Docstoc

Penerapan Model Pembelajaran Penemuan Terbimbing Pada Pokok Bahasan Otot dalam Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas VIII SMPN 5 Kupang

Document Sample
Penerapan Model Pembelajaran Penemuan Terbimbing Pada Pokok Bahasan Otot dalam Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas VIII SMPN 5 Kupang Powered By Docstoc
					                                     BAB 1
                               PENDAHULUAN




A. Latar Belakang
      Fungsi pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam ( IPA ) pada hakekatnya adalah
untuk memberikan pengetahuan tentang lingkungan alam, mengembangkan
pengetahuan wawasan dan kesadaran teknologi yang berkaitan dengan kehidupan
sehari – hari ( Depdikbud, 1994 ).
      Menurut Abruscato (1996) Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dinilai dengan tiga
hal penting,yaitu serangkai proses sistematis untuk mendapatkan informasi tentang
alam semesta, kumpulan pengetahuaan (produk), nilai dan sikap dari kepribadian
seseorang yang memnggunakan proses ilmiah untuk mendapatkan pengetahuan.
      Abruscato (1996) juga mengatakan bahwa tujuan umum yang akan di cipai
pada pembelajaran IPA adalah :(a) tujuan pengembangan anak kerena anak
merupakan pertumbuhan indiwidu serbagai pebelajar dan pematangan pribadi; (b)
dan tujuan sains, teknologi, dan masyarakat merupakan tujuan yang akan membantu
anak menggunakan sains, keterampilan dan sikap yang dimiliki untuj disumbangkan
bagi manusia dan masyarakat luas.
       Tuntutan kurikulum 1994 dalam pembelajaran IPA berorientasi pada
keterampilan proses yang sesuai perkembangan jaman dewasa ini. Pendekatan ini
akan terlaksana dengan baik jika siswa secara aktif terlibat dalam pembelajaran
sehingga dapat memproses pengetahuan dan bersikap ilmiah untuk menemukan
konsep dan masalah.
        Biologi merupakan bagian dari IPA yang mempelajari makhluk hidup dengan
segalah kehidupan, konsep – konsepnya banyak yang berhungan dengankehidupan
sehari – hari baik itu hewan, tumbuhan, manusia atau lingkungan jadi siswa sangat
perlu dikenalkan dan diajak untuk menemukan konsep – konsep IPA.
        Sedangkan menurut Anam (2000) bahwa konsep IPA yang diketahui tidak
sekedar ingatan semata tetapi sesuatu konsep yang disertai alas an yang logis. Hal ini
dapat dilakukan dengan perangkat yang ada disekitar siswa, pengalaman, dan alam

                                        1
sekitar melalui kegisatan proses ilmiah. Pernyataan tersebut lebih memperkuat alas an
kita bahwa tidak sepantasnya apabila Biologi cukup diajarkan hanya dengan sekedar
cerita atau ceramah.
        Kenyatan yang dihadapi disisat sekolah saat ini adalah pokok bahasa yang
digariskan dalam GBPP tidak diajarkan dengan keterampilan proses. Kebanyakan
pembelajaran IPA bidang biologi masih dipusat pada Guru yang aktif menyampaikan
materi pelajara, sedangkan siswa kebanyakan sebagai pendengar. Siswa hanya tahu
tentang konsep – konsep IPA dengan cara sekedar menghafal tampa harus berpikir
tentang bagai muncul konsep IPA tersebutr. Akibatnya siswa beranggapan bahwa
pelajaran biologi adalah pelajaran hafalanyang membosankan dan tidak menarik.
Sebagian besar guru beranggapan bahwa pelajaran yang melibatkan siswa secara aktif
akan minyita waktu sehingga target kurikulum tidak tercapai. Pada hal keterlibatan
siswa secara aktif dalam proses pembelajaran dapat meningkatkan motivasi siswea
untuk belajar.
         Berdasarkan pengamatan penulis disaat PPL di SMPN 5 kupang tampak
guru biologi dalam kegiatan belajar mengajar masih banyak menerapkan pola lama,
dimana dalam kegiatan belajar mengajar (KBM) siswa hanya sebagai pendengar pasif
dengan penggunaan metode ceramah oleh guru dalam KBM. Dan guru hanya diberi
konsep yang telah ada dalam buku paket diberi kesempatan untuk terlibat dalam
penemuan konsep tersebut. Akibatnya siswa tidak menggunakan konsep – konsep
IPA untuk menjelaskan dan menyelesaikan masalah – masalah yang dihadapi di
lingkungan.
          Dalam rangkah m,ewujudkan suatu pola pembelajaran yang mengaktifkan
siswa dan berpedoman pada fungsi dan pentingnya pembelajaran IPA, guru perlu
memiliki kemampau untuk menemukan konsep dan prinsip agar pebelajar dapat
terlibat secara aktif dalam pembelajaran. Ini berarti guru perlu mencari model
pembelajran dan berusaha menerapakan dikelas             yang dapat     memperbaiki
pembelajaran biologi. Pembelajaran yang baik harus mempunyai perangkat
pembelajaran menyediakan berbagai kegiatan yang memungkinkan siswa untuk
membentuk pengetahuan sendiri,mendekatkan siswa dengan lingkungan dan
meningkatkan keterlibatan siswa dalam belajar demi tercapai tujuan pembelajaran,

                                        2
fungsi dan pentingnya pembelajaran IPA. Untuk mencapai tujuan ini maka, salah satu
model pembeklajaran yang sesuai dengan tuntutan ini adalah model pembelajaran
penemuan terbimbing. Model pembelajaran penemuan terbimbing memeberikan
harapan untuk memecahkan masalah tersebut.
          Menurut Nur (2000) model pembelajaran penemuan terbimbing memiliki
keunggulan antara lain : (a) memacuh keinginan siswa, (b) memotifasi belajar untuk
melanjutkan pekerjaan hingga siswa menemukan jawabannya,(c) memecahkan
masalah – masalah secara sendiri dan keterampilan berpikir kritis.
          Berdasarkan hasil penelitian Syamsudin (2001) dan Haryono (2002)
penerapan perangkat pembelajran yang berorientasi pada model pembelajaran
penemuan terbimbing dapat meningkatkan kualotas pembelajaran ilmu pengetahuan
alam di sekolah (SD) dan fisika di SLTP dengan indicator kemampuan guru dalam
mengolah pembelajaran aktivitas guru dan siswa ketuntasan belajar dan serta minat
dan memotivasi siswa dalam belajar.
          Model pembelajaran penemuan terbimbing berdasarkan pada teori belajar
kontruktivitis yaitu siswa dalam memecahkan masalah, meningkatkan keterampilan
berpikir siswa dengan menggunakan proses mental yang lebih tinggi. Dalam model
pembelajaran penemuan terbimbing ini peran guru adalah mendorong siswa untuk
memiliki pengalaman dan melakukan percobaan yang memungkinkan, sehingga
siswa menemukan prinsip – prinsip untuk mereka sendiri dalam rangka mencapai
hasil pembelajran yang lebih bermakna (Nur, 2000).
          Dalam pemikiran ini, konsep di pilih adalah Otot. Konsep Otot dipelajari di
kelas 11 semester I yang meliputi oto polos,otot lurik dan otot jantung. Untuk
menemkan konsep otot, siswa tidak dapat cukup hanya mendengar ceramah dari guru.
Namun siswa diberi kesempatan untuk terlibat secara langsung dalam penemuan
konsep dengan bimbingan guru baik pengamatan sel – sel dengan mikroskop atau
pengamatan terhadap charta atau gambar sel – sel otot. Untuk itulah model
pembelajaran yang paling tepat adalah penemuan terbimbing.
          Berpedoman pada uraian di atas maka penelis bermoti vasi untuk penelitian
dengan judul “ Penerapan Model Pembelajaran Penemuan Terbimbing Pada



                                        3
   Pokok Bahasan Otot Dalam meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas VIII
   SMPN 5 Kupang ”


   B. Rumusan Masalah.
           Masalah yang dirumuskan dalam penelitian ini adalah : Apakah penerapan
   pembelajaran penemuan terbimbing pokok bahasan otot dapat meningkatkan hasil
   belajar siswa kelas VIII SMPN 5 Kupang??


   C. Tujuan Penelitian
           Sesuai dengan masalah yang merumuskan di atas, maka penelitian ini
bertujuan sebagai berikut:
   1. Untuk mengetahui kemampuan guru dalam mengolah pembelajran dengan
       menggunakan model pembejaran penemuan terbimbing pada pokok bahyasan
       otot.
   2. Untuk mengetahui aktivitas siswa selama proses belajar dengan menggunakan
       model pembelajaran penemuan terbimbing.
   3. Untuk mengetahui hasil belajar siswa bila pembelajran dengan model
       pembelajaran penemuan terbimbing.




   D. Manfaat Penelitian.
          Manfaat yang diharapkan dalam penelitian ini adalah :
   1. Mengetahui      kemampuan     guru   dalam    mengelola     pembelajaran   dengan
       menggunakan model pembelajaran penemuan terbimbing.
   2. Mengetahui aktivitas siswa didalam pembelajran dengan menggunakan model
       pembelajaranpenemuan terbimbing.
   3. Mengetahui hasil belajar siswa didalam pembelajaran dengan menggunakan
       model pembelajran peneemuan terbimbing.




                                           4
E. Ruang Lingkup Penelitian.
       Yang menjadi ruang lingkup penelitian ini adalah :
1. Subjek penelitian in I adalah siswa kelas VIII SMPN 5 Kupang Tahun ajaran
   2010 / 2011.
2. Pokok bahasan yang di gunakan adalah Otot.
3. Rencana Pembelajaran (RP) terdiri atas tiga kali dengan waktu 2 x 45 menit tiap
   pertemuan


F. Penjelasan Istilah
      Untuk mempermudahlan pemahaman istilah – istilah yang di gunakan dalam
penelitian ini adalah :
1. Model pembelajaran adalah suatu perangkat konseptual yang menggambarkan
   prosedur yang sisstematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk
   mencapai tujuan belajar tertentu yang berfungsi sebagai pedoman perancang
   pembelajaran dan para pengajar dalam melaksanakan kegiatan pembelajran serta
   hasil belajar siswa ( Arends, 1997 ).
2. Pembeljaran dengan model pembelajaran terbimbing adalah serangkaian kegiatan
   yang dilakukan oleh guru dan siswa, siswa mwlakukan kegiatan penyelidikan
   menemukan konsep dan penerapan konsep dibawah bimbingan guru, mengikuti
   scenario rencana belajar (RP) yang di rancang sesuai dengan model pembelajaran.




                                           5
                                         BAB II
                               TINJAUAN PUSTAKA


A. Tujuan Pembelajaran IPA
        IPA merupakn kumpulan pengetahuan yang sistematis yang dalam
penggunaannya terbatas pada gejala alam (Carin,1993). Pada umumnya sekolah
menengah pertama (SMP) pelajaran IPA terdiri dari fisika,dan biologi. IPA adalah
hasil kegiatan manusia sepewrti pengetahuan gagasan dan konsep tentang alam
sekitar yang dapat diperoleh melalui serangkai prose ilmiah (Depdikbud,1994).
        Biologi   merupakan      salah   satu     cabang   IPA   yang    memfokuskan
pembahasannya pada masalah – masalah biologi dalam sekitar melalui proses dan
sikapilmiah. Dalam pembelajaran biologi perlu di temukan bahwa untuk
mendapatkan produk ilmiah perlu dilatihkan proses ilmiahn. Dalam rangka mencapai
tujuan ini siswa harus terlibat aktif, baik secara fisik maupun mental,dalam rangka
mengamati, mengkomunikasikan, mengklasifikasikan, penarikan reverensi dan
peramal, sehingga hasil belajar siswa akan lebih bermajna. Pada akhirnya biologi
benar – benar menjadi bagian dari kehidupan kita, baik dari teoritis maupun praktis.


B. Pembelajaran Biologi Pokok Bahasan Otot
        Otot merupakan alat gerak aktif. Otot tersusun atas sel – sel oto yang
membentuk serabut. Kumpulan serabut otot membentuk berkas otot. Berkas otot
bergabung menjadi otot ( daging ).
         Tubuh manusia tersusun oleh tiga macam otot yaiyu otot polos, otot lurik,
otot jantung. Otot polos berbentuk gelendong, berinti satu, dan bekerja di
luarkesadran kita. Otot polos terdapat pada alat – alat dalam misalnya pada saluran
pencernaan dan pembuluh darah. Otot lurik berbentuk serabut terdiri atas bagian
gelap dan terang, dan bekerja atas kersadaran kita. Oto lurik diswebut juga otot
rangkah kerena melekat pada rangka. Pada otot terdapat tendon. Tendon yang
melekat pada tulang yang bergerak dfisebut Insersi, sedangkan tedon yang melekat
pada tulang yang tidak bergerak disebut Origo. Otot jantung merupakan otot istimewa
karena mempunyai struktur seperti otot lurik tetapi bekerja seperti otot polos.

                                          6
         Otot berkontrasi setelah mendapat rangsangtan dari saraf. Cirri otot yang
sedang berkontrasi adalah membesar, memendek, dan mengeras. Cirri – ciri otot
yang relaksasi adalah mengecil, memanjang, dan melunak.
         Otot bisep dan otot trisep pada lengan atas bekerja saling berlawanan
(antagonis). Otot pronator pada lengan bawah bekrja sama ( sinergis). Bergeraknya
suatu bagian tubuh bekrja otot tulang dan sendi (Sumarwan, 2004 ).


C. Teori - Teori yang Mendukung Pembelajaran dengan Model Pembelajaran
   Penemuan Terbimbing.
    1. Teori Perkembangan Kognitif Piaget.
          Menurut piaget ( dalam Nur , 1998 ) perkembangan kognitif sebagian
       besar bergantung pada seberapa jauh anak aktif memanipulasi dan aktifr
       berinteraksi dengan lingkungan. Dari pernyatan tersebut dapat diperjelas
       bahwa lingkungan belajr maupun tempat tinggal anak sangat menentukan
       proses perkembangan kognitif ANAK.jika lingkuingan anak maupun tempat
       tinggal Anak merupakan lingkungan yang aktif, penuh kompetensi, sehat
       dalam menguasai suatu konsepatau memecahkan masalah, maka kognitif
       anak berpola untuk mampu menguasai konsep dan memecahkan suatu
       masalah dengan cepat. Kemudian Slavin (1997) mengatakan bahwa dalam
       pelaksanaan proses pembelajaran di SLTP perlu memperhatikan (a)
       memusatkan perhatian kepada berpikir atau proses mental anak dan tidak
       sekedar kepada hasilnya. (b) mengutamakan peran siswa dalam berinisiatif
       sendiri dan keterlibatan siswa dalam kegiatan pembelajaran, (c) memaklumim
       bahwa ada perbedaan individual dalam kemajuan perkembangan. Jadi guru
       harus memandang siswa sebagai individu yang berbeda bukan di pandang
       sebagai kelas yang utuh. Dukungan teori Piaget dalam model pembelajaran
       penemuan terbimbing adalah perkembangan kognitif siswa sebagai suatu
       kerangkah mental yang di latih dan dibimbing untuk membangun pemahaman
       mereka sendiri dan menyelesaikan masalah sendiri.


    2. Teori Perkembangan Mental Vygotsky.

                                       7
      Vygotsky ( dalam Slavin, 1997 ) mengatakan bahwa ada dua implikasi
   utama yang perlu diperhatikan oleh guru yaitu (a) perlu tantana kelas dan
   bentuk pembelajaran kooperatif antar siswa, sehingga dapat berorientasi di
   sekitar tugas – tugas yang sulit dan saling memunculkan strategi – strategi
   pemecahan masalah yang efektif di dalam masing - masing zona
   perkembangan terdekat mereka. (b) pendekatan Vygotsky dalam pengajaran
   menemukan scanffolding. Implikasi dari teori Vygostky dalam pembelajaran
   dengan model penemuan terbimbing adalah suasana kelas harus dalam
   keadaan kooperatif untuk memungkinkan terjadinya interaksi antar siswa dan
   interaksi masalah sehingga dapat memunculkan strategi pemecahan masalah
   yang efektif.


3. Teori Belajar Bruner.
      Bruner ( dalam Slavin, 1997 ) memperkenalkan model pembelajaran
   penemuan terbimbing yang mendorong siswa untuk memecahklan prinsip –
   prtinsip bagi dirinya sendiri. Kemudian Bruner ( dalam Syamsudin, 2001 )
   bahwa pembelajaran dengan model pembelajaran penemuan terbimbing dapat
   membantu siswa mengkontruksi pengetahuan melalui pengalaman langsung
   siswa dapat mempelajari konsep yang dibimbing oleh guru, dan guru perlu
   mendorong anak untuk mendapatkan pengalaman dan melakukan eksperimen
   yang memungkinkan mereka untuk menemukan prinsip – prinsip bagi diri
   mereka sendiri.


4. Prinsip – Prinsip Belajar Kontruktivis.
      Menurut Abruscato ( 1996 ) mengatakan bahwa prinsip teori kontruktivitis
   dalam pembelajran adalah siswa dianjurkan untuk berperan aktif dalam
   pembelajaran. Mereka tidak hanya sekedar menerima informasi yang
   disampaikan guru, tetapi harus aktif dalam KBM di sekolah. Kontruktivisme
   menekankan peran aktif siswa dalam membangun pemahaman mereka
   tentang fakta, konsep, dan prinsip tersebut bukan memberi ceramah atau
   mengendalikan seluruh kegiatan kelas.

                                  8
D. Kegiatan Pembelajaran IPA dengan Model Pembelajaran Penemuan
   Terbimbing.
        Home ( 1993 ) menyatakan bahwa kegiatan pembelajaran dengan model
pembelajaran penemuan terbimbing tidak sepenuhnya diserahkan kepada siswa
namun guru masihy tetap ambil bagian sebagai pembimbing. Kemudian Ibrahim (
2000 ) bahwa dalam pembelajaran dengan model pembelajaran penemuan terbimbing
didasarkan pada pertanyaan – pertanyaan bersadarkan disiplin dan penyelidikan siswa
berlangsung dibawah bimbingan guru.
        Model pembelajaran penemuan terbimbing berdasarkan pandangan kognotif
tentang pembelajaran dan prinsip – prinsip kontruktivis, dimana siswa dilatih dan
didorong untuk dapat belajar secaramendiri ( Nur, 2000 ).




E. Dasar Pemikiran.
   Tujuan pembelajaran IPA mencakup aspek yang bersifat pemahaman konsep,
keterampilan proses, sikap ilmiah, penerapan berbagai konsep untuk menjelaskan
gejalah – gejalah alam dan memecahkan masalah dalam kehidupan sehari – hari rasa
cinta terhadap alam semesta.
   Sesuai dengan pandangan kontruktivis siswa harus menemukan dan dapat
mentransformasikan sendiri informasi kompleks dfari lingkungan sekitar jika siswa
tersebut menginginkan informasi itu menjadi miliknya sendiri. Keterampilan yang
dikuasai harus benar – benar dilatihakn pada siswa dalam kegiatan pembelajaran.
Untuk itu diperlukan persiapan yang matang dan ketersediaan perangkat
pembelajaran yang dapat mengarahkan keterlibatan siswa secara aktif dalam KBM.
   Otot merupakan salah satu poko bahasan yang dipelajari di ke;as VIII semester I.
fakta – fakta yang berhungan dengan otot dapat diamatio oleh siswa dengan
menggunakan mikroskop atau charta serta gambar sel otot polos, otot lurik, otot
jantung, oleh sebab itu pembelajaran akan lebih bermaknah. Siswa SMP Kelas VIII
berumur sekitar 12 tahun, maka dalam KBM masih perlu bimbingan guru.



                                        9
Berpedoman pada uraian ini, maka model pembelajaran penemuan terbimbing sangat
cocok untuk diterapkan dalam pembelajari otot.
   Kegiatan pembelajaran dengan model pembelajaran penemuan terbimbing
menekankan pada pengalaman belajar langsung melalui kegiatan penyelidikan,
menekan konsep kemudian menerapkan konsep yang diperoleh dalam kehidupan
sehari – hari. Tugas guru adalah membimbing siswa melakukan kegiatan
penyelidikan untuk menemukan konsep. Salah satu bentuk bimbingan guru dalam
kegiatan pembelajaran berupaa Lembar Kegiatan Siswa (LKS).
   Dengan model pembelajaran penemuan terbimbing yang diterapkan dikelas
diharapkan agar menambah wawasan guru tentang model pembelajaran yang dapat
meningkatkan hasil belajar siswa.




                                      10
                                       BAB III
                              METODE PENELITIAN


A. Lokasi dan Waktu Penelitian.


   1. Lokasi penelitian : SMPN 5 Kupang
   2. Waktu penelitian : Bulan Februari 2011


B. Subyek Penelitian.


    Yang menjadi subyek penelitian ini adalah siswa kelas VIII SMPN 5 Kupang Tahun
Ajaran 2011 / 2012.


C. Defenisi Operasi Variabel
    Dalam penelitian terdapat beberapa defenisi operasional kerakteristik yang diamati
antara lain :
   1. Kemampuan guru dalam mengelola dalam pembelajran adalah skor yang
       diperoleh dalam mengelola KBM dengan pembelajran penemuan terbimbing.
   2. Aktivitas siswa selama KBM dengan model pembelajaran terbimbing adalah
       sejumlah keterlibatan siswa selama KBM berlangsung yang mencerminkan
       pengelolaan pembelajran model penemuan terbimbing yang dim ukur dengan
       lembar pengamatan siswa dalam menjawab / mengerjakan LKS.
   3. Hasil belajar siswa dengan menggunakan model pembelajran penemuan
       terbimbing adalah ketuntasan belajar siswa diukur dengan menggunakan tes hasil
       belajar produk dan proses.


D. Perangkat yang Digunakan.
    Perangkat yang digunakan meliputi bahan ajar siswa (BAS), rencana pembelajaran
(RP), lembar kegiatan siswa (LKS), tes hasil belajar (THB) produk.




                                          11
E. Instrumen Penelitian.
   Instrument penelitian yang digunakan adalah :
  1. Lembaran pengamatan pengelolaan pembelajaran dengan model pembelajaran
     penemuan terbimbing.
  2. Lembaran pengamatan aktivitas siswa.
  3. Tes hasil belajar produk.




F. Teknik Pengumpulan Data.
   Teknik yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini adalah :
  1. observasi digunakan untuk menjaring data penelitian dengan menggunakan
     lembar pengamatan.
  2. tes digunakan untuk mengetahui ketuntasan indicator dan ketuntasan hasil belajar
     siswa.


G. Teknik Analisis Data.
  1. Analisis Data Hasil Pengamatan Kelas.
            Aktivitas      guru   dalam   mengelola   pembelajaran     dianalisis   dengan
      menghitung rata – rata skor penilai dari orang pengamat untuk untuk masing –
      masing langka kegiatan pembelajaran. Selanjutkan, menurut Borich (1995, dalam
      Djalo, 2004), nilai rata – rata tersebut dikonversikan kriteria sebagai berikut:
            1,00 – 1,49       = kurang baik
            1,50 – 2, 49      = cukup baik
            2,50 – 3,49       = baik
            3,50 – 4,00       = sangat baik
            Aktivitas siswa dianalisis dengan menghitung prosentase (% ) masing –
      masing aktivitas yang muncul selama kegiatan pembelajaran. Prosentase aktivitas
      siswa yaitu frekuensi rata – rata setiap aspek pengamatan dikali 100 %.
            Selama kegiatan pangamatan, kedua pengamat diasumsikan berlaku
      seobyektif mungkin dalam pemberian penelian terhadap semua aspek yang
      berkaitan dengan kegiatan pembelajaran.

                                              12
         Hasil analisis terhadap aktivitas guru dalam mengelola pembelajaran dan
   aktivitas siswa digunakan untuk menguji realibilitas instrument. Menurut Borich
   (1995) dalam Djalo (2004), rumus yang digunakan untuk menghitung reliabilitas
   adalah:


             Procentage of agreement = (           ) x 100%



   Keterangan : A = jumlah nilai tertinggi
                    B = jumlah nilai terendah
   Intrumen dikatan baik jika mempunyai koefisien reliabilitas lebih besar sama
   dengan 0,75 ( 75 %) ( Borich, 1995 dalam Djalo (2004).


2. Anlisis Data Hasil Tes.
             Data hasil teknik belajar (THB ) produk pada uji awal dan uji akhir
   digunakan untuk menguji validitas butir soal, yang diperoleh dengan
   menghitungproporsi dan sensitivitas tiap butir soal, untuk menghitung sejauh
   mana tiap butir soal mampu mengukur efek pembelajaran. Proporsi butir soal
   adalah jumlah skor tiap butir soal dalam kelas dibagi jumlah skor maksimum.
             Menurut Kardi (2002) untuk menghitung sensitivitas butir soal digunakan
   rumus :

                    S=


   Keterangan : S             = sensitivitas butir soal
                    Bss       = jumlah siswa yang dapat menjawab dengan           benar
                              sesudah berlangsungannya KBM.
                    Bsb       = jumlah siswa yang dapat menjawab dengan benar
                              sebelum berlangsungnya KBM.


             Butir soal dikatakan sensitive bila butir soal tersebut berharga 0,00 < S <
   1,00 menunjukan criteria soal yang dapat digunakn. Nilai positif dari S yang

                                           13
semakin besar menunjukan bahwa kepekaan butir soal terhadap efek – efek
pembelajaran juga semakin besar. Butir soal yang mempunyai sensitivitas lebih
besar sam dengan dari 0,30 maka butir soal tersebut peka terhadap efek – efek
pembelajaran, menurut Aiken ( dalam Djalo, 2004 ).
       Hasil tes pada uji akhir juga untuk mengetahui ketuntasan belajar siswa
dan kelas. Sebagai standar ketuntasan belajar siswa digunakan ketentuan dari
kurikulum 2004, dimana siswa dikatan ketuntasan belajar bila telah memperoleh
skor 75 % atau nilai 7,5, sedangkan kelas disebut tuntas belajarnya jika dikelas
tersebut terdapat 75 % siswa telah tuntas belajarnya.




                                    14
                                DAFTAR PUSTAKA


Abruscato, 1996. Teaching Children Sctence. 4th Ed Massachussets; Allyan and Bacon


Anan, 2000. Kebijaksanaan Depdiknas dan Mutu Pendidikan. Makalah Disajikan Pada
                Seminar dan Lokakarya di FMIPA, Surabaya : Uneca


Arends, 1997. Cllasrom Instruction and Management. New York :Mc Grawhill Company


Carin, 1993. Guide Discovery Activities For Elementary School Sciens. 3th Ed. New York
                : Meril An In Print of Macmillan Pubishing Company


Depdiknas, 1994. Petunjuk Teknis Mata Pelajaran Biologi. Jakarta : Depdikbud


Djalo, 2004. Penerapan Strategi Belajar Peta konsep Dengan Model Pembelajaran
                Langsung Untuk Menuntaskan Hasil Belajar Siswa Biologi Pokok
                Bahasan Rangka Di SLTP N 13 Lobalain Rote Andao – NTT. Tesis
                Magister Pendidikan. Surabaya : Unesa


Haryono, 2002. Peningkatan Kualitas Pembelajaran Fisika SLTP Berdasarkan Model
                Pembelajaran Penemuan Terbimbing. Tesis Magister          Pendidikan.
                Surabaya : Unesa


Howe, 1993. Enggaging Children In Sciens. New York : Macmillan Publishing Company


Ibrahin, 2000. Pembelajaran Berdasarkan Masalah. Surabaya : Unesa


Kardi, 2002. Mengebangkan Tes Hasil Belajar. Surabaya : Unesa


Nur, 1998. Teori – Teori Perkembangan. Surabaya : IKIP Surabaya



                                         15
Nur, 2000. Pengajaran Berpusat Kepada Siswa Dan Pendekatan Kontruktivis Dalam
                Pengajaran. Surabaya : Unesa
Slavin, 1997. Educational Psychology Theory And Practice. 4th Ed Massachutssets :
                Allyn and Bacon Publishers


Sumarwan, 2004. Sains Biologi Untuk SMP Kelas VIII. Jakrta : Erlangga


Supriyani, 2003. Pengembangan Perangkat Pembelajaran Berdasarkan Model
                Pembelajaran Penemuan Terbimbing Pada Pokok Bahasan Fungsi Alat
                Tubuh Tumbuhan Di SLTP. Makalah Komprehensif. Surabaya : Unesa


Syamsudin, 2001. Pengembangan Perangkatn Pembelajaran Berotientasi Pada Model
                Pembelajaran Penemuan Trebimbing Untuk Meningkatkan Kualitas
                Pembelajaran IPA SD Pada Pokok Bahasan Humbungan Antara
                Makluk Hidup. Tesis Magister Pendidikan. Surabaya : Unesas




                                         16

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:2113
posted:4/27/2011
language:Malay
pages:16
Yandris Keo Yandris Keo
About