Format Isian Tunjangan Profesi - DOC
Description
Format Isian Tunjangan Profesi document sample
Document Sample


DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL
SISTEM PENGEMBANGAN PROFESIONALISME DOSEN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
1
DAFTAR ISI
Bab I Pendahuluan......................................................................... 3
A. Latar Belakang ................................................................. 3
B. Pokok Pikiran .................................................................. 3
C. Terminologi ..................................................................... 3
D. Learning University........................................................... 3
Bab II Kebijakan yang Diperlukan .............................................. 7
Bab III Sistem Pengembangan Profesionalisme Dosen .............. 10
A. Pengantar ......................................................................... 10
B. Anatomi SPPD ................................................................... 10
1. Tujuan .......................................................................... 10
2. Dasar Hukum ................................................................ 11
3. Peserta Program ............................................................ 11
4. Pembina ........................................................................ 11
5. Langkah Pengembangan ................................................ 11
6. Bahan Pengembangan .................................................... 11
7. Kelembagaan ................................................................. 12
8. Ketenagaan ................................................................... 12
9. Pembiayaan ................................................................... 12
10. Penilaian ...................................................................... 13
a. Instrumentasi ............................................................ 13
b. Tes-tes SPPD ............................................................ 13
c. Waktu Penilaian ........................................................ 14
d. Analisis Keberhasilan Pembelajaran ............................ 14
e. Kriteria Keberhasilan Pembelajaran ............................ 15
f. Tindak Lanjut Ketidaklulusan ..................................... 16
C. Deskripsi Tugas Pelaku SPPD ............................................. 16
1. Dosen .......................................................................... 17
2. Pembina ....................................................................... 19
3. Ketua Program Studi ..................................................... 19
4. Ketua Jurusan .............................................................. 20
5. UP SPPD ...................................................................... 20
6. Pimpinan Fakultas ........................................................ 20
7. LPP .............................................................................. 20
8. Pimpinan Universitas ..................................................... 20
Bab IV. Langkah Penyelenggaraan SPPD ....................................... 21
Sumber Bahan .................................................................................. 22
2
BAB I. PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Masalah yang melatarbelakangi pembahasan dalam naskah akademik ini
adalah: Apa kebijakan dasar yang perlu dijalankan UNS untuk
mengembangkan diri dari Learning University (LU) menjadi Research
University (RU), sehingga universitas dapat berstatus World Recognized
atau World Class University (WRU atau WCU)?
B. POKOK PIKIRAN
Salah satu kebijakan dasar yang diusulkan untuk membangun UNS menjadi
LU menuju RU yang berstatus WRU atau WCU adalah: Membangun
profesionalisme melalui pembudayaan belajar di kalangan dosen. Dengan
dosen yang berbudaya belajar, kualitas pembelajaran di kelas diharapkan
meningkat. Suasana akademik PT akan meningkat. Fase PT sebagai LU
akan mantap, dan PT akan bergerak menuju RU dengan status WRU atau
WCU.
C. TERMINOLOGI
Batasan yang telah dibahas Senat Universitas dalam sidang-sidangnya tahun
2008/09 adalah sebagai berikut:
1. Teaching University (TU) adalah perguruan tinggi yang pusat
kegiatannya adalah pengajaran; UNS diyakini telah melampaui
tahap ini.
2. Learning University (LU) adalah PT di mana dosen-dosennya
senang belajar, karena belajar dinilai memberikan keuntungan
kepada dirinya; UNS dalam beberapa tahun terakhir diyakini telah
memasuki masa peralihan pada tahap ini.
3. Research University (RU) adalah perguruan tinggi yang
sebagian terbesar dosennya bergelar doktor, dosen bersama
mahasiswa melakukan kegiatan penelitian, yang merupakan salah
satu revenue utama penyelenggaraan PT, dan syarat-syarat lain
yang lazim digunakan sebagai kriteria dalam masyarakat
akademik internasional.
4. World Known University (WKU). Ini konsep baru. WKU adalah
PT biasa (dengan status TU, atau LU, dan tentu saja RU), yang
dikenal dunia karena penyebaran informasinya yang ekstensif
melalui IT.
5. World Recognized University (WRU). WRU adalah PT biasa
(dengan status TU, LU atau RU), tetapi memiliki keunggulan-
keunggulan lokal. Baik yang sifatnya fondasional (misalnya
lifelong learning management di PT yang bersangkutan)
maupun yang disipliner (misalnya herbal medicine, di FK PT
yang bersangkutan), yang diakui dunia.
6. Worldclass University (WCU) adalah PT yang kegiatan-kegiatan
penelitiannya telah menghasilkan karya-karya besar; kegiatan itu
menjadi sumber revenue utama PT; sebagian terbesar dosennya
telah bergelar doktor; dan telah terpenuhinya syarat-syarat lain
yang lazim digunakan sebagai kriteria dalam masyarakat
akademik dunia.
3
Hubungan konsep-konsep pengembangan yang tersebut di atas sebagai
disajikan pada Skema 1.
Skema 1. Hubungan Konsep Serdos, SPPD,
TU, LU, RU, WRU dan WCU.
WCU
WRU
atau
WKU
TU LU RU
Keterangan:
1. Serdos: Sertifikasi Dosen SPPD
2. SPPD: Sistem Pengemb.
Profme Dosen
3. TU: Teaching Univ.
4. LU: Learning Univ.
5. RU: Research University
6. WRU: World Recognized Univ.
7. WCU: Worldclass University SERDOS
Sedangkan hubungan fase, ciri, status dan time frame pengembangan UNS
diharapkan sebagai berikut:
4
Tabel 1: Fase, Ciri, Status dan Time Frame pengembangan UNS
Fase Ciri/Krit Utama Status Time Frame
RU Dosen dan Mhs Asia Pacific ; WCU Tkt optimal WCU
bekerja bersama dlm 2030
riset; 90% Dosen
Doktor; Riset sumber
revenue utama; dsb
LU Dosen, Mhs, National/Southeast Sd. 2013
Karyawan senang Asia/Regional Class
belajar; berkembang University; WRU
budaya belajar; dsb
TU Transmisi Ipteks Local menuju Sd. 2008
dosen kpd mhs; dsb National University
Catatan: Tiap fase perguruan tinggi dapat berstatus WKU bila secara ekstensif
berhasil memperkenalkan dirinya kepada dunia melalui IT.
D. LEARNING UNIVERSITY
Karena status perkembangan UNS saat ini diyakini ada pada tahap awal fase LU
menuju RU, dengan status sekurang-kurangnya sebagai National University,
maka dirasa perlu menjelaskan konsep LU sebagai berikut.
1. Derivasi dari Learning Organization (LO): Istilah Learning University
merupakan derivasi dari konsep Learning Organization. Menurut El Mariscal
(2005) Learning Organization (LO) -- atau organisasi pembelajaran -- adalah
organisasi yang memberikan kesempatan dan mendorong setiap individu
yang ada dalam organisasi tersebut untuk terus belajar dan memperluas
kapasitas dirinya. Ia merupakan organisasi yang siap menghadapi perubahan
dengan mengelola perubahan itu sendiri (managing change). Sementara itu
menurut Karash (Karash, 1995. http://www.world.std.com) “…A Learning
Organization is one in which people at all levels, individually and collectively,
are continually increasing their capacity to produce results they really care
about…”.
2. Ciri LO: Agar proses learning dapat berjalan dalam organisasi diperlukan
sekurang-kurangnya 4 ciri yang harus ada dalam organisasi itu. Ialah
lancarnya komunikasi di antara semua pihak dalam organisasi; kebebasan
untuk mengajukan pertanyaan dan memperoleh jawaban di kalangan warga
organisasi; adanya cukup waktu untuk berkomunikasi dan melakukan
perbaikan-perbaikan yang diperlukan; dan adanya rasa saling hormat dan
saling mendukung di dalam organisasi. Dalam konteks UNS sebagai sebuah
organisasi, ciri-ciri ini dapat terwujud bila Strategi Pemberdayaan Jurusan
berhasil dijalankan oleh universitas. Sebab strategi itu pada dasarnya
merupakan participatory planning, implementation and evaluation, di mana
proses komunikasi di kalangan warga program studi atau jurusan berjalan
sebagai bagian dari proses kebersamaan. Maka perkembangan menuju LU
akan dipercepat dengan pemberjalanan Strategi Pemberdayaan Jurusan.
3. LU Derivasi dari LO: Konsep LU merupakan derivasi dari konsep Learning
Organization. Universitas adalah sebuah organisasi: dalam universitas ada
tujuan yang hendak dicapai bersama oleh seluruh warganya; ada hierarki
dalam organisasi; ada pembagian tugas dan kewenangan; dan semua ciri
5
lain yang melekat pada sebuah organisasi. Maka dasar konseptual LU dapat
diambil dari ilmu organisasi.
4. Sistem Pengelolaan LU: Sistem pengelolaan LU harus dapat menumbuhkan
keyakinan di kalangan warganya -- sebagaimana dikemukakan oleh David
Garvin dari Harvard University -- bahwa "continuous improvement requires a
commitment to learning" (Garvin 1994, 19-28), dan bahwa “…Learning to do
is enormously rewarding and personally satisfying…” (Karash, 1995.
http://www.world.std.com), bagi orang yang mau belajar. Sebagaimana telah
dikemukakan, ini merupakan salah satu tujuan pengembangan UNS yang
tertulis dalam Renstra Bisnis 2009 – 2013.
5. Belajar dalam Bekerja: Dalam konteks perguruan tinggi, LU adalah sebuah
universitas di mana semua warganya (ialah dosen, mahasiswa, bahkan para
staf administrasinya) didorong untuk belajar dalam bekerja, dan bekerja
dalam belajar. Semuanya menjadi senang belajar, karena belajar
dianggap menguntungkan dirinya. Dorongan diberikan melalui sistem
pengelolaan yang dirancang secara khusus, sejak dari perumusan visi-misi-
tujuan pengembangan, arah pengembangan, penetapan program kerja
jangka panjang-menengah-tahunan, penetapan kegiatan-kegiatannya, hingga
pengendalian pelaksanaannya. Kesemuanya diarahkan untuk memberikan
pembiasaan kepada warga universitas untuk belajar dalam bekerja dan
bekerja dalam belajar.
6. Pengembangan Profesionalisme melalui Pembelajaran: Pengembangan
profesionalisme bertujuan meningkatkan kualitas penyelenggaraan Tridharma
Perguruan Tinggi. Pengembangan profesionalisme dosen dilakukan dengan
menjalankan kegiatan pembelajaran, baik secara mandiri maupun dengan
bantuan pembinaan dari tenaga senior. Kegiatan pembelajaran yang
dilakukan dosen merupakan komponen penting yang membentuk LU. Maka
menjadi kewajiban perguruan tinggi untuk memberikan lingkungan yang
kondusif bagi berlangsungnya kegiatan pembelajaran dosen pada
khususnya, dan warga kampus pada umumnya. Pemberian lingkungan yang
kondusif dilakukan dengan penetapan program-program tahunan secara
terarah, termasuk penyediaan sarana prasarana belajar dan sistem insentif
pembelajaran.
7. Unggulan Fondasional dan Disipliner: Keberhasilan penyelenggaraan LU
dapat menjadi keunikan dalam sistem pengelolaan perguruan tinggi.
Keunikan ini dapat menjadi salah satu unsur yang menyumbang
kemenonjolan UNS dalam masyarakat akademik tingkat nasional, ataupun
bahkan tingkat yang lebih luas. Sebab “lifelong learning skills development”
dapat menjadi unggulan produk UNS yang sifatnya fondasional -- atau
unggulan dalam segi membekali ketrampilan belajar kepada lulusan. (Bahkan
skills ini juga ditumbuhkan pada diri dosen melalui kegiatan pembelajaran
yang terprogram). Pengembangan unggulan-unggulan yang khas adalah
sesuai dengan mission differentiation dan suatu kemustian untuk
memberikan pembekalan soft skills bagi masa depan mahasiswa,
sebagaimana yang dimaksud dalam Higher Education Long Term Strategy
Dikti 2003 – 2010. Di atas unggulan yang bersifat fondasional dan basic itu
dapat dibangun di UNS unggulan-unggulan lain yang lebih bersifat
“discipline oriented”/disipliner, atau inter-disipliner, sesuai dengan potensi
SDM, dan sumber-sumber lain yang dimiliki, serta kebutuhan strategik.
6
BAB II. KEBIJAKAN YANG DIPERLUKAN
Pokok Pikiran yang tersebut pada butir B diurai menjadi kebijakan-kebijakan
yang perlu dijalankan UNS untuk mendorong perkembangan LU ke RU yang
berstatus WRU atau WCU, sebagai berikut.
A. Kebijakan 1: Penahapan Perkembangan
Agar upaya pengembangan berjalan efektif dan efisien dalam keterbatasan
sumber-sumber, perlu ditetapkan penahapan pengembangan UNS sebagai
berikut.
a. Penahapan.
RU dicapai secara bertahap. Penahapan pengembangannya adalah dari TU
menuju LU ke RU yang berstatus WRU atau WCU, sebagaimana disajikan
pada Skema 1 Naskah Akademik Sistem Pengembangan Profesionalisme
Dosen terlampir.
b. Sebagaimana tersebut pada Tabel 1 pada Naskah tersebut pada butir a,
diharapkan target waktu penahapan sebagai berikut:
1). TU telah dijalani UNS hingga awal tahun 2009, ialah pada saat UNS mulai
menjalankan kebijakan-kebijakan IMHERE dan penetapan UNS sebagai
BLU.
2). LU dirintis mulai awal tahun 2009, ialah sejak UNS ditetapkan sebagai
BLU, dan dikembangkan hingga tahun 2013 -- pada saat mana
kemungkinan UNS telah ditetapkan sebagai BHP.
3). Mulai tahun 2013 UNS memasuki tahap RU, hingga mencapai tingkat
optimal pada tahun 2030.
4). Status WRU direncanakan telah dicapai pada akhir tahap LU.
5). Status WCU tingkat optimal direncanakan telah dicapai UNS menjelang
tahun 2030.
Pada akhir setiap tahap perlu ada evaluasi untuk menentukan apakah tahap itu
sudah berakhir sesuai yang direncanakan.
B. Kebijakan 2: Membangun Profesionalisme melalui Pembelajaran.
a. Penahapan mencerminkan fokus utama kegiatan:
1) TU dengan fokus pengajaran (= teaching -- teacher-centered learning);
diyakini tahap ini telah dilampaui UNS.
2). LU dengan fokus pembelajaran (= learning -- learner-centered learning);
di mana dosen sebagai teacher melakukan kegiatan belajar berkelanjutan
sebagai learner/pembelajar, demi peningkatan profesionalismenya);
3). RU dengan fokus penelitian (=research--centered learning).
Karena budaya learning diperlukan untuk memacu perkembangan, maka
dalam setiap tahap pengembangan PT diperlukan upaya untuk selalu
mengembangkan profesionalisme dosen melalui pembudayaan learning.
Untuk itu diperlukan pengembangan sistem pembinaan profesionalisme
yang melekat dalam sistem pengelolaan perguruan tinggi di setiap tahap
perkembangannya. SPPD adalah sistem pembinaan profesionalisme
dosen yang dapat dan harus dikerjakan di semua tahap. Untuk
pelaksanaannya pada tingkat universitas diperlukan SK Rektor.
b. Penyelenggaraan serdos merupakan momentum yang tepat untuk memulai
program pembinaan profesionalisme dosen secara sistemik di PT, karena
serdos telah berupaya menumbuhkan self-motivation for learning di
kalangan dosen. Dibarengi dengan pemberian berbagai maslahat bagi
mereka yang dinilai memiliki kompetensi yang dibutuhkan dalam
menjalankan profesi sebagai dosen, diperkirakan dapat lebih menambah
semangat pembelajaran dosen untuk meningkatkan profesionalismenya.
Program pengembangan profesionalisme dosen diselenggarakan di PT
7
dengan menggunakan momentum pengembangan self-motivation for
learning ini.
c. Di UNS, pengembangan profesionalisme dosen telah memiliki induk berupa:
(i) Program Operasional P5.11 “Penguatan dan Pengembangan Staf
Akademik”; (ii) Program Stratejik “Keunggulan dalam Sumberdaya
Manusia”; dan (iii) Tujuan Pengembangan UNS yang antara lain berbunyi:
“Menciptakan lingkungan yang mendorong setiap warga kampus mau
belajar guna mengembangkan kemampuan diri secara optimal”.
Kesemuanya telah ada dalam Renstra Bisnis UNS 2009-2013. Dengan kata
lain, UNS telah menyatakan kehendaknya secara resmi untuk mendorong
warganya melakukan pembelajaran secara berkelanjutan guna meningkatkan
terus profesionalismenya. Jadi penyelenggaraan program pengembangan
profesionalisme dosen -- atau Sistem Pembinaan Profesionalisme Dosen,
SPPD -- telah memiliki dasar hukum yang kuat karena telah ditetapkan dalam
Renstra. Namun perlu pencantuman secara eksplisit SPPD dalam RBA
Tahunan secara berkelanjutan, baik di tingkat universitas maupun fakultas.
d. Penyelenggaraan program-program penyediaan sarana prasarana belajar
dan sistem insentif pembelajaran untuk mendukung program pembelajaran.
Sistem insentif pembelajaran pada dasarnya merupakan sistem insentif-
non-finansial yang dijalankan untuk melengkapi aturan kenaikan pangkat
dan jabatan yang telah ada. Aturan tentang sistem insentif non-finansial
dimaksudkan untuk memberikan penghargaan kepada dosen yang berhasil
meningkatkan profesionalismenya melalui pembelajaran/SPPD. Penghargaan
diberikan dalam bentuk kum pembelajaran yang termasuk kelompok
Tridharma pendidikan & pengajaran.
e. Penerbitan SK Rektor tentang pemberjalanan SPPD di UNS. SK dapat
ditetapkan berlaku sesegera mungkin. SK dilampiri Naskah Akademik SPPD
sebagai pedoman penyelenggaraan. Dilanjutkan dengan penerbitan SK
pelaksanaan di fakultas oleh Dekan.
f. Pemantauan renstra dan rencana tahunan. Dalam kegiatan ini termasuk
pemantauan pelaksanaan SPPD dan hasil serta permasalahannya. Pantauan
dimaksudkan untuk:
1). Menilai perkembangan pencapaian pelaksanaan SPPD di fakultas-
fakultas dari waktu ke waktu;
2). Menilai perkembangan porsi dan jumlah anggaran tahunan untuk
pembiayaan kegiatan pengembangan LF dan LU menuju RU yang
berstatus WRU atau WCU; hasil penilaian dipakai dasar untuk merobah
porsi dan jumlah anggaran hingga tingkat optimal.
Kegiatan di atas dilakukan melalui dan diintegrasikan dengan sistem monev
internal.
C. Kebijakan 3: Menyelenggarakan SPPM dan SPPTA.
Memperluas program pembelajaran dosen dengan menyelenggarakan Sistem
Pembinaan Profesionalisme Mahasiswa (SPPM) dan Sistem Pembinaan
Profesionalisme Tenaga Administrasi (SPPTA). Sehingga pembelajaran secara
sistemik dilakukan oleh semua warga PT. Ini akan mempercepat pencapaian
gerak maju dari LU menuju RU.
D. Kebijakan 4: Internasionalisasi UNS.
a. Menetapkan unggulan-unggulan lokal, dan mendalaminya melalui kegiatan
Tridharma, dengan dukungan dana yang memadai.
b. Menyebarluaskan hasil-hasil kegiatan pendalaman unggulan lokal dan
kegiatan Tridharma lainnya ke masyarakat akademik internasional melalui IT
dll.
8
c. Peningkatan jumlah mahasiswa asing di UNS; peningkatan jumlah dosen
yang mengajar di perguruan tinggi terkenal di luar negeri; peningkatan
kerjasama-kerjasama dengan perguruan tinggi lain, baik di dalam maupun di
luar negeri; dan lain-lain.
Langkah-langkah ini juga akan mempercepat pencapaian gerak maju dari LU
menuju RU.
E. Kebijakan 5: Manpower planning.
a. Manpower planning diperlukan untuk mencapai visi dan misi PT secara lebih
efisien.
b. Manpower planning dapat dilakukan dengan menghire pakar profesional dan
menugasi tim internal untuk alih teknologi dan menanganinya.
c. Manpower planning secara serius diperlukan agar dosen pada saatnya nanti
benar-benar memiliki profesionalisme berbasis kepakaran/spesialisasi, yang
mendukung pencapaian status WRU atau WCU.
SPPD merupakan salah satu bentuk sistem pengembangan profesionalisme
dosen. SPPD juga merupakan salah satu bentuk pembudayaan belajar di
kalangan dosen. Di bagian berikut diuraikan apa itu SPPD dan bagaimana
menjalankannya.
9
BAB III SISTEM PENGEMBANGAN PROFESIONALISME DOSEN
A. Pengantar
1. Semangat yang melandasi penyusunan Undang-undang Guru dan Dosen
adalah bahwa seorang pendidik harus well educated, well trained, well paid,
well protected, dan well managed. Namun selain itu, seorang pendidik juga
harus well accounted, dalam arti ia dituntut untuk mempertanggung
jawabkan performa kerjanya sebagai seorang profesional. Untuk itu ia harus
bersedia dinilai, dan berupaya terus mengembangkan profesionalismenya
selama menjalankan tugas sebagai pendidik.
2. Program sertifikasi dosen bertujuan menilai profesionalisme dosen, guna
meningkatkan mutu pendidikan dalam sistem pendidikan tinggi. Pengakuan
profesionalisme dinyatakan dalam bentuk pemberian sertifikat.
Pertanyaannya adalah: Setelah dosen mendapatkan sertifikat pendidik dan
kemaslahatan yang melekat pada sertifikat itu, apa mutu pendidikan dalam
sistem pendidikan tinggi otomatis meningkat? Jawabannya adalah tidak.
3. Pengembangan profesionalisme, dan penerapannya dalam pengelolaan
pembelajaran bagi mahasiswa, merupakan matarantai-penghubung antara
sertifikasi dosen dengan mutu pendidikan di perguruan tinggi (PT). Adalah
menjadi tanggung jawab pribadi dosen yang telah lulus sertifikasi untuk terus
meningkatkan profesionalismenya, melalui kegiatan pembelajaran.
Profesionalisme yang terjaga dan meningkat itu dicerminkan dalam
pembelajaran di kelas-kelas yang diampunya. Dengan demikian diharapkan
mutu pendidikan meningkat.
4. Kegiatan pembelajaran yang dimaksud di sini adalah kegiatan-kegiatan:
a. menemukan kekurangan kompetensi pada diri sendiri -- melalui self
evaluation dan refleksi;
b. menyusun rencana pengembangan diri;
c. melaksanakan rencana pengembangan diri;
d. mengevaluasi hasil pengembangan diri, baik dalam segi peningkatan
profesionalisme diri maupun dampaknya pada kualitas pengelolaan
pembelajaran di kelas;
e. menetapkan tindak lanjut.
5. Kegiatan pembelajaran dapat dibantu oleh PT dengan penyelenggaraan
Sistem Pengembangan Profesionalisme Dosen (SPPD). Melalui program itu
PT memberikan bantuan, kesempatan dan dorongan kepada dosennya.
Bukan hanya kepada mereka yang telah lulus sertifikasi. Melainkan juga
kepada mereka yang tidak lulus sertifikasi dan belum pernah menempuh
sertifikasi.
B. Anatomi SPPD
1. Tujuan
SPPD merupakan sistem yang dijalankan PT untuk membantu dosen
melakukan pembelajaran guna meningkatkan kompetensi pedagogik,
profesional, kepribadian dan sosial, yang diperlukan dalam kegiatan
pengajaran, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Bantuan PT antara
lain berupa pengorganisasian sistem, pemberian bantuan pembinaan dalam
proses pembelajaran, pemberjalanan sistem insentif non-finansial bagi upaya
10
pembelajaran untuk meningkatkan profesionalisme, dan penciptaan suasana
belajar yang menunjang. Pengembangan profesionalisme dilakukan secara
berkelanjutan, sehingga dosen memiliki ketrampilan belajar sepanjang hidup.
2. Dasar Hukum
Dalam kaitannya dengan serdos, penyelenggaraan SPPD memiliki dua dasar
hukum kuat yang juga digunakan oleh program Serdos. Ialah (1) Undang-
Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, yang mewajibkan
dosen selalu meningkatkan profesionalismenya; dan (2) Keputusan
Menkowasbangpan Nomor 38 Tahun 1999, terutama yang menyangkut
penekanan kepada kegiatan Tridharma Perguruan Tinggi sebagai kegiatan
profesional dosen.
3. Peserta Program SPPD
Peserta SPPD adalah (i) dosen yang belum lulus SPPD pada tahun sebelumnya,
(ii) dosen yang belum menempuh serdos, baik yang segera akan menempuh
sesuai dengan aturan serdos, maupun dosen muda yang masih jauh dari
kesertaan dalam serdos, tetapi oleh Ketua Prodi/Jurusan/Dekan dinilai memiliki
potensi besar untuk mengembangkan profesionalisme berbasis
kepakaran/spesialisasi; (iii) dosen yang telah lulus serdos tetapi ingin
mempertahankan atau mengembangkan profesionalismenya. Maka peserta pada
dasarnya semua dosen. Namun karena pertimbangan anggaran pembinaan,
peserta diusulkan oleh Ketua Prodi kepada Ketua Jurusan dan Ketua Jurusan
kepada Dekan, dengan urutan prioritas yang disepakati di PT.
4. Pembina
Dosen akan didampingi pembina apabila kegiatan pembelajaran untuk
pengembangan profesionalismenya memerlukan penilaian untuk mendapatkan
rekomendasi guna diajukan kepada pimpinan fakultas/PT. Rekomendasi
diperlukan bagi dosen yang akan menempuh sertifikasi, resertifikasi, ataupun
yang akan mengajukan usulan kenaikan pangkat/jabatan dan memerlukan kum
pembelajaran.
Dosen tidak perlu didampingi pembina apabila kegiatan pembelajarannya
semata-mata untuk mengembangkan profesionalisme, dan tidak memerlukan
sesuatu rekomendasi yang akan diajukan kepada pimpinan fakultas/PT.
5. Langkah Pengembangan
Program SPPD diperuntukkan bagi semua dosen. Langkah pengembangan
profesionalisme pada umumnya adalah sebagai berikut:
a. menempuh pretes untuk menilai aspek-aspek profesionalisme yang sudah
dan belum dimiliki oleh dosen; analisis hasil pretes dilakukan bersama
pembina;
b. menyusun rencana pengembangan diri untuk meningkatkan aspek-aspek
profesionalisme yang belum dimiliki, atau telah dimiliki tetapi kurang
memuaskan; menyerahkan rencana kepada tim pembina;
c. melaksanakan rencana pengembangan diri;
d. menempuh postes untuk mengetahui apakah aspek-aspek profesionalisme
yang drencanakan hendak ditingkatkan berhasil ditingkatkan;
e. menerima rekomendasi dari pembina sesuai hasil penilaian.
6. Bahan Pengembangan
Bahan untuk pengembangan profesionalisme diri dapat berupa paket terprogram
yang disediakan oleh perguruan tinggi, atau bahan/kegiatan pengembangan
profesionalisme yang ditetapkan oleh dosen sendiri sesuai kebutuhan:
11
a. Bahan berupa Paket Terprogram
Pembinaan dosen dapat terdiri atas sejumlah aktivitas, yang dikemas dalam
berbagai paket pembinaan, sesuai dengan kompetensi yang dibutuhkan.
Paket pembinaan kompetensi pedagogik, antara lain (a) paket evaluasi diri
(self evaluation) melalui refleksi, (b) paket pelatihan keterampilan mengajar,
(c) paket pelatihan penilaian hasil belajar, (d) kombinasi paket b dan c, dan (e)
paket penelitian peningkatan kualitas pembelajaran. Paket pembinaan
kompetensi lainnya, misalnya kompetensi profesional dikembangkan dengan
memanfaatkan dosen senior di setiap rumpun ilmu. Paket pembinaan
kompetensi kepribadian dan sosial dapat ditempuh dengan berbagai aktivitas
bersama di dalam atau di luar kampus. Paket-paket ini dapat disusun sendiri
oleh fakultas atau diadopsi dari lembaga lain yang telah mengembangkannya.
Perlu pula disiapkan oleh penyelenggara SPPD fakultas bahan-bahan
Pekerti/AA dan Akta V.
b. Bahan dan atau kegiatan yang Ditetapkan Sendiri.
Dosen dapat menetapkan sendiri rencana pengembangan profesionalismenya
sesuai kebutuhan. Pengembangan profesionalisme ini diarahkan kepada
perbaikan dalam bidang kompetensi pedagogik, profesional, kepribadian dan
sosial yang dinilai kurang. Jadi pengembangan profesionalisme dapat berarti
perbaikan perencanaan pembelajaran, melakukan kegiatan penelitian, menulis
artikel ilmiah, melakukan kegiatan pengabdian kepada masyarakat, dan
sebagainya.
7. Kelembagaan
Kelembagaan di fakultas yang mengorganisir kegiatan pengembangan
profesionalisme dosen adalah Unit Penyelenggara SPPD, atau UP SPPD.
Dalam menjalankan tugasnya, UP SPPD bekerjasama dengan unit-unit lain di
fakultas ataupun universitas yang terkait dengan Penjaminan Mutu internal
perguruan tinggi. Lembaga Pengembangan Pendidikan (LPP, atau yang lain)
mengoordinasikan di tingkat universitas kegiatan UP SPPD fakultas.
8. Ketenagaan
Untuk memberjalankan SPPD, UP SPPD mengorganisir seluruh kegiatan di
tingkat fakultas di bawah koordinasi LPP di tingkat universitas. Selain itu ada
pembina-pembina profesionalisme dosen yang ditetapkan Rektor atas usulan
Dekan. Mereka adalah dosen-dosen senior dengan jabatan guru besar dan
bergelar doktor yang diusulkan oleh ketua jurusan dan atau ketua program.
Para pembina harus telah bersertifikat pendidik dan layak menjadi pembina
atas penilaian ketua program dan atau ketua jurusan. Di fakultas, para
pembina diorganisir oleh UP SPPD. Di universitas, para pembina diorganisir
oleh LPP.
9. Pembiayaan
Biaya untuk memberjalankan program SPPD dibebankan kepada anggaran
fakultas/PT. Maka kegiatannya harus tercantum di program tahunan atau
Rencana Bisnis dan Anggaran (RBA) fakultas dan universitas. Program yang
ada di hampir semua PT adalah program pengembangan staf.
Pengembangan SPPD dapat diletakkan di bawah program pengembangan
staf. Tidak tertutup kemungkinan bagi PT untuk mengajukan dana kepada
sumber-sumber eksternal yang memungkinkan.
12
10. Penilaian
a. Instrumentasi
SPPD menggunakan 4 jenis instrumen. Ialah:
M1: Format Perencanaan Pengembangan Diri. Berisi:
(a) Aspek profesionalisme yang kurang (dari data pretes) dan hasil upaya
pembelajaran yang telah dicapai (dari data postes). Sumber data: data
Pretes dan Postes dengan Instrumen M2, M3, dan M4 ;
(b) Rencana Kegiatan Pembelajaran yang akan dilakukan;
(c) Kapan (bulan, tahun) kegiatan itu akan dimulai;
(d) Kapan (bulan, tahun) kegiatan itu selesai;
(e) Wujud bukti kegiatan (terkait dengan hasil Postes).
Isi (a), (b) dan (c) dibuat pada awal pembinaan. Isi (d) dibuat pada akhir
pembinaan, bersama dengan penyerahan bukti-bukti kegiatan yang dituliskan
pada (e) kepada Pembina. Pengisian M1 dilakukan oleh dosen. Tetapi semua
berkas instrumen yang telah terisi diserahkan kepada Pembina sebagai bahan
analisis dan pembuatan rekomendasi oleh Pembina.
M2: Instrumen Pretes, sekaligus menjadi instrumen postes, untuk mengukur
Kompetensi Dasar Profesionalisme Dosen sebagai Pendidik, menurut
penilaian diri sendiri.
M3: Instrumen Pretes, sekaligus menjadi instrumen postes untuk mengukur
kontribusi dosen dalam pelaksanaan Tridharma.
M4: Instrumen Pretes, sekaligus menjadi instrumen postes untuk mengukur
Kompetensi Dasar Profesionalisme Dosen sebagai Pendidik, yang
tercermin dalam proses pembelajaran di kelas yang dikelolanya, menurut
penilaian mahasiswa. Pengisian M4 oleh mahasiswa. Oleh ketua kelas, M4
diserahkan ke UP SPPD. UP SPPD merekapitulasi nilai pretes dan postes,
dan menyerahkannya kepada Pembina. Penginformasian penilaian
mahasiswa kepada dosen untuk maksud perbaikan pembelajaran dilakukan
oleh Pembina pada saat konsultasi-konsultasi pembinaan.
b. Tes-tes SPPD
Dalam SPPD hanya dilakukan 2 jenis tes:
1). Pretes.
Dalam pretes digunakan instrumen M2, M3, dan M4. Pretes dijalankan untuk
mengumpulkan data basis tentang aspek-aspek profesionalisme yang telah
atau belum dimiliki dosen. (Khusus M4, dosen menerima rekapitulasi skornya
dari UP SPPD). Dosen mengidentifikasi kelemahan-kelemahan
profesionalismenya dari M2, M3, dan M4, memasukkannya ke M1 pretes,
mencantumkan rencana kegiatan yang akan dilakukannya di M1, dan
menyerahkannya kepada Pembina. (Lihat Skema 1).
2). Postes.
Dalam postes digunakan instrumen M2, M3, dan M4. Dosen mengidentifikasi
kegiatan pembelajaran yang telah dilakukannya, melaporkannya di M1
postes, menyiapkan bukti-buktinya, dan menyerahkannya kepada Pembina.
(Lihat Skema 1).
Hubungan antar-instrumen dan penggunaannya oleh Pembina disajikan
dalam skema 1.
13
Skema 1: Hubungan antar-instrumen dan penggunaannya oleh Pembina.
M1 M1
Pre/SE Pos/SE
E Dilaksanakan
M2 M2 dan berhasil?
Buktinya?
Bila M2-M4 Pembina:
pos : M2-M4 Rekomendasi
pre, apa ada ke Dekan
M3 M3 pengembang
an profme?
M4 UP SPPD M4 UP SPPD
Pretes Postes Analisis Rekomendasi
(Dosen) (Dosen) (Pembina) (Pembina)
c. Waktu Penilaian
Waktu penilaian untuk peserta SPPD adalah sebagai berikut.
1). Bagi dosen yang telah lulus sertifikasi dan bersertifikat pendidik, penilaian
kembali melalui SPPD dilakukan 4 tahun sekali. Penilaian kembali dilakukan
mulai awal tahun ke empat, dan pengembangan profesionalisme dalam
kerangka SPPD dilakukan selama 1 tahun, dengan kegiatan-kegiatan
sebagai berikut:
a). Pretes, dengan menggunakan M2, M3, dan M4. Kelemahan-kelemahan
profesionalisme dimasukkan ke kolom (2) M1; kegiatan ini dilakukan pada
awal tahun ke empat.
b). Pelaksanaan rencana pembelajaran dengan mengacu rencana di M1
adalah selama kira-kira 1 tahun; kegiatan ini dilakukan mulai awal tahun
hingga akhir tahun ke empat.
c). Postes, dengan menggunakan M2 (penilaian oleh diri sendiri), hasilnya
yang berupa terlaksana atau tidak terlaksananya kegiatan, dimasukkan
ke kolom (3) M1; kegiatan ini dilakukan pada akhir tahun ke empat.
d). Postes, dengan menggunakan M3 (penilaian oleh Pembina).
e). Postes, dengan menggunakan M4 (penilaian oleh mahasiswa).
f). Penilaian-akhir oleh Pembina akan menentukan keberhasilan
pengembangan profesionalisme dosen melalui pembelajaran.
2). Bagi dosen yang telah menempuh sertifikasi tetapi belum lulus; dan bagi
dosen yang belum pernah menempuh sertifikasi dan akan menempuhnya;
pretes dilakukan pada awal tahun, dan postes pada akhir tahun.
3). Baik bagi dosen yang tersebut pada butir 1) maupun 2) ditunjuk seorang
pembina bagi beberapa dosen.
d. Analisis Keberhasilan Pembelajaran
Analisis keberhasilan pembelajaran untuk mengembangkan profesionalisme
adalah sebagai berikut.
14
1). Analisis data M1: Analisis terhadap hasil pengembangan profesionalisme di
M1 antara lain akan menjawab pertanyaan: Apakah kelemahan-kelemahan
yang diidentifikasi dari instrumen M2 – M4 dalam Pretes sudah disebutkan di
M1 pretes? Apakah kegiatan yang direncanakan di M1 pretes dapat
dilaksanakan? Berhasil? Adakah buktinya?
2). Analisis data M2: Analisis terhadap hasil pengembangan profesionalisme di
M2 antara lain akan menjawab pertanyaan: Kelemahan-kelemahan dalam
aspek profesionalisme apa saja yang bisa diidentifikasi dari M2 Pretes?
Apakah sudah masuk di M1? Apabila dibandingkan dengan hasil M2 Pretes,
apakah hasil M2 Postes menunjukkan adanya perkembangan
profesionalisme?
3). Analisis data M3: Analisis terhadap hasil pengembangan profesionalisme di
M3 antara lain akan menjawab pertanyaan: Kelemahan-kelemahan dalam
aspek profesionalisme apa saja yang bisa diidentifikasi dari M3 pretes?
Apakah sudah masuk di M1? Apabila dibandingkan dengan hasil M3 pretes,
apakah hasil M3 postes menunjukkan adanya perkembangan
profesionalisme dosen?
4). Analisis data M4: Analisis terhadap hasil pengembangan profesionalisme di
M4 antara lain akan menjawab pertanyaan: Kelemahan-kelemahan dalam
aspek profesionalisme apa saja yang bisa diidentifikasi dari M4 Pretes?
Apakah sudah masuk di M1? Apabila dibandingkan dengan hasil M4 pretes,
apakah hasil M4 postes menunjukkan adanya perkembangan
profesionalisme dosen sebagaimana dinilai mahasiswa dari praktek
pengelolaan pembelajaran di kelas?
e. Kriteria Keberhasilan Pembelajaran
Kriteria keberhasilan pembelajaran:
1). Penilaian diri sendiri dalam M2 :
Rerata skor 0 – 59 ------ Kurang (K).
Rerata skor 60 – 74 ----- Sedang (S).
Rerata skor 75 keatas --- Baik (B)
2). Penilaian Pembina terhadap M3 :
Rerata skor 0 – 59 ------ Kurang (K).
Rerata skor 60 – 74 ----- Sedang (S).
Rerata skor 75 keatas --- Baik (B).
3). Penilaian mahasiswa (direkap UP SPPD Fakultas, diserahkan ke Pembina):
Rerata skor 0 – 59 ------ Kurang (K).
Rerata skor 60 – 74 ----- Sedang (S).
Rerata skor 75 keatas --- Baik (B).
4). Hasil penilaian akhir Pembina:
Pembina membuat rerata nilai dosen yang tersebut pada c 1), c2) dan c3),
dengan hasil:
Rerata skor 0 – 59 ------ Kurang (K).
Rerata skor 60 – 74 ----- Sedang (S).
Rerata skor 75 keatas --- Baik (B).
5). Alternatif Rekomendasi Pembina:
a). Dosen dianggap berhasil upaya pembelajarannya untuk meningkatkan
profesionalisme apabila rerata skor penilaian diri sendiri (M2), penilaian
pembina (M3) dan penilaian mahasiswa (M4) adalah 75 ke atas, atau
baik; maka Pembina akan memberikan rekomendasi kepada yang
bersangkutan: layak mengikuti serdos dan berhak mendapatkan kum
pembelajaran.
Dengan catatan ada konsistensi penilaian sebagai berikut:
1). Nilai M2 dan M3 adalah B dan B, atau B dan S atau S dan B.
2). Nilai M2 dan M4 adalah juga B dan B, atau B dan S atau S dan B.
15
Kalau nilai-nilai yang diperoleh dari diri sendiri (M2), pembina (M3) dan
mahasiswa (4) saling berbeda jauh, berarti nilai-nilai tidak konsisten,
dosen tidak lolos penilaian SPPD.
b). Pembina hanya akan memberikan rekomendasi kepada yang
bersangkutan layak mengikuti serdos, apabila rerata skor penilaian diri
sendiri (M2), penilaian pembina (M3) dan penilaian mahasiswa (M4)
adalah 60 – 74.
Dengan catatan ada konsistensi penilaian sebagai berikut::
1). Nilai M2 dan M4 adalah S dan S, atau S dan K atau K dan S.
2). Nilai M2 dan M4 adalah juga S dan S, atau S dan K atau K dan S.
Kalau nilai-nilai yang diperoleh dari diri sendiri (M2), pembina (M3) dan
mahasiswa (4) saling berbeda jauh, berarti nilai-nilai tidak konsisten,
dosen tidak lolos penilaian SPPD.
c). Pembina akan menyatakan dosen tidak lolos penilaian SPPD apabila
rerata skor penilaian diri sendiri (M2), penilaian pembina (M3) dan
penilaian mahasiswa (M4) kurang dari 60.
f. Tindak Lanjut Ketidaklulusan
Apabila dosen tidak lolos penilaian SPPD, artinya yang bersangkutan dinilai
tidak berhasil meningkatkan profesionalismenya, akan terjadi tiga
kemungkinan kasus:
1). Kasus 1:
Apabila kasus kegagalan meningkatkan profesionalisme itu menyangkut
dosen yang telah bersertifikat pendidik tetapi dinilai tidak berhasil
meningkatkan profesionalismenya dalam evaluasi pada tahun ke empat (ialah
tahun di mana ia harus dievaluasi profesionalismenya; nilainya kurang),
maka kepada dosen tersebut akan diberikan kesempatan untuk memperbaiki
diri selama satu semester. Apabila masih belum berhasil juga (nilainya tetap
kurang), maka kasusnya akan diserahkan oleh Rektor kepada Direktorat
Jenderal Pendidikan Tinggi. Sementara itu, proses usulan kenaikan
pangkat/jabatan dihentikan sementara. Kasus tersebut dapat berakibat
pengehentian tunjangan yang terkait dengan sertifikat pendidik yang telah
dimilikinya.
2). Kasus 2:
Apabila kasus kegagalan meningkatkan profesionalisme itu menyangkut
dosen yang telah menempuh sertifikasi tetapi tidak lulus (nilainya kurang),
maka kesempatan untuk memperbaiki diri diberikan oleh pimpinan PT sampai
yang bersangkutan lulus dan berhak ikut resertifikasi.
3). Kasus 3:
Apabila kasus kegagalan meningkatkan profesionalisme itu (dengan nilai
kurang) menyangkut dosen yang belum pernah menempuh sertifikasi, maka
ia juga akan mendapatkan kesempatan pengembangan diri hingga yang
bersangkutan lulus dan berhak mengikuti sertifikasi.
C. Deskripsi Tugas Pelaku SPPD
Pelaku SPPD di fakultas adalah dosen, pembina, Ketua Program Studi, Ketua
Jurusan, UP SPPD, dan pimpinan fakultas. Untuk pemberjalanan SPPD di
fakultas, LPP dan pimpinan universitas juga terlibat sebagai pelaku. Maka
deskripsi tugas para perlaku SPPD akan disajikan di bagian ini. Deskripsi tugas
akan disajikan dalam bentuk langkah-langkah yang harus dilakukan oleh para
pelaku.
16
1. Dosen. Langkah-langkah yang harus dilakukan oleh dosen peserta SPPD
adalah sebagai berikut.
a. Menyiapkan CV.
CV “berceritera” tentang siapa dosen pemiliknya. Dalam CV akan tergambar
berbagai aspek profesionaisme, seperti capaian pendidikan/kualifikasi akademik,
kegiatan dan hasil kegiatan Tridharma, dan sebagainya. CV dapat berperan
sebagai data pretes. Sebab setelah langkah-langkah pengembangan
profesionalisme dijalankan, besar kemungkinan isi CV akan berobah, lebih
lengkap, dan membaik. CV harus disiapkan dan disimpan dengan baik.
b. Mengisi M2 (pretes) > self scoring.
Instrumen ini memotret penilaian diri sendiri tentang aspek-aspek
profesionalisme yang telah dan belum dimiliki dengan kualitas yang baik. Skor
harus ditetapkan dengan jujur. Sebab dengan skor yang dipilih dosen, ia telah
menunjukkan apa kekuatan dan kelemahan dirinya dalam segi profesionalisme
sebagai dosen.
c. Mengisi M3 (pretes), dan menyerahkannya ke Pembina.
Kontribusi dosen dalam penyelenggaraan Tridharma harus tercermin dalam
deskripsi diri ini. Even-even relevan yang terjadi sewaktu dosen mengerjakan
tugas profesionalnya diceritakan di sini. Kekuatan dan kelemahan dalam
berbagai aspek profesionalisme dosen juga tercermin dalam tulisan ini. Cara
dosen akan menutup kekurangan juga dijelaskan. Pembina akan menilai
deskripsi diri dalam M3.
d. Meminta rekapitulasi M4 (pretes) ke UP SPPD
Yang diminta adalah rekapitulasi M4 dari satu mata kuliah yang dipilih oleh dosen
sendiri (apabila ia mengajar lebih dari 1 matakuliah)..
Rekapitulasi ini telah disiapkan oleh UP SPPD atas dasar isian-isian M4 dari
mahasiswa yang diserahkan melalui ketua kelasnya.
e. Mengidentifikasi kekurangan-kekurangan dari data M2, M3 dan M4.
Dosen mempelajari kembali isi M2, M3 dan juga M4, untuk menemukan
kekurangan-kekurangan profesionalismenya.
f. Menetapkan tindak lanjut untuk menutup kekurangan dalam 6-10 bln ke
depan.
Dosen menetapkan prioritas kekurangan yang akan ditutupnya dengan kegiatan
pembelajaran dalam waktu beberapa bulan ke depan. Kegiatan pembelajaran ini
dapat berupa: mengajukan proposal penelitian; mengajukan proposal
pengabdian kepada masyarakat; menggunakan metode bervariasi dalam
mengajar; menggunakan alat peraga peta topografi tentang daerah yang
dibicarakan di kelas; memberikan penugasan secara teratur kepada mahasiswa;
mengembalikan pekerjaan mahasiswa setelah dikoreksi; dan sebagainya.
Kesemuanya merupakan kegiatan pembelajaran yang dijalankankan untuk
mengembangkan kemampuan profesionalisme dosen. Namun langkah-langkah
itu ditetapkan dengan berbasis pada kekurangan yang diprioritaskan untuk
diperbaiki.
g. Memasukkan data butir 5 dan 6 ke M1 kol. 1 dan 2.
Masukkan kelemahan yang hendak diatasi dan kegiatan untuk mengatasinya ke
dalam instrumen M1 kolom 1 dan 2.
17
h. Menyerahkan butir 2, 3, 4, 7 ke Pembina.
Dosen menyerahkan copy. Sehingga dosen masih memiliki dokumen aslinya
sebagai pegangan dalam melakukan pengembangan profesionalisme.
i. Melaksanakan M1 kol. 2.......dlm waktu antara 6-10 bln.
Dosen melaksanakan rencana kegiatan/pembelajaran dalam periode kira-kira 6 –
10 bulan ke depan.
j. Mengisi M2 (postes) > Self-scoring.
Setelah masa pembelajaran tahap ini berakhir, dosen mengisi kembali instrumen
M2. Dosen menjawab item-item instrumen sesuai dengan keadaan terbaru.
Diharapkan ada perobahan profesionalisme ke arah yang lebih baik.
k. Mengisi M3 (postes).
Dosen juga menuliskan kembali deskripsi diri sesuai dengan keadaan terbaru
setelah tahap pembelajaran selesai. Diharapkan keadaan profesionalisme
membaik.
l. Meminta rekapitulasi M4 (postes) ke UP SPPD Fakultas.
Setelah mahasiswa menilai, dan isian M4 oleh ketua kelas diserahkan ke UP
SPPD, dosen meminta rekapitulasinya ke UP SPPD.
m. Memperbarui CV.
Kini saatnya dosen melihat kembali Cvnya, dan menambahkan item-item baru
yang senyatanya muncul sebagai akibat kegiatan pembelajaran.
n. Isi M1 kolom 3 dan 4.
Dosen mengisi kolom 3 dan 4 dari M1, untuk menunjukkan kegiatan mana yang
telah direncanakan dalam kenyataannya dapat dijalankan. Juga disebutkan apa
buktinya, pada kolom 4.
o. Menyiapkan bukti-bukti.
Bukti-bukti hasil pembelajaran yang belum digunakan dan dimasukkan ke PPAK
untuk kelengkapan kenaikan pangkat, harus disiapkan. Apabila kegiatan tidak
ada buktinya, atau bukti telah dimasukkan ke PPAK, hal itu perlu
dituliskan/dideskripsikan dan dilampirkan pada M1.
p. Melakukan self-reviewing hasil pembelajaran.
Dosen mereview kembali isi dokumen-dokumen sebelum diserahkan ke
Pembina.
q. Menyerahkan butir 10, 11, 12, 13, 14, 15 ke Pembina.
Dokumen yang berupa instrumen-instrumen postes yang telah terisi, serta bukti-
bukti diserahkan ke Pembina untuk direview dan dinilai. Setelah penilaian,
seluruh dokumen dikembalikan kepada dosen.
r. Menerima rekomendasi Pembina.
Dosen menerima rekomendasi dari Pembina. Isi rekomendasi harus telah
disepakati bersama antara dosen dengan Pembinanya.
s. Melakukan refleksi.
Dosen merefleksikan kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan; apa yang
telah diterapkan di kelas; apa yang berhasil; apa yang gagal; mengapa; dan
sebagainya.
18
t. Menetapkan dan melaksanakan tindak lanjut.
Dosen menetapkan tindak lanjut apa yang akan dilakukan untuk lebih
meningkatkan profesionalismenya dan kualitas pembelajaran mahasiswanya.
Tindak lanjut ini dapat berupa partisipasi dosen dalam SPPD untuk periode
berikutnya; persiapan ikut serta dalam sertifikasi dosen, bagi yang akan
menempuh sertifikasi; dan sebagainya.
Dalam pelaksanaan, langkah-langkah dapat dirinci lebih lanjut.
2. Pembina.
Dalam penyelenggaraan SPPD, kegiatan yang dilakukan Pembina adalah
sebagai berikut.
a. Mereview M2, M3 (skoring), rekap M4 dan M1(skoring) => tahap pretes.
Pada tahap pretes, kegiatan pembina adalah mereview M2, menskor M3,
mereview rekapitulasi M4 yang dibuat oleh UP SPPD, dan menskor M1 dalam
aspek ketepatan dosen dalam menetapkan kekurangan-kekurangan
profesionalismenya, dan dalam menetapkan skala prioritas yang akan diperbaiki.
b. Memberikan bimbingan, bila diperlukan.
Pembina membimbing dosen apabila diperlukan atas dasar pemintaan dosen
yang bersangkutan. Bila dosen tidak memintanya berarti dosen dapat melakukan
pembelajarannya sendiri.
c. Mereview M2, M3 (skoring), rekap M4 dan M1 (skoring) => tahap postes.
Pada tahap postes, pembina melakukan kegiatan mereview M2 postes, menskor
M3 postes, mereview M4, dan menskor M1 dalam aspek kemampuan dosen
merealisir kegiatan yang direncanakannya.
d. Menghitung nilai akhir.
Pembina menghitung nilai rata-rata dari M2, M3, M4 dan M1, dan menetapkan
tingkat keberhasilan pembelajaran dosen.
e. Menyiapkan rekomendasi.
Pembina merumuskan rekomendasi untuk dosen yang dibinanya.
3. Ketua Program Studi
Dalam penyelenggaraan SPPD tugas Ketua Program Studi adalah sebagai
berikut.
a. Mengusulkan dosen-dosen yang akan diajukan sebagai dosen peserta SPPD
kepada Dekan lewat Ketua Jurusan.
Mereka adalah:
1). Dosen yang tidak lulus sertifikasi dosen pada periode sebelumnya;
2). Dosen yang belum pernah menempuh sertifkasi dosen dan akan
diusulkan pada tahun yang sedang berjalan, sesuai aturan yang
ditetapkan dalam panduan sertifikasi dosen;
3). Dosen yang telah lulus sertifikasi dosen tetapi ingin tetap
mempertahankan dan mengembangkan profesionalismenya.
b. Mengusulkan kepada Dekan lewat Ketua Jurusan nama-nama dosen senior
bersertifikat pendidik, yang dipandang layak sebagai pembina
profesionalisme dosen-dosen yang lebih yunior. Dalam pengusulan itu juga
dicantumkan siapa yang akan membina siapa.
c. Memantau keberjalanan penyelenggaraan SPPD di program studinya.
19
4. Ketua Jurusan
Dalam penyeleneggaraan SPPD tugas Ketua Jurusan adalah:
a. Mengusulkan kepada Dekan nama calon dosen peserta SPPD dan
pembinanya masing-masing.
b. Memantau keberjalanan penyelenggaraan SPPD di jurusannya.
5. UP SPPD
Unit penyelenggara SPPD bertugas:
a. Melaksanakan Pretes.
b. Menyelenggarakan pos tes.
c. Merekapitulasi penilaian individual mahasiswa kepada dosennya masing-
masing (M4). Oleh UP SPPD, rekap nilai diserahkan kepada dosen yang
bersangkutan sebagai masukan untuk menemukan kekurangan
profesionalisme sebagaimana dilihat mahasiswa.
d. Mengelola data yang terkait dengan penyelenggaraan SPPD.
e. Memantau keberjalanan penyelenggaraan SPPD di fakultasnya.
6.Pimpinan Fakultas
Pimpinan fakultas bertugas:
a. Menyusun renstra yang memberikan peluang bagi penetapan program-
program pengembangan profesionalisme dosen dan pembelajaran sepanjang
hayat.
b. Memasukkan program penyelenggaraan SPPD dalam program tahunan
fakultas.
c. Membentuk UP SPPD.
d. Menetapkan prioritas dosen-dosen yang akan ikut dalam program SPPD.
e. Memantau pelaksanaan SPPD sebagai rintisan Learning Faculty.
7. LPP
Tugas LPP adalah:
a. Menyusun Naskah Akademik SPPD yang berfungsi sebagai panduan
penyelenggaraan.
b. Menyusun/mengadopsi paket pembinaan terprogram untuk digunakan oleh
dosen yang memerlukannya.
c. Memantau pelaksanaan SPPD sebagai rintisan Learning Faculty/Learning
University.
8. Pimpinan Universitas
Tugas pimpinan universitas adalah:
a. Menyusun renstra yang memberikan peluang bagi penetapan program-
program pengembangan profesionalisme dosen dan pembelajaran sepanjang
hayat.
b. Memasukkan program penyelenggaraan SPPD dalam program tahunan
universitas.
c. Menerbitkan SK tentang pemberjalanan SPPD di PT.
d. Memantau pelaksanaan SPPD sebagai rintisan Learning Faculty/Learning
University.
Tugas pelaku-pelaku SPPD perlu dirinci dan atau disesuaikan dengan
kenyataan yang berkembang dalam penyelenggaraan.
20
Bab IV. Langkah Penyelenggaraan SPPD.
Program penyelenggaraan SPPD ditangani oleh Unit Perintisan SPPD (UP
SPPD) dengan surat keputusan Dekan. UP SPPD di tingkat universitas
dikoordinasikan oleh LPP dengan surat keputusan Rektor. Pokok-pokok langkah
penyelenggaraan program perintisan SPPD adalah sebagai berikut:
1. Rektor menerbitkan SK tentang pemberjalanan SPPD di PT.
2. Dekan membentuk UP SPPD: Unit dipimpin oleh seorang Guru Besar
jenjang akademik Doktor yang ditunjuk Dekan. UP SPPD terdiri dari 5
orang, dengan jabatan ketua, sekretaris, dan ketua jurusan serta ketua
program studi. UP SPPD bertanggung jawab kepada Dekan.
3. LPP menyusun Naskah Akademik yang sekaligus menjadi bahan
sosialisasi program dan Panduan Penyelenggaraan program Perintisan
SPPD.
4. Pemimpin fakultas memasukkan program penyelenggaraan SPPD dalam
program tahunan fakultas, agar sah sebagai program lembaga dan
tersedia anggarannya.
5. Apabila anggaran terbatas, pemimpin fakultas menetapkan prioritas
dosen-dosen yang akan ikut dalam program SPPD atas usul ketua
jurusan dan atau ketua prodi, termasuk dosen-dosen muda yang sedang
membangun profsionalisme berbasis kepakaran/spesialisasi.
6. Dekan menetapkan pembina untuk dosen-dosen yang akan mengikuti
program SPPD di fakultasnya, atas usul ketua jurusan dan atau ketua
prodi.
7. LPP menyusun/mengadopsi paket pembinaan terprogram untuk
digunakan oleh dosen yang memerlukannya. Pengembangan
profesionalisme dapat pula melalui jalur kegiatan Tridharma yang dipilih
sendiri oleh dosen. Misalnya kegiatan penelitian dan pengabdian kepada
masyarakat.
8. UP SPPD melaksanakan Pretes.
9. Dosen melakukan berbagai kegiatan pembelajaran yang direncanakan
dalam rencana pengembangan profesionalisme.
10. UP SPPD menyelenggarakan pos tes.
11. Pembina melakukan penilaian-akhir setelah menganalisis M1, M2, M3
dan M4. Selain itu Pembina juga mencek kesejalanan/konsistensi
penilaian oleh dosen sendiri, oleh dosen dan oleh mahasiswa.
12. Pembina menyusun rekomendasi
13. Program SPPD harus dievaluasi secara internal oleh UP SPPD untuk
mengukur efektivitas dan efisiensinya di tingkat fakultas. Perbaikan
sistem harus dilakukan atas dasar hasil evaluasi.
14. Program SPPD juga dievaluasi oleh LPP untuk mengukur efektivitas dan
efisiensinya di tingkat universitas. Perbaikan sistem harus dilakukan atas
dasar hasil evaluasi.
15. UP SPPD memberikan laporan tertulis tentang pelaksanaan
pekerjaannya pada setiap akhir semester kepada pemimpin fakultas; LPP
melakukan hal yang sama kepada pemimpin universitas.
Berbagai masalah akan dihadapi dalam penyelenggaraan SPPD. Masalah-
masalah harus diatasi dengan kebersamaan yang melibatkan dosen, mahasiswa
dan staf administrasi. Kebersamaan juga harus dibina di antara berbagai unit
struktural dan lembaga normatif, baik di tingkat fakultas maupun universitas.
21
Sumber Bahan
1. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional.
2. Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen
3. Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 1999 tentang Pendidikan
Tinggi
4. Peraturan Pemerintah Nomor 61 Tahun 1999 tentang Perguruan
Tinggi Berbadan Hukum Milik Negara (BHMN)
5. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar
Nasional Pendidikan
6. Peraturan Mendiknas RI Nomor 16 Tahun 2007 tentang Kualifikasi
Akademik dan Kompetensi Guru
7. Peraturan Mendiknas RI Nomor 42 Tahun 2007 tentang Sertifikasi
Dosen
8. Keputusan Menkowasbangpan Nomor 38 Tahun 1999 tentang
Jabatan Fungsional Dosen dan Nilai Angka Kreditnya
9. Peraturan Mendiknas RI Nomor 17 Tahun 2008 tentang Perubahan
Pertama atas Peraturan Mendiknas Nomor 42 Tahun 2007 tentang
Sertifikasi Dosen.
10. Peraturan Mendiknas Nomor 18 Tahun 2008 tentang Penyaluran
Tunjangan Profesi Dosen.
11. Peraturan Mendiknas Nomor 19 Tahun 2008 tentang Perguruan
Tinggi Penyelenggara Sertifikasi Dosen.
12. Peraturan Mendiknas Nomor 20 Tahun 2008 tentang Penetapan
Inpassing Pangkat Dosen Bukan Pegawai Negeri Sipil yang Telah
Menduduki Jabatan Akademik Pada Perguruan Tinggi yang
Diselenggarakan oleh Masyarakat.
13. Higher Education Long Term Strategy Dikti 2003 – 2010
14. Naskah Akademik, Buku I, Panduan Penyelenggaraan Sertifikasi
Dosen 2008.
15. Penyusunan Portofolio, Buku II, Panduan Penyelenggaraan Sertifikasi
Dosen 2008.
16. Manajemen Pelaksnaan Sertifikasi Dosen dan Pengelolaan Data,
Buku III, Panduan Penyelenggaraan Sertifikasi Dosen 2008.
22
LAMPIRAN
M1 Format Perencanaan Pengembangan Diri, diisi oleh dosen, sekaligus
menjadi format penilaian oleh tim pembina. (hal 24)
M2 (Evaluasi Diri): Instrumen Pretes, sekaligus menjadi instrumen postes,
untuk mengukur Kompetensi Dosen sebagai Pendidik; dinilai diri
sendiri. (= Instrumen Persepsional Dosen, diadopsi dari Serdos). (hal
25)
M3 (Evaluasi Pembina): Instrumen Pretes, sekaligus menjadi instrumen
postes untuk mengukur kontribusi dosen dalam pelaksanaan
Tridharma; dinilai Pembina. (= Instrumen Deskripsi Diri, diadopsi dari
Serdos). (hal 27)
M4 (Evaluasi Mahasiswa): Instrumen Pretes, sekaligus menjadi instrumen
postes untuk mengukur Kompetensi Dosen sebagai Pendidik, yang
tercermin pada pengelolaan pembelajaran di kelas; sebagaimana
dinilai mahasiswa. (= Instrumen Persepsional Mahasiswa, diadopsi dari
Serdos). (hal 44)
23
M1 Format Perencanaan Pengembangan Diri ,sekaligus menjadi format
penilaian oleh pembina.
No Deskripsi Kegiatan yang Kegiatan yang Bukti Hasil
Kekurangan Direncanakan Dilakukan (Dok./Deskr)
(1) (2) (3) (4)
1
2
3
n
Kolom (1): Harap dideskripsikan kekurangan dalam beberapa aspek
profesionalisme. Penetapan kekurangan didasarkan hasil pretes dengan
Instrumen M2, M3, dan M4.
(a) Format M1 ini hanya menunjukkan jenis informasi yang harus
dituliskan, sebagaimana ditunjukkan pada judul kolom. Penulisannya
harap pada kertas tersendiri agar deskripsi tak dibatasi oleh luas
kolom.
(b) Informasi tentang kekurangan-kekurangan dosen menurut penilaian
mahasiswa didapat dosen melalui rekapitulasi penilaian mahasiswa
yang dibuat oleh UP SPPD.
Kolom (2): Dibuat pada awal pembinaan.
Kolom (3): Dibuat pada akhir pembinaan.
Kolom (4): Dibuat pada akhir pembinaan; diserahkan kepada Pembina.
Mengetahui, Dosen
Keua Program Studi
( ) ( )
Catatan Pembina:
1. Hasil: Baik/Sedang/Kurang
2. Rekomendasi:_____________
Pembina: ( )
Dosen diharapkan melakukan hal-hal sebagai berikut:
a. Menuliskan secara jelas rencana yang akan dilakukan untuk meningkatkan
profesionalismenya dalam setiap aspek yang dianggapnya perlu. Copy
rencana langkah ini harus diserahkan kepada Pembina.
b. Melaksanakan langkah-langkah yang direncanakan itu dalam masa
pengembangan diri setelah penetapan rencana.
c. Mengupayakan bukti-bukti bahwa langkah-langkah itu telah dijalankan;
bukti dapat berupa (i) self-description berbentuk portofolio untuk disertakan
pada saat postes, dengan diketahui Ketua Prodi; atau (ii) berupa dokumen,
seperti copy kontrak penelitian, copy artikel, dan sebagainya.
24
M2. (Self Evaluation) -- Instrumen Pretes, yang sekaligus menjadi instrumen
postes, untuk Kompetensi Dosen sebagai Pendidik. (Instrumen Serdos).
IDENTITAS DOSEN
1. Nama Dosen peserta SPPD :
2. NIP :
3. Prodi, Jurusan dan Fakultas :
4. Nomor Peserta
LEMBAR PENILAIAN
Petunjuk
Berilah penilaian secara jujur, objektif, dan penuh tanggung jawab terhadap diri
sendiri, khususnya terhadap hal-hal yang terkait dengan kompetensi pedagogik,
profesional, kepribadian dan sosial, dengan cara melingkari angka pada kolom
skor sesuai dengan kriteria sebagai berikut.
1 = sangat tidak baik/sangat rendah/tidak pernah
2 = tidak baik/rendah
3 = biasa/cukup
4 = baik/tinggi
5 = sangat baik/sangat tinggi
No. Aspek yang dinilai Skor
A. Kompetensi Pedagogik
1. Kesungguhan dalam mempersiapkan perkuliahan 1 2 3 4 5
2. Keteraturan dan ketertiban penyelenggaraan perkuliahan 1 2 3 4 5
3. Kemampuan mengelola kelas 1 2 3 4 5
4. Kedisiplinan dan kepatuhan terhadap aturan akademik 1 2 3 4 5
5. Penguasaan media dan teknologi pembelajaran 1 2 3 4 5
6. Kemampuan melaksanakan penilaian prestasi belajar mahasiswa 1 2 3 4 5
7. Objektivitas dalam penilaian terhadap mahasiswa 1 2 3 4 5
8. Kemampuan membimbing mahasiswa 1 2 3 4 5
9. Berpersepsi positif terhadap kemampuan mahasiswa 1 2 3 4 5
Skor A
B. Kompetensi Profesional
10. Penguasaan bidang keahlian yang menjadi tugas pokok 1 2 3 4 5
11. Keluasan wawasan keilmuan 1 2 3 4 5
25
No. Aspek yang dinilai Skor
12. Kemampuan menunjukkan keterkaitan antara bidang keahlian yang 1 2 3 4 5
diajarkan dengan konteks kehidupan
13. Penguasaan akan isu-isu mutakhir dalam bidang yang diajarkan 1 2 3 4 5
14. Kesediaan melakukan refleksi dan diskusi (sharing) permasalahan 1 2 3 4 5
pembelajaran yang dihadapi dengan kolega
15. Pelibatan mahasiswa dalam penelitian/kajian dan atau 1 2 3 4 5
pengembangan/rekayasa/desain yang dilakukan dosen
16. Kemampuan mengikuti perkembangan Ipteks untuk pemutakhiran 1 2 3 4 5
pembelajaran
17. Keterlibatan dalam kegiatan ilmiah organisasi profesi 1 2 3 4 5
Skor B
No. Aspek yang dinilai Skor
C. Kompetensi Kepribadian
18. Kewibawaan sebagai pribadi dosen 1 2 3 4 5
19. Kearifan dalam mengambil keputusan 1 2 3 4 5
20. Menjadi contoh dalam bersikap dan berperilaku 1 2 3 4 5
21. Satunya kata dan tindakan 1 2 3 4 5
22. Kemampuan mengendalikan diri dalam berbagai situasi dan kondisi 1 2 3 4 5
23. Adil dalam memperlakukan sejawat 1 2 3 4 5
Skor C
D. Kompetensi Sosial
24. Kemampuan menyampaikan pendapat 1 2 3 4 5
25. Kemampuan menerima kritik, saran, dan pendapat orang lain 1 2 3 4 5
26. Mudah bergaul di kalangan sejawat, karyawan, dan mahasiswa 1 2 3 4 5
27. Mudah bergaul di kalangan masyarakat 1 2 3 4 5
28. Toleransi terhadap keberagaman di masyarakat 1 2 3 4 5
Skor D
Skor Total
........................, .................
Dosen ybs,
(....................................)
NIP/NIK
26
M3. Instrumen Pretes, sekaligus menjadi instrumen postes untuk
mengukur kontribusi dosen dalam pelaksanaan Tridharma. (Instrumen
Serdos, Deskripsi Diri).
IDENTITAS DOSEN
1. Nama Dosen peserta SPPD :
2. NIP :
3. Prodi, Jurusan, Fakultas :
4. Nomor Peserta
27
Lembar Deskripsi Diri
Pendahuluan
Lembar Deskripsi Diri merupakan salah satu instrumen yang digunakan dalam
proses Sertifikasi Dosen Dalam Jabatan sebagai bagian tidak terpisahkan dari
Portofolio Dosen. Lembar Deskripsi Diri digunakan sebagai alat bagi dosen
untuk menjelaskan keunggulan atau kebanggaan pribadi seorang dosen atas
prestasi dan/atau kontribusi yang telah dilakukan dalam menjalankan karirnya
sebagai dosen, khususnya terkait dengan pelaksanaan Tridharma Perguruan
Tinggi.
Lembar Deskripsi Diri (dosen) dibagi menjadi dua bagian. Bagian pertama
berkenaan dengan prestasi dan kontribusi dosen dalam kompetensi pedagogik
dan kompetensi profesional, yang dinyatakan dalam bentuk kegiatan pengajaran,
penelitian, manajemen pendidikan, pengelolaan mahasiswa, dan pengabdian
kepada masyarakat. Sementara itu, bagian kedua menjelaskan prestasi atau
kontribusi dosen yang berkenaan dengan kompetensi sosial dan kompetensi
kepribadiannya, yang dilihat dari aspek kemampuan mengendalikan diri dalam
berbagai situasi dan kondisi, etos kerja, integritas, keteladanan, keterbukaan,
kerjasama, serta kreativitas dan inovasi.
Dosen diminta membuat esai untuk setiap kegiatan di bagian pertama dan setiap
aspek pada bagian kedua, sehingga akan sangat unik dan berbeda dari satu
dosen dengan dosen yang lain. Kemudian, dosen akan diminta melakukan
penilaian secara objektif terhadap informasi dalam esai tersebut, menggunakan
rubrik yang disediakan. Hasil penilaian akan diverifikasi Sertifikator. Oleh sebab
itu objektivitas dosen menilai diri sendiri sangat menentukan dan dapat menjadi
gambaran kejujuran profesional dosen.
Rubrik atau Panduan Penilaian Lembar Deskripsi Diri dosen memberikan rambu-
rambu penilaian kualitas untuk setiap kegiatan yang dilakukan dosen berkenaan
dengan kompetensi pedagogik dan kompetensi profesional, serta untuk setiap
aspek yang menggambarkan kinerja dosen dari sisi kompetensi sosial dan
kompetensi kepribadian. Rambu-rambu penilaian dibuat dalam bentuk
“semantic differential” dengan satu (atau lebih) deskriptor untuk setiap kegiatan
atau aspek, dilengkapi dengan nilai interval dari setiap deskriptor. Deskriptor
terdiri dari satu pasang kata sifat yang saling berlawanan untuk mendeskripsikan
sisi negatif atau positif dari sifat yang diterapkan. Nilai interval terdiri dari 1-5 di
mana 1 berarti nilai paling rendah dan 5 berarti nilai paling tinggi.
Petunjuk Pengisian
Dalam perjalanan karir Anda sebagai dosen, telah banyak hal Anda lakukan
dalam melaksanakan Tridharma Perguruan Tinggi. Lembar Deskripsi Diri Dosen
digunakan sebagai alat bagi dosen untuk menjelaskan keunggulan atau
kebanggaan pribadi seorang dosen atas prestasi dan atau kontribusi yang telah
dilakukan dalam menjalankan karirnya sebagai dosen, khususnya berkenaan
dengan pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi.
Untuk setiap butir isian, deskripsikan diri anda secara tertulis sesuai dengan
aspek yang diminta. Contoh berikut memberi gambaran isian terhadap aspek
prestasi kerja dalam beberapa tahun terakhir.
28
Contoh Deskripsi:
Aspek : Prestasi kerja dosen
Pernyataan Dosen :
Sekitar tiga semester yang lalu, saya mulai menyadari bahwa mahasiswa saya
kesulitan memahami kuliah yang saya berikan, ketika saya sajikan tanpa bantuan
media visual. Saat itu saya belum memahami teknologi media dan saya mulai
mempelajarinya. Secara bertahap saya menerapkan pemakaian media visual
dalam perkuliahan, sehingga saya dapat memberi banyak ilustrasi dan
melengkapi presentasi perkuliahan dengan animasi untuk memperjelas konsep,
bahan, materi, proses terkait dengan bidang ilmu yang saya ajarkan. Kelas
menjadi lebih bergairah dan hidup. Implikasi suasana pembelajaran itu, prestasi
mahasiswa meningkat jika dilihat dari sebaran nilai ujian dan/atau kualitas tugas
mahasiswa. Sekarang, semakin banyak dosen di universitas saya yang
mengikuti model pembelajaran ini.
BAGIAN I
Uraikan apa saja yang telah Anda lakukan dalam beberapa tahun terakhir yang
dapat dianggap sebagai prestasi dan/atau kontribusi bagi pelaksanaan dan
pengembangan Tridharma Perguruan Tinggi, yang berkenaan dengan hal-hal
berikut.
A. Pengembangan Kualitas Pembelajaran (usaha dan dampak perubahan)
Jelaskan usaha-usaha Saudara dalam upaya meningkatkan kualitas
pembelajaran dan bagaimana dampaknya!
Deskripsi jawaban: ........................................................................................
B. Pengembangan Keilmuan/Keahlian Pokok (produktivitas dan makna
karya ilmiah)
Jelaskan karya-karya ilmiah yang telah Saudara hasilkan, baik dalam bentuk
buku, penelitian, jurnal ilmiah, makalah yang dipresentasikan (dalam forum
ilmiah), hak paten, hak cipta, artikel dalam media masa dan bagaimana
keterkaitannya dengan pengembangan keilmuan Saudara! Berikan judul karya
ilmiah (dan jurnalnya) Saudara!
Deskripsi jawaban: ........................................................................................
29
C. Peningkatan Kualitas Manajemen/Pengelolaan Institusi (perubahan
pengelolaan, implementasi kebijakan, dan dukungan institusi)
Jelaskan upaya-upaya keterlibatan Saudara dalam pengembangan
manajemen pada unit kerja di perguruan tinggi Saudara, dan bagaimana
implementasinya! Berikan contoh keterlibatan Saudara!
Deskripsi jawaban: ........................................................................................
D. Peningkatan Kualitas Kegiatan Mahasiswa (perubahan pengelolaan,
implementasi kebijakan, dan dukungan institusi)
Jelaskan upaya-upaya keterlibatan Saudara dalam kegiatan kemahasiswaan
dan bagaimana implementasinya! Berikan contoh keterlibatan Saudara!
Deskripsi jawaban: ........................................................................................
E. Peningkatan Pengabdian kepada Masyarakat (kegiatan dan implementasi
perubahan, serta dukungan masyarakat)
Jelaskan upaya-upaya keterlibatan Saudara dalam kegiatan pengabdian
kepada masyarakat dan bagaimana implementasinya! Berikan contoh
keterlibatan Saudara!
Deskripsi jawaban: ........................................................................................
30
BAGIAN II
Sebagai anggota komunitas sosial, berikan deskripsi diri Anda sendiri pada
aspek-aspek berikut.
F. Karakter pribadi dalam berbagai situasi dan kondisi (kendali diri,
kesabaran, ekspresi perasaan, rasionalitas)
Jelaskan karakter/kepribadian Saudara (pengendalian diri, kesabaran, empati,
rasional) pada berbagai situasi! Berikan contohnya!
Deskripsi jawaban: ........................................................................................
G. Etos kerja (semangat, target kerja, disiplin, ketangguhan)
Jelaskan etos kerja (semangat, target kerja, disiplin, dan ketangguhan) dan
bagaimana cara Saudara menghadapi masalah! Berikan contohnya!
Deskripsi jawaban: ........................................................................................
H. Integritas Diri (kejujuran, keteguhan pada prinsip, konsistensi, tanggung
jawab dan keteladanan)
Jelaskan dan beri contoh integritas Saudara dalam kaitannya dengan
kejujuran, keteguhan prinsip, konsistensi, tanggung jawab, dan keteladanan
yang dapat ditunjukkan di lingkungan Saudara! Berikan contohnya!
Deskripsi jawaban: ........................................................................................
I. Keterbukaan terhadap kritik, saran, dan pendapat orang lain (penyikapan,
penerimaan)
Bagaimana Saudara menyikapi kritik, saran dan pendapat orang lain? Berikan
contohnya!
Deskripsi jawaban: ........................................................................................
31
J. Peran sosial (kemampuan kerja sama, kemampuan komunikasi)
Bagaimana kemampuan Saudara dalam menjalin kerjasama dan
berkomunikasi dengan berbagai pihak (teman sejawat, staf administrasi,
atasan, mahasiswa, dan masyarakat)? Berikan contohnya!
Deskripsi jawaban: .........................................................................................
K. Orisinalitas (kreativitas dan inovasi)
Jelaskan kemampuan Saudara dalam menemukan dan menerjemahkan ide-
ide baru untuk mengembangkan dan meningkatkan kualitas dalam berbagai
aspek pekerjaan Saudara! Berikan contohnya!
Deskripsi jawaban: .........................................................................................
Deskripsi diri ini saya buat dengan sesungguhnya dan jika diperlukan saya
bersedia untuk menyampaikan bukti-bukti terkait.
................,
......................
Mengetahui Dosen yang
bersangkutan
Atasan Langsung
NIP/NIK NIP/NIK
32
PEDOMAN PEMBERIAN SKOR
DESKRIPSI DIRI DOSEN
Pendahuluan
Lembar Deskripsi Diri Dosen merupakan salah satu instrumen yang digunakan
dalam proses Sertifikasi Dosen Dalam Jabatan sebagai bagian tidak terpisahkan
dari Portofolio Dosen.
Lembar Deskripsi Diri Dosen digunakan sebagai alat bagi dosen untuk
menjelaskan keunggulan atau kebanggaan pribadi seorang dosen atas prestasi
dan atau kontribusi yang telah dilakukan dalam menjalankan karirnya sebagai
dosen, khususnya berkenaan dengan pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi.
Lembar Deskripsi Diri Dosen dibagi menjadi dua bagian. Bagian pertama (I)
berkenaan dengan prestasi dan kontribusi dosen dalam kompetensi pedagogik
dan kompetensi profesional, yang dinyatakan dalam bentuk kegiatan pengajaran,
penelitian, manajemen pendidikan, pengelolaan mahasiswa, dan pengabdian
kepada masyarakat. Bagian kedua (II) menjelaskan prestasi atau kontribusi
dosen yang berkenaan dengan kompetensi sosial dan kompetensi
kepribadiannya, yang dilihat dari aspek kemampuan mengendalikan diri dalam
berbagai situasi dan kondisi, etos kerja, integritas, keteladanan, keterbukaan,
kerjasama, serta kreativitas dan inovasi.
Pernyataan dosen untuk setiap kegiatan di bagian pertama maupun setiap aspek
pada bagian kedua dilakukan dalam bentuk esai, sehingga akan sangat unik dan
berbeda dari satu dosen dengan dosen yang lain. Dalam upaya untuk
meningkatkan objektivitas penilaian terhadap pernyataan dosen tersebut,
disusunlah panduan penilaian lembar deskripsi diri dosen ini.
Panduan Penilaian Lembar Deskripsi Diri dosen memberikan rambu-rambu
penilaian kualitas untuk setiap kegiatan yang dilakukan dosen berkenaan dengan
kompetensi pedagogik dan kompetensi profesional, serta untuk setiap aspek
yang menggambarkan kinerja dosen dari sisi kompetensi sosial dan kompetensi
kepribadian. Rambu-rambu penilaian dibuat dalam bentuk “semantic differential”
dengan satu (atau lebih) deskriptor untuk setiap kegiatan atau aspek, dilengkapi
dengan nilai interval dari setiap deskriptor. Deskriptor terdiri dari satu pasang
kata sifat yang saling berlawanan untuk mendeskripsikan sisi negatif atau positif
dari sifat yang diterapkan. Nilai interval terdiri dari 1-5 di mana 1 berarti nilai
paling rendah dan 5 berarti nilai paling tinggi.
Asesor diharapkan memberikan skor dengan memilih salah satu angka dari nilai
interval yang tersedia untuk setiap deskriptor.
33
Contoh Pemberian Skor terhadap Deskripsi yang dibuat Dosen:
Aspek : Prestasi kerja dosen
Deskripsi Dosen :
Sekitar tiga semester yang lalu, saya mulai menyadari bahwa mahasiswa saya
kesulitan memahami kuliah yang saya berikan, ketika saya sajikan tanpa bantuan
media visual. Saat itu saya belum memahami teknologi media dan saya mulai
mempelajarinya. Secara bertahap saya menerapkan pemakaian media visual
dalam perkuliahan, sehingga saya dapat memberi banyak ilustrasi dan
melengkapi presentasi perkuliahan dengan animasi untuk memperjelas konsep,
bahan, materi, proses terkait dengan bidang ilmu yang saya ajarkan. Kelas
menjadi lebih bergairah dan hidup. Implikasi suasana pembelajaran itu, prestasi
mahasiswa meningkat jika dilihat dari sebaran nilai ujian dan/atau kualitas tugas
mahasiswa. Sekarang, semakin banyak dosen di universitas saya yang
mengikuti model pembelajaran ini.
1. MANFAAT
rendah tinggi
1 2 3 4 5
Rendah Tinggi
Berbagai perubahan yang dilakukan Berbagai perubahan yang dilakukan
kurang memiliki manfaat yang memiliki manfaat yang nyata
nyata
2. INOVASI
buruk baik
1 2 3 4 5
V
Buruk V
Baik
Upaya perubahan yang dilakukan Upaya perubahan yang dilakukan
tidak memiliki nilai inovatif memiliki nilai inovatif
3. KEBANGGAAN
rendah tinggi
1 2 3 4 5
Rendah Tinggi
Upaya perubahan yang dilakukan Upaya perubahan yang dilakukan sangat
biasa-biasa saja membanggakan
34
4. DAMPAK
terbatas luas
1 2 3 4 5
X
Terbatas Luas
Melakukan perubahan dalam upaya Melakukan berbagai perubahan dalam
meningkatkan dan mengembangkan proses pembelajaran untuk meningkatkan
kualitas pembelajaran, namun dan mengembangkan kualitas
dampaknya terbatas pembelajaran, dengan dampak yang
luas
Setelah skor terhadap semua deskriptor diperoleh untuk setiap bagian, maka
skor-skor tersebut dijumlahkan menjadi satu untuk setiap bagian. Untuk
memperoleh nilai akhir dari setiap bagian, maka semua nilai deskriptor pada
bagian tersebut dijumlahkan. Nilai akhir setiap bagian kemudian dijumlahkan
untuk memperoleh nilai akhir (kuantitatif) dari Deskripsi Diri Dosen.
RAMBU-RAMBU SKOR
Bagian I
A. Pengembangan Kualitas Pembelajaran
1. USAHA PERUBAHAN
pasif aktif
1 2 3 4 5
Pasif Aktif
Menjalankan proses belajar Berusaha melakukan perubahan yang
mengajar sebagaimana adanya dan konstruktif untuk meningkatkan kualitas
sebagaimana yang sudah pernah pembelajaran misalnya melakukan
dilakukan sebelumnya, tanpa ada penelitian tindakan kelas, melakukan
perubahan refleksi, dan merespons permintaan
mahasiswa
2. DAMPAK PERUBAHAN
buruk baik
1 2 3 4 5
Buruk Baik
Melakukan perubahan dalam upaya Melakukan berbagai perubahan dalam
meningkatkan dan mengembangkan proses pembelajaran untuk meningkatkan
kualitas pembelajaran, namun tidak dan mengembangkan kualitas
konstruktif pembelajaran, misalnya menggunakan
metode pembelajaran baru, mencoba
beragam media, menyediakan bahan ajar
baru mengubah strategi penilaian hasil
belajar siswa
35
B. Pengembangan Keilmuan/Keahlian Pokok
3. PRODUKTIVITAS ILMIAH
buruk baik
1 2 3 4 5
Buruk Baik
Tidak menjalankan proses Melakukan pengembangan keilmuan
pengembangan keilmuan (penelitian, secara berkelanjutan dan konsisten
karya ilmiah, dll.) melalui berbagai kegiatan penelitian,
menulis dan menyajikan karya ilmiah di
berbagai forum, melibatkan mahasiswa
dalam proses penelitian, memperoleh
hibah penelitian
4. MAKNA KARYA
negatif positif
1 2 3 4 5
Negatif Positif
Menjalankan ilmunya sebagai Melakukan berbagai upaya untuk
bagian dari proses mengajar, pengembangan keilmuan secara
mengikuti perkembangan keilmuan, bermakna, walaupun kecil, misalnya
tetapi tidak memberikan karya-karya memperoleh pengakuan publik terhadap
keilmuan yang kontributif karya keilmuan (paten, HAKI, penerbitan
buku, dll.)
C. Peningkatan Kualitas Manajemen/Pengelolaan Institusi
5. PERUBAHAN PENGELOLAAN
mengecewakan membanggakan
1 2 3 4 5
Mengecewakan Membanggakan
Tidak melakukan perubahan Membuat strategi manajemen/pengelolaan
apapun dalam pengelolaan institusi yang baru dan membanggakan
institusi/unit, sekalipun menjalankan bagi dosen tersebut
tugas rutinnya dengan baik
36
6. IMPLEMENTASI KEBIJAKAN
sia-sia bermanfaat
1 2 3 4 5
Sia-sia Bermanfaat
Pernah melakukan beberapa Membuat beberapa strategi manajemen/
perubahan tetapi tidak pengelolaan institusi yang baru dan
diimplementasikan atau tidak bermanfaat bagi kemajuan institusi/unit
menghasilkan perubahan tersebut
7. DUKUNGAN INSTITUSI
ditolak diterima
1 2 3 4 5
Ditolak Diterima
Pernah melakukan perubahan tetapi Melakukan berbagai strategi manajemen/
tidak mendapat dukungan institusi pengelolaan institusi yang baru dan dapat
diterima oleh institusi, serta bermanfaat
bagi kemajuan institusi
D. Peningkatan Kualitas Kegiatan Mahasiswa
8. PERUBAHAN KEGIATAN
mengecewakan membanggakan
1 2 3 4 5
Mengecewakan Membanggakan
Tidak melakukan perubahan Membuat strategi kegiatan
apapun dalam kegiatan kemahasiswaan yang baru dan
kemahasiswaan sekalipun membanggakan bagi dosen tersebut
menjalankan tugas rutinnya dengan
baik
9. IMPLEMENTASI KEBIJAKAN
sia-sia bermanfaat
1 2 3 4 5
Sia-sia Bermanfaat
Pernah melakukan perubahan tetapi Membuat beberapa strategi
tidak diimplementasikan kegiatan kemahasiswaan yang baru dan
bermanfaat
37
10. DUKUNGAN INSTITUSI
ditolak diterima
1 2 3 4 5
Ditolak Diterima
Melakukan berbagai strategi Melakukan berbagai strategi kegiatan
kegiatan kemahasiswaan namun kemahasiswaan yang baru dan dapat
tidak dapat diterima diterima dan bermanfaat
. Peningkatan Pengabdian kepada Masyarakat
11. USAHA PERUBAHAN
pasif aktif
1 2 3 4 5
Pasif Aktif
Tidak pernah mencoba Secara aktif melakukan berbagai
melakukan perubahan untuk perubahan/upaya/strategi baru untuk
peningkatan kualitas pengabdian peningkatan kualitas pengabdian kepada
kepada masyarakat luas masyarakat luas
12. IMPLEMENTASI PERUBAHAN
sia-sia bermanfaat
1 2 3 4 5
Sia-sia Bermanfaat
Pernah melakukan perubahan tetapi Membuat beberapa upaya/strategi yang
tidak diimplementasikan atau tidak baru dan bermanfaat bagi peningkatan
menghasilkan perubahan kualitas pengabdian kepada masyarakat
luas
13. DUKUNGAN MASYARAKAT
ditolak diterima
1 2 3 4 5
Ditolak Diterima
Melakukan beberapa perubahan Melakukan beberapa
namun tidak memperoleh perubahan/upaya/strategi baru untuk
sambutan dari masyarakat luas peningkatan kualitas pengabdian kepada
masyarakat dan memperoleh dukungan
dari masyarakat luas
38
Bagian II
F. Karakter diri dalam berbagai situasi dan kondisi
14. KENDALI DIRI
lemah kuat
1 2 3 4 5
Lemah Kuat
Kurang mampu mengendalikan Umumnya mampu mengendalikan diri
diri dalam berbagai situasi dan dalam berbagai situasi dan kondisi yang
kondisi menekan (“underpressure”)
15. KESABARAN
rendah tinggi
1 2 3 4 5
Rendah Tinggi
Kurang mampu menahan diri Memiliki kemampuan untuk bersikap
menghadapi kekecewaan sabar dalam menghadapi berbagai hal
yang tidak sesuai dengan harapan dalam
berbagai situasi dan kondisi
16. EKSPRESI PERASAAN
antipati empati
1 2 3 4 5
Antipati Empati
Kurang mampu untuk merasakan Dapat merasakan berbagai perasaan
perasaan orang lain dan orang lain dan mengekspresikan dengan
cenderung memberikan reaksi baik (cara dapat diterima)
negatif
17. RASIONALITAS
emosional rasional
1 2 3 4 5
Emosional Rasional
Cenderung mengutamakan Cenderung mengutamakan logika dari
perasaan pada perasaan dalam menghadapi
berbagai masalah
39
G. Etos Kerja
18. SEMANGAT
rendah tinggi
1 2 3 4 5
Rendah Tinggi
Kurang bersemangat dalam bekerja, Memiliki semangat kerja yang tinggi dalam
hanya menjalankan tugas sebagaimana berbagai situasi dan kondisi
diperintahkan saja.
19. TARGET KERJA
kabur jelas
1 2 3 4 5
Kabur Jelas
Tidak memiliki target kerja yang jelas Memiliki target yang jelas untuk dicapai dalam
bekerja dan rentang waktu yang tegas untuk
mencapainya sehingga mendukung perannya
sebagai dosen
20. DISIPLIN
rendah tinggi
1 2 3 4 5
Rendah Tinggi
Kurang patuh dan taat pada aturan dan Patuh dan taat pada aturan dan tata tertib dalam
tata tertib dalam bekerja sebagai dosen bekerja sebagai dosen dalam berbagai situasi dan
dalam berbagai situasi dan kondisi kondisi
21. KETANGGUHAN
rendah tinggi
1 2 3 4 5
Rendah Tinggi
Mudah menyerah dalam mencapai target Tidak mudah menyerah dalam mencapai target
kerja yang telah ditetapkan, apabila kerja yang telah ditetapkan, sekali pun
menghadapi rintangan menghadapi banyak rintangan
40
H. Integritas diri
22. KEJUJURAN
rendah tinggi
1 2 3 4 5
Rendah Tinggi
Pernah diketahui atau terbukti Tidak pernah diketahui melakukan
melakukan kecurangan, kebohongan, kecurangan, kebohongan, penipuan, dan
penipuan, dan perbuatan semacamnya perbuatan semacamnya
23. KETEGUHAN PADA PRINSIP
lemah kuat
1 2 3 4 5
Lemah Kuat
Mudah goyah, terbawa arus, dan Punya keyakinan yang kuat mengenai sesuatu
dipengaruhi orang lain dan tidak mudah dipengaruhi oleh orang lain
untuk berubah
24. KONSISTENSI
rendah tinggi
1 2 3 4 5
Rendah Tinggi
Tidak memelihara kesesuaian antara kata Memiliki kemampuan untuk memelihara
dan perbuatan dalam berbagai situasi dan kesesuaian antara kata dan perbuatan dalam
kondisi berbagai situasi dan kondisi
25. BERTANGGUNG JAWAB
rendah tinggi
1 2 3 4 5
Rendah Tinggi
Lengah dari tugas dan kewajiban, serta Menunaikan tugas dan kewajiban yang
tidak peduli terhadap nama baik institusi menjadi beban dan pekerjaannya, serta mampu
menjaga nama baik pribadi dan institusi
41
26. KETELADANAN
rendah tinggi
1 2 3 4 5
Rendah Tinggi
Tidak dapat dijadikan contoh yang baik Mampu menjadi contoh yang baik dalam
dalam bersikap dan berperilaku bersikap dan berperilaku bagi orang-orang di
sekitarnya; menjadi sumber inspirasi, tempat
bertanya dan meminta nasihat bagi banyak
orang di dalam dan luar kampus
I. Keterbukaan terhadap kritik, saran, dan pendapat orang lain.
27. PENYIKAPAN
kasar santun
1 2 3 4 5
Kasar Santun
Bersikap reaktif terhadap kritik, Mampu menyikapi dan menghadapi
saran, dan pendapat yang berbeda kritik, saran, dan pendapat orang lain
yang berbeda dengan yang baik dan
sopan
28. PENERIMAAN
Kaku Luwes
1 2 3 4 5
Kaku Luwes
Sulit menerima kritik, saran, dan Mampu menerima kritik, saran, dan
pendapat orang lain walaupun lebih pendapat orang lain yang lebih baik dan
baik sesuai
J. Peran sosial
29. KEMAMPUAN KERJA SAMA
rendah tinggi
1 2 3 4 5
Rendah Tinggi
Belum mampu bekerja sama dalam satu Mampu bekerja sama dalam satu tim kerja,
tim kerja maupun dalam menempatkan diri serta mampu menempatkan diri dengan baik
dengan baik sebagai anggota tim kerja sebagai anggota tim kerja
42
30. KEMAMPUAN KOMUNIKASI
rendah tinggi
1 2 3 4 5
Rendah Tinggi
Kurang mampu menyampaikan dan Mampu menyampaikan dan memahami
memahami dengan baik gagasan dan dengan baik gagasan dan pesan yang
pesan yang disampaikan secara verbal disampaikan secara verbal
K. Orisinalitas
31. KREATIVITAS
rendah tinggi
1 2 3 4 5
Rendah Tinggi
Kurang mampu melihat berbagai peluang Mampu melihat berbagai peluang untuk
untuk perubahan dan perbaikan dalam perubahan dan perbaikan dalam berbagai aspek
berbagai aspek – pribadi maupun – pribadi maupun pelaksanaan pekerjaan
pelaksanaan pekerjaan (Tridharma (Tridharma Perguruan Tinggi), sehingga memiliki
Perguruan Tinggi), sehingga memiliki beragam ide baru yang unik dan khas
beragam ide baru yang unik dan khas
32. INOVASI
rendah tinggi
1 2 3 4 5
Rendah Tinggi
Kurang mampu menerjemahkan dan Mampu menerjemahkan dan
mengimplementasikan gagasan dan ide mengimplementasikan gagasan dan ide baru
baru dalam praksis dan karya nyata dalam dalam praksis dan karya nyata dalam
pelaksanaan pekerjaan sehari-hari pelaksanaan pekerjaan sehari-hari
43
M4: Instrumen Pretes, sekaligus menjadi instrumen postes, untuk
mengukur Kompetensi Dosen sebagai Pendidik, yang tercermin dalam
proses pembelajaran di kelas yang dikelolanya, sebagaimana dinilai
mahasiswa. (Instrumen Serdos, Persepsional Mahasiswa).
IDENTITAS DOSEN
1. Nama Dosen peserta SPPD :
2. NIP/NIK/NRP :
3. Prodi, Jurusan dan Fakultas :
4. Nomor Peserta
44
LEMBAR PENILAIAN
Petunjuk
Sesuai dengan yang Saudara ketahui, berilah penilaian secara jujur, objektif, dan
penuh tanggung jawab terhadap dosen Saudara. Informasi yang Saudara
berikan hanya akan dipergunakan dalam proses sertifikasi dosen dan tidak akan
berpengaruh terhadap status Saudara sebagai mahasiswa. Penilaian dilakukan
terhadap aspek-aspek dalam tabel berikut dengan cara melingkari angka (1-5)
pada kolom skor.
1 = sangat tidak baik/sangat rendah/tidak pernah
2 = tidak baik/rendah/jarang
3 = biasa/cukup/kadang-kadang
4 = baik/tinggi/sering
5 = sangat baik/sangat tinggi/selalu
No. Aspek yang dinilai Skor
A. Kompetensi Pedagogik
1. Kesiapan memberikan kuliah dan/atau praktek/praktikum 1 2 3 4 5
2. Keteraturan dan ketertiban penyelenggaraan perkuliahan 1 2 3 4 5
3. Kemampuan menghidupkan suasana kelas 1 2 3 4 5
4. Kejelasan penyampaian materi dan jawaban terhadap pertanyaan 1 2 3 4 5
di kelas
5. Pemanfaatan media dan teknologi pembelajaran 1 2 3 4 5
6. Keanekaragaman cara pengukuran hasil belajar 1 2 3 4 5
7. Pemberian umpan balik terhadap tugas 1 2 3 4 5
8. Kesesuaian materi ujian dan/atau tugas dengan tujuan mata kuliah 1 2 3 4 5
9. Kesesuaian nilai yang diberikan dengan hasil belajar 1 2 3 4 5
Skor A
B. Kompetensi Profesional
10. Kemampuan menjelaskan pokok bahasan/topik secara tepat 1 2 3 4 5
11. Kemampuan memberi contoh relevan dari konsep yang diajarkan 1 2 3 4 5
12. Kemampuan menjelaskan keterkaitan bidang/topik yang diajarkan 1 2 3 4 5
dengan bidang/topik lain
13. Kemampuan menjelaskan keterkaitan bidang/topik yang diajarkan 1 2 3 4 5
dengan konteks kehidupan
14. Penguasaan akan isu-isu mutakhir dalam bidang yang diajarkan 1 2 3 4 5
15. Penggunaan hasil-hasil penelitian untuk meningkatkan kualitas 1 2 3 4 5
perkuliahan
16. Pelibatan mahasiswa dalam penelitian/kajian dan atau 1 2 3 4 5
pengembangan/rekayasa/desain yang dilakukan dosen
17. Kemampuan menggunakan beragam teknologi komunikasi 1 2 3 4 5
Skor B
C. Kompetensi Kepribadian
18. Kewibawaan sebagai pribadi dosen 1 2 3 4 5
19. Kearifan dalam mengambil keputusan 1 2 3 4 5
45
No. Aspek yang dinilai Skor
20. Menjadi contoh dalam bersikap dan berperilaku 1 2 3 4 5
21. Satunya kata dan tindakan 1 2 3 4 5
22. Kemampuan mengendalikan diri dalam berbagai situasi dan 1 2 3 4 5
kondisi
23. Adil dalam memperlakukan mahasiswa 1 2 3 4 5
Skor C
D. Kompetensi Sosial
24. Kemampuan menyampaikan pendapat 1 2 3 4 5
25. Kemampuan menerima kritik, saran, dan pendapat orang lain 1 2 3 4 5
26. Mengenal dengan baik mahasiswa yang mengikuti kuliahnya 1 2 3 4 5
27. Mudah bergaul di kalangan sejawat, karyawan, dan mahasiswa 1 2 3 4 5
28. Toleransi terhadap keberagaman mahasiswa 1 2 3 4 5
Skor D
Skor Total
........................, .................
Mahasiswa yang menilai,
(Dapat dikosongi)
(....................................)
Nomor Mahasiswa
46
Related docs
Other docs by fye36231
Formulas Calculo Incertidumbre Expandida Código PC TP PROCEDIMIENTO DE CALIBRACIÓN Rev 0
Views: 577 | Downloads: 3
Research Policies Consulting Consulting and Equity Ownership in Start Up Companies SC 520 Scope and Purpose This policy applies to all HHMI laboratory heads and Senior Scientists Laboratory
Views: 45 | Downloads: 0
Formato De Una Historia Clinica Sistema de Historia Clínica Digital Dr Roberto Lombardo CETIFAC
Views: 764 | Downloads: 1
Get documents about "