Aqiqah (DOC download)

Document Sample
scope of work template
							                                            TUGAS AIK 7


Aqiqah
Dalam terminologi Islam, Aqiqah didefinisikan sebagai hewan yang disembelih pada perayaan
kelahiran anak. Aqiqah sangat dianjurkan. Hal itu harus dilakukan oleh orang tua atau wali anak. Nabi
Muhammad (saw) dan rekan-rekannya terbiasa melakukan Aqiqah ketika mereka dikaruniai bayi yang
baru lahir. Waktu terbaik untuk melakukan Aqiqah adalah pada hari ketujuh setelah kelahiran bayi.
Apakah tujuan Aqiqah? Ada banyak manfaat dalam melaksanakan Aqiqah. Salah satunya adalah
mengumumkan kelahiran bayi. Anak tersebut akan mendapat suatu berkat yang besar dari Sang
Pencipta. Tujuan lain adalah mengundang anggota keluarga, tetangga, dan teman-teman untuk
merayakan hari lahir yang diberkati. Masyarakat miskin harus dimasukkan dalam perayaan dengan
menawarkan mereka makanan dan daging yang disajikan pada kesempatan ini.
Jenis-jenis hewan apakah yang digunakan dalam Aqiqah? berikut ini sebuah hadits Nabi Muhammad
(saw) di mana ia disarankan Aqiqah seekor kambing / domba. Dikisahkan Ummu Kurz: Rasulullah
(saw) berkata: Dua domba yang mirip satu sama lain harus dikorbankan untuk anak laki-laki dan satu
untuk seorang gadis. (Sunan Abu Dawud Buku 15, Nomor 2830). Akan tetapi, apabila hanya mampu
menyembelih satu ekor kambing untuk anak laki-laki tidak menjadi masalah yang terpenting adalah
ikhlas untuk mendapatkan ridho dari Allah SWT. Hewan yang dijadikan akikah adalah sama dengan
hewan untuk kurban dalam hal persyaratannya.
Bagaimana kondisi/ syarat-syarat hewan untuk Aqiqah? Kondisi hewan yang digunakan untuk Aqiqah
sama halnya dengan kondisi hewan yang digunakan pada hari raya Qurban. Hewan-hewan yang akan
disembelih sepeerti kambing, sapi atau unta. Untuk unta, maka harus lebih tua dari 6 tahun, untuk sapi
umur harus lebih tua dari 3 tahun dan untuk kambing, itu harus lebih tua dari 2 tahun. Hewan-hewan
tersebut harus bebas dari segala bentuk cacat seperti buta, sakit, lemas dan kekurangan gizi. Hewan-
hewan harus disembelih sesuai dengan tata cara yang disunahkan Nabi Muhammad Saw. Syarat-syarat
sah pemilihan hewan kurban yang boleh menjadi qurban :
    - Badannya tidak kurus kering
    - Tidak sedang hamil atau habis melahirkan anak
    - Kaki sehat tidak pincang
    - Mata sehat tidak buta / pice / cacat lainnya
    - Berbadan sehat walafiat
    - Kuping / daun telinga tidak terpotong

Khitan
Khitan (Arab: ‫ )ىاتخ‬atau Khatna (bahasa Arab: ‫ )ةىتخ‬adalah istilah untuk khitan laki-laki dilakukan
sebagai ritual Islam. Hal ini juga disebut dengan istilah Taharah, 'kemurnian'. Khitan tidak disebutkan
dalam Al Qur'an, tetapi berfungsi untuk memperkenalkan laki-laki ke dalam iman Islam, dan bekerja
sebagai simbol milik masyarakat Islam yang lebih luas. Khitan Islam analog dengan khitan Yahudi,
meskipun ada beberapa kunci perbedaan. Saat ini, Muslim adalah kelompok agama tunggal terbesar
yang mempraktikkan khitan secara luas. Namun, itu bukan syarat untuk masuk Islam atau
melaksanakan tugas agama.
Khitan juga bisa diartikan memotong, yaitu memotong kulub (kulit yang berlebih yang ada pada
dzakar bagian depan. Adapun istihdad, adalah menggunakan alat potong untuk menghilangkan rambut
yang ada di atas dan sekitar kemaluan laki-laki. Demikian juga rambut yang ada di sekitar kemaluan
perempuan.
Sumber Agama
Qur'an sendiri tidak menyebutkan khitan. Di masa Muhammad, khitan banyak dilakukan oleh suku
Arab. Nabi Muhammad sendiri telah dikhitan setelah lahir, demikian juga anak-anaknya. Banyak dari
murid-murid mulai dikhitan untuk menyimbolkan inklusi mereka dalam kesatuan umat Islam. Fakta-
fakta ini disebutkan beberapa kali dalam hadits yang dikelompokkan beserta tindakan lainnya
termasuk: kliping atau mencukur rambut kemaluan, memotong kuku, membersihkan gigi, mencabut
atau mencukur rambut di bawah ketiak dan kliping (atau trimming) kumis. (Diriwayatkan dalam
hadits-hadits Sahih dari al-Bukhari dan Muslim).
Dari Abu Hurairah -Semoga Allah meridhainya- Rasulullah bersabda:‫أو خو سة هي ال فطرة: - سمخ ةرطفلا‬
     ،‫اإلب ط‬      ‫وت نف‬      ،‫واال س تحذاد‬   ،‫((ال خ تاى‬    ‫ال شارب‬    ‫وق ض‬       ،‫األظ فار‬     ‫وت ق ل ين‬
((‫يرابخل‬                             ‫يف‬                          ‫،حيحص‬                              5889
Artinya: Fithrah manusia itu ada lima, yaitu khitan, mencukur bulu kemaluan, mencabut bulu ketiak,
memotong kuku, dan mencukur kumis (HR. Bukhari, 5889).
Jadi, meskipun tidak dari Al Qur'an, hal itu telah menjadi norma agama dari awal Islam. Antara Ulama
(sarjana hukum Islam), ada perbedaan pendapat tentang hukum khitan di Syariah (hukum Islam).
Imam Abu Hanifah, pendiri mazhab Hanafi Fiqh (hukum Islam), dan Anas bin Malik mempertahankan
bahwa khitan merupakan Sunnah Mu'akkadah-tidak wajib tetapi sangat dianjurkan. Imam Shafi `i dan
Hanbali seolah melihatnya sebagai pengikat semua Muslim Ada. Khitan adalah sebuah gerakan kecil
dalam Islam, yang menolak khitan laki-laki membuat suatu persyaratan agama karena kenyataan itu
tidak disebutkan dalam Al Qur'an. Para pendukung ini bersumber pada ayat-ayat Al-Quran yang
menunjukkan kesempurnaan ciptaan (QS. 32:7, 82:7-8, 95:4), serta persepsi umum bahwa khitan
diperlukan untuk alasan kebersihan.
Waktu untuk khitan
Sumber-sumber Islam tidak menunjuk waktu tertentu untuk khitan. Itu tergantung pada keluarga,
wilayah dan negara. Namun, mayoritas Ulama mengambil pandangan bahwa orang tua harus
mendaftarkan anak mereka untuk dikhitan sebelum usia sepuluh tahun. Usia yang dipandang baik
dalam pelaksanaan khitan, biasanya tujuh tahun. Meskipun beberapa Muslim dikhitan pada awal-awal
hari ketujuh setelah lahir dan hingga akhir dimulainya pubertas. Menurut beberapa hadits (Abdullah
bin Jabir dan Aisyah), Nabi Muhammad mengkhitan cucunya pada hari ketujuh setelah kelahirannya.
Pendapat ini populer di kalangan ahli hukum Islam dan hadis.
Tata cara khitan
Islam tidak menentukan tata cara khitan secara tetap. Hal ini justru cenderung berubah diakibatkan
oleh lintas budaya, keluarga, dan waktu. Di beberapa negara Islam, khitan dilakukan setelah anak laki-
laki Muslim harus belajar untuk membaca seluruh Al Qur'an dari awal sampai akhir. Di Malaysia dan
daerah lain, anak itu biasanya dikhitan antara usia sepuluh dan dua belas tahun, dan dengan demikian
bersamaan dengan bermulanya siklus pubertas. Hal ini menandai/ memperkenalkan anak itu ke status
baru, orang dewasa. Tata cara khitan kadang-kadang semi-publik, disertai dengan musik khusus,
makanan, banyak dan pesta.


Masalah Hadats Kecil dan Hadats Besar
Perbedaan Hadats dan Najis
Hadats adalah sebuah hukum yang ditujukan pada tubuh seseorang dimana karena hukum tersebut dia
tidak boleh mengerjakan shalat. Hadats terbagi menjadi dua: Hadats akbar (Hadats Besar), yaitu hadats
yang hanya bisa diangkat dengan mandi junub, dan hadats ashghar (Hadats Kecil atau Pembatal
Wudhu) yaitu yang cukup diangkat dengan berwudhu. Sedangkan najis adalah semua perkara yang
kotor dari kacamata syariat, karenanya tidak semua hal yang kotor di mata manusia langsung
dikatakan najis, karena najis hanyalah yang dianggap kotor oleh syariat. Misalnya tanah atau lumpur
itu kotor di mata manusia, akan tetapi dia bukan najis karena tidak dianggap kotor oleh syariat, bahkan
tanah merupakan salah satu alat bersuci.
Najis terbagi menjadi tiga:
    1. Najis maknawiah, misalnya kekafiran. Karenanya Allah berfirman, “Orang-orang musyrik itu
        adalah najis,” yakni bukan tubuhnya yang najis akan tetapi kekafirannya.
    2. Najis ainiah, yaitu semua benda yang asalnya adalah najis. Misalnya: Kotoran dan kencing
        manusia dan seterusnya.
    3. Najis hukmiah, yaitu benda yang asalnya suci tapi menjadi najis karena dia terkena najis.
        Misalnya: Sandal yang terkena kotoran manusia, baju yang terkena haid atau kencing bayi, dan
        seterusnya.
Dari perbedaan di atas, bisa kita lihat bahwa hadats adalah sebuah hukum atau keadaan, sementara
najis adalah benda atau zat. Misalnya: Buang air besar adalah hadats dan kotoran yang keluar adalah
najis, buang air kecil adalah hadats dan kencingnya adalah najis, keluar darah haid adalah hadats dan
darah haidnya adalah najis.
Kemudian yang penting untuk diketahui adalah bahwa tidak ada korelasi antara hadats dan najis,
dalam artian tidak semua hadats adalah najis demikian pula sebaliknya tidak semua najis adalah
hadats.
Contoh hadats yang bukan najis adalah mani dan kentut. Keluarnya mani adalah hadats yang
mengharuskan seseorang mandi akan tetapi dia sendiri bukan najis karena Nabi -alaihishshalatu
wassalam- pernah shalat dengan memakai pakaian yang terkena mani, sebagaimana disebutkan dalam
hadits Aisyah. Demikian pula buang angin adalan hadats yang mengharuskan wudhu akan tetapi
anginnya bukanlah najis, karena jika najis maka tentunya seseorang harus mengganti pakaiannya
setiap kali dia buang angin.
Contoh yang najis tapi bukan hadats adalah bangkai. Dia najis tapi tidak membatalkan wudhu ketika
menyentuhnya dan tidak pula membatalkan wudhu ketika memakannya, walaupun tentunya
memakannya adalah haram. Jadi, yang membatalkan thaharah hanyalah hadats, bukan najis.
Karenanya jika seseorang sudah berwudhu lalu dia buang air maka wudhunya batal, akan tetapi jika
setelah dia berwudhu lalu menginjak kencing maka tidak membatalkan wudhunya, dia hanya harus
mencucinya lalu pergi shalat tanpa perlu mengulangi wudhu, dan demikian seterusnya.
Kemudian di antara perbedaan antara hadats dan najis adalah bahwa hadats membatalkan shalat
sementara najis tidak membatalkannya. Hal itu karena bersih dari hadats adalah syarat syah shalat
sementara bersih dari najis adalah syarat wajib shalat. Dengan dalil hadits Abu Said Al-Khudri dimana
tatkala Nabi -alaihishshalatu wassalam- sedang mengimami shalat, Jibril memberitahu beliau bahwa di
bawah sandal beliau adalah najis. Maka beliau segera melepaskan kedua sandalnya -sementara beliau
sedang shalat- lalu meneruskan shalatnya. Seandainya najis membatalkan shalat tentunya beliau harus
mengulangi dari awal shalat karena rakaat sebelumnya batal. Tapi tatkala beliau melanjutkan
shalatnya, itu menunjukkan rakaat sebelumnya tidak batal karena najis yang ada di sandal beliau. Jadi
orang yang shalat dengan membawa najis maka shalatnya tidak batal, akan tetapi dia berdosa kalau dia
sengaja, dan tidak berdosa kalau tidak tahu atau tidak sengaja.

Kesimpulan:
Dari uraian di atas kita bisa memetik beberapa perbedaan antara hadats dan najis di kalangan fuqaha`,
yaitu:
    1. Hadats adalah hukum atau keadaan, sementara najis adalah zat atau benda.
    2. Hadats membatalkan wudhu sementara najis tidak.
    3. Hadats membatalkan shalat sementara najis tidak.
    4. Hadats diangkat dengan bersuci (wudhu, mandi, tayammum), sementara najis dihilangkan
       cukup              dengan          dicuci          sampai            hilang            zatnya.

       (Sumber : al-atsariyyah.com/fiqh/perbedaan-hadats-dan-najis.html)

Pengertian Thaharah
Secara bahasa, thaharah artinya membersihkan kotoran, baik kotoran yang berwujud maupun kotoran
yang tidak berwujud. Adapun secara istilah, thaharah artinya menghilangkan hadats, najis, dan kotoran
dengan air atau tanah yang bersih. Dengan demikian, thaharah adalah menghilangkan kotoran yang
masih melekat di badan yang membuat tidak sahnya shalat dan ibadah lain. [Lihat Ibnu
Qudamah, Al_Mughni (I/12) dan kitab Taudhih Al_Ahkam karya Abdullah Al_Bassam (I/87)]

Pengertian Hadats
Hadats secara etimologi (bahasa), artinya tidak suci atau keadaan badan tidak suci – jadi tidak boleh
shalat. Adapun menurut terminologi (istilah) Islam, hadats adalah keadaan badan yang tidak suci atau
kotor dan dapat dihilangkan dengan cara berwudhu, mandi wajib, dan tayamum. Dengan demikian,
dalam kondisi seperti ini dilarang (tidak sah) untuk mengerjakan ibadah yang menuntut keadaan badan
bersih dari hadats dan najis, seperti shalat, thawaf, ’itikaf.

Pengertian Kotoran dan Najis
Kotoran berasal dari kata kotor, artinya tidak bersih, seperti pakaian yang kena keringat. Adapun najis
adalah sesuatu yang keluar dari dalam tubuh manusia atau hewan seperti air kencing, kotoran manusia
atau kotoran hewan. Dengan demikian, kesimpulan sementara adalah kotor belum tentu najis,
sedangkan barang yang terkena najis pasti kotor. [Lihat Nor Hadi, Ayo Memahami Fiqih untuk
MTs/SMP Islam Kelas VII, (Jakarta: PT. Gelora Aksara Pratama, 2008), hal. 5]
Dengan demikian, jelaslah bahwa pakaian yang kotor karena terkena keringat dapat dipakai untuk
shalat dan sah shalatnya. Akan tetapi, baju yang bersih walaupun belum dipakai namun telah terkena
najis, lalu dipakai shalat, maka shalatnya tidak sah.


                                                             Kelompok 5 Semester VIIA :
                                                          1. Danis Agung Nugroho ( 072142945 )
                                                          2. Dateng Faeri Santoso ( 072142946 )

						
Related docs
Other docs by DanisFirsha-Qie
Sampel of DanisArt
Views: 49  |  Downloads: 0
Contoh Makalah Matematika Ekonomi
Views: 11689  |  Downloads: 29
Thaharah (bersuci)
Views: 198  |  Downloads: 0
silabus matematika kelas 4 SD
Views: 6381  |  Downloads: 27
Aqiqah (DOC download)
Views: 428  |  Downloads: 0
Tampilan Tema Win7 Modif
Views: 218  |  Downloads: 0