Docstoc

Bahaya Kamar Operasi

Document Sample
Bahaya Kamar Operasi Powered By Docstoc
					BAHAYA-BAHAYA DI KAMAR OPERASI
Personil anestesi setiap harinya menghabiskan sebagian besar waktunya di sebuah lingkungan kerja yang banyak mengandung bahaya, yakni kamar operasi. Lingkungan ini berpotensial terhadap paparan asap/uap kimia, radiasi ion dan kuman infeksius, sementara tim anestesi adalah subjek dengan stres psikologi yang disebabkan lingkungan kerja berresiko tinggi. Bahaya fisik seperti ledakan akibat gas anestesi yang mudah terbakar tidak lagi menjadi hal yang perlu mendapat perhatian, melainkan penyakit yang timbul saat bekerja seperti keracunan alcohol atau obat-obatan. Dalam beberapa dekade terakhir ini telah dilakukan survey epidemiologi terhadap kesehatan para personil anestesi. Secara umum, resiko terhadap kesehatan para personil anestesi adalah hal yang penting, akan tetapi dengan kewaspadaan dan tindakan pencegahan yang baik, hal ini dapat dihindari.

BAHAYA FISIK Gas Anestesi Diketahui bahwa obat anestesi inhalasi seperti diethyl eter, nitrous oxide, dan chloroform telah digunakan sejak tahun 1840, namun efek biologis zat-zat tersebut terhadap lingkungan pekerjaan baru diteliti sejak tahun 1960-an. Laporan tentang bahaya zat anestesi meliputi survey epidemiologi, studi in-vitro, penelitian tingkat selular, dan penelitian terhadap hewan dan manusia. Penelitian tersebut lebih mengarah tentang infertilitas dan aborsi spontan; insidensi kelainan congenital; tingkat kematian; inidensi kanker; penyakit hematopoietik, penyakit liver; dan penyakit saraf; serta perubahan psikomotor dan tingkah laku sebagai akibat paparan gas anestesi.

Kadar Gas Anestesi di Kamar Operasi Peneliti terdahulu menyatakan bahwa di dalam kamar operasi terkandung kadar eter yang signifikan ketika “the open drop technique” digunakan, akan tetapi laporan pertama tentang paparan anestetik modern dikemukakan oleh Linde dan Bruce pada tahun 1969. Mereka menggunakan sample udara dalam berbagai macam jarak terhadap katup mesin anestesi dan mencatat rata-rata konsentrasi halotan (ppm) dan nitrogen oksida (130 ppm).

Sampel udara akhir yang diambil dari 24 ahli anestesi setelah bekerja menunjukkan 0 – 12 ppm halotan. Laporan lain menunjukkan kadar halotan yang sama disekeliling sirkuit ”semiclosed dan nonrebreathing”, serta menunjukkan bahwa kadarnya di lingkungan dapat diturunkan secara signifikan dengan penggunaan peralatan pencarian. Teknik anestesi yang spesifik seperti induksi anestesi pada pasien anak (pediatrik) berhubungan dengan kadar gas sisa. Dosimeter yang digunakan oleh ahli anestesi menunjukkan kadar nitrogen oksida 532 ppm/hari setelah induksi anestesi per inhalasi dibandingkan dengan induksi intravena sebesar 219 ppm/jam. Walaupun ventilasi kamar operasi dan mesin pencarian digunakan, kadar nitrogen oksida pada seluruh kasus lebih tinggi dari yang diharapkan. Mengingat karakteristik aroma dari anestetik volatil, bau bukanlah metoda yang dapat dipercaya untuk mendeteksi kadar halotan dalam udara kamar operasi. Hanya 50 % sukarelawan yang dapat mendeteksi 33 ppm halotan melalui baunya, dan 75 % tidak dapat mendeteksi pada kadar 15 ppm. Konsentrasi sisa gas anestesi di dalam kamar operasi, dimana pembersihan rutin dilakukan, adalah lebih sedikit dari jumlah yang tertulis sebelum tahun 1960 dan

seringkali lebih sedikit dari jumlah yang diperoleh dalam penelitian tentang efek gas anestesi terhadap lingkungan kerja. Hal ini memunculkan pertanyaan apakah paparan kronik terhadap kadar sisa gas anestesi menimbulkan bahaya di lingkungan kerja dan apakah hasil penelitian dalam kamar operasi dapat diaplikasikan untuk pekerjaan tertentu.

Penelitian Epidemiologi Suatu penelitian epidemiologi menunjukkan kemungkinan bahaya yang ditimbulkan gas anestesi. Walaupun penelitian ini mungkin dapat bermanfaat, akan tetapi juga memiliki kemungkinan kesalahan dalam pengumpulan data dan interpretasinya. Ferstandig mengemukakan strategi tertentu untuk studi epidemiologi, yakni 1. diperlukan grup kontrol dalam penelitian kohort. 2, menggunakan daftar pertanyaan guna mendapatkan informasi medik. 3, penelitian retrospektif berdasarkan data yang telah tertulis atau diingat. 4, sebab dan efek yang berhubungan tidak dapat didokumentasikan dalam data epidemiologik. 5, kebanyakan penelitian epidemiologis menggunakan patokan p 0,05 untuk menentukan signifikansi. 6, peningkatan kejadian suatu penyakit terkadang dilaporkan.

Beberapa studi epidemiologi tentang efek sisa gas anestesi terhadap lingkungan kerja, memenuhi kriteria tadi.

Outcome Sistem Reproduksi. Salah satu penelitian terbesar yang dilakukan oleh Komite Ad Hoc American Society of Anesthesiologist (ASA) untuk mengetahui efek gas anestesi adalah dengan mengetahui akibat atau efeknya terhadap sistem reproduksi. Kuosioner dikirim ke 49.585 personil kamar operasi yang potensial terkena paparan sisa gas anestesi ( anggota ASA, Asosiasi Perawat Anestesi Amerika, Asosiasi Perawat Kamar Operasi dan Asosiasi Teknisi Kamar Operasi). Sebuah kelompok yang tidak terpapar dijadikan sebagai kelompok kontrol, yakni 23.911 orang dari Akademi Pediatrik Amerika, dan Asosiasi Perawat Amerika. Komite Ad Hoc ASA menyimpulkan bahwa terdapat peningkatan risiko aborsi spontan dan kelainan kongenital pada anak seorang wanita yang bekerja di kamar operasi serta terdapat peningkatan risiko kelainan kongenital pada keturunan seorang istri yang suaminya bekerja di kamar operasi. Beberapa tinjauan menunjukkan inkonsistensi data perbandingan kelompok yang terpapar dan tidak terpapar. Kadar paparan gas anestesi yang diharapkan tidak menunjukkan hubungan terhadap sistem reproduksi. Sebuah penelitian di Swedia dengan jelas menunjukkan adanya ketidakakuratan apabila survey didasarkan pada data yang diperoleh dari kuosioner yang disebarkan melalui pos. Dilakukan survey tarhadap wanita yang bekerja di Rumah Sakit untuk menentukan hubungan antara paparan gas anestesi dengan angka kejadian abortus spontan, yang dihubungkan pula dengan usia, kebiasaan merokok, dan bekerja di saat kehamilan trimester pertama. Seluruh kejadian abortus spontan di kelompok terpapar secara akurat telah didokumentasikan melalui kuosioner, tetapi sebuah tinjauan terhadap catatan rumah sakit menunjukkan bahwa sepertiga dari kasus abortus spontan pada kelompok yang tidak terpapar, tidak dilaporkan. Ketika verifikasi data telah dianalisis, diketahui bahwa tidak didapatkan perbedaan yang signifikan secara statistik dalam hal sistem reproduksi antara kelompok terpapar dan tidak terpapar.

ASA membentuk komisi ahli epidemiologi dan biostatistika untuk mengevaluasi survey-survey epidemiologis yang telah dipublikasikan dalam literatur untuk menentukan penilaian terhadap data yang saling bertentangan. Setiap kelompok menggunakan risiko relatif (rasio antara angka kejadian penyakit diantara kelompok terpapar dan tidak

terpapar) untuk menentukan sejauhmana keterkaitan antara paparan di kamar operasi dengan beberapa proses penyakit. Risiko relatif kejadian abortus spontan pada dokter wanita dan perawat wanita di kamar operasi adalah 1,4 dan 1,3 (Risiko relatif 1,3 berarti terdapat kenaikan risiko 30% dibandingkan populasi kontrol). mencatat bahwa terdapat hubungan merokok sigaret Mazze dan Lecky

dan kanker paru-paru, yang

ditunjukkan dengan angka risiko relatif 8 – 12 untuk pria di Amerika Serikat. Buring dkk menemukan secara statistik adanya risiko relatif yang signifikan kejadian abortus spontan dan kelainan kongenital pada wantia yang bekerja di kamar operasi, akan tetapi risiko relatif tersebut lebih kecil dibandingkan dengan bahaya lingkungan yang lain. Mereka juga mengatakan bahwa durasi dan kadar paparan gas anestesi tidak dihitung pada seluruh penelitian yang dilakukan, dan bahwa faktor lain seperti stres, infeksi, dan paparan radiasi, tidak dipertimbangkan. Penelitian terbaru juga menunjukkan adanya risiko yang sedikit lebih besar terhadap sistem reproduksi pada wanita yang terpapar gas anestesi. Dengan menggunakan metode penelitian ”case-control” dan data yang diperoleh dari responden yang terdaftar secara nasional, Hemminki mencatat sedikit kenaikan kejadian abortus spontan pada perawat wanita dengan paparan gas anestesi, namun tidak signifikan. Karena sebagian personil bekerja di bagian bedah mulut, yang sering terpapar gas nitrogen oksida, literatur juga mengangkat tentang hal ini. Sebuah penelitian telah wawancara via telepon

dilakukan dengan menggunakan data yang diperoleh dari

terhadap 418 perawat gigi wanita, untuk mengetahui efek gas nitrogen oksida terhadap kesuburan (fertilitas). Fekundabilitas (kemampuan untuk terjadinya konsepsi, yang diukur melalui waktu yang dibutuhkan untuk terjadinya kehamilan pada periode ”unprotected sexual intercourse”) secara signifikan mengalami penurunan 5 jam atau lebih akibat paparan gas nitrogen oksida per minggu. Dalam sebuah penelitian yang lain terhadap 7000 perawat gigi, kuosioner digunakan untuk menentukan angka kejadian abortus spontan. Didapatkan adanya peningkatan angka kejadian abortus spontan pada

wanita yang bekerja 3 jam atau lebih di kantor yang tidak menggunakan alat pembersih gas nitrogen oksida. Hasil penelitian ini perlu dicermati dengan hati-hati mengingat penelitian ini hanya didasarkan pada laporan responden, sementara konsentrasi gas nitrogen oksida tidak diperhitungkan. Sehingga dosis efektif gas nitrogen oksidanya tidak dikemukakan. Perlu dicatat bahwa penelitian terhadap perawat gigi yang terpapar gas nitrogen oksida tidak berhubungan dengan peningkatan risiko kelainan sistem reproduksi. Sebuah penelitian retrospektif terhadap sejumlah besar wanita yang bekerja selama hamil mengindikasikan adanya gangguan outcome reproduksi yang lebih disebabkan kondisi lingkungan bekerja dibandingkan dengan adanya paparan gas anestesi. Dalam sebuah penelitian di Kanada ditunjukkan rasio abortus spontan lambat (usia kehamilan 16-18 minggu) meningkat pada perawat kamar operasi, begitu juga dengan teknisi radiologi dan pegawai agrikultura dan hortikultura. Hasil dari analisa data kesehatan pekerja menunjukkan peningkatan kejadian abortus yang disebabkan adanya tuntutan pekerjaan tertentu dan kondisi seperti : mengangkat beban berat lebih dari 15 kali sehari, jam kerja 46 jam atau lebih, dan pergantian shift (giliran kerja). Meskipun beberapa penelitian epidemiologi menunjukkan adanya metode penelitian yang meragukan, namun secara keseluruhan hasilnya menunjukkan adanya sedikit peningkatan risiko terhadap kejadian abortus spontan dan kelainan kongenital pada paramedik wanita yang bekerja di kamar operasi. Penggunaan teknik penyaringan secara umum dapat menurunkan kadar gas anestesi di kamar operasi dan hal ini menyebabkan sulitnya pembuktian terhadap efek samping gas anestesi dengan menggunakan data epidemiologi.

Mortalitas dan Penyakit Non-Reproduksi Salah satu survey yang pertama kali dilakukan tentang penyebab kematian diantara ahli anestesi, telah dilaporkan oleh Bruce dkk pada tahun 1968. Mereka membandingkan angka kematian anggota ASA sejak tahun 1947 – 1966 dengan orangorang Amerika yang memegang kebijakan perusahaan asuransi besar. Terdapat angka kematian yang lebih tinggi akibat kanker limfoid dan jaringan retikuloendotelial serta akibat bunuh diri. Sedangkan angka kematian yang lebih rendah adalah akibat kanker paru-paru dan penyakit arteri koronaria.

Dalam sebuah penelitian prospektif, Bruce dkk membandingkan penyebab kematian anggota ASA selama tahun 1967 – 1971 terhadap pria yang telah diasuransikan oleh sebuah perusahaan. Peneliti menyimpulkan bahwa data yang diperoleh tidak mendukung spekulasi bahwa keganasan jaringan limfoid merupakan bahaya yang dihadapi oleh seorang ahli anestesi. Penelitian secara nasional oleh ASA menunjukkan tidak adanya perbedaan angka kematian akibat kanker baik pada mereka yang terpapar maupun yang tidak terpapar gas anestesi. Pada penelitian yang lain ditemukan adanya kenaikan 1,3 sampai 2 kali lipat angka kejadian kanker pada kelompok wanita yang terpapar, terutama leukemia dan limfoma. Buring dkk juga menyebutkan bahwa pada penelitian ASA tidak diperoleh efek dari variabel pendukung seperti kebiasaan seksual dan merokok. Berdasarkan hasil penelitian ASA, diketahui bahwa secara statistik terdapat peningkatan penyakit hepar pada ahli anestesi wanita, perawat anestesi wanita, dan ahli anestesi pria. Kembali menjadi sulit untuk menjelaskan mengapa ahli anestesi pria tidak mengalami konsekuensi terhadap gas anestesi yang sama dengan perawat anestesi wanita. Dari informasi yang dikumpulkan, penyakit hepar tersebut belum dapat ditentukan penyebabnya, apakah akibat paparan gas anestesi atau infeksi hepatitis B atau akibat infeksi virus yang tertular dari darah penderita. Penelitian terbaru terhadap 40.242 ahli anestesi disponsori oleh ASA, dan dikemukakan oleh Domino dkk. Tidak terdapat perbedaan antara dua kelompok akibat penyakit kanker hepar, dan ginjal. Penelitian epidemiologi sangat berguna sebagai alat untuk mengidentifikasi efek samping lingkungan kamar operasi, termasuk paparan terhadap berbagai substansi seperti sisa gas anestesi. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya hubungan antara paparan yang terjadi dengan berbagai kondisi, substansi dan proses penyakit, namun tidak dapat dibuktikan. Secara umum didapatkan bukti paparan gas anestesi di lingkungan kamar operasi dengan adanya sedikit peningkatan angka kejadian abortus spontan dan kanker pada dokter dan perawat anestesi. Secara statistik diperoleh peningkatan yang signifikan penyakit hepar baik pada pria atau wanita. Secara keseluruhan angka kematian (mortalitas) ahli anestesi lebih rendah dibandingkan populasi umum dan spesialistik yang lain.

Penelitian Laboratorium Seiring dengan penelitian epidemiologi, maka penelitian juga dilakukan secara laboratoris, guna mengetahui efek gas anestesi terhadap sel, jaringan dan binatang percobaan. Diharapkan melalui penelitian ini diperoleh bukti ilmiah tentang efek samping gas anestesi. Efek seluler. Secara klinis konsentrasi tertentu gas anestesi volatil dapat

mempengaruhi pembelahan sel secara reversibel, hal ini mungkin disebabkan reduksi uptake oksigen oleh mitokondria. Pemberian gas nitrogen oksida secara klinis dapat mempengaruhi sel hematopoietik dan sel saraf. Setelah terpapar gas nitrogen oksida sebesar 0,8 atm selama 30 menit, aktivitas enzim ”methionine synthetase” menurun hingga 50% pada tikus. Inhibisi terhadap enzim ”methionine synthetase” pada seseorang yang terpapar gas

nitrogen oksida dalam konsentrasi yang tinggi, dapat menyebabkan anemia dan polineuropati, namun paparan kronik terhadap sisa gas tersebut tidak menimbulkan efek yang serupa. Berbagai penelitian dilakukan terhadap binatang untuk mengetahui efek karsinogenik gas anestesi. Sebuah penelitian pendahuluan menyebutkan bahwa isofluran menyebabkan neoplasia hepar ketika diberikan pada timus dan marmut. Penelitian lain pada tikus dan marmut menyebutkan bahwa halotan, nitrogen oksida dan enfluran tidak mempunyai efek karsinogenik. Beberapa peneliti menggunakan ”Ames bacterial assay system” untuk mempelajari mutagenisitas gas anestesi. Alat ini cepat, tidak mahal, dan mempunyai angka ”true positive” yang tinggi dibandingkan dengan metode in vivo lainnya. Dengan menggunakan alat ini, urin seorang yang dianastesi dengan halotan, enfluran, metoksifluran, dan isofluran, tidak bersifat mutagenik. Diperoleh juga laporan yang menyebutkan terjadinya perubahan struktur sel akibat paparan kronik gas anestesi pada binatang. Chang dan Katz mengamati perubahan yang terjadi berupa degenerasi mitokondria, retikulum endoplasmik, kanalikuli empedu pada sel hepar. Perubahan

ultrastruktural ini bersifat reversibel dan timbul akibat pemberian xenobiotik. Tidak diperoleh bukti adanya hubungan antara paparan gas anestesi, perubahan ultrastruktural sel, dan kelainan fungsional.

Outcome Sistem Reproduksi. Berdasarkan data epidemiologi yang menyebutkan bahwa paparan sisa gas anestesi dapat meningkatkan kejadian abortus spontan dan kelainan kongenital, beberapa penelitian laboratorium telah dilakukan menggunakan marmut dan tikus. Sebuah penelitian menggunakan paparan halotan dan nitrogen oksida pada tikus jantan dan betina selama 60 hari sebelum terjadi perkawinan, menunjukkan adanya penurunan efisiensi ovulasi dan implantasi, terutama pada tikus yang terpapar gas anestesi dalam konsentrasi tinggi. Tidak diperoleh efek teratologi mayor. Aberasi kromosom juga diteliti baik di sumsum tulang maupun sel-sel spermatogonia pada tikus jantan. Adalah penting untuk menyadari bahwa data yang diperoleh dari penelitian terhadap binatang tidak dapat secara langsung diaplikasikan untuk manusia. Meskipun mudah untuk mengukur dan menentukan kadar gas anestesi dalam udara kamar operasi, tetapi menjadi sulit untuk menentukan efek lain seperti stres, perubahan jadwal kerja, dan kelelahan. Efek Sisa Gas Anestesi terhadap Kemampuan Psikomotor Beberapa penelitian telah dilakukan untuk mengetahui apakah kadar gas anestesi yang rendah dapat merubah kemampuan psikomotor, yang diperlukan untuk memberikan perawatan berkualitas baik. Pelajar yang menjadi sukarelawan, diberikan paparan 500 ppm nitrogen oksida dengan atau tanpa 15 ppm halotan dalam udara, selama 4 jam, dan selanjutnya diberikan tes mengenai persepsi, kognitif, dan kemampuan motorik. Setelah terpapar halotan dan nitrogen oksida, kemampuannya terganggu pada 4 dari 12 tes yang diberikan; sedangkan yang terpapar hanya oleh nitrogen oksida, kemampuannya menurun hanya pada 1 tes. Paparan terhadap konsentrasi terendah yakni 25 ppm nitrogen oksida dan 0,5 ppm halotan, tidak menimbulkan efek terhadap tes yang diberikan. Peneliti lain, dengan menggunakan protokol yang sama, tidak menemukan efek terhadap kemampuan psikomotor setelah terpapar gas halotan dan nitrogen oksida. Perbedaan hasil penelitian ini, menurut Bruce disebabkan adanya perbedaan sensitivitas pada setiap kelompok yang diteliti. Rekomendasi National Institute for Occupational Safety and Health Pada tahun 1970, kongres membentuk National Institute for Occupational Safety and Health (NIOSH), sebuah lembaga federal yang bertanggung jawab dalam memberikan lingkungan kerja yang aman dan sehat bagi para pekerja. Untuk mencapai tujuannya,

lembaga ini melakukan dan mendanai berbagai penelitian, memberikan pendidikan / edukasi kepada pengusaha dan pekerja mengenai penyakit yang mungkin timbul, dan menerbitkan standar kesehatan pekerja. Lembaga kedua yang dibentuk adalah Occupational Safety and Health Administration (OSHA), yang bertanggungjawab dalam pelaksanaan standar kesehatan pekerja, menyelidiki pelanggaran terhadap standar tersebut sekaligus memberikan tindakan. Pada tahun 1994, NIOSH menerbitkan peringatan kepada personil pusat kesehatan mengenai bahaya paparan gas nitrogen oksida. Dalam dokumen ini, NIOSH merekomendasikan beberapa hal guna mengurangi paparan nitrogen oksida : 1. Memonitor kondisi udara dalam kamar operasi, 2. Mengimplementasikan prosedur kontrol mesin, praktek kerja dan pemeliharaan peralatan dengan baik, 3. Membentuk institusi pendidikan bagi pekerja. Beberapa metode untuk mengurangi dan memonitor buangan gas anestesi telah dikemukakan. Melalui penggunaan alat penyaringan, prosedur pemeliharaan peralatan, perubahan praktek anestesi, dan sistem ventilasi kamar operasi yang efisien, konsentrasi gas anestesi dapat diturunkan hingga kadar/level yang minimum. Memonitor adanya kebocoran sistem tekanan tinggi dan rendah mesin anestesi, kontaminasi akibat kesalahan teknik snestesi, dan gangguan fungsi sistem penyaringan harus dikoordinasikan untuk memastikan penurunan paparan terhadap lingkungan kerja. Dengan perawatan yang baik, kadar gas anestesi di kamar operasi dapat diturunkan sesuai dengan yang disarankan oleh NIOSH. Dalam sebuah penelitian di Rumah Sakit Ontario, kadar/level paparan gas anestesi halogen

Influenza jarang menyebabkan morbiditas yang signifikan pada petugas kesehatan, tapi dapat tinggi pada petugas kesehatan yang sering absen. Staf rumah sakit, terutama yang merawat pasien dengan resiko tinggi, harus diimunisasi secara berkala

dengan vaksin virus influenza yang telah dimatikan.116,117 Variasi antigen virus influenza terjadi setiap saat, sehingga strain virus yang baru (biasanya 2 tipe A dan 1 tipe B) dipilih sebagai vaksin tiap tahunnya. Program vaksinasi untuk petugas kesehatan biasanya dilaksanakan pada bulan Oktober atau November, karena kasus influenza di masyarakat mulai meningkat pada bulan Desember. Selama outbreak influenza A di rumah sakit, obat antivirus amantadine dan rimantadine sangat efektif dalam mencegah infeksi influenza A pada petugas rumah sakit yang tidak divaksinasi, dan jika diberikan dalam 48 jam pertama setelah onset penyakit, dapat mengurangi lama dan beratnya penyakit. Obat-obat lainnya seperti neuraminidase inhibitor, telah terbukti efektif dalam mencegah dan mengobati influenza A dan B.118 Karena kemungkinan terjadinya morbiditas pada pasien yang dirawat dan petugas rumah sakit, maka dianjurkan selama epidemi influenza di masyarakat, rumah sakit harus mempertimbangkan untuk membatasi perawatan dan operasi. Jika operasi harus dilakukan pada pasien dengan influenza, data dari hewan percobaan harus menunjukkan bahwa anestesi umum tidak menyebabkan peningkatan morbiditas penyakit saluran napas.119

Respiratory Syncytial Virus Respiratory syncytial virus (RSV) merupakan penyebab paling penting dari penyakit saluran napas bawah yang berat pada bayi dan anak-anak di seluruh dunia.120 Selama periode kejadian RSV di masyarakat (biasanya November akhir sampai Mei di USA), Banyak bayi dan anak-anak yang dirawat ternyata membawa virus. Sejumlah besar virus ditemukan pada sekret saluran napas anak-anak yang terinfeksi, dan virus yang hidup dapat bertahan sampai 6 jam dalam lingkungan yang terkontaminasi. Infeksi pada orang-orang yang rentan diperoleh dari dirinya sendiri bila RSV yang terdapat pada sekret berpindah ke tangan, yan kemudian kontak dengan mukosa mata atau hidung. Walaupun anak-anak telah terinfeksi RSV pada tahun-tahun pertama kehidupan, namun kekebalan yang didapat tidak permanen dan sering terjadi reinfeksi. Masa inkubasi RSV diperkirakan 7 hari setelah infeksi. Pasien yang dirawat karena virus ini, harus diisolasi pada ruangan khusus atau unit khusus untuk pasien infeksi (prosedur kontak-isolasi121), tetapi selama outbreak, besarnya jumlah pasien

menyebabkan isolasi menjadi tidak praktis. Mencuci tangan dengan baik setelah memakai baju pelindung, sarung tangan, masker, dan kaca mata dan sebelum kontak dengan pasien, telah terbukti dapat mengurangi infeksi RSV pada petugas RSV.122

Virus Herpes Varicella-zoster virus (VZV), virus herpes simplex Tipe 1 dan 2, dan Cytomegalovirus (CMV) merupakan anggota dari famili Herpetoviride. Kontak dekat dengan orang yang terinfeksi diperlukan untuk menyebarkan virus herpes kecuali VZV, yang disebarkan oleh kontak langsung dengan partikel udara yang kecil. Setelah infeksi primer, virus herpes menjadi laten dan dapat aktif kembali pada masa-masa selanjutnya. Banyak orang di USA telah terinfeksi oleh virus herpes pada usia pertengahan. Karena itu, transmisi nosokomial tidak lazim terjadi kecuali pada populasi anak dan pasienpasien immunosuppressed.

Virus Varicella-Zoster Virus Varicella-zoster menyebabkan varisela dan herpes zoster. Walaupun infeksi primer (varisela) pada anak-anak yang sehat biasanya tidak berkomplikasi, infeksi VZV pada dewasa biasanya berat dan tidak jarang terjadi kematian. Infeksi selama kehamilan dapat menyebabkan kematian janin atau kelainan kongenital walaupun jarang. Petugas kesehatan yang terinfeksi VZVdapat menyebarkan virus kepada petugas lain atau kepada pasien immunocompromised. Setelah infeksi primer, tetap laten pada dorsal root atau extramedullary cranial ganglia. Herpes zoster terjadi dari reaktivasi infeksi VZV dan menyebabkan ruam vesikular yang terasa nyeri pada dermatom yang dipersarafi. Ahli anestesi yang bertugas di klinik nyeri, dapat tertular VZV selama merawat pasien yang mengalami nyeri akibat herpes zoster. VZV sangat menular, terutam dari pasien varisela atau zoster yang luas. CDC memperkirakan periode penularan dimulai 1 sampai 2 hari sebelum muncul ruam dan berakhir ketika semua lesi telah berubah menjadi krusta, biasanya 4-6 hari setelah ruam muncul.123 Karena VZV dapat menyebar melalui udara, maka masker pelindung harus digunakan oleh pasien yang terinfeksi varisela atau herpes zoster yang luas.121

Penggunaan sarung tangan untuk menghindari kontak dengan cairan dari vesikel, sangat adekuat dalam mencegah penyebaran VZV dari pasien dengan herpes zoster yang terlokalisasi. Sebagian besar orang dewasa di USA mempunyai antibodi yang melindungi dari VZV dan menpunyai kekebalan terhadap infeksi baru. Salah satu survey pada petugas kesehatan menemukan bahwa semua petugas yang berusia 36 tahun mempunyai antibodi terhadap VZV, dimana 7,5% dari populasi tersebut diketahui rentan terhadap VZV.124 Petugas anestesi harus ditanya tentang riwayat infeksi VZV, dan merekan yang tidak mempunyai riwayat atau diragukan riwayat kesehatannyan harus dilakukan tes serologis.65 Semua pekerja dengan titer negatif harus dibatasi dalam merawat pasien dengan infeksi aktif VZV dan harus dipertimbangkan untuk imunisasi seumur hidup dengan vaksin varisela. Petugas yang rentan yang sering kontak dengan pasien yang terinfeksi VZV dicalonkan untuk VZIG, yang paling efektif bila diberikan dalam 96 jam setelah kontak. Karena VZIG dapat memperpanjang masa inkubasi virus, petugas rumah sakit yang rentan yang sering terpapar, tidak diperbolehkan untuk kontak langsung dengan pasien dari hari ke-10 sampai hari ke-21 setelah terpapar.123 Petugas yang tidak memiliki kekebalan terhadap VZV sebaiknya dipindahkan ke bagian lain sehingga tidak perlu merawat pasien dengan infeksi VZV.

Herpes Simplex Infeksi herpes simplex sering terjadi pada orang dewasa. Setelah virus masuk melalui mukosa mulut, infeksi primer virus herpes simplex tipe 1 biasanya tidak tampak secara klinis tapi dapat menyebabkan lesi oral yang berat, demam, dan adenopati. Pada orang yang sehat, infeksi primer sembuh dan virus menjadi laten dalam ganglion saraf sensorik yang mempersarafi tempat infeksi. Beberapa mekanisme dapat mereaktivasi virus dan menyebabkan infeksi berulang, yang bermanifestasi di sekitar lesi primer. Virus herpes simplex tipe 2, biasanya disertai infeksi di bawah pinggang dan ditularkan melalui hubungan sex. Bayi baru lahir dapat terinfeksi virus herpes simplex tipe 2 selama proses kelahiran pervaginam dari ibu dengan infeksi genital Virus herpes simplex tipe 1 dapat ditularkan sendiri setelah kontak dengan sekret oral yang terkontaminasi. Individu yang asimptomatik, tanpa diketahui dapat menularkan

virus herpes simplex tipe 1, karena virus telah berhasil diisolasi dari sekresi oral dari 5% populasi. Jari-jari petugas kesehatan dapat terkontaminasi melalui kontak langsung dengan cairan tubuh yang mengandung herpes simplex tipe 1 atau tipe 2. Herpetic Whitlow. Infeksi herpes pada jari, herpetic paronychia atau herpetic whitlow, merupakan resiko pekerjaan untuk petugas anestesi.123 Infeksi ini biasanya dimulai pada tempat masuknya virus, yaitu pada pangkal jari yang keutuhan kulitnya rusak. Awalnya terasa gatal dan nyeri pada tempat infeksi, kemudian diikuti dengan munculnya vesikel yang dikelilingi eritem. Dapat disertai gejala-gejala konstitusional seperti demam, malaise, dan limfadenopati. Vesikel-vesikel satelit muncul di sekitar lesi primer setelah beberapa hari. Dalam 3 minggu, nyaeri yang berdenyut berkurang, dan lesi mulai menyembuh. Diagnosis infeksi virus herpes simplex dapat ditegakkan dengan menemukan sel epitel besar berinti banyak atau badan inklusi pada apus (teknik Tzanck) yang diambil dari vesikel. Walaupun proses penyakit ini mirip dengan bacterial paronychia, terapi sebaiknya konservatif dan insisi drainase tidak dianjurkan. Untuk mencegah infeksi herpes simplex pada tangan, petugas anestesi harus menggunakan sarung tangan saat kontak dengan sekret oral dari pasien seperti selama intubasi atau ekstubasi endotracheal, suction faring, dan saat memasukkan NGT.126 petugas yang terinfeksi herpes simplex pada tangan atau jarinya, tidak diperbolehkan kontak dengan pasien sampai lesi sembuh.65 Terapi dengan asiklovir, suatu obat antivirus yang menghambat replikasi virus herpes simplex tipe 1 dan 2, dapat memperpendek lamanya infeksi primer virus pada kulit .

Cytomegalovirus (CMV) Infeksi CMV sering terjadi selama masa kanak-kanak, dan antibodi terhadap CMV terbentuk pada sebagian besar individu setelah infeksi pertama, yang dapat tidak tampak secara klinis. Setelah itu, terjadi periode intermitten dari sekresi virus meskipun kadar antibodi dalam darah tinggi. Penularan CMV mungkin terjadi melalui kontak lekat dengan individu yang mensekresi virus melalui kontak dengan saliva atau urin yang terkontaminasi. Partikel udara atau droplet jarang memegang peranan dalam penyebaran CMV.

Infeksi CMV primer atau berulang selama kehamilan menyebabkan infeksi janin pada 2,5% kejadian. Sindroma CMV kongenital dapat ditemukan pada 10% janin yang terinfeksi. Jadi walaupun infeksi CMV tidak terjadi pada dewasa, namun mempunyai efek sisa yang signifikan pada wanita hamil. Infeksi CMV dapat mematikan pada pasien immunocompromised, seperti pada pasien yang tengah menjalani transplantasi sumsum tulang. Dua reservoir terbesar untuk infeksi CMV dalam rumah sakit termasuk janin yang terinfeksi dan pasien immunocompromised, seperti mereka yang mendapat transplantasi organ atau pasien-pasien pada unit onkologi. Penelitian pada petugas rumah sakit anak mengindikasikan bahwa petugas yang bertanggung jawab merawat pasientidak lebih beresiko dibanding dengan yang tidak kontak dengan pasien.127 Nampak bahwa prosedur rutin untuk mengontrol infeksi, seperti mencuci tangan setelah kontak dengan pasien dan penggunaan sarung tangan untuk menghindari bersentuhan dengan cairan tubuh, cukup untuk mencegah infeksi CMV pada petugas yang sehat (tabel 4-3 dan 4-4).65 Petugas yang tengah hamil harus mewaspadai resiko yang berhubungan dengan infeksi CMV selama kehamilan dan melakukan pencegahan yang tepat selama merawat pasien resiko tinggi. Tidak ada bukti yang mengindikasikan petugas yang hamil untuk dipindahkan dari ruang perawatan untuk mencegah kontak dengan CMV positif.

Table

4-3.

PREVENTION

OF

OCCUPATIONALLY

ACQUIRTED

INFECTION65,121 Infectious Agent Cytomegalovirus Hepatitis B Preventive Measures* Standard precautions Vaccine; hepatitis B immune dlobulin, standard precautions Hepatitis C Herpes simplex Standard precautions Standard precautions; contact precautions If disseminated disease Human immunodeficiency virus Postexposure prophylactic antiretrovirals; standard precautions Influenza Vaccine; prophylactic antiretrovirals;

droplet precautions Measles Rubella Tuberculosis Vaccine; airborne precautions Vaccine; droplet precautions Airborne precautions; isoniazid 

ethambutol for PPD conversion Varicella-zoster Vaccine; globulin; precautions; varicella-zoster airborne standard and immune contact if

precautions

localized disease * Isolation Precautions outlined in Table 4-4.

Table 4-4. HOSPITAL ISOLATION PRECAUTIONS121 STANDARD PRECAUTIONS These are to be used for the care of all patients regardless of their diagnosis or presumed infection status. Standard precautions should be used in conjunction with other forms of isolation precautions (see below) for the care of specific patients. 1. Hand washing After touching blood, body fluids, or contaminated items even if gloves are worn. 2. Gloves Wear gloves when touching blood, body fluids, or contaminated items. Change gloves between tasks on the same patient when there is likely to be a high concentration of organisms. Remove gloves after use, before touching noncontaminated items and environmental surfaces. 3. Mask, eye protection, face shield Use during procedures likely to generate splashes of blood or body fluids that may contaminate face or mucous membranes. 4. Gown Use during procedures likely to generate splashes of blood or body fluids that may

contaminate clothing or arms. 5. Patient-care equipment Handled soiled equipment in a manner that prevents skin, mucous membrane, clothing, or environmental contamination. 6. Environmental control Contaminated enviranmental surfaces should routinely be cleaned and / or disinfected. 7. Linen Soiled linen shoul be handled in a manner that prevents contamination of personnel, other patients, and environmental surfaces. 8. Occupational health and bloodborne pathogens Use care to prevent injuries when using or disposing of needles and sharp devices. Contaminated needles should not be recapped or manipilated by using both hands. If recapping is necessary for the procedure being performed, a one-handed scoop technique or mechanical device for holding the needle sheat shoul be used. Contaminated needles should not be removed from diposable syringes by hand. Do not break or bend contaminated needles before disposal. After use, disposable syringes and needles and other sharp devices shoul be placed in appropriate puncture-resistant containers located as close as practical to the area in which the items were used. Mouthpieces, resuscitation bags, or other ventilation devices should be available for use as an alternative to mouth-to-mouth ventilation. 9. patient placement Private rooms should be used for patients who are likely to contaminate the environment. (continued)

Table 4-4. HOSPITAL ISOLATION PRECAUTIONS121 (continued) TRANSMISSION-BASED PRECAUTIONS These should be used along with Standard Precautions for patients known or suspected to be infected or colonized with highly transmissible pathogens requiring additional precautions.

Airborne Precautions These should be used for patients known or suspected to be infected with microorganisms transmitted by airborne droplet nuclei (particles 5m or smaller in size) that can be dispersed over large distances by air currents.

1. Patient placement The patient should be placed in a private room with (1) documented negative air pressure relative to surrounding areas, (2) 6 to 12 air changes per hour, (3) discharge of air outdoors or monitored high-efficiency filtration of room air before the air is circulated to other areas in the hospital. The door to the room shoul be kept closed and the patient should remain in the room. 2. Respiratory protection Respiratory protection should be worn when entering the room of patient with

known or suspected infectious pulmonary tuberculosis. Susceptible personnel should not enter the room of patients known or suspected to have measles or varicella if other immune caregivers are available. If susceptible person must enter the room of a patient known or suspected to have measles or varicella, they should wear respiratory protection. Persons immune to measles or varicella need not wear respiratory protection. 3. Patient transport Patients should be transported from the isolation room only for essential purposes. When transport is necessary, a surgical mask should be placed on the patient to prevent dispersal of droplet nuclei. 4. Patients with tuberculosis Current CDC guidelines should be consulted for additional precautions.177

Droplet Precautions These should be used for patients known or suspected to be infected with microorganisms transmitted by large-particle droplets (particles larger than 5m) that can be generated during coughing, sneezing, talking, or by performing certain procedures.

1. Patient placement The patient should be placed in a private room. 2. Respiratory protection Personnel should wear a mask when working within 3 feet of the patient. 3. Patient transport Patients should be transported from the isolation room only for essential purposes. When transport is necessary, a surgical mask should be placed on the patient to prevent dispersal of droplet.

Contact Precautions These should be used for patients known or suspected to be infected or colonized with epidemiologically microorganisms transmitted by direct contact with the patient or

indirect contact with environmental surfaces or patient-care items.

1. Patient placement The patient should be placed in a private room. 2. Gloves and hand washing In addition to wearing gloves as outlined under Standard Precautions, gloves (nonsterile) should be worn when entering the patient‟s room. Gloves should be changed after contacting infective material that may contain high concentrations of microorganisms. Gloves should be removed before leaving the patient‟s environment and hands should be washed immediately with an antimicrobial agent or a waterless antiseptic agent. After removal of gloves and hand washing, care should be taken so that contaminated environmental surfaces should not be touched to avoid transfer of microorganisms to other patients. 3. Gown In addition to wearing a gown as outlined under Standard Precautions, a gown (nonsterile) should be worn when entering the room when it is anticipated that clothing will have contact with the patient, enviranmental surfaces, or contaminated items or if the patient is incontinent or has diarrhea, an ileostomy, a colostomy, or wound drainage not contained by a dressing. The gown should be removed before leaving the patient‟s environment. Clothing should not contact potentially contaminated surfaces after removal of the gown. 4. Patient transport The patients should be transported from the room only for essential purposes. If it is necessary to transport the patient, precautions should be maintained to minimize the risk of transmission of microorganisms to other patients and contamination of environmental surfaces or equipment. 5. Patient-care equipment Dedicate the use of noncritical patient-care equipment (e.g., blood pressure cuffs)

to a single patient to avoid transmission of microorganisms to another patient. If use of common equipment is unavoidable, then items should be adequately cleaned or disinfected before use on another patient. 6. Additional precautions for preventing spread of vancomycin resistance Current CDC guidelines should be consulted.243

Rubella Outbreak rubella, atau German measles, pada petugas rumah sakit menyebabkan kehilangan pekerja tetap secara signifikan, angka kesakitan, dan biaya yang tinggi. Walaupun sebagian besar orang dewasa di USA kebal terhadap rubella, namun lebih dari 20% wanita usia subur masih rentan. Infeksi rubella selama trimester pertama kehamilan berhubungan dengan malformasi kongenital atau kematian janin. Rubella ditularkan melalui kontak dengan droplet nasofaring dari individu yang terinfeksi. Pasien paling menular saat ruam muncul, tapi dapat menularkan sejak 1 minggu sebelum sampai 5-7 hari setelah onset ruam. Pencegahan kontak dengan droplet harus dilakukan untuk mencegah penyebaran (Tabel 4-4).65 Memastikan kekebalan saat penerimaan pekerja dapat mencegah transmisi nosokomial rubella kepada petugas. Imunitas dapat diketahui melalui bukti riwayat vaksinasi dengan vaksin hidup atau melalui konfirmasi serologis. Telah diketahui bahwa riwayat adalah indikator yang lemah suatu kekebalan. Vaksin virus rubella hidup yang telah dilemahkan dapat membentuk kekebalan pada petugas yang rentan.115,128 Untuk individu yang tidak memiliki kekebalan, tes antibodi serologis secara rutin sebelum vaksinasi tidak efektif. Banyak departemen kesehatan baik lokal maupun nasional mewajibkan petugas kesehatan agar memiliki kekebalan terhadap rubella dan regulasi lokal harus dilakukan.

Measles (Rubeola) Virus campak dapat disebarkan baik melalui droplet atau melalui udara. Sejak vaksin campak diperkenalkan di USA pada tahun 1963, insidensi penyakit ini menurun secara signifikan. Setelah kemunculan penyakit ini kembali dari 1989 sampai 1991, program vaksinasi pada anak usia prasekolah dan pelaksanaan program vaksinasi telah

sukses membatasi kasus campak di USA. Penyebaran campak dari negara lain terus berlangsung. Petugas kesehatan memiliki resiko untuk terkena campak (13 kali lebih besar dari populasi umum) dan dapat menyebarkan virus kepada asisten dan pasien. CDC menganjurkan bahwa petugas medis harus mempunyai kekebalan yang adekuat terhadap campak yang harus dibuktikan dengan menunjukkan salah satu dari yang berikut: bukti dari dua dosis vaksin campak, rekam medis mengenai riwayat diagnosis campak, atau bukti serologis kekebalan terhadap campak (Tabel 4-3).65 Petugas yang rentan yang lahir pada atau sebelum tahun 1957 harus mendapatkan 2 dosis vaksin campak hidup saat mulai bekerja.128

Virus Hepatitis Walaupun banyak virus penyebab hepatitis, virus yang paling sering adalah tipe A atau hepatitis infeksius, tipe B (HBV) atau hepatitis serum, dan tipe C (HVC), yang bertanggung jawab terhadap semua kasus hepatitis non-A, non-B yang ditularkan secara parenteral (NANBH) di USA. Hepatitis delta, yang disebabkan oleh virus inkomplit, terjadi hanya pada orang-orang yang terinfeksi HBV. Outbreak hepatitis NANBH yang ditularkan secara enterik (hepatitis E) telah dilaporkan terjadi di luar USA dan biasanya disebabkan oleh air yang terkontaminasi. Petugas anestesi paling beresiko tertular HBV dan HCV.

Hepatitis A Kurang lebih 20-40% hepatitis pada dewasa di USA disebabkan oleh virus tipe A, suatu picornavirus yang mengandung RNA. Hepatitis A biasanya sembuh sendiri, dan tidak ada kasus kronik. Penyebarab secara predominan melalui rute fekal-oral, baik melalui kontak orang ke orang atau dengan cara menelan makanan atau air yang tercemar. Outbreak biasanya terjadi pada suatu institusi atau suatu komunitas yang sanitasinya buruk. Petugas rumah sakiy tidak termasuk ke dalam orang yang beresiko tertular hepatitis A. Outbreak hepatitis A di rumah sakit dapat terjadi bila pasien dibawa ke rumah sakit saat fase prodormal dari penyakit. Penggunaan sarung tangan dan mencuci tangan

dengan cermat selama kontak dengan feses atau alas tidur atau pakaian yang terkontaminasi dapat mencegah penyebaran virus secara adekuat terhadap petugas rumah sakit. Petugas yang terpapar dengan pasien yang terinfeksi hepatitis A harus mendapatkan immune globulin dalam 2 minggu setelah terpapar untuk mengurangi infeksi.129,130 Immunoglobulin memberikan proteksi terhadap hepatitis A dengan cara transfer antibodi secara pasif dan digunakan untuk profilaksis setelah terpapar. Vaksin hepatitis A dibuat dari virus yang diinaktivasi dan tidak secara rutin dianjurkan untuk para petugas kesehatan kecuali yang bekerja di negara endemik hepatitis A.115,130

Hepatitis B Hepatitis B merupakan resiko pekerjaan yang signifikan untuk ahli anestesi yang tidak memiliki kekebalan dan petugas medis lain yang sering kontak dengan darah atau produk-produk darah. Prevalensi hepatitis B pada populasi umum di USA sebesar 3-5%, dan carrier sebanyak 0,2-0,9% berdasarkan skrining serologis. Survei serologis termasuk lebih dari 2400 personel anestesi diadakan di USA dan negara lainnya menunjukkan rata-rata prevalensi marker serologis HBV sebesar 17,8% (3,2-48,6%).131 Seropositif dari petugas anestesi di berbagai lokasi mungkin mencerminkan prevalensi carrier HBV dari populasi pada area tersebut. Di USA, prevalensi marker hepatitis B pada petugas anestesi bervariasi antara 19% pada satu multicenter study132 sampai 49% di departemen anestesi di rumah sakit kota.133 Infeksi HBV akut biasanya terjadi tanpa kerusakan hepar. Kurang dari 1% pasien dengan infeksi akut dapat menjadi hepatitis fulminan. Sebesar 10% orang yang terinfeksi menjadi carrier HBV kronik (>6 bulan). Dalam 2 tahun, setengan dari carrier kronik sembuh tanpa gangguan hepar yang signifikan. Hepatitis kronik aktif, yang dapat berubah menjadi sirosis, paling sering ditemukan pada individu dengan infeksi virus kronik lebih dari 2 tahun. Walaupun penelitian terdahulu menyebtkan bahwa occupationally acquired HBV menyebabkan kematian dari 250 petugas medis setiap tahun, pelaksanaan vaksinasi rutin dan pelaksanaan pencegahan secara universal mampu menurunkan resiko infeksi HBV dan gejala sisanya secara signifikan (90% berkurang dari tahun 1985 sampai 1994).65

Diagnosis dan klasifikasi infeksi HBV dapat ditegakkan berdasarkan tes serologis. Antibodi terhadap antigen permukaan (anti-HBs) muncul setelah infeksi akut dan tetap memberi kekebalan terhadap infeksi HBV. Karier HBV kronik mempunyai antigen permukaan hepatitis B (HbsAg) dan antibodi terhadap core antigen (anti HBc) terdapat dalam sampel serum. Penularan virus hepatitis B di masyarakat terjadi melalui kontak sex, kontak personal yang dekat (seperti pada suatu institusi), penggunaan jarum suntik bergantian dan alat untuk obat intravena, dan infeksi perinatal dari ibu kepada bayinya. Petugas anestesi beresiko terhadap infeksi HBv berhubungan dengan pekerjaannya sebagai hasil dari kontak perkutaneus atau melalui mukosa dengan darah atau cairan tubuh dari pasien yang terinfeksi. Kelompok pasien dengan prevalensi tinggi terhadap karier HBV termasuk imigran dari daerah endemik, pemakai obat-obat terlarang, pria homoseksual, dan pasien yang sedang menjalani hemodialisis.129 Karier seringkali tidak teridentifikasi selama perawatan, karena gejala klinis dan tes laboratorium rutin preoperatif biasanya tidak cukup untuk menegakkan diagnosis. Paparan perkutaneus terhadap darah yang mengandung HBV (pada individu dengan antigen-2 yang positif) dapat menimbulkan infeksi sampai dengan 30 %. HBV dapat ditemukan pada saliva, tetapi angka transmisi kontak dengan mukosa dengan sekresi oral yang terinfeksi lebih kecil daripada paparan perkutan terhadap darah. HBV dapat menginfeksi dalam waktu 1 minggu dalam darah kering yang berada di lingkungan.

Vaksin Hepatitis B Penggunaan vaksin Hepatitis B merupakan cara pencegahan yang utama unuk mencegah penyebaran HBV terhadap petugas anestesi dan petugas kesehatan lainnya. Penggunaan tiga dosis vaksin pada M. Deltoid dapat membentuk antibodi (anti-HBs) pada lebih dari 90 % petugas kesehatan. Saat ini vaksin Hepatitis B di USA tersedia dengan komposisi HbsAg yang diproduksi dengan teknologi rekombinan. Rumah sakit atau bagian anestesi seharusnya mempunyai kebijaksanaan untuk melakukan edukasi, skrining dan konseling terhadap para petugasnya mengenai risiko terkena infeksi HBV dan seharusnya memberikan vaksinasi pada setiap petugas.

Untuk menyakinkan bahwa imunitas yang terbentuk setelah vaksinasi adekuat, dapat dilakukan tes serologis untuk anti-HBs, 6 bulan setelah vaksinasi yang terakhir. Antibodi yang terbentuk ini akan turun sejalan dengan waktu, titer maksimum antibodi yang terbentuk akan menentukan berapa lama vaksin tersebut akan bertahan. Pada individu dewasa dengan sataus imuhn yang normal, tidak diperlukan booster selama 7 tahun setelah vaksinasi. Apabila personel anestesi yang belum divaksin terpapar oleh jarum yang terkontaminasi darah pasien dengan HbsAg positif, dinjurkan untuk mendapatkan tindakan profilakss setelah paparan dengan hiperimun globulin HBV disertai pemberian vaksin HBV. Hiperimunoglobulin HBV (HBIG) dibuat dari plasma manusia yang mengnadung titer anti HBs yang tinggi yang akan memberikan kekebalan pasif.

Hepatitis C Virus Hepatitis C merupakan etiologi penyakit yang ditransmisikan parenteral dan merupakan penyebab utama penyakit hepar kronis di USA. Antibodi HCV (anti-HCV)

dapat dideteksi pada sebagian besar pasien hepatitis C, tetapi keberadaannya tidak berhubungan dengan kemungkinan resolusi atau progresivitas penyakit ini. Imunitas terhadap HCV tidak tergantung pada anti-HCV. Seropositif pada Hepatitis C RNA, dengan menggunakan rantai polimerase merupakan penanda infeksi kronis HCV juga dapat digunakan untuk mengidentifikasi individu yang potensial menularkan infeksi ini. Penyebaran parenteral yang sporadik dilaporkan 20-40 % dari seluruh kasus hepatits virus akut di USA. Sekitar 42 % berhubungan dengan penggunaan obat-obatan intra vena, 6 % berhubungan dengan transfusi darah. Hanya 2 % terjadi pada tenaga kesehatan. Prevalensi anti-HCV pada USA diperkirakan 1,8 % (3,9 juta jiwa) dengan 74% (2,4 juta jiwa) HCV RNA positif. Individu yang terinfeksi HCV memiliki risiko yang tinggi untuk menjadi hepatitis kronis. Sekitar 60 % penderita yang dibiopsi ternyata merupakan hepatitis kronis, yang dapat mengalami progresivitas menjadi sirosis hepatis. HCV RNA masih dapat dideteksi pada 75 % pasien hepatitis C yang mengalami resolusi. Pengobatan dengan interferonaIIb dapat efektif untuk hepatitis C kronis, tetapi sayangnya banyak pasien yang

mengalami relaps pada saat terapi dihentikan. Kombinasi terapi dengan interferon dan ribavirin lebih efektif daripadi terapi interferon tunggal. Seperti HBV, HCV ditransmisikan melalui darah dan kontak seksual, tetapi penyebaran HCV melaui kontak personal tidaklah sering ditemukan. Risiko hepatitis C setelah terpapar jarum yang terkontaminasi dengan HCV sekitar 2-4 %. Angka transmisi ini lebih kecil jika dibandingkan dengan HBV, kemungkinan disebabkan rendahnya titer virus pada darah carrier. Tidak ada pengobatan profilaksis setelah paparan yang tersedia untuk mencegah infeksi HCV, dan penggunaan imunoglobulin tidak lagi dianjurkan. Pengobatan dengan interferon yang diberikan pada awal infeksi akan jauh lebih efektif daripada yang diberikan selama infeksi kronis, tetapi obat ini belum diperiksa efektivitasnya pada profilaksis setelah paparan. Petugas yang terpapar darah anti-HCV positif harus diperiksa serologisnya dan mendapatkan konseling pada saat paparan dan 6 bulan setelahnya.

Human Retrovirus Patogen Agen yang menimbulkan AIDS merupakan HIV-tipe 1 (HIV-1), salah satu human retrovirus yang patogen. HIV-1 merupakan bagian dari human T-cell lymphotropic viruses (HTLV), yaitu HTLV III. HTLV-1 merupakan human retrovirus yang pertama kali diketahui menyebabkan T-cell leukemia/lymphoma dan penyakit neurologis kronis degeneratif, tropical spastis paraparesis. HTLV-1 ditemukan pada pengguna obat-obatan intravena dan wanita Pekerja Seks Komersial (PSK) di USA dan juga telah ditemukan dan diperiksa pada persediaan darah di USA. Penelitian serologis menunjukkan bahwa virus ini endemis di Jepang, Karibia dan Afrika. HTLV-II sama dengan HTLV-1, dan tes serologis seringkali gagal membedakan keduanya. HTLV-II sering ditemukan pada pengguna obat-obatan intravena di USA dan Eropa. HTLV-II tidak spesifik untuk penyakit tertentu, tetapi telah diisolasi pada beberapa pasien dengan hairy cell leukimia. Transmisi HTLV-I/II dapat melalui darah atau selama kontak seksual. Penyebaran pada petugas kesehatan belum diketahui. Penyebaran melalui jalan lahir saat melahirkan tidak ada. HIV-2 menimbulkan gejala seperti AIDS pada Afrika Barat. Penyebaran HIV-2 predominan pada individu heteroseksual, antara pria dan wanita yang terinfeksi

seimbang. Satu-satunya HIV-2 yang ditemukan di USA terjadi pada pasien yang sebelumnya mengalami kontak dengan warga Afrika.

Infeksi HIV dan AIDS Diperkirakan 600.000 sampai 900.000 penduduk USA terinfeksi HIV. Pada awalnya infeksi ini menunjukan gejala mononucleosis-like syndrome, dengan limfadenopati dan rash. Meskipun pasien masih berada pada periode asimtomatik, monosit-makrofag bertindak sebagai reservoir virus pada tubuh, dan CD4+sel T menangkap virus dari darah. Adanya infeksi dapat dideteksi dengan ELISA dan dapat dikonfirmasikan dengan specific Western blot test. Berdasarkan penelitian pada pria homoseksual, AIDS timbul pada 50 % individu yang terinfeksi setelah 8 tahun terinfeksi HIV. Selama fase ini, terdapat peningkatan titer virus dan gangguan imunitas tubuh, menimbulkan infeksi oportunistik dan keganasan. Menurut data CDC, sejak tahun 1981Juni 1999 terdapat 711.344 kasus HIV di USA. Terdapat penurunan jumlah kasus baru setelah digunakannya pengobatan antiretrovirus pada pasien yang terinfeksi HIV. HIV menyebar melalui kontak seksual, perinatal dari ibu yang terinfeksi ke bayinya, melalui darah yang terinfeksi (transfusi atau pemakaian jarum bersama) dan produk-produk darah. Meskipun virus dapat ditemukan pada saliva, air mata dan urin, tidak berarti bahwa cairan tubuh ini dapat menyebarkan virus. Kelompok orang dewasa dengan persentase AIDS yang tinggi adalah golongan homoseksual/pria biseksual, pengguna obat-obatan intavena, heteroseksual dengan riwayat kontak dengan orang yang terinfeksi HIV, atau individu yang menerima transfusi darah yang terinfeksi, komponen darah ataupun jaringan. Seluruh pasien yang terinfeksi tidak selalu dapat didiagnosis pada kunjungan awal. Dari enam persen pasien dirawat di bagian gawat darurat di rumah sakit dengan infeksi HIV, 63 % di antaranya tidak terdiagnosis. Tes serologis pasien di 15 kota di USA menunjukkan seroprevalence HIV berkisar antara 0,2-14,7 % dengan rata-rata 4,7 %.

Risiko Pekerjaan terhadap Infeksi HIV Meskipun terdapat berbagai cara transmisi HIV pada masyarakat, sumber utama penyebaran HIV pada petugas kesehatan adalah melalui kontak darah. Penelitian

prospektif oleh CDC dan the National Institutes of Health menunjukkan bahwa serokonversi terjadinya infeksi HIV pada petugas kesehatan melalui kontak perkutan trauma akibat jarum suntik terhadap darah yang terinfeksi HIV diperkirakan 0,3 %. Meskipun tidak ada infeksi yang timbul setelah paparan pada membran mukosa atau perkutan, dinyatakan bahwa rata-rata transmisi HIV setelah paparan pada mukosa membran diperkirakan sekitar 0,09 %. Pada bulan juni 1999 CDC menemukan serokonversi pada 55 orang tenaga kesehatan setelah terjadi paparan akibat pekerjaan. Empat puluh sembilan tenaga kesehatan ini sebelumnya mendapat paparan perkutan. Penelitian yang dilakukan di seluruh dunia melaporkan bahwa 94 tenaga kesehatan telah terinfeksi HIV pata September 1997. Penelitian kasus-kontrol menunjukkan adanya faktor spesifik yang berhubungan dengan meningkatnya angka transmisi HIV setelah paparan perkutan. Meningkatnya risiko ini berhubungan dengan dalamnya trauma, prosedur di mana jarum diinsersikan ke vena dan arteri dan penyakit terminal (kematian AIDS dapat terjadi dalam dua bulan) pada pasien yang menjadi sumber HIV. Risiko infeksi HIV pada petugas kesehatan sangat besar setelah adanya trauma yang dalam dengan kontaminasi darah pasien AIDS stadium terminal. Risiko infeksi HIV pada petugas kesehatan tergantung pada jumlah paparan darah, rata-rata infeksi HIV pada paparan darah yang terinfeksi, prevalensi infeksi HIV pada populasi tertentu. Berdasarkan literatur, Buergler, dkk., menghitung risiko infeksi HIV dalam waktu satu tahun pada anestesiologis, berkisar antara 0,001 dan 0,129 %. Greene, dkk., mengumpulkan data secara prospektif pada 138 petugas anestesi yang terkontaminasi pada trauma perkutan. Angka kontaminasi perkutan selama setahun penuh pada petugas anestesi adalah 0,42 % dan rata-rata risiko infeksi HIVdan HCV diperkirakan 0,0016 % dan 0,0015 %. Berdasarkan rata-rata jumlah infeksi, diperkirakan paparan pada pekerjaan menimbulkan infeksi HIV 0,56 dan HCV 5,18 pertahun pada petugas anestesi. Petugas anestesi seringkali terpapar darah dan cairan tubuh selama melakukan tindakan yang invasif seperti insersi kateter vaskuler, pungsi arteri dan intubasi endotrakhea. Meskipun banyak paparan mukokutan seperti trauma jarum suntik, yang akan membawa risiko yang besar terjadinya transmisi patogen. Tiga puluh dua persen

anestesiologis yang diteliti, ternyata sering mengalami trauma jarum suntik selama setahun. Karena tugas mereka, maka anestesiologis dapat mengalami trauma jarum suntik, kateter IV, dll. Oleh karena pada jarum sering terdapat sejumlah besar darah, dan kemungkinan terkontaminasi virus, maka penggunaannya berhubungan dengan transmisi patogen. Tidak digunakannya jarum atau jarum dengan pengaman dapat menggantikan alat-alat standar yang biasa digunakan, untuk mengurangi risiko terjadinya trauma oleh karena jarum suntik. Meskipun biasanya harganya lebih mahal daripada jarum suntik yang biasa digunakan, tetapi lebih efektif daripada biaya perawatan pada petugas kesehatan yang terinfeksi. Penggunaan jarum dengan faktor pengaman dapat menolong mengurangi risiko trauma oleh karena jarum suntik ataupun benda tajam lainnya.

Pengobatan setelah terjadi Paparan dan Terapi Antiretrovirus Jika petugas kesehatan terpapar darah ataupun cairan tubuh pasien, kejadian ini harus segera dilaporkan kepada petugas yang tepat di institusi tersebut. Berdasarkan trauma yang terjadi, petugas yang terpapar dan individu sumber infeksi dapat diperiksa serologis terhadap HIV, HBV dan infeksi HCV. Pasien sumber infeksi ini harus terus diamati, jika pasien tersebut ternyata positif HIV, petugas tersebut harus diperiksa terus secara periodik terhadap antibodi HIV setidaknya selama 6 bulan setelah paparan, meskipun biasanya pada orang yang terinfeksi, serokonversi akan timbul dalam 6-12 minggu setelah paparan. Selama rentang waktu ini, petugas tersebut harus mengikuti rekomendasi CDC untuk mencegah transmisi terhadap anggota keluarganya dan pasien lain. Pemberian zidovudin efektif untuk mengurang transmisi HIV pada ibu yang terinfeksi kepada bayinya, dan setelah terjadi paparan darah yang terinfeksi pada petugas kesehatan. CDC mengeluarkan algoritma pencegahan setelah paparan pada petugas kesehatan. Penggunaan antiretrovirus yang spesifik berdasarkan tipe paparan dan sumber infeksi. Sejak protokol pemberian kemoprofilaksis diubah dengan adanya penelitian terbaru dan ditemukannya antiretrovirus yang baru, dianjurkan untuk melakukan konsultasi sebelum memberikan terapi profilaksis setelah paparan.

Keselamatan Kerja dan Standar Administrasi Kesehatan, Tindakan Pencegahan Universal serta Pemberlakuan Isolasi CDC merekomendasikan tindakan pencegahan universal untuk mencegah transmisi infeksi melalui drah (HIV, HBV dan HCV) terhadap petugas kesehatan. Panduan ini dibuat berdasarkan bukti epidemiologis bahwa HBV merupakan kasus yang paling banyak disebarkan melalui darah, sedangkan untuk HIV dan HIV belum banyak penelitian yang dilakukan. Karena seringkali carrier penyakit tersebut tidak diketahui, maka tindakan pencegahan universal ini berlaku untuk semua pasien. Meskipun paparan terhadap darahlah yang paling berisiko untuk penyebaran HIV, HBV dan HCV, tindakan pencegahan ini juga harus diberlakukan pada semen, sekret vagina, jaringan tubuh, cairan tubuh seperti LCS, cairan sinovial, pleura, peritoneal, perikardial dan amnion. CDC menyusun tindakan pencegahan universal ini ke dalam tindakan pencegahan standar, yang dapat diberlakukan pada semua pasien. Standar pencegahan ini meliputi tindakan isolasi (tindakan pencegahan transmisi melalui partikel udara, droplet dan kontak langsung) untuk mengurangi risiko penyebaran perinatal dan patogen lain di rumah sakit. Tindakan pencegahan standar menganjurkan untuk menggunakan sarung tangan jika petugas kesehatan kontak dengan membran mukosa dan cairan dari dalam mulut, seperti selama intubasi endotrakheal dan pharingeal suctioning. Pemilihan barier yang spesifik atau perlengkapan yang akan dapat melindungi diri dapat disesuaikan dengan tugas yang diperoleh. Sarung tangan harus digunakan pada saat insersi kateter intravena perifer, sedangkan sarung tangan, pakaian, masker dan pelindung muka diperlukan pada pemasangan intubasi endotrakheal pada pasien dengan hematemesis. Sarung tangan harus dilepaskan sebelum mengkontaminasi alat-alat lain, untuk mencegah penyebaran darah dan cairan tubuh ke perlengkapan lain. Antiseptik perlu disediakan untuk mencuci tangan petugas anestesi setelah mereka melepaskan sarung tangan, tanpa harus meninggalkan ruangan operasi. Karena paparan terhadap darah sering terjadi, dianjurkan untuk lebih berhati-hati dalam menggunakan jarum suntik. Seringkali trauma terjadi pada saat petugas hendak menutup jarum yang terkontaminasi, untk menghindarinya dianjurkan agar petugas menggunakan teknik satu tangan.

Tindakan pencegahan universal telah terbukti dapat menurunkan insidensi paparan petugas dengan darah dan cairan tubuh, tapi sayangnya saat ini tindakan pencegahan universal ini sudah mulai ditinggalkan. Anestesiologis harus mengikuti tindakan pencegahan universal ini terutama jika mereka menangani pasien HIV. Petugas harus berbagai perlengkapan untuk melindungi diri dari infeksi seperti menggunakan sarung tangan dan pakaian khusus. Vaksin HBV harus diberikan dengan cuma-cuma pada petugas. Mekanisme untuk penanganan post exposure dan follow-up harus tersedia. Selain itu juga harus diadakan pelatihan rutin yang mengingatkan petugas mengenai risiko yang mereka hadapi, serta sumber daya yang tersedia untuk membantu menjaga mereka dari paparan darah.

Creutzfeldt-Jakob disease Creutzfeldt-Jakob disease disebabkan oleh proteinaceous infectious agent, atau prion, dapat ditemukan tanpa disangka-sangka ada pasien demensia. Transmisi penyakit ini melalui produk biologis. Risiko transmisi pada petugas rumah sakit belum diketahui karena dibutuhkan waktu yang lama setelah infeksi sampai timbul gejala. Dianjurkan untuk menghindari kontak langsung dengan LCS, darah ataupun jaringan. Mencuci tangan dengan hati-hati juga perlu diakukan. Prion sulit untuk dieradikasi dari lingkungan, tetapi penggunaan sterilisasi uap atau dengan sodium hidroksida cukup efektif.

Tuberkulosis Insidensi tuberkulosis di USA meningkat pada tahun 1986, tapi mulai berkurang sejak 1992. Meskipun sebagian besar individu yang terinfeksi TBC dapat diobati sebagai pasien rawat jalan, pasien yang tidak terdiagnosa dapat dirawat di rumah sakit untuk proses yang patologis pada paru-parunya. Petugas kesehatan sangat berisiko untuk terkena infeksi penyakit-penyakit yang belum terdiagnosis. Kelompok dengan prevalensi TBC yang tinggi meliputi individu dengan kontak personal dengan penderita TBC aktif,

masyarakat dari negara dengan prevalensi TBC yang tinggi, alkoholik, gelandangan serta pengguna obat-obatan intravena. Mycobacterium tuberculosis ditransmisikan melalui basil yang terbawa partikel udara, berukuran 1-5 m, saat batuk, berbicara atupun bersin. Isolasi dari saluran nafas perlu dilakukan pada pasien yang dirawat, dan diduga terkena TBC sampai diketahui bahwa tidak ditemukan adanya basil pada sputum. Kemoterapi yang adekuat biasanya efektif untuk mencegah penyebaran TBC. Pembedahan yang direncanakan harus ditunda sampai pasien yang terinfeksi mendapat cukup pengobatan kemoterapi. Jika pembedahan dibutuhkan, harus digunakan filter pada alat-alat anestesi yang berhubungan dengan saluran nafas. Pencegahan penyebaran terhadap petugas kesehatan yang efektif membutuhkan identifikasi dini pada pasien terinfeksi. Pasen harus diisolasi sampai dianggap sudah mendapatkan pengobatan yang adekuat. Jika pasien TBC harus meninggalkan ruangan, mereka harus mengunakan masker untuk mencegah penyebaran organisme ke udara. Petugas kesehatan harus menggunakan pelindung saluran nafas jika akan memasuki ruang isolasi atau jika akan melakukan prosedur yang akan menginduksi timbulnya batuk, sepert intubasi endotrakheal atau tracheal suctioning. Penggunaan pelindung saluran nafas untuk melindungi terhadap M. tuberculosis dapat menyaring 95 % partikel berukuran 1 mm dengan aliran udara 50 liter/menit Respirator udara dengan efisiensi yang tinggi (dikategorikan sebagai N95) memenuhi kriteria CDC untuk perlindungan terhadap M. tuberculosis. Skrining berkala yang periodik pada petugas untuk TBC seharusnya menjadi bagian dari kebijaksanaan kesehatan bagi petugas rumah sakit, dengan sejumlah skrining yang tergantung pada prevalensi pasien yang terinfeksi pada poplasi rumah sakit. Jika pada tes kult didapatkan hasil yang positf, diperlukan anamnesis yang seksama untuk mengetahui sumber infeksi. Pengobatan atau pencegahan yang diberikan berdasarkan jenis obat-obatan yang diduga sesuai dengan M. tuberculosis yang didapatkan dari pasien, jika diketahui. Petugas yang terpapar dengan pasien TBC aktif harus menjalani tes kulit.

Viruses in Laser Plumes

Laser seringkali digunakan pada pasien vaporizing carcinomatous dan tumor yang disebabkan oleh virus. Penggunaan laser berhubungan dengan beberapa risiko untuk pasien dan juga petugas kamar operasi. Risiko ini termasuk timbulnya luka bakar, trauma pada mata, risiko ledakan dan adanya api. Terdapat bukti bahwa laser plums dihasilkan dari penguapan jaringan yang mengandung zat kimia yang toksik seperti formaldehid. Penelitian klinis ataupun laboratoris menunjukkan bahwa pada laser karbon dioksida yang digunakan untuk mengobati verruka (papilloma dan kutil), ditemukan DNA virus yang intak. Peneliti dari Center for Devices and Radiological Health menggunakan model in vitro untuk menggambarkan virus yang dapat ditemukan pada laser karbon dioksida dan argon. Penelitian lain menunjukkan bahwa virus dapat terbawa oleh partikel-partikel kurang dari 100 mm dari tempat penguapannya. Pada suatu kasus dilaporkan bahwa terjadi papillomatosis laryng pada ahli bedah yang menggunakan laser untuk menghilangkan kondiloma anogenital pada beberapa pasien. Meskipun analisis DNA yang dilakukan pada papilloma menunujukkan tipe virus yang sama dengan virus yang ditemukan pada kondiloma, bukti terjadinya transmisi sangatlah kurang. Untuk mencegah petugas kamar operasi terpapar virus dan zat kimia pada laser plume, dianjurkan agar evakuator ditutup sebisa mungkin dari jaringan yang akan dihilangkan. Hal ini akan efektif untuk mencegah partikel material pada plume terperangkap pada saringan evakuator. Selain itu, petugas kamar operasi yang bekerja di sekitar laser plume harus menggunakan sarung tangan, kaca mata hitam, dan masker penyaring dengan efisiensi yang tinggi.

Pertimbangan Emosional Stress Stres dikenal sebagai salah satu risiko yang sering timbul jika bekerja pada kamar operasi. Sangat sedikit informasi yang ada mengenai hubungan antara stres dengan pekerjaan pada anestesiologis. Stres merupakan respon non spesifik terhadap perubahan, kebutuhan, tekanan, penderitaan ataupun trauma. Terdapat beberapa faktor yang berperan pada timbulnya stres: menerima tekanan, terjadi proses fisiologis yang menyaring dan

mengevaluasi stressor, dan meniru mekanisme yang sudah ada untuk mengontrol kondisi yang menimbulkan stres. Stres oleh karena pekerjaan tidak dapat dihindari bahkan pada derajat tertentu juga dibutuhkan. Stres yang moderat yang dapat ditangani dibutuhkan untuk pengembangan suatu individu. Sesuatu yang menimbulkan kesulitan bagi individu A mungkin saja menyenangkan bagi individu B, atau bahkan bagi individu A itu sendiri, pada lingkungan yang berbeda. Hans Seyle, seorang ilmuwan yang meneliti tentang stres, menggambarkan keuntungan yag akan didapatkan setelah adanya stres yang ringan dan terkontrol: “tidak adanya stres adalah kematian.” Di lain pihak, stres dapat berhubungan dengan gangguan mekanisme homeostatik psikologis dan dapat menimbulkan gangguan mental. Bagaimana seseorang merespon adanya stres, dipengaruhi berbagai faktor seperti usia, jenis kelamin, pengalaman, kepribadian, mekanisme pertahanan, faktor pendukung dan berbagai keadaan penyerta, seperti adanya gangguan tidur. Lingkungan kerja anestesiologis dapat menimbulkan banyak stres. Panggilan pada malam hari dilaporkan sebagai faktor yang paling menimbulkan stres, terutama pada ahli anestesi yang sudah tua. Dengan memperhatikan adanya kewajiban, tekanan, ketidakpastian ekonomi dan hubungan interpersonal adalah faktor lain yang dapat menimbulkan stres. Tidaklah mengagetkan bahwa proses induksi dalam anestesi dapat menimbulkan stres yang besar pada ahli anestesi. Meskipun hal ini tergantung pada anestesiologis itu sendiri, dilaporkan terjadi perubahan denyut nadi dan tekanan darah pada anestesiologis selama melakukan induksi. Dapat timbul disritmia jantung (kontraksi ventrikel prematur), perubahan iskemia pada gambaran EKG, peningkatan tekanan darah, maksimal 193/137 mmHg. Luasnya pengalaman memiliki peranan penting dalam penerimaan stres pada anestesiologis. Telah ditemukan adanya hubungan antara lamanya pengalaman klinis dan tingkat kegelisahan dengan perubahan hemodinamik yang terjadi selama melakukan induksi dalam tindakan anestesi. Hubungan interpersonal juga dapat menimbulkan stres tersendiri bagi anestesiologis. Pada berbagai lokasi di rumah sakit (misalnya bagian radiologi), tanggung jawab langsung terhadap pasien dialihkan kepada dokter yang berhubungan langsung dengan pasien. Sebaliknya ruang operasi merupakan tempat di mana dua dokter saling

berbagi tanggung jawab terhadap kondisi pasien. Untuk banyak anestesiologis dan ahli bedah, tanggung jawab yang tumpang tindih menimbulkan tingkatan stres yang tinggi. Beberapa penelitian difokuskan pada karakteristik kepribadian sebelum masuk fakultas kedokteran, dan dapat diperkirakan beberapa kebiasaan yang akan timbul sat menjadi dokter. Ciri adanya respon yang tidak normal terhadap stres adalah tindakan obsesif-kompulsif. Individu ini biasanya selau pesimis, pasif, menyalahkan diri sendiri, dan merasa tidak aman. Biasanya mereka merespon adanya stres dengan masah kepada diri sendiri, hipokondria dan depresi. Pada penelitian yang dilakukan oleh Vaillant, dkk., mahasiswa yang belum lulus akan menunjukkan karakteristik ini, maka karir mereka di masa depan akan tergangu oleh alkoholisme, penyalahgunaan obat, gangguan jiwa dan kehidupan rumah tangga yang tidak harmonis. McDonald, dkk., menggunakan hal ini untuk mengidentifikasi komponen psikologis yang dapat digunakan untuk menyeleksi residen anestesi. Mereka menemukan adanya hubungan antara temuan yang didapatkan pada the California Psychological Inventory dengan ukuran kesuksesan pada residen anestesi. Stes pada pekerjaan dapat menimbulkan kemajuan ataupun penurunan pada pekerjaan yang dilakukan. Jika tekanan yang ada melebihi mekanisme pertahanan seseorang, maka akan timbul tindakan yang maladaptif dan gangguan personal serta profesi yang dapat menimbulkan berbagai keadaan seperti kecanduan obat-obatan, bahkan sampai pada tindakan bunuh diri.

Penggunaan Obat-obatan, Penyalahgunaan dan Ketergantungan Peredaran obat ilegal menjadi salah satu masalah utama di USA. Diperkirakan sekitar 20 juta warga USA merupakan pengguna obat-obatan, sedangkan 5 juta diantaranya sampai ke tahap ketergantungan.

Epidemiologi Ketergantungan obat pada dokter bukanlah hal yang baru. Pada edisi I The Principles an Practice of Medicine yang diedit oleh Sir William Osler dan dipublikasikan pada tahun 1892, dikatakan bahwa: ”Kebiasaan (morphia) merupakan hal yang biasa ditemui pada wanita dan dokter yang menggunakan suntikan hipodermik untuk

menghilangkan nyeri, seperti neuralgia atau skiatika.” Dua tahun kemudian Mattison mengatakan bahwa: “merupakan kenyataan yang menyedihkan bahwa banyak kasus morfinisme yang ditemui diantara klinisi pria daripada seluruh profesi lain digabungkan.” Penyalahgunaan obat-obatan pada kalangan medis seimbang dengan populasi umum. Brewster menyatakan bahwa: “tak seorangpun tau berapa orang dokter yang mempunyai masalah dengan alkohol dan obat-obatan lain.” Belum lama ini Hughes,

dkk., menemukan bahwa alkohol, sebagian kecil opiat dan benzodiazepin merupakan zat yang paling sering disalahgunakan di antara kalangan medis dan populasi umum. Pada Dalam suatu dokumen yang terpercaya menyatakan bahwa penyalahgunaan substansi adalah masalah yang serius di antara anestesiologis. Dari laporan Domino`s “kematian karena obat” menjadi salah satu kategori dalam resiko kematian di antara anestesiologis dibandingkan di anatara para internis. Dalam pandangan beberapa pengamat, timbul ketergantungan. Salah satu sumber yang terpercaya adalah data dari statistik sejumlah individu yang sedang dalam program pengobatan.Sebelim seseorang ikut dalam program penngobatan, harus dikenali dulu apakah dia memiliki masalah pengobatan. Sayangnya, penyangkalan n adalah masalah yang pertama muncul sebagai mekanisme pertahanan dari para pengguna obat. Bahkan setelah diketahui adanya masalah yang berhubungan dengan obat, para ilmuwan tersebut tampak sepertinya orang biasa.penyangkalan memegang peranan penting untuk menolak terapi atau konseling. Mahasiswa kedokteran mempelajari Sejas awal tentang mekanisme penyangkalan yang kemudian digunakan agar mereka dapat bertahan lama, tidur larut malam, dan masalah kepribadian harus dihadapi dalam ilmu kedokteran klinis. Para ilmuwan baru mengikuti program pengobatan bila penyakit mereka sudah memasuki stadium akhir. Statistik maíz merupakan sumber yang informatif untuk memperkirakan jumlah anestetiologis yang terlibat dalam program penyakit yang berhubungan dengan obat. Mungkin, pengalaman yang ekstensif dating dari program „Medical Association of Georgia Disabled Doctors”.populasi penelitian mereka mencakup 1000 ilmuwan yang tidak mampu, 920 dianataranya sedang dalam pengobatan karena ketergantungan zat kimia. Sekiatr 12% dari pasien mereka adalah anestesiologis.Yang lebih menyulitkan yaitu bahwa residen anestesi mencakup 33,7% dari populasi residen dalam grup terapi

mereka.Cara lain untuk mengetahui prevalensi para pecandu obat di anatara anestesiologis yaitu dengan mengadakan survey langsung. Kesakitan yang diderita responden ini sulit diungkapkan secara jujur karena merupakan hal yang sensitive untuk mengungkapkan tentang pecandu obat. Salah satu survey yang ekstensif dilakukan oleh Ward. Mereka melaporkan hasil kuosioner yang diisi oleh 247 anestesi Amerika yang sedang dalam program pelatihan. 64% responden mengidentifikasikan bahwa setidaknya satu personalia mereka sebagai pecandu obat. Dalam 10 program (4%) terdapat 5 atau lebih individu yang teridentifikasi dalam jangka waktu studi 10 tahun (1970-1980). Insidensi keseluruhannya adalah 1,3% tersangka pecandu, dan 1,1% yang terkonfirmasi pecandu. Substansi yang paling sering dipapaki yaitu meperidine dan fentanyl. Hal ini telah diamati oleh Talboti yang telah mengobati 105 pecandu fentanyl di antatra 125 anestesiologis yang dirawat. Hasil yang serupa didapat dari Menk dan Gravenstein dala program pelatihan Amerika dan oleh Weeks di Australia.

Ketergantungan Obat Sebagai Suatu Penyakit Apa yang mendasari tingginya insidensi dari ketergantungan obat di anatara anestesiologis? Untuk menjawab ini yang terbaik yaitu dengan melihat ketergantungan obat dari segi psikososial, penyakit biogenetik.ketergantungan , (1) sebagai kondisi promer (bukan gejala), (2) berhubungan dengan perubahan anatoni dan fisiologik, (3) telah menunjukkan tanda dan gejala yang dapat dikenali, (4) mempunyai akibat yang progresif (bila tidak diobati), (5) telah menimbulkan sebab. Penting untuk mengetahui bahwa factor penyebab dari proses penyakit ini berhubungan dengan genetik. Penyakit ini timbul dari interaksi antara penjamu dan lingkungan yang tersedia.Sayangnya, tidak ada alat khusus yang dapat

mengidentifikasikan seseorang yang dicurigai sampai seseorang tersebiut terkena penyakit. Terdapat factor penyebab yang spesifik di antara anestesiologis.di anataranya stress pekerjaan, orientasi terhadap pengobatan itu sendiri., kurangnya pengenalan dan pengharagaan diri sendiri, kemampuan untuk mencandu obat, dan personaliti yang memungkinkan.

Pembuatan resep sendiri sering mendorong seringnya terjadi ketergantungan obat danpenyalahgunaan obat. Penggunaan obat untuk hal-hal yang menyenangkan mencetuskan terjadinya ketergantungan obat. Hal ini ditunjang dengan bervariasinya pilihan obat yang poten dan potensi untuk menyebabkan ketergantungan seperti kokain dan sintetik opioid, fentanyl, daqn sulfetanil. Laporan dari Australia menyebutkan bahwa hanya 66% dari pasien mengetahui anestesiologis memerlukan kualifikasi medical dan kurang dari 10% pasien dapat mengingat nama anestesiologisnya. Dalam studi lain dari Australia menyebutkan hanya 88% perawat rumah sakit mengetahui bahwa anestesiologis harus mempunyai kualifikasi medikal. Tanggapan yang positif dan keharusan pekerjaan selesai dengan baik merupakan componen yang penting untuk keouasan pekerjaan.hal ini lebih sulit didapat oleh anestesiologis dibandingkan ahli bedah untuk mendapat pengenalan dari pasien atas hasil yang memuaskan. Syndrom Rodney Dangerfield, “saya tidak mendapat respek” telah dicamkan oleh beberapa peneliti sebagai factor dalam pengalaman menggunakan obat. Anestesiologis bekerja dalam lingkungan yang memungkinkan mendapat obat psikoaktif kuat secara bebas. Dari pengalaman tentara amerika di Vietnam menyatakan bahwa bila ada jalan yang mudah untuk mendapat narkotik maka pemakaian alcohol menjadi berkurang. Dengan munculnya opioid sintetik yang baru menjadikan pilihan obat bagi anestesiologis yang menyalahgunakannya. Fentanyl dan sulfetanil merupakan obat yang tersering digunakan. Karena penyediaan obat memegang peranan penting dalam munculnya penyakit maka harus ada program yang mengaudit peredaran obat di dalam kamar operasi. Terdapat hubungan khusus antara perilaku sebelum memasuki sekolah kedokteran dan perkembangan setelahnya pada para penyalahguna obat. Talbott mengemukakan bahawa banyak dari residen anestesi dalam program memngakui bahwa alasan mereka mengikuti pendidikan anestesi karena pengtahuan yang luas mengenai obat-obat yang kuat. Komite yang memilih residen harus dapat menyeleksi gangguan personaliti sebagai bagian yang penting dalam proses penerimaan. Konsekuensi dari penyalahgunaan obat telah merugikan praktek anestesi. Bila tidak diobati maka akan menjadi penyakit yang fatal. Terdapat 100 kematian per tahun

dari ilmuwan amerika yang berhubungan dengan ketergantungan obat. Domino melaporkan terdapat 2,75 untuk kematian yang berhubungan dengan obat dan 1,78 untuk kematian karena HIV dibandingkan dengan internis. Dalam study yang dilaporkan oleh Ward di anatar 334 pengguna obat, 27 meninggal karena overdosis, dan 3 di antaranya ketergantungan baru diketahui saat kematian. Panyalahguna obat menjadi semakin terisolasi pertama dalam kehidupan pribadinya, kemudian dalam kehidupan profesionalnya. Setiap usa dilakukan agar menjadi normal dalam pekerjaan,karena bila diketahui umum akan menjadikannya semakin terisolir. Ketika akhirnya hal ini diketahui biasanya penyakitnya sudah memasuki stadium terakhir. Sebagian besar negara telah menyelenggarakan program prufesionaliasme yang terganggu dan membutuhkan laboran sehingga disebut “snitch laws”.dalam beberapa kasus dijatuhkan hukuman bagi orang yang tidak melaporkan adanya ilmuwan yang dianggap tidak mampu. Tindakan disipilin bagi para ilmuwan yang melanggar harus dilaporkan pada Nacional Practitioner Data bank dengan tebusan ke badan federal. Timbul debat yang menarik atas Adana isu tentang diadakannya ter obat bagi para ilmuwan. Walaupun banyak yang menyetujui hal ini sebagai cara yang baik masih banyak pertanyaan tentang legalitas dan efektifitas dari cara ini. Bila tidak diobati maka 30% dokter yang kecanduan akan praktek dalam 10 tahun dan 10% di anataranya akan meninggal karena penyakitnya. Tapi seorang ilmuwan biasanya bermotivasi tinggi sehingga dapat diharapkan adanya angka rehabilitasi yang tinggi. Anestesiologis menunjukkan angka kesembuhan yang lebih tinggi dari yang lainnya. Kontroversi terjadi untuk menentukkan perkerjaan apa yang cocok untuk anestesiologis yang telah sembuh. Sebelumnnya ada laboran dari talbot bahwa anestesiologis yang sembuh ingin meneruskan kembali kariernya.

Ketidakmampuan Ketergantungan obat merupakan 85% dari kasus ketidakmampuan ilmuwan. Factor lanilla yaitu penyakit fisik atau mental dan proses penuaan. Kemudian juga ketidakmauan untuk mencaru literatur yang terbaru dan teknik terbaru.

Data untuk memperoleh prevalensi dari ketidakmampuan ini lebih sulit dari pada data tentang penyalahgunaan obat. Statistik menunjukkan bahwa 1% dari pasien yang masuk ke fasilitas psikiatri adalah ilmuan. Karena meningkatnya frekuensi, untuk dapat masuk ke fasilitas diperlukan psicosis organik, gangguan personaliti, skizofrenia, neurosis, gangguan perhatian terutama depresi. Depresi banyak ditemukan pada karakteristik personaliti dari ilmuan yang tidak mampu. Karakter-karakter yang merupakan faktor resiko untuk depresi mencakup pengorbanan diri, daya saing, penyangkalan, dan pengungkapan emosi. Bissell dan Jones melaporkan bahwa lebih dari setengah grup ilmuan yang alkoholik lulus pada ¾ dari pendidikan mereka. Alkohol tidak meningkatkan proses pembelajaran. Penyalahgunaan alkohol merupakan manifestasi dari gangguan psikologi sebagai hasil stres pada beberapa pelajar.

Bunuh Diri Salah satu hal yang harus membuat waspada yaitu tingginya frekuensi bunuh diri. Laboran dari Inggris menyebutkan 5 kematian karena bunuh diri dalam periode 5 tahun pada program pendidikan anastesi. Rasionya 1 bunuh diri per 500 residen dibandingkan dengan 1 bunuh diri per 12000 populasi Amerika dan 1 bunuh diri dalam 4000 ilmuan per tahun. Mengapa frekuensi bunuh diri sangat tinggi diantara anastesiologi? Sebagian penjelasannya berhubungan dengan tingginya level stres pekerjaan. Antara stres dan bunuh diri terdapat hubungan tidak langsung. Tetapi pada beberapa orang ketidakmampuan untuk melepaskan diri dari stres akan menimbulkan ide tentang bunuh diri. Beberapa personaliti yang memungkinkan seseorang untuk bunuh diri ialah kecemasan yang tingi, perasaan tidak aman, rendah diri dan control diri yang buruk. Menurut studi dari Reefes menunjukkan terdapat 20% personaliti terdapat pada anastiologis yang merupakan predis posisi untuk terjadinya prilaku yang salah dan percobaan bunuh diri.

Salah satu tipe stres yang merupakan penyebab langsung bunuh diri diantara ilmuan dan anestisiologi. Dalam statu studi dilaporkan 4 dari 185 anastisiologi terancam untuk bunuh diri. Penyebab lain yang memungkinkan tingginya frekuensi bunuh diri ialah tingginya insidensi dari penyalahgunaan obat. Crawshaw melaporkan kasus bunuh diri dan 2 kasus hampir bunuh diri terjadi pada 43 ilmuan yang sedang dalam kertergantungan obat. Factor lain yang mungkin menyebabkan tingginya insidensi bunuh diri mencakup isolasi dan kurangnya pendukung dalam pekerjaan.

Anestisiologis Lanjut Usia Dalam beberapa industri terdapat perhatian keras terhadap kompetensi dan kemampuan perkerja lansia. Seringnya mereka dinilai karena keterbatasan umur. Tidak ada batasan usia yang spesifik dalam praktek anestesi. Pada sebagian besar kasus keputusan untuk membatasi atau berhenti dari praktek berdasarkan evaluasi diri sendiri. Satu setengah dari anestisiologis Amerika dididik sebelum 1980 dan 49% diantaranya berusia 45 tahun atau lebih. Beberapa perubahan psikologis sering berhubungan dengan usia dan mempengaruhi kemampuan untuk praktek seperti penurunan pendengaran, penglihatan, ingatan jangka pendek, kekuatan dan ketahanan. Salah satu kesulitan untuk anastesiologis ialah untuk mempertahankan stamina yang dibutuhkan untuk bekerja lama dan panggilan malam. Panggilan malam dicurigai sebagai aspek yang sangat membuat stres dalam praktek dan alasan yang paling sering untuk berhenti. Beberapa peraturan federal mempengaruhi keputusan dari anestisiologis lansia untuk melanjutkan pekerjaannya. Hal tersebut termasuk “The Age Discriminaton Act, Title VII of The Civil Right Act, The medical and Family Leave Act, The Fail Labon Standart Act, The Enfloy Tetilemen Income Security Act.” Anestisiologis biasanya berhenti pada usia yang lebih muda dari pada spesialis yang lain.


				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Stats:
views:6817
posted:6/27/2009
language:Indonesian
pages:41