Docstoc

KTI Kebidana

Document Sample
KTI Kebidana Powered By Docstoc
					HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN REMAJA PUTRI KELAS VII TENTANG
PERUBAHAN FISIK DENGAN SIKAP PADA MASA PUBERTAS DI SMPN 9
KABUPATEN JEMBER

BAB 1
PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang
Masa remaja merupakan masa ketika seorang anak mengalami perubahan fisik, psikis, dan
pematangan fungsi seksual. Remaja dalam perkembangannya, sering kali prihatin selama tahun-
tahun awal remaja. Salah satu sumber keprihatinan tersebut adalah perubahan bentuk tubuh yang
tidak sesuai dengan standar budaya yang berlaku sebagai akibat dari perkembangan seksual
sekunder yang di alami remaja. Bila penerimaan remaja putri rendah, maka remaja merasa
prihatin dan gelisah akan tubuhnya yang berubah dan merasa tidak puas dengan penampilan
dirinya. (www.remaja.com).


Dikatakan oleh Hurlock (1994), hanya sedikit remaja yang mengalami kateksis tubuh atau
merasa puas dengan tubuhnya. Remaja perlu waktu untuk menyesuaikan diri dengan perubahan
ini sehingga remaja mempunyai pengetahuan tentang perubahan yang terjadi pada tubuhnya,
bahwa perubahan itu bukanlah sebuah kelainan atau penyakit melainkan tahap pertumbuhan dan
perkembangan usia remaja. (Elizabeth.B,Hurlock,1994). Masa remaja identik dengan masa
pubertas, pubertas merupakan masa peralihan antara masa kanak-kanak dan masa dewasa. Masa
pubertas tiap anak terjadi dalam usia yang berbeda.Ada tiga yang mempengaruhinya, yakni
lingkungan, psikis, fisik. ‖semakin cepat rangsangan terjadi pada diri anak,masa pubertas
semakin cepat terjadi. Hal tersebut di ungkapkan Prof. Dr. dr Alex Pangkahila M.sc, Sp. And,
FSS, Seksolog dan Androlog dari fakultas Unud Denpasar.Rangsangan terbesar yang
mempengaruhinya berasal dari audiovisual (TV) maupun pengaruh lingkungan . (
http:tekomjar.kotangawi.com)
Pubertas pada wanita umumnya terjadi antara usia 9 sampai 12 tahun. Sedangkan pria pubertas
terjadi pada usia yang lebih tua. Ada juga yang mengatakan masa puber terjadi pada usia 10
sampai 13 tahun (Depkes RI,2000) (http://tekomjar.kotangawi.com). Perubahan yang terlihat
jelas pada anak perempuan saat memasuki pubertas pertama-tama adalah payudara, kemudian
bagian panggul dan paha akan berisi, diikuti dengan melebarnya bagian tubuh disekitar panggul
sebagai jalan kelahiran bayi.Setelah itu tumbuh rambut di bagian tubuh, seperti ketiak dan sekitar
vagina, pertambahan tinggi dan berat badan, pertumbuhan tulang dan otot, kematangan organ
seksual dan fungsi reproduksi sehingga mengalami menstruasi (Sarwono,2005).
Munculnya tanda–tanda pubertas seringkali menimbulkan gejala tersendiri bagi seorang remaja.
Tanggapan yang negatif tentang perubahan fisik pada remaja akan mengakibatkan berbagai
dampak di antaranya remaja putri merasa malu, tidak mau bergaul, merasa canggung dengan
penampilan yang baru. (Sheldon.H,Cherry,1999). Dari hasil prasurvey terhadap 15 siswa yang
berusia 11-13 tahun di SMP Institut Indonesia, peneliti melakukan wawancara mengenai
pengertian dan perubahan fisik pada saat pubertas dan didapatkan bahwa hampir semuanya
belum mengerti tentang pengertian dan perubahan fisik saat pubertas.
(www.rumahbelajarpsikologi.com)
WHO (1995) sekitar seperlima dari penduduk dunia adalah remaja berusia 10-19 tahun. Sekitar
900 juta berada di negara sedang berkembang. Data demografi di Amerika Serikat (1990)
menunjukkan jumlah remaja berumur 10-19 tahun. Sekitar 15 % populasi. Di Asia Pasifik
dimana penduduknya merupakan 60 % dari penduduk dunia, seperlimanya adalah remaja umur
10 – 19 tahun. Di Indonesia menurut Biro Pusat Statistik (1999) kelompok umur 10 – 19 tahun
adalah sekitar 22 % yang terdiri dari 50,9 % remaja laki-laki dan 49,1 % remaja
perempuan.(NancyP,2002).
Dari studi pendahuluan yang dilakukan di SMPN 9 Kabupaten Jember pada tanggal 22 Maret
2010, dari 20 siswi 13 (65%) diantaranya mengatakan bahwa tidak tahu apa yang terjadi pada
masa pubertas sehingga menurut mereka masih belum waktunya perubahan fisik terjadi di usia
mereka. Sedangkan 7 (35%) orang yang lain mengatakan bahwa mereka tahu tentang perubahan
apa saja yang terjadi pada masa pubertas seperti pinggul melebar, buah dada membesar,
tumbuhnya rambut pada daerah disekitar kemaluan.Dengan adanya perubahan tersebut maka
akan berpengaruh pada sikap mereka.
Dari fenomena diatas peneliti tertarik untuk mengetahui apakah ada hubungan antara
pengetahuan dengan sikap remaja putri kelas VII tentang perubahan fisik selama masa pubertas
di SMPN 9 Kabupaten Jember Tahun 2010. Peran guru sebagai pendidik sangat berperan penting
untuk mengatasi kekhawatiran para remaja tentang perubahan fisik selama masa pubertas bisa
diatasi dengan pengenalan sex atau pelajaran tentang sex education dan diskusi-diskusi di usia
remaja agar mereka lebih siap dalam menghadapi perubahan fisik yang terjadi pada dirinya
(susan . B, Bastable, 1997).
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka dapat dirumuskan masalah ‖ Adakah hubungan antara
pengetahuan dengan sikap remaja putri kelas VII tentang perubahan fisik pada masa pubertas di
SMPN 9 Kabupaten Jember Tahun 2010
1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan remaja putri kelas VII tentang perubahan fisik
pada masa pubertas dengan sikap remaja putri tentang perubahan fisik pada masa pubertas di
SMPN 9 Kabupaten Jember Tahun 2010
1.3.2 Tujuan Khusus
1. Mengidentifikasi pengetahuan remaja putri kelas VII tentang perubahan fisik pada masa
pubertas di SMPN 9 Kabupaten Jember Tahun 2010
2. Mengidentifikasi sikap remaja putri kelas VII tentang perubahan fisik pada masa pubertas di
SMPN 9 Kabupaten Jember Tahun 2010
3. Menganalisa hubungan tingkat pengetahuan remaja putri kelas VII tentang perubahan fisik
dengan sikap pada masa pubertas di SMPN 9 Kabupaten Jember Tahun 2010.
1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1 Bagi Responden
Diharapkan para remaja dapat lebih mengetahui perubahan fisik masa pubertas yang terjadi pada
dirinya sehingga para remaja dapat menerima perubahan fisik yang dialami.
1.4.2 Bagi Institusi Pendidikan
Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan masukan untuk penelitian selanjutnya dan
menambah koleksi perpustakaan dalam upaya peningkatan ilmu pengetahuan khususnya yang
berkaitan dengan remaja.
1.4.3 Bagi Tempat Penelitian
Untuk mengetahui tingkat pengetahuan siswa SMPN 9 Kabupaten Jember Tahun 2010,
khususnya para remaja putri tentang perubahan fisik selama masa pubertas.
1.4.4 Bagi Peneliti
Hasil penelitian diharapkan bisa menambah wawasan baru dalam menerapkan mata kuliah
metode penelitian. Dan masukan serta pertimbangan bagi peneliti untuk melakukan penelitian
selanjutnya.


BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Konsep dasar pengetahuan
2.1.1 Pengertian Pengetahuan
Menurut Notoatmodjo ( 2002 ), Pengetahuan adalah sejumlah fakta dan teori yang
memungkinkan seseorang untuk memecahkan masalah yang dihadapinya baik yang diperoleh
dari pengalaman langsung maupun pengalaman orang lain.
Menurut Notoatmodjo ( 2003 ), Pengetahuan adalah hasil tahu dari manusia yang sekedar
menjawab ‖What‖ misalnya apa air, apa manusia, apa alam dan sebagainya. Pengetahuan hanya
dapat menjawab pertanyaan apa sesuatu itu hasil tahu dari manusia yang sekedar menjawab
pertanyaan.
2.1.2 Tingkatan Pengetahuan
Menurut Notoatmodjo ( 2003 ) tingkatan pengetahuan mempunyai enam tingkatan yaitu :
1. Tahu (Know)
Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Kata kerja
untuk mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang dipelajari yaitu menyebutkan, menguraikan,
mengidentifikasi, menyatakan dan sebagainya. Atau dapat diartikan kemampuan mengingat
tentang suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya, termasuk diantaranya mengingat kembali
terhadap suatu yang spesifik dan seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah
diterima.
2. Memahami (Comprehention)
Memahami artinya sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang obyek
yang diketahui dan dimana dapat menginterprestasikan secara benar. Orang yang telah paham
terhadap objek atau materi terus dapat menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan,
meramalkan dan sebagainya terhadap suatu objek yang dipelajari. Dan dapat diartikan
kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat
menginteprestasikan materi secara benar. Harus dapat menjelaskan, menyebutkan,
menyimpulkan, meramalkan dan sebagainya.
3. Aplikasi (Application)
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada
situasi ataupun kondisi riil (sebenarnya).
Penerapan dapat diartikan sebagai penggunaan hukum, rumus, metode, prinsip dan sebagainya
dalam konteks atau situasi lain.
4. Analisis (Analysis)
Analisis adalah suatu kemampuan untuk menyatakan materi atau suatu objek kedalam
komponen-komponen tetapi masih di dalam struktur organisasi tersebut dan masih ada kaitannya
satu sama lain. Kemampuan analisis ini dapat dilihat dari penggunaan kata kerja, seperti dapat
menggambar (membuat bagan), membedakan, memisahkan, mengelompokkan dan sebagainya.
5. Sintesis (Syntesis)
Sintesis yang dimaksud menunjukkan pada suatu kemampuan untuk melaksanakan atau
menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu keseluruhan yang baru. Dengan kata lain sintesis
adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi yang ada. Misalnya
dapat menyusun, merencanakan, meringkaskan, menyesuaikan dan sebagainya terhadap suatu
teori atau rumusan yang telah ada.
6. Evaluasi (Evaluation)
Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap
suatu materi atau objek.
Penilaian-penilaian itu berdasarkan suatu kriteria yang ditentukan sendiri atau menggunakan
kriteria-kriteria yang telah ada.
Menurut Arikunto ( 2002 ) tingkat pengetahuan di bagi menjadi tiga yaitu :
1. Tingkat pengetahuan baik
Tingkat pengetahuan baik adalah tingkat pengetahuan dimana seseorang mampu mengetahui,
memahami, mengaplikasi, menganalisis, mensintesis dan mengevaluasi. Tingkat pengetahuan
dapat dikatakan baik jika seseorang mempunyai 76% - 100% pengetahuan. (Arikunto, 2002 )
2. Tingkat pengetahuan cukup
Tingkat pengetahuan cukup adalah tingkat pengetahuan dimana seseorang mengetahui,
memahami, tetapi kurang mengaplikasi, menganalisis, mensintesis dan mengevaluasi. Tingkat
pengetahuan dapat dikatakan sedang jika seseorang mempunyai 56% - 75% pengetahuan.
(Arikunto, 2002 )
3. Tingkat pengetahuan kurang
Tingkat pengetahuan kurang adalah tingkat pengetahuan dimana seseorang kurang mampu
mengetahui, memahami, mengaplikasi, menganalisis, mensintesis dan mengevaluasi. Tingkat
pengetahuan dapat dikatakan kurang jika seseorang mempunyai <56% pengetahuan. (Arikunto,
2002 )
2.1.3 Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan
a. Faktor internal pengetahuan meliputi :
1) Pengalaman
Pengalaman adalah keseluruhan atau totalitas pengamatan yang tersimpan dalam ingatan dan
digabungkan dengan suatu harapan akan masa depan sesuai dengan apa yang telah diamati pada
masa lampau. Pengalaman diperoleh dari orang lain atau diri sendiri, hal ini dilakukan dengan
cara mengulang kembali pengalaman yang diperoleh. ( Notoatmodjo, 2005 )
2) Usia
Usia adalah suatu ukuran yang menempatkan seseorang dalam urutan perkembangannya, dengan
bertambahnya usia seseorang semakin matang pula seseorang dalam berfikir, sehingga akan
lebih mudah memperoleh pengetahuan ( Notoatmodjo, 2005 )
3)Intelegensia
Pada prinsipnya mempengaruhi kemampuan, penyesuaian diri dan cara-cara pengambilan
keputusan. Individu yang berintelegensia tinggi akan banyak berpartisipasi ( Notoatmodjo, 2005
)
4)Jenis kelamin
Jenis kelamin, terutama berkaitan dengan perilaku model, bahwa individu melakukan modeling
sesuai dengan jenis seksnya. Dalam proses konseling, faktor modeling ini sangat penting dalam
upaya pembentukan tingkah laku baru ( Notoatmodjo, 2005 )
b.Faktor eksternal pengetahuan meliputi :
1)Sosial budaya
Kebudayaan adalah perilaku normal, kebiasaan, nilai-nilai dan penggunaan sumber didalam
suatu masyarakat akan menghasilkan pola hidup. Kebudayaan dapat mempengaruhi pengetahuan
seseorang karena pola hidup yang ada di masyarakat itu akan memberikan suatu gambaran
seseorang melakukan tindakan ( Notoatmodjo, 2003 )
2)Lingkungan
Lingkungan merupakan faktor yang paling dominan karena lingkungan manusia mengadakan
interaksi dalam proses kehidupannya baik dalam lingkungan fisik, psikologis sosial budaya,
dimana kondisi tersebut sangat dipengaruhi oleh perilaku individu, keluarga, kelompok, norma
adat istiadat yang berlaku di masyarakat. ( Nasrul Efendi, 2002 )
3)Informasi
Semakin banyak informasi yang diterima seseorang maka semakin banyak pula orang tersebut
memperoleh pengetahuan. Informasi adalah data yang telah diubah melalui proses pekerjaan
statistik yang secara potensial dapat menambah pengetahuan bagi peneliti atau pemakai (
Effendy, 1998 )
4)Pendidikan
Pendidikan adalah suatu sikap, usaha untuk memperoleh pengetahuan melalui pendidikan formal
maupun informal. Makin tinggi tingkat pendidikan seseorang makin mudah menerima informasi
sehingga makin banyak pula pengetahuan yang dimiliki, stimulus atau objek ( Notoatmodjo,
2003 )
5)Status sosial ekonomi
Berpengaruh terhadap tingkah laku individu yang berasal dari keluarga dengan status ekonomi
baik, dimungkinkan lebih memiliki sikap positif memandang diri dan masa depannya
dibandingkan dengan keluarga yang sosial ekonominya rendah ( Notoatmodjo, 2005 )
2.1.4 Cara memperoleh pengetahuan
1.Cara tradisional atau non ilmiah
Diperoleh untuk memperoleh kebenaran pengetahuan cara ini meliputi:
a. Cara coba salah (Trial and Error)
Cara paling tradisional yang digunakan manusia untuk memperoleh pengetahuan dalam waktu
yang cukup lama untuk memecahkan berbagai masalah dan bila kemungkinan itu tidak berhasil
maka dicoba kemungkinan yang lain sampai masalah tersebut dapat dipecahkan.
b. Cara kekuasaan atau otoritas
Yaitu pengetahuan yang diperoleh otoritas atau kepuasan baik tradisi, otoritas pemerintah,
agama, maupun ahli ilmu kebenarannya berdasarkan fakta atau berdasarkan penalaran sendiri.
Metode ini berpendapat bahwa pemegang otoritas seperti pemimpin pemerintah, tokoh agama,
maupun ahli ilmu pengetahuan pada prinsipnya mempunyai mekanisme yang sama di dalam
penemuan pengetahuan sehingga orang lain menerima pendapat yang dikemukakan oleh orang
yang mempunyai otoritas tanpa menguji terlebih dahulu atau membuktikan kebenarannya baik
berdasarkan fakta empiris maupun penalaran sendiri
c. Berdasarkan pengalaman pribadi
Pengalaman ini merupakan suatu cara untuk memperoleh kebenaran pengetahuan. Kemampuan
untuk menyimpulkan pengetahuan, aturan dan membuat prediksi berdasarkan observasi adalah
penting untuk pola penalaran manusia.
Upaya memperoleh pengetahuan dengan cara mengulang kembali pengalaman yang pernah
diperoleh dalam memecahkan permasalahan yang dihadapi masa lalu.
2. Cara modern atau cara ilmiah
Pendekatan yang paling tepat untuk materi suatu kebenaran karena didasari pada pengetahuan
yang terstruktur dan sistematis serta dapat mengumpulkan dan menganalisa data yang didasarkan
pada prinsip rehabilitas dan reabilitas. Perlu adanya kombinasi yang logis dengan mendekatkan
induktif maupun deduktif mampu menciptakan suatu pemecahan masalah lebih akurat dan tepat.
Cara baru atau modern dalam memperoleh pengetahuan lebih sistematis, logis dan ilmiah.(
Notoatmodjo, 2003 )
2.1.5 Pengukuran Pengetahuan
Menurut Notoatmodjo (2003) pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara dan
kuesioner yang menanyakan isi materi yang ingin diukur dari subjek penelitian atau responden.
Hal ini tersebut dapat diuraikan sebagai berikut :
a. Wawancara (Interview)
Wawancara adalah suatu metode yang dipergunakan untuk mengumpulkan data dimana peneliti
mendapatkan keterangan secara lisan dari seseorang sasaran penelitian (responden) atau
bercakap-cakap berhadapan muka dengan orang tersebut (face to face). Wawancara merupakan
pembantu utama dari metode observasi. Gejala-gejala sosial yang tidak dapat terlihat atau
diperoleh melalui observasi dapat digali melalui wawancara ( Notoatmodjo, 2003 ). Wawancara
adalah sebuah dialog yang dilakukan oleh pewawancara untuk memperoleh informasi dari
terwawancara. ( Arikunto, 2006 )
Wawancara bukanlah sekedar angka lisan saja, sebab dengan wawancara peneliti akan dapat
memperoleh kesan langsung dari responden, menilai kebenaran yang dikatakan oleh responden,
membaca mimik dari responden, memberikan penjelasan pernyataan tidak dimengerti oleh
responden, memancing jawaban bila jawaban macet.
Beberapa jenis wawancara, meliputi :
Wawancara tidak terpimpin (non directive or unguided interview), wawancara terpimpin dan
wawancara bebas terpimpin. Wawancara tidak terpimpin di sini diartikan tidak ada pokok
persoalan yang menjadi fokus dalam wawancara tersebut. Sehingga dalam wawancara ini
pertanyaan-pertanyaan yang dikemukakan itu tidak sistematis, melompat-lompat dari atau
peristiwa atau topik ke topik atau peristiwa yang lain tanpa berkaitan. Interview ini hanya cocok
sebagai suatu teknik pengumpulan data guna memperoleh data-data khusus yang mendalam,
yang tidak dapat diperoleh dengan wawancara terpimpin ( Notoatmodjo, 2003 )
Wawancara terpimpin (structured or interview), interview jenis ini dilakukan berdasarkan
pedoman-pedoman berupa kuesioner yang telah disiapkan masak-masak sebelumnya.
Pertanyaan-pertanyaan di dalam kuesioner tersebut disusun sedemikian rupa sehingga mencakup
variabel-variabel yang berkaitan dengan hipotesisnya. ( Notoatmodjo, 2003 )
Wawancara bebas terpimpin merupakan kombinasi dari wawancara tidak terpimpin dan
wawancara terpimpin. Meskipun terdapat unsur kebebasan, tetapi ada pengaruh pembicaraan
secara tegas dan mengarah. Jadi wawancara jenis ini mempunyai ciri fleksibilitas (keluwesan)
dan arah yang jelas. Oleh karena itu sering dipergunakan untuk menggali gejala-gejala
kehidupan psychis antropologis, misalnya latar belakang suatu keyakinan, motivasi dari suatu
perbuatan, harapan-harapan, dan unsur-unsur terpendam lainnya yang bersifat sangat pribadi (
Notoatmodjo, 2003 )
b. Kuesioner
Kuesioner merupakan daftar pertanyaan yang disusun secara tertulis dalam rangka pengumpulan
data suatu penelitian. Kuesioner merupakan laporan diri pribadi, pengetahuan, pendapat, sikap
maupun keyakinan responden dari adanya fakta-fakta yang terjadi dalam masyarakat (misalnya
terhadap program kesehatan, perilaku kesehatan, persepsi masalah kesehatan) (Nursalam, 2005).
Kuesioner adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari
responden dalam arti laporan tentang pribadinya. ( Arikunto, 2002 ).
Kuesioner ini menjadi sangat penting apabila peneliti ingin meneliti pendapat atau sikap umum
dalam suatu masyarakat. Melalui kuesioner, peneliti dapat mengumpulkan data yang diperlukan
dari bermacam-macam responden dengan waktu yang cukup pendek dan dana yang kecil.
Namun kuesioner mempunyai sifat yang kaku dan kuesioner kadang-kadang mengungkap
jawaban yang dipengaruhi keinginan pribadi, unsur-unsur yang tidak perlu dan yang dikontruksi
seperti logis dan rasional. (Nursalam, 2005 )
2.2 Konsep Dasar Sikap
2.2.1 Pengertian
Sikap merupakan relasi atau respon yang masih tertutup dari seseorang terhadap suatu stimulus
atau objek ( Notoatmodjo S. 1997 )
Sikap merupakan organisasi pendapat, keyakinan seseorang mengenai objek atau situasi yang
relatif ajeg, yang disertai adanya perasaan tertentu, dan memberikan dasar pada orang tersebut
untuk membuat respon atau berperilaku dalam cara tertentu yang dipilihnya ( Bimo Walgito,
2001 )
Sikap adalah kesiapan merespons yang sifatnya positif atau negatif terhadap suatu objek atau
situasi secara konsiten ( Abu Ahmadi, 1999 )
2.2.2 Struktur Sikap
Menurut Azwar Saifuddin ( 1995 ) yang dikutip oleh Sunaryo ( 2004 ) bahwa sikap memiliki tiga
komponen yang membentuk stuktur sikap, yang ketiganya saling menunjang, yaitu komponen
kognitif, afektif, dan konatif.
1. Komponen kognitif ( cognitive )
Dapat disebut juga komponen perseptual, yang berisi kepercayaan individu. Kepercayaan
tersebut berhubungan dengan hal-hal bagaimana individu mempersepsi terhadap objek sikap,
dengan apa yang dilihat dan diketahui ( pengetahuan ), pandangan, keyakinan, pikiran,
pengalaman pribadi, kebutuhan emosional, dan informasi dari orang lain.
2.Komponen Afektif ( komponen emosional )
Komponen ini menunjuk pada dimensi emosional subjektif individu, terhadap objek sikap, baik
yang positif ( rasa senang ) maupun negatif ( rasa tidak senang ).
Reaksi emosional banyak dipengaruhi oleh apa yang kita percayai sebagai sesuatu yang benar
terhadap objek sikap tersebut.
3. Komponen Konatif
Disebut juga komponen perilaku, yaitu komponen sikap yang berkaitan dengan predisposisi atau
kecenderungan bertindak terhadap objek sikap yang dihadapinya. ( Sunaryo, 2004 )
2.2.3Fungsi Sikap
Menurut Attkinson, R.L, dkk., dalam bukunya Pengantar Psikologi Jilid 2, edisi 11, sikap
memiliki 5 fungsi berikut :
1. Fungsi instrumental
Fungsi sikap ini dikaitkan dengan alasan praktis atau manfaat, dan menggambarkan keadaan
keinginan.
Sebagaimana kita maklumi bahwa untuk mencapai suatu tujuan, diperlukan sarana yang disebut
sikap. Apabila objek sikap dapat membantu individu mencapai tujuan, individu akan bersikap
positif terhadap objek sikap tersebut atau sebaliknya.
2. Fungsi pertahanan ego
Sikap ini diambil individu dalam rangka melindungi diri dari kecemasan atau ancaman harga
dirinya.
3. Fungsi nilai ekspresi
Sikap ini mengekspresikan nilai yang ada dalam diri individu. Sistem nilai apa yang ada pada
diri individu, dapat dilihat dari sikap yang diambil oleh individu yang bersangkutan terhadap
nilai tertentu.
4.Fungsi pengetahuan
Sikap ini membantu individu untuk memahami dunia, yang membawa keteraturan terhadap
bermacam-macam informasi yang perlu diasimilasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Setiap individu memiliki motif untuk ingin tahu, ingin mengerti, dan ingin banyak mendapat
pengalaman dan pengetahuan.
5.Fungsi penyesuaian sosial
Sikap ini membantu individu merasa menjadi bagian dari masyarakat. Dalam hal ini, sikap yang
diambil individu tersebut akan dapat menyesuaikan dengan lingkungannya. ( Sunaryo, 2004 )
2.2.4 Tingkatan Sikap
Sikap memiliki 4 tingkat, dari yang terendah hingga yang tertinggi, yaitu :
1. Menerima ( receiving )
Pada tingkat ini individu ingin dan memperhatikan rangsangan (stimulus) yang diberikan.
2. Merespons ( responding )
Pada tingkat ini, sikap individu dapat memberikan jawaban apabila ditanya, mengerjakan dan
menyelesaikan tugas yang diberikan.
3. Menghargai ( valuing )
Pada tingkat ini, sikap individu mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan
suatu masalah.
4. Bertanggung jawab ( reponsible )
Pada tingkat ini, sikap individu akan bertanggung jawab dan siap menanggung segala risiko atas
segala sesuatu yang telah dipilihnya.
2.2.5 Ciri-ciri Sikap
a. Sikap tidak dibawa sejak lahir, tetapi dipelajari ( learnability ) dan dibentuk berdasarkan
pengalaman dan latihan sepanjang perkembangan individu dalam hubungan dengan objek.
b. Sikap dapat berubah-ubah dalam situasi yang memenuhi syarat untuk itu sehingga dapat
dipelajari.
c. Sikap tidak berdiri sendiri, tetapi selalu berhubungan dengan objek sikap.
d. Sikap dapat tertuju pada satu objek ataupun dapat tertuju pada sekumpulan / banyak objek.
e. Sikap dapat berlangsung lama atau sebentar.
f. Sikap mengandung faktor perasaan dan motivasi sehingga membedakan dengan pengetahuan. (
Sunaryo, 2004 )
2.2.6 Pembentukan dan Pengubahan Sikap
Faktor yang mempengaruhi pembentukan dan pengubahan sikap
1. Faktor Internal
Faktor internal berasal dari dalam diri individu. Dalam hal ini individu menerima, mengolah, dan
memilih segala sesuatu yang datang dari luar, serta menentukan mana yang akan diterima dan
mana yang tidak. Hal-hal yang diterima atau tidak berkaitan erat dengan apa yang ada dalam diri
individu. Oleh karena itu, faktor individu merupakan faktor penentu pembentukan sikap.
Faktor intern ini menyangkut motif dan sikap yang bekerja dalam diri individu pada saat itu,
serta yang mengarahkan minat dan perhatian ( faktor psikologis ), juga perasaan sakit, lapar, dan
haus ( faktor fisiologis ).
2. Faktor Eksternal
Faktor ini berasal dari luar individu, berupa stimulus untuk membentuk dan mengubah sikap.
Stimulus tersebut dapat bersifat langsung, misalnya individu dengan kelompok. Dapat juga
bersifat tidak langsung, yaitu melalui perantara, seperti : alat komunikasi dan media masa baik
elektronik maupun non elektronik. ( Sunaryo, 2004 )
Menurut Sarlito Wirawan Sarwono ( 2000 ), ada beberapa cara untuk membentuk atau mengubah
sikap individu, yaitu :
1. Adopsi
Adalah suatu cara pembentukan dan perubahan sikap melalui kejadian yang terjadi berulang dan
terus-menerus sehingga lama kelamaan secara bertahap hal tersebut akan diserap oleh individu,
dan akan mempengaruhi pembentukan serta perubahan terhadap sikap individu.
2. Diferensiasi
Deferensiasi adalah suatu cara pembentukan dan perubahan sikap karena sudah dimilikinya
pengetahuan, pengalaman, intelegensi, dan bertambahnya umur. Oleh karena itu, hal-hal yang
tadinya dianggap sejenis, sekarang dipandang tersendiri dan lepas dari jenisnya sehingga
membentuk sikap tersendiri.
3. Integrasi
Integrasi adalah suatu cara pembentukan dan perubahan sikap yang terjadi secara tahap demi
tahap, diawali dari macam-macam pengetahuan dan pengalaman yang berhubungan dengan
objek sikap tertentu sehingga pada akhirnya akan terbentuk sikap terhadap objek tersebut.
4. Trauma
Trauma adalah suatu cara pembentukan dan perubahan sikap melalui suatu kejadian secara tiba-
tiba dan mengejutkan sehingga meninggalkan kesan mendalam dalam diri individu tersebut.
Kejadian tersebut akan membentuk atau mengubah sikap individu terhadap kejadian sejenis.
5. Generalisasi
Generalisasi adalah suatu cara pembentukan dan perubahan sikap karena pengalaman traumatik
pada diri individu terhadap hal tertentu, dapat menimbulkan sikap negatif terhadap semua hal
yang sejenis atau sebaliknya.
2.2.7 Pengukuran Sikap
Pengukuran sikap menggunakan skala Likert. Skala Likert digunakan untuk mengukur sikap,
pendapat dan persepsi seseorang tentang fenomena sosial.
a. Jawaban setiap item yang menggunakan skala Likert mempunyai tingkatan dari sangat positif
sampai dengan sangat negatif.
b. Setiap item diberi sejumlah pilihan respon yang sifatnya tertutup.
c. Banyaknya pilihan respon dalam suatu penelitian sangat beragam. Namun yang paling banyak
digunakan adalah 5 pilihan respon. Jika respon terlalu sedikit maka hasilnya terlalu kasar, namun
sebaliknya jika respon terlalu banyak responden akan sulit membedakan antara pilihan respon
yang satu dengan pilihan respon yang lain.
d. Tingkat pengukuran data dalam skala Likert adalah ordinal
Rensis Likert telah telah mengembangkan sebuah skala untuk mengukur sikap masyarakat yang
sekarang terkenal dengan nama skala likert. Skala Likert menggunakan ukuran ordinal, hanya
dapat membuat rangking tetapi tidak dapat diketahui berapa kali satu responden lebih baik atau
lebih buruk dari responden lainnya di dalam skala. Prosedur dalam membuat skala Likert adalah
sebagai berikut :
1. Peneliti mengumpulkan item-item yang cukup banyak, yang relevan dengan masalah yang
diteliti yang terdiri dari item yang cukup jelas disukai dan yang tidak disukai.
2. Kemudian item-item tersebut dicoba kepada sekelompok responden yang cukup representative
dari populasi yang ingin diteliti.
3. Responden diminta untuk mencek tiap item apakah ia menyenanginya (+) atau tidak
meyukainya (-). Responsi tersebut dikumpulkan dan jawaban yang memberikan indikasi
menyenangi diberi skor tertinggi. Tidak ada masalah misalnya untuk memberikan angka lima
untuk yang tinggi dan skor satu untuk yang terendah atau sebaliknya. Yang penting adalah
konsistensi dari arah sikap yang diperlihatkan. Demikian juga apakah jawaban ―setuju‖ atau
―tidak seruju‖ , ―disenangi‖ atau ―tidak disenangi‖, tergantung dari isi pertanyaan dan isi dari
item-item yang disusun.
4. Total skor dari masing-masing individu adalah penjumlahan dari skor masing-masing item
dari individu tersebut.
5. Responsi dianalisis untuk mengetahui item – item mana yang sangat nyata batasan antara skor
tinggi dan skor rendah dalam skala total.
1) Pernyataan Positif
SS = 5
S=4
RR = 3
TS = 2
STS = 1
2) Pernyataan Negatif
SS = 1
S=2
RR = 3
TS = 4
STS = 5
Setelah didapatkan hasil dari pengolahan data, selanjutnya untuk mengetahui sikap responden
yang positif atau negatif dengan skor T, yaitu :
X-X
T = 50 + 10 [ s ]
Dimana untuk menentukan kategori responden dicari median nilai T (Mdt) dalam kelompok,
maka didapatkan :
a. sikap responden favuorable (positif) bila nilai T>Mdt
b. sikap responden unfavuorable (negatif) bila nilai T
kemudian diperoleh skor skala dengan cara menjumlahkan skor yang diperoleh responden pada
keseluruhan pernyataan yang ada.
Hasil angka diolah secara tabulasi didapatkan :
X :skor responden pada skala sikap yang hendak diubah menjadi skor T
s : deviasi standart skor kelompok
X : nilai rata – rata kelompok
T : skor sikap responden ( Azwar, 2003 : 23)
2.3 Remaja
2.3.1 Pengertian
Ada beberapa definisi dari masa remaja, yaitu sebagai berikut :
Menurut Zulkifli ( 2002 )Remaja adalah peralihan dari masa anak ke masa dewasa yaitu saat-saat
ketika anak tidak mau lagi diperlakukan sebagai anak-anak tetapi dari pertumbuhan fisiknya ia
belum dikatakan dewasa.
Menurut Yusuf ( 2002 )Remaja adalah segmen perkembangan individu yang sangat penting yang
diawali dengan matangnya organ-organ reproduksi ( seksual ) sehingga mampu bereproduksi.
2.3.2 Periode masa remaja
1. Masa remaja sebagai periode yang penting
Ada beberapa periode yang lebih penting daripada lainnya, karena akibatnya yang langsung
terhadap sikap dan perilaku dan ada lagi yang penting karena jangka panjangnya. Pada periode
remaja baik akibat langsung maupun akibat dan jangka panjang. Ada periode penting karena
akibat fisik dan ada lagi karena akibat psikologis. Perubahan fisik yang cepat terutama pada awal
masa remaja. Semua perkembangan itu menimbulkan perlunya penyesuaian mental dan perlunya
membentuk sikap, nilai dan minat baru.
2. Masa remaja sebagai periode peralihan
Peralihan tidak berarti terputus dengan atau perubahan yang telah terjadi sebelumnya, melainkan
lebih-lebih semua peralihan dari satu tahap perkembangan ke tahap berikutnya. Bila anak-anak
beralih dari masa kanak-kanak ke masa dewasa, anak-anak harus meninggalkan segala sesuatu
yang bersifat kekanak-kanakan dan juga harus mempelajari pola perilaku dan sikap baru untuk
mengganti perilaku dan sikap yang sudah ditinggalkan. Dalam setiap periode peralihan, status
individu tidaklah jelas dan terdapat keraguan akan peran yang harus dilakukan. Pada masa ini
remaja bukan lagi seorang anak dan juga bukan orang dewasa.
3. Masa remaja sebagai periode perubahan
Segala awal masa remaja, ketika perubahan fisik terjadi dengan pesat, perubahan perilaku yang
sama yang hampir bersifat universal. Pertama meningginya emosi yang intensitasnya bergantung
pada tingkat perubahan fisik dan psikologis yang terjadi. Kedua, perubahan tubuh minat dan
peran yang diharapkan oleh kelompok sosial untuk diperankan untuk menimbulkan masalah
baru. Ketiga, dengan kehendaknya minat dan pola perilaku maka nilai-nilai juga berubah. Apa
yang pada masa kanak-kanak dianggap penting, sekarang setelah hampir dewasa tidak penting
lagi. Sekarang mereka mengerti bahwa kualitas lebih penting daripada kuantitas. Keempat,
sebagian besar remaja bersikap ambivalen terhadap setiap perubahan. Mereka menginginkan dan
menuntut kebebasan, tetapi mereka sering takut bertanggung jawab akan akibatnya dan
meragukan kemampuan mereka untuk dapat mengatasi tanggung jawab tersebut.
4. Masa remaja sebagai usia bermasalah
Setiap periode mempunyai masalahnya sendiri-sendiri, namun masalah masa remaja sering
menjadi masalah yang sulit diatasi. Terdapat dua alasan bagi kesulitan tersebut. Pertama,
sepanjang masa kanak-kanak masih anak-anak sebagian diselesaikan oleh orang tua dan guru-
guru, sehingga kebanyakan remaja tidak dapat pengalaman dalam mengatasi masalah. Kedua,
karena para remaja merasa telah mandiri, sehingga mereka ingin mengatasi masalahnya sendiri,
menolak bantuan orang tua dan guru.
5. Masa remaja sebagai masa mencari identitas
Pada tahun-tahun awal masa remaja, penyesuaian diri dengan kelompok masih tetap penting.
Lambat laun mereka mulai mendambakan identitas diri dan tidak puas lagi dengan menjadi sama
dengan teman-teman dalam segala hal, seperti sebelumnya. Identitas diri yang dicari remaja
berupa usaha untuk menjelaskan siapa dirinya, apa peranannya dalam masyarakat.
6. Masa remaja sebagai usia yang menimbulkan ketakutan
Banyak anggapan popular tentang remaja yang mempunyai arti yang bernilai dan sayangnya,
banyak diantaranya yang bersifat negatif. Anggapan stereotip budaya remaja adalah anak-anak
yang tidak rapi, yang tidak dapat dipercaya dan cenderung merusak. Menyebabkan orang dewasa
harus membimbing dan mengawasi kehidupan remaja muda takut bertanggung jawab dan
bersikap tidak simpatik terhadap perilaku remaja yang netral.
7. Masa remaja sebagai masa yang tidak realistik
Remaja cenderung memandang kehidupan melalui kaca berwarna merah jambu. Ia melihat
dirinya sendiri dan orang lain sebagaimana yang ia inginkan dan bukan sebagaimana adanya,
terlebih dalam hal cita-cita. Cita yang tidak realistik ini, tidak hanya bagi dirinya sendiri tetapi
juga bagi keluarga dan teman-teman, semakin tidak realistik cita-citanya semakin ia menjadi
marah. Remaja akan sakit hati dan kecewa apabila orang lain mengecewakannya / kalau ia tidak
berhasil mencapai tujuan yang diterapkannya sendiri.
8. Masa remaja sebagai ambang dewasa
Dengan semakin mendekatnya usia kematangan yang sah, para remaja menjadi gelisah.
Berpakaian dan bertindak seperti orang dewasa ternyata belumlah cukup. Oleh karena itu remaja
mulai memusatkan diri pada perilaku yang dihubungkan dengan status dewasa, yaitu merokok,
minum-minuman keras, menggunakan obat-obatan dan terlibat dalam perubahan seks.
2.3.3 Tahap masa remaja
Menurut FKUI ( 2002 )masa remaja yaitu usia 10 – 19 tahun, yang dibagi menjadi 3 tahap yaitu :
1. Masa remaja awal atau puber ( 10 – 12 tahun )
2. Masa remaja tengah ( 13 – 15 tahun )
3. Masa remaja akhir ( 16 – 19 tahun )
Menurut Depkes RI ( 2000 ) masa remaja dibedakan dalam :
1. Masa remaja awal atau puber ( 10 – 13 tahun )
2. Masa remaja tengah ( 14 – 16 tahun )
3. Masa remaja akhir ( 17 – 19 tahun )
2.4 Pubertas
2.4.1 Pengertian
Pubertas adalah suatu bagian yang penting dari masa remaja dimana lebih ditekankan adalah
proses biologis yang pada akhirnya mengarah kepada kemampuan bereproduksi ( Narendra,
2002 ).
2.4.2 Faktor-faktor yang mempengaruhi Pubertas
a. Genetik
Program dasar genetiknya sudah tertanam sejak awal dalam sifat dasar dari suatu spesies.
b. Hormon
Estrogen adalah jenis utama hormon perempuan, sedangkan estradiol adalah jenis estrogen yang
berperan penting pada perkembangan pubertas perempuan. Dengan meningkatnya kadar
estradiol, terjadilah perkembangan payudara, rahim dan perubahan tulang pada kerangka tubuh.
c. Massa Tubuh
Menarche terjadi relatif ajeg saat anak perempuan mencapai berat tubuh tertentu. Berat badan
sekitar 103 sampai 109 pon dapat mencetuskan menarche dan akhir dari lonjakan pertumbuhan
pubertas. Agar menarche dapat dimulai dan berlanjut 17 % berat badan remaja harus terdiri dari
lemak ( www.yahoo.com diakses pada tanggal 2 Juni 2009 )
2.4.3 Masa – masa Pubertas
1. Masa puber adalah periode tumpang tindih
Masa puber dianggap sebagai tumpang tindih karena mencakup tahun-tahun akhir masa kanak-
kanak dan tahun-tahun awal masa remaja.
2. Masa puber adalah periode yang singkat
Dibandingkan dengan banyaknya perubahan yang terjadi di dalam maupun diluar tubuh, masa
puber relatif merupakan periode singkat, sekitar dua sampai empat tahun.
3. Masa puber dibagi dalam tahap-tahap
Meskipun masa puber relatif merupakan periode yang singkat dalam rentang waktu yaitu tahap
prapuber, tahap puber dan tahap pacsa puber.
4. Masa puber merupakan masa pertumbuhan yang pesat
Masa puber / pubertas adalah satu dari 2 periode dalam rentang kehidupan yang ditandai oleh
pertumbuhan yang pesat dan perubahan yang mencolok dalam proporsi tubuh. Pesatnya
pertumbuhan dan perkembangannya yang terjadi selama masa puber pada umumnya disebut
sebagai ― pubertas tumbuh pesat ‖ karena agak mendahului / terjadi bersamaan dengan
perubahan-perubahan masa puber lainnya.
5. Masa puber merupakan fase negatif
Istilah fase menunjukkan periode yang berlogis singkat ; negatif berarti bahwa individu
mengambil sikap ― anti ‖ terhadap kehidupan atau kelihatannya kehilangan sifat-sifat baik yang
sebelumnya sudah berkembang. Terdapat bukti bahwa sikap dan perilaku negatif ini akan
berakhir bila individu secara seksual menjadi matang.
2.4.4 Akibat perubahan pada masa puber pada sikap dan perilaku
1. Ingin menyendiri
Kalau perubahan pada masa puber mulai terjadi, anak-anak biasanya menarik diri dari teman-
teman dan dari berbagai kegiatan keluarga dan sehingga bertengkar dengan teman-teman dan
dengan anggota keluarga. Gejala menarik diri ini mencakup ketidakinginan berkomunikasi
dengan orang-orang lain.
2. Bosan
Anak puber bosan dengan permainan yang sebelumnya amat digemari, tugas-tugas sekolah,
kegiatan-kegiatan sosial dan kehidupan pada umumnya. Akibatnya anak sedikit kerja sehingga
prestasinya di berbagai bidang menurun.
3. Inkoordinasi
Pertumbuhan pesat dan tidak seimbang mempengaruhi pola koordinasi gerakan dan anak akan
merasa kikuk dan janggal selama beberapa waktu setelah pertumbuhan melambat, koordinasi
akan membaik secara bertahap.
4. Antagonisme sosial
Anak puber sering kali tidak mau bekerja sama, sering membantah dan menentang pemusuhan
terbuka antara dua seks yang berlainan diungkapkan dalam kritik, dan komentar-komentar yang
merendahkan.
5. Emosi yang meninggi
Kemurungan, merajuk, ledakan marah dan kecenderungan untuk menangis karena hasutan yang
sangat kecil merupakan ciri-ciri bagian awal masa puber. Pada masa ini anak merasa khawatir,
gelisah dan cepat marah. Sedih, mudah marah dan suasana hati yang negatif segera sering terjadi
selama masa prahaid dan awal periode haid.
6. Hilangnya kepercayaan diri
Anak remaja yang tadinya sangat yakin pada diri sendiri, sekarang menjadi kurang percaya diri
dan takut akan kegagalan karena daya tahan fisik menurun dan karena kritik yang bertubi-tubi
datang dari orang tua dan teman-temannya.
7. Terlalu sederhana
Perubahan tubuh yang terjadi sebelum masa puber menyebabkan anak menjadi sangat sederhana
yang dialaminya dan memberi komentar yang buruk.
2.5 Perubahan Fisik Pada Masa Pubertas
2.5.1 Pengertian
Perubahan fisik adalah terjadinya perubahan secara biologis yang ditandai dengan kematangan
organ seks primer maupun organ seks sekunder yang dipengaruhi oleh kematangan hormon
seksual ( Dariyo, 2004 ).
2.5.2 Perubahan Fisik yang Terjadi Pada Remaja
1. Menurut Indisari ( 2004 ) perubahan fisik yang terjadi pada remaja yaitu :
a) Pinggul melebar / membesar
Pinggul terdiri dari dua bagian, bagian keras yang dibentuk tulang dan bagian lunak yang
dibentuk oleh otot-otot dan ligamen. Pinggul yang melebar atau membesar tidak mempunyai arti
penting dalam ilmu kebidanan. Lebarnya pinggul dapat menambah keindahan dan kecantikan.
b) Payudara mulai membesar
Pertumbuhan buah dada juga bertahap. Mula-mula pucuk buah dadalah yang berkembang,
kemudian diikuti dengan penggelapan warna sekitar puting susu, dan pada tahap terakhir
jaringan buah dada sendirilah yang semakin berkembang terus. Selama tahap-tahap pertumbuhan
ini buah dada kadang terasa lunak dan sakit.
c) Timbulnya rambut di daerah kemaluan dan ketiak
Fungsi rambut disekitar alat kelamin adalah untuk menjaga kelembapan disekitar vagina agar
suhunya relatif stabil.
2. Menurut Cherry ( 1999 ) perubahan fisik pada remaja adalah :
a) Timbulnya timbunan lemak di tempat-tempat tertentu selama masa pubertas. Terjadi
perubahan jumlah jaringan lemak tubuh baik pada anak laki-laki maupun perempuan. Jaringan
lemak subkutan di daerah anggota gerak ( yang diukur sebagai tebal lemak subkutan di triceps,
biceps, dan paha ) terus bertambah tetapi dengan kecepatan yang lebih lambat pada tahun
sebelum terjadi Peak Height Velocity
( PHV ) atau kecepatan pertumbuhan maksimal.
b) Timbulnya rambut di daerah kemaluan dan ketiak
c) Bibir dari alat kelamin luar semakin berkembang
Bibir kelamin luar atau labia berada di bagian luar vagina. Ada yang disebut bibir besar ( labia
mayora ) dan ada yang disebut bibir kecil
( labia minora ). Bibir besar adalah bagian yang paling luar yang biasanya tumbuhi bulu, bibir
kecil terletak dibelakang bibir besar dan banyak mengandung syaraf pembuluh darah.
d) Rahim semakin membesar
Rahim atau uterus yaitu tempat calon bayi dibesarkan. Setiap bulan rahim melapisi dinding
rahim dengan lapisan khusus untuk menerima ovum yang telah dibuahi oleh sperma. Bila terjadi
kehamilan maka lapisan tersebut akan runtuh dalam bentuk darah haid.
e) Payudara mulai membesar
f) Perubahan dalam tinggi dan barat menurut ( Zigler dan Stevenson, 1993). Tinggi rata-rata anak
perempuan pada usia 12 Tahun adalah sekitar 59 atau 60 inci. Tetapi, pada usia 18 tahun tinggi
rata-rata remaja perempuan hanya 64 inci. Tingkat pertumbuhan tertinggi terjadi pada usia
sekitar 11 atau 12 untuk anak perempuan. Dalam tahun itu, tinggi kebanyakan anak perempuan
bertambah sekitar 3 inci. Menurut (Seifert dan Hoffnung, 1994), Tinggi rata-rata anak
perempuan pada saat ia memulai percepatan pertumbuhan adalah sekitar 54 atau 55 inci,
sedangkan tinggi rata-rata anak laki-laki adalah sekitaar 59 atau 60 inci. Karena penambahan
tinggi anak laki-laki dan anak perempuan selama masa remaja sekitar 9 atau 10 inci dan setelah
itu pertumbuhan relatif lebih sedikit, maka perempuan pada akhirnya lebih pendek di banding
rata-rata pria.
Percepatan pertumbuhan badan juga terjadi dalam penambahan berat badan, yakni sekitar 10 kg
bagi anak-anak perempuan (Malina 1990) meskipun berat badan juga mengalami peningkatan
selama masa remaja namun ia lebih mudah dipengaruhi, seperti melalui diet, latihan, dan gaya
hidup umumnya. Oleh karena itu, perubahan berat lebih sedikit dapat diramalkan dibanding
dengan tinggi.
2.5.3 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perubahan Fisik Pada Remaja
1. Gen
Perubahan seseorang ditentukan oleh faktor keturunan. Secara mudah dikatakan bahwa seorang
anak akan besar dan tinggi bila ayah dan ibunya berpostur tubuh besar dan tinggi.
2. Hormonal
Perkembangan hormon mempengaruhi pada pertumbuhan fisik seperti peristiwa matangnya alat
reproduksi yang diatur oleh hormon estrogen untuk anak perempuan serta hormon progesteron
untuk anak laki-laki.
2.6 Kerangka Konseptual
Kerangka konsep penelitian pada dasarnya adalah kerangka hubungan antara konsep-konsep
yang ingin atau diukur melalui penelitian-penelitian yang dilakukan ( Notoatmodjo, 2003)
2.7 Hipotesa
Hipotesis di dalam suatu penelitian berarti penelitian berarti jawaban sementara penelitian,
patokan duga atau dalil sementara yang kebenarannya akan dibuktikan dalam penelitian tersebut
( Notoatmodjo, 2003 ).
Hipotesis : Ada hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan remaja putri kelas VII
tentang perubahan fisik pada masa pubertas dengan sikap remaja putri tentang perubahan fisik
pada masa pubertas.


BAB 3
METODE PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode Survey Analitik yaitu penelitian yang mencoba menggali
bagaimana dan mengapa fenomena ini terjadi. Kemudian melakukan analisa dinamika korelasi
antar fenomena.
( Notoatmodjo, 2002 ).
Pendekatan yang digunakan adalah Cross Sectional yaitu suatu penyajian data pada waktu yang
sama dan satu kali pengumpulan data.
( Arikunto, 2006 )
3.2 Besar Populasi Sample dan Tehnik Sampling
3.2.1 Populasi
Populasi adalah keseluruhan subyek atau obyek dengan karakteristik tertentu yang akan diteliti. (
Alimul, 2002 )
Populasi adalah keseluruhan dari suatu variabel yang menyangkut masalah yang diteliti. (
Nursalam, 2003 )
Populasi dalam penelitian ini yaitu remaja putri kelas VII di SMPN 9 Kabupaten Jember Tahun
2010 sebanyak 108 siswa.
3.2.2 Sampel
Sampel adalah sebagian populasi yang akan diteliti atau sebagian jumlah dari karakteristik yang
dimiliki oleh populasi pada penelitian ini. ( Alimul, 2003 ).
Sampel di ambil dari populasi remaja putri kelas VII di SMPN 9 Kabupaten Jember Tahun 2010.
n=
Keterangan :
N = Jumlah populasi
n = Ukuran Sampel
d = tingkat signifikan / tingkat kepercayaan / ketepatan yang diinginkan
( Nursalam, 2003 )
Berdasarkan perhitungan rumus diatas diketahui jumlah sampel = 85
3.2.3 Tehnik Sampling
Sampling adalah suatu proses dalam menyeleksi populasi untuk dapat mewakili populasi. Teknik
sampling merupakan cara-cara yang ditempuh dalam pengambilan sampel agar memperoleh
sampel yang benar-benar sesuai dengan keseluruhan subjek penelitian ( Nursalam, 2003 )
Menurut Notoatmodjo ( 2003 ) teknik sampling adalah cara atau teknik-teknik tertentu yang
digunakan untuk mengambil sampel sehingga mewakili populasinya.
Pada penelitian ini menggunakan teknik Simple Random Sampling yaitu remaja putri kelas VII
di SMPN 9 Kabupaten Jember Tahun 2010 yang dipilih secara acak.
3.3 Rancangan Penelitian
Rancangan penelitian adalah sesuatu yang vital dalam penelitian yang memungkinkan,
memaksimalkan suatu control beberapa faktor yang bisa mempengaruhi validitas suatu hasil.
Rancangan penelitian sebagai petunjuk peneliti untuk mencapai suatu atau menjawab suatu
pertanyaan. Rancangan penelitian yang digunakan ini adalah Cross Sectional.
3.4 Variable Penelitian
3.4.1 Variabel Independen
Menurut Notoatmodjo ( 2005 ) variabel independen adalah variabel yang bebas, sebab dan dapat
mempengaruhi. Adapun variabel bebas pada penelitian ini adalah pengetahuan remaja kelas VII
di SMPN 9 Jember Tahun 2010.
3.4.2 Variabel Dependen
Menurut Notoatmodjo ( 2005 ) variabel dependen adalah variabel yang tergantung, akibat,
terpengaruh. Variabel terkait dalam penelitian adalah sikap remaja putri kelas VII di SMPN 9
Jember Tahun 2010.
3.5 Definisi Operasional
Definisi operasional adalah definisi berdasarkan karakteristik yang di amati dari sesuatu yang di
definisikan tersebut. Karakteristik yang dapat diamati atau diukur merupakan kunci definisi
untuk melakukan observasi atau pengukuran secara cermat terhadap suatu objek atau fenomena (
Nursalam, 2003 ).
Pada definisi operasional dapat di tentukan parameter yang di jadikan dalam penelitian. Jadi
definisi operasional di rumuskan untuk kepentingan akurasi, komunikasi dan replikasi (
Nursalam, 2003 )
Tabel 3.1 Definisi Operasional, Variabel, dan Cara Pengukurannya Variabel
Definisi Operasional Parameter Alat Ukur Skala Data Skor Variable Independent Tingkat
pengetahuan remaja putri tentang perubahan fisik pada masa pubertas
Variable Dependent sikap remaja kelas VII
Segala hal yang diketahui oleh remaja tentang perubahan fisik pada masa pubertas
Sikap adalah respon atau perilaku dalam menghadapi perubahan fisik yang terjadi pada dirinya
Remaja putri dapat menjawab pertanyaan tertutup yang meliputi pengertian, perubahan fisik
yang terjadi pada remaja, faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan fisik pada remaja dan
sikap.
Pengetahuan baik: (76-100%)
Pengetahuan cukup (56-75%)
Pengetahuan kurang (<55%)
(arikunto,2002)
Remaja putri mampu menyikapi perubahan fisik yang terjadi pada dirinya
Sikap(+) apabila T>Mdt
Sikap(-) apabila
Kuesioner
Ordinal
NomiNal
Nilai setiap jawaban :
• Skor 1 : jawaban benar
• Skor 2 : jawaban salah
• Skor 3 : tidak menjawab /salah
- Kode 1 : setuju (51-100%) atau sikap positif
- Kode 2 : tidak setuju (0-50%) atau sikap negatif (alimul aziz,2007)
3.6 Lokasi dan Waktu Penelitian
3.6.1 Lokasi Penelitian
Lokasi yang digunakan untuk penelitian ini adalah SMPN 9 Kabupaten Jember Tahun 2010
3.6.2 Waktu Penelitian
Waktu penelitian dilaksanakan pada bulan Maret – April
3.7 Teknik dan Instrumen Perolehan Data
Menurut sutrisno (2000), kuesioner adalah usaha untuk mengumpulkan informasi dengan
menyampaikan sejumlah pertanyaan tertulis untuk dijawab oleh responden
3.7.1 Instrumen pengkajian tingkat pengetahuan
Instrumen yang digunakan dalam pengumpulan data yang dilakukan dalam pengkajian tingkat
pengetahuan ini adalah kuesioner yang diberikan pada responden dengan jumlah soal 20 butir
dengan menyilang jawaban yang sudah disediakan.
3.7.2 Instrumen Pengkajian sikap
Instrumen yang digunakan untuk pengkajian sikap adalah dengan kuisioner yang diberikan pada
responden dengan jumlah pernyataan 15 butir dengan cara mencontreng (√ ) jawaban yang sudah
disediakan yaitu SS (untuk jawaban sangat setuju), S (untuk jawaban setuju), RR (untuk jawaban
ragu-ragu), TS (untuk jawaban tidak setuju) dan STS (untuk jawaban sangat tidak setuju).
3.7.2.1 Pernyataan Positif
SS = 5
S=4
RR = 3
TS = 2
STS= 1
3.7.2.2 Pernyataan Negatif
SS = 1
S=2
RR = 3
TS = 4
STS= 5
3.8 Teknik Pengolahan dan Analisa Data
3.8.1 Teknik Pengolahan
Setelah data terkumpul dari hasil pengumpulan data langkah selanjutnya yaitu melakukan
pengolahan data yang meliputi empat langkah yaitu
3.8.1.1 Editing
Editing adalah melakukan pengecekan terhadap semua data yang dikumpulkan melalui
pembagian kuesioner dengan tujuan mencetak kembali apakah hasilnya sudah sesuai dengan
rencana atau tujuan yang akan dicapai.
3.8.1.2 Coding
Coding yaitu memberi tanda atau kode untuk memudahkan pengolahan data, kemudian
dilakukan langkah selanjutnya.
3.8.1.3 Scoring
Scoring yaitu memberikan nilai berupa angka pada jawaban pertanyaan tiap kuesioner.
3.8.1.4 Tabulating
Yaitu menyusun dan menghitung data hasil coding untuk kemudian disajikan dalam bentuk tabel
kemudian di analisa.
3.8.2 Analisa Data
Menurut Arikunto (2002), analisa data pada penelitian ini diperoleh dari hasil pengisian
kuesioner oleh responden dengan analitik.
3.8.2.1 Pengetahuan
Setelah didapatkan hasil dari perolehan data, kemudian masing-masing dari kriteria dijumlahkan
dan dilakukan pengolahan data dengan menggunakan rumus :
P = x — y X 100%
Keterangan:
P = Prosentase Tingkat Pengetahuan
x = Jumlah responden yang menjawab baik, cukup dan kurang
y = jumlah responden
kemudian dilanjutkan kembali dalam kriteria obyektif sebagai berikut :
Pengetahuan baik : 76 - 100%
Pengetahuan cukup : 56 - 75%
Pengetahuan kurang: <55%
3.8.2.2 Sikap
Setelah didapatkan hasil dari pengolahan data, selanjutnya untuk mengetahui sikap responden
yang positif atau negatif dengan skor T, yaitu :
T = 50 + 10 [s x - x ]
Dimana untuk menentukan kategori responden dicari median nilai T (Mdt) dalam kelompok,
maka didapatkan :
a.sikap responden favuorable (positif) bila nilai T>Mdt
b.sikap responden unfavuorable (negatif) bila nilai T
kemudian diperoleh skor skala dengan cara menjumlahkan skor yang diperoleh responden pada
keseluruhan pernyataan yang ada.
Hasil angka diolah secara tabulasi didapatkan :
X :skor responden pada skala sikap yang hendak diubah menjadi skor T
s : deviasi standart skor kelompok
X : nilai rata – rata kelompok
T : skor sikap responden ( Azwar, 2003 : 23 )
3.8.3 Uji Statistik
Untuk mengadakan pengujian dan analisa hubungan antar variabel penulis menggunakan uji X /
chi squere digunakan untuk menganalisa data yang dikategorikan yaitu data ordinal namun bisa
juga untuk data dengan skala nominal.
Rumus yang digunakan :
Jumlah baris fh = X Jumlah kolom
Jumlah semua
Kemudian kita hitung derajat kebebasan untuk Chi – Square
df = ( b-1 ) ( k - 1)
keterangan :
df : derajat kebebasan
b : baris
k : kolom
setelah itu dilakukan pengujian hipotesis dengan Uji Statistik chi-Square dengan rumus :
X² = Σ ( fo – fh )²fh
Keterangan: X² : taraf signifikan yang telah ditetapkan
fo : frekuensi yang diperoleh berdasarkan data
fh : frekuensi yang diharapkan
Dengan taraf signifikan α = 0,05, maka :
Ho diterima jika X² hitung < X² tabel, artinya tidak ada hubungan antara variabel independen
dengan variabel dependen.
Ho ditolak jika X² hitung > X² tabel, artinya ada hubungan antara variabel independen dengan
variabel dependen.
Syarat – syarat uji chi square yaitu :
1. Sampel bebas ( Independen )
2. Biasanya sampelnya berdata skala nominal, atau ordinal yang terbagi dalam beberapa kategori
3. Apabila sampel berukuran cukup besar
3.9 Etika Penelitian
Setiap penelitian yang menggunakan subyek manusia harus tidak bertentangan dengan etika (
Alimul Aziz, 2007 ). Setelah mendapat persetujuan baru penelitian boleh dilakukan dengan
menggunakan etika yang berikut :
1. Informed Consent (Lembar persetujuan)
Lembar persetujuan diedarkan kepada siswa putri yang menjadi responden. Sebelum penelitian
dilakukan terlebih dahulu responden mengetahui maksud dan tujuan penelitian serta dampak
yang akan terjadi selama pengumpulan data. Jika responden bersedia diteliti maka harus
menandatangani lembar persetujuan tersebut, bila tidak bersedia maka penelitian harus tetap
menghormati hak klien.
2. Anonimity (tanpa nama)
Untuk menjaga kerahasiaan identitas subyek, peneliti tidak akan mencantumkan nama pada
lembar pengumpulan data (kuesioner) yang diisi oleh subyek, hanya menuliskan kode pada
masing-masing lembar tersebut.
3. Confidentiality (Kerahasiaan)
Informasi yang diperoleh dari responden yang mencakup kerahasiaan harus dijaga oleh peneliti. (
Alimul Aziz, 2007 )
BAB IV
HASIL PENELITIAN
4.1 Hasil Penelitian
Pada bab ini akan disajikan tentang hasil penelitian yang telah dilaksanakan pada bulan April
2010 dengan jumlah responden 85 siswa putri. Data yang akan dipaparkan meliputi data umum
dan data khusus. Data umum terdiri dari usia, tempat tinggal, dan informasi yang di dapat
sedangkan data khusus terdiri dari pengetahuan remaja putri kelas VII tentang perubahan fisik
pada masa pubertas dan sikap remaja putri tentang perubahan fisik pada masa pubertas di SMPN
9 Jember.
4.1.1 Data Umum
a. Karakteristik responden berdasarkan usia
Table 4.1 Distribusi remaja putri kelas VII berdasarkan usia di SMPN 9 Jember Tahun 2010.
Umur Frekuensi Persentase
12 12 14,1
13 60 70,6
14 13 16,3
15 0 0
Total 85 100
Dari tabel 4.1 Dapat diketahui bahwa dari 85 responden berdasarkan usia adalah responden yang
berusia 12 tahun berjumlah 12 orang (14,1%), 13 tahun berjumlah 60 orang (70,6 %), 14 tahun
berjumlah 13 orang (16,3%).
b. Karakteristik responden berdasarkan tempat tinggal
Table 4.2 Distribusi remaja putri kelas VII berdasarkan tempat tinggal di SMPN 9 Jember Tahun
2010.
Tempat Tinggal Frekuensi Persentase
Orang Tua 82 96,5
Nenek 2 2,4
Saudara 1 1,2
Kost 0 0
Total 85 100
Dari tabel 4.2 Dapat diketahui bahwa dari 85 responden berdasarkan tempat tinggal adalah
tinggal bersama orang tua berjumlah 82 orang (96,5%),tinggal bersama nenek berjumlah 2 orang
(2,4%),tinggal bersama saudara berjumlah 1 orang (1,2%).
c. Karakteristik responden berdasarkan informasi yang di dapat tentang perubahan fisik pada
masa pubertas
Table 4.3 Distribusi remaja putri kelas VII berdasarkan informasi yang di dapat tentang
perubahan fisik pada masa pubertas di SMPN 9 Jember Tahun 2010
Mendapat informasi Frekuensi Persentase
Orang tua 79 92,9
Teman 2 2.4
Media Elektronik 3 3,5
Tenaga Kesehatan 1 1,2
Total 85 100
Dari tabel 4.3 Dapat diketahui bahwa dari 85 responden berdasarkan informasi yang di dapat
tentang perubahan fisik pada masa pubertas adalah mendapatkan informasi dari orang tua
berjumlah 79 orang (92,9 %), mendapatkan informasi dari teman berjumlah 2 (2,4%),
mendapatkan informasi dari media elektronik berjumlah 3 orang (3,5%), mendapatkan informasi
dari tenaga kesehatan berjumlah 1 (1,2%).
4.1.2 Data khusus
Data khusus dalam penelitian ini akan menyajikan tingkat pengetahuan remaja putri tentang
perubahan fisik dengan sikap pada masa pubertas di SMPN 9 Jember Tahun 2010.
a. Tingkat pengetahuan responden tentang perubahan fisik pada masa pubertas
Table 4.4 Distribusi remaja putri kelas VII berdasarkan tingkat pengetahuan tentang perubahan
fisik pada masa pubertas di SMPN 9 Jember Tahun 2010.
Pengetahuan Frekuensi Persentase
Baik 29 34,1
Cukup 33 38,1
Kurang 23 27,1
Total 85 100
Dari tabel 4.4 dapat diketahui bahwa dari 85 responden yang mempunyai tingkat pengetahuan
baik 29 orang (34,1%),tingkat pengetahuan cukup berjumlah 33 orang (38,8%), tingkat
pengetahuan kurang yaitu 23 orang (27,1%).
b. Sikap responden tentang perubahan fisik pada masa pubertas
Tabel 4.5 Distribusi remaja putri kelas VII berdasarkan sikap pada masa pubertas di SMPN 9
Jember Tahun 2010.
Sikap dan masa pubertas Frekuensi Persentase
Positif ( +) 40 47,1
Negatif ( - ) 45 52,9
Total 85 100
Dari tabel 4.5 dapat diketahui bahwa dari 85 responden yang bersikap positif berjumlah 40 orang
(47,1%) dan responden yang bersikap negatif sebanyak 45 orang (52,9%).
c. Hubungan tingkat pengetahuan remaja putri tentang perubahan fisik pada masa pubertas
Tabel 4.6 : Distribusi Hubungan Tingkat Pengetahuan Remaja Putri Kelas VII Tentang
Perubahan Fisik dengan Sikap Pada Masa Pubertas di SMPN 9 Jember Tahun 2010.
No Sikap


Tingkat
Pengetahuan Positif Negatif Total
N%N%N%
1.Baik 19 22,4 10 11,8 29 34,1
2.Cukup 14 16,5 19 22,4 33 38,8
3.Kurang 7 8,2 16 12,2 23 27,1
Total 40 47,1 45 52,9 85 100
Uji Statistik
Chi Square db = 2 Tabel = 5,591
α = 0,033 Hitung = 6,802
Tabel 4.6 Diatas menunjukkan bahwa dari 85 responden sebanyak 19 responden (22,4%)
mempunyai tingkat pengetahuan baik dan sikap positif, sebanyak 10 responden (11,8%)
mempunyai tingkat pengetahuan baik dan sikap negatif, sebanyak 14 responden (16,5 %)
mempunyai tingkat pengetahuan cukup dan sikap positif, sebanyak 19 responden (22,4%)
mempunyai tingkat pengetahuan cukup dan sikap negatif, sebanyak 7 responden (8,2%)
mempunyai tingkat pengetahuan kurang dan sikap positif, sebanyak 16 responden (12,2%)
mempunyai tingkat pengetahuan kurang dan sikap negatif.Berdasarkan uji statistik Chi-Square
(X²) dengan ρ = 0,033 pada tingkat kemaknaan α = 0,05 di dapatkan bahwa H0 ditolak ,artinya
ada hubungan yang bermakna antara tingkat pengetahuan remaja putri kelas VII tentang
perubahan fisik dengan sikap pada masa pubertas di SMPN 9 Jember.
4.2 Pembahasan
Pada pembahasan ini akan dibahas tentang hasil penelitian yang telah dilakukan pada remaja
putri kelas VII di SMPN 9 Jember yang meliputi Tingkat Pengetahuan Remaja Putri tentang
Perubahan Fisik Dengan Sikap Pada Masa Pubertas serta hubungan antara kedua variabel di atas.
4.2.1. Tingkat pengetahuan remaja putri tentang perubahan fisik pada masa pubertas di SMPN 9
Jember.
Hasil penelitian menunjukan bahwa dari 85 responden yang mempunyai tingkat pengetahuan
baik 29 orang (34,1%),tingkat pengetahuan cukup berjumlah 33 orang (38,8%), tingkat
pengetahuan kurang yaitu 23 orang (27,1%).
Pengetahuan merupakan hasil ―tahu‖ dan ini terjadi setelah orang mengadakan pengindraan
terhadap suatu objek tertentu (Notoatmodjo, 2003). Pengetahuan seseorang dapat dipengaruhi
oleh dua faktor yaitu faktor internal dan eksternal. Faktor internal yaitu pengalaman, usia,
intelegensia, jenis kelamin. Sedangkan faktor eksternal meliputi sosial budaya, lingkungan,
informasi, dan pendidikan. Pengetahuan sangat erat hubungannya dengan pendidikan, oleh
karena itu diharapkan bahwa dengan pendidikan yang tinggi maka orang tersebut akan semakin
luas pula pengetahuannya.
Berdasarkan hasil penelitian pengetahuan remaja putri sebagian besar adalah cukup, mereka
sebagian besar mendapatkan informasi dari orang tua. Lingkungan merupakan faktor dominan
karena lingkungan manusia mengadakan interaksi dalam proses kehidupannya baik dalam
lingkungan fisik, psikologis sosial budaya, dimana kondisi tersebut sangat dipengaruhi oleh
perilaku individu, keluarga, kelompok, norma adat istiadat yang berlaku di masyarakat.
4.2.2. Sikap remaja putri tentang perubahan fisik pada masa pubertas di SMPN 9 Jember.
Hasil penelitian menunjukan bahwa dari 85 responden yang bersikap positif berjumlah 40 orang
(47,1%) dan responden yang bersikap negatif sebanyak 45 orang (52,9%).Berdasarkan hasil
penelitian sikap remaja putri sebagian besar adalah negatif 45 orang (52,9).
Menurut Sunaryo (2004) bahwa ada 4 faktor yang dapat menentukan sikap yaitu faktor
fisiologis, faktor pengalaman langsung terhadap objek sikap, faktor kerangka acuan, dan faktor
komunikasi sosial. Selain itu ada dua faktor yang mempengaruhi pembentukan dan pengubahan
sikap yaitu faktor internal dan ekstrernal. Faktor internal berasal dari dalam diri individu. Dalam
hal ini individu menerima, mengolah, dan memilih segala sesuatu yang datang dari luar, serta
menentukan mana yang akan diterima dan mana yang tidak. Hal-hal yang diterima atau tidak
berkaitan erat dengan apa. Sedangkan faktor eksternal berasal dari luar individu, berupa stimulus
untuk membentuk dan mengubah sikap. Stimulus tersebut dapat bersifat langsung, misalnya
individu dengan kelompok. Dapat juga bersifat tidak langsung, yaitu melalui perantara, seperti :
alat komunikasi dan media masa baik elektronik maupun nonelektronik.
Para remaja mempunyai sikap negatif karena kurangnya usaha untuk mencari informasi dan
kurangnya faktor yang mempengaruhi pembentukan dan pengubahan sikap dari faktor eksternal
misalnya teman, tenaga kesehatan atau alat perantara seperti dari media masa baik elektronik
maupun non elektronik, kebanyakan dari mereka mendapatkan informasi hanyadari orang tua
mereka saja.
4.2.3. Hubungan tingkat pengetahuan dengan sikap tentang perubahan fisik pada masa pubertas.
Hasil penelitian menunjukan bahwa dari 85 responden sebanyak 19 responden (22,4%)
mempunyai tingkat pengetahuan baik dan sikap positif, sebanyak 10 responden (11,8%)
mempunyai tingkat pengetahuan baik dan sikap negatif, sebanyak 14 responden (16,5 %)
mempunyai tingkat pengetahuan cukup dan sikap positif, sebanyak 19 responden (22,4%)
mempunyai tingkat pengetahuan cukup dan sikap negatif, sebanyak 7 responden (8,2%)
mempunyai tingkat pengetahuan kurang dan sikap positif, sebanyak 16 responden (12,2%)
mempunyai tingkat pengetahuan kurang dan sikap negatif .Berdasarkan uji statistik Chi Square (
) dengan tingkat signifikan ( α ) 0,05 di dapatkan bahwa H0 ditolak,artinya ada hubungan yang
bermakna antara tingkat pengetahuan remaja putri kelas VII tentang perubahan fisik dengan
sikap pada masa pubertas di SMPN 9 Jember.Dari hasil uji statistik didapatkan bahwa ada
hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan remaja putri kelas VII tentang perubahan
fisik dengan sikap pada masa pubertas di SMPN 9 Jember.
Menurut Notoatmodjo ( 2002 ), Pengetahuan adalah sejumlah fakta dan teori yang
memungkinkan seseorang untuk memecahkan masalah yang dihadapinya baik yang diperoleh
dari pengalaman langsung maupun pengalaman orang lain. Sikap merupakan organisasi
pendapat, keyakinan seseorang mengenai objek atau situasi yang relatif ajeg, disertai adanya
perasaan tertentu, dan memberikan dasar pada orang tersebut untuk membuat respon atau
berperilaku dalam cara tertentu yang dipilihnya ( Bimo Walgito, 2001 ).
Remaja putri sebagian besar mempunyai pengetahuan cukup dan sikap negatif, mereka sebagian
besar mendapatkan informasi dari orang tua dan tinggal bersama orang tua. Lingkungan
merupakan faktor dominan karena manusia mengadakan interaksi dalam proses kehidupannya
baik dalam lingkungan fisik, psikologis, sosial budaya, dimana kondisi tersebut sangat
dipengaruhi oleh perilaku individu,keluarga, kelompok, norma adat istiadat yang berlaku di
masyarakat. Remaja putri kurang berusaha dalam mencari informasi tentang perubahan fisik
yang terjadi pada masa pubertas, sehingga mempengaruhi pembentukan dan perubahan sikap
mereka.
Untuk meningkatkan pengetahuan dan mengubah sikap remaja putri menjadi positif perlu adanya
penambahan informasi tentang kesehatan reproduksi yang diperoleh lewat penyuluhan-
penyuluhan di sekolah yang dapat bekerja sama dengan puskesmas setempat dan harus aktif
mencari informasi baik lewat media elektronik maupun non elektronik.
BAB 5
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan maka didapatkan beberapa kesimpulan sebagai
berikut :
5.1.1 Pengetahuan remaja putri kelas VII di SMPN 9 Jember Tahun 2010 yaitu mempunyai
pengetahuan cukup sebanyak 33 responden (38,8%).
5.1.2 Sikap remaja putri kelas VII di SMPN 9 Jember Tahun 2010 mempunyai sikap negatif
yaitu sebanyak 45 responden (52,9%)
5.1.3 Berdasarkan uji statistik Chi-Square (X), dengan ρ = 0,033 pada tingkat kemaknaan α =
0,05 didapatkan bahwa Ho ditolak, sehingga bisa diketahui bahwa ada hubungan antara tingkat
pengetahuan remaja putri kelas VII tentang perubahan fisik dengan sikap pada masa pubertas di
SMPN 9 Kabupaten Jember.
5.2 Saran
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan,maka peneliti dapat memberikan beberapa
saran sebagai berikut :
5.2.1 Bagi Responden
Untuk mengubah sikap menjadi positif maka responden harus aktif dalam mencari informasi
yang mempunyai motivasi untuk meningkatkan pengetahuan remaja dan kesehatan reproduksi
baik melalui penyuluhan, majalah, maupun lewat media elektronik sehingga akan semakin
banyak informasi yang di dapat serta menambah wawasan tentang remaja.
5.2.2 Bagi institusi pendidikan
Diharapkan hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai pertimbangan dan pertambahan sumber
pustaka dalam pengembangan mata kuliah kesehatan reproduksi wanita..
5.2.3 Bagi tempat penelitian, siswa / masyarakat
Dapat bekerja sama dengan tempat pelayanan kesehatan misalnya PUSKESMAS untuk dapat
mengadakan penyuluhan di sekolah. Selain itu dengan menambah pelajaran tentang kesehatan
reproduksi sehingga para siswa dapat menggali informasi dan menambah wawasan.
5.2.4 Bagi peneliti selanjutnya
Perlu adanya penelitian lanjutan yang meneliti variabel selain pengetahuan yaitu seperti
informasi, pengalaman dan lingkungan. Diharapkan dapat menambah pengetahuan dalam bidang
kesehatan reproduksi, sehingga dalam penelitian selanjutnya dapat lebih baik lagi.

				
DOCUMENT INFO
Description: KTI Kebidanan