Mengagungkan Sunnah

Document Sample
Mengagungkan Sunnah Powered By Docstoc
					                      Mengagungkan Sunnah
Oleh Abdul Qoyyum bin Muhammad bin Nashir As-Suhaibani

Allah Ta’alah berfirman:

Dan tidaklah pantas bagi seorang mukmin dan mukminah untuk memiliki pilihan
apabilah Allah dan Rosul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan.. [Al-Ahzab:36]

Barang siapa mentaati Rasul, maka sungguh ia telah mentaati Allah…*An-
Nisa:80]

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik
bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap Allah dan hari kiamat, dan dia
banyak menyebut Allah. [Al-Ahzab:21]

Dan jika taat kepadanya (Rasulullah), niscaya kamu mendapat petunjuk, dan
tidak lain kewajiban Rasul itu kecuali menyampaikan (amanat Allah) dengan
terang. [An-Nur : 54]

Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintahnya (Rasulullah), takut
akan di timpa fitnah (cobaan) atau di timpa adzab yang pedih. [An-Nur:63]

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu lebih dari
suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras,
sebagaimana kerasnya (suara) sebagian kamu terhadap sebagian yang lain,
supaya tidak gugur pahala amalanmu sedangkan kamu tidak menyadari. [Al-
Hujurat:2]

Ibnul Qoyyim berkata dalam mengomentari ayat ini : “Maka Allah
memperingatkan kaum mukminin dari gugurnya amalan-amalan mereka,
disebabkan mengeraskan suara kepada Rasulallah Shallallahu 'alaihi wa sallam
sebagaimana sebagian mereka mengeraskan suara atas sebagian lainnya. Hal ini
bukanlah menunjukan kemurtadan, akan tetapi (hanya) merupakan kemaksitan
yang dapat menggugurkan amal, sedangkan pelakunya tidak merasakannya.[1]

Maka bagaimana terhadap orang yang mendahulukan perkataan, petunjuk dan
jalan selain Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam di atas perkataan, petunjuk
dan jalan beliau?! Bukankah hal ini telah menggugurkan amalannya sedang ia
tidak merasakannya ?!!.[2]

Dari ‘Irbadh bin Sariyah Radhiyallahu 'anhu ia berkata :

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah memberi nasehat kepada kami
dengan suatu nasehat yang menggetarkan hati-hati dan mencucurkan air mata.
Maka kami berkata : “Wahai Rasulullah, seakan-akan ini adalah nasehat orang
yang akan berpisah, oleh karena itu berilah wasiat kepada kami”. Beliau berkata:
“Aku nasehatkan kepada kalian untuk bertaqwa kepada Allah Azza wa Jalla serta
taat walaupun yang memerintah kalian adalah seorang budak. Sesungguhnya
barang siapa yang hidup di antara kalian, maka dia akan melihat perselisihan
yang banyak. Oleh karena itu wajib atas kalian untuk berpegang dengan
sunnahku dan sunnah Khulafaur-Rasyidin yang mendapat petunjuk setelahku,
gigitlah oleh kalian dengan gigi geraham. Dan berhati-hatilah kalian dari perkara-
perkara yang baru, karena sesungguhnya setiap kebid'ahan adalah sesat. [3]

Abu Bakar As-Shidiq Radhiyallahu 'anhu berkata: “Tidaklah aku meniggalkan
sedikitpun perbuatan yang dilakukan oleh Rasulullah, melainkan aku amalkan.
Dan sesungguhnya aku takut jika aku meninggalkan sedikit saja dari
perintahnya, aku akan tersesat.”

Ibnu Bathoh mengomentari hal ini dengan perkataanya: “Wahai saudaraku,
inilah As-Shidiq Akbar, beliau merasa takut terhadap dirinya dari penyimpangan
jika beliau menyelisihi sedikit saja dari perintah beliau Shallallahu 'alaihi wa
sallam, maka bagaimana pula terhadap suatu zaman yang masyarakatnya telah
menjadi orang-orang yang merperolok-olok nabi dan perintahnya, bangga
dengan sesuatu yang menyelisihinya serta bangga dengan melecehkan
sunnahnya. Kita memohon kepada Allah agar terjaga dari ketergelinciran dan
(memohon) keselamatan dari amalan-amalan yang jelek” *4+

Umar Bin Abdul Aziz berkata : “Tidak ada pendapat siapapun di atas sunnah
yang dijalani oleh Rasulullah” *5+

Dari Abi Qilabah ia berkata : “Jika kamu mengajak berbicara seseorang dengan
sunnah, kemudian orang tersebut berkata : “Tinggalkan ini dan berikan
kepadaku kitab Allah (saja)! “ maka ketahuilah bahwa ia adalah orang yang
sesat.” *6+

Adz-Dzahabi mengomentari hal ini dengan ucapannya: ”Apabila kamu melihat
seorang ahlu kalam dan bid’ah berkata: “Jauhkanlah kami dari al-Kitab dan
hadist-hadist ahad, dan berikanlah kepada kami akal saja, maka ketahuilah
bahwa dia adalah Abu Jahal. Dan apabila kamu melihat penganut aliran tauhidy
(sufi) berkata : “Tinggalkan kami dari nash-nash dan akal, dan berikanlah
kepadaku perasaan dan naluri saja, maka ketahilah sesungguhnya Iblis telah
menampakan dirinya dalam bentuk manusia atau telah menyatu padanya, jika
engkau takut kepadanya, larilah! Kalau tidak, bantinglah dia dan dudukilah
dadanya kemudian bacakan padanya ayat kursi dan cekiklah dia.” *7+

As-Syafi’i berkata : “Abu Hanifah Bin Samak Bin Fadl As-Syihaby telah
mengkhabarkan kepadaku, dia berkata : Ibnu Abi Dzi’bi telah berkata kepadaku,
dari Al-Muqri, dari Abi Syuraih Al-Ka’by, bahwasannya Nabi Shallallahu 'alaihi wa
sallam bersabda pada hari fathu (Makkah): “Barang siapa yang keluarganya di
bunuh, maka ada dua pilihan baginya, jika dia mau dia boleh mengambil diat,
dan jika dia mau maka baginya qishas”.
Abu Hanifah berkata: “Aku berkata kepada Abi Dzi’bi apakah kamu akan
mengambil (hadits) ini wahai Abu Haris?” Maka dia memukul dadaku dan
berteriak keras serta mencelaku, lalu berkata: “Aku menceritakan kedamu dari
Rasululah Shallallahu 'alaihi wa sallam, lalu kamu berkata: “Apakah kamu akan
mengambilnya?!!. Ya, aku akan mengambilnya dan yang demikian itu adalah
wajib bagiku dan orang bagi yang mendengarnya.

Sesungguhnya Allah telah memilih Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam dari
kalangan manusia, dan Allah memberi petunjuk kepada mereka melalui beliau
dan lewat usaha beliau, dan Allah memilih bagi mereka apa yang Allah pilih bagi
rosulNya, melalui lisan beliau. maka wajib bagi ummatnya untuk mengikutinya
dalam keadaan taat dan tunduk, seorang muslim tidak dapat keluar dari hal itu.

Dia (Abu Hanifah ) juga mengatakan :“Dan dia terus marah tidak berhenti
sampai aku berangan-angan andaikata ia mau berhenti.” *8+

Asy-Syafi’i rahimahullah berkata : "Kaum muslimin telah sepakat, bahwa barang
siapa yang telah jelas baginya sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam
maka tidak halal baginya untuk meninggalkannya karena perkataan seseorang”
[9]

Al-Humaidi berkata : “Suatu hari Imam Syafi’i meriwayatkan suatu hadits, maka
aku berkata: apakah kamu akan mengambil hadis itu? maka beliau menjawab:
“Apakah kamu melihat aku keluar dari gereja atau (kamu melihat) zannar (ikat
pinggang orang nashara) padaku, sehingga apabila aku mendengar suatu hadits
dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam aku tidak berkata dengannya (yakni tidak
menerimanya).“ *10+

Imam Syafi’i pernah ditanya tentang suatu permasalahan, maka beliau
menjawab: “Tentang hal tersebut telah di riwayatkan demikian dan demikian
dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam,” Lalu si penanya berkata: “Wahai Abu
Abdillah, apakah kamu berpendapat dengannya (hadis itu)”, maka imam Syafi’i
gemetar dan nampak urat lehernya dan berkata: “Wahai kamu, bumi manakah
yang akan kupijak, dan langit manakah yang akan menaungi aku, apabila aku
meriwayatkan suatu hadits dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam kemudian aku
tidak berkata dengannya ?! Ya, wajib bagiku menerimanya dengan mutlak.”*11+

Ahmad bin Hambal berkata : “Barang siapa menolak suatu hadis dari Nabi
Shallallahu 'alaihi wa sallam maka ia berada di pinggir jurang kehancuran” *12+

Al-Barbahary berkata : “Apabila kamu mendengar seseorang mencerca atsar
atau menolaknya atau menginginkan selainnya, maka ragukanlah keislamannya,
dan janganlah kamu ragu bahwa ia adalah seorang pengekor hawa nafsu, dan
mubtadi’ (ahli bid’ah)”*13+

Abu Al-Qosim Al-Asbahany berkata : Ahlu-Sunnah dari kalangan Salaf
mengatakan: ”Apabila seseorang telah mencerca atsar, maka sudah pantas
baginya untuk diragukan keislamannya” *14+

PASAL DISEGERAKANNYA ADZAB BAGI ORANG YANG TIDAK MEMULIAKAN
SUNNAH

Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu 'anhuma dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam ia
bersabda :

Janganlah kalian mendatangi para wanita (istri-istri) pada malam hari (misalnya
ketika pulang dari safar-Red).

Ibnu Abbas berkata: “Pada suatu saat Rasulullah pulang dari bepergian,
kemudian ada dua orang berjalan sembunyi-sembunyi pulang kepada istrinya
masing-masing, maka kedua orang tersebut mendapatkan seorang pria sedang
bersama istrinya" [15]
Dari Salamah bin Al-Akwa’ Radhiyallahu 'anhu:

Bahwasanya ada seseorang pernah makan di sisi Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
sallam dengan tangan kirinya, maka beliau bersabda: “Makanlah dengan tangan
kananmu!” Orang itu berkata: “Saya tidak bisa” maka Nabi Shallallahu 'alaihi wa
sallam berkata : “Kamu tidak akan bisa. Tidaklah ada yang menghalangi orang itu
melainkan kesombongan. Berkata Salamah: ”Orang tersebut akhirnya tidak bisa
mengangkat tangan (kanan) ke mulutnya.” *16+

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam ia
bersabda :

Tatkala seseorang berjalan dengan sombong dengan mengenakan dua
burdahnya (jenis pakaian), maka Allah menenggelamkannya ke dalam bumi, dia
dalam keadaan berbolak balik di dalamnya sampai hari kiamat”. Maka
berkatalah seorang pemuda kepada Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu –seorang
perawi telah menyebutkan namanya– sedangkan pemuda tersebut mengenakan
pakaiannya: “Wahai Abu Hurairah apakah seperti ini jalannya orang yang
ditenggelamkan ke bumi itu”?. Kamudian ia melenggang dengan tangannya, lalu
ia tergelincir, yang hampir-hampir mematahkan tulangnya. Kemudian Abu
Hurairah berkata: “Untuk hidung dan mulut (kata cercaan)”. “Sesungguhnya
kami memelihara kamu dari (kejahatan) orang-orang yang mengolok-olok [Al-
Hijr: 95+” *17+

Dari Abdurahman bin Harmala dia berkata :

Seorang lelaki datang kepada Sa’id bin Al-Musayyib untuk pamitan berhaji atau
umroh. lalu Sa’id bin Al-Musayyib berkata kepada orang tersebut: “Janganlah
engkau berangkat sebelum engkau melakukan sholat, karena sesungguhnya
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah bersabda: “Tidaklah keluar dari
masjid setelah adzan melainkan seorang munafik, kecuali seorang harus keluar
karena keperluannya, sedangkan dia bertujuan kembali lagi ke masjid”. Lelaki
itupun berkata: “Sesungguhnya teman-temanku telah berada di Al-Harroh.
Abduruhman berkata: “Maka orang itu akhirnya keluar, belum selesai Sa’id
menyayangkan kepergian orang tersebut dengan menyebut-nyebutnya, tiba-
tiba dikabarkan bahwa orang tersebut telah terjatuh dari kendaraannya
sehingga patah pahanya.” *18+

Dari Abu Yahya As-Saji ia berkata: “Kami berjalan di gang-gang Bashroh menuju
ke rumah salah seorang ahlu hadits, maka aku mempercepat jalanku. Dan ada
seorang di antara kami yang jelek di dalam agamanya, ia berkata: ”Angkatlah
kaki kalian dari sayapnya para malaikat, janganlah kalian mematahkannya (dia
berkata sebagai ejekan), akhirnya orang tersebut tidak bisa melangkah dari
tempatnya sehingga kering kedua kakinya dan kemudian jatuh.” *19+

Abu Abdillah Muhammad bin Ismalil At-Taimy berkata : Aku pernah membaca
dalam sebagian kisah, bahwa pernah ada seorang ahlul bid’ah tatkala
mendengar sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam :

Apabilah salah seorang di antara kamu bangun dari tidurnya, maka janganlah ia
mencelupkan tangannya ke dalam bejana sehingga ia mencucinya terlebih
dahulu, karena dia tidak mengetahui di mana tangannya bermalam.

Maka ahlu bid’ah tersebut berkata dengan nada mengejek: “Aku mengetahui di
mana tanganku bermalam di atas tempat tidur !! maka ketika ia bangun,
tangannya telah masuk ke dalam duburnya sampai pergelangan tanganya”.

At-Taimy berkata: ”Hendaklah seseorang merasa takut menganggap ringan
terhadap sunnah serta keadaan-keadaan yang (seharusnya ia) tawaqquf/diam .
Maka lihatlah akibat yang telah sampai pada orang tersebut akibat akibat
kejekan perbuatannya”. *20+
Al-Qodhi Abu Thoyyib berkata : “Kami pernah berada di majlis perdebatan di
masjid jami’ Al-Mansyur, maka tiba-tiba datang seorang pemuda Khurosan,
kemudian bertanya tentang “Al-Mushorroh”, dan dia meminta dalilnya, sampai
akhirnya diberikan dalil dengan hadits Abu Hurairah yang meriwayatkan tentang
hal tersebut. Kemudian orang tersebut mengatakan –sedangkan dia adalah
orang hanif-: “Hadits Abu Hurairah tidak dapat diterima….tetapi belum selesai
orang itu dari perkataannya, tiba-tiba seekor ular yang sangat besar jatuh dari
atap masjid, orang-orangpun lari karenanya, dan pemuda itupun juga lari
darinya, sedangkan ular tersebut terus mengejarnya. Maka orang-orang
mengatakan kepadanya: ”Bertaubatlah, bertaubatlah”, maka pemuda itupun
berkata: ”Aku bertaubat “, maka akhirnya ular itupun lenyap dan tidak terlihat
bekas-bekasnya.[21]

Adz-Dzahabi berkata : “Sanad riwayat ini adalah para imam.”



SIKAP SALAFUS SHOLEH TERHADAP ORANG YANG MENENTANG SUNNAH

Dari Qotadah ia berkata: “Kami pernah bersama Imron bin Husain dalam suatu
rombongan, sedang di dalam rombongan kami terdapat Basyir bin Ka’ab. Pada
hari itu Imron menceritakan kepada kami, dia berkata : Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam bersabda : ”Malu itu baik semuanya “ atau beliau bersabda:
“Malu itu semuanya adalah baik”

Kemudian Basyir bin Ka’ab berkata: ”Sesungguhnya kami mendapati di sebagian
kitab-kitab atau hikmah, bahwa dari malu itu ada yang merupakan ketentraman
dan penghormatan kepada Allah, tetapi pada malu itu ada kelemahan”. Maka
Imron pun marah sampai merah kedua matanya dan berkata: “Tidakkah engkau
melihat aku mengatakan kepadamu dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam
sedangkan engkau menentangnya”.*22+
Dari Abdullah bin Mughofal Radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam melarang khadzaf (melempar dengan batu kerikil;
semacam ketapel) dan beliau bersabda: ”Karena khadzaf itu tidak akan
mendapatkan buruan dan tidak dapat mengalahkan musuh, tetapi hanya akan
membutakan mata dan memecahkan gigi”. Maka seseorang berkata kepada
Abdullah bin Mughofal: “Aku berpendapat, hal itu tidak apa-apa”. Maka
Abdullah bin Mughofal berkata: “Sesungguhnya aku telah mengatakan
kepadamu dari Rasulullah, sedangkan engkau mengatakan seperti ini, maka
demi Allah aku tidak akan berbicara kepadamu selamanya.”*23+

Dari Abi Al-Mukhariq dia berkata: Ubadah bin Ash-Shamit menyebutkan bahwa
Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam melarang menukar dua dirham dengan satu
dirham. Lalu ada seseorang berkata: ”Aku berpendapat yang demikian tidak
apa-apa asalkan kontan”. Maka ‘Ubadah berkata: “Aku berkata “Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam telah bersabda, sedangkan engkau mengatakan
“aku berpendapat yang demikian itu tidak apa-apa!! Maka demi Allah, tidak
akan menaungi aku dan kau satu atap-pun selamanya (yakni: aku tidak akan
tinggal serumah denganmu).[24]

Dari Salim bin Abdullah bahwa Abdullah bin Umar berkata : Saya pernah
mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam berabda : “Janganlah kalian
melarang wanita-wanita kalian ke masjid jika mereka meminta izin kepada
kalian untuk ke sana ”
.
Salim berkata: Bilal bin Abdullah berkata: “Demi Allah kami akan melarang
mereka (para wanita)”. Salim berkata: Maka Abdullah menghadap kepadanya
(Bilal bin Abdullah), kemudian mencercanya dengan suatu cercaan yang jelek,
yang aku belum pernah mendengar cercaan seperti itu sama sekali. Kemudian
(Abdullah) berkata: “Aku mengatakan kepadamu dari Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam, sedangkan engkau mengatakan “Demi Allah kami akan
melarang mereka (para wanita)” *25+
Dari Atho’ bin Yasar: “Bahwa ada seseorang pernah menjual kepingan emas atau
perak lebih banyak dari ukuran beratnya. Lalu Abu Darda’ berkata kepadanya :
“Aku mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam melarang dari hal ini,
kecuali dengan yang senilai. Tetapi orang itu berkata: ”Aku berpendapat bahwa
seperti ini tidak apa-apa“. Maka Abu Darda berkata: “Siapakah yang bisa
memberikan alasan kepadaku dari si fulan ini, aku mengatakan dari Rasulullah,
sedangkan dia mengatakan kepadaku dari akalnya. Maka aku tidak akan tinggal
di negri ini yang engkau berada padanya”.

Dari Al-A’raj, ia berkata : “Aku pernah mendengar Abu Said Al-Khudry berkata
kepada seseorang: “Tidakkah engkau mendengar aku, aku mengatakan dari
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, bahwa beliau bersabda : ”Janganlah
kalian menjual/menukar dinar dengan dinar, dirham dengan dirham, kecuali
dengan yang senilai, dan janganlah kalian menjual/menukar darinya secara
kontan dengan hutang”, kemudian kamu berfatwa dengan apa yang engkau
fatwakan. Maka demi Allah, tidaklah menaungi aku dan kamu selama aku hidup
kecuali masjid” *26+

Dari Qotadah ia berkata : “Ibnu Sirin pernah mengatakan kepada seseorang
tentang sebuah hadits dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, kemudian orang
tersebut berkata : ”Si fulan telah berkata demikian dan demikian”, maka Ibnu
Sirin berkata: “Aku mengatakan kepadamu dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa
sallam, sedangkan engkau mengatakan si fulan dan si fulan telah berkata
demikian dan demikian ?!!”, maka aku tidak akan berbicara kepadamu selama-
lamanya[27]
”
Abu As-Saib berkata: “Kami pernah bersama Waqi’, maka dia berkata kepada
seseorang yang berada di sisinya yang berpandangan dengan akalnya :
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah melakukan Al-Isy’ar” *28+
Abu Hanifah berkata : Itu adalah suatu penyiksaan. Orang tersebut berkatalah
bahwasannya telah di riwayatkan dari Ibrohim An-Nakha’i bahwa ia berkata: Al-
Isr’ar adalah penyiksaan. Abu Saib berkata: “Maka aku melihat Waqi’ sangat
marah dan berkata: “Aku telah berkata kepadamu, bahwa Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam telah bersabda, sedangkan engkau berkata: Ibrahim telah
berkata. Maka sangatlah pantas kamu dipenjara dan tidak dilepaskan sehingga
kamu menarik kembali perkataanmu ini.” *29+

Dari Khirzadz Al-’Abid ia berkata: “Abu Mu’awiyah Adh-Dharir meriwayatkan
hadits “Adam berdebat dengan Musa“ di dekat Harun Al-Rasyid. Lalu seorang
bangsawan dari Quraisy berkata: “Di mana Adam bertemu dengan Musa”?,
maka Harunpun marah dan berkata : “(Untuk) perkataan (yang mengada-ada)
adalah pedang, seorang zindiq mencerca hadits“. Maka Abu Mu’awiyahpun
terus berusaha menenangkan Harun, dan berkata: “Sabar wahai Amirul
Mukminin, karena dia itu belum faham sampai akhirnya Amirul mukminin
menjadi tenang.” *30+

PENUTUP

Inilah nash-nash Al-Kitab dan As-Sunnah tentang mengagungkan Sunnah, serta
beginilah sikap Salafush shalih (sahabat dan tabi’in ) terhadap orang-orang yang
menentang sunnah. Kita lihat sikap mereka yang menunjukkan kekuatan,
keteguhan dan ketegasan terhadap orang yang menampakkan sesuatu yang di
dalamnya terdapat penentangan terhadap sunnah.
(Diterjemahkan oleh Akhmad Hamidin dari kitab beliau “Ta’zhimus Sunnah Wa
Mauqifus Salaf Miman ’Aradhaha au Istahza-a bi Syai-in Minha)

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 10/Tahun V/1422H/2001M]
_______


Footnote
[1]. Ibnul Qoyyim berkata: “Jika ditanyakan bagaimana amalan bisa gugur tanpa
kemurtadan? jawabnya “ya”, sesungguhnya Al-Qur’an dan As-Sunnah dan apa
yang dinukil dari para sahabat telah menunjukkan bahwa kejelekan dapat
menghapus kebaikan, sebagaimana juga kebaikan dapat menghapus
kejelekan..Allah berfirman: “Hai orang-orang beriman, janganlah kamu
memghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan
menyakiti (si penerima). [Al-Baqarah:264]
Allah Ta'ala berfiman : “….Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu
meninggikan suaramu lebih dari suara nabi, dan janganlah kamu berkata
kepadanya dengan suara keras, sebagaimana kerasnya (suara) sebagian kamu
terhadap sebagian yang lain, supaya tidak gugur pahala amalanmu sedangkan
kamu tidak menyadari. [Al-Hujurat:2]
[2]. Al Wabilus Shoyyib hal. 24 Cetakan Dar Ibnul Jauzy.
[3]. Dikeluarkan oleh Abu Dawud no 4607 dan Tirmidzy no. 2676 dan Ibnu Majah
no.44.
[4]. Al-Ibanah (I/246)
*5+. I’lamul Muwaqi’in (II/282)
*6+. Thobaqot Ibnu Sa’ad
*7+. Siyar A’lam Nubala’ (4/472)
[8]. Ar-Risalah li Syafi’iy hal. 450 no. 1234
*9+. I’lamul Muwaqi’in (2/282)
*10+. Hilyatul Auliya’ (9/106) , Siyar A’lam Nubala’ (10/34)
[11]. Sifatus Sofwa (2/256)
[12]. Tobaqat Al-Hanabilah (2/15),Al-Ibanah (1/260)
[13]. Syarhus Sunnah hal. 51
[14]. Al-Hujjah fi Bayanil Mahajjah (2/428)
[15]. Sunan Addarimi no.444
[16]. Muslim no.2021
[17]. Sunan ad-Darimi no. 437
[18]. Sunnah ad-Darimi no. 446
*19+. Bustanul A’rifin lin Nawawi hal.94
*20+. Bustanul A’rifin lin Nawawi hal 94
*21+. Siyar A’lamun Nubala (2/618)
[22]. Dikeluarkan oleh Imam Bukhari no. 6117 dan Imam Muslim no. 61, dan
lafazh ini darinya.
[23]. Dikeluarkan Imam Bukhari no. 5479 dan Muslim no. 1954. Dan lafazh ini
bagi Ibnu Baththah dalam Al Ibanah no. 96
[24]. Dikeluarkan oleh Ibnu Majah hadits 81. Dan Ad Darimi hadits 443, dan
lafazh ini bagi Ad Darimi. Hadits ini telah dishahihkan oleh Al Albani.
[25]. Dikeluarkan oleh Muslim haditas no. 442 nomor khusus 135.
[26]. Lihat Al-Ibanah li ibni Batthoh hadis no.94.
[27]. Sunan ad-Darimi no.441
[28]. Al-isy’ar : Yaitu merobek salah satuh sisi pundak hewan (unta), sehingga
mengeluarkan darahnya, dan bisa di ketahui dengan tanda tersebut bahwa itu
adalah hewan kurban . an Nihayah (2/479)
*29+. Jami’ Tirmidzi (3/250)
[30]. Tarikh Baghdad ( 41/7 ), Siyar ‘Alamin Nubala’ ( 9/288 ).

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:164
posted:5/3/2011
language:Malay
pages:13
Abu Fathan As Salafy Abu Fathan As Salafy Ahlus Sunnah Wal Jamaah www.markazabufathan.co.nr
About kunjungi Markaz Abu Fathan di : www.desasalaf.blogspot.com, www.kampungsalaf.wordpress.com, www.markazsunnah.blogspot.com