Eksistensi Hakikat dan Syariat Dalam Istilah by setia1988

VIEWS: 72 PAGES: 12

									Eksistensi Hakikat dan Syariat Dalam Istilah Sufi

Eksistensi hakikat menurut orang-orang sufi adalah takwil-takwil yang mereka reka-reka dalam
menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian
mereka simpulkan bahwa takwil-takwil tersebut hanya bisa diketahui oleh orang-orang khusus
atau mereka sebut ulama khosh (khusus) di atas tingkatan ini ada lagi tingkat yang lebih tinggi
yaitu ulama khoshul-khosh (amat lebih khusus) atau mereka sebut ulama hakikat.

Adapun syariat menurut mereka adalah lafazh-lafazh dan makna yang zhohir (tersurat) dari
nash-nash al-Qur’an dan as-Sunnah. Hal inilah yang dipahami oleh orang-orang awam (biasa),
maka mereka menyebut ulama yang berpegang dengan pemahaman ini dalam menghayati ayat
al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan nama “ulama ‘am
(umum)” atau “ulama syariat”. Dari sini mereka membagi ulama menjadi dua bagian: ulama
hakikat dan ulama syariat, atau ulama batin dan ulama zhohir.

Menurut mereka ulama hakikat atau ulama batin lebih tinggi kedudukannya daripada ulama
syariat atau ulama zhohir. Karena menurut pengakuan mereka ulama hakikat dapat menyelami
rahasia-rahasia ghoib yang tersembunyi dalam nash-nash al-Qur’an dan as-Sunnah. Untuk
mengetahui rahasia-rahasia tersebut mereka memiliki rute-rute yang mesti dilewati. Di samping
itu, mereka memiliki trik-trik dalam memengaruhi orang-orang di luar mereka dengan berbagai
cerita-cerita bohong.

Di antara bentuk-bentuk rute-rute sesat mereka adalah puasa selama empat puluh hari
berturut-turut, bersemedi dalam sebuah gua, tidak boleh memakan hewan yang disembelih
atau binatang yang berdarah, atau dilarang memakan makanan yang dibakar dengan api.

Adakalanya mereka dalam melegalkan takwil-takwil sesat (ilmu hakikat) mereka dengan
mengaku bermimpi bertemu salah seorang nabi, seperti Nabi Khidhir ‘alaihis salam atau Nabi
Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Atau mereka bermimpi bertemu dengan salah
seorang seperti Abdul Qodir al-Jailani atau yang lainnya.

Dan adakalanya mereka mengaku dalam mendapatkan takwil-takwil (ilmu hakikat) tersebut
dengan melalui berdzikir hingga tidak sadarkan diri. Karena di antara kebiasaan mereka adalah
melantunkan selawatan dan syair-syair zuhud dengan berdendang dan bergoyang sampai larut
malam.[1]

Di samping itu, mereka menghina dan mencela orang-orang yang menuntut ilmu dengan cara
belajar kepada para ulama dan mereka sebut ini “ilmu syariat”. Mereka katakan bahwa ilmu
mereka (ilmu hakikat) lebih utama daripada ilmu syariat yang dipelajari melalui para ulama.
Karena ilmu mereka (ilmu hakikat) mereka dapatkan langsung dari Alloh Ta’ala. Bahkan ilmu
mereka lebih tinggi daripada ilmu Nabi ‘alaihis salam karena Nabi ‘alaihis salam mendapat ilmu
melalui perantara yaitu Malaikat Jibril ‘alaihis salam adapun ilmu mereka langsung mereka
dapatkan dari sumber di mana Jibril ‘alihis salam mendapatkannya (langsung dari Alloh ‘Azza
wa jalla tanpa melalui Malaikat Jibril ‘alaihis salam). Maka ilmu mereka tidak melalui perantara
melainkan langsung dari Alloh Ta’ala. Sehingga mereka mengatakan: “Telah menceritakan
kepadaku hatiku dari Tuhanku.” Kadangkala mereka menyebut ilmu mereka (ilmu hakikat)
dengan istilah ilmu laduni.

Menurut mereka, ilmu hakikat atau ilmu batin dan ilmu laduni lebih utama daripada ilmu al-
Qur’an dan as-Sunnah. Orang yang telah memiliki ilmu tersebut tidak butuh lagi kepada al-
Qur’an dan as-Sunnah, mereka merasa lebih percaya diri dengan ilmu laduni. Dengan cara-cara
demikian mereka dapat mengelabui orang-orang awam dan orang yang tidak memiliki
pengetahuan agama yang cukup dalam aqidah.

Bila kita teliti kandungan al-Qur’an dan hadits-hadits Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam
beserta perkataan para sahabat radhiyallahu ‘anhum ajmain juga ulama-ulama terkemuka di
kalangan umat ini tidak ada yang menyatakan bila kita berselisih dalam hal agama ini kembali
kepada ilmu laduni. Akan tetapi, seluruh umat Islam bersepakat bahwa jalan keluar dari segala
perselisihan adalah kembali kepada al-Qur’an dan as-Sunnah sebagaimana perintah Alloh
Ta’ala dan Rosul-Nya.

Firman Alloh Ta’ala:

.. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada
Alloh (al-Qur’an) dan Rosul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Alloh dan hari
kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (QS. an-Nisa’ *4+:
59)

Sabda Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam:



“Maka sesungguhnya barang siapa yang hidup diantara kalian akan melihat perpecahbelahan
yang banyak. Maka berpegangteguhlah kalian dengan sunnahku dan sunnah para
khulafaurrosyidin. Genggamlah erat-erat dan gigitlah dengan geraham.” (HR. at-Tirmidzi dan
beliau menshohihkannya)

Kesesatan keyakinan orang-orang sufi tentang ilmu hakikat tidak hanya ditentang oleh para
ulama Ahlus Sunnah melainkan juga mendapat celaan dan cercaan dari tokoh-tokoh sufi sendiri
sebagaimana yang dinukil oleh Ibnul-Jauzi rahimahullah beliau berkata: “Sesungguhnya
kebanyakan orang-orang sufi membedakan antara syariat dan hakikat, ini sebuah kebodohan
dari orang yang mengatakannya. Karena sesungguhnya syariat seluruhnya adalah hakikat. Jika
yang mereka maksud dengan demikian itu adalah rukhshoh (kemudahan) dan ‘azimah
(ketegasan), maka masing-masing keduanya adalah syariat. sesungguhnya sekelompok dari
golongan terkemuka dari mereka telah mengingkari dalam hal berpalingnya mereka dari ilmu
zhohir dalam syariat.”

CELAAN TOKOH-TOKOH SUFI TERHADAP ILMU HAKIKAT
Diriwayatkan dari Abu Hasan bin Salim, ia berkata: “seseorang datang kepada Sahal bin
Abdulloh dengan membawa pena dan buku, ia berkata kepada Sahal: ‘Aku datang untuk
mencatat sesuatu yang Alloh bisa memberi manfaat kepadaku dengannya.’ Jawab Sahal:
‘Tulislah! Jika engkau mampu menemui Alloh Ta’ala dalam keadaan membawa pena dan buku
maka lakukanlah!’ Lalu orang tersebut berkata: ‘Berilah aku suatu faedah (tentang ilmu).’ Jawab
Sahal: ‘Dunia seluruhnya adalah kebodohan kecuali yang berupa ilmu. Dan ilmu seluruhnya
adalah hujjah (yang harus dipertanggungjawabkan) kecuali yang berbentuk amal. Dan amal
seluruhnya akan ditunda penerimaannya kecuali yang sesuai menurut al-Qur’an dan as-Sunnah.
Dan sunnah ditegakkan di atas ketakwaan.’”

Diriwayatkan pula dari Sahal bin Abdulloh: “Jagalah hitam di atas putih, tidak seorang pun
meninggalkan yang zhohir (jelas) melainkan ia menjadi zindik.”

Diriwayatkan juga dari Sahal bin Abdulloh, ia berkata: “Tiada jalan yang lebih utama untuk
menuju Alloh Ta’ala daripada jalan ilmu. Jika engkau berpaling dari jalan ilmu satu langkah
niscaya engkau akan tersesat dalam kegelapan selama empat puluh pagi.”

Dalam ungkapan di atas Sahal menegaskan bahwa ilmu dan amal yang akan diterima Alloh
Ta’ala hanyalah yang sesuai dengan apa yang terdapat dalam al-Qur’an dan as-sunnah.

Berkata Abu Bakar ad-Daqoq: “Aku mendengar Abu Sa’id al-Khoroz berkata: ‘Setiap ilmu batin
yang bertentangan dengan ilmu zhohir maka itu adalah kebatilan.”’

Berkata Abu Bakar ad-Daqoq: “Saat aku melewati Padang Tih Bani Israil, terbetik dalam
pikiranku bahwa ilmu hakikat bertentangan dengan ilmu syariat. Lalu aku mendengar suara dari
arah bawah pohon: ‘Setiap ilmu hakikat yang tidak sesuai dengan ilmu syariat maka itu adalah
kekafiran.”’

Berkata Ibnul-Jauzi rahimahullah “Imam al-Ghozali telah memperingatkan dalam kitab al-Ihya’,
ia berkata: ‘sesungguhnya ilmu hakikat yang menentang ilmu syariat atau ilmu batin yang
menentang ilmu zhohir maka ia lebih dekat kepada kekafiran daripada kepada keimanan.”‘

Berkata Ibnu ‘Uqoil: “Orang-orang sufi menjadikan syariat sebatas nama semata, mereka
mengatakan yang dimaksud darinya adalah hakikat. Ini adalah pendapat yang keji. Karena
syariat adalah datang dari Alloh Ta’ala untuk kebaikan dan jalan penghambaan para makhluk.
Maka tidak ada di balik hakikat kecuali sesuatu yang dibisikkan oleh setan ke dalam jiwa
seseorang. Setiap orang yang mengaku mendapat ilmu hakikat di luar ketentuan ilmu syariat
maka itu adalah tipuan (setan).”[2]

Orang-orang zindik telah menjadikan ilmu hakikat tersebut sebagai tameng untuk menolak
hukum-hukum syariat dan sebagai topeng untuk menutup kekufuran mereka.

Berkata Ibnul-Jauzi rahimahullah: “Orang-orang zindik tidak berani melangkah untuk menolak
hukum-hukum syariat sampai datang orang-orang sufi, mereka datang dengan bantuan para
pelaku maksiat. Pertama kali mereka membuat istilah hakikat dan syariat, ini adalah tindakan
yang keji. Karena syariat adalah datang dari Alloh Ta’ala untuk kebaikan para makhluk. Maka
tidak ada di balik hakikat kecuali sesuatu yang dibisikkan setan ke dalam jiwa seseorang. Setiap
orang yang mengaku mendapat ilmu hakikat di luar ketentuan ilmu syariat maka itu adalah
tipuan (setan). Jika mereka mendengar seseorang meriwayatkan hadits, mereka katakan:
‘Kasihan sangat bodoh, mengapa mereka mau mengambil ilmu melalui yang mati dari yang
mati! Sedangkan kita mengambil ilmu langsung dari Zat yang tidak pernah mati.’ Barang siapa
yang berkata: Telah menceritakan kepadaku bapakku dari kakekku. Justru aku berkata: ‘Telah
menceritakan kepadaku hatiku dari Tuhanku.”‘ Kata Ibnul-Jauzi rahimahullah: “Mereka (orang-
orang sufi) telah binasa dan telah membinasakan orang lain dengan khurofat-khurofat ini.
Orang-orang bodoh tertipu sehingga mengorbankan harta demi mereka.”[3]

Dengan mengaku mendapat ilmu hakikat mereka bisa mengelabui dan berkilah untuk
meninggalkan perintah-perintah agama.

Berkata Ibnul-Jauzi rahimahullah: “Ketahuilah bahwasanya melaksanakan tugas-tugas agama
amat berat, tiada yang lebih mudah bagi para pelaku maksiat daripada meninggalkan jamaah.
Tidak ada yang lebih berat bagi mereka dari perintah dan larangan-larangan agama. Tidak ada
yang lebih berbahaya terhadap agama dari orang-orang ahlul-kalam dan orang-orang sufi.
Mereka merusak keyakinan manusia dengan mempermainkan kelicikan akal. Dan mereka ini
merusak amal dan meruntuhkan sendi-sendi agama. Mereka suka menganggur dan
mendengarkan nyanyian. Para generasi salaf tidak demikian halnya dalam hal keyakinan;
mereka hamba yang percaya sepenuhnya dan dalam hal amal mereka orang yang paling
sungguh melakukan amal. Berkata Ibnul-Jauzi: “Nasihatku kepada para saudaraku jangan
sampai hati mereka dicekoki perkataan para ahlul-kalam dan jangan sampai pendengaran
mereka diserahkan kepada khurofat-khurofat sufi. Lebih baik mereka sibuk mencari kebutuhan
hidup daripada duduk-duduk bersama orang-orang sufi. Mencukupkan diri dengan ilmu zhohir
(ajaran al-Qur’an dan as-Sunnah) jauh lebih baik daripada terjerumus ke dalam kesesatan.
Sungguh telah aku kabarkan tentang jalan kedua kelompok tersebut (ahlul-kalam dan sufi).
Kesudahan orang-orang ahlul-kalam adalah kebingungan dan kesudahan orang-orang sufi
adalah kebodohan.”

Berkata Ibnu ‘Uqoil: “Kesudahan perkataan orang-orang sufi mengingkari kenabian. Bila mereka
berbicara tentang ahli hadits, mereka katakan: ‘Mereka mengambil ilmu orang mati dari yang
mati, maka (berarti) mereka telah menolak kenabian. Mereka merasa cukup dengan ilmu
mereka, bila mereka menghina jalan (ahli hadits) tentu mereka tidak akan simpati mengambil
ilmu melalui jalan tersebut. Barang siapa yang berkata ‘Telah menceritakan kepadaku hatiku
dari Tuhanku’ maka ia telah berterus terang (menyatakan) tidak butuh kepada Rosul. Barang
siapa yang menyatakan demikian maka sungguhnya ia telah kafir. Kalimat ini telah disusupkan
ke dalam agama yang tersembunyi di bawahnya sebuah kezindikan (kemunafikan). Jika kita
melihat seseorang mencela al-Qur’an dan Hadits, sebaiknya kita tahu bahwa ia telah
mengingkari perintah syariat. orang yang mengatakan ‘Telah menceritakan kepadaku hatiku
dari Tuhanku’ semestinya ia sangsi bahwa itu adalah bisikan setan. Sesungguhnya Alloh telah
berfirman:
…. Sesungguhnya setan-setan itu membisikkan kepada kawan-kawannya…. (QS. al-An’am *61:
121)

Dan ini amat jelas, karena ia meninggalkan dalil yang ma'shum dan memilih apa yang terbetik
dalam hatinya yang tidak bisa dipastikan selamat dari bisikan-bisikan setan.”[4]

Di antara orang-orang sufi ada yang berkilah bahwa itu adalah ilham, namun bagaimana
menjawabnya jika ditanya “Di mana anda bisa memastikan bahwa itu adalah ilham? Dengan
apa anda bisa membedakan antara ilham dengan apa yang dibisikan setan?” Maka satu-satunya
alat ukur yang jitu untuk membedakan antara ilham dengan bisikan setan adalah ilmu syariat.
Berarti ilmu hakikat butuh kepada ilmu syariat, sebaliknya ilmu syariat tidak butuh kepada ilmu
hakikat. orang-orang yang mau menerima petunjuk akan berkesimpulan bahwa ilmu syariat
lebih mulia dari ilmu hakikat orang-orang sufi.

Berkata Ibnul-Jauzi: “Mempercayai ilham tidak harus mengingkari ilmu (syariat). Kita tidak
mengingkari bahwa Alloh memberikan ilham kepada seseorang, sebagaimana sabda Rosululloh
Shallallahu ‘alaihi wa sallam:



“Sesungguhnya pada umat yang lalu ada orang-orang yang diberi ilham, jika terdapat di antara
umatku maka ia adalah Umar.” (HR. Ahmad, dan berkata Syu’aib al-Amauth: “Shohih.”)

Yang dimaksud dengan kata adalah ilham tentang kebaikan. Akan tetapi, seseorang yang
mendapat ilham bila diberi ilham yang bertentangan dengan ilmu (syariat), maka ia tidak boleh
mengamalkannya. Adapun Khidhir, maka ia adalah nabi, tidak diragukan para nabi dapat
mengetahui akibat-akibat sesuatu melalui wahyu. Ilham tidak termasuk ilmu sedikit pun. Hanya
saja, ia adalah buah dari ilmu dan ketakwaan, maka orang tersebut diberi taufik untuk hal yang
baik dan ilham petunjuk. Adapun sikap meninggalkan ilmu dan bergantung kepada ilham dan
bisikan hati semata, maka hal ini tidak bernilai apa-apa. Jika bukan karena ilmu syariat maka,
kita tidak akan bisa mengetahui apa yang terdapat dalam hati, apakah ia ilham ataukah bisikan-
bisikan setan. Ketahuilah, sesungguhnya ilham yang terdapat dalam hati tidak cukup tanpa ilmu
syariat, sebagaimana ilmu akal tidak cukup tanpa ilmu syariat. Adapun ungkapan ‘Mereka
mengambil ilmu dari orang mati meriwayatkan dari orang yang mati, maka penilaian terbaik
untuk orang yang mengatakannya adalah ia tidak tahu tentang apa yang tersimpan dalam kata-
kata ini. Sebenarnya ini adalah cacian terhadap syariat (agama).”

Kemudian Ibnul-Jauzi menyebutkan ungkapan al Ghozali tentang sebab-sebab orang sufi suka
bersemadi dan meninggalkan ilmu serta lebih mengutamakan berdzikir daripada membaca al-
Qur’an, lalu ungkapan ini beliau komentari dengan perkataan berikut: “Amat disayangkan, kata-
kata seperti ini muncul dari seorang faqih, tidak diragukan lagi tentang kekejian ungkapan ini.
Hakikat dari ungkapan ini adalah membuang perintah-perintah agama yang memerintahkan
membaca al-Qur’an dan mencari ilmu. Aku mendapati para ulama terkemuka dari berbagai
kota tidak pernah menempuh cara ini. Akan tetapi, mereka menyibukkan diri pertama kali de-
ngan mencari ilmu.”[5]

ILMU BATIN

Sering pula kita dengar orang-orang sufi menyebut ilmu hakikat dengan istilah “ilmu batin”.
Berikut kita coba menelusuri dasar pegangan mereka dalam hal ini. Sebagian mereka
menyandarkan perkataan mereka kepada hadits maudhu’ (palsu):

Hadits pertama:



“Ilmu batin adalah rahasia dari rahasia-rahasia Alloh dan hikmah dari hikmah-hikmah Alloh.
Alloh menjatuhkannya ke dalam hati siapa yang Dia kehendaki dari para waliNya.”



Berkata Ibnul-Jauzi: “Hadits ini tidak shohih dari Rosululloh dan kebanyakan para perawinya
tidak dikenal.”

Hadits kedua:

                                              :


Al-Hasan meriwayatkan dari Hudzaifah, ia berkata: “Aku bertanya kepada Nabi tentang apa itu
ilmu batin?” Beliau berkata: “Aku bertanya kepada Jibril tentangnya. Maka ia menjawab dari
Alloh: ‘la adalah rahasia antara-Ku dan para kekasih-Ku, para wali-Ku, dari para orang pilihan-
Ku. Aku letakkan dalam hati mereka, tidak diketahui oleh malaikat yang dekat (dengan Alloh)
dan tidak pula nabi yang diutus.”



Berkata Ali al-Qori: “Berkata lbnu Hajar al-Asqolani: ‘(Hadits ini adalah) maudhu’ (palsu) dan al-
Hasan tidak pernah berjumpa Hudzaifah.’”

Berkata Imam al-Barbahari: “Ilmu yang oleh orang-orang disebut ilmu batin tidak pernah
ditemui dalam al-Qur’an dan tidak pula dalam as-Sunnah. Maka ia adalah bid’ah dan sesat.
Tidak diperbolehkan bagi seseorang untuk mengamalkannya dan tidak pula
mengajarkannya.”[6]

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah: “Sesungguhnya hakikat ilmu batin yang
mereka banggakan adalah penolakan terhadap risalah yang Alloh turunkan kepada Nabi
Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahkan penolakan terhadap seluruh rosul. Mereka
tidak mempercayai apa yang dibawa oleh Rosul dari Alloh Ta’ala, baik berbentuk berita
maupun perintah.”[7]

Berkata lagi Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah: “Para tokoh sufi sepakat bahwa orang
yang mengaku mengetahui ilmu batin dari hakikat yang bertentangan dengan ilmu zhohir dari
syariat maka ia adalah zindik.”[8]

Menurut mereka ilmu batin dan ilmu zhohir perumpamaannya bagaikan lempengan emas dan
lempengan perak. Ilmu batin adalah lempengan emas sedangkan ilmu zhohir adalah lempengan
perak. Mereka mengatakan bahwa ilmu yang diterima Rosul dengan melalui perantara Malaikat
Jibril adalah lempengan perak. sedangkan ilmu batin mereka langsung terima dari Alloh adalah
lempengan emas.

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah: “Sesungguhnya Nabi menurut mereka
dari lempeng perak. Karena menurut mereka ada dua lempengan; satu dari emas dan satu lagi
dari perak. Mereka menganggap lempengan nabi Muhammad adalah ilmu zhohir. Dan
lempengannya adalah emas yaitu ilmu batin. Dan lempeng perak adalah ilmu zhohir. Mereka
mendapatkannya tanpa ada perantara. Berkata Ibnu Arabi dalam kitab Fusus-nya: ‘Bahwa
tingkat kewalian lebih tinggi dari tingkat kenabian. Karena wali mengambil tanpa ada perantara
sedangkan nabi melalui perantara (Malaikat Jibril).’ Maka ia menganggap lebih memiliki
keutamaan di atas nabi, bahkan ia tidak suka jika memiliki kedudukan yang sama. Ringkasnya ia
tidak mau mengikuti nabi sedikit pun. Karena ia menurut pengakuannya mengambil langsung
dari Alloh … maka ia mengaku lebih sempurna dari Rosul.[9]

Barang siapa yang menganggap bahwa di antara para wali yang telah sampai kepada mereka
risalah Nabi Muhammad memiliki jalan tersendiri kepada Alloh dan ia tidak butuh kepada Nabi
Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam maka orang ini adalah kafir. Apabila ia berkata: “Saya
butuh kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya dalam hal ilmu zhohir saja
tidak dalam ilmu batin, atau dalam hal ilmu syariat saja tidak dalam ilmu hakikat” maka ia lebih
jelek daripada Yahudi dan Nasrani. Karena mereka (Yahudi dan Nasrani) mengatakan Nabi
Muhammad hanya diutus kepada orang Arab saja tidak kepada orang-orang Ahli kitab.
Sesungguhnya mereka beriman dengan sebagian dan kafir dengan bagian yang lain, maka
mereka menjadi kafir karena hal itu. Demikian pula orang yang mengatakan bahwa Nabi
Muhammad hanya diutus membawa ilmu zhohir saja tidak diutus dengan ilmu batin. la beriman
dengan sebagian yang dibawanya dan kafir dengan bagian yang lain, maka ia menjadi kafir
(dengan hal itu).[10]

Bila ada orang yang menganggap bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya
mengetahui urusan-urusan yang zhohir saja tanpa mengetahui hakikat keimanan. Dan ia
mengaku mengambil ilmu hakikat di luar al-Qur’an dan as-Sunnah. Maka sesungguhnya orang
tersebut telah mengaku beriman dengan sebagian yang dibawa Rosul dan tidak beriman
dengan bagian yang lain. Ini lebih jelek daripada orang yang berkata: Aku beriman dengan
dengan sebagian dan aku kafir dengan bagian yang lain.’ Karena ia menilai bagian yang ia
beriman dengannya adalah bagian yang rendah kualitasnya (menurut dia).”[11]

Mengapa ia lebih kafir dari Yahudi dan Nasrani? Karena ia menganggap bagian yang ia beriman
dengannya (ilmu syariat) yang dibawa Rosul nilainya minus dibanding ilmu batin yang mereka
miliki sendiri tanpa harus melalui Rosul; dan Malaikat Jibril. Dengan mengaku mengetahui ilmu
batin sebagian sufi mengaku memiliki syariat sendiri, bahkan yang lebih sesat lagi terbebas dari
segala perintah dan larangan agama. Apa yang dikatakan atau dilakukan oleh sang kiai mereka
yang mengaku mengetahui ilmu batin tidak boleh dibantah, bahkan sekadar ditanya sekalipun.
Bila sang kiai minum khomer (minuman keras) maka dengan ilmu batin ia dapat berubah
menjadi air putih. Bahkan ada yang lebih fatal dari itu semua, yang kita malu untuk men-
gungkapkannya di sini.

ILMU LADUNI

Kadangkala mereka sebut ilmu mereka (ilmu hakikat) dengan istilah ilmu laduni.

Berkata Ibnul-Qoyyim rahimahullah: “Yang dimaksud oleh mereka dengan ilmu laduni ialah
ilmu yang diperoleh seseorang dengan tidak melalui sebab (belajar) melainkan dengan melalui
ilham dari Alloh Ta’ala. Berupa pemberitahuan dari Alloh Ta’ala bagi seseorang sebagaimana
Nabi Khidhir tanpa melalui Nabi Musa Sebagaimana firman Alloh Ta’ala:

… yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan
kepadanya ilmu dari sisi Kami. (QS. al-Kahfi [18]: 65)

Maka Alloh “azza wa jalla membedakan antara rahmat dan ilmu, Alloh menjadikan keduanya
dari sisi-Nya. Ketika ia peroleh keduanya tanpa melalui perantara manusia. Akan tetapi, khusus
dan lebih dekat dari sisi-Nya. Karena itu Alloh berfirman:

Dan katakanlah: ‘Ya Robbku, masukkanlah aku secara masuk yang benar dan keluarkanlah
(pula) aku secara keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi Engkau kekuasaan yang
menolong.’ (QS. al-Isro’ *17+:80)

Maka kekuasaan yang menolong yang datang dari sisi Alloh secara khusus dan lebih dekat.
Karena itu Alloh katakan: ‘Berikanlah kepadaku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong’
yaitu pertolongan yang diperkuat dengannya. Pertolongan yang datang dari sisi Alloh dan juga
pertolongannya melalui orangorang beriman.

Sebagaimana firman Alloh Ta’ala:

…. Dialah yang memperkuatmu dengan pertolongan-Nya dan dengan para mukmin. (QS. al-
Anfal [8]:62)
Ilmu laduni adalah buah dari kesungguhan dalam beribadah dan mengikuti Rosululloh
Shallallahu ‘alaihi wa sallam, jujur bersama Alloh dan ikhlas kepada-Nya. Juga bersungguh-
sungguh dalam menuntut ilmu yang datang dari Rosul. Serta kesempurnaan ketundukan
kepada beliau sehingga dibukakan untuknya memahami al-Qur’an dan as-Sunnah yang
diberikan secara khusus kepadanya. Sebagaimana perkataan Ali bin Abi Tholib radhiyallahu
‘anhu tatkala ia ditanya: “Apakah Rosul mengkhususkan engkau dengan sesuatu dari manusia
lain?” -Tawabnya: “Tidak, demi Zat yang membolak-balikkan bijian dan yang menyembuhkan
jiwa. Kecuali pemahaman yang diberikan Alloh kepada seseorang tentang kitab suci-Nya.”

Inilah ilmu laduni yang hakiki, adapun ilmu orang yang menyimpang dari al-Qur’an dan as-
Sunnah serta tidak terkait dengan keduanya maka itu adalah ilmu laduni yang datang dari
bisikan nafsu sesat dan dari setan. Maka ia ilmu laduni tetapi dari mana? Hanya bisa diketahui
ilmu laduni dari Alloh adalah dengan mencocokkannya dengan apa yang dibawa oleh Rosul dari
Robbnya.

Maka ilmu laduni ada dua macam: laduni dari Alloh dan laduni dari setan. Yang menjadi
pembeda antara keduanya adalah wahyu dan tidak ada lagi wahyu setelah Rosululloh. Adapun
menjadikan kisah Nabi Musa dan Nabi Khidhir sebagai pegangan dalam bolehnya meninggalkan
wahyu dan memilih ilmu laduni, ini adalah kekafiran yang mengeluarkan seseorang dari Islam
serta boleh untuk dibunuh. Perbedaannya; Nabi Musa tidak diutus kepada Nabi Khidhir.
Dan Nabi Khidir pun tidak diperintahkan untuk mengikuti Nabi Musa. Jika ia diperintah untuk
mengikuti Nabi Musa maka tentulah wajib baginya untuk hijrah kepada Nabi Musa dan ia akan
bersamanya. Oleh karena itu, ia berkata kepada Nabi Musa : ‘Engkau Musa
Nabi Bani Israil?’ Jawab Nabi Musa: ‘Ya.’

Sedangkan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus kepada seluruh makhluk.
Maka kerosulannya adalah umum untuk jin dan manusia dalam setiap masa. Seandainya Nabi
Musa dan Nabi Isa hidup maka keduanya akan menjadi pengikutnya. Apabila Nabi Isa turun
(nanti di akhir zaman) maka Sesungguhnya dia akan menjalankan hukum syariat Nabi
Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Barang siapa yang mengaku bahwa perumpamaan
dirinya dengan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah bagaikan Nabi Khidhir
dengan Nabi Musa, atau ia membolehkan hal itu bagi seseorang dari golongan umat ini, maka
hendaklah ia mengulang keislamannya dan mengulang bersyahadat dengan syahadat yang
benar. Sesungguhnya keyakinan seperti itu membuatnya meninggalkan agama Islam secara
total. Apalagi untuk dianggap sebagai wali Alloh yang khusus. Sesungguhnya ia adalah di antara
wali-wali setan, penolongnya dan penggantinya. Ini adalah garis pembeda antara orang-orang
zindik dan orang yang benar-benar istiqomah dari kalangan mereka.”[12]

Dalam ungkapan Ibnul-Qoyyim rahimahullah di atas dijelaskan bahwa ilmu laduni yang dari
Alloh adalah pemahaman yang diberikan Alloh kepada seseorang ketika ia belajar ilmu syariat
yang dituntut kepada para ulama yang diiringi dengan keikhlasan dan ketaatan kepada Alloh
dan Rosul-Nya Bukan ilmu yang didapat melalui mimpi dan semadi, apalagi ilmu tersebut jelas-
jelas bertentangan dengan ajaran al-Qur’an dan as-Sunnah. Segala ilmu yang bertentangan
dengan al-
Qur’an dan Sunnah Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam maka itu adalah ilmu laduni yang
datang dari setan.

Pada tempat lain Ibnul-Qoyyim rahimahullah berkata pula: “Ilmu laduni yang datang dari Alloh
buah dari ketundukan dan rasa cinta yang melahirkan keinginan untuk melaksanakan amalan-
amalan mandub (sunnah) setelah melaksanakan amalan-amalan wajib. Ilmu laduni yang datang
dari setan adalah buah dari berpaling dari wahyu (ilmu syariat) serta bisikan nafsu sesat dan
setan.”[13]

Adapun yang diperoleh tanpa melalui sebab mencari dalil maka itu tidak benar. Karena Alloh
menggantungkan mengenal ilmu dengan sebab-sebabnya sebagaimana Alloh kaitkan kejadian
alam dengan dengan sebab-sebab pula. Seorang manusia tidak akan mungkin memperoleh ilmu
kecuali ada dalil menunjukkannya kepada ilmu tersebut. Alloh telah menyokong para rosul-Nya
dengan berbagai macam dalil dan keterangan. Sebagai dalil yang menunjukkan mereka bahwa
ilmu yang datang kepada mereka adalah dari sisi Alloh. Dan dalil-dalil tersebut pula yang
menunjukkan akan hal itu kepada umat mereka. Mereka memiliki dalil dan keterangan yang
amat jelas bahwa yang ilmu yang datang kepada mereka adalah dari Alloh.

Maka setiap ilmu yang tidak berdasarkan kepada dalil bagaikan pengakuan yang tidak memiliki
bukti dan hukum yang tidak ada fakta. Jika demikian halnya maka ia tidak bisa dianggap ilmu
apalagi dianggap sebagai ilmu laduni.

Ilmu laduni adalah ilmu yang dibuktikan dengan dalil yang shohih bahwa ia datang dari sisi Alloh
melalui para rosul-Nya. Apa yang di luar itu maka itu adalah ilmu laduni yang datang dari diri
manusia itu sendiri, darinya datang kepadanya kembali.

Telah banjir ilmu laduni, amat murah harganya sehingga setiap golongan mengaku mendapat
ilmu laduni. Sehingga setiap orang berbicara tentang hakikat iman, suluk (budi pekerti), serta
nama dan sifat-sifat Alloh menurut apa yang terlintas dalam pikiran yang dilontarkan setan ke
dalam hatinya. Ia mengira ilmunya adalah ilmu laduni.

Maka orang zindik pun ikut mengaku bahwa ilmu mereka ilmu laduni. Yang menjadi persoalan
ilmu laduni siapa dan dari mana ilmu laduninya tersebut. Alloh telah mencela dengan celaan
yang tajam terhadap siapa saja yang menisbahkan kepada Alloh sesuatu yang bukan dari-Nya.

Sebagaimana firman Alloh ‘Azza wa jalla:

…. Mereka mengatakan: “Ia (yang dibaca itu datang) dari sisi Alloh “, padahal ia bukan dari sisi
Alloh. Mereka berkata dusta terhadap Alloh sedang mereka mengetahui. (QS. Ali Imron [3]: 78)

Dan firman Alloh Ta’ala:

Maka kebinasaanlah bagi orang-orang yang menulis al-Kitab dengan tangan mereka sendiri,
lalu dikatakannya: “Ini dari Alloh…… (QS. al-Baqoroh [2]: 79)
Barang siapa yang berkata “Ilmu ini dari Alloh” sedangkan ia bohong dalam penisbahan
tersebut. Maka baginya bagian yang cukup dari celaan yang yang terdapat dalam, ayat-ayat
tersebut. Hal ini banyak terdapat dalam al-Qur’an, Alloh mencela orang yang menyandarkan
sesuatu kepada-Nya tanpa ilmu. dan orang yang berbicara tentang sesuatu atas nama Alloh
tanpa ilmu. Oleh karena itu, Alloh membagi hal yang diharamkan menjadi empat tingkat. Dan
Alloh menjadikan tingkatan tertinggi (ialah) berkata atas nama Alloh tanpa ilmu. Alloh
menjadikannya tingkatan tertinggi dari hal-hal yang diharamkan. Hal itu diharamkan dalam
segala kondisi, bahkan diharamkan dalam seluruh agama dan di atas lisan segala rosul. Orang
yang mengatakan “Ini adalah ilmu laduni” terhadap sesuatu yang tidak bisa ia pastikan dari
Alloh serta tidak ada pula keterangan dari Alloh bahwa ilmu itu dari-Nya. Orang tersebut adalah
pendusta alias pembohong di atas nama Alloh, ia adalah orang yang paling zalim dan paling
dusta”

Demikianlah bahasan kita kali ini, semoga Alloh Ta’ala menjadikan kita orang-orang yang
senantiasa berpegang teguh dengan ilmu-ilmu yang beliau warisan kepada umatnya. Juga
menunjuki sesiapa yang tersesat di kalangan umat ini kepada jalan yang benar. Wallohu A’lam.



Disalin dari Majalah AL FURQON. Srowo, Sidayu, Gresik. Jawa-Timur. Edisi 4 tahun ke: 8,
Dzulqo’dah 1429H/November 2008M

Catatan Kaki:


[1] Lihat Talbis Iblis kar. Ibnul-Jauzi: 302

[2] Ungkapan-ungkapan di atas disebutkan oleh Ibnul-Jauzi dalam kitabnya, Talbis Iblis: 394-395

[3] Lihat Talbis Iblis: 450

[4] Lihat Talbis Iblis: 451

[5] Lihat Talbis Iblis: 392

[6] Lihat Syarhus-Sunnah: 50

[7] Lihat Majmu’ Fatawa: 35/140

[8] Lihat Bayan Talbis Jahmiyyah: 1/238

[9] Lihat Majmu’ Fatawa: 4/172

[10] Lihat Majmu Fatawa: 11/225
[11] Lihat Majmu Fatawa: 11/226

[12] Lihat Madarijus-Salikin: 2/475-476

[13] Lihat Madarijus-Salikin: 2/477

								
To top