Pertamina Masa Depan Indonesia by Alrihat

VIEWS: 1,302 PAGES: 10

									PERTAMINA MASA DEPAN INDONESIA 1 Oleh Aliasuddin2

1. PENDAHULUAN

Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi telah merubah wajah dunia karena hampir setiap saat terjadi perubahan yang sangat signifikan dalam kehidupan dunia. Perubahan teknologi informasi telah membawa pengaruh yang sangat besar terhadap perilaku masyarakat dan dunia usaha. Masyarakat mempunyai akses yang cepat dan akurat tentang perkembangan bisnis dunia. Masyarakat dapat menilai dan membandingkan berbagai barang dan jasa yang dijual kepada konsumen. Akses informasi yang hampir sempurna ini membawa akibat pada kecenderungan konsumen untuk mendapatkan barang dan jasa dengan kualitas yang terbaik dan harga yang lebih murah. Harga yang lebih murah hanya dapat dicapai oleh perusahaan yang sangat efisiensi. Efisiensi sangat besar artinya dalam kehidupan sebuah perusahaan apalagi dalam persaingan global. Perubahan dalam proses produksi sangat diperlukan agar sebuah perusahaan dapat mencapai efisiensi baik dari segi penggunaan input maupun dalm proses produksi sehingga harga per unit menjadi lebih murah tetapi kualitas tetap terjamin. Bila suatu perusahaan tidak mau melakukan perubahan maka perusahaan tersebut akan kalah dalam bersaing dengan perusahaan lain yang sejenis namun mampu

1

Makalah disampaikan pada Focus Group Discussion (FGS) dengan tema Citra Pertamina di Mata Stakeholders, Hotel Cakradonya, Rabu 28 Februari 2007. 2 Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Syiah Kuala, Darussalam Banda Aceh.

menyediakan barang dan jasa dengan harga yang lebih murah dan kualitas yang relatif sama atau lebih baik lagi. Pertamina sebagai salah satu perusahaan telah dipaksa untuk melakukan perubahan agar lebih mampu bersaing karena adanya tuntutan globalisasi yang memberikan kemudahan bagi perusahaan perminyakan lainnya untuk melakukan operasinya di Indonesia. Perubahan Pertamina ini telah dilakukan dengan

disahkannya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001. UU tersebut telah menarik hak monopoli yang selama ini dimiliki oleh Pertamina dalam mengurus minyak dan gas di Indonesia. Pertamina tidak bisa lagi menjadi pemain tunggal di sektor hilir karena semua perusahaan lain diberikan kesempatan yang sama dengan Pertamina sehingga Pertamina harus mampu menyediakan barang yang mempunyai kualitas yang sama baiknya dengan perusahaan lain dan tingkat harga yang ditawarkan juga sama. Hak kontrak bagi hasil (production sharing) dengan perusahaan lain yang selama ini dimiliki oleh Pertamina telah dihapuskan. Menghadapi persaingan bisnis yang semakin ketat di masa mendatang maka Pertamina harus mampu melakukan berbagai terobosan baik di dalam Pertamina itu sendiri maupun di luar, dalam bentuk layanan prima yang selalu dituntut oleh konsumen. Perubahan yang perlu dilakukan adalah budaya bisnis yang harus dimiliki oleh semua komponen yang ada di Pertamina agar Pertamina benar-benar mampu menjadi pelaku bisnis yang sangat menguntungkan bagi masyarakat dan juga pemerintah sebagai salah satu sumber penerimaan negara. Pembenahan sumberdaya manusia (SDM) yang ada di Pertamina sangat mendesak untuk dilakukan agar Pertamina benar-benar efisien. SDM yang dianggap
Pertamina Masa Depan Indonesia

2

sudah tidak mampu lagi menyesuaikan diri dengan tuntutan dan beban tugas yang diemban Pertamina dewasa ini maka SDM tersebut perlu digantikan dengan SDM muda, handal dan energik sehingga Pertamina menjadi perusahaan yang sangat profitable. Pembenahan SMD ini sangat penting untuk mencapai suatu organisasi yang dinamis dan ramping sehingga lebih efisien dan mampu mencapai target yang lebih besar di masa mendatang. Organisasi yang terlalu besar akan memberikan beban yang sangat berat yang ditanggung oleh Pertamina sehingga Pertamina tidak mampu mencapai efisiensi penggunaan faktor produksi. Efisiensi penggunaan faktor produksi ini sangat penting agar Visi Pertamina untuk menjadi perusahaan yang confident, clean, consumer focused, dan competitive (4C) dapat dicapai. SDM yang tidak kompatibel supaya diganti dengan yang lebih muda dan mampu memenuhi tuntutan sesuai dengan visi Pertamina agar Pertamina efisien dan tidak tergilas oleh perusahaan lainnya. Sementar itu, perubahan eksternal telah dilakukan oleh Pertamina, terlihat dari logo dan brand image yang telah dibangun oleh Pertamina sebagai upaya untuk mensejajarkan Pertamina setaraf atau lebih tinggi dari perusahaan sejenis lainnya. Transformasi yang dilakukan oleh Pertamina ini sebagai upaya untuk mencapai citacita Pertamina sebagai perusahaan kelas dunia yang unggul, maju dan terpandang. Perubahan paradigma ini sangat penting karena posisi Pertamina masih cukup baik di mata masyarakat Indonesia. Hal ini terbukti dari hasil survei yang dilakukan oleh Lingkar Survei Indonesia (LSI) yang menyatakan bahwa Pertamina merupakan perusahaan yang baik dan bahkan lebih baik dari BUMN lainnya. merupakan modal yang sangat potensial bagi kemajuan Pertamina.
Pertamina Masa Depan Indonesia

Kondisi ini

3

Peningkatan brand image ini harus dibarengi dengan perbaikan citra Pertamina dari beberapa hal yang masih melekat pada Pertamina. Ada tiga hal mendasar yang masih harus dibenahi Pertamina yaitu pengoplosan, penyelundupan dan kelangkaan minyak. Meskipun secara umum bukan dilakukan oleh Pertamina secara langsung tetapi kesalahan masih dapat diletakkan pada Pertamina karena Pertamina tidak mempunyai ketegasan terhadap pelaku yang merusak citra Pertamina. Bila Pertamina melakukan pengawasan yang lebih ketat maka pengoplosan minyak dapat dikurangi sehingga citra buruk Pertamina semakin hari semakin berkurang. Pertamina harus mampu menindak tegas pelaku pengoplosan dengan menyeret oknum tersebut ke pengadilan sehingga bisa menimbulkan efek jera, selain itu semua kegiatan dan izin yang berhubungan dengan Pertamina harus ditarik dan pelaku juga dikenakan denda yang cukup besar agar pengoplosan ini tidak terjadi lagi di masa mendatang. Tindakan tegas ini sangat perlu dilakukan untuk meningkatkan brand equity karena walau bagaimana pun merek Pertamina masih melekat dalam semua proses kegiatan perminyakan di Indonesia. Penyelundupan juga merupakan faktor yang merugikan citra Pertamina. Selain itu, penyelundupan juga merugikan masyarakat karena adanya kelangkaan minyak di dalam negeri. Kerugian lain yang ditimbulkan oleh penyelundupan ini adalah

kerugian negara dalam bentuk selisih harga dalam negeri dengan harga luar negeri. Kerugian ini akan menjadi beban masyarakat karena penerimaan tersebut seharusnya menjadi penerimaan negara yang dapat digunakan untuk membiayai berbagai proyek yang mampu meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan masyarakat.

Pertamina Masa Depan Indonesia

4

Penyelundupan ini bisa juga dalam bentuk penjualan minyak bersubsidi yang dijual kepada pihak lain yang sebenarnya tidak layak menerima subsidi tersebut. Kelangkaan minyak masih menjadi fenomena yang sangat banyak terjadi dewasa ini. Pertamina masih belum mampu mengurangi kelangkaan ini sehingga citra Pertamina menurun sangat besar di mata masyarakat. Kelangkaan ini

merupakan persoalan besar yang harus segera diatasi oleh Pertamina dalam rangka menjaga citra Pertamina di dalam masyarakat dan menempatkan Pertamina sebagai perusahaan yang efisien. Kelangkaan ini menunjukkan bahwa Pertamina tidak mampu melakukan distribusi dengan baik dan sesuai dengan kebutuhan di setiap daerah. Sistem

pengelolaan pendistribusian secara manual harus ditinggal oleh Pertamina agar kelangkaan minyak ini dapat diatasi segera.

2. PERMASALAHAN DAN PENYELESAIANNYA

Permasalahan utama yang masih dihadapi oleh Pertamina adalah penentuan harga jual produk Pertamina dan sistem distribusi BBM yang masih menimbulkan persoalan yang cukup besar. Penentuan harga secara teori dalam pasar persaingan sempurna dinyatakan bahwa harga yang paling efisien itu adalah harga yang ditentukan oleh ongkos tambahan dari setiap peningkatan produksi atau dalam istilah lain dikenal dengan sebutan marginal cost pricing (MCP). MCP ini sangat besar artinya bagi Pertamina mengingat Pertamina bukan lagi sebagai perusahaan monopoli di bidang perminyakan. Pertamina sudah masuk dalam pasar persaingan sempurna.

Pertamina Masa Depan Indonesia

5

Ada beberapa keadaan yang akan dialami Pertamina dalam mengahadapi MCP ini. Pertama, jika Pertamina tidak efisien maka Pertamina akan mengalami kerugian karena Pertamina sebagai salah satu pelaku usaha dalam bidang perminyakan harus mampu mengikuti harga yang berlaku di pasar. Pertamina tidak bisa merubah harga pasar, jika keadaan ini tidak dibenahi oleh Pertamina maka dengan harga jual yang sama tetapi ongkos produksi yang mampu dicapai oleh Pertamina sangat tinggi maka Pertamina akan mengalami kerugian. Skenario kedua jika Pertamina hanya mampu mencapai ongkos produksi sebesar MCP maka Pertamina tidak mampu memberikan keuntungan bagi pemerintah. Meskipun keadaan ini lebih baik dibandingkan dengan skenario pertama namun keberadaan Pertamina yang tidak mampu memberikan keuntungan memperlihatkan Pertamina bukan pelaku bisnis yang tangguh karena kalah bersaing dengan perusahaan sejenis dari negara lainnya. Skrenario terakhir, pertamina harus mampu menekan ongkos produksi yang lebih rendah dari MCP. Keadaan ini hanya dapat dicapai jika Pertamina dapat

mencapai efisiensi dalam proses produksi dan efisiensi dalam penggunaan faktor produksi. Efisiensi dalam proses produksi memaksa Pertamina untuk meningkatkan kemampuan teknologinya sehingga ongkos per unit produksi Pertamina harus lebih rendah atau sama dengan perusahaan lainnya yang sejenis. Peningkatan kemampuan teknologi ini sangat penting bagi Pertamina agar cita-cita Pertamina untuk menjadi perusahaan kelas dunia yang unggul, maju dan terpandang dapat tercapai. Tanpa penguasaan teknologi tinggi maka kemampuan Pertamina sangat diragukan untuk mampu bersaing dengan perusahaan lainnya.
Pertamina Masa Depan Indonesia

6

Peningkatan efisiensi ini juga harus dilakukan dalam penggunaan faktor produksi. Ada beberapa hal yang berkaitan dengan faktor produksi ini yaitu struktur organisasi Pertamina harus lebih ramping lagi dengan menggunakan tenaga kerja yang berkualitas dan didukung oleh teknologi yang lebih baik. Perampingan struktur Pertamina ini sangat penting dilakukan agar Pertamina betul-betul efisien dalam penggunaan faktor produksi. Selain itu, dengan tenaga kerja yang kapabel maka Pertamina akan mampu mencapai efisiensi yang lebih besar sehingga keberadaan SDM ini mampu memposisikan Pertamina sebagai perusahaan modern yang efisien agar Pertamina mampu bersaing dengan perusahaan lainnya. Jika kondisi ini mampu dicapai oleh Pertamina maka Pertamina akan menjadi perusahaan besar yang sangat diperhitungkan baik oleh perusahaan lainnya maupun oleh masyarakat Indonesia dan juga dunia. Hal ini sangat beralasan mengingat secara keseluruhan industri pertambangan dan derivatifnya sangat efisien di Indonesia. Hasil studi yang dilakukan oleh

Aliasuddin (2002) memperlihatkan bahwa industri pertambangan dan derivatifnya sangat efisien baik dari segi proses produksi maupun penggunaan input. Pertamina merupakan salah satu dari perusahaan pertambangan yang ada di Indonesia, sehingga menghadapi kondisi perusahaan pertambangan yang sudah sangat efisien menuntut Pertamina untuk lebih efisien lagi agar tetap mampu bersaing tidak hanya dengan perusahaan pertambangan yang ada di Indonesia tetapi juga perusahaan dari luar Indonesia. Masalah kedua yang perlu mendapat perhatian adalah pendistribusian BBM yang masih belum optimal sehingga sering terjadi kelangkaan. Pendistribusian yang
Pertamina Masa Depan Indonesia

7

tidak optimal ini muncul sebagai akibat kapasitas produksi yang kecil sehingga tidak mampu memenuhi kebutuhan masyarakat dan pusat pengolahan BBM hanya ada di Cilacap sehingga jarak tempuh pendistribusian sangat panjang dan bisa menimbulkan kelangkaan BBM. Ada beberapa penyelesaian yang dapat dilakukan agar kelangkaan BBM ini dapat diatasi. Penyelesaian pertama adalah penambahan pusat pengolahan BBM di Sumatera dan Kalimantan. Namun, penambahan dua lokasi pengolah minyak ini membutuhkan biaya investasi yang sangat besar sehingga akan menambah beban bagi Pertamina. Keadaan ini bisa menimbulkan inefisiensi karena investasi yang besar akan mempengaruhi kemampuan keuangan Pertamina. Penyelesaian kedua adalah dengan pengalihan konsumsi BBM dari minyak tanah ke gas. Ada beberapa

keuntungan yang diperoleh dari pengealihan ini. Misalnya, harga jual gas yang lebih murah bisa meringankan beban pengeluaran masyarakat. Kedua, cadangan gas lebih besar daripada cadangan minyak tanah. Namun, program pengalihan ini akan

mencapai sasaran jika didukung oleh pemerintah dalam bentuk subsidi pengadaan kompor dan tabung gas. Dengan tingkat pendapatan yang rendah maka masyarakat tidak mampu untuk membeli kompor dan tabung gas. Tanpa ada subsidi ini maka program pengalihan ini tidak akan berhasil sehingga konsumsi minyak tanah akan terus meningkat sedangkan kemampuan produksi dan cadangan minyak tanah sangat sedikit sehingga bisa memberikan image negatif terhadap Pertamina.

Pertamina Masa Depan Indonesia

8

3. KESIMPULAN DAN SARAN

Pertamina mempunyai peran yang sangat strategis bagi perekonomian Indonesia karena Pertamina merupakan salah satu sumber keuangan pemerintah. Pertamina juga merupakan aset negara yang masih mempunyai potensi yang sangat besar untuk dikembangkan sehingga menjadi perusahaan modern, efisien dan berkelas dunia. Berbagai perubahan yang telah dilakukan harus terus dilakukan agar Pertamina tetap eksis dalam dunia perminyakan baik di tingkat nasional maupun tingkat dunia. Sebagai salah satu perusahaan yang bergerak di bidang perminyakan, Pertamina harus terus melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan efisiensi. Efisiensi ini sangat penting agar Pertamina mampu bersaing dengan perusahaan lainnya. Kemampuan Pertamina ini harus teruji baik di tingkat nasional maupun internasional. Kemampuan di tingkat internasional ini dapat dibuktikan dengan semakin meningkatnya kontrak produksi yang mampu dicapai oleh Pertamina di negaranegara lainnya.

Referensi

Aliasuddin. 2002. Perbandingan Efisiensi Industri di Indonesia. Jurnal Manajemen dan Pembangunan, 1(2), 22–31. Jehle, G.A., P.J. Reny. 1998. Advanced Microeconomic Theory. Massachusetts: Addison-Wesley. Kreps, D.M. 1990. A Course in Microeconomic Theory. New Jersey: Princeton University Press. Nicholson, W. 1998. Microeconomic Theory: Basic Principles and Extensions. Seventh Edition. Orlando: The Dryden Press.
Pertamina Masa Depan Indonesia

9

Pindyck, R.S., D. L. Rubinfeld. 1998. Microeconomics. Fourth Edition. International Edition. New Jersey: Prentice Hall International, Inc. Varian, H.R. 1993. Intermediate Microeconomics: A Modern Approach. Edition. New York: W.W. Norton & Company. Third

Warta Pertamina. 2005. Branding dan Persaingan Global. Warta Pertamina, Edisi Khusus. 10 Desember 2005.

Pertamina Masa Depan Indonesia

10


								
To top