Sejarah manusia

Document Sample
Sejarah manusia Powered By Docstoc
					                                        KATA PENGANTAR




      Puji syukur kita panjatkan atas kehadirat Allah SWT,karena berkat limpahan dan rahmat –Nya lah
,sehingga saya dapat menyelesaikan tugas Makalah tersebut.

    Walaupun Makalah tersebut belum sempurna dan masih memiliki banyak kekurangan,olkarena
manusia tidak luput dari rasa salah /khilaf..maka dari itu saya mharap kepada para pembimbing ataw para
pembaca memakluminya..


    Demikian tugas Makalah tersebut, atas perhatiannya saya ucapkan banyak terima kasih.




                                                                               Kendari, April 2011



                                                                                        Penulis
                                       Bab 2 PEMBAHASAN


        I.       PENGERTIAN HUMAN RELATION (Onong, 2001: 138; Alo, 1997: 28, 42)

         Hubungan manusiawi adalah terjemahan dari human relation. Ada juga orang yang
menerjemahkannya menjadi “hubungan manusia” dan “hubungan antarmanusia”, yang sebenarnya tidak
terlalu salah karena yang berhubungan satu sama lain adalah manusia. Hanya saja, di sini sifat hubungan
tidak seperti orang berkomunikasi biasa, bukan hanya merupakan penyampaian suatu pesan oleh
seseorang kepada orang lain, tetapi hubungan antara orang-orang yang berkomunikasi itu mengandung
unsur-unsur kejiwaan yang amat mendalam.
         Ditinjau dari ilmu komunikasi, hubungan manusiawi itu termasuk ke dalam komunikasi
antarpersona (interpersonal communication) sebab berlangsung pada umumnya antara dua orang secara
dialogis. Dikatakan bahwa hubungan manusiawi itu komunikasi karena sifatnya action oriented,
mengandung kegiatan untuk mengubah sikap, pendapat, atau perilaku seseorang.
         Komunikasi antar pribadi yang manusiawi berarti komunikasi yang telah memasuki tahap
psikologis yang komunikator dan komunikannya saling memahami pikiran, perasaan dan melakukan
tindakan bersama. Ini juga berarti bahwa apabila kita hendak menciptakan suatu komunikasi yang penuh
dengan keakraban yang didahului oleh pertukaran informasi tentang identitas dan masalah pribadi yang
bersifat sosial.
         Ada dua pengertian hubungan manusiawi, yakni hubungan manusiawi dalam arti luas dan
hubungan manusiawi dalam arti sempit.
a.        Hubungan manusiawi dalam arti luas
         Hubungan manusiawi dalam arti luas ialah interaksi antara seseorang dengan orang lain dalam
segala situasi dan dalam semua bidang kehidupan. Jadi, hubungan manusiawi dilakukan dimana saja: di
rumah, di jalan, dalam bis, dalam kereta api, dan sebagainya.
         Berhasilnya seseorang dalam melakukan hubungan manusiawi ialah karena ia bersifat manusiawi:
ramah, sopan, hormat, menaruh penghargaan, dan lain-lain sikap yang bernilai luhur.
         Bahwa manusia harus bersikap demikian sebenarnya bukanlah hal yang luar biasa sebab secara
kodratiyah, selain homo sapiens sebagai makhluk berpikir yang membedakannya dnegan hewan, manusia
juga merupakan homo socius, makhluk bermasyarakat. Tidak mungkin ia hidup tanpa orang lain. Dan
sebagai makhluk sosial, ia harus berusaha menciptakan keserasian dan keselarasan dengan
lingkungannya.
                                             Bab 1. PENDAHULUAN

        1.1 Latar Belakang

         Sebagai anggota masyarakat, manusia hidup dalam dua jenis pergaulan yang oleh Ferdinand
Tonnies disebut Gemeinschaft dan Gesellschaft. Dalam Gemeinschaft seseorang bergaul dalam suatu
kehidupan yang sangat akrab, sedemikian akrabnya sehingga penderitaan atau kebahagiaan yang dialami
oleh orang lain dirasakan olehnya seperti penderitaan atau kebahagiaannya sendiri. Kehidupan keluarga
atau kehidupan berteman yang sangat akrab termasuk ke dalam Gemeinschaft. Ciri lain dari Gemeinschaft
ialah bahwa seorang anggota Gemeinschaft tidak bisa keluar masuk masyarakat itu menurut kemauannya
saja. Seorang ayah, umpamanya, walau apapun yang terjadi, tetap ayah dari anak-anaknya. Ia tidak bisa
membebaskan diri dari status ayah itu. Sifat pergaulan hidup Gemeinschaft ialah statis-pribadi-tak
rasional. Dikatakan statis karena pergaulan hidup dalam masyarakat demikian tidak banyak mengalami
perubahan. Interaksi yang terjadi dalam suatu rumah tangga setiap hari antara ayah, ibu, dan anak tidak
mengalami dinamika. Sifatnya pribadi (personal). Jika terjadi perselisihan, dapat diselesaikan dengan
segera. Tidak rasional maksudnya tidak ada tata cara yang mengatur pergaulannya.
         Lain sekali dengan pergaulan hidup dalam Gesellschaft, yakni kehidupan dalam suatu organisasi
yang sifatnya dinamis, tidak pribadi dan rasional. Dinamis artinya hubunganya dengan orang banyak
bergantian. Tidak pribadi artinya tidak akrab sehingga jika terjadi benturan psikologis, tidak mudah
menyelesaikannya. Rasional artinya ada aturan-aturan ketat yang mengikat. Dalam Gesellschaft orang
bergaul berdasarkan perhitungan untung rugi. Seseorang baru memasuki pergaulan hidup Gesellschaft
apabila diperkirakan ada keuntungan baginya. Ia juga bebas masuk dan keluar dari Gesellschaft sesuai
dengan ada tidaknya pamrih padanya.
         Akan tetapi pergaulan hidup seperti yang dikemukakan Ferdinand Tonnies itu sebenarnya
hanyalah tipe-tipe ideal. Pada kenyataannya tipe-tipe ekstrem 100% tidaklah mutlak ada, yang ada
hanyalah tekanan atau titik berat pada salah satu dari jenis pergaulan hidup itu. Artinya: jika titik beratnya
rasio, dinamakan Gesellschaft; jika titik beratnya perasaan, dinamakan Gemeinschaft. Dalam Gesellschaft
tujuan pergaulan lebih banyak ditekankan pada keuntungan; dalam Gemeinschaft untuk mendapat
hubungan kekeluargaan atau kekerabatan. Kalaupun dalam Gemeinschaft ada keuntungan yang dapat
diperoleh, keuntungan itu datang dengan sendirinya; dalam Gesellschaft datang karena kewajiban yang
dipaksakan dari luar. Dalam Gemeinschaft kewajiban datang bukan dari luar, melainkan dari dalam diri
pribadi. Apa pun sifat pergaulan itu, apakah Gemeinschaft atau Gesellschaft, tujuan hubungan manusiawi
adalah pemusatan hati masing-masing yang terlibat dalam kegiatan itu.
         Eduard C. Lindeman dalam bukunya yang terkenal, The Democratic Way of Life, mengatakan
bahwa “Hubungan manusiawi adalah komunikasi antar persona (interpersonal communication) untuk
membuat orang lain mengerti dan menaruh simpati”. Orang akan menaruh simpati jika dirinya dihargai.
Dalam hubungan ini William James, seorang ahli ilmu jiwa dari Harvard University, Amerika Serikat
mengatakan bahwa “tiap manusia dalam hati kecilnya ingin dihormati dan dihargai”.
         Dalam pada itu, Keith Davis mengatakan bahwa human dignity (harga diri) merupakan etika dan
dasar moral bagi hubungan manusiawi. Hasil penyelidikan mengenai personal wants (keinginan pribadi)
telah menunjukkan bahwa tiap manusia ingin diperlakukan sebagai human being (manusia) dengan
respect (kehormatan) dan dignity (penghargaan).
         Agar seseorang merasa bahwa dirinya dihargai sebagai layaknya manusia dapat ditunjukkan
dengan berbagai cara bergantung pada situasi, kondisi, dan tujuan dilakukannya human relations itu

1.2 RUMUSAN MASALAH

    1. Untuk mengetahui apa pengertian dan defenisi Human Relation
    2. Bagaimana sejarah perkembangan Human Relation
                                          BAB 2. PEMBAHASAN


    A. Pengertian dan defenisi Human Relation



.
         Hubungan manusiawi dalam arti sempit adalah juga interaksi antara seseorang dengan orang lain.
Akan tetapi interaksi di sini hanyalah dalam situasi kerja dan dalam organisasi kekaryaan (work
organization).
         “Dipandang dari sudut pemimpin yang bertanggung jawab untuk memimpin suatu kelompok,
hubungan manusiawi adalah interaksi orang-orang yang menuju satu situasi kerja yang memotivasikan
mereka untuk bekerja sama secara produktif dengan perasaan puas, baik ekonomis, psikologis, maupun
sosial.” Demikian kata Keith Davis dalam bukunya, Human Relations at Work. Dikatakan oleh Keith
Davis selanjutnya bahwa hubungan manusiawi adalah seni dan ilmu pengetahuan terapan (applied arts
and science).
         Jelas bahwa ciri khas hubungan manusiawi adalah interaksi atau komunikasi antarpersona yang
sifatnya manusiawi. Karena manusia yang berinteraksi itu terdiri atas jasmani dan rohani yang berakal
dan berbudi yang selain merupakan makhluk pribadi juga makhluk sosial maka dalam melakukan
hubungan manusiawi kita harus memperhitungkan diri manusia dengan segala kompleksitasnya itu.
         Seperti telah disinggung di muka, dalam organisasi kekaryaan manusia merupakan strategic
component karena mempunyai peranan yang sangat penting. Organisasi kekaryaan dewasa ini cenderung
menganut filsafat yang people centered yakni bahwa dalam organisasi kekaryaan manusia bukan
pelaksanaan atau alat produksi belaka melainkan merupakan faktor pendorong dalam mencapai tujuan.
         Hubungan manusiawi dalam organisasi kekaryaan inilah yang banyak dipelajari, diteliti dan
dipraktekkan di negara-negara yang sudah maju sebab faktor manusia ini sangat berpengaruh pada usaha
mencapai tujuan organisasi: dapat memperlancar, dapat juga menghambat. Dengan hubungan manusiawi,
para pemimpin organisasi dapat memecahkan masalah yang timbul dalam situasi kerja karena faktor
manusia, bahkan selanjutnya dapat menggairahkan dan menggerakkannya ke arah yang lebih produktif.
         Sejak awal kehidupan, manusia diciptakan untuk hidup bersama. Setiap manusia mempunyai
ayah dan ibu yang melahirkan, memelihara dan membesarkannya. Karena setiap manusia mempunyai
ayah dan ibu maka dia pasti mempunyai kakek dan nenek, paman dan bibi serta saudara dan saudari.
Hubungan kekeluargaan itu dapat diperluas ke lingkungan di luar kerabat keluarga, misal hubungan
dengan lingkungan tetangga, sekolah dan organisasi sosial.
         Beberapa teori hubungan antarmanusia:
1. Teori Self Disclosure
Pencetus teori ini adalah Joseph Luft. Sering disebut teori “Johari Window” atau Jendela Johari. Para
pakar psikologi kepribadian menganggap bahwa model teoritis yang dia ciptakan merupakan dasar untuk
menjelaskan dan memahami interaksi antarpribadi secara manusiawi. Garis besar model teoritis Jendela
Johari dapat dilihat dalam gambar berikut ini.
                                                  Saya tahu                     Saya tidak tahu
          Orang lain tahu                      1. TERBUKA                          2. BUTA
       Orang lain tidak tahu               3. TERSEMBUNYI                     4. TIDAK KENAL

Jendela Johari terdiri dari 4 bingkai. Masing-masing bingkai berfungsi menjelaskan bagaimana tiap
individu bisa memahami diri sendiri maka dia bisa mengendalikan sikap dan tingkah lakunya di saat
berhubungan dengan orang lain.
Bingkai 1, menunjukkan orang yang terbuka terhadap orang lain. Keterbukaan itu disebabkan dua pihak
(saya dan orang lain) sama-sama mengetahui informasi, perilaku, sikap, perasaan, keinginan, motivasi,
gagasan, dan lain-lain. Johari menyebutnya “bidang terbuka”, suatu bingkai yang paling ideal dalam
hubungan dan komunikasi antar pribadi.
Bingkai 2, adalah bidang buta. “Orang Buta” merupakan orang yang tidak mengetahui banyak hal tentang
dirinya sendiri namun orang lain mengetahui banyak hal tentang dia.
Bingkai 3, disebut “bidang tersembunyi” yang menunjukkan keadaan bahwa pelbagai hal diketahui diri
sendiri namun tidak diketahui orang lain.
Bingkai 4, disebut “bidang tidak dikenal” yang menunjukkan keadaan bahwa pelbagai hal tidak diketahui
diri sendiri dan orang lain.
Model Jendela Johari dibangun berdasarkan 8 asumsi yang berhubungan dengan perilaku manusia.
Asumsi-asumsi itu menjadi landasan berpikir para kaum humanistik.
Asumsi pertama, pendekatan terhadap perilaku manusia harus dilakukan secara holistik. Artinya kalau
kita hendak menganalisa perilaku manusia maka analisis itu harus menyeluruh sesuai konteks dan jangan
terpenggal-penggal.
Asumsi kedua, apa yang dialami seseorang atau sekelompok orang hendaklah dipahami melalui persepsi
dan perasaan tertentu meskipun pandangan itu subjektif.
Asumsi ketiga, perilaku manusia lebih sering emosional bukan rasional. Pendekatan humanistik terhadap
perilaku sangat menekankan betapa pentingnya hubungan antara faktor emosi dengan perilaku.
Asumsi keempat, setiap individu atau sekelompok orang sering tidak menyadari bahwa tindakan-
tindakannya dapat menggambarkan perilaku individu atau kelompok tersebut. Oleh karena itu, para pakar
aliran humanistik sering mengemukakan pendapat mereka bahwa setiap individu atau kelompok perlu
meningkatkan kesadaran sehingga mereka dapat mempengaruhi dan dipengaruhi orang lain.




2.   Teori Atribusi

3.   Teori Penetrasi Sosial

4.   Teori Pandangan Proses

5.   Teori Perspektif Pertukaran


        Dalam hubungan manusiawi terjadi proses persepsi. Persepsi adalah pengalaman tentang objek,
peristiwa atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan
pesan. Persepsi ialah memberikan makna pada stimuli inderawi (sensory stimuli)Hubungan manusiawi
adalah terjemahan dari human relation. Ada juga orang yang menerjemahkannya menjadi “hubungan
manusia” dan “hubungan antarmanusia”, yang sebenarnya tidak terlalu salah karena yang berhubungan
satu sama lain adalah manusia. Hanya saja, di sini sifat hubungan tidak seperti orang berkomunikasi
biasa, bukan hanya merupakan penyampaian suatu pesan oleh seseorang kepada orang lain, tetapi
hubungan antara orang-orang yang berkomunikasi itu mengandung unsur-unsur kejiwaan yang amat
mendalam.
        Ditinjau dari ilmu komunikasi, hubungan manusiawi itu termasuk ke dalam komunikasi
antarpersona (interpersonal communication) sebab berlangsung pada umumnya antara dua orang secara
dialogis. Dikatakan bahwa hubungan manusiawi itu komunikasi karena sifatnya action oriented,
mengandung kegiatan untuk mengubah sikap, pendapat, atau perilaku seseorang.
        Komunikasi antar pribadi yang manusiawi berarti komunikasi yang telah memasuki tahap
psikologis yang komunikator dan komunikannya saling memahami pikiran, perasaan dan melakukan
tindakan bersama. Ini juga berarti bahwa apabila kita hendak menciptakan suatu komunikasi yang
penudengan keakraban yang didahului oleh pertukaran informasi tentang identitas dan masalah pribadi
yang bersifat sosial.



    B. SEJARAH PERKEMBANGAN HUMAN RELATION



         Ada dua pengertian hubungan manusiawi, yakni hubungan manusiawi dalam arti luas dan
hubungan manusiawi dalam arti sempit.
a.        Hubungan manusiawi dalam arti luas
         Hubungan manusiawi dalam arti luas ialah interaksi antara seseorang dengan orang lain dalam
segala situasi dan dalam semua bidang kehidupan. Jadi, hubungan manusiawi dilakukan dimana saja: di
rumah, di jalan, dalam bis, dalam kereta api, dan sebagainya.
         Berhasilnya seseorang dalam melakukan hubungan manusiawi ialah karena ia bersifat manusiawi:
ramah, sopan, hormat, menaruh penghargaan, dan lain-lain sikap yang bernilai luhur.
         Bahwa manusia harus bersikap demikian sebenarnya bukanlah hal yang luar biasa sebab secara
kodratiyah, selain homo sapiens sebagai makhluk berpikir yang membedakannya dnegan hewan, manusia
juga merupakan homo socius, makhluk bermasyarakat. Tidak mungkin ia hidup tanpa orang lain. Dan
sebagai makhluk sosial, ia harus berusaha menciptakan keserasian dan keselarasan dengan
lingkungannya.
         Sebagai anggota masyarakat, manusia hidup dalam dua jenis pergaulan yang oleh Ferdinand
Tonnies disebut Gemeinschaft dan Gesellschaft. Dalam Gemeinschaft seseorang bergaul dalam suatu
kehidupan yang sangat akrab, sedemikian akrabnya sehingga penderitaan atau kebahagiaan yang dialami
oleh orang lain dirasakan olehnya seperti penderitaan atau kebahagiaannya sendiri. Kehidupan keluarga
atau kehidupan berteman yang sangat akrab termasuk ke dalam Gemeinschaft. Ciri lain dari Gemeinschaft
ialah bahwa seorang anggota Gemeinschaft tidak bisa keluar masuk masyarakat itu menurut kemauannya
saja. Seorang ayah, umpamanya, walau apapun yang terjadi, tetap ayah dari anak-anaknya. Ia tidak bisa
membebaskan diri dari status ayah itu. Sifat pergaulan hidup Gemeinschaft ialah statis-pribadi-tak
rasional. Dikatakan statis karena pergaulan hidup dalam masyarakat demikian tidak banyak mengalami
perubahan. Interaksi yang terjadi dalam suatu rumah tangga setiap hari antara ayah, ibu, dan anak tidak
mengalami dinamika. Sifatnya pribadi (personal). Jika terjadi perselisihan, dapat diselesaikan dengan
segera. Tidak rasional maksudnya tidak ada tata cara yang mengatur pergaulannya.
         Lain sekali dengan pergaulan hidup dalam Gesellschaft, yakni kehidupan dalam suatu organisasi
yang sifatnya dinamis, tidak pribadi dan rasional. Dinamis artinya hubunganya dengan orang banyak
bergantian. Tidak pribadi artinya tidak akrab sehingga jika terjadi benturan psikologis, tidak mudah
menyelesaikannya. Rasional artinya ada aturan-aturan ketat yang mengikat. Dalam Gesellschaft orang
bergaul berdasarkan perhitungan untung rugi. Seseorang baru memasuki pergaulan hidup Gesellschaft
apabila diperkirakan ada keuntungan baginya. Ia juga bebas masuk dan keluar dari Gesellschaft sesuai
dengan ada tidaknya pamrih padanya.
         Akan tetapi pergaulan hidup seperti yang dikemukakan Ferdinand Tonnies itu sebenarnya
hanyalah tipe-tipe ideal. Pada kenyataannya tipe-tipe ekstrem 100% tidaklah mutlak ada, yang ada
hanyalah tekanan atau titik berat pada salah satu dari jenis pergaulan hidup itu. Artinya: jika titik beratnya
rasio, dinamakan Gesellschaft; jika titik beratnya perasaan, dinamakan Gemeinschaft. Dalam Gesellschaft
tujuan pergaulan lebih banyak ditekankan pada keuntungan; dalam Gemeinschaft untuk mendapat
hubungan kekeluargaan atau kekerabatan. Kalaupun dalam Gemeinschaft ada keuntungan yang dapat
diperoleh, keuntungan itu datang dengan sendirinya; dalam Gesellschaft datang karena kewajiban yang
dipaksakan dari luar. Dalam Gemeinschaft kewajiban datang bukan dari luar, melainkan dari dalam diri
pribadi. Apa pun sifat pergaulan itu, apakah Gemeinschaft atau Gesellschaft, tujuan hubungan manusiawi
adalah pemusatan hati masing-masing yang terlibat dalam kegiatan itu.
         Eduard C. Lindeman dalam bukunya yang terkenal, The Democratic Way of Life, mengatakan
bahwa “Hubungan manusiawi adalah komunikasi antar persona (interpersonal communication) untuk
membuat orang lain mengerti dan menaruh simpati”. Orang akan menaruh simpati jika dirinya dihargai.
Dalam hubungan ini William James, seorang ahli ilmu jiwa dari Harvard University, Amerika Serikat
mengatakan bahwa “tiap manusia dalam hati kecilnya ingin dihormati dan dihargai”.
         Dalam pada itu, Keith Davis mengatakan bahwa human dignity (harga diri) merupakan etika dan
dasar moral bagi hubungan manusiawi. Hasil penyelidikan mengenai personal wants (keinginan pribadi)
telah menunjukkan bahwa tiap manusia ingin diperlakukan sebagai human being (manusia) dengan
respect (kehormatan) dan dignity (penghargaan).
         Agar seseorang merasa bahwa dirinya dihargai sebagai layaknya manusia dapat ditunjukkan
dengan berbagai cara bergantung pada situasi, kondisi, dan tujuan dilakukannya human relations itu.

 Hubungan manusiawi dalam arti sempit

         Hubungan manusiawi dalam arti sempit adalah juga interaksi antara seseorang dengan orang lain.
Akan tetapi interaksi di sini hanyalah dalam situasi kerja dan dalam organisasi kekaryaan (work
organization).
         “Dipandang dari sudut pemimpin yang bertanggung jawab untuk memimpin suatu kelompok,
hubungan manusiawi adalah interaksi orang-orang yang menuju satu situasi kerja yang memotivasikan
mereka untuk bekerja sama secara produktif dengan perasaan puas, baik ekonomis, psikologis, maupun
sosial.” Demikian kata Keith Davis dalam bukunya, Human Relations at Work. Dikatakan oleh Keith
Davis selanjutnya bahwa hubungan manusiawi adalah seni dan ilmu pengetahuan terapan (applied arts
and science).
         Jelas bahwa ciri khas hubungan manusiawi adalah interaksi atau komunikasi antarpersona yang
sifatnya manusiawi. Karena manusia yang berinteraksi itu terdiri atas jasmani dan rohani yang berakal
dan berbudi yang selain merupakan makhluk pribadi juga makhluk sosial maka dalam melakukan
hubungan manusiawi kita harus memperhitungkan diri manusia dengan segala kompleksitasnya itu.
         Seperti telah disinggung di muka, dalam organisasi kekaryaan manusia merupakan strategic
component karena mempunyai peranan yang sangat penting. Organisasi kekaryaan dewasa ini cenderung
menganut filsafat yang people centered yakni bahwa dalam organisasi kekaryaan manusia bukan
pelaksanaan atau alat produksi belaka melainkan merupakan faktor pendorong dalam mencapai tujuan.
         Hubungan manusiawi dalam organisasi kekaryaan inilah yang banyak dipelajari, diteliti dan
dipraktekkan di negara-negara yang sudah maju sebab faktor manusia ini sangat berpengaruh pada usaha
mencapai tujuan organisasi: dapat memperlancar, dapat juga menghambat. Dengan hubungan manusiawi,
para pemimpin organisasi dapat memecahkan masalah yang timbul dalam situasi kerja karena faktor
manusia, bahkan selanjutnya dapat menggairahkan dan menggerakkannya ke arah yang lebih produktif.
         Sejak awal kehidupan, manusia diciptakan untuk hidup bersama. Setiap manusia mempunyai
ayah dan ibu yang melahirkan, memelihara dan membesarkannya. Karena setiap manusia mempunyai
ayah dan ibu maka dia pasti mempunyai kakek dan nenek, paman dan bibi serta saudara dan saudari.
Hubungan kekeluargaan itu dapat diperluas ke lingkungan di luar kerabat keluarga, misal hubungan
dengan lingkungan tetangga, sekolah dan organisasi sosial.
        Beberapa teori hubungan antarmanusia:




1. Teori Self Disclosure

     Pencetus teori ini adalah Joseph Luft. Sering disebut teori “Johari Window” atau Jendela Johari. Para
pakar psikologi kepribadian menganggap bahwa model teoritis yang dia ciptakan merupakan dasar untuk
menjelaskan dan memahami interaksi antarpribadi secara manusiawi. Garis besar model teoritis Jendela
Johari dapat dilihat dalam gambar berikut ini.

                                                Saya tahu                        Saya tidak tahu
        Orang lain tahu                      1. TERBUKA                             2. BUTA
      Orang lain tidak tahu               3. TERSEMBUNYI                       4. TIDAK KENAL

Jendela Johari terdiri dari 4 bingkai. Masing-masing bingkai berfungsi menjelaskan bagaimana tiap
individu bisa memahami diri sendiri maka dia bisa mengendalikan sikap dan tingkah lakunya di saat
berhubungan dengan orang lain.
Bingkai 1, menunjukkan orang yang terbuka terhadap orang lain. Keterbukaan itu disebabkan dua pihak
(saya dan orang lain) sama-sama mengetahui informasi, perilaku, sikap, perasaan, keinginan, motivasi,
gagasan, dan lain-lain. Johari menyebutnya “bidang terbuka”, suatu bingkai yang paling ideal dalam
hubungan dan komunikasi antar pribadi.
Bingkai 2, adalah bidang buta. “Orang Buta” merupakan orang yang tidak mengetahui banyak hal tentang
dirinya sendiri namun orang lain mengetahui banyak hal tentang dia.
Bingkai 3, disebut “bidang tersembunyi” yang menunjukkan keadaan bahwa pelbagai hal diketahui diri
sendiri namun tidak diketahui orang lain.
Bingkai 4, disebut “bidang tidak dikenal” yang menunjukkan keadaan bahwa pelbagai hal tidak diketahui
diri sendiri dan orang lain.
Model Jendela Johari dibangun berdasarkan 8 asumsi yang berhubungan dengan perilaku manusia.
Asumsi-asumsi itu menjadi landasan berpikir para kaum humanistik.
Asumsi pertama, pendekatan terhadap perilaku manusia harus dilakukan secara holistik. Artinya kalau
kita hendak menganalisa perilaku manusia maka analisis itu harus menyeluruh sesuai konteks dan jangan
terpenggal-penggal.
Asumsi kedua, apa yang dialami seseorang atau sekelompok orang hendaklah dipahami melalui persepsi
dan perasaan tertentu meskipun pandangan itu subjektif.
Asumsi ketiga, perilaku manusia lebih sering emosional bukan rasional. Pendekatan humanistik terhadap
perilaku sangat menekankan betapa pentingnya hubungan antara faktor emosi dengan perilaku.
Asumsi keempat, setiap individu atau sekelompok orang sering tidak menyadari bahwa tindakan-
tindakannya dapat menggambarkan perilaku individu atau kelompok tersebut. Oleh karena itu, para pakar
aliran humanistik sering mengemukakan pendapat mereka bahwa setiap individu atau kelompok perlu
meningkatkan kesadaran sehingga mereka dapat mempengaruhi dan dipengaruhi orang lain.
2.   Teori Atribusi

3.   Teori Penetrasi Sosial

4.   Teori Pandangan Proses

5.   Teori Perspektif Pertukaran


        Dalam hubungan manusiawi terjadi proses persepsi. Persepsi adalah pengalaman tentang objek,
peristiwa atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan
pesan. Persepsi ialah memberikan makna pada stimuli inderawi (sensory stimuli).
                              DAFTAR ISI



Kata pengantar ……………………………………………………………………………………………………..1

Daftar Isi………………………………………………………………………………………………………………..2

  Bab 1 Pendahuluan………………………………………………………………………………………..3

    1.1 latar Belakang………………………………………………………………………………………

    1.2 Rumusan masalah………………………………………………………………………………….

  Bab 2. Pembahasan…………………………………………………………………………………………

    A.Sejarah dan Pewkembangan Human Relation………………………………………..

    B. Defenisi dan pengertian Human Relation………………………………………………

 Bab 3..Penutup………………………………………………………………………………………………….

   A.Kesimpulan……………………………………………………………………………………………….

   B.Saran………………………………………………………………………………………………………..



Daftar Pustaka………………………………………………………………………………………………………
                            DAFTAR PUSTAKA



Abdurrachman, Oemi. 1993. Dasar-dasar Human Relations. Bandung: Citra Aditya
BaktiEffendy, Onong Uchjana. 1999. Hubungan Manusiawi. Suatu Study Komunikologis.
Cetakan ke lima. Bandung: Remaja Rosdakarya.Jefkins, Frank dan Daniel Yadin. 1996. Public
Relations. Edisi Kelima. Jakarta: ErlanggaKasali, Rhenald. 2005. Manajemen Public Relations.
Jakarta: GrafitiMoore, Frazier. 2004. Human, Membangun Citra dengan Komunikasi. Bandung:
Rosda.
Diposkan oleh Yusril Saputra (Kasih itu... sabar menanggung segala sesuatu 1 kor 13:7) di
9/25/2008 09:01:00 PM
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Berbagi ke Twitter Berbagi ke Facebook Berbagi ke Google
Buzz
               BAB 3 PENUTUP


               A.Kesimpulan


               Jika setiap orang ingin berkerja secara humoris dengan segala
perbedaan pandangan, motivasi, dan pencapaian tujuan, maka setiap orang yang ada
dalam kelompok kerja/dunia usaha hendaklah memahami human relations. Sehingga
pekerjaan yang dilakukan bermanfaat dan dapat berproduksi dengan baik, yang pada
akhirnya diharaokan mencapai kepuasan dari hasil kerja untuk individu itu sendiri
maupun untuk organisasinya.

      Human relations pengertiannya dibagi dua yaitu secara luas dan sempit. Human
relations dalam arti luas adalah interaksi antar manusia dalam semua situasi atau semua
bidang kehidupan, untuk mencapai kepuasan. Dengan demikian human relations dalam
arti luas dapat terjadi dimana saja, seperti dirumah, di jalanan, dalam kendaraan, dan
lain-lain dimana setiap dapat melakukkannya dengan komunikasi yang baik, sehingga
saling memuaskan indiidu yang terlibat di dalammnya.

    Human relations dalam arti sempit adalah interaksi dalam situasi kerja di suatu
organisasi, yang bertujuan untuk membangkitkan seseorang agar dapat bekerjasama,
produktif, dan memiliki keputusan.

    Dengan adanya human relations diharapkan, dalam suatu manajamen dapat saling
membantu sehingga gairah kerja dapat mengarah pada keadaan yang lebih produktif.
Dalam pergaulan sehari-hari, KC Ingram mengatakan bahwa sukses dan kebahagiaan
kita tergantung dari sikap dan tindakan-tindakan orang lain. Sikap orang lain ini
bergantung dari sikap dan kelakuan kita. Di sini Ingram menekankan bahwa sukses
seseorang di dalam masyarakat bergantung pada sikapnya sendiri.
Max Schoen mengemukakan bahwa manusia kehilangan pekerjaannya, lebih banyak
disebabkan oleh sifat-sifat yang dianggap “aneh”, daripada karena kekurangannya
dalam bidang teknik atau karena tidak begitu terampil.
Pendapat dari Max Schoen didukung oleh Ingram, bahwa kita perlu menentukan sikap
dan pergaulan dengan bersikap ramah, kata-kata yang menyenangkan dan menghargai
orang lain, sebelum orang lain melakukan sesuatu untuk diri kita.


               B. Saran


               Saya sadar bahwa Tugas Makalah ini masih banyak memiliki
kekurangan,oleh sebab itu saya mengharapkan Krtik dan Saran yang bersifat
membangun..

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:430
posted:4/23/2011
language:Indonesian
pages:12