Docstoc

DIAMETRIKA PARADIGMA PENELITIAN ILMU

Document Sample
DIAMETRIKA PARADIGMA PENELITIAN ILMU Powered By Docstoc
					       DIAMETRIKA PARADIGMA PENELITIAN ILMU EKONOMI

                            Herman Sjahruddin

                                  Abstract

In general, if the science is distinguished into two kinds – the main branch
– is that natural sciences and social sciences, so economical science is
included into social sciences domain. Economical research relating with
efficiency and effectiveness problems for something – goods commodity –
may loan natural science owned method, procedure, and approach; but,
the economical research relating with human being as economical agent,
so the method, approach and procedure – exactly and precisely – is in
accordance with social science paradigm. So, economical science
research is faced with two kinds of paradigm choice (or – conflict), is that
relying on positivism philosophy ideology/paradigm and non-positivism
philosophy ideology. Positivism ideology in the research develops to be
research with quantitative paradigm, if it is implemented in economy
science research obtained is to examine the truth or apply a theory. In
methodology, positivism uses empirical-analytical method, deduction logic,
survey research technique, statistic (included non parametric or
descriptive), and various quantitative study technique and it is designed
with calculative models. In turn, the truth non-positivism philosophy is
based on idea essence (in accordance with object essence) and its truth is
holistic in nature. Understanding the fact and data in non-positivism
philosophy also has coverage beside empirical sensual (phenomena) in
nature is highly track what is behind the empirical sensual (phenomena).
Non-positivism philosophy finds the meaning on empirical idea in the
research that develops to be research in qualitative paradigm. In
ontological way, positivism is weak in the matter of building theory
concept. On other word, there is no contribution in building the theory.
Furthermore, the science (social and/or economy) that is developed with
positivism-based methodology becomes have less its theoretical
conceptualization, and there is no basic new theories evolve. Positivism
epistemology requires generalization and separation between observed
subjects with a researcher as its instrument so that there is objectivity. The
question is how to get the theory without involvement of researcher
subject. Axiological aspect in science philosophy is striving to answer the
question: “for what the knowledge or science is used? It is stated that the
science must be used for human being benefit. Whereas, positivism
axiology requires the free-value allocation.
Kata kunci : Positivisme – Quantitative, Non Positivisme - Qualitative
Substansi pilar filosofis utama ilmu pengetahuan ini adalah bertindak
sebagai roh jiwa yang membuat suatu teori ekonomi memiliki nafas
kebenaran yang hidup, bukan sesuatu teoritical yang kering mati tak
memberi manfaat apapun. Ketiganya pilar anasir roh kebenaran ilmu
pengetahuan itu, oleh apa yang dipakai dalam filsafat ilmu adalah disebut
sebagai „ontology, epistemology, dan axiology‟.

Bermula dengan pertanyaan ; Apa sih yang menjadi esensi perlu dipahami
dan diketahui untuk sesuatu penelitian ilmu ekonomi, maka fenomena
pertanyaanitu masuk kedalam ranah yang bernama ontology. Berikutnya,
untuk menjawab ; Bagaimana ilmu ekonomi melakukan penelitian yang
baik & benar, maka itu adalah dalam ranah epistemology. Dan dimintai
penjelasan alasan untuk apa, untuk siapa penelitian Ilmu ekonomi perlu
dimanfaatkan, apa perlunya teori ekonomi digunakan maka itu adalah
menjadi ranah axiology. Sesuatu penelitian, akan memiliki kekuatan
teoritical yang fundamental kokoh kuat, serta dapat menjawab realitas
fenomena ekonomi ketika telah bertumpu secara tepat & benar pada
ketiga sendi filosofi dasar penelitian tersebut diatas; penguasaan
pemahaman secara mendalam utuh – ontology, epistemology & axiology
– nya problematika penelitian hampir sebagian besar diabaikan oleh
peneliti ketika mulai mendesain suatu penelitian. Kelemahan ini bukan
hanya dialami oleh mahasiswa yang kebanyakan peneliti pemula melalui
skripsinya untuk mendapat gelar sarjana, tetapi juga banyak dilakukan
secara sadar oleh mereka yang menyusun penelitian thesis untuk
magister dan tak terkecuali yang menempuh studi doktor.

Cukup banyak penelitian disertasi yang tergolong - gagal - walaupun
secara formal meluluskan seorang doktor, karena hasil penelitiannya
sekedar kumpulan uraian kalimat tebal namun diukur secara teori tidak
memberi makna dan tak memberi manfaat apapun dalam praktek
dilapang. Dapat pula sesuatu penelitian dari sejak awal telah membawa
cacat bawaan, karena metode pendekatannya memaksakan diri dalam
men – sanding - kan problematika dengan paradigma ekonomi yang diteliti
walaupun sesungguhya tidak senyawa dan sejiwa dengan ranah filosofi
dasarnya.     Kesepadan,      kesesuaian     antara     paradigma     dengan
problematika yang diteliti itu, juga menentukan jenis hasil penelitian yang
dikehendaki; apakah penelitian itu akan menghasilkan sesuatu bangunan
teori baru (atau masih proposisi = pra teori) , atau (sekedar) membuktikan
& menguji sesuatu model teori yang sudah ada atau yang lain lagi adalah
penelitian untuk pemecahan sesuatu masalah. Masing masing jenis hasil
penelitian itu memiliki bobot kekuatan – teoritical atau practice - tersendiri.
Tujuan dari setiap penelitian adalah untuk mendapatkan pengetahuan,
yakni pemahaman tentang kenyataan. Pengetahuan yang dihasilkan, oleh
sebuah penelitian disamping ditentukan oleh obyek penelitian adalah
ditentukan pula oleh pendekatan, metode dan prosedurnya. Bilamana
secara umum ilmu pengetahuan dibedakan atas dua macam - cabang
utama - yaitu ilmu-ilmu alam dan ilmu-ilmu sosial, maka pada dasarnya
ilmu ekonomi adalah masuk dalam ranah ilmu-ilmu sosial. Yang menjadi
persoalan, adalah ketika diantara peneliti Ilmu ekonomi secara – gegabah
tanpa pilah pilih karakter problematikanya - menggunakan pendekatan,
metode dan prosedur yang hanya tepat dipakai untuk ilmu-ilmu alam
(dengan paradigma positivistic). Penelitian ekonomi yang menyangkut
problematika efisiensi & efektitivitas untuk sesuatu – komoditi barang –
boleh jadi bisa meminjam metode, prosedur dan pendekatan milik ilmu
alam; namun sesuatu penelitian ekonomi yang menyangkut manusia
sebagai pelaku ekonomi maupun untuk sesuatu kebijakan publik
misalnya; maka metode, pendekatan dan prosedur yang – tepat & benar –
adalah menurut paradigma ilmu sosial.

Pendapat yang mengatakan bahwa tidak perlu ada perbedaan metode,
pendekatan & prosedur adalah pandangan paradigma positivistic.
Argumentasinya, bahwa pendekatan sebagaimana pada ilmu-ilmu alam
telah sukses menjelaskan gejala-gejala alam sehingga menjadi teknologi.
Keyakinan pendapat penganut paradigma ini; bilamana pendekatan
semacam ini juga diterapkan pada ilmu-ilmu sosial, akan terjadi sukses
yang sama pula. Aliran positivistic dengan tokoh utamanya Auguste
Comte dan Neo-positivistic dengan tokohnya Ernst Mach yang demikian
bersemangat ingin menerapkan metode penelitian ilmu-ilmu alam pada
seluruh wilayah obyek penelitian, termasuk pula pada wilayah ilmu
ekonomi. Jadi, penelitian ilmu ekonomi dihadapkan pada dua macam
pilihan paradigma (atau – conflic - dari kedua paradigma itu), yaitu
penelitian yang berlandaskan pada aliran/paradigma filsafat positivisme
atau aliran filsafat non-positivisme. Kedua paradigma ini sama sama
bertujuan menemukan kebenaran, namun untuk mendapatkan kebenaran
diantara satu sama lain kedua paradigma tersebut memiliki perilaku –
karakter ranah filosofi dasar - yang secara substansial amat berbeda. Jadi
kesalahan fundamental dari sesuatu penelitian ekonomi adalah bukan
karena kesalahan paradigma positivistic (yang sesuai untuk kelompok
ilmu alam); namun paradigma positivistic tidak bisa dipukul rata berlaku
untuk semua masalah penelitian ekonomi. Sampai kini amat sangat
banyak terjadi penelitian yang masalahnya menyangkut pada pelaku
ekonomi (serta kelembagaannya) selalu digarap dengan paradigma
positivistic, dan ironisnya masih banyak terjadi di institusi pendidikan tinggi
sejak untuk mendapat gelar sarjana ekonomi sampai mencetak seorang
doktor. Penelitian yang secara axiology adalah upaya untuk menjawab
masalah ekonomi menjadi bergeser untuk mendapat gelar, atau karena
Diametrika pesanan dari birokrat - maka jelas hasil penelitian semacam ini
(yang amat banyak) adalah menghasilkan sampah kertas belaka. Bertolak
dari frekwensi tinggi atau sebagian besar dan bersifat probalistik, ukuran
kebenaran positivisme adalah kalau dalam sampel benar maka kebenaran
tersebut mempunyai peluang berlaku juga untuk populasi yang lebih
besar. Dalam positivisme fakta dan data terbatas pada sesuatu yang
empiri sensual (teramati secara indrawi), menurut istilah Noeng Muhadjir
(2000: 23) positivisme menganalisis berdasar data empirik sensual. Aliran
positivisme dalam penelitian berkembang menjadi penelitian dengan
paradigma kuantitatif. Paradigma positivisme jika diimplementasikan
dalam penelitian ilmu ekonomi yang diperoleh adalah untuk menguji
kebenaran atau menerapkan sesuatu teori. Dalam metodologi, positivisme
menggunakan metode empiris-analitis; menggunakan logika deduksi,
teknik-teknik penelitian survai, statistika (termasuk yang non parametrik
atau yang diskriptif), dan berbagai teknis studi kuantitatif serta didesain
dengan    model-model kalkulatif.     Sebaliknya       filsafat    non-positivisme
kebenaran didasarkan pada esensi idea (sesuai dengan hakekat obyek)
dan kebenarannya bersifat holistik. Pengertian fakta maupun data dalam
filsafat non-positivisme juga memiliki cakupan selain yang empiri sensual
(fenomena) adalah lebih melacaki apa yang ada di balik yang empiri
sensual (nomena). Non-positivisme menemukan makna pada empiri idea.
Paradigma      Non-positivisme    dalam   penelitian     berkembang          menjadi
penelitian dengan paradigma kualitatif. Noeng Muhadjir (2000: 79), yang
menyebut non-positivisme dengan post-positivisme, memiliki karakteristik
utama pada pencarian makna di balik data. Paradigma non-positivisme
jika   diimplementasikan   dalam     penelitian   tujuannya         adalah     untuk
membangun sesuatu teori, bukan membuktikan benarnya sebuah teori.
Diametrika

ANTARA POSITIVISME DENGAN NON POSITIVISME

Positivisme, sebagai salah satu aliran filsafat yang bebas nilai
dikembangkan mulai abad ke 19 melalui rintisan Auguste Comte,
sesungguhnya merupakan penajaman trend pemikiran rasionalisme dan
empirisme (Hardian, 2002).2/ Pendekatan positivisme dinilai sebagai hal
yang    baru    adalah   karena    pandangan      tentang         metodologi    ilmu
pengetahuan yang menitik beratkan pada metodologi ilmu pengetahuan.
Dalam pemikiran empirisme dan rasionalisme (yang berkembang sebelum
positivisme) sesuatu pengetahuan masih sebatas ditempatkan sebagai
refleksi, maka setelah itu dengan positivisme kedudukan pengetahuan
diganti dengan metodologi (ibid,2002; 57). Dan satu-satunya pilihan
metodologi yang – unggul berjaya - sejak masa renaisance adalah
metodologi ilmu-ilmu alam bukan ilmu yang lain. Sehingga, dengan ini
positivisme mengambil alih sesuatu pengetahuan yang semula menjadi
wilayah refleksi epistemologi; yakni bagaimana pengetahuan manusia
tentang kenyataan, telah menjadi terkooptasi oleh ruang metodologi ilmu-
ilmu alam. Sebermula “metodologi” yang semestinya sebagai salah satu
cara valid untuk mendapatkan pengetahuan tentang kenyataan, ternyata
kemudian tergusur menjadi metodologi positivisme, maka artinya sejak
saat itu telah berlangsung - reduksi - terhadap pelacakan sesuatu
pengetahuan. Untuk mengatakan bahwa positivisme memang memiliki
pembawaan      reduksionis   adalah   memang      cukup    berdasar    kuat,
sebagaimana dijelaskan – Comte - berdasar arti “positif” dengan membuat
beberapa diskripsi (pembedaan) yaitu diantara; yang nyata (riil) dengan
yang khayal (chimerique), yang pasti 2/ Positivisme dan empirisme
memiliki persamaan yang memberikan penekanan kepada pengalaman,
namun positivisme membatasi diri pada pengalaman obyektif semata,
sedangkan empirisme memberi ruang pada pengalaman subyektive atau
batiniah (certitude) dengan yang meragukan (indecion), yang tepat
(precise) dengan yang kabur (vague), yang berguna (utile) dengan yang
sia-sia (oisenx) serta klaim yang memiliki keseharian relatif (relative)
dengan yang mengklaim memiliki kesahihan mutlak (absolut). Ditekankan
kalaulah norma-norma yang diacu positivisme adalah (a) semua
pengetahuan harus terbukti melalui rasa kepastian (sense of relativity), (b)
kepastian metodis sama pentingnya dengan rasa – kepastian. Kesahihan
pengetahuan (la certitude), (c) ketepatan pengetahuan hanya dijamin oleh
pengetahuan teori yang secara formal kokoh dengan mengikuti deduksi
hipotesis – hipotesis yang menyerap hukum (le precis). Bila faktualnya
adalah “gejala kehidupan material” maka ilmu pengetahuannya adalah
biologi. Bila faktualnya itu “benda benda mati”, maka ilmunya adalah
fisika. Seterusnya pula, bidang faktual lain yang menjadi obyek empiris
yang setepattepatnya (rigorous) menjadi ilmu pengetahuan. Menjadi
persoalan besar adalah; bahwa dalam ilmu ekonomi, faktualnya adalah
”manusia” pelaku ekonomi diperlakukan sama sebagai faktual ”benda
mati”. Sebagai pelaku ekonomi, tak bisa dianalogikan sama dengan
eksperimen anjing oleh Paplov, atau eksperimen burung merpati yang
dikembangkan oleh Skinner dan kemudian perilaku diukur menurut skala
skala tertentu seperti skala Likert. Kepentingan manusia tentang ekonomi
dan tujuannya tidak dapat ditinjau menurut sudut pandang barang atau
binatang; tidak juga homo economicus semata, tetapi sekaligus homo
metaphysicus maupun homo ethicus dan homo sapiens. Di balik tindakan
ekonomi manusia selalu terdapat relasi yang tersembunyi (unfolding the
hidden connection), tindakan itu sebagai manifestasi dari dimensi nilai
yang dianutnya. Filsafat positivisme berusaha menyusun bangunan ilmu
secara nomothetik yaitu berupaya membuat hukum dari generalisasi.
Kebenaran dicari lewat hubungan kausal linier, tiada akibat tanpa sebab,
dan tiada sebab tanpa akibat. Teori kebenaran yang dianut positivisme
termasuk teori korespondensi (Muhadjir : 2000 :13          –14). Teori
korespondensi menyebutkan bahwa suatu pernyataan adalah benar jika
terdapat fakta-fakta empiris yang mendukung pernyataan tersebut
(Suriasumantri : 1999:20). Atau dengan kata lain, suatu pernyataan
dianggap benar apabila materi yang terkandung dalam pernyataan
tersebut bersesuaian (korespodensi)) dengan obyek faktual yang ditunjuk
oleh   pernyataan   tersebut   Dengan   kesemua     “keunggulan”   yang
dinyatakannya sendiri maka ide pokok dari aliran positivism adalah
(Kincaid, 1998: 558-560 dalam Pawito,2007;49): (1). Bahwa ilmu
pengetahuan (science) merupakan jenis pengetahuan yang paling tinggi
tingkatannya, dan karenanya kajian filsafat harus juga bersifat ilmiah (that
science is the highest form of knowledge and that philosophy thus must be
scientific). (2). Bahwa hanya ada satu jenis metode ilmiah yang berlaku
secara umum, untuk segala bidang atau disiplin ilmu, yakni metode
penelitian ilmiah yang lazim digunakan dalam ilmu alam. (3). Bahwa
pandangan-pandangan metafisik tidak dapat diterima sebagai ilmu, tetapi
"sekadar" merupakan pseudoscientific. Bertolak pada ide dasar menurut
butir kedua diatas, menunjuk pula naturalisme (naturalism); merupakan
gagasan yang sedemikian besar berpengaruh pada perkembangan ilmu-
ilmu   sosial   dan   perilaku,   yaitu    digunakannya     metode      kuantitatif
sedemikian kuat & meluas, terutama melalui survei dan eksperimen.
Dalam konteks ini, naturalism telah dipahami sebagai, .. .the view that
good social science embodies the scientific method common to the natural
sciences (suatu pandangan bahwa ilmu sosial yang bagus adalah yang
menggunakan metode ilmiah yang lazim digunakan dalam ilmu-ilmu alam)
(Kincaid, 1998: 559, ibid;50). Implikasi pemahaman ini menyebabkan
keharusan sesuatu konsep penelitian yang digunakan perlu didefinisikan
secara operasional dengan batasan aspek aspek tertentu serta ukuran-
ukuran (indicators) tertentu. Oleh karena itu, dalam positivisme diakui
bahwa operasionalisasi konsep-konsep merupakan bagian penting dalam
penelitian ilmiah. Dalam positivisme secara umum, dan apalagi dalam
naturalisme pada khususnya, istilah atau konsep harus didefinisikan
secara    spesifik    (operasional)   agar     penelitian   dapat      melakukan
pengukuran-pengukuran. Aliran filsafat positivisme telah mendorong
perkembangan teknik-teknik statistik, baik untuk kepentingan deskriptif
maupun eksplanatif (disertai pengujian hipotesa dan/atau teori). Pada
kenyataan penerapannya dalam khasanah ilmu ekonomi (yang normatif)
ternyata positivisme menjadi kurang tepat dan monopolinya telah
mengalami       banyak    kegagalan       ontologis,   epistemologis     maupun
aksiologis; karena memiliki cacat teoritik. Secara ontologik, positivisme
lemah dalam hal membangun konsep teori (Muhadjir 2000: 150), dengan
kata lain tidak ada sumbangan dalam membangun teori. Lanjutnya, Ilmu
(sosial &/ ekonomi) yang dikembangkan dengan metodologi yang
berlandaskan   positivisme   menjadi    semakin   miskin   konseptualisasi
teoritiknya, tidak ada teori-teori baru yang mendasar muncul. Menurut
istilah Muhadjir (ibid: 23) positivisme menganalisis berdasar data empirik
sensual, sedangkan postpositivisme mencari makna di balik yang empiri
sensual.   Epistemologi   positivisme   menghendaki   generalisasi   serta
keterpisahan antara subyek yang diteliti dengan peneliti sebagai
instrumentnya sehingga terdapat objectivity (periksa Vardiansyah, 2005;
57). Pertanyaannya, bagaimana mendapatkan teori dengan tanpa
keterlibatan subyek peneliti. Aspek aksiologis dalam filsafat ilmu adalah
berusaha menjawab pertanyaan "Untuk apa pengetahuan atau ilmu
pengetahuan digunakan?".

Suriasumantri (1999,10:249) menyatakan bahwa pengetahuan harus
digunakan untuk kemaslahatan manusia. Sementara aksiologi positivisme
menghendaki adanya peruntukan yang bebas nilai. Persoalan kemiskinan,
keadilan sosial, kemakmuran masyarakat dan semacamnya adalah satu
atau dua bukti diantara sekian banyak contoh yang menunjukkan adanya
kegagalan positivisme dalam aspek aksiologis. Jadi positivistic adalah
“apa yang berdasar pada subyektif” [menurut kepentingan dan sudut
pandang peneliti bukan menurut pelaku ekonomi yang terlibat langsung
dengan masalah yang dialami]; pendekatan positivistic lebih mengena
diperuntukkan fenomena perkembangan sains/ fisika, kimia, biologi tetapi
sama sekali tidak dapat mewadahi persepsi dan makna pesan yang
terdapat pada domain ilmu ilmu sosial seperti halnya ekonomi normatif.
Bentuk pendekatan yang berseberangan dengan positivisme adalah aliran
filsafat anti-positivisme atau non-positivisme yang dipelopori Thomas
Kuhn melalui bukunya The Structure of Scientific Revolution yang terbit
pada 1962 (Vardiansyah, 2005; 58). Demikian pula aliran filsafat
phenomenology dengan pelopornya Edmund Husserl, Martin Heidegger
dam Merleau Ponty; yang mendapat pencerahan idealisme, humanisme
dari ajaran Plato. Pemikiran aktual lain, salah satu diantaranya
dikemukakan oleh Capra (2001; 251)3/, menjelaskan sudut pandang
dunia baru yang disebut sebagai paradigma holistik ekologis, Capra
menentang pandangan konvensional mekanistik yang bersumber dari
pemikiran Descrates dan Newton, dengan menerapkan kompleksitas
realitas sosial. Menguraikan perspektif “makna” yang disebutnya sebagai
dunia dalam memandang sistim sosial sebagai sistim yang hidup.
Descrates yang berkata „je pense donc je suis‟ (aku berpikir maka aku
ada). 3/ Fristjof Capra adalah bukan social scientist tetapi justru seorang
fisikawan yang secara epistimologis mengguncang pandangan ilmiah
positivistic (Heriyanto, 2004 ;xii)

Sementara dilain sisi, non- positivism adalah satu cara pandang open
mind untuk mendapatkan ke-uniq-an informasi serta tidak untuk
generalisasi; yang entry point pendekatannya berawal dari pemaknaan
untuk menghasilkan teori dan bukan untuk mencari pembenaran terhadap
sesuatu teori ataupun menjelaskan sesuatu teori ; dikarenakan kebenaran
yang diperoleh adalah pemahaman terhadap teori yang dihasilkannya.
Untuk ini dalam non positivistic terdapat tiga hal penyikapan, yaitu (1)
memusatkan perhatian pada interaksi antara aktor dengan dunia nyata,
(2) aktor manusia pelaku ekonomi maupun dunia ekonomi senyatanya
perlu dipandang sebagai proses dinamis dan bukan sebagai struktur yang
statis, (3) arti penting yang terkait dengan kemampuan aktor pelaku
ekonomi untuk mentafsirkan kehidupan (sosial) nya. Dalam interaksi
sosial, non-positivistic mengakomodir perhatian pada kajian penjelasan
aktor pelaku maupun cara cara penjelasannya dapat diterima atau ditolak
oleh fihak lain. NON POSITIVISME DALAM ILMU EKONOMI Dalam
konteks filsafat ilmu, ilmu ekonomi termasuk bagian ilmu sosial, yang
dapat diterapkan langsung dalam kehidupan praktis, sebagaimana
disebutkan Paul A. Samuelson sebagai ilmu yang beruntung (fortunate),
karena dapat diterapkan langsung pada kebijakan umum (public policy).
Pemahaman ini sejalan dengan Landreth,H et al.(1994; 1) bahwa Ilmu
ekonomi adalah sebuah sains sosial (Economics is a social science).
Semboyan     positivisme    “savoir   pour   previor”   (mengetahui    untuk
meramalkan), yang menurut pandangan ekonom non-mainstream sebagai
metodologi yang sepertinya elegan dalam menciptakan model rekayasa
masyarakat (socialengineering) namun disadari maupuh tidak, pada
nyatanya bersifat artificial. Metodologi ilmu ekonomi positif bersifat formal
dan abstrak; metodologi berusaha untuk memisahkan kekuatan-kekuatan
ekonomi dari kekuatan politik dan sosial, Sebagaimana dikemukakan
Landreth,H et al.(1994;10), „The methodology of positive economics is
formal and abstract; it tries to separate economic forces from political and
social forces‟. Dasar pemikiran klasik dalam mengemukakan teori pasar
menjadi bukti penunjuk tentang diampunya pandangan positivisme,
dengan pendapatnya bahwa perekonomian akan efisien bila ada
persaingan bebas. Selanjutnya persaingan bebas akan memerlukan
pasar-bebas sebagai wadahnya. Bertolak pada hal ini, hiduplah suatu pola
pikir akademik (academic mindset), bahwa persaingan haruslah bebas
dan pasar yang ideal adalah pasar-bebas. Persaingan dan pasar bebas,
keduanya adalah dua pasangan yang akan menjamin manfaat optimal,
yakni efisiensi ekonomi. Menurut Smith, persaingan sempurna (perfect
competition), kebebasan individual sepenuhnya adalah perfect individual
liberty. Pamrih pribadi (self-interest) Smith ini kemudian bertemu dengan
individualismenya Thomas Hobbes. Etika ekonomi semacam ini ditolak
oleh penganut paham ilmu ekonomi yang memandang ilmu ekonomi
sebagai ilmu moral (a moral science) yang orientasinya jauh lebih luas
daripada sekadar self-interest (Amartya Sen, 1987, 1991). Kritik tajam
terhadap pandangan & cara pandang ekonomi klasik/konvensional (=
orthodox) dikemukakan oleh aliran ekonomi kelembagaan radikal yang
menyatakan bahwa dalam argumentasi ekonomi mainstream terdapat
inkonsistensi penting antara teori bila disandingkan dengan dunia-riil. Para
pakar   ekonomi    mainstream     melihat   fenomena    ekonomi    sebagai
keharmonisan sosial, sedangkan kaum institusional radikal melihat
sesuatu fenomena ekonomi sebagai sebuah konflik. Sebagaimana
dikemukakan oleh Landreth,H et al.(1994;386) „Radicals argue that there
are major inconsistencies between neoclassical theory and real-world
experience. Where mainstream economists see social harmony, radicals
see confict‟. Bahkan pula Kenneth Boulding, menyebut ekonomi neoklasik
sebagai mekanika kelestial (= diawang awang) atas dunia non-eksisten,
dan mereka berargumen bahwa kebanyakan pekerjaan dalam ekonomi
modern adalah permainan-game yang rumit.4/ (neoclassical economics
the celestial mechanics of a nonexistent world, and they would argue that
much of the work in modern economics is elaborate game playing)
(Landreth,H   et   al.,1994;   389).   Demikian   halnya,   Gunnar Myrdal
mengemukakan bahwa teori ekonomi ortodoks tidak memiliki penjelasan
yang memuaskan tentang kesenjangan yang meluas ini, teori itu juga
tidak memberikan kebijakan-kebijakan yang sesuai untuk membalik
kecenderungan tersebut. Beberapa definisi yang digunakan oleh para
pakar ekonomi (ortodoks ; pen) tersebut adalah terlalu dangkal, dan
model-model terhadap pengembangan ekonomi adalah berada dalam
tradisi dasar model-model keseimbangan statis; mereka gagal untuk
memahami hubungan yang kompleks di antara faktor-faktor ekonomi,
sosiologi, politik dan psikologis yang membentuk pengembangan ekonomi
(The definitions economists use are too narrow and the models for
economic development are in the basic tradition of static equilibrium
models; they fail to grasp the complex interrelationships among economic,
sociological, political, and psychological factors that mold economic
development) (Landreth,H et al.,1994;394) . Dengan ini metode dan
pandangan yang rigorous untuk mendapatkan pengetahuan menurut
konteks yang utuh dan senyatanya tentang dunia kehidupan pelaku
ekonomi, pendekatan yang mantap & tepat adalah dengan verstehen 4
Hal 389 (memahami), yakni dengan menafsirkan makna tindakan-tindakan
dan bukan dengan erklaren (penjelasan menurut sebab akibat). Ketika
persoalan ekonomi dipahami dengan pemahaman menurut sifat ilmu
alam; maka pelaku ekonomi sebagai manusia akan diperlakukan sebagai
obyek seperti barang dan dengan penelitiannya ada distansi; menyikapi
pelaku ekonomi secara netral, tidak memberi apresiasi pelaku ekonomi
(pedagang, konsumen, produsen) pada harapan-harapannya yang hidup
atau   nilai-nilai   dan   norma   serta   etika   yang   diampunya   dan
berkemungkinan pula peneliti akan mendesain (rekayasa sosial) dengan
menempatkan pelaku-pelaku ekonomi sebagai treatment dalam hubungan
sebab akibat, membutakan diri terhadap pendekatan yang sesungguhnya
tidak sesuai. Pelaku ekonomi adalah makhluq rochaniah, yang memiliki
idea, nilai nilai, harapan harapan tertentu sesuai dengan kesadarannya,
sebagai seperangkat fenomena responsibilitasnya tidak akan tepat
bilamana dibaca sebagai tindakan yang otomatik ataupun mekanistik
maupun matematik dan statistik. Kegiatan ekonomi adalah merupakan
fenomena sosial (fenomena manusia sebagai makhluq rochaniah) akan
dapat dipahami setepat tepatnya hanya dengan memahami dunia makna
yang hidup pada mindset para pelakunya, yakni pelakunya itu sendiri yang
dinamik dan unik. Subyek pelaku berperan kuat dalam memaknai dan
kemudian menyikapi dinamika ekonomi. Pemaknaan & penyikapan ini
tidak berhenti pada dunia yang dihayati oleh individu pelaku ekonomi,
namun pula melibatkan makna penafsiran yang terungkap karena
penghayatan pada fenomena itu. Dengan lain kata dalam maksud yang
sama ; permasalahan ekonomi yang menyangkut perilaku ekonomi
bilamana dipaksakan dengan positivisme maka hasil yang diperoleh tiada
lain adalah pembenahan pembenahan, tidak muncul teori baru, dan amat
besar kemungkinannya akan menghasilkan kontroversi yang tidak
Diametrika Paradigma Penelitian Ilmu Ekonomi – sonny Leksono 15
terselesaikan dalam menentukan kebijakan ekonomi karena padanya
adalah sebuah hasil spekulatif dari sebuah stereotipe. Karena dengan
sifatnya yang predictable, positivisme sejalan dengan teorinya seakan
sudah “dapat menentukan atau menduga” hasil dari sejak penelitian
belum dilaksanakan secara deterministic. Bilamana kejadian yang
probabilistic, terjadi diluar dugaan sebagaimana menjadi prediksi awal,
maka positivisme juga telah – siap - memiliki jawaban bahwa
penyimpangan itu adalah sebagai “error”, atau membela diri dengan
mengatakan; sebagai bagian dari variable yang tidak diamati. Studi yang
masuk dalam wilayah ilmu-ilmu sosial, tak bisa dipahami dengan cara-
cara distansi atau disekap sebagai obyek manipulasi dan didesain dengan
model-model kalkulatif. Peneliti hanya bisa bersikap “memasuki” wilayah
ini dengan pemahaman (verstehen) (Hardiman; 2002 : 28) sebab yang
diharapkan ditemukan dalam studi ini bukanlah hubungan sebab-akibat
yang bersifat pasti, namun tentang dunia makna. Disini diperlukan “mata
(hati) seorang manusia” yang dapat memahami makna, bukan “mata
seorang biologi atau fisikawan atau matematikawan”. Dalam konteks ini
peneliti tidak lebih tahu daripada pelaku ekonomi itu sendiri. Karenanya,
paradigma non positivisme selalu berupaya menjelaskan fenomena yang
ada, yaitu memahami makna yang berada dibalik fenomena. Tujuan
pilihan metode pendekatan, paradigma dan model yang tepat untuk
memperoleh gambaran menyeluruh yang holistik mengenai realitas
ekonomi menurut penelitian kualitatif yang benar adalah bukan to learn
about the people, akan tetapi to learn from the people. Dengan ini pula
dapat ditegaskan bahwa sesuatu jenis penelitian yang – diskriptif – adalah
bukan penelitian kualitatif karena masih membawa anasir yang positivistic.
Diametrika Paradigma Penelitian Ilmu Ekonomi – sonny Leksono 16
Karakter utama pendekatan kualitatif ini adalah mengkedepankan makna,
konteks dan perpektif emic5, mementingkan kedalaman informasi
daripada cakupan penelitian. Sehingga penelitian lebih berupa siklus dan
proses pengumpulan data secara simultan. Dasar paradigma yang diacu
dalam paradigma kualitatif adalah tetap memandang manusia bertindak
rasional, namun dalam penyelesaian masalah hidup sehari hari adalah
menggunakan ”penalaran praktis” , bukan logika formal.

SIMPULAN

Apakah itu Douglass C. North, Joseph Stiglitz, Samuel P. Huntington,
Lawrence Harrison, Michael E Porter, Jeffrey Sachs, Mariano Grondola,
Francis Fukuyama, Kurt Dopfer , K. William Kapp , Shigeto Tsuru, Gunnar
Myrdall, Hernando de Soto, Amartya Sen, Kenneth Boulding, Mubyarto
(alm), Moh Hatta (alm), Soemitro (alm) dlll,dll, atau bahkan Geoge Soros
Pengusaha sukses keturunan Yahudi yang berlatar akademis fisika dan
Fritjhof Capra fisikawan unggul ; kalau pendapatnya dikumpulkan akan
merupakan sebuah symphony paduan suara dan lagunya adalah – ilmu
ekonomi mainstream & positivisme telah mengandung cacat filosofis -
karena dari sejak awal terdapat secara kesalahan dalam paradigma baik
eksplisit maupun eksplisit. Prinsip utama yang perlu disepakati dari sejak
awal, bahwa ilmu ekonomi itu memiliki genetic ilmu sosial dan sama sekali
bukan turunannya ilmu eksakta. Artinya, permasalahan ilmu ekonomi
adalah menyangkut pada fenomena manusia, bukan tentang fenomena
alam, bukan setara dengan persoalan makhluq hidup semacam binatang
atau tumbuh tumbuhan, apalagi diperlakukan seperti barang. 5/
Memahami dan memaknai sesuatu teori, sesuatu fenomena ekonomi ,
sesuatu masalah ekonomi menurut perspektif persepsi, pemikiran,
kemauan, dan keyakinan subyek pelaku ekonomi; bukan menurut
perspektif peneliti. Berarti emik lebih memandang sesuatu fenomena &
makna ekonomi lebih aspiratif. Diametrika Paradigma Penelitian Ilmu
Ekonomi – sonny Leksono 17 Teoritisasi, asumsi bahkan preposisi
terhadap manusia yang - berperasaan yang berkemauan dan berpikiran
amat amat beragam – dalam memenuhi hajat hidupnya dipersamakan
dengan benda benda yang tak memiliki hari nurani atau makhluq makhluq
lain yang tak memiliki – makna & nilai - ; dan ini yang telah terjadi dengan
pendekatan pendekatan yang dilakukan oleh banyak pakar ekonomi.
Adalah terbukti memang bahwa diantara dari sekian banyak ilmu sosial
yang paling banyak mendapat hadiah nobel adalah para ahli dari ilmu
ekonomi, tetapi pula dari sejak dulu ilmu ekonomi sampai kini juga belum
mampu menyelesaikan permasalahan mendasar ekonomi dunia, diantara
yaitu kemiskinan, kesenjangan pendapatan. Krisis ekonomi finansial yang
terakhir ini dialami oleh negara adidaya USA diakhir masa lengsernya
George Bush ; adalah sebuah contoh lain „mandulnya‟ logika hukum Say “
supply create its own demand”. adalah sebuah contoh yang lain pula
tentang   cacat   teori   ekonomi   konvensional    yang   memberhalakan
liberalisme – akibat dari inkonsistensi paradigma positivisme yang keliru.
Dan kekeliruan ini yang juga sering diajarkan oleh para dosen ekonomi,
demikian juga yang sering dilakukan oleh pemegang kebijakan publik.
Bahwa – asumsi & ceteris paribus - adalah syarat yang mendasari semua
teori itu akan dapat berlaku adalah tidak terlalu salah, . Runyamnya,
dalam berbagai kajian fenomena untuk memahami realitas empirik
sensual maupun realitas ideal; banyak penelitian ekonomi - mereduksi -
sesuatu asumsi bahkan rekomendasi kesimpulan telah melanggar asumsi
yang menyertainya . Pengabaian asumsi yang dalam realitas obyektif
yang berkemungkinan dapat menjadi – substansi - pokok fenomena
seharusnya terlebih dahulu dipahami bahkan semestinya harus pula
diakomodasi secara holistic dalam kajian analisis maupun kebijakan
ekonomi, menyebabkan kehilangan bobot nilai ontology, epistemology dan
axiology penelitian ekonomi. Diametrika Paradigma Penelitian Ilmu
Ekonomi – sonny Leksono 18 KEPUSTAKAAN Berg, Bruce L. 2004.
Qualitative Research Methods For The Social Sciences (5thed.).Pearson
Education,Inc. Boston USA 251 – 264. Capra, Fritjof. 2001.The Hidden
Connections. Terj. Heriyanto, H. Jalasutra. Yogyakarta. Choesin, Ezra M
(tinjbk). 2000. A Cognitive Theory of Cultural Meaning. Claudia Strauss
dan Naomi Quinn. Cambridge: Cambridge University Press . 1997 Jurnal
Antropologi Indonesia. www. jai.or.id/ mjurnal /2000/ 61/ 11tinjbk61.pdf
Deliarnov, 2003. Perkembangan Pemikiran Ekonomi. PT Raja Grafindo
Perkasa. Jakarta. Djojohadikusumo, S. 1994. Perkembangan Pemikiran
Ekonomi.     Dasar     Teori   Ekonomi    Pertumbuhan     Dan     Ekonomi
Pembangunan. Jakarta : LP3ES. Dopfer,Kurt. 1976.

MENUJU PARADIGMA BARU. Dalam ILMU EKONOMI di MASA DEPAN

Menuju paradigma baru. Cetakan pertama, Juni 1983. Diterjemahkan oleh
Goenawan Moehammad.Terjemahan Indonesia pada LP3ES, Percetakan
Grafitas. Etzioni, A. 1992.

- Dimensi Moral Menuju Ilmu Ekonomi Baru. Terj. Tjun Surjaman.
Bandung: Remaja Rosdakarya. Etzioni, Amitai. 1961. Comparative
Analysis of Complex Organizations. The Free Press of Glencoe, Inc. USA.
Frondizi, Risieri. 2001.

- Filsafat Nilai. Terj. Cuk Ananta Wijaya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Fukuyama, Francis, 1996.

- Trust: The Social Virtues and the Creation of Prosperity. London:
Penguin Books. [English ed.], ________________. 2000. Social Capital.
In CULTURE MATTERS. How Values Shape Human

- Progress. Basic Books. New York. Glaser, Barney G and Strauss,
Anselm L., 1985. Penemuan Teori Grounded

– Beberapa Strategi Penelitian Kualitatif. Terj. Abd. Syukur Ibrahim. Usaha
Nasional. Surabaya.
- Hagen, Everret E. 1962. On the Theory of Social Change, Homewood,
Dorsey Press, 1962.

- Harrison, Lawrence E. and Huntington, Samuel P. ed. 2000. CULTURE
MATTERS. How Values Shape Human Progress. Basic Books. New York.
Heilbroner, Robert L. 1982.

- Terbentuknya Masyarakat Ekonomi. Ghalia Indonesia, Jakarta.

- Heriyanto, Husain. 2004. Dari Visi menuju Aksi Perubahan. Dalam The
Hidden   Connections.      Terj.   Heriyanto,   H.   Jalasutra.   Yogyakarta.
Hudianto.2004.

- Ekonomi Politik. PT Bumi Aksara. Jakarta. Kasper, Wolfgang and
Manfred E. Streit. 1998.

- INSTITUTIONAL ECONOMICS. Social Order and Public Policy. Edward
Elgar Publishing, Inc. Northampton Massachusetts. USA.

- Diametrika Paradigma Penelitian Ilmu Ekonomi – sonny Leksono 19
Kuncoro-Jakti,

- Dorojatun.2003. Mau Kemana Pembangunan Indonesia. Prenada Media.
Jakarta-Indonesia.

- Landreth, Harry & David C Colander. 1994. History of Economic
Thought, third Edition, Houghton Mifflin Company, Boston, USA

- Lauer, Robert H. 2003. , Perspectives on Social Change (terjemahan).
Penerbit Rineka Cipta

- Lawang. Robert. M.Z. 2005. Kapital Sosial dalam Perspektif Sosiologik.
Suatu Pengantar. (cet.2). FISIP UI PRESS. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu
Politik. Universitas Indonesia

-   Leksono,      Sonny.   2008.   Kemunduran   Kinerja    Pedagang   Pasar
Tradisional Pada Era Pasar Modern Di Pasar Besar Malang. Disertasi
(tidak diterbitkan). Fakultas`Ekonomi Universitas Brawijaya Malang
Martineli

- Alberto. 2002. Market, Governments, Communities and Global
Governance. Paper: Presidential Adress ISA (International Sociologist
Association) XV Congress Brisbane 2002. 20 hal. Miarso

- Yusufhadi . 2005. Landasan Berpikir dan Pengembangan Teori dalam
Penelitian Kualitatif. Jurnal Pendidikan Penabur - No.05/ Th.IV/ Desember
2005 Moleong

- L. J. (2001). Metologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya
Mubyarto, 2000

- Membangun Sistem Ekonomi. BPFE. Yogyakarta. ________. 1994.
“Gagasan dan Metode Berfikir Tokoh-tokoh Besar Ekonomi dan
Penerapannya bagi Kemajuan Kemanusiaan”.

- Dalam Didik J. Rachbini (Ed). 1994. Khazanah Pemikiran Ekonomi di
Indonesia. Jakarta: LP3ES. ________. 2002. Kekeliruan Pengajaran Ilmu
Ekonomi Di Indonesia. Jurnal Ekonomi Rakyat.Artikel - Th. I - No. 2 –
April. Muhadjir

- Noeng. 2000. Metodologi Penelitian Kualitatif. Penerbit Rake Sarasin.
Yogyakarta

- Myrdal,G. (1976). Arti Dan Keabsahan Ilmu Ekonomi Institusional .
Dalam Ilmu Ekonomi di Masa Depan menuju paradigma baru. Cetakan
pertama,       Juni        1983.     Diterjemahkan        oleh   Goenawan
Moehammad.Terjemahan Indonesia pada LP3ES, Percetakan Grafitas

- Narwoko, J. Dwi & Suyanto, Bagong. 2006. Sosiologi.Teks Pengantar
dan Terapan. Kencana Prenada Media Group. Jakarta. Omerod, Paul.
1994

- Matinya Ilmu Ekonomi (The Death of Economics). Jilid 1; dari krisis ke
krisis. Kepustakan Popular Gramedia. 1998. Jakarta.

- Omerod, Paul. 1994. Matinya Ilmu Ekonomi 2 (The Death of Economics).
Menuju Ilmu Ekonomi Baru. Kepustakan Popular Gramedia. 1999.
Jakarta.

- Partadiredja, Ace. 1994. Ekonomika Etik. Dalam Didik J. Rachbini. 1994.

- Khazanah Pemikiran Ekonomi di Indonesia. Jakarta: LP3ES. Pawito.
2007.

- Penelitian Komunikasi Kualitatif. LKiS.Yogyakarta. Penerbit Erlangga.
Jakarta.

- Porter, Michael E. 2000. Attitudes, Values, Beliefs, and the Micro
Economics of Prosperity. In CULTURE MATTERS. How Values Shape
Human Progress. Basic Books. New York. Rahardjo, Dawam M. 1990.
Etika Ekonomi Dan Manajemen. PT Tiara Wacana Yogya. Yogyakarta.

- Rintuh, Cornelis dan Miar. 2005. Kelembagaan Dan Ekonomi Rakyat.
BPFE – Yogyakarta.

- Diametrika Paradigma Penelitian Ilmu Ekonomi – sonny Leksono 20
Robbins, S.P. 1989.

- Organizational Behaviour, Concepts, Controversies and Applications.
Prentice Hall International Inc. Upper Saddle River, New Jersey.

- Sairin, Sjafri. Pujo Semedi. Bambang Hudayana. 2002 Pengantar
Antropologi Ekonomi. (cet.1). Pustaka Pelajar Offset., Yogyakarta.
Somantri, Gumilar Rusliwa. 2007.

- Beyond “Delusion of Grandeur”; Menuju Indonesia Baru “Bebas”
Kemiskinan. Teks Pidato Pengukuhan Guru Besar Tetap Fisip UI Dalam
Bidang Ilmu Sosiologi Perkotaan. Strauss,Anselm and Corbin, Juliet.
2003.

- Dasar-dasar Penelitian Kualitatif. Terj. Muhammad Shodiq dkk. Pustaka
Pelajar. Yogyakarta.

- Suriasumantri. Jujun S. 1990. Filsafat Ilmu. Sebuah pengantar populer.
Pustaka Sinar Harapan Jakarta. Suseno, Franz M. 1987.

-   Etika   Dasar   Masalah-Masalah   Pokok    Filsafat   Moral.   Kanisius.
Yogyakarta. Uphoff, Norman. 2000.

- Understanding social capital: learning from the analysis and experience
of partisipation. In Social Capital A Multifaceted Perspective. Dasgupta et
al. (ed). The World bank. Washington,D.C. Wignjosoebroto, S. 2002.

- Paradigma Penelitian Kualitatif Dan Konsekuensinya Dalam Strategi
Pelaksanaannya (Sebagaimana Dicontohkan dalam Metode Grounded
Theory). Dalam Hukum Paradigma, Metode dan Dinamika Masalahnya.
Penerbit Elsam dan Huma. Jakarta.

- Yin, Robert K. 1996. Studi Kasus. Desain & Metode. PT Raja Grafindo
Persada. Jakarta.

- Yustika, Ahmad Erani. 2006. Ekonomi Kerlembagaan. Definisi, Teori, &
Strategi. Bayumedia Publishing. Malang.