPI mengartikan perangkat kata peristilahan sebagai kumpulan istilah yang dija-
barkan dari bentuk yang sama, baik dengan proses penambahan dan pengurangan mau-
pun dengan proses penurunan kata. Berikut ini adalah contoh seperangkat kata
peristilahan yang diberikan dalam PUPI (butir 1.9):

             absorb                                          serap
             absorbate                                       zat terserap, absorbat
             absorbent (nomina)                              zat penyerap, absorben
             absorbent (adjektiva)                           berdaya serap
             absorber                                        penyerap
             absorptivity                                    kedayaserapan, daya serap
             absortive                                       absortif
             absorbency                                      daya serap, absorbensi
             absorbable                                      terserapkan
             absorbability                                   keterserapan, absorbabilitas
             absoprtion                                      penyerapan, absorpsi

     Perangkat kata peristilahan seperti di atas sangat penting artinya untuk kepentingan
profesional, akademik, dan juridis yang menuntut kecermatan. Jadi, untuk menerjemah-
kan dan membentuk istilah, penerjemah harus menguasai bahasa sumber dan sasaran
dengan baik termasuk mengenal jenis kata dan pembentukannya. Sarana bahasa Inggris
untuk membentuk nomina atau mengangkat kata menjadi konsep adalah dengan menam-
bah akhiran misalnya -ics (economics), -logy (psychology), -ness (happiness), -ing (market-
ing), -ship (hardship), -ment (judgment), -dom (freedom), -ry (forestry), -ty (novelty), dan
-nce (variance). Sarana bahasa Indonesiapun mempunyai cara untuk membentuk nomina
dan pengabstrakan dengan imbuhan misalnya perbankan (banking), pertimbangan (judg-
ment), pertambangan (mining), kedaulatan (sovereignty), keanehan (strangeness), pena-
laran (reasoning), melukis (painting), kementrian (ministry), pertemuan (meeting), dan
perencanaan (planning).


   13
     Untuk mengenal lebih jauh tentang kelas kata, lihat Harimurti Kridalaksana, Kelas Kata dalam Bahasa Indonesia
    (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2005).



Suwardjono 2010                                                             E:\Bahasa\BahasaMakalah\BahasaIAI–KAPd
Prinsip Pembentukan Istilah                                                                                        12


Asas Eja atau Bunyi (Ucap)

Seandainya, karena mungkin memang begitu terjajahnya kita ini, kita (termasuk banyak
orang di pelosok desa) tidak dapat lagi menggunakan kata ruang atau tempat tetapi
bisanya kata space, bagaimana mengucapkannya? Kalau bunyi “spis” telah akrab dengan
kita, apakah akan kita ciptakan kata spis (asas bunyi)? Atau kalau kata spasi dianggap
terlalu sempit maknanya, dapatkah kita menciptakan kata spasa? Seandainya seseorang
menyulut sebuah petasan kemudian tia meledak, bagaimana kita menulis suaranya?
     Tentu saja, penyerapan istilah asing bukan merupakan suatu bentuk penjajahan
karena hal tersebut memang diizinkan oleh PUPI yang sebenarnya menggariskan bahwa
demi keseragaman, sumber rujukan yang diutamakan adalah istilah Inggris yang pema-
kaiannya sudah internasional, yakni yang paling dilazimkan oleh para ahli dalam bidang-
nya. Penulisan istilah itu sedapat-dapatnya dilakukan dengan “mengutamakan ejaannya
dalam bahasa sumber tanpa mengabaikan segi lafal” (butir 2.3.4). Untuk ketentuan yang
sama, PUPI (2004) menegaskan bahwa “Penulisan istilah serapan itu dilakukan dengan
atau tanpa penyesuaian ejaannya berdasarkan kaidah fonotaktik, yakni hubungan urutan
bunyi yang diizinkan dalam bahasa Indonesia.”14
     Tersirat dalam ketentuan tersebut bahwa PUPI sebenarnya cenderung manganut
asas eja daripada asas bunyi. Menurut pendapat penulis, akan lebih menguntungkan
untuk kepentingan jangka panjang bila kita menggunakan asas eja daripada asas bunyi.
Alasannya adalah kemudahan dalam alih bahasa dari Indonesia ke Inggris atau seba-
liknya. Juga, asas eja lebih merefleksi keintelektualan bahasa seperti bahasa asing teru-
tama bahasa Inggris. Kita harus sepakat dalam pengejaan (spelling) karena hal ini akan
menghindari anarki penyerapan istilah. Dalam hal ini, kita beruntung dibanding orang
asing (barat) karena kita (telinga kita) mempunyai toleransi yang besar terhadap cara
pengucapan atau penulisan kata yang tidak standar bahkan keliru. Mungkin hal ini ter-
jadi karena seringnya kita mendengar salah ucap kata asing sehingga telinga kita cukup
kaya untuk meregister berbagai pengucapan untuk kata yang sama atau kognisi kita
cukup lentur untuk mengenal berbagai cara pengejaan kata dengan makna yang sama.
     Asas bunyi terlalu subjektif (menurut telinga siapa?) sehingga akan banyak
menimbulkan inkonsistensi antarkata bentukan. Berikut ini adalah beberapa contoh
penyerapan yang mengikuti asas eja yang penulis dukung/anjurkan.

             bus                                             bus (baca: bes, bis, bas, bus)
             contingent/contingence                          kontingen/kontingensi15 (baca: kontijen/
                                                                  kontijensi)
             club                                            klub (baca: kleb, klab, klub)
             cluster                                         kluster (baca: klester, klaster)
             culture                                         kultur
             customer                                        kustomer (baca: kestemer, kastemer)
             gender                                          gender (baca: jender)
             justification                                   justifikasi (baca: justifikasi, jastifikasi)
             liability                                       liabilitas
             logics                                          logika


   14Lihat
         penjelasan lebih lanjut tentang arti fonotaktik dalam Harimurti Kridalaksana, Kamus Linguistik (Jakarta: PT
    Gramedia Pustaka Utama, 2008)
   15
     Penyerapan ini sesuai dengan pedoma Pusat Bahasa (2007b), hlm. 57. Akan tetapi, pedoman ini tidak membedakan
    antara contingent dan contingency yang keduanya diserap menjadi kontingensi. Agar dapat dibedakan antara adjek-
    tiva dan nomina, contingent seharusnya diserap menjadi kontingen yang menjadi homonem dengan kata yang sama
    yang berarti utusan/pasukan olahraga.



Suwardjono 2010                                                             E:\Bahasa\BahasaMakalah\BahasaIAI–KAPd
Prinsip Pembentukan Istilah                                                                 13


             manager                          manager (baca: menejer) bukan manajer
             margin                           margin (baca: marjin)
             merger                           merger (baca merjer)
             object                           objek
             projection                       projeksi
             product                          produk (baca: produk, prodak, prodek)
             strategic                        strategik (baca stratejik)


Simpulan

Semua profesi menuntut keterampilan intelektual (akademik) dan pengetahuan level
tinggi untuk mendasari tindakan profesional (individual maupun organisasional) dalam
memberi jasa kepada publik. Demikian juga akuntansi sebagai profesi. Setiap kebijakan
dan pertimbangan akuntansi (misalnya penyusunan standar) harus dapat dipertang-
gungjelaskan secara intelektual atau nalar sehingga memuasi keterusikan intelektual
para pihak yang terlibat dalam profesi.
      Adopsi menuju konvergensi dengan SPKI (IFRS) menimbulkan kebutuhan untuk
menerjemahkan dan menciptakan istilah teknis baik bagi penyusun standar maupun aka-
demisi akuntansi. Kebutuhan tersebut tidak dapat dipenuhi hanya dengan sekadar
perasaan dan pengetahuan alamiah dalam berbahasa, baik bahasa sumber maupun
bahasa sasaran. Karakteristik akuntansi sebagai profesi menuntut semacam keintelek-
tualan dalam menciptakan istilah teknis. Ciri profesionalisma adalah selalu menganut
kaidah atau standar yang paling tinggi baik dalam menentukan kebijakan maupun mem-
beri layanan publik.
      Praktik yang baik harus dilandasi oleh teori yang baik pula (Kam, 1990). Penciptaan
istilah harus dilandasi oleh teori yang baik dalam arti penalaran yang valid atas dasar
sarana bahasa yang tersedia. Dengan demikian, setiap istilah yang ditawarkan dapat
dipertanggungjelaskan validitas dan manfaatnya dalam jangka panjang. Harus ada
semacam naskah akademik atau latar belakang (background information) yang menawan
di balik setiap istilah yang ditawarkan. Suatu istilah tidak dapat dipertahankan dengan
stratagem “pokoknya” atau “kesepakatan profesi.” Pertanggungjelasan ini akhirnya akan
meningkatkan keberterimaan istilah dan wibawa profesi. Istilah yang tepat tidak selalu
enak di telinga ketika baru dikenalkan. Namun, istilah hendaknya tidak dinilai atas dasar
keenakan di telinga saja (telinga siapa?) tetapi yang lebih penting adalah atas dasar apa
yang ada di balik telinga.
      Makalah ini membahas berbagai hal yang berkaitan dengan penerjemahan dan pem-
bentukan istilah teknis (leksikon). Pembahasan difokuskan pada pembentukan dan
penyerapan istilah yang berasal dari bahasa Inggris. Diperlukan semacam PABU (GAAP)
untuk menentukan atau mengevaluasi apakah suatu istilah sudah tepat atau wajar dalam
mengekspresi makna dalam profesi atau disiplin ilmu sesuai dengan sumber-sumber
autoritatif. Makalah ini menawarkan rerangka pedoman pembentukan istilah semacam
itu yang mungkin dapat dijadikan acuan oleh profesi dan akademisi dalam menentukan
pilihan atau menciptakan istilah teknis. Dengan pedoman tersebut, diharapkan istilah
akuntansi akan bernalar dan konsisten dan tidak menimbulkan salah interpretasi. Dewan
standar dan akademisi tidak diharapkan menjadi ahli bahasa tetapi paling tidak harus
menggunakan sarana bahasa yang tersedia pada level yang memadai untuk menentukan
pilihan istilah. Contoh-contoh pembentukan istilah yang didasarkan atas sumber autori-
tatif serta sarana dan morfologi bahasa Indonesia yang tersedia diberikan dalam Lam-
piran. Istilah-istilah yang dihasilkan kemungkinan besar menjadi berlainan dengan istilah



Suwardjono 2010                                          E:\Bahasa\BahasaMakalah\BahasaIAI–KAPd
Prinsip Pembentukan Istilah                                                                                           14


yang sudah ada. Dalam jangka panjang, lebih menguntungkan untuk memilih istilah yang
paling konsisten dengan kaidah untuk mengurangi salah makna dan banyaknya penge-
cualian (irregular terms). Istilah yang tercipta juga kemungkinan besar akan menjadi
lebih asing kedengarannya dari bahasa asingnya.
     Kecermatan makna yang dapat dirunut dari bentuk/struktur bahasa harus menjadi
landasan utama dalam mengembangkan istilah. Keasingan lambat-laun akan hilang kalau
penentu kebijakan melakukan sosialisasi dengan efektif atau akademisi mempertang-
gungjelaskan istilah yang ditawarkan. Penentu kebijakan (dalam hal ini penyusun stan-
dar) harus bersifat mendidik profesi dan bukan malahan sebaliknya menyebarkan atau
meneruskan kesalahan. Profesi dan akademisi harus lebih mempengaruhi selera publik
melalui pendidikan dan sosialisasi daripada sebaliknya dipengaruhi oleh selera publik
dalam menentukan istilah yang mempunyai implikasi luas baik bagi profesi, akademisi,
atau publik. Ini berarti bahwa profesi dan akademisi juga ikut berperan dalam pengem-
bangan bahasa Indonesia yang diamanatkan dalam Undang-Undang No. 24 Tahun 2009.
     Perlu dicatat bahwa Pusat Bahasa dan ahli bahasa bukan merupakan autoritas final
dalam menentukan istilah teknis. Bagi penyusun standar akuntansi, yang penting adalah
kebersediaan untuk mempertimbangkan secara layak penawaran dari berbagai kalangan
khususnya kalangan akademik. Penyusun standar tidak harus menjadi ahli bahasa tetapi
harus menjadi pengguna sarana bahasa yang menawan pada aras yang memadai. Oleh
karena itu, kalau atas dasar pemahaman masalah dalam makalah ini kemudian dirasakan
ada istilah yang perlu direvisi, profesi hendaknya tidak ragu-ragu melakukan hal itu demi
kepentingan profesi dan pendidikan jangka panjang. Dalam hal istilah profesional, tidak
ada hal yang sepele atau disepelekan lantaran alasan yang nonprofesional atau nonaka-
demik yaitu kemalasan, ketakpedulian, egoisma, sindroma tes klinis, rasa malu alih-alih
rasa bersalah, berstratagem alih-alih berargumen,16 hegemoni kelompok, dan ketakutan
semu akan turunnya wibawa/martabat.


Daftar Bacaan

Azar, Betty Schrampfer. Understanding and Using English Grammar (Upper Saddle River, NJ: Pearson Edu-
       cation, 1999)
Badudu, J. S. Inilah Bahasa Indonesia Yang Benar, Buku 1 (Jakarta: PT Gramedia, 1986).
Brooks, Leonard J. Business & Professional Ethics for Directors, Executives, & Accountants ( USA: thomson,
       2007).
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 1988).
__________. “Petunjuk Umum Pembentukan Istilah (PUPI),” Lampiran. Materi ini telah direvisi oleh Pusat
       Bahasa Departemen Pendidikan Nasional melalui Keputusan Menteri Pendidikan Nasional RI No. 146/
       U/2004.
Departemen Pendidikan Nasional. Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa (Jakarta: PT Gramedia Pus-
       taka Utama, 2008).
Financial Accounting Standards Board (FASB), Statement of Financial Accounting Concepts (Homewood, IL:
       Irwin, 1991).
Hornby, A. S. Oxford Advanced Learner’s Dictionary (Oxford: Oxford University Press, 2007).
Ikatan Akuntan Indonesia. Standar Akuntansi Keuangan (Jakarta: Salemba Empat, 2009).
Kam, Vernon. Accounting Theory (New York: John Wiley & Sons, 1990).
Kridalaksana, Harimurti. Kamus Linguistik (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2008).
__________. Kelas Kata dalam Bahasa Indonesia (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2005).
__________. Pembentukan Kata dalam Bahasa Indonesia (Jakarta: PT Gramedia, 1989).



   16
     Lihat pengertian stratagem dalam artikel “Penalaran dan Sikap Ilmiah” oleh penulis. Artikel ini adalah Bab 2 dalam
    Suwardjono, Teori Akuntansi: Perekayasaan Pelaporan Keuangan (Yogyakarta: BPFE, 2005).



Suwardjono 2010                                                               E:\Bahasa\BahasaMakalah\BahasaIAI–KAPd
Prinsip Pembentukan Istilah                                                                          15


Moeliono, Anton M. Kembara Bahasa: Kumpulan Karangan Tersebar (Jakarta: PT Gramedia, 1989).
__________. Santun Bahasa (Jakarta: PT Gramedia, 1986).
Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. Buku Praktis Bahasa Indonesia, Jilid 1 dan 2 (Jakarta:
       Pusat Bahasa, 2007).
__________. Pengindonesiaan Kata dan Ungkapan Asing (Jakarta: Pusat Bahasa, 2007b).
Salim, Peter. The Contemporary Indonesian-English Dictionary (Jakarta: Modern English Press, 1997).
Simanungkalit, Salomo (Penyunting). 111 Kolom Bahasa Kompas (Jakarta: Kompas, 2006).
Sterling, Robert R. Toward a Science of Accounting (Houston, TX: Scholars Book Co., 1979).
Sugono, Dendy. Berbahasa Indonesia Dengan Benar (Jakarta: Puspa Swara, 1997).
Suwardjono. “Peran dan Martabat Bahasa Indonesia dalam Pengembangan Ilmu,” makalah disampaikan
       dalam Kongres IX Bahasa Indonesia diselenggarakan oleh Pusat Bahasa di Hotel Bumi Karsa, Jakarta
       Selatan 28 Oktober - 1 November 2008.
__________. Teori Akuntansi: Perekayasaan Pelaporan Keuangan (Yogyakarta: BPFE, 2005).
__________. Akuntansi Pengantar 1: Proses Penciptaan Data Pendekatan Sistem (Yogyakarta: BPFE, 2002).
__________. “Aspek Kebahasaan Dalam Pengembangan Akuntansi di Indonesia,” Jurnal Akuntansi & Manaje-
       men STIE-YKPN (November 1991).
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2009 Tentang Bendera, Bahasa, Dan Lambang Negara,
       Serta Lagu Kebangsaan.
Webster’s New World Dicitonary (Third College Edition, 1988).!




Suwardjono 2010                                                   E:\Bahasa\BahasaMakalah\BahasaIAI–KAPd
Prinsip Pembentukan Istilah                                                                                     16


LAMPIRAN

Beberapa aspek yang dibahas dalam lampiran ini merupakan hasil swadaya penulis ketika
harus menulis beberapa buku atau artikel dalam bahasa Indonesia yang mengacu pada
sumber-sumber berbahasa Inggris. Penulis dapat merasakan makna istilah dalam bahasa
Inggris tetapi padan kata yang tersedia tidak pas benar untuk menyandang makna secara
penuh istilah aslinya. Atas dasar sarana bahasa, morfologi, dan pedoman autoritatif yang
tersedia, penulis mencoba menggali padan kata yang lebih tepat secara rasa bahasa.
Namun, penulis menyadari bahwa padan kata itu akan menjadi asing bagi pembaca yang
mungkin hanya menggunakan pengetahuan bahasa alamiahnya. Bahkan dalam banyak
hal, istilah yang penulis tawarkan menjadi kelakar atau olok-olok alih-alih apresiasi.
Penulis memaklumi hal ini. Walaupun demikian, penulis yakin itulah cara terbaik dalam
mengembangkan kemampuan bahasa Indonesia untuk kepentingan pengembangan ilmu
pengetahuan.
     Istilah-isitlah yang dibahas dalam lampiran ini kemungkinan besar belum dijumpai
dalam kamus-kamus yang ada sekarang termasuk KBBI. Bahkan Seri Pedoman yang
dikeluarkan Pusat Bahasa (2007b) belum menerapkan kaidah pembentukan istilah secara
taat asas. Oleh karena itu, lampiran ini juga merefleksi kritik penulis terhadap pedoman
yang sudah ada dan sekaligus saran perbaikan dengan argumen yang melandasi. Apa yang
disampaikan dalam lampiran ini sebenarnya merupakan pengembangan dari beberapa
tulisan sebelumnya.17


Kata Peristilahan Lain

KBBI sebenarnya banyak memuat kata yang menggambarkan perangkat kata peristila-
han yang belum banyak dimanfaatkan dengan baik atau secara penuh. Di bawah ini
adalah beberapa contoh. Contoh ini menunjukkan bahwa bahasa Indonesia sebenarnya
cukup kaya dan mampu untuk menjadi bahasa profesional dan keilmuan yang andal.
             vary (verba)                                       bervariasi
             variable                                           variabel
             variate                                            variat
             variation                                          variasi
             variety                                            varietas
             variant                                            varian
             variance                                           variansi

    Dengan pemahaman PUPI dan pemanfaatan sarana kebahasaan Indonesia lainnya,
dapat dibentuk perangkat kata peristilahan berikut ini:
             compare                                            banding, membandingkan
             comparable                                         terbandingkan
             comparison                                         pembandingan
             comparative                                        perbandingan, berpembanding, komparatif
             comparability                                      keterbandingan
             economic                                           ekonomik
             economy                                            ekonomi
             economics                                          ekonomika
             economical                                         ekonomis

   17Tulisan   tersebut antara lain Suwardjono (2008) dan (1991).



Suwardjono 2010                                                              E:\Bahasa\BahasaMakalah\BahasaIAI–KAPd
Prinsip Pembentukan Istilah                                                                                      17


             economist                                      ekonomikawan
             statistic                                      statistik (kumpulan data)
             statistics                                     statistika (bidang ilmu)
             statistical                                    statistis
             statistician                                   statistikawan

    Hal di atas paling tidak menunjukkan bahwa bahasa Indonesia cukup kaya dan
mampu untuk menjadi bahasa baku setara dengan bahasa Inggris. Dalam bidang akun-
tansi misalnya, banyak perangkat kata peristilahan yang dapat disusun sebagai serapan
atau terjemahan istilah asing. Di bawah ini adalah beberapa contoh.

             inventory                                      sediaan
             inventoriable                                  tersediaankan
             inventoriability                               ketersediaanan, ketersediaankanan18
             understandable                                 terpahami
             understandability                              keterpahamian, keterpahaman
             understanding                                  pemahaman
             acceptable atau accepted                       berterima
             acceptability                                  keberterimaan
             applicable                                     terterap
             applicability                                  keterterapan
             application                                    penerapan
             applied (overhead cost)                        kos overhead terapan/bebanan


Kaidah Penting Lainnya

Dewasa ini masih banyak kerancuan dan inkonsistensi dalam penentuan padan kata isti-
lah yang berasal dari bahasa Inggris. Hal tersebut disebabkan oleh tidak digunakannya
kaidah pembentukan istilah yang tersedia dan tidak dipahaminya arti penting perangkat
kata peristilahan yang dibahas di atas. Istilah sering diciptakan atas dasar kebiasaan atau
perasaan atau keenakan bunyi di telinga atau bahkan ketidaktahuan serta ketakpedulian
terhadap kaidah bahasa sederhana yang sebenarnya tersedia untuk diacu. Sayangnya di
Indonesia, kata yang salah banyak yang menjadi popular dan kemudian dianggap benar
seperti kata rebonding yang seharusnya rebounding. Demikian juga, kata photo copy
sudah begitu terkenalnya di mata masyarakat padahal seharusnya ditulis photocopy
(serangkai). Lebih memprihatinkan lagi, photo copy yang salah kaprah kemudian diserap
secara anarkis menjadi photo kopy, photo copi, foto kopy, foto kopi, fotokopy, photo kopi,
foto copy, foto copi, dan bahkan fotho kopi (lihat iklan-iklan atau papan nama usaha ini).
     Banyak istilah yang sebenarnya dapat dengan mudah dibentuk bila kaidah yang telah
tersedia diikuti dengan saksama. Kesaksamaan dalam menentukan istilah juga akan
menentukan ketepatan makna yang melekat pada istilah yang bersangkutan. Berikut ini
dibahas beberapa kaidah yang dapat dijadikan acuan dalam pembentukan istilah atas
dasar PUPI dan beberapa sumber lain yang relevan. Kaidah yang sama dapat diterapkan
dalam bidang ilmu lainnya. Walaupun demikian, bidang ilmu tertentu seperti biologi,
kimia, dan kedokteran mempunyai konvensi khusus dalam pengembangan istilah atau
tata nama (nomenklatur).


   18
     Walaupun diturunkan dari kata “tersediaankan,” gugus “kan” dapat dihilangkan untuk membentuk istilah yang lebih
    pendek tanpa mengurangi makna. Kedua istilah ini dapat dianggap sinonimus. Demikian juga, alih-alih keterandal-
    kanan dan keterhabiskanan, istilah keterandalan dan keterhabisan dapat digunakan karena lebih pendek.



Suwardjono 2010                                                            E:\Bahasa\BahasaMakalah\BahasaIAI–KAPd
Prinsip Pembentukan Istilah                                                                                          18


Kaidah Diterangkan Menerangkan (DM)

Gabungan kata bahasa Indonesia yang membentuk istilah disusun dengan kaidah D-M.
Kaidah ini masih sering dilanggar dalam penerjemahan istilah bahasa Inggris yang meng-
anut kaidah MD. Kaidah DM tidak berlaku untuk gugus kata berupa proleksem.19 Perha-
tikan beberapa contoh di bawah ini (beberapa sudah dicontohkan dalam makalah).

              asset management                                   managemen aset
              contact lens                                       lensa kontak
              real estate                                        estat real (bukan real estat)
              real asset                                         aset real
              test statistic                                     statistik tes (bukan tes statistik)
              statistical test                                   tes statistis
              descriptive statistics                             statistik deskriptif (bukan deskriptif statistik)
              standard deviation                                 deviasi standar (bukan standar deviasi)
              female accountant                                  akuntan wanita
              certified public accountant                        akuntan publik bersertifikat20
              female graduate                                    sarjana wanita (bukan wanita sarjana)
              male manager                                       manager pria
              total assets                                       aset total (bukan total aset)
              other assets                                       aset lainnya/lain-lain
              miscellaneous expenses                             biaya macam-macam

Penyerapan Istilah Asing

Penyerapan istilah asing merupakan salah satu altenatif dalam pembentukan istilah.
PUPI menegaskan bahwa demi kemudahan pengalihan antarbahasa dan keperluan masa
depan, pembentukan istilah melalui penyerapan istilah asing dapat dilakukan jika istilah
serapan yang dipilih memenuhi satu syarat atau lebih berikut ini:


        a. lebih cocok karena konotasinya
        b. lebih singkat jika dibandingkan dengan terjemahan Indonesianya
        c. dapat mempermudah tercapainya kesepakatan jika istilah Indonesia terlalu
           banyak sinonimnya.21

     Selanjutnya PUPI memberi petunjuk bahwa istilah yang diambil dari bahasa asing
dapat berupa bentuk dasar atau turunan. Bentuk tunggal (singular) lebih dianjurkan kec-
uali kalau konteksnya cenderung pada bentuk jamak (plural). Pemilihan bentuk tersebut
bergantung pada (1) konteks situasi dan ikatan kalimat, (2) kemudahan belajar bahasa,
dan (3) kepraktisan.




   19
     Proleksem adalah gugus kata yang mempunyai arti tetapi tidak dapat berdiri sendiri. Lihat contoh beberapa proleksem
    dalam lampiran.
   20Ikatan  Akuntan Indonesia (IAI) menerjemahkan kata tersebut menjadi bersertifikat akuntan publik (BAP). Ini
    jelas dan nyata merupakan penyimpangan kaidah sehingga makna asli berubah atau bergeser. Yang jelas, blue round
    table (meja bundar biru) berbeda maknanya dengan round blue table (meja biru bundar) dan keduanya jelas sangat ber-
    beda maknanya dengan biru meja bundar atau bundar meja biru. Sekarang, IAI menggunakan istilah aslinya yaitu cer-
    tified public accountants Indonesia.
   21Lihat   kriteria tambahan dalam PUPI edisi baru (2007) butir 2.4.2.1.



Suwardjono 2010                                                               E:\Bahasa\BahasaMakalah\BahasaIAI–KAPd
Prinsip Pembentukan Istilah                                                                                        19


Metode atau metoda?
Pertanyaan yang sama dapat diajukan yaitu periode atau perioda dan kode atau koda.
KBBI memang masih menulis metode sementara itu banyak karya ilmiah yang cenderung
menggunakan metoda. Dalam jangka panjang, penyerapan kata bahasa Inggris tertentu
dengan menambah akhiran a lebih menguntungkan dan lebih alamiah dari sudut pan-
dang ucapan orang Indonesia. Beberapa istilah yang sudah mengikuti kaidah ini adalah
anoda (anode), aksioma (axiom), bromida (bromide), frasa (phrase), glukosa (glucose),
guarda/garda (guard), hibrida (hybrid), katoda (cathode), klona (clone), kolega (colleague),
kurva (curve), lensa (lens), marka (mark), pestisida (pesticide), piramida (pyramid), Roma
(Rome), sinusoida (sinusoid), tema (theme), dan verba (verb).
    Pembentukan kata semacam itu juga memudahkan untuk membentuk kata turunan
misalnya, “pengkodaan” lebih mudah diucapkan daripada “pengkodean” untuk padan
kata coding. Demikian juga, “pengkurvaan” dan “pengklonaan” (cloning) lebih natural
atau luwes diucapkan daripada “pengkurvean” dan “pengklonean.”

Jadwal atau jadual?22
Penulisan kata jadwal merupakan penulisan atas dasar ejaan etimologis karena kata jad-
wal berasal dari bahasa Arab yang ditulis dengan huruf hijaiyah jdwl. Jadi, huruf w meru-
pakan bagian dari kata tersebut seperti kata serapan lainnya yaitu taqwa, fatwa, ihwal,
dan aswad. Kata-kata ini jelas tidak dapat ditulis menjadi taqua, fatua, ihual, dan asuad.
Konon, kata jadual timbul lantaran orang menganalogi perubahan kwalitet, kwintal, dan
kwantitas menjadi kualitas, kuintal, dan kuantitas. Perubahan ini dimaksudkan untuk
menyesuaikan ejaan dengan mengutamakan bahasa Inggris sebagai sumber. Jadi,
penulisan jadwal menjadi jadual merupakan analogi yang berlebihan atau kebablasan.
Bila analogi itu diikuti, jangan-jangan akan muncul beberapa kata atau nama seperti
bahua, sisua, dakua, suasta, aruah, Anuar, Riduan, dan Basuedan.

Empirik atau empiris?
Masalah yang sama diajukan untuk periodik atau periodis. PUPI menggariskan bahwa
kata (Inggris) berakhiran -ical untuk membentuk kata sifat yang bermakna “secara” atau
“bersifat” yang dikandung kata pangkalnya misalnya economical, practical, physical, sym-
metrical, empirical, statistical, dan cyclical diserap secara umum menjadi ekonomis, prak-
tis, fisis, simetris, empiris, statistis, dan siklis. Kata bahasa Inggris berakhiran -ic yang
dapat berdiri sendiri sebagai kata sifat seperti economic, periodic, dynamic, dan academic
diserap secara umum menjadi ekonomik, periodik, dinamik, dan akademik. Ekonomik
artinya secara ilmu ekonomika sedangkan ekonomis berarti hemat. Jadi, sebagai pedoman
umum, bila istilah aslinya berakhiran -ic serapannya menjadi -ik. Bila istilah asli ber-
akhiran -ical dan dapat dibentuk menjadi kata keterangan (adverb) dengan menambah -ly
serapannya adalah kata berakhiran -is. Untuk menyerap istilah bahasa Inggris semacam
ini, yang penting dipertimbangkan adalah bentuk asli bahasa Inggrisnya.

Penerjemahan atau Penyerapan Bentuk Gerund
Bentuk gerund adalah bentuk kata bahasa Inggris berakhiran “-ing” yang dimaksudkan
untuk menominakan verba agar dapat menjadi kata yang dapat berdiri sendiri atau men-

   22
     Hal ini ternyata sudah dibahas dalam Pusat Bahasa (2007), hlm. 74-75. Penulis pernah membahas hal ini dalam
    Suwardjono (2005), hlm. 724.



Suwardjono 2010                                                             E:\Bahasa\BahasaMakalah\BahasaIAI–KAPd
Prinsip Pembentukan Istilah                                                                                             20


jadi subjek dalam kalimat. Bahasa Indonesia tidak mengenal akhiran “ing” sehingga tidak
selayaknya gugus kata tersebut digunakan dalam membentuk istilah. Dengan memben-
tuk gerund, kata bahasa Inggris mempunyai makna melakukan atau mengerjakan.
Gerund juga digunakan dengan makna hal-hal yang berkaitan dengan atau pengetahuan
tentang sesuatu. Bentuk “pe-an” atau “per-an” merupakan padan bentuk gerund tersebut
seperti ditunjukkan dalam beberapa contoh berikut ini.23

                auditing                                         pengauditan
                banking                                          perbankan
                budgeting                                        penganggaran
                catering                                         pengkateran
                costing                                          pengkosan
                financing                                        pendanaan
                forecasting                                      pemrakiraan/peramalan
                franchising                                      pewaralabaan
                leasing                                          penyewagunaan
                marketing                                        pemasaran
                planning                                         perencanaan

    Bentuk seperti akting, katering, dan auditing (kata audit telah diserap menjadi audit
dalam bahasa Indonesia) merupakan penyimpangan kaidah di atas. Bila imbuhan “-ing”
digunakan untuk membentuk adjektiva atau pewatas (modifier), kaidah di atas tidak ber-
laku. Padan kata untuk kata-kata ini bergantung pada konteks. Ada beberapa makna kata
berakhiran “-ing” yang berfungsi sebagai pewatas.

a.     Bila pewatas tersebut bermakna “berfungsi sebagai” atau “pelaku,” padan kata Indo-
       nesianya adalah kata berawalan “pe-” seperti contoh berikut.

                adjusting entries                                ayat jurnal penyesuai
                closing entries                                  ayat jurnal penutup
                deciding factors                                 faktor-faktor penentu
                founding father                                  bapak pendiri/perintis
                intervening variable                             variabel penyela
                magnifying glass                                 kaca pembesar
                moderating variable                              variabel pemoderasi
                ruling body                                      badan penetap/penguasa
                supporting evidence                              bukti pendukung

b.     Bila pewatas tersebut bermakna “bersifat” atau “bekerja secara” atau “sedang
       mengalami,” maka padan kata Indonesianya adalah verba berawalan “ber” seperti
       contoh berikut.

                competing market                                 pasar bersaing
                continuing education                             pendidikan berlanjut
                consenting adult                                 dewasa bersepakat
                developing country                               negara berkembang
                moving average                                   rata-rata bergerak
                participating dividend                           dividen berpartisipasi
                running balance                                  saldo berjalan



     23Bentuk   “pe-an,” “per-an,” “pem-an,” dan “pel-an” merupakan varian akibat proses yang disebut dengan alomorf.



Suwardjono 2010                                                                 E:\Bahasa\BahasaMakalah\BahasaIAI–KAPd
Prinsip Pembentukan Istilah                                                                                        21


c.        Bila pewatas tersebut bermakna “digunakan untuk” atau “yang dapat atau mampu,”
          maka padan kata Indonesianya adalah kata pangkalnya seperti contoh berikut.

              boarding house                                  rumah singgah
              camping ground                                  lahan kemah
              cutting board                                   papan potong/iris
              diving apparatus                                perlengkapan selam
              flying ships/animals                            kapal/binatang terbang
              measuring device                                alat ukur
              qualifying exam                                 ujian kualifikasi
              spinning wheel                                  roda pintal
              voting right                                    hak pilih
              working paper                                   kertas kerja
              washing machine                                 mesin cuci

d.        Bila pewatas mengandung makna “yang di” atau “yang dilaksanakan oleh pelaku,”
          maka padan kata Indonesianya adalah kata bentukan berakhiran “-an.” Bentuk ini
          sebenarnya sama dengan pewatas past-participle butir a yang akan dibahas sesudah
          ini. Di bawah ini adalah beberapa contoh penerapan kaidah ini.

              borrowing money                                 uang pinjaman
              carrying value                                  nilai bawaan (istilah akuntansi)
              trading goods                                   barang dagangan
              teaching materials                              bahan ajaran

e.        Beberapa adjektiva mempunyai bentuk “me-” seperti binatang menyusui, melata, dan
          mengerat. Bila kata yang diwatasi menjadi subjek yang melakukan atau mengalami
          sesuatu sebagaimana ditunjukkan oleh pewatas, padan kata Indonesianya adalah
          kata bentukan berawalan “me” seperti bentuk yang dicontohkan tersebut. Beberapa
          istilah berikut memenuhi kaidah ini.

              floating mass                                   massa mengambang
              promising situation                             situasi menjanjikan
              qualifying assets                               aset memenuhi24
              selling product                                 produk menjual (istilah dalam pemasaran)

     Pewatas bahasa Inggris yang berakhiran “-ing” memang sangat banyak dijumpai
dalam buku-buku asing. Kaidah di atas merupakan pedoman yang bersifat umum. Dalam
hal tertentu memang tidak setiap istilah dapat diterapi kaidah ini dengan pas. Oleh
karena itu, konteks dan ikatan kalimat harus dipertimbangkan sehingga penyimpangan
dari kaidah di atas dimungkinkan.
     PUPI menegaskan bahwa dalam penerjemahan istilah asing tidak selalu diperoleh
bentuk yang berimbang arti satu-lawan-satu. Hal tersebut bahkan tidak selalu perlu.
Yang harus diutamakan adalah kesamaan dan kepadanan konsep, bukan kemiripan ben-
tuk luarnya (strukturnya) atau makna harafiahnya. Walaupun demikian, medan makna
(semantic field) dan kekhususan makna (hue of meaning) istilah aslinya harus tetap diper-
hatikan.

     24
       Aset memenuhi artinya aset yang memenuhi syarat untuk tujuan tertentu. Makna qualifying dalam hal ini berbeda
      dengan makna qualifying exam yang dicontohkan sebelumnya. Dalam contoh terakhir, qualifying bermakna untuk
      mengkualifasi atau menentukan apakah seseorang memenuhi syarat untuk menjadi kandidat doktor sehingga padan
      katanya adalah ujian kualifikasi bukan ujian memenuhi.



Suwardjono 2010                                                              E:\Bahasa\BahasaMakalah\BahasaIAI–KAPd
Prinsip Pembentukan Istilah                                                                         22


Pengindonesiaan Istilah Inggris Berpewatas
Past-Participle

Gramatika bahasa Inggris mengenal apa yang disebut participial adjectives yaitu adjek-
tiva yang diturunkan dari verba berbentuk present participle (membentuk adjektiva aktif)
dan past participle (membentuk adjektiva pasif). Past participle dikenal sebagai verba ben-
tuk ketiga. Azar (1999) menguraikan terjadinya adjektiva pasif dengan contoh di bawah
ini (halaman 235).25
.




     The story amuses the children.            The noun story performs the action.
     (1) It is an amusing story.               The present participle serves as an adjective with
                                               an active meaning.
     The children are amused by the story.     The noun children receives the action.
     (2) They are amused children.             The past participle serves as an adjective with a
                                               passive meaning.


     Dalam buku-buku berbahasa Inggris, banyak dijumpai istilah yang mempunyai pewa-
tas (modifier) dalam bentuk past participle. Past participle dalam gramatika bahasa Ing-
gris sering disebut dengan verba bentuk ketiga. Verba bentuk ketiga dapat berfungsi atau
digunakan sebagai kata sifat (adjektiva) yang menerangkan atau membatasi arti kata
atau istilah tertentu. Kata dasar (pangkal) yang dapat dibentuk menjadi past participle
dapat berasal dari verba (kata kerja) atau nomina (kata benda). Contoh istilah yang mem-
punyai pewatas participle tersebut antara lain adalah: accumulated depreciation, engi-
neered cost, fixed cost, deferred charges, paid-in capital, weighted average, expected value,
discounted value, leveraged firm, leased assets, dan sebagainya.
     Berikut adalah beberapa kaidah untuk membentuk padan kata istilah berpewatas
past participle tersebut.

a.    Kalau dengan pewatas tersebut suatu istilah mempunyai makna yang di atau yang
      sudah di atau sebagai hasil pekerjaan/proses/perlakuan sebagaimana ditunjukkan
      oleh kata dasar, maka padan kata pewatas adalah kata berimbuhan berakhiran “-an”
      dan berkata dasar (berpangkal) padan kata atau kata serapan istilah Inggrisnya.
      Pedoman ini berlaku pada umumnya untuk kata dasar yang berjenis verba dan peker-
      jaan tersebut disengaja atau direncanakan. Berikut ini adalah beberapa contoh.

             applied research                       riset terapan
             canned food                            makanan kalengan
             corned beef                            daging sapi butiran/jagungan
             fried chicken                          ayam gorengan (bukan ayam goreng)
             ground beef                            daging sapi gilingan
             mixed double                           ganda campuran
             perceived objectivity                  objektivitas persepsian
             printed materials                      bahan/barang cetakan
             processed foods                        makanan olahan/prosesan
             published sources                      sumber-sumber publikasian
             reserved seats                         tempat duduk pesanan

25Betty Schrampfer Azar, Understanding and Using English Grammar (Upper Saddle River, NJ: Pearson

Education, 1999).



Suwardjono 2010                                                  E:\Bahasa\BahasaMakalah\BahasaIAI–KAPd
Prinsip Pembentukan Istilah                                                                                          23


              revised edition                                  edisi revisian
              selected readings                                bacaan pilihan
              smuggled goods                                   barang selundupan
              stolen money                                     uang curian
              unexpected profit                                laba kejutan
              accrued interest expense                         biaya bunga akruan
              accumulated depreciation                         depresiasi akumulasian
              adjusted trial balance                           daftar saldo sesuaian
              allocated cost                                   kos alokasian
              applied overhead cost                            kos overhead bebanan/terapan/aplikasian
              audited financial statements                     laporan/statemen keuangan auditan
              computerized system                              sistem komputerisasian
              consolidated statements                          laporan/statemen konsolidasian
              deferred taxes                                   pajak tangguhan
              diluted earnings per share                       laba per saham dilusian26
              discounted cash flows                            aliran kas diskunan
              engineered cost                                  kos rekayasaan
              estimated regression                             regresi estimasian
              expected value                                   nilai harapan
              leased asset                                     aset sewagunaan
              paid-in capital                                  modal setoran

     Beberapa kata bentukan sering sudah mempunyai konotasi tertentu sehingga penera-
pan kaidah di atas dapat menimbulkan makna yang berbeda dengan yang dimaksud.
Sebagai contoh, laba tahanan sebenarnya cukup tepat sebagai padan kata istilah retained
earnings tetapi kata “tahanan” sudah terlanjur mempunyai arti dengan konotasi tertentu
sehinggga memblok istilah “laba tahanan.” Oleh karena itu, istilah “laba ditahan” meru-
pakan penyimpangan dari pedoman di atas. Dalam setiap kaidah selalu ada kecualian atau
penyimpangan tetapi tidak selayaknyalah kalau terlalu banyak penyimpangan. Kalau
lebih banyak penyimpangan daripada ketaatan maka kaidah atau aturan tidak ada man-
faatnya lagi. Lebih dari itu, pembentukan istilah baru hendaknya tidak didasarkan atas
bentuk yang menyimpang.
     Istilah hendaknya dibedakan dengan frasa. Istilah-istilah yang dicontohkan di atas
tentu saja dapat diterjemahkan menjadi barang yang dicetak, makanan yang dikalengi,
daftar saldo yang disesuaikan dan seterusnya. Walaupun mempunyai arti, kata-kata terse-
but lebih merupakan frasa daripada istilah. Frasa mempunyai arti umum sedangkan isti-
lah mempunyai arti khusus dan acapkali digunakan dalam lingkup pembahasan yang
terbatas. Dalam pembentukan istilah teknis, hendaknya dihindari penggunaan kata yang
agar istilah bersifat generik dan dapat dibedakan dengan frasa.

b.        Kalau dengan pewatas tersebut suatu istilah mempunyai makna yang diberi atau
          dilengkapi sesuatu atau dikerjakan/diproses sehingga mempunyai atau bersifat mem-
          punyai sesuatu sebagaimana ditunjukkan oleh kata dasar, maka padan kata pewatas
          adalah kata berimbuhan berawalan “ber-” yang berkata dasar padan kata atau kata
          serapan istilah Inggrisnya. Pedoman ini berlaku pada umumnya untuk past participle
          yang dibentuk dari nomina walaupun dapat juga verba atau adjektiva.


     26
       Istilah ini telah digunakan Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) dalam Standar Akuntansi Keuangan yaitu Pernyataan
      Standar Akuntansi (PSAK) No. 56, “Laba Per Saham.” Istilah pajak tangguhan (deferred taxes) juga telah digunakan
      IAI dalam PSAK No. 46.



Suwardjono 2010                                                               E:\Bahasa\BahasaMakalah\BahasaIAI–KAPd
Prinsip Pembentukan Istilah                                                                    24


Contoh:
             air-conditioned room               ruang berpengatur udara
             annotated bibliography             bibliografi beranotasi
             armed forces                       angkatan bersenjata
             barbed wire                        kawat berduri
             battery-powered machine            mesin bertenaga-baterai
             experienced driver                 sopir berpengalaman
             furnished apartment                apartemen berperabot
             painted furniture                  perabot bercat
             wheeled chair                      kursi beroda
             accepted practice                  praktik berterima
             guaranteed loan                    pinjaman bergaransi
             interested party                   pihak berkepentingan
             leveraged firm                     perusahaan berpengungkit (modalnya)
             mortgaged debt                     utang berhipotek
             post-dated check                   cek bertanggal mundur (slang: cek mundur)
             prenumbered document               dokumen bernomor cetak
             weighted average                   rata-rata berbobot

c.    Kalau dengan pewatas tersebut suatu istilah mempunyai makna dalam keadaan di
      atau yang bersifat seolah-olah seperti atau secara tidak sengaja menjadi atau menjadi
      sesuatu yang hasilnya tidak dapat dikendalikan atau dipastikan lebih dahulu
      sebagaimana ditunjukkan oleh kata dasar, maka padan kata pewatas adalah kata
      berimbuhan berawalan “ter-” yang berkata dasar padan kata atau kata serapan isti-
      lah Inggrisnya. Pedoman ini berlaku umumnya untuk past participle yang kata
      dasarnya adalah verba atau adjektiva.

Contoh:

             built-in adaptor                   adaptor terpasang
             hidden variables                   variabel tersembunyi
             locked position                    posisi terkunci
             organized crime                    kejahatan terorganisasi
             written test                       tes tertulis

             classified balance sheet           neraca terklasifikasi (pos-posnya)
             closed corporation                 perseroan tertutup
             detailed procedures                prosedur terinci
             paid voucher                       vucer terbayar
             proven reserve                     cadangan terbukti



      Acapkali sulit untuk membedakan apakah suatu pewatas dipadankatakan dengan
istilah berawalan “ter-” (pedoman c) atau “ber-” (pedoman b), misalnya istilah structured
decision dan structured approach. Apakah “terstruktur” atau “berstruktur” sebagai
padan katanya bergantung pada makna yang terkandung dalam kedua istilah tersebut.
Bila struktur diartikan sebagai nomina sehingga arti istilah tersebut adalah “diberi struk-
tur” maka “berstruktur” akan lebih mengena. Demikian juga, istilah certified dan accred-
ited akan lebih mengena diterjemahkan menjadi bersertifikat atau berakreditasi kalau
makna yang dituju adalah diberi atau dalam keadaan mendapat sertifikat atau akreditasi.



Suwardjono 2010                                             E:\Bahasa\BahasaMakalah\BahasaIAI–KAPd
Prinsip Pembentukan Istilah                                                                     25


     Demikian juga, kadang-kadang sulit menentukan apakah pedoman a atau pedoman c
yang harus digunakan untuk mencari padan kata pewatas audited dalam audited finan-
cial statements, apakah “auditan” atau “teraudit.” Auditan mempunyai makna bahwa
laporan sudah dalam keadaan diaudit sebagai pasangan dari (komplemen) laporan yang
belum diaudit sedangkan teraudit mempunyai makna bahwa suatu laporan akhirnya sele-
sai diaudit (mungkin karena sulit diaudit).

d.    Istilah tertentu mungkin sekali tidak dapat dicari padan kata atau terjemahannya
      dengan menggunakan pedoman di atas. Istilah tertentu bahkan sudah mempunyai
      padan kata yang sudah umum dipakai walaupun menyimpang dari beberapa pedoman
      di atas. Pada umumnya istilah-istilah yang menyimpang tersebut mempunyai unsur
      idiomatik sehingga pencarian padan kata harus memperhatikan aspek idiom. Bila
      istilah bersifat idiomatik atau tidak dapat diterapi pedoman di atas untuk mencari
      padan katanya, pedoman penerjemahan yang mungkin cukup memadai yaitu dengan
      mencari lawan/pasangan istilah Inggris tersebut kemudian mencari padan kata Indo-
      nesia lawan/pasangan istilah tersebut yang sudah umum dipakai. Kemudian mencari
      kembali lawan/pasangan istilah Indonesia tersebut. Sebagai contoh, istilah “aset
      tetap” dapat digunakan sebagai padan kata fixed asset sebagai lawan atau pasangan
      aset lancar (current asset). Demikian juga, istilah “kos tetap” dapat digunakan sebagai
      padan kata (fixed cost) sebagai lawan atau pasangan kos variabel (variable cost).
      Saham istimewa dapat dipakai sebagai padan kata preferred stock sebagai lawan atau
      pasangan saham biasa (common stock). Istilah lain yang mengandung unsur idiomatik
      misalnya adalah broken heart (patah hati), fixed price (harga mati), used car (mobil
      bekas), dan classified information (informasi rahasia).

Pemanfaatan Prefiks “ter”

Prefiks (awalan) “ter-” mempunyai banyak fungsi dan dapat dimanfaatkan untuk
membentuk istilah yang memadai. Secara umum prefiks “ter” mempunyai arti dalam
keadaan telah (bila diikuti verba dan peristiwanya terjadi secara kebetulan atau tidak
disengaja) dan paling (bila diikuti kata sifat). Bila verbanya berkaitan dengan fungsi
pancaindera atau fungsi tubuh manusia maka awalan “ter” mempunyai makna dapat di
seperti misalnya terlihat, terdengar, terasa, terpahami dan tercerna. Makna “ter” dapat
dikembangkan untuk verba yang lain demi swadaya bahasa.
     Dengan alasan swadaya bahasa, awalan “ter” dapat membentuk kata sifat sebagai
padan kata istilah Inggris yang berakhiran -able yang mempunyai makna dapat di-
(di-kan/i) atau mempunyai daya/sifat dapat di- (di-kan/i) seperti misalnya “terukur”
untuk padan kata measurable. Untuk membentuk kata benda, kata berawalan “ter-”
tersebut dapat dijadikan bentuk “ke-an” seperti misalnya “keterukuran” sebagai pada
kata measurability.
     Berikut ini adalah beberapa contoh kata sifat dan kata benda istilah yang padan
katanya dapat dibentuk dengan menggunakan swadaya bahasa tersebut. Biasanya kata
dasar bahasa Inggrisnya adalah verba.

Contoh:
             applicable/applicability            terterapkan/keterterapan
             auditable/auditability              teraudit/keterauditan
             collectable/collectability          tertagih/ketertagihan
             comparable/comparability            terbandingkan/keterbandingan


Suwardjono 2010                                              E:\Bahasa\BahasaMakalah\BahasaIAI–KAPd
Prinsip Pembentukan Istilah                                                                   26


             marketable/marketability           terpasarkan/keterpasaran
             reliable/reliability               terandalkan/keterandalan
             understandable/understandability   terpahami/keterpahamian
             verifiable/verifiability           teruji/keterujian

    Salah satu ciri bahasa keilmuan adalah kemampuannya untuk membedakan makna
yang memang berbeda sehingga suatu gagasan (yang kebanyakan bersifat abstrak) dapat
terekspresi dengan tepat dan dapat ditangkap dengan tepat pula. Dengan pedoman dan
swadaya di atas akan dapat dibedakan pengertian comparison (pembandingan atau per-
bandingan), comparable (terbandingkan), comparative (komparatif/berpembanding) dan
comparability (keterbandingan).

Istilah Serapan yang Bermakna Tindakan

Banyak istilah teknis yang merupakan istilah serapan (khususnya dari bahasa Inggris).
Istilah serapan dipilih sebagai padan kata karena merupakan pilihan terbaik ditinjau dari
makna teknis yang terkandung dalam suatu istilah. Istilah serapan tersebut kebanyakan
merupakan nomina yang mempunyai makna sebagai tindakan atau proses. Nomina terse-
but kemudian diturunkan menjadi verba dengan kaidah bahasa Indonesia.
     Bahasa Indonesia menyerap beberapa kata bahasa Inggris melalui bentuk nomina
yang bermakna proses seperti misalnya:

               to accommodate!accommodation!akomodasi!mengakomodasi
               to produce!production!produksi!memproduksi
               to evaluate!evaluation!evaluasi!mengevaluasi
               to confirm!confirmation!konfirmasi!mengkonfirmasi
               to define!definition!definisi!mendefinisi
               to socialize!socialization!sosialisasi!mensosialisasi
               to organize!organization!organisasi!mengorganisasi

    Karena nomina serapan sudah mengandung makna tindakan atau proses, tidak diper-
lukan akhiran -kan untuk membentuk verba agar tidak terjadi duplikasi arti. Berikut ini
adalah beberapa contoh lain penerapan kaidah ini.

             capitalization                     kapitalisasi/mengkapitalisasi
             classification                     klasifikasi/mengklasifikasi
             computerization                    komputerisasi/mengkomputerisasi
             communication                      komunikasi/mengkomunikasi
             depreciation                       depresiasi/mendepresiasi
             deregulation                       deregulasi/menderegulasi
             discussion                         diskusi/mendiskusi
             expression                         ekspresi/mengekspresi
             elimination                        eliminasi/mengeliminasi
             inspection                         inspeksi/menginspeksi
             observation                        observasi/mengobservasi
             proclamation                       proklamasi/memproklamasi
             realization                        realisasi/merealisasi
             verification                       verifikasi/memverifikasi

   Kaidah di atas hanya berlaku untuk istilah serapan. Gabungan imbuhan me-kan
mempunyai makna “membuat menjadi” sehingga di samping terjadi duplikasi imbuhan,


Suwardjono 2010                                            E:\Bahasa\BahasaMakalah\BahasaIAI–KAPd
Prinsip Pembentukan Istilah                                                                     27


pembentukan istilah di atas dengan akhiran -kan justru akan menggeser makna istilah
yang sebenarnya. Moeliono (1989) memberi contoh penggunaan kata proklamasi.
Memproklamasi kemerdekaan jelas tidak sama dengan memproklamasikan kemerde-
kaan. Ungkapan pertama berarti “melakukan” atau “menyelenggarakan” proklamasi
untuk menyatakan kemerdekaan sedangkan ungkapan kedua berarti “membuat” atau
“menyebabkan” kemerdekaan menjadi proklamasi.

Penyerapan Akhiran Istilah Asing Secara Utuh

Dalam banyak hal, perlu dibedakan antara kata benda dan kata sifat atau kata benda
konkret dan kata benda abstrak (yang bermakna proses) yang dipungut dari istilah asing.
PUPI memberi pedoman bahwa akhiran kata bahasa asing dapat diserap secara utuh
untuk membedakan fungsi kata tersebut. Misalnya kata standardisasi, implementasi, dan
objektif diserap secara utuh di samping kata standar, implemen, dan objek.
    Berkaitan dengan hal ini, PUPI tersebut menggariskan bahwa kata-kata asing bera-
khiran -ance, -ence yang tidak bervariasi dengan -ancy, -ency diserap menjadi kata Indo-
nesia yang berakhiran -ans, -ens.

Contoh 1:

             ambulance                          ambulans
             audience                           audiens
             balance                            balans
             conductance                        konduktans

   Kata-kata asing berakhiran -ance, -ence yang bervariasi dengan -ancy, -ency diserap
menjadi kata Indonesia yang berakhiran -ansi, -ensi.
Contoh 2:

             efficiency                         efisiensi
             frequency                          frekuensi
             residence/residency                residensi
             valence/valency                    valensi

    Kaidah seperti pada Contoh 1 di atas hanya dapat diterapkan untuk kata-kata asing
(Inggris) yang berdiri sendiri sebagai kata benda dan tidak bervariasi dengan kata sifat
atau kata lainnya yang berakhiran -ant, -ent, dan -tial. Bila kata aslinya bervariasi dengan
kata sifat lain yang berakhiran -ant, -ent, dan -tial maka kaidah penyerapannya mengikuti
Contoh 2 meskipun kata sifatnya tidak selalu diserap ke dalam bahasa Indonesia, misal-
nya (beberapa merupakan istilah akuntansi):
             absent/absence                     absen/absensi
             accountant/accountancy             akuntan/akuntansi
             agent/agency                       agen/agensi
             ambivalent/ambivalence             ambivalen/ambivalensi
             competent/competence               kompeten/kompetensi
             congruent/congruence               kongruen/kongruensi
             consequent/consequency             konsekuen/konsekuensi
             consistent/consistency             konsisten/konsistensi
             contingent/contingence             kontingen/kontingensi
             essential/essence                  esensial/esensi



Suwardjono 2010                                              E:\Bahasa\BahasaMakalah\BahasaIAI–KAPd
Prinsip Pembentukan Istilah                                                                    28


             existent/existence                  ---/eksistensi
             incumbant/incumbance               inkumban/inkumbansi
             independent/independence           independen/independensi
             present/presence                    ---/presensi
             substantial/substance              ---/substansi
             transparant/transparancy           transaparan/transparansi
             variant/variance                   varian/variansi

     Dalam hal tertentu suatu kata asing diserap menjadi dua kata atas dasar Contoh 1
dan 2 dengan maksud untuk membedakan arti dan memperluas kosa kata. Misalnya, kata
esens dan esensi keduanya digunakan untuk menunjuk pengertian yang berbeda; yang
pertama untuk menunjuk pengertian sebagai bahan (benda konkret) dan yang kedua
untuk menunjuk pengertian sebagai benda abstrak (atau proses/kegiatan). Demikian juga,
kata audiens (dalam arti kumpulan orang) dapat digunakan di samping audiensi (sebagai
kegiatan yang berarti kunjungan kehormatan).
     Kata bahasa Inggris lainnya yang banyak diserap secara utuh adalah kata-kata
bahasa Inggris yang telah dinominakan dengan akhiran -ity. PUPI memberi pedoman
umum bahwa kata-kata Inggris berakhiran -ity kalau diserap secara utuh akan menjadi
kata Indonesia berakhiran -itas, misalnya kata universitas, komoditas, komunitas, reli-
abilitas, intensitas, sekuritas, prioritas, entitas dan sebagainya. Pedoman yang diberikan
oleh PUPI tersebut sangat beralasan karena kalau dirunut secara etimologis, kata-kata
bahasa Inggrisnya memang diturunkan dari bahasa Latin, Modern Latin atau Middle
English yang berakhiran -itas atau -ite. Termasuk pula dalam kategori ini adalah kata-
kata bahasa Inggris yang berakhiran -ty baik yang berdiri sendiri sebagai nomina maupun
yang merupakan penominaan adjektiva atau verba aslinya, misalnya kata-kata property,
royalty, penalty, puberty, variety, dan novelty. Kata-kata ini secara etimologis berasal dari
proprietas, regalitas, poenalitas, pubertas, varietas, dan novellitas. Kalau kata-kata terse-
but akan diserap secara utuh ke dalam bahasa Indonesia, kata-kata serapannya adalah
properitas, royalitas, penalitas, pubertas, varietas dan novelitas.
     Dalam tiap ketentuan selalu ada pengecualian. Kata-kata bahasa Inggris yang ditu-
runkan dari bahasa Latin atau lainnya yang berakhiran tia, thia, tie atau sia dapat diserap
sesuai bunyinya menjadi kata Indonesia berakhiran ti seperti sympathy, amnesty, modesty,
dynasty menjadi simpati, amnesti, modesti, dinasti. Namun demikian, kata-kata seperti
itu cacahnya sedikit sehingga dapat dikatakan bahwa ketentuan umum penyesuaian ejaan
-ity atau -ty menjadi itas atau tas selalu berlaku kecuali terdapat keragu-raguan. Bila ter-
dapat keragu-raguan, asal-usul kata perlu dicari dalam kamus yang menjelaskan juga eti-
mologi kata sehingga penyerapan kata menjadi konsisten dengan kaidah di atas.

Pembedaan Makna Proses dan Hasil

PUPI memberi petunjuk tentang penggunaan istilah yang dimaksudkan untuk membeda-
kan antara kata bentukan yang mempunyai makna sebagai hasil tindakan atau kata
bentukan yang mempunyai makna sebagai proses atau sebagai abstraksi (makna konsep).

Contoh:
             Proses:                            Hasil:
             pemerolehan                        perolehan
             penyediaan                         sediaan
             perakitan                          rakitan
             perkenalan                         kenalan



Suwardjono 2010                                             E:\Bahasa\BahasaMakalah\BahasaIAI–KAPd
Prinsip Pembentukan Istilah                                                                                            29


              penyimpulan                                      simpulan
              pelatihan                                        latihan
              percetakan                                       cetakan

Diftong atau Vokal Rangkap

Bahasa Indonesia mengenal vokal rangkap seperti ai dalam rantai, au dalam walaupun,
ae dalam aerosol, uo dalam kuota, dan oi dalam spoi-spoi. Akan tetapi, bahasa Indonesia
tidak mengenal diftong ou, uou, eou, oe, oo, dan uu. Oleh karena itu, kata-kata asing yang
mengandung diftong ini diserap menjadi u seperti pada kata kupon untuk coupon dan
akuntan untuk accountant sehingga kata discount mestinya harus diserap menjadi diskun
bukan diskon. Berikut ini contoh penyerapan lain yang seharusnya:

              autonomous                                       autonomus
              continuous                                       kontinus
              detour                                           detur
              exogenous                                        eksogenus
              homogeneous                                      homogenus bukan homogen
              simultaneous                                     simultanus

     Sebaliknya, bahasa Indonesia mengenal diftong au seperti pada kata saudara, firdaus,
jauhari, kacau, klausula, handai-taulan, aeronautika. Karena au dikenal dalam bahasa
Indonesia, kata asing yang mengandung diftong ini tetap ditulis dengan au seperti pada
kata audit menjadi audit bukan odit, Australia menjadi tetap Australia bukan Ostralia,
audio menjadi audio bukan odio, dan autopsy menjadi autopsi bukan otopsi.27 Oleh karena
itu, kata automatic, automotive, dan autonomy mestinya diserap menjadi automatik,
automotif, dan autonomi (lihat PUPI dalam KBBI, 1988 halaman 1048).
     Dengan pemahaman implikasi penerapan PUPI di atas secara konsisten, KBBI tentu
saja harus selalu direvisi dan dimutakhirkan. KBBI sendiri belum konsisten dengan PUPI
dalam memilih ejaan untuk istilah serapan. Kalau asas eja yang dianut demi keintelektu-
alan dan martabat bahasa, KBBI pada saatnya nanti harus disertai dengan cara melafal-
kan (fonetik). Dengan demikian, KBBI (atau kamus lainnya) sebagai kamus umum akan
mempunyai fungsi dan status seperti misalnya Webster’s New World Dicitonary atau
Oxford Advanced Learner’s Dictionary.

CATATAN: Materi dalam lampiran ini telah penulis elaborasi dan kembangkan untuk
menjadi buku pedoman dalam pembentukan istilah (khususnya penyerapan istilah bahasa
Inggris) untuk penulisan karya ilmiah. Materi di atas akhirnya hanya menjadi sebagian
kecil dari topik yang dibahas dalam buku pedoman tersebut. Sementara ini, berbagai
masalah bahasa penulis tuangkan dalam bentuk selebaran bebas untuk bahan renungan
dan diskusi. Kumpulan selebaran tersebut tersedia bersama makalah ini. Penulis meren-
canakan untuk menyiapkan 100 seri selebaran.28!




   27Lihat   entri dalam Peter Salim. The Contemporary Indonesian-English Dictionary (Jakarta: Modern English Press,
    1997)
   28
     Gagasan pembuatan selebaran ini diilhami oleh Salomo Simanungkalit (Penyunting), 111 Kolom Bahasa Kompas
    (Jakarta: Kompas, 2006). Selebaran ini lebih bersifat akademik daripada jurnalistik.



Suwardjono 2010                                                               E:\Bahasa\BahasaMakalah\BahasaIAI–KAPd
Prinsip Pembentukan Istilah                                                                 30




                                        Makalah

      Pedoman Pembentukan Istilah Berterima Umum
         untuk Tulisan Akademik dan Profesional



                                      Suwardjono
                              Fakultas Ekonomika dan Busines
                                 Universitas Gadjah Mada
                                        Yogyakarta


                                  suwardjono@ugm.ac.id




                            Disampaikan dalam Seminar Nasional
                    Aspek Kebahasaan dalam Rangka Kovergensi ke IFRS
                                     diselenggarakan oleh
                 Ikatan Akuntan Indonesia Kompartemen Akuntan Pendidik
                   bekerja sama dengan Fakultas Ekonomi dan Ilmu Sosial
                    Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
                         di Auditorium Utama, Ruang Diorama UIN
                                    Jakarta, 23 Maret 2010




Suwardjono 2010                                          E:\Bahasa\BahasaMakalah\BahasaIAI–KAPd

								
To top