Docstoc

naskah drama

Document Sample
naskah drama Powered By Docstoc
					MAK-E …!!!
: aguswin

satu
Dewi sedang digoda bayang-bayang pikirannya tentang pacar.
Godaan itu begitu kuat menjeratnya. Menjadi pusaran-pusaran yang memusing-
kan. Teriakan-teriakan! Tudingan-tudingan! Dan Dewi menjerit! Kebingungan
mengusir bayang-bayang pikirannya.
Sunyi sesaat.

dua
Suara   : Mak Ni, pulang!
          Anakmu datang bawa rapor ini lho!
Mak     : Ya, sebentar.
Suara   : Cepetan!
Mak     : Ya, sebentar.
          Masih bawa rumput ini lho….
Mak datang memandangi Dewi yang diam.Beku.
Mak     : O, anak Mak! Bawa rapor kok diam saja.
          Penonton, rapornya bagus lho! Lihat…
          Bahasa Indonesia dapat B. Agama dapat A. Bahasa Inggris dapat G.
          Komputer dapat U. IPS dapat S. Be-A-Ge-U-eS. BAGUS!
Dewi    : Mak!!!
Mak     : O, marah dia!
          Ada tam-tam warnanya putih,
          asyik juga buat mainan
          kamu diam wajahmu sedih
          mirip kera kehujanan
Dewi    : Mak!!!
Mak     : Ada apa cayang?
          Jangan sedih dan jangan cemberut!
          Apa yang kamu rasa, katakanlah!
          Apa yang kamu resahkan, sampaikanlah!
          Apa yang kamu gundahkan, luapkanlah!
Dewi    : Bener, Mak?
Mak     : Bener, sayang?
Dewi    : Sungguh, Mak!
Mak     : Sungguh, sayang!
Dewi    : Mak nggak marah?
Mak     : Enggak sayang.                                                     2
Dewi   : Mak,…. Aku ingin punya pacar!!!
Mak    : Ha…!!!
musik.menghentak dan menyayat.
Mak     : Jangan, Dewi!
          Sekolah dulu, jangan pacaran.
Dewi    : Mak-e nggak tahu perasaanku.
          Mak-e nggak tahu hancur hatiku.
          Masa, Mak! Aku yang sehebat ini, kata Mak, nggak pernah dapat
          surat cinta, nggak pernah dilirik dan digoda, nggak pernah berde-
          bar-debar, tangan bergetar membaca rayuan dan sanjungan,
          menyusuri sungai, mengarungi samodra cinta,
          foto perjaka tak kupunya,
          wajah pujaan tak pernah kupandang.
          Tak pernah, Mak! Tak pernah!
          AKU INGINKAN DIAAAA!!!!! (teriak)
Mak     : He!!! Diam kamu!!!
          Gatel ya…gatel??!!
          Dulu, gara-gara mak gatel, mak nggak lulus STM.
Dewi    : Lho, kok STM?
Mak     : Iya, STM Kehutanan yang ngurusi bedhes-bedhes ini (nunjuk pemu-
          sik)
          Jangan guyon Mak!!!
          Mak nggak tahu perasaanku……………(diulang adegan semula)
          AKU INGINKAN DIAAAA!!!!! (teriak)
Mak lupa diri. Menampar Dewi.

tiga
Suara ketok pintu.
Tamu datang membawa surat dari sekolah.
Dialog tanpa suara. Tamu pergi.
Musik riang mengiringi adegan ini.

empat
Mak     :   Terima kasih sayangku! Lagi-lagi kamu bikin mak bahagia.
Dewi    :   Karena surat itu 'kan?
Mak     :   Lho, kok tahu?
Dewi    :   Karena aku ditunjuk mewakili sekolah dalam lomba 'kan?
Mak     :   Lho, kok tahu juga?
Dewi    :   Dan Mak harus mendukung saya 'kan?
Mak     :   Ya! Dan Emak mendukung kamu!                                      3
          Kamu mau kan?
Dewi    : Tidak!!!
Mak     : Dewi, jangan ada kisah Malin Kundang di sini!!!
Dewi    : Di sini tidak ada kisah Malin Kundang sebab aku perempuan.
Mak     : Jangan paksa Mak marah!
Dewi    : Aku nggak maksa Mak marah!
          Aku hanya minta supaya Mak tahu perasaan Dewi.
          Aku ingin baju bagus seperti mereka.
          Aku ingin tas, sepatu bagus seperti mereka.
          Aku ingin perhiasan seperti mereka.
          Aku ingin kendaraan seperti mereka.
          Aku ingin punya pacar seperti mereka….
          Mak tahu nggak?
Mak     : Tahu!!!
          Mak juga ingin baju seperti mereka.
          Mak juga ingin perhiasan seperti mereka.
          Mak juga ingin kendaraan seperti mereka.
          Dan kita mencarinya bersama-sama.
          Mencari di RUMAH SAKIT JIWA.(menangis)
          Tidak, anakku….
          Dewi anak emak adalah Dewi penurut, patuh, lugu, dan santun.
          Dewi anak emak adalah Dewi yang tabah dan ramah.
Dewi    : Gombal!!!
          Itu dulu, Mak! Itu dulu….(menangis)
          Dewi sekarang adalah Dewi yang gaul, trendi dan seksi.
          Bukan yang kampungan begini!
          Mak bisa nggak nuruti Dewi?
Mak     : Nggak bisa, Nak.
Dewi    : Kalau nggak bisa Dewi pergi.
Mak     : Pergilah……(putus asa)
Dewi    : Dewi pergi. Assalamu 'alaikum.(melangkah pergi)
Mak     : Wa'alaikum salam. Dewi !(Dewi berhenti)
Dewi    : (berhenti)
Mak     : Pergilah…..(suara lemah dengan lambaian tangan)
Dewi pergi.
Mak mendekati pemusik.
Mak     : Dewi tadi ke mana?
Pemusik : Minggat Mak!!!
Mak     : Ha….(pingsan)
Pemusik mengangkat pergi.                                                4
lima
Lagu sedih gaya melayu :
          duh nestapa, gundah hati hamba
          duh nestapa, resah tak berarah
          duh nestapa, hidup kian redup
          duh nestapa, malam kian kelam

              reff: bintang-bintang tak bersinar
                    bulan pun tak nampak jua
                    hanya gelap kian pekat
                    sendiri 'ku dalam sunyi
                     jiwa redup tak tertutup
                     resah gundah tak terpecah
                     hanya diri dalam sunyi
                     sendiri…..oh…..sendiri
Dewi berlari menyusuri hutan bambu.
Menyusuri sungai, sampai akhirnya ke kota.
Dewi lelah berjalan. Tertidur dan bermimpi.

enam
Perjaka-perjaka berdatangan. Berlomba merebut. Berlomba memuja. Berganti-
an melontarkan rayuan dan sanjungan. Dewi melayang dalam bayang bahagia.
Namun,
suara jadi berbalik. Wajah-wajah berubah.
Pujaan jadi makian. Sanjungan jadi cemoohan. Cengkeraman-cengkeraman!!!
Dewi yang semula disanjung, kini dibanting. Dibanting. Dicampakkan.
Dewi meronta. Mengerang kesakitan.
Tersadar dari mimpi.

Dewi     : Mak…..maafkan aku!!! Mak….(berlari)

tujuh
Mak sudah habis harapan. Layu dan sayu. Putus asa dia. Lunglai di samping
setumpuk baju baru, tas baru, sepatu baru, perhiasan baru, dan kendaraan
yang juga baru.
Mak      : Dewi….kamu di mana, Nak?
           Mak sudah capek mencarimu. Mak capek!
Dewi datang. Menangis meronta.
Dewi     : Mak…………!!!                                                       5
Mak     : Kamu datang, Nak? Kamu pulang Dewi?
Dewi    : Maafkan Dewi, Mak!
Mak     : Kamu nggak salah, Nak. Mak yang salah.
          Mestinya kamu punya baju baru, sepatu baru, tas baru, perhiasan
          baru.
Dewi    : Tidak Mak!!! Aku tidak butuh itu!
Mak     : Kamu butuh itu, Nak! Kamu harus gaul, gaya dan trendi supaya
          dapat pacar………..
Dewi    : Tidak Mak!!! Dewi ingin ke sawah. Dewi rindu, Mak. Dewi ingin
          ke ladang memanen kedelai, Mak!
Mak     : Dewi.
          Sawah kita sudah di tangan orang. Ladang kita sudah di tangan orang
          Kedelai kita juga di tangan orang. Tinggal keledainya yang sebentar
          lagi di tangan Tuhan.(sambil menjambak rambutnya sendiri)
Dewi    : Tidak Mak!!! Jangan Mak….
          Kerbau kita mana, Mak….Kerbau kita mana???
          Aku ingin memberinya rumput.
Mak     : Kerbau kita sudah menjadi sepeda motor baru.
          Ambillah, Nak. Siapa tahu bisa untuk ngantar Mak berobat kalau-
          kalau jantung Mak kumat, dan sekarat…...
Dewi    : Tidak Mak! Aku tidak butuh ini……………
          Mak-e…………………….!!!!!

                              s.e.l.e.s.a.i

                                     donomulyo, juli 2005



                                     agus winarno

rasa sayang buat murid-muridku, istriku, dan anak-anakku……………………..
 DONGENG
 DARI NEGERI ANGIN ----------------------------------------------------
                         : aguswin

                1. Musik dan tarian. Galak dan khawatir.

         2. Nawala (abdi kraton) membawa surat. Was-was!
 Nawala       : Sinuwun Ratenan, maafkan hamba!
                Demi keselamatan sinuwun, hamba buka surat ini….
                He, Nawala!!!
 Wujud 1      : Jangan cluthak kamu! Surat itu bukan untukmu!
                Clinthisan!!!!
 Wujud 2      : He, Nawala!!!
                Buka! Jaga keselamatan rajamu! Buka!!!

              Nawala bingung. Dicoba untuk membuka….
 Nawala        : Sinuwun Ratenan, maafkan hamba!
                 Demi keselamatan sinuwun, hamba buka surat ini….
                 He, Nawala!!!
 Wujud 1       : Jangan cluthak kamu! Surat itu bukan untukmu!
                 Clinthisan!!!!
 Wujud 2       : He, Nawala!!!
                 Buka! Jaga keselamatan rajamu! Buka!!!

Kebingungan menjadi. Suara-suara silih berganti. Menarik-narik ke sana
                        kemari. Putus asa.
 Nawala      : Gah-gah. Aku gak main! Kesel….
               Kono enek, gur bengak-bengok. Kene lecek tun……..
               Maina dhewe…..(pergi dengan membuang beberapa
               kostum)

                           3. Seseorang muncul
 Seseorang      : Maaf penonton agak ruwet.
                  Biasa, tontonan gratisan ya begini. Ndeso. Katrok.
                  Hihihi…
                  Abdi kraton yang bernama Nawala tadi, terus terang
                  bingung. Surat yang dia pegang, ditujukan kepada Raja.
                  Dikirim oleh anggota RMS, Rakyat Malang Selatan.
                  Dia bernama N.M. Tulus.
                  Nah, nama inilah yang membuat Nawala gemetaran
                  Dia khawatir, ini adalah Nurdin M. Tulus alias Nurdin
                  M. Top. Karena itu, ia bernafsu sekali untuk membuka-
                  nya. Tapi, pantaskah surat untuk raja dibuka babunya??
                  Hihihi…
 Orang 1        : Nawala, jangan bingung.
Orang 2        : Jangan putuskan sendiri persoalan itu.
Orang 3        : Bicarakan dengan Patih dan Tumenggung.
Orang 1,2,3,   : Mintalah petunjuk kepadanya !!!
                                                                         2
                           4. Musik keras.
         Nawala, Patih dan Tumenggung bicara tanpa suara.
            Musik stop. Raja datang sedang jalan sehat.

Patih          :   Maaf, Paduka. ….gawat.
Raja           :   Gawat….ya kalau gawat ya rapat.
Tumenggung     :   Maaf, Paduka. ….ada masalah.
Raja           :   Ada masalah….ya kalau ada masalah ya musyawarah.
Patih          :   Sinuwun…ini sangat gawat darurat.
Raja           :   Masuk ruang ICU. Rapat tertutup.
                   Amankan seluruh wilayah. Jangan ada yang memonitor
                   acara ini.

       5. Suara-suara petugas. Saling kontak. Siaga penuh.
Raja         : Ada apa Patih?
Patih        : Abdi Nawala….bawa surat Gusti.
Raja         : Tugas Nawala kan memang bawa surat, kenapa?
Tumenggung : Benar Gusti. Namun, kami khawatir :
               1. Gusti tidak berkenan dengan isi surat ini.
               2. Ini bukan surat, melainkan bom.
Raja         : Persetan dengan semuanya.
               Mana suratnya…..
Nawala       : Tapi….jangan-jangan….
Raja         : Ora sah mikir. Masi aku mati nek awakmu tetep dadi
               pegawai gak masalah 'kan?
               Mana suratnya !!!
Musik.
                              Orang-orang panik.
        Raja berkecak pinggang. Dahi berkerut. Wajah memerah.
               Orang-orang kian panik. Akhirnya,……………
Raja         : Hahaha………………..
               Masih ada orang yang BBM, Bertekad Berani Mati.
               Surat ini bikin aku menyadari, bahwa aku manusia bia-
               sa yang tak pernah lepas dari kilafku.
               Setulusnya aku, sejujurnya aku, akan senantiasa mencin-
               tai rakyatku.
               Kritik pedas M. Tulus telah mengajari aku untuk
               GUSWIN, Golek Upaya Sing Wening Intuka Nugraha.
               Karena itu,
               saya berikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepa-
               da M. Tulus. Semua bubar, kecuali Patih.
                 (rapat bubar)

                       6. Adegan tanpa suara.
Raja menyampaikan hadiah melalui Patih. Arahan tegas dan mantab.
              Raja pergi, Patih mengambil kopyah/peci.
              Patih menyerahkan kepada Tumenggung.
             Tumenggung membukanya, mengambil jas.
            Tumenggung menyerahkan kepada Demang.                       3
             Demang membukanya dan mengambil baju.

                       7. Adegan Demang dan M. Tulus.
Demang         : M. Tulus.
M. Tulus       : Saya, Ki Demang
Demang         : Kamu mendapat hadiah dari raja atas keberanianmu
                 mengkritik Baginda.
M. Tulus       : Betulkah???
Demang         : Betul. Ini Hadiahnya, terimalah! (menyerahkan)
M. Tulus       : Hidup baginda!!! Hidup baginda!!!
      Tiba-tiba ada orang datang menyerahkan surat.
Demang         : Ini surat untuk kamu dari Raja, Lus.
M. Tulus       : Raja memang baik…..Terima kasih Raja!!!!
     Tulus membaca surat. Wajahnya berseri. Melompat girang!!!
M. Tulus       : Terima kasih Ki Demang!!!! O……aku ke istana….
Demang         : Apa isinya, Lus?
M. Tulus       : Aku diundang Baginda. Aku harus memakai pakaian
                 kebesaran lengkap hadiah dari Baginda!!!
Demang         : (kaget)
                 Lho….kalau begitu baju ini kamu pakai….aku pinjami.
                 Atau ambil saja ini!!!
M. Tulus       : Nggak boleh, Ki. Aku harus pakai baju pemberian raja
                 tidak boleh ditambah dan dikurangi.
                 Aku berangkat Ki…..
Demang         : Lus! Pakai ini…..! Lus…..(mengejar M. Tulus)

       8. Pesta di istana.Tarian penyambutan tamu.
  Bunga-bunga. Dupa, kemenyan. Penjagaan-penjagaan.
              Semua pejabat kerajaan hadir.
Raja          : Hari ini adalah hari bahagia kita. (tepuk tangan)
                 Tamu kita sebentar lagi akan memasuki sitinggil.
                 Dia adalah N. M. Tulus.
     Semua pejabat kerajaan bertepuk tangan dengan was-was.
Nawala        : Tamu kehormatan datang!!!!
                 Beri pernghormatan……

                       Semua berdiri.
                   Tulus dikawal ketat.
         Diselimuti kain dan aparat keamanan.
M. Tulus     : (berkaos oblong, dasi, celana, dan sepatu)
               Hormat hamba Baginda!!
Raja         : (marah)
               Siapa kamu!!!
M. Tulus     : Hamba, N.M. Tulus Baginda.
Raja         : Aku undang kamu karena hormatku padamu.
               Aku hadiahi kamu sebagai wujud kagumku atas kebera-
               nianmu. Tapi, kenapa kamu lecehkan kehormatan raja
               dengan pakaian konyol begini! Kenapa???
               Algojo…………..!!!                                       4
M. Tulus     : Maaf, Baginda.
               Salah saya apa?
               Saya sudah mematuhi undangan raja.
               Saya kenakan hadiah lengkap pemberian raja.
               Tidak kurang dan tidak lebih.
               Ini semuanya Baginda.
               Saya nggak mungkin aneh-aneh.
               Orang tua memberi nama saya N.M. Tulus, lengkapnya
               Namung Tulus.      Saya nggak mungkin neko-neko…...
Raja         : Kenapa jadi begini….
               Kopyahnya mana?
Patih        : Saya, Baginda.
Raja         : Jasnya mana?
Tumenggung : Hamba, Gusti.
Raja         : Bajunya mana.
Demang       : Hamba, Sinuwun.
Raja         : Uler semua!!!
               Kenapa begini, Patih?
Patih        : Beribu-ribu maaf, Paduka.
               Hamba ingin seperti Paduka, karena itu hamba ambil
               kopyah ini sebagai lambangnya.
Tumenggung : Hamba juga minta maaf.
               Hamba ingin tampak berwibawa dengan baju hadiah
               raja.
Demang       : Hamba mohon ampun Gusti.
               Hamba Demang miskin, Jadi, ya pingin baju bagus….
Raja         : Mbelgedhes semua!!!
               Semua salah.
               Dan yang paling bersalah adalah…Demang!!!!
Demang       : Kenapa hamba, Gusti?
Raja         : Karena kamulah yang paling dekat dengan rakyat.

                     Lagu penutup:
       Berjanjilah dalam janji
di perjalanan yang smakin sukar ini
       Berjanjilah dalam janji
         hati semakin tegar
             (Leo Kristy)

                              desember 2007
                              saat aku coba kembali
                              memberi makan
                              anak ayam
                              liar

                              agus winarno
DONGENG
NAGARI ANGIN ----------------------------------------------------
                     : aguswin *)

                   1. Musik lan tarian. Galak uga kuwatir.

          2. Nawalawati (abdi kraton) nggawa layang. Was-was!
Nawalawati : Sinuwun Ratenan, nyuwun duka Gusti!
               Kagem kayuwanan paduka, kawula bikak serat punika..
Wujud 1      : He, Nawalawati!!!
               Aja cluthak kowe! Layang kuwi dudu darbekmu!
               Clinthisan!!!!
Wujud 2      : He, Nawalawati!!!
               Bukaken! Jaga kayuwanan ratumu! Bukaken!!!

                Nawala bingung. Dicoba mbukak maneh….
Nawalawati    : Sinuwun Ratenan, nyuwun duka Gusti!
                Kagem kayuwanan paduka, kawula bikak serat punika..
Wujud 1       : He, Nawalawati!!!
                Aja cluthak kowe! Layang kuwi dudu darbekmu!
                Clinthisan!!!!
Wujud 2       : He, Nawalawati!!!
                Bukaken! Jaga kayuwanan ratumu! Bukaken!!!

       Swara silih-ungkih. Narik mrana-mrene. Bingung. Sumpeg.
                               Gregetan.
Nawalawati : Gah-gah. Aku gah main! Kesel….
             Kono enak, gur bengak-bengok. Kancane..peyok.
             Kono gur tudang-tuding. Kancane..njengking-njengking.
             Maina dhewe…..(pergi dengan membuang beberapa
             kostum)

                             3. Pawongan njedhul
Pawongan      : Sori penonton…eh ngapunten, radi ruwet.
                Maklum, tontonan gratisan nggih ngeten niki. Ndeso.
                Katrok….Hihihi…
                Abdi kraton sing namine Nawalawati kalawau,
                blaka suta, blak kutang terus-terang, bingung.
                Serat kagem Gusti Ratu Ratenan badhe kabukak piyambak.
                Sebab, serat kala wau kaserat dening anggota RMS, Rakyat
                Malang Selatan ingkang nami N. S. Tulus.
                N. S. Tulus kakinten NII Syarief Tulus.
                Nah, nami menika ingkang ndamel Nawalawati gemeteran.
                Piyambakipun kuwatos sanget. Nanging, napa pantes
                nawala kagem gustinipun kabukan kacungipun….
                   mboten pantes ta…mboten leres ta ….
Wong   1       :   Nawala, aja bingung.
Wong   2       :   Aja mbok pikir dhewe !!!
Wong   3       :   Matura Gusti Patih lan Tumenggung.
Wong   1,2,3   :   Estokna dhawuhe…!!!!

                             4. Musik rampak.
           Nawala, Patih lan Tumenggung wicara tanpa swara.
              Musik mandheg. Sinuwun Ratu Ratenan …..

Patih          :   Nyuwun duka, Gusti ….gawat.
Ratu           :   Nek gawat ya rapat.
Tumenggung     :   Nyuwun pangapunten, Gusti ….wonten masalah.
Ratu           :   Nek ana masalah….ya musyawarah.
Patih          :   Sinuwun…menika gawat darurat.
Ratu           :   Mlebu ruang ICU. Rapat tertutup.
                   Amana kabeh wilayah. Aja ana sing monitor acara iki.

          5. Suara-suara petugas. Saling kontak. Siaga penuh.
Ratu        : Ana apa Patih?
Patih       : Abdi Nawala….nganthi serat Gusti.
Ratu        : Tugas Nawala pancen nggawa layang, enek apa?
Tumenggung : Leres, Gusti. Ananging, kawula kuwatos :
              1. Gusti mboten karenan nenggih wosing nawala.
              2. Menika sanes nawala, nanging bom.
Ratu        : Ah…..lambe lamis kabeh ! Kene layange….
Nawalawati : Nyuwun duka, Gusti….kawula kuwatos….
Ratu        : Ora sah kuwatir. Ukaramu mbok plintir - plintir
              ning atimu kaya gangsir.
              Kene layange…!!!
Musik.
                              Kabeh kaweden.
           Ratu malang kerik. Netra kocak, ngondhar-andhir.
                        Tansaya wedi, wusanane...
Ratu        : Hahaha………………..
              Isih ana dagelan-dagelan ing negaraku….
              Layang pedhes iki, ngelikake manawa aku titah lumrah,
              sing kanggonan salah. Luput lan lali bisa cumondhok ing ati,
              marang sapa wae, bisa rajane bisa uga kawulane.
              Bisa wong pangkat, bisa uga rakyat.
              Bisa wong sugih, bisa uga wong mlarat.
              Mula, kabeh aja dumeh. Dumeh kuwasa banjur
              degsiya marang sapadha. Dumeh lungguh kursi
              banjur lali dharma bakti, mung nguber nafsu pribadhi.
              Panyaruwe N.S. Tulus perlu antuk kawigaten, lan bakal tak
               paringi kanugrahan agung. Kakeh bubar kajaba Patih.

                         6. Adegan tanpa suwara.
                  Ratu paring bungkusan marang Patih.
              Patih paring bungkusan marang Tumenggung.
             Tumenggung paring bungkusan marang Demang.
                          Demang nyeluk Tulus.
                Kabeh nyalawadi, glirah-glirih, nyujanani.




                     7. Adegan Demang lan N.S. Tulus.
Demang       : N.S. Tulus.
N.S. Tulus   : Kula, Nyi Demang
Demang       : Kowe antuk nugraha agung saka Gusti Ratu Tanenan
               sebab kewanenmu atur layang panyaruwe sing pedhes banget
N.S. Tulus   : Leres, Nyi???
Demang       : Bener. Iki nugrahane, tampanen !!!
N.S. Tulus   : Hidup Gusti Ratu !!! Hidup Gusti Ratu !!!
               (saking bungahe, Tulus lali ora nampani bungkusan)
Demang       : Iki tampanan dhisik ! Ndang balia, dudohna bojomu….
N.S. Tulus   : Matur nuwun Nyi Demang….
               Mak-e…… (metu saka panggung)
Demang       : Slamet…..wong oleh polos, lugu…. Tulus, Tulus ….
                        Tulus dumadakan njedhul !!!
N.S. Tulus   : Nyi Demang !!!! Kula dikengken teng istana…
Demang       : Sing ngongkon sapa ?
N.S. Tulus   : Dikengken Gusti Ratu Ratenan. Lha, niki undangane.
Demang       : (kaget)
               Lho….nek ngono tak silihi klambi ya….ben pantes, ya !
N.S. Tulus   : Mboten angsal, kula kedah ngangge ageman paringanipun
               Gusti Ratu Ratenan, mboten angsal ditambah lan dikurangi.
Demang       : Lus! Tak slihi klambi ya… ben pates, ya !
N.S. Tulus   : Mboten angsal, kula bidhal, Nyi Demang …..
Demang       : Lus ! ….. Wadhuh, cilaka !!!

                 8. Adicara pahargyan gedhen-gedhenan.
       Tarian, tetembangan, kembang-kembang, wangi sumerbak
Ratu        : Dina iki, dina pahargyan gedhen-gedhenan. (tepuk tangan)
              Tamu agung bakal munggah sitinggil.
              Ora ana liya kejaba N. S. Tulus.
              Punggawa praja keplok semu was sumelang.
Nawalawati : Tamu agung minggah pasewakan !!!!
              Asung pakurmatan……
            Kabeh ngadeg. Tulus dijaga para nayaka praja.
                              Katutup kain.
N.S. Tulus : (berkaos oblong, dasi, celana, dan sepatu)
             Kawula marak seba ngarsa paduka, Gusti Ratu ….
Ratu       : (muring)
             Sapa kowe !!!
N.S. Tulus : Kawula N.S. Tulus, Gusti !
Ratu       : Kowe tak undang mrene ora tak dadekne kere,
             Kowe tak paringi nugraha minangka warga nagara,
             sing sun alembana marga nawala pedhesira !
             Kenek apa, kowe njur nganggo penganggon
             sing tan ana beda antarane kandhang jaran karo kraton !!!
             Algojo…………..!!!
N.S. Tulus : Lho…ngapunten lho Gusti…
             Menapa lepat kula? Kula sampun ndugeni undangan Gusti.
             Kula sampun damel sedaya paringan penjenengan.
             Mboten kula tambah, mboten kula suda.
             Sumpah…nggih niki sedaya sing kula trima. Sumpah…
             Mosok kula neka-neka. Nami kula Tulus. Mbok kula namine
             Trimah. Bapak Kula namine Sabar. Pakdhe kula namine
             Tentrem. Sumpah Gusti, kula mboten goroh….
Ratu       : Kenek apa kok dadi ngene …..
             Kopyahe endi ?
Patih      : Nyuwun duka, wonten kula Gusti….
Ratu       : Beskape endi ?
Tumenggung : Nyuwun duka, wonten kula Gusti….
Ratu       : Seweke endi ?
Demang     : Nyuwun duka, wonten kula Gusti….
Ratu       : Uler kabeh!!! Ulerrrrrrrrr…..ngutilan !!
             Kok dadi ngene, Patih?
Patih      : Nyuwun duka, Gusti….
             Kula kepingin gadhah kawibawan kados paduka,
             pramila kula pingin pikantuk barokah kanthi mendhet kopyah.
Tumenggung : Nyuwun duka, Gusti….
             Kula ugi kepingin dados punggawa ingkang agung sanget,
             pramila beskapipun kula pendhet.
Demang     : Nyuwun duka, Gusti….
             Kula demang mlarat sing kepingin munggah pangkat,
             pramila sewekipun kula sikat, Gusti…
Ratu       : Mbelgedhes kabeh !!!
             Dosa kabeh. Dipidana kabeh.
             Sing paling abot pidanane      …Demang!!!!
Demang     : Kenging menapa kula, Gusti?
Ratu       : Sebab, kowe sing langsung cedhak karo rakyate.
                                       malam jumat, 21 april 2011
                                       hardiknas di donomulyo

*) Drs. AGUS WINARNO
   Pembina KKSD (Kelompok Kreatif SMPN 2 Donomulyo)
EDAN -
EDANAN -----------------------------------------------------------
               : AGUSWIN

                                           SIJI
                   Jaja lagi enak-enak rengeng-rengeng. Lelagon :
                                    Urip pancen rumit
                                yen angel jan amit-amit
                          awak bregas nalikane nyekel dhuwit
                       dhuwit amblas awak bregas dadi melas
                               ( sirah, sirah nyut-nyutan
                            adhuh sirah, sirah nyut-nyutan )

Mami teka. Gupuh!
Mami          : Kang, aku tulungana!
Jaja          : Mengko dhisik….aku tak nyanyi….
Mami          : Kang, aku tulungana!
Jaja          : Minta pertolongan seperti apa, sayang?
Mami          : Aja guyon ta Kang!
Jaja          : Aku ora guyon. Aku bicara dari lubuk hati yang paling
                dalam. Katakanlah….
Mami          : Bojoku kumat maneh Kang. Ora tau mulih, Kang!
                Aku bingung….
Jaja          : No.no…!!! Tidak.
                Aku laki-laki setia yang tak mungkin menodai cinta istriku.
                Aku tidak mungkin menggantikan suamimu.
Mami          : Ora ngono! Karepku ora ngono!
Jaja          : Trus kepriye?
Mami          : Sampeyan dadiyo wong edan!
Jaja          : Mi, lambemu!
                Wong waras-wiris kok malah kon dadi wong edan. Ora isa!
Mami          : Tulung, Kang. Sumpah, aku njaluk tulung!
Jaja          : Njaluk tulung ya njaluk tulung, tapi nek dadi wong edan
                ya ra isa.
Mami          : Sampeyan pa ra welas karo aku?
Jaja          : Welas ya welas, tapi nek aku ngedan apa kowe ora welas?
Mami          : Ya ora!!!
Jaja          : O, gendheng!
Mami          : Kang! Aku wis golek dukun mrana-mrana. Kabeh jawabane
                padha. Bojoku isa waras yen sing nambani Kang Jaja.
                Carane kudu ngedan!
Jaja          : Apa rumangsamu aku pantes nek edan?
Mami          : Hooh…
Jaja          : O…lompong pedhes dipangan luwak.
                Ngomongmu pedhes, ngenyekmu sengak.(gaya ruwet)
Mami          : Lho, pantes tenan kok. Jan…puantes, presis wong edan.
                Aja ngomong Yu Sri nek aku mrene. Wis ya suwun, Kang.
                Tak enteni….Dada….!!!

                                      LORO
                        Yu Mami lunga. Jaja thenger-thenger.
                        Pemusik nggodha, nyanyi lagune Jaja:
                            Urip pancen rumit ……lsp.
Jaja   : Kowe ki ja nggodha ta wong…Enek wong stress malah nye-
         ngenges. Seneng nyawang kancane gendheng.
         Raimu….
                                Sri teka.
                        Anyep. Meneng kabeh!
Sri    : Kok ambune enek wong wedok mrene….

                           Pemusik nyaut lelagon :
                          Adhuh dik, aku sing luput
                           aja pijer prengat-prengut
                           rupa ayu dadi semrawut
                          sosor bebek disosor meri
                        salahku dhewek mohon disori
                       mbesuk-mbesuk nggak lagi-lagi
                          ( kang Jaja.. Rasakna!!! )
Jaja   :   Menenga!!! Tak raupi sandhal raimu…
           Kancane mumet malah nambah ruwet.
Sri    :   Sing teka sapa?
Jaja   :   (meneng)
Sri    :   Sing teka sapa?
Jaja   :   Mami tas ka kene.
Sri    :   Mami tas ka kene? Mati aku!

                             Pemusik nyaut lelagon :
                           Mati aku, dhik Mami mrene
                       bojoku ketemu karo pacar lawase
Sri    :   Pemusik iki edan pa piye ta?Pemain rung muni kono wis
           clometan. Nek pingin maina! Maina! Jatahe pemain disosor.
Jaja   :   Wis, Sri. Sabar…
Sri    :   Sabar apane!
Jaja   :   Ngene Sri, sakjane aku dikongkon ngelikne Jepri, bojone
           Mami. Ben ora ngluyur. Ben ora main terus.
Sri    :   Alasan.
Jaja   :   Tenan. Aku jujur. Apa anane. Apa ….kowe cemburu?
Sri    :   Gieething aku yen takok ngono kuwi.
Jaja   :   Kowe cemburu ta?
Sri    :   Kang! Kowe ki bangkong apa uwong? Mencla-mencle.
           Biyen jare janji ora gelem ketemu. Kok malah saiki mbok
           parani ki karepmu piye?
Jaja   :   Niatku gur nulung. Nulung! Ora ana liya. Wong kowe dhewe
           wis dadi dulur apik. Sering ketemu neng jamaah Jumat Kli-
           wonan. Gek untungku apa nek aku neko-neko….
Sri    :   Ya wis. Nek mrana, aja nganggo klambi apik. Aja nganggo
           parfum. Ra sah adus!
           Ra sah klamben. Ra sah kathokan ngono?
Jaja   :   Aku ki mrana dikongkon macak edan.
Sri    :   Piye !!!
       :   O, setan alas. Samber mbledheg! Wong wedok ra duwe isin.
       :   Dhemen bojone wong. Ngenyek kuwi Kang. Ngenyeeekkk!!!
                                 Musik Jaranan
                                    Sri njaran
Sri    :   Pancen awakke dhewe mlarat…tapi apa ya dienyek ngene?
           Dianggep kaya wong edan. Aja Kang. Aja!
           Ketoke njaluk tulung, sakjane menthung. Aja, Kang!!!
Jaja   :   Wis, percayaa aku Sri. Aku ora polah-polah. Aku gur niat
           nulung. Pisan iki wae.
Sri    : Sampeyan ada budhal, Kang. Sampeyan aja ngedan!
Jaja   : Pisan ini wae Sri. Percayaa aku. Sarung karo clana iki jami-
         nane.
Sri    : Maksude?
Jaja   : Nek aku neko-beko obongen.
Sri    : Nek wis diobong?
Jaja   : Ya, aku ora sarungan, ora clanaan, alias isis….
Sri    : Mbuh, karepmu …………….(klepat ngalih)

                                   Musik
                         (lagu bir temu lawak…)
                               Jaja budhal

                                TELU
               Musik romantis. Mami nang omahe Sri.
                     Sepi. Sri isih ganti klambi.
                 Mami lega atine. Ngguya-ngguyu.
Sri    : O, dik Mami.
Mami   : Iya, Mbak Sri….
         Ngene Mbak, cekak aos aku njaluk sepura wis ngrepoti kelu-
         warga sampeyan. Aku matur nuwun banget, sebab bojoku
         wis waras. Hebat lho Kang Jaja !!! Nasehate jan manjur te-
         nan. Aku mung matur nuwun. Aku ora ketemu kang Jaja
         blas. Salamku ya….
         Iki nggo tuku bumbon…..wis suwun. Aku pamit ya…
Sri    : Iya,………….lho…lho…(bingung)

                                MUSIK
                     Sri bingung nampa amplop.
                 Dibukak apa ora. Bungah apa susah.
               Bareng dibukak jebul dhuwit atusan ewon.
                      Sri suwe-suwe seneng ….

Sri    : Kang….Kang Jaja !
Jaja   : (teka aras-arasen) Apa?
Sri    : Mami teka, ngomong suwun karo nggawa dhuwit iki Kang…
Jaja   : Ya tampanana. Aku gur niat nulung kok.
Sri    : Sampeyan kok pinter. Kok ra biyen-biyen ngene ….
Jaja   : Ra biyen-biyen ngedan ngono?
         Aku sing bar ngedan kepingin waras, kok kowe malah mba-
         kali edan.
Sri    : Maksudku, entuk dhuwite dudu entuk edane.
         Aku seneng lho Kang nek entuk dhuwit akeh. Bisa tuku pi-
         sidi, tipi, kulkas, parabola….Suwun ya, Kang. Muga-muga re-
         jekimu gedhe !
Jaja   : Rejeki dadi wong edan ngono?
         Tak kandhani, nek kowe pingin ngemut setlika, nguntal
         kulkas, ngrakoti parabola….ngedana dhewe. Aku ora sudi!!
Sri    : Lho, Kang !!!!
         Wong didongakne apik kok muring-muring. Apa ra pingin
         sugih? Ra pingin uri penak? Seprana-seprene urip mlarat
         kok kuwat ! Seprana-seprene dadi kere kok meneng wae !
         Urip sarwa kurang kok ora wirang ! Kok ora isin kabeh dha
         duwe mesin. Rang…rung….., dadi cepet. Ora ngene iki,
         rendhet, cupet, mampet, akhire…mumet.
           Mbuh!!! Tak tinggal minggat kapok….(mlaku)

                                   PAPAT
                       Sri mlangkah pirang jangkah,
                      ndilalah gapyuk ketemu Mak Jah
Mak Jah   : Adhuh, Sri… Aku tulungana!
            Urip tambah tuwa kok kesiya-siya.
            Urip sepi, putu siji, nakale setengah mati.
            Jaluk sepeda motor kaya njaluk kathok kolor.
            Saiki njaluk saiki kudu entuk.
            Saiki mbengok, saiki kudu onok.
            Gek piye? Bocah kok golek penake dhewe. Mburu seneng,
            monat-manut kancane, ora mikir sing tuwek kethele-thele..
Sri       : Lha, trus kula mbantu napa?
Mak Jah   : Bojomu tak silihe.
Sri       : Lho, Mak…
Mak Jah   : Aja salah tampa. Aku wis tuwa, wis ora udhuk.
Sri       : Terus dos pundi, Mak?
Mak Jah   : Aku wis golek dhukun mrana-mrana. Kabeh unine padha.
            Putuku isa waras yen sing nambani Jaja.
Sri       : Carane, Mak?
Mak Jah   : Macak edan.
Sri       : Jabang bayikkkkk!!!
                          Pak-e, kowe ndang tekaa mrene (ana apa ta Sri)
                          Sampeyan edan nggawa rejeki.
Mak Jah   : Kowe sajake ya pantes ngedan, Sri.
Sri       : (klincutan)
Mak Jah   : Piye, isa ya bojomu tak silih?
Sri       : Nggih…kula cobi, Mak.
Mak Jah   : Aja dijajal. Iya ngono lho!
            (ndlesepne dhuwit nang tangane Sri)
            Pokok mari engko tak kandhane. Wis ya, Sri…aja lali !!!
            (lunga)

                       Sri seneng. Ngolak-alik dhuwite.
                      Jaja teka. Nyawang bojone. Gela !
Sri       : (nyanyi)
            Kang, aku dhemen kowe
            kowe pinter, rejekimu banter
            muga-muga trus akeh sing dha jaluk tulung
            awak untung, dhuwite sak gunung
Jaja      : (nyaut)
            Ndang matia Sri, ndang matia !
            Bojo gendheng kowe seneng aku nggliyeng
            Ndang matia Sri, ndang matia !
            Aku ngedan malah mbok nggo penggawean
            Yen pancene, Sri
            Kowe seneng iki
            ndang lilakna aku arep pamit mati…

Jaja      : Tak rungone kabeh omonganmu.
Sri       : Dadi, Kang Jaja wis ngerti? Trus piye kang? Bisa ta?
Jaja      : Isa …!!!
            Aku isa gendheng ra waras-waras. Bisa dadi guyon. Bisa
            dadi patine Mbokku. Isa mateni awakmu. Isa mateni wong
            akeh… Kabeh isa.
Sri        : Ya, ra ngono Kang.
Jaja       : Lha trus piye?
Sri        : Pokoke sampeyan edan mung gur golek dhuwit.
             Mosok wong liya isa sugih, awakke dhewe ra isa.
             Mosok wong liya isa urip penak , awakke dhewe ra isa.
             Mosok wong liya isa nyandhang apik , awakke dhewe ra isa.
             Isa ya…mosok raisa! Mosok ra isa?
Jaja       : Isa ya…mosok raisa! Mosok ra isa? Raimu !!! Aku ra isa !!!
Sri        : Kang !!!
             Aku wis mbetah-mbetahne urip karo sampeyan.
             Lara-lapa tak rewange. Omah gedhek ebrak-ebrek tak
             panggoni. Trus saiki, ana rejeki kok mbok tolak. Ana dhuwit
             kok kowe selak…. Ngono nek nulungi Mami semrinthil.
             Wadike pingin nostalgia….Iya ta???? Ngomong !!!
Jaja       : Sri, sing kongkok edan ki aku. Kok malah kowe sing kenthir.
Sri        : Edan ya ben. Kenthir ya ben. Kenthuk ya ben. Edan-edanku
             dhewe. Kenthir-kenthirku dhewe. Wis kana balia nang keka-
             sih sejatimu….(Jaja mung meneng)
             Saiki aku takon.
             Sampeyan gelem nulungi Mak Jah apa ora?
Jaja       : (meneng)
Sri        : Sampeyan gelem nulungi Mak Jah apa ora?
Jaja       : (meneng)
Sri        : Ya wis. Nek sampeyan ora budhal, aku sing budhal mulih
             nang mbokku. Tak etung ping telu. Siji……………loro………
             telu…………….Ya wis, aku minggat !!!
Jaja       : Sri !!! (Sri mendheg)
             Tak turuti karepmu. Tak turuti edanmu!!! Entenana !!!!!
             (lunga klepat)
                                      MUSIK
                                 Sri marem atine.

                                  LIMA
                       Sri ngenteni nganti keturon.
                   Ngimpi ketemu Mak Tiwi, mbokne Jaja

Mak Tiwi   : Lancang kowe Sri !!!
             Aku mbokne Jaja, ora duwe keturunan gendheng.
             Kabeh waras ! Lha kok kowe wani-wani nghongkon anakku
             gendheng ! Wong wedok apa kowe ! Pinginmu ggur ngem-
             plok. Ndhoprok. Nyaplok. Melik barang kang melok.
             Masi kere Sri, aku ora lali garise.
             Masi mlarat aku weruh kiblat.
             Weruh paugeran, weruh tatanan.
             Ora mung edan-edanan golek samblekan !!!!
             Wong wedok, yen bener bisa dadi barang melok.
             Wong wedok, yen keblinger isa dadi bosok. Asor drajade.
             Kowe dudu kewan. Kowe duwe pikiran.
             Pikiren…..
                                  Sri gragapan.
                    Nangis getun barang kang wus kadhung.
                         Temtang nglangut. Ngeres ati.

                        Jaja teka. Gumuyu lakak-lakak.
                    Lambe ngablak. Ngomong pokok njeplak.
Jaja        : Sri, wis tak turuti karepmu.
              Aku teka gawa bandha sak donya.
              Aku gawa dhuwit sak langit.
              Awak dhewe sugih, Sri…
              Sugih ! Urip kajen. Kabeh sarwa penak. Sarwa nyepak.
              Urip makmur, lancar kaya sepur…hahahaha….
Sri         : Wis, Kang….wis…
Jaja        : Durung Sri !!! Iki isih mulai. Ayo melu aku.
              Urip ngedan rejeki kaya udan. Disok dadi grojogan….
              Urip lurus, rejeki luput nasibe benjut.
              Kowe bener Sri…dadi kere, kesrakat, molat-molet kepideg
              penyet ..hahaha….
Sri         : Wis, Kang….wis…
Jaja        : Elinga…
              Kowe sing kudu eling.
              Ayo melu aku nganglang bawana golek mulya.
              Nganglang jagat nembus langit sugih dhuwit.
              Ayo, Sri…..
                                    Sri terus nangis.
                         Mak Tiwi teka. Kaget nyawang Jaja.

Mak Tiwi    : O, jebul rasane ati ora kena diapusi.
              Sabar Ja, aku mbokmu …
Jaja        : Ayo Mbok…
              Sampeyan teka pas anakmu mulya.
              Sampeyan njaluk apa mesti bisa.
              Pandongamu, aku makmur Mbok!
Mak Tiwi    : Ora, aku ora duwe pandonga ngono.
              Aku ra pingin anakku edan-edanan.
              Bandha nggo apa nek utegmu onya.
              Sugih ngge apa nek imanmu ringkih.
              Adhuh le,….apa gunane.
Jaja        : Ayo Mbok, ayo Sri.
              Njajah desa milang kori,
              urip sara mohon disori.
              O, bumi matur nuwun
              O, langit matur nuwun
              O, jagad matur nuwun
              Lega atiku. Ketekan karepku.
Mak Tiwi    : Jaja, eling le….
Sri         : Eling Kang…..

                   Swarane Jaja. Swarane Sri. Swrane Mak Tiwi.
           Ganti-gumanti. Silih ungkih rebut sora. Rebutan ngebaki jagad.
                 Jerit. Tangis. Guyu lakak. Dadi swara tanpa rasa.
                          Tanpa aran. Saparan-para ……..

                              Tembang gemontang :
                              amenangi jaman edan
                            yen ra ngedan ra keduman
                             sabegja-begjane sing lali
                        luwih begja sing eling lan waspada

                                                Donomulyo, 11 Juni 2004
                                                Agus Winarno
JAKA TEROB
                            ( versi bahasa jawa
                                                      : AGUSWIN
Musik, lelagon, jogedan
Pambuka:
                  kocap kacarita
                  lambe ngucap bukani carita
                  caritane para widadari
                  sing ayune kaya prawan - prawan mriki

                nalika semana
                ketiga dawa , panase mayuta -yuta
                widadari kahyangan bilulungan - kepanasan
                klambi jangkep jare angkep
                klambi cingkrang jarene ngirit sandangan

                mula ora aneh
                yen tingkahe padha nyleneh
                klambine methet , cupet , ngapret, nganti kaya lepet
                yen disawang tambah mumet

                o…….jagad panas
                widadari sandhangane tambah ganas

                geger para dewa
                duka-duka Bathara Naradha
                widadari kaweden sanalika
                kontring -kontring kabeh keplayu cincing-cincing


musik
widadari keplayu, kaweden
narodo muncul.

                                 SIJI
Naradha       : elek -elek- elek
                pek -pek pong, pek - pek pong waru doyong

                nandur pari di rusak sapi
                koyo waru di gawe lawang
                widadari jaman sak iki
                rupane ayu klanbine nrawang.
Widodari      : nuwun sewu pukulun,iwak wader kepidek gajah
                yen atine kedher ,berarti imane goyah.
Naradha       : pancen bener jenenge gajah
                gak doyan teri gak doyan pindhang
                yok opo iman gak goyah
                nyawang widodari berpose menantang.
Widodari     : ana dhudha ana randane
               aja disalahna iku wis jamane
Widodari     : wadhahe piring isine juwet pukulun naradha muring-
               muring….tapi, sakjane atine ngempet …….
Naradha      : huss!
               nggedhabrus !
               sapa sing ngempet !!!???
Widodari     : kayu waru digawe trompah……
Naradha      : bocahe ayu suwale bedah !
               kapok kowe !
Widodari     : jaran kepang mangan pari…..
Naradha      : wis !
               ora jaran -jaranan !
               nawang wulan, mrene!
Nawang Wulan nyedhak.
ndhingkluk !

Naradha        : Jeneng kita kuwi widodari sing ayu dhewe ,
                 diangep tuwa dhewe,nanging kena apa ora bisa nata
                 adhi -adhine ! Penganggon sak kepenake, nganti
                 kahyangan ora ana ajine !
                 Mangertia ,
                 Jeneng kita kuwi wanitta !
                 wanita tegese wani nata ,nata lair lan nata batine !

                 nata lair tegese kudu wani mbedak -mbedakake,
                 endi sing kudu di bukak ,lan endi sing kudu ditutup
                 kapan dibukak lan kapan ditutup !

                 nata batin ,tegese jeneng kita kudu mbudidaya
                 dhimen kadhewasaan dhiri tansaya ngrembuyung
                 aneng manahira !

                 saiki ulun marentahake , yen kabeh rumongsa panas ,
                 sumuk ,lsp. jeneng kita mudhuna ing marcapada,
                 adusa ing tlaga setengahe wana,
                 yen wus rumangsa lega , aja lali engal balia!

Nawang Wulan : mbenjang punapa kepareng bidhal , pukulun ?
Naradha      : Ikan sepat tidak mengembik, lebih cepat lebih baik !!!!
               enggal budhala !!!

musik.
widadari myembah,
wartawan metu jeprat jepret !

Naradha        : lha ,lha ini dia !
                 wartawan model begini yang bikin khayangan tidak
                 berharga !
                   wan , sini ! Kamu jangan asal jepret!
Wartawan       :   Tapi ,ini 'kan kenyataan !
Naradha        :   kenyataan tidak harus disampaikan kalau hanya akan
                   merusak jaman !
                   kamu harus mampu memilah dan memilih !
                   memilah mana yang baik dan yang buruk, serta memilih
                   mana yang mempunyai kemanfaatan !
                   ingat !
                   jangan hanya mengejar pasar ,jangan asal menjual ka-
                   bar , jangan asal menyuruh arang berkoar ,
                   kalau ternyata membikin rakyat gusar,
                   membikin kehidupan lapar,
                   dan ahirnya semua terkapar!
Wartawan       :   tapi………
Naradha        :   tidak tapi -tapian !
                   sekarang tulis!

                   berdasarkan rapat terbatas ,yang dihadiri peserta
                   terbatas, dengan kemampuan yang juga terbatas,
                   mengingat dsb.
                   menimbang dsb. , maka memutuskan !
                   1 . Bidadari tidak diperkenankan memakai pakaian
                       yang cupet ,methet ,ngapret ……..
                       kecuali kepepet !
                   2. jika bidadari nekad ,
                      maka para dewa akan mencabut status bidadari
                      dan wajib lapor 3 x 24 jam . Kecuali , tim dokter
                      menyatakan sakit !
                   3. cukup !
                   wassalam ,
                   herek -herek
                   Naradha .
Naradha pergi.
wartawan mengejar !

Wartawan       : pukulun ,
                 kenapa sih bidadari kok dilarang pakai baju ketat ?
Naradha        : wow ,
                 memancing anak kecil ingin cepat sunat !!!!!!


                                   LORO
musik irama primitif.
Jaka Terob jogedan.

Jaka Terob     : jaka terob ,
                 jaka thong -thong ,pingin prawan thing- thing,
                 wajah buta terong , tapi hatinya ……..bening !
                   enten sing doyan kalih kula ?

                   Ana sapi doyan pelem
                   mnesti sapi gaya baru
                   yen prawan ngriki podho gak gelem
                   aku milih widadari sing paling ayu !!!!!

ana sworo ing angkasa
jaka terob kaget ,maspadakake !
banjur nyawang menduwur nganggo teroponge !
Swara          : Adhiku widadari kabeh ,kae lho telagane……
                  suegerrrrr……sueeejuuukkk…hueeenaakk.
                  ayo enggal dichedhaki !!!!
Jaka Terob     : lho ,yak napa ?
                  rejeki teko gak kandha -kandha ,nek wis wektune,
                  jodho teka dhewe !

                   Ana wedhus dicakot kirik ,
                   widodari adus ,aku sing ndingkik !!

musik.
Jaka Terob malik awak ,tangan ndaplang ketok kaya wit -witan.


                                    TELU
para widadari nglepas sampur,
dikalungake ana lengen lan sirahe Jaka Terob .

Widadari       :   lho ,apik ya ? Kaya uwong !
Widadari       :   Dudu. Iki kok atos? Uwong kok atos. Watu paling.
Widadari       :   lha kok iki kok gembuk ! Watu kok gembuk !
Widadari       :   Paling ya watu bosok……
Nawangwulan    :   Wis , wis , wis , ayo sak iki adus karo dolanan.

Musik lelagon.
Widadari jogetan .
Widadari       : Sttt !!!
                 piye ya , saumpama…. Saumpama …ana … wong lanang
                 sing ndingkik !
                 (kabeh kaget , nutupi barang penting karo ndhoprok )
Widadari       : Nek aku ya seneng ….
                 ayo sopo pingin nginceng aku ….sapa !!!
Widadari       : nggilani - nggilani .
Nawangwulan : Wis -wis ,ayo saiki balapan nggoleki watu iki !

Nawangwulan nguncalake watu. Kabeh rebutan nggoleki .
nalika semana jaka terob siap karo teropongge !
nyawang sing padha adus .
Jaka terob kalegan atine !
Banjur nyolong slendhange Nawangwulan. Mlayu….

Nawangwulan : Kaya wus sawetara suwe awake dhewe ninggalake kahya
                ngan . Mula , enggal mundhuta ageman, kondur
                makahyangan……
Musik .
kabeh rebut cepet nganggo sandhangan .
nawangwulan kebinggungan ! Wusana dadi tetangisan ,
amarga sandhangane ilang………

Nawangwulan   ketiwasan gusti !!!!
               :
Widadari      kena apa kakangmbok ?
               :
Nawangwulan   Selendangku ilang !
               :
Widadari      Aku weruh .
               :
              sing nyolong mesti maling iki !
Nawangwulan : Wis aja guyon .
              Aku bakal nganakake sayembara .Sapa sing bisa nemok-
              ake selendhangku, yen wanita bakal tak anggep sedu-
              lur sinarawedi , yen kakung bakal tak pundhut garwa !

musik irama primitif.
Jaka Terob jedhul.
Jaka terob    : Masak sop enak rasane ,
                Jaka retob pemenange !!!

Musik manten ! Upacara manten ! Pesta manten ! Gayang!!

                                 PAPAT
Adicara paripurna,
widadari batine meri ,
kepingin antuk jaka sing ngeram ati!

Widadari          : Tibake diinceng wong lanang kuwi hueenakk !!!
Widadari          : Huss !!nggilani !!
Widadari          : Buktine ,kakangmbok sawise diinceng langsung entuk
                    jodho !!! Sapa !!! Kabeh kepingin ta ???
                    Nah, yen ngono, ayo adus maneh, sapa ngerti ana sing
                    nginceng……terus dadi bojone !!!!
Kabeh adus maneh ,
luwih atraktif . Nanging……
Nawangwulan : (nangis)
Widadari          : Kena apa kok nangis ?
                    Apa lara?....Dadi manten iku lara ?
Widadari          : Ya ,hueenakk rek !
Nawangwulan : Adhi -adhiku kabeh !
                    Mangartiya! Jaka Terob jebul dudu wong lanang sing
                    apik ! Jaka terob jebul jago ngintip , jago ngenceng !
                Sing diinceng jebul dudu aku dhewe .Tangga- tangga
                ya diincengi !!!
                Awake dhewe, dadi wanita, kudu duwe kadhewasaan.
                Duwe kapribaden ! Aja dadi wong wadon gampangan !
                Gampang kapincut baguse rupa, kapikut alusing tem-
                bung ! Saiki kudu balas dhendham !!!!!

                                LIMA
Kabeh wis nyawiji tekade !
Jaka Terob nyusul . Kabeh padha nyingkur !

Jaka Terob  : Dhik , jangan tinggalkan aku !!!
              Aku tak bisa hidup tanpa dirimu!!!
Nawangwulan : Mas Jaka! Aku ora bakal ninggal panjenengan,nanging
              ana sarate !
Jaka Terob  : Sarate apa dhik ?
Nawangwulan : Aku lan adhik- adhikku gelem dadi garwa panjenengan,
              Nanging…….
Jaka Terob  : Nanging apa ??
Nawangwulan : Kok enak mas jaka nginceng aku lan adhi -adhikku adus
              saiki genten ….mas jaka sing adus ,aku lan adhi -
              adhiku sing nginceng ….
Jaka Terob  : Sarate iku ????
              oke men !!!!!!!

Karo rasa seneng Jaka Terob adus !
Siji -siji ora ana widadari sing tumuleh ! Kabeh mlengos !
Banjur ,klambine Jaka Terob gawe rayahan , diuwek -uwek!

Nawangwulan : Mas jaka,
              ora sudi aku nginceng kowe !
              ora kere aku rabi karo kowe !
               wis ,rasakna ……tak tingal marang khayanggan!
              Mudaa saklawase…………..
Jaka Terob  ; lho …..lho…..

kabeh mabur !
Jaka Terob bingung,
keplayu karu nutupi barange………….




                                                 katulis maneh
                                  april 2000, smp 2 donomulyo


                                                 agus winarno
NASKAH DRAMA
        BAGINDA RAJA GELOMBANG CINTA
        : AGUS WINARNO

0. MUSIK GEMPITA
            AYO MULAI LEBIH BERANI
            JANGAN RAGU ATAU PUN MALU
            BEBAS LEPAS KREATIVITAS
            SIAPA YANG MALAS PASTI TERGILAS
       1. PASUKAN PERANG KERAJAAN MAHKOTA DEWA BERAKSI.
          BERBAGAI GERAKAN DAN ATRAKSI. Tiba-tiba Krokot datang.
Krokot      : Panglima …..(tergopoh-gopoh)
Panglima    : Ada apa Krokot ?
Krokot      : (Gerak tanpa suara)
Panglima    : Apa gawat !!!
Pasukan     : (Bergerak jurus tertentu)
Panglima    : Tidak usah begitu! Semprul !!!(Pasukan gigit jari, ketakutan)
              Terus bagaimana ?
Krokot      : (Gerak tanpa suara)
Panglima    : Raja suka murung. Terus ?
Krokot      : (Gerak tanpa suara)
Panglima    : Raja tutup mulut !
Krokot      : (Gerak tanpa suara)
Panglima    : Raja marah-marah ? Lho, tutup mulut kok marah-marah?
Krokot      : Ya marah sambil mulutnya tertutup.
              Hp...Hp...Hp... begitu !!!
Panglima    : Bagaimana ini…
              Nah, inilah kesempatan! Kita tunjukkan bahwa kita adalah
              pasukan yang setia kepada raja. Oke?
              Kita adalah pasukan yang siap mengamankan kerajaan. Setuju?
              Kita adalah pasukan yang tangguh dan handal. Betul?
              Ayo kita berangkat!!!
Pasukan     : (Bergerak jurus tertentu)
Panglima    : Kesuwen !!! Ayo berangkat !
MUSIK DINAMIS.
               2. UTUSAN SANG MAHA PATIH LIDAH MERTUA
        SANGAT BERSEMANGAT MENYAMPAIKAN PENGUMUMAN.
Utusan      : Pengumuman, pengumuman !!!
              Barang siapa bisa menghibur Baginda Raja Gelombang Cinta,
              akan mendapat hadiah istimewa dari Maha Patih Lidah Mertua.
              Pengumuman, pengumuman !!!
              Daftarkan diri anda. Tidak dipungut biaya, alias gratisss!
              (Dua orang datang, takut-takut)
              Tidak usah takut.
              (Mereka tidak takut)
              Bisa berdua.
              (Mereka senang)
              Bisa juga berempat.
              (Datang dua orang lagi. Bergabung. Bersorak)
              Kalau berhasil, akan mendapat hadiah istimewa.
              (Mereka bersorak)
              Tatapi, kalau tidak berhasil akan mendapat hukuman yangsetimpal.
              (Mereka kecewa dan pergi.)
              Perhatian-perhatian! Hukuman tidak ada!
              (Mereka bersorak)
                 3. MUSIK JARAN KEPANG TERBANG JIDOR
               ORANG-ORANG BERTOPENG. LIAR DAN BUAS.
                                                                                 1
Ketua       : Kawan-kawan! Penguasa kerajaan Mahkota Dewa bukanlah orang
              yang suka murung. Betul?!
Anggota     : Betul !!!
Ketua       : Penguasa kerajaan Mahkota Dewa bukanlah orang yang suka tutup
              mulut. Betul?!
Anggota     : Betul !!!
Ketua       : Penguasa kerajaan Mahkota Dewa bukanlah orang yang suka metutup
              diri. Betul?!
Anggota     : Betul !!!
Ketua       : Penguasa kerajaan Mahkota Dewa bukanlah orang yang suka marah-
              marah. Betul?!
Anggota     : Betul !!!
Ketua       : Jadi, kalau penguasa hanya murung, tutup mulut, menutup diri,
              dan marah-marah...adalah penguasa yang ...
Anggota     : Salah !!!
Anggota 1   : Maaf, Ketua! Berapa besarkah kesalahan raja hingga raja didemo
              semua orang? Berapa besarkah kekilafan raja hingga raja harus
              turun tahta? Berapa besarkah dosa-dosa raja hingga raja harus
              pergi dari istana?
Ketua       : (Memberi uang)
Anggota 1   : Terima kasih Ketua!
              Ternyata, kesalahan raja itu banyak! Kekilafannya juga banyak!
              Dosa-dosanya, wow, banyak sekali. Ya ketua!
Ketua       : Betul !!!
              Siapa yang akan menunjukkan bukti lain?
Anggota 2   : Saya Ketua!
              Ketika raja punya hajadan, saya mbecek.
Anggota     : Berapa?
Anggota 2   : Lima puluh ribu.
              Ketika saya punya hajadan, raja juga mbecek.
Anggota     : Berapa?
Anggota 2   : Lima puluh ribu.
Anggota     : Ya, kalau begitu pas. Raja nggak salah!
Anggota 2   : Ya salah!!!
              Mosok rakyate 50 ribu, rajane ya 50 ribu. Mestinya kan 100 ribu
              atau 150 ribu. Ya, ketua?
Ketua       : Ya!!! Dan masih banyak kesalahan yang lain.
              Buah duku memang banyak disuka,
              jangan tunda waktu, kita berangkat ke istana !!!
MUSIK JARAN KEPANG.
                     4. MUSIK MENGALUN. ISTANA KAKU.
        PASUKAN SIAGA. PATIH DATANG BERSAMA JURU CERITA.
                   RAJA DATANG. SEMUA DIAM. WAS-WAS.
Patih       : Patih Lidah Mertua datang, Gusti!
Panglima    : Panglima Anggrek Bulan menghadap, Baginda!!
Patih       : Patih Lidah Mertua siap menghibur kegundahan hati Paduka!
Panglima    : Panglima Anggrek Bulan siap tunjukkan kemampuan dan kesetiaan!!!
              Pasukan, tunjukkan kekuatan
PASUKAN BERAKSI. SEMUA TEPUK TANGAN
Panglima    : Baginda, pasukan saya akan menghancurkan batu ini dari jarak jauh.
              Kerjakan !
PERAGAAN SUKSES. BATU BERUBAH JADI TEPUNG. SEMUA BERSORAK.
Patih       : Gusti, perkenankan orang-orang saya menghibur hati Paduka!
MUSIK.
JURU CERITA BERAKSI.
Narator     : Dari buku yang pernah saya baca, ada cerita.
              Di sebuah desa, ada tiga anak sedang bermain-main.
Anak-anak : Wa dawa sing dawa dadi                                                 2
              Kamu jadi (yang jadi menutup dua mata dengan tangan)
              Kamu juga jadi (yang jadi menutup dua mata dengan tangan)
              Aku setengah jadi (menutup salah satu mata)
Narator     : Kemudian mereka berjalan -jalan.
              (ketiganya berjalan)
              Salah seorang di antara mereka sakit pilek, tapi tetap makan es.
Anak 1      : Saya sakit pilek, tapi makan es.
Anak 2      : Saya tidak sakit pilek.
Anak 3      : Saya juga tidak sakit pilek.
Narator     : Di tengah perjalanan, mereka menemukan seonggok benda.
Anak 1      : Seperti telek kebo ya?
Anak 2      : Iya.
Anak 3      : Masak. Ayo kita buktikan! Cara I.
MEREKA BERPIKIR. MONDAR-MANDIR.
Anak-anak : Kita pegang!
MEREKA BERGANTIAN MEMEGANG. SEMUA MENGATAKAN HANGAT.
NAMUN, YANG MAKAN ES MENGATAKAN DINGIN.
DIULANG LAGI CARA II.
MEREKA MENCIUM.
SEMUA MEMBAU TIDAK ENAK. NAMUN, YANG SAKIT PILEK MENGATA-
KAN ENAK. DIULANG LAGI CARA III.
MEREKA MENDULIT, MENJILAT, DAN MENGEMUT.
SEMUANYA MUNTAH.
Anak 1      : Ternyata bener-bener telek kebo.
              Untung kita tidak menginjaknya, cuma menjilat!!!!
SEMUA BERSORAK.
Raja        : Patih, Panglima !
Patih+Pangl : Hamba Gusti.
Raja      : Yang kalian lakukan semuanya salah !!!
            (semua kaget.panik)
            Yang kalian hibur bukanlah raja, melainkan rakyat.
            Yang kalian bahagiakan bukanlah raja, melainkan rakyat.
            Yang kalian perhatikan bukanlah raja, melainkan rakyat.
            Patih!
            Panglima!
            Masuk kandang!!! Algojo laksanakan!!
Algojo    : (datang) Baik Gusti!
            hr…hr….ayo masuk….hr….
Prajurit  : Kami bagaimana, Gusti?
Raja      : Masuk kandang juga!!!
Prajurit  : Emoh….emoh….(merangkak)
Anak-anak : Kami rakyat Gusti….kami rakyat…..(takut dan lari)
Raja      : He! Kemana kalian? Kemana? Jangan pergi….!!! He!!!
            Kenapa begini?
MUSIK
Raja      : Keputusan yang tergesa-gesa,
            keputusan yang egois,
            bikin hidup sia-sia,
            bikin hidup menangis,
            tak berdaya, tak ada guna!
            Untuk apa??? Untuk siapa???
                       5. TOPENG-TOPENG DATANG.
                MENGENDAP-ENDAP. MENERTAWAKAN.
Ketua     : Hebat !!!
            Melankolis, alias melas!
            Pantaskah, seorang raja bersikap seperti ini?
            Pantaskah, seorang raja berpakaian seperti ini?
            Pantaskah, seorang raja berperilaku seperti ini?                     3
Raja      : Sudahlah, aku sudah menyerah. Aku malu. Jangan terus dipermalukan.
            Aku malu rek. Ambil tahta ini. Silakan! Aku lila legawa…
Ketua     : Pantaskah, seorang raja menyerah begitu saja?
            Pantaskah, seorang raja gagah berani tiba-tiba tidak punya nyali ?
Raja      : Baik!!! Kalau itu mau kalian!
            Rawe-rawe rantas, malang-malang putung!!!
            Siapa berani menurunkan, nyawa jadi taruhan!
            Hahahah….
            Pantaskah, seorang raja yang jelas-jelas kalah tidak mau menyerah?
            Yakopo sih rek! Nyerah salah, wani salah! Embuh….karepmu!!!
            Ambil istanaku. Ambil tahtaku. Ambil semuanya….
PESTA KEMENANGAN.
MENARI DAN BERNYANYI :

Ketua      : Akulah yang telah menggerakkan ini.
             Akulah yang telah membiayai ini.
             Akulah yang telah mengatur semua ini.
             jadi,
               Akulah raja di sini.
               (Semua bersorak)
               Kamu jadi Patih, kamu Panglima, kamu Tumenggung, kamu Adipati,
               kamu demang….kamu Kepala Sekolah…hahahaha….
               Sekarang,
               kita pertemuaan kenegaraan.
               Pasewakan Agung.
MUSIK          AYO AYO GEMBIRA                   HARI INI KITA BISA MENANG
Ketua      :   Kita bahas sekarang program 100 hari pertama.
               Patih, apa rencanamu!
Patih      :   Rencana apa?
Ketua      :   Lho! Panglima apa programmu?
Panglima   :   Program apa?
Ketua      :   Edan ! Semua apa langkah kalian???
Semua      :   Langkah apa?
Semua      :   Iya apa?
Semua      :   Aku blas gak ngerti….
Ketua      :   Bagaimana ini???
               Aku rugi! Sia-sia!!
               Bagaimana ini???
Raja       :   Bagaimana-bagaimana?
               Apa kamu pikir jadi raja itu gampang? Enak?
               Jadi Patih itu gampang? Enak begitu?
               Jadi Panglima itu gampang? Enak! Iya!!! Iya!!!
               (sambil bicara sambil memukul gaya anak-anak)
               Ngomong gampang, melaksanakan belum tentu
               Genthong kudu onok isine, wani ngomong kudi onok buktine!

LAGU PENUTUP
          Aja glenye-glenye mengko dadi gawe,
          aja polah-polah mengko tambah bubrah!!!!

                         PRODUKSI KKSD
               KELOMPOK KREATIF SMP N 2 DONOMULYO                                   5
                            JUNI 2007



                                                                                4
STAF PRODUKSI
                TEMBANG PANGUPAJIWA
             KONTINGEN KABUPATEN MALANG
            TEATER REMAJA SMP, 3-4 JULI 2003

PENANGGUNG JAWAB         : KEPALA SEKOLAH
                           DRS. SAMIADI
PIMPINAN PRODUKSI        : RUSLAN, S. PD.
NASKAH DAN SUTRADARA     : DRS. AGUS WINARNO
PENATA MUSIK             : DRS. AGUS WINARNO
PENATA RIAS / KOSTUM     : AGUS MURDIONO
                           TRILEKSONO TJ.
                           YALA SULASTRI

PEMUSIK : 1. INA CAHYA DWI K.
          2. SERI TRI NOVITA
          3. NITA LESTARI
          4. ERNAWATI
          5. ARIK MARIE EKAWATI
          6. NURMA WULANSARI
PEMAIN : HIDAYATULLOH
         RUDI SETIAWAN
         RENDHI YUDHA P.
         RIZAL AFANDI
         SUGENG WIYONO
         FERI PUTRA ARDI
         PRIMANDIKA AHMAD T.
         WAHYU DENIS P.
         FIDA PANGESTI




         KEPALA SEKOLAH


         DRS. SAMIADI
         NIP 131648946



                 TEATER REMAJA SMP
            KONTINGEN KABUPATEN MALANG




                         NAMA KELOMPOK:
                               KKSD
     ( KELOMPOK KREATIF SMPN 2 DONOMULYO )
                           JUDUL NASKAH:
       BAGINDA RAJA GELOMBANG CINTA




            PEKAN SENI PELAJAR JAWA TIMUR 2007
             ASRAMA HAJI, SUKOLILO - SURABAYA

                  TEATER REMAJA SMP
             KONTINGEN KABUPATEN MALANG
          BIODATA PESERTA SMPN 2 DONOMULYO
           NAMA            KELAS     N.IND     TEMPAT, TGL LAHIR
1. INOVA DINI RINTASARI    KL. 7A    0871    MALANG, 25 -11 -1993
2. YOSI ERNI LESTARI       KL. 7A    0890    MALANG, 09 - 07 - 1994
3. DEVI AYU INDRIASARI     KL. 7A    0860    MALANG, 21 - 01 - 1994
4. INTAN PURNAMA SARI      KL. 7A    0872    MALANG, 09 - 07 - 1994
5. ENDAH NOVIA W.          KL. 7A    0865    TERNATE, 12 - 11 - 1994
6. YULIA                   KL. 7B    0931    MALANG, 30 - 06 - 1993
7. EVI ROSALITA            KL. 7B    0908    MALANG, 06 - 12 - 1993
8. ARINDI SARASWATI        KL. 7B    0894    MALANG, 17 -04 - 1993
9. DEVI LUVITASARI         KL. 7B    0901    MALANG, 30 - 12 -1994
10. DEVI KRISTANTI         KL. 7B    0903    MALANG, 24 - 11 - 1993
11. MARTA CAHYA K.         KL. 7B    0918    MALANG, 03 - 09 - 1993
12. NOVITA ANGGASARI       KL. 7B    0921    MALANG, 20 - 11 - 1993
13. ELI NURA OKTAVIANI     KL. 7B    0907    MALANG, 10 - 10 - 1993
14. DWI AGUSTINA           KL. 7B    0905    MALANG, 22 - 08 - 1993
15. RETNO WULANDARI        KL. 7B    0925    MALANG, 22 - 03 - 1994
16. SEPTIANA ARISTASANTI   KL. 7B    0926    MALANG, 23 - 09 - 1994
17. HENIK PUJI LESTARI     KL. 7C    0957    MALANG, 03 - 07 - 1993
18. IRA PUSPITASARI        KL. 7C    0959    MALANG, 07 - 03 - 1994
19. LAILATUL LINTANG       KL. 8A    0745    MALANG, 21 - 10 - 1992
20. DWI RAHAYU             KL. 8A    0780    MALANG, 18 - 10 - 1992
21. RISKA MAILINDA         KL. 8A    0757    MALANG, 11 - 05 - 1993
22. AGIS SETIANING         KL. 8C     07     MALANG, 03 - 08 - 1992
23. NOVIANA YUDHA S.       KL. 7A    0881    MALANG, 18 - 11 - 1993

                                    Kepala Sekolah,
Drs. Suprianto
NIP 131900387
1




2
3
4
5
7
8
9
TEMBANG
PANGUPAJIWA ----------------------------------------------------------
        : aguswin

                                    SATU
                Malam menjelang pagi sehabis pesta rakyat
                       Sunyi. Sepi. Dengkur-dengkur.
                        Seorang pekerja tak bisa tidur
Dayat       : To, Wanto (tidak ada sahutan)
              Wanto !!!
Wanto       : Apa Kang?
Dayat       : Dicari istrimu?
Wanto       : Aku ngantuk, Kang.
Dayat       : Kalau ngantuk?
Wanto       : Aku gak butuh istri.
Dayat       : Kalau nggak ngantuk?
Wanto       : Ya aku butuh …..
Dayat       : O, entutmu !
Dayat mendekati Dodik
Dayat       : Dik, antarkan aku kencing.
Dodik       : Huh !!! Kencing di situ saja!
Dayat       : Hah? Di sini? Yesss!!!
Dayat kencing di tempat itu.
Orang-orang gempar. Dayat dilempar.
Kembali para pekerja dalam lanjutan mimpi.
Malam berganti pagi.
                                    DUA
                                  Pagi hari.
                      Mandor datang bawa rejeki. Gaji.
Mandor      : Dayat !
Dayat       : Siip !
Mandor      : Hutang kamu lima puluh ribu, gaji kamu seratus ribu.
              Sisa …..
Dayat       : Lima puluh ribu.(menerima smbil pergi)
Mandor      : Sebentar…..hutang kamu membeli sarung…lima puluh
              ribu. Sini! (uang diminta lagi). Dodik!
Dodik       : Ya, nDor!
Mandor      : Kamu terima utuh, seratus ribu.
Dodik       : Asyiiik. Bisa kawin lagi.
Mandor      : Feri!
Feri        : Oke!
Mandor      : Kamu masuk tiga hari…lima puluh ribu.
Feri        : Siip !
Mandor      : Wanto !
Wanto       : Nggih.
Mandor      :  Hutang kamu seratus dua puluh lima. Gaji?
Wanto       :  Seratus ribu.
Mandor      :  Berarti kurang…dua puluh lima ribu. Mundur ! Yudi !
Yudi        :  Oke, Boss.
Mandor      :  Kamu izin lima hari. Satu kamu kawin. Dua, istrimu
               melahirkan. Tiga, anakmu sunat. Empat, anakmu ka-
               win. Lima, anakmu punya anak. Ini..lima belas ribu.
               Denis.!!
Denis       : Joss.
Mandor      : Gaji kamu seratus ribu. Hutang kamu seraaatus ribu.
               Jadi, kosong!
Denis       : Wadhuh….(garuk-garuk kepala)
Mandor menata emosi. Bingung.
Mandor      : Sekarang saya mau menyampaikan kabar baru.
Pekerja     : Sampaikan saja!!!! Wah kejutan ini….
Mandor      : Mau saya sampaikan nggak. Nggak saya sampaikan juga
               nggak enak. Jangan-jangan….
Pekerja     : Sampaikan saja!!!!
Mandor      : Kalau saya sampaikan jangan marah lho?!
Pekerja     : Enggak…
Mandor      : Sumpah?
Pekerja     : Enggak…
Mandor      : Begini. Dana bangunan ini macet !
Pekerja     : Lho…
Mandor      : Katanya nggak marah.
Pekerja     : Bah-bah !!! Terus bagaimana?
Mandor      : Begini, kata Mami….jumlah karyawan dikurangi, gaji
               karyawan juga dikurangi.
Pekerja     : Tidak bisa! Harus tetap, kalau bisa ditambah!!!
Mandor      : Tidak bisa.
Pekerja     : Harus bisa !!!
Mandor      : Ini sudah keputusan Mami. Ini buktinya! (menunjukkan
               cacatan)
Pekerja     : Halllah…ini bisa dibuat-buat!
Mandor      : Sumpah! Ini sudah keputusan Mami.
Pekerja     : Tidak peduli !!! Kita bekerja yang bayar Mandor. Kalau
               ada apa-apa, yang digebuki Mandor. Kalau gaji macet,
               yung dicincang Mandor!!! Sana lapor Mami !!!
Mandor diusir.
Orang-orang mogok kerja.
Dayat mengajak berkali-kali, namun gagal.
Dayat       : To, kamu percaya omongannya Mandor?
Wanto       : Kalau sampeyan?
Dayat       : Aku percaya.
Wanto       : Kalau begitu saya juga percaya.
Dayat       :   Kalau kamu Fer?
Feri        :   Nggak.
Dayat       :   Kamu Nis?
Denis       :   Gak blas!!!
Dayat       :   Kamu Dik?
Dodik       :   Tidak!!
Wanto       :   Kalau begitu saya juga tidak.
Dayat       :   Bagaimana sih kamu ini?
Wanto       :   Saya ikut orang-orang kok.
Denis       :   He, Yat! Jangan maksa orang. Kamu bela Mandor ?
            :   Sing bela Mandor siapa? Tapi, coba pikir!
            :   Kamu pernah ditipu Mandor?
            :   Belum.
            :   Pernah gaji telat?
            :   Belum.
            :   Pernah dipinjami uang?
            :   Pernah.
            :   Nah, saya percaya Mandor itu baik. Jujur!!!
                Nanti dulu!
                Apa mungkin perusahaan ini bangkrut? Mami itu kaya!
                Jangan-jangan Mandor mau ngurangi gaji kita. Kalau
                masing-masing sepuluh ribuan…sudah berapa????
                Uang itu dibadhog Mandor.
                Sekarang, mogok. Meneng kabeh!!!

                                    TIGA
Mami datang. Semua diam. Dndanan aduhai…
Mami       : Hai !? (semua memalingkan)
             Ada apa sih? Masak begini pada Mami?
             Ada apa Yat?
Dayat      : Nggak ada apa-apa. Ini lho semut mati…
Mami       : Ah. Dodik ada apa?
Dodik      : Begini Mi, katanya si Mandor, gajinya daripada karya-
             wan itu dikurangi, terus jumlah daripada karyawan juga
             dikurangi. Begitu, Mi.
Mami       : Betul To?
Wanto      : Nggih .
Mami       : Itu semua salah!!!
Denis      : Lho! Kelakuan munyuk kalimantan. Panggil Mandor!!!
Semua pekerja menyeret Mandor.
Memaksa datang disitu.
Mami       : Kamu bilang apa pada mereka?
Mandor     : Katanya Mami disuruh menyampaikan hasil rapat.
Mami       : Rapat yang mana?
Mandor     : Itu, tentang gaji dikurangi, karyawan juga dikurangi.
Mami        :  Itu tidak benar!
Mandor      :  Tapi, keputusan itu?
Mami        :  Itu tidak benar!
Mandor      :  Tapi, keputusan itu?
Mami        :  Itu tidak benar!!!!
               Dengar semuanya! Gaji tidak ada yang dikurangi.
               Jumlah pekerja juga tidak ada yang dikurangi. Semua
               tetap, kalau mungkin ditambah…
               Karena semua ini penyebabnya Mandor, mulai besok
               saya berhentikan! Temui saya di kantor untuk menerima
               pesangon!
Pekerja      : Lhadalah!!! Gebuk saja !!!!
Kecuali Dayat semua memukuli Mandor. Wanto dapat dipengaruhi
Dayat untuk tidak ikut nggepuk, ikut nendang, njotos, memaki,…..
Panggung tinggal Dayat dan Wanto.

                                 EMPAT
Keduanya bingung. Antara percaya dan tidak.
Musik menyayat.
Mandor datang.
Mandor     : Saya minta maaf.
             Kamu boleh percaya, boleh tidak.
             Nanti akan terlihat siapa yang salah, siapa yang benar.
             Saya pamit…
Wanto      : Mau ke mana nDor?
Mandor     : Ke mana saja.
Dayat      : Hati-hati ya nDor?
Mandor     : Ya…terima kasih. Maaf…
Wanto      : Sama-sama. Saya juga…dada Mandor…
Mandor     : Da..da..(pergi)
Keduanya haru.
Kecamut dalam hati dan botak kepala keduanya.
Bingung.
Dayat      : Piye To???? Saya bingung……

Tembang Pucung berkumandang tidurkan mereka berselimut kalut:
              Saya bingung
              uteg judheg dadi gemblung,
              nyawang kedadeyan,
              ruwet tan aneng ngluwari,
              yen rinasa urip kaya satowana….
Kedua tersentak saat musik menghentak tiba-tiba.
Dayat       : Lho…itu To, lihat…
Wanto       : Iya, Kang. Denis…bawa besi. Dodik bawa semen.
Dayat       : Iya, Kang. Feri bawa kayu….itu Mami. Lho..
Wanto      : Mana?
Dayat      : Baju merah ketat, di balik truk itu.
Wanto      : Ya nggak kelihatan…
Dayat      : Biar kelihatan, truknya dibalik.
Wanto      : Sampeyan iki…
Dayat      : Wah tidak beres! Kita lihat bagaimana besok.
Keduanya pergi.

                                    LIMA
Musik pekerja.
Semua giat bekerja.
Denis        : Stop! Stop! Semennya cukup. Ukurannya dikurangi!!!
Dayat        : Lho, biasanya 'kan ditambah?
Dodik        : Sekarang dikurangi. Kayu, besi, semuanya dikurangi.
               Ini keputusan Mami.
Dayat        : Ini bangun gedung. Gedung perlambang kepribadian
               kita. Kalau gedung ini kuat, berarti yang mbangun jiwa-
               nya kuat. Kalau gedung ini ringkih, berarti yang mba-
               ngun jiwanya juga ringkih.
Denis          Hallah, nyocot….pergi!
Semua          Pergi!!! (Dayat dan Wanto diusir)
Mereka kembali bekerja dengan semangat berlipat. Sana sini sikat.
Nyanyian mereka :         di sini sikat, di sana sikat
                          di mana-mana harus di sikat, o..e..o
Bangunan pun ambruk.
Menimpa semuanya.
Teriakan dan kematian.
Wanto dan Dayat memanggil-manggil sepi,
kawan-kawan yang telah mati.
Dayat        : Semuanya telah terjadi..
Wanto        : Aku kangen teman-teman, Kang…(panggil-panggil)
Dayat        : Betapa banyak tangisan.
               Tangis anak istri. Tangis kerabat, sanak saudara, orang
               tuanya. Gara-gara ingin cepat kaya, iman kuat tak ada,
               pertimbangan hilang, jiwa melayang…
               Gedung ini uang rakyat, keringatnya rakyat, kenapa
               hanya asal sikat, gedung tidak kuat, akhirnya bejat.
               Kerja itu 3C : Cari duit, Cari saudara, Cari jalan surga.
               Ayo, kita cari rejeki Tuhan.
               Tangan Tuhan ada di mana-mana.
               Rahmat Tuhan tersebar di seluruh sudut kehidupan.
               Siapa berusaha, di situ karunia.
               Siapa yang malas, di situ tergilas.
               Ayo…..(keduanya berjalan)
Tiba-tiba berhenti.
Wanto   :   Ada apa Kang?
Dayat   :   Ada yang tertinggal.
Wanto   :   Apa?
Dayat   :   Sarung, kopyah, dan sajadah !!!
                            s e l e s a i
                                              15 oktober 2002
                                              agus winarno
                             MBILUNG
                             P...U...R...I...K
                                  : aguswin

                                      SATU
        Orang-orang beramai-ramai mengeroyok Robert, pengemis.
                      Mengolok-olok. Mendorong-dorong.
                                 Robert tersudut.
Orang        : Ngganteng-ngganteng ngemis!
Orang        : Hidup susah begini, masih dimintai…
P. Lem       : Pingin kaya itu kerja, ngemis ae gampang….
Robert       : Lho, ngemis itu susah lho mas. Perlu pengorbanan.
                Kalau nggak percaya, coba sampeyan yang ngemis,
                aku yang jadi sampeyan.
P. Lem       : Ra sudi!!! Tak lem lambemu….
P. Jamu      : Mas Robert, sampean sakjane lumayan.
                Sampeyan isa bantu jual jamuku, tak perseni…..tenan!
Orang        : Sri, sri….enek wong rada melek kok wis gatel!
Orang        : Ayo, gepuki ae….
Orang-orang berusaha memegangi Robert.
Mau dianiaya, tapi….
Robert       : Paklis, Bulik, semuanya….saya mau dibunuh, tapi saya
                terlanjur janji.
Orang        : Janji apa?
                Aku berjanji dalam mimpi …..
P. Lem       : Hallah pengemis masih punya mimpi!
Robert       : Justru pengemis itu mimpinya banyak.
                Mimpi makan enak, rumah mewah, mobil bagus…
Orang        : Nggedabrus!!! Janji apa, cepet!
Robert       : Dalam mimpi itu, saya bertemu dengan orang terkenal.
                Tapi, dia bukan keturunan orang terkenal.
                Dia juga bukan teman atau saudaranya orang terkenal.
                Tiba-tiba saja, dia terkenal begitu!
                Tapi, dia baik. Baik pada semuanya. Ramah, sopan, ju-
                jur. Pokoknya disukai banyak oranglah.
                Dia sepertinya saya kenal, tapi tidak saya kenal….
                Kok mbulet?!!!
                Memang mbulet begitu dalam mimpi saya….
                Sepertinya orang itu saya kenal, tapi tidak saya kenal.
                Aneh,
                Tiba-tiba saja, dia jadi garang! Entah kenapa.
                Semua orang ingin diganyang. Ingin dibunuh.
                Sampeyan….sampeyan…sampeyan juga….
                Dan dengan mata nanar penuh marah, dia kejar semua
                orang. Panik di mana-mana.
               (Semua terkesima dengan cerita Robert. Takut. Panik.
               Terdiam semuanya. Semuanya terdiam.)
               Begitu cerita saya,
               sekarang silakan bunuh saya….saya ikhlas.
               Ayo Paklik, Bulik, Mas, Mbak, ……ayo bunuh saya.
P. Jamu      : Mimpi kok serem ta Bert?
               Mbok mimpi yang baik-baik saja!
Robert       : Mana bisa, mimpi kok milih-milih.
P. Lem       : Wis, wis….ayo kerja lagi!
               Biasa…yang biasa…nggak usah takut…..
Orang-orang berusaha menutupi ketakutannya.
Tiba-tiba muncul Pakdhe, tokoh yang dianggap unik.
Pakdhe       : He, generasi muda!!!
               Ada tanda-tanda perubahan zaman!
               Kamu harus tegas!
               Sikap yang tegas!
               (memandangi orang satu per satu)
Orang-orang manahan tawa.
Berpura-pura takut.
Begitu Pakdhe hilang, tawa mereka meledak….
P. Jamu      : Aku tadi ngempet lo…sumpah.
P. Lem       : Aku iyo, Sri. Wong kok aneh…

                                   DUA
                        Suara riuh dari balik panggung
                      Ini lo mas Mbilung. Bener, ini lho!!!
             Ayo ajak ke sana, ayo….kata mereka bersahutan.
                       Mbilung dan orang-orang muncul.
P. Jamu      : O, ini to Mas mbilung. Tokoh pewayangan yang seka-
               rang jadi manusia. Bagus ya? Minum jamuku, Mas.
               Ini jamu seger waras, awal loyo jadi bregas.
               Ini jamu pegel linu, obat rindu antara kamu dan aku…
P. Lem       : Ini lem, Mas. Buat ngelem lambenya Sri ini…
Mbilung      : Manusia…lucu-lucu, ya.
Robert       : Lucu, Mas. Enak kok jadi manusia. Makanya saya nggak
               mau jadi kadal.
P. Lem       : Soalnya, yang pantas bukan kadal tapi badak…
Robert       : Mesti sentimen….ada orang akrab dengan tokoh terkenal
               mesti iri. (mengamati stik golfnya mBilung)
               Stik golf…mahal ya mas?
P. Lem       : Seratus pengemis nggak bisa ditukar dengan stik ini!
Robert       : Kok mesti iri sih?
Mbilung      : Barang ini nggak beli. Diberi!
               Kalau sudah enak, apa-apa itu enak. Rejeki datang,
               semua jadi gampang!
P. Jamu      : Enak ya, baru jadi manusia langsung ngetop. Saya,
               yang sudah lama jadi manusia, nggak ngetop-ngetop.
Robert       : Ini sudah cocok dengan cita-citanya.
               Namanya kan Sri, Sengsara Rasanya Indah…
Sri marah.
Tiba-tiba serombongan wartawan datang.
Semua mengerumuni Mbilung.
Wartawan      : Sejak kapan mas Mbilung tampan?
Mbilung       : Sejak jadi manusia.
Wartawan      : Enak jadi manusia, Mas.
Mbilung       : Enak itu.
Wartawan      : Bagaimana pendapat mas Mbilung tentang manusia
                jaman sekarang?
Wartawan      : Lho, saya belum berpengalaman kok berkomentar.
Mbilung       : Tapi kan bisa berpendapat!
Wartawan      : Malu Mas, kalau berpendapat hanya untuk pendapatan.
Mbilung       : Lebih baik biarkan saya nikmati jadi manusia dulu.
                Dah ya, saya permisi dulu….
Wartawan      : Lho,….mas…satu pertanyaan lagi………

                                    TIGA
                                Pakdhe muncul.
                Mula-mula suaranya, lalu wayang-wayangnya.
Pakdhe       : Saudara-saudaraku, kita satukan tekad!
               Ini adalah penyimpangan. Penyimpangan mendasar!
               Betul ????
               (jawaban bersahutan)
               Bagus!
               Memang harus bulat supaya kuat. Kalau tidak, harus
               ada yang dipecat! Setuju???
               (jawaban bersahutan)
               Ini jelas-jelas penyimpangan. Menyalahi kodrat.
               Menyalahi hakikat. Karena itu, kita harus tegas!
               Cepat semuanya! Kumpul !!!
Pakdhe muncul menyeret pasukan wayang.
Itulah wadyabalanya.
Orang        : Pakdhe…
               Sampeyan itu sudah nggak bisa bicara dengan orang?
               Kok bicaranya dengan barang.
Orang        : Nyebut Dhe..
               Semua benda ya mesti manut yang mrentah. Coba saya!
               (mencoba wayang untuk melecehkan Pakdhe)
Pakdhe       : Kamu jangan macam-macam! Ini bolo-bolo saya yang
               setia pada sikap tegas saya!
Orang        : Hallah, bolo kok wayang.
               Sikap tegas apa?
Pakdhe       : Terhadap penyimpangan ini.
Orang        : Penyimpangan apa?
Pakdhe       : Tidak tahu, apa pura-pura?
               Mbilung menyimpang! Dia ingin jadi manusia!
               Ini jelas penyimpangan besar-besaran!
Orang        : Ya, lihat-lihat dulu!
Pakdhe       : Apanya yang dilihat? Semuanya sudah jelas!
               Pertama, Mbilung berasal dari dunia wayang, bukan
               dunia manusia. Kedua, Mbilung itu dari wayang kejahat-
               an, dunia raksasa.
Orang        : Lihat saja perkembangannya, Dhe?
Pakdhe       : Apanya yang dilihat?
               Mbilung berasal dari dunia jahat! Apa kita mau dunia
               kita dihiasi kejahatan?
Orang        : Sampeyan terlalu menutup kemungkinan!
Pakdhe       : Kamu terlalu membuka kemungkinan!
Orang        : Iya!!!
               Kalau memang dia menginginkan dan bisa, kenapa dila-
               rang? Ini hak hidup dia! Jangan terlalu banyak larangan!
               Jangan terlalu banyak tanda seru, nanti jadi hara-huru.
               Jangan terlalu banyak lampu merah, nanti banyak yang
               marah ! Jangan terlalu banyak stopan, nanti terjadi ke-
               mandegan !!!
Pakdhe       : He !!! Orang seperti kamu yang membuat dunia cepat
               hancur! Semua serba boleh dan mungkin!
Orang        : He !!! Orang seperti sampeyan yang membuat dunia ce-
               pat mati. Semua harus begini…begitu!
               Tidak semuanya harus tegas Dhe!
Pakdhe       : Jangan mentang-mentang kamu muda!
Orang        : Jangan mentang-mentang sampeyan tua!
Pakdhe       : Kurang ajar!!! Kamu menghina orang tua! Orang yang
               sudah banyak makan garam!
Orang        : Pantas! Yang dimakan cuma garam. Hidup ini berma-
               cam-macam Dhe. Ada manis, ada juga yang kecut …..
               ni..(menunjuk ketiak)…ini asin..(menunjuk upil)
Pakdhe       : Tak tapuk lambemu!!
Orang        : Ayo, tapuken !!!
Pakdhe berusaha memukul. Yang muda lari menggoda.
Semakin gemas dia. Semakin seru kejar dan goda-menggodanya.
Bayan datang.
Bayan        : Saudara-saudaraku, kita harus membereskan tempat
               ini. Tempat ini akan dijadikan dialog antara tokoh kita
               dengan Mbilung.
Orang        : Membicarakan apa?
Bayan     : Pengembalian pada dunia yang semestinya!
Orang     : Lho, kok begitu?
Bayan     : Ini sudah keputusan!
Orang     : Keputusan siapa?
Bayan     : Keputusan rapat!
Orang     : Rapat siapa?
            Kamu ikut rapat?
Bayan     : Aku tidak ikut rapat. Aku di luar! Tugasku bukan rapat.
            Tugasku diperintah!!!
            Sudah! Menyingkir semuanya….
            Minggir…..Protes??? Usir !!!!

                                   EMPAT
                           Semuanya menyingkir.
                             Tokoh dan Mbilung.
Tokoh     :   Jadi, begitulah maksud kedatangan saya.
Mbilung   :   Ya, saya tahu. Tapi kenapa, anda begitu mempersoalkan
              asal muasal. Menekankan perbedaan dunia.
Tokoh     :   Ini demi stabilitas, Mas Mbilung. Demi keseimbangan.
              Mohon, Mas mau rela berkorban.
Mbilung   :   Saya tidak tahu tentang rela berkorban, yang jelas saya
              telah jadi korban. Bertahun-tahun. Berabad-abad lama-
              manya. Terus-terusan saya jadi punakawan kejahatan,
              abdi keangkaramurkaan. Apa Anda pikir saya senang?
              Saya ingin berhenti! Saya ingin baik!
Tokoh     :   Baik, tetapi tetap di dunia wayang kan bisa?
Mbilung   :   Mulut dan tangan dalang akan selalu menempatkan saya
              pada posisi salah dan kalah!
Tokoh     :   Itulah posisi hidup, Mas!
              Kita harus menerima posisi masing-masing….
Mbilung   :   Anda menerima, sebab posisi Anda bagus. Coba Anda
              seperti saya…apa Anda menerima?
              Saya pusing!!! Saya sudah berusaha menerangkan.
              Tapi, kalau masing kurang mohon maklum. Saya belum
              berpengalaman jadi manusia. Maaf, pengalaman hidup
              saya sangat hitam dan kejam!!!(mengerang)
Tokoh     :   Mas, jangan emosi!!!
              Kita bicara baik-baik !!!
Mbilung   :   Saya sudah mencoba baik.
              Tapi, kalau Anda tidak menerima….maaf!!!
              Cara bendara-bendara saya sudah saya hafal.
              Sangat saya kenal. Saya bisa meniru cara mereka!!!
              Silakan pergi secara terhormat, atau pergi tanpa kehor-
              matan. Kemarahan saya sudah sampai di ubun-ubun.
              Pergi ……….!!!!
Mbilung matanya nanar!
Tokoh ketakutan, terbirit-birit.
                                        LIMA
                            Muncul beberapa dukun.
                Mantra-mantra. Gerak-gerak. Bunga dan dupa.
Dukun         : O, jagat wetan…jagad kulon….jagad lor…kidul…
                kembalikan Mbilung pada asal-muasalnya!
                Mbilung,
                alammu bukan di sini, kembalilah……….
Mbilung       : Keparat!
                Kalian pikir aku iblis!
Dukun         : Jangan pedulikan!
                Itu bukan suaranya sendiri.
                Siap-siap….tangkap!!!
Semua siap. Sigap.
Mbilung tertangkap.
Dukun         : Siapkan upacara !!!
Upacara dimulai.
Mbilung ditutup kain putih.
Upacara selesai.
Tapi,
Mbilung tegak berdiri. Berapi-api !!!
Mbilung       : Kalian pikir aku mati!
                Aku masih segar bugar.
                Apa salahku?
                Apa aku merugikan kalian? Mengusik ketenteraman ka-
                lian? (Semua diam)
                Kalau tidak ada jawaban, jangan salahkan saya kalau
                Rahwana, Mahesasura, Lembusura, Niwatakawaca,
                semua merasuk dalam diri saya…
                PERGI !!!!
Mbilung mengamuk.
Semua takur.
Lari tunggang-langgang.
Mbilung sendirian.
Mbilung       : Hidup macam apa ini?
                Bertahun-tahun hidup bersama keangkaramurkaan,
                sekarang mau baik saja ditolak???
                Jadi manusia saja ditolak, apalagi ingin jadi manusia
                yang sebaik-baiknya???
                Lelucon macam apa hidup saya ini?
                Haruskah selamanya ada korban?
                Kenapa mesti saya???
                Pengorbanan abadi, perjuangan sia-sia...
Tiba-tiba muncul Wartawan.
Wartawan      : Kenapa mas Mbilung berubah begini?
                Kenapa?
                Tanya mereka!! Saudara punya kepentingan apa dengan
                nasib saya? Apa untung saya???
                Saudara hanya ingin menjual rasa sakit saya!
                Apa yang bisa saudara lakukan saya??? Jawab !!!
                Saya merasa tidak untung dengan menjawab pertanyaan
                saudara. PERGI !!!!
Mbilung kalap.
Wartawan diusir paksa.
Kembali dia sendiri.
Seorang Dalang muncul dengan hati-hati.
Kedua pasang mata bertatapan beberapa saat.
Mbilung       : Saya sudah duga, akhirnya bertemu sampeyan.
                Saya sebenarnya sudah berhenti jadi dalang.
                Karena sampeyan tidak mampu menata wayang-wayang
                dalam diri sampeyan sendiri 'kan?
                Saya sakit, Pak Dalang!!!
                Kalau sakit, apa lantas begitu?
                Menghujat siapa saja, marah pada siapa saja?
                Kalau ingin baik, gunakan cara yang baik.
                Kalau gagal?
                Gunakan cara lain yang juga baik.
                Kalau masih gagal?
                Gunakan cara yang lain lagi yang juga baik.
                Kalau akhirnya gagal dan mati?
                Biarkan mati dalam kebaikan.
                O, lamis!!! Dakik-dakik sampeyan!
                Saya tetap ingin jadi manusia…
                Lho, silakan!
                Apa kamu pikir aku melarang?
                Silakan kamu menjadi manusia, menjadi idola-idola ka-
                mu! Kamu pikir, di dunia manusia bisa gamblang seper-
                ti di wayangmu?
                Di sini, Rama bisa sekaligus jadi Rahwana. Bima bisa
                sekaligus jadi Duryudana. Satriya bisa sekaligus raksasa.
                Pendhawa dan Kurawa seakan menyatu di sini.
                Sulit dibedakan….
                Dan bukan tidak mungkin,
                kebosananmu menjadi punakawan kejahatan, justru akan
                menjadikan dirimu raja kejahatan jauh di atas raja-raja
                jungjunganmu !!!
                Silakan kamu nikmati dunia yang penuh kebisingan,
                kebohongan, dan kebusukan ini.
                Silakan !!!
Mbilung pingsan.
Dalang       : Malah semaput.
               Ngisin-isini.
               Memalukan.

                           s e l e s a i
                                           malang, juli 2003
                                           agus winarno
                                           untuk sahabat-saha-
                                           bat.
KALAU BOLEH
MEMILIH LAGI (dramatisasi cerpen Putu Wijaya)
          : aguswin ------------------------------------------------------

                                       SATU
Narator        : Oki tidak menyangka bahwa benda yang dipeluknya
                 sewaktu tidur ternyata adalah bom.
                 Ia tercengang. Ia belum pernah menghadapi sebuah bom.
                 Baginya, bom adalah sesuatu yang keras, dingin, penuh
                 seluk beluk, dan menimbulkan keruwetan-keruwetan.
                 Dalam keadaan seperti itu, ia akan teringat akan musuh-
                 musuhnya. Tetangga-tetangganya yang ia benci. Majikan
                 yang pernah menyakiti hatinya. Bekas-bekas pacarnya.
                 Aparat yang tidak melayani rakyat. Wakil rakyat yang
                 duduk di kursi meikirkan diri sendiri.
                 Ia ingin membawa bom itu ke sana, lalu meledakkannya
                 dan menanggung resikonya. Lantas, dai dianggap sebagai
                 penjahat atau pahlawan.
                 Tapi,
                 Oki bukan laki-laki jantan yang berani berbuat nekad.
                 Ia tidak berniat menjadi pahlawan atau penjahat yang
                 spektakuler.
                 Yang ia rasa, pikirannya kacau. Ia berlari sekencang-ken-
                 cangnya. Ia panjat tiang bendera. Ia panjat setinggi-
                 tingginya. Mula-mula tidak menarik perhatian orang,
                 namun setelah semakin tinggi orang-orang mulai gempar.

                                          DUA
                                    Musik gempita.
                                    Suasana pikuk.
                                    Si Gila muncul.
Gila           : Saudara-saudara! Kita akan segera saksikan peristiwa
                  yang mahaheboh. Oki akan jatuh dari tempat yang pa-
                  ling tinggi. Tinggi sekali!! Suasana menggemparkan!
                  Dan yang asyiiiiiiiik.
                  (tiba-tiba dia tahu ada orang mandi)
                  Dan akan lebih asyikk lagi kalau aku intip orang itu!
Si Gila mengintip. Damprat dan umpat ia dapat.
Gila           : Dia tidak tahu kalau saya ini gila.Kalau dia tahu saya
                  gila, mestinya boleh saya ngintip dia.
Si Gila pergi.
Yang mandi muncul….
Org. Mandi     : Maaf, saya baru saja mandi….
                  Mas, mas, Mbak, mbak…tahu ke mana si Gila pergi?
                  (sahutan asal jawab dan asal tunjuk)
                   Sekali lagi, mas-mas tahu ke mana? (jawaban ngawur)
                   He, mas-mas, jangan coba-coba mempermainkan wanita
                   ya? Kuwalat!!
                   Orang gila kalau ada orang mandi matanya menmdelik.
                   Awas, kalau ketemu, jadi peyek kamu !!!
Musik keras!
Org. Mandi     : Tidak usah pakai musik!
                 Ada orang marah kok diberi musik! (pergi)

                                      TIGA
                           Terdengar suara dari jauh,
                          kemudian orangnya muncul.
Penjual       : Anget, anget, anget….
                 Jajan anget, jajan anget.
                 Jajan anget tidak bikin mumet, pikiran tidak ruwet,
                 hidupnya slamet, rejeki saya tidak mampet, pet,pet…
                 Tempe goreng aga, menjes goreng ada, ada juga…
                 jemblem! Hi…isin aku!
Tiba-tiba muncul perempuan yang baru mandi.
Perempuan     : Mbakyu, sampeyan tahu si Gila?
Penjual       : Kenapa mencari si Gila?
Perempuan     : Kurang ajar! Dia tadi ngintip aku mandi.
Penjual       : Ha…ngintip mandi? Wow…jemblem!
Perempuan     : Lho, kok jemblem.
Penjual       : Sampeyan tadi nggak pakai apa-apa?
Perempuan     : Ya nggak, namanya juga mandi!
Penjual       : Wow…jemblem.

Muncul perempuan lain yang datang tergesa-gesa.
Dia memberitahu kalau Oki mau terjun bebas dari tiang bendera.
Salah seorang dialog tanpa suara, namun ekspresif.
Yang satunya menyahut dengan suara keras. Sesekali nggak sambung

Penjual        : Jadi, Oki mau jatuh dari tempat tinggi?
Orang          : Iya.
Penjual        : Wow, ……...jemblem!
Orang          : Kok jemblam-jemblem terus. Orang-orang
                 sudah ke sana. Ayo, kita ke sana!
Perempuan      : Ayo, ayo!
Penjual        : (berjalan, tiba-tiba berbalik)
                 Anget, anget…
Penjual segera ditarik pergi!!

                                    EMPAT
                    Lagu anak-anak. seorang anak SD bermain.
                       Temannnya datang. Gugup dan gagap.
Teman          :   Ga…ga…gawat! Ga..gawat! Bap…bapakmu…
                   gawat!!!
Oni            :   Sabar dulu…..sini saya obati! Murep!
                   (temannya tengkurap, lalu Oni komat-kamit dan melom-
                   pati temannya)
                   Sudah, sekarang berdiri!
                   Enteng' kan?
Teman          :   Enteng…..
Oni            :   Cerita sekarang…
Teman          :   Bapakmu, bapakmu mau bunuh diri.
Oni            :   O, mau bunuh diri (santai)………..
                   mau bunuh diri? (khawatir)huhu…………………..
                   Jadi, benar? Bapakku mau bunuh diri?
Teman          :   Benar
Oni            :   (pingsan)
Teman          :   (menirukan adegan sebelumnya. Komat-kamit dan lom-
                   pat)
Oni          :     Jadi, benar? Bapakku mau bunuh diri?
Teman        :     Benar
Oni          :     (pingsan lagi di pangkuan teman laki-laki)
Teman        :     Enak tenan….Bangun! Ayo ke sana!!!!!!!!!!!!
Keduanya pergi.

                                       LIMA
                        Seorang kakek datang langkah gontai.
Kakek            : Kurang ajar! Anak-anak jaman sekarang, orang tua di-
                   singkirkan, tidak dipedulikan.
                   Apa mereka kira, orang tua seperti barang afkir,
                   lantas dibuang dan diusir, o…kenthir…thir..thir….
Ona (istri Oki) berlari-lari menghampiri kakek.
Ona              : Kakek, bagaimana suami saya?
Kakek            : Justru bukan suamimu yang aku pikirkan,
                   kamulah yang aku khawatirkan!
Ona              : Kenapa aku?
Kakek            : Lho, jelas to!
                   Kamu masih muda, cantik lagi.
                   Kalau suamimu mati, apa aku mampu mengganti.
Ona              : O, buaya makan kepiting
                   makin tua makin sinting
Kakek            : Jangan sembarangan sama orang tua!
Ona              : Orang tua kaya sampeyan dihormati apanya.
Kakek            : Sudah…ayo kita ke sana!!!
Ona              : Aku memang mau ke sana.
Kakek            : Ayo. Tapi…tunggu!
Ona            : Apa?
Kakek          : Gendhong.
Ona            : Ora sudi!!! (smbil mendorong Kakek)

Ona pergi.
Kakek menyusul
                                       ENAM
                            Orang-orang telah berkumpul.
            Oki di atas, membungkus bom dengan kain bendera usang.
Orang            : Oki, turun! Hutang kau padaku belum lunas. Turun!
Orang            : Kasihan anak istrimu, turunlah!
Orang            : Mas Oki, turun. Nanti tak kasih jemblem.
Si Gila tiba-tiba datang.
Orang-rang ribut. Beramai-ramai mengusirnya.
Petugas datang.
Orang            : Sampeyan ini aparat, tekane kok telat, bagaimana bisa
                   jadi penyelamat.(orang-orang ikut ngedumel)
Petugas          : (niup peluit, semua diam)
                   Harap semua bisa mengendalikan diri!
Istri Oki datang.
Ona              : Mas Oki, turun. Jangan bikin masalah! Hidup kita sudah
                   banyak masalah. Mari bicara baik-baik, kita runding
                   baik-baik!
Oni dan temannya datang.
Oni              : Bapakkkkkkk. Turun, Pakkkk!!!
                   Jangan bunuh adik……….
Orang-orang : Hah…!!!
Orang-orang tercengang.
Petugas ambil sikap.
Petugas          : Saya mohon dengan hormat, saudara Oki turun!
                   (tidak ada reaksi)
                   Sekali lagi, saya mohon saudara turun sebelum saya am-
                   bil tindakan tegas!
Ona              : Pak, kok ambil tindakan tegas bagaimana?
Petugas          : Bahasanya petugas ya begini ini, Bu!
Ona              : Mas, turun……..keadaan semakin gawat.
                   Turun Mas…………..(pingsan)
Oni              : Ibu……………………
                   Bapakkkkkkk. Turun, Pakkkk!!!
                   Ibu…………………ah..(pingsan)
Semua heboh.
Semua bingung. Sebagian ke arah Oki, sebagian ke Ona dan Oni.
Petugas mendekati Ona yang baru siuman.
Petugas          : Ibu harus memilih! Berat anak atau suami?
Ona              : Ya dua-duanya, Pak!
Petugas         : Tidak bisa, harus memilih Bu!
Ona             : Tidak bisa, Pak!
Petugas         : Kalau tidak bisa, biar aku yang memilihkan!
                  (mengarahkan senjata ke atas)
Ona             : Pak, jangan pakai kekerasan!
Petugas         : Tenang, Bu! Ini hanya untuk menakut-nakuti!
                  (bersiap-siap) Saya peringatkan sekali lagi,
                  saya minta saudara turun! Kalau tidak, saya ambil cara
                  kekerasan!!!
Ona             : Pak, katanya tidak pakai kekerasan?
Petugas         : Oh, ya…
                  Hanya untuk menakut-nakuti!!!(ke arah Oki)
                  (orang-orang kaget, Petugas sadar)
                  Tidak untuk menakut-nakuti !!! (ke arah Oki)
Oni             : Pak, turun Pak…..ah !!!(pingsan)
Ona             : Mas, turun………..ah !!!(pingsan)
Orang-orang panik.
Petugas         : Semua harus bisa mengendalikan diri!!!
                  Saudara-saudara bantu saya! Angkat tangan semua!!!
                  (semua mengangkat tangan)
                  Saya peringatkan sekali lagi!!!
                  Harap saudara turun!!! Saya beri hitungan tiga kali.
                  Satu ! (tidak ada reaksi)
                  Dua ! (tidak ada reaksi)
                  Tiga ! (tidak ada reaksi)
DOR !!!
Tembakan terdengar! Bom terlepas dari genggaman. Oki terkulai.
Mati. Bendera masih di tangan. Sementara, orang-orang menjerit
panjang, lalu diam.
                                       TUJUH
                             Narator masuk. Hitam-hitam.
Narator         : Oki masih sempat mendengar ledakan dahsyat.
                  Ia masih sempat membayangkan tangan-tangan yang
                  terlepas dari pemiliknya. Tangan istrinya, tangan anak-
                  nya, tangan tetangganya, kerabatnya, dan tangan-tangan
                  orang yang ada di sana.
                  Kalau boleh mimilih lagi,
                  ia tidak akan menjamah bom itu. Akan ia biarkan saja
                  di situ sebagai bencana atau mimpi buruk.
                  Ia tidak tahu dari mana bom itu! Untuk siapa bom itu!
                  Siapa yang mengaturnya! Dan yang lebih penting,
                  ia tak usah merasa mempunyai kewajiban apa-apa.
                  Apalagi, berkeinginan menyelamatkan orang banyak.
                  Sambil tersiksa atas perbuatannya,
                  Oki mati perlahan-lahan,
             dengan kain bendera
             tetap di tangan.

             Oktober 2000
             agus winarno
untuk anak-anakku kksd teruslah berkarya meski kadang tampak sia-sia
ANTING
INTEN---------------------------------------------
                                                   : aguswin
                               SIJI
Putri Injani lagi tetembangan. Bungah atine.
Anting inten paringane ibune ora ucul saka panyawang.
Injani          : Anting intenku, kowe aja mlayu.
                   dadiya aku tambah ayu,
                   terusa dadi duwekku.

                 Bat-tobat….anting intenku pancen apik tenan,
                 pancen endah tenan, pancen gawe wong kedanan.
                 bikin laki-laki jelalatan…..huh!
Joged maneh.
Nembang maneh.

                        LORO
Dumadakan Sugrawa lan Sugrawi njedhul. Injani kaget. Anting disingitake.
Sugrawa    : Apa kuwi, Dhi?
Sugrawi    : Apa kuwi, Dhi?
Injani     : Apa? Ora ana apa-apa.
Sugrawa    : Lha kuwi neng tanganmu!
Sugrawi    : Lha kuwi neng tanganmu!
Injani     : Apa? Ora ana apa-apa.
             Lho…ora apa-apa ta.
Sugrawi    : Direbut wae Dhi!
Sugrawa    : Iya Kakang.
Injani     : Aja Kakang, iki dolanane bocah wadon.
             Iki mung anting-anting!
Sugrawa    : Lha kuwi! Cah lanang saiki ya dhemen.
Sugrawi    : Aku ya dhemen. Ben ketok keren Kakang.
Injani     : Aja Kakang, kowe bocah lanang. Aja antingan !
Sugrawi    : Ra perduli !!! Ayo kene !!!
Injani     : Aja, Kakang !
Sugrawa    : Direbut Kang
Sugrawi    : Ya, dipeksa wae Dhi !!!

Injani dirudapeksa. Anting kacekel tangane Sugrawi.
Ngguyu lakak-lakak. Injani nangis.
Injani         : Oalah Kakang,
                 Jebul kowe lali karo adhimu,
                 jebul mung nguber nefsumu. Aku mbok siya-siya.
                 Karo dulur kowe lali.
                Tak kandhakne Rama Resi …..
Sugrawa/wi    : Aja Dhi…!!!
                                     TELU
Musik nglangut.
Sugrawa lan Sugrawi kaget. Getun.
Sugrawa       : Piye, Kakang?
Sugrawi       : Wis ben Dhi. Kadhung teles, ambyur pisan.
                Cincing-cincing ya klebus.
Sugrawa       : Ya, wis Kakang. Nekad wae.
Sugrawi       : Iya Dhi. Mengko yen Rama resi muring-muring, dijak anting-
                an pisan.
Sugrawa       : Iya Kang. Trus dijak nyanyi Kucing Garong.
                Tapi, antinge tak gawene dhisik Kang!
Sugrawi       : Ya aja! Kakange dhisik.
Sugrawa       : Adhine dhisik.
Sugrawi       : Kakange dhisik.
                ……………..
Bocah loro gelut rame.
Adu bogem, adu jotos. Banting-bantingan.
Sugrawa kalah. Ethok-ethok manut. Jebul njotos teka mburi.
Gelut rame maneh !!!!
Sugrawi gregeten! Ngangkat watu gilang arep dikeprukake sirahe Sugrawa.

                                     PAPAT
Sang Resi, Nyai Resi, Injani, Semir sak anak-anakke teka.
Resi         : Sugrawi !!! Sugrawi !!!
               Selehna watumu !!!(Sugrawi manut)
               Sugrawa kuwi adhimu, dulurmu !
               Yen padha dulur da gelut, dha jotos-jotosan, kepruk-kepruk-
               an, kapan tentreme? Kapan ayeme? Kapan makmure?
               Injani, dadi siji kono!!!(Injani nyedhak dulure)

                Kowe ki anake Resi, kudune resik, ora rusuh kaya resek !!!
                Jan-jane kowe anake apa ta?
Bejo          : Anake wedhus!
Semir         : Hus!!! Nek iki anake wedhus, trus wedhuse sapa??
                Menenga ya coro !
Bejo          : Inggih bapakke coro!
                Anake wong utama, kudu ngerti agama.
                Kowe ki anake begawan, kudu ngerti paugeran.
                Kudu ngerti kabecikan, aja malah kaya kewan.
                Endi antinge?
                (bocah telu meneng kabeh)
               Sugrawi, endi antinge!!!???
Sugrawi      : (meneng, ndhingkluk)
Resi         : Sugrawi, endi antinge!!!???
               Sugrawi !!! Tak sembur ora ajur, mbeguru karo kowe aku!!!
Sugrawi      : Menika Rama.

Musik.
Resi         :   O…o..o..o
Semir        :   A…a..a..a
Bejo         :   E….e..e…e
Kabul        :   Ek-ek !
Resi         :   Ngertiya ngger, anting iki lambange donya, lambange nefsu.
                 Sapa sing maringi barang iki ???
Injani       :   Kanjeng Ibu Rama.
Resi         :   O…o..o..o
Semir        :   A…a..a..a
Bejo         :   E….e..e…e
Kabul        :   Ek-ek !
Resi         :   Semir, cucuke anakmu tatanen….
                 Iki dudu barang lumrah. Iki barange wong pangkat, wong
                 drajat. Apa kowe selingkuh Nyai?
                 Selingkuh kara sapa? Pak RT, Lurah,……..

                 Jebul garwane Resi ora kuwat adhem.
                 Pancen wis ala rupaku, ora tau ngombe jamu,
                 wusanane ora mampu.
                 Pancen aku wis ora menggairahkan…..
                 Nyai….iki bener duwekmu?
Nyai         :   (meneng)
Resi         :   Nyai….iki bener duwekmu?
Nyai         :   (meneng)
Resi         :   O….garwane resi wis dadi watu !!!

                                     LIMA
Bledheg nyampar-nyandhung.
Gemontang swara tangis getun. Dawa lan lara.
Resi        : Semir, patunge dipindhah!
Semir       : Bocah-bocah, patunge digendhong!
Bejo        : Dipindhah.
Semir       : Digendhong!
Kabul       : Dipindhah, Pak !
Semir       : Lha iya, dipindhah karo digendhong….
Bejo        : Yess !!!!
Nyai         : Ora sudi ! Aku pindhah dhewe.
               (mlaku kaya vampir)
Resi         : Jebul aku wong lanang sing ora kajen.
               Ora bisa ngrumat anak, ngrumat bojo.
               Aku kakehan tapa nganti lali kulawarga.
               Aku kakehan semedi nganti lali anak lali bojo.
Semir        : Lha, napa rabi malih?
Resi         : Ora…aku ora mampu.
               Aku tak lunga mertobat! Anting sing kawe perkara
               tak guwak mbuh dadi apa….!!!!

                                    ENEM
Ating diuncalake.
Sang Resi lunga.
Sugrawa, Sugrawi, lan Injani arep nututi kleyange anting.
Semir ngendheg-endhegi.
Semir         : Sbar Den, sabar !!! Kedadeyan iki kaya crita wayang.
Sugrawa       : Crita wayang wae dipercaya.
Semir         : Pancen bener crita wayang Den, nanging niku perlambange
                manungsa. Sampeyan eling-eling critane Raden Guwarsa,
                Guwarsi lan Dewi Anjani sing dha rebutan cupumanik astagi-
                na. Kedadeyane kaya iki. Nganti Resi Gotama duka-duka.
                Cupu kabuwak dadi tlaga. Raden Guwarsa lan Guwarsi sing
                wis kedanan donya banjur njebur tlaga. Wusanane dadi
                kethek elek. Dene Dewi Anjani kang mung raup banyu tlaga
                dadi praupan kethek awak manungsa.
                Eling Den !!!!
                Kula ngeman sampeyan-sampeyan.
Sugrawi       : Aja percaya. Kuwi crita nglantur. Ayo diuber !!!!!

                                        PITU
Sugrawa, Sugrawi, lan Injani mlayu nguber anting.
Semir, Bejo, lan Kabul gur bisa dheleg-dheleg.
Tembang gemontang : Aja nganti kebanjur
                            Sabarang polah kang nora jujur
                            Yen kebanjur, sayekti kojur tan becik
                            Becik ngupayaa iku,
                            mring pitutur kang sayektos.
Semir          : Thole,
                 iki lo contone.
                 Mbesuk yen kowe duwe anak,
                 rumaten anakmu. Ngrumat anak ora mung banda donya.
                 Nanging butuh sembarange, butuh bandha, tenaga, cura,
               upaya, lan donga.
               Wis ayo tetembangan sing ngemu pitutur.
Tembang lan jogetan.
Bejo         : Pak….tlagane amis…!
Kabul        : Iya, pak ! Amis…abang getih…iki….
Semir        : Ayo dicedhaki thole !!! (mlayu kabeh)


                                    WOLU
Injani mlayu, kalah banter karo dulur-dulure.
Injani         : Kakang aja mbok tinggal. Aku melu njegur tlaga.
                 Anting kuwi duwekku…..(njegur tlaga)

Ing jero tlaga : Sugrawa, Sugrawi, lan Injani bingung nggoleki anting.
                 Nanging, rumangsane neng kupinge dulur-dulure anting
                 kuwi dha digawe. Akhire, kabeh padha jewer-jeweran ku-
                 ping. Nganti abuh kabeh. Nganti kelaran kabeh.
                 Wopng telu njedhul saka tlaga.

                                    SANGA
Semir         : Den…lha kok jebul ….
Sugrawi       : Jebul dadi kethek???
Sugrawa       : Aku ora dadi kethek !
Injani        : Kowe wong tuwa sing goroh. Wong tuwa ora kena dipercaya.
Semir         : Dan saya cetha perlambange.
Sugrawi       : Perlambang apa??? Minggata !!!!
Semir         : Ayo thole…..lunga saka kene!
                Wong yen ra gelem ngrungokne pitutur, ya ngene iki.
                Kupinge abuh….
Sugrawa       : Aja nyindhir !!!
Semir         : Aja melu-melu. Iki urusan keluwargaku.
                Coba rungokno :
                         Mingkar-mingkuring angkara
                         Akarana karenan mardi siwi
                         Sinawung resmining kidung
                         Sinuba sinukarta
                         Mrih katarta pakatining ngilmu luhur
                         Kang tumprap ing tanah Jawa
                         Agama ageming aji.
Sugrawi       : Aja percaya….
                Kuwi uteg bobrok, omong goroh lambe amoh….
                We... lha….
                Sing bobrok sinten? Sing amoh sinten?
               Pancen sampeyan ora dadi kethek, nanging jiwane kethek
               wis ngrasuk jeroan sampeyan-sampeyan.
               Yen ana kethek asipat manungsa, iku mulya.
               Yen ana manungsa asipat kethek, iku cilaka !!!
               Sing utege amoh niku sinten????
               Pikiren !!!!
Musik lan tembang . Pikiran nggrambyang kabuncang-buncang…..
                                          Minggu, 10 Februari 2002
                                          Agus Winarno
POPOK
BERUK
KELI ----------------------------------------------------------------------
                  : aguswin
SATU
Mbok            : Sebagai janda, saya tidak bersuami dalam keadaan
                  apa pun. Memang pernah ada keinginan untuk meni-
                  akah lagi lantaran musim dingin yang berkepanjang-
                  an, namun kehangatanku akan menjadi bencana bagi
                  anakku.
                  Saya, janda beranak satu, hasil menarik dan ditarik.
                  Kuberi nama dia Permata.
                  Dan saya masih harus bertanggung jawab terhadap
                  seorang anak yang tentu saja tanpa keterlibatan dan
                  kehendak saya. Alias anak tiri!
                  Namanya Permati.
Musik debar dan seram.
Gambaran kekasaran Mbok Rondo pada Permati.
Mbok            : Sebagaimana sebagian besar orang, saya pun kasar
                  terhadap Permati, si anak tiri ini. Dan tentu saja,
                  saya perlakukan dia secara tidak adil seperti halnya
                  cerita orang-orang……….
                  Permati !
                  Cuci setumpuk pakaian kotor ini!
                  Jangan biarkan hidupmu dikelilingi kekotoran,
                  bagaimanapun juga pikiranmu akan iktu kotor.
Permati         : (mau menjawab)
Mbok            : Jangan dijawab!
                  Urusan mencuci tidak butuh busa kata, tetapi butuh
                  busa sabun. Mengerti?
Permati         : (mengangguk)
Mbok            : Bagus!
                  Kamu sering mengangguk meski tidak mengerti !
                  Permata anakku !
Permata datang. Centil dan seksi.
Permata         : Ad apa ibunda?
Mbok            : Tampaknya, bajumu kotor.
Permata         : Baru tadi saya pakai, ibunda.
Mbok            : Tadi dan sekarang adalah waktu yang berbeda.
                  Semua bisa berubah karena waktu. Yang semula ber-
                  sih bisa kotor. Karena itu…lepas! Yang bawah juga..
                  lepas! Yang dalam…uh, bau….lepas juga!
Permata         : Lepas di sini ibunda?
Mbok            : Huss!!
                  Jangan melepas pakaian sembarangan. Banyak anjing
                   galak! Banyak ular berbisa!(menunjuk penonton)
Permata          : Ibunda! Tampaknya baju ibunda juga kotor.
                   Yang atas …kotor, yang bawah…juga kotor, yang
                   dalam …..kotor juga!
Mbok             : Benarkah anakku?
Permata          : Benar ibunda!
Mbok             : Kalau begitu akan aku lepas sekarang!(beranjak pergi).
Permati          : Jangan Mak-e!!!
Mbok             : Berani kamu melarangku!
Permati          : Sebab, yang bersih tinggal itu, Mak!!!
Mbok             : Hah???(menutup barang penting)
                   Untung belum saya lepas….kalau sudah…..???
                   Kamu sengaja akan menelanjangi aku?
                   Sengaja membuat aku malu di hadapan orang banyak?
                   Tega kamu permati???
                   Begitukah balasanmu pada aku???
                   Kalau pun aku kasar terhadapmu,bukan berarti aku
                   jahat. Namun, lantaran aku ingin mendidikmu lewat
                   kejahatan-kejahatan kecil, kekasaran sederhana, supaya
                   kamu semakin dewasa menghadapi kejahatan dan ke-
                   kasaran yang lebih besar.
Permati          : (menangis)
Mbok             : Jangan menangis!
                   Cuci setumpuk pakaian kotor ini!
                   Jangan ada yang rusak atau hilang. Bagaimana jadinya
                   kalau rusak atau hilang. Ini semua milik wanita!!!
                   Jangan pulang kalau ada yang hilang !!!!
Permati dilempari pakaian-pakaian kotor.
Galau pikirannya. Risau hatinya.

DUA
Gerakan seperti mencuci. Terkesan banyak dan berat.
Tiba-tiba…gerakan terhenti.
Permati         : Dhuh, Gusti!!!!
                   Cucianku hanyut………….
                   Bagaimana, Gusti????
Musik menyayat berubah seram.
Nenek bertopeng muncul.
Nenek           : Aku tahu yang kamu cari cucuku.
                   Aku tahu, kamu takut dimarahi ibu dan saudaramu.
                   Jangan khawatir, ikuti aku!
Permati mengikuti ajakan Nenek.
Namun, terdengar gemuruh. Nenek bergerak. Misterius.
Berubah wujud menjadi raksasa.
Permati         : Nek……………….(takut)
Nenek           : Haha…hihi…. Inilah wajahku yang asli. Meski aku
                  tutupi, keaslian akan tampak juga.
Permati         : Aku takut……….
Nenek           : Jangankan kamu, aku sendiri kadang takut, hahaha…
                  Karena itu, aku tidak pernah bercermin dan tidak per-
                  nah pergi ke studio foto.
                  Tapi, kamu perlu tahu, aku ini raksasa pemakan manu-
                  sia.
Permati         : Tapi Nek, nenek sudah tua, giginya tinggal dua, dan
                  mulut nenek kecil?
Nenek           : Makan tidak harus pakai mulut dan gigi, cucuku!
                  Aku ini pemakan manusia dalam arti yang luas!
                  Dan sekarang, bikinkan aku masakan yang paling lezat.
                  Kalau kamu gagal, nyawamu taruhannya!!!
                  Laksanakan!
Permati         : Baik, nek!

TIGA
Permati pergi.
Raksasa yang lain datang. Ganas dan beringas!!!
Raksasa         : Adhi raseksi, aku membau manusia!
                  Aku lapar….aku haus darahnya, aku ingin merobek-ro
                  bek kulitnya, ingin memotong-motong tangannya,
                  ingin meremukkan tulang-tulangnya….
                  Hmmmm….mana adhi???
                  Tunggu saat yang tepat!
                  Saat yang tepat adalah saat lapar. Dan sekarang….
                  aku lapar.
Muncul Permati.
Raksasa menggeram. Permati terkejut dan takut!
Raksasa         : Hmm..Ini di yang kutunggu-tunggu.
Nenek           : Jangan kakak?
Raksasa         : Kenapa?
Nenek           : Aku sudah terlanjur janji.
Raksasa         : Hahaha Raseksi boleh ingkar janji!
Nenek           : Itu dulu. Sekarang tidak!
Raksasa         : Sejak kapan?
Nenek           : Sejak tidak ikut partai.
Permati         : Nek, silakan mencicipi!
Raksasa         : Hahaha..
                  Kalau kamu tidak mampu menuruti seleraku,
                  tunggu nafas-nafas terakhirmu….
Keduanya bernafsu sekali melahap masakan itu.
Suara-suara benda. Geram. Desis. Desah. Garang.
Kedua muncul kembali.
Raksasa         : Saatnya telah tiba…
                  Nafas-nafas terakhirmu……batal!!!
                  Benarkah?
                  Ya! Dan sebagai gantinya, aku beri kamu buah semang-
                  ka sebab kau perempuan. Kalau laki-laki, lain lagi.
                  Sekarang pulanglah! Ibu dan saudaramu menunggu!
                  Nenek berdua mau istirahat untuk mengembalikan
                  stamina yang loyo.(pergi)
EMPAT
Permati berlari.
Permata dan Ibu telah menunggu dengan angkuh.
Mbok             : Dari mana saja?                                        4
                   Perempuan sudah berani keluyuran!
Permata          : Mana baju kesayanganku?
Permati          : Pakaian kakak yang dalam…hanyut.
Permata          : Hanyut?!!!
Mbok             : Kurang ajar! Apa jadinya kalau pakaian dalam wanita
                   hanyut?!!!
Permati          : Tapi, saya bawa ini?
Permata          : Apa ini? Buah beginian…..hancurkan saja ibunda!!!
Mbok Rondho pergi.
Membanting semangka sekuat tenaga! Jengkel dan marah menyatu.
Namun, ……………….
Mbok             : (membawa perhiasan)
                   Permati, kamu kuampuni. Kamu baik sekali, Nak!
                   Kenapa, kamu nggak milih buah yang besar?
                   Bagaimana mendapatkannya?
                   ……O, begitu? Diberi nenek raseksi begitu…..terus?
                   O, begitu caranya! Baiklah aku akn menirumu!!!
Mbok pergi.
Kemudian keluar dengan buah yang lebih besar.
Mbok             : Aku telah mendapatkan dengan cepat, anakku!
                   Kamu tahu, aku dapatkan buah besar ini sebab sebagi-
                   an besar pakaianku kuhanyutkan.
Permata          : Kalau begitu saya pingin juga, ibunda?
Mbok             : Kamu harus pergi sekarang juga, sayang!!!
Kedua raksasa muncul sambil membawa buah yang paling besar!
Raksasa          : Tidak perlu, cucuku!
                   Aku tahu yang kamu inginkan.
                   Kamu tidak perlu menghanyutkan pakaian-pakaianmu,
                   sebab pakaian itu telah hanyut semenjak kamu ingin
                   menghanyutkannya.
                   Cepat terima ini dan pecahkan!!!
Kedua senang sekali.
Melonjak dan bersorak
Pecahkan penuh semangat.
Lalu, histeris. Teriak ketakutan !!!!
Nenek              : Apa yang terjadi, cucuku?
Mbok               : Setelah saya pecah, muncul ular-ular…..
Raksas             : Hahaha…
                     Begitulah! Selama pakaian wanita dihanyutkan, maka
                     ular-ular akan muncul dari segala arah dan rupa.
                     Mulai yang besar, yang kecil, yang gemuk, yang kurus.
                     Yang panjang, yang pendek, atau yang pendek tapi
                     bisa panjang…hahahahaha……………………

                  s e l e s a I -------------------------------------------------------
                                                        agus winarno
                                                                   2003
malang, 12 agustus 1997
AWAS
PENYAKIT------------------------------------------------------------------------
       : aguswin

SATU
sebuah ruang pasien.
suara-suara sakit.
Pasien     : Kau sakita apa?
Pasien     : Pusing.
Pasien     : Sejak kapan?
Pasien     : Sejak uang menipis. Biasanya, tanggal-tanggal tua.
              Kalau tanggal muda sembuh. Kamu sakit apa?
Pasien     : Bersin-bersin?
Pasien     : Kapan?
Pasien     : Setiap kali lihat kelas kotor, sampah-sampah berserakan,
              rambut acak-acakan, dan baju-baju tidak dirapikan.
              Tapi biasanya sembuh.
Pasien     : Kapan?
Pasien     : Kalau dapat kedudukan.
Pasien     : O…
Pasien     : Mbak sakit apa?
Pasien     : Gatal.
Pasien     : Sejak kapan?
Pasien     : Sejak tetanggaku beli tivi.Tapi sempat sembuh.
Pasien     : Kapan?
Pasien     : Sejak suamimu membelikan tivi. Lalu, kambuh lagi.
Pasien     : Kenapa?
Pasien     : Karena tetanggaku beli kulkas. Tapi sempat sembuh juga.
Pasien     : Kenapa?
Pasien     : Karena suamiku belikan aku kulkas. Lalu, kambuh lagi.
Pasien     : Kenapa?
Pasien     : Karena tetanggaku beli mobil. Tapi sempat sembuh juga.
Pasien     : Kenapa?
Pasien     : Karena suamimu meninggal. Lha, kamu sakit apa?
Pasien     : Panas dingin.
Pasien     : Kapan?
Pasien     : Kalau ada PR dan ulangan. Tapi biasanya sembuh.
Pasien     : Kenapa?
Pasien     : Karena gurunya sakit, jam kosong, jam isrirahat, dan
              saat bel pulang.

DUA
muncul seorang perawat.
Perawat    : Kalian sedang apa?
Pasien     : Membicarakan penyakit.
Perawat    : Penyakit kok dibicarakan!
             Penyakit itu diobati. Orangnya, disembuhkan.
             Sekarang penyembuhan penyakit.
Semua mengikuti komando perawat.
Berbagai gaya pengobatan dilakukan : gaya dukun, gaya pernafasan, gaya
senam, gaya minum jamu.
Gerakan kompak dengan koor yang tetap :tamba teka lara lunga
                                          tamba mangkat lara minggat
Akhirnya,
mereka mendengkur pulas dan keras.
Tidur mereka berdiri. Beradu punggung.
Perawat    : Dengkur stop !
             (dengkur berhenti)
             Mereka menyadari bahwa dunia terasa kian sempit,
             tidak sebanding dengan jumlah penghuninya.
             Karenanya, mereka mencoba menggunakan cara dengan
             memanfaatkan tempat yang sesempit mungkin.
             Dengkur dilanjutkan !
             (Dengkur keras, perawat pergi)

TIGA
Seorang pasien tiba-tiba bangun.
Dia merasa ada bau busuk.
Pasien     : He…bangun! Bangun! Ada bau busuk !!!
             Hueekkk! Seperti bau mayat
Pasien     : Mayat???
Semua takut.
bergerombol.
Pasien     : Jangan-jangan diantara kita ada yang sudah jadi mayat!
Pasien     : Hah…………!!!
Semua berpencar. Saling curiga. Saling pandang. Saling tuding.
Pasien     : Jangan-jangan kamu?
Pasien     : Kalau saya baunya memang busuk. Tapi, aku masih hidup.
             Lho…lho…masih 'kan?
Pasien     : Jangan-jangan kamu?
Pasien     : Bukan!
Pasien     : Saya tadi Cuma kentut kok. Jadi, ya bau busuk.
Pasien     : Ayo, ngaku saja! Daripada kita gunakan kekerasan,
             lebih baik ngaku saja!!!
Pasien yang sudah jadi mayat berdiri.
Mayat 1    : Mayatnya saya.
             (semua takut, lari menjauh)
             He, jangan lari! Aku jangan ditinggal sendiri!
             Aku memang mayat, tapi penakut. Ayo, temani aku!!!
             Lho, lihat!!!
               Bulu kudukku berdiri. Pasti ada mayat lain di sini!
               (semua kembali ketakutan)
Pasien      : Ayo, siapa? Ngaku saja!!!!
Mayat lain ternyata di tengah-tengah mereka.
Mayat 2     : Mayat satunya saya !
               (semua semburat ketakutan)
               Hallo dik mayat !
Mayat 1     : (gemetar, takut)
Mayat 2     : Jangan takut! Sesama mayat tidak boleh saling menakuti.
               Ayo, jabat tangan!
Mayat 1 semula takut. Namun, karena terus dibujuk mayat 2, akhirnya
keduanya akrab. Melihat tingkah ini, para pasien marah-marah. Kedua
mayat diusir.
Mayat 2     : Dik mayat, manusia kadang-kadang tidak manusiawi.
Mayat 1     : Betul, mereka sering melanggar HAM. Hak Asasi Mayat.
Pasien      : PERGI !!!!!!!!!!!!!!!!!
Kedua mayat pergi.
Pasien-pasien kesal.

EMPAT
Perawat datang. Pasien-pasien sedang kesal.
Perawat     : Assalamu 'alaikum (sopan)
Pasien      : Wa 'alaikum salam (marahj)
Perawat     : Lho, kalian kenapa?
Pasien      : Marah!
Perawat     : O, marah! Lanjutkan dulu marahnya !!!
Pasien-pasien melanjutkan marah.
Lama-lama kehabisan bahan.
Lalu terdiam.
Perawat     : Kok diam senyum-senyum.
Pasien      : Sudah puas…kehabisan bahan….
Perawat     : Kalau begitu, sekarang kalian saya perkenalkan dengan
              penyakit!
Pasien      : Lho ! (semua kaget)
Perawat     : Jangan kaget!
              Orang perlu tahu penyakit, supaya tahu sehatnya.
              Penyakit yang saya tunjukkan adalah penyakit yang sudah
              dilemahkan. Jadi, penyakit ini bisa untuk latihan,
              semacam imunisasilah.
              Penyakit, sini !!!
Perawat pergi.
Penyakit muncul. Cantik dan seksi.
Penyakit : Hai !
Pasien      : Hai juga!!!
Penyakit : Perkenalkan, nama saya penyakit.
Pasien      : Kok cantik, ya?
              Iya, kecantikan bisa jadi penyakit, karena itu hati-hati.
              Ketampanan juga bisa jadi penyakit, karena itu hati-hati.
              Saya ini penyakit tampak.
              Lho, ada yang tidak tampak to?
              Ada, justru itu yang guannnaasss!
              Contoh penyakit yang tampak apa?
              Kadas, kudis, kurap, panu, bisul, dsb.
              Contoh penyakit yang tidak tampak apa?
              Iri, dengki, kikir, dendam, ambisius, suka bohong,
              mau menang sendiri, malas kerja pingin kaya, dsb.
Perawat muncul tiba-tiba.
Perawat     : Lho, lho…
              Kok malah berakrab-akraban dengan penyakit.
              Jangan terlalu akrab, nanti kamu bingung membedakan
              kapan sehat dan kapan sakit.
              Sekarang, lawan penyakit itu !!!!
Sigap dan bersemangat mereka melawan.
Penyakit diserang, lari ketakutan.

Perawat     : Mereka begitu antusias untuk melawan penyakit tampak.
              Namun, apakah mereka juga antusias untuk melawan
              penyakit yang tidak tampak?
              Bagaimana dengan anda????
              Terima kasih.


              10 Oktober 2000
              agus winarno




naskah ini saya tulis ulang.
maaf, jujur saja
saya terkesan pada DBTnya
arifin c. noer.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:5982
posted:4/27/2011
language:Indonesian
pages:80