Teori Pembelajaran Menurut Paham Kontruktivisme by JerryMakawimbang

VIEWS: 369 PAGES: 15

									    Teori Belajar Konstruktivisme

                          A.    Hakikat Anak Menurut Pandangan Teori

                          Belajar Kognitif Piaget

                               Salah satu teori atau pandangan yang

                          sangat terkenal berkaitan dengan teori belajar

                          konstruktivisme   adalah   teori   perkembangan

                          mental Piaget. Teori ini biasa juga disebut teori

  perkembangan intelektual atau teori perkembangan kognitif. Teori belajar

  tersebut berkenaan dengan kesiapan anak untuk belajar, yang dikemas

  dalam tahap perkembangan intelektual dari lahir hingga dewasa. Setiap

  tahap perkembangan intelektual yang dimaksud dilengkapi dengan ciri-ciri

  tertentu dalam mengkonstruksi ilmu pengetahuan. Misalnya, pada tahap

  sensori motor anak berpikir melalui gerakan atau perbuatan (Ruseffendi,

  1988: 132).

      Piaget yang dikenal sebagai konstruktivis pertama (Dahar, 1989:

  159) menegaskan bahwa pengetahuan tersebut dibangun dalam pikiran

  anak melalui asimilasi dan akomodasi. Asimilasi adalah penyerapan

  informasi baru dalam pikiran. Sedangkan, akomodasi adalah menyusun

  kembali struktur pikiran karena adanya informasi baru, sehingga informasi

  tersebut mempunyai tempat (Ruseffendi 1988: 133). Pengertian tentang

  akomodasi yang lain adalah proses mental yang meliputi pembentukan

  skema baru yang cocok dengan ransangan baru atau memodifikasi




Teori Belajar Kontruktivisme | 27 April 2010                                  1
  skema yang sudah ada sehingga cocok dengan rangsangan itu (Suparno,

  1996: 7).

      Lebih jauh Piaget mengemukakan bahwa pengetahuan tidak

  diperoleh secara pasif oleh seseorang, melainkan melalui tindakan.

  Bahkan, perkembangan kognitif anak bergantung pada seberapa jauh

  mereka aktif memanipulasi dan berinteraksi dengan lingkungannya.

  Sedangkan, perkembangan kognitif itu sendiri merupakan proses

  berkesinambungan tentang keadaan ketidak-seimbangan dan keadaan

  keseimbangan (Poedjiadi, 1999: 61). Dari pandangan Piaget tentang

  tahap perkembangan kognitif anak dapat dipahami bahwa pada tahap

  tertentu cara maupun kemampuan anak mengkonstruksi ilmu berbeda-

  beda berdasarkan kematangan intelektual anak.

      Berkaitan   dengan   anak      dan   lingkungan   belajarnya   menurut

  pandangan konstruktivisme, Driver dan Bell (dalam Susan, Marilyn dan

  Tony, 1995: 222) mengajukan karakteristik sebagai berikut :

  (1) siswa tidak dipandang sebagai sesuatu yang pasif melainkan memiliki

     tujuan

  (2) belajar mempertimbangkan seoptimal mungkin proses keterlibatan

     siswa,

  (3) pengetahuan bukan sesuatu yang datang dari luar melainkan

     dikonstruksi secara personal,

  (4) pembelajaran bukanlah transmisi pengetahuan, melainkan melibatkan

     pengaturan situasi kelas,




Teori Belajar Kontruktivisme | 27 April 2010                                   2
  (5) kurikulum bukanlah sekedar dipelajari, melainkan seperangkat

     pembelajaran, materi, dan sumber.

      Pandangan tentang anak dari kalangan konstruktivistik yang lebih

  mutakhir yang dikembangkan dari teori belajar kognitif Piaget menyatakan

  bahwa ilmu pengetahuan dibangun dalam pikiran seorang anak dengan

  kegiatan asimilasi dan akomodasi sesuai dengan skemata yang

  dimilikinya. Belajar merupakan proses aktif untuk mengembangkan

  skemata sehingga pengetahuan terkait bagaikan jaring laba-laba dan

  bukan sekedar tersusun secara hirarkis (Hudoyo, 1998: 5). Dari

  pengertian di atas, dapat dipahami bahwa belajar adalah suatu aktivitas

  yang berlangsung secara interaktif antara faktor intern pada diri pebelajar

  dengan faktor ekstern atau lingkungan, sehingga melahirkan perubahan

  tingkah laku.

      Berikut adalah tiga dalil pokok Piaget dalam kaitannya dengan tahap

  perkembangan intelektual atau tahap perkembangan kognitif atau biasa

  juga disebut tahap perkembagan mental. Ruseffendi (1988: 133)

  mengemukakan ;

  (1) perkembangan intelektual terjadi melalui tahap-tahap beruntun yang

     selalu terjadi dengan urutan yang sama. Maksudnya, setiap manusia

     akan mengalami urutan-urutan tersebut dan dengan urutan yang

     sama,

  (2) tahap-tahap tersebut didefinisikan sebagai suatu cluster dari operasi

     mental       (pengurutan,   pengekalan,   pengelompokan,    pembuatan




Teori Belajar Kontruktivisme | 27 April 2010                                    3
      hipotesis dan penarikan kesimpulan) yang menunjukkan adanya

      tingkah laku intelektual dan

  (3) gerak melalui tahap-tahap tersebut dilengkapi oleh keseimbangan

      (equilibration), proses pengembangan yang menguraikan tentang

      interaksi antara pengalaman (asimilasi) dan struktur kognitif yang

      timbul (akomodasi).

B. Prinsip Dasar Teori Piaget

   Teori Piaget dikenal dgn teori perkembangan intelektual yang

      menyeluruh     yang mencerminkan adanya kekuatan antara fungsi

      biologi & psikologis.

   Piaget menerangkan inteligensi itu sendiri sebagai adaptasi biologi

      terhadap lingkungan. cth: manusia tdk mempunyai mantel berbulu

      lembut untuk melindunginya dari dingin; manusia tidak mempunyai

      kecepatan untuk lari dari hewan pemangsa; manusia juga tidak

      mempunyai keahlian dalam memanjat pohon.

      Tapi manusia memiliki kepandaian untuk memproduksi pakaian dan

  kendaraan untuk transportasi. Menurut Piaget (1983), inteligensi dapat

  dilihat dari 3 perspektif berbeda:

   1. Isi

            Merupakan materi kasar karena Piaget kurang tertarik pada apa

      yang anak-anak ketahui, tapi lebih tertarik dengan apa yang

      mendasari proses berpikir, karena Piaget melihat “isi” kurang penting

      dibanding dengan struktur & fungsinya. Bila isi adalah “apa” dari




Teori Belajar Kontruktivisme | 27 April 2010                                  4
     inteligensi, sedangkan “bagaimana” & “mengapa” ditentukan oleh

     kognitif atau intelektual.

  2. Struktur

          Struktur kognitif merupakan mental framework yang dibangun

     seseorang     dengan     mengambil    informasi   dari   lingkungan    dan

     menginterpretasikannya,              mereorganisasikannya             serta

     mentransformasikannya (Flavell, Miller & Miller, 1993). Piaget tidak

     melihat struktur kognitif sebagai mekanisme biologis lahiriah, juga

     tidak percaya bahwa anak-anak memasuki dunia dgn “piranti dasar”

     untuk memahami realita. TETAPI anak-anak secara perlahan dan

     bertahap mereka membangun cara pandang mereka sendiri terhadap

     realita.

   3. Fungsi

     Suatu proses dimana struktur kognitif dibangun. Semua organisme

     hidup yang berinteraksi dengan lingkungan mempunyai fungsi melalui

     proses adaptasi.

      Perkembangan kognitif merupakan pertumbuhan logika berpikir dari

  bayi sampai dewasa. Piaget memiliki asumsi dasar kecerdasan manusia

  dan biologi organisme berfungsi dengan cara yang sama. Keduanya

  adalah sistem terorganisasi yang secara konstan berinteraksi dengan

  lingkungan. Outcome dari perkembangan kognitif adalah konstruksi dari

  schema kegiatan, operasi konkret dan operasi formal.




Teori Belajar Kontruktivisme | 27 April 2010                                       5
C. Proses Perkembangan Kognitif Piaget

      Konsep kecerdasan yang bagi Piaget, berarti kemampuan untuk

  secara lebih tepat merepresentasikan dunia dan melakukan operasi logis

  dalam representasi konsep yang berdasar pada kenyataan.

  Proses Kognitif Piaget adalah :

  (1) Skema yaitu berupa kerangka kognitif atau kerangka referensi,

  (2) Asimilasi : proses seseorang memasukkan pengetahuan baru

     kedalam pengetahuan yang sudah ada.

  (3) Akomodasi: menyesuaikan diri dengan informasi yang baru,

  (4) Organisasi yaitu mengelompokkan perilaku/konsep kedalam

     kelompok-kelompok yang terpisah ke dalam sistem kognitif yang lebih

     tertib dan lancer.

  (5) Ekuilibirasi yang bergerak dari satu tahap ke tahap yang lain. Jika

     berhasil dari tahap tersebut akan mendapatkan keseimbangan

     pemikiran.

      Teori ini membahas munculnya dan diperolehnya skema tentang

  bagaimana seseorang mempersepsi lingkungannya dalam tahapan-

  tahapan perkembangan, saat seseorang memperoleh cara baru dalam

  merepresentasikan informasi secara mental.

  Piaget membagi tahap-tahap perkembangan kognitif menurut usia yaitu :

  1) Periode sensorimotor (usia 0–2 tahun)

          Kemampuan bayi mengorganisasikan dan mengkoordinasikan

     sensasi melalui gerakan-gerakan dan tindakan-tindakan fisik.

         Tahap-tahap sensorimotorik:


Teori Belajar Kontruktivisme | 27 April 2010                                6
          Periode 1: refleks (0 – 1 bulan)

          Periode 2: kebiasaan (1 – 4 bulan)

          Periode 3: reproduksi (4 – 8 bulan)

          Periode 4: koordinasi skemata (8 – 12 bulan)

          Periode 5: eksperimen (12 – 18 bulan)

          Periode 6: representasi (18 – 24 bulan)

       Ciri-ciri Periode Sensorimotorik:

       1. Kemampuan bayi mengorganisasikan dan mengkoordinasikan

           sensasi melalui gerakan-gerakan dan tindakan-tindakan fisik.

           Didasarkan tindakan praktis.

       2. Inteligensi bersifat aksi, bukan refleksi.

       3. Menyangkut jarak yang pendek antara subjek dan objek.

       4. Mengenai periode sensorimotor:

            Umur hanyalah pendekatan. Periode-periode tergantung

              pada   beberapa     factor   yaitu:   lingkungan   sosial   dan

              kematangan fisik.

            Urutan periode tetap.

            Perkembangan gradual dan merupakan proses yang

              kontinu.

    2) Periode pra-operasional (usia 2–7 tahun)

           Ciri-ciri pra-oprasional

           1. Ditandai dengan adanya fungsi semiotic (symbol)             2-4

              tahun (anak main kue-kuean sendiri atau pasar-




Teori Belajar Kontruktivisme | 27 April 2010                                    7
           pasaran/jual-jualan, bermain yang       dapat Merupakan

           ungkapan diri anak)

            Fungsi Semiotic:

               Bahasa ucapan. Anak mulai menggunakan suara

                   sebagai representasi benda atau kejadian.

               Perkembangan         bahasa      sangat     memperlancar

                   perkembangan       konseptual     anak     dan     juga

                   perkembangan kognitif anak.

              Menurut Piaget: perkembangan bahasa merupakan

              transisi dari sifat egosentris ke interkomunikasi sosial.

              Gambaran Mental Pra-Oprasional:




         2. Berkembangnya pemikiran intuitif          4-7 tahun

            (Dapat menggambar pohon-pohon, rumah, bentuk-bentuk

            dasar geometris: bulat, panjang, persegi, serta dapat

            menggunakan suara sebagai representasi benda atau

            kejadian).

             Pemikiran Intuitif :

                                            =?


Teori Belajar Kontruktivisme | 27 April 2010                                 8
         Pemikiran anak berkembang pesat secara bertahap ke arah

            tahap konseptualisasi.

         Belum bisa berpikir multidimensi.

         Banyak bertanya.

  3) Periode operasional konkrit (usia 7–11 tahun)

     Ciri-cirinya;

         Berpikir decentering, serasi, klasifikasi, kesimpulan probalistis

         Tidak lagi egosentris, masih terbatas pada hal-hal konkrit,

         Belum dapat memecahkan persoalan yang konkrit.

  4) Periode operasional formal (usia 11 tahun sampai 15 tahun)

     Cirri-cirinya;

         Mulai ada perkembangan reasoning dan logika remaja.

         Asimilasi dan akomodasi berperan membentuk skema lebih

            menyeluruh.

         Pemikiran remaja = dewasa secara kualitas, namun beda

            kuantitas, skema org dewasa lebih banyak. Pemikiran deduktif,

            induktif dan abstraktif.

      Dalam pandangan Piaget, pengetahuan datang dari tindakan,

  perkembangan kognitif yang sebagaian besar bergantung kepada

  seberapa jauh anak aktif berinteraksi dengan lingkungannya. Dalam hal

  ini guru berperan sebagai seorang fasilitator dan berbagai sumber daya

  dapat digunakan sebagai pemberi informasi. Melalui kedua proses


Teori Belajar Kontruktivisme | 27 April 2010                                  9
  penyesuaian     tersebut,   sistem   kognisi   seseorang     berubah   dan

  berkembang sehingga bisa meningkat dari satu tahap ke tahap di

  atasnya.

      Proses penyesuaian tersebut dilakukan seorang individu karena ia

  ingin mencapai keadaan equilibrium, yaitu         proses penyeimbangan

  berkelanjutan antara asimilasi dana komodasi. Perubahan dimaksud

  terjadi, manakala informasi atau pengetahuan baru yang diterima

  sesorang    dimodifikasi    sedemikian    rupa    sehingga     bersesuaian

  (diasimilasikan) dengan struktur kognitif yang telah dimiliki sebelumnya.

  Dengan demikian, kognisi seseorang berkembang bukan karena

  menerima pengetahuan dari luar secara pasif tapi orang tersebut secara

  aktif mengkonstruksi pengetahuannya.



D. Implikasi Teori Kognitif dalam Pembelajaran

      Menurut Piaget, perkembangan kognitif sebagian besar bergantung

  kepada seberapa jauh anak aktif memanipulasi dan aktif berinteraksi

  dengan lingkungannya, yaitu bagaimana anak secara aktif mengkontruksi

  pengentahuannya. Pengetahuan datang dari tindakan . menurut teori

  Piaget pengalaman-pengalaman fisik dan manipulasi lingkungan penting

  bagi terjadinya perubahan perkembangan. Sementara itu bahwa interaksi

  sosial dengan teman sebaya, khususnya berargumentasi dan berdiskusi

  membantu memperjelas pemikiran yang pada akhirnya memuat

  pemikiran itu menjadi lebih logis.




Teori Belajar Kontruktivisme | 27 April 2010                                   10
  Berikut ini adalah implikasi teori Piaget dalam pembelajaran :

  1. Memaklumi akan adanya perbedaan invidual dalam hal kemajuan

     perkembangan. Teori Piaget mengasumsikan bahwa seluruh siswa

     tumbuh    melewati     urutan   perkembangan    yang    sama,   namun

     pertumbuhan     itu   berlangsung pada     kecepatan   yang berbeda.

     Ditambah cara berfikir anak kurang logis dibanding dengan orang

     dewasa, maka guru harus mengerti cara berfikir anak, bukan

     sebaliknya anak yang beradaptasi denganguru.

  2. Pendidikan disini bertujuan untuk mengembangkan pemikiran anak,

     artinya ketika anak-anak mencoba memecahkan masalah, penalaran

     merekalah yang lebih penting daripada jawabannya. Oleh sebab itu

     guru penting sekali agar tidak menghukum anak-anak untuk jawaban

     yang salah, tetapi sebaliknya menanyakan bagaimana anak itu

     memberi jawaban yang salah, dan diberi pengertian tentang

     kebenarannya atau mengambil langkah-langkah yang tepat untuk

     untuk menanggulanginya.

  3. Anak belajar paling baik dengan menemukan (discovery). Artinya di

     sini adalah agar pembelajaran yang berpusat pada anak berlangsung

     efektif, guru tidak meninggalkan anak-anak belajar sendiri, tetapi

     mereka memberi tugas khusus yang dirancang untuk membimbing

     para siswa menemukan dan menyelesaikan masalah sendiri.

      Berbeda dengan kontruktivisme kognitif ala Piaget, konstruktivisme

  sosial yang dikembangkan oleh Vigotsky adalah bahwa belajar bagi anak

  dilakukan dalam interaksi dengan lingkungan sosial maupun fisik.


Teori Belajar Kontruktivisme | 27 April 2010                                 11
  Penemuan atau discovery dalam belajar lebih mudah diperoleh dalam

  konteks sosial budaya         seseorang    (Poedjiadi, 1999:    62).   Dalam

  penjelasan lain Tanjung (1998: 7) mengatakan bahwa inti konstruktivis

  Vigotsky adalah interaksi antara aspek internal dan ekternal yang

  penekanannya pada lingkungan sosial dalam belajar.

      Adapun implikasi dari teori belajar konstruktivisme dalam pendidikan

  anak (Poedjiadi, 1999: 63) adalah sebagai berikut :

  (1) tujuan pendidikan menurut teori belajar konstruktivisme adalah

  menghasilkan individu atau anak yang memiliki kemampuan berfikir untuk

  menyelesaikan setiap persoalan yang dihadapi,

  (2) kurikulum dirancang sedemikian rupa sehingga terjadi situasi yang

  memungkinkan pengetahuan dan keterampilan dapat dikonstruksi oleh

  peserta didik. Selain itu, latihan memcahkan masalah seringkali dilakukan

  melalui belajar kelompok dengan menganalisis masalah dalam kehidupan

  sehari-hari dan

  (3) peserta didik diharapkan selalu aktif dan dapat menemukan cara

  belajar yang sesuai bagi dirinya.

      Guru hanyalah berfungsi sebagai mediator, fasilitor, dan teman yang

  membuat situasi yang kondusif untuk terjadinya konstruksi pengetahuan

  pada diri peserta didik.



E. Hakikat   Pembelajaran      Menurut      Teori   Belajar   Konstruktivisme

  Sebagaimana       telah    dikemukakan     bahwa    menurut    teori   belajar

  konstruktivisme, pengertahuan tidak dapat dipindahkan begitu saja dari


Teori Belajar Kontruktivisme | 27 April 2010                                       12
  pikiran guru ke pikiran siswa. Artinya, bahwa siswa harus aktif secara

  mental membangun struktur pengetahuannya berdasarkan kematangan

  kognitif yang dimilikinya. Dengan kata lain, siswa tidak diharapkan

  sebagai botol-botol kecil yang siap diisi dengan berbagai ilmu

  pengetahuan sesuai dengan kehendak guru.

       Sehubungan dengan hal di atas, Tasker (1992: 30) mengemukakan

  tiga penekanan dalam teori belajar konstruktivisme sebagai berikut           :

  Pertama, adalah peran aktif siswa dalam mengkonstruksi pengetahuan

  secara bermakna. Kedua, adalah pentingya membuat kaitan antara

  gagasan dalam pengkonstruksian secara bermakna. Ketiga, adalah

  mengaitkan antara gagasan dengan informasi baru yang diterima.

      Wheatley (1991:       12) mendukung pendapat          di   atas dengan

  mengajukan dua prinsip utama dalam pembelajaran dengan teori belajar

  konstrukltivisme. Pertama, pengetahuan tidak dapat diperoleh secara

  pasif, tetapi secara aktif oleh struktur kognitif siswa. Kedua, fungsi kognisi

  bersifat adaptif dan membantu pengorganisasian melalui pengalaman

  nyata yang dimiliki anak.       Kedua pengertian di atas menekankan

  bagaimana pentingnya keterlibatan anak secara aktif dalam proses

  pengaitan sejumlah gagasan dan pengkonstruksian ilmu pengetahuan

  melalui lingkungannya.

      Bahkan secara spesifik Hudoyo (1990: 4) mengatakan bahwa

  seseorang akan lebih mudah mempelajari sesuatu bila belajar itu didasari

  kepada apa yang telah diketahui orang lain. Oleh karena itu, untuk




Teori Belajar Kontruktivisme | 27 April 2010                                       13
  mempelajari suatu materi yang baru, pengalaman belajar yang lalu dari

  seseorang akan mempengaruhi terjadinya proses belajar tersebut.

      Selain penekanan dan tahap-tahap tertentu yang perlu diperhatikan

  dalam teori belajar konstruktivisme, Hanbury (1996: 3) mengemukakan

  sejumlah aspek dalam kaitannya dengan pembelajaran, yaitu :

  (1) siswa mengkonstruksi pengetahuan dengan cara mengintegrasikan

     ide yang mereka miliki,

  (2) pembelajaran menjadi lebih bermakna karena siswa mengerti,

  (3) strategi siswa lebih bernilai, dan

  (4) siswa mempunyai kesempatan untuk berdiskusi dan saling bertukar

     pengalaman dan ilmu pengetahuan dengan temannya.

      Dalam upaya mengimplementasikan teori belajar konstruktivisme,

  Tytler (1996: 20) mengajukan beberapa saran yang berkaitan dengan

  rancangan pembelajaran, sebagai berikut :

  (1) memberi     kesempatan      kepada   siswa   untuk    mengemukakan

     gagasannya dengan bahasa sendiri,

  (2) memberi     kesempatan      kepada   siswa   untuk   berfikir   tentang

     pengalamannya sehingga menjadi lebih kreatif dan imajinatif,

  (3) memberi kesempatan kepada siswa untuk mencoba gagasan baru,

  (4) memberi pengalaman yang berhubungan dengan gagasan yang telah

     dimiliki siswa,

  (5) mendorong siswa untuk memikirkan perubahan gagasan mereka, dan

  (6) menciptakan lingkungan belajar yang kondusif.




Teori Belajar Kontruktivisme | 27 April 2010                                    14
      Dari beberapa pandangan di atas, dapat disimpulkan bahwa

  pembelajaran yang mengacu kepada teori belajar konstruktivisme lebih

  menfokuskan    pada   kesuksesan   siswa   dalam   mengorganisasikan

  pengalaman mereka. Bukan kepatuhan siswa dalam refleksi atas apa

  yang telah diperintahkan dan dilakukan oleh guru. Dengan kata lain,

  siswa lebih diutamakan untuk mengkonstruksi sendiri pengetahuan

  mereka melalui asimilasi dan akomodasi.




Teori Belajar Kontruktivisme | 27 April 2010                             15

								
To top