HUBUNGAN KEDALAMAN MUKA AIR TANAH DENGAN BEBERAPA SIFAT FISIK GAMBUT PADA PERKEBUNAN KELAPA SAWIT

Document Sample
HUBUNGAN KEDALAMAN MUKA AIR TANAH  DENGAN BEBERAPA SIFAT FISIK  GAMBUT  PADA PERKEBUNAN KELAPA SAWIT Powered By Docstoc
					          RENCANA PENELITIAN

  HUBUNGAN KEDALAMAN MUKA AIR TANAH
DENGAN BEBERAPA SIFAT FISIK GAMBUT PADA
       PERKEBUNAN KELAPA SAWIT



                  OLEH:
             PROTASIUS ROBET
               NIM. C41104033




         JURUSAN ILMU TANAH
         FAKULTAS PERTANIAN
       UNIVERSITAS TANJUNGPURA
              PONTIANAK
                 2010
                          RENCANA PENELITIAN


  HUBUNGAN KEDALAMAN MUKA AIR TANAH DENGAN
  BEBERAPA SIFAT FISIK GAMBUT PADA PERKEBUNAN
                  KELAPA SAWIT




                Tanggung Jawab Yuridis Material Pada :



                         PROTASIUS ROBET
                           NIM. C41104033


                               Di Setujui Oleh



  Pembibimbing Pertama                             Pembimbing Kedua




Ir Gusti Z Anshari, MES, PhD                     Ir. Bambang Widiarso,MP
 NIP. 196207201988101001                         NIP. 196404121991031004




                          Di Syahkan Oleh
                      Ketua Jurusan Ilmu Tanah




                           Ir. Saifudin, M.Si
                       NIP. 196309151990021001
                              KATA PENGANTAR



           Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena

berkat rahmat dan kasih-Nya penulis dapat menyelesaikan Rencana Penelitian

yang berjudul ”Hubungan Kedalaman Muka Air Tanah Dengan Beberapa Sifat

Fisik Gambut Pada Perkebunan Kelapa Sawit”.

           Penyelesaian Rencana Penelitian ini tidak terlepas dari bimbingan,

arahan, dorongan dan bantuan yang diberikan oleh Bapak Ir Gusti Z Anshari,

MES, PhD dan Ir. Bambang Widiarso,MP             selaku Pembimbing Pertama dan

Pembimbing Kedua sehingga dalam penulisan ini dapat berjalan dengan lancar.

Ucapan terima kasih dan penghargaan juga penulis sampaikan kepada :

1.. Bapak Dr.Ir.H. Sutarman G, M.Sc selaku Dekan Fakultas Pertanian Universitas

    Tanjungpura Pontianak.

2.. Bapak Ir. Saifudin, M.Si selaku Ketua Jurusan Ilmu Tanah Fakultas Pertanian

    Universitas Tanjungpura Pontianak.

3.. Bapak Ir. Bambang Widiarso,MP         Selaku Pembimbing Akademik Dan Juga

    Merangkap Sebagai Pembimbing Skripsi Kedua.

4.. Reken-Rekan Fakultas Pertanian UNTAN Kususnya Jurusan Ilmu Tanah Angkatan

    ’04.

5.. Semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian Rencana Penelitian ini.




                                            i
                                                                                   ii




6.. Keluarga Tercinta:

         Papa : B. Rajali

            Mama: Martini. S

            Kakak: Yuliana Albina

            Adik: Regorius Yayat, Wihelmus Pidelis, Teo Remondo Paskalis.

            Istri: Viktoria Yunita, A.Mk.

        Saya tidak tahu harus menulis apa, seumur hiduppun rasanya tidak akan

sanggup untuk membalas apa yang telah kalian berikan, satu janji saya bila kelak

menjadi orang sukses kalianlah orang paling pertama yang turut merasakan buah

dari kesuksesan saya.

         Penulis sudah berusaha semaksimal mungkin dalam menyelesaikan

Rencana Penelitian ini. Jika masih banyak kekurangan-kekurangannya, itu

merupakan diluar kemampuan penulis. Dengan kerendahan hati penulis

mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan dan

sebagai perbaikan di penulisan selanjutnya.

         Akhir kata penulis ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah

banyak membantu dalam penulisan rencana penelitian ini dan semoga tulisan ini

dapat bermanfaat bagi kita semua. Amin.




                                                      Pontianak, Nopember 2010

                                                             Penulis




                                                         Protasius Robet
                                                         NIM. C41104033
                                   DAFTAR ISI
                                                                                                 Halaman
KATA PENGANTAR                ............................................................          i

DAFTAR ISI         ........................................................................         iii

DAFTAR TABEL       ........................................................................         vi

DAFTAR GAMBAR                 ............................................................          vii

BAB I PENDAHULUAN

     A. Latar Belakang        ..............................................................        1

     B. Masalah Penelitian                ..................................................        3

     C. Tujuan Penelitian                 ..................................................        4

     D. Manfaat Penelitian                ..................................................        4

     E. Kerangka Pemikiran                ..................................................        5

        1. Tinjauan Pustaka               ..................................................        5

             1.1 Pengertian Tanah Gambut                           ..........................       5

             1.2 Proses Terjadinya Tanah Gambut                                ...............      7

             1.3 Sifat Fisik Tanah Gambut                          ..........................       8

             1.4 Kendala Fisik Tanah Gambut                        ..........................       10

                1.4.1    Penurunan Permukaan Tanah                             ..............       11

                1.4.2    Kekeringan Tanah                          ..........................       13

                1.4.3    Bentuk Permukaan (relief) Tanah Yang

                         Tidak Rata                    .....................................        14

                1.4.4    Kapasitas Penyangga                       .........................        14

                1.4.5    Pengaruh Muka Air Tanah Terhadap

                         Perubahan Sifat Fisik Tanah

                         Gambut           ………………………………                                              15



                                                   iii
                                                                                                       iv




         2. Kerangka Konsep ....................................................                  18

     F. Hipotesis        ....................................................................     20



BAB II KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN

     A. Letak dan Luas Wilayah                  ..............................................    21

     B. Keadaan Penduduk dan Mata Pencaharian                               ..................    21

     C. Iklim dan Topografi             ......................................................    22

     D. Jenis Tanah           ................................................................    22

BAB III METODE PENELITIAN

     A. Tempat dan Waktu Penelitian                       ……………………….                              23

     B. Bahan dan Alat Penelitian                         ……………………….                              23

     C. Metode Penelitian                    ……………………………….                                        24

     D. Pelaksanaan Penelitian               ……………………………….                                        25

       1. Persiapan          .................................................................    25

       2. Survey Pendahuluan                   ...............................................    25

       3. Survey Lapangan                 ....................................................    26

          3.1.Penentuan Petak Penelitian dan Titik

          Pengambilan Contoh Tanah                     ………………………...                               26

          3.2. Pengambilan Contoh Tanah …………………….                                                 26

       4. Pengangkutan dan Penyimpanan Contoh Tanah ……...                                         26

       5. Analisis Laboratorium .................................................                 27

     E. Variabel Pengamatan                  ..................................................   27

       1. Ketebalan Gambut (m)                  ...............................................   27

       2. Kadar Air (%)           .............................................................   27
                                                                                                  v




      3. Bobot Isi (gr/cm3)        ......................................................    28

      4. Porositas Tanah Gambut (%)                  ....................................    28

      5. Kedalaman Muka air Tanah (cm)                     ..............................    29

      6. Bentuk Permukaan (Relief) Gambut                      ..........................    30

      7. Sudut Kontak        ……………………………………...                                               30

    F. Analisis Data   ...................................................................   30

DAFTAR PUSTAKA          ..................................................................   33

LAMPIRAN
                                            DAFTAR TABEL

No                                        Judul Tabel                                                     Halaman

1. Penyebaran Gambut Diprovinsi Kalimantan Barat .......................                                    2

2. Klasifikasi Tanah Gambut Pada Tingkat Kategori Sub-Ordo Sampai

       Sub-Group        ...............................................................................     6

3. Kedalamn Muka Air Tanah dan Relief, Antibar 2010 ...................                                    12

4. Alat-Alat Yang diperlukan ............................................................                  24

5. Pedoman Untuk Memberikan Interpretasi Koeftsien Korelasi.........                                       32




                                                             vi
                                 DAFTAR GAMBAR

No                                 Judul Gambar                              Halaman

1. Korelasi antara kedalaman muka air tanah dan relief .......................   13




                                             vii
                                    BAB I
                              PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

       Beberapa ciri yang paling umum pada sumber daya alam tersebar secara

tidak merata dan keberadaannya melekat pada suatu lokasi. Sebagai salah satu

sumber daya alam yang utama adalah tanah tersebar secara tidak merata dalam

kuantitas dan kualitas. Lokasi tanah dalam konteks lahan melekat dalam suatu

urutan geografis tertentu. Mengingat keberadaanya yang terbatas, pemanfaatan

tanah sebagai matriks dasar wilayah harus dimanfaatkan secara efisien agar dapat

berguna sebesar-besarnya bagi pembangunan pertanian dan kesejahteraan

masyarakat. Potensi sumberdaya lahan gambut di daerah Kal-Bar mempunyai luas

1,729,980 ha dan sekitar 40.2% yang layak untuk pertanian (Sumber Badan

Litbang SDLP,2008). dari luas wilayah, tersebar di beberapa daerah pedalaman

dan pesisir dengan berbagai tipe pembentukan baik berupa rawa gambut maupun

dataran gambut.

       Di Kota Pontianak terdapat gambut seluas 5600 hektar dan sekitar 3200

hektar sudah diusahakan untuk lahan pertanian (Dinas Pertanian Tanaman Pangan

Pontianak, 2002 dalam Suryadi, 2004:2).

       Tanah gambut yang mengalami penurunan muka air tanah atau

kekurangan air yang berlebihan mengakibatkan koloid gambut menjadi rusak.

Terjadi gejala kering tidak balik (irreversible drying) dan gambut berubah sifat

menjadi arang sehingga tidak mampu lagi berubah menjadi hara dan menahan air.

Gambut ini akan kehilangan air yang tersedia setelah 4-5 minggu pengeringan dan

ini mengakibatkan gambut mudah terbakar.




                                           1
                                                                                        2



         Sifat kering tidak balik juga dapat mengakibatkan menurunnya bentuk

permukaan (relief) tanah gambut, selain mengakibatkan bentuk permukaan

gambut yang menurun dan mudah terbakar, sifat kering juga mempengaruhi erosi

pada tanah gambut dan erat hubungannya dengan bobot isi (Andrease, 1998 dalam

Azri : 1999). Pada bobot isi yang rendah sifat kering tidak balik dapat terjadi dan

pada bobot isi yang tinggi sifat gambut relatif dapat menyerap air kembali, karena

jika bobot isi rendah kandungan airnya tinggi dan jika bobot isinya tinggi

kandungan airnya rendah, dan yang dimaksud dengan sifat kering tidak balik

adalah; jika tanah gambut kering dan tidak bias menyerap air kembali, itu sangat

berkaitan erat dengan draenase dan Untuk mengurangi sifat kering tidak balik,

maka perlu dilakukan pengelolaan air pada permukaan tanah gambut (Azri :

1999).

        Tabel 1. Penyebaran Gambut di Provinsi Kalimantan Barat
    Kabupaten Luas           Gambut(Ha)        Daerah Aliran
                                               Sungai(DAS)
Sambas                                  70,298        Sambas
Pontianak                              383,374        Mempawah,SungaiAmbawang,
                                                      landak, kapuas kecil dan Kapuas
                                                      Besar
Ketapang                               627,500        Pawan
Sanggau                                 89,904        Kapuas
Sintang                                78,937         Kapuas
Kapuas                                 322,500        Kapuas Hulu
Bengkayang                              34,714        Sambas
Landak                                 114,214        Landak
Sekadau                                 6,767         Kapuas
Pontianak                                1,100        Kapuas

Singkawang                               345          Selakau


Total                                  1,729,653
Sumber: BPS Kalbar, 2007 dalam Anshari 2009

         Salah satu upaya reklamasi yang dilakukan untuk mengatasi kendala fisik

yaitu dengan jalan pengaturan tata air. Dengan pengaturan tata air yang baik maka
                                                                                 3




kecepatan penurunan permukaan gambut dapat diatur dan kematangan gambut

dapat dipercepat.

       Secara umum bahwa kedalaman muka air tanah dan penurunan bentuk

permukaan (relief) akan ditentukan oleh kondisi air tanah dan bentuk permukaan

itu sendiri . Pada sistem tata air bisa mengatur pengaruh antara hubungan muka

air terhadap bentuk permukaan (relief), muka air tanah pada level kedalaman

optimal akan mencapai kondisi pertumbuhan yang baik (Myllys, 1992 dalam

Junaidi dan Suryadi, 1999:7).



B. Masalah Penelitian

       Berdasarkan luasan penyebaran gambut yang cukup luas dan dapat

dijadikan sebagai alternatif pengembangan pertanian di samping lahan marginal

lainnya dan perlu memperhatikan tata air yang baik.

       Namun pemanfaatan lahan gambut untuk budidaya pertanian mengalami

salah satu kendala yang berhubungan dengan sifat fisik tanah yaitu penurunan

permukaan (relief) lahan gambut yang disebabkan kekeringan dan penurunan

muka air tanah yang akan mengakibatkan sifat kering tidak balik dan terjadi

pengerutan dan juga penyusutan gambut. Menurunnya Muka air tanah dan bentuk

permukaan (relief) tanah gambut di akibatkan pembuatan drainase yang terlalu

dalam (drainase berlebihan), menyebabkan kekeringan tanah gambut, dapat

mengakibatkan terjadinya pengerutan massa tanah gambut secara sepihak

(irreversible shrinkage). Dimana pengerutan yang tidak dapat balik juga dapat

menurunkan sifat menahan air. Penyusutan (subsidence) yang besar terjadi pada

tanah gambut setelah drainase dan pembuangan vegetasi. Kecepatan penurunan
                                                                                  4




permukaan tanah ini tergantung kepada pengaturan kedalaman permukaan air di

dalam saluran pembuangan.

       Berdasarkan uraian diatas hubungan muka air tanah dan permukaan

(relief) dengan sifat fisik tanah gambut perlu diperhatikan dalam pengembangan

gambut sebagai lahan budidaya sehingga dapat meningkatkan produktivitas

gambut dan cara pengelolaan yang tepat kususnya untuk budidaya tanaman

perkebunan kelapa sawit.



C. Tujuan Penelitian

       Untuk mempelajari hubungan Kedalaman muka air tanah dan permukaan

tanah dengan beberapa sifat fisik gambut dibawah perkebunan kelapa sawit.



D. Manfaat Penelitian

       Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi ilmiah

penting bagi perkembangan ilmu pengetahuan mengenai Hubungan Kedalaman

muka air tanah dengan beberapa sifat fisik gambut pada perkebunan kelapa sawit.
                                                                                    5




E. Kerangka Pemikiran

1. Tinjauan pustaka

1.1 Pengertian Tanah Gambut

       Tanah gambut adalah tanah yang terbentuk dari sisa-sisa vegetasi hutan

rawa air payau (mangrove) atau hutan rawa air tawar. Faktor penting yang

berpengaruh terhadap pembentukan gambut adalah iklim, topografi dan sifat

kimia dari air tanah. Oleh sebab itu, sebagian besar gambut yang ada terbentuk di

daerah subtropiks yakni jika: (1) Tanaman dapat tumbuh dan mengalami

akumulasi pada kondisi tergenang, penyediaan hara untuk tanaman dimungkinkan

karena air tergenang masih kaya unsur mineral, maka akan terbentuk gambut

bansin atau fen peat; (2) Penyebaran curah hujan tahunan melebihi evaporasi

tanah maka akan terbentuk kubah gambut. Gambut di kawasan tropik bahan

penyusunnya berasal dari tumbuhan berkayu yang mempunyai waktu regenerasi

sangat panjang. (Noor, 2001).

       Menurut (Agus, F 2008) tingkat pelapukan bahan organik, tanah gambut

digolongkan atas:

1.     Fibrik

       Bahan organik yang baru mengalami proses pelapukan, dengan kandungan

serat berukuran > 0,1 mm sebanyak > 67 % bobot isi sangat rendah kurang dari

0,1 gr/cm3, kadar air tinggi dan berwarna coklat.

2.     Hemik

       Bila bahan organik mengalami pelapukan pada tingkat menengah, masih

banyak mangandung serat antara 33 - 67 %, bobot isi antara 0,08 - 0,18 gr/cm3,

kadar air tinggi dan berwarna lebih kelam.
                                                                                      6




3.     Saprik

       Bila bahan organik yang mengalami pelapukan pada tingkat lanjut dengan

kandungan serat < 33 %, bobot isi 0,2 gr/cm3 atau lebih dan kadar air tidak terlalu

tinggi, dengan warna coklat kelam sampai dengan hitam.

       Selain ketentuan diatas, juga berlaku juga kriteria baru yaitu menurut

sistem klasifikasi tanah yang dikembangkan oleh Amerika serikat (Soil Survey

Staff, 2010), tanah gambut dibedakan beberapa kelompok utama yang disebut

sub-ordo dan group yang kemudian dibagi lagi kedalam kelompok lebih kecil

yang disebut jenis (sub-group), macam (family), danseri. Tanah gambut dibagi

kedalam Lima sub-ordo: folist, wassist, fibrist, saprist dan hemist. untuk lebih

jelas dapat dilihat pada (tabel 2).

         Tabel 2. Klasifikasi Tanah Gambut pada Tingkat Kategori
                         Sub-ordo sampai Sub-group
      No Sub-Ordo Great Group                  Sub-Group
      1.    Folist      Cryofolist    Lithic Cryofolist, Typic Cryofolist
                          Torripofolist   Lithic Torryfolist, Typic Torrypofolist
                          Udifolist       Lithic Udifolist, Typic Udifolist
                          Ustifolist      Lithic Ustifolist, Typic Ustifolist

      2.     Wassist      Frasiwassist    Fibric Frasiwassist
                                          Sapric Frawassisist
                                          Typic Frawassist
                          Sulfiwassist    Fibric Sulfiwassist
                                          Safrist Sulfiwassist
                                          Typic Sulfiwassist
                          Haflowassist    Sulfic Haflowassist
                                          Fibric Haflowassist
                                          Safric Haflowassist
                                          Typic Haflowassist
      3.      Fibrist     Cryofibrist     Hydric Cryofibrist
                                          Lithic Cryofibrist
                                          Terric Cryofibrist
                                          Fluaquentic Cryofibrist
                                          Typic Cryofibrist
                          Spagnofibrist   Hydric Sphagnofibrist
                                          Lithic Sphagnofibrist
                                          Limnic Sphagnofibrist
                                          Terric Sphagnofibrist
                                          Fluaquentic Sphagnofibrist
                                          Hemic Sphagnofibrist
                                          Typic Sphagnofibrist
                                                                                               7



                            Haplofibrist       Hidric Haplofibrist
                                               Lithic Haplofibrist
                                               Limnic Haplofibrist
                                               Terric Haplofibrist
                                               Fluvaquentic Haplofibrist
                                               Hemic Haplofibrist
                                               Typic Haplofibrist
       4.      Saprist       Sulfosaprist      Typic Sulfosaprist
                             Sulfisaprist      Terric Sulfosaprist
                                               Typic Sulfosaprist
                             Cryosafrist       Lithic Cryosafrist
                                               Limnic Cryosafrist
                                               Terric Cryosafrist
                                               Fluvaquentic Cryosafrist
                                               Typic Cryosafrist
                             Haplosaprist      Lihtic Haplosaprist
                                               Limnic Haplosaprist
                                               Halic Terric Haplosaprist
                                               Halic Haplosaprist
                                               Terric Haplosaprist
                                               Fluvaquentic Haplosaprist
       5.      Hemist        Sulfohemist       Sulfosaprist
                                               Sulpisaprist
                                               Cryosaprist
                                               Haplosaprist
                             Sulfihemist       Terric Sulfihemist
                                               Typic Sulfihemist
                             Luvihemist        Typic Luvihemist
                             Cryohemist        Hydric Cryohemist
                                               Lithic Cryohemist
                                               Terric Cryohemist
                                               Fluaquentic Cryohemist
                             Haplohemist       Hydric Haplohemist
                                               Lithic Haplohemist
                                               Limnic Haplohemist
                                               Terric Haplohemist
                                               Fluvaquentic Haplohemist
                                               Fibric Haplohemist
                                               Saprist Haplohemist
                                               Typic Haplohemist
       Sember: Keys to Soil Taxonomy Eleventh Edition, 2010. chapter 10: 155 Histosols.

1.2 Proses Terjadinya Tanah Gambut

        Gambut terbentuk dari timbunan sisa-sisa tanaman yang telah mati, baik

yang sudah lapuk maupun belum. Timbunan terus bertambah karena proses

dekomposisi terhambat oleh kondisi anaerob dan/atau kondisi lingkungan lainnya

yang    menyebabkan         rendahnya      tingkat    perkembangan        biota    pengurai.

Pembentukan tanah gambut merupakan proses geogenik yaitu pembentukan tanah

yang disebabkan oleh proses deposisi dan tranportasi, berbeda dengan proses
                                                                                     8




pembentukan tanah mineral yang pada umumnya merupakan proses pedogenik

(Hardjowigeno, 1986 dalam Agus 2008).

       Proses pembentukan gambut dimulai dari adanya danau dangkal yang

secara perlahan ditumbuhi oleh tanaman air dan vegetasi lahan basah. Tanaman

yang mati dan melapuk secara bertahap membentuk lapisan yang kemudian

menjadi lapisan transisi antara lapisan gambut dengan substratum (lapisan di

bawahnya) berupa tanah mineral. Tanaman berikutnya tumbuh pada bagian yang

lebih tengah dari danau dangkal ini dan secara membentuk lapisan-lapisan gambut

sehingga danau tersebut menjadi penuh (Agus 2008).

1.3 Sifat Fisik Tanah Gambut

1.   Warna

     Salah satu ciri tanah gambut secara visual dapat dilihat dari warnanya. tanah

gambut berwarna coklat tua sampai kehitaman. Meskipun bahan asalnya

berwarna abu-abu, coklat atau kemerah-merahan. Akibat proses dekomposisi

maka muncul senyawa-senyawa humik yang berwarna gelap. Perubahan yang

dialami bahan organik kelihatan sama dengan yang dialami bahan organik tanah

mineral   meskipun    kecepatan    dekomposisi    gambut    berlangsung    lambat

(www.mitrainsani.or.id 2006).

2.    Bobot Isi

      Bobot isi tanah gambut lebih rendah dibanding dengan tanah mineral, yaitu

0,0 – 0,1 gr/cm3 merupakan nilai umum bagi tanah gambut yang telah mengalami

dekomposisi lanjut. Bobot isi berkaitan erat dengan jumlah ruang pori, ukuran

pori, dan permeabilitas yang kesemuanya ditentukan oleh tingkat dekomposisi

bahan organik.
                                                                                   9




3. Kapasitas Menahan Air

      Tanah gambut mempunyai kapasitas menahan air yang tinggi hingga

sangat tinggi. Kapasitas ini ditunjukkan dengan kemampuan menahan air yang

dimiliki tanah gambut berkisar 2 – 4 kali bobot keringnya (Setiadi, 1999). Sifat

menahan air yang tinggi ini ditunjukkan dengan tingginya kadar air (water

content) dari tanah gambut. Pada tanah gambut penyusutan yang terjadi

bervariasi berkisar antara < 1 - 8cm pertahun, suatu angka yang tinggi untuk

suatu perubahan volume sebagai pelarutan dan kehilangan air (Setiadi, 1999).

Adanya kebakaran lahan gambut dapat meningkatkan suhu tanah karena nyala

api, terutama pada kebakaran yang tidak terkendali mengakibatkan gambut

menjadi kering tidak balik (irreversible drying) karena penurunan muka air tanah

dan juga komposisi penyusun gambut yang telah terbakar menjadi abu,

mengakibatkan kapasitas gambut dalam menahan air menurun.

4. Porositas Tanah

      Penurunan porositas tanah gambut karena kebakaran mengakibatkan

berkurangnya jumlah pori gambut dan terjadi pengerutan ruang pori, hal ini

diasumsikan hilangnya serasah penyusun gambut dan hilangnya kadar air akibat

dari proses penguapan. Porositas total tanah gambut nilainya berbanding terbalik

dengan nilai bobot isi (bila bobot isi tinggi maka porositas rendah).

5. Kedalaman muka air tanah

      Air tanah merupakan air permukaan dari tanah bergambut dengan ciri

mencolok, mengandung zat organic tinggi, memiliki pH 2-5 dan mempunyai rasa

asam (Kusnaidi, 2002). Lahan gambut memiliki ciri khas merupakan kawasan

datar dan selalu tergenang, dan sering mengalami kebanjiran. Kondisi ini
                                                                                    10




disebabkan tanah gambut memiliki kemampuan yang cukup tinggi untuk

menyerap dan menyimpan air. Kapasitas menahan air yang tinggi tersebut

diakibatkan oleh sifat koloidal dari partikel. Walaupun demikian daya menahan

air ini sangat tergantung pada derajat dekomposisi tanah.


1.4. Kendala Fisik Tanah Gambut

       Beberapa di antara kendala fisik tanah gambut adalah penurunan

permukaan tanah yang besar setelah didrainasekan, daya hantar hidrolik horisontal

yang sangat besar dan vertikal sangat kecil : daya dukung (bearing capacity) yang

rendah sehingga tanaman pohon dan bangunan dapat roboh atau miring; dan sifat

mengerut tak batik yang menurunkan daya retensi air. Kendala tersebut dapat

diperkecil bila gambut tetap dipertahankan tergenang. (Sagiman 2007: 08)

       Gambut yang terlalu tebal umumnya sangat miskin akan unsur hara,

kejenuhan basa rendah, dan reaksi masam sehingga dekomposisi bahan organik

oleh mikroorganisme terhambat. Porositas tanah yang tinggi dan kandungan tanah

mineral yang rendah.

       Tanah gambut juga mempunyai sifat-sifat fisik yang menonjol

dibandingkan dengan tanah mineral, yaitu : I). Bobot isi yang lebih rendah

dibandingkan dengan tanah mineral; 2). Kecilnya berat tanah gambut kalau

kering; 3). Besarnya kemampuan menahan air, salah satu ciri koloida terutama

yang dikembangkan oleh bahan organik dalam keadaan koloidal. Jika tanah

mineral kering mengabsorbsi dan mengikat air 1/5 - 2/5 beratnya sedangkan tanah

gambut akan mengikat air 2 atau mungkin 4 kali beratnya; dan 4). Struktumya

dalam keadaan fisik hampir tidak berubah. Sementara lapukan bahan organik,

dalam keadaan koloidal dan memiliki daya absorbtif yang tinggi, kohesi dan
                                                                                   11




plastisitasnya agak rendah. Selama periode kering, ringan dan lepas-lepasnya

gambut sehingga mudah dihembuskan angin dan juga sangat mudah terbakar

secara meluas dan sangat sukar dipadamkan.

       Muka air tanah pada umumnya tinggi yaitu 10 – 30 cm dari permukaan

tanah. Muka air tanah sangat berfluktuasi, tergantung kepada pengembangan areal

sekelilingnya. Penurunan permukaan tanah pada awal reklamasi dapat mencapai

50 – 60 cm setahun, yang selanjutnya akan semakin kecil. Dalam keadaan

drainase jelek dapat menimbulkan kelebihan air dan keadaan anaerob, sehingga

memberikan efek yang jelek terhadap aktivitas akar dan pertumbuhan tanaman

(Lubis, 1989 : 244).

       Setelah perbaikan drainase, dalam keadaan kering tanah gambut akan

mengerut tak balik menjadi pasir semu yang mudah terbakar dan tererosi oleh air

dan angin. Kebakaran yang terjadi akan merambat dengan cepat dan sulit diatasi

karena terjadi di bawah permukaan tanah.

       Menurut Lubis, (1989 : 134) sifat fisik tanah gambut yang dapat menjadi

kendala dalam reklamasi, sebagai akibat proses pembuangan air, antara lain :

1.4.1. Penurunan permukaan tanah

       Tanah gambut mempunyai daya menahan air yang besar. Jika mengalami

kekeringan sebagian besar air akan dilepaskan dan massa bahan organik tersebut

akan menyusut dan secara berangkai akan menurunkan permukaan tanah (soil

subsidence). Penurunan permukaan tanah ini kecepatannya tergantung kepada

pengaturan kedalaman permukaan air di dalam saluran. Seperti dibahas pada

praktikum mata kuliah konservasi lahan basah dan gambut (KLBG) jurusan ilmu

tanah fakultas pertanian universitas tanjungpura, di Antibar korelasi menunjukan
                                                                                   12




bahwa kedalaman muka air tanah sangat dipengaruhi oleh tinggi relief. data hasil

lapangan dapat dilihat pada table 3 dibawah ini.

    Tabel 3. kedalaman muka air tanah dan Relief Antibar 2010

                         Kedalaman muka air
              No
                               tanah               Relief (cm)
          Pengamatan
                                (cm)
               1                 96                    80
               2                 17                    88
               3                 32                    62
               4                 27                    61
               5                 32                    52
               6                 17                    71
               7                 22                    74
               8                 33                    53
               9                 28                    52
               10                30                    53
               11                32                    35
               12                35                    29
               13                31                    27
               14                30                    34
               15                28                    33
               16                28                    23
               17                33                    27
               18                38                    25
               19                25                    20
               20                30                    34
               21                23                    21
               22                25                    36
               23                41                    47
               24                26                    36
               25                26                    46
               26                27                    40
               27                19                    39
               28                28                    41
               29                25                    40
               30                38                    40
               31                20                    23
               32                30                    25
               33                29                    23
               34                29                    15
               35                16                    17
               36                41                    33
               37                33                    37
               38                21                    16
               39                33                    18
               40                25                    25
               41                22                    27
                                                                                 13



               42                   31                 31
               43                   27                 41
               44                   36                 33
               45                   24                 36
               46                   13                 30
               47                   19                 27
               48                   27                 42
               49                   25                 38
               50                   13                 36
        Sumber : Hasil Pengamatan Lapangan,Praktikum KLBG Antibar 2010.

     Gambar 1. Korelasi Antara Kedalaman Muka Air Tanah Dengan Relief




      Sumber : Hasil Pengamatan Lapangan,Praktikum KLBG Antibar 2010.

1.4.2. Kekeringan Tanah

       Kekeringan tanah gambut secara ekstrim sebagai akibat pembuatan saluran

pembuangan air yang terlalu dalam, dapat mengakibatkan terjadinya pengerutan

massa tanah gambut secara sepihak (irreversible shrinkage) dan membentuk pasir

semu (pseudosand) yang dapat menghilangkan daya menahan air dan unsur ham

tanaman. Hal tersebut sangat merugikan karena bersifat seperti pasir biasa.

Kekeringan tersebut menyebabkan tanah menjadi sangat rawan terhadap

kebakaran dan bisa berlangsung dalam jangka waktu yang lama. Selain habisnya

massa bahan organik, juga penurunan permukaan tanah akan dipercepat.
                                                                                    14




1.4.3. Bentuk Permukaan (Relief) Tanah Yang Tidak Rata

          Penurunan permukaan tanah akan menyebabkan munculnya sebagian

besar sisa batang dan tunggul kayu, sehingga permukaan tanah menjadi tidak rata.

Secara sederhana relief dapat diartikan sebagai suatu konfigurasi nyata dari

permukaan bumi, yaitu perbedaan-perbedaan dalam ketinggian dan kemiringan

permukaan bumi. Relief merupkan gambaran permukaan bumi di bidang datar

yang menjabarkan ketinggian dan kemiringan suatu tempat. Relief dipresentasikan

dengan cara membuat garis yang menghubungkan titik di permukaan bumi yang

mempunyai ketinggian yang sama yang disebut garis kontur (http://earthy-

moony.blogspot.com/2009/11/representasi-relief.html) untuk lebih jelas dapat

dilihat pada tabel 3 dan gambar 1.

1.4.4. Kapasitas Penyangga

         Tanah gambut mempunyai kapasitas penyangga yang sangat kecil. Hal ini

dapat menjadi hambatan dalam berbagai kegiatan diantaranya daya tahan tanah

yang rendah tidak memungkinkan pembangunan pabrik dan bangun permanen

karena tanahnya bersifat labil. Bangunan dengan konstruksi ringan dapat dibuat

dengan terlebih dahulu pemadatan dan untuk tanaman tahunan yang bertajuk

berat,    perakaran   kurang   kuat   menjangkar   ditanah,   sehingga   terdapat

kecenderungan tumbuh miring atau rebah.

         Upaya memperkecil kendala fisik dapat dilakukan melalui pengendalian

tata air yang dapat mengatur kecepatan penurunan permukaan gambut melalui

penggalian parit drainase secara bertahap yang dapat mencegah terjadinya

kebakaran gambut.
                                                                                  15




       Menurut Triutomo, et al, (1993: 42) bahwa kriteria dalam menentukan

prospek pemanfaatan lahan gambut terutama didasarkan atas beberapa faktor

pembatas fisik dan lingkungan, yang dalam hal ini dibagi dalam tiga tipe

kedalaman gambut yaitu : a) kedalaman kurang dari 0,5 m, b) kedalaman 0,5 -

2,0 m dan c) kedalaman lebih dari 2 m.

       Tingkat kematangan gambut sangat berpengaruh terhadap sifat fisik, kimia

dan hidrologinya. Pada gambut saprik daya simpan aimya sangat tinggi, dalam

keadaan jenuh dapat menyimpan air < 450 dari berat keringnya dan mempunyai

daya dukung yang cukup baik terhadap tanaman (Triutomo, et al, 1993 : 66).



1.5. Pengaruh Muka Air Tanah Terhadap Perubahan Sifat Fisik Tanah

       Gambut

       Arsyad (2000) dalam Aisyah (2003) menyatakan bahwa drainase yaitu

merupakan suatu tindakan yang diberikan terhadap tanah untuk membuang

kelebihan air dari tanah, sedangkan tujuan utama drainase adalah membuang air

lebih di atas permukaan tanah secepat-cepatnya dan mempercepat gerakan aliran

air ke bawah di dalam profil tanah sehingga permukaan air tanah turun.

       Dalam pendrainasean tanah gambut dikaitkan pada 2 aspek penting

meliputi: 1) membuang air yang berlebihan ke arah saluran pembuangan air dan

2) mempertahankan permukaan air tanah pada ketinggian tertentu untuk

mempertahankan agar subsidensi yang terjadi dapat diadaptasi sesuai dengan yang

dikehendaki.

       Untuk dapat memanfaatkan tanah gambut seoptimal mungkin untuk

keperluan pengembangan pertanian, maka muka air tanah harus diturunkan
                                                                                  16




dengan pembuatan saluran drainase. Dimensi saluran drainase yang akan dibuat

Harus memperhatikan ketinggian muka air tanah yang akan diturunkan karena itu

harus dilakukan secara terkendali dengan memperhatikan karakteristik tanah

tersebut. Apabila penurunan muka air tanah ini dilakukan secara terkendali maka

akan memberikan beberapa keuntungan, antara lain (Suseno, 1987 dalam Junaidi

dan Suryadi, 1999 : 4) :

a. Air tetap cukup untuk keperluan tanaman. Naungan dari tajuk tanaman akan

    membatasi proses penguapan dan mineralisasi yang berlebihan dapat dicegah.

b. Air dan udara cukup sehingga menunjang aktivitas mikroorganisme dalam

    proses dekomposisi.

c. Gambut yang lembab akan mempertahankan struktur tanah yang baik.

d. Penyusutan (subsidence) gambut dapat dipertahankan dalam batas (5 cm per

    tahun).

e. Mineralisasi bahan organik akan terkendali. Mineralisasi akan menghasilkan

    unsur ham dan komponen tanah berupa koloidal humus-protein (koloid

    berukuran liat).

f. Mengurangi resiko kebakaran gambut dan membatasinya hanya sampai muka

    air tanah jika terjadi kebakaran.

g. Tanaman yang tidak tahan genangan atau tanah jenuh sempurna, dapat

    tumbuh pada lahan gambut.

h. Terjadi kenaikan bobot isi dan daya dukung tanah (bearing capasity)

    sehingga mampu memberikan tunjangan mekanik yang cukup pada tanaman.

       Sebaliknya apabila lahan gambut direklamasi (didrainase) secara tidak

terkendali yang ditunjukan dengan penurunan secara berlebihan ketinggian muka
                                                                                  17




air tanah maka akan timbul beberapa masalah antara lain (Soepraptohardjo dan

Driessen, 1976 dalam Asmahan Akmad, 1997 : 6) :

1. Terjadi penyusutan (subsidence) yang hebat disertai dengan pengurangan

    jumlah keaneka ragaman vegetasi.

2. Konduktivitas hidraulik horizontal setempat sangat cepat sedangkan vertikal

    sangat lambat.

3. Kapasitas panas tinggi dan konduktivitas termal rendah (gambut merupakan

    insolator yang baik), menyebabkan variasi temperatur tinggi di permukaan

    tanah.

4. Secara lokal sedikit dekomposisi bahan organik dan atau tingginya persentase

    bahan kayu.

5. Daya dukung yang rendah (low bearing capasity) dan kenyataan bahwa

    kebanyakan tanaman pepohonan dan tanaman yang memiliki biomassa tinggi

    di bagian permukaan tanah akan rebah.

6. Oksidasi atau dekomposisi bahan organik yang cepat.

7. Hilangnya sifat kemampuan gambut untuk meretensi air (irreversible

    shrinkage) yang menyebabkan karakteristik retensi air yang berlawanan dan

    meningkatkan kepekaan terhadap erosi.

       Menurut Schawb (1997), iklim seringkali merupakan faktor penentu pada

masalah pencegahan perpindahan tanah secara berlebihan atau mempertahankan

air yang dibutuhkan. Peningkatan pengambilan air permukaan, penambahan air

diperlukan dengan cara irigasi atau membuang air berlebih dengan cara drainase.

       Menurut Schwab (1997), efektivitas tanah sebagai sarana untuk

memindahkan air sebagian besar tergantung pada ukuran dan ketahanan aliran
                                                                                  18




dalam tanah tersebut. Pada umumnya ukuran saluran dan infiltrasi ke dalam tanah

tergantung pada ukuran partikel-partikel yang menyusun tanah, dengan agregasi

antara ukuran pori dan semakin besar kesinambungan pori yang dapat

dipertahankan, maka laju infiltrasi yang dihasilkan semakin besar.

       Pembuatan saluran drainase dan kegiatan pertanian menyebabkan

perubahan watak hidrologi pada lahan gambut di samping faktor Iingkungan

seperti curah hujan. Berdasarkan penelitian Suryadi (2004), jika terjadi curah

hujan selama 3 hari dengan intensitas > 40 mm, menyebabkan kedalaman muka

air saluran dan muka air tanah sejauh < 50 cm. Sebaliknya bila CH antara 0-36

mm selama 3 minggu menyebabkan kedalaman muka air saluran > 80 cm yang

selanjutnya mengakibatkan aliran lateral air tanah secara cepat, sehingga

kedalaman muka air saluran > 50 cm.

       Aliran permukaan yang disebabkan permukaan tanah yang ditutupi

oleh bahan yang terbakar tidak sempurna, keberadaan tumbuhan jenis

44 open fern tidak mampu mempertahankan muka air tanah dan tingginya proses

evapotranspirasi yang di duga penyebab kehilangan air yang turut mempengaruhi

fluktuasi kedalaman muka air tanah dan saluran.

       Dengan adanya pengelolaan air kelebihan air dapat dibuang secara tepat

manakala CH tinggi dan muka air dapat dipertahankan agar tercapai kondisi yang

optimum baik bagi gambut sendiri maupun untuk pertumbuhan tanaman (Lim,

1952 dalam Noor 2001)

2. Kerangka Konsep

       Gambut merupakan hasil penumpukan bahan organik yang terjadi karena

laju penambahan lebih besar dari laju perombakannya. Penumbukan bahan
                                                                                       19




organik ini berlangsung dalam jangka waktu yang lama, sehingga dapat mencapai

ketebalan tertentu.

       Dibanding dengan tanah mineral, karakteristik gambut mempunyai bobot

isi yang lebih kecil, lebih ringan dari pada keadaan kering, kemmpuan besar

menahan air (sampai 17-20 x dari berat kering. Lebih dari 2-4 kali berat gambut ),

dalam keadaan kering mudah terbakar dan saluran draenase yang semakin rapat

akan meningkatkan kematangan gambut. Kematangan gambut dapat diperbaiki

sifat retensi air, daya lepas air, daya hantar hidraulik dan daya tahan gambut serta

terjadinya penipisan gambut yang disebabkan oleh pelarutan dan kehilangan air.

Penipisan bervariasi < 1 cm hingga 8 cm per tahun. Selain itu juga penahanan

rembesan dan saluran keliling dapat memperbaiki pH air tanah serta air lapisan

gambut dapat mempercepat kehilangan hara dalam ganbut.

       Kendala sifat fisik yang lain adalah penurunan permukaan lahan gambut

yang disebabkan kekeringan dan penurunan permukaan air tanah yang akan

mengakibatkan sifat kering tidak balik dan terjadi pengerutan dan juga penyusutan

gambut, serta nilai bobot isi yang rendah dan porositas tanah yang sangat tinggi.

       Tingginya nilai porositas total ini mencerminkan besarnya kapasitas

penyimpan air dalam keadaan jenuh, tetapi porositas ini akan menurun sejalan

dengan terjadinya peningkatan penurunan kedalaman muka air tanah, maka

subsiden semakin besar, kemudian akan meningkatkan bobot isi sehingga akan

menurunkan porositas.

Kecepatan penurunan kondisi permukaaan (relief) tanah ini tergantung kepada

pengaturan kedalaman permukaan air didalam saluran pembuangan. Ketinggian

muka air tanah dapat diturunkan secara terkendali dengan cara pembuatan saluran
                                                                                        20




draenase. Untuk pengaturan ketinggian muka air tanah dengan drainase ergantung

pada tipe, ketebakan gambut dan type sub soil        serta harus memperhitungkan

jangkauan perakaran tanaman. Dengan draenase juga akan menghasilkan

perubahan pada system hidrologi, perubahan kimia dan biologi pada lapisan atas

gambut kecepatan dekomposisi juga meningkat.

       Kendala sifat fisik gambut di Desa Mega Timur, Kecamatan Kuala

Ambawang kabupaten Kubu Raya dapat menghambat pertumbuhan kelapa sawit.

Disamping itu adanya pengaruh dari faktor lingkungan pada areal pertanaman

yang menyangkut iklim dan topografi lingkungan gambut yang berbeda. untuk itu

diperlukan suatu data mengenai terhadap sifat fisik tanah gambut di Desa Mega

Timur, Kecamatan Sungai Ambawang kabupaten Kubu Raya agar didapat

pengelolaan tanah yang baik dengan memperhatikan pembuatan saluran drainase

supaya dapat memberikan manfaat yang sebesar-besarnya kepada petani.

F. Hipotesis

       Diduga terdapat hubungan antara kedalaman Muka air tanah dengan sifat

fisik tanah gambut seperti, Kadar air, Bobot isi, berat jenis partikel dan porositas,

di Desa Mega Timur Kecamatan Sungai Ambawang Kabupaten Kubu Raya.
                                    BAB II
                KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN


A. Letak dan Luas Wilayah

       Daerah penelitian terletak di Desa Mega Timur, Kecamatan Sungai

Ambawang yang mempunyai luas wilayah sebesar 40,5 Km2. Berbatasan wilayah

Sebelah Utara dengan Desa Wajok, Sebelah Selatan dengan Sungai Landak,

Sebelah Timur dengan Kecamatan Kuala Mandor B dan Sebelah Barat dengan

Siantan Hulu. Desa Mega Timur terdiri dari 6 (enam) dusun, yaitu Mega Blora,

Mega Lestari, Mega Melati, Mega Jaya, Mega Sempurna dan Mega Kencana.

Serta terbagi dalam 6 (enam) RW dan 37 ( tiga puluh tujuh ) RT.

B. Keadaan Penduduk dan Mata Pencaharian

       Jumlah penduduk Desa Mega timur berdasarkan keterangan dari BPS

(Badan Pusat statistik) 2009 Kabupaten Kubu Raya berjumlah: 9.768 jiwa, dengan

jumlah laki-laki: 5. 002 jiwa dan jumlah perempuan: 4.766 jiwa.

       Jumlah penduduk berdasarkan suku yaitu Dayak sekitar 2.700 jiwa,

Madura yang merupakan suku mayoritas sekitar 5.400 jiwa, Jawa sekitar 900

jiwa, sisanya suku Melayu, Tionghoa,. Bahasa yang dipergunakan untuk

komunikasi sehari-hari adalah Bahasa daerah masing-masing dan Bahasa

Indonesia.

       Kegiatan-kegiatan sebagai sumber kehidupan atau mata pencaharian

rumah tangga di Desa Mega Timur ini Sebagian besar petani, sebagian lagi

sebagai pedagang, pegawai, buruh dan peternak. Di Desa Mega Timur Komoditi




                                          21
                                                                                   22




utama petani adalah untuk tanaman tua seperti karet dan kopi, tanaman muda

seperti sayur-sayuran, jagung, ubi.

C. Iklim dan topografi

      Desa Mega Timur, Kecamatan Sungai Ambawang termasuk dalam Iklim

Zona agroklimat A, yang menurut klasifikasi Oldman yaitu daerah yang

mempunyai bulan basah > 9 bulan dan bulan kering < 2 bulan.

      Secara geografis, lokasi penelitian terletak di antara 0o10’05” – 0o18’19”

LS dan 109o22’02” – 109o26’49” BT, yang pada umumnya dilintasi oleh garis

khatulistiwa yang beriklim tropis dengan suhu terendah 20oC dan suhu tertinggi

adalah 34oC yang dipengaruhi oleh dua musim yaitu musim kemarau dan musim

penghujan dengan curah hujan rata-rata 3,789 mm/th.

      Topografi pada lokasi penelitian datar dengan ketinggian kurang lebih 5

meter di atas permukaan laut. Tipe lahan terhadap luapan air pada lokasi

penelitian dapat dikategorikan ke dalam tipe luapan C yaitu Lahan yang tidak

terluapi air pasang, jeluk muka air tanahnya < 50 cm dari permukaan tanah.

(Hatta, 2009)

D. Jenis Tanah

         Sebagian besar tanah Di Desa Mega Timur ini adalah tanah gambut, dan

sebagian kecil tanah alluvial. Kondisi lahan pada daerah penelitian digolongkan

kedalaman gambut ombrogen dengan ketebalan gambut          0,5-12 meter. lokasi

penelitian terletak di perkebunan kelapa sawit PT Bumi Pratama Khatulistiwa

(BPK).
                                    BAB III
                          METODE PENELITIAN




A. Tempat dan Waktu Penelitian

       Penelitian ini dilaksanakan pada areal gambut yang sudah ditanami kelapa

sawit yang berumur di atas 10 tahun berlokasi di perkebunan kelapa sawit PT

Bumi Pratama Khatulistiwa (BPK) yang terletak di Desa Mega Timur Kecamatan

Sungai Ambawang Kabupaten Kubu Raya, dan kemudian dilanjutkan dengan

analisis sifat fisik tanah di laboratorium Fisika dan Konservasi Tanah Fakultas

Pertanian Universitas Tanjungpura Pontianak.

B. Bahan dan Alat Penelitian

   1. Bahan

         Adapun bahan yang diperlukan adalah hanya sampel tanah, kedalaman

   muka air tanah, dan bentuk permukaan relief yang menggunakan system

   metode selang.

   2. Alat
         Alat yang diperlukan di lapangan adalah Bor (Eijkelkamp), tiang bor,

   kunci pas, GPS (garmini), pisau, cutter, parang, allumunium foil, timbangan

   digital, selang air (30 m), tisu, kantong palstik, kartu label, wadah penyimpan

   sampel, meteran gulung. Alat yang diperlukan di laboratorium adalah Oven,

   timbangan digital dan tanur. Alat pendukung seperti alat tulis dan dokumentasi

   ( Tabel 4).




                                          23
                                                                                   24




                        Tabel 4. Alat-Alat Yang Diperlukan
              Alat Yang              Alat Yang           Alat Penunjang
       Digunakan Di lapangan        Digunakan Di
                                    Laboratorium
          1. Bor (Eijkelkamp)      Oven                Alat tulis
          2. tiang bor             Timbangan           Alat dokumentasi
          3. kunci pas             Digital
          4. Gps (garmini)         Tanur
          5. pisau
          6. cutter
          7. parang
          8. allumunium foil
          9. selang air (30 m)
          10. tisu
          11. kantong palstik
          12. kartu label
          13. wadah penyimpan
              sampel
          14. meteran gulung




C. Metode Penelitian

       Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survey

lapangan, yaitu dengan pengamatan dan pengukuran dilapangan dan mengambil

sampel tanah di kebun kelapa sawit di Desa Mega Timur Kecamatan Sungai

Ambawang Kabupaten Kubu Raya dan dilanjutkan analisis data di Laboratorium

Konservasi Tanah Dan Air Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura Pontianak.

       Data yang akan diamati adalah kondisi permukaan (relief) dan hubungan

muka air tanah dengan beberapa sifat fisik gambut. untuk kondisi permukaan

(relief) dengan mengunakan system water pas (selang) sebanyak 3 (tiga) Transek

atau 3 (tiga) baris, dimana perbaris dipasang patok sebanyak 50 titik, jarak

antara titik satu ke titik dua 20 meter dan seterusnya dengan jarak per titik 20

meter sebanyak 50 titik, sedangkan untuk muka air tanah dan beberapa sifat fisik
                                                                                         25




gambut menggunakan variabel mengukur kedalaman muka air tanah dengan

memasukan tiang kedalam lubang yang telah dibor dan diukur dengan meteran,

sedangkan untuk sifat fisik mengambil sampel tanah dengan menggunakan

metode bor, yaitu melakukan pengeboran pada patok                titik - titik lokasi

pengamatan yang telah ditentukan. Lokasi titik - titik patok pengamatan

diletakkan di daerah yang sama dengan memasang patok pengamatan sebanyak 5

titik pada tiap transek ( Transek A,B dan C) pengambilan sampel dengan asumsi

jarak 200 meter untuk per titik. Titik 1 s/d titik 2 jaraknya 200 m, titik 2 s/d titik

3 jaraknya 200 m, titik 3 s/d titik 4 jaraknya 200 m, titik 4 s/d titik 5 jaraknya

200 m. jarak keseluruhan adalah 1000 m.

D. Pelaksanaan Penelitian

   1. Persiapan

         Pada tahap ini dilakukan pengumpulan data penunjang sebagai langkah

  pertama dalam pekerjaan yang telah dilengkapi dengan peta lokasi penelitian

  lapangan, GPS (global posisi system), alat tulis, alat dokumentasi, dan

  transpostasi. Setelah sampai dilokasi dilanjutkan dengan penentuan lokasi yang

  digunakan sebagai titik pengamatan yang telah ditentukan, yakni mengukur

  panjang saluran sekunder dan tersier, luas kapling, jarak antar titik pengeboran

  dan jarak antar titik relief yang akan di amati. Dapat dilihat pada lampiran 2

  (Layout Penelitian).

   2. Survey Pendahuluan

         Kegiatan survey pendahuluan meliputi penentuan lokasi penelitian yang

  digunakan sebagai lokasi pengambilan sampel, dan wawancara langsung

  dengan warga, petani dan orang perusahaan PT. Bumi Pratama Khatulistiwa
                                                                                    26




(BPK) serta pengamatan kondisi dan patok dilapangan. Dapat dilihat pada

lampiran 2 (Layout penelitian)

3. Survey Lapangan

    3.1. Penentuan Petak Penelitian dan Titik Pengambilan Contoh Tanah

           Penentuan titik pengambilan contoh tanah dilakukan dengan teknik

    sigi lapangan pada lahan gambut yang telah di buka perkebunan kelapa

    sawit dari saluran sekunder sebagai titik kontur 0, dan dilanjutkan dengan

    titik berikutnya yakni titik 1, dimana jarak antara titik tersebut adalah 200

    meter, dengan lima titik, dengan titik memanjang sempai dengan titik ke 5

    atau sampai dengan jarak 1000 meter (dari titik kontur s/d titik ke 5) dan

    akan dilanjutkan dengan pengukuran kondisi permukaan (Relief) dengan

    jarak per titik adalah 20 meter dengan sebanyak 50 titik, atau sampai 1000

    meter Dengan 3 (tiga) kali ulangan yaitu pada transek A,B dan C.

    3.2. Pengambilan Contoh Tanah

           Pada setiap titik penelitian diambil contoh tanah sebanyak masing-

    masing 1 (satu) sampel contoh tanah, yaitu contoh tanah utuh dengan

    pengeboran pada kedalaman 0 – 10 cm dan contoh tanah itu dimasukkan

    ke dalam wadah allumunium foil yang telah diberi label dan dan

    dimasukan ke dalam box.

4. Pengangkutan dan Penyimpanan Contoh Tanah

       Pengangkutan secara hait-hati agar tidak terjadinya kerusakan terhadap

contoh tanah utuh akibat goncangan selama pengangkutan dari lapangan ke

laboratorium, maka digunakan peti khusus yang besarnya disesuaikan dengan

jumlah contoh tanah. Untuk menghindari terjadinya perubahan tanah seperti
                                                                                           27




  pengerutan dan aktivitas mikroba, maka contoh tanah akan disimpan pada

  ruangan dengan kelembaban relatif kurang lebih 90 % dan temperatur ruangan

  sekitar 18o C dengan variasi yang cukup kecil.

   5. Analisis di Laboratorium

          Setelah sampel tiba di laboratorium selanjutnya dilakukan analisis sifat fisik

  tanah yang meliputi Bobot Isi, Kadar Air kondisi lapang (grafimetri dan volumetric),

  Bobot isi, Berat Jenis Partikel, dan Porositas.


E. Variabel Pengamatan

       Variabel yang dianalisis hanya 1 (satu) subsampel saja, yaitu dari

kedalaman 0 - 10 cm.

Adapun variabel pada setiap titik pengamatan meliputi:

   1. Ketebalan Gambut (m)

          Untuk mengetahui tingkat ketebalan tanah gambut di setiap lokasi

  dilakukan pengeboran menggunakan Bor (Eijkelkamp) kedalam tanah hingga

  mencapai lapisan Mineral.

   2. Kadar Air (%)

        Adapun langkah-langkah yang ditempuh dalam menentukan kadar air

  sebagai berikut: contoh tanah dan wadah sampel ditimbang, kemudian di oven

  pada temperatur 105oC selama 24 jam. Selanjutnya dikeluarkan dari oven dan

  didinginkan dalam desikator, kemudian ditimbang berat keringnya. Setelah itu

  dikeluarkan tanah dari wadah dan dibersihkan, baru kemudian ditimbang

  wadah kosong. Selanjutnya ditetapkan kadar air.
                                                                               28




Kadar air tanah dapat dihitung dengan rumus:

            Kadar air gravimetric =                          (% berat)

    Dimana:         BKU = Berat Kering Udara (gr)
                    BKO = Berat Kering Oven (gr)


       Selanjutnya untuk menentukan kadar air volumetric (% volume) adalah

sama dengan kadar air grafimetrik di kali bobot isi tanah.


3. Bobot Isi (gr/cm3)

       Bobot isi ditentukan dengan prosedur sebagai berikut: contoh tanah

yang telah diambil di lapangan dibersihkan. Timbang contoh tanah beserta

wadah (allumunium foil), selanjutnya dilakukan pengovenan pada temperatur

105oC selama 24 jam, kemudian timbang kembali contoh tanah beserta wadah.

Selanjutnya bersihkan wadah, dan timbang wadah kosong. Selanjutnya

tetapkan bobot isi tanah.

         Bobot isi merupakan perbandingan antara berat kering oven dengan

volume tanah. Bobot isi dihitung dengan rumus:

            Bobot Isi =


4. Porositas Tanah Gambut (%)

      Metode penetapan porositas didasarkan atas perbandingan antara volume

ruang yang ditempuh udara tanah terhadap volume total tanah. Porositas tanah

dinyatakan dalam persen dan dihitung dengan perbandingan antara bobot isi

dan bobot jenis partikel.

            Porositas Tanah (%) = 1-
                                                                               29




    Dimana:     BI      = Bobot Isi (gr/cm3)
                BJP = Bobot Jenis Partikel (gr/cm3)
Adapun pengukuran bobot jenis partikel dengan prosedur sebagai berikut:

1. Contoh tanah dikeringkan, kemudian ditumbuk dan diayak

2. Catat volume (a) masing-masing vikno yang digunakan

3. Timbang piknometer beserta tutupnya (b) dalam keadaan bersih

4. Isi tanah (sampel) yang telah dikeringkan ± 3 gr (c) ke dalam piknometer,

  bersihkan luar dan leher piknometer, kemudian ditutup dan ditimbang (d)

5. Tambahkan alcohol murni sampai setengah, hingga sampel gambut ngendap

  kebawah dan mempunyai larutan yang jernih.

6. Setelah ngendap keseluruhan dan jernih, tambahkan alcohol (e) sampai

  penuh, lalu ditutup menggunakan tutupnya.

7. Timbang pikno tersebut (alcohol+sampel+pikno) (f)

8. Kerapatan jenis alcohol 0.8 (g)

9. Volume alcohol (h) didapat dari berat alcohol total yang digunakan dalam

  pikno dibagi dengan kerapatan jenis alcohol

10. Volume partikel gambut (i) diperoleh dari volume pikno dikurang dengan

  volume alcohol.


   Berat Jenis Partikel   BJP = c/i gr/cm3

      Dimana:     c = berat sampel
                   i = volume partikel gambut


5. Kedalaman Muka Air Tanah (cm)

       Pengukuran ketinggian muka air tanah dilakukan sebanyak satu kali.

Untuk pengukuran ini, pada tanah dibuat lubang hingga pada kedalaman

tertentu untuk menemukan muka air tanah. Pengukuran dimulai dari titik acuan
                                                                                        30




  (0 cm), tepat berada pada permukaan tanah, hingga muka air tanah dengan

  menggunakan meteran. Titik acuan ditandai dengan garis pada sebuah patok

  kayu yang ditancapkan di sisi lubang.


   6. Bentuk Permukaan (Relief) Gambut

         Bentuk peremukaan (relief) ditentukan dengan menggunakan system

  metode selang, dimana peralatan yang digunakan dengan selang air panjang

  sekitar 30 m, dimana jarak antara titik 1 ke titik 2 = 20 m, titk 2 ke titik 3 = 20

  m, dan seterusnya masing-masing dengan jarak 20 meter untuk per titik dengan

  sebanyak 50 titik atau dengan jumlah panjang keseluruhan 1000 m.

   7. Sudut Kontak

         Untuk menentukan sudut kontak antara bahan cairan dengan bahan

  padatan (contoh tanah tidak utuh), digunakan dengan cara penetapan kenaikan

  kapiler etilalkohol 95 % sebagai pembanding terhadap air karena etilalkohol

  mempunyai sudut kontak 0° terhadap bahan padat. Penentuan sudut kontak ini

  dapat menggunakan rumus kenaikan kapiler De Jurin :

                     h = ( 2 γ cos ά ) / ( ρ g r )

            dimana :
                    h = tinggi kenaikan kapiler
                    γ = tegangan muka cairan, g cm -2
                    ά = sudut singgung antara bahan cair dengan bahan padat
                    ρ = berat jenis cairan, g cm -3
                    g = percepatan gravitasi, cm sec -2
                    r = jejari pori-pori efektif, cm

F. Analisis Data

       Analisis data yang diperoleh dari hasil Data Lapangan dan Data

Laboratorium disajikan dalam bentuk Tabel dan Grafik yang kemudian di Analisis
                                                                                   31




dengan Analisis statistik Regresi Linier dan Korelasi sederhana, Diolah Dengan

Menggunakan Software SPSS Statistics 17.0.



       Analisis Regresi Linear sederhana adalah hubungan secara linear antara

satu variable Independen (X) dengan variabel Dependen (Y). Analisis ini

bertujuan untuk memprediksikan nilai dari variabel independen (Sifat Fisik

Tanah) dan dependen (Kedalaman Muka Air Tanah) apakah positif atau negatif

(Priyatno. D. :55)

               Rumus regresi linear sederhana adalah sebagai berikut:


                                Y’ = a + bX


       Dimana:         Y’       = Variabel dependen (Kedalaman muka air tanah)
                       X        = Variabel independen (sifat fisik)
                       a        = Konstanta (nilai Y’ apabila X = O)
                       b        = Koefisien regresi ( nilai peningkatan ataupun-
                                  penurunan)

       Analisis Korelasi sederhana (Bivariate Correlation) digunakan Untuk

mengetahui keeratan antara dua variable dan untuk mengetahui arah tujuan yang

terjadi, Disini Kita menggunakan Analisis Korelasi metode Pearson biasa disebut

(Product Moment Pearson). Nilai Korelasi (r) Berkisar antara 1 sampai -1, Nilai

semakin mendekati 1 atau -1 berarti Hubungan antara dua Variabel semakin kuat,

sebaliknya nilai mendekati 0 berarti hubungan antara dua variabel semakin lemah.

Nilai Positif Menunjukan nilai searah (X naik, Maka Y naik) dan Nilai Negatif

menunjukan Nilai terbalik (X naik, Maka Y turun).

       Menurut (Sugiyono dalam Priyatno. D. 2010) pedoman untuk memberikan

interpretasi sebagai berikut:
                                                                     32




            Tabel 5. Pedoman Untuk Memberikan
               Interpretasi Koefisien Korelasi
          0,00 – 0,199   =      sangat rendah
          0,20 – 0,399   =      rendah
          0,40 – 0,599   =      sedang
          0,60 – 0,799   =      kuat
          0,80 – 1,000   =      sangat kuat
         Sumber: (Sugiyono dalam Priyatno. D. 2010)




        Rumus Korelasi Sederhana biasa dicari dengan rumus sebagai
berikut:




       Keterangan:
       x = variabel pertama (kedalaman muka air tanah)
       y = variabel kedua (sifat fgisik tanah)
       n = Jumlah data
                            DAFTAR PUSTAKA


Anshari,G. 2009. Informasi Kedalaman Gambut, Degradasi Lahan, dan Rosot
      Karbon untuk Pengelolaan Gambut Lestari: Pontianak.

Anshari,G. et, al. 2010. Lahan Gambut: Potensi untuk Pertanian dan Aspek
     Lingkungan. Balai Penelitian Tanah Badan Penelitian dan Pengembangan
     Pertanian. Bogor.

Aisyah. 2003. Pendugaan Besarnya Subsidence dan Kenaikan Bulk Density
       Akibat Tindakan Reklamasi Tanah Gambut. Makalah Falsafah Sains
       Program Pasca Sarjana. Institut Pertanian Bogor.

Akmad, A. 1997. Dampak Reklamasi Lahan Gambut Terhadap Karakteristik
     Fisik Tanah dan Upaya Penanggulangannya. Fakultas    Pertanian
     Unversitas Tanjungpura : Pontianak.

Arief, F,B. 1997. Evaluasi Lahan Gambut Untuk Pemanfaatan Budidaya
       Pertanian Di Rasau Jaya Kalimantan Barat. Fakultas Pertanian
       Universitas Tanjungpura : Pontianak.

Azri. 1999. Sifat Kering Tidak Balik Tanah Gambut dari Jambu dan Kalimantan.
       Program Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor.

BB Litbang SDLP (Balai Penelitian Dan Pengembangan sumber dayaLahan
      Pertanian). 2008.Laporan Tahunan 2008, Konsorsium Penelitian dan
      Pengembangan Perubahan Iklim Pada Sektor Pertanian.Balai besar
      penelitian dan pengembangan sumberdaya lahan pertanian, Bogor.

BPS Kabupaten Kubu Raya.2010. Hasil Sensus Proyeksi Sementara 2009. Kantor
      Badan Pusat Statistik Kabupaten Kuburaya. Jalan Ahmad Yani II
      Pontianak.

http://earthy-moony.blogspot.com 2009 Representasi Relief:
        http://earthy-moony.blogspot.com

http://www.mitrainsani.or.id 2006 Pengenalan         Hutan   Rawa   Gambut.
        www.mitrainsani.or.id: Pekanbaru

Hatta, M. 2009. Upaya Perbaikan Pengelolaan Lahan Pada Beberapa Tipe
      Luapan Untuk Meningkatkan Produktivitas Jagung Di Lahan Rawa Pasang
      Surut. Jurusan Tanah, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada.
      Yogyakarta.

Hardjowigeno, S. 1993. Klasifikasi Tanah Dan Pedogenesis. Akademika
      Pressindo : Jakarta.




                                         33
                                                                                 34




Hastin, E, N,C. 2002. Pemanfaatan Lahan Gambut Untuk Pertanian. Makalah
       Falsafah Sains Program Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Junaidi dan Suryadi. 1999. Laporan Penelitian Studi Sifat Fisik Tanah Gambut
       dan Hasil Tanaman Kedelai Pada Berbagai Ketinggian Muka Air Tanah
       dan Berat Volume Tanah. Fakultas Pertanian Universitas Tanjung pura :
       Pontianak.

Karama, S,S, DA. 1997. Tantangan Pemamfaatan Tanah Gambut Untuk
      Pertanian. Prosiding Seminar Nasional Gambut III, Himpunan Gambut
      Indonesia (HGI) : Pontianak.

Kusnaidi, 2002. Mengolah Air Gambut dan Air Kotor Untuk Air Minum. Penerbit
      Swadaya: Jakarta

Key Soil Taxonomy. 2010. Key Soil Taxonomy Eleventh Edition, 2010. USDA
      (United Stated Departement Of Agriculture)

Lubis, A. Muin, Z. Abidin, U. Nasution, Y.T.A.L. Musa, Hasibuan Kosasih,
       Basyarudin. 1989. Prosiding Seminar Tanah Gambut Untuk Perluasan
       Pertanian. Fakultas Pertanian Unversitas Islam Sumatera Utara: Medan.

Munir, M. 1996. Tanah-Tanah Utama Indonesia (Karakteristik, Klasifikasi dan
       Pemanfautannya). Pustaka Jaya : Jakarta.

Noor, M. 2001. Pertanian Lahan gambut ( Potensi dan kendaia ). Kanisius :
      Yogyakarta.

Priyatno. D. 2010. Paham Analisis Statistik Data Dengan SPSS (Statistical
       Product and Service Solution) Mediakom. Yogyakarta.

Sagiman, S dan Pujianto. 1995. Lumpur Laut Sebagai Bahan Pembenahan
      Gambut Untuk Memproduksi Tanaman Kedelai, Dalam Jurnal Meritem
      (Majalah Ilmiah Faperta UNTAN). Pontianak.

Sagiman. S, 2007. Pemenfaatan Lahan Gambut Dengan Prospek Pertanian
      Berkelanjutan. Orasi ilmiah guru besar tetap ilmu kesuburan tanah
      Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura: Pontianak

Schwab, Glenn, Delmar D.F, William. J.E, Richard KF. 1997. Teknik Konserasi
      Tanah dan Air. Universitas Sriwijaya, Palembang.

Setiadi, B. 1999. Masalah Dan Prospek Pemanfaatan Gambut. Badan Pengkajian
        Dan Penerapan Teknologi ( BPPT): Jakarta.

Software SPSS Statistics 17.0. SPSS (Statistical Product And Servise Solution)
       17.0
                                                                               35



Suryadi, U.E. 2004. Penelitian Hidrofobisitas Gambut Ombrogen Pontianak
       Akibat Variabilitas Muka Air Tanah. Magister. Ilmu Tanah. Universitas
       Gajah Mada: Yogyakarta.

Triutomo, S, B. Setiadi, B. Nurachman, D. Mulyono,E. Nursahid, dan Kasiran.
       1993. Prosiding Seminar Nasional Gambut II (Jakarta, 14-15 Januari
       1993). Himpunan gambut Indonesia bekerjasama dengan badan
       pengkajiandan penerapan teknologi: Jakarta

Tejoyuwono. 1997. Tantangan Pemanfaatan Gambut. Seminar Nasional Gambut
      Dan Kongres III Himpunan Gambut Indonesia (HGI ) : Pontianak.
LAMPIRAN I. Peta Lokasi Penelitian
                                      Lampiran II. Layout Penelitian



                                                        1000m



               200m                  200m               200m                    200m      200m


                                                               100m
                            A5                 B5                       C5



                                                               200m


                            A4                 B4                       C4
                                               5



                                                            200m



1000m                       A3                 B3                        C3




                                                               200m


                            A2                 B2                       C2



                                                               200m


                            A1                 B1                        C1

                                                            100m

                                 A                  B                         C



        Keterangan:
        : titik pengeboran                                            : Jalan
        : titik pengukura relief (Titik 1 s/d 50)          A,B,C : Transek
        : Saluran tersier                                             :saluran sekunder
          LAMPIRAN III. Diagram Penelitian



                                   Mulai



                       PELAKSANAAN
                         PENELITIAN
                        Persiapan
                    PERSIAPANpendahuluan
                        Survey
                        Survey lapangan
                        Turun lapangan
                        PENGUMPULAN
                              DATA

     Uji Sifat Fisik:
Pemeriksaan Kadar Air (%)                    1. Pengambilan sampel tanah
                                                gambut
Pemeriksaan Bobot Isi (g/cm3)
                                             2. Pengambilan data kedalaman
Pemeriksaan berat jenis partikel
                                                muka air tanah di lapangan
(g/cm3)
                                             3. Pengambilan data kondisi
Pemeriksaan Porositas (%)                       permukaan (relief) di lapangan




                             Analisis data


                              Kesimpulan



                                   Selesai
                  LAMPIRAN IV
 Keadaan PT.BPK (Bumi Pratama Katulistiwa) 2010




Gambar 1. Pohon kelapa sawit yang berumur di atas 10
                     tahun.
Gambar 1. Pohon kelapa sawit yang umur di atas
10 th

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:3602
posted:4/18/2011
language:Indonesian
pages:49
Description: RENCANA PENELITIAN HUBUNGAN KEDALAMAN MUKA AIR TANAH DENGAN BEBERAPA SIFAT FISIK GAMBUT PADA PERKEBUNAN KELAPA SAWIT