Docstoc

Metodologi penelitian

Document Sample
Metodologi penelitian Powered By Docstoc
					   TUGAS PROPOSAL
METODOLOGI PENELITIAN

    Dosen   : Anis Chariri,SE, Mcom,Ph.D.




    Nama : Ichlasia Nurul Andra
        Nim :   C2C 008 196

   JURUSAN AKUNTANSI R2/KELAS B
         FAKULTAS EKONOMI
 UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG
Bonus Serta Pengalaman Terhadap
Kualitas Audit Pada Kantor Akuntan
Publik di Semarang”.
                                           BAB I
                                       PENDAHULUAN

     1.1. Latar Belakang Masalah

      Dewasa ini persaingan dunia usaha semakin ketat, termasuk persaingan dalam bisnis jasa
akuntan publik. Untuk dapat bertahan di tengah persaingan yang ketat, masing-masing Kantor
Akuntan Publik harus dapat menghimpun klien sebanyak mungkin. Tetapi Kantor Akuntan Publik
tersebut juga harus memperhatikan kualitas kerjanya, sehingga selain dapat menghimpun klien
sebanyak mungkin, kantor tersebut juga dapat semakin dipercaya oleh masyarakat luas. Jika
kualitas kerja terus dipertahankan bahkan ditingkatkan oleh KAP, maka jasa yang dihasilkan juga
akan berkualitas tinggi.
      Kualitas audit diartikan oleh Deangelo dalam (Balance Vol 1.2004:44) sebagai probabilitas
seorang auditor dalam menentukan dan melaporkan penyelewengan keuangan yang terjadi
dalam sistem akuntansi klien.Dalam SPAP (2001:150.1) guna menunjang profesionalismenya
sebagai akuntan publik, maka auditor dalam melaksanakan tugas auditnya harus berpedoman
pada standar audit yang ditetapkan oleh Ikatan Akuntansi Indonesia, yakni standar umum,
standar pekerjaan lapangan dan standar pelaporan. Dimana standar umum mengatur syarat-
syarat diri auditor, standar pekerjaan lapangan mengatur mutu pelaksanaan auditing, dan standar
pelaporan memberikan panduan bagi auditor dalam mengkomunikasikan hasil auditnya melalui
laporan audit kepada pemakai informasi keuangan.
      Hasil penelitian Josoprijonggo, Maya D (2005) agar laporan audit yang dihasilkan auditor
berkualitas, maka auditor harus menjalankan pekerjaannya secara profesional. Auditor harus
bersikap independent terhadap klien, mematuhi standar auditing dalam melakukan audit atas
laporan keuangan, memperoleh bukti kompeten yang cukup untuk menyatakan pendapat atas
laporan keuangan dan melakukan tahap-tahap proses audit secara lengkap.
      Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kualitas audit, seperti batasan waktu audit. Hasil
penelitian yang dilakukan oleh Samekto, Agus dalam (Ventura Vol 4 2001:77) dikemukakan jika waktu
aktual yang diberikan tidak cukup, maka auditor dalam melaksanakan tugas tersebut dengan tergesa-
gesa sesuai dengan kemampuannya atau mengerjakam hanya sebagian tugasnya. Sebaliknya bila
batasan waktu terlalu longgar, maka fokus perhatian auditor akan berkurang pada pekerjaannya
sehingga akan cenderung gagal mendeteksi bukti audit yang signifikan.
      Hasil penelitian tersebut bertentangan dengan eksperimen yang dilakukan oleh Waggoner dan
Cashell dalam (Ventura Vol 4 2001:78) yang menunjukkan bahwa semakin banyak waktu yang
diberikan, semakin banyak transaksi yang dapat dites oleh auditor. Penelitian lain dilakukan oleh Kelley
dan Margheim dalam (Cohn 2001) yang menyebutkan bahwa ketika auditor menetapkan alokasi
waktu audit yang sangat ketat, akan mengakibatkan efek samping yang merugikan publik, yaitu
memunculkan perilaku yang mengancam kualitas audit antara lain penurunan tingkat pendeteksian
dan penyelidikan aspek kualitatif salah saji, gagal meneliti prinsip akuntansi, melakukan review
dokumen secara dangkal, menerima penjelasan klien secara lemah dan mengurangi pekerjaan pada
salah satu langkah audit di bawah tingkat yang diterima.
       Faktor lain yang dapat mempengaruhi kualitas audit, yaitu pengetahuan akuntansi dan auditing.
Menurut Yusuf, Al Haryono (2001:5) akuntansi adalah proses pencatatan, penggolongan, peringkasan,
pelaporan dan penganalisaan data keuangan suatu organisasi.
      Menurut Mulyadi (2002:11) auditing adalah pemerikasaan secara objektif atas laporan keuangan
suatu perusahaan atau organsasi lain dengan tujuan untuk menentukan apakah laporan keuangan
tersebut menyajikan secara wajar, dalam semua hal yang material, posisi keuangan dan hasil usaha
perusahaan atau organisasi tersebut.
      Faktor selanjutnya yang dapat mempengaruhi kualitas audit yaitu pemberian bonus. Menurut
Mathis, Robert L dan John H. Jackson (2002:173) bonus diartikan sebagai pembayaran secara satu kali
yang tidak menjadi bagian dari gaji pokok karyawan. Menurut Mathis, Robert L dan John H. Jackson
(2002:173) disebutkan bahwa bonus digunakan untu memberikan imbalan kepada karyawan untuk
memberikan kontribusi ide idebaru, mengembangkan keterampilan mereka atau untuk mendapatkan
sertifikasi profesional.
      Faktor lain yang tidak kalah pentingnya dalam mempengaruhi kualitas audit yaitu pengalaman.
Menurut Loehor (2002:2) pengalaman merupakan akumulasi gabungan dari semua yang diperoleh
melalui berhadapan dan berinteraksi secara berulang-ulang dengan sesama, benda, alam, keadaan,
gagasan dan penginderaan.
        Hasil penelitian yang dilakukan oleh Hardiningsih, Pancawati dan Sumardi dalam (Jurnal
Bisnis dan Ekonomi Vol 9 2002: 6) disebutkan bahwa auditor yang tidak berpengalaman akan
melakukan atribusi kesalahan lebih besar dibandingkan dengan auditor yang berpengalaman.
Hal tersebut didukung oleh hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Setiantoro, Adi P (2005)
yang memberikan kesimpulan bahwa pengalaman mempunyai pengaruh langsung terhadap
kualitas audit.Lamanya bekerja seseorang sebagai auditor menjadi bagian penting yang
mempengaruhi kualitas audit. Semakin bertambahnya waktu bekerja bagi seorang auditor tentu
saja akan diperoleh berbagai pengalaman baru.
      Dapat dilihat dari beberapa kasus yang terjadi pada Kantor Akuntan Pulik yang ada di Semarang.
Ada satu atau dua KAP di Semarang yang sebelumnya mempunyai reputasi yang baik di mata
masyarakat, tetapi setelah beroperasi beberapa tahun, KAP tersebut ternyata sudah ditutup dan tidak
boleh menjalankan aktivitasnya lagi. Selama melakukan pengauditan, para aditor di Semarang,
biasanya hanya diberi waktu 2-3 bulan untuk menyelesaikan pengauditan sampai pada pengambilan
keputusan. Seharusnya dengan waktu yang ada tersebut auditor bisa menyelesaikannya dengan
sebaik mungkin. Tapi para auditor tetap merasa dengan adanya batasan waktu tersebut di atas
mereka mengalami tekanan, merasa seperti dikejar-kejar waktu dalam melakukan pengauditannya,
mereka terburu-buru ketika bekerja sehingga hasilnya kurang memuaskan.
       Sebagian besar auditor yang bekerja di KAP di Semarang adalah lulusan S1 Akuntansi, tapi
pada kenyataannya pada saat pengauditan mereka terkadang kesulitan untuk melakukan pengecekan
perhitungan atau mencari tau kesalahan yang ada. Tidak mengetahui metode apa yang sebaiknya
digunakan sehingga hasil auditnya kurang baik.
       Para Auditor di Semarang terkadang memperoleh bonus dari KAP tempatnya bekerja. Dengan
pemberian bonus tersebut mereka merasa bahwa itu setimpal dengan hasil kerja mereka selama ini.
Tidak jarang dalam bekerja mereka mempunyai motivasi hanya untuk mendapatkan bonus, sehingga
terkadang mereka mengesampingkan kualitas auditnya. Bukankah sebaiknya para auditor tersebut
tetap bekerja dengan sebaik mungkin meskipun mereka tidak mendapat bonus.
       Sebagian besar auditor di Semarang mempunyai pengalaman lebih dari lima tahun. Seharusnya
dengan pengalaman yang lebih dari lima tahun tersebut, para auditor akan semakin berkualitas dalam
melakukan pengauditan. Namun ternyata masih ada auditor yang melakukan kesalahan yang fatal
ketika melakukan pengauditan.
       Selama melakukan pengauditan atas laporan keuangan klien, sering kali auditor dihadapkan
pada pengalokasian waktu pemeriksaan yang sangat ketat dan kaku. Mereka dituntut untuk dapat
menyelesaikan pekerjaannya tepat waktu, sesuai dengan waktu yang telah disepakat dengan klien.
Sehingga auditor tidak jarang mengahadapi tekanan, akibatnya dapat mengancam kualitas audit itu
sendiri, seperti menerima informasi dari klien secara lemah, melakukan pekerjaan terburu-buru
sehingga hasilnya terkadang kurang akurat, mengurangi pekerjaan pada salah satu langkah audit,
bahkan pada saat itu mereka terkadang tidak mempunyai waktu untuk bersantai sejenak.
       Pengetahuan sangat penting untuk dimiliki oleh semua auditor, terlebih pengetahuan di
bidang akuntansi dan auditing. Kedua pengetahuan tersebut merupakan dasar yang penting yang
menjadi modal selama mereka bekerja sebagai seorang akuntan terlebih pada saat melakukan
pengauditan atas laporan keuangan klien. Para auditor di Semarang saat malakukan pengauditan
dihadapkan pada penguasaan kedua pengetahuan tersebut dan menerapkannya dalam praktiknya.
       Setelah selesai melakukan pengauditan, para auditor terkadang menerima bonus, yang
merupakan tambahan pendapatan di luar gaji pokok karyawan. Pemberian bonus ini merupakan
imbalan yang diberikan kepada karyawan yang berprestasi atau berhasil menyelesaikan tugasnya
dengan baik. Dengan adanya bonus ini dapat memancing mereka untuk memberikan ide-ide baru,
meningkatkan keterampilan maupun hasil kerja mereka.
       Para auditor di kota Semarang, pada kenyataannya dapat dibandingkan cara kerja dan hasil
kerja mereka antara auditor yang sudah berpengalaman dengan auditor yang kurang berpengalaman
akan berbeda. Selama pengauditan, auditor yang kurang berpengalaman akan melakukan atribusi
kesalahan lebih besar daripada auditor yang sudah berpengalaman.
      Berdasarkan uraian di atas dan adanya kesenjangan gap maupun beberapa pendapat dari
hasil penelitian terdahulu serta beberapa faktor yang belum pernah dilakukan penelitian dan
keinginan untuk mencari cara bagaimana meningkatkan kualitas audit dari KAP tersebut. Maka
pada kesempatan ini penulis ingin melakukan penelitian dengan judul ”Pengaruh Batasan Waktu
Audit, Pengetahuan Akuntansi dan Auditing, Bonus Serta Pengalaman Terhadap Kualitas
Audit Pada Kantor Akuntan Publik di Semarang”.
   1.2. Identifikasi Masalah dan Rumusan



Dari latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas, maka masalah-masalah yang akan

dibahas dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

•Bagaimana penilaian kualitas audit pada Kantor Akuntan Publik yang ada di Semarang?

•Apakah ada pengaruh antara batasan waktu audit, pengetahuan di bidang akuntansi dan auditing,

pemberian bonus, serta pengalaman kerja terhadap kualitas audit di Kantor Akuntan Publik di

Semarang?

•Seberapa besar pengaruhnya antara batasan waktu audit, pengetahuan di bidang akuntansi dan

auditing, pemberian bonus, serta pengalaman kerja terhadap kualitas audit pada Kantor Akuntan

Publik di Semarang?
   1.3. Tujuan Penelitian
Tujuan dalam penelitian adalah hal pokok yang harus ada dan ditetapkan terlebih dahulu sebelum
melakukan kegiatan penelitian. Tujuan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
•Untuk mengetahui bagaimana penilaian kualitas audit pada Kantor Akuntan Publik yang ada di
Semarang.
•Untuk mengetahui apakah ada pengaruh antara batasan waktu audit, pengetahuan di bidang
akuntansi dan auditing, pemberian bonus, serta pengalaman kerja terhadap kualitas audit di
Kantor Akuntan Publik di Semarang.
•Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh antara batasan waktu audit, pengetahuan di bidang
akuntansi dan auditing, pemberian bonus, serta pengalaman kerja terhadap kualitas audit di
Kantor Akuntan Publik di Semarang.
   1.4. Manfaat Penelitian


Adapun kegunaan penelitian yang akan dibuat oleh peneliti ini adalah sebagai berikut :
1.4.1 Manfaat Teoritis
Pengembangan ilmu pengetahuan
•Sebagai sarana bagi peneliti untuk mengembangkan dan menerapkan ilmu pengetahuan yang
diperoleh peneliti dari bangku kuliah denganyang ada di dalam dunia kerja.
•Dapat memberi tambahan informasi bagi para pembaca yang ingin lebih menambah wacana
pengetahuan khususnya dibidang auditing.
•Bagi civitas akademika dapat untuk menambah informasi sumbangan pemikiran dan bahan
kajian dalam penelitian.
1.4.2 Manfaat Praktis
Bagi lembaga-lembaga yang terkait
•Dapat digunakan sebagai bahan masukan bagi pimpinan Kantor Akuntan Publik dalam rangka
menjaga atau meningkatkan kualitas kerjanya.
•Memberikan masukan bagi para auditor dalam melaksanakan pekerjaannya.
1.5. Sistematika Penulisan
     Secara garis besar pembahasan dalam skripsi ini dibagi ke dalam 5 (lima) bab, dimana
masing-masing bab dibagi dalam beberapa sub-sub bab, dan dantara sub-bab dengan sub-bab yang
lainnya saling berhubungan sebagai suatu kesatuan yang tidak terpisahkan.
Sistematika yang akan dilakukan penulis, bab demi bab diuraikan sebagai berikut:
BAB I:          PENDAHULUAN
Bab ini menguraikan latar belakang penelitian, perumusan masalah penelitian,tujuan dan manfaat
penelitian, serta sistematika penulisan.
BAB II:         TINJAUAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS
     Bab ini menjelaskan tentang landasan teori yang mendasari penelitian ini yang berkaitan
dengan masalah yang diteliti. Pada akhir bab ini juga diuraikan hipotesis penelitian serta model
penelitian.
BAB III:        METODOLOGI PENELITIAN
     Bab ini menjelaskan tentang obyek penelitian, populasi penelituan, sampel penelitian ,jenis
dan sumber data, metode penelitian, definisi operasional variabel serta model analisis.
BAB IV :                Hasil dan Pembahasan
Dalam bab ini akan diuraikan tentang deskripsi objek penelitian, analisis, dan pembahasan hasil
penelitian.
BAB V :         Penutup
     Sebagai bab terakhir dari penelitian ini akan diuraikan simpulan yang merupakan penyajian
singkat apa yang diperoleh dalam pembahasan. Dalam bab ini juga dimuat saran – saran dan
batasan berdasarkan hasil penelitian.
                                                    BAB II
                                        TINJAUAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS

       2.1 Landasan Teori
       2.1.1Kualitas Audit

        Kualitas audit diartikan oleh Deangelo dalam (Balance Vol 1 2004:44) sebagai gabungan probabilitas seorang auditior
untuk dapat menemukan dan melaporkan penyelewengan yang terjadi dalam sistem akuntansi klien.
         Menurut Dopouch dan Simunic dalam (Balance Vol 1 2004 : 45) memproksi kualitas audit berdasarkan reputasi
Kantor Akuntan Publik. Sedangkan menurut Francis dan Wilson dalam (Balance Vol 1 2004 : 45), Kualitas audit diproksi
dengan reputasi (brand name) dan banyaknya klien yang dimiliki Kantor Akuntan Publik.
        Dari ke tiga pernyataan diatas, dapat disimpulkan bahwa kualitas audit sebagai gabungan probabilitas seorang auditor
untuk dapat menemukan dan melaporkan penyelewengan yang terjadi sistem akuntansi klien dimana kualitas audit ini
diproksi berdasarkan reputasi danbanyaknya klien yang dimiliki KAP.
        Probabilitas auditor untuk melaporkan penyelewengan yang terjadi dalam system akuntansi klien tergantung pada
independensi auditor. Seorang auditor dituntut untuk dapat menghasilkan kualitas pekerjaan yang tinggi, karena auditor
mempunyai tanggung jawab yang besar terhadap pihak-pihak yang berkepentingan terhadap laporan keuangan suatu
perusahaan termasuk masyarakat. Tidak hanya bergantung pada klien saja, auditor merupakan pihak yang mempunyai
kualifikasi untuk memeriksa dan menguji apakah laporan keuangan telah disajikan secara wajar sesuai dengan prinsip
akuntansi yang berlaku umum.
        Menurut Boynton dan Kell dalam (Wahana volume 2 1999:23),kualitas jasa sangat penting untuk meyakinkan bahwa
profesi bertanggung jawab kepada klien, masyarakat umum, dan aturan-aturan. Sedangkan dalam SPAP (Standar Profesional
Akuntan Publik), yang dikeluarkan oleh IAI tahun 1994 dinyatakan bahwa kriteria atau ukuran mutu mencakup mutu
profesional auditor. Kriteria mutu profesional auditor seperti yang diatur oleh standar umum auditing meliputi independensi,
integritas dan objektivitas. Dari pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa kualitas jasa audit bertujuan meyakinkan
bahwa profesi bertanggung jawab kepada klien dan masyarakat umum yang juga mencakup mengenai mutu profesional
auditor.
          Dalam Wahana Vol 2 (1999:24) disebutkan ada 9 elemen pengendalian kualitas yang harus diterapkan oleh kantor akuntan dalam mengadopsi
kebijakan dan prosedur pengendalian kualitas untuk memberikan jaminan yang memadai agar sesuai dengan standar profesional di dalam melakukan audit,
jasa akuntansi, dan jasa review.
          Sembilan elemen pengendalian kualitas tersebut adalah :
          1. Independensi
          Seluruh auditor harus independent terhadap klien ketika melaksanakan tugas. Prosedur dan kebijakan yang digunakan adalah dengan
mengkomunikasikan aturan mengenai independensi kepada staf.
          2. Penugasan personil untuk melaksanakan perjanjian
          Personil harus memiliki pelatihan teknis dan profesionalisme yang dibutuhkan dalam penugasan. Prosedur dan kebijakan yang digunakan yaitu
dengan mengangkat personil yang tepat dalam penugasan untuk melaksanakan perjanjian serta memberi kesempatan partner memberikan persetujuan
penugasan.
          3. Konsultasi
          Jika diperlukan personil dapat mempunyai asisten dari orang yang mempunyai keahlian, judgement, dan otoritas yang tepat. Prosedur dan kebijakan
yang diterapkan adalah mengangkat individu sesuai dengan keahliannya.
          4. Supervisi
          Pekerjaan pada semua tingkat harus disupervisi untukmeyakinkan telah sesuai dengan standar kualitas. Prosedur dan kebijakan yang digunakan
adalah menetapkan prosedur-prosedur untuk mereview kertas kerja dan laporan serta menyediakan supervise pekerjaan yang sedang dilaksanakan.
          5. Pengangkatan
          Karyawan baru harus memiliki karakter yang tepat untuk melaksanakan tugas secara lengkap. Prosedur dan kebijakan yang diterapkan adalah selalu
menerapkan suatu program pengangkatan pegawai untuk mendapatkan karyawan pada level yang akan ditempati.
          6. Pengembangan profesi
          Personil harus memiliki pengetahuan yang dibutuhkan untuk memenuhi tanggung jawab yang disepakati. Prosedur dan kebijakan yang diterapkan
adalah menyediakan program peningkatan keahlian spesialisasi serta memberikan informasi kepada personil tentang aturan professional yang baru.
          7. Promosi
          Personil harus memenuhi kualifikasi untuk memenuhi tanggung jawab yang akan mereka terima di masa depan. Prosedur dan kebijakan yang
diterapkan adalah menetapkan kualifikasi yang dibutuhkan untuk setiap tingkat pertanggungjawaban dalam kantor akuntan serta secara periodic membuat
evaluasi terhadap personil.
          8. Penerimaan dan kelangsungan kerja sama dengan klien
          Kantor akuntan harus meminimalkan kemungkinan penerimaan penugasan sehubungan dengan klien yang memiliki manajemen dengan integritas
yang kurang. Prosedur dan kebijakan yang diterapkan adalah menetapkan criteria dalam mengevaluasi klien baru serta mereview prosedur dalam
kelangsungan kerja sama dengan klien.
          9. Inspeksi
          Kantor akuntan harus menentukan prosedur-prosedur yang berhubungan dengan elemen-elemen yang lain yang akan diterapkan secara efektif.
Prosedur dan kebijakan yang diterapkan adalah mendefinisikan luas dan isi program inspeksi serta menyediakan laporan hasil inspeksi untuk tingkat
manajemen yang tepat.
          Efisiensi suatu audit menurut Whitaker dan Western dalam (Wahana Volume 2 1999:25) diukur dengan rasio manfaat pekerjaan yang dilaksanakan
terhadap sumber daya yang disediakan dan efektifitas suatu audit merupakan suatu ukuran dari manfaat pekerjaan yang dilaksanakan untuk mencapai
tujuan.
      Dalam Simposium Nasional Akuntansi 5 (2002:562) disebutkan bahwa ada lima macam perspektif
kualitas yang berkembang. Kelimaperspektif inilah yang bisa menjelaskan mengapa kualitas diartikan secara
berbeda-beda. Kelima perspektif itu adalah :
•Trancedental approach, pendekatan ini memandang bahwa kualitas sebagai innate excellence, dimana
kualitas dapat dirasakan atau diketahui tetapi sulit didefinisikan dan dioperasionalkan.
•Product based approach, pendekatan ini menganggap bahwa kualitas merupakan karakteristik atau atribut
yang dapat dikuantitatifkan dan dapat diukur.
• User based approach, pendekatan ini didasarkan pada pemikiran bahwa kualitas tergantung pada orang
yang memandangnya, sehingga produk yang paling memuaskan preferensi seorang merupakan produk yang
berkualitas paling tinggi.
• Manufacturing based approach, pendekatan ini bersifat supplay based dan terutama memperhatikan
praktik-praktik perekayasaan dan pemanufakturan, serta mendefinisikan kualitas sebagai kesesuaian atau
sama dengan persyaratan.
•Value based approach, pendekatan ini memandang kualitas dari segi nilai dan harga. Hasil penelitian Behn
et al dalam (Simposium Nasional Akuntansi5 2002:563) ada 6 atribut kualitas audit (dari 12 atribut) yang
berpengaruh secara signifikan terhadap kepuasan klien, yaitu : pengalaman melakukan audit, memahami
industri klien, responsif atas kebutuhan klien, taat pada standar umum, keterlibatan pimpinan KAP, dan
keterlibatan komite audit.Berikut ini adalah 12 atribut kualitas audit yaitu :
      1. Pengalaman melakukan audit (client experience)
      Pengalaman merupakan atribut yang penting yang harus dimiliki oleh auditor. Hal ini terbukti dengan tingkat kesalahan yang dibuat oleh
auditor yang tidak berpengalaman lebih banyak daripada auditor berpengalaman.
      2. Memahami industri klien (industry expertise)
      Auditor juga harus mempertimbangkan hal-hal yang mempengaruhi industri tempat operasi suatu usaha , seperi kondisi ekonomi,
peraturan pemerintah serta perubahan teknologi yang berpengaruh terhadap auditnya.
      3. Responsive atas kebutuhan klien (Responsiveness)
      Atribut yang membuat klien memutuskan pilihannya terhadap suatu KAP adalah kesungguhan KAP tersebut memperhatikan kebutuhan
kliennya.
      4. Taat pada standar umum (Technical competence)
      Kredibilitas auditor tergantung kepada : kemungkinan auditor mendeteksi kesalahan yang material dan kesalahan penyajian serta
kemungkinan auditor akan melaporkan apa yang ditemukannya. Ke dua hal tersebut mencerminkan terlakasananya standar umum.
      5. Independensi (Independence)
      Independensi adalah sikap yang diharapkan dari seorang akuntan publik untuk tidak mempunyai kepentingan pribadi dalam melaksanakan
tugasnya, yang bertentangan dengan prinsip integritas dan objektivitas. Bersikap independen artinya tidak mudah dipengaruhi.
      6. Sikap hati-hati (Due Care)
      Auditor yang bekerja dengan sikap kehati-hatian akan bekerja dengan cermat dan teliti sehingga menghasilkan audit yang baik, dapat
mendeteksi dan melaporkan kekeliruan serta ketidakberesan.
      7. Komitmen yang Kuat Terhadap Kualitas Audit (Quality Commitment)
      IAI sebagai induk organisasi akuntan publik di Indonesia mewajibkan para anggotanya untuk mengikuti program pendidikan profesi
berkelanjutan dan untuk menjadi anggota baru harus mengikuti program profesi akuntan (PPA) agar kerja auditnya berkualitas hal ini
menunjukkan komitmen yang kuat dari IAI dan para anggotanya.
      8. Keterlibatan pimpinan KAP
      Pemimpin yang baik perlu menjadi vocal point yang mampu memberikan perspektif dan visi luas atas kegiatan perbaikan sertamampu
memotivasi, mengakui dan menghargai upaya dan prestasi perorangan maupun kelompok.
      9. Melakukan pekerjaan lapangan dengan tepat (field work conduct)
      Dalam perencanaan audit, auditor harus mempertimbangkan sifat, luas, dan saat pekerjaan yang harus dilaksanakan dan membuat suatu
program audit secara tertulis, dengan tepat dan matang akan membuat kepuasan bagi klien.
      10. Keterlibatan komite audit
      Komite audit diperlukan dalam suatu organisasi bisnis dikarenakan mengawasi proses audit dan memungkinkan terwujudnya kejujuran
pelaporan keuangan.
      11. Standar etika yang tinggi (Ethical Standard)
      Dalam usaha untuk meningkatkan akuntabilitasnya, seorang auditor harus menegakkan etika profesional yang tinggi agar timbul
kepercayaan dari masyarakat.
      12. Tidak mudah percaya
      Auditor tidak boleh menganggap manajemen sebagai orang yang tidak jujur, tetapi juga tidak boleh menganggap bahwa manajer adalah
orang yang tidak diragukan lagi kejujurannya, adanya sikap tersebut akan memberikan hasil audit yang bermutu dan akan memberikan kepuasan
      2.1.2           Batasan Waktu Audit

      Auditor menetapkan alokasi waktu audit yang sangat ketat, tetapi akibatnya memiliki efek samping
yang merugikan publik, yaitu memunculkan perilaku yang mengancam kualitas audit, antara lain penurunan
tingkat pendeteksian dan penyelidikan aspek kualitatif salah saji, gagal meneliti prinsip akuntansi, melakukan
review dokumen secara dangkal, menerima penjelasan klien secara lemah dan mengurangi pekerjaan pada
salah satu langkah audit di bawah tingkat yang diterima Kelley dan Margheim dalam (Cohn 2001).
       Di bawah tekanan-tekanan waktu, perhatian akan lebih terfokus pada tugas yang dominan seperti
tugas pengumpulan bukti berkaitan dengan frekuensi dan jumlah salah saji dan mengorbankan perhatian
yang diberikan pada tugas tambahan seperti tugas yang memberikan aspek kualitatif atas terjadinya salah
saji yang menunjukkan potensial kecurangan pelaporan keuangan.
       Dalam Ventura (2001:73), disebutkan bahwa penetapan batasan waktu tidak realistis pada tugas
audit khusus akan berdampak kurang efektifnya pelaksanaan audit atau auditor pelaksana cenderung
mempercepat pelaksanaan tes. Sebaliknya bila penetapan batasan waktu terlalu lama hal ini akan
berdampak negatif pada biaya dan efektivitas pelaksanaan audit.
      Jadi penetapan waktu untuk auditor dalam melaksanakan tugasnya harus tepat waktu, sehingga hal-
hal seperti disebutkan pada uraian diatas dapat dihindari. Hal ini juga akan dapat mempengaruhi tingkat
kepercayaan masyarakat terhadap kualitas auditor.
       2.1.3. Pengetahuan Akuntansi dan Auditing

       Akuntansi Yusuf, Al Haryono (2001:5), akuntansi adalah proses pencatatan, penggolongan, peringkasan,
pelaporan, dan penganalisaan data keuangan suatu organisasi. Sedangkan menurut Arrens dan Loebbecke (1996:3)
akuntansi merupakan proses pencatatan, pengelompokan, dan pengikhtisaran kejadian-kejadian ekonomi dalam
bentuk yang teratur dan logis dengan tujuan menyajikan informasi keuangan yang dibutuhkan untuk pengambilan
keputusan. Jadi dari dua definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa akuntansi adalah proses pencatatan,
penggolongan, peringkasan, pelaporan dan penganalisaan data keuangan untuk menghasilkan informasi keuangan
yang dibutuhkan untuk pengambilan keputusan.
        Yusuf, Al Haryono (2001:5), pada dasarnya akuntansi harus mengidentifikasikan data mana yang berkaitan atau
relevan dengan keputusannya akan diambil, maka proses atau menganalisa data yang relevan, dan mengubah data
menjadi informasi yang dapat digunakan untuk pengambilan keputusan. Menurut Simamora, Henry (2002:7), metode
akuntansi melibatkan pengidentifikasian kejadian dan transaksi yang berimbas terhadap entitas, begitu diidentifikasi,
unsur-unsur tersebut diukur, dicatat, diklasifikasikan dan dirangkum dalam catatan akuntansi.
       Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa akuntansi berkaitan dengan proses pengidentifikasian,
penganalisaan, kemudian mengubah data dalam bentuk catatan akuntansi yang selanjutnya dapat digunakan untuk
pengambilan keputusan. Menurut Simamora, Henry (2002:7), tujuan akhir akuntansi adalah komunikasi informasi
keuangan yang relevan dan andal yang bakal berfaedah bagi pengambilan keputusan.
        Menurut Guy, Dan M., C. Wayne Alderman, dan Alan J. Winters (2002:9), tujuan umum akuntansi adalah
menyediakan informasi keuangan mengenai entitas ekonomi yang berguna dalam pengambilan keputusan ekonomi.
Dari keterangan diatas dapat disimpulkan bahwa tujuan akuntansi adalah memperoleh informasi keuangan yang
relevan dan andal yang berguna dalam pengambilan keputusan ekonomi.
       Pengertian auditing menurut Mulyadi (2002:11) adalah pemeriksaan secara objekif atas laporan keuangan
suatu perusahaan atau organisasi lain dengan tujuan untuk menentukan apakah laporan keuangan suatu perusahaan
atau organisasi lain dengan tujuan untuk menentukan apakah laporan keuangan tersebut menyajikan secara wajar,
dalam semua hal yang material, posisi keuangan dan hasil usaha perusahaan atau organisasi tersebut.
      2.1.4. Bonus

       Menurut Ruky, DR. Achmad D (2002:185), pada umumnya bonus diartikan sebagai pemberian
pendapatan tambahan bagi karyawan atau pekerja yang hanya diberikan setahun sekali bila syarat-syarat
tertentu dipenuhi. Menurut Mathis, Robert L dan John H. Jackson (2002:173),bonus adalah pembayaran
secara satu kali yang tidak menjadi bagian dari gaji pokok karyawan.
       Dari dua pernyataan tersebut, dapat disimpulkan bahwa bonus adalah penerimaan tambahan
pendapatan bagi karyawan yang dilakukan hanya satu kali di luar gaji pokok mereka apabila memenuhi
syarat-syarat tertentu.
       Menurut Mathis, Robert L dan John H. Jackson (2002:173), bonus digunakan untuk memberikan
imbalan kepada karyawan untuk memberikan kontribusi ide-ide baru, mengembangkan keterampilan
mereka, atau mendapatkan sertifikasi profesional. Tapi menurut Siagian, Sondang P (2003:269), insentif
dalam bentuk bonus diberikan pada karyawan yang mampu bekerja sedemikian rupa sehingga tingkat
produksi baku terlampoi.
       Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa pemberian bonus merupakan imbalan bagi karyawan
yang mampu bekerja sedemikian rupa, dan pemberian bonus ini digunakan untuk memberikan kontribusi
ide-ide baru, mengembangkan keterampilan, dan mendapatkan sertifikasi profesional. Menurut Ruky
Achmad S (2002:185), syarat-syarat pemberian bonus yaitu :
       1. Bonus hanya diberikan bila perusahaan memperoleh laba selama tahun fiskal yang telah berlalu,
karena bonus biasanya diambil dari keuntungan bersih yang diperoleh perusahaan.
       2. Bonus tidak diberikan secara merata kepada semua karyawan, artinya besarnya bonus harus
dikaitkan dengan prestasi kerja individu. Pembedaan besarnya bonus tersebut tidak dilakukan pada level
bawah karena pada level bawah sistem penilaian prestasi kerjanya belum tentu menjamin objektivitas dan
dapat menimbulkan keruwetan serta perselisihan. Sehubungan dengan hal itu, dalam banyak perusahaan
walaupun ada bonus, biasanya besarnya sama untuk semua perusahaan. Sebenarnya bonus seperti itu lebih
tepat disebut sebagai gaji ke empat dan seterusnya dan statusnya sama saja dengan tunjangan hari raya.
       2.1.5 Pengalaman

         Menurut Loehoer (2002:2) pengalaman merupakan akumulasi gabungan dari semua yang diperoleh melalui
berhadapan dan berinteraksi secara berulang-ulang dengan sesama benda alam, keadaan, gagasan, dan penginderaan.
Sedang menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2002:26), pengalaman adalah sesuatu yang pernah dialami, dijalani,
dirasai, ditanggung dan sebagainya. Jadi kesimpulannya pengalaman adalah gabungan dari semua yang dialami, dijalani,
dirasai, dan ditanggung melalui interaksi secara berulang-ulang dengan sesama benda, alam,
         keadaan, gagasan dan penginderaan.
         Mulyadi (2002:25) jika seorang memasuki karier sebagai akuntan publik, ia harus lebih dulu mencari pengalaman
profesi dibawah pengawasan akuntan senior yang lebih berpengalaman.
         Bahkan agar akuntan yang baru selesai menempuh pendidikan formalnya dapat segera menjalani pelatihan teknis
dalam profesinya, pemerintah mensyaratkan pengalaman kerja sekurang-kurangnya tiga tahun sebagai akuntan dengan
reputasi baik di bidang audit bagi akuntan yang ingin memperoleh izin praktik dalam profesi akuntan publik (SK Menteri
Keuangan No.43/KMK.017/1997 tanggal 27 Januari 1997).
         Dalam Jurnal Maksi Vol 1 (2002:5) disebutkan bahwa pengalaman auditor (lebih dari 2 tahun) dapat menentukan
profesionalisme, kinerja komitmen terhadap organisasi, serta kualitas auditor melalui pengetahuan yang diperolehnya dari
pengalaman melakukan audit.
         Dari dua pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa seorang auditor paling tidak harus memiliki pengalaman
minimal 2 tahun, sebagai akuntan dengan reputasi yang baik di bidang audit untuk dapat menentukan profesionalisme,
kinerja komitmen terhadap organisasi, serta kualitas auditor.
         Untuk membuat audit judgement, pengalaman merupakan komponen keahlian audit yang penting dan merupakan
faktor yang sangat vital dan mempengaruhi suatu judgement yang kompleks (Jurnal Bisnis dan Ekonomi Vol 9 2002:6).
          Auditor yang tidak berpengalaman akan melakukan atribusi kesalahan lebih besar dibandingkan dengan auditor
yang berpengalaman(Jurnal Bisnis dan Ekonomi Vol 9 2002:6).
         Menurut Libby dan Trotman dalam Jurnal Maksi Vol 1 (2002:5), seorang auditor profesional harus mempunyai
pengalaman yang cukup tentang tugas dan tanggung jawabnya. Pengalaman auditor akan menjadi bahan pertimbangan
yang baik dalam mengambil keputusan dalam tugasnya.
         Pengalaman merupakan salah satu elemen penting dalam tugas audit di samping pengetahuan, sehingga tidak
mengherankan apabila cara memandang dan menanggapi informasi yang diperoleh selama melakukan pemeriksaan antara
auditor berpengalaman dengan yang kurang berpengalaman akan berbeda, demikian halnya dalam mengambil keputusan
dalam tugasnya.
       2.2 Jasa-Jasa Akuntan Publik

       Menurut Noviyanti, Suzy dan Intiyas Utami (2004:17), jasa-jasa yang diberikan Kantor Akuntan Publik (KAP)
meliputi :
•      Jasa audit laporan keuangan
       Melakukan audit umum atas laporan keuangan untuk memberikan pernyataan pendapat mengenai kewajaran
laporan keuangan suatu entitas ekonomi yang dihubungkan dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum yang meliputi
Standar Akuntansi Keungan (SAK) yang dikeluarkan oleh IAI dan standar atau praktek akuntansi lain yang berlaku umum.
•       Jasa audit khusus
       Merupakan audit atas akun atau pos laporan keuangan tertentu yang dilakukan dengan menggunakan prosedur
yang disepakati bersama.
•      Jasa atestasi
       Jasa yang berkaitan dengan penerbitan laporan yang memuat suatu kesimpulan tentang keandalan asersi
(pernyataan) tertulis yang menjadi tanggung jawab pihak lain melalui pemeriksaan, review, dan prosedur yang disepakati
bersama.
•      Jasa review laporan keuangan
       Memberikan keyakinan terbatas bahwa tidak terdapat modifikasi material yang harus dilaksanakan agar laporan
keuangan tersebut sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum atas basis akuntansi komprehensif lainnya.
•      Jasa kompilasi keuangan
       Untuk menyusun laporan keuangan berdasarkan catatan data keuangan serta informasi lainnya yang diberikan
manajemen suatu entitas ekonomi.
•      Jasa konsultasi
       Jasa yang diberikan KAP bervariasi melalui dari jasa konsultasi umum kepada manajemen, perencanaan sistem
dan implementasi sistem akuntansi, menyusun proposal keuangan dan studi kelayakan proyek, penyelenggaraan
pendidikan dan pelatihan, pelaksanaan seleksi dan rekruitmen pegawai, sampai pemberian jasa konsultasi lainnya,
termasuk konsultasi dalam pelaksanaan merger dan akuisisi.
•      Jasa perpajakan
       Konsultasi umum perpajakan, perencanaan pajak, review kewajiban pajak, pengisian SPT dan penyelesaian
masalah pajak.
•      Jasa manajemen
       Yaitu pemberian jasa kepada klien agar usahanya dapat berjalan dengan lebih efektif dan efisien.
       2.3   Empat Macam Pendapat Auditor

        Dalam SPAP (2001:2000.13), disebutkan bahwa ada 4 Macam pendapat auditor yaitu sebagai berikut:
•       Pendapat wajar tanpa pengecualian
        Pendapat ini diberikan auditor jika laporan keuangan klien menyajikan secara wajar dalam semua hal yang material,
posisi keuangan, hasil usaha dan arus kas sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia.
•       Pendapat wajar dengan pengecualian
        Pendapat yang diberikan oleh auditor jika laporan keuangan disajikan secara wajar tetapi ada pembatasan terhadap
ruang lingkup audit baik yang dikenakan klien atau apapun oleh keadaan seperti kegagalan memperoleh bukti yang
kompeten atau ketidakcukupan catatan audit
•       Pendapat tidak wajar
        Jika laporan keuangan tidak menyajikan secara wajar posisi keuangan hasil usaha dan arus kas entitias tertentu
sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia maka auditor dapat memberikan pendapat wajar atas
laporan keuangan klien.
•       Pernyataan tidak memberikan pendapat
        Pendapat ini diberikan jika auditor tidak melaksanakan audit yang lingkupnya memadai untuk memberikan
pendapat atas laporan keuangan klien.
        2.4 Jenis-Jenis audit
        Menurut Arrens dalam (Majalah Ilmiah Kopertis Wilayah VI Vol XV, 2005) berdasarkan tujuan audit yang dilakukan,
audit terbagi dalam empat jenis audit utama yaitu :
•       Audit Keuangan
        Tujuan audit keuangan meliputi penilaian terhadap kewajaran laporan keuangan dan kesesuaian dengan standar
akuntansi keuangan.
•       Audit Ketaatan
        Audit ketaatan merupakan audit dengan tujuan memeriksa kesesuaian pelaksanaan kegiatan organisasi dengan
peraturan.
•       Audit Manajemen/Operasioanal
        Merupakan audit terhadap kegiatan manajerial atau operasioanal dengan tujuan untuk menilai efisiensi, ekonomis
dan efektivitas pelaksanaan kegiatan usaha.
•       Audit Forensik
        Audit forensik merupakan jenis audit yang terspesialisasi penugasannya karena tujuannya adalah untuk menilai
      2.5 Kerangka Pemikiran
       Sebuah Kantor Akuntan Publik harus mempertahankan dan bahkan meningkatkan
kualitas auditnya. Hal ini sangat penting karena dengan semakin berkualitasnya sebuah KAP,
maka secara tidak langsung hal itu dapat mengangkat image masyarakat terhadap KAP
tersebut. Masyarakat semakin menaruh kepercayaan terhadap mereka dalam melakukan
pengauditan terhadap laporan keuangan.
       Baik tidaknya suatu audit atau berkualitas atau tidaknya suatu audit dapat dipengaruhi
oleh batasan waktu audit. Batasan waktu yang dimaksud disini adalah terbatasnya waktu yang
dapat digunakan auditor dalam melakukan pemeriksaan terhadap laporan keuangan klien
yang diakibatkan karena ketidakseimbangan antara tugas dan waktu yang tersedia.
       Hal lain yang mempengaruhi kualitas audit yaitu pengetahuan auditor di bidang
akuntansi dan auditing. Karena kedua pengetahuan tersebut sangat penting untuk membantu
dan mendukung kualitas suatu audit. Bahkan “iming-iming” pemberian bonus pun dapat
mempengaruhi kualitas audit. Dan hal lain yang tak kalah pentingnya dalam mempengaruhi
kualitas audit yaitu pengalaman mereka sebagai seorang auditor, bagaimana mereka mampu
mengatasi segala permasalahan yang terjadi pada saat melakukan pengauditan.
       Penilaian terhadap kualitas audit dapat berupa penilaian tentang berapa lama waktu
mereka menyelesaikan pengauditan atas laporan keuangan klien, bagaimana pengetahuan
para auditor tentang akuntansi maupun auditing, sistem pemberian bonus, dan berapa
lamakah pengalaman mereka dalam menjalani profesi mereka sebagai auditor.
       Dengan adanya penilaian atas kualitas audit tersebut diharapkan para auditor dapat
meningkatkan kinerja mereka, sehingga secara otomatis kantor akuntan publik tempat
mereka bekerja akan semakin dipercaya oleh masyarakat maupun oleh para pengguna
lainnya.
Gambar1
Kerangka Pemikiran




                               BATASAN WAKTU
                                    (x1)


                                                         H1

                                PENGETAHUAN
                                AKUNTANSI DAN       H2
                                 AUDITING(x2)
                                                                   KUALITAS AUDIT
                                                                         (y)
                                                    H3
                                   BONUS
                                    (x3)            H4




                                PENGALAMAN
                                    (x4)



                                                              H5




    Sumber: Dikembangkan untuk penelitian ini
    Keterangan :
    Batasan waktu, Pengetahuan Akuntansi dan Auditing, Bonus, serta Pengalaman merupakan
    variabel bebas (independent variabel) yang mempengaruhi Kualitas Audit sebagai variabel
    terikat (dependent variabel).
2.6.Hipotesis


Hipotesis merupakan suatu proposisiatau anggapan yang mungkin benar dan sering digunakan
sebagai dasar pembuatan keputusan/pemecahan masalah ataupun untuk dasar penelitian lebih
lanjut (Supranto ,1993).
Hipotesis berperan sebagai pedoman pelaksanaan penelitian dan membantu peneliti membuat
rancangan kesimpulan.Adapun hipotesis yang diajukan dan diuji kebenarannya dalam penelitian
ini adalah :
H1:          Variabel Batasan waktu berpengaruh positif terhadap Kualitas Audit pada Kantor
Akuntan Publik di Semarang.
H2:          Variabel Pengetahuan Akuntansi dan Auditing berpengaruh positif terhadap Kualitas
Audit pada Kantor Akuntan Publik di Semarang.
H3:          variabel Bonus berpengaruh positif terhadap Kualitas Audit pada Kantor Akuntan
Publik di Semarang.
H4:          Variabel Pengalaman berpengaruh positif terhadap Kualitas Audit pada Kantor Akuntan
Publik di Semarang
H5:          Variabel Batasan waktu, Pengetahuan Akuntansi dan Auditing, Bonus, serta
Pengalaman berpengaruh positif terhadap Kualitas Audit KAP(Kantor Akuntan Publik) di
Semarang
                                           BAB III
                                      METODE PENELITIAN

        3.1 Objek Penelitian
        Objek penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Kantor Akuntan Publik (KAP)
yang ada di kota Semarang. Unit analisisnya adalah auditor.
        3.2 Populasi Penelitian
        Menurut Arikunto (1998:115) populasi adalah keseluruhan subyek penelitian. Populasi
dalam penelitian ini adalah para auditor yang bekerja di KAP di Semarang. Berdasarkan sumber
data yang diperoleh penulis, dapat diketahui jumlah Kantor Akuntan Publik di Semarang yaitu
berjumlah 20 KAP dengan jumlah auditor secara keseluruhan berjumlah 238 orang.
        3.3 Sampel Penelitian
        Menurut Arikunto (1998:117) sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti.
Dalam penelitian ini sampel diambil dengan metode Simple Random Sampling, yaitu pengambilan
sampel secara acak. Solvin dalam Husein menentukan rumus untuk mencari sampel dari populasi
yaitu dengan rumus :
        n=N/1+N(e)2
Dimana :
n = Sampel
N = Jumlah Populasi
E = Nilai kesalahan (tingkat pengganggu) diambil 10%
Berdasarkan rumus diatas, maka pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah :
             n=238/1+238(0,10)2
Jadi jumlah sampel dalam penelitian ini minimal sebanyak 70responden. Selanjutnya pada penelitian
ini ditetapkan sebanyak 80 kuesioner sebagai sampel penelitian.
           3.5         Jenis dan Sumber Data
           Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer. Data primer adalah data
yang dikumpulkan dan diolah sendiri oleh suatu organisasi atau perorangan langsung dari
objeknya (Santoso dan Tjiptono, 2004). Data primer dalam penelitian ini diperoleh dari kuesioner
yang diisi oleh responden, meliputi: identitas dan tanggapan responden mengenai kejelasan
sasaran anggaran, pengendalian akuntansi, dan sistem pelaporan serta akuntabilitas kinerja
instansi pemerintah Kabupaten Kudus.

         3.6         Metode Pengumpulan Data
         Metode pengumpulan data yang digunakan adalah kuesioner. Kuesioner yaitu metode
pengumpulan data dengan cara memberikan tanggung jawab untuk membaca dan menjawab
pertanyaan kepada responden sebagai bahan utama penelitian (Indriantoro dan supomo, 2002).
Jumlah kuesioner yang disebar sebanyak 150 kuesioner
      3.7            Metode Analisis Data

      3.7.1            Uji Validitas                   3.7.2           Uji Reliabilitas
      Uji validitas dilakukan untuk mengukur
sah atau valid tidaknya suatu kuesioner. Suatu          Reliabilitas sebenarnya adalah alat untuk
kuesioner dikatakan valid jika pertanyaan pada   mengukur suatu kuesioner yang merupakan
kuesioner mampu untuk mengungkapkan              indikator dari variabel atau konstruk. Suatu
sesuatu yang akan diukur oleh kuesioner          kuesioner dikatakan reliabel atau handal jika
tersebut (Ghozali, 2005). Uji validitas ini      jawaban seseorang terhadap pertanyaan
menggunakan pendekatan koefesien korelasi        adalah konsisten atau stabil dari waktu ke
product moment.                                  waktu. SPSS memberikan fasilitas untuk
                                                 mengukur reliabilitas dengan uji statistik
                                                 Crobach Alpha (α) tujuannya untuk pengujian
                                                 konsistensi reliabilitas antara item-item. Suatu
                                                 konstruk atau variabel dikatakan reliabel jika
                                                 memberikan nilai Cronbach Alpha > 0,60
                                                 (Ghozali, 2005).
      3.7.3           Uji Asumsi Klasik
      Uji ini dilakukan untuk mengetahui bahwa data yang diolah adalah sah (tidak terdapat
penyimpangan), maka data tersebut akan diisi melalui uji asumsi klasik, yaitu:


         3.7.3.1           Uji Multikolinearitas
         Uji multikolonieritas bertujuan untuk menguji apakah model regresi ditemukan adanya korelasi antar
variabel bebas (independen). Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi di antara variabel
independen. Jika variabel independen saling berkorelasi, maka variabel-variabel ini tidak ortogonal. Variabel
ortogonal adalah variabel independen yang nilai korelasi antar sesama variabel independen sama dengan nol
(Ghozali, 2005).
         3.7.3.2           Uji Heteroskedastisitas
         Uji heteroskedastisitas bertujuan menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan variance dari
residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain. Jika variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan
lain tetap, maka disebut Homoskesdatisitas dan jika berbeda disebut Heteroskesdatisitas. Model regresi yang baik
adalah yang Homoskedastisitas atau tidak terjadi Heteroskesdatisitas (Ghozali, 2005).
         Apabila residual plot yang terjadi tidak menggambarkan pola tertentu yang sistematis, lebih bersifat acak
dan berada diatas serta dibawah nol pada sumbu Y, maka persamaan regresi yang dipakai dalam penelitian ini
dapat memenuhi asumsi homoskedastisitas atau tidak ada masalah heteroskedastisitas. Cara lainnya yaitu dengan
metode Glejser dengan cara meregres nilai absolute residualnya terhadap variabel independen, apabila variabel
independen signifikan secara statistik mempengaruhi variabel dependen, maka indikasi terjadi heteroskedastisitas.
Hal ini terlihat dari probabilitas signifikansinya diatas tingkat kepercayaan 5% (0,05). Jika dapat disimpulkan model
regresi tidak mengandung adanya heteroskedastisitas.
         3.7.3.3            Uji Normalitas
         Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam regresi, varibel penggangu atau residual memiliki
distribusi normal. Seperti diketahui bahwa uji t dan F mengasumsikan bahwa nilai residual mengikuti distribusi
normal. Kalau asumsi ini dilanggar maka uji statistik menjadi tidak valid untuk jumlah sampel kecil. Ada dua cara
untuk mendeteksi apakah residual berdistribusi normal atau tidak yaitu dengan analisis grafik dan uji statistik
(Ghozali, 2005) .
                                           DAFTAR PUSTAKA


Annisa, Nur. 2004. Ketepatan Waktu Penyampaian Laporan Keuangan : Kajian Atas Kinerja Manajemen,
             Kualitas Auditor, dan Opini Audit. Dalam Balance Vol 1.
Arikunto, Suharsimi Dr. 1998. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta Rineka Cipta.
Arrens dan Loebbecke. 1996. Auditing Suatu Pendapat Terpadu. Salemba 4 Ayu,
Stephana Dyah. 2005. ’Peranan Auditor Dalam Sistem Informasi EDP’. Dalam Majalah Ilmiah Kopertis
             Wilayah VI :Vol XV.
Elen, Ilham, Sabarudin. 2001. ’Metodologi Auditing’. Dalam Jurnal Bisnis dan Akuntansi: Vol 3.
Guntur, Yohanes Sri., Bambang Soepomo, dan Gitoyo. 2002. ’Analisis Pengaruh Terhadap Profesionalisme
             dan Analisis Pengaruh Profesionalisme Terhadap Hasil Kerja (Outcomes)’. Dalam Jurnal Maksi
             Vol 1.
Guy, Dan M., C. Wayne Alderman, dan Alan J. Winters 2001. Auditing. Edisi 5 jilid 1. Jakarta : Erlangga.
Hajanto, Nung. 1999. ’Pengendalian Kualitas Audit Untuk Memenuhi Harapan Pihak Internal dan
             Eksternal’. Dalam Wahana : Volume 2
Hardiningsih, Pancawati&Sumardi. 2002. ’Pengaruh Pengalaman Terhadap Profesionalisme Serta Pengaruh
             Terhadap Kinerja dan Kepuasan Kerja’. Dalam Jurnal Bisnis dan Ekonomi Vol 9.
Josoprijonggo, Maya D. 2005. Pengaruh Batasan Waktu Audit Terhadap Kualitas Audit dan Kepuasan
             Kerja Auditor. Disertasi. Salatiga : Fakultas Ekonomi Satya Wacana.
Mathis, Robert L dan John H. Jackson. 2002. Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta : Salemba Empat.
Mulyadi. 2002. Auditing. Salemba 4
Ruky, Achmad S. 2002. Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta : PT. Prenhalindo.
Ghozali, Imam, 2005. Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program SPSS, Edisi ketiga, Badan Penerbit
             Universitas Diponegoro, Semarang.
Indriantoro, Nur, Supomo, Bambang, 2002. Metodologi Penelitian Bisnis untuk Akuntansi dan Manajemen.
             BPFE, Yogyakarta

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:1450
posted:4/17/2011
language:Indonesian
pages:30