Docstoc

penyuntikan kelenjar hipofisa ayam broiler

Document Sample
penyuntikan kelenjar hipofisa ayam broiler Powered By Docstoc
					         HYPOPHYSATION TECHNIQUE OF CATFISH
                             (Clarias gariepinus Burchell)
              USED BROILER`S HYPOPHYSIS GLAND.

                                      Masrizal dan Azhar *)


                                               ABSTRACT

        In culture of catfish, guarantee of supplying fish seeds that good quality in adequate
quantity and continues was absolute factor that determine of business success. For fulfill
mentioned thing, then right now was found a spawning technique already, that was called
hypophysation technique.
        The although was found hypophysation technique already that could spawn fish
every time, nevertheless fish farmers were more like spawn fish in natural manner, because
they must kill other fish to take its hypophysis gland. Because of that, was need to look for
its solution, that was use hypophysis gland of other animals, for example : broiler`s
hypophysis gland. Beside of cheap, broiler`s hypophysis gland was very easy to be get,
because it was free expelled as waste together with head skull bones, when cut and cleaned
chicken in markets were the place of person sold broiler.
        The objective of this experiment was to knew the result of spawning (spawning
latent time, ovulation, egg maturation degree, egg fertility, egg hatching rate, larvae
survival rate was three days old) of catfish that was spawned with hypophysation technique
that used broiler`s hypophysis gland.
        Experimental design was used in this experiment namely Randomized Block
Design (RBD), which consist of 6 treatments of injection dose, that was 300, 400, 500,
600, 700 and 800 mg broiler`s hypophysis gland/kg catfish body weight. The each of
treatment consist of 4 replications as block.
        The result of experiment (statistic test) indicated that injecting of broiler`s
hypophysis gland highly significant (P < 0.01) could accelerate spawning latent time,
increase percentage of ovulation, egg maturation degree, egg fertility, egg hatching rate,
larvae survival was three days old of catfish, that was 10.00 hours, 84.32 %, 89.94 %,
89.33 %, 83.61 %, and 93.95 %. From orthogonal polynomial test indicated that the
optimal injection dose, that was 741,95 mg broiler`s hypophysis gland/kg catfish body
weight.

Key words : Hypophysation, Catfish, Spawning, Broiler`s Hypophysis gland


*)
     Lecturer of Animal Science Faculty of Andalas University of Padang, West Sumatra-Indonesia

                                                                                                  1
                                     PENDAHULUAN

        Ikan lele dumbo (Clarias gariepinus Burchell) adalah merupakan salah satu jenis
ikan air tawar yang sudah bisa dibudidayakan. Bila dibandingkan dengan jenis ikan air
tawar lainnya, ikan lele dumbo memiliki beberapa keunggulan yaitu pertumbuhannya yang
sangat cepat, mudah dipelihara, tahan terhadap kondisi air yang buruk, memiliki nilai gizi
dan nilai ekonomis yang cukup tinggi.
        Dalam usaha budidaya ikan lele dumbo, ketersediaan benih dalam kualitas dan
kuantitas yang cukup merupakan faktor mutlak yang sangat menentukan keberhasilan
usaha. Untuk mendapatkan benih yang berkualitas baik dalam jumlah yang cukup dan
berkesinambungan, haruslah melalui pembenihan secara terkontrol yaitu dengan
melakukan pemijahan secara buatan (induced breeding) yang diikuti dengan pembuahan
buatan (artificial fertilization).
        Dalam melakukan pemijahan secara buatan, teknik yang sering digunakan adalah
teknik hipofisasi. Hipofisasi adalah merupakan usaha untuk merangsang ikan yang matang
kelamin untuk ovulasi dan memijah melalui penyuntikan dengan ekstrak kelenjar hipofisa.
Hardjamulia dan Atmawinata (1980) mengemukakan bahwa teknik hipofisasi pada ikan
dilakukan dengan menggunakan hipofisa ikan, baik hipofisa ikan yang sejenis maupun
yang tidak sejenis antara donor (ikan yang diambil hipofisanya) dan resipient (ikan yang
disuntik).
        Walaupun       telah   ditemukan   teknik   hipofisasi   yang   dapat   memijahkan
(mengawinkan) ikan setiap saat, namun para petani ikan lebih suka memijahkan ikan lele
dumbo secara alami. Hal ini disebabkan karena pada teknik hipofisasi, para petani ikan
harus mengorbankan ikan lain untuk dijadikan sebagai donor hipofisa dan ini merupakan
kelemahan teknik hipofisasi. Untuk itu maka perlu dicobakan kelenjar hipofisa hewan lain
diantaranya kelenjar hipofisa ayam broiler. Disamping murah, kelenjar hipofisa ayam
broiler mudah sekali didapatkan, karena kelenjar hipofisa ayam broiler ini terbuang
percuma sebagai limbah bersama tulang tengkorak kepala ayam di pasar-pasar tempat
pedagang memotong dan menjual ayam broiler.
        Berdasarkan hal tersebut di atas maka perlu dilakukan penelitian tentang
penggunaan kelenjar hipofisa ayam broiler dalam teknik hipofisasi ikan lele dumbo
(Clarias gariepinus Burchell).
        Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hasil pemijahan (waktu laten
pemijahan, ovulasi, tingkat kematangan telur, fertilitas telur, daya tetas telur dan survival

                                                                                           2
rate larva sampai umur 3 hari) ikan lele dumbo yang dipijahkan dengan teknik hipofisasi
yang menggunakan kelenjar hipofisa ayam broiler. Dari hasil penelitian ini diharapkan
akan dapat ditemukan dosis penyuntikan kelenjar hipofisa ayam broiler yang optimal untuk
merangsang pemijahan induk ikan lele dumbo dengan menggunakan teknik hipofisasi.


                              METODE PENELITIAN

       Penelitian ini dilakukan dari tanggal 2 Juni sampai 24 Agustus 2002, yaitu di Balai
Benih Ikan Kiambang Kecamatan 2 x 11 Enam Lingkung, Kabupaten Padang Pariaman,
Propinsi Sumatera Barat.
       Ikan uji yang digunakan dalam penelitian ini adalah 24 ekor ikan lele dumbo betina
dan 24 ekor ikan lele dumbo jantan yang matang gonad dengan berat masing-masingnya
antara 1,000 ~ 1,050 kg / ekor. Untuk kelenjar hipofisa digunakan kelenjar hipofisa ayam
broiler yang diambil dari kepala ayam broiler berumur 40 hari.
       Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak
Kelompok (RAK), yang terdiri dari enam taraf perlakuan dan setiap taraf perlakuan terdiri
atas empat kelompok yang berdasarkan kepada waktu pelaksanaan ulangan penelitian
(Steel dan Torrie, 1989). Adapun perlakuan dalam penelitian ini adalah dosis penyuntikan
kelenjar hipofisa ayam broiler yang terdiri dari enam taraf yaitu : 300 (P1), 400 (P2), 500
(P3), 600 (P4), 700 (P5) dan 800 (P6) mg kelenjar hipofisa ayam boiler/kg ikan lele dumbo.
       Penyuntikan ekstak kelenjar hipofisa ayam broiler ini dilakukan sebanyak dua kali,
dimana penyuntikan pertama adalah sebanyak sepertiga dari dosis perlakuan, dan setelah
empat jam kemudian dilakukan pula penyuntikan ke dua yaitu sebanyak dua pertiga dosis
perlakuan. Setelah itu induk ikan lele dumbo betina dibiarkan dalam bak pemijahan sampai
terlihat tanda-tanda terjadinya ovulasi atau pemijahan.
       Peubah yang diamati dalam penelitian ini adalah waktu laten pemijahan, ovulasi,
tingkat kematangan, fertilitas dan daya tetas telur serta survival rate larvae ikan lele dumbo
sampai umur tiga hari. Selain itu dilakukan pula pengukuran parameter kualitas air yang
meliputi suhu, oksigen ( O2 ) terlarut, karbondioksida ( CO2 ) bebas, amoniak ( NH3 ) dan
derajat keasaman ( pH ).
       Data hasil penelitian dianalisis dengan analisis ragam berdasarkan Rancangan Acak
Kelompok (Steel dan Torrie, 1989). Uji lanjut dilakukan dengan uji wilayah berganda
duncan, dan disamping itu dilakukan pula uji polinomial orthogonal (Sudjana, 1988) yaitu
untuk menentukan dosis penyuntikan ekstrak kelenjar hipofisa ayam broiler yang optimal.

                                                                                             3
                                   HASIL DAN PEMBAHASAN

1. Waktu Laten Pemijahan
          Berdasarkan hasil pengamatan selama penelitian didapatkan bahwa penyuntikan
kelenjar hipofisa ayam broiler dengan dosis berbeda memberikan waktu laten pemijahan
ikan lele dumbo yang berbeda pula, seperti yang terlihat pada Tabel 1 di bawah ini.

Tabel 1. Waktu laten pemijahan (jam) ikan lele dumbo pada masing-masing perlakuan dan
         kelompok.
                             Perlakuan ( mg kelenjar hipofisa ayam broiler / kg ikan lele dumbo )
    Kelompok
                      P1 ( 300 )       P2 ( 400 )        P3 ( 500 )       P4 ( 600 )       P5 ( 700 )        P6 ( 800 )

         1             14,50             12,50             11,25            10,25           10,50             10,50
         2             14,75             12,75             11,75            10,25           10,75             11,00
         3             13,75             11,75             10,75             9,50            9,75             10,00
         4             14,25             12,25             11,00            10,00           10,00             10,25

     Jumlah            57,25             49,25             44,75            40,00           41,00             41,75

    Rata-rata         14,31 A           12,31 B           11,19 C          10,00 E        10,25 Db          10,44 Da
Keterangan :    Superskrip dengan huruf besar yang berbeda menunjukan berbeda sangat nyata (P < 0,01), sedangkan superskrip
                dengan huruf kecil yang berbeda menunjukan berbeda nyata (P < 0,05).




          Pada Tabel 1 terlihat bahwa penyuntikan kelenjar hipofisa ayam broiler dapat
mempercepat waktu laten pemijahan ikan lele dumbo yaitu sampai pada dosis penyuntikan
600 mg kelenjar hipofisa ayam broiler/kg ikan lele dumbo. Hal ini disebabkan oleh
kandungan hormon LH (Luteinizing Hormon) di dalam darah ikan lele dumbo akibat dari
penyuntikan kelenjar hipofisa ayam broiler. Seperti yang telah dikemukakan oleh Sturkie
(1976) bahwa kelenjar hipofisa ayam broiler mengandung berbagai jenis hormon
diantaranya adalah hormon LH (Luteinizing Hormon). Kemudian Lam (1982) dan Matty
(1985) menambahkan bahwa hormon LH berfungsi merangsang proses ovulasi dan
pemijahan induk ikan betina. Kemudian pada dosis penyuntikan yang lebih tinggi yaitu
700 dan 800 mg kelenjar hipofisa ayam broiler/kg berat ikan lele dumbo, waktu laten
pemijahan ikan lele dumbo semakin lama. Hal ini diduga karena terjadinya over dosis yang
menyebabkan terganggunya sistem kerja hormon dalam proses ovulasi tersebut. Menurut
Bardach et. al., (1972) kelebihan dosis kelenjar hipofisa dalam teknik hipofisa dapat
membuat ikan tidak memijah atau kembali sama seperti pada tingkat gonad belum matang
(premature).


                                                                                                                          4
            Hasil uji polinomial orthogonal menunjukan bahwa hubungan antara dosis
penyuntikan kelenjar hipofisa ayam broiler dengan waktu laten pemijahan ikan lele dumbo
adalah kuadtratik dengan persamaan regresinya: Ŷ = 21,1483 – 0,0292 X + 1,96.10–5 X2,
dimana Ŷ = waktu laten pemijahan dugaan (jam), dan X = dosis penyuntikan kelenjar
hipofisa ayam broiler (mg kelenjar hipofisa ayam broiler/kg berat ikan lele dumbo).
Berdasarkan persamaan regresi ini didapatkan bahwa dosis penyuntikan kelenjar hipofisa
ayam broiler yang optimal adalah 744,90 mg kelenjar hipofisa ayam broiler/kg berat ikan
lele dumbo dengan waktu laten pemijahan dugaan minimal 10,27 jam.

2. O v u l a s i
            Pada Tabel 2 terlihat bahwa penyuntikan kelenjar hipofisa ayam broiler, dapat
meningkatkan prosentase ovulasi ikan lele dumbo. Hal ini disebabkan karena adanya
hormon LH dalam tubuh ikan lele dumbo akibat dari penyuntikan kelenjar hipofisa ayam
broiler tersebut. Menurut Lam (1982) dan Matty (1985) bahwa hormon LH berfungsi
merangsang proses ovulasi dan pemijahan pada
Tabel 2. Prosentase ovulasi ikan lele dumbo pada masing-masing perlakuan dan
         kelompok.
                            Perlakuan ( mg kelenjar hipofisa ayam broiler / kg ikan lele dumbo )
  Kelompok
                    P1 ( 300 )        P2 ( 400 )         P3 ( 500 )        P4 ( 600 )         P5 ( 700 )    P6 ( 800 )

        1             63,28             71,53              76,07             80,75             82,15         83,02
        2             65,81             69,50              78,29             83,11             79,82         86,34
        3             60,12             76,09              80,07             85,00             87,38         78,87
        4             61,87             73,16              83,27             88,40             84,02         81,18

    Jumlah           251,08            290,28             317,70            337,26            333,37        329,41

  Rata-rata         62,77 A            72,57 B           79,43 C            84,32 C           83,34 C       82,35 C
Keterangan :     Superskrip dengan huruf besar yang berbeda menunjukan berbeda sangat nyata   (P < 0,01).


induk ikan betina. Sedangkan pada dosis penyuntikan yang lebih tinggi yaitu 700 dan 800
mg kelenjar hipofisa ayam broiler/kg ikan lele dumbo, prosentase ovulasi ikan lele dumbo
menurun. Ini diduga karena mulai terjadinya over dosis, sehingga menyebabkan proses
ovulasi yang dirangsang oleh hormon LH menjadi terganggu.
            Dari hasil uji polinomial orthogonal yang telah dilakukan didapatkan bahwa
hubungan antara dosis penyuntikan kelenjar hipofisa ayam broiler dengan prosentase
ovulasi ikan lele dumbo adalah kuadratik dengan persamaan regresinya Ŷ = 27,5556 +
0,1503 X – 0,0001 X2, dimana Ŷ = prosentase ovulasi ikan lele dumbo dugaan dan


                                                                                                                         5
X = dosis penyuntikan kelenjar hipofisa ayam broiler (mg kelenjar hipofisa ayam
broiler/kg ikan lele dumbo). Berdasarkan persamaan regresi ini didapatkan bahwa dosis
penyuntikan kelenjar hipofisa ayam broiler yang optimal adalah 751,50 mg kelenjar
hipofisa ayam broiler/kg berat ikan lele dumbo dengan prosentase ovulasi dugaan
maksimal 84,03 %.

3. Tingkat Kematangan Telur
          Pada Tabel 3 di bawah ini terlihat bahwa penyuntikan kelenjar hipofisa ayam
broiler dapat meningkatkan prosentase tingkat kematangan telur ikan lele dumbo. Hal ini
disebabkan karena hormon LH yang berasal dari kelenjar hipofisa yang disuntikan pada
induk ikan lele dumbo betina berfungsi merangsang sintesa maturation inducing steroid
(MIS) dari sel-sel theca folikel. Kemudian MIS inilah
Tabel 3. Prosentase tingkat kematangan telur ikan lele dumbo pada masing-masing
         perlakuan dan kelompok.
                             Perlakuan ( mg kelenjar hipofisa ayam broiler / kg ikan lele dumbo )
    Kelompok
                      P1 ( 300 )       P2 ( 400 )        P3 ( 500 )       P4 ( 600 )       P5 ( 700 )        P6 ( 800 )

         1             72,76             79,88             86,80            90,42           93,30             88,94
         2             77,69             77,62             90,27            94,04           89,71             84,49
         3             70,69             84,97             82,46            85,90           87,72             92,50
         4             74,41             81,70             84,87            89,41           85,22             86,96

     Jumlah           295,55            324,17            344,40           359,77          355,95            352,89

    Rata-rata        73,89 Aa          81,04 Bb          86,10 Bbc        89,94 Bc         88,99 Bc          88,22 Bc
Keterangan :    Superskrip dengan huruf besar yang berbeda menunjukan berbeda sangat nyata (P < 0,01), sedangkan superskrip
                dengan huruf kecil yang berbeda menunjukan berbeda nyata (P < 0,05).


yang merangsang proses pematangan telur ikan lele dumbo. Seperti yang telah
dikemukakan oleh Goetz (1983) dan Stacey (1984) bahwa hormon gonadothropin hipofisa
yaitu LH (Luteinizing Hormon) menyebabkan telur mengalami proses pematangan yaitu
dengan merangsang sintesa maturation inducing steroid dari sel-sel theca folikel.
Kemudian pada dosis penyuntikan kelenjar hipofisa ayam broiler yang lebih tinggi yaitu
700 dan 800 mg kelenjar hipofisa ayam broiler/kg ikan lele dumbo, prosentase ovulasi ikan
lele dumbo menurun. Hal ini diduga karena terjadinya over dosis, sehingga menyebabkan
keseimbangan kandungan dan kerja hormon di dalam tubuh ikan lele dumbo terganggu
yang kemudian menyebabkan terganggunya pula proses pematangan telur ikan lele dumbo
yang diperlakukan.



                                                                                                                          6
          Uji polinomial orthogonal menunjukan pula bahwa hubungan antara dosis
penyuntikan kelenjar hipofisa ayam broiler dengan prosentase tingkat kematangan telur
ikan lele dumbo adalah kuadratik dengan persamaan regresinya sebagai berikut : Ŷ =
47,6784 + 0,1117 X – 7,60.10–5 X 2, dimana Ŷ = prosentase tingkat kematangan telur ikan
lele dumbo dugaan, dan X = dosis penyuntikan kelenjar hipofisa ayam broiler (mg kelenjar
hipofisa ayam broiler/kg ikan lele dumbo). Dari persamaan regresi ini didapatkan bahwa
dosis penyuntikan kelenjar hipofisa ayam broiler yang optimal adalah 734,87 mg kelenjar
hipofisa ayam broiler/kg berat ikan lele dumbo dengan prosentase ovulasi dugaan
maksimal 88,72 %.


4. Fertilitas Telur
          Data hasil penghitungan peubah fertilitas telur ikan lele dumbo selama penelitian
dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4. Prosentase fertilitas telur ikan lele dumbo pada masing-masing perlakuan dan
         kelompok.
                             Perlakuan ( mg kelenjar hipofisa ayam broiler / kg ikan lele dumbo )
    Kelompok
                      P1 ( 300 )       P2 ( 400 )        P3 ( 500 )        P4 ( 600 )       P5 ( 700 )       P6 ( 800 )

         1             68,33             76,34             83,99             91,15            88,11           89,01
         2             72,68             74,17             87,35             92,57            83,70           87,64
         3             66,39             81,19             79,79             84,56            91,63           85,69
         4             68,88             78,07             81,12             89,03            86,15           81,26

     Jumlah           276,28            309,77            332,25            357,31           349,59          343,60

    Rata-rata         69,07 Aa         77,44 Bb          83,06BCc          89,33 Cc         87,40 Cc         85,90 Cc
Keterangan :    Superskrip dengan huruf besar yang berbeda menunjukan berbeda sangat nyata (P < 0,01), sedangkan superskrip
                dengan huruf kecil yang berbeda menunjukan berbeda nyata (P < 0,05).


          Tabel 4 memperlihatkan bahwa penyuntikan kelenjar hipofisa ayam broiler dapat
meningkatkan prosentase fertilitas telur ikan lele dumbo. Hal ini disebabkan karena
hormon LH yang masuk ke dalam darah atau tubuh ikan merangsang proses pematangan
telur sehingga mencapai proses pematangan tahap akhis. Dengan semakin banyaknya telur
yang mencapai pematangan tahap akhir, maka akan semakin banyak pula telur yang dapat
dibuahi oleh sperma, sehingga mengakibatkan prosentase fertilitas telur ikan lele dumbo
yang dihasilkan juga meningkat. Ini dikarenakan di dalam proses fertilisasi, hanya telur-
telur yang telah mencapai pematangan tahap akhir atau germinal vesicle break down
(GVBD) yang dapat dibuahi oleh sperma. Kemudian pada dosis penyuntikan yang lebih

                                                                                                                          7
tinggi yaitu 700 dan 800 mg kelenjar hipofisa ayam broiler/kg ikan lele dumbo, prosentase
fertilitas telur ikan lele dumbo menurun. Ini dikarenakan oleh menurunnya tingkat
kematangan telur yang dihasilkan, akibat terganggunya keseimbangan dan kerja hormon-
hormon reproduksi di dalam tubuh induk ikan lele dumbo yang diperlakukan.
Terganggunya keseimbangan dan kerja hormon-hormon reproduksi ini disebabkan karena
terlalu tingginya dosis kelenjar hipofisa yang disuntikan.
          Hasil uji polinomial orthogonal menunjukan bahwa hubungan antara dosis
penyuntikan kelenjar hipofisa ayam broiler dengan prosentase fertilitas telur ikan lele
dumbo adalah kuadratik dengan persamaan regresinya : Ŷ = 38,9299 + 0,1276 X –
8,40.10–5 X2, dimana Ŷ = prosentase fertilitas telur ikan lele dumbo dugaan, dan X = dosis
penyuntikan kelenjar hipofisa ayam broiler (mg kelenjar hipofisa ayam broiler/kg ikan lele
dumbo). Dari persamaan regresi ini didapatkan bahwa dosis penyuntikan kelenjar hipofisa
ayam broiler yang optimal adalah 759,52 mg kelenjar hipofisa ayam broiler/kg berat ikan
lele dumbo dengan prosentase ovulasi dugaan maksimal 87,39 %.

5. Daya Tetas Telur
          Hasil penghitungan prosentase daya tetas telur ikan lele dumbo pada masing-
masing perlakuan dan ulangan (kelompok) selama penelitian dapat dilihat pada Tabel 5 di
bawah ini.

Tabel 5. Prosentase daya tetas telur ikan lele dumbo pada masing-masing perlakuan dan
         kelompok.
                             Perlakuan ( mg kelenjar hipofisa ayam broiler / kg ikan lele dumbo )
    Kelompok
                      P1 ( 300 )         P2 ( 400 )        P3 ( 500 )        P4 ( 600 )       P5 ( 700 )   P6 ( 800 )

         1              61,24             70,78              79,05            87,66             83,02       82,88
         2              65,56             68,77              82,21            84,29             86,34       78,74
         3              60,94             75,29              75,10            82,42             78,87       86,20
         4              63,04             72,39              77,29            80,08             81,18       81,04

     Jumlah            250,78            287,23             313,65           334,45            329,41      328,86

    Rata-rata         62,70 A            71,81 B            78,41 C          83,61 C           82,35 C     82,22 C
Keterangan :    Superskrip dengan huruf besar yang berbeda menunjukan berbeda sangat nyata (P < 0,01).


          Pada Tabel 5 terlihat bahwa penyuntikan kelenjar hipofisa ayam broiler dapat pula
meningkatkan prosentase daya tetas telur ikan lele dumbo. Hal ini disebabkan karena
meningkatnya prosentase fertilitas telur akibat dari hormon LH yang masuk ke dalam
tubuh ikan lele dumbo. Seperti yang dinyatakan oleh Oyen et al., (1991) bahwa prosentase

                                                                                                                        8
daya tetas telur selalu ditentukan oleh prosentase fertilitas telur, dimana semakin tinggi
prosentase fertilitas telur maka akan semakin tinggi pula prosentase daya tetas telur,
kecuali bila ada faktor lingkungan yang mempengaruhi seperti perubahan suhu yang
mendadak, oksigen dan pH (derajat keasaman). Bila dilihat pula pada dosis penyuntikan
yang lebih tinggi yaitu 700 dan 800 mg kelenjar hipfoisa ayam broiler/kg ikan lele dumbo,
prosentase daya tetas telur ikan lele dumbo menurun. Ini dikarenakan oleh menurunnya
fertilitas dan tingkat kematangan telur, sebagai akibat dari tergang-gunya keseimbangan
dan kerja hormon-hormon reproduksi di dalam tubuh ikan lele dumbo.
            Hasil uji polinomial orthogonal menunjukan bahwa hubungan antara dosis
penyuntikan kelenjar hipofisa ayam broiler dengan prosentase daya tetas telur ikan lele
dumbo adalah kuadratik dengan persamaan regresinya :                            Ŷ = 29,5891 + 0,1402 X –
9,30.10–5 X 2, dimana Ŷ = prosentase daya tetas telur ikan lele dumbo dugaan, dan X =
dosis penyuntikan kelenjar hipofisa ayam broiler (mg kelenjar hipofisa ayam broiler/kg
ikan lele dumbo). Dari persamaan regresi ini didapatkan bahwa dosis penyuntikan kelenjar
hipofisa ayam broiler yang optimal adalah 753,76 mg kelenjar hipofisa ayam broiler/kg
berat ikan lele dumbo dengan prosentase ovulasi dugaan maksimal 82,43 %.

6. Survival Rate Larvae
       Data prosentase survival rate larvae ikan lele dumbo pada umur tiga hari, seperti
yang terlihat pada Tabel 6 di bawah ini.

Tabel 6. Prosentase survival rate larvae ikan lele dumbo umur 3 hari pada masing-masing
         perlakuan dan kelompok.
                             Perlakuan ( mg kelenjar hipofisa ayam broiler / kg ikan lele dumbo )
  Kelompok
                    P1 ( 300 )        P2 ( 400 )        P3 ( 500 )        P4 ( 600 )        P5 ( 700 )        P6 ( 800 )

        1             83,70             86,50            87,00             92,60             88,90             92,30
        2             87,00             84,10            89,60             90,00             91,50             96,00
        3             79,50             92,00            91,60             98,50             93,60             87,70
        4             81,80             88,50            95,30             94,70             97,30             90,20

    Jumlah           332,00            351,10            363,50            375,80           371,30            366,20

  Rata-rata         83,00Aa          87,78AaBb         90,88ABb           93,95Bb          92,83ABb          91,55ABb
Keterangan :     Superskrip dengan huruf besar yang berbeda menunjukan berbeda sangat nyata (P < 0,01), sedangkan superskrip
                 dengan huruf kecil yang berbeda menunjukan berbeda nyata (P < 0,05).




            Dari Tabel 6 terlihat bahwa penyuntikan kelenjar hipofisa ayam broiler juga dapat
meningkatkan prosentase survival rate larvae ikan lele dumbo sampai umur tiga hari. Hal

                                                                                                                           9
ini disebabkan oleh kandungan hormon LH di dalam tubuh ikan lele dumbo dapat
meningkatkan kematangan telur ikan lele dumbo. Dengan meningkatnya kematangan telur
ini, maka kemampuan hidup larvae juga akan meningkat pula, yang akhirnya
menyebabkan meningkatnya prosentase survival raten larvae ikan lele dumbo. Sedangkan
pada dosis penyuntikan yang lebih tinggi yaitu 700 dan 800 mg kelenjar hipofisa ayam
broiler/kg ikan lele dumbo, maka prosentase survival rate larvae ikan lele dumbo mulai
menurun. Hal ini diduga karena mulai terjadinya over dosis yang menyebabkan proses
pematangan telur mencapai pematangan tahap akhir menjadi terganggu, yang kemudian
menyebabkan proses perkembangan embrio dalam telur juga terganggu. Sehingga akhirnya
larva yang dihasilkan mempunyai kemampuan hidup yang lebih rendah, dan ini tentunya
akan menghasilkan survival rate larvae yang lebih rendah pula.
       Hasil uji polinomial orthogonal menunjukan bahwa hubungan antara dosis
penyuntikan kelenjar hipofisa ayam broiler dengan prosentase survival rate larvae ikan lele
dumbo umur tiga hari adalah kuadtratik dengan persamaan regresinya : Ŷ = 64,5571 +
0,0792 X – 5,60.10–5 X2, dimana Ŷ = prosentase survival rate larvae ikan lele dumbo
dugaan, dan X = dosis penyuntikan kelenjar hipofisa ayam broiler (mg kelenjar hipofisa
ayam broiler/kg berat ikan lele dumbo). Berdasarkan persamaan regresi ini didapatkan
bahwa dosis penyuntikan kelenjar hipofisa ayam broiler yang optimal adalah 707,14 mg
kelenjar hipofisa ayam broiler/kg berat ikan lele dumbo dengan prosentase survival rate
larva ikan lele dumbo maksimal dugaan 92,56 %.

7. Kualitas Air Media
       Pada Tabel 7 terlihat bahwa keadaan parameter kualitas air media pada bak
pemijahan, akuarium penetaran telur dan akuarium pemeliharaan larvae ikan lele dumbo
masih memenuhi bersyaratan yang baik. Menurut Susanto (1984), media air yang baik
untuk kehidupan ikan lele dumbo adalah air yang mempunyai suhu 25 – 30 oC, oksigen
terlarut 5 – 6 ppm, karbondioksida bebas antara 3 – 25 ppm, amoniak antara 0,1 – 1,5 ppm
dan derajat keasaman (pH) antara 7,0 – 7,5. Kemudian Ricker (1971) menyatakan bahwa
kenaikan atau penurunan      suhu yang lebih besar dari 5 oC secara mendadak akan
mengakibatkan kematian embrio yang sedang berkembang di dalam telur. Menurut
Lindroth dalam Huisman (1976) mengemukakan pula bahwa selama masa inkubasi, telur
membutuhkan oksigen terlarut berkisar antara 5,16 – 8,87 ppm. Woynarovich dan Horvath
(1980) mengatakan bahwa kandungan karbondioksida bebas dalam air media penetasan
harus rendah dimana tidak boleh lebih besar dari 3,6 ppm. Tetapi Djatmika dkk, (1986)

                                                                                        10
Tabel 7. Hasil pengukuran parameter kualitas air media pada bak pemijahan, akuarium
         penetasan telur dan pemeliharaan larvae ikan lele dumbo.
                                             Wadah Pemeliharaan
      Parameter
     Kualitas Air               Bak                 Penetasan     Pemeliharaan
                             Pemijahan                Telur           Larvae
 Suhu ( oC )                 24,5 – 29,5            26,0 – 30,5           24,5 – 29,0
 O2 terlarut (ppm)           5,23 – 6,19            5,15 – 7,45           6,23 – 7,18
 CO2 bebas (ppm)             1,76 – 2,33            1,35 – 4,78           1,32 – 4,45
 NH3 (ppm)                  0,008 – 0,128          0,005 – 0,037         0,008 – 0,039
 pH                          7,25 – 7,38            7,26 – 7,56           7,25 – 7,62

mengemukakan pula bahwa kadar karbondioksida bebas maksimal dalam air tempat
penetasan telur ikan lele dumbo adalah 11,70 ppm. Selanjutnya Woynarovich dan Horvath
(1980) mengemukakan lagi bahwa kadar amoniak dalam air media penetasan selama masa
inkubasi telur tidak boleh lebih besar dari 0,038 ppm. Untuk derajat keasaman (pH),
Djatmika dkk., (1986) mengemukakan pula bahwa kisaran pH yang baik untuk penetasan
telur ikan lele dumbo adalah 6,5 – 8,0. Woynarovich dan Horvath (1980) mengemukakan
lagi bahwa kenaikan dan penurunan suhu air secara mendadak tidak lebih dari 6 oC tidak
membahayakan kehidupan larvae ikan. Kemudian Silvester dalam Wardoyo (1975)
menyatakan bahwa kadar oksigen terlarut yang layak bagi kehidupan ikan tidak boleh
kurang dari 4 ppm. Selanjutnya Alabaster dan Lloyd (1980) menyatakan pula bahwa
kandungan karbondioksida yang tidak berbahaya bagi kehidupan larva ikan adalah di
bawah 10 ppm. Kemudian Djatmika dkk., (1986) menyatakan pula bahwa batas amoniak
untuk kelangsungan hidup (survival) larvae ikan lele dumbo adalah kecil dari 0,1 ppm.
Selanjutnya Boyd (1979) menyatakan pula bahwa derajat keasaman (pH) yang baik atau
ideal bagi kehidupan ikan berkisar antara 6,5 – 8,5.


                           KESIMPULAN DAN SARAN

1. Kesimpulan
       Dari hasil penelitian yang telah dijelaskan di atas, maka dapat ditarik kesimpulan
sebagai berikut :
   1. Penggunaan atau penyuntikan kelenjar hipofisa ayam broiler dalam teknik
       hipofisasi dapat mempercepat waktu laten pemijahan dan meningkatkan prosentase
       ovulasi, tingkat kematangan, fertilitas, daya tetas telur serta survival rate larvae
       ikan lele dumbo sampai umur tiga hari.


                                                                                         11
   2. Dosis penggunaan atau penyuntikasn kelenjar hipofisa ayam broiler yang optimal
       adalah 741,95 mg kelenjar hipofisa ayam broiler/kg ikan lele dumbo.

2. S a r a n
       Dalam melakunan teknik hipofisasi pada induk ikan lele dumbo betina, sebaiknya
digunakan kelenjar hipofisa ayam broiler dengan dosis 741,95 mg kelenjar hipofisa ayam
broiler/kg ikan lele dumbo.


                              DAFTAR PUSTAKA
Alabaster, J.S., and R. Lloyd. 1980. Water Quality for Fresh Water Fish. FAO. United
         Nations, London.
Bardach, J.E., J.H. Ritner and W.O. Mc Larney. 1972. Aquaculture the Farming and
        Husbandry of Fresh Water and Marine Organism. John Wiley and Sons, New
        York.
Boyd, C.E. 1979. Water Quality in Warmwater Fish Ponds. Crafmaster Printers Inc,
        Opelica – Alabama.
Djatmika, D.H., Forlina dan E. Sugiharti. 1986. Usaha Budidaya Ikan Lele. CV Simple,
        Jakarta.
Goetz, F.W. 1983. Hormone Control of Oocyte Final Maturation and Ovulation in Fishes.
         In : Fish Physiology. By : W.S. Hoar, D.J. Randall and E.M. Donalsond. Volume
         IX B. Academic Press Inc, New York.
Hardjamulia, A dan S. Atmawinata. 1980. Pembiakan dengan Teknik Hipofisasi Ikan
        Eksotik : Mola (Hyphothalmichthys molitrix) dan Koan (Ctenopharyngodon
        idella Val.). Pewarta LPPD, Bogor : Hal 1 – 5.
Huisman, E.A. 1976. Hatchery and Nursery Operation in Fish Culture Management
        Agriculture University of Wageningen, Institute of Animal Production Section
        Fish Culture and Inland Fisheries.
Lam, T.J. 1982. Applications of Endocrinology to Fish Culture. Can. J. Fish. Aquat. Sci,
        39 : 111 – 137.
Matty, A.J. 1985. Fish Endocrinology. Croom Helm and Timber Press, London – Sydney –
         Portland – Oregon.
Oyen, F.G.F., L.E.C.M.M. Campr and E.S.W. Bongo. 1991. Effects of Acid Stress on the
        Embryonic Development of the Common Carp (Cyprinus carpio L). J. Aquat.
        Toxicology, 19 : 1 – 12.
Ricker, W.E. 1971. Methods for Assesment of Fish Production in Fresh Waters. IBP
        Handbook No. 3. Blackwell Scientific Publications. Oxford and Ediburgh. P : 166
        – 198.
Stacey, N.E. 1984. Control of the Timing of Ovulation by Exogenous and Endogenous
         Factors. In : Fish Reproduction. By : G.W. Potts and R.J. Wootton. Academic
         Press, London.


                                                                                     12
Steel, R.G.D., dan J.A. Torrie. 1989. Prinsip dan Prosedur Statistika Suatu Pendekatan
         Biometrik. PT Gramedia, Jakarta.
Sturkie, P.D. 1976. Avian Physiology. Third Edition. Springer – Verlag, New York –
         Heidelberg – Berlin.
Sudjana. 1988. Disain dan Analisis Eksperimen. Tarsito, Bandung.
Wardoyo, S.T.H. 1975. Pengolahan Kualitas Air. Proyek Peningkatan Mutu Perguruan
       Tinggi IPB, Bogor.
Woynarovich, E., and L. Horvath. 1980. The Artificial Propagation of Warm Water Fin
       Fishes. A Manual for Extension. FAO. Fish. Teach. Pep, 201 : 1 – 183.




                                                                                   13

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:446
posted:4/26/2011
language:English
pages:13