Pengenalan Tuhan kepada anak melalui Pembiasaan by z41n

VIEWS: 194 PAGES: 11

									                                     BAB I
                              PENDAHULUAN




A. Latar Belakang Masalah
          Usia 2 – 6 tahun merupakan masa peka bagi anak-anak. Anak mulai
   sensitif untuk menerima berbagai perkembangan seluruh potensi anak. Masa
   peka adalah masa terjadinya pemtangan fungsi-funsgi dan spikis yang siap
   merespon stimulasi yang diberikan oleh lingkungan karena faktor
   lingkungan sangat mempengaruhi perkembangan anak, masa ini merupakan
   masa untuk meletakkan dasar pertama dalam mengembangkan kemampuan
   fisik, kognitif, bahasa, sosial, emosional, konsep diri, disiplin, kemandirian,
   seni, moral, dan nilai-nilai agama. Oleh sebab itu dibutuhkan kondisi dan
   stimulasi yang sesuai dengan kebutuhan anak agar perkembangan anak
   sesuai secara optimal. Oleh sebab itu pembiasaan kemandirian dalam
   penanaman agama sangatlah penting, karena di usia emas (golden age) anak
   sangat mudah dipengaruhi. Untuk itu bagaimana cara kita menanamkannya,
   karena pembiasaan yang baik dan dilakukan terus menerus dalam kehidupan
   anak sehari-hari. Insya Allah kelak anak-anak akan tumbuh seperti yang kita
   harapkan, sehat, cerdas, berbudi pekerti, dan berakhlak terpuji serta
   mempunyai kemampuan dasar yang kelas bermanfaat bagi dirinya.


B. Rumusan Masalah
          Peran pendidik (orang tua, guru, dan orang dewasa lain) sangat
   diperlukan dalam upaya pengembangan tersebut harus dilakukan melalui
   kegiatan yang menyenangkan, bermain sambil belajar, belajar sambil
   bermain.
          Dengan metode pembiasaan, pendidik harus dapat menanamkan dasar
   pertama bagi anak di usia ini dengan nilai-nilai agama dan kemandirian
   untuk disiplin sehingga dapat memberi manfaat dan tujuan yang luar biasa
   untuk bekal anak sampai dewasa.



                                        1
       Maka dari itu bagaimanakah metode pembiasaan dilakukan ? yaitu
dengan melakukan kegiatan yang positif, yang diberikan secara terus meneru
setiap hari, agar pembiasaan yang baik dapat melekat pada diri anak sampai
kelak mereka dewasa.




                                  2
                                        BAB II
                                    PEMBAHASAN




A. Pengertian Metode Pembiasaan
           Pembiasaan merupakan kegiatan yang dilakukan secara terus
    menerus dan ada dalam kehidupan sehari-hari anak sehingga menjadi
    kebiasaan    yang    baik.   Bidang        pengembangan    pembiasaan   meliputi
    pengembangan moral dan nilai-nilai agama serta pengembangan sosial,
    emosional, dan kemandirian. 1


    a. Pentingnya Penanaman Nilai Agama Kepada Anak
                Anak adalah keturunan pertama (sesudah ibu, bapak). Anak
       adalah manusia yang paling kecil yang belum dewasa dan memiliki
       berbagai potensi latent untuk berkembang. Potensi latent itu diantaranya
       potensi jasmani yang berkaitan dengan kemampuan motorik dan juga
       potensi rohani yang berkaitan dengan intelektual maupun spiritual
       termasuk didalamnya potensi untuk menempuh kehidupan beragama.
                Pada mulanya seorang bayi atau anak-anak belum mengenal
       agama, agama merupakan sesuatu yang asing bagi mereka. Malahan
       anak-anak belum mempermasalahkan hal agama, pemikiran anak-anak
       masih sangat sederhana, demikian juga dengan perasaanya. Mereka lebih
       tertarik terhadap hal-hal yang dapat merangsang panca inderanya dari
       pada hal-hal yang abstrak di luar jangkauan panca inderanya. 2
                Oleh karena itu orang tua berkewajiban untuk mengembangkan
       kemampuan        potensial    (laten)    anak,   yang   berupa   pendengaran,
       penglihatan, dan hati nurani anak-anak untuk mengetahui dan mengerti
       tugs dan kewajiban hidup, yaitu dengan menanamkan nilai-nilai agama
       Islam.
1
 Departemen Pendidikan Nasional, Kurikulum Taman Kana-Kanak, (Jakarta, 2004), hal. 6
2
 Yaya Kurnia, Metode Pengembangan Agama, (Jawa Timur, 2000; Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan). Hal. 20



                                           3
          Artinya :
          Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (suci, bersih) maka orang
          tualah yang akan menjadikannya yahudi, nasrani, maupun majusi.
          (HR Bukhari dan Muslim)

          Hadits di atas dapat memberi kesimpuln bahwa :
             Anak dikeluarkan oleh Allah SWT dari kandungan (perut) ibunya
             Anak yang baru dilahirkan belum memiliki pengetahuan apa-apa,
              bahkan ia masih suci bersih.
             (Untuk menyerap ilmu pengetahuan dan menjalankan tugas dan
              kewajibannya) anak dibekali oleh Allah SWT pendengaran,
              penglihatan dan hati sebagai alat untuk menyerap ilmu pengetahuan,
              kemudian bersyukur kepada Allah SWT.
             (pendidikan orang tua di rumah / dalam keluarga sangat menentukan
              agama atau pandangan hidup anak. 3
          Mengapa anak yang baru dilahirkan (masih dalam buaian ibunya) dan
          tidak berdaya dituntut mencari ilmu ?
                 Perintah menuntut ilmu kepada anak-anak, sebenarnya ditujukan
          kepada para orang tua. Orang tu wajib mendidik anaknya agar mereka
          kelak menjadi anak yang shaleh dalam menjalankan perintah agama yaitu
          anak mengabdi kepada Allah SWT, menta’ati Rasuln-Nya, berbakti
          kepada orang tua, hormat dan menghargai guru, berguna bagi agama dan
          masyarakat, serta menjadi rahmat bagi alam.
                 Bagaimana anak-anak mengenal tuhan dan kapan perasaan
          ketuhanan tumbuh pada diri anak-anak ?
                 Tuhan bagi anak-anak adalah suatu yang asing, pada mulanya
          anak-anak tidak pernah mengenal tuhan, mereka sama sekali tidak pernah
          berpikir tentang tuhan.

3
    Yaya Kurnia, … Metode Pengembangan Agama …, hal. 16



                                             4
                     Anak-anak pada umumnya belum memiliki kemampuan untuk
           memfungsikan pikiran danhati nurani untuk mengenal tuhan, karena :
               Tuhan bagi anak-anak merupakan suatu yang asing
               Tuhan tidak berada pada dunia kongkrit, melainkan pada dunia yang
                abstrak
               Anak-anak masih menggunakan cara berpikir kongkrit atau belum
                mampu berpikir abstrak
               Pengetahuan dan perhatian anak-anak hanya terbatas, pada hal-hal
                yang dapat ditangkap dengan panca inderanya.
                     Menurut Daradjat (1991; 35), ”anak-anak mengenal tuhan mellui
           bahasa”, meskipun anak-anak belum bisa bicara. Tetapi ia sudah
           memiliki kemampuan mendengar dan melihat. Anak-anak mengenal
           Tuhan melalui orang tuanya dan kemudian melalui lingkungannya.
                    Ada beberapa cara yang bisa digunakan untuk mengenalkan tuhan
           kepada anak antara lain :4
           1. Melalui kegiatan bermain, seperti bernyanyi deklamasi, membaca
                puisi dan permainan lain yang di dalamnya memuat isi pesan adanya
                tuhan
           2. Melalui kegiatan karya wisata atau tadabur alam untuk mengenal
                keindahan alam ciptaan tuhan. Guru (orang tua), hendaknya mampu
                sarana bermain, juga menyisipkan pesan dan juga jiwa ketuhanan
                melalui penjelasan atau tanya jawab dengan anak-anak bahwa alam
                ini ciptaan tuhan. Dia sendiri memelihar dan mengaturny, bahwa
                Tuhan maha pengasih dan maha penyayang, diberinya kita makan
                dari jenis buah-buahan, sayur-sayuran dan sebagainya.
           3. Melalui cerita, dengan memperkenalkan sifat-sifat tuhan yang maha
                pengasih serta penyayang, dan sifat-sifat baik lainnya, atau
                menceritakan tentang kebaikan dan pertolongan tuhan kepada orang-
                orang yang sholeh ketika mendapatkan kesulitan, atau cerita lainnya
                yang memuat isi pesan ketuhanan

4
    Ibid, hal. 32



                                            5
           4. Melalui tauladan, dimana guru kerap berzikir menyabut nama-Nya
               dalam setiap kesempatan, seperti selalu membaca basmalah sebelum
               melakukan       berbagai     kegiatan,     dan    mengucapkan        hamdalah
               sesudahnya, serta mengucapkan kalimat tauhid lainnya.
           5. Melalui pembiasaan yang diterapkan kepada anak pada setiap
               kegiatan dengan berdo’a atau berdzikir sebelum dan sesudah
               melakukan berbagai kegiatan, seperti sebelum dan sesudah makan,
               minum, belajar, bermain, bekerja, berpakaian dan lain-lain.
           6. Melalui anjuran untuk bersyukur dan berterima kasih kepada Allah
               SWT, setiap menerima kegembiraan, bersabar dan berdo’a kepada-
               Nya ketika menerima kegagalan dan cobaan.
           7. Melalui permainan peran sebagai tokoh yang baik, bijak, shaleh dan
               selalu berdo’a kepada Allah SWT, dan selalu mendapatkan
               pertolongannya. 5


      b. Kemandirian Anak
                   Apa yang dipercaya anak mengenai diri mereka sendiri
           merupakan inti akan menjadi apa mereka. Seorang anak yang
           kepercayaan dirinya positif menghargai orng-orang yang dia lihat, ketika
           dia berkata pada dirinya sendiri. Dia menganggap dirinya sebagai orang
           yang bernilai, dan karena dia merasa benar mengenai dirinya sendiri. Dia
           berprilaku dengan cara bermanfaat. 6
                   Percaya diri merupakan faktor dasae selain optimisme dari
           struktur kepribadian. Kepercayaan diri anak sangat mempengaruhi sikap
           hati-hati, ketergantungan, ketidakserakahan, toleransi dan cita-cita.
           Ada 6 cara untuk meningkatkan rasa percaya diri pada anak :
           1. Lebih sering meningkatkan rasa percaya diri anak daripada
               menghancurkannya
           2. Pantulkan pesan-pesan positif

5
    Yaya Kurnia, …Metode Pengembangan Agama …, hal 32
6
    CH. Widyanti, Desember 2007, Hindari Strok Sejak Dini, Dokter Kita, Edisi VII, hl 23



                                                6
           3. Bermain dengan anak
           4. Hormati pilihan anak
           5. Hilangkan hal-hal yang akan menjatuhkan mental anak-anak
           6. Bantu anak-anak menemukan kekhasan mereka. 7


      c. Disiplin
                     Disiplin merupakan salah satu faktor penentu bagi seorang untuk
           berhasil memenuhi tugas dan kewajiban dengan baik. Seseorang yang
           memiliki kepandaian, keterampilan, kemampuan bergaul, tetapi tidak
           memiliki disiplin dapat mengakibatkan tugas dan kewajibannya tidak
           selesai tepat waktu.
                     Sikap disiplin tidak secara otomatis dibawa sejak lahir. Disiplin
           (sikap moral) dibentuk oleh lingkungan melalui pola asuh orang tua, guru
           dan orang-orang dewas di sekitar diri individu.
                     Melalui penanaman disiplin sejak dini, diharapkan anak dapat
           berperilaku dengan cara-cara yang sesuai dengan standar kelompok
           sosial dan kelompok budaya dimana anak itu berada.
                     lingkungan merupakan salah satu pendorong untuk membentuk
           sikap disiplin seseorang.
                     Ada 2 macam dorongan yang menyebabkan timbulny rasa disiplin
           yaitu :
           1. Dorongan dari dalam diri (internal), dorongan ini disebabkan oleh;
                    Pengetahuan
                     Mengetahui tentang disiplin, manfaat disiplin, mengapa dan
                     bagaimana melakukan disiplin
                    Kesadaran
                     Timbulnya kesadaran untuk berlaku disiplin
                    Kemauan untuk disiplin
           2. Dorongan dari luar (eksternal)
                    Perintah

7
    William Sears. Anak Cerdas, (Jaarta: Emerald Publishing, 2004), hal. 403



                                                 7
                 Larangan
                 Pengawasan
                 Pujian / penghargaan
                 Ancaman / hukuman8


B. Tujuan Metode Pembiasaan
                Tujuan metode pembiasaan adalah membantu anak didik untuk
    mengembangkan moral dan nilai-nilai agama dan diharapkan dapat
    meningkatkan ketaqwaan anak terhadap Tuhan Yang Maha Esa, dan
    membina sikap anak dalam rangka meletakkan dasar agar anak menjadi
    warga negara yang baik, pembentukan kemandirian dimaksudkan untuk
    membina anak agar dapat mengendlaikan emosinya secara wajar dan dapat
    berinteraksi dengan baik pada sesamanya maupun dengan orang dewasa,
    serta dapat menolong dirinya sendiri dalam rangka kecakapan hidupnya. 9


C. Manfaat Metode Pembiasaan
            Diantara manfaat metode pembiasaan adalah :
    1. Anak mampu mengucapkan bacaan do’a sehari-hari, lagu-lagu
        keagamaan, meniru gerakan beribadah, mengikuti aturan serta dapat
        mengendalikan emosi anak.
    2. Anak mampu melakukan ibadah, senantiasa mengikuti aturan dan dapat
        hidup bersih dan mulai belajar membedakan benar dan salah, sehingga
        terbiasa berperilaku terpuji.




8
  Hasan Mansur A. Karim, Pengambangan Nilai-Nilai Disiplin, Jawa Timur, 2000; Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan. Hal. 53
9
  Patmodewo Soemantri (1993), Buku Ajar Pendidikan Pra Sekolah, Departemen Nasional, hal.
38



                                            8
                                     BAB III
                                 KESIMPULAN




         Pada uraian yang ada dalam makalah ini, maka bisa diambil beberapa
keseimpulan :
   Melalui metode pembiasaan akan membantu anak untuk mengembangkan
    nilai-nilai moral dan keagamaan dn diharapkan dapat meningkatkan
    ketakwaan anak terhadap Tuhan Yang Maha esa
   Anak akan terbiasa mengikuti aturan-aturan yang ada, dan dapat
    membedakan mana yang benar dan mana yang salah. sehingga anak akan
    senantiasa berprilaku terpuji.




                                        9
                            DAFTAR PUSTAKA




Departemen Pendidikan Nasional. Kurikulum Nasional : Kurikulum Taman
     Kanak-Kanak. (Jakarta, 2004)

Kurnia Yaya. Metode Pengembangan Agama. Jawa Timur; 2000; Departemen
     Pendidikan Nasional

Mansyur A. Karim, Hasan. Pengembangan Nilai-Nilai Disiplin, Jawa Timur.
    2000. Departemen Pendidikan Nasional

Soemantri Patmodewo. Buku Ajar Pendidikan Pra Sekolah, Departemen
    Pendidikan Nasional .

Sears, William, Anak Cerdas, (Jakarta: Emerlad Publishing, 2004)

Widayanti, CH. Desember, 2007. Hindari Strok Sejak Dini. Dokter Kita. Edisi
     VII




                                     10

								
To top