Filsafat (DOC download)

Document Sample
Filsafat (DOC download) Powered By Docstoc
					                                   PENDAHULUAN




       Kira – kira dua ribu tahun, para filosof membangun fondasi falsafahnya sehingga
mengguncang filsafat dunia barat. Para filosof klasik muncul untuk membangkitkan
kembali kepercayaan masyarakat terhadap ilmu pengetahuan yang waktu itu mengalami
pendangkalan dan melemahnya tanggungjawab manusia karena pengaruh negative dari
para filosof aliran sofisme. Kehadiran filosof Yunani Klasik sama dengan kehadiran
raksasa yang mengguncang bumi. Berbagai pandangan para filosof yunani merupakan
motivasi kuat untuk bangkit kembali ilmu pengetahuan yang telah semakin lemah dan
oleh pengaruh filsafat kaum sofis yang merelativitaskan segala sesuatu.
       Socrates, Plato dan Aristoteles adalah para filosof yang bangkit pada masa yunani
klasik. zaman klasik berawal dari Socrates, tetapi Socrates belum sampai pada suatu
system filosofi, yang memberikan nama klasik kepada filosofi itu. Ia baru membuka
jalan, mencari kebenaran dan belum sampai menegakkan suatu system pandangan.
       Sistem ajaran filsafat klasik baru dibangun oleh Plato dan Aristoteles berdasarkan
ajaran Socrates tentang pengetahuan dan etik beserta filosofi alam yang berkembang
sebelum Socrates, yang mana akan dibahas dalam makalah ini.
                            FILSAFAT KLASIK


A. Socrates ( 469 – 399 SM )
          Tidak ada orang yang tahu persis bagaimana Socrats dilahirkan. Yang jelas
   ialah bahwa pada tahun 399 ia dijatuhi hukuman mati dengan harus minum racun.
   Oleh karena pada waktu ia berumur 70 th, maka barangkali ia dilahirkan pada
   tahun + 470 SM. Agaknya ia berasal dari keluarga kaya, yang kemudian menjadi
   miskin. Yang jelas ialah bahwa ia mendapat pendidikan yang baik.
          Seperti halnya para kaum sofis, Socrates juga memberi pelajaran kepada
   rakyat. Sama halnya dengan kaum sofis, ia mengarahkan perhatiannya kepada
   manusia. Perbedaannya dengan kaum sofis terletak di sini, bahwa Socrates tidak
   memungut biaya bagi pengajarannya. Socrates tidak meninggalkan tulisan apa –
   apa. Pengetahuan kita tentang Socrates kita terima dari para muridnya. Padahal
   muridnya banyak sekali, yang tulisannya juga bermacam – macam tentang dia.
          Cara Socrates memberikan pengajaran adalah dengan mendatangi
   bermacam – macam orang ( ahli politik, pejabat, tukang dll ). Kepada mereka
   dikemukakan pertanyaan – pertanyaan yang mengenai pekerjaan mereka, hidup
   mereka sehari – hari dll. Jawaban mereka pertama – tama dianalisa dan
   disimpulkan dalam suatu hipotese. Hipotese ini dikemukakan lagi kepada mereka
   dan dianalisa lagi. Demikian seterusnya hingga ia mencapai tujuannya, yaitu
   membuka kedok segala peraturan atau hukum yang semu, sehingga tampak
   sifatnya yang semu, dan mengajak orang melacak atau menelusuri sumber –
   sumber hukum yang sejati. Supaya tujuan itu tercapai diperlukan suatu
   pembentukan pengertian yang murni. Cara pengajaran Socrates pada umumnya
   disebut dialektika, karena dalam pengajaran itu dialog memegang peranan
   penting.
          Oleh karena Socrates tidak memberikan suatu sistem dan tidak
   meninggalkan tulisan sedikitpun, maka sukar sekali untuk menentukan bagaimana
   isi ajarannya yang sebenarnya. Barangkali ajarannya dapat dirangkum sebagai
   berikut :
          Jiwa manusia bukanlah nafasnya semata – mata, tetapi asas hidup
   manusia dalm arti yang lebih mendalam. Jiwa adalah intisari manusia, hakekat
   manusia sebagai pribadi yang bertanggungjawab. Oleh karena jiwa adalah intisari
   manusia, maka manusia wajib mengutamakan kebahagiaan jiwanya, lebih dari
   kebahagiaan tubuhnya. Pendirian Socrates yang terkenal adalah “ Keutamaan
   adalah pengetahuan “. Keutamaan dibidang hidup baik tentu menjadikan orang
   dapat hidup baik. Hidup baik berarti mempraktekkan pengetahuannya tentang
   hidup baik itu. Jadi baik dan jahat dikaitkan dengan soal pengetahuan, bukan
   dengan kemauan manusia.
          Tidak jelas pandangan Socrates tentang Negara, akan tetapi ia memberikan
   asas – asas etika kenegaraan. Menurutnya, negara mempunyai tugas untuk
   mewujudkan kebahagiaan warganya, membuat jiwa mereka sebaik mungkin. Oleh
   karena itu, penguasa harus tahu “ apa yang baik “. Di dalam pemerintahan yang
   penting bukan demokrasi, atau suara rakyat, tetapi keahlian yang khusus, yaitu
   pengenalan tentang “ yang baik “.


B. Plato ( 427 – 347 SM )
          Plato adalah filosof Yunani pertama yang kita ketahui lebih banyak
   berdasarkan karya – karyanya yang utuh.
          Ia dilahirkan dari keluarga yang terkemuka, dari kalangan politisi. Semula
   ia ingin bekerja sebagai seorang politikus, akan tetapi kematian Socrates
   memadamkan ambisinya untuk menjadi seorang politikus. Selama 8 th ia menjadi
   murid Socrates. Banyak ia bepergian sampai di Italia dan Sisilia. Setelah kmbali
   dari pengembaraannya ia mendirikan sekolah ‘ Akademi “. Maksud Plato dengan
   mendirikan sekolah itu ialah memberikan pendidikan yang intensif dalam ilmu
   pengetahuan dan filsafat. Ia memegang pimpinan Akademi itu selama 40 th.
          Banyak sekali karya – karyanya yang masih utuh yang dibagi menjadi 5
   kelompok, yaitu : karyanya ketika masih muda, karyanya pada tahap peralihan,
   karyanya yang mengenai idea – idea, karyanya pada tahap kritis dan karyanya
   pada masa tuanya. Diantara buku yang ditulisnya adalah : Apologia, Politeia,
   Sophistes, Timaios dll.
       Seluruh filsafat Plato bertumpu pada ajaran tentang dunia “ ide “.
Karenanya, ia dinobatkan sebagai pemikir idealisme. Baginya, ide adalah realita
yang sebenarnya dari segala sesuatu yang ada dan dapat dikenal dengan panca
indra, bukan sekedar gagasan atau gambaran yang hampir berada di dalam
pemikiran manusia.
       Keberadaan ide tidak bergantung pada daya pikir manusia, ide itu mandiri,
sempurna, abadi dan tidak berubah – rubah. Untuk menjelaskan pikiran
filosofisnya, Plato membelah realitas menjadi dua. Pertama, dunia ide. Kedua,
dunia bayang – bayang atau jasmani. Dunia ide adalah dunia kodrati, bersifat
kekal dan abadi. Sementara dunia bayang – bayang adalah penampakan, cerminan
atau bayangan dari dunia ide. Apabila dunia bayang – bayang atau jasmani
musnah, maka di dunia ide sesuatu itu masih ada dan tidak akan musnah.
       Perbedaan Socrates dan Plato adalah demikian : Sokrates mengusahakan
adanya definisi tentang hal yang bersifat umum guna menentukan hakekat atau
esensi segala sesuatu, karena ia tidak puas dengan mengetahui hanya tindakan-
tindakan atau perbuatan-perbuatan satu-persatu saja. Plato meneruskan usaha itu
secara lebih maju lagi dengan mengemukakan, bahwa hakeket atau esensi segala
sesuatu bukan hanya sebutan saja, tetapi memiliki kenyataan, yang lepas dari pada
sesuatu yang berada secara kongrit, yang di sebut idea. Idea-idea itu nyata ada, di
dalam dunia idea
       Jadi ada dua macam dunia, yaitu dunia ini, yang serba berubah dan serba
jamak , di mana tiada hal yang sempurna, dunia yang diamati dengan indera, yang
bersifat indrawi. Dan dunia idea, dimana tiada perubahan, tiada kejamakan (
dalam arti ini bahwa yang baik hanya satu, yang adil hanya satu, yang indah
hanya satu saja ), yang bersifat kekal.
       Hubungan antara kedua dunia itu adalah demikian, bahwa ide-idea dari
dunia atas itu hadir dalam benda yang kongkrit, ( umpamanya : idea manusia
berada pada tiap manusia, dan seterusnya ) dan bahwa sebaliknya benda-benda itu
berpartisipasi dengan ide-ideanya, artinya : mengambil bagian dalam ide-ideanya,
bukan hanya dalam satu idea saja, melainkan dapat juga lebih (umpamanya :
bunga bagus, berpartisipasi dengan idea bunga dan idea bagus ). Dengan
   demikian idea-idea itu berfungsi sebagai model atau contoh benda-benda yang
   kita amati di dalam dunia ini.
           Seperti halnya dengan Sokrates, tujuan hidup manusia ialah eudaimonia
   atau hidup yang baik. Persoalan pokok di dalam negara ialah keselamatan para
   orang yang di perintah, bukan keselamatan para orang yang memerintah. Para
   orang      yang   memerintah     harus   mempersembahkan    hidup   mereka    bagi
   pemerintahan, dengan mengorbankan kepentingan diri sendiri.
           Menurut Plato, golongan – golongan di dalam Negara yang ideal harus
   terdiri dari 3 bagian yaitu :
1. Golongan yang tertinggi, yang terdiri dari para yang memerintah, yang oleh Plato
   disebut para penjaga, yang sebaiknya terdiri dari para orang bijak ( filsuf ), yang
   mengetahui apa yang baik. Kebajikan golongan ini adalah kebijaksanaan.
2. Golongan pembantu, yaitu para prajurit, yang bertujuan menjamin keamanan,
   menjamin ketaatan para warga Negara kepada pimpinan para penjaga. Kebajikan
   mereka adalah keberanian.
3. Golongan terendah, yang terdiri dari rakyat biasa, para petani dan tukang serta
   para pedagang, yang harus menanggung hidup ekonomi Negara. Kebajikan
   mereka adalah pengendalian diri.


C. Aristoteles ( 384 – 322 SM )
            Aristoteles lahir di Stageira pada semenanjung Kalkidike di Trasia (
   Balkan ) pada tahun 884 SM dan meninggal di Kalkis pada tahun 322 SM dalam
   usia 63 th. Ayahnya yang bernama Mashaon adalah seorang dokter istana raja
   Macedonia Amyntas II. Dari kecil Aristoteles mendapat asuhan dari ayahnya
   sendiri. Ia mendapat mendapat pelajaran dalam hal teknik membedah. Olek
   karena itu perhatiannya banyak tertumpah pada ilmu – ilmu alam, terutama ilmu
   biologi.
           Tatkala ayahnya meninggal, ia pergi ke Athena dan belajar pada Plato di
   Akademia. Dua puluh tahun lamanya ia menjadi murid Plato dan bergaul dengan
   dia. Ia rajin membaca dan mengumpulkan buku – buku. Di rumahnya disusun
   suatu bibliotik. Sebagai bibliotik yang pertama terdapat di Athena. Aristoteles
sangat gandrung kepada Plato, sehingga ia mendirikan perpustakaan filsafat
sendiri untuk menghormati gurunya. Oleh karena itu rumah filosofi dibei nama ‘
Rumah Membaca “.
      Selain memperdalam filsafat kepada Plato, Aristoteles memperluas
pengetahuannya dalam berbagai jurusan di luar Akadmia. Pelajaran Matematik
yang diperolehnya di Akadmia diperdalamnya pada guru – guru astronomi yang
terkenal yaitu Eudoxos dan Kalippos. Bahkan ia memperdalam retorika.
Kecerdasannya yang luar biasa memudahkan ia menguasai sampai mendalan
hampir segala ilmu yang diketahui pada masanya. Tatkala ia berumur 18 th, ia
dikirim di Athena di Akademia Plato. Di kota itu ia belajar pada Plato.
Kecenderungannya berfikir saintifik tampak dari pandangan – pandangan
filsafatnya yang sistematis dan banyak mengunakan metode empiris. Pandangan
filsafat Aristoteles berorientasi pada hal – hal yang konkret.
      Ia menjadi dikenal luas karena pernah menjadi tutor ( guru ) Alexander,
seorang diplomat ulung dan jederal terkenal. Di Athena ia mendirikan sekolah
yang bernama Lyceum. Sekolah itu banyak menghasilkan penelitian yang tidak
hanya dapat menjelaskan prinsip – prinsip Sains, tetapi juga politik, retorika, dsb.
Selain itu karya – karya Aristoteles ada 36 buah, terbagi dalam 4 bagian, yaitu :
1. Buku Logika, yang diterjemahkan ialah :
   a. Categoriae ( Al Maqulat ), berisi 10 macam predikat ( keterangan )
   b. Interpretation ( tafsiran ) yang dalam dunia islam terkenal dengan nama
       Pro – Armenias, berisi keterangan tentang bahasa yaitu tentang proposisi
       dan bagian bagiannya.
   c. Topica, yang berisi Qiyas dialektika dan pemikiran mengenai hal – hal
       yang belum pasti.
   d. Sophistis, yang berisi kesalahan – kesalahan yang telah diperbuat oleh
       orang – orang sofis, penolakan terhadap mereka dan pemecahannya.
2. Buku Fisika, yakni ada 3 :
   a. De Caelo ( langit )
   b. Animalium ( hewan )
   c. Anima ( jiwa )
3. Buku etika, terdiri dari :
   a. Al Akhlaq karangan Al Farabi, sebagai ulasan terhadap buku Aristoteles
   b. Al Akhlaq karangan Ibnu Maskawaih
   c. Akhlaqus Syekh Ar Rais dari Ibnu Sina
4. Buku Metafisika, diantaranya :
   a. Isinya yang samoai pada kaum muslimin ada sebelas karangan, sedang
       teks aslinya dalam Yunani berisi 14 karangan.
   b. Buku tentang ilmu ketuhanan dan catatan atas buku huruf ( buku
       metafisika dari Aristoteles ).


       Aristoteles memang filosof luar biasa. Didikan yang diperolehnya pada
waktu kecil, ketika ia mempelajari teknik pembedahan dalam dunia kedokteran
dari ayahnya, mempengaruhi pandangan ilmiah dan pandangan filosofinya.
Pengalaman bukanlah pengetahuan yang berupa bayangan belaka. Menurutnya,
alam idea bukan sekedar bayangan seperti yang diajarkan oleh Plato.
       Plato mempelajari keberadaan yang ada sebagai suatu keseluruhan dan
yang dipelajari ialah dunia yang tidak kelihatan yakni dunia idea. Aristoteles
membagi adanya itu dalam berbagai lingkungan seperti fisika, biologi, etika,
politik dan psikologi. Dan adanya yang dipelajarinya dalam lingkungan itu ialah
kenyataan – kenyataan yang kelihatan caranya bekerja pada tiap – tiap bidang
penyelidikan   ialah   mengamati        kenyataan   yang   kelihatan   dan   mencari
relevansinya. Pada mulanya, ia juga mengikuti tradisi Plato, tetapi 25 th terahir
dalam hidupnya, ia melakukan cara sendiri dengan karakteristik yang berlainan.
       Setelah Plato mninggal, Aristoteles meninggalkan Athena bersama
Xenokrates, kawannya belajar di Akademia. Waktu itu telah berusia 38 th. Ia
ingin berkeliling dunia untuk meluaskan pandangannya. Xenokrates ikut serta,
karena sebagai seorang murid Plato yang setia, ia mengira bahwa dialah yang
akan menggantikan gurunya sebagai pemimpin Akademia. Akan tetapi,
kepemimpinan itu jatuh ketangan Speusuppos, keponakan Plato yang dalam
pengetahuan dan kecerdasannya sangat kurang dibanding dia.
          Aristoteles terkenal sebagai “ Bapak Logika “. Itu berarti bahwa sebelum
dia tidak ada logika. Tiap uraian ilmiah berdasarkan logika. Logika tidak lain dari
berfikir secara teratur menurut urutan yang tepat atau berdasarkan hubungan
sebab      akibat.   Aristoteles   membagi   logika   menjadi    3   bagian,   yaitu
mempertimbangkan, menarik kesimpulan dan membuktikan atau menerangkan.
Pengertian tentang adanya itu dibagi menjadi 10 macam yang disebutnya kategori,
yaitu :
1. Substansi ( barang ), misalnya manusia, kuda
2. Kuantita ( jumlah ), misalnya dua atau tiga atau panjang
3. Kualita ( sifat ), misalnya putih, beradab
4. Relasi ( hubungan ), misalnya dua kali, setengah, lebih besar
5. Tempat, misalnya di pasar
6. Waktu, misalnya kemaren, tahun lalu
7. Sikap, misalnya tidur, duduk
8. Keadaan, misalnya bersepatu
9. Kerja ( aktif ), misalnya memotong, membakar
10. Menderita ( pasif ), misalnya dipotong, dibakar
          Dalam sistem Aristoteles, ilmu jiwa, psikologi adalah bagian dari biologi.
Ia mengemukakan 3 jenis jiwa yang berurutan sifat kesempurnaannya, yaitu :
          Pertama, jiwa tanaman yang tujuannya menghasilkan makanan dan
melaksanakan pertumbuhan. Kedua, jiwa hewan. Jiwa hewan mempunyai
perasaan dan keinginan untuk mendorong hewan sanggup bergerak. Ketiga, jiwa
manusia, yang selain dari mempunyai perasaan dan keinginan, juga mempunyai
akal.
          Selain itu, menurut Aristoteles manusia harus mengambil jalan tengah
ketika terdapat masalah tentang etika yang perlu dijalankan. Ada 3 hal yang perlu
dipenuhi untuk mencapai kebahagiaan hidup :
1. Manusia harus memiki harta secukupnya supaya hidupnya terpelihara
2. Alat terbaik untuk mencapai kebahagiaan adalah persahabatan
3. Keadilan, yakni ada 2 segi. Pertama, keadilan dalam arti pembagian barang –
    barang yang seimbang, relative, sama menurut keadaan masing – masing.
Kedua, keadilan dalam arti memperbaiki kerusakan yang ditimbulkan,
misalnya perjanjian mengganti kerugian, ini keadilan menurut hukum.
                                      PENUTUP




       Dari beberapa penjelasan tentang filsafat klasik, kita dapat mengetahui dan
mengambil pelajaran tentang filsafat mereka.Socrates yang kekuatan pemikirannya
tercermin dalam pengikut – pengikutnya. Jikalau kita membandingkan Plato dengan
Aristoteles, mungkin dapat dikatakan demikian, bahwa Plato adalah tokoh yang serba
termenung, sedang Aristoteles adalah orang yang menekankan kepada pengalaman.
       Banyak Filsuf setelah ketiga tokoh ini yang mencoba mendamaikan kedua
pandangan itu. Ada yang sedikit banyak berhasil sampai kepada batas – batas tertentu,
ada yang tidak. Harus diakui, bahwa sebenarnya hingga zaman sekarang ini pemikiran
orang masih berkisar kepada kedua cara berpikir ini.
       Demikian makalah yang jauh dari kesempurnaan ini. Kami mengharap dukungan
dari Bapak dosen dan rekan – rekan demi perbaikan dan kesempurnaan makalah ini.
Akhirnya hanya kepada Allah lah kita berserah diri.
                               DAFTAR PUSTAKA




Prof. Asywadi Syukur, Lc. Al Milal wa al Nihal, PT. Bina Ilmu Surabaya

Dr. Harun Hdiwijono, Sari Sejarah Filsafat Barat 1. Penerbit Kanisius, Yogyakarta :
     1998

Drs. Atang Abdul Hakim, MA dan Drs. Beni Ahmad Soebandi, M.Si.. Filsafat Umum,
      CV. Pustaka Setia, bandung, 2008

Ali Maksum, Pengantar Filsafat, Ar Ruz Media, Yogyakarta, 2008

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:1131
posted:5/8/2011
language:Indonesian
pages:11