Docstoc

Hipertiroidisme Pada Kehamilan

Document Sample
Hipertiroidisme Pada Kehamilan Powered By Docstoc
					Pendahuluan
Kelainan tiroid cukup sering ditemukan pada kehamilan, dan hipertiroidisme
sendiri memiliki angka kejadian 1 hingga 2 pada setiap 1000 wanita hamil.
Penyebab hipertirodisme yang paling umum adalah penyakit Grave (80% -
85%) dengan insidensi pada kehamilan di atas 20 minggub adalah 2%.
Penyebab lainnya termasuk adenoma fungsional, tiroiditis, dan asupan hormon
tiroid berlebihan.
Terdapat beberapa interaksi yang menarik antara kehamilan dan glandula tiroid,
salah satunya adalah dimungkinkannya perubahan hasil tes fungsi tiroid yang
diinduksi oleh kehamilan. Selama masa kehamilan, hormon HCG (human
chorionic gonadotropin) diproduksi. Puncak peningkatan kadar hormon HCG
berkisar pada minggu ke-12 kehamilan, dan memiliki efek stimulasi tiroid yang
ringan,   dan   sebagai   akibatnya,   dapat   menunjukkan   beberapa   gejala
hipertiroidisme. Pada kemahilan mutiple (kembar), kadar HCG dapat menjadi
lebih tinggi dan gejala-gejala bisa lebih tampak menonjol.
Hipertiroidisme yang disebabkan oleh penyakit Grave cenderung memburuk
pada trimester pertama, membaik pada masa kehamilan lanjut, dan memburuk
kembali pasca persalinan. Saat kehamilan berlanjut, pasien umumnya
memerlukan dosis obat antitiroid yang lebih rendah. Dan fungsi tiroid tetap
perlu dipantau hingga pasca persalinan sebagai antisipasi terhadap eksaserbasi
postpartum sampai pasien mencapai suatu keadaan eutiroid yang stabil.
Fisiologi Tiroid
Dampak kehamilan pada fisiologi tiroid maternal sangat substansial. Terdapat
perubahan pada struktur dan fungsi glandula yang dapat menyebabkan
kebingungan dalam dalam diagnosis abnormalitas tiroid. Oleh karena itu,
evaluasi kelainan tiroid dan interpretasi yang tepat akan tes fungsi tiroid selama
kehamilan memerlukan pemahaman akan perubahan-perubahan ini.
Secara anatomis, terdapat pembesaran sedang sebagai hasil dari hiperplasia
glandula dan peningkatan vaskularisasi. Secara histologis, penampakan
glandula konsisten dengan pembentukan dan sekresi hormon tiroid yang aktif.
Volume glandula tiroid ditentikan meningkat secara ultosonografis selama
kehamilan, meskipun ekostruktur dan ekogenisitas tetap tidak berubah. Penting
diperhatikan bahwa kehamilan tidak menyebabkan tiromegali yang kentara, dan
pasien-pasien dengan goiter atau nodul harus dilakukan pendekatan
sebagaimana pada kondisi patalogis.
Selama kehamilan, terdapat peningkatan ambilan radioiodin oleh glandula tiroid
maternal. Dimulai pada awal bulan kedua, total konsentrasi serum tiroksin dan
triiodotironin meningkat tajam. Sekresi tiroksin harian dimungkinkan
meningkat, bisa jadi oleh karena peningkatan degradasi plasenta. Sejumlah
tiroksin substansial dipindahkan dari ibu ke janin, setidaknya terjadi pada kasus
hipotiroidisme fetalis oleh karena defek enzimatik atau agenesis tiroid.
Selama kehamilan, konsentrasi serum hormon tiroid utama pembawa protein,
TBG (thyroid-binding globulin), meningkat secara bermakna. Hal ini
disebabkan oleh suatu kombinasi produksi hepatosis terstimulasi oleh estrogen
sebagaimana juga glikosilasi protein yang dipengaruhi yang menghambat
degradasi. TRH (thyrotropin-releasing hormone) tidak terdeteksi pada serum
maternal, dan sekresinya tampak tidak dipengaruhi selama kehamilan normal.
Pada awal tengah masa kehamilan, serum TRH fetal terdeteksi, namun tidak
meningkat.
Glikoprotein TSH (thyrotropin atau thyroid-stimulating hormone) berhubungan
dengan FSH (follicle-stimulating hormone), LH (luteineizing hormone), dan
hCG (chorionic gonadotropin). Tidak diikat oleh protein pembawa, konsentrasi
tidak berubah selama kehamilan, dan tidak melintasi sawar plasenta.
Tampaknya substansi tirotropik yang diisolasi dari plasenta manusia, dulunya
disebut chorionic thyrotropin, pada kenyataannya gonadotropin korionik (hCG)
yang memiliki aktivitas pelintasan yang amat kecil sekitar 0,1%. Mereka yang
pada masa awal kehamilan, koinsiden dengan kadar hCG maksimum, kadar
serum free thyroxine (tiroksin bebas) meningkat sementara kadar thyrotropin
menurun. Di luar kondisi ini, umumnya berada dalam rentang normal. Hampir
sepanjang   kehamilan, bagaimanapun juga,      kadar   tiroksin bebas dan
triiodotironin, sebagaimana juga tirotropin terjaga pada rentang normal yang
sempit.
Hipertiroidisme
Tirotoksikosis atau hipertiroidisme merupakan komplikasi pada sekitar 1 di
antara 1000 hingga 2000 kehamilan. Dan tirotoksikosis ringan umumnya sulit
didiagnosa selama kehamilan, terutama yang bersifat subklinis sementara (tidak
menunjukkan gejala klinis). Beberapa tanda klinis yang dapat membantu
adalah:
   1. Takikardia yang melebihi peningkatan yang berhubungan dengan

      kehamilan normal.
   2. Peningkatan denyut nadi tidur yang abnormal.

   3. Tiromegali.

   4. Eksoftalmus.

   5. Kegagalan meningkatkan berat badan pada wanita non-obes meski

      dengan diet/asupan makanan yang normal atau ditingkatkan.
Konfirmasi dipermudah dengan penilaian untuk menentukkan peningkatan
kadar serum tiroksin bebas dengan menggunakan pemeriksaan laboratorium.
Akurasi pemeriksaan laboratorium sedemikian hingga juga dapat membantu
menemukan adanya hipertiroidisme subklinis.
Pada pasien yang lebih muda, pemberian tiroksin eksogen terkadang
menyebabkan tirotoksikosis, namun sekitar 5% orang yang lebih tua bisa
dipengaruhi secara spontan. Hipertirodisme dapat berhubungan dengan nilai
serum tiroksin yang rendah namun kadar serum triiodotironin yang abnormal
tinggi, kasus ini jarang terjadi dan disebut sebagai T3-toksikosis.
Hipertiroidisme dan Kehamilan
Sebagian besar penyebab tirotoksikosis pada kehamilan adalah penyakit Grave,
suatu proses autoimun organ-spesifik yang biasanya berkaitan dengan antibodi-
antibodi penstimulasi tiroid. Antibodi-antibodi ini menyerupai tirotropin dalam
kemampuannya untuk menstimulasi fungsi tiroid, dan mereka tampaknya
bertanggung jawab untuk baik hiperfungsi maupun pertumbuhan tiroid pada
penyakit Grave.
Sebuah penelitian (Amino et al., 1982) menunjukkan aktivitas antibodi
penstimulasi tiroid menurun selama kehamilan pada 41 wanita dengan penyakit
Graves. Ini berhubungan dengan remisi kimiawi selama hampir sepanjang
kehamilan. Antara bulan pertama dan keempat pasca persalinan, banyak wanita
yang    mengalami     rekurensi    antibodi   antiroid   bersamaan     dengan
hipertiroksinemia. Penurunan kadar antibodi selama kehamilan dibarengi
dengan suatu peningkatan berkebalikan pada kadar antibodi penghambat-
penstimulai tiroid (Kung dan Jones., 1998). Perubahan ini dihubungkan dengan
korespondesi penurunan kadar tiroksin bebas selama kehamilan dengan suatu
pengembalian ke batas dasar pada 4 bulan postpartum. Tampaknya efek-efek
perbaikan kehamilan pada keberadaan antobodi-antibodi penstimulasi tiroid
bersumber dari adanya antibodi-antibodi penghambat.
Fungsi Tiroid Janin
Fetus bergantung pada sejumlah kecil suplai tiroksin dari ibu hingga usia
kehamilan 10 sampai 12 minggu, ketika glandula tiroid janin mulai
mensekresikan hormon-hormon tiroid. Pada usia kehamilan 20 minggu,
glandula tiroid janin telah menjadi responsif terhadap TSH dari glandula
pituitarinya sendiri.
Sementara transfer dari plasenta maternal dibatasi dan kadar serum tiroksin
pada fetus sekitar sepertiga kadar maternal, antibodi-antibodi reseptor TSH dari
ibu dengan penyakit Grave yang merupakan antibodi-antibodi imunoglobulin G
siap melewati sawar palsenta. Antibodi-antibodi reseptor TSH maternal dapat
menyebabkan hipertiroidisme fetalis pasca usia kehamilan 20 minggu.
Komplikasi
Hipertiroidisme yang tidak terkontrol dihubungkan dengan morbiditas dan
mortalitas ibu, janin dan neonatus. Komplikasi maternal termasuk keguguran,
hiperternsi diinduksi kehamilan, pre-eklamsia, gagal jantung, persalinan
preterm, abrupsio plasenta, dan badai tiroid.
Komplikasi pada janin dan bayi baru lahir termasuk kelahiran mati (stillbirth),
berat badan lahir rendah, goiter, hipertiroidisme, dan hipotiroidisme.
Terapi
Tirotoksikosis selama masa kehamilan biasanya selalu diterapi secara medis.
Hipertiroidisme biasanya selalu dapat dikontrol dengan obat-obatan thioamide.
PTU (propylthiouracil) lebih diminati karena mengonversi secara parsial T 4
menjadi T3, lebih rendah kemungkinannya melewati sawar plasenta dan tidak
terkait dengan aplasia kutis jika dibandingkan dengan methimazole.
Beberapa rejimen medikasi dijelaskan sebagai berikut:
   •   Propiltiourasil
          o Mulai dengan dosis 300-450 mg per hari, yang dibagi ke dalam 3

             dosis.
          o Bila kadar T4 bebas dan T3 mencapai batas normal, diberikan dosis

             pemeliharaan 50 – 300 mg (tergantung hasil pengobatan) per hari
             dalam dosis terbagi.
   •   Iodin atau Yodium
          o Preparat Iodin (misalnya larutan Lugol) dapat menekan pelepasan

             tiroid      dalam   kelenjar   dan   mengurangi   vaskularisasi   dan
             memadatkan kelenjar tiroid. Mesti diperhatikan bahwa preparat ini
             dapat melewati sawar plasenta dan mempengaruhi glandula tiroid
             janin.
          o Larutan Lugol diberikan sebanyak 3 tetes dalam segelas air putih

             dan diminumkan sekali sehari selama 1 – 2 minggu.
   •   Penyekat Beta Adrenergik (beta blocker)
          o Obat ini digunakan untuk mengurangi manifestasi simpatetik

             (tremor, palpitasi, dan takikardia) sebelum dikontrol dengan PTU.
          o Gunakan propanolol dengan dosis 40-80 mg per hari terbagi ke

             dalam 3-4 dosis.
         o Tidak dapat digunakan pada kehamilan dengan hipertiroid yang

            disertai dengan penyakit paru obstruktif, blokade jantung,
            dekompensasio kordis dan diabetes mellitus tipe dependen insulin.
Tiroidektomi dapat dilakukan pada pasien dengan tirotoksikosis setelah
melewati medikasi dengan obat-obatan. Karena pada kehamilan, vaskularisasi
gladula tiroid meningkat sedemikian hingga menyebabkan tiroidektomi pada
wanita hamil lebih rumit daripada pada wanita yang tidak hamil. Bagi wanita
hamil yang tidak dapat beradaptasi dengan obat-obatan, pada mereka yang
terapi obat-obatan terbukti berbahaya (toksik), tiroidektomi bisa menjadi pilihan
yang lebih tepat. Tiroidektomi juga mengandung risiko terjadinya palsi korda
vokalis dan hiperparatiroidisme.
Simpulan
Hipertiroidisme pada kehamilan cukup umum ditemukan, dengan angka
kejadian mencapai 1 dari setiap 1000 kehamilan. Penyebab paling umumnya
adalah penyakit Grave. Kehamilan juga secara fisiologis menyebabkan
perubahan pada struktur dan fungsi glandula tiroid yang memungkinkan
munculnya hipertiroidisme yang diinduksi oleh kehamilan.
Komplikasi hipertiroidisme pada kehamilan meliputi morbiditas dan mortalitas
pada ibu, janin dan bayi baru lahir. Pada ibu dapat diinduksi hipertensi pada
kehamilan, pre-eklamsia, gagal jantung, dan persalinan preterm. Pada janin dan
neonatus dapat terjadi kelahiran mati, goiter, hipertiroiditis dan hipotiroiditis.
Terapi pilihan untuk hipertiroidisme pada kehamilan adalam menggunakan
medikasi propiltiourasil yang relatif aman dengan tujuan mengontrol fungsi
tiroid hingga stabil pada tingkat eutiroid. Jika pasien tidak dapat mentoleransi
terapi medikasi atau terapi terbukti toksik bagi pasien, maka tiroidektomi dapat
dipertimbangkan sebagai terapi pilihan.
Pustaka
Cunningham, F. Gary et all. 2001. William Obstetrics 21st ed. McGraw-Hill
         Companies, Inc. United States of America. Halaman 1339-1343.
Saifuddin, Abdul Bari, dkk. 2006. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan
         Maternal   dan   Neonatal.    Yayasan      Bina   Pustaka   Sarwono
         Prawirohardjo. Jakarta. Halaman 285-287.
Halen, Marx et all. 2008. Hyperthyroidism and Pregnancy. BMJ 336 : 663 doi:
         10.1136/bmj.39462.709005.AE. Avialable via BMJ Group at URL:
         http://www.bmj.com/content/336/7645/663.full.
Inoue, Miho et all. 2009. Hyperthyroidism During Pregnancy. Can Fam
         Physician. 2009 July; 55(7): 701–703. Availabe via PubMed Central
         Journal                List                  at                URL:
         http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2718594/.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Stats:
views:2515
posted:5/1/2011
language:Indonesian
pages:11
Description: Dokumen ini membahas tentang kondisi hipertiroidisme pada kehamilan, apa faktor risikonya dan bagaimana perjalanannya serta terapinya.
Cahya Legawa Cahya Legawa dr. http:/legawa.com/
About I am a sim­ple blog­ger, who loves a cup of hot tea and a line of pas­sio­nate poem in the evening. I am a Linux enthusiast, a photography lover and yet a last year medical student.