Docstoc

TUGAS MAKALAH UKON 2009

Document Sample
TUGAS MAKALAH UKON 2009 Powered By Docstoc
					                  TUGAS PAVER

       STERATEGI PEMBELAJARAN INQUIRI DAN DISCOVERY

Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas Akhir Semester
           Mata Kuliah Sterategi Pembelajaran
            Dosen Pengampu Drs. Siti Yamah




                   Disusun Oleh :
                 Ukon Sukron




  INSTITUT AGAMA ISLAM DARUSSALAM
    FAKULTAS TARBIYAH PAI 2009/2010
                              KATA PENGANTAR


      Assalamu‘alaikum Wr. Wb



      Alhamdullilahi Rabbil A’lamin, atas berkat rahmat Allah SWT, akhirnya saya

biasa menyelesaikan tugas paver ini yang bertujuan untuk memenuhi salah satu tugas

Mata Kuliah Seterategi Pembelajaran serta untuk mendapatkan nilai ujian akhir Pada

hakikatnya, dalam proses interaksi belajar mengajar, guru adalah sosok yang

memegang peranan penting dalam memberikan pelajaran dan siswa adalah anak yang

menerima pelajaran. Dalam mentransfer pengetahuan kepada siswa diperlukan

pengetahuan atau kecakapan atau keterampilan sebagai guru. Tanpa ini semua, tidak

mungkin proses interaksi belajar mengajar dapat berjalan secara kondusif dan

profesional. Disinilah posisi idealisme kompetensi (kemampuan) guru mutlak diperlukan

dalam melaksanakan tugasnya sebagai pendidik.

      Tidak lupa saya ucapkan terimakasih kepada Ibu Drs. Siti Yamah Selaku dosen

Mata Kuliah Stetrategi Pembelajaran yang telah memberikan saya tugas Paver ini, dan

semua pihak yang telah ikut membantu. sehingga saya berkesempatan untuk bisa

lebih mendalami tentang Seterategi Pembelajaran.

      Semoga dengan selesainya tugas paver ini bertambah pula pengetahuan saya

tentang Metode Inquiri dan Discopery dan bagian-bagian lainya dari Mata Kuliah

Seterategi Pembelajaran.



      Wasalamu’alaikum Wr. Wb



                                                   Penyusun …..
                          DAFTAR ISI




KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI




BAB I     PENDAHULUAN

          1.1 Latar Belakang Permasalahan



BAB II POKOK PEMBAHASAN


     A.   Pendekatan InQuiri dan Discovery dalam Mengajar
     B.   Tujuan Proses Inkuiri dan Discovery dalam Mengajar
     C.   Pengaruh Metode Inkuiri dan discopery Terhadap Prestasi Belajar
          Siswa



BAB III   PENUTUP

     A.   KESIMPULAN

     B.   PENUTUP
                                     BAB I
                                 PENDAHULUAN


1.1   Latar Belakang Permasalahan

      Kata inkuiri berarti menyelidiki dengan cara mencari informasi dan melakukan
pertanyaan-pertanyaan. Bidang studi proses belajar mengajar semakin meminta
perhatian di kalangan peminat dan ahli ilmu pendidikan dan keguruan. Hal ini erat
kaitannya dengan Visi dan Misi Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan yang
berfungsi menyiapkan tenaga professional kependidikan. Dengan demikian, merupakan
suatu kebutuhan bahkan keharusan bagi setiap tenaga kependidikan (guru, non guru
dan tenaga kependidikan lainnya) menguasai kompetensi di bidang proses belajar
mengajar atau proses pengajaran / pembelajaran.

      Salah satu kemampuan dasar yang harus dimiliki guru adalah kemampuan
dalam merencanakan dan melaksanakan proses belajar mengajar. Guru sebagai orang
yang melaksanakan proses belajar mengajar tersebut harus dapat menggunakan
metode pembelajaran yang sesuai dengan materi yang diajarakan serta dalam proses
belajar mengajar guru harus bisa menempatkan siswa sebagai subjek belajar, dimana
siswa dituntun untuk belajar sendiri dan berpikir kritis dalam proses belajar sehingga
siswa menjadi aktif dalam belajar dan proses belajar mengajar itu menjadi “Student
Centered”. Pengajaran yang berpusat pada siswa ( Student Centered ) adalah proses
belajar mengajar berdasarkan kebutuhan dan minat siswa. Metode pembelajaran yang
berpusat pada siswa dirancang untuk menyediakan system belajar yang fleksibel
sesuai dengan kehidupan dan gaya belajar siswa. Lembaga pendidikan dan guru tidak
berperan sebagai sentral melainkan hanya sebagai penunjang ( Hamalik, 2008).

      Salah satu metode pembelajaran yang proses belajar berpusat pada siswa yaitu
metode pembelajaran inquiry berorientasi discovery. Menurut Hamalik (2008, 219)
Pengajaran inquiry ini dibentuk atas dasar discovery, sebab seorang siswa harus
menggunakan kemampuannya berdiscovery dan kemampuan lainnya. Pengajaran
berdasarkan inquiry (inquiry – based teaching ) adalah suatu strategi yang berpusat
pada siswa (student – centered strategy) dimana kelompok –kelompok siswa dibawa
kedalam suatu persoalan atau mencari jawaban terhadap pertanyaan – pertanyaan di
dalam suatu prosedur dan struktur kelompok yang digariskan secara jelas (Hamalik,
2008 : 220). Sedangkan Discovery adalah suatu strategi dimana guru mengizinkan agar
siswa melakukan penemuan sendiri informasi dalam suasana tradisional padahal
analisis yang sederhanan itu hanyalah merupakan pratek suatu strategi yang lebih
kompleks ( Hamalik, 2008 : 134 ).

      Hamalik mendefinisikan metode pembelajaran inquiry berorientasi discovery
sebagai situasi – situasi akademik dimana kelompok – kelompok kecil siswa ( yang
terdiri atas 4 sampai 6 orang anggota ) mencari jawaban – jawaban terhadap topik –
topik inquiri. Dalam situasi – situasi tersebut, para siswa dapat menemukan konsep
atau rincian informasi. Untuk itu, penggunaan metode inquiry berorientasi discovery
yang berpusat pada siswa perlu di praktekkan dalam kegiatan belajar mengajar karena
metode ini inquiry berorientasi discovery selalu mengusahakan agar siswa terlibat
dalam maslah – masalah yang dibahas. Siswa diprogramkan agar selalu aktif, secara
mental maupun fisik. Materi yang disajikan guru, tidak hanya diberitahukan begitu saja
dan diterima oleh siswa, namun siswa diusahakan sedemikian rupa hingga mereka
memperoleh berbagai pengalaman dalam rangka “menemukan sendiri” konsep –
konsep yang direncanakan oleh guru ( Ahmadi, 2005: 79 ). Metode ini mengembangkan
keterampilan berpikir kritis dan deduktif melalui pengalaman – pengalaman kelompok
dimana siswa berkomunikasi, berbagi tanggung jawab, dan bersama – sama mencari
pengetahuan. Dalam metode ini, guru ditempatkan sebagai fasilitator, narasumber dan
penyuluhan bukan sebagi sumber informasi utama. Melalui metode ini, siswa diarahkan
untuk menemukan suatu pengetahuan sendiri, bukan di jejali dengan pengetahuan
(hamalik, 2008: 220-221 ). Materi Bangun Ruang Sisi Lengkung ini dianggap sesuai
dengan inti dari metode inquiry berorientasi discovery yang menekankan pada
penyelidikan yang berorientasi pada penemuan. Pada materi ini, siswa dapat meyelidiki
dari mana dapatnya rumus – rumus yang ada pada materi lingkaran tersebut sampai
akhirnya mereka memperoleh suatu penemuan sendiri.




                                       BAB II
                             POKOK PEMBAHASAN

A.     Pendekatan InQuiri dan Discovery dalam Mengajar

       Kata inkuiri berarti menyelidiki dengan cara mencari informasi dan melakukan
pertanyaan-pertanyaan. Dengan pendekatan inkuiri ini pembelajar dimotivasi untuk aktif
berpikir, melibatkan diri dalam kegiatan dan mampu menyelesaikan tugas sendiri. Para
ahli pendidikan dan juga para pengajar cenderung menggunakan istilah pendekatan
inkuiri. Pendekatan inkuiri sering digunakan bergantian dengan pendekatan penemuan.
Dalam bahasa Inggris disebut “discovery approach” yang artinya ialah penyelidikan
melalui pencarian informasi atau pertanyaan-pertanyaan, ada kaitan erat antara
menyelidiki dengan penemuan, kedua model pembelajaran yaitu pendekatan inkuiri dan
pendekatan penemuan berorientasi pada pengolahan informasi dengan tujuan melatih
pembelajar memiliki kemampuan berpikir untuk dapat menemukan dan mencari
sesuatu pengetahuan secara ilmiah. Dengan pendekatan inkuiri, pembelajaran
dimaksudkan untuk membanru pembelajar secara ilmiah, terampil mengumpulkan
fakta, menyusun konsep, menyusun generalisasi secara mandiri.

       Menurut Sund pembelajar dengan penemuan akan membantu pembelajar
menggunakan proses mental dengan mengamati, membuat penggolongan, membuat
dugaan, mengukur, menjelaskan dan menarik kesimpulan. Konsep misalnya. konsep
dingin, segiempat, masyarakat, kata, frase dan kalimat. Prinsip misalnya. logam kalau
dipanasi mengembang, semua kalimat pasif berawalan di. Pembelajaran dengan
penemuan dapat dilakukan dengan melibatkan pembelajar dalam proses kegiatan
belajar yang menggunakan proses mental melalui tukar pendapat atau diskusi, seminar
dsb. Pembelajaran dengan inkuiri mempunyai proses mental yang lebih kompleks
sebagai contoh yaitu merancang eksperimen, menganalis data, menarik kesimpulan
dsb.

       Dalam pelaksanaan inkuiri dibutuhkan sikap-sikap objektif, jujur, terbuka, penuh
dorongan ingin tahu dan tangguh dalam pendirian. Menarik kesimpulan di atas, bahwa
pendekatan penemuan dalam kegiatan belajar mengajar mengutamakan kegiatan
pembelajar dengan menggunakan proses mental. Tujuan berikutnya ialah pembelajar
akan menemukan konsep dan prinsip, konsep dan prinsip itu ditentukan sebagai hasil
atau akibat adanya pengalaman belajar yang telah diatur secara seksama oleh
pengajar.
      Contoh : Praktik penyelidikan di laboratorium atau tugas observasi pada
pelajaran Bahasa Indonesia dalam membahas salah satu karya sastra. Hasilnya dapat
diramalkan sebelumnya sesuai dengan “pengaturan” pengajar. Sebaliknya pendekatan
inkuiri yang digunakan dalam kegiatan belajajar mengajar, struktur pcristivva belajar
bersifat tcrbuka, kemungkinan lain pembelajar “dilepas” atau diberi kesempatan bebas
untuk mencari sesuatu sampai menemukan hasil belajar melalui proses-proses :

   a. Asimilasi yaitu memasukanan hasil pengamatan ke dalam struktur kognitif yang
      telah ada pada pembelajar.
   b. Akomodasi      yaitu   mengadakan   perubahan-perubahan     dengan    pengertian
      penyesuaian alam struktur kognitif sehingga sesuai dengan gejala (fenomena)
      baru yang diamati. Menurut J. Richard Suchman, tentang hakikat proses inkuiri
      model teori inkuiri dan komponen-komponen penting untuk inkuiri yang efektif,
      menjelaskan bahwa proses inkuiri terutama ditujukan kepada kreativitas.
      Suchman tertarik pada kata “pengertian” dan bagaimana pengertian itu terbentuk
      pada diri pembelajar. Dengan kata lain, bagaimana pembelajar mengadakan
      respon (reaksi) kalau datang stimulus (rangsang) pada persepsinya. Selanjutnya,
      J.R. Suchman berpendapat bahwa setiap individu mempunyai organisator
      tertentu yang dapat ditarik untuk membawakan beberapa pengertian terhadap
      sesuatu objek baru. Oleh Sucliman dijumpai empat identifikasi organisator yaitu :
       Persepsi yang berisi pertemuan-pertemuan sebelumnya
       Sistem yang mengatur secara kesatuan fungsi
       Data yang berisi keterangan dan informasi
       Kesimpulan hasil analisis data setiap organisator dapat disimpan untuk
         penggunaan waktu yang akan datang. Organisator ini saling berkaitan erat
         sekali, tetapi dapat juga sebaliknya yaitu berbeda atau bertentangan.
         Pengajar hendaknya mendorong jenis inkuiri pada pembelajar bahkan
         memberi saran kepada pengajar bahwa ia harus :
            Menciptakan kebebasan untuk memiiiki dan mengekspresikan ide-ide
             atau gagasan dan mengetesnya dengan data.
            Menyediakan suatu lingkungan yang responsif sehingga setiap ide
             didengar dan dapat dimengerti, dipahami oleh setiap pembelajar dapat
             memperoleh data yang dibutuhkan.
            Membantu setiap pembelajar menemukan suatu jalan untuk bergerak
             maju.
B.     Tujuan Proses Inkuiri dan Discovery dalam Mengajar

       Tujuan Proses Inkuiri yang diajukan Suchman merupakan pemikiran yang
mantap yang implikasinya dapat untuk memperbaiki pendidikan pengajar dan untuk
peningkatan peristiwa kegiatan belajar mengajar. Seorang pengajar hendaknya dapat
mengembangkan proses inkuiri dengan memusatkan pada masalah-masalah yang
perlu dipecahkan oleh pembelajar. Orientasi guru ialah “memandang” pembelajar
sebagai individu yang memiiiki potendi yang perlu dikembangkan. Pengajar selalu
mengutamakan pertumbuhan dan peningkatan kognitif dan perkembangan kreativitas
pembelajar. Mengajar bertujuan mengembangkan bakat-bakat dan membantu pengajar
mengembangkan konsep dirinya proses belajar ini dapat dilakukan melalui beberapa
aktivitas yaitu :

       1.    Bertanya artinya tidak semata-mata mendengarkan dan menghafal.
       2.    BertindaK artinya tidak semata-mata melihat dan mendengarkan.
       3.    Mencari artinya tidak semata-mata mendapatkan.
       4.    Menemukan problem artinya tidak semata-mata mempelajari fakta-fakta.
       5.    Menganalisis artinya tidak semata-mata mengamati.
       6.    Membuat sintesis artinya tidak semata-mata membuktikan
       7.    Beipikir artinya tidak semata-mata melamun atau membayangknn.
       8.    Menghasilkan atau memprodusir. artinya tidak semata-mata menggunakan.
       9.    Menyusun artinya tidak semata-mata mengumpulkan.
       10. Menciptakan artinya tidak semata-mata memproduksi kembaii.
       11. Menerapkan artinya tidak semata-mata mengingat-ingat.
       12. Mengekspresimenkan artinya tidak semata-mata membenarkan,
       13. Mengkritik artinya tidak semata-mata menerima
       14. Merancang artinya tidak semata-mata beraksi.
       15. Mengevaluasi artinya tidak semata-mata mengulangi.

       Beberapa kondisi yang diperlukan untuk proses belajar inkuiri yaitu :

       a)    Kondisi yang fleksibel, bebas, terbuka untuk berinteraksi.
       b)    Kondisi lingkungan yang responsif.
       c)    Kondisi yang memudahkan untuk memusatkan perhatian.
       d)    Kondisi yang bebas dan tekanan.
      Untuk melaksanakan kegiatan belajar mengajar dengan pendekatan inkuiri
secara mantap yang dibutuhkan pengajar yang mampu berperan, karena aktivitas
banyak terjadi pada diri pembelajar. Peranan Pengajar dalam proses belajar mengajar
dengan pendekatan Inkuiri adalah :

            Pengajar mampu menstimulasi (memberi rangsangan dan menentang
             pembelajar untuk berpikir).
            Pengajar mampu memberi dukungan untuk inkuiri.
            Pengajar mampu memberikan fleksibilitas (kesempatan dan keluwesan
             serta keberrsamaan untuk berpendapat, berinisiatif atau berprakarsa) dan
             bertindak.
            Pengajar     mampu      mendiagnosis   kesulitan-kesuhtan     pembelajar      dan
             membantu mengatasinya.
            Pengajar     mampu      mengidentifikasi   dan   menggunakan          kemampuan
             mengajar        serta     waktu     mengajar      dengan           sebaik-baiknya.
             Akan tetapi dalm proses belajar mcngajar hal-hal yang perlu mendapat
             rangsangan (stimulus) yaitu : Adanya hak dan otonomi pembelajar,
             Kebebasan dan dukungan terhadap pembelajar, Sikap keterbukaan,
             Percaya kepada diri sendiri dan kesadaran akan harga diri, Adanya konsep
             dirinya (self-concept), Pengalaman inkuiri, menunjukkan terlibat dalam
             masalah-masalah.

      Segi keuntungan mengajar dengan menggunakan pendekatan penemuan dan
pendekatan        Inkuiri,     pengajaran       berpusat      pada       diri       pembelajar
salah satu prinsip psikologi belajar menyatakan bahwa makin besar dan makin sering
keterlibatan pembelajar dalam kegiatan makin besar baginya untuk mengalami proses
belajar. Dalam proses belajar inkuiri, pembelajar tidak hanya belajar konsep dan
prinsip, tetapi juga mengalami proses belajar tentang pengarahan diri, pengendalian
diri, tanggung jawab dan komunikasi sosial secara terpadu. Selain itu pengajaran inkuiri
dapat membentuk self concept (konsep diri), sehingga terbuka terhadap pengalaman-
pengalaman baru, lebih kreatif, berkeinginan untuk selalu mengambil kesempatan yang
ada dan pada umumnya memiliki mental yang sehat, tingkat pengharapan bertambah,
yaitu ada kepercayaan diri serta ide tertentu bagaimana dia dapat menyelesaikan suatu
tugas dengan caranya sendiri.
           Pengembangan bakat dan kecakapan individu, Lebih banyak kebebasan dalam
proses belajar mengajar berarti makin besar kemungkinannya untuk mengembangkan
kecakapan, kemampuan dan bakat-bakatnya, dapat memberi waktu kepada pembelajar
unuk mengashnilasi dan mengakomodasi informasi. Belajar yang sesungguhnya yaitu
jika pembelajar bereaksi dan bertindak terhadap informasi melalui proses mental. Dapat
menghindarkan pembelajar dari cara-cara belajar tradisional yang bersifat Jerome
Bruner, melihat beberapa segi keuntungan dari pendekatan penetnuan yaitu :

      a. Pembelajar akan memahami konsep-konsep dasar dan ide-ide lebih banyak
            dan lebih baik.
      b. Membantu pembelaj.ar menggunakan ingatan dan transfer pada situasi proses
            belajar yang baru.
      c. Mendorong pembelajar berpikir dan bekerja atas inisiatifnya sendiri.
      d. Mendorong (memotivasi) pembelajar berpikir dan merumuskan hipotesis serta
            membuktikannya melalui proses belajar.
      e. Memberi kepuasan yang bersifat instrinsik.
      f. Situasi proses belajar menjadi lebih merangsang.
      g. Pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh bersifat merangsang kegairahan
            belajar.

           Di samping keuntungan ada juga kelemahan-kelemahan dalam pendekatan
inkuiri.

      1) Diperlukan keharusan kesiapan mental untuk cara belajar. Dengan percaya diri
            yang kuat. Pembelajar harus mampu menghilangkan hambatan.
      2) Kalau pendekatan inkuiri diterapkan dalam kelas dengan jumlah pembelajar
            yang besar, kemungkinan besar tidak berhasil.
      3) Pembelajar yang terbiasa belajar dengan pengajaran tradisional yang telah
            dirancang pengajar, biasanya agak sulit untuk memberi dorongan. Lebih-lebih
            kalau harus belajar mandiri, dampaknya dapat mengecewakan pengajar dan
            pembelajar sendiri.
      4) Lebih mengutamakan dan mementingkan pengertian, sikap dan keterampilan memberi
            kesan terlalu idealis. Ada kesan dananya terlalu banyak, lebih-lebih kalau penemuannya
            kurang berhasil, hanya merupakan suatu pemborosan belaka hafalan.
C.   Pengaruh Metode Inkuiri dan discopery Terhadap Prestasi Belajar Siswa

      Pada hakikatnya, dalam proses interaksi belajar mengajar, guru adalah sosok
yang memegang peranan penting dalam memberikan pelajaran dan siswa adalah anak
yang menerima pelajaran. Dalam mentransfer pengetahuan kepada siswa diperlukan
pengetahuan atau kecakapan atau keterampilan sebagai guru. Tanpa ini semua, tidak
mungkin proses interaksi belajar mengajar dapat berjalan secara kondusif dan
profesional. Disinilah posisi idealisme kompetensi (kemampuan) guru mutlak diperlukan
dalam melaksanakan tugasnya sebagai pendidik.

      Guru adalah sosok arsitektur yang dapat membentuk dan membangun
kepribadian anak didik menjadi orang yang berguna bagi nusa, bangsa dan agama.
Tugas guru tidak hanya berputar dalam skop sebagai tenaga profesi yaitu mendidik
(mentransfer nilai-nilai hidup), mengajar (mengembangkan disiplin ilmu pengetahuan)
dan melatih (mengembangkan keterampilan), tetapi juga sebagai tugas kemanusiaan
dan kemasyarakatan yang ikut proaktif terhadap kebutuhan masyarakat, bangsa dan
agama.

      Sedangkan ruh sebuah lembaga pendidikan adalah kualitas proses belajar-
mengajar yang diciptakan dan kualitas produks yang dihasilkan. Sebuah upaya
membangun lembaga pendidikan yang efektif dan bonavid, apapun bentuknya, menjadi
tidak bermakna bila tidak diikuti dengan upaya menciptakan suasana belajar yang
kondusif bagi setiap siswa. Sebab suasana kundusif itu-lah merupakan bagian dari
embrio pendidikan yang akan berakibat pada prestasi belajar.
                                   BAB III
                                 PENUTUP


A. KESIMPULAN


  1. Kata inkuiri berarti menyelidiki dengan cara mencari informasi dan melakukan
     pertanyaan-pertanyaan. Dengan pendekatan inkuiri ini pembelajar dimotivasi
     untuk aktif berpikir, melibatkan diri dalam kegiatan dan mampu menyelesaikan
     tugas sendiri.
  2. Tujuan Proses Inkuiri yang diajukan Suchman merupakan pemikiran yang
     mantap yang implikasinya dapat untuk memperbaiki pendidikan pengajar dan
     untuk peningkatan peristiwa kegiatan belajar mengajar. Seorang pengajar
     hendaknya dapat mengembangkan proses inkuiri dengan memusatkan pada
     masalah-masalah yang perlu dipecahkan oleh pembelajar.
  3. Pada hakikatnya, dalam proses interaksi belajar mengajar, guru adalah sosok
     yang memegang peranan penting dalam memberikan pelajaran dan siswa
     adalah anak yang menerima pelajaran. Dalam mentransfer pengetahuan
     kepada siswa diperlukan pengetahuan atau kecakapan atau keterampilan
     sebagai guru. Tanpa ini semua, tidak mungkin proses interaksi belajar
     mengajar dapat berjalan secara kondusif dan profesional. Disinilah posisi
     idealisme   kompetensi   (kemampuan)      guru   mutlak   diperlukan   dalam
     melaksanakan tugasnya sebagai pendidik.


B. PENUTUP :


        Puji syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT. Karena berkat kudrat dan
  irodatnya saya dapat menyelesaikan tugs paver ini, dan terimakasih pula kepada
  semua pihak yang ikut membantu dalam pembuatan paver ini. Mudah-mudahan
  dapat bermanpaat khususnya bagi saya umumnya bagi kita semua, dan mudah-
  mudahan paver ini dapat digunakan sebagaimana mestinya amin.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:93
posted:4/26/2011
language:Indonesian
pages:12