Docstoc

PENERAPAN TEORI BELAJAR SKINNER OPERANT CONDITIONINGBAGI PEMBELAJARAN ANAK SEKOLAH MINGGU GEREJA

Document Sample
PENERAPAN TEORI BELAJAR SKINNER OPERANT CONDITIONINGBAGI PEMBELAJARAN ANAK SEKOLAH MINGGU GEREJA Powered By Docstoc
					                                             BAB I

                                        PENDAHULUAN



                          1.1    LATAR BELAKANG MASALAH

                          Sekolah Minggu Gereja Kristen         adalah

                          kegiatan pembelajaran Agama Kristen untuk

    anak-anak dari balita hingga kelas 6 tingkat sekolah dasar. Dalam

    kegiatan sekolah minggu ini masih belum menggunakan media

    khusus sekolah minggu yang beragam. Oleh karena itu untuk

    meningkatkan kualitas kegiatan sekolah minggu dan menarik minat

    anak-anak untuk lebih aktif dan rajin datang ke sekolah minggu,

    dibuatlah media pembelajaran untuk kegiatan sekolah minggu.

    Media ini berfungsi sebagai cerita, alat peraga, gambar dan buku

    panduan dan semua media tersebut bertujuan untuk menyampaikan

    materi sekolah minggu. Perancangan media pembelajaran disertai

    dengan media infomasi untuk memberitahukan tentang keberadaan

    media pembelajaran baru ini. Karena keterbatasan waktu maka

    perancangan media komunikasi visual ini belum pernah dipraktekkan

    di kelas Sekolah Minggu Gereja Kristen , maka karya perancangan

    ini belum dijamin keefektifannya dan belum tentu benar-benar sesuai

    dengan kebutuhan anak-anak sekolah minggu. Meskipun demikian,

    karena perancangan media komunikasi visual ini telah dirancang

    melalui metode dan prosedur yang nalar dan ilmiah maka diduga




Penerapan Teori Belajar Skiner                                        1
    secara teoritis media tersebut efektif. Media ini sangat berguna bagi

    pendidikan Agama Kristen untuk anak-anak. Seperti yang dikatakan

    bahwa perancangan ini masih mempunyai keterbatasan, sehingga

    diharapkan perancangan media pembelajaran untuk kegiatan

    sekolah minggu dapat disempurnakan dan lebih dikembangkan.

    Namun yang menjadi permasalahan yang ditemukan pada saat ini

    adalah lokasi pelayanan anak sekolah minggu dari penulis terletak

    jauh dari pusat kota atau boleh dikatankan terletak di daerah

    terpencil yaitu didesa Moutong tengah kecamatan Moutong yang

    menurut letak geografisnya sangat jauh dari pusat kota sehingga

    media pembelajaran yang akan digunakan sebagai alat peraga sukar

    didapat. Yang menjadi permasalahan lain, di banyak gereja sekolah

    minggu anak itu tidak mendapat perhatian. kalau guru sekolah

    minggu contohnya diangkat boleh siapa saja. di antaranya adalah

    orang yang kurang tahu soal mendidik anak atau belum pernah

    punya anak atau masa anak-anaknya sendiri tidak bahagia. masa

    anak adalah ketika menyerap pikiran yang akan terus diingat sampai

    dewasa. sekolah minggu seperti itu tidak mustahil akan membuat

    anak sekolah minggunya bodoh saudara.kalau acara di sekolah

    minggu hanya menyanyi,mendengarkan cerita alkitab yang seperti

    dongeng ceritera khayalan, kolekte dan juga mengejar hadiah untuk

    natal. utamanya anak jadi makin besar percaya tidak bisa

    membedakan antara cerita alkitab dan cerita khayal.ada guru-guru




Penerapan Teori Belajar Skiner                                         2
    juga menakut-nakuti anak dengan neraka atau cerita yang ditambahi

    misalnya ada anak nakal pada adiknya lalu diusir bapaknya. itulah

    cerita ismael diusir nabi abraham menurut guru sekolah minggu.

    anak-anak itu butuh bermain bukan Cuma duduk mendengarkan dan

    ditakuti. guru sekolah minggu sering cerita tentang daud anak kecil

    membunuh goliat raksasa, nabi dimakan ikan, cerita samson yang

    kuat dirayu delilah, nabi moses membelah laut atau yesus

    memberkati anak-anak. cerita itu memakai gambar lucu padahal

    isinya kalau tidak diberi dengan pas bisa membuat anak takut orang

    dewasa yang seperti kejam suka mengusir, tuhan suka menghukum

    atau perempuan suka menipu.anak-anak bisa besar menjadi takut-

    takut karena sekolah minggu yang keliru saudara! anak-anak zaman

    sekarang banyak stres karena sekolah yang suka menghukum.

    padahal juga banyak tugas dan sekolah mengatur semua seperti

    seragam,mainan, pelajaran. sekolah minggu maksudnya seperti

    gereja untuk anak-anak. tapi dalam gereja saja ada banyak

    pertengkaran pengaruhnya lalu ke sekolah minggu. apa lalu yang

    diajarkan guru sekolah minggu seperti seperti itu kalau demikian?

    tidak lain seperti omongan buah jatuh tidak jauh dari pohon atau

    sama saja!!saudara sekolah minggu sudah mestinya diasuh oleh

    mereka yang bukan cuma punya rindu pelayanan tapi juga yang mau

    menjadi guru yang artinya mereka mestinya tahu dulu apa itu dunia

    pendidikan terutama pendidikan di indnesia ini.kalau saudara




Penerapan Teori Belajar Skiner                                       3
    sekarang guru sekolah minggu atau mengurusi hal sekolah minggu

    kita mesti lebih serius dalam hal ini karena bagaimana pendidikan

    yang diatur sudah emakai program kurikulum dari resmi saja masih

    hasilnya amburadul apalagi yang hanya modalnya rindu melayani

    atau malah cuma cari kesempatan. saudara kita memang tahu

    banyak gereja juga tidak peduli dengan sekolah minggu. ini apalagi

    lebih parah lagi karena mereka nanti kalau anak-anak itu sudah

    remaja muda dan dewasa dan akhirnya keliru tahu soal ajaran gereja

    sendiri atau malah pindah jadi agama islam atau budaha atau

    atheisme maka merka baru mengeluh. padahal itu salah mereka

    sendiri bagaimana juga saudara. mengajari anak di sekolah minggu

    sesuai usianya itu harus. banyak anak yang sekarang mereka malah

    diajari menyanyi lagu-lagu orang dewasa yang artinua juga pastinya

    mereka tidak mengerti. ini bukan hanya di lagu duniawi tapi juga di

    lagu gereja, itu contoh kecil saja saudara. banyak penulis di sini juga

    sepertinya begitu, mereka lebih suka debat-debat soal ajaran gereja

    atau sebagainya dan hanya sedikit sekali yang bicara soal anak-

    anak. coba dilihat siapa tahu orang-orang yang ngawur itu juga

    akibat waktu sekolah minggu saja sudah salah diajarinya. lucu sekali

    kan saudara kalau sampai sekarang sudah tua dan dewasa juga

    masih tidak sadar. apa mau diteruskan sampai tuhan yesus

    datang???seperti judul di atas sekolah minggu bikin anak bodoh

    karena yang besarnya juga bodoh. jadi siapa mau tanggung jawab!




Penerapan Teori Belajar Skiner                                           4
      Sesuai dengan latar belakang permasalahan diatas maka penulis

      ingin membuat suatu kajian dengan judul : PENERAPAN TEORI

      BELAJAR       SKINNER        OPERANT         CONDITIONINGBAGI

      PEMBELAJARAN ANAK SEKOLAH MINGGU GEREJA



1.2    RUMUSAN MASALAH

       Bagaimana hasil Penerapan Teori Belajar Skinner             Operant

       ConditioningBagi Pembelajaran Anak Sekolah Minggu Gereja.



1.3    TUJUAN

       Setelah   melakukan   pengkajian   terhadap      teori   yang   ada,

       diharapakan dapat mengetahui tentang :

       1. Penerapan Teori Belajar Skinner       Operant ConditioningBagi

          Pembelajaran Anak Sekolah Minggu Gereja

       2. Pembelajaran anak sekolah minggu gereja

       3. Teori Belajar Skinner Operant Conditioning.




Penerapan Teori Belajar Skiner                                           5
                                   BAB II

                              KAJIAN TEORI



2.1 MEMAHAMI PEMBELAJARAN ANAK SEKOLAH MINGGU

2.1.1 SEJARAH SINGKAT ANAK SEKOLAH MINGGU

      Yesus memanggil seorang anak kecil dan menempatkannya di

      tengah-tengah mereka lalu berkata: ”Aku berkata kepadamu,

      sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak

      kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.

      Sedangkan barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti

      anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga. Dan

      barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku,

      ia menyambut Aku.” (Luk.18:2-5, TB-LAI.).

      Robert Raikes, seorang wartawan, anak pemilik perusahaan koran

      di Inggris suatu kali prihatin melihat keadaan kaum muda

      gelandangan di kotanya, Gloucester. Hidup mereka setiap hari diisi

      dengan berbuat kejahatan. Hal tersebut tidak saja membuat hidup

      mereka menjadi sia-sia, namun juga meresahkan warga kota

      karena banyaknya kejahatan yang dilakukan kaum muda.

      Robert yakin bahwa pendidikan akan mengubah keadaan yang

      buruk itu. Oleh karena itu pada tahun 1780, ia membuka kelas

      pertamanya. Di hari Minggu itu, ia mengumpulkan anak-anak

      gelandangan yang nakal itu dan mengajarkan mereka membaca




Penerapan Teori Belajar Skiner                                        6
      dan menulis, sopan santun dan pelajaran agama. Hasilnya

      memang baik. Angka kejahatan menurun drastis. Anak-anak itu

      sangat menantikan hari minggu. Mereka sangat senang dengan

      pendidikan yang diadakan oleh Robert Raikes itu.

      Pada tahun 1872 mulailah digunakan International Uniform

      Lessons    (Bahan    Alkitab   untuk   Sekolah      Minggu     yang

      diseragamkan), namun sekolah minggu masih belum digarap

      secara profesional, tujuannya hanya untuk memenangkan jiwa!

      Baru pada akhir abad-19 sampai awal abad-20, muncul kesadaran

      untuk menangani Sekolah Minggu secara lebih profesional. Ilmu

      pendidikan mulai diterapkan. Pada 1922 berdiri International

      Sunday School Council of Religious Education, yang pada tahun

      1924 berubah nama menjadi International Council of Religious

      Education. Dengan berdirinya lembaga itu, Sekolah Minggu

      menjadi lebih maju dengan teori pendidikan modern yang melihat

      pendidikan yang berpusat kepada anak, dan bukan kepada guru.

      Pada tahun 1930, muncul juga kesadaran bahwa keluarga ikut

      berperan   serta    dalam   penyelanggaraan      sekolah     minggu.

      Kedekatan orang tua dan anak (baik dari segi waktu maupun

      kualitas) akan memberi hasil pembinaan yang baik.

      Memahami sejarah sekolah minggu yang demikian, kita dapat

      menangkap beberapa hal berikut:




Penerapan Teori Belajar Skiner                                           7
      1.    Gereja dipanggil secara nyata untuk membawa damai

            sejahtera Allah

      2.    Gereja dipanggil bukan hanya mengajarkan Alkitab kepada

            anak-anak,   tetapi   juga   menumbuhkembangkan      seluruh

            (totalitas) diri anak. Artinya, pembinaan yang menyeluruh

            (holistik) tidak sekedar pengetahuan Alkitab, dan hidup

            percaya kepada Kristus, tetapi juga mendidik mengajarkan,

            cara hidup dan kasih Yesus, kesopanan, tata susila

            bermasyarakat bagi seluruh kehidupan anak.

      3.    Dalam menjawab persoalan dan tantangan kekinian yang

            dihadapinya, gereja mesti mengupayakan sekolah minggu

            yang sesuai dengan konteks, yang mampu menjawab

            tantangan jaman, dan yang membumi.



2.1.2METODE PEMBELAJARAN ANAK SEKOLAH MINGGU.

      1. TANYA-JAWAB

           Menurut Anda, metode apa yang paling efektif di dalam

           meningkatkan partisipasi di dalam kelas Anda? Apa yang dapat

           Anda lakukan untuk tetap menjaga proses pengajaran tetap

           berlangsung, sekaligus juga mengundang tanggapan dari kelas

           Anda?

           Dari metode yang kita pelajari sejauh ini, kita telah membahas

           banyak hal yang telah digunakan Yesus tapi kita belum sampai




Penerapan Teori Belajar Skiner                                          8
         pada satu metode yang paling sering digunakan Yesus.Di

         dalam Injil Sipnotik, ada sekitar 1.500 ayat yang berisi

         perkataan Yesus--yang ditujukan pada sekelompok orang

         maupun pribadi. Di dalam ayat-ayat itu, Yesus melontarkan

         lebih dari 200 pertanyaan. Itu artinya, rata-rata satu pertanyaan

         untuk setiap delapan ayat.Salah satu alat paling efektif yang

         digunakan    Yesus    di    dalam    mengajar      adalah   memberi

         pertanyaan pada pendengar-Nya. Kadang-kadang pertanyaan

         itu   bersifat   retoris,    kadangkala         jelas,    kadangkala

         membingungkan.       Dia    adalah    ahlinya     dalam     membuat

         pertanyaan yang baik dan Dia sering menggunakannya.

         Sebuah pertanyaan adalah alat mengajar yang hebat dan

         produktif karena memaksa pendengar untuk melibatkan diri

         dalam proses pembelajaran, mengevaluasi apa yang mereka

         dengar dan biasanya merumuskan opini untuk diri mereka

         sendiri

         Lihatlah beberapa pertanyaan Yesus yang mendalam. Ada yang

         dilontarkan kepada pengikut-Nya, ada yang diajukan kepada

         pengkritik-Nya. Beberapa di antaranya untuk mencerahkan,

         sedangkan yang lain untuk menegur.

      2. DISKUSI

         Selama ini berkembang pemahaman bahwa pembelajaran

         hanya bisa terjadi ketika guru atau pengajar yang berbicara.




Penerapan Teori Belajar Skiner                                              9
         Padahal sesungguhnya tidaklah demikian. Kita telah belajar

         bahwa dengan melontarkan pertanyaan yang tepat, kita bisa

         mengajar tanpa banyak berbicara. Cara lain untuk melakukan

         ini adalah dengan metode diskusi.

         Pada dasarnya, sebagai metode pengajaran, diskusi dapat

         dibagi menjadi tiga kategori. Ketiga-tiganya sudah sangat

         umum.

          Diskusi Terarah, dimana pengajar dengan tujuan tertentu

             di dalam pikirannya berusaha mengarahkan murid-murid

             dalam perjalanan interaktif ke arah kebenaran. (contoh,

             seorang ayah yang memimpin diskusi bersama anak-

             anaknya di meja makan tentang perlunya mematuhi orang

             tua ketika keluarga itu pergi berbelanja).

          Diskusi Terpandu dimana pengajar mendorong kelompok

             untuk mengenali kebenaran ketika mereka bersama-sama

             mencarinya    dalam    isi,   perikop   atau   topik   tertentu.

             (Contohnya ketika dua orang bersahabat bersama-sama

             mempelajari Alkitab, membuat komitmen menempatkan

             firman Tuhan sebagai otoritas yang sejati dan bertekad

             untuk melaksanakannya).

          Diskusi Acak, dimana ada kebebasan total dalam

             berdiskusi dan tidak ada panduan atau arahan sama sekali.

             Soal penemuan dan pengenalan kebenaran semata-mata




Penerapan Teori Belajar Skiner                                             10
             berkaitan dengan kesepakatan umum (hal ini kadangkala

             ditemui dalam kelompok kecil yang membahas masalah

             tertentu. Setiap orang membagikan "kearifan" pribadi dan

             tujuannya bukanlah mencari kebenaran, melainkan untuk

             mengekspresikan diri).

      3. DRAMA

             Bayangkanlah       situasi   ini   :   dua   orang   guru   akan

         mengajarkan dosa yang dibuat Daud bersama Betsyeba.

         Seorang guru memilih metode ceramah. Guru yang lain memilih

         berperan sebagai Daud. Dia lalu mencurahkan isi hatinya

         sebagai Daud secara monolog( bahan diambil dari 1 Samuel

         dan Mazmur). Coba tebak siapa yang lebih berpeluang menarik

         perhatian?

             Drama adalah salah satu metode pengajaran yang sangat

         berguna untuk menangkap perhatian, mengaduk-aduk emosi,

         memaparkan     suatu     masalah       dan   menyadarkan    adanya

         kebutuhan tertentu. Tapi ingat , tujuannya bukanlah untuk

         membuat presentasi yang dramatis, melainkan menggunakan

         drama untuk menjangkau pendengar kita.

         Yang dimaksud dengan drama, termasuk pula: akting, main

         peran, pantomim, interaksi spontan dan pertunjukkan drama

         secara penuh. Elemen-elemen drama ini pernah dipakai Yesus

         ketika menghadapi orang yang gagap-tuli (Mrk. 7:31-35).




Penerapan Teori Belajar Skiner                                             11
         Bukankah Yesus harus membuat bahasa isyarat seperti

         pantomim ketika Dia berusaha berkomunikasi dengan orang

         yang tidak bisa bicara dan tidak bisa mendengar?

      4. PROYEK/PENUGASAN

             Di dalam pelayanan-Nya, Yesus berupaya mengajar dan

         melatih sekelompok orang untuk melaksanakan Amanat Agung.

         Mula-mula , Yesus menjelaskan apa yang harus dikerjakan para

         murid.    Setelah      itu,   Dia   memberi    teladan   bagaimana

         mengerjakannya. Kemudian Dia memberi tugas (proyek) untuk

         mempraktikkan apa yang telah mereka pelajari dari Dia. Ini yang

         disebut     proyek.      Proyek     adalah    kesempatan    dimana

         pembelajaran terjadi melalui pengerjaan tugas.

         Pengajaran yang sejati perlu diterjemahkan secara nyata dalam

         kehidupan pendengarnya; tanpa itu, pengajar hanya sekadar

         menghibur atau mengganggu pendengarnya. Proyek akan

         membantu pendengarnya dengan cara praktis menerapkan

         kebenaran     itu,    dengan    membawa       mereka   dari sekadar

         mendengar apa yang dikatakan menjadi mengalaminya secara

         langsung.




Penerapan Teori Belajar Skiner                                            12
2.2 MEMAHAMI        TEORI      BELAJAR      SKINNER            OPERANT

   CONDITIONING

2.2.1 Latar Belakang Teori Skinner

      B.F. Skinner (104-1990) berkebangsaan Amerika dikenal sebagai

      tokoh behavioris dengan pendekatan model instruksi langsung

      (directed instruction) dan meyakini bahwa perilaku dikontrol melalui

      proses operant conditioning.

      Gaya mengajar guru dilakukan dengan beberapa pengantar dari

      guru secara searah dan dikontrol guru melalui pengulangan (drill)

      dan latihan (exercise). Manajemen kelas menurut Skinner adalah

      berupa usaha untuk memodifikasi perilaku (behavior modification)

      antara lain dengan penguatan (reinforcement) yaitu memberi

      penghargaan pada perilaku yang diinginkan dan tidak memberi

      imbalan pada perilaku yang tidak tepat.

      Operant Conditioning atau pengkondisian operan adalah suatu

      proses penguatan perilaku operan (penguatan positif atau negatif)

      yang dapat mengakibatkan perilaku tersebut dapat berulang

      kembali atau menghilang sesuai dengan keinginan.

      Perilaku operan adalah perilaku yang dipancarkan secara spontan

      dan   bebas    berbeda     dengan    perilaku   responden    dalam

      pengkondisian Pavlov yang muncul karena adanya stimulus

      tertentu. Contoh perilaku operan yang mengalami penguatan

      adalah: anak kecil yang tersenyum mendapat permen oleh orang




Penerapan Teori Belajar Skiner                                          13
      dewasa yang gemas melihatnya, maka anak tersebut cenderung

      mengulangi perbuatannya yang semula tidak disengaja atau tanpa

      maksud tersebut. Tersenyum adalah perilaku operan dan permen

      adalah penguat positifnya.

      Skinner membuat eksperimen sebagai berikut: dalam laboratorium,

      Skinner memasukkan tikus yang telah dilaparkan dalam kotak yang

      disebut “Skinner box”, yang sudah dilengkapi dengan berbagai

      peralatan, yaitu tombol, alat memberi makanan, penampung

      makanan, lampu yang dapat diatur nyalanya, dan lantai yang dapat

      dialiri listrik.Karena dorongan lapar (hunger drive), tikus berusaha

      keluar untuk mencari makanan. Selama tikus bergerak kesana-

      kemari untuk keluar dari box, tidak sengaja ia menekan tombol,

      makanan keluar. Secara terjadwal diberikan makanan secara

      bertahap sesuai peningkatan perilaku yang ditunjukkan si tikus,

      proses ini disebut shaping.Berdasarkan berbagai percobaannya

      pada tikus dan burung merpati, Skinner menyatakan bahwa unsur

      terpenting   dalam   belajar   adalah   penguatan   (reinforcement).

      Maksudnya adalah pengetahuan yang terbentuk melalui ikatan

      stimulu-respon akan semakin kuat bila diberi penguatan.

      Skinner membagi penguatan ini menjadi dua, yaitu penguatan

      positif. Penguatan positif sebagai stimulus, dapat meningkatkan

      terjadinya pengulangan tingkah laku itu sedangkan penguatan

      negatif dapat mengakibatkan perilaku berkurang atau menghilang.




Penerapan Teori Belajar Skiner                                         14
      Bentuk-bentuk penguatan positif adalah berupa hadiah (permen,

      kado, makanan, dll), perilaku (senyum, menganggukkan kepala

      untuk menyetujui, bertepuk tangan, mengacungkan jempol), atau

      penghargaan (nilai A, Juara 1 dsb). Bentuk-bentuk penguatan

      negatif   antara   lain:   menunda/tidak   memberi   penghargaan,

      memberikan tugas tambahan atau menunjukkan perilaku tidak

      senang (menggeleng, kening berkerut, muka kecewa dll).



2.2.2 BEBERAPA PRINSIP BELAJAR SKINNER

      Beberapa Prinsip Belajar Skinner antara lain:

       Hasil belajar harus segera diberitahukan kepada siswa, jika

          salah dibetulkan, jika benar diberi penguat.

       Proses belajar harus mengikuti irama dari yang belajar.

       Materi pelajaran, digunakan sistem modul.

       Dalam proses pembelajaran, lebih dipentingkan aktivitas

          sendiri.

       Dalam proses pembelajaran, tidak digunakan hukuman. Namun

          ini lingkungan perlu diubah, untuk menghindari adanya

          hukuman.

       Tingkah laku yang diinginkan pendidik, diberi hadiah, dan

          sebagainya. Hadiah diberikan dengan digunakannya jadwal

          variable rasio reinforcer.

       Dalam pembelajaran, digunakan shaping.




Penerapan Teori Belajar Skiner                                       15
2.2.3 PROSEDUR TEORI SKINNER

      Prosedur Teori Skinner adalah sebagai berikut :

       Mempelajari keadaan kelas berkaitan dengan prilaku siswa.

       Membuat daftar penguat positif.

       Memilih dan menentukan urutan tingkah laku yang dipelajari

         serta jenis penguatnya.

       Membuat program pembelajaran berisi urutan prilagu yang

         dikehendaki,    penguatan,waktu    mempelajari    prilaku,     dan

         evaluasi.



2.2.4 TEKNIK – TEKNIK PEMBELAJARAN BERDASARKAN TEORI

      OPERAN CONDITIONING

      Teknik – teknik pembelajaran berdasarkan teori Operan

      Conditioning :

      1. Kesatu, mempelajari keadaan kelas. Guru mencari dan

         menemukan perilaku siswa yang positif atau negatif. Perilaku

         positif akan diperkuat dan perilaku negative akan dikurangi.

      2. Kedua, membuat daftar penguat positif. Guru mencari perilaku

         yang lebih disukai oleh siswa. Perilaku yang kena hukuman dan

         kegiatan luar sekolah dapat dijadikan penguat.

      3. Ketiga, memilih dan menentukan urutan tingkah laku serta jenis

         penguatannya.




Penerapan Teori Belajar Skiner                                           16
      4. Keempat,     membuat      program    pembelajaran.       Program

         pembelajaran ini berisi urutan perilaku yang dikehendaki,

         penguatan, waktu mempelajari perilaku dan ebaluasi. Dalam

         melaksanakan program pembelajaran, guru mencatat perilaku

         dan penguatan yang berhasil dan tidak berhasil.



2.2.5 APLIKASI TEORI SKINNER DALAM PEMBELAJARAN

      Aplikasi Teori Skinner Terhadap Pembelajaran meliputi :

       Bahan yang dipelajari dianalisis sampai pada unit-unit secara

         organis.

       Hasil berlajar harus segera diberitahukan kepada siswa, jika

         salah dibetulkan dan jika benar diperkuat.

       Proses belajar harus mengikuti irama dari yang belajar.

       Materi pelajaran digunakan sistem modul.

       Tes lebih ditekankan untuk kepentingan diagnostic.

       Dalam proses pembelajaran lebih dipentingkan aktivitas sendiri.

       Dalam proses pembelajaran tidak dikenakan hukuman.

       Dalam pendidikan mengutamakan mengubah lingkungan untuk

         mengindari pelanggaran agar tidak menghukum.

       Tingkah laku yang diinginkan pendidik diberi hadiah.

       Hadiah diberikan kadang-kadang (jika perlu)

       Tingkah laku yang diinginkan, dianalisis kecil-kecil, semakin

         meningkat mencapai tujuan.




Penerapan Teori Belajar Skiner                                         17
       Dalam pembelajaran sebaiknya digunakan shaping.

       Mementingkan kebutuhan yang akan menimbulkan tingkah laku

         operan.

       Dalam belajar mengajar menggunakan teaching machine.

       Melaksanakan mastery           learning yaitu    mempelajari   bahan

         secara tuntas menurut waktunya masing-masing karena tiap

         anak berbeda-beda iramanya. Sehingga naik atau tamat

         sekolah dalam waktu yang berbeda-beda. Tugas guru berat,

         administrasi kompleks.



2.2.6 KELEBIHAN DAN KEKURANGAN TEORI SKINNER

      A. Kelebihan

         Pada teori ini, pendidik diarahkan untuk menghargai setiap

         anak didiknya. hal ini ditunjukkan dengan dihilangkannya

         sistem    hukuman.      Hal     itu   didukung     dengan     adanya

         pembentukan lingkungan yang baik sehingga dimungkinkan

         akan meminimalkan terjadinya kesalahan.

      B. Kekurangan

         Tanpa adanya sistem hukuman akan dimungkinkan akan dapat

         membuat anak didik menjadi kurang mengerti tentang sebuah

         kedisiplinan. hal tersebuat akan menyulitkan lancarnya kegiatan

         belajar-mengajar.         Dengan               melaksanakan mastery

         learning, tugas guru akan menjadi semakin berat.




Penerapan Teori Belajar Skiner                                             18
         Beberapa Kekeliruan dalam penerapan teori Skinner adalah

         penggunaan      hukuman     sebagai    salah    satu   cara    untuk

         mendisiplinkan siswa. Menurut Skinner hukuman yang baik

         adalah    anak    merasakan         sendiri    konsekuensi       dari

         perbuatannya.    Misalnya    anak     perlu    mengalami      sendiri

         kesalahan dan merasakan akibat dari kesalahan. Penggunaan

         hukuman verbal maupun fisik seperti: kata-kata kasar, ejekan,

         cubitan, jeweran justru berakibat buruk pada siswa.

         Selain itu kesalahan dalam reinforcement positif juga terjadi

         didalam situasi pendidikan seperti penggunaan rangking Juara

         di kelas yang mengharuskan anak menguasai semua mata

         pelajaran. Sebaliknya setiap anak diberi penguatan sesuai

         dengan kemampuan yang diperlihatkan sehingga dalam satu

         kelas terdapat banyak penghargaan sesuai dengan prestasi

         yang ditunjukkan para siswa: misalnya penghargaan di bidang

         bahasa, matematika, fisika, menyanyi, menari atau olahraga




Penerapan Teori Belajar Skiner                                              19
                                 BAB III

                            KESIMPULAN



1. Sekolah Minggu Gereja Kristen adalah kegiatan pembelajaran Agama

   Kristen untuk anak-anak dari balita hingga kelas 6 tingkat sekolah

   dasar. Dalam kegiatan sekolah minggu ini masih belum menggunakan

   media khusus sekolah minggu yang beragam. Oleh karena itu untuk

   meningkatkan kualitas kegiatan sekolah minggu dan menarik minat

   anak-anak untuk lebih aktif dan rajin datang ke sekolah minggu,

   dibuatlah media pembelajaran untuk kegiatan sekolah minggu.

2. Memahami sejarah sekolah minggu yang ada, kita dapat menangkap

   beberapa hal berikut:

    Gereja dipanggil secara nyata untuk membawa damai sejahtera

       Allah.

    Gereja dipanggil bukan hanya mengajarkan Alkitab kepada anak-

       anak, tetapi juga menumbuhkembangkan seluruh (totalitas) diri

       anak. Artinya, pembinaan yang menyeluruh (holistik) tidak sekedar

       pengetahuan Alkitab, dan hidup percaya kepada Kristus, tetapi

       juga mendidik mengajarkan, cara hidup dan kasih Yesus,

       kesopanan, tata susila bermasyarakat bagi seluruh kehidupan

       anak.

    Dalam menjawab persoalan dan tantangan kekinian yang

       dihadapinya, gereja mesti mengupayakan sekolah minggu yang




Penerapan Teori Belajar Skiner                                       20
        sesuai dengan konteks, yang mampu menjawab tantangan jaman,

        dan yang membumi.

3. Operant Conditioning atau pengkondisian operan adalah suatu proses

     penguatan perilaku operan (penguatan positif atau negatif) yang dapat

     mengakibatkan perilaku tersebut dapat berulang kembali atau

     menghilang sesuai dengan keinginan.

     Perilaku operan adalah perilaku yang dipancarkan secara spontan

     dan bebas berbeda dengan perilaku responden dalam pengkondisian

     Pavlov yang muncul karena adanya stimulus tertentu

4. Pada teori ini, pendidik diarahkan untuk menghargai setiap anak

     didiknya. hal ini ditunjukkan dengan dihilangkannya sistem hukuman.

     Hal itu didukung dengan adanya pembentukan lingkungan yang baik

     sehingga dimungkinkan akan meminimalkan terjadinya kesalahan.

5.   Teori Belajar Skinner       Operant Conditioning sangat tepat untuk

     diterapakan Bagi Pembelajaran Anak Sekolah Minggu Gereja, karena

     pada memebelajaran ini dapat membuat para pembelajar lebih baik

     terpusat pada anak didik.




Penerapan Teori Belajar Skiner                                          21
                            DAFTAR PUSTAKA



Dakir. 1993. Dasar –dasar psikologi. Yogyakarta: Pustaka pelajar.
Dimyati,Mudjiono.     Belajar   dan     Pembelajaran,    Jakarta   :   Rineka
        Cipta.2009.
Hawadi, Reni Akbar. Psikologi Perkembangan Anak:Mengenal sifat, bakat
       dan kemampuan anak.            Jakarta:Grasindo. 2001
http://www.sabdaspace.org/sekolah_minggu_bikin_anak_bodoh
http://sabda.org/pepak/node/6697
http://www.gurusekolahminggu.com/index.php?option=com_content&view
          =article&id=67:metode&catid=31:artikell&Itemid=56
http://www.gkihalimun.org/kegiatan-pembangunan-jemaat/artikel-bina-
          iman/sekolahminggudangurusekolahminggu
Kadarmanto, Ruth S. Tuntunlah ke Jalan yang Benar: Panduan Mengajar
               Anak diJemaat.    Jakarta:STTJ      dan      BPK-GM. 2004
Lie, Paulus. Mereformasi Sekolah Minggu. Yogyakarta:Andi Offset. 2003
Lie, Paulus. Teknik Kreatif dan terpadu dalam mengajar Sekolah Minggu.
           Yogyakarta: AndiOffset.        2003
Lie, Paulus. Mengajar Sekolah Minggu yang Kreatif. Yogyakarta:Andi
Offset. 1997
Skinner, B.F. 2002. Operant Conditioning. B. F. Skinner Foundation. All
       Rights Reserved,
Soekamto, Toeti. 1986. Teori belajar dalam sistem instruksional. Makalah
disampaikan pada pelatihan sistem instruksional di Pustekkom




Penerapan Teori Belajar Skiner                                             22

				
DOCUMENT INFO
Tags:
Stats:
views:4030
posted:5/2/2011
language:Indonesian
pages:22
Jerry  Makawimbang, M. Pd Jerry Makawimbang, M. Pd Teacher
About Kenalan langsung donk