Paper kompetensi pendidik

Document Sample
Paper kompetensi pendidik Powered By Docstoc
					Nama : Ario Reza SAhdam

No Reg : 5115087411

Fakultas : Teknik Elektro

Tugas : Paper Kompetensi Pendidik




          UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA
                    2011
Mengenal Kompetensi Pendidik

       Dalam mencentang kesesuaian buku panduan pendidik yang dipilih dengan kompetensi
pendidik dapat menggunakan penjelasan berikut:
1) Kompetensi Pedagogik

   a) Menguasai karakteristik peserta didik dari aspek fisik, moral, sosial, kultural, emosional,
      dan intelektual.
   b) Menguasai teori belajar dan prinsip-prinsip pembelajaran yang mendidik.
   c) Mengembangkan kurikulum yang terkait dengan bidang pengembangan yang diampu.
   d) Menyelenggarakan kegiatan pengembangan yang mendidik
   e) Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk kepentingan penyelenggaraan
      kegiatan pengembangan yang mendidik.
   f) Memfasilitasi pengembangan potensi peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai
      potensi yang dimiliki.
   g) Berkomunikasi secara efektif, empatik, dan santun dengan peserta didik.
   h) Menyelenggarakan penilaian dan evaluasi proses dan hasil belajar.
   i) Memanfaatkan hasil penilaian dan evaluasi untuk kepentingan pembelajaran.
   j) Melakukan tindakan reflektif untuk peningkatan kualitas pembelajaran.

2) Kompetensi Kepribadian

   a) Bertindak sesuai dengan norma agama, hukum, sosial, dan kebudayaan nasional
      Indonesia.
   b) Menampilkan diri sebagai pribadi yang jujur, berakhlak mulia, dan teladan bagi peserta
      didik dan masyarakat.
   c) Menampilkan diri sebagai pribadi yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan berwibawa
   d) Menunjukkan etos kerja, tanggungjawab yang tinggi, rasa bangga menjadi guru, dan rasa
      percaya diri.
   e) Menjunjung tinggi kode etik profesi guru.

3) Kompetensi Sosial

   a) Bersikap inklusif, bertindak objektif, serta tidak diskriminatif karena pertimbangan jenis
      kelamin, agama, ras, kondisi fisik, latar belakang keluarga, dan status sosial ekonomi.
   b) Berkomunikasi secara efektif, empatik, dan santun dengan sesama pendidik, tenaga
      kependidikan, orang tua, dan masyarakat.
   c) Beradaptasi di tempat bertugas di seluruh wilayah Republik Indonesia yang memiliki
      keagamaan sosial budaya.
   d) Berkomunikasi dengan komunitas profesi sendiri dan profesi lain secara lisan dan tulisan
      atau bentuk lain.
4) Kompetensi Profesional

   a) Menguasai materi, struktur, konsep dan pola pikir keilmuan yang mendukung mata
      pelajaran yang diampu.
   b) Menguasai standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran/bidang
      pengembangan yang diampu.
   c) Mengembangkan materi pembelajaran yang diampu secara kreatif.
   d) Mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan dengan melakukan tindakan
      reflektif.
   e) Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk berkomunikasi dan
      mengembangkan diri.


Standar Kompetensi Pendidik

        Berapa standar rata-rata nilai UN matematika yang sekolah targetkan? Berapa banyak
target siswa yang masuk perguruan tinggi favorit yang sekolah ingin capai? Berapa siswa yang
sekolah targetkan yang dapat menjadi anggota delegasi provinsi dalam olimpiade tingkat
nasional? Berapa banyak siswa yang sekolah harapkan dapat berkolaborasi dalam kegiatan
internasional yang sekolah dambakan? Berbagai masalah tersebut memerlukan jawaban yang
dilakukan secara simultan oleh banyak sekolah di Indonesia. Sebagiannya memperoleh berkah
mendapat calon siswa yang lebih baik sehingga dapat meningkatkan mutu daya saing lulusannya
dengan memanfaatkan mutu input, sebagian besar lainnya belum memperoleh jawaban strategi
jitu apa yang sebaiknya sekolah lakukan.

       Makin tinggi standar Semakin tinggi mutu lulusan secara logis semakin tinggi pula mutu
kompetensi guru yang sekolah butuhkan. Standar kompetensi utama yang perlu meningkat mutu
lulusan adalah penguasaan ilmu pengetahuan dan keterampilan terbaik dalam pengelolaan kelas
dan memfasilitasi siswa belajar tentang bagaimana mereka belajar secara aktif mengembangkan
potensi dan prestasinya.

        Kompetensi guru terkait pada dua ranah yang berbeda. Ranah pertama terkait pada
mengoptimalkan fungsi perencanaan, pengelolaan, dan evaluasi pembelajaran. Kompetensi ini
berkaitan dengan pengelolaan manajemen belajar. Fokus utamanya adalah mengembangkan
sistem perencanaan mutu, pelaksanaan peningkatan mutu, monitoring proses dan hasil, dan
melakukan perbaikan. Manajemen belajar pada dasarnya membantu guru untuk mewujudkan
keunggulan yang diharapkannya sebagaimana yang tertuang dalam tujuan pembelajaran.


        Penyelenggaraan sekolah melibatkan banyak pihak. Oleh karena itu, sekolah memerlukan
guru yang memiliki standar kepribadian dan kecakapan sosial untuk melakukan kerja sama
dalam mengoptimalkan produk dalam rangka mewujukan tujuan. Proses belajar adalah proses
interaksi sosial. Proses belajar adalah proses berpikir yang terkait pada hati dan perasaan. Logika
akan bekerja jika hati setuju dan menerimanya. Sebaliknya sesuatu yang dapat diterima oleh
logika, namun ditolak oleh hati, seperti pada kasus siswa yang hatinya dalam keadaan tertekan
atau suasana belajar yang tidak menyenangkannya, logikanya tidak dapat menerima pula. Oleh
karena itu, suasana belajar perlu dibangun dengan modal dasar kepribadian yang didukung
dengan potensi sosial pendidik.

       Kompetensi pendidik yang esensial berkaitan dengan penguasaan pengetahuan dan
keterampilan menerapkan prinsip-prinsip pedagogik. Pendidik perlu menguasai pengetahuan
dan keterampilan dalam memfasilitasi siswa belajar secara serentak. Jadi, tidak bisa nya
menguasai pengetahuan saja atau keterampilan saja. Kedua-duanya harus serentak tampil untuk
memanfaatkan minat dan bakat siswa dan seluruh potensi pribadinya untuk meningkatkan
standar pengetahuan, keterampilan, dan sikapnya. Pendidik perlu memahami tipe-tipe belajar
siswa agar dapat memanfaatkan sumber daya secara efisien dan efektif dalam membantu siswa
dapat belajar.

        Potensi pribadi siswa yang guru kembangkan dijabarkan dalam berbagai indikator pada
disiplin akademis yang meliputi aspek pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang memenuhi
kriteria lulus UN, lolos dalam ujian masuk perguruan tinggi, menunjukkan potensi persaingan
dalam lomba akademik dan nonakademik pada tingkat nasional dan internasional, serta mampu
melakukan interaksi sosial pada taraf internasional.

        Sifat kompetensi yang terukur ditandai dengan mutu pada indikator tiap satuan program
pada tiap mata pelajaran yang ditentukan berdasarkan kebutuhan siswa dalam mengembangkan
potensi dirinya. Dalam hal ini sekolah wajib meningkatkan kompetensi guru yang memiliki
pengetahuan tentang tiap indikator hasil belajar siswa dan mampu mewujudkan menjadi
pengetahuan dan keterampilan yang dapat siswa tunjukkan sebagai hasil belajar. Guru yang
efektif mampu menunjukkan keterampilan dalam merencanakan, melaksanakan, dan memastikan
melalui evaluasi bahwa keseluruhan proses pengelolaan belajar dapat memfasilitasi siswa lulus
UN dengan nilai di atas standar nasional, lolos seleksi perguruan tinggi, menunjukkan prestasi
dalam lomba ilmu pengetahuan dan keterampilan, dan menunjukkan daya komunikasinya dalam
pergaulan internasional.

Strategi seperti apa yang perlu sekolah lakukan?

        Sekolah pada umumnya memiliki tiga masalah utama dalam meningkatkan standar
kompetensi pendidik. Pertama, sekolah belum mendeskripsikan secara rinci kompetensi siswa
seperti apa yang hendak sekolah wujudkan. Bagaikan dalam membangun kendaraan, rancang
bangun dan seluruh spesifikasi teknis harus dan performa produk sudah dibuat sebelum proses
kegiatan produsi dimulai. Sekolah sering kurang peduli pada bangun akhir objek yang
diharapkannya, materi seperti apa, keahlian seperti apa yang diperlukan untuk mengelola
prosesnya, teknologi seperti apa yang akan digunakan, berapa lama waktu yang diperlukan untuk
mendapatkan hasil yang terbaik. Spesifikasi teknis untuk mewujudkan lulusan memerlukan
rancang bangun yang lengkap seperti performa hasil belajar pada bidang matematika, kimia,
fisika dan sebagainya.

        Dengan belum jelasnya bangun profil lulusan, sekolah pada umumnya kurang memahami
kompetensi guru seperti apa yang sungguhnya yang siswa butuhkan. Apa yang guru harus
analisis, harus guru rencanakan, harus guru laksanakan agar siswa dapat masuk Universitas
Indonesia, ITB, UGM dan berbagai perguruan tinggi favorit lainnya. Pengetahuan dan
keterampilan apa yang pendidik perlukan dan bagaimana mengembangkan kompetensinya.

Peningkatan Mutu Guru Tanpa Penataran

        Menggantungkan harapan peningkatan kemampuan profesi hanya pada penyelenggaraan
penataran bukan strategi melainkan tragedi. Ada beberapa alasan mengapa itu berbahaya,
pertama semakin banyak penataran yang guru ikuti sesungguhnya kontra produktif pada
peningkatan efektivitas belajar siswa. Semakin banyak penataran semakin banyak kegiatan
belajar siswa terganggu. Alasan lain jumlah guru pada masa otonomi ini semakin banyak.
Karena itu, jika pembinaan peningkatan mutu bergantung pada sistem penataran, maka akan
semakin tinggi biaya yang dibutuhkan. Secara empirik terbukti bahwa tidak pernah penataran
dapat dinikmati oleh seluruh guru, hanya guru-guru yang memiliki kompetensi tertentu yang
banyak mendapatkan peluang.

       Pengalaman menunjukkan pula penyebarluasan hasil penataran kepada guru-guru lain di
sekolah sebagai produk pemusatan latihan guru secara nasional mapun lokal pada umumnya
tidak berjalan efektif. Pelatihan yang selama ini dilaksanakan telah meningkatkan kompetensi
guru namun belum tentu berpengaruh pada meningkatnya komptensi siswa.

        Kelemahan utama sekolah adalah belum menidentifikasi standar kompetensi apa yang
perlu ditetapkan agar sekolah dapat mengantarkan siswa mengembangkan kompetensi yang
teridentifikasi serta menentukan jenis kompetensi yang perlu guru kuasai yang penguasaannya
melalui kegiatan belajar dari pengalaman melaksanakan tugas. Berkolaborasi mengidentifikasi
berbagai kelemahan dan keunggulan empirik dalam rangka melaksanakan perbaikan mutu
pekerjaan secara berkelanjutan. Meningkatkan kompetensi dari pelaksanaan tugas sehari-hari
dengan dilandasi disiplin akademik yang berbasis teori. Memanfaatkan kemudahan memperoleh
informasi melalui jaringan internet.

Profesionalisme Guru

        Dalam permasalahan pengajar yang tidak sesuai dengan latar belakang kependidikanya
kini telah diatur dalam Undang-undang guru dan dosen Dalam Undang-undang No. 14 Tahun
2005 memberikan pengertian tentang Guru adalah sebagai pendidik profesional dengan tugas
utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi,
peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar dan
pendidikan menengah.
        Selanjutnya dalam Undang-undang tersebut memuat hal-hal sebagai berikut yang
berkaitan dengan Kompetensi Guru, diantaranya : Kedudukan, Fungsi dan Tujuan, Prinsip
Profesionalitas, Kualifikasi, Kompetensi, dan Sertifikasi. Pentingnya sertifikat dalam
profesionalitas guru di tekankan dalam pasal 11 (1) UUGD (undang-undang guru dan dosen)
menyebutkan bahwa sertifikat pendidik diberikan kepada guru yang telah memenuhi persyaratan,
Jadi sertifikat diberikan setelah yang bersangkutan diyakini memenuhi syarat kualifikasi
pendidikan dan kompetensi sebagai agen pembelajaran. diperlukan suatu mekanisme penilaian
untuk membuktikan bahwa seseorang telah memenuhi syarat tersebut.

      Mekanisme itulah yang disebut sertifikasi, yang seharusnya merupakan bentuk evaluasi
komprehensif. Jika kualifikasi sudah dapat dibuktikan dengan ijasah/sertifikat, maka penguasaan
kompetensi sebagai agen pembelajaran itulah yang dikembangkan dalam sertifikasi.dalam hal ini
guru mata pelajaran khususnya sejarah dapat menjalankan pofesinya dengan kompeten.

       Kompetensi guru dijelaskan dalam pasal 8, dijabarkan pada pasal 10 dengan istilah
kompetensi sebagai agen pembelajaran yang mencakup kompetensi kepribadian, kompetensi
pedagogik, kompetensi profesional dan kompetensi sosial, kepribadian, pedagogik, profesional
dan sosial. Kompetensi kepribadian mencakup kepribadian yang mantap, berakhlak mulia, arif
dan berwibawa serta dapat menjadi teladan bagi peserta didik.

        Kompetensi pedagogik adalah kemampuan mengelola pembelajaran, tentu saja
pembelajaran yang mendidik. Kompetensi profesional adalah penguasaan materi pembelajaran
secara luas dan mendalam. Kompetensi sosial adalah kemampuan berkomunikasi dan
berinteraksi secara efektif dan efisien dengan peserta didik, sesama guru,orangtua/wali dan
masyarakat sekitar.

        kompetensi kepribadian diarahkan sebagai modal dasar guru, khususnya dalam
berperilaku keseharian. Subkompetensi dengan menjadi teladan bagi peserta didik yang
merupakan puncak dari sub-subkompetensi sebelumnya, karena seseorang akan menjadi teladan
bagi anak didik, jika memiliki kepribadian yang mantap, berakhlak mulia, arif dan berwibawa.
Bahkan penguasaan materi ajar akan merupakan prasyarat untuk menjadi guru yang berwibawa.

      Dari uraian di atas dapat diterlihat jelas bahwa syarat menjadi guru menurut UUGD ada
dua, yaitu latar belakang pendidikan S1/D4 dengan mata pelajaran yang diajarkan dan
penguasaan kompetensi sebagai agen pembelajaran. Sedangkan sertifikat pendidik pada dasarnya
merupakan pengakuan terhadap kepemilikan dua syarat tersebut.
       Dalam Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2003, Undang-Undang RI Nomor 14 Tahun
2005 dan Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 mengamanatkan bahwa dalam rangka
peningkatan sumber daya manusia dalam bidang pendidikan dalam hal ini guru diwajibkan untuk
memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat pendidik, serta memiliki kemampuan
untuk mewujudkan tujuan dari pendidikan nasional kita.

        Persyaratan yang diamanatkan oleh Undang-Undang tersebut meliputi persyaratan
kualifikasi akademik guru dan persyaratan kemampuan seorang guru atau kompetensi yang
dibuktikan dengan bentuk penguasaan pedagogik, profesi, kepribadian dan sosial
Dalam proses belajar dan pembelajaran guru merupakan salah satu faktor utama yang
mengkondisikan terciptanya suasana yang kondusif.

       Proses transformasi ilmu dan pengetahuan akan berjalan sesuai fungsinya apabila guru
menjalankan tugas dan tanggung jawabnya secara profesional. Guru dituntut untuk memiliki
kompetensi dan dedikasi dalam menjalankan profesinya. Guru sebagai sebuah profesi pada masa
sekarang ini terjadi penguatan dalam kedudukan sosial dan eksternal, bahkan terjadi penguatan
kedudukan dalam hal proteksi jabatan dan diperkuat oleh Undang-Undang dan status hukum.

       Oleh karena itu secara logis muncul pula harapan dan keinginan agar terjadi penguatan
serupa dalam posisi internal profesi guru, dimana peningkatan kualifikasi dan kompetensi guru
bisa menjamin mutu pendidikan.

      Seorang guru profesional paling tidak harus menguasai kompetensi akademik, yang
mencakup: filosofi dan tujuan pendidikan yang menjadi kompas setiap aktivitas pendidikan,
mengenal secara mendalam karateristik peserta didik yang dilayani, menguasai bidang ilmu yang
menjadi sumber bahan ajar, serta kemampuan menguasai berbagai model serta pendekatan
pembelajaran yang dapat digunakan dalam memfasilitasi peserta didik yang sedang belajar.

       Penguasaan ke empat kemampuan tersebut akan menjadi modal pokok bagi guru
profesional untuk menguasai kemampuan derivasinya, yaitu: merencanakan dan melaksanakan
proses pembelajaran yang sesuai dengan filosofi pendidikan karateristik materi ajar yang dikaji,
substansinya dalam hal ini mata pelajaran sejarah.

      Perlu dicatat bahwa secara filosofis pendidikan bukanlah transfer pengetahuan, tetapi
pengembangan potensi peserta didik.Dengan demikian bidang ilmu pada dasarnya merupakan
wahana untuk pengembangan potensi tersebut.

       Oleh karena itu materi ajar seharusnya difahami sebagai ”alat” dan bukan ”tujuan”
pembelajaran. Sebagai seorang profesional, guru dituntut untuk mengembangkan diri secara
berkelanjutan.Dengan demikian, guru juga harus memiliki kemampuan untuk mengembangkan
kemampuan profesionalnya, seorang guru sejarah melaksanakan tugasnya dengan profesional,
yakni berlandaskan konsep/teori yang cukup kokoh. Serta pencerminan sikap agar siswa dapat
bertindak bijak dalam kehidupan keseharianya.
Daftar pustaka

http://gurupembaharu.com/home/?p=1326

http://www.gudangmateri.com/2010/09/kompetensi-pendidik-dalam-pembelajaran.html

http://stahdnj.ac.id/?p=33

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:90
posted:4/21/2011
language:Indonesian
pages:8