osteoartritis

Document Sample
osteoartritis Powered By Docstoc
					OSTEOARTHRITIS

          Kelompok 2
    Citra Permata Sari (90710012)
      Citta Masyita (90710013)
    Danang Rais R.H. (90710014)
      Darra Ruyanti (90710015)
    Devi Kamilia Azis (90710016)
     Dewi Nurjanah (90710017)
      Diha Madihah (90710018)
Dwi Putri Yudianti Yudison (90710019)
  Ega Syifania Fattonah (90710020)
    Elisabeth Purwanti (90710021)
      Fandi Sutanto (90710022)
      Fany Diansari (90710023)
    Felicia Mettaswari (90710024)




       SEKOLAH FARMASI
INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
                2011
                               OSTEOARTHRISTIS

I.    TINJAUAN UMUM
                Osteoarthritis (OA) merupakan penyakit sendi degeneratif yang disebabkan oleh
      terjadinya kerusakan pada sendi diarthrodial karena ketidakseimbangan proses
      pembentukan dan degradasi tulang rawan artikular, kondrosit, matriks ekstraseluler dan
      tulang subchondral.
                Seseorang dikatakan menderita osteoarthritis bila dari hasil pemantauan sinar-X
      dapat dilihat terjadinya penyusutan ruang sendi, osteophytes, dan terbentuknya kista
      tulang.


II.   PREVALENSI
                Diperkirakan sekitar 10% populasi dunia berusia 60 tahun atau lebih memiliki
      gejala yang dapat dikaitkan dengan osteoarthritis, dengan tingkat prevalensi beberapa
      negara berkembang lebih rendah daripada negara maju.
                Dengan tingkat terjadinya berbanding lurus dengan bertambahnya usia, yang
      dapat dilihat pada tabel di bawah ini:


           Tabel 2.1 Tingkat Terjadinya Osteoarthritis pada Tangan, Pinggang dan Lutut
              Secara umum, tingkat prevalensi Osteoarthritis di seluruh dunia berdasarkan
       umur, jenis kelamin dan wilayah dapat dilihat dalam grafik di bawah ini :




                          a                                                 b




                          c                                                 d
       Gambar 2.1 Grafik Prevalensi OA Berdasarkan Umur, Jenis Kelamin dan Wilayah,
                     dengan a) OA pinggang pada pria, b) OA pinggang pada wanita, c) OA
                     lutut pada pria, dan d) OA lutut pada wanita.


III.   PATOFISIOLOGI
              Osteoarthritis bukan hanya suatu kondisi kehilangan progresif dari kartilago,
       namun juga melibatkan kerusakan pada sinovial, tulang tempat kartilago berada
       (underlying bone), meniskus, ligamen, dan jaringan neuromuskular di sekitarnya.
Perubahan morfologis yang paling terlihat pada kondisi osteoarthritis biasa terlihat pada
area pusat beban di kartilago sendi.
       Osteoarthritis dapat berkembang dalam dua cara:
   Biomateri penyusun kartilago sendi dan tulang di bawahnya normal, namun terjadi
    kerusakan karena pemberian beban yang berlebihan.
   Beban yang diberikan tidak berlebihan, namun materi penyusun kartilago dan
    tulangnya tidak cukup kuat.
       Pada proses pembentukan tulang normal, perombakkan dan perbaikan terus
berulang dan berlangsung secara seimbang. Saat protein matriks yang rusak hilang maka
proses proteolitik berhenti dan kemudian kondrosit akan bekerja menggantikan matriks
tulang yang hilang. Namun pada penyakit osteoarthritis, aktivitas perombakkan dan
perbaikan tulang tidak seimbang, aktivitas perombakkan (katabolik) lebih besar daripada
perbaikan (anabolik).
       Jika dilihat dari progresnya, osteoarthritis dapat dibagi menjadi dua fase, awal dan
lanjutan. Pada fase awal, kartilago akan menjadi lebih tebal dari kondisi normal. Pada
fase lanjutan permukaan sendi akan menipis, kartilago melunak, dan kekuatan permukaan
sendi akan jauh berkurang, hingga terbentuk celah di permukaan. Proses perbaikan
berupa pembentukan jaringan fibrokartilago dapat terjadi, namun jaringan ini tidak
memiliki kemampuan menahan beban sebaik kartilago biasa.
       Fase awal atau disebut juga fase hipertrofi dimulai saat terjadinya kerusakan
kartilago sendi. Sebagai reaksi perbaikan tubuh, aktivitas dari kondrosit (chondrocytes)
mensintesa materi penyusun matriks akan meningkat. Sebagai hasilnya ukuran sendi akan
membesar (hipertrofi). Respons perbaikan hipertrofik ini tidak mengembalikan kondisi
kartilago seperti semula, namun justru menjadi langkah awal untuk terjadi kerusakan
kartilago yang semakin parah.
       Setelah    fase   hipertrofi,   terjadi   peningkatan    sintesis   enzim    matrix
metalloproteinase (MMP) 1, 3, 13, dan 28 yang menyebabkan laju perusakan kolagen
lebih besar dari laju pembentukannya, hasilnya terjadi pengurangan materi kartilago.
Stimulasi mediator inflamasi interleukin-1 (IL-1) dan Tumor Necrosis Factor-α (TNF- α)
terhadap kondrosit akan menyebabkan kondrosit menghasilkan Nitrit Oksida (NO). NO
kemudian akan menstimulasi sintesis MMP oleh kondrosit. Selanjutnya kondrosit
mengalami apoptosis akibat induksi enzim Nitric Oxide Synthase dan produksi dari
metabolit toksik. Akibatnya semakin sedikit jumlah kondrosit yang mampu mensintesis
komponen matriks. Kondrosit pada kondisi osteoarthritis juga kurang responsif terhadap
stimulus anabolik dari TNF-β untuk menghasilkan matriks penyusun. Pada kondisi ini
terjadi siklus progresif perusakan kartilago dan berkurangnya jumlah kondrosit.
       Selain kondrosit, tulang tempat sendi (underlying bone) juga turut berperan pada
kondisi osteoarthritis karena turut melepaskan peptida vasoaktif dan MMP. Peptida
vasoaktif   akan     menyebabkan     terbentuknya    pembuluh-pembuluh      darah   baru
(neovaskularisasi) dan terjadi peningkatan permeabilitas kartilago. Peningkatan
permeabilitas dan aktivitas MMP akan berkontribusi terhadap kehilangan kartilago yang
lebih banyak lagi.




                   Gambar 3.1 Kondisi fase lanjutan osteoartritis


       Kartilago yang semakin menipis akan meyebabkan rongga sendi mengecil dan
menghasilkan sendi yang berubah bentuk dan terasa sakit. Kartilago yang masih tersisa
akan melunak dan terbentuk celah (fibrilasi), dan tulang di bawah kartilago (underlying
bone) akan terekspos. Pada saat seluruh kartilago terkikis, tulang akan menjadi padat,
halus, dan terlihat berkilau (eburnation). Selanjutnya terbentuk tulang baru (osteophyte)
      dari faktor lokal dan humoral untuk membantu menstabilkan kondisi osteoartritis,
      dimulai dari sisi sendi yang jauh dari tempat kerusakan kartilago. Tulang baru ini lebih
      kaku, rapuh, dan kemampuan menahan bebannya lebih rendah.
             Pada kapsul sendi dan sinovium, terjadi inflamasi berupa pertambahan cairan
      sinovial. Sinovium terisi dengan sel limfosit T, dan kompleks imun terbentuk, terjadi
      peningkatan kadar IL-1, Prostaglandin, TNF-α, dan NO di cairan sinovial. Serpihan dari
      kartilago yang berada pada cairan sinovial juga berkontribusi terhadap inflamasi.
      Inflamasi ini yang kemudian menghasilkan rasa sakit karena mengaktivasi ujung saraf
      nosiseptor di dalam sendi. Selain disebabkan oleh inflamasi, rasa sakit juga dihasilkan
      dari efusi, kerusakan ligamen, sinovium (membran sinovial), dan meniskus sendi.


IV.   ETIOLOGI
             Osteoarthritis merupakan suatu penyakit multifaktorial, dan seringkali pada
      pasien ada lebih dari satu faktor resiko yang terlibat. Secara umum, osteoarthritis dapat
      digolongkan secara umum menjadi dua jenis:
         Osteoarthritis Primer
          Penyebab osteoarthritis primer tidak diketahui, dapat terjadi pada satu sendi atau
          melibatkan tiga kelompok sendi atau lebih. Osteoartritis primer diduga terkait dengan
          proses penuaan, dan gejalanya mulai muncul pada usia menengah. Pada usia sebelum
          55 tahun, kecenderungan pada pria sama dengan wanita, namun pada usia setelah 55
          tahun lebih sering dijumpai pada wanita. Kemungkinan dapat dipengaruhi oleh
          pemakaian sendi secara terus-menerus (wear and tear), pembedahan, faktor biokimia
          lokal, dan faktor genetis.
         Osteoarthritis Sekunder
          Merupakan kondisi osteoarthritis yang muncul akibat adanya kondisi lain seperti:
          o Tekanan / beban berlebihan pada sendi, misalnya pada kasus obesitas atau
             pekerjaan berat
          o Akibat adanya trauma sendi, penggunaan berlebihan sendi, bekas operasi pada
             sendi, dll. Dapat juga disebabkan penyakit tulang seperti Paget’s disease.
          o Faktor genetis, memiliki gen yang menyebabkan perusakan sendi
        o Penggunaan obat tertentu seperti kortikosteroid yang dapat menyebabkan nekrosis
            tulang


V.   DIAGNOSIS DAN SIMPTOM
            Simptom merupakan suatu keadaan abnormal tubuh yang dikeluhkan pasien
     kepada dokter. Simptom yang mungkin muncul pada pasien osteoarthritis antara lain:
      Nyeri sendi, biasanya berupa rasa sakit yang dalam dan terlokalisasi berhubungan
        dengan sendi yang dipengaruhi osteoarthritis. Persendian yang biasanya dipengaruhi
        adalah persendian distal interphalangeal (DIP) dan proximal interphalangeal (PIP)
        tangan, sendi utama pada carpometacarpal, lutut, pinggang, serviks, lumbar, dan sendi
        utama metatarsophalangeal di jari kaki.
      Keterbatasan pergerakan
      Kekakuan
      Krepitus, merupakan sensasi memarut yang ditimbulkan dari pergesekan antara
        permukaan synovial yang kering dari sendi - sendi
      Deformitas, terjadi akibat subluksasi (dislokasi parsial) tulang pada persendian.
      Inflamasi sinovitis, akibat pelepasan mediator inflamasi seperti prostaglandin dari
        kondrosit. Inflamasi ini biasanya ditandai dengan adanya rasa hangat, kemerahan, dan
        sendi.
            Diagnosis merupakan proses menentukan kondisi penyakit melalui serangkaian
     pemeriksaan atau pengujian (Gupta&Gupta, 2002). Untuk osteoarthritis, diagnosis
     dilakukan berdasarkan pemeriksaan fisik, segi klinis, dan radiografi (X-ray). Pemeriksaan
     fisik terhadap sendi ditandai dengan pengempukan, krepitasi, dan pembesaran sendi (ISO
     Farmakoterapi, p.630).
            Radiograf pada tahap awal osteoarthritis akan memperlihatkan keadaan normal,
     tetapi seiring perkembangan tingkat keparahan penyakit adanya penyempitan ruang
     antara persendian menjadi bukti hilangnya artikular kartilago. Dari pemeriksaan
     radiografi dapat pula ditemukan sklerosis tulang subchondral, subchondral cysts,
     osteophytosis (pembentukan osteofit), perubahan kontur persendian dan subluksasi
     (dislokasi parsial). Untuk deteksi kerusakan kartilago ligament , dan tendon yang tidak
     dapat terlihat pada pemeriksaan dengan X-ray dapat digunakan MRI.
                Identifikasi lainnya untuk diagnosis penyebab osteoarthritis sekunder, dapat
      dilakukan dengan pengujian laboratorium. Pengujian dilakukan dengan menganalisis
      cairan synovial dan juga erythrocyte sedimentation rate (ESR). Pada osteoarthritis di
      persendian lutut, analisis laboratorium terutama dilakukan dengan menganalisis cairan
      synovial dan pengujian ini akan menunjukkan adanya leukositosis ringan (<2000
      WBC/μL) dengan banyak sel mononuclear. Analisis cairan synovial ini dilakukan untuk
      membedakan osteoarthritis dari penyakit akibat deposisi kalsium pirofosfat, gout, dan
      septic arthritis (Harrison’s Principle of Internal Medicine, p.2040).
                Erythrocyte sedimentation rate (ESR) merupakan suatu indikator nonspesifik
      inflamasi pada bagian – bagian tubuh. Laju sedimentasi meningkat karena adanya
      peningkatan jumlah fibrinogen dan Igs yang meningkatkan penggumpalan RBC. Nilai
      ESR yang rendah menandakan adanya penyakit dalam yang serius.
                Secara umum tanda – tanda yang harus diperhatikan dalam diagnosis untuk OA
      pada persendian lutut, tangan, dan pinggang dipaparkan pada tabel berikut:
                   OA Lutut                       OA Tangan                   OA Pinggang
      - Sakit pada lutut                 - Sakit pada persendian       - Sakit pinggang
      - Umur pasien > 50 tahun            tangan                       - Hasil radiografi
      - Kaku persendian di pagi hari - Pembesaran pada 2 – 10           memperlihatkan osteofit
        ≤ 30 menit                        sendi (DIP atau PIP)          dan penyempitan ruang
      - Pengempukkan persendian          - Pembesaran pada > 2          antar persendian
        lutut                             sendi DIP                    - Kaku persendian di pagi
      - Bengkak pada lutut               - Bengkak pada                 hari hingga 1 jam
      - ESR <40 mm/jam                    metacarpalphalangeal         - Umur pasien >50 tahun
      - Pemeriksaan cairan synovial       (MCP)                        - Putaran persendian
        menghasilkan WBC <               - Deformasi pada > 1           <15%
                    3
        2000/mm                           sendi                        - ESR < 20 mm/jam


VI.   FAKTOR RESIKO
      Faktor resiko terjadinya penyakit osteoarthritis dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu
      faktor resiko yang dapat dimodifikasi dan tidak dapat dimodifikasi. Faktor resiko yang
      dapat dimodifikasi antara lain trauma, benturan berulang karena pekerjaan atau olahraga,
dan obesitas. Faktor resiko yang tidak dapat dimodifikasi misalnya umur, ras, faktor
genetik, jenis kelamin, kelainan bawaan, dan kelainan metabolik atau sistem endokrin.


Beberapa faktor resiko tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut :
   Obesitas
    Obesitas dianggap sebagai salah satu faktor resiko terjadinya osteoarthritis terutama
    yang mempengaruhi lutut dan tangan serta obesitas ini juga berkontribusi dalam
    pengembangan penyakit tersebut. Obesitas menyebabkan osteoarthritis dengan
    meningkatkan tekanan mekanik pada kartilago. Setelah penuaan, obesitas adalah
    faktor risiko yang paling kuat untuk osteoarthritis pada lutut. Perkembangan yang dini
    dari osteoarthritis dari lutut-lutut diantara atlet-atlet angkat besi dipercayai adalah
    sebagian disebabkan oleh berat badan mereka yang tinggi. Berdasarkan The
    Framingham Study, semakin berat badan seseorang maka semakin tinggi pula resiko
    untuk terkena osteoarthritis pada orang tersebut. Resiko yang terjadi, yaitu sebesar
    1,5-1,9 untuk laki-laki dan 2,1-3,2 untuk wanita. Resiko sebesar 1,5 untuk laki-laki
    dan 2,1 untuk wanita ini pada umumnya terjadi pada umur 36 tahun. Studi lain
    menyatakan bahwa indeks massa tubuh yang tinggi pada laki-laki berkaitan dengan
    perkembangan     lebih   lanjut   dari   penyakit   osteoarthritis.   Resiko   terjadinya
    perkembangan penyakit osteoarthritis dapat meningkat sekitar 10% seiring dengan
    penambahan berat badan. Untuk penderita obesitas yang tidak terkena penyakit
    osteoarthritis, kehilangan berat badan 5 kg dapat menurunkan resiko terkena penyakit
    ini di masa mendatang sebesar 50%.


   Pekerjaan dan olahraga
    Adanya aktivitas dengan pergerakan berulang dapat meningkatkan resiko untuk
    perkembangan penyakit osteoarthritis. Pekerja yang mengalami benturan berulang
    pada tangan atau tungkai bawah mempunyai resiko lebih tinggi untuk menderita
    osteoarthritis karena adanya tekanan pada sendi. Osteoarthritis ini berhubungan
    dengan aktivitas fisik seperti gulat, angkat besi, dan sepak bola. Di lain pihak, lemah
    otot karena kurang olahraga juga dapat menyebabkan ketidakmampuan dalam
    menyangga sendi diikuti dengan pergerakan sendi yang abnormal sehingga dapat
    menyebabkan osteoarthritis. Resiko untuk terkenanya osteoarthritis ini tergantung
    pada tipe dan intensitas aktivitas fisik. The Framingham Study menunjukkan bahwa
    aktivitas fisik yang semakin berat dapat meningkatkan resiko menderita osteoarthritis.
    Walaupun demikian, pada pelari jarak jauh tidak terjadi peningkatan resiko
    perkembangan osteoarthritis.


   Trauma
    Trauma yang berulangkali pada jaringan-jaringan sendi (ligamen-ligamen, tulang-
    tulang, dan kartilago) dipercayai mengarah pada osteoarthritis dini. Orang tua pada
    umur 65 tahun yang pernah mengalami cedera pada sendi-sendinya pada waktu muda
    lebih cepat mengalami perkembangan osteoarthritis, yaitu resikonya sebesar dua kali
    lebih tinggi dibandingkan dengan orang yang tidak pernah mengalami cedera sendi.


   Faktor genetik
    Faktor genetik mempunyai pengaruh yang berbeda-beda tergantung dari jenis arthritis
    yang terjadi. Munculnya Heberden nodes 10 kali lebih umum terjadi pada wanita
    daripada laki-laki. Suatu studi menyatakan bahwa osteoarthritis dipengaruhi oleh
    faktor genetik, yaitu 39%-65% untuk osteoarthritis yang terjadi pada tangan, 60%
    untuk osteoarthritis yang terjadi pada pinggul, dan 70% untuk osteoarthritis yang
    terjadi pada tulang belakang. Untuk studi mengenai gen yang terkait dengan
    osteoarthritis telah digunakan dalam penentuan pengaruh genetik pada osteoarthritis
    dan telah teridentifikasi beberapa kandidat gen yang mengkode protein struktural
    pada matriks ekstraseluler kartilago dan tulang serta protein yang mengatur densitas
    tulang. Adanya mutasi pada gen teridentifikasi pada osteoarthritis sekunder,
    sedangkan pada osteoarthritis prime, mutasi ini tidak teridentifikasi.


   Kelainan bawaan
    Beberapa orang dilahirkan dengan sendi-sendi yang terbentuk abnormal (kelainan-
    kelainan kongenital) yang rentan terhadap pengikisan mekanik yang dapat
    menyebabkan degenerasi dan sejak dini kehilangan tulang rawan sendi. Contoh
    kelainan bawaan adalah kaki bentuk O atau X. Osteoarthritis pada sendi-sendi
           pinggul umumnya dihubungkan pada kelainan-kelainan dari sendi-sendi ini yang
           telah ada sejak lahir.


          Umur
           Umur merupakan faktor resiko penting untuk osteoarthritis. Dalam suatu penelitian,
           wanita yang berumur kurang dari 45 tahun hanya 2% terkena osteoarthritis, wanita
           diantara umur 45-64 tahun prevalensinya sebesar 30% dan lebih dari 65 tahun sebesar
           68%.


          Jenis kelamin
           Sebelum umur 45 tahun, osteoarthritis terjadi lebih sering pada laki-laki. Setelah
           umur 55 tahun, osteoarthritis terjadi lebih sering pada wanita.


          Ras
           Kejadian osteoarthritis pada orang kulit hitam menderita osteoarthritis mempunyai
           prevalensi lebih kecil daripada orang kulit putih pada populasi yang sama. Kejadian
           yang lebih tinggi dari osteoarthritis ada pada populasi Jepang, sementara orang-orang
           hitam Afrika Selatan dan China Selatan mempunyai angka-angka yang lebih rendah.


          Kelainan metabolik atau sistem endokrin
           Gangguan-gangguan metabolik, seperti diabetes dan penyakit-penyakit karena
           hormon pertumbuhan berhubungan dengan pengikisan kartilago yang dini dan
           osteoarthritis sekunder. Adanya endapan-endapan kristal pada kartilago juga dapat
           menyebabkan degenerasi kartilago dan osteoarthritis.


VII.   PENANGANAN NON FARMAKOLOGI
               Terapi non farmakologi pada pasien osteoarthritis
       1. Edukasi pasien dan konseling
                   Edukasi pasien merupakan langkah pertama dalam pengobatan osteoarthritis.
           Pasien perlu diberikan edukasi tentang proses penyakit, tingkat keparahan, prognosis,
           dan pilihan terapi. Pada orang lanjut usia, penyakit ini merupakan sebuah
   konsekuensi dari penuaan yang tidak dapat dihindari. Banyak pasien memilih untuk
   menjalani pengobatan tradisional, untuk itu perlu diberikan edukasi. Dengan
   konseling, pasien mendapatkan informasi tentang gejala, fungsi pengobatan dalam
   pengurangan rasa nyeri sehingga dapat meningkatkan aktivitas fisik pasien dan
   kualitas hidupnya, dan dengan biaya yang relatif rendah.


2. Fisioterapi
              Terapi fisik yang dapat dilakukan antara lain terapi dengan menggunakan
   panas atau dingin serta program latihan. Terapi fisik ini bertujuan untuk membantu
   mempertahankan dan mengembalikan sendi gerak dan untuk mengurangi rasa nyeri
   dan kejang otot. Mandi dengan air hangat dapat menurunkan nyeri dan kekakuan.
   Heating pads harus digunakan dengan hati-hati terutama pada orang tua. Untuk
   menghindari luka bakar, pasien tidak diperbolehkan berbaring pada sumber panas
   lebih dari waktu yang diperbolehkan.
              Program latihan atau olahraga dapat meningkatkan fungsi fisik dan
   mengurangi sakit sehingga dapat mengurangi penggunaan analgesik. Latihan isotonik
   dapat memperburuk sendi yang terserang osteoartritis. Oleh karena itu latihan
   isometrik lebih dianjurkan. Perlu dilakukan pelatihan terlebih dahulu hingga pasien
   dapat melakukannya sendiri dengan baik di rumah. Idealnya tiga hingga empat kali
   sehari. Jika sakit berkembang parah selama menjalani proses latihan ini, frekuensi
   latihan harus dikurangi karena dengan kondisi otot yang lemah dan beban berlebihan
   pada sendi dapat memperburuk simptom.
              Terapi fisik ini sangat dianjurkan bagi pasien dengan cacat fungsional. Terapis
   dapat menilai kekuatan otot dan stabilitasnya serta merekomendasikan latihan dan
   metode dalam melindungi sendi dari beban yang berlebihan. Terapis juga
   menyediakan alat bantu dan orthotic seperti tongkat, alat bantu berjalan, braces, heel
   cups, splints, atau insoles yang dapat digunakan selama beraktivitas dan proses
   latihan.
3. Perbaikan faktor-faktor kondisi pasien yang dapat memperburuk efek
  osteoarthritis
         Efek dari osteoarthritis dapat diperburuk oleh berbagai         kondisi,   beberapa
  diantaranya berpotensi diperbaiki, setidaknya sebagian. Tindakan perbaikan yang
  dapat dilakukan meliputi:
  -   Penurunan berat badan
      Kelebihan    berat    badan   dapat       meningkatkan    beban     sendi-sendi   dalam
      biomekaniknya. Oleh karena itu dianjurkan pasien osteoartritis dengan kelebihan
      berat badan untuk melakukan diet. Diet yang terstruktur dan disertai dengan
      olahraga dapat menurunkan symptom yang dialami pasien. Kombinasi yang baik
      adalah penurunan berat badan yang sedang (5%) dan olahraga teratur.
  -   Terapi penyakit yang bersamaan
      Apabila pasien menderita penyakit lain, harus dilakukan terapi seiring dengan
      terapi untuk osteoartritis sehingga kualitas hidup pasien dapat meningkat.
  -   Bedah atau ortopedi terhadap kelainan anatomi
      Operasi direkomendasikan bagi pasien osteoartritis dengan cacat fungsional dan
      sakit parah, tidak responsive terhadap terapi konservatif. Artroplasti (penggantian
      sendi total) lutut dikembangkan oleh National Institutes of Health. Demikian juga
      artroplasti panggul. Hal ini didasarkan pada tinjauan kritis para ahli dan literatur.
      Untuk pasien dengan penyakit tingkat lanjut, artroplasti total atau sebagian dapat
      menghilangkan rasa sakit dan memperbaiki gerak. Dengan hasil yang maksimal
      setelah artroplasti lutut atau panggul.
      Pilihan operasi lain antara lain arthrodesis (fusi bersama) dapat mengurangi rasa
      sakit tapi akan membatasi ruang gerak, cocok untuk sendi yang lebih kecil yang
      menyebabkan rasa sakit yang keras. Untuk pasien dengan osteoartritis lutut
      ringan,   osteotomi     (pengangkatan       jaringan   tulang)    dapat   memeperbaiki
      misalignment dari varum genu atau genu valgum. Selain itu, osteotomis dari
      pelvis atau tulang paha dapat memperbaiki misalignment osteoartritis di panggul,
      serta memperlambat proses penyakit.
VIII. PENANGANAN FARMAKOLOGI DAN INTERAKSI OBAT
                                                 Nyeri berkaitan dengan OA pada sendi
                                      Ya                                                     Tidak


 Terapi non farmakologi dikombinasikan dengan obat :                                 Evaluasi:
 Istirahat, terapi fisik , Modifikasi diet, Edukasi tentang                          Radang, Tendonitis, Nyeri otot
 penyakit, Alat bantu


                    Respon memadai?

         Ya                                   Tidak


   Lanjutkan terapi           Analgesik :
                              Asetaminofen, kapsaisin topikal
                              Pertimbangkan glukosamin/chondroitin
                              sulfat

                                            Respon memadai?

                         Ya                              Tidak

              Lanjutkan terapi
                                                          NSAID                               Untuk pasien :
                                            Pilih produk berdasarkan :              - Usia > 65 tahun
                                            - Harga (generik)                       - Kondisi pengobatan abnormal
                                            - Gangguan saluran cerna                - Penggunaan glukokortikoid
                                              karena NSAID (peptic                    oral
                                              ulcer/intoleransi GIT)                - Sejarah penyakit peptic ulcer
                                            - Alergi NSAID atau aspirin             - Sejarah pendarahan saluran
                                            - Sejarah disfungsi jantung,              cerna bagian atas
                                              ginjal, hati, hipertensi              - Penggunaan antikoagulan oral :
                                            - Sejarah gangguan pendarahan           Pilih :
                                            - Penggunaan bersama obat               - Inhibitor COX-2, atau
                                              lainnya                               - NSAID + PPI, atau
                                                                                    - NSAID + misoprostol


                                               Masa percobaan : 1-2 minggu untuk meredakan
                                               nyeri, 2-4 minggu jika terdapat inflamasi



                                                                 Respon memadai?
                                                      Ya                             Tidak

                                           Lanjutkan terapi                    Coba NSAID lain

                                                       Ya
                                                                               Respon memadai?
                                                                                          Tidak
                                                                            Pertimbangkan pemberian analgesik
                                                                        narkotik, injeksi hialuronat atau pembedahan
1. Asetaminofen
          The American College of Rheumatology merekomendasikan asetaminofen
   sebagai first-line terapi obat untuk nyeri yang disebabkan oleh OA. Alasannya adalah
   karena asetaminofen lebih aman, efikasi, dan biayanya lebih murah dibandingkan
   obat-obatan golongan NSAIDs. Asetaminofen dilaporkan memiliki hasil yang sama
   dengan aspirin, naproxen, ibuprofen, dan NSAIDs lainnya dalam mengatasi nyeri,
   walaupun banyak pasien merespon lebih baik terhadap NSAIDs.
          Asetaminofen bekerja pada sistem saraf pusat dengan penghambatan sintesis
   prostaglandin, suatu zat kimia yang dapat meningkatkan sensasi nyeri. Asetaminofen
   mencegah sintesis prostaglandin melalui penghambatan kerja dari siklooksigenasi
   pusat. Asetaminofen diserap dengan baik melalui rute oral, dengan bioavailibiltas
   60% sampai 98% dan mencapai konsentrasi puncak dalam waktu 1 sampai 2 jam.
   Obat diinaktivasi di dalam hati melalui reaksi konjugasi dengan sulfat atau
   glucuronide, kemudian metabolitnya diekskresi melalui renal.
          Untuk nyeri OA yang ringan sampai sedang                dapat menggunakan
   asetaminofen dengan dosis 2,6 sampai 4 g/hari, aspirin 650 mg empat kali sehari, dan
   AINS, termasuk ibuprofen dengan dosis 1200 – 2600 mg per hari, dan naproxen 750
   mg per hari. Meskipun beberapa penelitian menunjukkan efikasi yang sebanding
   antara asetaminofen dengan AINS, penelitian lainnya melaporkan berdasarkan
   pengalaman pasien bahwa AINS mengendalikan nyeri lebih baik daripada
   asetaminofen. Pasien OA lebih memilih AINS daripada asetaminofen dalam clinical
   trial, tetapi ketika pasien memilih dengan mempertimbangkan efek sampingnya,
   pasien lebih memilih asetaminofen daripada AINS.
          Walaupun asetaminofen merupakan analgesic yang paling aman digunakan,
   asetaminofen juga memiliki beberapa resiko, yang utama adalah hepatotoksisitas dan
   mungkin terjadi toksisitas ginjal pada penggunaan jangka panjang. Overdosis
   asetaminofen dapat menyebabkan hepatotoksik yang serius, bahkan kematian.
          Ketika digunakan pada penderita OA kronis, asetaminofen harus digunakan
   teratur. Dapat digunakan dengan atau tanpa makanan. Dosis asetaminofen yang
   digunakan yaitu 325 – 650 mg setiap 4 sampai 6 jam, tapi total dosis yang digunakan
   tidak boleh lebih dari 4 g/hari. Bagi pasien dengan kondisi alkoholik kronis, tidak
   boleh menggunakan asetaminofen lebih dari 2 g/hari.


   Interaksi obat-obat dan interaksi obat-makanan
   Interaksi obat dengan asetaminofen dapat terjadi, misalnya, isoniazid dapat
   meningkatkan resiko hepatotoksik. Penggunaan asetaminofen jangka panjang dapat
   memperkuat efek antikoagulan pada pasien yang menggunakan warfarin, sehingga
   pasien tersebut perlu pemantauan intensif. Walaupun makanan dapat menurunkan
   konsentrasi serum maksimum asetaminofen, efikasi yang ditimbulkan secara
   keseluruhan tidak mengalami perubahan.


2. Obat Topikal
   a. Kapsaisin
      Kapsaisin merupakan hasil isolasi dari lada merah yang menyebabkan pelepasan
      dan pengosongan substansi P dari serabut saraf. Kapsaisin bermanfaat dalam
      menghilangkan rasa sakit pada OA jika digunakan secara topikal pada sendi yang
      dipengaruhi. Kapsaisin dapat digunakan sendiri atau kombinasi dengan analgesik
      oral atau AINS. Agar efektif, kapsaisin harus digunakan secara teratur dan dapat
      membutuhkan waktu hingga 2 minggu untuk bekerja. Kejadian merugikan terkait
      dengan kapsaisin, terutama terjadi secara lokal, 1 dari 3 pasien mengalami rasa
      terbakat, sengatan, dan/atau eritema pada area yang dioleskan. Kapsaisin
      merupakan produk non-resep yang tersedia dalam bentuk krim, gel, atau lotion
      dengan rentang konsentrasi dari 0,025% sampai 0,075%. Pasien harus
      diperingatkan untuk tidak mengoleskan krim ini pada mata atau mulut dan untuk
      mencuci tangan setelah penggunaan.
   b. Pennaid
      Diklofenak dalam pembawa dimetil sulfoksida (Pennsaid) topikal merupakan
      terapi yang aman dan efektif untuk nyeri yang terkait dengan OA. Mekanisme
      kerja dari AINS topikal yaitu menghambat enzim COX-2 secara lokal. Hal ini
      meminimalisasi paparan sistemik dan dapat menurunkan resiko efek samping
      dibandingkan ketika digunakan secara oral.
3. NSAID
         NSAIDs bekerja dengan menginhibisi sintesis siklooksigenase (enzim COX-1
  dan COX-2) sehingga dapat meredakan rasa nyeri dan inflamasi. Berikut ini adalah
  gambaran mengenai target NSAIDs.




         Enzim COX-1 berperan dalam fungsi fisiologis rutin seperti menghasilkan
  prostaglandin untuk meningkatkan aliran darah ke saluran cerna. COX-1
  diekspresikan di mukosa saluran cerna, sel-sel endotelial vaskular, platelet, dan distal
  pengumpul pada ginjal. COX-2 umumnya tidak diekspresikan di kebanyakan jaringan
  tubuh, tapi dengan cepat terinduksi oleh mediator inflamatori, injury lokal, dan
  sitokin termasuk interleukin, interferon, dan TNF (Tumor Necrosis Factor). Inhibisi
  COX-1 sangat tidak diinginkan dan dapat menyebabkan tukak saluran cerna dan
  meningkatkan resiko perdarahan akibat inhibisi dari agregasi platelet. Inhibisi spesifik
  COX-2 disebut diinginkan karena memberikan efek antiinflamasi dan analgesik.
         NSAIDs nonspesifik dan inhibitor COX-2 menunjukan mekanisme yang
  berbeda. NSAIDs nonspesifik berpenetrasi terhadap COX-1 dan 2 dan menghalangi
  masuknya substrat, asam arakidonat. Inhibitor COX-2 bersifat lebih poten dalam
  menginhibisi COX-2 karena afinitasnya yang kuat. Inhibitor spesifik COX-2 dapat
  meredakan nyeri bagi pasien osteoarthritis dengan resiko gangguan saluran cerna
  yang lebih kecil daripada NSAIDs nonspesifik. Inhibitor selektif COX-2 dirancang
  untuk mengurangi induksi gastropati (misalnya ulkus, pendarahan, perforasi), karena
  munculnya efek kardiovaskuler (misalnya miokard infark, stroke), maka inhibitor
COX-2 ini direkomendasikan untuk pasien yang memiliki resiko tinggi terhadap efek
GI dan resiko rendah terhadap toksisitas kardiovaskuler.
        NSAIDs mempunyai ketersediaan hayati oral yang tinggi, high protein
binding, dan diabsorpsi sebagai bentuk aktifnya (kecuali sulindac dan nabumetone
yang dimetabolisme di hati). Waktu paruh serum NSAIDs berkisar dari 1 jam (untuk
tolmetin) hingga 50 jam (untuk piroksikam). Eliminasi NSAIDs sangat bergantung
inaktivasi di hati, dengan sedikit bentuk aktif yang diekskresikan melalui ginjal.
NSAIDs juga dapat berpenetrasi ke cairan persendian.
        NSAIDs yang diresepkan untuk pasien OA setelah terapi dengan
asetaminofen terbukti tidak efektif, atau untuk pasien dengan inflammatory OA.
Semua NSAIDs dan aspirin mempunyai efek analgesik dan antiinflamasi yang sama.
Efek analgesik dimulai dalam beberapa jam, sedangkan efek antiinflamasi
membutuhkan 2-3 minggu terapi. NSAIDs memberikan respon yang berbeda pada
tiap pasien. Untuk menilai khasiat NSAIDs bagi seorang pasien, perlu dilakukan
percobaan (2-3 minggu). Jika percobaan pertama gagal, dapat dicoba NSAIDs lain
(kelas kimia yang sama atau berbeda) hingga diperoleh yang efektif. Kombinasi dua
NSAIDs dapat meningkatkan efek samping, dan tidak memberikan keuntungan
tambahan.
        Berikut ini adalah dosis dan frekuensi untuk masing-masing jenis NSAIDs
dalam terapi osteoarthritis:
                                                                    Dosis Maksimum
           NSAIDs                        Dosis & Frekuensi
                                                                       (mg/hari)
 Asam           karboksilat: 325-650 mg tiap 4-6 jam untuk nyeri;        3600
 acetylated salicylates        dosis antiinflamasi mulai 3600 mg
 Aspirin                       dalam dosis terbagi
 Nonacetylated
 salicylates:
 Salsalate                          500-1000 mg 2-3 kali sehari          3600
 Diflunisal                          500-1000 mg 2 kali sehari           1500
 Choline salicylate                 500-1000 mg 2-3 kali sehari          3000
 Choline         magnesium          500-1000 mg 2-3 kali sehari          3000
 salicylate
 Asam asetat:
 Etodolac                     800-1200 mg/hari dalam dosis terbagi       1200
 Diclofenac                   100-150 mg/hari dalam dosis terbagi        200
 Indometasin                          25 mg 2-3 kali sehari              200
 Ketorolac                             10 mg tiap 4-6 jam                 40
 Nabumetone                       500-1000 mg 1-2 kali sehari            2000
 Asam propionat:
 Fenoprofen                        300-600 mg 3-4 kali sehari            3200
 Flubiprofen                    200-300 mg/hari dalam 2-4 dosis          300
 Ibuprofen                                   terbagi                     3200
 Ketoprofen                    1200-3200 mg/hari dalam 3-4 dosis         300
 Naproxen                                    terbagi                     1500
 Naproxen sodium                150-300 mg/hari dalam 3-4 dosis          1375
 Oxaprozin                                   terbagi                     1800
                                    250-500 mg 2 kali sehari
                                    275-550 mg 2 kali sehari
                                     600-1200 mg tiap hari
 Fenamat:
 Meclofenamat                   200-400 mg/hari dalam 3-4 dosis          400
 Asam mefenamat                              terbagi                     1000
                                       250 mg tiap 6 jam
 Oxicam:
 Piroxicam                             10-20 mg tiap hari                 20
 Meloxicam                              7,5 mg tiap hari                  15
 Coxib:
 Celecoxib                    100 mg 2 kali sehari atau 200 mg tiap      200
 Valdecoxib                                   hari                        10
                                         10 mg tiap hari


          Efek samping yang paling umum antara lain mual, dispepsia, anoreksia, nyeri
pada perut, flatulen, dan diare. Untuk meminimalkan gejala ini, NSAIDs sebaiknya
dikonsumsi bersama dengan makanan atau susu, kecuali untuk produk salut enterik
yang tidak boleh dikonsumsi dengan susu atau antasid. Semua NSAIDs berpotensi
menyebabkan perdarahan di saluran cerna. NSAIDs yang tidak terionisasi memasuki
sel-sel mukosa, melepaskan ion hidrogen, dan terkonsentrasi di dalam sel,
mengakibatkan kerusakan atau kematian sel. Gastric mucosal injury juga dapat
diakibatkan inhibisi prostaglandin yang merupakan gastroprotektif. Faktor resiko
untuk NSAID yang berkaitan dengan ulkus dan komplikasi ulkus (perforasi, obstruksi
lambung, pendarahan GI) termasuk peningkatan usia, kondisi medis penyerta
(misalnya penyakit kardiovaskuler), seiring terapi kortikosteroid atau antikoagulan,
dan sejarah penyakit ulkus lambung atau pendarahan GI bagian atas. Untuk pasien
OA yang membutuhkan NSAID tetapi memiliki resiko tinggi terhadap komplikasi GI,
pihak ACR (American College of Rheumatology) merekomendasi untuk memasukkan
inhibitor selektif COX-2 atau NSAID non-selektif dengan kombinasi inhibitor pompa
proton atau misoprostol.
       NSAIDs juga dapat menyebabkan penyakit-penyakit ginjal, hepatitis, reaksi
hipersensitivitas, ruam, dan keluhan sistem saraf pusat seperti rasa kantuk, pusing,
depresi, kebingungan, dan tinnitus. Seluruh NSAIDs non-selektif menghambat COX-
1 yang merangsang produksi tromboksan di platelet, sehingga meningkatkan resiko
pendarahan. NSAIDs harus dihindari pada akhir kehamilan karena resiko penutupan
dini dari ductus arteriosus.
       Faktor resiko yang turut berkontribusi terhadap morbidity dan kematian antara
lain usia, sejarah tukak peptik atau perdarahan saluran cerna, atau penyakit
kardiovaskular. Antagonis reseptor H2 mencegah tukak duodenal yang diinduksi oleh
NSAIDs, dan pada dosis tinggi dapat mencegah tukak gastrik. Misoprostol memberi
perlindungan terhadap kemungkinan tukak, baik duodenal maupun gastrik, dan juga
komplikasinya. Karena sifatnya sebagai abortifasien, misoprostol dikontraindikasikan
selama kehamilan.
           Interaksi obat yang paling berpotensi serius seiring dengan penggunaan
NSAIDs bersama dengan litium, warfarin, hipoglikemi oral, metrotrexate dosis
tinggi, antihipertensi, inhibitor ACE, β-bloker, dan diuretikum.
4. Analgesik Opioid
          Analgesik opioid digunakan jika terapi dengan asetaminofen, NSAIDs, injeksi
   intraartikular, ataupun topical belum menunjukan hasil yang diinginkan. Analgesik
   opioid ini ditujukan untuk pasien yang tidak bisa menggunakan NSAID karena gagal
   ginjal dan juga pasien yang berisiko tinggi terhadap pembedahan. Penggunaan
   opioid dosis rendah biasanya dikombinasikan dengan asetaminofen.
          Salah satu obat golongan analgesic opioid yang digunakan untuk terapi OA
   adalah tramadol. Penggunaan tramadol dimulai dari dosis 100 mg/hari , kemudian di
   titrasi untuk mencapai dosis yang di butuhkan untuk meredakan nyeri hingga 200
   mg/hari. Tramadol tersedia dalam bentuk tablet kombinasi dengan asetaminofen dan
   tablet lepas lambat. Efek samping dapat berupa mual, muntah, pusing, konstipasi,
   sakit kepala, dan mengantuk. Walaupun frekuensi munculnya efek samping cukup
   tinggi, namun keparahan efek samping ini lebih rendah di banding NSID.


5. Glukosamin dan Chondroitin
          Glukosamin dan chondroitin memalui pengujian in vitro dapat memicu
   sintesis proteoglikan. Keduanya cukup aman digunakan, terutama untuk pasien
   dengan risiko efek samping yang tinggi seperti pasien usila lanjut. Glukosamin dan
   kondroitin dapat mengurangi rasa sakit, dan meningkatkan mobilitas. Sedangkan
   glukosamin mengurangi penyempitan ruang sendi. Pada pasien yang menggunakan
   glukosamin, menunjukan rendahnya tingkat rasa nyeri, penyempitan ruang sendi, dan
   keterbatasan fungsi fisik. Dosis glukosamin minimal 1500 mg/hari, sedangkan dosis
   chondroitin 1200 mg/hari. Glukosamin terbuat dari kerang-kerangan, sehingga harus
   dihindarkan dari pasien yang memiliki alergi terhadap kerang-kerangan.


6. Kortikosteroid
           Injeksi intraaartikular glukorkotikod meredakan nyeri, terutama ketika efusi
   sendi. Setelah injeksi, pasien harus meminimalakan aktivitas dan tekanan pada sendi
   untuk beberapa hari. Rasa nyeri akan mereda seletah 24 hingga 72 jam setelah injeksi,
   dengan puncaknya setelah 1 minggu dan berlangsung hingga 4-8 minggu setelah
   injeksi. Dosis triamnicolone 10-20 mg dan metilprednisolon 20-40 mg. Pemberian
   terapi ini terbatas hanya 3 sampai 4 kali dalam setahun karena dapat berpotensi
   menyebabkan efek sistemik dari steroid dan semakin sering pemberian injeksi akan
   menurunkan respon terhadap terapi.
           Efek samping yang ditimbulkan dapat berupa efek lokal ataupun sistemik.
   Efek samping sitemik meliputi hiperglikemik, edema, meningkatkan tekanan darah,
   dyspepsia, dan penekanan adrenal untuk penggunaan jangka panjang. Efek samping
   lokal dapat menyebabkan infeksi lokal pada persendian, osteonekrosis, pecahnya
   tendon, dan atropi kulit pada lokasi injeksi. Terapi sistemik dengan kortikosteroid
   tidak dianjurkan untuk OA karena kurang memberikan manfaat dan menimbulkan
   efek samping untuk penggunaan jangka panjang.


7. Injeksi Hyaluronate
          Asam     hialuronat ( Hyaluronic acid/HA )digunakan untuk menangani
   osteoarthritis pada lutut. HA merupakan komponen penting dalam cairan synovial.
   Sedangkan HA endogen berperan sebagai antiinflamasi. Pada pasien OA, konsentrasi
   dan ukuran molekul synovial HA mengalami penurunan, oleh karena itu dengan
   pemberian HA eksogen dapat merekonstitusi cairan synovial dan mengurangi gejala.
          Contoh produk HA adalah Hyalgan (20 mg sodium hyaluronate/2mL),
   Supartz (25 mg sodium hyaluronate/2,5mL), Synsisc (16 mg hylan polymers/2mL),
   dan Orthovisc (30 mg hyaluronan/2 mL). Hyalgan dan Supartz digunakan setiap
   minggu untuk lima kali injeksi, sedangkan Synvisc dan Orthovisc digunakan setiap
   minggu untuk tiga kali injeksi. Injeksi HA dapat ditoleransi dengan baik, walaupun
   terjadi pembengkaan sendi dan reaksi lokal pada kulit seperti ruam.
          Penggunaan injeksi HA cukup mahal karena merupakan harga obat dan
   penggunaannya. HA mungkin memberikan efek yang diinginkan untuk osteoarthritis
   lutut yang sebelumnya tidak menunjukan respon terhadap terapi lain. Injeksi HA
   sering digunakan jika penggunaan terapi lainnya yang lebih murah tidak
   menunjukkan efek.
IX.   STUDI KASUS
             Nyonya X, 42 tahun, merupakan mantan pelari maraton selama berada di bangku
      kuliah dan tetap sering berlari dan latihan hingga berumur 30 tahun-an. Namun selama 5
      tahun terakhir, dikarenakan pekerjaannya, ia tidak dapat berlatih sesering dulu, dan 2
      tahun terakhir ini dia berhenti berlatih secara total, mulai merokok dan berat badannya
      naik 7-8 kilogram. Selama rentang waktu itu pula ia mulai merasakan kesulitan
      menggerakkan lutut kirinya. Lutut kiri Nyonya X pernah mengalami cedera saat latihan
      semasa kuliah dulu.
             Akhir-akhir ini Nyonya X sering mengalami keletihan, kadang lututnya yang
      kaku   dan berderak terasa sangat sakit. Lututnya pun menjadi merah dan bengkak
      terutama jika ia bekerja hingga larut malam.
             Nyonya X cukup familiar dengan komplikasi arthritis sebab tahun lalu ayahnya
      yang juga mantan atlet menjalani operasi rekonstruksi ACL.
             Nyonya X bersedia menjalani operasi rekonstruksi namun ia tidak mau menjadi
      tambah parah dan terlihat tua karena penyakitnya. Ia juga ingin tahu bagaimana
      mengurangi rasa sakit serta apa sebenarnya penyakit yang dideritanya.


      Jawab :
      Gejala utama osteoarthritis:
      -   Nyeri akut, kaku pada sendi atau dekat sendi (Cuaca lembab dan dingin akan
          meningkatkan rasa sakit pada banyak pasien).
      -   Suara berderak (krepitus) pada saat menggerakkan sendi.
      -   Kemungkin mengalami otot kejang dan kontraksi dalam tendon.
      -   Inflamasi ringan (dapat menyebabkan merah, bengkak, terasa hangat, dan sendi yang
          empuk)
      -   Sesekali persendian juga dapat diisi dengan cairan.
             Nyeri pada daerah sekitar sendi yang terkena osteoarthritis kadang terasa tajam
      dan menyakitkan. Rasa sakit ini dapat datang dan pergi tergantung dari kegiatan yang
      dilakukan serta kondisi cuaca dan hari. Nyeri dapat bertambah parah jika sendi digunakan
      secara berlebihan, seperti latihan yang berlebihan atau setelah lama tidak digunakan.
      Kebanyakan penderita osteosrthritis mengalami nyeri pada pagi hari setelah
mengistirahatkan sendi sepanjang malam. Oleh karena itu mereka harus meregangkan
sendi terlebih dahulu agar dapat menggerakkannya dengan nyaman.
       Osteoarthritis    biasanya     mempengaruhi tangan, kaki, tulang   belakang, dan
besar bantalan berat sendi, seperti pinggul dan lutut.


Tanda osteoarthritis:
Kerusakan dan hilangnya kartilago artikular yang berakibat pada pembentukan osteofit,
rasa sakit, pergerakan yang terbatas, deformitas, dan ketidak mampuan.


Penyebab:
Osteoarthritis dapat disebabkan oleh trauma, alergi, infeksi, serta dapat dikarenakan
faktor keturunan yang ditunjukkan dengan kerentanan yang sama terhadap kondisi ini.
Faktor lain yang dapat menyebabkan osteoarthritis adalah:
-   Obesitas,
-   Kehamilan,
-   Cedera,
-   Sendi yang tidak normal.


Diagnosis:
Dilihat dari gejala-gejala yang dialami oleh Nyonya X, yaitu kadang lutut kaku dan
berderak serta terasa sakit, lututnya menjadi merah dan bengkak terutama jika ia bekerja
hingga larut malam, dapat dikatakan bahwa Nyonya X menderita osteoarthritis.
Osteoarthritis yang dialami oleh Nyonya X dapat disebabkan oleh cedera yang pernah ia
alami selama masih aktif berolahraga semasa kuliah dulu, kenaikan berat badan atau
obesitas yang berlebih, penghentian latihan yang tiba-tiba, serta adanya faktor turunan.
Osteoarthritis ini juga diperparah dengan kegiatan yang berlebihan yang menyebabkan
beban berlebih pada lututnya.
     Terapi
     Terapi nonfarmakologi:
     Terapi pertama yang dilakukan adalh memberi konseling pada pasien tentang penyakit
     tersebut. Karena Nyonya X mengalami obesitas maka diperlukan konseling tentang diet
     yang tepat. Selain itu          istirahat yang cukup dan tepat olahraga dapat membantu
     meringankan osteoarthritis.


     Terapi farmakologi:
     Terapi obat untuk osteoarthritis lebih ditujukan untuk mengurangi rasa sakit. Jika masih
     tahap ringan dan sedang, asetamenofen dapat digunakan. Namun pada kasus ini obat
     yang dipilih adalah sebaiknya ibuprofen, naproxen, aspirin, atau yang lainnya. Pemilihan
     ini dikarenakan asetaminofen hanya mengurangi rasa sakit tetapi tidak dapat
     menghilangkan bengkak dan warna merah. Namun harus diperhatikan dosisnya atau
     dikombinasikan dengan obat penghambat pompa proton (omeprazol, pantozol, atau yg
     lainnya) agar tidak terjadi iritasi pada saluran cerna terutama pada lambung
     Operasi sebaiknya tidak perlu dilakukan karena belum dalam tingkat parah. Operasi
     sebaiknya hanya dilakukan apabila seluruh treatment yang telah diberikan tidak
     memberikan efek yang signifikan.


X.   TERMINOLOGI MEDIK
     Bursa
             Kantung kecil yang berisi cairan sinovial yang   mempertahankan bentuk struktur
             dan mengurangi friksi.
     Efusi
             Keluarnya cairan dari pembuluh darah atau limfa kemudian masuk ke dalam
             jaringan atau rongga.
     Heberden Nodes
             Pembesaran-pembesaran yang keras dan bertulang dari sendi-sendi kecil jari-jari
             tangan yang disebabkan oleh osteoarthritis.
Inflamasi
     Mekanisme pertahanan tubuh non-spesifik yang bekerja pada jaringan ditandai
     dengan pembengkakan, kemerahan dengan rasa nyeri, dan kehilangan sebagian
     fungsi dari tempat yang mengalami inflamasi.
Kartilago
     Tulang rawan; jaringan agak elastik yang menyusun sebagian besar rangka embrio
     vertebrata, kecuali pada bagian sendi, saluran pernafasan, dan telinga luar akan
     digantikan oleh tulang pada masa osifikasi.
Kista tulang
     Kista yang berisi cairan serosa dan dilapisi dengan lapisan tipis jaringan ikat.
Kondrosit
     Sel tulang rawan.
Matriks ekstraselular
     Protein yang disekresikan oleh sel.
Meniskus
     Kartilago fibrosa yang terdapat di dalam sendi.
Osteophytes
     Tonjolan pada tulang, akibat pertumbuhan yang abnormal.
Paget’s Disease
     Penyakit     kronis   tulang   yang dikarakterisasi    dengan    pembesaran        tulang,
     membengkoknya tulang pipa dan deformasi dari tulang pipih.
Prevalensi
     Jumlah kasus penyakit yang terjadi pada suatu populasi dalam waktu tertentu.
Sendi diarthrodial
     Sendi yang berkaitan dengan pergerakan, terdapat lapisan fibrocartilage ataupun
     tulang rawan hialin yang melapisi permukaan tulang serta cairan perlumas synovial
     dalam rongga synovial.
Sinovial
     Cairan sinovial; suatu cairan transparan kental yang bersifat sebagai lubrikan.
     Disekresikan oleh sendi, atau selaput tendon.
      Sinovium
           Membran sinovial; membran jaringan ikat padat yang mensekresikan cairan
           sinovial dan merupakan lapisan dasar permukaan ligamen di kapsul sendi, selaput
           tendon dan bursa.
      Tulang rawan artikular
           Tulang rawan yang terdapat pada ujung tulang pada persendian.
      Tulang subchondral
           Penunjang tulang rawan artikular.


XI.   DAFTAR PUSTAKA
      Dipiro, Joseph T., et.al., 2008, Pharmacotherapy A Pathophysiologic Approach, 7th Ed,
             New York: Mc Graw Hill, p. 1505-1515
      Greene, Russell J., Harris, Norman D., 2008, Pathology and Therapeutic for
             Pharmacists, London: Pharmaceutical Press, p. 754-761
      Kasper, Dennis L., et.al., 2005, Harrison’s : Principal of Internal Medicine, 16th Ed, New
             York: Mc Graw Hill, p. 2036-2045
      Wells, Barbara G., et.al., 2009, Pharmacotherapy Handbook, 7th Ed, New York: Mc
             Graw Hill, p. 9-10
      www.totalkesehatananda.com/osteoarthritis diakses pada tanggal 8 Maret 2011
      www.lenterabiru.com/2009/01/osteoartritis diakses pada tanggal 8 Maret 2011
      http://www.biology-online.org/dictionary/
      http://medical-dictionary.thefreedictionary.com/
      www.uptodate.com/contents/patient-information-osteoarthritis-symptoms-and-diagnosis
      diakses tanggal akses 14 Maret 2011 pukul 18.35
      www.osteoarthritis.about.com/od/osteoarthritisdiagnosis/a/OA_diagnosis.htm        diakses
      tanggal akses 14 Maret 2011 pukul 18.35
PERTANYAAN DISKUSI:
1. Apa perbedaan Osteoarthritis dan Rheumatoid Arthritis, karena gejala yang dialami mirip?
2. Kenapa terapi yang diberikan hanya untuk mengatasi gejala yang timbul, kenapa tidak dari
   awal untuk menyembuhkan penyakitnya saja, dan bukan hanya gejalanya?
3. Kenapa injeksi hialuronat hanya tersedia untuk jari-jari dan lutut saja? PAda OA dikenal
   grade 1-4, apa artinya?
4. Apakah RA merupakan lanjutan dari OA?
5. Kenapa jarang digunakan terapi dengan sediaan topikal?
6. Pada faktor resiko OA karena genetik apakah terapi yang digunakan sama?
7. Bagaimana terapi pembedahan untuk OA?
8. Banyak yg make glukosamin untuk pencegahan. Apa benar2 berguna?


JAWAB:
1. Osteoarthritis (OA) merupakan penyakit sendi degeneratif yang disebabkan oleh terjadinya
   kerusakan pada sendi diarthrodial karena ketidakseimbangan proses pembentukan dan
   degradasi tulang rawan artikular, kondrosit, matriks ekstraseluler dan tulang subchondral.
   Rheumatoid Arthritis (RA) adalah penyakit akibat gangguan sistem imun.


2. Pengobatan OA lebih diutamakan kepada pengobatan gejala yang timbul karena belum ada
   obat yang dapat mengatasi perjalanan penyakit ini. Glukosamin sekalipun belum terbukti
   secara klinik dalam penyembuhan OA ini.


3. Injeksi hialuronat juga dapat digunakan untuk OA pada pinggul dan daerah lain, sediaan
   yang sering ditemui hanya untuk daerah lutut dan jari-jari saja disebabkan karena faktor
   kenyamanan dan kemudahan pemberian pada pasien. Akan lebih sulit jika digunakan injeksi
   untuk memberikan hialuronat pada pinggul.
   Tingkat keparahan OA:
   - Grade 1
     Kartilago mulai menipis, ruang sendi menyempit.
   - Grade 2
     Aktivitas pada sendi meningkat, menyebabkan pengerasan tulang (sklerosis) dan sista.
   - Grade 3
     Deformasi pada tulang, tepi tulang menjadi kasar, ruang sendi semakin menyempit.
   - Grade 4
     Ruang sendi menghilang, kontur tulang berubah, gesekan antar tulang terjadi.


4. Tidak.


5. Karena terdapat beberapa kekurangan jika digunakan sediaan topikal, antara lain waktu yang
   dibutuhkan lebih lama agar obat bekerja, dosis yang diperlukan tidak terpenuhi karena dosis
   melalui topikal kecil, dll.


6. Sama saja


7. Operasi direkomendasikan bagi pasien osteoartritis dengan cacat fungsional dan sakit parah,
   tidak responsif terhadap terapi konservatif. Pembedahan dapat dilakukan dengan berbagai
   metode, antara lain artroplasti (penggantian sendi total), artroplasti panggul, atau pada pasien
   dengan penyakit tingkat lanjut, dilakukan artroplasti total atau sebagian yang dapat
   menghilangkan rasa sakit dan memperbaiki gerak. Pilihan operasi lain antara lain arthrodesis
   (fusi bersama) dapat mengurangi rasa sakit tapi akan membatasi ruang gerak, cocok untuk
   sendi yang lebih kecil yang menyebabkan rasa sakit yang keras. Untuk pasien dengan
   osteoartritis lutut ringan, dapat dilakukan osteotomi (pengangkatan jaringan tulang).


8. Glukosamin berfungsi memicu sintesis proteoglikan. Secara uji in vitro sudah terbukti
   kerjanya. Namun, secara klinik hasilnya tidak berbeda bermakna dengan placebo. Pada
   pasien yang sudah mengalami OA memang ada perbaikan setelah mengonsumsi glukosamin.
   Sedangkan glukosamin sebagai pencegahan secara klinik belum ada buktinya. Karena
   glukosamin secara normal diproduksi oleh tubuh, maka dalam keadaan normal asupan
   glukosamin tidak berpengaruh.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Tags:
Stats:
views:2241
posted:5/9/2011
language:Indonesian
pages:29