TUGAS MAKALAH ASWAJA 2010 by setia1988

VIEWS: 3,878 PAGES: 11

									        TUGAS MAKALAH
    AHLUSSUNAH WAL JAMAAH

  Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas
     Mata Kuliah Ahlussunah Wal Jamaah
         Dosen Pengampu Hasan Bisri




               Disusun Oleh :
              Ukon Sukron
              Jamaludin
              Diana Yusup
              Yoni Irawan




INSTITUT AGAMA ISLAM DARUSSALAM
    FAKULTAS TARBIYAH PAI 2010
                                 KATA PENGANTAR


       Assalamu‘alaikum Wr. Wb



       Alhamdullilahi Rabbil A’lamin, atas berkat rahmat Allah SWT, akhirnya saya bisa

menyelesaikan tugas makalah untuk memenuhi salah satu tugas Mata Kuliah Ahlussunah

Wal Jamaah serta untuk mendapatkan nilai ujian tengah semester gasal.

       Tidak lupa saya ucapkan terimakasih kepada Ibu Hasan Bisri. M. Pd Selaku dosen

Mata Kuliah ASWAJA yang telah memberikan saya tugas Makalah ini, dan semua pihak

yang telah ikut membantu. sehingga saya berkesempatan untuk bisa lebih mendalami

tentang Ahlussunah Wal Jamaah.

       Semoga dengan selesainya tugas makalah ini bertambah pula pengetahuan saya

tentang Solawat Nabi dan bagian-bagian lainya dari Mata Ahlussunah Wal Jamaah.




                                        Wasalamu’alaikum Wr. Wb

                                          Penyusun …..
                             DAFTAR ISI




KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI




BAB I        PENDAHULUAN



BAB II       POKOK PEMBAHASAN



        A.   KEUTAMAAN BERSHALAWAT BAGI NABI

        B.   BACAAN-BACAAN SHALAWAT YANG BID’AH

        C.   SHALAWAT NARIYAH



BAB III      PENUTUP



        A.   KESIMPULAN

        B.   PENUTUP
                                     BAB I
                                 PENDAHULUAN


      Allah SWT beserta malaikat-malaikat-Nya bersolawat Kepada Nabi. Wahai orang-
orang yang beriman, berShalawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkalah salam
penghormatan kepada beliau. (QS. Al-Ahzab : 56). Maka dari ituh Sesuai dengan firman
Allah Swt dalam Al-Qur’an surat Al-Ahzab ayat 56, mudah-mudahan kita termasuk yang
suka berShalawat dan memberikan salam penghormatan pada Nabi Muhammad SAW,
semoga kita semua termasuk umat yang taat dan patuh terhadap ajarannya sampai akhir
zaman. Amin.
                                         BAB II
                               POKO PEMBAHASAN


A.   Keutamaan Bershalawat Untuk Nabi
        Allah SWT beserta malaikat-malaikat-Nya bershalawat Kepada Nabi. Wahai
     orang-orang yang beriman, berShalawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkalah salam
     penghormatan kepada beliau. (QS. Al-Ahzab : 56).
        Al- Bukhori meriwayatkan, bahwa Abu’Aliyah berkata. “ Allah berShalawat untuk
     Nabi, maksudnya adalah Allah memuji-muji beliau dihadapan para malaikat,
     sedangkan para malaikat berShalawat untuk Nabi, maksudnya ialah mereka berdo’a
     untuk beliau.
        Sedangkan Ibnu Abbas berkata’ “ Mereka bershalawat, maksudnya ialah
     mendo’akan agar beliau diberkati.
        Jadi maksud ayat diatas sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Katsir di dalam kitab
     Tafsirnya yaitu “ Sesungguhnya Allah Ta’ala mengabarkan kepada kita sekalian
     tentang kedudukan seorang hamba-Nya, Nabi dan kekasih-Nya yang berada di sisi-
     Nya dialam ruh, bahwa dia memuji-mujinya dihadapan para malaikat, dan para
     malikatpun bershalawat untuknya. Kemudian Allah ta’ala memerintahkan penghuni
     dunia ini agar turut serta bershalawat untuknya, sehingga puji-pujian pun mengalir
     untuknya dari segenap penjuru alam.
        Didalam ayat di atas Allah memerintahkan kita untuk berdo’a dan bershalawat
     untuk Nabi Saw, bukan malah berdo’a dan meminta kepada beliau seakan-aan
     menjadikan beliau Tuhan selain Allah, atau membacakan bacaan Al-Fatihah untuk
     beliau, sebagaimana dilakukan oleh sebagian orang.
        Bacaan Shalawat yang paling afdhal adalah sebagaimana yang diajarkan kepada
     para sahabat yaitu :
        Allahhuma soli ala Muhammad wa ala ali Muhammad kama solaitu ala Ibrahim
     wa ali Ibrahim innaka hamidummajid, wabarik ala Muhammad wa ala ali
     Muhammad kama barakta ala Ibrahim wa ala ali Ibrahim innaka hamidummajid.
        Bacaan shalaeat di atas juga bacaan shlawat-shalawat yang lain yang terdapat di
     dalam kitab-kitab hadits dan kitab-kitab fikih yang terpercaya tidak ada satupun
     yang menyebutkan tambahan sayyidina (penghulu kita) seperti yang biasa dibaca
     oleh sebahagiab orang.
Rassululah Saw Bersabda :
     “ Bila kalian mendengar orang adzan, maka jawablah seperti apa yang
diucapkan, lalu bersahlawatlah untuku’ karena sesungguhnya barang siapa yang
bersahlawat untuku satu kali’ maka Allah akan memberi shalawat untuknya sepuluh
kali. kemudian mohonlah wasilah untuku’ karena wasilah adalah merupakan tempat
kededukan di surga, yang tidak pantas diberikan kepada siapapun, kecuali kepada
salah seorang hamba diantara hamba-hamba-Nya, dan aku berharap (yang akan
mendapatkan wasilah itu) adalah aku. Barang siapa memintakan wasilah untuku,
maka dia berhak mendapatkan syafa’tku.”
     Do’a memintakan wasilah seperti yang dijelaskan di dalam hadits di atas, yaitu
yang diucapkan sesudah adazan atau sesudah mengucapkan shalawat untuk Nabi
Saw yang tekadang ditambah juga shalawat untuk Ibrahim itu dibaca secara pelan.
Do’a yang dimaksud bunyinya adalah :
     Allahhuma robahadihi da’watittamah, wassolatil koimah, ati muhammadan
wasilata walfadilah, wabashu makomam mahmudaladi wa attah.
     Selain itu membaca shalawat untuk Nabi sebelum berdo’a juga dianjurkan, hal
ini berdasarkan sabda Rassul




     “Setiap do’a akan terhalang sebelum dibacakan shalawat untuk Nabi.” (hadits
riwayat al-Baihaqi).
    Juga berdasarkan Sabda Nabi :




     “Sesungguhnya Allah memiliki malikat yang berkeliling-keliling di bumi yang
senantiasa menyampaikan kepadaku salam dari umatku.” (Hadits diriwayatkan oleh
Ahmad).
     Selain itu berhlawat untuk Nabi sangtalah dianjurkan, lebih-lebih pada hari
jum’at. Membaca shlawat adalah merupakan amalan yang paling afdhal sebagai
sarana mendekatkan diri keada Allah. bertawasul dengan shlawat ketika berdo’a
disyariatkan, karena hal itu termasuk amal shalih. oleh karena itu boleh kita berdo’a
:
        “Wahai Allah, dengan perantaraan shlawatku untuk Nabi-Mu hilangkanlah
     kesusahanku ini.”


B.   Bacaan-bacaan Shlawat Yang Bid’ah


          Kita sering mendengar bacaan-bacaan shlawat yang tidak sesuai dengan yang
     diajarkan Rasaullulah Saw, para sahabat, para tabi’in dan para imam mujtahid.
     Bacaan-bacaan shlawat semacam itu adalah hasil gubahan para tuan guru pada
     kurun belakangan ini. Bacaan-bacaan shlawat bid’ah tersebut sangat terkenal di
     kalangan orang-orang awam, bahkan orang-orang yang memiliki ilmu sekalipun,
     sehingga mereka lebih banyak membaca shlawat-shlawat tersebut daripada
     membaca shlawat yang diajarkan Rasull Saw. dan menyebar luaskan shlawat-
     shlawat bid’ah gubahan tuan guru dan syaikhnya.
          Kalau kita perhatikan shlawat-shlawat bid’ah itu niscaya kita mendapatkan
     berbagai penyelewengan dari shlawat yang diajarkan Rasulullah Saw.
          Contoh shlawat bid’ah :




          “Wahai Allah, berikanlah shlawat dan salam untuk Muhammad, sang penawar
     dan pengobat hati, sang penyehat dan penyembuh badan, cahaya dan penerang
     pandangan mata, juga atas keluarga beliau.”
          Padahal kita tahu bahwa yang mampu menyembuhkan dan menyehatkan
     badan, yang mampu mengobati hati, dan yang mampu menerangkan pandangan
     mata adalah Allah semata. untuk hal-hal yang serupa itu, terhadap dirinya sendiri
     saja belia tidak mampu berbuat apa-apa, apalagi untuk orang lain. Lafal shlawat di
     atas bertentangan dengan firman Allah :




          “Katakanlah, Aku tidak mampu memberikan manfaat maupun mencegah mara
     bahaya dari diriku sendiri, kecuali apa yang telah dikehendaki oleh Allah” (QS. Al-
     Araf: 188).
     Dan selain itu hal tersebut juga bertentangan dengan sabda Rasulullah Saw :




     “Janganlah kalian berlebih-lebihan menujiku seperti orang-orang Nasrani
memuji Isa bin Maryam. Karena aku hanyalah seorang hamba (Allah). Maka
katakanlah (bahwa aku ini) hamba Allah dan Rasul-Nya!”. (Hadits diriwayatkan Oleh
Al-Bukhari).
     Jadi makna ithra pada hadits di atas adalah melampaui batas dan berlebih-
lebihan dalam memuji.
     Selain contoh diatas masih banyak contoh-contoh lainnya, diantaranya :




     “Wahai Allah, berikanlah shlawat kepada Muhammad yang telah Engkau telah
ciptakan segala sesuatu dari cahaya”.
     Kalau kita tapsirkan makna yang terkandung dalam shlawat diatas, kata
“Segala Sesuatu” tentu maknanya sangatlah luas, dari mulai Adam, Iblis, dan segala
sesuatu yang termasuk makhluk ciptaan Allah. Apakah orang yang berakal akan
mempercayai bahwa semua itu diciptakan berasal dari cahaya Muhammad? Padahal
setan saja tahu dari apa dia sendiri diciptakan dan dari apa adam di ciptakan.
     Sebagaimana firman Allah :




     “ Iblis berkata’ Aku lebih baik darinya’ Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan
Engkau ciptakan dia dari tanah.” (QS. Shad: 76).
     Padahal Rasulullah Saw sendiri bila ditimpa kesesahan atau kedukaan, beliau
berdo’a :




     “Wahai Dzat yang Mahahidup dan Yang terus menerus mengurus makhluk-
Nya, dengan rahmat-Mu aku memohon pertolongan” (hadits diriwayatkan Oleh At-
Tirmidzi).
     Ada shlawat bid’ah lainnya adalah Shlawat yang biasa disebut-sebut orang
dengan shlawat Al-Fatih, yang bunyinya :




     “Wahai Allah, berikanlah shlawat untuk Muhammad, yang mampu membuka
apa saja yang tertutup…..”!


     Adapun shlawt bid’ah lainya adalah shlawat Basyisyiyah gubahan Ibnu Basyisyi
yang artinya :
     “ Wahai Allah, bersihkanlah aku dari Lumpur-lumpur yang mengotori ke-Esa-
an, tenggelamkanlah aku kedalam mata air ke-Esa-an, dan hempaskanlah aku
kedalam sifat-sifat ke-Esa-an, hingga aku tidak melihat, mendengar, dan merasa
kecuali dengan sifat ke-Esa-an itu”.
     Ini tidak lain adalah ucapan dari seseorang yang menganut faham Wihdatul
Wujud, yaitu suatu faham yang meyakini bahwa Allah dan makhluk-Nya bias
menjadi satu kesatuan.
     Pada lafal shlawat di atas disebutkan bahwa ke-Esa-an (=Menyatu Tuhan
dengan Makhluk) itu penuh dengan Lumpur dan kotoran, oleh karena itu dia
berdo’a kepada Allah untuk membersihkan dia dari Lumpur dan kotoran tadi.
Kemudian dia juga berdo’a agar Allah menenggelamkan dia ke dalam lautan
wihdatul wujud sehingga dia bias melihat Tuhan di dalam bentuk apa saja. Bahkan,
seorang ketua mereka berkata :
                 Tidaklah anjing dan babi itu,
                 melainkan keduanya adalah tuhan kita
                 dan tiadalah Allah itu
                 melainkan pendeta di Gereja.


     Orang-orang Nasrani telah berbuat syirik karena mereka menganggap bahwa
Isa adalah anak Allah. Adapun mereka yang gandrung dengan shlawat di atas- telah
menjadikan segenap makhluk ciptaan Allah sebagai Tuhan-tuhan yang menandingi
ke-Tuhanan Allah. Mahasuci dan Mahatinggi Allah dari segala apa yang dikatakan
oleh orang-orang musyrik itu.
C.   Shlawat Nariyah
          Shlawat nariyah telah dikenal banyak orang. Mereka berkeyakinan bahwa
     siapa yang membaca shlawat nariyah sebanyak empat ribu empat ratus empat
     puluh empat kali dengan harapan agar kesusahannya dihilangkan atau dipenuhi
     hajat kebutuhannya, maka akan terkabul harapannya itu.
          Padahal keyakinan tersebut adalah batil dan tidak memiliki dasar sama sekali.
     Apalagi kalau mengetahi bagaimana isi shlawat tersebut yang penuh dengan
     kesyirikan. Arti lapal shlawat nariyah adalah sebagai berikut :
          “ Wahai Allah, berikanlah shlawat dan keselamatan yang sempurna kepada
     penghulu kita Muhammad, yang karena beliaulah akan terurai segala keruwetan
     hidup, hilangkan segala kesedihan, terpenuhi segala kebutuhan, tercapai segala
     keinginan dengan hasil yang baik, tersiramilah hati yang gersang dengan
     perantaraan wajahnya yang mulia, dan semoga dilmipahkan pula kepada
     keluarganya, para sahabatnya sebanyak ilmu-Mu”.
          Seorang muslim tidak diperbolehkan berdo’a kepada selain Allah Swt untuk
     menghilangkan kesusahan hidupnya atau menyembuhkan penyakitnya, walaupun
     kepada para maliakt yang diutus maupun kepada Nabi yang dekat kepada Allah.
          Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an Surat Al-Isra ayat 56:57, telah
     menjelaskan kepada kita tentang larangan berdo’a kepada selain Allah, baik kepada
     para malaikat maupun para Nabi.
          Para ahli tafsir menjelaskan bahwa ayat diatas turun karena dengan adanya
     sekelompok orang yang berdo’a kepada Al-Masih atau para malaikat atau orang-
     orang sahlih dari jenis Jin. Demikian yang dikatakan Ibnu Katsir.
                                   BAB III
                                 PENUTUP


A. Kesimpulan :


          bertawasul dengan shlawat ketika berdo’a disyariatkan, karena hal itu
   termasuk amal shalih, Kita sebagai umat muslim sangat dianjurkan bershlawat
   kepada Nabi Muhammad Saw dengan menggunakana shlawat yang sesuai dengan
   ajaran beliau. Dan kita juga harus bisa membedakan mana shlawat yang termasuk
   bid’ah dengan yang bukan bid’ah, jangan sampai niat baik kita untuk mendafatkan
   safaat nabi dan keridhoan ilahi malah menjadi sebuah kemusyrikan yang
   menjerumuskan.


B. Penutup


        Puji syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT. Karena berkat kudrat dan
 irodatnya saya dapat menyelesaikan tugs makalah ini, dan terimakasih pula kepada
 semua pihak yang ikut membantu dalam pembuatan makalah ini. Mudah-mudahan
 dapat bermanpaat khususnya bagi saya umumnya bagi kita semua, dan mudah-
 mudahan makalah ini dapat digunakan sebagaimana mestinya amin.

								
To top