Documents
Resources
Learning Center
Upload
Plans & pricing Sign in
Sign Out

PERTIMBANGAN ANESTESI UNTUK PROSEDUR YANG MELIBATKAN PELVIS DAN SENDI PANGGUL

VIEWS: 1,262 PAGES: 5

									PERTIMBANGAN ANESTESI UNTUK PROSEDUR YANG MELIBATKAN PELVIS DAN SENDI PANGGUL (Prosedur meliputi: ORIF pada pelvis atau acetabulum; osteotomy dan bone graft augmentasi pelvis; arthrodesis SI joint; reduksi tertutup dan fiksasi eksternal pelvis; amputasi pada panggul dan pelvis; disartikulasi panggul dan hindquarter amputation)

Pre-operatif
Pasien yang akan melakukan pembedahan pada pelvis umumnya dibagi dalam 2 kategori: 1) Trauma mayor - fraktur pelvis membutuhkan kekuatan substansial dan yarang terjadi sendirian. Pasien ini membutuhkan terapi cairan yang agresif dengan jarum infus yang besar dan monitor invasif (arterial dan CVP). Jika pasien dapat mencapai hemodinamik yang stabil dengan resusitasi volume, evaluasi terus menerus terhadap coexisting neurological, trauma thoraks atau abdomen seharusnya diprioritaskan untuk anestesi. 2) Reseksi tumor dan amputasi pada paha, panggul dan pelvis. Oleh karena kehilangan darah yang banyak saat intraop dan perpindahan cairan ke rongga ketiga, monitor hemodinamik invasif sangat diperlukan. Walaupun anestesi epidural kadang adekuat untuk pembedahan, analgesia postop epidural sangan efektif dalam mengatasi nyeri hebat yang disebabkan oleh tipe pembedahan. Populasi lain pasien yang termasuk bagian ini, pasien sehat dengan displasia panggul kongenital atau didapat yang akan menjalani prosedur ini.

Pernafasan

Pasien trauma mempunyai resiko untuk hematothoraks, pneumothoraks, kontusio paru, emboli lemak dan aspirasi. Chest tube akan dibutuhkan sebelum pembedahan jika terjadi hematothoraks atau pneumothoraks. Emboli lemak paru terjadi 10-15% pasien dengan fraktur tulang panjang, dan bisa terfadi setelah isolasi fraktur pelvis. Sindroma termasuk hipoksemia, takikardia, takipnu, alkalosis respiratory, perubahan status mental, conjunctiva petechiae, badan lemak dalam urin dan infiltrasi difus paru. Sindroma aspirasi paru hampir sama dengan emboli lemak paru. Terapi preop termasuk suplemen O2 untuk memperbaiki hipoksemia (hal ini mungkin membutuhkan ventilator) dan managemen terapi cairan yang teliti untuk mencegah kebocoran kapiler paru. Pemeriksaan : Foto thoraks, atau lainnya sesuai indikasi

Kardiovaskuler

Trauma dada tumpul, bisa menyebabkan terjadinya kontusio jantung dan robekan aorta. EKG preop dan CPK isoenzim akan membantu evaluasi adanya trauma miokardial. Siluet mediastinal yang luas menunjukkan robekan aorta, yang membutuhkan evaluasi dengan TEE atau angiografi. Pemeriksaan : EKG, isoenzim CPK, atau yang lain sesuai indikasi

Neurologis

Kemungkinan trauma neurologis yang bersamaan memerlukan persiapan status mental preoperatif dan pemeriksaan sensoris perifer. CT scan kepala merupakan indikasi bagi pasien yang tidak sadar sebelum dilakukan tindakan anestesi.

Muskuloskeletal

Pada pasien trauma, foto servikal merupakan penilaian stabilitas servikal menjelang dilakukan manipulasi leher selama insersi pipa endotrakea. Foto vertebra torakal dan lumbal akan menilai adanya deformitas atau instabilitas spinal akibat trauma yang memerlukan stabilitas khusus pada pasien yang dianestesi. Pemeriksaan : Foto servikal atau lain-fain sesuai indikasi.

Hematologi

Kembalikan Hct pada nilai 25% menjelang induksi anestesi. Sediakan 1 volume darah (70 cc/kgBB) atau 1 total massa eritrosit (20 cc/kgBB) untuk transfusi intraoperatif. Transfusi lebih dari 1 volume memerlukan monitoring dan kemungkinan penambahan platelets serta faktor pembekuan. Insidens DVT akan meningkat pada pasien ini, dan pencegahan dengan SCD atau heparin subkutan dosis rendah merupakan indikasi bila memungkinkan.

Ginjal

Trauma ginjal terjaadi akibat kerusakan sistim kolekting, myoglobinuria akibat rhabdomiolisis dan iskemi akut tubular nekrosis akibat hipovolemia atau diseksi aorta. Cateter Foley dipasang setelah konsultasi ke bagian Urologi untuk menyingkirkan ruptur uretra. Kadang-kadang dipasang sistostomi (kateter suprapubik). Monitoring output urin merupakan keharusan untuk mendeteksi gangguan sistim kolekting intraoperatif dan untuk monitor kecukupan perfusi ginjal. Pemeriksaan : Urin analisis; BUN; kreatinin; lain-lain sesuai indikasi.

Laboratorium Premedikasi

Hct; elektrolit; lain-lain sesuai indikasi. Nyeri diatasi dengan morfln (setiap 1-2 mg IV titrasi dalam 10 menit untuk mengatasi nyeri) menjelang anestesi.

Intra-operatif
Tehnik anestesia : Anestesi umum dengan intubasi merupakan indikasi karena lama dan luasnya operasi, serta karena berbagai posisi vane diperlukan untuk fiksasi pelvis. Anestesi regional umumnya tidak adekuat untuk pembedahan pelvis major; tetapi pada pasien elektif, harus dilakukan pertimbangan serius untuk analgesia epidural postoperatif. Induksi Induksi cepat diperlukan untuk pasien trauma untuk meminimalkan risiko aspirasi. Pada kasus elektif dapat dilakukan induksi standar.

Rumatan Pengakhiran

Rumatan standar. Ekstubasi pasien trauma saat sadar penuh (full awake) dan refleks proteksi jalan nafas telah pulih. Jangan mengekstubai pasien dengan trauma paru (emboli lemak, aspirasi atau kontusio paru). Monitoring di ICU merupakan indikasi pada pasien trauma dan keganasan. Masa rawatan yang panjang dapat diantisipasi pada pasien dengan trauma ikutan yang berat.

Kebutuhan darah & cairan

Kehilangan banyak darah. IV: 14-16 gax 2. NaCl/LR @ 8-12 cc/kg/hr 2-4 U PRBC di kamar operasi. Cairan hangat. Gas lembab.

Taksiran kehilangan darah yang banyak (dari 0,5-2 atau lebih volume darah) dengan semua prosedur yang ada. Pemberian sel darah (tanpa komponen cairan) sangat bermanfaat dalam mengurangi kebutuhan total volume darah. Perhatian diberikan untuk menjamin sel tercuci baik untuk meminimalisasi penurunan tekanan darah pada infus.

Kontrol kehilangan darah

Pertimbangkan hipotensi Hemodilusi

Pasien dengan penyakit kardiovaskuler yang berat atau stenosis arteri bukan kandidat untuk hipotensi buatan. Penggantian sempuma dari kehilangan cairan harus dilakukan sebelum dilakukan hipotensi buatan. Obat yang sering digunakan adalah isofluran (1-3%) atau esmolol (50-200 g/kg/min) ± SNP (0,25-3 g/kg/min). Obat dititrasi untuk mendapatkan penurunan MAP sebesar 30% (jangan <60 mmHg).

Pemantauan

Pemantauan Jalur arteri. Jalur CVP.

standar.

Pasien dengan disfungsi miokardial harus mendapat cairan dan obat inotropik, yang dipandu dengan kateter arteri pulmonalis. Pasien dengan tindakan ringan cukup dengan

Kateter arteri pulmonalis. Urin output

pemantauan standar.

Posisi

Perhatian pada titik tekanan dan mata

Bantalan yang cukup pada dada, pelvis dan ekstremitas perlu untuk mencegah kerusakan dan iskemia saraf-saraf ekstremitas. Penurunan tekanan darah  resiko cedera neurovaskuler.

Komplikasi

Hipotermi.

Penghangatan kembali pasien dengan induksi

Kerusakan sistim kolekting. hipotensif dapat menutupi gejala kekurangan Kehilangan darah banyak. Koagulopati. cairan yang akan menyebabkan kebutuhan cairan diatas yang dibutuhkan sebenarnya.

Post-operatif

Komplikasi

Kerusakan akar saraf Kerusakan saraf perifer.

Kerusakan preoperatif atau intraoperatif dari akar saraf L4 - S5 dan kauda equina

mengakibatkan hemiplegia serta disfungsi bulibuli dan usus. Neuropati saraf femoral,

genitofemoral dan kutaneus femoral lateralis terjadi akibat tekanan ligamentum ilioinguinal selama pembedahan. Penanganan nyeri Morfin IV Opiat spinal

Morfin 1-2 mg IV q 10 min prn. Epidural hydromorphone 50 g/cc diinfuskan dengan dosis 100-250 g/jam, bupivacaine 0,125 - 0,25 % dengan kecepatan 4-8 cc/jam, menghasilkan analgesia yang sempurna.

Pemeriksaan

Hct, Toraks foto, profil pembekuan darah, sesuai indikasi.


								
To top