Docstoc

LAPORAN PRAKTIKUM LAPORAN PRAKTIKUM DASAR ILMU TANAH “Profil” Kelompok 1 Saniye

Document Sample
LAPORAN PRAKTIKUM LAPORAN PRAKTIKUM DASAR ILMU TANAH “Profil” Kelompok 1 Saniye Powered By Docstoc
					                  LAPORAN PRAKTIKUM
                   DASAR ILMU TANAH
                        “Profil”
Kelompok : 1. Saniye Pranata Ginting     1001010020
          2. Adrianus Karo Sekali        1001010023
          3. Michailis Evan              10010100
          4. Hery Mart Yunus Sianturi    10010100
          5.




                       Fakultas Pertanian
             UNIVERSITAS QUALITY

                            Maret 2011
   I.        LAPORAN PRAKTIKUM DASAR ILMU TANAH “Profil Tanah”


   II.       Tanggal Praktikum : Sabtu , 26 Maret 2011


   III.      Lokasi : Desa Tongkoh, Kecamatan Dolatrayat, Kabupaten Karo, Provinsi
             Sumatera Utara


   IV.       Pendahuluan

        Tanah (soil) dapat diartikan sebagai media tumbuh dalam pertanian, namun tidak
menuntut kemungkinan untuk pengertian tanah dalam bidang ilmu lain. Pada dasarnya tanah
merupakan tempat beraktifitas mahluk hudup yang memungkinkan adanya hubungan di
antaranya. Tanah juga dapat diartikan sebagai lingkungan abiotik yang berperan menyediakan
nutrisi bagi tumbuhan dan sebagian organisma tanah. Tanah merupakan suatu system yang
sangat kompleks yang dapat ditinjau dari beberapa segi, yaitu fisik, kimiawi dan biologis.
Tanah yang dengan istilah lain disebut pedosfera yang berada di atas permukaan bumi ini
merupakan hasil perpaduan dari beberapa bagian penyusun kerak bumi, yaitu litosfera,
biosfera, hidrosfera dan atmosfera.
        Apabila diperhatikan lebih seksama, tanah bukanlah terdiri dari benda padat yang
pejal melainkan ternyata tersusun dari empat bagian penyusun tanah, yaitu bahan mineral (an-
organik), bahan-bahan organik atau sisa tanaman dan hewan, air tanah dan udara tanah.
Keempat bagian penyusun tanah tersebut bergabung satu sama lain membentuk suatu system
yang kompleks, yaitu tanah, yang merupakan media yang baik bagi perakaran tanaman,
sebagai gudang unsur hara dan sanggup menyediakan air serta udara bagi keperluan tanaman.
        Jumlah dan macam bahan penyusun tanah tersebut dapat berfariasi dari satu tempat ke
tempat lain di permukaan bumi ini sehingga dapat dibedakan satu jenis tanah dengan jenis
tanah lainnya. Hal inilah yang merupakan dasar dari klasifikasi tanah.
        Membedakan sifat tanah yang berbeda-beda, misalnya ada yang berwarna merah,
hitam, kelabu, ada yang bertekstur pasir, debu, liat dan sebagainya merupakan cara yang
sangat sederhana untuk melakukan klasifikasi tanah. Dengan cara ini maka tanah-tanah
dengan sifat yang sama dimasukkan ke dalam satu kelas yang sama. Pengklasifikasian tanah
secara sederhana pun dapat dilakukan dengan memilah-milah tanah subur, dan tanah kurang
subur (tanah marginal).
        Tanah yang subur, umumnya adalah tanah-tanah yang berasal dari gunung berapi atau
bahan alluvial baru sedangkan tanah marginal adalah tanah-tanah yang kurang baik dan belum
diusahakan. Tanaman pada umumnya mempunyai batas-batas toleransi terhadap masalah-
masalah kesuburan tanah secara spesifik. Hal ini dikarenakan ketersediaan unsur hara yang
dapat diserap oleh tanaman merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi tingkat
produksi suatu tanaman.

   V.        Tujuan Praktikum

          Tujuan praktikum ini adalah pengamatan langsung di lapangan mengenai
profil tanah dan untuk mengetahui sifat fisik serta faktor-faktor yang
mempengaruhinya, meliputi :
 - Kedalaman lapisan
 - Batas lapisan
 - Topografi
 - Warna Tanah

       Kegunaan praktikum adalah sebagai bahan informasi dalam hubungan proses
pedogenesis tanah dan merupakan bahan perbandingan antara materi kuliah dan
praktikum yang dilakukan di lapangan.

   VI.     Tinjauan Pustaka

     Tanah dalam Bahasa Inggris disebut soil, menurut Dokuchaev: tanah adalah suatu benda
fisis yang berdimensi tiga terdiri dari panjang, lebar, dan dalam yang merupakan bagian
paling atas dari kulit bumi.
Kata ”tanah” seperti banyak kata umum lainnya, mempunyai beberapa pengertian. Dalam
pengertian tradisional tanah adalah medium alami untuk pertumbuhan tanaman daratan, tanpa
memperhitungkan tanah tersebut mempunyai horizon yang keliatan atau tidak.
Pengertian diatas masih merupakan arti yang paling umum dari kata tersebut, dan perhatian
yang terbesar pada tanah terpusat pada pengertian ini. Orang menganggap tanah adalah
penting, oleh karena tanah mendukung kehidupan tanam-tanaman yang memasok pangan,
serat, obat-obatan, dan berbagai keperluan lain manusia, juga karena mampu menyaring air
serta mendaur ulang limbah. (anonimus 2008)
Tanah menutupi permukaan bumi sebagai lapisan yang sambung menyambung, terkecuali
pada batuan tandus, pada wilayah yang terus menerus membeku, atau tertutup air dalam, atau
pada lapisan es terbuka suatu glester. Dalam pengertian ini, tanah memiliki suatu ketebalan
yang ditentukan oleh kedalaman akar tanaman.
Tanah merupakan suatu benda alam yang tersusun dari padatan (bahan mineral dan bahan
organik), cairan dan gas, yang menempati permukaan daratan, menempati ruang, dan
dicirikan oleh salah satu atau kedua berikut: horison-horison, atau lapisan-lapisan, yang dapat
dibedakan dari bahan asalnya sebagai hasil dari suatu proses penambahan, kehilangan,
pemindahan dan transformasi energi dan materi, atau berkemampuan mendukung tanaman
berakar di dalam suatu lingkungan alami, (Anonimus 2008)

A. Faktor-faktor pembentuk tanah
Faktor pembentuk tanah merupakan faktor yang menetukan dalam pembentukan jenis-jenis
tanah. Bahan induk dan lingkungan merupakan faktor yang sangat signifikan dalam pengaruh
terbentuknya tanah.
Faktor yang terpenting dalam pembentukan tanah menurut Jenny (1941) dalam Hardjowigeno
(1993) adalah, iklim, organisma, bahan induk, dan relief (topografi). Faktor lain misalnya
gravitasi, gempa bumi dan lain-lain.

1. Bahan induk
Bahan induk dapat berasal dari bahan mineral (an-organik) dan bahan hidup organic. Bahan
an-organik merupakan hasil pelapukan batuan induk berupa hasil perombakan pecahan yang
bersal dari dalam bumi itu sendiri atau batuan yang berasal dari letusan gunung berapi.
Pengaruh dan hubungan sifat-sifat bahan induk dengan sifat-sifat tanah terlihat lebih jelas
pada tanah-tanah di daerah kering atau tanah-tanah muda. Di daerah yang lebih basah atau
pada tanah-tanah yang lebih tua hubungan antara sifat bahan induk dengan sifat-sifat menjadi
kurang jelas. Walaupun demikian ini berarti bahwa pada tanah-tanah tua pengaruh sifat-sifat
bahan induk menjadi hilang. Sebagai contoh misalnya kuarsa yang sukar lapuk akan
ditemukan pada tanah-tanah tua. (Hardjowegeno, 1993).
Batuan-batuan dimana bahan induk tanah bersal dapat dibedakan menjadi, batuan beku,
batuan sedimen, batuan metamorphose, induk organic. Batuna beku terbentuk karena magma
yang membeku yang terbagi atas, betuan beku dalam atau magma yang membeku di dalam
bumi, batuan beku gang dimana magma membeku diantara sanrang magma dan permukaan
bumi, dan batuan beku atas yang magmanya membeku dipermukaan bumi dan juga disebut
sebagai batuan volkanik
Berdasarkan kandungan SiO2 batuan beku dibedakan menjadi batuan beku asam, intermedier
dan basa. (Hardjowegeno, 1993).
Didaerah hutan rawa yang selalu tergenang air proses penghancuran bahan organic berjalan
lebih lambat daripada proses penimbunan sehingga terjadi akumulasi bahan organic. Dengan
demikian maka terbentuklah tanah-tanah organic atau tanah gambut.

2. Iklim
Factor iklim yang penting dalam proses pembentukan tanah adalah curah hujan dan suhu.
Karena curah hujan dan suhu tidak berbeda ditempat-tempat yang berdekatan, maka pengaruh
iklim terhadap sifat-sifat tanah baru dapat terlihat jelas bila dibandingkan daerah-daerah yang
berjauhan dan mempunyai iklim yang berbeda nyata.
Walaupun demikian kadang-kadang di tempat berdekatan pun ditemukan tanah-tanah yang
berbeda sifatnya akibat pengaruh iklim terutama iklim mikro.
Pengaruh iklim dalam proses pembentukan tanah dapat terjadi secara langsung ataupun tidak
langsung. Pengarung langsung misalnya dalam proses pelapukan, pencucian, translokasi, dan
lain-lain. Sedang pengaruh tidak langsung terutama adalah melalui pengaruhnya terhadap
pertumbuhan fegetasi.

3. Fegetasi
Proses organisma dalam pembentukan tanah adalah sangat besar. Gleason dan Cronguist
(1964) dalam hardjowegeno (1993) mengibaratkan listhosphere sebgai tiang penyangga
(easel), pedosphere sebagai kanvas (lembaran untuk melukis), dan biosphere sebagai suatu
lukisan diatas kanvas tersebut. Oleh karena itu ketiganya saling mempengaruhi, dan setiap
lapisan berubah sifatnya. Perubahan tersebut terjadi pada lapisan permukaan.
Di bumi ini sekarang ditemukan sekitar 450.000 jenis tanaman, 1,5 juta jenis hewan (dominsi
serangga), yang seluruhnya membentuk berbagai masyarakat biotic di atas berbgai seri tanah.
Pengolahan tanah oleh manusia besar pengaruhnya interaksi biota dengan tanah.
(Hardjowegeno, 1993).
Pada umumnya kegiatan organisma diatas bahan induk dinyatakan sebgai persyaratan untuk
pembentukan tanah. Sudah barang tentu hal ini kurang tepat untuk menerangkan
terbentuknnya tanah bulan atau tanah-tanah gundul antartika yang terbentuk karena self
plowing clay.
4. Relief
Relief adalah perbedaan tinggi atau bentuk wilayah suatu daerah, masuk didalamnya adalah
perbedaan kecuraman dan bentuk lereng. Relief mempengaruhi pemebntukan tanah dengan
dengan beberapa cara yaitu;
Mempengaruhi jumlah air hujan yang meresap atau yang ditahan oleh masa tanah,
mempengaruhi dalamnya air, mempengaruhi besaran erosi dan mengarahkan gerakan air
berikut bahan-bahan yang terlarut di dalamnya dari satu tempat ketempat lain.
Hubungan lereng dengan sifat-sifat tanah tidak selalu sama di semua tempat. Hal ini
disebabkan sifat factor-faktor pembentuk yang berbeda disetiap tempat. Lereng biasanya
terdiri dari bagian puncak (crest), bagian cembung, bagian cekung, dan kaki lereng.

5. Waktu
Waktu seperti halnya ruang adalah suatu yang kontinu. Dalam ilmu tanah dikenal konsep time
zero (waktu nol) yang menunjukan saat dimulainya suatu proses pembentukan tanah.
Proses pembentukan tanah dimulai semenjak bahan induk tanah dan factor pemebentuk tanah
lainnya tersedia, sedangkan siklus baru suatu proses pembentukan tanah dimulai segera
setelah kejadian-kejadian dasyat di alam yang dapat mengubah salah satu factor pembentuk
tanah.
Sutau kejadian alam yang dasyat misalnya proses pengangkatan bagian-bagian bumi yang
dapat mengakibatkan perubahan tiba-tiba dari topografi permukaan bumi atau perubahan
muka air tanah. Perubahan tiba-tiba dari fegetasi dapat terjadi akibat penebangan hutan dan
menggantinya dengan tanaman pertanian, atau pembakaran hutan yang kemudian menjadi
padang rumput.

B. Profil tanah
Profil tanah adalah penampang melintang (vertical) tanah yang terdiri dari lapisan tanah
(solum) dan lapisan bahan induk. Solum tanaha merupkan bagian dari profil tanah yang
terbentuk akibat proses pembentukan tanah (horizon A dan B) (Hardjowigeno 1993)
Horizon yang diberi symbol adalah horizon genetic yaitu lapisan-lapisan didalam tanah yang
kurang lebih sejajar dengan permukaan tanah dan terbentuk sabagai hasil dari proses
pembentukan tanah. Horizon genetic tidak setara dengan horizon penciri. Horizon genetic
mencerminkan jenis perubahan sifat tanah yang telah terjadi akibat dari proses pembentukan
tanah. Sedangkan horizon penciri adalah horoson genetic yang sifatnya dinyatkan secara
kuantitatif dan digunakan sabagai penciri dalam klasifiaksi tanah.
Ada enam horizon dan lapisan utama dalam tanah yang masing-masing diberi simbul dengan
satu huruf capital yaitu (dari atas kebawah): O, A, E, B, C dan R (Soil survey Staff, 1990
dalam (Hardjowigeno 1993).
Horizon O merupakan horizon yang didominan oleh bahan organic, baik yang jenuh air, yang
drainase sudah diperbiaki atau pun yang tidak pernah jenuh dari air. (Hardjowigeno, 1993).
Pada lapisan ini merupakan lapisan yang memiliki sifat keremahan tinggi dan daya ikat air
pun tinggi jika jumlah bahan organic didalamnya tinggi. Merupkan hal yang jika diatan
lapisan ini juga banyak ditumbuhi oleh tumbuhan.
Setelah lapisan (horizon) O, terdapat lapisan dengan kandungan mineral tinggi dan memiliki
struktur lebih halus. Horizon mineral di permukaan tanah atau di bawah lapisan O dan
mempunyai salah satu atau kedua sifat berikut. 1) merupakan akumulasi bahan organic halus
yang tercampur dengan bahan mineral dan tidak didominan oleh sifat horizon E atau B. dan 2)
menunjukan sifat sebagai hasil pengolahan tanah.
Horizon mineral dengan sifat utama terjadi pencucian liat (clay), besi, alumunium atau
kombinasinya, bahan organic, dan lain-lain sehingga tertinggal pasir dan debun umumnya
berwarna pucat. Horizon A di atasnya atau horizon B di bawahnya.
Beberapa sifat yang dimiliki oleh lapisan (horizon) dibawah A, E atau B menurut
Hardjowigeno (1993) adalah sebagai berikut:
1. Terdapat penimbunan (alluvial) liat, besi, alumunium, humus, karbonat, gypsum atau silica
(salah satu kombinasinya)
2. Ada bukti terjadinya pmindahan karbonat.
3. Penimbunan relatif (resual seskuioksida (Fe2 O3 dan Al2O3) akibat pencucian silica.
4. Selaput seskuioksida sehingga mempunyai warna dengan value lebih rendah, kroma lebih
tinggi hue lebih rendah dari pada horizon di atas atau dibawahnya, tanpa adanya iluviasi besi.
5. Perubahan alterasi yang menghasilkan liat, atau membebaskan oksida atau kedua-duanya
dan yang membentuk struktur granular, gumpal atau prismatic bila perubahan volume
menyertai perubahan kelembapan tanah.
6. Mudah hancur atau rapuh (brittle) dan mempunyai bukti alterasi lain seperti stuktur
prismatic atau ada akumulasi liat alluvial.
Lapisan atau hodrison, tidak termasuk batuan keras yang sedikit dipengaruhi oleh proses
pendogenik dan tidak mempunyai sifat horizon O, A, E, atau B. bahan lapisan C dapa serupa
ataupun tidak serupa dengan bahan yang membentuk solum diatasnya.
Termasuk lapisan C adalah lahan endapan, batuan yang tidak padu (unsconsolidated), dan
bahan geologi yang agak keras tetapi pecahan kering udara atau lebih kering dapat hancur
dalam air selama 24 jam, sedangkan bila lembap digali dengan cangkul.
Pada lapisan batu yang keras, pecahan kering udara atau lebih kering tidak dapat hancur bila
terendam dengan air selam 24 jam, dan batuan yang lembap tidak dapat digali dengan
cangkul. Batuan ini mungkin pecah-pecah tetapi jumlah retakan sedikit sehingga hanya
sedikit akar yang dapat menembus lewat retakan.

   VII. Methodology / Cara Kerja
      1. Alat :
              - Bor Tanah
              - Kotak Sampel
              - Alat Pengukur
              - Plastik Transparan
              - Karet Gelang
              - Sticker Label
      2. Cara Kerja
              1. Menyiapkan alat
              2. Mengebor tanah sampai kedalaman 100 Cm.
              3. Meletakkan hasil pengeboran pada kotak sampel yang telah disiapkan.
              4. Menentukan batas lapisan profil tanah.
              5. Mengamati hasil pengeboran berupa kedalaman setiap lapisan, warna,
              tekstur, strurtur dan konsistensi tanah yang telah diletakan di atas kotak
              sample.
   VIII. Hasil dan Pembahasan
Lapisan                   I                   II             III                IV
Kedalaman Lapisan (cm)    41                  17             17                 25
Warna                     Hitam               Kuning         Kuning pucat       Kuning
                                              pucat                             kecoklatan
                                              kehitaman
Tekstur                        Lempung        Liat pasir     Liat berpasir      Liat
                                              berlempung
Struktur                       Kasar          Kasar          Sedang             Halus
Konsistensi                    Lepas          Lepas          Lekat              Sangat lekat



   IX.    Kesimpulan

   X.     Daftar Pustaka

   http://supratmansuwito.blogspot.com/2009/01/laporan-ilmu-tanah-profil.html
   Anonimus 2008 Modul Dasar Bidang Keahlian Kode Modul Smkp1c01-02dbk Fungsii Dan Manfaat
   Tanah Dan Pupuk.
   H. Sarwono. 1993. Klasifikasi Tanah Dan Pedogenesis, Edisi Pertama. Akademik Persindo;
   JAKARTA. 274 hlm.
   S. Pedro A. 1993. Sifat Dan Pengelolaan Tanah Tropika, Edisi Kedua. ITB; BANDUNG. 303 hlm.

   XI.    Lampiran

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:4423
posted:5/5/2011
language:Indonesian
pages:7