; Parasit pada unggas
Documents
Resources
Learning Center
Upload
Plans & pricing Sign in
Sign Out
Your Federal Quarterly Tax Payments are due April 15th Get Help Now >>

Parasit pada unggas

VIEWS: 3,175 PAGES: 31

  • pg 1
									                        LAPORAN PENELITIAN
   PARASIT CACING PADA SALURAN PENCERNAAN UNGGAS
                   ( Gallus domesticus & Columba livia )


  Disusun untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Fisiologi Hewan
Dosen Pengmapu : Dra. Aditya Marianti, M.Si., Drh. Wulan Christijanti, M. Si.




                                 Disusun Oleh


              Islakhul Huda                ( 4401405582 )
              Lutfia Nur Hadiyanti         ( 4401407075 )
              Trias Mua’mala               ( 4401407081 )
              Putri Intan Sari             ( 4401407099 )
              Nurida Fitriyah              ( 4401407093 )




                         JURUSAN BIOLOGI
       FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
                UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
                                    2009
                                 ABSTRAK

Islakhul Huda, dkk*. 2009. Parasit Cacing pada Saluran Penceernaan
Unggas ( Gallus domesticus & Columba livia )

        Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui jenis parasit cacing yang
banyak terdapat di dalam saluran pencernaan unggas, mekanisme infeksi cacing
ke dalam tubuh unggas, dan mekanisme kerja cacing dalam organ pencernaan
unggas. Penelitian ini menggunakan ayam kampung ( Gallus domesticus ) dan
merpati ( Columba livia ) sebagai sampel yang diteliti saluran pencernaannya.
Hasil penelitian ini menemukan spesies Raillietina echinobthrida dalam saluran
pencernaan ayam kampung ( Gallus domesticus ), sedangkan pada saluran
pencernaan merpati ( Columba livia ) tidak ditemukan spesies cacing apapun.
Mekanisme infeksi cacing ke dalam tubuh unggas berkaitan erat dengan siklus
hidup jenis cacing dan sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan yang berupa
habitat, pH, suhu, kelembaban, dan curah hujan.t Serangan Raillietina
echinobothrida menimbulkan nodul – nodul pada usus ayam.

Kata Kunci : Parasit, Raellietina echinobothrida, unggas


* Mahasiswa Biologi FMIPA Unnes, yang terdiri dari :

1. Islakhul Huda         ( 4401405582 )
2. Lutfia Nur Hadiyanti ( 4401407075 )
3. Trias Mua’mala        ( 4401407081 )
4. Putri Intan Sari      ( 4401407099 )
5. Nur Ida Fitriyah      ( 4401407093 )
                              KATA PENGANTAR


       Puji syukur ke hadirat Tuhan YME, sehingga atas berkat rahmat dan
hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan laporan penelitian untuk memenuhi
salah satu tugas mata kuliah Fisiologi Hewan. Proses penulisan laporan ini
tentunya tidak lepas dari bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis
mengucapkan terimakasih kepada :
1. Dra. Aditya Marianti, M.Si, selaku Ketua Jurusan Biologi FMIPA Unnes, dan
   juga selaku salah satu dosen mata kuliah Fisiologi Hewan.
2. Drh. Wulan Christijanti, M.Si. selaku dosen mata kuliah Fisiologi Hewan dan
   dosen pembimbing dalam pelaksanaan penelitian ini.
3. Mbak Tika, selaku penanggungjawab Laboratorium Fisiologi Hewan, terima
   kasih atas waktu, tenaga, dan bimbingan yang telah diberikan.
4. Teman – teman seperjuangan, tetap semangat teman! Ilmu yang kita dapatkan
   tidak akan pernah sia – sia di hari nanti.
       Penulis menyadari bahwa laporan penelitian ini masih jauh dari
kesempurnaan. Oleh karena itu, saran dan kritik yang membangun dari pembaca
sangat penulis harapkan.




                                                  Semarang, 13 Mei 2009
                                                          Penulis
                                     BAB I
                               PENDAHULUAN


A. Latar Belakang
      Komoditas ternak unggas memegang peranan yang sangat penting dalam
   penyediaan protein hewani di Indonesia. Pada tahun 2004 produksi daging
   unggas diperkirakan mencapai 1.164,40 ribu ton akan memberi kontribusi
   sebanyak 60,29 persen terhadap produksi daging secara nasional. Ayam
   pedaging merupakan produsen utama daging unggas yaitu mencapai 67,04
   persen disusul berturut - turut ayam kampung, ayam petelur yang sudah
   diafkir dan itik sebesar 27,01; 4,04 dan 1,91 persen. Selain itu unggas juga
   memberi kontribusi yang sangat berguna dalam bentuk telur. Produksi telur
   pada tahun 2004 diperkirakan mencapai 666,40 ribu ton akan memberi
   kontribusi sebanyak 63,38 persen dari total produksi telur secara nasional
   yaitu mencapai 1051,40 ribu ton (DEPTAN, 2004).
      Perkembangan dunia perunggasan di negara kita, sudah banyak
   menciptakan peluang bisnis. Hal ini disebabkan karena bisnis perunggasan
   bisa dijangkau masyarakat kalangan bawah, dapat dipelihara oleh masyarakat
   atau peternak dengan lahan yang cukup kecil, kapital “demand power” yang
   cukup kuat, menyebabkan ternak ini lebih cepat perkembangannya
   dibandingkan dengan perkembangan ternak lain. Namun para peternak tidak
   sedikit mengalami hambatan dan rintangan selain harga pakan yang terus naik,
   obat-obatan yang cukup mahal juga adanya berbagai macam penyakit yang
   sering menyerang ternak. Parasit diketahui dapat mengakibatkan menurunnya
   produksi telur sebesar 15% – 30 %, bahkan dapat menghentikannya sama
   sekali. Selain itu parasit dapat menghambat pertumbuhan ayam, terutama
   ayam – ayam muda, menurunkan berat badan, dan bahkan menyebabkan
   kematian jika serangan parasit itu hebat.
B. Rumusan Masalah
  1. Parasit cacing apa sajakah yang banyak terdapat dalam saluran pencernaan
     unggas ?
  2. Bagaimana mekanisme infeksi cacing ke dalam tubuh unggas?
  3. Bagaimana mekanisme kerja cacing dalam saluran pencernaan unggas ?


C. Tujuan
  1. Mengetahui jenis – jenis parasit cacing yang banyak terdapat di dalam
     saluran pencernaan unggas.
  2. Mengetahui mekanisme infeksi cacing ke dalam tubuh unggas.
  3. Mengetahui mekanisme kerja cacing dalam saluran pencernaan unggas


D. Manfaat
  Hasil penelitian ini diharapkan memberikan pengetahuan bagi masyarakat luas
  mengenai macam – macam parasit cacing yang sering muncul di dalam
  saluran cerna, mekanisme infeksi cacing ke dalam tubuh unggas, dan
  mekanisme kerja cacing dalam organ pencernaan unggas.
                                     BAB II
                            TINJAUAN PUSTAKA

       Parasit – parasit di daerah tropika seperti di Indonesia, banyak macam dan
jumlahnya. Dengan mengenal parasit cacing dan dimana tempat ditenukan, serta
cara penularannya dan beberapa keterangan lainnya, maka dapat dilakukan
pertolongan pertama sebelum ada ahli yang membantu. Berikut ini adalah
berbagai macam parasit yang sering menyerang saluran pencernaan unggas :


Nematoda
1. Heterakis gallinarum
   Ciri – ciri    : Panjang cacing jantan 7 – 13 mm. Panjang cacing betina 10 –
                   15 mm. Telur berdinding licin dan tebal, berukuran 65 – 80 x
                   35 – 46 mikron.
   Lokasi         : Cecum
   Penularan      : Secara langsung yaitu dengan makan telur cacing yang
                   infektif. Menyebabkan penyakit diare pada burung pegar (
                   Pheasant).
   Postmortem     : Ceca meradang dan dindingnya menebal. Pendarahan pada
                   mukosa cecum (typhlytis) noduler.




                 Gambar 1. Siklus hidup Heterakis gallinarum
2. Ascaridia galli
   Ciri – ciri       : Panjang cacing jantan 50 – 76 mm. Panjang cacing betina 76
                      – 116 mm. Cacing ini mempunyai 3 bibir. Telurnya tak
                      bersegmen waktu keluar bersama tinja dan dindingnya licin,
                      berukuran 73 – 92 x 45 -57 mikron.
   Lokasi            : Usus halus bagian tengah.
   Penularan         : Secara langsung yaitu dengan makan telur cacing yang
                      infektif. Menyebabkan penyakit Ascariosis.
   Postmortem        : Radang usus yang bersifat haemorrhagic ( terdapat
                      pendarahan ) dan larva cacing berukuran kira – kira 7 mm.
                      Dapat ditemukan dalam selaput lendir usus. Bangkai kurus,
                      kurang darah atau anemia dan cacing dewasa ditemukan
                      dalam usus. Parasit dapat juga ditemukan dalam albumin
                      telur ayam.




            Gambar 2. Ascaridia galli dilihat dari mikroskop elektron


3. Trichostrongylus tenuis
   Ciri – ciri       : Panjang cacing jantan 5,5-9 mm. lebar pertengahan 48
                      mikron. Panjang cacing betina 6,5-11 mm. lebar didaerah
                      vulva 77-100 mm. telur berdinding tipis.
   Lokasi            : Cecum dan usus halus
   Penularan         : secara langsung yaitu melalui telur cacing yang infektif.
                      Menyebabkan penyakit Trichostrongylosis
   Postmortem   : kelihatan radang cecum yang jelas disertai anemia. Bangkai
                 kurus.




                  Gambar 3. Telur Trichostrongylus tenuis


4. Tetrameres americana
   Ciri –ciri   : Panjang cacing jantan 5,0 – 5,5 mm, lebar 116 – 133 mikron.
                 Pada cacing betina 3,5 – 4,5 mm, lebar 3 mm. Keterangan
                 tenatang ukuran telurnya belum ada.
   Lokasi       : Proventriculus
   Penularan    : Secara tidak lanngsung. Memerlukan induk semang-antara
                 yaitu serangga – serangga orthoptera yaitu Melanoplus
                 femurrubrum,M. differentialis, dan Blatela germanica. Ayam
                 kena infeksi jika makan induk semang – antara yang
                 terinfeksi.
   Postmortem   : Proventriculus meradang. Dari luar proventriculus dapat
                 dilihat benda – benda berwarna gelap di dalam jaringannya.
                         Gambar 4. Tetrameres americana
5. Strongyloides avium
   Ciri – ciri    : Cacing ini panjangnya 2,2 mm. Panjang oesophagus 0,7 mm.
                    telur berukuran 52 – 56 x 36 – 40 mikron.
   Lokasi         : Usus halus dan cecum.
   Penularan      : Generasi yang bersifat parasitik dapat menembus kulit induik
                    semang, menuju trakea, lalu ke pharinx dan selanjutnya ke
                    usus. Infeksi melalui paruh ( per os ) juga dapat terjadi.
   Postmortem     : Vulva cacing betina terletak di pertengahan badannya dan
                    oesophagusnya panjang (seperti silinder, filariform)
   Cestoda
1. Raillietina tetragona
   Ciri – ciri    : Panjang cacing ini sampai 25 cm. Alat penghisap cacing
                    berbentuk bulat panjang dan dilengkapi dengan ikat – ikat
                    yang kecil.
   Lokasi         : Usus halus ayam, ayam mutiara dan burung merpati
   Penularan      : Lalat rumah, Musca dometica dan semut sebagai induk
                    semang – antara. Menyebabkan penyakit Cestodosis pada
                    ayam.
   Postmortem     : Terdapat radang usus halus.
2. R. echinobothrida
   Ciri – ciri   : Panjangnya kira – kira sampai dengan 25 cm. Bentuk dan
                  ukurannya mirip dengan R. tetragona.
   Lokasi        : Usus halus ayam
   Penularan     : Semut sebagai induk semang – antara. Menyebabkan
                  penyakit cestodosis pada ayam.
   Postmortem    : Terdapat bungkul – bungkul pada usus halus dan jelas terlihat
                  bila kita lihat ususnya dari luar. Bungkul itu terdiri dari
                  jaringan nekrotik dan darah putih.




    Gammbar 5. Bagian Kepala, Ruas yang masak, dan Kait pada Raillietina
                               echinobothrida
                                     BAB III
                                     METODE
A. Metode
       Metode yang digunakan dalam penyusunan laporan ini adalah :
      Penelitian
      Studi Pustaka


B. Tempat dan Waktu Pelaksanaan
       Penelitian dilakukan pada :
   Tempat                       : Laboratorium Biologi Lantai 2 FMIPA Unnes
   Waktu Pelaksanaan            : 25 April 2009


C. Alat dan Bahan
   Penelitian yang kami lakukan menggunakan alat dan bahan sebagai berikut :
   1. Unggas ( merpati & ayam kampung )
   2. Alat – alat bedah ( Pisau, gunting, pinset, dst )
   3. Tempat preparat
   4. Mikroskop
   5. Object glass + penutup
   6. Kapas
   7. Obat bius
   8. Sarung tangan
   9. kamera
   10. alkohol ( 70%, 80%, 90%,96%)
   11. formalin 4%
   12. aquades
   13. hematoxylin
   14. xylol
   15. canada balsam
   16. botol flakon
D. Cara Kerja
   Pembedahan
   1. Menyiapkan alat dan bahan.
   2. Mengamati ciri – ciri fisik unggas sebelum melakukan pembedahan.
   3. Melakukan pembedahan terhadap unggas.
   4. Mengambil organ saluran pencernaan unggas dan memisahkannya dengan
      organ – organ lain.
   5. Membedah dan mengamati adanya parasit cacing dalam saluran
      pencernaan. Menggunakan mikroskop jika parasit cacing bersifat
      mikroskopis.
   6. Mengamati hal – hal yang terjadi pada organ saluran pencernaan yang
      diserang.
   7. Menganalisis jenis parasit cacing yang ditemukan.
   8. Mencatat hasil pengamatan pada tabel hasil pengamatan.
Preparasi                       Mengumpulkan cacing



     Meletakkan cacing di antara 2 dua gelas benda kemudian mengikatnya dengan karet

                                                    Menghisap dengan tissue

  Memasukkan ke dalam larutan FAA ( Formalin, Alkohol, Asam Asetat ) untuk proses fiksasi
                                     selama 1 jam

                                                    Menghisap dengan tissue

                  Mencelupkan ke dalam aquades ( 3 – 5 celupan )


                                                   Menghisap dengan tissue

                   Merendam dalam larutan hematoxylin ( 3 menit )

                                                  Menghisap dengan tissue

                   Mencelupkan ke dalam aquades ( 3 – 5 celupan )

                                                  Menghisap dengan tissue

                    Merendam dalam alkohol 70 % ( 3 menit )

                                                  Menghisap dengan tissue

                  Merendam dalam alkohol 70% + eosin ( 3 menit )

                                                  Menghisap dengan tissue
         Merendam dalam larutan alkohol secara bertahap ( 70%, 80%, 90%, 96% )*

                                                  Menghisap dengan tissue, dan pastikan kering
 Merendam dalam campuran xilol – alkohol secara bertahap dengan perbandingan ( 1:3, 1:1, 3:1 )*

                                                    Menghisap dengan tissue
                        Merendam dalam larutan xilol murni



                         Menetesi dengan Canada Balsam



                             Mengamati dalam mikroskop



                                    Labelling

* masing – masing tahap 3 menit
                                    BAB IV
                         HASIL PENGAMATAN


                         Tabel 1. Hasil Pengamatan


No     Spesies Unggas              Ciri – ciri    Organ yang    Jenis Cacing
                                 Parasit cacing      diserang
1    Ayam kampung               Panjang          Usus halus    Raillietina
     ( Gallus domesticus )       mencapai 25 cm                 echinobothrida

                                Tubuh pipih
                                 bersegmen
                                Berwarna putih
                                Mempunyai
                                 succker yang
                                 bulat pada
                                 scolexnya.
2    Merpati                                                         Tidak
     ( Columba livia )                                            ditemukan
                                        -               -        cacing pada
                                                                    saluran
                                                                pencernaannya
                    Gambar Hasil Pengamatan




nodul




Gambar 6. Kondisi organ ( Gallus domesticus ) yang terserang cacing




         Gambar 7. Cacing yang ditemukan ( makroskopis )

                                                   Scoleks



                                                              Sucker




                                                             rostelum




         Gambar 8. Cacing yang ditemukan ( mikroskopis )
                                    BAB V
                               PEMBAHASAN


A. Cacing yang ditemukan
              Dalam penelitian yang telah dilakukan, hanya ditemukan satu
   spesies parasit cacing pada usus ayam kampung ( Gallus domesticus ), yaitu
   Raillietina echinobothrida dengan ciri – ciri panjang tubuhnya kira – kira 25
   cm. Berdasarkan hasil pengamatan mikroskopis diketahui cacing ini
   mempunyai alat penghisap yang bulat disertai kait – kait yang kecil. Referensi
   lain menyebutkan bahwa famili cacing ini juga mempunyai sebuah rostellum
   berbentuk bantal. Raillietina echinobothrida adalah salah satu spesis dari
   phylum platyhelminthes ( cacing pipih ) yang secara umum mempunyai ciri –
   ciri bentuknya yang seperti pita memanjang dan memiliki segmen – segmen
   serta merupakan parasit dalam saluran pencernaan ( Soulsby; 1982 ). Cacing
   ini bersifat hermafrodit dengan bagian – bagian tubuh yang terdiri dari
   skoleks, leher dan strobila. Skoleks dilengkapi dengan empat batil isap dan
   rostelum yang digunakan sebagai alat untuk menempel pada mukosa usus
   inangnya. Pada batil isap dan rostelum dilengkapi juga dengan kait – kait
   tetapi tergantung pada spesiesnya. Bagian leher adalah bagian yang paling
   aktif dalam pembentukan segmen baru. Strobila adalah bagian tubuh cacing
   pita yang paling besar yang terdiri dari segmen – segmen. Strobila terdiri dari
   segmen muda, segmen dewasa dan segmen gravid. Pertumbuhan normal
   cacing pita dewasa memiliki tiga stadium perkembangan segmen yaitu muda (
   immature ), dewasa ( mature ), dan gravid. Segmen muda memiliki ciri
   morfologi yaitu adanya perkembangan awal dari organ reproduksi, sedangkan
   segemen dewasa perkembangannya sudah sempurna dan lengkap. Morfologi
   segmen dewasa sering digunakan sebagai salah satu kriteria untuk
   mengidentifikasikan cacing pita. Segmen gravid membentuk kantung –
   kantung yang penuh berisi telur. Segmen gravid akan mengalami proses
   destrobilisasi dan keluar bersama – sama tinja inang definitif. Tinja inang
inilah yang menjadi pembawa sumber infeksi yang sangat potensial ( Retnani
& Hadi, 2007 ).
           Cacing ditemukan dalam jumlah yang cukup banyak sepanjang
usus. Ciri – ciri organ yang terifeksi yaitu ditemukan adanya bungkul –
bungkul berwarna putih dan jelas terlihat di luar ususnya. Menurut referensi
yang diperoleh, diketahui bahwa bungkul – bungkul tersebut terdiri dari
jaringan nekrotik dan darah putih.


Klasifikasi Spesies
Phylum       : Platyhelminthes
Kelas        : Cestoda
Ordo         : Davaneidea
Famili       : Davaineidae
Genus        : Raillietina
Spesies      : Raillietina echinobothrida


           Sementara itu, dalam penelitian ini tidak ditemukan cacing dalam
saluran pencernaan burung merpati ( Columba livia ).
                                                                      Daerah penemuan cacing




               http://www.msstate.edu/dept/poultry/pics/anatomy.jpg
B. Mekanisme Infeksi Cacing ke Dalam Tubuh Unggas
              Mekanisme infeksi cacing ke dalam tubuh unggas berkaitan erat
   dengan siklus hidup cacing tersebut. Berbagai faktor yang mempengaruhi pola
   infeksi tersebut adalah populasi cacing stadium efektif di dalam inang antara,
   dan pola penyebarannya, kekhasan inang / habitat serta pola makannya (
   Lawson & Gemmel, 1983 ). Sedangkan kelangsungan hidup cacing stadium
   efektif di alam sangat ditentukan oleh interaksi antara kondisi alam yaitu suhu,
   kelembaban, dan curah hujan yang setiap jenis cacing mempunyai tingkat
   ketahanan yang berbeda ( Charmichael, 1993; Ridwan et all., 1996 )
              Cacing biasanya menginfestasi ke dalam tubuh ayam melalui
   beberapa cara, diantaranya melalui telur cacing atau larva cacing yang
   termakan oleh ayam, memakan induk semang antara ( semut ) yang
   mengandung telur atau larva cacing, telur atau larva cacing yang terbawa oleh
   petugas kandang / peternak melalui sepatu dan pakaian kandangnya, atau bisa
   juga karena ransum atau air minum yang tercemar telur cacing. Cacing pita
   merupakan cacing yang menginfeksi ayam dan memerlukan serangga sebagai
   inang antaranya (Soulsby 1982). Peluang kontak ayam terhadap inang antara
   yang paling potensial adalah keberadaan dan volume tinja, sedangkan kondisi
   lingkungan dan manejemen peternakan merupakan faktor pendukung.
              Cacing pita mempunyai bermacam – macam kisaran spesifisitas
   hospes, tetapi cacing pita dewasa lebih spesifik daripada kebanyakan cacing
   dewasa kelompok lain. Tiap – tiap ordo burung mempunyai cestoda sendiri
   yang karakteristik. Spesifitas hospes di antara cacing – cacing ini mencapai
   derajat   kesempurnaan     yang    tinggi   selama     hospesnya    mengalami
   pengkhususan. Spesifisitas hospes di antara cestoda mencapai derajat tertinggi
   pada burung ( aves ). Siklus hidup cacing pita yang juga dikenal dengan
   cestoda pada unggas umumnya melewati inang perantara/vektor seperti
   kepiting, kutu air, crustacea dan katak (unggas air), sedang pada unggas darat
   (ayam) lebih sering menggunakan inang perantara insekta terbang (lalat,
   kumbang) dan cacing tanah.        Karena vektor yang berupa insekta terbang
   inilah yang menjadikan cacing pita mudah tersebar secara luas. Selain itu,
telur-telur cacing pita pada umumnya mempunyai kemampuan yang hebat
untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan. Infeksi cacing pita di dalam
tubuh unggas menyebabkan penyakit cestodosis.
           Infeksi cacing saluran pencernaan pada umumnya mudah
didiagnosis melalui pemeriksaan tinja hewan yang dicurigai terinfeksi. Telur
cacing yang keluar bersama feses berkembang menjadi stadium infektif
kemudian termakan induk semang antara atau langsung masuk tubuh ayam
yang kemudian akan menuju ke tempat yang disukainya (tembolok, usus,
sekum atau organ lain) untuk berkembang sampai dewasa. Tidak demikian
dengan Cestodosis yang memiliki tingkat kesulitan tersendiri untuk
didiagnosis karena cacing pita tidak mengeluarkan telur bersama tinja.
Nekropsi merupakan cara terbaik yang dapat dilakukan untuk mendiagnosis
Cestodosis. Kendala ini mengakibatkan angka prevalensi Cestodosis akan
semakin tinggi serta menyulitkan dalam menentukan strategi pengobatan
(Retnani & Hadi 2007).
           Ada beberapa faktor yang mempengaruhi tingkat kejadian
cestodosis pada ayam kampung yaitu menejemen pemberian pakan,
kebersihan dan sanitasi lingkungan di sekitar kandang, waktu pembuangan
feses dan pembersihan kandang, cuaca dan iklim, pemberian antibiotik, atau
vaksinasi ayam secara rutin.
           Faktor pendukung perkembangan populasi cacing adalah suhu
lingkungan, pH lingkungan, kelembaban, curah hujan serta radiasi sinar
matahari baik secara langsung ataupun tidak langsung untuk mempertahankan
siklus hidupnya. Untuk pertumbuhan larva cestoda dalam telur diperlukan
tanah yang lembab dan tidak membutuhkan adanya genangan air.
           Mpoame & Agbede (1995) mengatakan bahwa infeksi cacing pita
secara umum sangat tinggi pada daerah dengan kondisi yang basah. Daerah
basah merupakan kondisi iklim yang baik untuk ketahanan parasit stadium
infektif dan untuk pertumbuhan populasi inang antaranya. Begitu pula dengan
Terrigino et al. (1997) mengatakan bahwa infeksi parasit pada wilayah dengan
kondisi pertanian dan iklim yang buruk akan menguntungkan untuk ketahanan
dan pertumbuhan parasit. Perbedaan yang signifikan terhadap tingginya
prevalensi parasit pada ayam terjadi antara peternakan tradisional dan
peternakan modern. Hal ini disebabkan adanya perbedaan dalam penanganan
higienis dan sanitasi lingkungan serta manejemen peternakan (tradisional dan
modern).
           Faktor-faktor lingkungan seperti di atas merupakan beberapa
penyebab yang mempengaruhi tidak ditemukannya parasit cacing pada
merpati yang digunakan dalam penelitian. Merpati ini berhabitat di lingkungan
yang tidak bersentuhan langsung dengan tanah (dilapisi paving blok) dan
kebersihannya lebih terjaga. Makanan yang diperoleh berasal dari peternak
sehingga kemungkinan untuk terkena infeksi cacing sangat kecil. Habitat
merpati tidak mendukung untuk berkembangnya induk semang antara yang
menyalurkan telur cacing yang khas pada merpati, sehingga telur tidak
menemukan induk semang antara yang tepat dan tidak akan berkembang
menjadi sistiserkoid, daur hidup cacing-pun akan terputus, dan akhirnya
infeksi cacing tidak akan terjadi karena tidak ada proses infestasi. Cacing yang
spesifik pada merpati antar lain Tetrameres americana yang memerlukan
induk semang antara berupa serangga orthoptera, dan Raillietina bonini yang
memerlukan induk semang antara berupa siput. Lain halnya dengan ayam
kampung yang berhabitat di lingkungan peternakan tradisional yang kurang
terjaga kebersihannya. Meskipun makanan yang diperoleh berasal dari
peternak tetapi ayam masih mempunyai peluang besar memperoleh makanan
sendiri dari lingkungan sekitarnya. Adanya infeksi cacing Raillietina
echinobothrida dalam tubuh ayam menunjukkan bahwa lingkungan / habitat
ayam mendukung kehidupan induk semang antaranya, yaitu semut.
           Kejadian infeksi alami cacing pita yang cukup tinggi, berkaitan
dengan tersedianya inang antara spesifik seperti lalat rumah, semut dan
kumbang yang berperan dalam penyebaran cacing pita. Menurut Angraeny
(2007), jumlah lalat rumah yang tinggi di area peternakan dapat menyebabkan
semakin    meningkatnya      kejadian    Cestodosis.    Gaina    (2007)    juga
mengungkapkan bahwa semakin tinggi jumlah inang antara spesifik cacing
pita dalam hal ini kumbang dapat menyebabkan semakin meningkatnya
kejadian Cestodosis. Untuk kasus infeksi Raillietina echinobothrida, berarti
semakin tinggi jumlah semut sebagai induk semang antara, maka kejadian
cestodosis oleh cacing pita jenis ini juga akan meningkat.
              Menurut F.X Suwarta ( 1990 ) ada beberapa spesies cacing pita
yang biasa menyerang unggas dan sering ditemukan di daerah tropis, yaitu :
Davainea proglotina, Raillietina tetragona, Raillietina echionobothrida,
Raillietina    cesticillus,   Amoebotaenia   sphenoides,     dan   Choanotaenia
infundibulum Menurut Herwintarti prevalensi cestodosis pada ayam kampung
di berbagai wilayah di Indonesia masih relatif tinggi hingga tahun 2001. Jenis
cacing pita yang paling tinggi menginfeksi saluran pencernaan yaitu
Raillietina echinobothrida ( 52,8 % ). Hal ini sesuai dengan hasil penelitian
yang kami lakukan, yang juga menemukan spesies Raillietina echinobothrida
dalam saluran pencernaan unggas yang dipilih (usus ayam kampung ).
              Tidak semua cacing pita unggas bersifat patogen. Gejala klinis
dapat terlihat pada ayam muda yang menderita infeksi berat (Suwarti 1990).
Ayam muda lebih peka terhadap infeksi cacing pita dibandingkan ayam
dewasa. Akibat infeksi cacing pita pada usus akan terlihat adanya enteritis
baik akut maupun kronis yang tergantung dari derajat infeksinya. Terjadinya
peradangan pada bagian serosa disebabkan tertanamnya skoleks cacing
menempal pada mukosa usus. Raillietina paling sering ditemukan dan
merupakan cacing pita yang dominan menginfeksi ternak ayam (Retnani &
Hadi 2007). Jenis cacing Choanotaenia infundibulum, Amoebotaenia cuneata,
Metroliasthes lucida dan Fimbriaria fasciolaris kurang patogen.
              Davainea proglottina adalah cacing pita dengan patogenitas yang
sangat berbahaya pada ayam (Kusumamihardja 1992). Cacing jenis ini paling
patogen karena bagian skoleksnya melakukan penetrasi ke dalam mukosa
duodenum dan menyebabkan terjadinya enteritis hemoragis yang berat. Selain
itu, cacing ini juga dapat menimbulkan gejala klinis kekurusan, berat badan
menurun, bulu kering dan rontok serta nafas menjadi sesak pada ayam.
            Raillietina echinobothrida dan Raillietina tetragona tingkat
patogenitasnya berada di bawah Davainea proglottina. Dua jenis cacing ini
menancapkan skoleksnya tidak terlalu dalam pada mukosa usus seperti cacing
Davainea proglottina (Kusumamihardja 1992).
            Setiap spesies cacing pita memiliki inang antara yang spesifik dan
berbeda-beda. Keberadaan inang antara yang beraneka ragam dengan populasi
yang tinggi di lingkungan peternakan akan menyebabkan semakin
meningkatnya kejadian Cestodosis pada peternakan ayam baik ayam kampung
maupun ayam ras. Manfaat pengetahuan jenis-jenis cacing pita adalah untuk
mengetahui apakah cacing pita yang ditemukan dalam saluran pencernaan
ayam bersifat patogen atau tidak. Hal tersebut bertujuan sebagai petunjuk
dalam tindakan pengendalian terhadap induk semang antara sebagai sumber
infeksi.




                  Sisterkoid




                                                        Skolek
           Semut



                                 Proglotid gravid




             Gambar Daur Hidup Raillietiena echinobothrida
C. Mekanisme kerja cacing dalam saluran pencernaan unggas.
              Raillietina echinobothrida bersifat sangat patogen. Cacing ini
   dapat membuat liang pada dinding duodenum, sehingga membentuk nodul –
   nodul, serupa dengan nodul – nodul pada penyakit TBC unggas. Cacing pita
   dewasa hidup di dalam lumen usus halus degan skoleksnya melekat pada
   mukosa usus. Habitat cacing ini biasanya pada usus halus bagian illium, tetapi
   dapat pula ditemukan di dalam jejunum dan duodenum bahkan kadang –
   kadang berada di dalam kolon. Segmen gravid yang mengandung telur
   dikeluarkan bersama tinja dari tubuh ayam yang terinfeksi cacing pita ke
   lingkungan bebas.
           Inang antara yang cocok akan memakan segmen gravid. Telur
cacing tersebut akan menetas dalam saluran pencernaan inang antara dan
membebaskan embrio (onkosfer), kemudian akan penetrasi pada dinding usus
dan masuk ke dalam rongga tubuh yang membutuhkan waktu selama 12 jam.
Dalam jangka waktu tiga minggu embrio tersebut akan berkembang menjadi
sistiserkoid. Sistiserkoid merupakan stadium infektif yang akan tinggal tetap
di dalam tubuh inang antara sampai inang antara tersebut dimakan oleh inang
definitif dalam hal ini adalah ayam.
           Ayam akan terinfeksi cacing pita apabila memakan inang antara
yang mengandung sistiserkoid. Selanjutnya proses pertumbuhan cacing
diawali dengan penempelan (attachment) bahkan penancapan bagian skoleks
pada mukosa usus. Hal itu dilakukan agar cacing tetap dapat tumbuh dan
berkembang dengan memakan nutrisi makanan yang ada di dalam usus.
Setelah penancapan skoleks maka cacing akan berkembang melalui proses
proglotidisasi dan selanjutnya tumbuh menjadi cacing pita dewasa di dalam
usus (Retnani & Hadi 2007).
           Jumlah cacing yang tinggi dalam usus dapat menyebabkan
terjadinya penebalan mukosa usus. Pada kasus yang berat dapat memacu
terjadinya enteritis kataral atau hemoragis pada kasus yang berat, dimana
mukosa usus tertutup oleh lendir yang tebal (Kusumamiharja 1992).
           Unggas yang terinfeksi Raillietina echinobothrida memiliki ciri –
ciri nafsu makan berkurang, pucat, kurus, lesu, mencret dan adanya bintil –
bintil / nodul pada ususnya ( Soekardono, 1986 ). Akan tetapi berdasarkan
hasil pengamatan dalam penelitian ini, ayam yang terinfeksi tidak sepenuhnya
menunjukkan seluruh gejala – gejala yang telah disebutkan sebelumnya. Hal
ini berkaitan dengan tingkat infeksi oleh cacing tersebut dalam tubuh ayam.
Ayam yang digunakan dalam penelitian tampak sehat, hanya bulu yang
dimilikinya kusam dan tidak berwarna cerah.
                                   BAB VI
                                  PENUTUP


A.   SIMPULAN
      Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat diambil kesimpulan yaitu :
     1. Pada saluran pencernaan ayam kampung ( Gallus domesticus )
        ditemukan cacing Raillietina echinobothrida sedangkan pada saluran
        pencernaan merpati ( Columba livia ) tidak ditemukan parasit cacing
        apapun.
     2. Raillietina echinobothrida memerlukan induk semang antara, yaitu
        semut untuk masuk ke dalam tubuh hospes definitif ( Gallus
        domesticus).
     3. Raillietiena echinobothrida dapat ditemukan pada usus ( illium,
        jejunum, duodenum dan bahkan kolon ) serta mempunyai kait untuk
        menempel pada mukosa usus.


B.   SARAN
     1. Pengetahuan mengenai berbagai macam parasit cacing pada saluran
        pencernaan unggas sangat diperlukan untuk mengetahui jenis cacing
        yang patogen, sehingga dapat diketahui cara pencegahannya sebelum
        terjadi infeksi.
     2. Dalam melakukan penelitian yang berhubungan dengan parasit
        sebaiknya praktikan menggunakan pelindung tangan ( sarung tangan )
        karena setiap segmen / proglotida pada parasit tersebut ( dalam hal ini
        cacing ) bisa saja merupakan proglotida gravid dan dikhawatirkan akan
        masuk ke dalam tubuh praktikan melalui telur yang menempel pada
        kuku / tangan yang tidak terjaga kebersihannya.
                          GLOSARIUM

Antara hospes         umumnya hospes yang di dalamnya hanya terdapat stadium
                      muda atau aseksual,
Definitif, hospes     hospes yang di dalamnya terdapat parasit yang mengalami
                      perkembangbiakan seksual.
Enteritis             radang usus, organ tubuh yang sering terserang bakteri
Gravid                hamil
Haemoragic            pendarahan
Hospes                hewan atau tumbuh – tumbuhan hidup yang membawa atau
                      memberi penghidupan kepada parasit, juga satu sel yang di
                      dalamnya terdapat parasit ( sel hospes )
Hospes,spesirisitas   pembatasan suatu parasit terhadap satu atau lebih macam
                      hospes
Infeksi               adanya parasit di dalam hospes, di dalam ilmu kedokteran
                      serangan parasit kepada sel atau jaringan yang enyebabkan
                      luka dan reaksi terhadap luka.
Infestasi             serangan parasit ( pada umumnya terbatas pada ektoparasit
                      ) , beberapa dari parasit tersebut dapat menyerang jaringan
                      permukaan, misalnya oleh tangan.
Larva                 stadium yang jelas berbeda dengan yang dewasa,
                      memerlukan         metamorfosis       untuk     perkembangan
                      selanjutnya.
Nodule                1) bintul terbentuk oleh bakteri N yang melakukan fiksasi
                      N dalam tanah, sering terbentuk pada akar, sesewaktu juga
                      bisa pada batang, 2) simpul, nodul, 3) benjolan kecil, misal
                      pada kelenjar gondok.
Orthoptera            ordo belalang, jangkrik, dan lipas. Sayap lurus, sayap depan
                      mengkilap sepertis kertas permanen, sayap belakang tipis,
                      bervena banyak dan ketika istirahat berada di bawah sayap
                      depan.
Patogen               menyebabkan penyakit
Prevalensi            jumlah individu atau persentasi populasi yang terinfeksi
                      pada sesuatu waktu tertentu.
Sistiserkoid          sista, struktur tubuh ( telur, larva ) yang bersalut keras dan
                      tebal. Individu bentuk sista biasanya dalam suasana
                      lingkungan yang buruk. Pada protozoa dan platyhelminthes
                      bentuk sista mengalami pembiakan aseksual, yakni
                      pembelahan diri berulang – ulang, dan ketika sista pecah
                      akan keluar banyak larva dari satu sista.
                             DAFTAR PUSTAKA


Admin. 2007. Askaridiasis pada Ayam. Diakses 1 Mei 2009. http://www.vet-
     indo.com/Kasus-Medis/Askaridiasis-pada-Ayam.html
.Anonimus. 2007. Waspada Cacing Pita pada Unggas. diakses tanggal 7 Mei
     2009. www.poultryindonesia.com
Anonimus. 2008. Cacingan dan Pengobatannya. Diakses 9 Mei 2009.
     http://infovet.blogspot.com/2008/07/cacingan-dan-pengobatannya.html
Beriajaya, dkk. 2009. Masalah Ascariasis Pada Ayam ( Lokakarya Nasional
     Inovasi Teknologi Dalam Mendukung Usahaternak Unggas Berdayasaing).
     Bogor : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Peternakan.
Isnaeni, Wiwi. 2006. Fisiologi Hewan. Yogyakarta: Kanisius
J,Sauvani.      2009.     Cacingan,      Worm          Disease.   http://www.glory-
     farm.com/psv/infeksi_parasit.htm
Noble, Elmer R dan Glenn A Noble. 1989. Parasitologi : Biologi Parasit Hewan.
     Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.
Retnani, Elok Budi, dkk. 1998. Abstrak Penelitian : Studi terhadap Fluktuasi
     Populasi    Cacing   Parasit     pada   Saluran    Pencernaan   Ayam   Buras.
     http://web.ipb.ac.id/~lppm/ID/index.php?view=penelitian/hasilcari&status=
     buka&id_haslit=636.6+RET+s
____ , Elok Budi, dkk. 1997. Dinamika Populasi Cacing Slauran Pencernaan
     Ayam Kampung : Pengaruh Tipe Iklim Terhadap Fluktuasi Populasi Cacing.
     Bogor : Laboratorium Helmintologi, Jurusan Parasitologi dan Patologi,
     Fakultas Kedokteran Hewan, IPB
Soekardono, Soeprapto & Soetijono Partoedjono. 1986. Parasit – Parasit Ayam.
     Jakarta : Gramedia
Sujana, Arman. 2007. Kamus Lengkap Biologi. Jakarta : Mega Aksara.
Suprijatna, Edjeng, dkk. 2005. Ilmu Dasar Ternak Unggas. Bandung : Penebar
     Swadaya.
Sutarno. 2000. Cacing Trematoda Hidup Parasit pada Saluran Pencernaan Ayam
     Kampung( Article from Journal - ilmiah nasional - terakreditasi DIKTI ).
     http://lib.atmajaya.ac.id/default.aspx?tabID=61&id=48219 &src=a
Tabba, Charles R. 2007. Penyakit Ayam dan Penanggulangannya ( Penyakit Asal
     Parasit, Noninfeksius dan Etiologi Kompleks). Yogyakarta : Kanisius.
               Bon Penggunaan Tempat, Alat dan Bahan

     Sehubungan dengan adanya tugas mata kuliah Fisiologi Hewan, untuk
melakukan penelitian mengenai “Parasit ( Cacing ) pada Saluran Pencernaan
Unggas”, maka kami bermaksud menggunakan tempat serta alat dan bahan yang
dibutuhkan sebagai berikut :

Tempat         : Laboratorium Fisiologi Hewan, Jurusan Biologi, FMIPA
                 UNNES.
Waktu          : 25 April 2009
Alat           : Alat – alat bedah ( Pisau, gunting, pinset, dst ), Tempat preparat,
                 Mikroskop ,Object glass + deckglass, Kapas, botol flakon.
Bahan          : Obat bius, Formalin 4%, aquades, hematoxylin, alkohol ( 70%,
                 80%, 90%, 96% ), Xylol, Canada balsam

Demikian permohonan kami, atas perhatian dan kerjasamanya, kami ucapkan
terimakasih.



Dosen Pengampu                                       a.n Kelompok*




Drh. Wulan Christijanti, M.Si.                       Lutfia Nur Hadiyanti
NIP. 132149437                                       NIM. 4401407075



* Kelompok terdiri dari :

1. Islakhul Huda            ( 4401405582 )
2. Lutfia Nur Hadiyanti ( 4401407075 )
3. Trias Mua’mala           ( 4401407081 )
4. Putri Intan Sari         ( 4401407099 )
5. Nur Ida Fitriyah         ( 4401407093 )
           Kondisi Fisik Unggas




          Unggas Setelah dibedah




merpati

                                   Ayam
            Keadaan organ unggas

								
To top