PERTIMBANGAN ANESTESI PADA FASCIOTOMY PAHA DAN KAKI
W
Shared by: rizmaadlia
Categories
Tags
-
Stats
- views:
- 247
- posted:
- 6/26/2009
- language:
- Indonesian
- pages:
- 4
Document Sample


PERTIMBANGAN ANESTESI PADA FASCIOTOMY PAHA DAN KAKI PREOPERATIF Sindroma Kompartemen dan nekrosis fascia adalah merupakan indikasi untuk dilakukannya prosedur ini. Pasien dengan sindroma kompartemen sering tidak memiliki penyakit sistemik, sementara pasien dengan fascia nekrosis memiliki infeksi yang mengancam nyawa yang membutuhkan tindakan debridement dan sering dilengkapi dengan rhabdomyolisis dan DIC. Pernapasan Kardiovaskuler Biasanya tidak terpengaruh banyak, kecuali pada keadaan sepsis masif. Sepsis biasannya merupakan keadaan yang umum ditemukan pada pasien dengan nekrosis fascia. Penanganan termasuk antibiotik dan dukungan hemodinamik dengan dopamin (5-15 µg/kg/min) atau epinephrine (15-250 g/kg/min) dengan monitoring hemodinamik. Neurologi Sebagai panduan terapi, mungkin termasuk kateter PA. fasciotomy Bila dilakukan oleh aliran untuk sindroma distal kompartemen, dan darah. yang mungkin diikuti Persiapkan pemeriksaan nervus neurologis menyeluruh yang melibatkan ekstremitas untuk catatan adanya defisit neurologis. Hematologis Bila infeksi merupakan indikasi menyerupai DIC. fasciotomy, keadaannya akan Lakukan pemeriksaan untuk waktu perdarahan. Perhitungkan faktor yanga perlu untuk memperbaiki koagulasi selama dilakukannya prosedur ini. Pemeriksaan: PT; APTT; fibrinogen; D-dimer; produksi fibrin; jumlah trombosit Ginjal Baik nekrosis fascia ataupun sindroma kompartemen, keduanya kadang menyebabkan myoglobunuria dan rhabdomyolysis. Keadaan myoglonuria dapat disimpulkan dari urin yang dipstik-positif untuk perdarahan mikroskopis tetapi secara mikroskopis bebas dari RBC pada keadaan yang tidak ditemukan hemolisis. Laboratorium Hct; nilai K+ serial jika didapati diuresis; pemeriksaan lain atas indikasi dari pemeriksaan fisik. Premedikasi Diazepam 5-10 mg po 1 jam preop. INTRAOPERATIF Teknik anestesi: Teknik regional cocok untuk dekompresi sindroma kompartemen, kecuali didapati bukti adanya DIC. Prosedur ini biasanya berlangsung singkat (<l jam). Ketidakstabilan Hemodinamik dan sepsis sering dipilih anestesi umum untuk fasciotomy pada pasien dengan fascia nekrosis. Anestesi Regional: Baik subarachnoid maupun epidural berguna pada keadaan tanpa infeksi atau koagulopati parah. Anestesi subarachnoid memiliki keuntungan pada blokade yang adekuat cabang sakrum yang resisten pada dosis rendah dengan teknik epidural. Anestesia pada T10-S2 sangat adekuat. Biasanya obat-obat dan dosis; subarachnoid 15 mg bupivacaine 0,5 %; epidural 12-15 cc lidocaine 2 % dengan epinephrine 1 : 200.000 dalam dosis terpisah. Kebutuhan darah dan cairan IV: 16 gaX 1 (sindroma kompartemen) 14-16 ga X 2 (nekrosis fascia) Untuk mencegah kerusakan ginjal, pastikan volume sirkulasi yang adekuat; induksi diuresis osmotik dengan manitol 0,25 mg/kg IV. Furosemide 10-100 mg juga mungkin dibutuhkan dilakukan diuresis pemeliharaan. Ganti urin output dengan setengah NaCl ditambah 50 mEq bikarbonat/L, atau seperti ditunjukkan oleh monitor invasif Pemantauan Pemantauan standar Urine output Arterial line CVP atau kateter PA Pasien dengan nekrosis fascia membutuhkan arterial line dan baik CVP atau kateter PA untuk memantau cairan dan inotropik/terapi penunjang. Posisi Perhatian pada titik tekan. dan mata POSTOPERAT1F Komplikasi DIC Gagal ginjal sekunder, rhabdomyolisis Hipo/hiperkalemia Sidrom sepsis termasuk ARDS Penatalaksa naan nyeri Pemeriksaan PCA atau analgesia epidural Hct Elektrolit Urin analisis (dipstik dan mikroskopis) Untuk pasien dengan sepsis, gambaran koagulasi, termasuk PT / APTT, D-dimer, produksi fibrin dan jumlah trombosit.
Get documents about "