merchandise project by qingyunliuliu

VIEWS: 138 PAGES: 16

									merchandise|project
Grace Samboh




mer • chan • dise
noun |ˈmər ch ənˌdīz; -ˌdīs|
goods to be bought and sold: stores that offered an
astonishing range of merchandise.
         • products used to promote a particular
         movie, popular music
         • group, etc., or linked to a particular
         fictional character;
         • merchandising.
[thesaurus] a wide range of merchandise goods, wares,
stock, commodities, lines, produce, products                       227



verb |ˈmər ch ənˌdīz| |ˈmərtʃənˈdaɪz| |ˈməːtʃ(ə)
ndʌɪz|
promote the sale of (goods), esp. by their
presentation in retail outlets: a new breakfast food can
easily be merchandised.
         • advertise or publicize (an idea or
         person): they are merchandising “niceness” to children.
         • archaic trade or traffic in (something),
         esp. inappropriately.
         • [ intrans. ] archaic engage in the business
         of a merchant.

[thesaurus] a new product that can be easily merchandised
promote, market, sell, retail; advertise,
publicize, push; informal plug.
            (New Oxford American Dictionary & Thesaurus)
      Beberapa Kamus Inggris-Indonesia menerjemahkan “merchandise” sebagai “barang
      dagangan” atau “dagangan”. Bentuk paling mudahnya adalah; hampir setiap kota dan negara
      punya merchandise masing-masing, kalau tidak disebut souvenir, oleh-oleh, atau buah
      tangan. Sungguh terdengar murahan; sangat berkebalikan dengan posisi karya seni (terutama
      seni rupa) di Indonesia. Karya seni rupa, mau tak mau, masih sering diposisikan sebagai
      sesuatu yang adiluhung. Apalagi apabila karya tersebut hadir dalam bentuk yang paling
      dikenal publik, lukisan dan patung.
      Bahkan ketika para perupa kita mengolah/menggunakan citra-citra yang dipopulerkan media
      massapun karya mereka masih dianggap sebagai sesuatu yang berjarak dengan masyarakat.
      Pertanyaan soal mana yang duluan antara (1) karya seni rupa dicap adiluhung; atau (2)
      masyarakat berjarak dengan karya seni rupa; bagaikan bertanya mana duluan antara telur
      dan ayam. Mengaji perkara itupun bisa jadi membosankan.
      Artist merchandise sebenarnya bukan fenomena baru. Kalau pada masanya Andy
      Warhol justru mengambil bentuk merchandise (baca: barang-barang konsumen) dan
      mentransformasikannya menjadi karya 3/4 yang notabene mahal dan berjarak dengan publik
      konsumennya sendiri; sekarang Damien Hirst membalik keadaannya. Ia justru menjadikan
      dirinya (dan karya-karyanya) sebagai komoditi yang ditawarkan kepada publik konsumen
      yang lebih luas dari publik seni. Melalui perusahaan publikasi bukunya dan beberapa
      rekannya, The Other Criteria, Hirst memproduksi kartu pos, objek-objek toys, sampul buku,
      dan beberapa bentuk merchandise lainnya. Karya-karyanyalah yang ditawarkan melalui
      sejumlah merchandise tersebut, misalnya kartu pos Away from the Flock.
      Selain para seniman yang terlibat dalam The Other Criteria, seperti Ashley Bickerton, David
      Bailey, Banksy, Barnbrook, dan lainnya, ada juga seniman yang intens mengolah pengaburan
      jarak antara karya high art dan low art, seperti Takashi Murakami. Murakami bukan Warhol
      yang mengambil fragmen-fragmen dalam kehidupan populer dan seni terapan (misalnya
228   Campbell Soup) dan mengolahnya menjadi karya seni yang dipajang dalam ruang-ruang
      galeri yang elit dengan publik yang sangat terbatas. Murakami mengolah citra-citra populer
      menjadi karyanya sekaligus menjadi merchandise-nya yang diproduksi massal lewat Kaikai
      Kiki Company Ltd. Ia bekerjasama dengan Kanye West (seorang penyanyi hip-hop populer)
      dalam pembuatan karyanya, kemudian menggandeng Luis Vuitton untuk memproduksi tas
      dan beberapa produk lainnya menggunakan motif yang didesain olehnya.
      Sejauh ini, saya menemukan tiga kecenderungan pembuatan merchandise seniman.
      Kecenderungan pertama, sekaligus yang paling populer, adalah ikon visual dari karya-karya
      masing-masing seniman ditransformasi bentuk menjadi merchandise. Misalnya, berbagai
      drawing Eko Nugroho (Daging Tumbuh, atau DGTMB), Wedhar Riyadi (Evily Candy Machine),
      Uji Handoko Eko Saputro (Lonely), Riono Tanggul Nusantara (Tatsoy), dan Hendra Harsono
      (Cynical Love Monster). Kecenderungan ini juga yang paling cepat dan mudah ditanggapi
      oleh industri. Yah, secara ekonomi, kita memang sekarang hidup di era di mana menolak
      kapitalisme adalah omong kosong besar. Sekarang, beberapa merek bahkan dibuat khusus
      untuk mengakomodasi produk-produk macam ini; sebut saja misalnya RVCA, dan The Other
      Project.
      Ada juga merek yang diinisiasi dan dimodali sendiri oleh senimannya, Eko Nugroho dan
      DGTMB, misalnya. Beberapa nama lainnya yang disebutkan di atas, tergabung dalam 0274
      Artist Series 3/4 sebuah merek yang diinisiasi dan dimodali oleh pemilik-pemilik clothing dan
      tokonya, Whatever, Brain, dan Nothink. Jumaldi Alfi dan blackboard series merchandise-
      nya, walau diproduksi sendiri, masih termasuk dalam kecenderungan pertama ini. Dengan
      kepekaan yang luar biasa, Alfi bukan hanya memindahkan sebentuk karyanya menjadi
      merchandise. Semangat karyanya yang mengangkat perihal memori personal, baik masa
      kecil, masa sekolah, dan masa lalu pada umumnya, ditransformasi ke bentuk yang tak kalah
      personal, seprai (dan sarung bantalnya, tentu saja).
Kecenderungan kedua adalah seniman yang membuat merchandise-nya sendiri dengan
kesadaran memorabilia. Misalnya, Indiguerillas melalui Happy Victim-nya. Seperti Takashi
Murakami dan Kaikai Company Ltd, pasangan Santi Ariestyowanti dan Dyatmiko Bawono
menuangkan jiwa kebermainannya dalam desain melalui Happy Victim; berbagai macam
produk konsumen digarapnya, mulai dari kaus, jaket, sampai ke mainan. Demikian juga Yuli
Prayitno dan S. Teddy Darmawan. Walau tidak membuat mereknya sendiri, gagang pintu Yuli
Prayitno yang siap diproduksi dalam jumlah sesuai pesanan dan parang ciptaan S. Teddy
Darmawan juga termasuk kategori ini.
Kecenderungan ketiga adalah seniman yang mengumpulkan/mengarsip proses berkaryanya
dalam bentuk merchandise. Sebenarnya kecenderungan terakhir ini tidak dilakukan dengan
kesadaran mengumpulkan karya sebagai merchandise, tetapi lebih karena kebutuhan
membuat model/contoh/maket sebelum pembuatan karya; persis seperti prosedur
eksekusi desain seorang arsitek atau desainer grafis. Ini sebenarnya gejala yang sangat
lazim ditemukan pada seniman. Misalnya: pelukis membuat sketsa di kertas/buku terlebih
dahulu, pematung membuat miniatur karyanya sebagai model, pembuat video menyimpan
naskah, dan lain sebagainya. Dalam ranah street art, pameran blackbook (buku sketsa para
senimannya) sudah sangat lazim dilakukan. Konon, bahkan, blackbook sekelompok seniman
yang berkarya untuk proyek graffiti yang dimodali cat semprot Montana laris dengan harga
yang hampir sama dengan nilai proyeknya.
Walau masuk dalam kategori ini, Samsul Arifin lebih; ia mendokumentasikan karya-karya
dan proses pembuatannya dengan menarik. Bukan hanya dalam bentuk foto dan sketsa,
tetapi objek berkaryanya juga lalu dibekukan menggunakan resin. Dengan kesadaran
kalau karya-karyanya tak mungkin jadi miliknya untuk selamanya, Samsul bukan hanya
mendokumentasikan karya, dan prosesnya, dalam bentuk foto dan sketsa, namun juga
modelnya.
Melalui merchandise|project ini, para seniman diajak untuk membuat merchandise-nya               229
masing-masing. Para seniman dalam proyek ini adalah mereka yang mempunyai ciri
visual yang kuat; dalam sekali-dua kali lirik saja Anda bisa mengenali milik siapa tiap-tiap
merchandise yang dipamerkan.



merchandise|project
Several English Indonesia dictionaries would translate ‘merchandise’ as ‘goods’ or
‘commodity’. Its most basic form is this: almost every city or country has their own
merchandise, also known as souvenir, or gifts. It sounded cheap in contrast to the positioning
of art in Indonesia where artworks are undeniably still considered noble, especially when they
come in their most popular forms: paintings and sculptures.
Even when our artists use images widely popularized by the media, their work is still
considered distanced from the community. To question which comes first between (1)
artworks are noble; or (2) art is distanced from the public – is akin to asking the ‘egg or
chicken?’ question, not to mention it will be a boring topic to discuss.
Merchandise artist is not a new phenomenon. Back then Andy Warhol took merchandise
in the format of consumers goods and transformed them into artworks, expensive and
distanced from its own public; a situation now reversed by Damien Hirst who made a
commodity of himself (and his works) to consumers wider than that of the art market. Through
The Other Criteria, the company who published his work, and several of his friends, he
produced postcards, toys, book covers and several other merchandises all bearing his work,
e.g., his Away from the Flock postcard.
230
231
      Aside from artists involved in The Other Criteria, like Ashley Bickerton, David Bailey, Banksy,
      Barnbrook etc, one intensely works on blurring the distance between high and low art,
      like Takashi Murakami. Unlike Warhol who took fragments of popular life and applied art
      (e.g., Campbell Soup) and processed it to become art pieces displayed in elite galleries
      to a very limited public, Murakami processed popular images as his work and had it mass
      merchandised at the same time by Kaikai Kiki Company Ltd. He collaborated with Kanye
      West (a popular hip-hop singer) and got Louis Vuitton to produce bags and several other
      items using patterns he designed.
      So far I have discovered three tendencies in the making of artists’ merchandise. The first
      and also the most popular is the merchandising of the artists’ visual icon, e.g., the drawings
      of Eko Nugroho (Daging Tumbuh or DGTMB), Wedhar Riyadi (Evily Candy Machine), Uji
      Handoko Eko Saputro (Lonely), Riono Tanggul Nusantara (Tatsoy) and Hendra Harsono
      (Cynical Love Monster). This first category is also the fastest and is easily adopted by the
      industry as we live in an era where capitalism rules. Many brands nowadays were specifically
      made to accommodate such products, like RVCA and The Other Project.
      There are also brands initiated and funded by the artist. Eko Nugroho and DGTMB, for
      instance, and several other names mentioned above, are part of the 0274 Artist Series – a
      brand initiated and funded by clothing store owners: Whatever, Brain and Nothink. Jumaldi
      Alfi and his blackboard series merchandise, although self-produced, is also part of this
      first leaning. With remarkable sensitivity he not only transferred his work into just any
      merchandise. The spirit of his works; of personal memories of childhood, of school and of the
      past are transformed into forms that are no less personal, like bedsheets and pillow cases.
      The second tendency are artists who made their own merchandise with memorabilia
      awareness. Take for instance Indiguerillas through Happy Victim. Like Takashi Murakami and
      Kaikai Company Ltd, this couple, Santi Ariestyowanti and Dyatmiko Bawono poured their
232   playful souls into a variety of consumers products like t-shirt, jackets, and toys. So are Yuli
      Prayitno and S. Teddy Darmawan; although they don’t make their own brand, Yuli Prayitno’s
      door handles could be produced as ordered, so does S. Teddy Darmawan’s cleavers.
      The third tendency refers to artists who collect/archive their work processes into merchandise
      format; this is not deliberately done, but happened due to the need to make a model/sample/
      mock-up prior to the making of the artwork; just like what an architect or a graphic designer
      would do. This is a common phenomenon for artists, e.g., a painter would first sketch on
      paper, a sculptor would make a miniature of his piece as a model, a videographer would
      collect manuscript, etc. In the sphere of street art, blackbook exhibitions are commonly done.
      It is said that the blackbooks of artists that were part of a graffiti project funded by Montana
      spray paint were sold at about the same price as the project’s.
      Although included in this category, Samsul Arifin did more; aware that his works will not
      be his forever, he documented his work and his processes not only through photos and
      sketches, but also through freezing his objects with resin.
      Merchandise | project invites artists to make their own merchandise. The ones involved in this
      project are those with strong visual identities whose works are easily recognizable in a glance.
233
234
0274 ARTIST SERIES adalah brand gaya hidup yang menawarkan pada anda karya-karya
seniman Yogya dalam bentuk merchandises (cinderamata) . Sudah menjadi niatan bagi 0274
ARTIST SERIES untuk merepresentasikan semangat subkultur Yogyakarta, yang menjadi
ibukota kesenian Indonesia; bahkan juga dijuluki sebagai Mekkah-nya seni visual di Asia
Tenggara.
Masing-masing merchandise dinomori seperti karya grafis cetak. Angka 11/100, misalnya,
merujuk pada nomor produk sebagai cetakan kesebelas dari 100 item yang ada. 0274
ARTIST SERIES mendorong seniman lokal untuk memproduksi barang yang dapat dijual
dengan tujuan meningkatkan kesadaran publik tentang dunia seni kontemporer.
Didukung oleh Brain, Nothink dan Whatever, 0274 ARTIST SERIES membangung sebuah
platform yang mewadahi beragam langgam dan aliran seni dalam bentuk yang siap diakses
publik.
LONELY karya Uji Handoko Eko Saputro
Seniman kelahiran 1983 ini adalah salah satu seniman muda yang naik daun, khususnya
karena karya-karyanya yang ditandai oleh garis-garis yang tegas dan asertif. Meskipun tampil
kontradiktif, gaya fesyennya yang unik, ekspresinya dan perilakunya yang kocak merupakan
unsur-unsur utama dalam karya-karya seni rendahannya yang diaksentuasi dengan warna-
warna pastel. Ia juga bertindak sebagai vokalis Punkasila, sebuah band punk dengan gaya
khasnya yang berani. Seringkali tampil di atas panggung sebagai MC, Uji lebih dikenal
dengan nama Hengky Strawberry.

EVILY CANDY MACHINE karya Wedhar Riyadi
Lahir pada tahun 1980, ia masuk dalam jajaran seniman yang mendapat banyak sorotan di
dunia seni rupa kontemporer. Dibandingkan seniman segenerasinya, ia termasuk yang paling
kalem dan rapi dalam mengorganisasi diri. Karya-karyanya yang sangat dipengaruhi komik
menampilkan gaya dark-underground yang poplaritasnya sudah mendunia. Brand EVILY                235
CANDY MACHINE diambil dari nama proyek band tunggalnya yang ia jadikan sarana untuk
bereksperimentasi dengan mencampurkan komposisi ambiens dan komponen suara-suara
ruang.

TATSOY oleh Riono Tanggul Nusantara
Pria kelahiran 1984, pertama kali ditemukan ketika sedang mencorat-coret gerbong kereta
api. Ya, ia memiliki sejarah panjang dalam dunia seni jalanan di kota ini. Latarbelakangnya
di seni lukis tidak lantas mencegahnya untuk memproduksi karya-karya yang sangat
komunikatif dan berteknik tinggi. Saat ini ia tengah disibukkan dengan popularitas yang
mendadak didapatkan band rockabilly-nya, Sangkakala, yang sudah berhasil mengembalikan
tren pakaian bermotif kulit macan.

CYNICALLOVEMONSTER karya Hendra Harsono
Lahir pada tahun 1983, ia bukan hanya dikenal sebagai seniman visual tapi juga desainer
grafis. Karya-karyanya dengan jelas menunjukkan (bahwa) dia berpikir dan bertindak dengan
desain; itulah mengapa orang dapat mudah menerima karyanya tanpa harus berkerut-kening.
Karya-karya Hendra didominasi oleh bentuk-bentuk komik, kartun dan budaya populer masa
kini yang dikenal sebagai seni rendahan. Gaya ini mungkin tidak baru, tapi karya-karyanya
memang selalu berhasil tampil menarik dan menyegarkan.

LOVEHATELOVE oleh Rolly Bandhriyo
Lahir di tahun 1984, sekarang ini ia mungkin orang paling dikenal se-Yogyakarta, jika dilihat
namanya. Ia sudah menyebarkan LOVEHATELOVE di seluruh dinding kota sejak tahun 2003.
Keliaran karya-karya grafitinya, ditambah lagi dengan konsistensinya di bidang seni jalanan,
berhasil merepresentasikan kekuatan dari subkultur lokal yang kental dengan urbanisme.
Kini jalan-jalan kota disarati dengan nama dan karyanya. Rolly percaya bahwa ia tenga
melangsungkan komunikasi dengan yang lain dengan mediasi ruang publik.
236
ELI oleh Iwan Effendi
Lahir pada tahun 1979, ia adalah seniman terakhir yang muncul dengan isu1980-1990an:
(mencoba) membuktikan fakta bahwa lulus dari sekolah seni bukan jaminan menjadi seniman
yang baik. Ia sering berkolaborasi dengan disiplin kesenian lain. Karya seni visualnya
cenderung mengambil bentul dalam citra-citra surealis. Ia juga mendesain buku anak dan
bertindak sebagai direktur artistik Teater Boneka Papermoon. Bersepeda dan olahraga
adalah hobi yang pilihannya.


FIGHT FOR RICE adalah kerja kolaborasi antara DGTMB (Eko Nugroho) dan EVILY CANDY
MACHINE (Wedhar Riyadi) yang menghasilkan beragam hal unik:
Fight For Rice mengadakan program bulanan bernama Versus. Ajang ini membuka
kesempatan untuk seniman muda lain atau komunitas kreatif untuk mempresentasikan
merchandise mereka di Fight For Rice Store. Tujuan proyek ini adalah menemukan gagasan
baru dan dirancang sebagai strategi untuk promosi bersama demi menyasar pasar yang
lebih luas. Sampai kini, kelompok yang terlibat dalam proyek ini adalah: Kerja Keras Kultur
(komunitas komik), Kamengski (komunitas seni visual dan desain), White Shoes and the
Couple Company (band) dan Airport Radio (band).
Lahir di Yogyakarta pada tahun 1977, Eko Nugroho adalah salah satu seniman muda paling
menonjol dalam seni kontemporer Indonesia. Sejak pameran tunggalnya Bercerobong
di Cemeti Art House, pada tahun 2002, karirnya menanjak ke berbagai pameran yang
diselenggarakan baik secara lokal maupun internasional. Ia menganggap karyanya yang
diilhami komik ini sebagai perjalanan berkisah pada penontonnya di berbagai lokasi. Teknik
grafis dan pencitraan Nugroho yang sarat dengan garis-garis gelap tebal mencerminkan
situasi Indonesia yang pekak dengan media dan muatan politik. Karakter-karakternya yang
separuh manusia separuh mesin seringkali dilengkapi dengan balon-balon yang dibubuhi
                                                                                               237
pernyataan aneh, ironis dan kerap provokatif, seperti: “Silahkan tembak saya dari belakang.”
Lahir pada tahun 1980 di Yogyakarta, Wedhar Riyadi adalah salah satu seniman paling
menjanjikan di generasinya di dunia seni rupa Indonesia. Ia menggunakan basis yang
berbeda dalam mengkomunikasikan pesan-pesan yang mau ia sampaikan. Karyanya bisa
digolongkan sebagai seni rendahan. Citra-citra komik Riyadi’s berdekatan dengan komik-
komik gelap underground yang sangat populer di kalangan seniman muda di seluruh dunia.
Dengan banyak merujuk pada musik dan produk seni pop, Riyadi menciptakan kembali
bentuk-bentuk visual dan membubuhkan sebuah brand ke konteks lokal dan narasi ke karya
seninya. Ia kerap bercerita tentang kisah pribadi kehidupannya dan mengaitkanya dengan
idola, hobi dan teman-temannya, sambil kadang mencoba bersikap kritis dengan kebiasaan
mereka mengkonsumsi.
HAPPY VICTIM adalah lini merchandise keluaran INDIEGUERILLAS.
Didirikan pada tahun 1999, Indieguerillas adalah pasangan seniman dan desainer grafis
dari Yogyakarta-Indonesia, Santi Ariestyowanti dan Dyatmiko ‘Miko’ Bawono. Santi
memiliki latar belakang pendidikan di Desain Komunikasi Visual dan Miko dari Desain
Interior. Keduanya adalah alumni Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Seni Indonesia (ISI)
Yogyakarta. Selain ketertarikan mereka yang mendalam pada legenda rakyat, Indieguerillas
juga mendapat banyak sorotan positif berkat teknik efek visual dan eksperimentasi lintas
media yang mereka lakukan.
BAYU WIDODO adalah seniman yang hidup di Yogyakarta dan memproduksi gambar
garis, lukis, cukil kayu dan stensil yang menyajikan muatan dan pesan politik yang kental.
Ia menanggap cetak sebagai medium yang memungkinkan pengkomunikasian isu secara
langsung dan relevan; dalam bentuknya yang fleksibel dan tidak statis. Sebagai salah
satu anggota kelompok Taring Padi, gagasan karyanya berpusat pada isu urbanisasi dan
      dampaknya pada manusia. Karya-karyanya banyak mengungkapkan dampak “gaya hidup”
      di lingkungan perkotaan. Dengan premis ‘berpikir global, bertindak lokal’, ia ingin menguji
      dampak dari kebutuhan manusia atas perumahan.
      Lahir di Ponorogo, Jawa Timur pada tahun 1981, HENDRA ‘BLANKON’ PRIYADHANI
      memiliki alter- ego bernama Baron Capulet Araruna –yang juga nama panggungnya sebagai
      vokalis band Sangkakala. Band yang didirikannya bersama empat“bandit” lainnya semasa
      kuliah ini memiliki orientasi rock fesyen. Dunia Baron Capulet Araruna sangat berbeda dengan
      dunia Blankon. Baron selalu tampil dengan citra yang kasar, liar, gagah, dan Don Juan
      selayaknya bintang rock ternama. Citra-citra ini ditampilkan lewat gaya berpakaian, riasan,
      sepatu dan atribut pendukung panggung lainnya. Karakter Baron ini adalah gabungan dari
      sejumlah pengaruh yang didapatkan Blankon semasa muda, melalui para idolanya beserta
      sepatu, kostum, gaya yang mereka kenakan berikut ciri vokalnya. Dalam proyek ini Hendra
      “Blankon” Priyadhani dan Baron Capulet Araruna berkolaborasi membangun Capulet Bar,
      untuk mempertunjukkan hasrat mereka pada format seni visual. Ruang ini menjadi tempat di
      mana kedua nama ini bertemu dan bekerjasama.
      Terlahir di Silakarang, Gianyar, Bali, pada tahun 1977, di keluarga pemahat kayu, pematung
      dan pelukis, I MADE ASWINO AJI menjadikan menggambar dan melukis sebagai bagian
      dari kesehariannya –bahkan sejak sebelum ia menempuh jalur pendidikan formal. Meskipun
      demikian Aji menuntaskan gelar sarjananya di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Ia
      membuat lukisan, karya fotografi, karya obyek dan instalasi dengan menggunaka figur, potret
      dan arsitektur untuk menelusri tema-tema pengasingan, kesendirian, dan kesepian ; sebuah
      titik penting dalam kehidupan modern. Kehidupan yang membuta orang melihat satu sama
      lain sebagai pesaing; dan kemajuan teknologi yang bias mengantarkan pada keberhasilan
      dan sebaliknya. Kesempatan menjadi pintu yang mengarah pada jalan yang tidak bisa ditebak
      kemana arahnya. Rasa tidak aman yang disudutkan ini, yang menyatu dengan secercah
      keyakinan bahwa “masih ada harapan” merupakan titik berangkat dari karya-karyanya.
238
      Lahir di Lintau, Sumatra Barat pada tahun 1973, JUMALDI ALFI adalah produser
      seni kawakan dalam soal teknik maupun wacana reflektif. Ia mencoba untuk menjadi
      analitis dalam mengamati fenomena dengan mengambil jarak tertentu. Karya-karyanya
      mencerminkan minatnya yang beragam, dari Budisme ke mitologi Yunani sampai dengan
      musik. Ia memanfaatkan aktivitas melukisnya sebagai proses terapi diri yang mewadahi
      dan mengkontrol bermacam persoalan yang memberati benaknya. Dengan kerangka
      pikir demikian, ia mulai dengan memilih tema-tema dan pendekatan tertentu dalam
      mengembangkan seri lukisannya yang menggabungkan ekspresionisme, seni mentah dan
      kadang kala juga realisme. Alfi menjadikan lukisannya sebagai catatan otobiografis dan
      sekaligus medan eksperimen untuk terus mengeskplorasi dan menguji berbagai kemungkinan
      dalam lukis -lebih sebagai gagasan ketimbang produk dari proses membayangkan kanvas.
      Lahir di Padang, pada tahun 1970, S. TEDDY DARMAWAN lulus dari Jurusan Seni Rupa
      Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Ia pernah menjadi seniman residensi di Aachen,
      Jerman dan terpilih sebagai lima terbaik dalam penghargaan seni Phillip Morris Awards 2001
      (Indonesia). Karya-karyanya, baik itu gambar, lukis, maupun instalasi selalu memperlihatkan
      kesederhanaan yang formal sekaligus teknis. Akan tetapi ia tidak pernah terjebak dalam satu
      teknik, media maupun tema tertentu. Teknik dan bentuk sederhana dalam karya-karyanya
      mengungkapkan beragam tema mulai dari isu-isu kedirian sampai dengan kritik sosial politik
      yang sarat humor. Ia selalu berani menempuh resiko dan menabrakkan seni pada beragam
      kemungkinan.
      Lahir di Malang pada tahun 1979, SAMSUL ARIFIN merupakan pencipta Goni, sebuah
      karakter yang terbuat dari karung beras. Citra naratif Goni’s “mengawali kemunculannya”
      sejak proyek tugas akhirnya untuk Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Goni diilhami oleh
      renungan Samsul tentang kebutuhan mendasar manusia: pendidikan dan jati diri. Melalui figur
      Goni berikut “petualangan-petualangannya” dengan benda tak bergerak, Samsul mencoba
membuat pernyataan tentang anak muda di generasinya, terutama mereka yang lahir di
kelas pekerja dan merasakan kegelisahan tentang rendahnya kualitas dan sulitnya akses
pendidikan ketika mereka mencoba untuk berhasil, sesederhana apapun nilai keberhasilan
yang dimaksud. Serangkaian karya dari seri Goni dan metafora diam telah dipamerkan dalam
beberapa pameran bersama di tingkat lokal maupun internasional.
Lahir pada tahun 1976 di Klaten, SRI MARYANTO adalah seniman cetak grafis yang hidup di
Yogyakarta. Meskipun ia mengawali masa kuliahnya di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta
di jurusan seni lukis, pada tahun 2002 ia beralih jurusan ke cetak grafis. Ia memilih cukil
hardboard sebagai medium karya utamanya. Ia juga lebih memilih menggunakan kertas
ketimbang kanvas ketika berkarya, sehingga memungkinkannya untuk bernegosiasi dengan
narasi sejarah dengan bereksperimen dengan bahan-bahan yang lebih personal dan lentur. Ia
mendirikan ORABER, sebuah lini merchandise seniman yang memproduksi kaos, tas, dan
jam dengan tujuan untuk mempromosikan karya seni ke publik luas.
YULI PRAYITNO. Lahir di Bandung 1974, lulusan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta ini
menolak anggapan bahwa seni patung harus ditampilkan secara gigantis kalau mau dilihat.
Kesederhanaan dan kesempurnaan adalah dua kata kunci untuk memahami obyek-obyek
yang diciptakan Yuli Prayitno. Baginya, berkarya merupakan cara untuk berkomunikasi
dengan publik dengan bahasa visual; berkarya adalah cara berpikir. Karya jadinya selalu
menjadi bahan perbincangan: karya-karya ini punya kesederhanaan yang mengagumkan.
Benda-benda ciptaanya merupakan hasil kombinasi antara bentuk-bentuk konvensional dan
kontemporer. Variasi, kesegaran, dan kejutan baru dalam karya-karya Yuli Prayitno’s works
menyampaikan kepada kita sebuah kabar baik tentang bagaimana seni patung kini sedang
melangkah ke arah baru- dimensi seni patung yang baru.



                                                                                                   239
0274 ARTIST SERIES is a lifestyle brand offering you Yogyakarta-artists’ works in the form
of merchandises. It is the intent of 0274 ARTIST SERIES to represent the subculture spirit of
Yogyakarta, the capital city of arts in Indonesia; some even say that it is the Southeast Asia’s
Mecca of visual arts.
Each merchandise is individually numbered like printed graphic artworks. 11/100 means
that the product is the 11th print out of 100 items. 0274 ARTIST SERIES supports local
artists by producing sellable merchandises in order to widen the public awareness on local
contemporary art scene.
Powered by Brain, Nothink and Whatever, 0274 ARTIST SERIES creates a platform which
accommodates whatever genre and isms of art in the form that people can easily access.
LONELY by Uji Handoko Eko Saputro
Born in 1983, he is one of today’s celebrated emerging artists producing works that are
marked with strong and assertive lines. Though contradictive, his distinctive fashion style,
amusing expressions and attitude are definitely the basic elements of his lowbrow-yet-pastel-
colored visual works. He’s also the vocalist of Punkasila, a punk band with attitude. Whenever
he’s on stage as an MC, his nickname is Hengky Strawberry.

EVILY CANDY MACHINE by Wedhar Riyadi
Born in 1980, he is the rising star in contemporary art scene who, unlike those in his
generation, is a rather calm and organized person. His works are powerfully inspired by
comics and presented in the world-wide popular dark-underground style. The brand EVILY
CANDY MACHINE is taken form his one-man-band project in which he experimented
blending ambience compositions and soundscape components.
      TATSOY by Riono Tanggul Nusantara
      Born in 1984, he is the first being caught-in-act for doing graffiti on a train. Yes, the man’s
      got a long history in today’s local street art scenes. Painting as a background doesn’t stop
      him from producing strongly communicative yet also highly skilled craftmanship. In the mean
      time, he has been busy with the sudden popularity of his band, Sangkakala, a rockabilly band
      which brings tiger-motif-clothes back in style.

      CYNICALLOVEMONSTER by Hendra Harsono
      Born in 1983, he is not only known as a visual artist but also as a graphic designer. His work
      clearly shows (that) he thinks and acts design-wise; that is why one can enjoy his works
      without having to raise his/her eyebrows. His works are dominated with today’s comics,
      cartoons and today’s popular culture known as lowbrow. The style may not be new but his
      works are always intriguing and refreshing.

      LOVEHATELOVE by Rolly Bandhriyo
      Born in 1984, he might be Yogyakarta’s most known person judging by the count of his name.
      He’s been spreading LOVEHATELOVE all over the city walls since 2003. The rawness of his
      graffitis, along with the consistency of street art making, represents the power of local sub-
      culture influenced by urbanism. today, the city streets are fully signed by his name and works.
      He believes that he’s communicating with others through public spaces.

      ELI by Iwan Effendi
      Born in 1979, he’s the last artist known with the 80’s-90’s issue: (trying to) proving the fact
      that graduating from an art school is irrelevant to being a good artist. He often collaborates
      with other art disciplines. his visual artworks tend to form in surrealistic imagery. Yet, he’s
      also a children’s book designer and the artistic director of the papermoon puppet theatre. He
      chooses biking as both his hobby and sport.
240
      FIGHT FOR RICE is a collaboration project between DGTMB (Eko Nugroho) and EVILY
      CANDY MACHINE (Wedhar Riyadi) that presents unique things.
      Fight For Rice has a monthly program called Versus. It’s a chance for other young artists or
      creative communities to present their merchandises at Fight For Rice Store. This project aims
      to discover fresh ideas and set as a strategic join promotion to reach wider market. So far,
      groups that joined this project are: Kerja Keras Kultur (comic community), Kamengski (visual
      art and design community), White Shoes and the Couple Company (band) and Airport Radio
      (band).
      Born in Yogyakarta, 1977, Eko Nugroho is one of the most exciting young stars in
      contemporary Indonesian art. Since his first solo Bercerobong at Cemeti Art House, in 2002,
      his career has spanned a large number of exhibitions locally as well as abroad. He considers
      his comic-inspired works as a storytelling journey to audiences at different sites. Often
      working with thick dark outlines, Nugroho’s graphic technique and imagery reflect Indonesia’s
      media-rich and politically charged environment. His part man-part machine characters are
      often accompanied by bizarre, ironic and often times provocative statements in thought
      balloons or speech bubbles saying, for instance, “please shoot me from the back.”
      Born in Yogyakarta, 1980, Wedhar Riyadi is one of the promising artists from his generation
      in Indonesian Art Scene. He uses a different base to communicate his message. His works
      can be defined more as Lowbrow. Riyadi’s comic image has been easily connected to a
      new trend of dark-underground comics that is very popular for young artists around the
      world. With a huge reference from music and other pop-art products, Riyadi recreates the
      visual form and puts a brand of local contexts and stories into his artwork. He tends to tell a
      personal story of his life and relates his idols, his hobbies, his peers, and sometimes, tries to
      be critical of their consuming habits.
HAPPY VICTIM is a line of merchandise produced by INDIEGUERILLAS.
Founded in 1999, Indieguerillas is a duet of artist/graphic designers from Yogyakarta-
Indonesia. They are the couple Santi Ariestyowanti and Dyatmiko ‘Miko’ Bawono. The
former has the Visual Communication Design background and the latter Interior Design. Both
are alumni of The Faculty of Art of the Indonesian Institute of the Arts (ISI) Yogyakarta. In
addition to their being known for their interest in folklores, Indieguerillas are also recognized
for their proficiency at visual effects and inter-media experimentation in their works.
BAYU WIDODO is a Yogyakarta-based artist who produces line drawings, paintings, woodcut
and stencils that feature strong political references and judgments. He considers print, as a
medium, a direct and relevant way of communicating issues; a flexible and non-static form.
As a member of the Taring Padi Collective, his works centers on ideas of urbanization and
it’s effect on humanity and tends to reflect the effect of ‘lifestyles’ within urban environments.
Under the premise of ‘think global, act local’, he seeks to examine the effect of human’s basic
need of housing.
Born in Ponorogo, East Java, in 1981, HENDRA ‘BLANKON’ PRIYADHANI has an alter ego
known as Baron Capulet Araruna –also his stage name in his band, Sangkakala. The band,
which he founded with four other “bandits” from college, is an audio rock fashion-oriented.
The world of Baron Capulet Araruna is different with Blankon’s. The images of the Baron are
rowdy, wild, tough, Don Juan and all-that of a rock star character. Those images emerge in
the form of fashion –clothings, make up, shoes and all attributes– supporting his on-stage
attitude. The Baron character was the sum of influences which Blankon received since he
was a boy through his idols, such as their shoes, costumes, styles and their vocal characters.
Here, in this project, Hendra “Blankon” Priyadhani and Baron Capulet Araruna work together
to build Capulet Bar, for showing their attractions into visual art format. It is a space of
collaboration for those two names.
                                                                                                     241
Born in Silakarang, Gianyar, Bali, on 1977, to a family of wood carvers, sculptors and
painters, I MADE ASWINO AJI considers drawing and painting as a part of daily life –even
before he started school. Though so, Aji completed his bachelor at Indonesian Arts Institute
(ISI) Yogyakarta. He makes paintings, photography, object and installation pieces using
figures, portraits and architecture to depict themes of ostracization, isolation, and loneliness;
a vocal point of the modern life. The life where individuals see others as competition; and
technological advances might lead to successes and also setback. New opportunities are like
doors leading down to unknown paths. Such cornered-feeling insecurity, combined with a
shine of faith that ‘there is hope’, is the basis of his works.
Born in Lintau, West Sumatra, in 1973, JUMALDI ALFI is a proficient artistic producer in
the matter of technique as well as contemplative discourse. He tries to be analytical by
observing phenomena from a certain distance. His works reflect his wide range of interest,
from Buddhism to Greek mythology to music. He uses his painting as a personal therapy
that accommodates and control various issue troubling his mind. With such a mindset he
began choosing certain themes and approaches to develop in series of paintings, combining
expressionism, raw-art, and sometimes realism too. Alfi makes his paintings autobiographical
notes and at once fields of experiments to keep exploring and testing various possibilities of
painting -more as ideas than just the products of imagining on canvas.
Born in Padang, in 1970, S. TEDDY DARMAWAN graduated from the Fine Arts Department
of Indonesian Arts Institute (ISI) Yogyakarta. He was artist in residence in Aachen, Germany,
and was selected for best five of Phillip Morris Awards 2001 (Indonesia). His works, be they
drawings, paintings and installations, always shows formal as well as technical simplicity, yet
never entrapped in given limited techniques, media and themes. The simple techniques and
forms of his works convey from personal issue through socio-political criticism full of humor.
He’s never afraid of taking risks and making art with many possibilities.
      Born in Malang, in 1979, SAMSUL ARIFIN is the creator of Goni, a character made of rice-
      sack cloth. Goni’s narrative image ‘started appearing’ since his final project in Indonesian
      Arts Institute (ISI) Yogyakarta. Goni is inspired by Samsul’s contemplation upon something
      basic to everyone: education and the essence of self. Through the figure of Goni and his
      ‘adventures’ with the stationery objects, Samsul attempts to make a statement of what the
      young people of his generation, particularly coming from the working class, feels restlessly
      about the lack of qualities and access to education and strife to maximize what they have,
      however simple it might be. Strings of works from the whole series of the Goni and stationary
      metaphors have been made to join several collective exhibitions, both local and international.
      Born in Klaten, in 1976, SRI MARYANTO is a Yogyakarta-based printmaking artist. Though
      he actually majored in painting during his study at Indonesian Arts Institute (ISI) Yogyakarta,
      he shifted his major to printmaking in 2002. He preferred hardboard cut as his main medium
      of work, and considers working with paper as opposed to canvas, which allow him to counter
      official historical narratives by experimenting with a material that is much more personal and
      flexible. He founded ORABER, a lining of artist merchandise that produces t-shirts, bags and
      clocks, with the ambition to promote artworks, making artworks interesting to a more general
      public.
      YULI PRAYITNO. Born in Bandung 1974, the Indonesian Arts Institute (ISI) Yogyakarta’s
      graduate rejects the notion that sculpture, in order to be seen, must be gigantic. Simplicity
      and perfection are the main keywords in viewing Yuli Prayitno’s objects. To him, his works
      are how he communicates to the public in visual language; it’s a way of thinking. His finished
      works always become conversation pieces: they are startlingly simple sculptures. His objects
      are made with various interesting combinations between conventional and contemporary
      forms. Variety, freshness and new surprises seen in Yuli Prayitno’s works ensures us that
      sculpture has stepped in to a new path leading to a new world –a new dimension of sculpture
242

								
To top