Demand for meat

Description

Penerapan model AIDS (sistem permintaan) terhadap daging di Malaysia

Reviews
Shared by: Aliasuddin N Rihat
Categories
Stats
views:
205
rating:
not rated
reviews:
0
posted:
6/27/2009
language:
INDONESIAN
pages:
0
Permintaan Daging di Malaysia: Penerapan Model Permintaan Hampir Ideal Aliasuddin Fakultas Ekonomi Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh Abstract The demand for meat is very important to be analyzed because the changes of consumption patterns imply to agricultural policy not only in Malaysia but also in neighborhood countries. There are four groups of meat in the study, beef, mutton, chicken, and pork. This study uses yearly data from 1960 until 2000. The OLS and SUR models are utilized to estimate the data, where the OLS estimates are more efficient compared to SUR ones. The imposition of symmetry condition in the SUR method affects the estimated coefficients. Furthermore, the homogeneity and symmetry conditions hold in the study. Meanwhile, the eigenvalues of the matrices of Marshallian and Hicksian elasticities prove that the utility functions are quasi–concave as stated by theory. In addition, the results show that income elasticities in demand for beef, chicken and pork are significant and elastic but the elasticity of income in the demand for pork is negatively signed. Meanwhile, the own price elasticity is significant in the equation of demand for pork only. The demand for chicken shows an inferiority pattern but it is still needed a further research to be conducted to prove the pattern of inferiority. Keywords: Demand for Meat, AIDS, elasticity, Malaysia. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi telah mendorong pergeseran struktur perekonomian Malaysia dari sektor pertanian menuju sektor industri dan jasa. Perkembangan tersebut dengan sendirinya telah mendorong pertumbuhan pendapatan per Jurnal Ekonomi dan Bisnis, Volume 2, Nomor 2, Agustus 2003, halaman 153–172. kapita masyarakat yang pada gilirannya mempunyai pengaruh terhadap permintaan barang dan jasa termasuk permintaan terhadap daging. Daging merupakan salah satu komponen dalam pola permintaan masyarakat di negara ini terutama sekali ayam. Pergeseran konsumsi dari daging merah (red meat) seperti lembu dan kambing ke daging putih (white meat) seperti ayam dan ikan sangat beralsan dari segi kesehatan karena daging merah lebih berbahaya relatif daripada daging putih. Pendapatan per kapita riil penduduk Malaysia mengalami peningkatan yang signifikan terutama sekali sebelum krisis ekonomi melanda Asia pada tahun 1997. Sebagai gambaran, pada tahun 1988, pendapatan per kapita riil meningkat sebesar 6,78 persen dan pada tahun berikutnya sedikit mengalami penurunan dengan pertumbuhan sebesar 5,81 persen dan kemudian meningkat lagi menjadi 9,15 persen pada tahun 1990. Efek dari peningkatan ini adalah terjadinya peningkatan permintaan terhadap daging. Daging sapi mengalami peningkatan sebesar 10,76 persen pada tahun 1988 dan tahun berikutnya mengalami peningkatan sebesar 13,31 persen dan pada tahun 1990 sebesar 10,79 persen. Sementara itu, permintaan terhadap ayam mengalami peningkatan sebesar 8,15 persen pada tahun 1988, 9,21 persen pada tahun 1989 dan 10,29 persen pada tahun 1990. Pergeseran permintaan daging mungkin saja mempunyai implikasi kebijakan yang penting di masa yang akan datang tidak hanya bagi Malaysia sendiri tetapi juga negara–negara tetangga dalam hal pengadaan daging untuk memenuhi kenaikan permintaan tersebut. Ada satu hal yang sangat menarik dari perkembangan pendapatan per kapita dan permintaan ayam di Malaysia yaitu pola pergerakannya yang berbanding terbalik. Pada saat pendapatan per kapita mengalami peningkatan justru permintaan terhadap ayam mengalami penurunan sedangkan pada saat perdapatan per kapita mengalami penurunan Jurnal Ekonomi dan Bisnis, Volume 2, Nomor 2, Agustus 2003, halaman 153–172. namun permintaan terhadap ayam mengalami peningkatan. Pola ini seolah–olah memperlihatkan adanya gejala inferioritas terhadap ayam di Malaysia. Sebagai contoh antara tahun 1971 hingga 1975, pada saat tersebut pendapatan per kapita mengalami peningkatan yang relatif rendah tetapi permintaan ayam justru mengalami peningkatan yang sangat signifikan. Pada tahun 1975, pendapatan per kapita mengalami pertumbuhan negatif tetapi permintaan ayam mengalmi pertumbuhan yang relatif besar. Pola yang sama dapat juga dilihat pada tahun 1995 hingga 2000 (Gambar 1). Gambar 1. Perkembangan Pendapatan Per Kapita dan Permintaan Ayam % 40 30 20 10 0 -10 -20 -30 Ayam Pendapatan/Kapita 1971 1975 1980 1985 1990 1995 2000 Gambar 2 menunjukkan perkembangan yang berbeda dari Gambar 1 karena pada Gambar 2 ini pola perkembangan permintaan daging lembu hampir searah dengan perkembangan pendapatan per kapita. Pola perkembangan permintaan daging ini perlu dianalisis mengingat hasil studi tersebut dapat menggambarkan pola permintaan terhadap daging di Malaysia dan implikasinya terhadap permintaan daging seiring dengan perkembangan perekonomian negara ini. Jurnal Ekonomi dan Bisnis, Volume 2, Nomor 2, Agustus 2003, halaman 153–172. Gambar 2. Perkembangan Pendapatan Per Kapita dan Permintaan Lembu % 40 30 20 10 0 -10 -20 -30 Lembu Pendapatan/Kapita 1971 1975 1980 1985 1990 1995 2000 Penerapan model permintan hampir ideal (almost ideal demand system – AIDS) mempunyai daya tarik tersendiri. Pertama, perubahan pola permintaan terhadap daging mungkin dapat dianalisis sehingga hasil tersebut diharapkan dapat menjelaskan pola perkembangan pembangunan ekonomi di negara ini. Kedua, kajian tentang permintaan daging di Malaysia kebanyakannya menggunakan data hingga tahun 1990–an saja padahal perekonomian Malaysia mengalami perkembangan yang relatif pesat setelah periode tersebut sehingga evaluasi terhadap permintaan daging sangat perlu dilakukan. Kajian terdahulu hanya sampai pada analisis elastisitas saja tanpa melakukan pengujian signifikansi terhadap elastisitas tersebut secara statistik. Kajian perubahan pola konsumsi mempunyai implikasi kebijakan pertanian tidak hanya di negara bersangkutan tetapi juga negara lain yang bertetangga terutama kaitannya dengan penyediaan barang bersangkutan apalagi dalam kerangka perdagangan bebas Asean yang dimulai pada tahun 2003 ini. Banyak cara analisis dapat dilakukan untuk Jurnal Ekonomi dan Bisnis, Volume 2, Nomor 2, Agustus 2003, halaman 153–172. melihat perubahan pola konsumsi dan permintaan barang termasuk daging. Misalnya, sistem permintaan yang diderivasi dari fungsi utilitas sebagai contoh model sistem pengeluaran linear (Linear Expenditure System – LES) atau sistem pengeluaran linear digeneralisasikan (Generalized Linear Expenditure System – GLES) yang pada umumnya menghasilkan properti elastisitas harga yang agak aneh sehingga bisa menimbulkan kekeliruan dalam analisis. Persoalan tersebut teratasi dengan adanya pendekatan sistem permintaan hampir ideal (Almost Ideal Demand System – AIDS) yang dikemukakn oleh Deaton dan Meullbauer (1980). Model tersebut telah banyak diaplikasikan di negara–negara maju dan juga negara–negara sedang berkembang. Misalnya, Blanciforti dan Green (1983) menerapkannya pada data konsumsi makanan di Amerika, Chesher dan Rees (1987) untuk data survei makanan di Inggris, dan Fulponi (1989) menerapkannya pada data seri waktu pengeluaran di Prancis. Sementara itu, Molina (1994) mengkaji permintaan makanan di Spanyol, Tiffin dan Tiffin (1999) melakukan kajian di Inggris, dan Mergos dan Donatos (1989) melakukan kajian permintaan makanan di Yunani. Moschini (1998) menerapkan model AIDS agak fleksibel di Kanada. Selanjutnya, Balcome dan Davis (1996) menerapkan model tersebut terhadap data konsumsi makanan di Bulgaria dan Cashin (1991) mengkaji permintaan daging di Australia dan permintaan daging di Inggris juga menggunakan model yang sama dilakukan oleh Fousekis dan Revell (2000). Bahkan kajian yang dilakukan oleh Fousekis dan Revell ini lebih mendalam karena mengkaji bentuk kecembungan kurva utilitas yang tergambar dari matriks elastisitas. Model yang digunakan dalam kajian tersebut pun digunakan dalam studi ini terutama pengujian elastisitas dan bentuk kurva utilitas melalui matriks elastisitas. Jurnal Ekonomi dan Bisnis, Volume 2, Nomor 2, Agustus 2003, halaman 153–172. Kajian lainnya yang menggunakan model yang sama di negara–negara berkembang yaitu antara lain oleh Fan et.al. (1994) menggunakan model permintaan dinamik dalam menganalisis permintaan makanan di pedesaan China, Abdulai et.al. (1999) melakukan penelitian tentang makanan di India. Soe et.al. (1994) meneliti tentang permintaan makanan di Myanmar (Burma), Bouis (1996) menerapkan model yang sama terhadap data survei makanan di Pakistan dan Boius (1994) juga menganalisis data konsumsi makanan di negara–negara miskin. Sementara itu, penerapatan model yang sama juga telah dilakukan di Malaysia. Sebagai contoh kajian yang dilakukan oleh Baharumshah dan Mohamed (1993) menganalisis tentang permintaan daging di Malaysia dari tahun 1960 hingga 1990. Namun kajian ini tidak melakukan uji signifikansi elastisitas harga dan pendapatan. Selain itu, kajian kecembungan kurva utiliti juga tidak dilakukan dalam kajian tersebut. Model yang sama juga telah diterapkan oleh Baharumshah (1993) terhadap permintaan daging di Malaysia. Namun, sama halnya dengan penelitian terdahulu hanya aspek estimasi dan spesifikasi yang lebih ditojolkan dalam kajian tersebut. Berdasarkan pada permasalah tersebut maka kajian ini dilakukan dengan lebih mendalam dibandingkan dengan dua kajian terdahulu tentang permintaan daging di Malaysia. Kelebihan kajian ini dibandingkan dengan kajian terdahulu di Malaysia adalah rentang waktu data yang digunkan lebih panjang, analisis elastisitas dilakukan dengan pengujian signifikansi secara statistik dan analisis terhadap bentuk kurva utilitas dalam permintaan daging di Malaysia melalui pengujian matriks elastisitas Marshallian dan Hicksian dengan menggunakan eigenvalue. Jurnal Ekonomi dan Bisnis, Volume 2, Nomor 2, Agustus 2003, halaman 153–172. Metode Penelitian Model Analisis Spesifikasi model yang digunakan dalam penelitian ini adalah model AIDS yang diperkenalkan oleh Deaton dan Meullbauer (1980). Dengan menggunakan Dalil Shepard terhadap fungsi permintaan diperoleh dengan cara penurunan sederhana dari fungsi anggaran dan melakukan beberapa substitusi, maka model AIDS diperoleh di mana model tersebut menyatakan bahwa bagian anggaran yang dialokasikan terhadap barang tertentu dapat dinyatakan dengan: Wi ,t   i    ij log Pj   i log( X / P) untuk semua i,j dan t = 1,..,T. j (1) di mana γij dan βi adalah parameter yang diestimasi, X adalah total pengeluaran terhadap semua barang dalam sistem, dan P adalah indeks harga yang didefinisikan: log P   0   i log Pi  1   ij log Pi Pj 2 i i j (2) Estimasi empiris model AIDS lengkap dilakukan terhadap persamaan (1). Namun, persamaan (2) merupakan persamaan non–linear yang relatif rumit sehingga banyak studi yang menggunakan indeks harga yang lain seperti Ideks Stone yaitu Indeks Harga Geometrik. Indeks harga Stone ini diformulasikan sebagai: log P *  i Wi log Pi (3) Dengan demikian maka persamaan (1) disesuaikan dengan persamaan (3) menjadi: Wi ,t   i    ij log Pj   i log( X / P * ) j (4) Jurnal Ekonomi dan Bisnis, Volume 2, Nomor 2, Agustus 2003, halaman 153–172. Persamaan (4) menggambarkan rata–rata bagian pengeluaran merupakan fungsi dari harga–harga dan pendapatan. Selanjutnya, pembatasan (restrictions) secara teoritis dapat diterapkan dalam persamaan (4). Pembatasan tersebut adalah: Adding–up Homogenitas Simetris Slutsky   i j i  1,     i i i ij 0 (5) (6) (7) ij 0  ij   ji Namun, dalam studi ini hanya hasil pembatasan simetris Slutsky yang ditampilkan pada bagian pembahasan. Selanjutnya, uji homogenitas dan simetris secara individual dilakukan untuk mendapatkan gambaran yang lebih komprehensif, meskipun koefisien estimasinya tidak ditampilkan. Selanjutnya dari persamaan (4) dapat diperoleh elastisitas pendapatan dan elastisitas harga sebagai berikut: Pendapatan Harga (Marshallian) Harga (Hicksian) i  1  i Wi (8)  ii  1   ii  1   ij  ii Wi  i  Wi     (9) (10) (11) (12)  ii Wi Silang (Marshallian)  ij  Silang (Hicksian) W  i  i W Wi  i  ij   ij Wi Wj Pengujian signifikansi semua elastisitas dilakukan dengan menghitung varians dan standard error dari masing–masing elastisitias. Rumus varians tersebut dimodifikasi dari Fousekis dan Revell (2000): Var ( i )  Var (  i ) , W2 Var ( ii )  Var ( ii ) , W2 Jurnal Ekonomi dan Bisnis, Volume 2, Nomor 2, Agustus 2003, halaman 153–172. Var ( ij )   Var (  i ) , W2 Var ( ij ) Var ( ii ) , Var ( ij )  Var ( ii )  W2 W2 Var ( ij ) (13) Estimasi persamaan (4) yang tidak ada pembatasan dapat dilakukan dengan menggunakan metode OLS karena semua variabel bebas di setiap persamaan sama sehingga penggunaan Full Information Maximum Likelihood (FIML) dan Iterative Seemingly Unrelated Regression (SUR) dalam kasus ini sama dengan OLS. Namun, jika dilakukan pembatasan simetris Slutsky atau pembatasan lainnya maka model yang sesuai untuk digunakan adalah FIML dan SUR (Judge et.al., 1985). Data Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder dari tahun 1960 hingga 2000. Data tersebut meliputi data konsumsi per kapita daging lembu, kambing, ayam dan babi dan data dari masing–masing harga daging tersebut (ringgit/kg). Data konsumsi diperoleh dari Division of Veterinary Services (DVS) (beberapa edisi), sedangkan data harga diperoleh dari Federal Agricultural Marketing Authority (FAMA). Selanjutnya, data pendapatan per kapita riil diperoleh dari pembagian GNP riil dengan jumlah penduduk. Pendapatan per kapita riil tersebut menurut harga konstan 1987. Data ini diperoleh data Department of Statisitics, Malaysia. Data harga merupakan indeks harga dengan tahun dasar 1980. Hasil dan Pembahasan Hasil estimasi dengan OLS dalam kasus ini lebih efisien dibandingkan dengan menggunakan SUR karena semua variabel bebas pada setiap persamaan sama dan tidak ada pembatasan tertentu diterapkan dalam estimasi SUR, dalam hal ini hanya hasil OLS Jurnal Ekonomi dan Bisnis, Volume 2, Nomor 2, Agustus 2003, halaman 153–172. saja yang ditampilkan karena antara keduanya mempunyai besaran koefisien yang sama hanya standard error (SE) yang berbeda, di mana SE estimasi OLS jauh lebih kecil dibandingkan dengna SUR. Namun, ditampilkan perbandingan SUR dengan pembatasan simetris seperti terdapat pada Tabel 1. Tabel 1 memperlihatkan bahwa hasil estimasi SUR dengan pembatasan simetris mempunyai nilai SE yang lebih kecil dibandingkan dengan OLS. Koefisien estimasi antara keduanya relatif berbeda sebagai pertanda bahwa pembatasan mempunyai efek perhadap koefisien estimasi. Koefisien harga yang rasional terdapat pada persamaan permintaan daging lembu, sedangkan pada persamaan lainnya tidak rasional. Sebagai contoh pada permintaan ayam, koefisiennya positif dan signifikan. Koendisi ini bisa saja menggambarkan keadaan awal adanya gejala barang inferior. Ayam akan menjadi inferior jika pendapatan terus mengalami peningkatan. Namun, kajian ini perlu dilakukan lagi pada masa yang akan datang sehingga terbukti bahwa ayam mempunyai gejala barang inferior. Selanjutnya dilakukan analisis elastisitas pendapatan dan elastisitas harga pada masing–masing persamaan. Hasil estimasi dan perhitungan koefisien elastisitas pada masing–masing persamaan ditampilkan di Tabel 2. Tabel 2 memperlihatkan bahwa elastisitas harga pada permintaan lembu sangat elastis baik pada elastisitas Marshallian maupun Hicksian. Namun, keduanya tidak signifikan. Pada persamaan ini terdapat elastisitas silang Marshallian antara harga daging babi dan permintaan lembu yang bersifat komplementer padahal sesungguhnya bagi non–muslim hubungannya bersifat substitusi. Ini hanya berlaku pada masyarakat Malaysia yang beragama selain Islam. Pada permintaan ini elastisitas pendapatan positif elastis dan signifikan yang Jurnal Ekonomi dan Bisnis, Volume 2, Nomor 2, Agustus 2003, halaman 153–172. menggambarkan bahwa kenaikan pendapatan akan diiringi oleh kenaikan permintaan terhadap daging lembu. Tabel 1. Perbandingan Hasil Estimasi OLS dan SUR OLS SUR (Pembatasan Simetris) Variabel ____________________________ ___________________________ Koefisien Standard Error Koefisien Standard Error αLembu 0.11620 0.08846 0.12106*) 0.03501 γLembu –0.25114*) 0.11220 –0.19720*) 0.08953 γKambing 0.38720*) 0.12930 0.31465*) 0.10530 γAyam –0.11272 0.07825 –0.06781 0.05829 γBabi –0.03849 0.07844 –0.04964 0.06519 βPendapatan 0.02733 0.05528 0.02512 0.03574 βHarga 0.03377 0.11380 0.01331 0.10630 R2 0.5337 0.5247 DW 1.4749 1.3043 αKambing –1.02960*) 0.20840 –0.62574*) 0.08820 γLembu 0.27901 0.26420 0.31464*) 0.10530 γKambing –0.16200 0.30460 –0.31525 0.24250 γAyam –0.13788 0.18430 –0.08511 0.12170 γBabi 0.32157 0.18480 0.08571 0.15310 βPendapatan –0.41563*) 0.13020 –0.23156*) 0.07378 βHarga –1.36760*) 0.26810 –1.30360*) 0.26950 2 R 0.7245 0.6779 DW 1.5300 1.3476 αAyam 0.82632*) 0.12090 0.76228*) 0.04979 γLembu 0.01193 0.15330 –0.06781 0.05829 γKambing –0.16067 0.17670 –0.08511 0.12170 γAyam 0.35973*) 0.10690 0.29592*) 0.08119 γBabi –0.24097*) 0.10720 –0.14300 0.07916 βPendapatan 0.10932 0.07555 0.08202*) 0.04464 βHarga 0.55631*) 0.15550 0.53545 0.14460 2 R 0.8677 0.8602 DW 1.3768 1.2871 αBabi 1.08710*) 0.14560 0.74240*) 0.05889 γLembu –0.03979 0.18460 –0.04964 0.06519 γKambing –0.06454 0.21280 0.08571 0.15310 γAyam –0.10914 0.12880 –0.14300 0.07916 γBabi –0.04211 0.12910 0.10693 0.11760 βPendapatan 0.27899*) 0.09097 0.12443*) 0.05163 βHarga 0.77754*) 0.1873 0.75486*) 0.19100 2 R 0.5242 0.4205 DW 1.0919 0.8316 *) menandakan signifikan pada tingkat keyakinan 95 persen atau lebih. Jurnal Ekonomi dan Bisnis, Volume 2, Nomor 2, Agustus 2003, halaman 153–172. Tabel 2. Elastisitas Harga dan Pendapatan Jenis Elastisitas Elastitias Pengeluaran Marshallian Hicksian ________________________________________________________________________ 1. Permintaan Terhadap Daging Lembu a. Lembu b. Kambing c. Ayam d. Babi e. Pendapatan 2. Permintaan Terhadap Daging Kambing a. Lembu b. Kambing c. Ayam d. Babi e. Pendapatan 3. Permintaan Terhadap Ayam a. Lembu b. Kambing c. Ayam d. Babi e. Pendapatan 4. Permintaan Terhadap Babi a. Lembu b. Kambing c. Ayam d. Babi e. Pendapatan –2.02273 1.56583 –0.47408 –1.15256*) 1.10831*) –0.93060 –0.02114 –0.14023 –1.99451 2.44506 –0.37219 –0.43088 –0.27035 –0.67131 1.25496*) –0.34245 0.25118 –0.67627 –1.34840*) –1.34840*) 0.18884 0.24254 0.03149 –0.46288*) –0.01058 –0.60918 0.26775 0.04454 –1.09393 –0.72439 0.90815 –0.51148 –1.74310 1.24706 –0.01797 0.45398 *) menandakan signifikan pada tingkat keyakinan 95 persen atau lebih. Elastisitas harga pada permintaan kambing tidak elastis dan tidak signifikan. Selain itu, elastisitas pendapatan positif elastis tetapi tidak signifikan. Selanjutnya pada permintaan ayam, kedua elastisitas harganya tidak elastis dan positif. Elastisitas pendapatan juga signifikan dan positif yang memberi makna bahwa kenaikan pendapatan akan berakibat pada peningkatan permintaan ayam meskipun terjadi kenaikan harga ayam. Elastisitas pendapatan pada persamaan permintaan ayam pada studi ini lebih rendah Jurnal Ekonomi dan Bisnis, Volume 2, Nomor 2, Agustus 2003, halaman 153–172. dibandingkan dengan studi yang dilakukan oleh Baharumshah dan Mohamed (1993). Kondisi ini menggambarkan bahwa adanya gejala penurunan elastisitas pendapatan terhadap permintaan ayam di Malaysia. Persoalan pada ayam ini memerlukan kajian jangka panjang untuk mengetahui apakan permintaan daging ayam mempunyai kecenderungan membentuk barang inferior. Untuk itu perlu penelitian lanjutan tentang permintaan daging ayam ini. Pembuktian suatu barang tersebut inferior atau tidak dapat dilakukan dalam jangka panjang sehingga pergerakan elastisitas pendapatan dapat dianalisis secara komprehensif. Terakhir permintaan terhadap daging babi, di mana kedua elastisitas harganya signifikan. Namun, pada elastisitas Marshallian bersifat elastis sebaliknya pada Hicksian bersifat inelastis. Satu hal yang menarik adalah elastisitas pendapatan yang signifikan dan negatif menandakan bahwa peningkatan pendapatan masyarakat non–muslim Malaysia berakibat pada berkurangnya permintaan daging babi. Kondisi ini mungkin penduduk yang berpendapatan yang lebih tinggi menyadari bahaya yang ditimbulkan daging babi terhadap kesehatan sehingga mereka mengurangi konsumsi daging babi. Hasil perhitungan elastisitas pendapatan terhadap permintaan daging babi pada penelitian Baharumshah dan Mohamed (1993) positif dan elastis. Kajian ini memperlihatkan Pergeseran pola adanya pergeseran yang relatif berarti pada elastisitas pendapatan. konsumsi terjadi sehingga permintaan ayam mengalami peningkatan meskipun harga ayam mengalami peningkatan seperti yang diperlihatkan oleh koefisien harga ayam yang positif. Sebagaimana telah dijelaskan pada bagian terdahulu bahwa dalam kajian ini dilakukan pengujian bentuk kurva utilitas melalui matriks elastisitas Marshallian dan Hicksian. Hasil pengujian matriks elastisitas dengan menggunakan eigenvalue diperoleh Jurnal Ekonomi dan Bisnis, Volume 2, Nomor 2, Agustus 2003, halaman 153–172. nilai untuk elastisitas Marshallian yaitu –0.18793, –0.18793, –1.64338, dan –1.64338 yang menyatakan bahwa matriks tersebut berbentuk quasi–concave seperti pada pernyataan teoritis. Namun, pada matriks elastisitas Hicksian diperoleh nilai–nilai eigenvalue yaitu 0.03906, –0.85932, –0.85932, dan –0.98303. Nilai–nilai ini hampir menyamai bentuk matriks elastisitas Marshallian tetapi ada satu nilai positif namun sudah menuju ke arah nol atau negatif. Dengan demikian matriks elastisitas Hicksian ini juga dapat diasumsikan sesuai dengan pernyataan teoritis yaitu bentuk kurva utilitasnya hampir quasi–concave. Pengujian pembatasan homogenitas dan simetris dilakukan dengan menggunakan uji Wald. Pengujian pembatasan homogenitas dan simetris tersebut dilakukan terhadap masing–masing persamaan. Hasil pengujian pembatasan homogenitas ditampilkan di Tabel 3 sedangkan pengujian simetris disajikan di Tabel 4. Hasil pengujian menunjukkan bahwa semua pembatasan diterima karena nilai statistik χ2 – Wald lebih kecil daripada nilai χ2 tabel (3.84) dengan derajat bebas 1. Dengan demikian hasil ini mendukung pernyataan teoritis. Hubungan antar –daging ini pada umumnya bersifat substitusi kecuali dengan daging babi yang bersifat bebas terutama bagi kaum muslimin. Hubungan ini dibagi dalam dua kelompok yaitu untuk muslim dan non–muslim. Hubungan antar–daging ini disajikan di Tabel 5 dan 6. Bagi kaum muslimin, dari enam hubungan daging hanya dua yang memenuhi persyaratan yaitu hubungan antara kambing dengan babi dan ayam dengan babi yang bersifat bebas. Kedua elastisitas silang daing ini tidak signifikan atau sama dengan nol. Hubungan antar–daging lainnya tidak memenuhi persyaratan sebagai barang substitusi dan bahkan hubungannya lebih bersifat barang bebas, di mana satu dengan lainnya tidak mempunyai hubungan yang berarti. Jurnal Ekonomi dan Bisnis, Volume 2, Nomor 2, Agustus 2003, halaman 153–172. Tabel 3. Pengujian Pembatasan Homogenitas Secara Induvidual Fungsi Statistik Hipotesis Kesimpulan Permintaan χ2 – Wald Nol ________________________________________________________________________ Lembu Kambing Ayam Babi 0.0000628 0.0055292 0.0026655 0.0002320 Homogenitas Homogenitas Homogenitas Homogenitas Terima Ho Terima Ho Terima Ho Terima Ho Catatan: Nilai χ2 tabel dengan derajat bebas 1 adalah 3.84, di mana hipotesis alternatifnya adalah tidak ada pembatasan. Tabel 4. Pengujian Pembatasan Simestris Secara Individual Simetris Statistik Hipotesis Kesimpulan 2 χ – Wald Nol ________________________________________________________________________ PK:1 = PL:2 PA:1 = PL:3 PB:1 = PL:4 PA:2 = PL:3 PB:2 = PK:4 PB:3 = PA:4 0.0004666 0.0009703 0.0000001 0.0000266 0.0076134 0.0016537 Simetris Simetris Simetris Simetris Simetris Simetris Terima Ho Terima Ho Terima Ho Terima Ho Terima Ho Terima Ho Catatan: Nilai χ2 tabel dan hipotesis alternatif sama seperti pada catatan Tabel 3. PL adalah harga lembu, PK adalah harga kambing, PA adalah harga ayam, dan PB adalah harga babi. Sedangkan angka 1,2,3 dan 4 melambangkan fungsi permintaan masing– masing untuk jenis daging lembu, kambing, ayam dan babi. Sementara itu, bagi kaum non–muslim, selain beberapa hubungan yang sesuai pada kelompok muslim mereka mempunyai hubungan yang khusus terutama dengan daging babi. Hubungan antara daging lembu, kambing dan ayam dengan daging babi bisa bersifat substitusi bagi kaum non–muslin, namun hasil estimasi memperlihatkan bahwa tidak satupun hubungan tersebut memenuhi persyaratan teoritis. Bahkan hubungannya Jurnal Ekonomi dan Bisnis, Volume 2, Nomor 2, Agustus 2003, halaman 153–172. bertolak belakang seperti hubungan antara lembu dengan babi yang bersifat substitusi ternyata hasil perhitungan memperlihatkan hubungan yang komplementer. Selanjutnya, hasil perhitungan membuktikan bahwa hubungan antara kambing dan ayam dengan babi bersifat bebas bukan bersifat substitusi. Hasil lengkap ditampilkan di Tabel 5 untuk elastisitas Marshallian dan Tabel 6 untuk elastisitas Hicksian. Tabel 5. Hubungan Antar–jenis Daging dan Elastisitas Marshallian Elastisitas ____________________ Hasil Syarat Bukti ________________________________________________________________________ Kaum Muslimin Jenis Daging Hubungan Lembu Lembu Lembu Kambing Kambing Ayam Non–Muslim Lembu Lembu Lembu Kambing Kambing Ayam Kambing Ayam Babi Ayam Babi Babi Substitusi Substitusi Substitusi Substitusi Substitusi Substitusi >0 >0 >0 >0 >0 >0 0 0 <0 0 0 0 Tidak Terpenuhi Tidak Terpenuhi Tidak Terpenuhi Tidak Terpenuhi Tidak Terpenuhi Tidak Terpenuhi Kambing Ayam Babi Ayam Babi Babi Substitusi Substitusi Bebas Substitusi Bebas Bebas >0 >0 0 >0 0 0 0 0 <0 0 0 0 Tidak Terpenuhi Tidak Terpenuhi Tidak Terpenuhi Tidak Terpenuhi Terpenuhi Terpenuhi Jurnal Ekonomi dan Bisnis, Volume 2, Nomor 2, Agustus 2003, halaman 153–172. Tabel 6. Hubungan Antar–jenis Daging dan Elastisitas Hicksian Elastisitas ____________________ Hasil Syarat Bukti ________________________________________________________________________ Kaum Muslimin Jenis Daging Hubungan Lembu Lembu Lembu Kambing Kambing Ayam Non–Muslim Lembu Lembu Lembu Kambing Kambing Ayam Kambing Ayam Babi Ayam Babi Babi Substitusi Substitusi Substitusi Substitusi Substitusi Substitusi >0 >0 >0 >0 >0 >0 0 0 0 0 0 0 Tidak Terpenuhi Tidak Terpenuhi Tidak Terpenuhi Tidak Terpenuhi Tidak Terpenuhi Tidak Terpenuhi Kambing Ayam Babi Ayam Babi Babi Substitusi Substitusi Bebas Substitusi Bebas Bebas >0 >0 0 >0 0 0 0 0 0 0 0 0 Tidak Terpenuhi Tidak Terpenuhi Terpenuhi Tidak Terpenuhi Terpenuhi Terpenuhi Penutup Estimasi OLS dan SUR tanpa pembatasan menghasilkan koefisien yang sama namun OLS lebih efisien karena SE–nya lebih kecil. Pembatasan pada estimasi SUR berakibat pada perbedaan koefisien estimasi pada semua fungsi permintaan. Ada tiga elastisitas pendapatan yang signifikan mempengaruhi permintaan daging di Malaysia, dan satu di antaranya negatif yaitu pada persamaan permintaan daging babi. Selain itu, hanya elastisitas harga daging babi yang signifikan pada persamaan permintaan daging babi. Elastisitas permintaan ayam bertanda positif tetapi tidak signifikan. Selanjutnya, matriks elastisitas Marshallian dan Hicksian menggambarkan keadaan yang quasi–concave sesuai Jurnal Ekonomi dan Bisnis, Volume 2, Nomor 2, Agustus 2003, halaman 153–172. dengan pernyataan teoritis. semuanya diterima. Sementara itu, pembatasan homogenitas dan simetris Perlu penelitian selanjutnya terutama sekali tentang permintaan ayam untuk membuktikan apakah ada gejala inferioritas pada permintaan ayam. Pada penelitian ini gejala tersebut telah nampak ditandai oleh koefisien harga dan elastisitas harga yang positif, namun belum dapat disimpulkan secara pasti keadaan yang sesungguhnya. Namun, bila dibandingkan dengan koefisien elastisitas pendapatan pada penelitian yang dilakukan oleh Baharumshah dan Mohamed (1993) maka koefisien elastisitas pendapatan pada penelitian tersebut lebih besar yaitu sebesar 1.432 sedangkan pada penelitian ini sebesar 1.25496. Artinya adanya kecenderungan penurunan elastisitas pendapatan sebagai gejala adanya kemungkinan inferioritas pada permintaan ayam di Malaysia. Hubungan antar–berbagai jenis daging dengan menggunakan elastisitas Marshallian dan Hicksian menunjukkan bahwa sebagai memenuhi syarat dan sebagian tidak memenuhi syarat. Sebagian hubungan yang memenuhi syarat tersebut hanya bagi kaum muslimin, sedangkan kaum non–muslim tidak terpenuhi. Referensi Abdulai, A., D.K. Jain, dan A.K. Sharma. 1999. Household food demand analysis in India, Journal of Agricultural Economics, 50(2), 316–327. Baharumshah, A.Z. 1993. Applying the almost ideal demand system to meat expenditure data: Estimation and specification issues, The Malaysian Journal of Agricultural Economics, 10, 23–27. Baharumshah, A.Z., Z. Mohamed. 1993. Demand for meat in Malaysia: An application of the almost ideal demand system analysis, Pertanika, Journal of Social Science and Humanity, 1(1), 91–99. Balcombe, K.G., J.R. Davis. 1996. An application of cointegration theory in the estimation of the almost ideal demand system for food in Bulgaria, Agricultural Economics, 15, 47–60. Jurnal Ekonomi dan Bisnis, Volume 2, Nomor 2, Agustus 2003, halaman 153–172. Blanciforti, L., R. Green. 1983. An almost ideal demand system: A comparison and application to food groups, Agricultural Economics Research, 35, 1–10. Bouis, H.E. 1994. The effect of income on demand for food in poor countries: Are food consumption databases giving us estimates? Journal of Development Economics, 44, 199–226. ………….. 1996. A food demand system based on demand for characteristics: If there is ‘curvature’ in the Slutsky matrix, what do the curves look like and why? Journal of Development Economics, 51, 239–266. Cashin, P. 1991. A model of the disaggregated demand for meat in Australia, Australian Journal of Agricultural Economics, 35(3), 263–283. Chesher, A., H. Rees. 1987. Income elasticities of demands for foods in Great Britain, Journal of Agricultural Economics, 38, 433–448. Deaton, A., J. Muellbauer. 1980. An almost ideal demand system, American Economic Review, 70, 312–326. Fan, S., G. Cramer, and E. Wailes. 1994. Food demand in rural China: Evidence from rural household survey, Agricultural Economics, 11, 61–69. Fousekis, P., B.J. Revell. 2000. Meat demand in the UK: A differential approach, Journal of Agricultural and Applied Economics, 32, 11–19. Fulponi, L. 1989. The almost ideal demand system: An application to food and meat groups for France, Journal of Agricultural Economics, 40, 82–92. Judge, G.C., W.E. Griffiths, C.R. Hill, H. Luthkepohl, and T.C. Lee. 1985. The Theory and Practice of Econometrics, Second Edition, New York: John Wiley and Sons. Mergos, G.J., G.S. Donatos. 1989. Demand for food in Greece: An almost ideal demand system analysis, Journal of Agricultural Economics, 40, 178–184. Molina, J.A. 1994. Food demand in Spain: An application of the almost ideal system, Journal of Agricultural Economics, 45(2), 252–258. Moschini, G. 1998. The semiflexible almost ideal demand system, European Economic Review, 42, 349–364. Soe, T., R.L. Batterham, dan R.G. Drynan. 1994. Demand for food in Myanmar (Burma), Agricultural Economics, 11, 207–217. Tiffin, A., R. Tiffin. 1999. Estimates of food demand elasticities for Great Britain: 1972– 1994, Journal of Agricultural Economics, 50(1), 140–147. Jurnal Ekonomi dan Bisnis, Volume 2, Nomor 2, Agustus 2003, halaman 153–172.

Related docs
Other docs by Aliasuddin N R...
Money and Inflation Relationship
Views: 39  |  Downloads: 1
Interpolation from yearly into quarterly data
Views: 62  |  Downloads: 4
Pertumbuhan Ekonomi dan Pengeluaran Pemerintah
Views: 2257  |  Downloads: 156
Pertamina Masa Depan Indonesia
Views: 366  |  Downloads: 14
Seemingly Unrelated Regression Equation (SURE)
Views: 32  |  Downloads: 1
Rotterdam Meat Demand Model
Views: 9  |  Downloads: 1
Ray Homothetic Production Function
Views: 30  |  Downloads: 1
Money Demand
Views: 18  |  Downloads: 0
Logistic Model
Views: 31  |  Downloads: 0
Bionomic Equilibrium
Views: 21  |  Downloads: 0
Produksi Optimal
Views: 547  |  Downloads: 24
Batas Garis Kemiskinan
Views: 394  |  Downloads: 16
Zakat Piranti Pareto Optimal
Views: 202  |  Downloads: 4
Ketimpangan Pembangunan Aceh
Views: 459  |  Downloads: 48
Permintaan Uang Indonesia Data Bulanan
Views: 908  |  Downloads: 49