Docstoc

IKAN MAS

Document Sample
IKAN MAS Powered By Docstoc
					1. PENDAHULUAN

Ikan hias cukup dikenal oleh masyarakat sebagai hiasan aquarium. Perkembangan ikan hias di
Indonesia mengalami kemajuan yang terus meningkat, terutama ikan hias air tawar asli
Indonesia. Dari sekian banyak jenis ikan hias, tidak semuanya telah dapat dibudidayakan. Dalam
menternakkan ikan hias harus diperhatikan bahwa masing- masing jenis mempunyai sifat dan
kebiasaan hidup yang berbeda-beda, misalnya dalam cara pemijahan, bertelur ataupun menyusun
sarangnya.

                                                               Ikan Guppy




                                                               Ikan Molly




                                                               Ikan Platy
Cara perkembangbiakkan ikan hias ada beberapa macam:

   1. Ikan- ikan hias yang beranak.
   2. Ikan- ikan hias yang bertelur berserakan.
   3. Ikan- ikan hias yang meletakkan telurnya pada suatu
      subtrat.
   4. Ikan- ikan hias yang menetaskan telurnya dalam sarang
      busa.                                                      Ikan Sword Tail
   5. Ikan- ikan yang mengeramkan telurnya di dalam mulut.

Dalam tulisan ini akan dibahas mengenai cara-cara pemeliharaan
ikan hias yang beranak (live bearer), misalnya:

   1.   Ikan Guppy (Poecilia reticulata Guppy)
   2.   Ikan Molly (Poelicia latipinna Sailfin molly)
   3.   Ikan Platy (Xiphophorus maculatus Platy)
   4.   Ikan Sword tail (Xiphophorus helleri Sword tail)

2. CIRI-CIRI INDUK JANTAN DAN BETINA

   1. Induk Jantan
         1. Mempunyai gonopodium (berupa tonjolan dibelakang sirip perut) yang
             merupakan modifikasi sirip anal yang berupa menjadi sirip yang panjang.
         2. Tubuhnya rampaing.
         3. Warnanya lebih cerah.
         4. Sirip punggung lebih panjang.
         5. Kepalanya besar.
   2. Induk Betina
         1. Dibelakang sirip perut tidak ada gonopodium, tetapi berupa sirip halus.
         2. Tubuhnya gemuk
         3. Warnanya kurang cerah.
         4. Sirip punggung biasa.
         5. Kepalanya agak runcing.

3. HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN DALAM PEMELIHARAAN

   1.   Air yang diperlukan adalah ari yang cukup mengandung Oksigen (O2) dan jernih.
   2.   Suhu air berkisar antara 15 ~ 27°C.
   3.   pH yang disukai agak sedikit alkalis, yaitu berkisar 7 ~ 8.
   4.   Makanan yang diberikan dapat berupa makanan alami (cuk, cacing, kutu air) dan
        makanan buatan, diberikan secukupnya.

4. TEKNIK PEMIJAHAN

   1. Pemilihan induk. Pilihlah induk yang berukuran relatif besar, bentuk tubuh yang
      mengembung serta mempunyai warna yang indah.
   2. Induk- induk yang telah dipilih dimasukkan dalam satu bak untuk beberapa pasang induk.
      Namun apabila menghendaki keturunan tertentu dapat pula dilakukan dengan cara
      memisahkan dalam bak tersendiri sepasang-sepasang.
   3. Bak-bak pemijahan harus dikontrol setiap hari. Setelah lahir, anak-anak ikan harus cepat-
      cepat diambil dan dipisahkan dari induknya agar tidak dimakan oleh induknya.

5. PERAWATAN BENIH

   1. Anak-anak ikan yang baru lahir belum membutuhkan makanan, karena masih
      mengandung kuning telur (yolk egg). Setelah 4 ~ 5 hari anak ikan baru dapat diberi
      makanan berupa kutu air yang sudah disaring, atau kuning telur yang telah direbus dan
      dihancurkan.
   2. Setelah mencapai ukuran medium (2 ~ 3 cm) dapat diberikan makanan cacing, kemudian
      setelah mencapai ukuran dewasa (5 ~ 7 cm) dapat diberi makanan cuk.
   3. Disamping makanan alami dapat pula diberi makanan tambahan berupa cacing kering,
      agar-agar dll.
   4. Pemberian makanan sebaiknya 2 kali sehari, hendaknya jangan berlebihan, karena dapat
      menyebabkan pembusukan yang dapat meerusak kualitas air.
   5. Pergantian air. Air dalam bak atau aquarium jangan sampai kotor/keruh, karena dapat
      menyebabkan kematian anak ikan. Kotoran dapat dibersihkan setiap 2 ~ 3 hari sekali
      dengan cara disiphon, air yang terbuang pada waktu penyiphonan sebanyak 10 ~20%
      dapat diganti dengan air yang baru.

6. PENUTUP

Budidaya ikan live bearer ini sangat mudah dan mempunyai tingkat keberhasilan yang tinggi.
Untuk satu pasang ikan dapat menghasilkan 50 sampai 100 ekar ikan untuk satu kali pemijahan,
dengan harga perekor Rp. 25,-sampai Rp. 75,-. Jenis ikan ini juga merupakan ikan hias yang
dapat di eksport misalnya: ikan Guppy. Dengan teknik pemeliharaan yang tepat dan ketekunan
yang tinggi akan didapat hasil dengan warna yang sangat indah.

7. SUMBER

Dinas Perikanan DKI Jakarta, Jakarta, 1996

8. KONTAK HUBUNGAN

Dinas Perikanan DKI Jakarta,
Jakartahttp://www.iptek.net.id/ind/warintek/?mnu=6&ttg=3&doc=3c1
JURNAL ATANI TOKYO
INFORMASI PERTANIAN DAN PERIKANAN

Jurnal Atani Tokyo



Pudjiatmoko, PhD
       Atani 2005 - 2009
View my complete profile


Search
 UTF-8               blg                d    10   0   0

 http://atanitokyo.blogspot.com/   Search!




Counter




counter


Followers
Archives
     ► 2011 (5)
        o ► March (4)
                Perkembangan Pengendalian Penyakit AI
                ASEAN Biodiversity Outlook
                Feline chlamydophilosis
                A warning on wheat comes from China
        o ► February (1)
                Implementasi dan Perkembangan Program PDSR di Indo...

     ► 2010 (32)
        o ► November (5)
                Bisnis Obat Hewan, Bisnis yang Menjanjikan
                Pedoman Penyembelihan Halal Hewan Qurban
                Jaminan Mutu Obat Hewan Produk Indonesia
                Seroprevalensi Chalmydophila abortus pada Sapi Bet...
                Proyek Pengembangan Ramah Lingkungan dengan Aneka ...
        o ► October (7)
                Alamat Fakultas Kedokteran Hewan di Indonesia
                Determining Japanese Market Today for Indonesian C...
                Reformasi Birokrasi
                Workshop on Superior Bargaining and Vertical Integ...
                Politik yang Sedang Terjadi di Jepang ?
                Tugas dan Tanggung Jawab Komisi Pengawas Persainga...
                Economic Integration and Competition Policy
        o ► September (5)
                Determining Japanese Market Today for Indonesian C...
                Chlamydiosis pada Kucing Disebabkan oleh Chlamydop...
                Peran BBPMSOH dalam Program Swasembada Daging Sapi...
                Jepang Melihat Potensi Pengembangan Tanaman Bunga ...
                Peluang Usaha Ternak Ayam Kampung Terbuka
        o ► August (2)
                Energi Berbahan Baku Produk Pertanian
                Bacteriophage
        o ► June (4)
                Peran BBPMSOH dalam Peningkatan Ekspor Obat Hewan ...
                Withdrawal time beberapa antibiotika pada ikan
                Leptospirosis
                Kriteria Akreditasi ASEAN untuk Laboratorium Pengu...
        o ► May (6)
                Istilah Penting dalam Keamanan Hayati dan Keamanan...
                Konferensi Keamanan Hayati Nagoya akan Agendakan T...
                Pedoman Pelaksanaan Pengujian Keamanan Hayati
                Tren Industri Pangan dalam Foodex Jepang 2009
                Pertanian Indonesia dan ACFTA
               Bureaucracy behind the One Percent Pass Rate of Fo...
       o   ► March (1)
              Cengkeraman Gurita Pangan Global
       o   ► January (2)
              Ketahanan Pangan Butuh Totalitas
              Accelerating Exports to Asia is the Only Way to Re...

   ► 2009 (63)
      o ► December (3)
              Evaluasi Pengujian Vaksin Infectoius Bronchitis Ta...
              Respon Pembentukan Antibodi pada Tikus Putih Terha...
              Identifikasi Subtipe Virus Avian Influenza Isolat ...
      o ► November (1)
              Detection of Chlamydophila by Multiplex Polymerase...
      o ► September (1)
              Laporan Special SOM-30th AMAF 11 – 13 Agustus 2009...
      o ► July (5)
              Tiga Pelajar Indonesia Raih Juara International Ol...
              Kabar dari Pengurus IKAMAJA Jawa Timur
              Asia Cooperation Dialogue (ACD)
              Some Reflections on Aborted Summit in Pattaya
              Dokter Hewan Praktek dan Klinik Hewan di Jabotabek...
      o ► June (3)
              Harga sebuah Ciplukan empat ribu tigarutus rupiah
              Japan makes first gift to food, animal and plant h...
              Agricultural Potency of Purbalingga Regency
      o ► May (7)
      o ► April (7)
      o ► March (6)
      o ► February (13)
      o ► January (17)

   ▼ 2008 (140)
      o ► December (16)
      o ▼ November (13)
              Agrinex International Expo 2009
              Indonesia aktif dalam Minato Matsuri di Kesennuma
              Agricultural investment and trade opportunities in...
              Pets: Requirements for Entrance into Indonesia
              Belut China dipalsukan labelnya sebagai belut Jepa...
              Pascal Lamy calonkan diri Direktur Jenderal WTO ma...
              Diskusi dengan Pengurus IASA 2008-2009
              Budidaya Ikan Mas ( Cyprinus carpio L )
              Zen Nippon Airinkai 44th All Japan Nishikigoi Show...
              Virus flu burung bersembunyi dari sistem kekebalan...
              8th AMAF Plus Three
                    The 30th Meeting of the ASEAN Ministers on Agricul...
                    Pertemuan AMAF ke 30 dan AMAF+3 ke 8 di Hanoi
         o   ►   October (8)
         o   ►   September (8)
         o   ►   August (15)
         o   ►   July (9)
         o   ►   June (10)
         o   ►   May (13)
         o   ►   April (9)
         o   ►   March (10)
         o   ►   February (13)
         o   ►   January (16)

     ► 2007 (96)
        o ► December (3)
        o ► October (1)
        o ► August (1)
        o ► July (4)
        o ► June (13)
        o ► May (24)
        o ► April (50)




Labels
  1. Akreditasi Laboratorium Penguji (1)
  2. Aku dan kolegaku (1)
  3. Alamat Dokter Hewan Praktek (1)
  4. Alamat kedutaan Asing di Indonesia (1)
  5. Alamat Kedutaan Besar dan Konjen RI (1)
  6. Alamat Kedutaan Besar di Jepang (1)
  7. Alamat Kementerian di Republik Indonesia (1)
  8. AMAF and AMAF+3 (6)
  9. ASEAN (1)
  10. ASEAN SEOM (1)
  11. Asia Cooperation Dialogue (ACD) (1)
  12. Avian Influenza (13)
  13. Bantuan Pangan (3)
  14. Bantuan Teknis (7)
  15. Berita koran (26) (1)
  16. Bio- fuel (8)
  17. Biodiversity (1)
  18. Budidaya ikan (1)
  19. Global Warming (5)
  20. Himbauan dunia pertanian (16)
21. IJEPA (2)
22. Illegal Logging (1)
23. Impor - ekspor produk pertanian dan perikanan (11)
24. Indonesian Agricultural Sciences Association (1)
25. Inflasi harga tingkat konsumen (1)
26. International Event (2)
27. Investasi (8)
28. Irigasi (3)
29. Karantina (10)
30. Keamanan Hayati (3)
31. Kebijakan Pemerintah China (3)
32. Kebijakan Pemerintah Indonesia (7)
33. Kebijakan Pemerintah Jepang (14)
34. Kerjasama Luar Negeri (12)
35. Kesehatan Masyarakat Veteriner (1)
36. Koi (4)
37. Magang Petani Muda Indonesia (12)
38. Menjalin hubungan diplomasi (1)
39. Mikrobiologi (1)
40. News (10)
41. Notifikasi dari Pemerintah Jepang (1)
42. Obat hewan dan Obat ikan (3)
43. Parlemen Jepang (1)
44. Pasar Obat hewan (1)
45. Pasar Produk Perikanan (10)
46. Pasar Produk Pertanian (33)
47. Pemerintahan (1)
48. Penangkapan ikan (2)
49. Pendidikan dan Pelatihan (6)
50. Pengawasan Persaingan Usaha (3)
51. Peningkatan Produksi Pangan (2)
52. Penyakit Hewan (7)
53. Penyakit Zoonosis (2)
54. Peraturan dan Regulasi RI (1)
55. Peraturan dan Undang-Undang Pertanian (3)
56. Perbaikan Lingkungan Hidup (1)
57. Perizinan eksport hewan dan daging (1)
58. Pertanian China (1)
59. Pertukaran Pelajar Sekolah Pertanian (2)
60. Peternakan (3)
61. Promosi Produk Pertanian (11)
62. Seminar Pertanian (10)
63. SOM AMAF (1)
64. Staf KBRI Tokyo (1)
65. Standar Produk Pertanian (1)
66. Swasembada Pangan (1)
   67. Swine Influenza (6)
   68. Taxonomy (1)
   69. Tehnik Budidaya Tanaman (3)
   70. Teknologi Pertanian (15)
   71. Tenaga kerja (3)
   72. Tulisan Ilmiah (15)
   73. WTO (4)




Links
   1.   JETRO, Japan
   2.   Ministry of Agriculture, Forestry and Fisheries, Japan
   3.   Ministry of Agriculture, the Republic of Indonesia
   4.   Ministry of Marine Affairs and Fisheries, the Republic of Indonesia
   5.   NAFED, Ministry of Trade, Republic of Indonesia




Subscribe

    RSS Feed (xml)

Powered By
Skin Design: Kisi Karunia
Base Code: Free Blogger Skins




Thursday, 13 November 2008
Budidaya Ikan Mas ( Cyprinus carpio L )
                                                1. SEJARAH SINGKAT

Ikan mas merupakan jenis ikan konsumsi air tawar, berbadan memanjang
pipih kesamping dan lunak. Ikan mas sudah dipelihara sejak tahun 475
sebelum masehi di Cina. Di Indonesia ikan mas mulai dipelihara sekitar
tahun 1920. Ikan mas yang terdapat di Indonesia merupakan merupakan
ikan mas yang dibawa dari Cina, Eropa, Taiwan dan Jepang. Ikan mas
Punten dan Majalaya merupakan hasil seleksi di Indonesia. Sampai saat ini
sudah terdapat 10 ikan mas yang dapat diidentifikasi berdasarkan
karakteristik morfologisnya.

2. SENTRA PERIKANAN

Budidaya ikan mas telah berkembang pesat di kolam biasa, di sawah,
waduk, sungai air deras, bahkan ada yang dipelihara dalam keramba di
perairan umum. Adapun sentra produksi ikan mas adalah: Ciamis,
Sukabumi, Tasikmalaya, Bogor, Garut, Bandung, Cianjur, Purwakarta

3. JENIS

Dalam ilmu taksonomi hewan, klasifikasi ikan mas adalah sebagai berikut:
Kelas : Osteichthyes
Anak kelas: Actinopterygii
Bangsa: Cypriniformes
Suku : Cyprinidae
Marga : Cyprinus
Jenis : Cyprinus carpio L.

Saat ini ikan mas mempunyai banyak ras atau stain. Perbedaan sifat dan ciri
dari ras disebabkan oleh adanya interaksi antara genotipe dan lingkungan
kolam, musim dan cara pemeliharaan yang terlihat dari penampilan bentuk
fisik, bentuk tubuh dan warnanya. Adapun ciri-ciri dari beberapa strain ikan
mas adalah sebagai berikut:

1. Ikan mas punten: sisik berwarna hijau gelap; potongan badan paling
pendek; bagian punggung tinggi melebar; mata agak menonjol; gerakannya
gesit; perbandingan antara panjang badan dan tinggi badan antara 2,3:1.
2. Ikan mas majalaya: sisik berwarna hijau keabu-abuan dengan tepi sisik
lebih gelap; punggung tinggi; badannya relatif pendek; gerakannya lamban,
bila diberi makanan suka berenang di permukaan air; perbandingan panjang
badan dengan tinggi badan antara 3,2:1.
3. Ikan mas si nyonya: sisik berwarna kuning muda; badan relatif panjang;
mata pada ikan muda tidak menonjol, sedangkan ikan dewasa bermata
sipit; gerakannya lamban, lebih suka berada di permukaan air;
perbandingan panjang badan dengan tinggi badan antara 3,6:1.
4. Ikan mas taiwan: sisik berwarna hijau kekuning-kuningan; badan relatif
panjang; penampang punggung membulat; mata agak menonjol; gerakan
lebih gesit dan aktif; perbandingan panjang badan dengan tinggi badan
antara 3,5:1.
5. Ikan mas koi: bentuk badan bulat panjang dan bersisisk penuh; warna
sisik bermacam-macam seperti putih, kuning, merah menyala, atau
kombinasi dari warna-warna tersebut. Beberapa ras koi adalah long tail
Indonesian carp, long tail platinm nishikigoi, platinum nishikigoi, long tail
shusui nishikigoi, shusi nishikigoi, kohaku hishikigoi, lonh tail hishikigoi,
taishusanshoku nshikigoi dan long tail taishusanshoku nishikigoi. Dari sekian
banyak strain ikan mas, di Jawa Barat ikan mas punten kurang berkembang
karena diduga orang Jawa Barat lebih menyukai ikan mas yang berbadan
relatif panjang. Ikan mas majalaya termasuk jenis unggul yang banyak
dibudidayakan.

4. MANFAAT

1. Sebagai sumber penyediaan protein hewani.
2. Sebagai ikan hias.

5. PERSYARATAN LOKASI

1. Tanah yang baik untuk kolam pemeliharaan adalah jenis tanah
liat/lempung, tidak berporos. Jenis tanah tersebut dapat menahan massa air
yang besar dan tidak bocor sehingga dapat dibuat pematang/dinding kolam.
2. Kemiringan tanah yang baik untuk pembuatan kolam berkisar antara 3-
5% untuk memudahkan pengairan kolam secara gravitasi.
3. Ikan mas dapat tumbuh normal, jika lokasi pemeliharaan berada pada
ketinggian antara 150-1000 m dpl.
4. Kualitas air untuk pemeliharaan ikan mas harus bersih, tidak terlalu keruh
dan tidak tercemar bahan-bahan kimia beracun, dan minyak/limbah pabrik.
5. Ikan mas dapat berkembang pesat di kolam, sawah, kakaban, dan sungai
air deras. Kolam dengan sistem pengairannya yang mengalir sangat baik
bagi pertumbuhan dan perkembangan fisik ikan mas. Debit air untuk kolam
air tenang 8-15 liter/detik/ha, sedangkan untuk pembesaran di kolam air
deras debitnya 100 liter/menit/m³.
6. Keasaman air (pH) yang baik adalah antara 7-8.
7. Suhu air yang baik berkisar antara 20-25°C.




                                                 6. PEDOMAN TEKNIS
BUDIDAYA

1. Penyiapan Sarana dan Peralatan

1. Kolam

Lokasi kolam dicari yang dekat dengan sumber air dan bebas banjir. Kolam
dibangun di lahan yang landai dengan kemiringan 2–5% sehingga
memudahkan pengairan kolam secara gravitasi.

1. Kolam pemeliharaan induk

Luas kolam tergantung jumlah induk dan intensitas pengelolaannya. Sebagai
contoh untuk 100 kg induk memerlukan kolam seluas 500 meter persegi bila
hanya mengandalkan pakan alami dan dedak. Sedangkan bila
diberi pakan pelet, maka untuk 100 kg induk memerlukan luas 150-200
meter persegi saja. Bentuk kolam sebaiknya persegi panjang dengan dinding
bisa ditembok atau kolam tanah dengan dilapisi anyaman bambu bagian
dalamnya. Pintu pemasukan air bisa dengan paralon dan dipasang sarinya,
sedangkan untuk pengeluaran air sebaiknya berbentuk monik.

2. Kolam pemijahan

Tempat pemijahan dapat berupa kolam tanah atau bak tembok. Ukuran/luas
kolam pemijahan tergantung jumlah induk yang dipijahkan dengan bentuk
kolam empat persegi panjang. Sebagai patokan bahwa untuk 1 ekor induk
dengan berat 3 kg memerlukan luas kolam sekitar 18 m² dengan 18 buah
ijuk/kakaban. Dasar kolam dibuat miring kearah pembuangan, untuk
menjamin agar dasar kolam dapat dikeringkan. Pintu pemasukan bisa
dengan pralon dan pengeluarannya bisa juga memakai pralon (kalau ukuran
kolam kecil) atau pintu monik. Bentuk kolam penetasan pada dasarnya
sama dengan kolam pemijahan dan seringkali juga untuk penetasan
menggunakan kolam pemijahan. Pada kolam penetasan diusahakan agar air
yang masuk dapat menyebar ke daerah yang ada telurnya.

3. Kolam pendederan

Bentuk kolam pendederan yang baik adalah segi empat. Untuk kegiatan
pendederan ini biasanya ada beberapa kolam yaitu pendederan pertama
dengan luas 25-500 m 2 dan pendederan lanjutan 500-1000 m 2 per petak.
Pemasukan air bisa dengan pralon dan pengeluaran/ pembuangan dengan
pintu berbentuk monik. Dasar kolam dibuatkan kemalir (saluran dasar) dan
di dekat pintu pengeluaran dibuat kubangan. Fungsi kemalir adalah tempat
berkumpulnya benih saat panen dan kubangan untuk memudahkan
penangkapan benih. dasar kolam dibuat miring ke arah pembuangan. Petak
tambahan air yang mempunyai kekeruhan tinggi (air sungai) maka perlu
dibuat bak pengendapan dan bak penyaringan.

2. Peralatan

Alat-alat yang biasa digunakan dalam usaha pembenihan ikan mas
diantaranya adalah: jala, waring (anco), hapa (kotak dari jaring/kelambu
untuk menampung sementara induk maupun benih), seser, ember-ember,
baskom berbagai ukuran, timbangan skala kecil (gram) dan besar (kg),
cangkul, arit, pisau serta piring secchi (secchi disc) untuk mengukur kadar
kekeruhan. Sedangkan peralatan lain yang digunakan untuk
memanen/menangkap ikan mas antara lain adalah warring / scoopnet yang
halus, ayakan panglembangan diameter 100 cm, ayakan penandean
diameter 5 cm, tempat menyimpan ikan, keramba kemplung, keramba
kupyak, fish bus (untuk mengangkut ikan jarak dekat), kekaban (untuk
tempat penempelan telur yang bersifat melekat), hapa dari kain tricote
(untuk penetasan telur secara terkontrol) atau kadang-kadang untuk
penangkapan benih, ayakan penyabetan dari alumunium/bambu,
oblok/delok (untuk pengangkut benih), sirib (untuk menangkap benih
ukuran 10 cm keatas), anco/hanco (untuk menangkap ikan), lambit dari
jaring nilon (untuk menangkap ikan konsumsi), scoopnet (untuk menangkap
benih ikan yang berumur satu minggu keatas), seser (gunanya= scoopnet,
tetapi ukurannya lebih besar), jaring berbentuk segiempat (untuk
menangkap induk ikan atau ikan konsumsi).

3. Persiapan Media

Yang dimaksud dengan persiapan adalah melakukan penyiapan media untuk
pemeliharaan ikan, terutama mengenai pengeringan, pemupukan dlsb.
Dalam menyiapkan media pemeliharaan ini, yang perlu dilakukan adalah
pengeringan kolam selama beberapa hari, lalu dilakukan pengapuran untuk
memberantas hama dan ikan-ikan liar sebanyak 25-200 gram/meter
persegi, diberi pemupukan berupa pupuk buatan, yaitu urea dan TSP
masing-masing dengan dosis 50-700 gram/meter persegi, bisa juga
ditambahkan pupuk buatan yang berupa urea dan TSP masing-masing
dengan dosis 15 gram dan 10 gram/meter persegi.




                                              2. Pembibitan

1. Pemilihan Bibit dan Induk

Usaha pembenihan ikan mas dapat dilakukan dengan berbagai cara yaitu
secara tradisional, semi intensif dan secara intensif. Dengan semakin
meningkatnya teknologi budidaya ikan, khususnya teknologi pembenihan
maka telah dilaksanakan penggunaan induk-induk yang berkualitas baik.
Keberhasilan usaha pembenihan tidak lagi banyak bergantung pada kondisi
alam namun manusia telah banyak menemukan kemajuan diantaranya
pemijahan dengan hipofisisasi, peningkatan derajat pembuahan telur
dengan teknik pembunuhan buatan, penetasan telur secara terkontrol,
pengendalian kuantitas dan kualitas air, teknik kultur makanan alami dan
pemurnian kualitas induk ikan. Untuk peningkatan produksi benih perlu
dilakukan penyeleksian terhadap induk ikan mas.

Adapun ciri-ciri induk jantan dan induk betina unggul yang sudah matang
untuk dipijah adalah sebagai berikut:

1. Betina: umur antara 1,5-2 tahun dengan berat berkisar 2 kg/ekor;
Jantan: umur minimum 8 bulan dengan berat berkisar 0,5 kg/ekor.
2. Bentuk tubuh secar akeseluruhan mulai dari mulut sampai ujung sirip
ekor mulus, sehat, sirip tidak cacat.
3. Tutup insan normal tidak tebal dan bila dibuka tidak terdapat bercak
putih; panjang kepala minimal 1/3 dari panjang badan; lensa mata tampak
jernih.
4. Sisik tersusun rapih, cerah tidak kusam.
5. Pangkal ekor kuat dan normal dengan panjang panmgkal ekor harus lebih
panjang dibandingkan lebar/tebal ekor.

Sedangkan ciri-ciri untuk membedakan induk jantan dan induk betina adalah
sebagai berikut:

1. Betina
- Badan bagian perut besar, buncit dan lembek.
- Gerakan lambat, pada malam hari biasanya loncat-loncat.
- Jika perut distriping mengeluarkan cairan berwarna kuning.

2. Jantan
- Badan tampak langsing.
- Gerakan lincah dan gesit.
- Jika perut distriping mengeluarkan cairan sperma berwarna putih.

2. Sistim Pembenihan/Pemijahan

Saat ini dikenal dua macam sistim pemijahan pada budidaya ikan mas, yaitu

Sistim pemijahan tradisional
Dikenal beberapa cara melakukan pemijahan secara tradisional, yaitu:

Cara Sunda:
1. luas kolam pemijahan 25-30 meter persegi, dasar kolam sedikit
berlumpur, kolam dikeringkan lalu diisi air pada pagi hari, induk dimasukan
pada sore hari;
2. disediakan injuk untuk menepelkan telur;
3. setelah proses pemijahan selesai, ijuk dipindah ke kolam penetasan.

Cara Cimindi:
1. luas kolam pemijahan 25-30 meter persegi, dasar kolam sedikit
berlumpur, kolam dikeringkan lalu diisi air pada pagi hari, induk dimasukan
pada sore hari; kolam pemijahan merupakan kolam penetasan;
2. disediakan injuk untuk menepelkan telur, ijuk dijepit bambu dan
diletakkan dipojok kolam dan dibatasi pematang antara dari tanah;
3. setelah proses pemijahan selesai induk dipindahkan ke kolam lain;
4. tujuh hari setelah pemijahan ijuk ini dibuka kemudian sekitar 2-3 minggu
setelah itu dapat dipanen benih-benih ikan.

Cara Rancapaku:
1. luas kolam pemijahan 25-30 meter persegi, dasar kolam sedikit
berlumpur, kolam dikeringkan lalu diisi air pada pagi hari, induk dimasukan
pada sore hari; kolam pemijahan merupakan kolam penetasan, batas
pematang antara terbuat dari batu;
2. disediakan rumput kering untuk menepelkan telur, rumput disebar merata
di seluruh permukaan air kolam dan dibatasi pematang antara dari tanah;
3. setelah proses pemijahan selesai induk tetap di kolam pemijahan.;
4. setelah benih ikan kuat maka akan berpindah tempat melalui sela
bebatuan, setelah 3 minggu maka benih dapat dipanen.

Cara Sumatera:
1. luas kolam pemijahan 5 meter persegi, dasar kolam sedikit berlumpur,
kolam dikeringkan lalu diisi air pada pagi hari, induk dimasukan pada sore
hari; kolam pemijahan merupakan kolam penetasan;
2. disediakan injuk untuk menepelkan telur, ijuk ditebar di permukaan air;
3. setelah proses pemijahan selesai induk dipindahkan ke kolam lain;
4. setelah benih berumur 5 hari lalu pindahkan ke kolam pendederan.

Cara Dubish:
1. luas kolam pemijahan 25-50 meter persegi, dibuat parit keliling dengan
lebar 60 cm dalam 35 cm, kolam dikeringkan lalu diisi air pada pagi hari,
induk dimasukan pada sore hari; kolam pemijahan merupakan kolam
penetasan;
2. sebagai media penempel telur digunakan tanaman hidup seperti Cynodon
dactylon setinggi 40 cm;
3. setelah proses pemijahan selesai induk dipindahkan ke kolam lain;
4. setelah benih berumur 5 hari lalu pindahkan ke kolam pendederan.

Cara Hofer:
1. sama seperti cara dubish hanya tidak ada parit dan tanaman Cynodon
dactylon dipasang di depan pintu pemasukan air.
2. Sistim kawin suntik
Pada sisitim ini induk baik jantan maupun betina yang matang bertelur
dirangsang untuk memijah setelah penyuntikan ekstrak kelenjar hyphofise
ke dalam tubuh ikan. Kelenjar hyphofise diperoleh dari kepala ikan donor
(berada dilekukan tulang tengkorak di bawah otak besar). Setelah suntikan
dilakukan dua kali, dalam tempo 6 jam induk akan terangsang melakukan
pemijahan. Sistim ini memerlukan biaya yang tinggi, sarana yang lengkap
dan perawatan yang intensif.

3. Pembenihan/Pemijahan
Hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan pemijahan ikan mas:
1. Dasar kolam tidak berlumpur, tidak bercadas.
2. Air tidak terlalu keruh; kadar oksigen dalam air cukup; debit air cukup;
dan suhu berkisar 25 derajat C.
3. Diperlukan bahan penempel telur seperti ijuk atau tanaman air.
4. Jumlah induk yang disebar tergantung dari luas kolam, sebagai patokan
seekor induk berat 1 kg memerlukan kolam seluas 5 meter persegi.
5. Pemberian makanan dengan kandungan protein 25%. Untuk pellet
diberikan secara teratur 2 kali sehari (pagi dan sore hari) dengan takaran 2-
4% dari jumlah berat induk ikan.

4. Pemeliharaan Bibit/Pendederan
Pendederan atau pemeliharaan anak ikan mas dilakukan setelah telur-telur
hasil pemijahan menetas. Kegiatan ini dilakukan pada kolam pendederan
(luas 200-500 meter persegi) yang sudah siap menerima anak ikan dimana
kolam tersebut dikeringkan terlebih dahulu serta dibersihkan dari ikan-ikan
liar. Kolam diberi kapur dan dipupuk sesuai ketentuan. Begitu pula dengan
pemberian pakan untuk bibit diseuaikan dengan ketentuan. Pendederan ikan
mas dilakukan dalam beberapa tahap, yaitu:
                                                  1. Tahap I: umur benih
yang disebar sekitar 5-7 hari(ukuran1-1,5 cm); jumlah benih yang
disebar=100-200 ekor/meter persegi; lama pemeliharaan 1 bulan; ukuran
benih menjadi 2-3 cm.
2. Tahap II: umur benih setelah tahap I selesai; jumlah benih yang
disebar=50-75 ekor/meter persegi; lama pemeliharaan 1 bulan; ukuran
benih menjadi 3-5 cm.
3. Tahap III: umur benih setelah tahap II selesai; jumlah benih yang
disebar=25-50 ekor/meter persegi; lama pemeliharaan 1 bulan; ukuran
benih menjadi 5-8 cm; perlu penambahan makanan berupa dedak halus 3-
5% dari jumlah bobot benih.
4. Tahap IV: umur benih setelah tahap III selesai; jumlah benih yang
disebar=3-5 ekor/meter persegi; lama pemeliharaan 1 bulan; ukuran benih
menjadi 8-12 cm; perlu penambahan makanan berupa dedak halus 3-5%
dari jumlah bobot benih.
5. Perlakuan dan Perawatan Bibit
Apabila benih belum mencapai ukuran 100 gram, maka benih diberi pakan
pelet 2 mm sebanyak 3 kali bobot total benih yang diberikan 4 kali sehari
selama 3 minggu.

3. Pemeliharaan Pembesaran
Pemeliharaan pembesaran dapat dilakukan secara polikultur maupun
monokultur.
1. Polikultur
1. ikan mas 50%, ikan tawes 20%, dan mujair 30%, atau
2. ikan mas 50%, ikan gurame 20% dan ikan mujair 30%.
3. Monokultur
Pemeliharaan sistem ini merupakan pemeliharaan terbaik dibandingkan
dengan polikultur dan pada sistem ini dilakukan pemisahan antara induk
jantan dan betina.
1. Pemupukan
Pemupukan dengan kotoran kandang (ayam) sebanyak 250-500 gram/m 2 ,
TSP 10 gram/m 2 , Urea 10 gram/m 2 , kapur 25-100 gram/m 2 . Setelah
itu kolam diisi air 39\0-40 cm. Biarkan 5-7 hari. Dua hari setelah pengisian
air, kolam disemprot dengan insektisida organophosphat seperti Sumithion
60 EC, Basudin 60 EC dengan dosis 2-4 ppm. Tujuannya untuk
memberantas serangga dan udang-udangan yang memangsa rotifera.
Setelah 7 hari kemudian, air ditinggikan sekitar 60 cm. Padat penebaran
ikan tergantung pemeliharaannya. Jika hanya mengandalkan pakan alami
dan dedak, maka padat penebaran adalah 100-200 ekor/m 2 , sedangkan
bila diberi pakan pellet, maka penebaran adalah 300-400 ekor/m 2 (benih
lepas hapa). Penebaran dilakukan pada pagi/sore hari saat suhu rendah.

2. Pemberian Pakan
Dalam pembenihan secara intensif biasanya diutamakan pemberian pakan
buatan. Pakan yang berkualitas baik mengandung zat-zat makanan yang
cukup, yaitu protein yang mengandung asam amino esensial, karbohidrat,
lemak, vitamin dan mineral. Perawatan larva dalam hapa sekitar 4-5 hari.
Setelah larva tidak menempel pada kakaban (3-4 hari kemudian) kakaban
diangkat dan dibersihkan. Pemberian pakan untuk larva, 1 butir kuning telur
rebus untuk 100.000 ekor/hari. Caranya kuning telur dibuat suspensi (1/4
liter air untuk 1 butir), kuning telur diremas dalam kain kemudian diberikan
pada benih, perawatan 5-7 hari.

3. Pemeliharaan Kolam/Tambak
Dalam hal pemeliharaan ikan mas yang tidak boleh terabaikan adalah
menjaga kondisi perairan agar kualitas air cukup stabil dan bersih serta
tidak tercemari/teracuni oleh zat beracun.

7. HAMA DAN PENYAKIT

1. Hama

1. Bebeasan (Notonecta)

Berbahaya bagi benih karena sengatannya. Pengendalian: menuangkan
minyak tanah ke permukaan air 500 cc/100 meter persegi.

2. Ucrit (Larva cybister)
Menjepit badan ikan dengan taringnya hingga robek. Pengendalian: sulit
diberantas; hindari bahan organik menumpuk di sekitar kolam.

3. Kodok
Makan telur telur ikan. Pengendalian: sering membuang telur yang
mengapung; menagkap dan membuang hidup-hidup.

4. Ular
Menyerang benih dan ikan kecil. Pengendalian: lakukan penangkapan;
pemagaran kolam.

5. Lingsang
Memakan ikan pada malam hari. Pengendalian:pasang jebakan berumpun.

6. Burung
Memakan benih yang berwarna menyala seperti merah, kuning.
Pengendalian: diberi penghalang bambu agar supaya sulit menerkam; diberi
rumbai-rumbai atau tali penghalang.

7. Ikan gabus
Memangsa ikan kecil. Pengendalian:pintu masukan air diberi saringan atau
dibuat bak filter.

8. Belut dan kepiting
Pengendalian: lakukan penangkapan.

2. Penyakit

1. Bintik merah (White spot)
Gejala: pada bagian tubuh (kepala, insang, sirip) tampak bintik-bintik putih,
pada infeksi berat terlihat jelas lapisan putih, menggosok-gosokkan
badannya pada benda yang ada disekitarnya dan berenang sangat lemah
serta sering muncul di permukaan air.
Pengendalian: direndam dalam larutan Methylene blue 1% (1 gram dalam
100 cc air) larutan ini diambil 2-4 cc dicampur 4 liter air selama 24 jam dan
Direndam dalam garam dapur NaCl selama 10 menit, dosis 1-3 gram/100 cc
air.

2. Bengkak insang dan badan (Myxosporesis)
Gejala: tutup insang selalu terbuka oleh bintik kemerahan, bagian punggung
terjadi pendarahan.
Pengendalian; pengeringan kolam secara total, ditabur kapur tohon 200
gram/m 2 , biarkan selama 1-2 minggu.

3. Cacing insang, sirip, kulit (Dactypogyrus dan Girodactylogyrus)
Gejala: ikan tampak kurus, sisik kusam, sirip ekor kadang-kadang rontok,
ikan menggosok-gosokkan badannya pada benda keras disekitarnya, terjadi
pendarahan dan menebal pada insang.
Pengendalian:
1. direndan dalam larutan formalin 250 gram/m3 selama 15 menit dan
direndam dalam Methylene blue 3 gram/m3 selama 24 jam;
2. hindari penebaran ikan yang berlebihan.

4. Kutu ikan (Argulosis)
Gejala: benih dan induk menjadi kurus, karena dihisap darahnya. Bagian
kulit, sirip dan insang terlihat jelas adanya bercak merah (hemorrt age).
Pengendalian:
1. ikan yang terinfeksi direndan dalam garam dapur 20 gram/liter air selama
15 menit dan direndam larutan PK 10 ppm (10 ml/m3) selama 30 menit;
2. dengan pengeringan kolam hingga retak-retak.

5. Jamur (Saprolegniasis)
Menyerang bagian kepala, tutup insang, sirip dan bagian yang lainnya.
Gejala: tubuh yang diserang tampak seperti kapas. Telur yang terserang
jamur, terlihat benang halus seperti kapas.
Pengendalian: direndam dalam larutan Malactile green oxalat (MGO) dosis 3
gram/m3 selama 30 menit; telur yang terserang direndam dengan MGO 2-3
gram/m3 selama 1 jam.

6. Gatal (Trichodiniasis)
Menyerang benih ikan.
Gejala: gerakan lamban; suka menggosok-gosokan badan pada sisi
kolam/aquarium.
Pengendalian: rendam selam 15 menit dalam larutan formalin 150-200 ppm.

7. Bakteri Psedomonas flurescens
Penyakit yang sangat ganas.
Gejala: pendarahan dan bobok pada kulit; sirip ekor terkikis.
Pengendalian: pemberian pakan yang dicampur oxytetracycline 25-30 mg/kg
ikan atau sulafamerazine 200mg/kg ikan selama 7 hari berturut-turut.

8. Bakteri Aeromonas punctata
Penyakit yang sangat ganas.
Gejala: warna badan suram, tidak cerah; kulit kesat dan melepuh; cara
bernafas mengap-mengap; kantong empedu gembung; pendarahan dalam
organ hati dan ginjal.
Pengendalian: penyuntikan chloramphenicol 10-15 mg/kg ikan atau
streptomycin 80-100 mg/kg ikan; pakan dicampur terramicine 50 mg/kg
ikan selama 7 hari berturut-turut.
Secara umum hal-hal yang dilakukan untuk dapat mencegah timbulnya
penyakit dan hama pada budidaya ikan mas:
1. Pengeringan dasar kolam secara teratur setiap selesai panen.
2. Pemeliharaan ikan yang benar-benar bebas penyakit.
3. Hindari penebaran ikan secara berlebihan melebihi kapasitas.
4. Sistem pemasukan air yang ideal adalah paralel, tiap kolam diberi satu
pintu pemasukan air.
5. Pemberian pakan cukup, baik kualitas maupun kuantitasnya.
6. Penanganan saat panen atau pemindahan benih hendaknya dilakukan
secara hati-hati dan benar.
7. Binatang seperti burung, siput, ikan seribu (lebistus reticulatus peters)
sebagai pembawa penyakit jangan dibiarkan masuk ke areal perkolaman.

8. PANEN

1. Pemanenan Benih
Sebelum dilakukan pemanenan benih ikan, terlebih dahulu dipersiapkan
alat-alat tangkap dan sarana perlengkapannya. Beberapa alat tangkap dan
sarana yang disiapkan diantaranya keramba, ember biasa, ember lebar,
seser halus sebagai alat tangkap benih, jaring atau hapa sebagai
penyimpanan benih sementara, saringan yang digunakan untuk
mengeluarkan air dari kolam agar benih ikan tidak terbawa arus, dan bak-
bak penampungan yang berisi air bersih untuk penyimpanan benih hasil
panen. Panen benih ikan dimulai pagi-pagi, yaitu antara jam 04.00–05.00
pagi dan sebaiknya berakhir tidak lebih dari jam 09.00 pagi. Hal ini
dimaksudkan untuk menghindari terik matahari yang dapat mengganggu
benih ikan kesehatan tersebut. Pemanenan dilakukan mula-mula dengan
menyurutkan air kolam pendederan sekitar pkul 04.00 atau 05.00 pagi
secara perlahan-lahan agar ikan tidak stres akibat tekanan air yang berubah
secara mendadak. Setelah air surut benih mulai ditangkap dengan seser
halus atau jaring dan ditampung dalam ember atau keramba. Benih dapat
dipanen setelah dipelihara selama 21 hari. Panenan yang dapat diperoleh
dapat mencapai 70-80% dengan ukuran benih antara 8-12 cm.

2. Cara Perhitungan
Benih Untuk mengetahui benih ikan hasil panenan yang disimpan dalam bak
penyimpanan maka sebelum dijual, terlebih dahulu dihitung jumlahnya. Cara
menghitung benih umumnya dengan memakai takaran, yaitu dengan
menggunakan sendok untuk larva dan kebul, cawan untuk menghitung
putihan, dan dihitung per ekor untuk benih ukuran glondongan.
Penghitungan benih biasanya dengan cara:
1. Penghitungan dengan sendok.
2. Penghitungan dengan mangkok.
3. Pembersihan

Pada umumnya, dasar kolam pendederan sudah dirancang miring dan ada
saluran di tengah kolam, selain itu pada dasar kolam tersebut ada bagian
yang lebih dalam dengan ukuran 1-2 meter persegi sehingga ketika air
menyurut, maka benih ikan akan mengumpul di bagian kolam yang dalam
tersebut. Benih ikan lalu ditangkap sampai habis dan tidak ada yang
ketinggalan dalam kolam. Benih ikan tersebut semuanya disimpan dalam
bak-bak penampungan yang
telah disiapkan.

4. Pemanenan Hasil Pembesaran
Untuk menangkap/memanen ikan hasil pembesaran umumnya dilakukan
panen total. Umur ikan mas yang dipanen berkisar antara 3-4 bulan dengan
berat berkisar antara 400-600 gram/ekor. Panen total dilakukan dengan
cara mengeringkan kolam, hingga ketinggian air tinggal 10-20 cm. Petak
pemanenan / petak penangkapan dibuat seluas 2 meter persegi di depan
pintu pengeluaran (monnik), sehingga memudahkan dalam penangkapan
ikan. Pemanenan dilakukan pagi hari saat keadaan tidak panas dengan
menggunakan waring atau scoopnet yang halus. Lakukan pemanenan
secepatnya dan hati-hati untuk menghindari lukanya ikan.

9. PASCAPANEN

Penanganan pascapanen ikan mas dapat dilakukan dengan cara penanganan
ikan hidup maupun ikan segar.
1. Penanganan ikan hidup
Adakalanya ikan konsumsi ini akan lebih mahal harganya bila dijual dalam
keadaan hidup. Hal yang perlu diperhatikan agar ikan tersebut sampai ke
konsumen dalam keadaan hidup, segar dan sehat antara lain:
1. Dalam pengangkutan gunakan air yang bersuhu rendah sekitar 20 derajat
C.
2. Waktu pengangkutan hendaknya pada pagi hari atau sore hari.
3. Jumlah kepadatan ikan dalam alat pengangkutan tidak terlalu padat.

2. Penanganan ikan segar
Ikan segar mas merupakan produk yang cepat turun kualitasnya. Hal yang
perlu diperhatikan untuk mempertahankan kesegaran antara lain:
1. Penangkapan harus dilakukan hati-hati agar ikan-ikan tidak luka.
2. Sebelum dikemas, ikan harus dicuci agar bersih dan lendir.
3. Wadah pengangkut harus bersih dan tertutup. Untuk pengangkutan jarak
dekat (2 jam perjalanan), dapat digunakan keranjang yang dilapisi dengan
daun pisang/plastik. Untuk pengangkutan jarak jauh digunakan kotak dan
seng atau fiberglass. Kapasitas kotak maksimum 50 kg dengan tinggi kotak
maksimum 50 cm.
4. Ikan diletakkan di dalam wadah yang diberi es dengan suhu 6-7 derajat
C. Gunakan es berupa potongan kecil-kecil (es curai) dengan erbandingan
jumlah es dan ikan=1:1. Dasar kotak dilapisi es setebal 4-5 cm. Kemudian
ikan disusun di atas lapisan es ini setebal 5-10 cm, lalu disusul lapisan es
lagi dan seterusnya. Antara ikan dengan dinding kotak diberi es, demikian
juga antara ikan dengan penutup kotak.

3. Sedangkan hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pananganan benih
adalah sebagai berikut:

1. Benih ikan harus dipilih yang sehat yaitu bebas dari penyakit, parasit dan
tidak cacat. Setelah itu, benih ikan baru dimasukkan ke dalam kantong
plastik (sistem tertutup) atau keramba (sistem terbuka).

2. Air yang dipakai media pengangkutan harus bersih, sehat, bebas hama
dan penyakit serta bahan organik lainya. Sebagai contoh dapat digunakan
air sumur yang telah diaerasi semalam.

3. Sebelum diangkut benih ikan harus diberok dahulu selama beberapa hari.
Gunakan tempat pemberokan berupa bak yang berisi air bersih dan dengan
aerasi yang baik. Bak pemberokan dapat dibuat dengan ukuran 1 m x 1 m
atau 2 m x 0,5 m. Dengan ukuran tersebut, bak pemberokan dapat
menampung benih ikan mas sejumlah 5000–6000 ekor dengan ukuran 3-5
cm. Jumlah benih dalam pemberokan harus disesuaikan dengan ukuran
benihnya.

4. Berdasarkan lama/jarak pengiriman, sistem pengangkutan benih terbagi
menjadi dua bagian, yaitu:
a. Sistem terbuka
Dilakukan untuk mengangkut benih dalam jarak dekat atau tidak
memerlukan waktu yang lama. Alat pengangkut berupa keramba. Setiap
keramba dapat diisi air bersih 15 liter dan dapat untuk mengangkut sekitar
5000 ekor benih ukuran 3-5 cm.
b. Sistem tertutup
Dilakukan untuk pengangkutan benih jarak jauh yang memerlukan waktu
lebih dari 4-5 jam, menggunakan kantong plastik. Volume media
pengangkutan terdiri dari air bersih 5 liter yang diberi buffer Na2(hpo)4.H2O
sebanyak 9 gram.

Cara pengemasan benih ikan yang diangkut dengan kantong plastik:
1. masukkan air bersih ke dalam kantong plastik kemudian benih;
2. hilangkan udara dengan menekan kantong plastik ke permukaan air;
3. alirkan oksigen dari tabung dialirkan ke kantong plastik sebanyak 2/3
volume keseluruhan rongga (air:oksigen=1:2);
4. kantong plastik lalu diikat.
5. kantong plastik dimasukkan ke dalam dos dengan posisi membujur atau
ditidurkan. Dos yang berukuran panjang 0,50 m, lebar 0,35 m, dan tinggi
0,50 m dapat diisi 2 buah kantong plastik.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan setelah benih sampai di tempat tujuan
adalah sebagai berikut:
1. Siapkan larutan tetrasiklin 25 ppm dalam waskom (1 kapsul tertasiklin
dalam 10 liter air bersih).
2. Buka kantong plastik, tambahkan air bersih yang berasal dari kolam
setempat sedikit demi sedikit agar perubahan suhu air dalam kantong plastik
terjadi perlahan-lahan.
3. Pindahkan benih ikan ke waskom yang berisi larutan tetrasiklin selama 1-
2 menit.
4. Masukan benih ikan ke dalam bak pemberokan. Dalam bak pemberokan
benih ikan diberi pakan secukupnya. Selain itu, dilakukan pengobatan
dengan tetrasiklin 25 ppm selama 3 hari berturut-turut. Selain tetrsikli dapat
juga digunakan obat lain seperti KMNO4 sebanyak 20 ppm atau formali n
sebanyak 4% selama 3-5 menit.
5. Setelah 1 minggu dikarantina, tebar benih ikan di kolam budidaya.

10. ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA

1. Analisis Usaha Budidaya
Analisis budidaya ikan mas koki dengan luas lahan 70 m 2 (kapasitas 1000
ekor) selama 7 bulan pada tahun 1999 di daerah Jawa Barat.
1. Biaya produksi
1. Sewa dan pembuatan kolam Rp. 1.500.000,-
2. Benih ikan 1.000 ekor, @ Rp.100,- = Rp. 100.000,-
3. Pakan
Cacing rambut 150 kg @ Rp. 1.500,- = Rp. 225.000,-
Pelet udang 10 kg @ Rp. 9.500,- = Rp. 95.000,-
Tepung jagung 50 kg @ Rp. 1.500,- = Rp. 75.000,-
Ganti air 7 bulan x 4 x2 @ Rp. 5.000,- = Rp. 140.000,-
Tenaga kerja 28 minggu @ Rp.10.000,- = Rp. 280.000,-
Obat-oabatan Rp. 10.000,-
4. Peralatan Rp. 50.000,-
5. Lain-lain Rp. 150.000,-
Jumlah biaya produksi Rp. 2.625.000,-

2. Pendapatan
1. Panen I (2 bulan) 400 ekor @ Rp.1.000,- = Rp. 400.000,-
2. Panen II (4 bulan) 250 ekor @ Rp. 3.000,- = Rp. 750.000,-
3. Panen III ( 2 bulan) 250 ekor @ Rp. 10.000,- = Rp. 2.500.000,-
Jumlah pendapatan Rp. 3.650.000,-
3. Keuntungan dalam 7 bulan Rp. 1.025.000,- --> Keuntungan per bulan Rp.
146.425,-
4. Parameter kelayakan usaha : B/C ratio 1,39

2. Gambaran Peluang Agribisnis
Dengan adanya luas perairan umum di Indonesia yang terdiri dari sungai,
rawa, danau alam dan buatan seluas hampir mendekati 13 juta ha
merupakan potensi alam yang sangat baik bagi pengembangan usaha
perikanan di Indonesia. Disamping itu banyak potensi pendukung lainnya
yang dilaksanakan oleh pemerintah dan swasta dalam hal permodalan,
program penelitian dalam hal pembenihan, penanganan penyakit dan hama
dan penanganan pasca panen, penanganan budidaya serta adanya
kemudahan dalam hal periizinan import. Walaupun permintaan di tingkal
pasaran lokal akan ikan mas dan ikan air tawar lainnya selalu mengalami
pasang surut, namun dilihat dari jumlah hasil penjualan secara rata-rata
selalu mengalami kenaikan dari tahun ke tahun. Apabila pasaran lokal ikan
mas mengalami kelesuan, maka akan sangat berpengaruh terhadap harga
jual baik di tingkat petani maupun di tingkat grosir di pasar ikan. Selain itu
penjualan benih ikan mas boleh dikatakan hampir tak ada masalah,
prospeknya cukup baik. Selain adanya potensi pendukung dan faktor
permintaan komoditi perikanan untuk pasaran lokal, maka sektor perikanan
merupakan salah satu peluang usaha bisnis yang cerah.

11. DAFTAR PUSTAKA
1. DAMANA, Rahman. 1990. Pembenihan Ikan Mas Secara Intensif dalam
Sinar Tani. 2 ,Juni 1990 hal. 2
2. GUNAWAN. Mengenal Cara Pemijahan Ikan Mas dalam Sinar Tani. 27
Agustus 1988 hal. 5
3. RUKMANA, Rahmat. 1991. Budidaya Ikan Mas, Untungnya Bagai
Menabung Emas dalam Sinar Tani. 13 Februari 1991 hal. 5
4. RUKMANA, Rahmat. 1992. Prospek Usaha Ikan Mas Menggiurkan Dan
Menguntungkan dalam Suara Karya. 18 Februari 1992 hal. 7
5. SANTOSO, Budi. 1993. Petunjuk praktis : Budidaya ikan mas. Yogyakarta
: Kanisius.
6. SUMANTADINATA, Komar. 1981. Pengembangbiakan ikan-ikan peliharaan
di Indonesia. Jakarta : Sastra Hudaya.
7. SUSENO, Djoko. 1999. Pengelolaan usaha pembenihan ikan mas, cet. :7.
Jakarta : Penebar Swadaya.

Sumber : Ipteknet: Proyek Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pedesaan –
BAPPENAS

Posted by Pudjiatmoko, PhD at 17:11

Labels: Budidaya ikan
2 comme nts:


jurnal obat said...

        Blog yang bagus...
        Terima kasih atas infonya...

        30 November 2008 13:30

Anonymous said...

        Terima kasih atas infonya, sangat menginspirasi sy untuk memulai usaha di bidang
        perikanan air tawar.

        20 December 2010 17:03

Post a Comment

Links to this post

Create a Link

Newer Post Older Post Home
Subscribe to: Post Comments (Atom)

© Atani Tokyo

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:847
posted:4/23/2011
language:Indonesian
pages:27