Askep Varicella Cacar Air Sulfikar Aferil Praditya

					                                              BAB I

                                       PENDAHULUAN

       Ibarat tamu tak diundang, cacar air kerap datang tiba-tiba tanpa pandang bulu. Kendati
bisa disembuhkan, jangan sepelekan penyakit yang telah ratusan tahun dikenal orang ini karena
bisa terjadi komplikasi sejumlah penyakit.

       Umumnya varisella ini disebabkan oleh Virus yang ditularkan melalui percikan ludah
penderita atau melalui benda-benda yang terkontaminasi oleh cairan dari lepuhan kulit.
Penderita bisa menularkan penyakitnya mulai dari timbulnya gejala sampai lepuhan yang
terakhir telah mengering. Karena itu, untuk mencegah penularan, sebaiknya penderita diisolasi
(diasingkan).

       Jika seseorang pernah menderita cacar air, maka dia akan memiliki kekebalan dan tidak
akan menderita cacar air lagi. Tetapi virusnya bisa tetap tertidur di dalam tubuh manusia, lalu
kadang menjadi aktif kembali dan menyebabkan herpes zoster.




1|Asuhan Keperawatan Varicella / Kel. 6
                                                 Bab II

                                            Landasan Teori

Pengertian

   Varicella (Cacar Air) adalah penyakit infeksi yang umum yang biasanya terjadi pada anak-
anak dan merupakan akibat dari infeksi primer Virus Varicella Zoster. Varicella pada anak,
mempunyai tanda yang khas berupa masa prodromal yang pendek bahkan tidak ada dan dengan
adanya bercak gatal disertai dengan papul, vesikel, pustula, dan pada akhirnya, crusta, walaupun
banyak juga lesi kult yang tidak berkembang sampai vesikel.

   Normalnya pada anak, gejala sistemik biasanya ringan. Komplikasi yang serius biasanya
terjadi pada dewasa dan pada anak dengan defisiensi imunitas seluler, dimana penyakit dapat
bermanifestasi klinis berupa, erupsi sangat luas, gejala konstitusional berat, dan pneumonia.
Terdapat kemungkinan fatal jika tidak ada terapi antivirus yang diberikan.

   Vaksin Live Attenuated (Oka) mulai diberikan secara rutin pada anak yang sehat diatas umur
1 tahun 1995. Setelah itu, insidensi varisella dan komplikasinya mulai menurun di Amerika
Serikat. Telah banyak negara bagian yang mewajibkan vaksin ini diberikan sebagai syarat masuk
sekolah.

Herpes Zooster disebabkan oleh reaktivasi dari Virus Varisela Zooster yang oleh penderita
varisela. Herpes Zooster ini ditandai dengan lesi unilateral terlokalisasi yang mirip dengan cacar
air dan terdistribusi pada syaraf sensoris. Biasanya lebih dari satu syaraf yang terkena dan pada
beberapa pasien dengan penyebaran hematogen, terjadi lesi menyeluruh yang timbul setelah
erupsi lokal. Zoster biasanya terjadi pada pasien dengan immunocompromised, penyakit ini juga
umum pada orang dewasa daripada anak-anak. Pada dewasa lebih sering diikuti nyeri pada kulit.

Epidemiologi

   Sebelum pengenalan vaksin pada tahun 1995, varisella merupakan penyakit infeksi paling
sering pada anak-anak di USA. Kebanyakan anak terinfeksi pada umur 15 tahun, dengan
persentasi dibawah 5% pada orang dewasa. Epidemik Varicella terjadi pada musim dingin dan

2|Asuhan Keperawatan Varicella / Kel. 6
musim semi, tercatat lebih dari 4 juta kasus, 11.000 rawat inap, dan 100 kematian tiap tahunnya.
Varicella merupakan penyakit serius dengan persentasi komplikasi dan kematian tinggi pada
balita, dewasa, dan dengan orang imun yang terkompromi. Pada rumah tangga, persentasi
penularan dari virus ini berkisar 65%-86%.

   Varicella disebabkan oleh Varicella Zooster Virus (VZV) yang termasuk kelompok Herpes
Virus dengan diameter kira-kira 150 – 200 nm. Inti virus disebut capsid yang berbentuk
icosahedral, terdiri dari protein dan DNA yang mempunyai rantai ganda yaitu rantai pendek (S)
dan rantai panjang (L) dan merupakan suatu garis dengan berat molekul 100 juta dan disusun
dari 162 capsomer. Lapisan ini bersifat infeksius.

   Varicella Zoster Virus dapat menyebabkan varicella dan herpes zoster. Kontak pertama
dengan virus ini akan menyebabkan varicella, oleh karena itu varicella dikatakan infeksi akut
primer, sedangkan bila penderita varicella sembuh atau dalam bentuk laten dan kemudian terjadi
serangan kembali maka yang akan muncul adalah Herpes Zoster.

Patogenesis

   Virus Varicella Zooster masuk dalam mukosa nafas atau orofaring, kemudian replikasi virus
menyebar melalui pembuluh darah dan limfe ( viremia pertama ) kemudian berkembang biak di
sel retikulo endhotellial setelah itu menyebar melalui pembuluh darah (viremia ke dua) maka
timbullah demam dan malaise.

   Permulaan bentuk lesi pada kulit mungkin infeksi dari kapiler endothelial pada lapisan papil
dermis menyebar ke sel epitel pada epidermis, folikel kulit dan glandula sebacea dan terjadi
pembengkakan. Lesi pertama ditandai dengan adanya makula yang berkembang cepat menjadi
papula, vesikel da akhirnya menjadi crusta. Jarang lesi yang menetap dalam bentuk makula dan
papula saja. Vesikel ini akan berada pada lapisan sel dibawah kulit. Dan membentuk atap pada
stratum korneum dan lusidum, sedangkan dasarnya adalah lapisan yang lebih dalam.

   Degenarasi sel akan diikuti dengan terbentuknya sel raksasa berinti banyak, dimana
kebanyakan dari sel tersebut mengandung inclusion body intranuclear type A



3|Asuhan Keperawatan Varicella / Kel. 6
    Penularan secara airborne droplet. Virus dapat menetap dan laten pada sel syaraf. Lalu dapat
terjadi reaktivitas maka dapat terjadi herpes Zooster.

Masa inkubasi

Waktu terekspos sampai kena penyakit dalam tempo 2 sampai 3 pekan

Gejala Klinis

    Gejala mulai timbul dalam waktu 10-21 hari setelah terinfeksi pada anak-anak yang berusia
diatas 10 tahun, gejala awalnya berupa sakit kepala demam sedang dan rasa tidak enak badan,
gejala tersebut biasanya tidak ditemukan pada anak-anak yang lebih musa. Pada permulaannya,
penderita akan merasa sedikit demam, pilek, cepat merasa lelah, lesu, dan lemah. Gejala-gejala
ini khas untuk infeksi virus. Pada kasus yang lebih berat, bisa didapatkan nyeri sendi, sakit
kepala dan pusing. Beberapa hari kemudian timbullah kemerahan pada kulit yang berukuran
kecil yang pertama kali ditemukan di sekitar dada dan perut atau punggung lalu diikuti timbul di
anggota gerak dan wajah.




    Kemerahan pada kulit ini lalu berubah menjadi lenting berisi cairan dengan dinding tipis.
Ruam kulit ini mungkin terasa agak nyeri atau gatal sehingga dapat tergaruk tak sengaja. Jika
lenting ini dibiarkan maka akan segera mengering membentuk keropeng (krusta) yang nantinya
akan terlepas dan meninggalkan bercak di kulit yang lebih gelap (hiperpigmentasi). Bercak ini
lama-kelamaan akan pudar sehingga beberapa waktu kemudian tidak akan meninggalkan bekas
lagi.

    Lain halnya jika lenting cacar air tersebut dipecahkan. Krusta akan segera terbentuk lebih
dalam sehingga akan mengering lebih lama. kondisi ini memudahkan infeksi bakteri terjadi pada
bekas luka garukan tadi. setelah mengering bekas cacar air tadi akan menghilangkan bekas yang
dalam. Terlebih lagi jika penderita adalah dewasa atau dewasa muda, bekas cacar air akan lebih
sulit menghilang.




4|Asuhan Keperawatan Varicella / Kel. 6
    Papula di mulut cepat pecah dan membentuk luka terbuka (ulkus), yang sering menyebabkan
gangguan menelan. Ulkus juga dapat ditemukan di kelopak mata, saluran pernapasan bagian
atas, rectum dan vagina.

    Papula pada pita suara dan saluran pernapasan atas kadang menyebabkan gangguan pada
pernapasan. Bisa terjadi pembengkakan kelenjar getah bening dileher bagian samping. Cacar air
jarang menyebabkan pembentukan jaringan parut, kalaupun ada hanya berupa lekukan kecil di
sekitar mata. Luka cacar air bisa terinfeksi akibat garukan dan biasanya disebabkan oleh
staphylococcus.

    Anak-anak biasanya sembuh dari cacar air tanpa masalah. Tetapi pada orang dewasa maupun
penderita gangguan sistem kekebalan, infeksi ini bisa berat atau bahkan berakibat fatal.

Diagnosa
Differensial diagnosis dari infeksi varicella sendiri termasuk infeksi yang dapat menimbulkan
vesikular exanthema, seperti infeksi herpes secara umum, hand-foot-mouth infection dan
exanthema enteroviral lainnya. Dahulu, variola dan vaccinia merupakan differensial diagnosis
yang penting namun infeksi ini sudah sangat jarang ditemukan. Herpes simpleks dapat dibedakan
dari pengelompokan vesikelnya, lokasi, dan tes immunoflorescent atau kultur, jika perlu. Tes
Tzanck dapat membantu membedakan varicella dengan enteroviral penyebab exanthem lainnya
dengan memperlihatkan multinucleated giant cell pada infeksi Herpes zoster.

Pemeriksaan Laboratorium

    Pada pemeriksaan darah tidak memberikan gambaran yang spesifik.

    Untuk pemeriksaan varicella bahan diambil dari dasar vesikel dengan cara kerokan atau
apusan dan dicat dengan Giemsa dan Hematoksilin Eosin, maka akan terlihat sel-sel raksasa
(giant cell) yang mempunyai inti banyak dan epitel sel berisi Acidophilic Inclusion Bodies atau
dapat juga dilakukan pengecatan dengan pewarnaan imunofluoresen, sehingga terlihat antigen
virus intrasel.




5|Asuhan Keperawatan Varicella / Kel. 6
   Isolasi virus dapat dilakukan dengan menggunakan fibroblast pada embrio manusia. Bahan
diambil dari kerokan dasar vesikel, kadang-kadang ada darah.

   Antibodi terhadap varicella dapat dideteksi dengan pemeriksaan Complemen Fixation Test,
Neurailization Test, FAMA, IAHA, dan ELISA.

Waktu karantina yang disarankan

       Selama 5 hari setelah ruam mulai muncul dan sampai semua lepuh telah berkeropeng.
Selama masa karantina sebaiknya penderita tetap mandi seperti biasa, karena kuman yang berada
pada kulit akan dapat menginfeksi kulit yang sedang terkena cacar air. Untuk menghindari
timbulnya bekas luka yang sulit hilang sebaiknya menghindari pecahnya lenting cacar air. Ketika
mengeringkan tubuh sesudah mandi sebaiknya tidak menggosoknya dengan handuk terlalu keras.
Untuk menghindari gatal, sebaiknya diberikan bedak talk yang mengandung menthol sehingga
mengurangi gesekan yang terjadi pada kulit sehingga kulit tidak banyak teriritasi. Untuk yang
memiliki kulit sensitif dapat juga menggunakan bedak talk salycil yang tidak mengandung
mentol. Pastikan anda juga selalu mengkonsumsi makanan bergizi untuk mempercepat proses
penyembuhan penyakit itu sendiri. Konsumsi buah- buahan yang mengandung vitamin C seperti
jambu biji dan tomat merah yang dapat dibuat juice.

Prognosis

Dengan perawatan teliti dan memperhatikan higiene akan memberikan prognosis yang baik dan
  jaringan parut yang timbul akan menjadi sedikit.

Angka kematian pada anak normal di Amerika 5,4 – 7,5 dari 10.000 kasus varicella.

Pada neonatus dan anak yang menderita leukimia, immunodefisiensi, sering menimbulkan
  komplikasi dan angka kematian yang meningkat.

Angka kematian pada penderita yang mendapatkan pengobatan immunosupresif tanpa
  mendapatkan vaksinasi dan pengobatan antivirus antar 7 – 27% dan sebagian besar penyebab
  kematian adalah akibat komplikasi pneumonitis dan ensefalitis.



6|Asuhan Keperawatan Varicella / Kel. 6
Pencegahan

Untuk mencegah cacar air diberikan suatu vaksin.

Kepada orang yang belum pernah mendapatkan vaksinasi cacar air dan memiliki resiko tinggi
mengalami komplikasi (misalnya penderita gangguan sistem kekebalan), bisa diberikan
immunoglobulin zoster atau immunoglobulin varicella-zoster.

Vaksin varisela biasanya diberikan kepada anak yang berusia 12-18 bulan.

Untuk mencegah cacar air diberikan suatu vaksin. Kepada orang yang belum pernah
mendapatkan vaksinasi cacar air dan memiliki resiko tinggi mengalami komplikasi (misalnya
penderita   gangguan     sistem   kekebalan),   bisa   diberikan   immunoglobulin   zoster   atau
immunoglobulin varicella-zoster. Vaksin varisela biasanya diberikan kepada anak yang berusia
12-18 bulan

Komplikasi
Anak-anak biasanya sembuh dari cacar air tanpa masalah. Tetapi pada orang dewasa maupun
penderita gangguan sistem kekebalan, infeksi ini bisa berat atau bahkan berakibat fatal.
Adapun komplikasi yang bisa ditemukan pada cacar air adalah:

- Pneumonia karena virus

- Peradangan jantung

- Peradangan sendi

- Peradangan hati

- Infeksi bakteri (erisipelas, pioderma, impetigo bulosa)

- Ensefalitis (infeksi otak)

Pengobatan
Varicella ini sebenarnya dapat sembuh dengan sendirinya. Akan tetapi tidak menutup
kemungkinan adanya serangan berulang saat individu tersebut mengalami panurunan daya tahan
tubuh. Penyakit varicella dapat diberi penggobatan "Asiklovir" berupa tablet 800 mg per hari


7|Asuhan Keperawatan Varicella / Kel. 6
setiap 4 jam sekali (dosis orang dewasa, yaitu 12 tahun ke atas) selama 7-10 hari dan salep yang
mengandung asiklovir 5% yang dioleskan tipis di permukaan yang terinfeksi 6 kali sehari selama
6 hari. Larutan "PK" sebanyak 1% yang dilarutkan dalam air mandi biasanya juga digunakan.
Setelah masa penyembuhan varicella, dapat dilanjutkan dengan perawatan bekas luka yang
ditimbulkan dengan banyak mengkonsumsi air mineral untuk menetralisir ginjal setelah
mengkonsumsi obat.

       Konsumsi vitamin C plasebo ataupun yang langsung dari buah-buahan segar seperti juice
jambu biji, juice tomat dan anggur. Vitamin E untuk kelembaban kulit bisa didapat dari plasebo,
minuman dari lidah buaya, ataupun rumput laut. Penggunaan lotion yang mengandung pelembab
ekstra saat luka sudah benar- benar sembuh diperlukan untuk menghindari iritasi lebih lanjut.

       Untuk mengurangi rasa gatal dan mencegah penggarukan, sebaiknya kulit dikompres
dingin. Bisa juga dioleskan losyen kalamin, antihistamin atau losyen lainnya yang mengandung
mentol atau fenol. Untuk mengurangi resiko terjadinya infeksi bakteri, sebaiknya:

- kulit dicuci sesering mungkin dengan air dan sabun

- menjaga kebersihan tangan

- kuku dipotong pendek

- pakaian tetap kering dan bersih.

       Kadang diberikan obat untuk mengurangi gatal (antihistamin). Jika terjadi infeksi bakteri,
diberikan antibiotik. Jika kasusnya berat, bisa diberikan obat anti-virus asiklovir. Untuk
menurunkan demam, sebaiknya gunakan asetaminofen, jangan Aspirin. Obat anti-virus boleh
diberikan kepada anak yang berusia lebih dari 2 tahun. adrenalinAsiklovir biasanya diberikan
kepada remaja, karena pada remaja penyakit ini lebih berat. Asiklovir bisa mengurangi beratnya
penyakit jika diberikan dalam wakatu 24 jam setelah munculnya ruam yang pertama. Obat anti-
virus lainnya adalah vidarabin.

Treatment
Karena umumnya bersifat ringan, kebanyakan penderita tidak memerlukan terapi khusus selain
istirahat dan pemberian asupan cairan yang cukup. Yang justru sering menjadi masalah adalah


8|Asuhan Keperawatan Varicella / Kel. 6
rasa gatal yang menyertai erupsi. Bila tidak ditahan-tahan , jari kita tentu ingin segera
menggaruknya. Masalahnya,bila sampai tergaruk hebat, dapat timbul jaringan parut pada bekas
gelembung yang pecah. Tentu tidak menarik untuk dilihat.

• Umum

   1. Isolasi untuk mencegah penularan.
   2. Diet bergizi tinggi (Tinggi Kalori dan Protein).
   3. Bila demam tinggi, kompres dengan air hangat.
   4. Upayakan agar tidak terjadi infeksi pada kulit, misalnya pemberian antiseptik pada air
       mandi.
   5. Upayakan agar vesikel tidak pecah.\
       - Jangan menggaruk vesikel.
       - Kuku jangan dibiarkan panjang.
       - Bila hendak mengeringkan badan, cukup tepal-tepalkan handuk pda kulit, jangan
       digosok.


       Farmakoterapi
       1. Antivirus dan Asiklovir
       Biasanya diberikan pada kasus-kasus yang berat, misalnya pada penderita leukemia atau
       penyakit-penyakit lain yang melemahkan daya tahan tubuh.


       2. Antipiretik dan untuk menurunkan demam
       - Parasetamol atau ibuprofen.
       - Jangan berikan aspirin pda anak anda, pemakaian aspirin pada infeksi virus (termasuk
       virus varisela) telah dihubungkan dengan sebuah komplikasi fatal, yaitu Syndrom Reye.
       3. Salep antibiotika = untuk mengobati ruam yang terinfeksi.
       4. Antibiotika = bila terjadi komplikasi pnemonia atau infeksi bakteri pada kulit.
       5. Dapat diberikan bedak atau losio pengurang gatal (misalnya losio kalamin).




9|Asuhan Keperawatan Varicella / Kel. 6
                                                BAB III

                                           Asuhan Keperawatan

    1. Pengkajian
Data subjektif : pasien merasa lemas, tidak enak badan, tidak nafsu makan dan sakit kepala.
Data Objektif
    a. Integumen : kulit hangat, pucat.

    adanya bintik-bintik kemerahan pda kulit yang berisi cairan jernih.

    b. Metabolik : peningkatan suhu tubuh.
    c.   Psikologis : menarik diri.
    d. GI : anoreksia.
    e. Penyuluhan / pembelajaran : tentang perawatan luka varicela.


2. Diagnosa Keperawatan
a.Resiko      tinggi     terjadi   infeksi   berhubungan      dengan     kerusakan   jaringan     kulit.
b.Gangguan         integritas      kulit      berhubungan       dengan      erupsi    pada        kulit.
c.Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dnegan kurangnya intake
makanan.
d. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan luka pada kulit.
e. Kurang pengetahuan tentang kondisi dan kebutuhan pengobatan.


3. Intervensi
    1) Diagnosa 1
         a. Tujuan : mencapai penyembuhan luka tepat waktu dan tidak demam.
         b.   Intervensi
              - Tekankan pentingnya teknik cuci tangan yang baik untuk semua individu yang
              datang kontak dnegan pasien.
              Rasional     :    mencegah     kontaminasi    silang,    menurunkan    resiko     infeksi.
              - Gunakan skort, sarung tangan, masker dan teknik aseptic, selama perawatan kulit.
              Rasional : mencegah masuknya organisme infeksius.


10 | A s u h a n K e p e r a w a t a n V a r i c e l l a / K e l . 6
            - Awasi atau batasi pengunjung bila perlu.
            Rasional : mencegah kontaminasi silang dari pengunjung.
            - Cukur atau ikat rambut di sekitar daerah yang terdapat erupsi.
            Rasional : rambut merupakan media yang baik untuk pertumbuhan bakteri.
            - Bersihkan jaringan nekrotik /             yang lepas (termasuk pecahnya lepuh)
            Rasional : meningkatkan penyembuhan.
            - Awasi tanda vital
            Rasional : Indikator terjadinya infeksi.
    2) Diagnosa 2
        a. Tujuan : mencapai penyembuhan tepat waktu dan adanya regenerasi jaringan.
        b. Intervensi
            - Pertahankan jaringan nekrotik dan kondisi sekitar luka.
            Rasional : mengetahui keadaan integritas kulit.
            - Berikan perawatan kulit
            Rasional : menghindari gangguan integritas kulit.
    3) Diagnosa 3
        a. Tujuan : terpenuhinya kebutuhan nitrisi sesuai dengan kebutuhan.
        b. Intervensi
            - Berikan makanan sedikit tapi sering.

        Rasional : membantu mencegah distensi gaster/ ketidaknyamanan dan meningkatkan
        pemasukan.
        - Pastikan makanan yang disukai/tidak disukai. Dorong orang terdekat untuk membawa
        makanan dari rumah yang tepat.

        Rasional : meningkatkan partisipasi dalam perawatan dan dapat memperbaiki pemasukan.


        4) Diagnosa 4

        a. Tujuan : pasien dapat menerima keadaan tubuhnya.
        b. Intervensi
            - Bantu memaksimalkan kemampuan yang dimiliki pasien saat ini.
            Rasional : memanfaatkan kemampuan dapat menutupi kekurangan.

11 | A s u h a n K e p e r a w a t a n V a r i c e l l a / K e l . 6
            - Eksplorasi aktivitas baru yang dapat dilakukan.
            Rasional : memfasilitasi dengan memanfaatkan keletihan.
            5) Diagnosa 5
            a.   Tujuan     :   adanya     pemahaman       kondisi     dan   kebutuhan     pengobatan.
            b. Intervensi
            - Diskusikan perawatan erupsi pada kulit.
         Rasional : meningkatkan kemampuan perawatan diri dan menngkatkan kemandirian.


4. Implementasi
1) Diagnosa 1
a. Menekankan pentingnya teknik cuci tangan yang baik untuk semua individu yang datang
    kontak dengan pasien.
b. Menggunakan skort,masker, sarung tangan dan teknik aseptik selama perawatan luka.
c. Mengawasi atau membatasi pengunjung bila perlu.
d. Mencukur atau mengikat rambut disekitar daerah yang terdapat erupsi.
e. Membersihkan jaringan mefrotik.yang lepas (termasuk pecahnya lepuh).
f. Mengawasi tanda vital.


    2) Diagnosa 2
a. Memperhatikan jaringan nekrotik dan kondisi sekitar luka.
b. Memberikan perawatan kulit.

    3). Diagnosa 3

    a. Memberikan makanan sedikit tapi sering.

    b. Memastikan makanan yang disukai/tidak disukai , dorong orang terdekat untuk membawa
    makanan dari rumah yang tepat.

    4) Diagnosa 4

    a.    Membantu        memaksimalkan       kemampuan        yang    dimiliki   pasien    saat   ini.
    b. Mengeksplorasi aktivitas baru yang dapat dilakukan.


12 | A s u h a n K e p e r a w a t a n V a r i c e l l a / K e l . 6
    5) Diagnosa 5

    a. Mendiskusikan perawatan erupsi pada kulit.

    5. Evaluasi

    Evaluasi      disesuaikan     dengan     tujuan    yang     ingin   dicapai   dalam   intervensi.




13 | A s u h a n K e p e r a w a t a n V a r i c e l l a / K e l . 6
                                        DAFTAR PUSTAKA




Doengoes, Marilynn. E,.(1999). Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman untuk Perencanaan dan
Pendokumentasian Perawatan Pasien.EGC : Jakarta.


Tarwoto dan Wartonah. (2000). Kebutuhan Dasar Manusia dan Proses Keperawatan. Salemba
Medika : Jakarta.
Varisela . http://www.aventispasteur.co.id/news.asp?id7
Varisela Klinikku. http://www.klinikku.com/pustaka/medis/integ/varisela-klinis.html
Cacar Air. http://www.medicastore.com/med/detail_pyk_php?id=&iddtl

www.mahasiswa2011.blogspot.com




14 | A s u h a n K e p e r a w a t a n V a r i c e l l a / K e l . 6

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:4581
posted:4/19/2011
language:Indonesian
pages:14